Makna Kekayaan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa salah satu keindahan agama Islam adalah kemampuannya mengangkat kehidupan manusia menuju kecukupan. Islam tidak menghendaki para pemeluknya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan hingga selalu membutuhkan sedekah atau pembagian zakat. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya agar memiliki kemampuan memenuhi kebutuhannya, mencukupi orang-orang yang menjadi tanggungannya, kemudian memiliki keluasan untuk berinfak kepada orang lain.
Hal itu tergambar dalam janji Rasulullah ﷺ kepada Adi bin Hatim. Beliau menggambarkan suatu masa ketika harta berada dalam genggaman umat Islam hingga tidak ada lagi orang yang bersedia menerima sedekah.
Rasulullah ﷺ berkata kepada Adi bin Hatim:
«"... Barangkali—wahai Adi—sesungguhnya kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat umat Islam yang miskin dan membutuhkan. Demi Allah, sungguh harta itu akan ada dalam genggaman mereka sehingga tiada seorang pun yang berkenan menerimanya. Barangkali—wahai Adi—kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat umat Islam yang sedikit, sedangkan orang-orang yang memusuhi mereka banyak. Demi Allah, pada saatnya nanti kamu akan mendengar seorang perempuan keluar dari Al-Qadisiyah dengan untanya untuk mengunjungi rumah ini, yang tidak ditakutinya kecuali Allah. Barangkali—wahai Adi—sesungguhnya kamu enggan masuk agama ini karena kamu melihat bahwa kerajaan dan kekuasaan berada pada selain mereka, sedangkan mereka lemah. Demi Allah, sungguh kamu akan mendengar tentang istana-istana putih di tanah Babil yang telah berhasil mereka taklukkan, dan bahwa harta simpanan Kisra menjadi milik mereka."»
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ menggambarkan masa depan umat Islam. Beliau tidak hanya berbicara tentang kekuatan iman dan keteguhan spiritual, tetapi juga tentang keamanan, kekuasaan, dan kecukupan harta.
Sebab, manusia yang kebutuhan hidupnya terpenuhi akan memiliki ketenangan yang berbeda. Ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, ia tidak terus-menerus dibebani kecemasan tentang bagaimana mempertahankan hidup. Dari sana terbuka ruang yang lebih luas untuk beribadah, bekerja, belajar, berbuat baik, dan membantu orang lain.
Bukankah Allah telah mengingatkan manusia tentang nikmat berupa makanan yang menghilangkan kelaparan dan keamanan yang menghilangkan ketakutan?
Karena itu, kemiskinan bukanlah tujuan yang harus dicari. Demikian pula kekayaan bukanlah sesuatu yang harus dicela. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan menempatkan harta dalam kehidupannya.
Allah Mencukupi Rasulullah ﷺ
Salah satu gambaran paling jelas tentang kecukupan yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ terdapat dalam Surah Adh-Dhuha:
«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»
Ayat ini menjadi semakin indah jika dilihat dari konteks turunnya Surah Adh-Dhuha.
Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Qais bahwa ia mendengar Jundub berkata bahwa Malaikat Jibril terlambat datang kepada Rasulullah ﷺ. Orang-orang musyrik kemudian berkata, "Muhammad telah ditinggalkan."
Dalam keadaan seperti itu, Allah menurunkan firman-Nya:
«"Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu."
(Adh-Dhuha: 1–3)»
Betapa dalam penghiburan ayat ini.
Rasulullah ﷺ sedang menghadapi kesunyian karena wahyu belum datang. Orang-orang musyrik menjadikan keadaan itu sebagai bahan ejekan. Namun Allah justru mengingatkan bahwa keterlambatan wahyu bukan tanda ditinggalkan. Allah tetap mengasuh, menjaga, dan mempersiapkan Rasulullah ﷺ untuk tugas yang lebih besar.
Kemudian Allah mengingatkan berbagai bentuk nikmat yang telah diberikan kepada beliau, termasuk:
«"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu engkau menjadi puas."
(Adh-Dhuha: 5)»
Salah satu bentuk karunia tersebut adalah kecukupan:
«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»
Dengan demikian, kecukupan Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari pengasuhan Allah terhadap beliau. Allah tidak hanya membimbing beliau dengan wahyu, tetapi juga mencukupi kebutuhan hidup beliau agar beliau dapat menjalankan amanah risalah.
Makna Pemberian Allah
Dalam menjelaskan ayat tersebut, As-Sa'di dan para ulama tafsir memberikan perhatian terhadap pilihan kata yang digunakan Al-Qur'an dalam menggambarkan pemberian Allah kepada Rasulullah ﷺ.
Dalam pembahasan kebahasaan yang dikemukakan As-Samara'i dalam Lamsat Al-Bayaniyyah, terdapat perbedaan nuansa antara kata ita' dan atha'.
Ita' memiliki cakupan yang lebih luas. Ia dapat mencakup perkara material maupun nonmaterial, termasuk kekuasaan dan hikmah. Bahkan, pemberian dalam bentuk ita' dapat pula berada dalam kehendak Allah untuk kemudian dicabut kembali.
Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah:
«"Katakanlah, 'Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.'"
(Ali Imran: 26)»
Demikian pula dalam firman Allah tentang seseorang yang telah diberi ayat-ayat Allah, tetapi kemudian melepaskan diri darinya.
Sementara itu, atha' memiliki nuansa pemberian yang lebih khusus. Dalam beberapa konteks, pemberian tersebut menunjukkan sesuatu yang diberikan kepada seseorang untuk menjadi miliknya dan dapat dikelolanya.
Allah berfirman:
«"Sungguh, Kami telah memberimu nikmat yang banyak."
(Al-Kautsar: 1)»
Demikian pula firman Allah kepada Nabi Sulaiman:
«"Inilah anugerah Kami; maka berikanlah atau tahanlah untuk dirimu sendiri tanpa perhitungan."
(Shad: 39)»
Ayat tersebut menggambarkan keluasan pemberian Allah kepada Nabi Sulaiman sehingga beliau diberi kewenangan untuk mengelolanya.
Dari sini kita dapat memahami bahwa pemberian Allah kepada para nabi tidak selalu berbentuk satu jenis kenikmatan. Ada ilmu, hikmah, kekuasaan, keamanan, harta, dan berbagai bentuk kecukupan lainnya.
Apa Arti "Diberi Kecukupan"?
Allah menggunakan kata aghnā dalam firman-Nya:
«"Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan."
(Adh-Dhuha: 8)»
Kata tersebut berbentuk kata kerja yang menunjukkan adanya perubahan keadaan. Ada keadaan kekurangan, kemudian Allah mengubahnya menjadi keadaan berkecukupan.
Karena itu, kekayaan Rasulullah ﷺ tidak semata-mata harus dipahami sebagai banyaknya harta. Kekayaan yang paling utama memang kekayaan hati: tidak bergantung kepada manusia, merasa cukup dengan pemberian Allah, dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.
Namun, hal itu tidak berarti kecukupan material harus dikeluarkan dari makna ayat.
Justru di sinilah kita menemukan keluasan makna kekayaan Rasulullah ﷺ.
Para ulama memberikan beberapa penafsiran tentang al-ghina yang Allah berikan kepada beliau.
Pertama, Allah mencukupi kebutuhan hidup beliau melalui rezeki dan keuntungan perdagangan. Rasulullah ﷺ telah melakukan perjalanan perdagangan ke Syam bersama Maisarah. Beliau juga pernah melakukan perdagangan bersama As-Sa'ib bin Abi As-Sa'ib Al-Makhzumi.
Kedua, Allah memberikan kecukupan hati. Rasulullah ﷺ tidak menjadikan harta sebagai ukuran kebahagiaan. Hatinya tidak bergantung kepada apa yang ada di tangan manusia. Kekayaan yang sesungguhnya adalah merasa cukup dengan Allah, bukan merasa cukup karena memiliki banyak sesuatu.
Ketiga, Allah mencukupi Rasulullah ﷺ dengan ilmu dan petunjuk. Beliau tidak memiliki pengetahuan wahyu sebelumnya, kemudian Allah menurunkan Al-Qur'an dan mengajarkan kepada beliau apa yang sebelumnya tidak beliau ketahui.
Dengan demikian, kecukupan Rasulullah ﷺ memiliki beberapa lapisan: kecukupan dalam kehidupan, kecukupan dalam hati, dan kecukupan dalam ilmu serta petunjuk.
Kekayaan yang Tidak Membelenggu
Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah, "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan," bahwa Rasulullah ﷺ sebelumnya berada dalam keadaan kekurangan dan memiliki banyak tanggungan, kemudian Allah membuat beliau merasa cukup sehingga tidak membutuhkan orang lain.
Menurut Ibnu Asyur, Allah mencukupi kebutuhan hidup Rasulullah ﷺ sehingga beliau tidak terus-menerus disibukkan oleh persoalan yang dapat memalingkan perhatian beliau dari perbaikan diri dan pelaksanaan risalah.
Penjelasan ini menghadirkan sebuah renungan penting.
Bukankah kecukupan justru dapat menjadi sarana untuk membebaskan manusia dari sebagian beban kehidupan?
Orang yang terus-menerus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan pokoknya akan sulit memiliki keluasan perhatian untuk memikirkan persoalan yang lebih besar. Karena itu, kecukupan bukan sekadar kenyamanan pribadi. Ia dapat menjadi modal untuk menjalankan amanah.
Persoalannya bukan apakah seseorang memiliki harta atau tidak. Persoalannya adalah apakah harta tersebut membelenggunya atau justru membebaskannya untuk berbuat lebih banyak kebaikan.
Antara Kaya Hati dan Kaya Harta
Memang benar, kekayaan Rasulullah ﷺ yang paling utama adalah kekayaan hati. Beliau tidak membutuhkan manusia. Beliau qanaah terhadap pemberian Allah. Dan justru karena itulah beliau menjadi manusia yang sangat dermawan.
Namun, di sini kita perlu berhati-hati agar tidak mempertentangkan antara kekayaan hati dan kekayaan materi.
Sebagian penafsiran seolah-olah merasa perlu memalingkan makna kecukupan dalam Surah Adh-Dhuha dari kekayaan material menuju sekadar kepuasan hati. Seakan-akan limpahan harta tidak layak disandingkan dengan kedudukan seorang muslim yang menyeru manusia kepada Allah.
Padahal, yang perlu dipersoalkan bukanlah ada atau tidak adanya harta, melainkan di mana posisi harta di dalam hati.
Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak diperbudak oleh harta. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi hatinya sepenuhnya dikuasai oleh keinginan terhadap dunia.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang jauh lebih luas. Allah mencukupi beliau, tetapi kecukupan itu tidak membuat beliau hidup untuk dirinya sendiri. Harta yang ada di tangannya mengalir kepada orang lain. Kekayaan tidak menjadikannya jauh dari manusia, tetapi justru menjadikannya semakin banyak memberi.
Di sinilah kita menemukan makna kekayaan yang sesungguhnya.
Kaya bukan sekadar memiliki. Kaya adalah memiliki kecukupan untuk memberi.
Dan lebih tinggi lagi, kaya bukan sekadar tidak membutuhkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi memiliki hati yang bergantung kepada Allah.
Karena itu, ketika Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah ﷺ, kecukupan tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia adalah bagian dari bekal untuk menunaikan amanah yang lebih besar.
Maka, pertanyaan yang layak kita ajukan bukan hanya:
"Berapa banyak harta yang Allah berikan kepada kita?"
Tetapi:
"Untuk apa Allah mencukupkan kita?"
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif