basmalah Pictures, Images and Photos
Januari 2022 - Our Islamic Story

Choose your Language

Rahmat Allah di Dunia Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berapa lama tinggal di dunia? Di akhirat nanti,...

Rahmat Allah di Dunia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Berapa lama tinggal di dunia? Di akhirat nanti, ada yang menjawab satu atau setengah hari saja. Namun Allah menjawab hanya sebentar saja. Rentang waktunya seperti orang yang berkenalan pada siang hari saja. Betapa sangat singkatnya.

Penciptaan alam semesta hanya 6 hari saja. Bagaimana dengan umur manusia? Padahal menurut ilmuwan, proses penciptaan alam semesta memerlukan waktu milyaran tahun. Rentang waktu membaca seluruh kisah dari penciptaan Nabi Adam hingga Rasulullah saw di Al-Qur'an hanya butuh beberapa jam saja. Itulah waktu dan peristiwa utama yang bernilai di sisi Allah.

Cobalah berimajinasi, peristiwa akhirat benar-benar terjadi sekarang juga. Seolah saat ini tengah menghadapi peristiwa akhirat yang diabadikan oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an itu buku panduan berbagai peristiwa pasca kematian. Persiapannya hanya di kehidupan dunia ini saja.

Bacalah semua penyesalan yang dilontarkan manusia. Bacalah semua harapan yang disampaikan manusia kepada Allah. Bacalah semua perselisihan diantara mereka yang menyekutukan Allah dan tak mengikuti syariat-Nya. Bacalah semua bentuk ketakutan yang mengepungnya. Itulah ragam peristiwa yang pasti dialami.

Waktu sebentar di dunia, tapi bisa menikmati keabadian kebahagiaan di akhirat. Itulah rahmat Allah. Lelahnya sebentar. Perjuangannya sesaat. Pengorbanannya ringan.  Ujiannya sesuai kemampuan manusia. Inilah rahmat Allah di kehidupan dunia.

Hanya butuh kesabaran sesaat. Hanya butuh bangkit kembali setelah jatuh. Hanya butuh penyerahan diri dan ketaatan sebentar. Lalu Allah akan mengampuni, menghapus kesalahan dan memperbaiki amal yang penuh kecacatan. Inilah rahmat Allah di kehidupan dunia.

Manusia bagaikan raja di alam semesta. Dilayani oleh jagat raya. Didoakan oleh seluruh makhluk. Malaikat yang mengelilingi Arsy memohon ampun untuk mukmin, keluarganya, keturunannya dan orang tuanya. Allah membuka pintu taubat sebelum kematian tiba. Allah melibatkan pahala kebaikan. Baru niat pun sudah dicatat kebaikan.

Bila semua rahmat Allah di kehidupan dunia tak bisa memperberat amal kebaikannya, maka sangat layaknya bila Allah memperlakukan sesuai amalnya, memasukkan keabadian siksaan neraka. Karena jiwanya sudah sangat parah. Waktu sesaat yang dipenuhi rahmat Allah tetapi tak juga bisa menolongnya. Inilah seburuknya manusia.

Potret Malam Hari Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Malam hari, Allah mengisra-mirajkan Rasulullah saw ...

Potret Malam Hari

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Malam hari, Allah mengisra-mirajkan Rasulullah saw di malam hari. Nabi Musa melihat api yang menjadi penyebab diangkatnya menjadi Rasul di malam hari. Allah pun memerintahkan shalat di malam hari. Dalam Surat Ath-Thariq Allah bersumpah atas nama langit dan apa yang datang di malam hari.  Apa yang datang di malam hari sehingga Allah bersumpah untuknya?

Malam hari adalah ujian. Banyak kemaksiatan yang dihadirkan di malam hari, hotel, pub, diskotik, main game dan pornografi sangat gencar di malam hari. Rencana jahat, kejahatan, ilmu hitam menjadikan malam sebagai sarananya. Kedengkian banyak yang disalurkan di malam hari. Malam hari adalah episode kelemahan manusia. Menjatuhkan musuh, dan kudeta kekuasaan semuanya di malam hari. Malam hari adalah potret kelemahan manusia. Yang paling perkasa pun tak sanggup menahan ngantuk yang menyebabkan segala kekuatannya tak berdaya.

Malam hari, saat seluruh racun dikeluarkan dari tubuh. Saat seluruh organ diistirahat. Saat kesadaran dicabut. Saat ruh kembali dalam genggaman Allah. Malam hari, bumi seperti kuburan. Alam seperti tak berpenghuni. Semua makhluk beristirahat. Dengan malam pula, manusia diistirahat untuk bermaksiat kepada Allah. Namun bagaimana dengan mereka yang bermaksiat di malam hari? Ini tanda bahwa kemaksiatannya sudah melampaui batas. Ini tanda kemaksiatannya bukan lagi kekhilafan tetapi sudah disengaja, diupayakan dan disistemkan.

Ketika maksiat diistirahatkan dengan melemahkan manusia. Di tengah kenikmatan ini, ada yang mengisinya dengan tidur mendengkur, berselimut dan menikmati waktu lapang. Ini tanda pribadi yang malas. Pribadi seperti ini tak bisa memanfaatkan momentum. Tak paham peluang. Kemudahan dari Allah hanya digunakan untuk mendengkur. Jiwa seperti ini tak layak untuk diajak untuk bangkit dan berjuang. Pribadi seperti ini ditinggalkan oleh Shalahuddin Al Ayubi dan Muhammad al Fatih. Pribadi seperti ini tak dibutuhkan dalam medan perjuangan umat.

Malam hari adalah potret diri. Ketika maksiat diistirahatkan saja tak bisa membangun amal kebaikan, bagaimana di siang hari yang godaanya terpampang di depan mata? Malam hari untuk melihat kepalsuan iman kita. Malam hari untuk melihat kemalasan. Malam hari, itulah hakikat jiwa manusia sesungguhnya. Bila malam diisi dengan dengkuran, bertanda kehidupan kita penuh kelalaian dan kemalasan. Malam hari, itulah potret kita yang asli.

Bila bisa mengelola malam hari, maka kita bisa mengelola siang hari. Bila bisa menciptakan kebaikan di malam hari, maka akan dimudahkan untuk membangun kebaikan di siang hari. Bila mampu melawan kemalasan malam hari maka akan bisa menciptakan kegairahan di siang hari. Bila mampu menghalau dinginya malam, maka dia akan bisa menerjang tantangan siang. Seperti Zainal Abidin, cucu Rasulullah saw, yang menjadikan malamnya dengan 1.000 rakaat dan membagikan makanan ke setiap fakir miskin yang ada di Madinah.

Penghuni malam akan bisa merajai dan menguasai siang. Penghuni malam akan menjadi raja di Surga. Dalam kegelapan dia bisa membangun sesuatu, apalagi saat siang? Bila mampu mengangkangi dingin dan kegelapan malam, maka sebesar apa pun tantangan dan rintangan akan bisa diatasi dengan pertolongan Allah. Malam adalah training center kehidupan. Malam adalah madrasah orang yang beriman. Malam adalah waktu istirahat bagi yang lalai.



Membongkar Kepalsuan Diri Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bongkarlah isi hati dengan berp...

Membongkar Kepalsuan Diri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bongkarlah isi hati dengan berpolitik. Karena politik membongkar kepalsuan iman. Syahwat politik banyak yang merontokkan mereka yang mengaku beriman. Namun mengapa para tokoh Masyumi seperti M Natsir, Hamka dan yang lainnya tetap teguh keimanannya?

Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib tetap kokoh keimanannya walaupun seluruh kekuasaan ada pada genggamannya. Tidak ada yang salah dengan politik, yang salah kepalsuan iman yang ada di hati kita.

Bongkarlah kepalsuan iman dengan berbisnis. Memburu kekayaan kadang melunturkan iman. Namun mengapa itu tidak terjadi pada Abu Hanifah, Abdullah Ibnu Mubarrak, Junaid Al Baghdadi? Bukan bisnis yang salah, tetapi kepalsuan imanlah yang selama ini kita pertahankan.

Bongkarlah kepalsuan iman dengan bekerja, mengelola bisnis orang lain. Adakah amanah? Kadang iman luntur karena ingin mengambil kekayaan milik orang lain dengan cara yang tidak di ridha. Bukan bekerjanya yang salah, tetapi tertipu dengan iman yang palsu.

Dunia ini arena untuk membongkar kepalsuan. Pergulatan kehidupan untuk menunjukkan jati diri manusia. Penempaan dunia adalah pemilahan siapa yang palsu, pendusta dan curang. Penempaan dunia adalah penempaan unjuk batang hidung manusia. Andai tak ada dunia, maka tidak akan tahu kepalsuan kita.

Dunia adalah medan pemilahan. Siapa yang munafik? Siapa yang tidak beriman? Dunia itu untuk membongkar isi hati yang tersembunyi. Dunia itu untuk membongkar nafsu yang disembunyikan.

Kepalsuan politisi terungkap ketika berkuasa. Kepalsuan pengusaha terbongkar ketika mendapatkan proyek atau keuntungan. Kepalsuan pekerja terbongkar ketika diberikan amanah. Kepalsuan baru terbongkar ketika sudah meraih apa yang diimpikan. Semuanya serba baik, sebelum digenggam. Kepalsuan terbongkar ketika segalanya sudah ada dalam genggaman.

Allah memberikan peluang keberhasilan untuk menguji adakah kepalsuan dalam hati? Allah memberikan kesempatan untuk menang dan sukses untuk melihat adakah penghianatan dari janji?

Dunia dihadirkan memang untuk menonton kepalsuan diri kita.

Syukur Yang Tertinggi Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sujud syukur itu bukan pada saat sebuah cita-ci...

Syukur Yang Tertinggi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Sujud syukur itu bukan pada saat sebuah cita-cita terrengkuh. Bukan pula saat keinginan terrealisasi, sujud syukur itu saat hati mengakui dan ridha bahwa Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Dunia, harta dan jabatan bukan sesuatu yang berharga, andaikan berharga tentu takkan  diberikan kepada yang tak beriman. Karena kehinaannyalah, semuanya diberikan kepada seluruh manusia. Bila masih berbangga denganya, berarti membanggakan yang hina. Jiwa yang hina akan selalu membanggakan yang hina pula. Memperebutkannya berarti memperebutkan kehinaan.

Adakah kekasih Allah yang memperebutkan dunia dan isinya? Adakah para Nabi yang berperang dan berjuang karena dunia? Adakah kekasih Allah yang tersayat hatinya karena ditinggalkan dunia? Para kekasih Allah meninggalkan dunia, dunia berada di belakangnya bukan dihadapannya.

Dunia itu bila dikejar akan berlari. Bila dicuekan akan mengejar kita. Biarkan diri dikejar dunia. Biarkan kekayaan yang mengejar kita. Jadikan dunia budak-budak kita.

Kiprah kita bukan karen dunia. Kiprah kita karena Allah meminta kita untuk menciptakan amal yang terbaik. Akhlak kita bukan untuk dunia. Akhlak kita agar Allah mencintai kita. Kekayaan itu akan mengejar orang yang amanah, tidak berkhianat, melayani dan berkontribusi. Biarkan kekayaan kelelahan mengejar kita. Biarkan kekayaan mengetuk pintu-pintu rumah kita. Namun jangan pernah mengetuk pintu dunia.

Ciptakan agar dunia itu butuh kepada kita. Ciptakan agar dunia memburu kita. Ciptakan agar dunia merengek ingin bersama kita, seperti pohon kurma yang menangis karena tidak dijadikan tempat khutbahnya Rasulullah saw lagi.

Bila sedih dan senangnya karena dunia. Bila loyo dan semangatnya karena dunia. Bila  cerianya karena kebersamaannya terhadap dunia. Maka dunia telah menjadi Tuhan di kehidupan ini.

Sujud syukurmu untuk siapa? Karena nikmatnya atau karena Pemberi nikmat? Syukur yang tertinggi karena di dalam hati ada cinta kepada Allah. Puncak syukur saat Allah menyemayamkan anugerah cinta kepada-Nya di dalam hati kita.

Kedustaan Pemimpin Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Seorang pemimpin bisa jadi salah dalam membuat keb...

Kedustaan Pemimpin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Seorang pemimpin bisa jadi salah dalam membuat kebijakan, walau tujuannya benar. Namun pemimpin menjaga diri dari berbohong kepada rakyatnya.

Seorang pemimpin bisa jadi salah menimbang dalam melihat data. Namun seorang pemimpin  menjaga diri dari menyajikan data yang palsu kepada rakyatnya.

Seorang pemimpin bisa jadi belum menunaikan seluruh janjinya. Namun seorang pemimpin menjaga diri dari mengingkari dan melabrak janji-janjinya.

Seorang pemimpin bisa jadi khilaf dalam mengambil keputusan, namun pemimpin tidak boleh membodohi rakyatnya dengan rekayasa agar terlihat luar biasa.

Seorang pemimpin bisa jadi memiliki prestasi, namun pemimpin menjaga diri dari klaim prestasi orang lain atas nama pribadinya.

Mengapa berlomba menjadi pemimpin dengan kebohongan? Mengapa berlomba menjadi pemimpin dengan rekayasa keluarbiasaan? Mengapa berlomba menjadi pemimpin dengan kepalsuan? Yang layak menjadi pemimpin, mereka yang berprilaku biasa saja tetapi menciptakan keluarbiasaan efek bagi kesejahteraan rakyatnya. Bukan sangat luar biasa di berita dan panggung tetapi menyengsarakan rakyatnya.

Mungkinkah ini tanda akhir zaman, saat kepalsuan menjadi corong meraih kekuasaan? Kepalsuan sepertinya menjadi jalan pintasnya. Kemunafikan menjadi kedok efektif untuk meraih kekuasaannya. Kemanakah perginya mereka yang memiliki intergritas? Bisa jadi pemilu, pilpres dan pilkada hanyalah tontonan sebuah kemunafikan yang dikemas untuk meraih kekuasaan.

Menikmati Sajian Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tidak ada kesulitan dan kesenangan dalam hidup...

Menikmati Sajian Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tidak ada kesulitan dan kesenangan dalam hidup ini. Yang ada hanya kebahagiaan saja.

Tidak ada kesengsaraan dan kenestapaan dalam hidup ini. Yang ada hanya menikmati sajian Allah yang dihidangkan dalam perjalanan hidup kita.

Syekh Abdul Qadir Jailani menggambarkan kehidupan manusia seperti tamu yang memasuki sebuah rumah. Pemilik rumahnya adalah Allah. Tamunya adalah manusia. Apa yang disajikan, apa yang dihidangkan tergantung Allah. Manusia hanya memformulasikan bagaimana setiap hidangan yang disajikan itu dinikmati, karena hanya itulah hidangan yang disajikan.

Manusia yang tak memahami Sifat-sifat-Nya akan berkeluh kesah terhadap semua sajian hidangan Allah. Yang paham, menerima dengan rasa cinta dan ridha, karena ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Allah Maha Tahu tentang kejadian masa depan. Apapun takdir-Nya hari ini merupakan rancangan kebaikan Allah di masa depan bagi setiap manusia. Tugas kita hanya bagaimana menyikapi dengan benar?

Rabiah Al Adawiyah tak paham tentang kesulitan dan kesenangan. Baginya, semua yang berasal dari Allah adalah kebahagiaan. Dia tak peduli dengan surga dan neraka. Yang diharapkan hanya Allah. Umar Bin Abdul Aziz tak peduli dengan semua kejadian yang menimpa, baginya bila semua berasal dari Allah adalah kebaikan.

Andai hidup masih dipilah-pilahkan dengan senang dan sulit, berarti ada masalah kecintaan pada Allah. Andai hidup masih ada kategori kesengsaraan dan kebahagiaan, berarti masih ada masalah dirimu dengan Allah. 

Sayid Qutb melihat manusia seperti anak-anak, riang bergembira ketika mendapatkan apa yang inginkan. Namun menangis saat apa yang diinginkan dirampas dan tak didapatkan. Berapa lama hidup Kita? Mengapa masih seperti anak kecil? Tumbuh secara raga, namun tak tumbuh makna hidupnya.

Berkiprah dalam hidup, karena Allah selalu menyaksikan kiprah kita. Berkarya dalam hidup, karena itulah cara bersyukur pada Allah. Berkiprah dengan cara terbaik karena Allah menciptakan kehidupan untuk mengetahui siapa yang berkarya dengan cara sebaik-baiknya. Kehidupan adalah ruang untuk berkarya yang terbaik. Allah akan menganugerahkan kekayaan atau tidak, itu hak preogratif Allah. Untuk apa mempersoalkan hak preogratif Allah? Fokuskan pada yang menjadi medan kehidupan kita.

Apa yang dituntut dari kehidupan ini. Itulah fokus kita. Mengapa harus dipusingkan dengan sulit dan senang? Mengapa harus dipusingkan dengan kaya dan miskin? Mengapa harus dipusingkan dengan beragam status embel-embel yang diciptakan manusia?



Menaikkan Level Muhasabah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Merasa tidak berdosa? Merasa selalu beribad...

Menaikkan Level Muhasabah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Merasa tidak berdosa? Merasa selalu beribadah? Merasa selalu dalam kebaikan? Berarti ada yang salah dalam seni bermuhasabah diri.  Huzaifah selalu merasa ketakutan dalam fitnah. Hanzolah selalu merasa dalam kemunafikan. Mereka yang dekat dengan masa kenabian selalu merasakan ada keburukan, padahal mereka adalah bintang-bintang yang memberikan petunjuk. Lalu memgapa kita merasakan dalam kebaikan?

Hasan Al Bashri selalu menitikan air mata. Setiap hembusan nafas adalah tetesan air mata. Padahal seluruh masyarakat penjuru negri mengakui ketakwaannya. Mengapa kita yang tak jelas ketakwaannya lebih sering tertawa? Mungkin saja orang yang paling bertakwa di era ini adalah orang yang terlemah imannya di masa kenabian. Apakah merasakan   hal ini?

Kita merasa berdosa bila melakukan dosa besar, tidak shalat dan tidak puasa. Umar Bin Khatab menikmati yang halal tapi berlebihan dan mubazir sudah merasa sebuah perbuatan dosa. Kelak para ahli surga, lalai dari dzikir sudah dianggap sebuah kerugian besar. Tidak shalat Tahajud bertanda adanya penyakit hati. Mengambil keuntungan margin besar dalam bisnis walau dalam keridhaan bagi mereka adalah sebuah keburukan besar. Itulah yang mereka rasakan. Itulah level merasakan dosa mereka.

Menyimpan harta di rumah melebihi kebutuhan 3 hari sudah dianggap bukan lagi akhlak yang terpuji. Rasulullah saw bergegas meninggalkan masjid untuk mengambil emas yang terlupakan untuk segera dibagikan. Mereka kaya harta, bisnisnya menggurita tetapi terus berusaha memiskinkan dirinya. Harta yang menganggur bagi mereka adalah keburukan. Namun mengapa mereka tidak miskin? Mengapa yang ingin kaya justru miskin?

Seorang ustadz berbicara tentang level kezaliman. Kesewenangan adalah kezaliman, ini level orang awam.  Namun bagi para ulama Tasawuf masuk ke kamar mandi menggunakan kaki kanan adalah kezaliman terhadap dirinya sendiri. Keluar dari rumah tanpa doa juga sebuah kezaliman. Terbesit keinginan sesuatu yang dimiliki oleh orang lain juga sebuah keburukan. Itulah mengapa para ulama salaf lebih merasakan keburukan dirinya dibanding kebaikannya.

Menaikkan level muhasabah diri, itulah strategi menaikan level khauf kepada Allah. Itulah cara merasakan kekhawatiran terhadap keburukan diri. Mereka yang tidak pernah menaikkan level muhasabahnya tidak akan pernah bisa menaikan level kebaikannya.

Korupsi Itu Rezeki? Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apakah yang haram itu rezeki? Apakah yang diperole...

Korupsi Itu Rezeki?

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Apakah yang haram itu rezeki? Apakah yang diperoleh dengan mencuri dan korupsi itu rezeki? Rezeki itu hanya yang halal dan diperoleh dengan cara yang halal.

Andai kaya karena korupsi dan mencuri, maka harta tersebut akan dirampas kembali secara paksa. Dirampas dengan sakit yang parah, bencana dan musibah, bangkrut dan berbagai prilaku yang meludeskan harta tersebut.

Harta haram bagai fatamorgana, dianggap melimpah namun sebentar lagi akan dibenamkan kembali. Akhirnya yang dimiliki hanya sebesar harta yang memang jatah kehidupannya.

Harta haram akan dicabut kembali dan dilenyapkan dengan cara yang tak terduga oleh manusia. Harta haram kelak akan mempermalukan orang yang menghimpunnya. Keberkahan akan lenyap dan tercabut dari akarnya.

Perbuatan mencuri dan korupsi  bisa jadi belum terungkap, bukan karena Allah tidak tahu, tetapi Allah menanti apakah pelakunya mau sadar dengan sendirinya? Ketika mencuri dan korupsi bukan lagi sebuah kealfaan, tetapi sebuah sistem yang direkayasa, barulah Allah akan membongkarnya.

Mencuri dan korupsi yang belum terungkap bukan karena Allah tidak tahu, bisa jadi pelakunya masih ada rasa ketakutan, bisa jadi hanya untuk memenuhi kebutuhan primer saja. Namun bila pelakunya sudah sampai muncul kesombongan atas prilakunya, sudah melampaui hal yang primer, maka Allah akan membongkarnya.

Sekali mencuri dan korupsi maka prilaku ini akan terus berulang. Sulit untuk menghentikannya. Karena perbuatan jahat dan buruk itu seperti meminum air laut yang terus haus dan haus sehingga tak bisa untuk dihentikan. Sekali mencuri maka akan lebih mudah untuk mencuri lagi dan korupsi lagi. Desakan mencuri dan korupsi semakin hari akan semakin kuat sehingga menjadi karakternya. Namun mengapa para koruptor lebih banyak yang menjadi pemimpin negri?

Mengapa banyak yang mencuri dan korupsi? Padahal puncak nikmat kekayaan itu hanya decak kagum dan pujian saja? Nikmat kekayaan hanya diberi label hebat saja?

Kaya dan miskin sama saja, karena keduanya bisa merasakan kebahagiaan juga. Bukankah kebahagiaan itu puncak kenikmatan? Apa yang dirasakan oleh si kaya, dirasakan pula oleh si miskin, mengapa harus mencuri dan korupsi?

Mencuri dan korupsi adalah tanda kebodohan, karena selamanya dia tidak akan bisa melampaui kekayaan pihak yang mereka curi.  Kekayaannya jadi sangat terbatas. Selamanya dia tidak bisa berinovasi dalam menciptakan kekayaan baru.

Mencuri dan korupsi menjadi penjara jiwa yang sempit dan menghimpit.

Obral Janji, Lihatlah Rona Wajahnya Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Yang paling banyak berjanji, diala...

Obral Janji, Lihatlah Rona Wajahnya

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Yang paling banyak berjanji, dialah yang paling berpeluang besar untuk menghianati? Mengapa selalu berjanji untuk mendulang perolehan suara? Janji itu penghibur di tengah miskinnya kinerja. Karena yang bisa dijual hanya tinggal  janji saja.

Janji siapakah yang selalu ditepati? Hanya Allah yang selalu menepati janji-Nya. Bukankah Allah berjanji akan mengangkat orang bertakwa untuk menjadi pemimpin? Sibukan saja dengan takwa, kepemimpinan otomatis bisa diraih. Tak perlu mengubar janji.

Kepalsuan itu sangat jelas walaupun ditutupi dan diselimuti ujaran janji dan program yang melangit. Kepalsuan itu sangat terlihat dari aura wajah, ekspresi dan cara berbicara. Yang bisa membongkar kepalsuan adalah mereka yang jernih hatinya.

Imam Ibnu Taimiyah berkata bahwa tak seorangpun bisa menyimpan rahasia, karena Allah akan menampakkannya pada rona wajahnya dan pada kekhilafan lidahnya. Penyair berkata bahwa jangan pernah bertanya tentang prilaku seseorang karena pada wajahnya terdapat saksi berita dirinya.

Seorang pemilih yang ikhlas tak perlu mendengarkan janji sang politisi dan calon presiden, dia bisa membaca kepalsuan dari ekspresi wajahnya. Seorang pemilih yang ikhlas tak perlu melihat wajah politisi, untaian bicaranya sudah terlihat kualitas dan kepalsuan para politisi dan keriuhan calon pemimpin daerah dan negara.

Seorang ulama hadist Al Hakim an Naisaburi sudah bisa memfirasati kepalsuan sebuah hadist dari kesaksian hatinya dari untaian hadist yang diperdengarkan kepadanya. Hati yang jernih memiliki kewaspadaan walau bukti otentik belum disajikan. Begitulah sangat terbukanya kepalsuan para politisi dan calon pemimpin di hadapan pemilik hati yang jernih.

Seorang ulama yang bernama Abdul Wahab Azzam berkata, "Walaupun ucapan mengandung kebenaran dan dusta, namun hati terdapat rahasia yang tersembunyi. Di mata terdapat dalil akan hakikatnya, di wajah terdapat saksi, tidak perlu dengan sumpah."

Beberapa hari ke depan kejernihan hati dan ketajaman firasat rakyat Indonesia diuji, masihkah memilih para pemilik kepalsuan untuk memimpin negri?  Masihkah memilih para pembual? Masihkah memilih para pengibar janji? Marilah melihat aura wajah para politisi dan sorotan matanya, walau dipoles dengan tebalnya kepalsuan assesoris dan kejanggihan pemotretan. Semua kepalsuan tak bisa ditutupi di hadapan hati yang terkoneksi dengan Allah.

Bila kepalsuan masih tertutupi tandanya hawa nafsu masih menguasai. 

Orientasi Kiprah Parpol Islam? Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hitung-hitungan suara dan elektabilita...

Orientasi Kiprah Parpol Islam?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hitung-hitungan suara dan elektabilitas seperti perhitungan laba dalam bisnis. Mungkin itu logika partai politik. Adakah logika lain? Apakah partai Islam berlogika seperti itu pula? Logika seperti inilah yang menghambat pertumbuhan partai Islam. Logika sekuler mau dibawa ke partai Islam, bagaimana bisa?

Sekuler memiliki dasar pijakan tersendiri. Islam memiliki nilai tersendiri. Jangan membawa logika sekuler ke partai Islam, karena menjadi penyakit bukan solusi. Seperti membawa filsafat ke dalam Tauhid, bagaimana bisa?

Memberi tanpa menerima. Melayani tanpa minta dilayani. Itulah medan jihad partai Islam. Partai Islam bergerak bukan atas dasar perhitungan suara, tetapi atas dasar semangat dakwah, pelayanan dan perbaikan. Perolehan suara dan elektabilitas hanya kabar gembira yang Allah sediakan bagi yang berjuang. Seandainya tidak memperoleh suara pun apakah langkah akan berhenti? Mengandalkan rahmat Allah, bukan perolehan suara.

Lunglai dan semangat karena ukurannya perolehan suara dan elektabilitas, bisa jadi ini menjadi Tuhan baru di dunia perpolitikan. Ini menjadi puncak ilmu dan cita-cita para politisi, kader dan simpatisannya. Hanya untuk elektabilitaskah bergeraknya? Betapa rendahnya nilai jerih payah dan medan jihad Ini?

Saat Ini, pernyataan, komentar, tampilan para politisi di publik ukurannya elektabilitas. Bukan apakah Allah meridhoi? Bagaimana Allah akan menurunkan malaikat untuk memenangkan partai Islam?

Kemenangan kaum muslimin dimana pun, di setiap zaman pun, di medan perjuangan apa pun, semuanya karena pertolongan Allah. Bila masih mencari selain Allah dalam tujuan amalnya maka bagaimana meraih kemenangan? Kemenangan itu datangnya dari sisi Allah.

Bagi partai Islam, survei elektabilitas tidaklah penting. Mau rendah atau tinggi tidaklah penting. Mau hilang dari peredaran pun tidaklah penting. Karena kiprahnya bukan karena perolehan suara. Kiprahnya dibangun karena Allah. Terus bergerak tak kenal henti. Terus melayani walau tak ada yang memilih. Karena balasannya bukan perolehan suara tapi ridha Allah.

"Mengundang" Kekuataan Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Percayalah pada hati yang ikhl...

"Mengundang" Kekuataan Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Percayalah pada hati yang ikhlas, walaupun engkau hanya seorang diri.

Syekh Abdul Qadir Jailani mengatakan bahwa keikhlasan hati akan menarik jiwa-jiwa manusia untuk berjalan bersama, untuk bekerja sama.

Dr Abdullah Azzam memaparkan bahwa Jihad Afghanistan dimulai dari para mujahidin ikhlas yang disiksa oleh penguasa di bilik penjara yang sunyi tersembunyi. Keikhlasan para mujahidinlah yang menarik manusia berbondong ke Afghanistan. Siapa yang memberitahukan perjuangan Afghanistan? Saat semua jalur informasi dibungkam? Allahlah yang mengundangnya. Dalam sejarah, baru kali ini negara penjajah hancur oleh bangsa yang dijajah? Keajaiban selalu hadir dari keikhlasan.

Keikhlasan itu menyatukan. Keikhlasan itu mengeratkan. Keikhlasan itu menggerakkan. Keikhlasan itu memudahkan. Hidupkan keikhlasan terlebih dahulu sebelum merancang strategi dan bekerja. Keikhlasan berarti mengundang keterlibatan Allah dalam gerak nafas kita.

Tanpa keikhlasan berarti hanya mengandalkan energi sendiri. Bukankah manusia itu lemah, rapuh, bodoh, miskin dan melampaui batas? Apakah jiwa seperti ini layak untuk meraih kegemilangan hidup? Bila hanya mengandalkan diri sendiri, apa yang bisa diperbuat manusia?

Kekuatan manusia bukan pada idenya, bukan pada akalnya, bukan pada semangatnya, semua energi itu bisa hilang seketika. Kekuatan terbesar manusia itu pada keikhlasan nya, pada ketundukan dan kebergantuannya pada Allah.

Energi terkuat di semesta ini adalah keikhlasan. Ikhlas bisa menanggung semua beban kehidupan yang tak bisa ditanggung oleh gunung dan kekuatan semesta. Ikhlas menjadi daya dobrak yang tak pernah terpikirkan dan terduga oleh manusia, karena Allah akan mengajarkan ilmu-Nya tanpa perantara.

Ikhlas bukan sekedar syarat diterima amal ibadah, tetapi syarat pokok membangun peradaban dunia.

Pemimpin dan Para Pengganggunya Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tiba-tiba penjara di Republik ini dip...

Pemimpin dan Para Pengganggunya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tiba-tiba penjara di Republik ini dipenuhi oleh mereka yang dituduh menebarkan ujaran kebencian. Sayangnya berat sebelah. Mengapa timbul ujaran kebencian yang dituduhkan kepada penguasa? Setiap kejadian tentunya dalam sekenario Allah.

Rasulullah saw pun bertubi-tubi menjadi korban ujaran kebencian. Bagaimana menghadapinya? Inilah cermin karakter pemimpin yang sebenarnya. Kelapangan hati, itulah karakter pemimpin.

Rasulullah saw diam dan bersabar. Malaikat gemas ingin menghujamkan gunung ke kaum Musyrikin. Rasulullah saw justru mendoakan kebaikan karena kebodohan mereka. Seorang pemimpin lebih banyak berlapang dada dibandingkan melampiaskan diri atas nama undang-undang.

Pemimpin yang lebih mendahulukan hukum daripada kebijaksanaannya, bertanda apa? Rasulullah saw bisa saja melampiaskan seluruh perlakuan ujaran kebencian para penduduk Makkah saat peristiwa Futuh Makkah, namun apakah dilakukan? Semua dimaafkan, semua dilindungi. Karena Allah yang Rahman-Rahim pun tetap mencurahkan nikmat kepada manusia yang menentang-Nya. Belajarlah pada Asmaulhusna-Nya Allah.

Pemimpin yang mudah tersinggung. Pemimpin yang menjadikan penjara sebagai pembungkam atas nama hukum, bertanda sempitnya dada untuk menampung berbagai karakter lautan manusia. Layakkah menjadi pemimpin? Memimpin itu bukan untuk para pendukungnya saja, namun juga menjadi pemimpin bagi yang tidak sepaham denganya.

Rasulullah saw menjadi pemimpin bagi para Sahabat, kaum muslimin tetapi juga menjadi pemimpin kaum Musyrikin, Kafirin, Nasrani dan Yahudi. Khalifatur Rasyidin menjadi pemimpin bagi semua kalangan yang mencintainya atau pun yang membencinya. Berkasih sayang kepada pemujanya juga para pembencinya. Itulah karakter pemimpin.

Para sufi justru menjadikan para pembencinya sebagai guru, pelajaran dan barometer dirinya. Para pemujanya justru sebagai musuhnya. Rasulullah saw justru melemparkan pasir kepada para pemujanya. Umar Bin Khatab justru bersyukur masih ada yang meluruskan dengan pedang.

Andai kita masih merasa sebagai manusia, biarkan para penentang melakukan apa saja. Bukankah manusia tempatnya salah? Andai sudah merasa menjadi malaikat, wajar saja bila para penentangnya dijebloskan ke penjara atas nama hukum ujaran kebencian.

Resiko menjadi pemimpin adalah menghadapi kenyataan para penentangnya. Andai belum siap atas resiko ini, bertanda belum layak menjadi pemimpin. Nikmatilah ujaran para penentang, karena bisa jadi seperti itulah jiwa kita yang sebenarnya.

Bila para penentang dianggap sebagai gangguan, tandanya belum tahu fokus kerja pemimpin yang sebenarnya. Fokus para aparatur untuk melindungi masyarakat bukan mengejar para pengganggu. Lihatlah BJ Habibie, yang berprestasi luar biasa bagi NKRI disaat seluruh komponen masyarakat mencacinya. Semoga lahir kembali pemimpin sekelas BJ Habibie.

"Mengusir" Allah Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Jangan diketuk pintu selain pintu Allah. Ja...

"Mengusir" Allah

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Jangan diketuk pintu selain pintu Allah. Jangan dibuka pintu selain pintu Allah. Kita tidak bisa membuka pintu Allah, selagi membuka pintu yang lainnya.

Membuka pintu Allah, dengan tidak lagi membutuhkan selain Allah. Seluruh makhluk hanyalah perantara dari semua sekenario Pemilik Semesta.

Membuka pintu Allah hanya dengan hati yang jernih. Allah hanya bisa berkomunikasi dengan jiwa yang hatinya bening tertuju pada Allah. Itulah cara menghidupkan sinyal. Itulah cara menyamakan frekwensi.

Hati tidak bisa terbagi dua. Sang raja memang harus satu. Bila ada raja yang lainnya, bunuhlah salah satunya. Kebimbangan hati karena kita masih mendengarkan berbagai bisikan. Hati itu rajanya jiwa, hanya satu yang bisa berkuasa. Jadikan hanya Allah yang bersemayam dalam hati kita.

Bagaimana Allah akan menyambut kita dari singgasana-Nya dengan kelembutan, padahal kita tidak pernah menyambut-Nya dalam hati? Padahal kita selalu mengusir-Nya dengan mempersilahkan syetan dan hawa nafsu menjadi raja di hati!

Kita seringkali mengusir Allah untuk bersemayam di hati, namun begitu riang gembira mendudukkan syetan dan hawa nafsu di singgasana hati? Alangkah tak beradabnya, alangkah durhakanya?  Inilah kebodohan yang paling bodoh. Inilah kedurhakaan yang paling durhaka. Mengusir Yang menguasai manusia, mengusir Pemilik Semesta. Itulah keangkuhan nyata.

Sang Maha Lembut,  diusir. Sang Maha Perkasa, diusir. Sang Maha Kaya, diusir. Sang Maha Pengasih dan Penyayang, diusir dari hati. Namun Allah tetap mencurahkan banyak kenikmatan. Seperti inikah jiwa manusia yang ruhnya berasal dari tiupan Allah?

Syetan dan hawa nafsu tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan karena sifatnya ingin memuaskan dan menguasai. Kepuasannya tak ada ujungnya, tak ada titik perhentiannya. Memburu kepuasan hanya menghasilkan kehausan baru, kelaparan baru,  begitu seterusnya tanpa henti. Andai alam semesta dilahap sekalipun maka akan muncul kehausan dan kelaparan baru. Karena ujung hawa nafsu ingin menjadi Tuhan baru.

Mengusir Allah dari hati bertanda kita telah menciptakan tuhan baru dalam hati kita.

Manajemen Kekayaan dalam Kisah Nabi Syuaib Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berkarya dan mengelola har...

Manajemen Kekayaan dalam Kisah Nabi Syuaib

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Berkarya dan mengelola harta, untuk apa? Hanya menjadi kaya? Terpenuhi semua kebutuhan dan keinginan? Membuat orang terkagum dengan keberlimpahan yang dimiliki?  Itukah maksud harta diciptakan?

Imam Ahmad bin Hambal dan Syeikh Abdul Qadir Jaelani menjadi pengelolaan harta untuk membersihkan jiwa, hati dan pikiran. Umar bin Khatab menjadikan tolak ukur kesalehan dan pengamanahan kekuasaan dilihat dari pengelolaan harta.

Besitan hati yang positif. Ide-ide kreativitas. Ide-ide karya kebaikan bersumber dari pengelolaan harta yang halal. Seperti itulah pesan imam Al-Ghazali. Bahkan terkabulnya doa berasal dari pengelolaan harta yang halal.

Mana yang lebih baik, bermanfaat dan kuat kekuatannya, memiliki kekayaan yang berlimpah sebagai sarana mewujudkan cita-cita atau terkabulnya sebuah doa? Banyak investasi yang gagal karena sumber dananya dari keharaman dalam pengelolaan harta.

Kaum Madyan dibalikan tanah tempat tinggalnya. Dihujani batu yang berasal dari tanah yang terbakar. Penyebabnya, pengelolaan hartanya menurut  kehendak egonya dan warisan manajemen harta para leluhurnya. Bahkan dalam transaksi bisnisnya mereka mengabaikan keadilan takaran dan timbangan. Mengabaikan hak-hak yang terlibat bisnis tersebut.

Nabi Syuaib diutus kepada kaum Madyan misinya khusus dalam mengelola harta, kekayaan dan investasi. Kekayaan dapat menghancurkan sebuah bangsa dan negri. Kesalahan pengelolaan sumber daya akan menghancurkan sebuah kaum. Kesalahan pengelolaan anggaran negara akan memiskinkan rakyatnya. Itulah misi perbaikan Nabi Syuaib.

Umat Nabi Nuh, Hud, Luth, dan Shaleh hancur karena berbagai sebab. Namun kehancuran kaum Nabi Syuaib disebabkan oleh mismanajemen dalam pengelolaan kekayaan dan disorientasi kepemilikan harta. Mismanajemen kekayaan disebabkan oleh kemusyrikan yang tidak mentauhidkan Allah. Di saat harta dianggap milik pribadi bukan amanah Allah, disitulah awal kehancuran dalam berinteraksi dengan kekayaan.

Menghadapi Rencana Jahat Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bila masih ada keresahan, tanyakan keyakinan...

Menghadapi Rencana Jahat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Bila masih ada keresahan, tanyakan keyakinanmu? Keresahan tanda lemahnya keyakinan. Keyakinan yang bisa menghilangkan efek buruk dari semua musibah. Keyakinan yang membuat orang bangkit dari semua kesulitan.

Jangan resah dengan semua rencana jahat, karena semua rencana jahat akan menimpa pada orang yang merencanakannya. Itulah hukum abadi sebuah rencana jahat. Allah Maha Mendengar semua rencana jahat manusia yang terbesit di dalam dada manusia, di ruang dan lembaga yang sangat rahasia sekalipun. Mengapa harus dipusingkan dengan rencana jahat yang tertuju kepada kita?

Mereka yang membuat rencana jahat sebenarnya telah melawan rencana Allah. Allah yang mereka sedang hadapi, bukan kita. Begitulah Allah menjelaskan dalam Al Qur'an. Jadi fokuslah berbuat kebaikan, dan menghalau kezaliman. Seperti para Nabi dan Rasul yang tidak pernah peduli dengan segala strategi para pelaku kezaliman.

Biarkan mereka mengerahkan semua straregi, sumber daya dan kaki tangannya. Fokuslah terus menebarkan kebaikan dan membungkam kezaliman. Karena tipu daya rencana jahat itu sangat lemah, begitulah karakter rencana jahat yang difirmankan Allah dalam Al-Qur'an.

Kejahatan itu sangat lemah, walau ditopang oleh semua kekuatan terdahsyat di dunia ini. Kejahatan dengan segalanya kekuatannya hanya seperti sarang laba-laba. Tugas kita hanya menghadirkan keberanian untuk melawannya, lalu Tangan-Tangan Allahlah yang bekerja. Seperti dalam sebuah firman Allah, "Biarkan Aku yang mengurus mereka"

Adakah kejahatan yang abadi? Karakter kejahatan itu tersembunyi. Tersembunyi karena kelemahan walau ditopang kekuatan sedahsyat  sekali pun. Akhir kejahatan adalah kehancuran walau ditopang dan dilindung oleh kekuatan yang paling kuat sekali pun. Betapa rugi para pembelanya?

Para pelaku kezaliman, para pelaku ketidakadilan, dan para pelaku kejahatan, kalian hidup dalam selemah-lemahnya kekuatan, walau kalian terlihat gagah dengan kesewenangan. Walau kalian bisa melakukan apa saja, maka sebenarnya itulah cermin ketakutan. Kesewenangan tanda ketakutan. Penakut adalah tanda kelemahan.

Mengapa Firaun melakukan kesewenangan? Padahal dia memiliki kekuasaan, tentara yang kuat, kekayaan dan pendukung yang banyak? Semua hanya ketakutan akan sebuah mimpi saja. Takut akan ketergulingan kekuasaan. Wajah ketakutan para pemegang super power adalah kesewenangan, itulah tanda dari rentetan sejarah manusia.

Firaun dikalahkan oleh sebuah mimpi. Seorang raja diraja, ternyata resah sepanjang hidupnya karena kekhawatiran akan sebuah mimpi. Namun Firaun sendirilah yang membuat mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Firaun dihancurkan oleh prilakunya sendiri. Begitulah perjalanan abadi sebuah kezaliman dan ketidakadilan.

Pendeki, Manusia Paling Merana Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bila masih ada hasad, bertanda jiwa, il...

Pendeki, Manusia Paling Merana

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Bila masih ada hasad, bertanda jiwa, ilmu dan mimpimu masih tertuju pada dunia, masih tertuju pada apa yang berada di tangan manusia. Inilah hidup yang paling menyedihkan, menginginkan apa yang ada pada orang lain.

Hasad akan terkikis, bila perhatian jiwa, ilmu dan cita-cita tertuju hanya pada Allah. Adakah kemuliaan selain bersujud dan melihat wajah Allah? Semua penyakit hati bersumber pada cinta dunia. Semua yang mengobati hati tertuju pada Allah.

Orang yang hasad, bertanda rendah ilmu dan cita-citanya. Dia menginginkan apa yang telah diraih orang lain. Dia tidak bisa menciptakan jalan baru kesuksesan untuk dirinya sendiri. Dia tidak bisa menikmati kesuksesan dirinya sendiri. Hasad sebuah indikator kerendahan diri, bahwa orang lain lebih baik dari dirinya sendiri.

Level kekayaan boleh berbeda. Level kesuksesan boleh berbeda. Level jabatan boleh berbeda. Namun level kebahagiaan harus melampaui kebahagiaan yang sudah ada. Kebahagiaan itu tak bisa dirampas, karena hanya kita yang bisa menciptakan untuk diri kita sendiri. Bahagia itu tidak bisa ditransfer, harus diciptakan oleh dirinya sendiri. Bahagia itu tidak terkait dengan pihak eksternal, semuanya dalam kekuasaan internal manusia.

Bila kebahagiaan masih distimulus oleh eksternal, itu bukan kebahagiaan, tetapi masih berupa kesenangan hawa nafsu manusia. Hawa nafsu masih butuh sesuatu yang harus dipenuhi, bahagia hanya butuh cinta dan rindu pada Allah.

Hasad itu penghancur kebahagiaan. Para pemilik hasad tidak akan pernah merasakan bahagia, karena sumber kebahagiaannya berada di tangan orang lain. Orang yang paling tersiksa hidupnya adalah para penghasad, karena dia tidak pernah menemukan esensi dirinya. Dia selalu berusaha menjadi orang lain.

Sibukan dirimu pada dirimu sendiri. Sibukan dirimu dengan cita-cita dirimu sendiri, Sibukan dengan ikhtiar dan target diri sendiri. Sibukan dirimu dengan Allah. Itulah cara memalingkan dirimu dari melihat orang lain. Itulah cara mengalihkan dirimu dari dunia dan apa yang dimiliki orang lain.

Penguasa Tanpa Ulama Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bila penguasa sudah di batas kezaliman maka lawan...

Penguasa Tanpa Ulama

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bila penguasa sudah di batas kezaliman maka lawan yang seimbang adalah ulama. Begitulah zaman selalu bercerita. Setiap hadir pemimpin yang zalim, Allah mengutus para Nabi dan Rasul. Karena Nabi dan Rasul sudah tidak ada lagi, maka Allah menghadirkan ulama untuk meluruskannya. Penguasa sebagai wakil bumi dan ulama sebagai wakil langit.

Sejarah selalu bercerita, kemajuan umat Islam ketika penguasa dan ulama disandingkan sebagai kesejajaran, bukan alat kekuasaan. Ulama sebagai pembimbing dan penggerak, penguasa sebagai eksekutor.

Bila membaca seluruh perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan, kita akan menemukan fakta luar biasa. Dibalik semua perlawanan ada ulama yang mengobarkan, ada ulama yang menggerakkan, ada ulama yang berkorban hingga tetes darah terakhir.

Ulama tak memiliki aparat, dana dan persenjataan. Tetapi ulama memiliki ketersambungan dengan Allah. Ulama memiliki kekuatan yang bisa menyentuh pemikiran dan hati. Penguasa hanya bisa menggerakkan orang yang mabuk terhadap dunia dan kekuasaan. Dengan harta dan jabatan, penguasa menggerakkan rodanya. Mana yang lebih kuat?

Ulama memahami masa lalu dengan sejarah para pendahulunya. Membaca masa depan melalui basyirahnya. Penguasa memahami segalanya dari kepentingan hari ini, hanya melanggengkan kekuasaan. Ulama bahagia bila manusia tunduk pada Allah. Penguasa semakin pongah ketika semua orang mengakui  dan menghinakan diri pada kekuasaannya.

