Setelah keluar dari Mesir dan diselamatkan Allah dari kezaliman Fir‘aun, apakah perjalanan Bani Israil menuju tauhid kemudian berjalan lurus tanpa penyimpangan?
Ternyata tidak.
Allah mengingatkan mereka tentang sebuah peristiwa yang sangat tragis. Ketika Nabi Musa a.s. pergi untuk memenuhi janji Allah dan menerima Taurat di Thur Sina, kaumnya justru terjatuh ke dalam penyembahan terhadap patung anak sapi.
Allah berfirman:
«وَإِذْ وَعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنۢ بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَـٰلِمُونَ ٥١
“Dan (ingatlah) ketika Kami menjanjikan kepada Musa empat puluh malam, kemudian kamu menjadikan anak lembu sebagai sesembahan setelah kepergiannya, dan kamu adalah orang-orang yang zalim.”
(Al-Baqarah: 51)»
Betapa kontrasnya peristiwa ini.
Belum lama sebelumnya mereka menyaksikan bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari Fir‘aun. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri pertolongan Allah. Mereka telah keluar dari negeri yang penuh penindasan. Namun, ketika nabi mereka pergi beberapa waktu, sebagian mereka justru mencari sesembahan lain.
Bukankah ini mengajarkan kepada kita sebuah kenyataan penting?
Seseorang dapat menyaksikan begitu banyak pertolongan Allah, tetapi belum tentu hatinya benar-benar kokoh di atas tauhid.
Pengalaman melihat mukjizat tidak otomatis menjadikan hati istiqamah. Keselamatan dari bahaya tidak dengan sendirinya menghilangkan penyakit jiwa. Karena itu, manusia tetap membutuhkan pendidikan iman yang terus-menerus.
Ketika Nabi Pergi, Apa yang Terjadi?
Nabi Musa a.s. pergi memenuhi janji Tuhannya selama empat puluh malam.
Lalu apa yang dilakukan sebagian kaumnya?
Mereka menjadikan anak sapi sebagai sesembahan.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Mengapa mereka begitu mudah berpaling?
Bukankah mereka baru saja keluar dari penindasan Fir‘aun?
Bukankah mereka telah mengetahui bahwa hanya Allah yang berkuasa menyelamatkan mereka?
Masalahnya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan. Ada persoalan yang lebih dalam: ketidakmampuan jiwa untuk menjaga tauhid ketika menghadapi godaan.
Patung anak sapi hanyalah bentuk lahiriah. Di baliknya terdapat penyakit yang lebih dalam: ketergantungan hati kepada sesuatu selain Allah.
Karena itu Allah tidak sekadar menyebut perbuatan tersebut sebagai kesalahan. Allah menyebut mereka:
«وَأَنتُمْ ظَـٰلِمُونَ
“Dan kamu adalah orang-orang yang zalim.”»
Mengapa zalim?
Karena mereka menempatkan ibadah bukan pada tempatnya. Mereka meninggalkan Allah, padahal hanya Allah yang berhak disembah.
Taurat: Petunjuk Setelah Penyimpangan
Namun perhatikanlah kasih sayang Allah.
Setelah menyebutkan dosa mereka, Allah tidak berhenti pada kecaman. Allah juga menyebutkan ampunan-Nya:
«ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Kemudian Kami memaafkan kamu setelah itu, agar kamu bersyukur.”
(Al-Baqarah: 52)»
Bukankah ini luar biasa?
Mereka melakukan penyimpangan besar, tetapi Allah masih membuka pintu taubat.
Allah kemudian memberikan kepada Musa a.s. Al-Kitab dan al-furqan, pembeda antara kebenaran dan kebatilan:
«وَإِذْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan kepada Musa Al-Kitab dan pembeda antara yang benar dan yang salah agar kamu mendapat petunjuk.”
(Al-Baqarah: 53)»
Seakan-akan Allah sedang mengajarkan:
Ketika manusia tersesat, ia membutuhkan petunjuk. Ketika hati mulai menyimpang, ia membutuhkan wahyu. Ketika batas antara kebenaran dan kebatilan mulai kabur, ia membutuhkan Al-Furqan.
Maka wahyu bukan sekadar bacaan.
Wahyu adalah kompas kehidupan.
Taubat yang Tidak Ringan
Namun, apakah taubat cukup hanya dengan ucapan?
Tidak.
Nabi Musa a.s. berkata kepada kaumnya:
«يَـٰقَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ
“Wahai kaumku! Sesungguhnya kalian telah menzalimi diri kalian sendiri karena menjadikan anak sapi sebagai sesembahan. Maka bertobatlah kepada Tuhan yang telah menciptakan kalian...”
(Al-Baqarah: 54)»
Perhatikan ungkapannya:
“Kalian telah menzalimi diri kalian sendiri.”
Dosa pada hakikatnya tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Allah. Dosa juga menghancurkan manusia itu sendiri.
Manusia yang menyekutukan Allah sebenarnya sedang merendahkan dirinya. Ia meninggalkan Zat Yang Mahatinggi lalu merendahkan dirinya di hadapan sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan apa pun.
Karena itu, taubat harus menjadi proses pembebasan.
Membebaskan hati dari sesembahan selain Allah.
Membebaskan jiwa dari ketergantungan kepada makhluk.
Membebaskan manusia dari kebiasaan yang telah menyeretnya kepada kemungkaran.
Mengapa Kafaratnya Begitu Berat?
Ayat berikutnya menyebutkan:
«فَٱقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ
“Maka bunuhlah dirimu. Yang demikian itu lebih baik bagimu di sisi Tuhanmu...”
(Al-Baqarah: 54)»
Ungkapan ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi penyimpangan tersebut. Dalam penjelasan tafsir dan riwayat yang berkaitan dengan ayat ini, perintah tersebut dipahami sebagai bentuk kafarat yang sangat berat bagi mereka yang terlibat dalam penyembahan anak sapi.
Bayangkan betapa beratnya!
Seseorang harus berhadapan dengan kaumnya sendiri. Bahkan, menurut riwayat-riwayat yang menjelaskan peristiwa ini, sebagian mereka harus berhadapan dengan saudara mereka sendiri sebagai bentuk hukuman dan penyucian.
Mengapa begitu keras?
Karena yang sedang dibenahi bukan sekadar sebuah kesalahan kecil. Yang sedang dibenahi adalah kerusakan akidah dan watak yang telah membawa mereka kepada kemungkaran besar.
Namun di sinilah kita perlu mengambil pelajaran dengan hati-hati.
Jangan hanya melihat kerasnya hukuman. Lihat pula penyakit yang hendak disembuhkan.
Pendidikan terhadap sebuah masyarakat yang telah terbiasa dengan kemungkaran tidak selalu cukup dengan nasihat yang lembut. Ada keadaan tertentu ketika penyimpangan telah menjadi begitu kuat sehingga diperlukan tindakan tegas untuk menghentikannya.
Akan tetapi, ketegasan itu bukan tujuan akhir.
Tujuan akhirnya adalah penyucian, perbaikan, dan kembalinya manusia kepada Allah.
Jika Kemungkaran Dibiarkan
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.
Bagaimana mungkin penyembahan anak sapi terjadi di tengah sebuah masyarakat?
Bukankah masih ada orang-orang yang mengetahui tauhid?
Bukankah mereka baru saja melihat mukjizat?
Di sinilah kita menemukan bahaya ketika kemungkaran tidak dicegah.
Sebuah penyimpangan yang pada awalnya tampak kecil dapat berkembang menjadi kebiasaan. Kebiasaan dapat menjadi budaya. Dan budaya yang dibiarkan dapat berubah menjadi sistem kehidupan.
Maka masyarakat tidak cukup hanya memiliki orang-orang baik.
Mereka juga membutuhkan amar ma‘ruf dan nahi munkar.
Saling mengingatkan.
Saling mencegah dari kesalahan.
Saling menjaga agar kebaikan tidak runtuh sedikit demi sedikit.
Sebab, ketika sebuah masyarakat berhenti saling mengingatkan, kemungkaran mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Dan ketika kemungkaran tumbuh tanpa penghalang, suatu hari masyarakat itu mungkin baru menyadari kerusakannya ketika semuanya telah menjadi sangat sulit untuk diperbaiki.
Tetapi Allah Tetap Membuka Pintu
Setelah semua itu, ayat tersebut ditutup dengan kalimat yang sangat menenteramkan:
«فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Maka Allah menerima tobatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
(Al-Baqarah: 54)»
Perhatikan akhir kisahnya.
Setelah dosa.
Ada taubat.
Setelah penyimpangan.
Ada penyucian.
Setelah hukuman.
Ada ampunan.
Dan setelah semua itu, yang tampil di hadapan kita bukan sekadar Allah Yang Menghukum, tetapi Allah At-Tawwab, Yang Maha Penerima Tobat, dan Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang.
Bukankah ini yang seharusnya membuat kita merenung?
Seberapa jauh pun manusia tersesat, selama ia benar-benar kembali kepada Allah, pintu taubat belum tertutup.
Tetapi kisah Bani Israil juga mengingatkan kita pada sisi yang lain:
Jangan menunggu sampai hati begitu rusak sehingga membutuhkan pukulan yang begitu keras untuk kembali sadar.
Jangan menunggu tauhid terguncang baru kita mencarinya.
Jangan menunggu hati terkunci baru kita membuka Al-Qur'an.
Jangan menunggu kemungkaran menjadi budaya baru kita berusaha menghentikannya.
Karena pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang mencegah kerusakan sebelum kerusakan itu menjadi penyakit.
Dan kisah anak sapi ini seakan bertanya kepada kita:
Jika Musa pergi beberapa waktu saja, apakah tauhid kita tetap berdiri?
Jika tidak ada yang melihat kita, apakah kita masih taat?
Jika tidak ada manusia yang mengawasi, apakah hati kita masih merasa diawasi Allah?
Di situlah ukuran sebenarnya dari iman.
Bukan ketika kita berada di tengah keramaian.
Bukan ketika semua orang mengingatkan.
Tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat, sementara hati tetap berkata:
“Allah melihatku.”
Maka itulah tauhid yang hidup.
Itulah taubat yang benar.
Dan itulah pendidikan yang mampu mengubah manusia dari dalam.
0 komentar: