basmalah Pictures, Images and Photos
09/29/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Pedagang Yang Berilmu dan Berhati Ulama, Kunci Sukses Dakwah di Nusantara Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin H...

Pedagang Yang Berilmu dan Berhati Ulama, Kunci Sukses Dakwah di Nusantara

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Pusat dakwah Nusantara dimulai dari Pasar, Pesantren dan Istana. Atau lembaga ekonomi, pendidikan dan kekuasaan. Di era Walisanga, masuk ke ranah kebudayaan.

Gunakan dunia untuk memasuki akhirat, itulah kecendrungan besar manusia. Hiruk pikuk dunia untuk memasuki ketentraman akhirat.

Membangun pesisir pantai menjadi pusat ekonomi dan niaga. Menjadi pelabuhan nasional lalu internasional, itulah yang pertama dilakukan penyebar Islam di Nusantara.

Pasai dari pemukiman berkembang jadi pelabuhan internasional. Dikembangkan Malaka lalu seluruh pesisir di Nusantara. Pasai pusat Islamisasi di Asia Tenggara

Pusat pelayaran dikuasai, lalu pusat rempah-rempah dunia diislamisasi yaitu Maluku. Seluruh kekuatan ekonomi saat itu dikuasai penyebar Islam Nusantara.

Yang pertama mengislamisasikan Nusantara bukanlah ulama, tetapi pedagang yang berprilaku ulama. Ini lebih menarik hati manusia.

Berdagang hanya pembuka obrolan, komunikasi dan persahabatan. Akhlakul Karimah yang menundukkan hati manusia untuk menerima Islam. Inilah visi pedagang.

Dalam strata Hindu, pedagang menjadi perantara antara golongan bawah dan atas. Ini membuat lingkaran komunikasi meluas ke semua kelas sosial.

Model partnership dalam ekonomi Islam, semuanya bergairah, derajatnya sama, keuntungannya adil. Konsep ekonomi Islam penyebab berduyunnya berislam.

Mengapa konsep ekonomi Eropa, tak menyebabkan Nusantara berduyun-duyun menjadi Kristen? Mereka datang sebagai kolonial, bukan partnership.

Manusia lebih menghargai kekayaan, ini yang harus dimanfaatkan untuk menembus hati dengan keimanan.

Juru dakwah tak harus dimulai dari pendidikan Islam tetapi mulailah dari penerapan ekonomi islam.

Pengabulan Doa Bukan Tujuan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Merubah ketakutan menjadi waspada, tenang...

Pengabulan Doa Bukan Tujuan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Merubah ketakutan menjadi waspada, tenang dan berani. Bagaimana caranya? Tak perlu dukungan dari luar. Cukup menggalinya dari dalam.

Nabi Musa ketakutan saat dikejar oleh Fir'aun. Rasa takut berubah menjadi waspada hanya dengan berdoa. Waspada menciptakan pengendalian

Muncul ketakutan Nabi Musa saat diperintahkan Allah menghadapi Firaun. Allah membekalinya dengan doa, ditemani Harun dan mukjizat.

Bani Israel ketakutan saat menghadapi pasukan Firaun. Jawab Musa, "Memohon Pertolongan Allah dan bersabar."

Bani Israil ketakutan saat terhimpit di laut Merah. Jawab Musa, "Kita tidak akan terkejar." Walaupun tak tahu caranya.

Abu Bakar ketakutan saat pasukan Quraisy berada di mulut gua. Jawab Rasulullah saw, "Sesungguhnya Allah bersama kita."

Rasulullah saw khawatir, lalu bermunajat saat perang Badar dimulai. Solusi semua ketakutan, kekhawatiran dan kegalauan hanyalah berdoa. Sederhana tapi mujarab.

Seorang pedagang dirampok. Saat hendak dibunuh, dia berdoa. Malaikat pun datang menolongnya. Ada seruan dari langit yang menyebabkan malaikat membantu.

Doa itu pasti terkabul. Proses pengabulannya sangat rahasia, hanya Allah yang tahu. Inilah ujian keyakinan pada Allah. Semuanya hak Allah semata.

Pengabulan doa tidaklah penting dan bukan pula tujuan. Hanya perwujudan penghambaan dan kelemahan pada Allah. Ini yang terpenting.

Digerakan berdoa adalah anugerah dan nikmat terbesar dari Allah. Ini lebih besar kenikmatannya dari pengabulan doa.

Bukankah semua peristiwa sama baiknya? Bukankah semua takdir sama baiknya? Jadi pengabulan doa tak penting, digerakkan berdoa adalah nikmat terbesar.

Sifat Kaum Arifin Bibir mereka senantiasa tersenyum kepadaNya. Mata mereka senantiasa memancar kepadaNya, Qalbu-qalbu mereka ter...

Sifat Kaum Arifin

Bibir mereka senantiasa tersenyum kepadaNya. Mata mereka senantiasa memancar kepadaNya, Qalbu-qalbu mereka terus bergelayut kepada Allah Swt, hasrat mereka sinambung kepadaNya, rahasia batin mereka terus menerus memandangNya. Mereka melemparkan dosa-dosa mereka ke samudera taubat dan mereka menghamburkan kepatuhannya ke samudera anugerah.

Mereka buang gerak gerik batinnya ke lautan Keagungan. Dan kehendak mereka terlempar ke lautan sucinya jiwa, bahkan hasrat mereka adalah samudera mahabbah. Di medan khidmah kepadaNya mereka berlalu lalang. Di bawah payung kemuliaan mereka saling merenda keindahan.

Dan di taman rahmatNya mereka merambat, lalu mereka mencium aroma anugerah yang wangi. Mereka memandang dunia dengan mata perenungan, memandang akhirat dengan mata penantian, memandang nafsunya dengan mata hina, memandang taatnya dengan mata penuh kekurangan, bukan dengan mata merasa amal.

Mereka memandang ampunan dengan mata kebutuhan, memandang ma'rifat dengan mata kegembiraan, memandang yang Dima'rifati Allah Swt. dengan mata kebanggaan. Mereka melemparkan nafsunya dalam negeri cobaan, dan melemparkan ruhnya ke negeri akhirat, kemudian qalbu-qalbu mereka menuju keluhuran dan kharisma, lisan mereka sumber puja dan pujian, ruh mereka adalah tempat-tempat rindu dan cinta, sedangkan nafsu mereka dikendalikan oleh akal dan kecerdasan.

Hasrat mereka lebih banyak untuk kontemplasi dan tafakkur. Ucapan terbanyak mereka adalah memuja dan memujiNya. Amal mereka adalah taat dan khidmah. Pandangan mereka hanya kelembutan di balik ciptaan Rabbul Izzah Swt.

Di antara mereka anda lihat pucat menguning wajahnya karena rasa takut pisah denganNya, sendi-sendinya gemetar karena Kharisma KebesaranNya. Begitu panjang mereka menunggu penuh rindu bertemu denganNya. Mereka menempuh jalan Al-Musthafa. Mereka lempar dunia ke belakang tengkuknya. Mereka rasakan kesenangan nafsu sebagai konsumsi kehampaan. Mereka lebih berteguh pada pijak telapak keserasian yang benar. 

Sumber : 
Menjelang Ma'rifat, Syeikh Ahmad Ar-Rifa'y

Buya Hamka: Sumber Budi Pekerti Buku: Akhlakul Karimah  Adapun hakikat budi ialah suatu persediaan yang telah ada, terhunjam di ...

Buya Hamka: Sumber Budi Pekerti

Buku: Akhlakul Karimah 

Adapun hakikat budi ialah suatu persediaan yang telah ada, terhunjam di dalam batin. Dialah yang menimbulkan perangai dengan mudahnya sehingga tidak perlu berpikir lama lagi. Apabila persediaan itu dapat menimbulkan perangai yang terpuji, perangai yang mulia (mulia menurut akal dan syara') itulah yang dinamakan budi pekerti yang baik. Namun, apabila yang tumbuh adalah perangai yang tercela menurut akal dan syara', dinamakan pula budi pekerti yang jahat.

Dikatakan bahwa budi pekerti ialah perangai yang terhunjam dalam batin karena ada pula orang yang sudi menafkahkan hartanya dengan ringan saja, tetapi tidak bersumber dari budinya yang terhunjam, hanya semata-mata lantaran ada "maksud" yang terselip di dalamnya.

Sumber dari budi pekerti itu empat perkara, yaitu hikmah, syujaa ah, `iffah, dan 'adaalah (bersikap adil). Yang dimaksud dengan hikmah ialah keadaan nafs (batin) yang dengan hikmah dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dari segala perbuatannya yang berhubungan dengan ikhtiar.

Syujaa'ah ialah kekuatan ghadhab (marah) yang di tuntun oleh akal, baik maju maupun mundurnya.

'Iffah ialah mengekang kehendak nafsu dengan akal dan syara.

Sementara itu, yang dimaksud dengan 'adalaah (adil) ialah keadaan nafs, yaitu suatu kekuatan batin yang dapat mengendalikan diri ketika marah atau ketika syahwat naik.

Barangsiapa yang dapat menimbang sama berat di antara segala sifat yang empat perkara ini, maka akan timbul budi pekerti yang baik dan mulia. Keempat sifat ini tersimpul satu ayat yang menerangkan sifat-sifat orang Mukmin,

إنما المؤمنون الذين ءامنوا بالله ورسوله، ثم لم يرتابوا وجتهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله أوليك هم الصدقون

"Sesungguhnya orang-orang Mukmin yang sebenar nya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." *(al-Hujuraat: 15)*

Beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan tidak dicampuri oleh keragu-raguan adalah kepercayaan yang timbul dari keyakinan. Keyakinan itu adalah buah dari akal yang waras. Akal yang waras itulah tujuan dari hikmah.

Berjihad dengan harta benda timbul dari sifat dermawan. Sifat dermawan timbul dari kesanggupan mengekang syahwat. Itulah tujuan adil.

Kesanggupan berjihad dengan diri (jiwa raga) timbul dari kepandaian menimbang nafsu marah yang di tuntun dengan akal. Allah SWT menggambarkan dalam Al-Qur'an sifat-sifat sahabat Nabi saw. dengan firman Nya,

أشتاء على الكفار رحماء بينهم

"Mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." *(al-Fath: 29)*

Di dalam ayat itu tersembunyi hikmah paling besar berupa sikap keras pada tempatnya, yaitu terhadap orang kafir. Sebaliknya, bersayang-sayang itu ada pula tempatnya, yaitu saudara seagama. Tidak selalu orang mesti keras dan tidak selalu pula mesti menaruh sayang.

Kita teringat perkataan beberapa ulama ketika Hajjaj Yusuf, seorang amir yang sangat kejam, membaca doa ketika sakaratulmaut. Dia memohon kepada Allah SWT supaya dosanya yang begitu banyak diampuni karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Kata ulama-ulama yang mendengar doanya, "Benar Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi apabila dosa yang demikian banyak diampuni juga oleh Allah SWT tanpa dilakukan hukuman, manakah lagi keadilan? Padahal Allah SWT selain Maha Pengasih, Penyayang, juga Mahaadil dalam memberi hukuman."

Buya Hamka: Keutamaan Budi Yang Baik Buku Akhlakul Karimah  Allah SWT telah berfirman dalam memuji Nabi-Nya dengan menyatakan ni...

Buya Hamka: Keutamaan Budi Yang Baik

Buku Akhlakul Karimah 

Allah SWT telah berfirman dalam memuji Nabi-Nya dengan menyatakan nikmat yang telah dilimpahkan ke padanya,

وإنك لعلى خلق عظيم

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur." *(al-Qalam: 4)*

Siti Aisyah r.a. pernah berkata, "Budi pekerti Rasulullah saw. ialah Al-Qur'an." Rasulullah saw. pernah bersabda,

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاقي

"Aku diutus Allah hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti." *(HR al-Baihaqi)*

Di dalam sabda lain ditegaskan, "Agama itu adalah budi pekerti yang baik. Budi pekerti baik itu tidak pemarah."

Sabda beliau saw. pula, "Takutlah kepada Allah di mana pun engkau berada, ikutilah amalan-amalanmu yang jahat-dahulunya-dengan kebaikan supaya dapat dihapuskan kejahatan itu oleh kebaikan. Dan hendaklah kalian berbudi kepada manusia dengan budi pekerti yang baik."

Pernah seorang berkata kepada Rasulullah saw. "Ya Rasulullah, si Fulanah yang perempuan itu setiap hari berpuasa, Tahajjud tiap malam, tetapi ia kasar budi dan suka mengganggu tetangganya dengan lidahnya,"

Bersabda Rasulullah saw., "Tidak ada kebaikan pada perempuan itu, sebenarnya dia ahli neraka." Rasulullah saw. juga bersabda,

إن الله استخلص هذا الدين لنفسه ولا يصلح لدينكم إلا الشحاً وحسن الخلق ألا قرينوا دينكم بهما

"Sesungguhnya Allah Ta'aala telah membersihkan agama ini untuk-Nya sendiri (artinya jangan kita beragama karena yang lain). Dan tidaklah akan baik agama kamu melainkan dengan sifat pemurah (dermawan) dan budi pekerti yang baik. Perhiasilah agamamu dengan kedua si fat itu." *(HR Abu Nu'aim)*

Seorang bertanya kepada Rasulullah saw., "Di antara orang-orang Mukmin itu, siapakah yang paling utama imannya?" Jawab Rasulullah saw., "Yang baik budi pe kertinya."

Bersabda pula beliau saw.,

إنكم لن تسعوا الناس بأموالكم فسعوهم ببسط الوجه وحسن الخلق

"Sesungguhnya kamu tidaklah akan dapat bergaul di antara manusia lantaran pengaruh hartamu. Sebab itu bergaullah di antara mereka dengan muka jernih dan budi mulia."
 *(HR al-Bazzar)*

Bersabda pula Rasulullah saw., "Hai Abu Dzar, tidak ada akal yang lebih dari takdir, tidak ada kemuliaan turunan yang melebihi baik perangai."

Hassan berkata, "Barangsiapa yang jahat perangainya, dia menyiksa dirinya sendiri."

Wahab berkata, "Perumpamaan budi pekerti yang jahat seumpama belanga pecah, ditambal tak bisa, kembali menjadi tanah pun tak dapat lagi."

Al-Fudhail bin Iyad berkata, "Bahwasanya berteman dengan seorang yang fajir, tetapi baik budi pekertinya itu lebih aku sukai daripada berteman dengan seorang yang kuat beribadah, tetapi jahat perangainya."

Ketahuilah olehmu, bahwasanya budi pekerti itu telah dibagi-bagi oleh ulama salaf pada dua bagian, yaitu buah dan tujuan (tsamarah dan ghaayah).

Hasan al-Bashri r.a. telah berkata, "Kebaikan budi pekerti ialah jernih muka, mudah pergaulan, dan menahan hati dari menganiaya."

Al-Washithi berkata, "Yaitu tidak berkesumat (bermusuhan) dengan orang lain dan tidak pula dikesumati oleh orang karena sangat makrifatnya kepada Allah SWT.

Kata beliau lagi, "Ridha ialah menerima nasib di waktu senang dan di waktu susah." Kata lain dari itu, tetapi isi nya hampir sama saja, yaitu buah dari kebaikan perangai.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (199) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (216) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (166) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (428) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)