Ketika penguasa sudah mengkriminalisasikan ulama, tandanya menghancurkan jiwa kekuatannya sendiri, menghancurkan jantung dan hatinya kekuasaan. Esensi kekuasaan itu keadilan. Adil itu menimbang dengan ilmu, kepahaman dan kebijaksanaan, yang bersumber dari energi Allah Yang Maha Adil dan Bijaksana. Ego kepentingan dan kekuasaan takkan bisa menciptakan keadilan.

Rentang sejarah selalu bercerita, tanpa energi langit semua kekuasaan hanya menghasilkan penindasan dan kezaliman. Akal manusia tak bisa menimbang keadilan. Wahyu Allah yang bisa menciptakan keadilan di muka bumi.

Dalam keadilan ada ketentraman. Dalam kezaliman ada perseteruan. Itulah fitrah manusia yang terrekam dalam sejarah perjalanan manusia. Namun mengapa para penguasa lebih menikmati kezaliman?

Terperosok pada cinta dunia dan kekuasaan, itulah fitnah yang mengepung para penguasa. Bila ulama dimuliakan, maka ulama yang akan mengikis dan meminimalisirkannya. Bila ulama dikriminalisasi, bertanda cinta dunia dan kekuasaan sedang menyelimuti jiwa penguasa.

Penguasa tanpa Ulama, wajah kekuasaan seperti api yang menghanguskan.

Menghadirkan Sejarah Para Rasul dengan Doa Mereka  Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Zainal Abidin, Cici...

Menghadirkan Sejarah Para Rasul dengan Doa Mereka 

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Zainal Abidin, Cicit Rasulullah saw dari perkawinan Husein dengan putri Kaisar Persia, memiliki titik tekan khusus pada ibadahnya. Dia lebih menekankan doa untuk merendahkan diri kepada Allah. Doanya dihiasi tangisan yang lirih dan mendalam. Hingga yang lain merasakan kesedihan pula. Bagaimana cara menikmati doa?

Memahami arti, melantunkan dengan berkali-kali dengan suara lirih dan lantang. Agar lebih membekas,  perlu juga memahami asbabul nuzul doa itu. Memahami suasana kejiwaan dari doa tersebut. Itulah yang bisa menciptakan tangisan dalam berdoa.

Kelebihan doa-doa yang diambil dalam Al Qur'an adalah mempelajari sejarah juga doa-doa spesial dan mustajab para Nabi dan Rasul.  Imajinasikan doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim saat terkepung api? Seandai kita melantunkan doa tersebut sambil berimajinasi dalam kepungan api?

Imajinasikan doa ketika Nabi Ibrahim meninggal Siti Hajar dan Ismail sendiri di padang pasir yang tandus. Imajinasikan doa Nabi Adam, ketika dia diturunkan dari Surga dan menginjakkan kaki di Bumi? Imajinasikan doa Nabi Yunus yang memanjatkan doa didalam perut ikan paus? Imajinasikan doa Thalut yang tengah menghadapi pasukan Jalut yang kuat dan besar? Berdoa harus dibarengi dengan mempelajari sejarah doa itu dipanjatkan. Itulah yang bisa membongkar kebekuan dan kekerasan hati saat berdoa.

Imajinasikan doa ketika nabi Musa dikejar oleh pasukan Firaun dan menghadapi debat terbuka dengan Firaun. Andai kita bisa menghubungkan doa dengan peristiwa riil saat doa tersebut dipanjatkan pertama kali, maka untaian doa bukan untaian kata, tetapi sebuah pengulangan sejarah dan persitiwa, seolah kita tengah berada dibarisan para Nabi dan Rasul.

Bagaimana merasakan doa Rasulullah saw yang dikepung oleh 10.000 pasukan? Bagaimana merasakan doa Rasulullah saw saat diusir dan dilempari batu oleh penduduk Thaif? Ketika doa-doa tersebut dipanjatkan okeh kita sejarang, maka rasakanlah seolah-olah kita tengah berada di samping Rasulullah saw. Kita merasakan kebersamaan bersama Rasulullah saw dalam perjuangan beliau.

Memanjatkan doa-doa para Nabi dan Rasul. Membaca sejarah ketika doa itu dipanjatkan pertama kali oleh para Nabi dan Rasul. Disitulah kita memulai sebuah interaksi imajiner dengan Nabi dan Rasul. Situlah kita melihat, menyapa, membersamai perjuangan para kekasih Allah di muka bumi. Bertemu dengan mereka dalam imajinasi, semoga menjadi bagian umat mereka di akhirat nanti.

Terperdaya Bisikan, Potret Kelemahan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bila dikalahkan hanya sebuah bis...

Terperdaya Bisikan, Potret Kelemahan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bila dikalahkan hanya sebuah bisikan, bagaimana dapat menghadapi persoalan hidup yang lainnya? Manusia terlemah adalah manusia yang terkalahkan oleh bisikan.

Bila tertipu oleh sebuah bisikan, bagaimana bisa menghadapi tipu daya kehidupan lainnya? Dunia luar katanya sangat keras, bila tertipu oleh sebuah bisikan, bagaimana bisa menghadapi kerasnya kehidupan?

Syetan dan hawa nafsu menjungkalkan manusia hanya melalui bisikan dan tipu daya. Maka, bila dengan yang paling lemah saja terkalahkan, bagaimana memenangkan pertarungan kehidupan?

Bila melawan ngantuk saja tidak bisa. Bila Tahajud saja dikalahkan oleh rasa ngantuk, bagaimana akan diamanahkan tanggungjawab kehidupan?  Bila diri dikalahkan oleh rasa malas, bagaimana bisa mengalahkan kekuatan yang lebih besar?

Berinteraksi dengan diri sendiri, itulah awal berinteraksi dengan kehidupan. Berinteraksi dengan diri sendiri adalah training center sebelum menghadapi kehidupan.

Allah menciptakan hawa nafsu dan syetan untuk melihat jiwa kepribadian, kokoh atau lemah? Berdaya atau lunglai? sebelum menghadapi realitas kehidupan.

Allah berfirman bahwa bertahajud adalah persiapan menghadapi perkataan yang berat? Tahajud adalah sebuah perlawanan terhadap bisikan dan ngantuk. Bila bisa menaklukan bisikan kemalasan dan ngantuk, maka bisa menjadi pemanasan untuk menghadapi persoalan kehidupan yang lebih besar.

Allah menempa Rasulullah saw dan para Sahabat ra. dengan bertahajud sebelum menghadapi ujian dakwah di tengah masyarakat. Itulah penempaan awal menghadapi tantangan.

Puncak Ilmu yang Semu Oleh: Nasruloh Baksolahar  (Channel Youtube Dengerin Hati) Puncak ilmu, bukan menjadi gudang pengetahuan, ...

Puncak Ilmu yang Semu

Oleh: Nasruloh Baksolahar 
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Puncak ilmu, bukan menjadi gudang pengetahuan, gudang wawasan, gudang pemikiran. Bukan pula menjadi pribadi yang membuat orang selalu bertanya padanya, bukan menjadi tempat meminta nasihat, motivasi, solusi dan inspirasi. Bukan untuk itu kita berilmu.

Menjadi orang berilmu, bukan untuk menjadi orang yang mulia dan dimuliakan. Bukan untuk menjadi orang terhormat dengan embel-embel jabatan dan posisi. Bukan agar kekayaan dan dunia dalam genggaman. Ilmu bukan untuk membuka pintu-pintu dunia.

Bila tujuan ilmu soal kehebatan diri, maka ilmu akan menjadi sumber kerusakan yang dahsyat.  Ilmu akan menjadi ego.

Tidak semua bisa dipecahkan oleh ilmu. Ada ruang, dimana ilmu tak bisa menjangkaunya. Ada ruang dimana Ilmu berhenti di sebuah titik karena kebodohan ilmu terhadap hal tersebut. Ilmu yang luar biasa pun ada keterbatasannya. Ilmu yang paling mumpuni pun masih diliputi kebodohan yang nyata.

 Adakah ilmu yang menjangkau masa depan? Adakah ilmu yang bisa menjangkau ruh? Adakah ilmu yang bisa menjangkau besitan hati dan lintasan pikiran?

