basmalah Pictures, Images and Photos
12/10/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

26.000 Manuskrip Nusantara di Belanda dan Inggris, Panjangnya 12 Km Lebih dari 26 ribu naskah kuno atau manuskrip tulisan tangan...

26.000 Manuskrip Nusantara di Belanda dan Inggris, Panjangnya 12 Km

Lebih dari 26 ribu naskah kuno atau manuskrip tulisan tangan asli Indonesia disimpan rapi di Belanda atau Inggris. Dua negara Eropa itu memboyong naskah-naskah tersebut sejak menjajah Indonesia. Padahal, banyak di antara naskah-naskah tersebut karya adiluhung yang memiliki nilai sangat tinggi.
   
“Indonesia, adalah negara terkaya di dunia, bahkan seluruh kesuburan tanah di Eropa jika dikumpul tak akan menyamai kesuburan di tanah Jawa."

Petikan kalimat di atas terdapat dalam naskah kuno “Babad Tanah Jawi". Di situ, ada kesaksian Belanda sebagai negara penjajah tentang Indonesia yang “Gemah Ripah Loh Jinawi".

Naskah “Babad Tanah Jawi" merupakan salah satu naskah kuno tahun 1700-an mengenai sejarah Indonesia yang kini awet tersimpan di tanah air. Sayang, tidak banyak naskah kuno yang bernasib baik seperti “Babad Tanah Jawi".

Sebagian naskah kuno tak jelas keberadaannya, sebagian lagi dibawa oleh negara lain. Maka tak perlu heran, jika para peneliti asal Indonesia yang ingin meneliti sejarah negerinya sendiri, seringkali kerepotan akan referensi naskah-naskah kuno. Banyak di antaranya yang harus terbang ke Belanda atau Inggris untuk mengakses naskah kuno yang justru tersimpan apik di negara orang.

Menurut data Perpustakaan Nasional, terhitung sekitar 26.000 koleksi naskah Indonesia terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Angka itu belum terhitung naskah-naskah kuno Indonesia yang tersimpan di Perpustakaan The British Library London, The Bodleian Library di Oxford, Perpustakaan Berlin di Jerman, atau di sejumlah negara lainnya. Semua naskah-naskah itu, hampir dapat dipastikan kondisinya terawat dengan sangat baik dan dapat diakses dengan mudah. Tentu melalui prosedur tertentu.

Diboyongnya warisan budaya ini memang telah lama terjadi, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Maklum, saat itu kita masih dijajah Belanda atau Inggris di beberapa wilayah. Walau begitu, hal yang harus digarisbawahi, para negara pemboyong sangat peduli terhadap kekayaan sejarah bangsa lain.

Terbukti di Inggris, naskah-naskah Indonesia telah berdiam dan terinventarisasi secara teliti dalam sebuah katalogus susunan MC Ricklefs dan P Voorhoeve sejak awal abad ke-17. Sebanyak lebih dari 1.200 naskah teridentifikasi ditulis dalam berbagai bahasa daerah.

Sebut saja Aceh, Bali, Batak, Bugis, Jawa (kuno), Kalimantan, Lampung, Madura, Makasar, Melayu, Minangkabau, Nias, Rejang, Sangir, Sasak, Sunda (kuno), dan Sulawesi (di luar Bugis dan Makasar). Naskah-naskah itu, menurut Oman Fathurahman, Filolog Indonesia, tersebar di 20-an perpustakaan dan museum di beberapa kota di Inggris. Koleksi terbanyak bermukim di dua tempat, yakni British Library dan School of Oriental and African Studies.

Pada tahun 1990, British Library bahkan mengklaim bahwa naskah yang berada di tempatnya mulai dikoleksi sejak abad ke-15. Koleksi mereka berisi berbagai macam hikayat, syair, primbon, surat, sampai bukti transaksi dagang dari abad ke-15.

Menurut Syarif Bando, Kepala Membaca Perpusnas, Inggris memang merupakan salah satu negara yang menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia terbanyak kedua setelah Belanda. Hal ini dikarenakan Inggris pernah menduduki Bengkulu. Selain itu, Raffles yang datang di abad ke-18 juga banyak membawa surat-surat dari berbagai raja yang berkuasa di Indonesia.

Surat-surat tersebut, banyak yang merupakan koleksi unggulan, seperti surat dari Sultan Pontianak kepada Gubernur Thomas Stamford Raffles yang dikirim dalam sampul terbuat dari kain sutra berwarna-warni. Inggris juga menyimpan surat dari Raja Bali kepada seorang Gubernur Belanda di Semaran yang ditulis di atas lempengan emas.

“Karena Bengkulu jajahan Inggris, lalu Belanda jajah Singapura, lalu kemudian mereka bertukar, jadi banyak juga naskah kita di sana," kata Syarif Bando kepada tirto.id, pada Jumat (2/9/2016).

Panjangnya 12 Km

Selain Inggris, negara yang juga banyak mengoleksi naskah kuno Indonesia adalah Belanda. Maklum, Negara Kincir Angin ini telah berada di Indonesia 350 tahun lamanya. Naskah kuno di Belanda banyak tersimpan di sejumlah perpustakaan dan museum, antara lain di Amsterdam, Leiden, Delft, dan Rotterdam.

Pada tahun 2015 lalu, Rektor Universitas Leiden, Belanda, Profesor Carel Stolker, pernah berkunjung ke Yogyakarta dan mengatakan bahwa naskah-naskah kuno Indonesia yang berada di negaranya, jika dijejer panjangnya bisa mencapai 12 km. Kebanyakan, naskah-naskah yang berada di sana tergolong adikarya, warisan berbagai kerajaan di Nusantara. Salah satu yang terkenal yakni naskah “Nagarakretagama" yang baru dikembalikan pada tahun 1970 oleh Ratu Yuliana kepada Presiden Soeharto setelah dikuliti isinya dan menjadi ampas.

Menurut penuturan Profesor Stolker, koleksi mereka dahsyat lantaran Universitas Leiden memiliki jurusan yang khusus mempelajari budaya timur, budaya Asia. Amsterdam juga turut menyumbang naskah kuno untuk memperkaya koleksi.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pernah menginginkan ribuan naskah yang ada di Belanda dan Inggris, khususnya yang berkaitan dengan keraton DIY, dapat ditarik ke Indonesia. Namun Stolker bergeming. Ia malah menyatakan sebagian besar naskah yang tersimpan di Leiden merupakan naskah berbahasa Belanda, sehingga sudah semestinya bermukim di sana. Walau begitu, pihaknya berjanji akan fokus pada digitalisasi naskah yang rapuh agar kajian Asia atau Indonesia tersebut dapat diakses dengan mudah.

Berdasarkan data Keraton Yogyakarta, ada sekitar 7.000 naskah atau manuskrip milik keraton yang ada di Belanda dan Inggris. Sedangkan Museum Sonobudoyo hanya mengoleksi 363 naskah saja. Inggris sendiri baru mengembalikan 21 microfilm kepada pihak keraton. Hal ini lantaran mereka khawatir pihak keraton tak mampu merawatnya.

Menurut Syarif, selain Belanda dan Inggris, terdapat negara lain yang juga menyimpan naskah-naskah kuno Indonesia, misal Myanmar, Thailand, dan Malaysia. Secara keseluruhan, diperkirakan naskah-naskah ini tersebar di 30 negara di dunia.

Tidak Boleh Sembarangan

Jhohannes Marbun, Koordinator Masyarakat Warisan Budaya (Madya) mengatakan, Belanda sebenarnya sudah ingin Indonesia merawat sendiri naskah-naskah kuno itu. Sayangnya, Indonesia belum bisa merespons sejumlah syarat untuk perawatannya.

“Belanda sebenarnya sudah mengurangi besar-besaran anggaran terhadap museum. Mereka berharap Indonesia mengelola manuskrip atau benda bersejarah dari nusantara lainnya. Tapi Indonesia dianggap belum merespon karena mereka mensyaratkan harus bisa dikelola baik," katanya kepada tirto.id, pada Senin (5/9/2016).

Konservasi naskah kuno, apalagi manuskrip atau naskah asli, tentu tidak mudah. Sebab naskah asli biasanya lebih rapuh dibandingkan salinannya yang sudah banyak dipajang di Perpusnas. Apalagi cara penulisan yang digunakan pun beragam. Biasanya ukiran naskah pada media kayu atau bambu akan diberi minyak kemiri untuk menghitamkan. Cara merawatnya hanya dilap lembut, sehingga minyak kemiri akan tersisa di bagian dalam bambu yang sudah dikerik.

Tempat dan alat penyimpanannya juga tak sembarang. Perpusnas mengaku harus menyiapkan alat yang tahan pada perubahan suhu, karena naskah harus disimpan pada ruangan berudara 18 derajat celsius.

Perlu juga dilakukan fungigasi guna membunuh jamur-jamur yang bertengger pada naskah. Untuk mengurangi kelembaban, ruangan diberi kapur barus dan disemprotkan obat anti serangga secara berkala.

“Menjaga naskah kuno itu sulit, tanganmu tidak boleh kotor atau berminyak karena akan membuatnya lapuk," kata Syarif.

Oman Fathurahman, Filolog Indonesia, juga menyatakan dalam hal kesadaran untuk melakukan konservasi naskah-naskah kuno, harus diakui Indonesia memang sangat jauh terlambat dibanding negara-negara maju, khususnya di Eropa.

Hal ini, tidak lepas dari faktor sejarah kolonialisme yang terlalu lama menjerat bangsa Indonesia. Walau di satu sisi, terdapat rasa senang bahwa naskah-naskah kuno Indonesia tersimpan dan terawat dengan sangat baik di perpustakaan-perpustakaan di luar negeri. Namun di sisi lain, ada keprihatin lantaran perhatian negara terhadap pentingnya pemeliharaan naskah-naskah kuno yang masih sangat kurang.

“Di museum-museum provinsi, umumnya ada puluhan naskah tersimpan. Meski perawatannya tidak selalu memenuhi standar konservasi," kata Oman kepada tirto.id, pada Minggu (4/9/2016).

Anggaran Hanya Rp500 Miliar

Indonesia boleh bangga. Meskipun naskah budayanya banyak yang bertempat di negara orang, tapi jika dihitung naskah-naskah yang tersimpan di Indonesia masih tetap lebih banyak. Naskah-naskah itu ada di tangan masyarakat. Sayangnya, naskah-naskah koleksi pribadi itu kurang terawat dengan baik, sehingga kondisinya sangat rentan.

Minimnya teknologi konservasi yang kita miliki, tentu saja berakibat pada lambatnya proses konservasi naskah yang seharusnya dilakukan dengan lebih cepat. Apalagi dari waktu ke waktu, proses kerusakan naskah terus terjadi. Belum lagi persoalan penyimpanan jika tidak dalam suhu yang stabil.

“Tapi, menurut saya, penyebab pertama yang paling penting itu bukan akibat teknologi yang kurang memadai. Melainkan kesadaran kolektif kita yang masih di bawah standar bahwa naskah kuno ini adalah artefak yang perlu mendapat prioritas untuk diselamatkan. Karena mindset kita belum sampai ke sana, maka dampaknya sangat besar. Termasuk belum maksimalnya pengadaan teknologi konservasi itu," paparnya.

Oman menjabarkan, kebanyakan staf-staf di perpustakaan yang memiliki koleksi naskah di berbagai daerah di Indonesia tidak memiliki latar pendidikan dan pelatihan khusus di bidang konservasi naskah. Terkecuali staf di Perpustakaan Nasional. Itu pun masih belum maksimal dibandingkan dengan tanggungjawab mereka merawat puluhan ribu naskah kuno yang tersimpan.

Masalahnya, Indonesia memang masih belum memiliki institusi pendidikan atau pelatihan khusus di bidang konservasi naskah atau artefak kuno. Padahal, di luar negeri, pendidikan tersebut diselenggarakan sampai tingkat magister di bidang museumologi dan kearsipan.

Selain minimnya kualitas konservator, Indonesia juga dihalangi masalah klasik dalam perawatan naskah, yakni anggaran. Syarif menyatakan, konservasi naskah sebenarnya tidak memakan banyak biaya jika sudah memiliki alat-alatnya. Hanya saja, konsistensi pemerintah terhadap salah satu sumber ilmu pengetahuan sejarah ini memang minim. Bisa dibayangkan, setiap tahunnya, anggaran perpustakaan hanya digelontorkan sebesar Rp500 miliar untuk meng-cover 250.000 perpustakaan di seluruh Indonesia.

“Bayangkan, itu belum anggaran untuk membina tenaga perpustakaan, mencetak naskah dari dalam dan luar negeri, sehingga anggaran konservasi naskah ini juga minim," ujarnya.

Beruntung, Perpusnas banyak mendapatkan hibah microfilm, sehingga isinya dapat dinikmati publik Indonesia tanpa harus jauh-jauh ke luar negeri. Beberapa naskah kuno yang pernah dimicrofilmkan adalah naskah-naskah Jawa milik Kraton Yogyakarta. Misalnya yang ditangani oleh Dr Jennifer Lindsay dari Australia, atau naskah-naskah lontar Bali yang dikomputerkan dengan sponsor IBM.

Pada tahun 1989, pemerintah Inggris juga pernah menghadiahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X ratusan microfilm semua naskah Jawa yang disimpan di Inggris.

Betapa penghibahan tersebut merupakan bentuk tingginya apresiasi negara-negara lain terhadap warisan budaya Indonesia. Ironis, apabila ternyata negeri ini bahkan tidak dapat menjaga dengan sebaik-baiknya.


Sumber:
https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/negeri-yang-tak-peduli-karya-adiluhung-bHly

Di Jerman Ada 700 Manuskrip Kuno Nusantara, Banyak lembaga baik dalam maupun luar negeri yang tertarik dengan konten warisan bud...

Di Jerman Ada 700 Manuskrip Kuno Nusantara,

Banyak lembaga baik dalam maupun luar negeri yang tertarik dengan konten warisan budaya Indonesia.

Suubkoordinator Perawatan dan Perbaikan Bahan Perpustakaan Terekam dan Naskah Kuno Perpustakaan Nasional, Aris Riyadi, mengungkapkan pihaknya  telah melakukan pelestarian koleksi warisan naskah kuno dengan berbagai cara.

“Saya melihat sebuah fenomena, memang banyak lembaga dalam dan luar negeri yang tertarik dengan konten warisan budaya kita," ujar Aris, dikutip Republika.co.id dari laman resmi Perpusnas, Jumat (3/9). 
Dia menjelaskan, hal tersebut membuat program digitalisasi koleksi, dokumen bersejarah, atau dengan nilai budaya tinggi menjadi gencar dilakukan untuk mendapatkan informasinya. 

Namun dia menyayangkan hal tersebut terkadang tidak berimbang dengan sasaran fisik, yang menurut dia cenderung diabaikan. "Hal ini kadang-kadang tidak berimbang dengan sasaran fisik yang cenderung diabaikan," tutur Aris.
Aris kemudian mengibaratkan naskah kuno seperti sebuah koin emas yang memiliki dua sisi berharga. Naskah kuno baik nilai fisiknya maupun nilai informasinya. 
Naskah kuno, kata Aris, juga merupakan sebuah warisan budaya yang sama-sama penting. Perpusnas telah melakukan berbagai cara dalam rangka melestarikan koleksi yang dimiliki. 
Dia menjelaskan, banyak sekali bahan perpustakaan yang ada di Perpusnas, mulai dari kertas, karya rekam, dan naskah kuno yang memiliki karakter dan membutuhkan perlakuan yang berbeda-beda dalam upaya pelestariannya.

Semua itu dia katakan pada webinar bertajuk "Mempertahanankan Indentitas Bangsa Melalui Koleksi Bersejarah dan Warisan Budaya” yang digelar secara daring, Selasa (31/8) lalu. 
Dalam kegiatan itu Perpusnas juga menghadirkan dua peneliti naskah koleksi Indonesia dari Staat Bibliotek zu Berlin Jerman, yakni Yonnes Dehghani dan Thoralf Hanstein. 

Di Jerman, menurut Yonnes, saat ini ada lebih dari 20 institusi yang memiliki koleksi manuskrip oriental dan Asia. Koleksi-koleksi itu di dalamnya terdapat naskah kuno yang berasal dari Indonesia.
“Jika seorang peneliti ingin menemukan beberapa naskah kuno, hal tersebut membuat mereka sulit menemukan naskah-naskah yang mereka cari,” jelas dia.
Naskah Nusantara Indonesia yang ada di Jerman, kata dia, nantinya akan tergabung dalam sebuah katalog gabungan atau terpadu yang disebut Union Calaloge yang tersaji dalam bentuk portal. 
Sementara itu, Thoralf menyebutkan, secara keseluruhan koleksi naskah nusantara di Staat Bibliotek zu Berlin kini memuat hampir 700 objek. 

Menurut dia, sepertiganya sudah didigitalisasi dan dilayankan secara daring dalam kualitas gambar tinggi secara gratis, baik untuk kepentingan pribadi, ilmiah, maupun bisnis. 
“Proses katalogisasi naskah Nusantara di seluruh Jerman menurut saya sebenarnya sangat penting sekali. Karena ternyata banyak sekali koleksi-koleksi kecil yang tersembunyi dalam arsip daerah yang eksistensinya tidak diketahui sebelumnya,” kata dia. 
Hal ini menurut Thoralf merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Sebab, banyak rakyat Jerman bekerja di Indonesia pada zaman kolonialisasi Belanda dan kemudian kembali dengan membawa naskah yang disimpan sebagai koleksi pribadi maupun arsip daerah.

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, dalam sambutan mengatakan, upaya mengaktualisasikan makna nilai dan perjuangan sejarah bangsa Indonesia dalam perjuangan di masa lampu dapat dilakukan dengan menggali isi yang terkandung dalam naskah kuno Nusantara.

Menurut dia, Indonesia harus berbangga dengan nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam naskah-naskah kuno koleksinya dan mampu mengaktualisasikan kedalam kehidupan saat ini. Naskah kuno juga dia anggap dapat menjelaskan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, Indonesia memiliki kejayaan yang pernah dicapai ribuan tahun sebelum terkumpul sebagai sebuah bangsa. 
 
“Kita ingin mengimbau dan mengharapkan sekali kepada para pustakawan betapa penting perjalanan sejarah ini diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Apa yang kita bisa angkat dari perjuangan perjuangan para raja-raja di masa kejayaannya," kata Syarif.    

Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/qyv0jy320

Mendata Manuskrip Islam yang Tersebar di Eropa Stephan Roman, direktur British Council regional Asia Selatan lewat the Developme...

Mendata Manuskrip Islam yang Tersebar di Eropa


Stephan Roman, direktur British Council regional Asia Selatan lewat the Development of Islamic Library Collections in Western Europe and North America, mengungkap ratusan ribu, bahkan sejumlah statistik kasar, manuskrip Islam tersimpan di pusat-pusat studi Barat.  terungkap manuskrip-manuskrip Islam yang tersebar di Eropa Barat dan Amerika Utara.

Pria kebangsaan Inggris itu pun mendapati penyebaran sejumlah besar manuskrip Islam di 10 negara Barat. Yakni, Inggris, Prancis, Jerman, Denmark, Italia, Belanda, Spanyol, dan Amerika Serikat. Dengan berbagai alasan, negara-negara tersebut menyimpan ratusan hingga ribuan manuskrip Islam.

Menurutnya, ada berbagai aktor dan faktor yang menyebabkan perpindahan manuskrip-manuskrip Islam ke tangan Barat. Sebagian manuskrip diperoleh lewat perampokan dan penjarahan pada masa kolonialisme. Yang lain, melalui proses transaksi jual-beli. Tapi, ada pula yang sengaja dihadiahkan oleh penguasa Muslim.

Stefanie Brinkmann dari Institute of Oriental Studies, University of Leipzig, mengatakan, banyak koleksi naskah Islam berasal dari kontak dengan Kekaisaran Ottoman pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Manuskrip-manuskrip itu dibawa oleh tentara, pedagang, misionaris, administrator, penulis, dan pelancong.

Interaksi pertama Barat dengan manuskrip Islam terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa itu, banyak sarjana Barat belajar di pusat-pusat intelektual Islam, seperti Kordoba, Sevilla, Granada, Salamanca, dan Toledo.

Sebagian aktif menerjemahkan kitab-kitab tersebut ke dalam bahasa Inggris atau Latin. Adelard of Bath, Gerrad van Cremona, dan Petrus Alfonsi adalah beberapa tokoh besar Eropa yang menerjemahkan karya Muslim. Inggris, misalnya, catat Roman, hubungan negara ini dengan Islam berkaitan dengan Muslim Spanyol dan Perang Salib. Michael Scot (1175-1235), astrolog Inggris dan ahli kimia terkemuka, serta Adelard of Bath, guru Raja Henry II. Keduanya menghabiskan sebagian waktu di universitas Islam untuk mempelajari sains dan filsafat.

Sepulang ke negara asal, para sarjana ini membawa harta karun berupa manuskrip atau terjemahan manuskrip Islam. Termasuk, Canon of Medicine karya Ibnu Sina. Pekerjaan penerjemahan ini terus berlangsung hingga abad ke-13 dan 14. Karena itu, tidak mengherankan bila banyak karya Muslim yang kini hanya ditemukan terjemahannya di perpustakaan Eropa.

Proses ini juga terkait dengan perpindahan ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat. Mehdi Nakosteen dalam History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 : With an Introduction to Medieval Muslim Education mengungkapkan, transformasi ilmu pengetahuan Islam ke Barat dibangun melalui dua cara. Pertama, melalui para mahasiswa dan cendekiawan Eropa yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi atau universitas Islam di Spanyol. Kedua, melalui hasil karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka.

Peradaban silih berganti. Ketika para sarjana Barat mulai menyadari kekuatan ilmu pengetahuan, kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Islam melemah. Puncaknya, keruntuhan Baghdad pada 1258 M meninggalkan dampak besar dalam peradaban Islam. Baghdad adalah wajah peradaban Islam.

JJ Saunders dalam History of Medieval Islam mengatakan, Baghdad merupakan kiblat kehidupan intelektual bangsa Arab. Kota ini tak ubahnya rumah kuno kebudayaan (the ancient home of culture), titik pertemuan kebudayaan Yunani dan Persia. Keruntuhan Baghdad sontak membuat aktivitas keilmuan kaum Muslim lumpuh. Banyak buku yang dibakar dan dibuang ke Sungai Tigris. Setelah itu, kekuatan-kekuatan politik baru muncul di beberapa wilayah. Tapi, tradisi intelektual tak pernah sekuat Baghdad lagi. Sejak abad ke-12, Eropa juga sudah mulai memiliki universitas sendiri.

Kendati begitu, tradisi intelektual dan manuskrip Islam telah memberi sumbangan besar bagi keilmuan Barat modern. Abad ke-14, cikal bakal gerakan renaisans lahir di Florence, Italia. Profesor dari Columbia University, George Saliba, dalam Islamic Science and the Making of European Renaissance, mengungkapkan pengaruh ilmu pengetahuan Islam terhadap gerakan Renaisans. Saliba dalam buku ini melacak orisinalitas pengetahuan Islam lewat astronomi. Para ilmuwan Barat ditengarai pernah membaca karya-karya ilmuwan Muslim.

Kolonisasi Barat di negara-negara Muslim menjadi jalan perpindahan manuskrip-manuskrip tersebut. Dalam bukunya, Roman mencatat delapan dari 10 negara yang dia teliti pernah melakukan kolonisasi di negara Muslim.

Prancis memiliki bekas jajahan di Mesir, Turki, dan Afrika Utara. Belanda di Indonesia sedangkan Inggris di anak benua India dan Timur Tengah. Italia di Afrika Utara, Amerika di negara-negara Teluk, sedangkan Jerman di Turki. Spanyol, lain cerita. Kejayaan Andalusia di Spanyol meninggalkan warisan manuskrip yang tidak sedikit bagi negara Spanyol modern.

Inggris, salah satu negara kolonialis paling berpengaruh dan pemilik manuskrip Islam terbesar, memiliki jejaring dengan berbagai belahan dunia Muslim. Mulai dari Afrika Utara, Ottoman Turki, Mesir, Sudan, Persia, India, Malaya, bahkan Jawa dan Sumatra.

Hubungan yang berlangsung sejak abad ke-17 M ini membuat Inggris menguasai beribu-ribu manuskrip Islam dalam berbagai bahasa Arab. Koleksi itu tersimpan di London, Cambridge, Oxford, Birmingham, Midland, Leeds, Manchester, Glasgow, dan Edinburgh.

Sumber:
https://m.republika.co.id/berita/q1bjkw313/mendata-manuskrip-islam-yang-tersebar-di-eropa

Berburu Manuskrip Islam di Perpustakaan Ternama Eropa Sudah lazim diketahui, bila ingin berburu manuskrip Islam, datanglah ke pe...

Berburu Manuskrip Islam di Perpustakaan Ternama Eropa


Sudah lazim diketahui, bila ingin berburu manuskrip Islam, datanglah ke perpustakaan-perpustakaan ternama di Eropa. Satu-satunya salinan kitab surat al-Ard al-Khawarizmi tersimpan di Perpustakaan Universitas Strasbourg. Sementara, terjemahan Latinnya tersimpan di Biblioteca Nacional de España di Madrid.

Kitab al-Khawarizmi yang lain, Zij al-Sindhind dalam bahasa Latin tersimpan di Bibliotheque publique (Chartres), Bibliothèque Mazarine (Paris), Bibliotheca Nacional (Madrid), dan Bodleian Library (Oxford). Perpustakaan nan jauh di Benua Biru itu adalah surga bagi para peneliti manuskrip Islam. Di sana, manuskrip Islam tersimpan, terjaga, bahkan masih terus dikaji.

Popularitas manuskrip Islam tak lepas dari pasang surut studi filologi. Adam Gacek dari Mc Gill University mencatat, studi filologi mulai mendapat momentum pada abad ke-19. Sejak itu, manuskrip menjadi objek penelitian yang populer. Motif pengkajian manuskrip ini tidak lepas dari kepentingan pemerintah kolonialis.

Selama ekspansi imperialistik abad ke-19, kata Stefanie Brinkmann, budaya dan kegiatan ilmiah menjadi terkait dengan aktivitas politik. Pada 1873-1914, Jerman dengan sukses menaruh beberapa direktur di Khedivial Library, Kairo. Salah satunya, Karl Vollers (1886-1896). Hal itu dilakukan demi kepentingan ilmiah, selain juga untuk mengamankan pengaruh politik.

Sarjana kebangsaan Jerman, Carl Brockelmann (1868-1956), adalah orang yang berjasa besar dalam studi manuskrip Islam lewat karyanya, Geschichte der Arabischen Litteratur (Tarikh al-Adab al Arabi). Karya ini merupakan katalog raksasa yang memuat seluruh khazanah pemikiran Islam-Arab sejak abad ke-8 M hingga abad ke-20. Artinya, naskah ini meliputi manuskrip sejak zaman awal Islam, masa Umayyah, Abbasiyah, Ottoman, hingga era modern. Karya ini masih menjadi pegangan bagi para peneliti manuskrip Islam-Arab. 

Para orientalis amat menyadari pentingnya manuskrip Islam. Mereka memiliki ketekunan dalam studi naskah. Dalam kasus manuskrip Islam Indonesia, banyak naskah dikaji oleh orientalis Inggris dan Belanda. Karya Sunan Bonang diteliti oleh BJO Schrieke (1916) dalam Het Boek van Bonang (1916), kemudian diterbitkan ulang oleh GWJ Drewes dalam the Admonitions of Seh Bari (1969). Mistisisme Syamsuddin as- Sumatrani diteliti dalam Samms'l Din van Pasai: Bijdragen tot de kennis der Soematraansche Mystiek oleh CAO Nieuwenhuijze (1945). Ada lagi, P Voorhoeve yang mengkaji ulama Melayu, Nuruddin ar-Raniri, dalam Twee Maleische geschriften van Nuruddin ar Raniri (1955).

Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/owh3fh313

Ini Faktor Penyebab Perpindahan Manuskrip Islam ke Barat Ada berbagai aktor dan faktor yang menyebabkan perpindahan manuskrip-ma...

Ini Faktor Penyebab Perpindahan Manuskrip Islam ke Barat


Ada berbagai aktor dan faktor yang menyebabkan perpindahan manuskrip-manuskrip Islam ke tangan Barat. Sebagian manuskrip diperoleh lewat perampokan dan penjarahan pada masa kolonialisme. Yang lain, melalui proses transaksi jual-beli. Tapi, ada pula yang sengaja dihadiahkan oleh penguasa Muslim.

Stefanie Brinkmann dari Institute of Oriental Studies, University of Leipzig, mengatakan, banyak koleksi naskah Islam berasal dari kontak dengan Kekaisaran Ottoman pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Manuskrip-manuskrip itu dibawa oleh tentara, pedagang, misionaris, administrator, penulis, dan pelancong.

Interaksi pertama Barat dengan manuskrip Islam terjadi pada masa kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa itu, banyak sarjana Barat belajar di pusat-pusat intelektual Islam, seperti Kordoba, Sevilla, Granada, Salamanca, dan Toledo.

Sebagian aktif menerjemahkan kitab-kitab tersebut ke dalam bahasa Inggris atau Latin. Adelard of Bath, Gerrad van Cremona, dan Petrus Alfonsi adalah beberapa tokoh besar Eropa yang menerjemahkan karya Muslim. Inggris, misalnya, catat Roman, hubungan negara ini dengan Islam berkaitan dengan Muslim Spanyol dan Perang Salib. Michael Scot (1175-1235), astrolog Inggris dan ahli kimia terkemuka, serta Adelard of Bath, guru Raja Henry II. Keduanya menghabiskan sebagian waktu di universitas Islam untuk mempelajari sains dan filsafat.

Sepulang ke negara asal, para sarjana ini membawa harta karun berupa manuskrip atau terjemahan manuskrip Islam. Termasuk, Canon of Medicine karya Ibnu Sina. Pekerjaan penerjemahan ini terus berlangsung hingga abad ke-13 dan 14. Karena itu, tidak mengherankan bila banyak karya Muslim yang kini hanya ditemukan terjemahannya di perpustakaan Eropa.

Proses ini juga terkait dengan perpindahan ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat. Mehdi Nakosteen dalam History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 : With an Introduction to Medieval Muslim Education mengungkapkan, transformasi ilmu pengetahuan Islam ke Barat dibangun melalui dua cara. Pertama, melalui para mahasiswa dan cendekiawan Eropa yang menimba ilmu di sekolah-sekolah tinggi atau universitas Islam di Spanyol. Kedua, melalui hasil karya cendekiawan Muslim yang diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka.

Peradaban silih berganti. Ketika para sarjana Barat mulai menyadari kekuatan ilmu pengetahuan, kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Islam melemah. Puncaknya, keruntuhan Baghdad pada 1258 M meninggalkan dampak besar dalam peradaban Islam. Baghdad adalah wajah peradaban Islam.

JJ Saunders dalam History of Medieval Islam mengatakan, Baghdad merupakan kiblat kehidupan intelektual bangsa Arab. Kota ini tak ubahnya rumah kuno kebudayaan (the ancient home of culture), titik pertemuan kebudayaan Yunani dan Persia. Keruntuhan Baghdad sontak membuat aktivitas keilmuan kaum Muslim lumpuh. Banyak buku yang dibakar dan dibuang ke Sungai Tigris. Setelah itu, kekuatan-kekuatan politik baru muncul di beberapa wilayah. Tapi, tradisi intelektual tak pernah sekuat Baghdad lagi. Sejak abad ke-12, Eropa juga sudah mulai memiliki universitas sendiri.

Kendati begitu, tradisi intelektual dan manuskrip Islam telah memberi sumbangan besar bagi keilmuan Barat modern. Abad ke-14, cikal bakal gerakan renaisans lahir di Florence, Italia. Profesor dari Columbia University, George Saliba, dalam Islamic Science and the Making of European Renaissance, mengungkapkan pengaruh ilmu pengetahuan Islam terhadap gerakan Renaisans. Saliba dalam buku ini melacak orisinalitas pengetahuan Islam lewat astronomi. Para ilmuwan Barat ditengarai pernah membaca karya-karya ilmuwan Muslim.

Kolonisasi Barat di negara-negara Muslim menjadi jalan perpindahan manuskrip-manuskrip tersebut. Dalam bukunya, Roman mencatat delapan dari 10 negara yang dia teliti pernah melakukan kolonisasi di negara Muslim.

Prancis memiliki bekas jajahan di Mesir, Turki, dan Afrika Utara. Belanda di Indonesia sedangkan Inggris di anak benua India dan Timur Tengah. Italia di Afrika Utara, Amerika di negara-negara Teluk, sedangkan Jerman di Turki. Spanyol, lain cerita. Kejayaan Andalusia di Spanyol meninggalkan warisan manuskrip yang tidak sedikit bagi negara Spanyol modern.

Inggris, salah satu negara kolonialis paling berpengaruh dan pemilik manuskrip Islam terbesar, memiliki jejaring dengan berbagai belahan dunia Muslim. Mulai dari Afrika Utara, Ottoman Turki, Mesir, Sudan, Persia, India, Malaya, bahkan Jawa dan Sumatra.

Hubungan yang berlangsung sejak abad ke-17 M ini membuat Inggris menguasai beribu-ribu manuskrip Islam dalam berbagai bahasa Arab. Koleksi itu tersimpan di London, Cambridge, Oxford, Birmingham, Midland, Leeds, Manchester, Glasgow, dan Edinburgh.

https://m.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/09/18/owh2b9313-ini-faktor-penyebab-perpindahan-manuskrip-islam-ke-barat




Kebenaran, Mudah Dipahami Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan p...

Kebenaran, Mudah Dipahami

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan pernah menemukan kebenaran. Kebenaran hanya terlacak dengan iman kepada Allah

Gelar akademik tidak akan menemukan kebenaran. Kebenaran itu datangnya dari sisi Allah.

Kebenaran itu mudah dan sederhana. Setiap manusia bisa menemukannya tanpa perlu kecerdasan dan gelar akademik. Kebenaran itu hak setiap manusia

Bilal bin Rabah seorang budak. Abubakar dan Umar bin Khatab sang bangsawan. Mereka bertemu pada satu pemahaman tentang kebenaran

Ammar bin Yasir keturunan budak. Mushab bin Umair anak bangsawan. Mereka satu kata tentang kebenaran. Kebenaran dipahami setiap orang

Bila sesuatu sulit dipahami. Butuh metodelogi. Hanya dipahami kalangan terbatas dan intelektual. Itu bukanlah kebenaran.

Rasa gula dan garam, semua kalangan  merasakan hal yang sama. Tak ada perbedaan apa pun. Itulah kebenaran.

Seluruhnya Nabi dan Rasul. Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw. Mengatakan dan menyampaikan hal yang sama. Itulah kebenaran.

Kebenaran itu bersumber dari fitrah dan iman, bukan dari dogma dan intervensi luar ke dalam

Kebenaran tidak datang dari serbuan informasi, data dan berita. Tetapi melalui pencarian diri. Seperti Abu Dzar, tak terpengaruh berita Hoax tentang Rasulullah saw

Kebenaran akan selalu hidup. Karena kebenaranlah yang dibutuhkan, dicari dan dibela oleh manusia.

Bersama kebenaran, tak perlu ragu dan khawatir dengan sedikitnya kekuatan. Karena kebenaranlah yang menciptakan kekuatannya sendiri.

Peradaban Islam Sebagai Jembatan ke Renaissance   Akibat Indonesia bekas jajahan Belanda maka wajar apabila pengajaran sejarah d...

Peradaban Islam Sebagai Jembatan ke Renaissance

 
Akibat Indonesia bekas jajahan Belanda maka wajar apabila pengajaran sejarah dunia di Indonesia mewarisi apa yang diajarkan oleh Belanda tentang sejarah dunia.
 
EROPASENTRIS
Akibat kurikulum sejarah bersifat Eropasentris,  saya lebih mengenal para tokoh sejarah dunia berasal dari Eropa seperti Napoleon dan Katharina Agung ketimbang para tokoh berasal dari Asia seperti Ashoka atau Ching I Sao. 
Maka wajar pula bahwa saya diajarkan oleh guru sejarah dunia yang orang Indonesia tetapi didikan Belanda tentang peradaban Yunani dan Romawi kuno disusul oleh Abad Pertengahan di Eropa yang langsung loncat ke jaman Renaissance sebagai masa kebangkitan peradaban Eropa.
Akibat guru sejarah dunia saya didikan Belanda maka beliau tidak diajarkan maka juga tidak mengajarkan kepada saya tentang masa keemasan peradaban Islam yang menjembatani peradaban Abad Pertengahan dengan Era Renaissance.

Saya juga tidak diajarkan tentang masa puncak peradaban di Spanyol yang mewariskan mahakarya arsitektur Islam seperti Al Hambra di Granada dan Masjid Agung Mezquita di Cordoba mau pun seni musik Spanyol yang menggunakan sistem sapta nada Arab.
Baru ketika saya di Eropa dan mengunjungi perpustakaan perguruan tinggi di Jerman demi mempelajari buku-buku tentang Masa Keemasan Islam di Persia dan Andalusia saya tersadar bahwa Bagdad dan Cordoba merupakan pusat kebudayaan Islam.
Peradaban Islam ini telah melahirkan para maha-cendekiawan, mahamatematikawan, mahaastronomi, mahasastrawan, mahabudayawan serta mahapemikir yang secara langsung mempengaruhi peradaban Eropa melalui era Renaissance. 
 

BAIT AL HIKMAH 
Semula saya tidak kenal Bait Al Hikmah di Bagdad mau pun pusat kebudayaan Islam di Kordoba. Saya tidak kenal  Al Kharwizimi yang mengembangkan aljabar dan algoritma sambil menyempurnakan teori-teori astronomi Ptolomeus yang kemudian mempengaruhi Kepler dan Kopernikus.
Pada hakikatnya Galileo Galilei mengembangkan mashab heliosentris garapan Al Khwarzimi. Seperti Machiavelli di Italia,  sebelumnya Al Khwarzimi di Persia juga menulis makalah politik dan tata-negara.

Saya tidak kenal mahakarya sastra Rubayat mau pun naskah-naskah geometri Risālah fī šarḥ mā aškala min muṣādarāt kitāb Uqlīdis dan Risālah fī qismah rub‘ al-dā’irah serta Maqāla fi al-jabr wa l-muqābala.

Para budayawan Islam semula mempersatukan matematika, astronomi, sains, sastra, senirupa menjadi satu kesatuan ilmu di bawah payung kebudayaan.
Budaya multi-ilmu dilanjutkan oleh Leonardo da Vinci sebagai pelukis, pemusik, sastrawan, anatomiwan, diplomat, negarawan, alutsistawan dan lain-lain keilmuan yang lazim pada masa Renaissance.
Tanpa para matematikawan Islam, mustahil Fabionacci melahirkan pemikiran-pemikiran matematika yang berpengaruh sampai masa kini.

Semula saya juga tidak menyadari peran serta pengaruh pemikiran ensiklopedis Al Farabi, theolog Al Ghazali, astronom Al Jawhari, kartograf Al Idrisi, fisikawan Al Haytham, budayawan multi-bidang Ibnu Khaldun yang tampaknya secara sengaja tak sengaja, sadar tak sadar ditenggelamkan dari permukaan sejarah peradaban Eropa oleh Petrarca dan para sejawat pendukung peradaban Nasrani.

Tanpa peradaban Yunani dan Romawi kuno yang naskah-naskahnya pernah dihimpun di perpustakaan Aleksandria, Mesir mustahil ada pusat peradaban Islam di Persia dan Andalusia.
Namun, tanpa Bait Al Hikmah di Bagdad dan pusat pengembangan sains di Kordoba terasa juga mustahil lahir masa keemasan peradaban Eropa pada masa yang disebut sebagai Renaissance.


Sumber:
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qogr0l385

Kontradiktif Sejarah Nusantara dan Eropa Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Abad ke 5-15, itulah masa ke...

Kontradiktif Sejarah Nusantara dan Eropa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)



Abad ke 5-15, itulah masa kekelaman Eropa atau disebut era kegelapan atau abad pertengahan. Bagaimana Nusantara? Itulah era awal dan periode kemakmuran

Setelah Romawi terpecah menjadi kerajaan Roma dan Binzyantium, itulah era dimulainya kegelapan. Siapakah yang berkuasa? para agamawan dan kaisar

Saat pemikir Eropa mulai berfikir persamaan dan persaudaraan. Nusantara sudah tercipta hubungan harmonis antara rakyat, raja/sultan dan ulama.

Saat Eropa mulai berfikir Trias Politika, di Nusantara sudah tercipta pembagian peran antar Sultan dan Qadhi (Peradilan)

Saat agamawan dan kaisar meredupkan Eropa, di Nusantara justru para Ulama dan Sultan/raja menciptakan kemakmuran dan membangun sistem masyarakat yang kuat

Saat Eropa dibodohkan oleh dogma dan tahayul, Nusantara sudah membangun lembaga pendidikan di istana dan pesantren oleh para ulama.

Saat pengetahuan Geografi Eropa baru tahu sampai India, Pelaut Nusantara sudah sampai ke Afrika dan China. Ekspor Nusantara menembus dunia

Bandingkan abad ke 5-15 antara Nusantara dan Eropa, siapa yang lebih tinggi peradabannya? Hukum kemajuan dan kemunduranya berbeda

Saat Nusantara bersinar, Eropa meredup. Saat Eropa bersinar, Nusantara meredup. Apa penyebabnya? Hukum sebab akibatnya berbeda, pelajarilah

Siapa yang menciptakan feodalisme, Nusantarakah? Siapa yang menciptakan tuan tanah, Nusantarakah? Semua pemaksaan dari Eropa

Siapakah yang membentuk masyarakat kelas satu, dua dan tiga? Siapakah yang membatasi pendidikan untuk kalangan terbatas? Eropa bukan Nusantara

Penjajahan telah mengimpor sebab kemunduran pada bangsa yang dijajahnya. Suasana abad pertengahan Eropa dibawa ke Nusantara.

Nusantara berjaya saat ulama membangun peran. Eropa redup saat agamawan menguasai akal, hati dan ilmu manusia. Sebuah kontradiktif sejarah

Nusantara berhasil dijajah Eropa, saat itu peradaban Eropa sedang naik dan Nusantara sedang meredup. Bukan berarti Nusantara tak pernah melampaui Eropa

Sumber:
https://www.kompas.com/stori/read/2021/09/22/110000679/kondisi-eropa-sebelum-renaissance?

Nusantara Dijajah Eropa, Eropa Dijajah Prinsipnya Sendiri Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apakah hany...

Nusantara Dijajah Eropa, Eropa Dijajah Prinsipnya Sendiri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Apakah hanya Nusantara yang dijajah? Apakah Eropa tidak pernah dijajah? Nusantara dijajah bangsa asing. Eropa dijajah oleh dirinya sendiri

Gerakan Renaisance bentuk perlawanan terhadap penjajahan. Marxisme bentuk perlawanan terhadap penjajahan yang dilakukan oleh Eropa terhadap dirinya

Renaisance gerakan intelektual dan rakyat terhadap hegemoni agamawan dan kaisar. Feodalisme menindas intelektual dan jelata.

Setelah hegemoni Agamawan dan Kaisar sirna, yang muncul hegemoni kaum borjuis. Hartawan mengatur kehidupan banyak manusia.

Marxisme, hidup adalah pertarungan antar kaum kaya dan miskin, majikan dan buruh. Cara Ini, kehidupan tidak pernah tentram.

Marxisme gerakan perlawanan terhadap kaum Borjuis. Setelah ini apa yang terjadi? Perang dunia 1 dan 2.

Mengapa ada kemerdekaan Amerika? Revolusi Amerika? Bukankah mereka menindas dan berupaya melenyapkan suku asli Indian?

Mengapa sesama bangsa Eropa, terjadi deklarasi kemerdekaan dari bangsa Eropa sendiri? Itu yang terjadi di Amerika.

Nusantara dijajah oleh beberapa negara, Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan Perancis. Itu terjadi karena pertempuran sesama Eropa  sendiri.

Mana yang lebih menderita, Eropa atau Nusantara? Dijajah bangsa lain atau bangsa sendiri? Tanyakan pada jiwa.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (197) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (193) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)