Saya pernah belajar ilmu manajemen Inventory,  Mengapa ada stock dan gudang? Karena manusia tidak bisa tepat memprediksi kebutuhan manusia di hari esok, inilah salah satu keterbatasan ilmu. Seorang auditor yang yang hebat pun tak bisa memprediksi besitan kejahatan yang berada di dalam dada manusia. Itulah mengapa kita diminta wirid surat Al Falaq dan Annas.

Puncak ilmu dan pengalaman adalah Tauhid, lailahaillallah, tiada tuhan selain Allah. Puncak ilmu adalah lahaula walaquwata ilabilahi aliyulazim, tiada daya upaya kecuali seijin Allah.  Bila ilmu belum menemukan esensi keduanya, maka hawa nafsu masih menyelimuti ilmu. Puncak segala ilmu adalah mengenal ke Maha Agungan Allah.

 Puncak dari ilmu terangkum dalam asmaulhusna Allah.

Musibah, versi Ego? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Musibah, apakah dirasakan saat tidak menunaikan shalat wajib? Musibah bukan seke...

Musibah, versi Ego?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Musibah, apakah dirasakan saat tidak menunaikan shalat wajib? Musibah bukan sekedar ditimpa bencana, sakit dan kekurangan, dihindarkan Allah dari ketaatan pun sebuah musibah.

Tidak membaca Al Quran, tidak puasa, tidak bertahajud, tidak berzakat dan shadaqah, itu pun musibah. Ini musibah terbesar dalam hidup kita. Definisi musibah kita masih berkaitan dengan nafsu, belum menjurus pada musibah hati. Definisi musibah masih menjurus pada cinta dunia, belum menjurus pada cinta akhirat. Yang menjauhkan diri pada Allah, itulah musibah sesungguhnya.

Menangis, meratap, dan memohon bantuan, saat musibah dunia mendera. Namun bersenang-senang, tertawa terbahak-bahak saat musibah akhirat menimpa. Kita meninggalkan ketaatan kepada Allah sambil tertawa dan berbangga. Hati yang tertuju pada Allah takkan merasakan musibah dunia. Hati yang tertuju pada dunia takkan merasakan musibah akhirat. Begitulah hukum dunia dan akhirat dalam dada manusia.

Bila masih bersedih dengan kekurangan harta, kesulitan dan penderitaan, tanda jiwa masih tertuju pada dunia. Bila tak ada kesedihan saat meninggalkan ketaatan, tanda jiwa masih terbenam oleh dunia.

Orang yang paling rapuh jiwanya, merekalah yang menghamba pada dunia. Kekurangan minuman sedih. Kekurangan makan sedih. Dicaci bersedih. Sekecil apapun yang tak diinginkannya terjadi maka kesedihan akan menderanya. Kecintaan pada dunia membuat kesedihan berkepanjangan di dunia dan akhirat.

Yang disedihkan oleh pecinta akhirat hanya satu, apakah Allah murka padanya? Seperti rintihan Rasulullah saw saat diusir dari Thaif, "Ya Allah, apakah Engkau murka kepadaku? Bila bukan murka maka aku sanggup menjalaninya." Bila kesedihannya hanya murka Allah, maka takkan ada yang mengguncangkan dirinya. Inilah sumber kekuatan hidup yang sejati.

Menjauh dari Allah. Dijauhkan dari Allah. Itulah musibah sebenarnya dari kehidupan ini. Bukankah seluruh kehidupan dalam genggam-Nya?

Malamnya Sang Pemimpin Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) How to train the dragon 3, filem yang berbicar...

Malamnya Sang Pemimpin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


How to train the dragon 3, filem yang berbicara tentang kepemimpinan. Bagaimana malam-malamnya para pemimpin? Tidak tidur mendengkur, tidak menikmati hangatnya selimut, tidak menikmati empuknya kasur. Tidak juga menikmati hip-hopnya malam dengan beragam kesenangan dunia. Pemimpin bukan penikmat hawa nafsu.

Apakah kita seorang pemimpin? Lihatlah bagaimana cara kita mengisi malam-malamnya? Malam ada ukuran kualitas kepemimpinan. Malam momentum mendapatkan ilham, mendengarkan suara hati, memahami persoalan dengan hati. 

Hiicup pemimpin muda Viking dalam filem How to train the dragon, sudah belajar dari ayahnya cara pemimpin mengisi malam-malamnya. Saat rakyatnya tertidur, sang pemimpin terbangun. Duduk di sebuah tempat khusus, menghidupkan pikiran dan jiwa,  merancang masa depan, menemukan solusi di keheningan malam. Siang harinya, bermunculan inovasi-inovasinya. Kecermelangan siang hari tergantung perenungan di malam hari.

Para ulama salaf selalu memiliki mihrab. Tempat dia shalat, sujud, berdoa, menangis dan berharap kepada Allah. Ada perpustakaan pribadi, tempat dia menggali ilmu dari pendahulunya lalu disambungkan dengan inspirasi hari ini dan tantangan hari ini. Begitulah peran pemimpin sebagai penyambung khazanah masa lalu dengan masa kini.

Ketika Hiicup tertimpa masalah dengan semakin banyaknya naga di perkampungannya, dia mengingat pesan ayahnya, membaca buku di keheningan malam dan mendengar suara rakyatnya. Itulah cara pemimpin meramu kehidupan. Menghimpun hikmah dan ilmu dari berbagai saluran informasi lalu dibuat keputusan, itulah peran akal seorang pemimpin.  Lalu agamalah yang menimbangnya.

Pemimpin menikmati kesendirian untuk menyelami samudera ilmu dan kebijaksanaan di malam hari. Pemimpin menikmati kebersamaan bersama rakyatnya untuk mencerahkan dan menyelesaikan persoalan di siang hari. Itulah waktu-waktu sang pemimpin.

Berkah Gosok Gigi dan Mandi Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Gosok gigi kita, apa bedanya dengan gosok ...

Berkah Gosok Gigi dan Mandi

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Gosok gigi kita, apa bedanya dengan gosok gigi para ulama salaf?

Gosok gigi kita untuk menghilangkan bau mulut. Gosok gigi para ulama salaf untuk menyiapkan diri menghadap Allah sebelum shalat. Beda kelas, beda kualitas, beda juga efeknya, itu dari hanya sebuah aktifitas gosok gigi.

Bagaimana cara menggosok gigi kita? Mungkin mengikuti cara bintang iklan, mungkin hanya mengikuti saran dokter. Namun gosok gigi para ulama salaf mengikuti sunah Rasulullah saw. Dari gosok gigi, para ulama mencoba meraih keberkahan cara dan sarana. Dari gosok gigi, para ulama salaf mengetuk pintu langit untuk mendapatkan syafaat Rasulullah saw, berkah dan kerahmanan Allah.

Gosok gigi para ulama salaf tidak hanya berefek pada kesehatan, tetapi juga kebersihan jiwa dan keberkahan ilmu. Dalam kitab Talim Mutaalim, salah satu meraih kemudahan menuntut ilmu adalah dengan menggosok gigi.  Dengan gosok gigi, hati menjadi bersih, maka ilmu pun menjadi mudah untuk dipahami.

Berbeda jauh, orang yang shalat tanpa bergosok gigi dengan bergosok gigi baru menunaikan shalat. Gosok gigi menjadi sarana melipatgandakan pahala shalat. Gosok gigi menjadi sarana menyiapkan diri menghadap Allah.

Untuk apa mandi kita? Para ulama salaf, mandi bukan untuk membersihkan, mengharumkan dan menyegarkan badan. Tetapi untuk menyambut kegembiraan. Mandi untuk menyiapkan diri menghadap Allah.

Ulama Salaf  mandi untuk menyambut bulan Ramadhan, menyambut hari Jumat, menyambut Idul Fitri dan Idul Adha. Mandi untuk bersiap shalat. Itulah cara meraih keberkahan dari mandi.

Mungkin secara kasat mata, apa yang dilakukan oleh ulama Salaf sama dengan yang dilakukan kita hari ini, namun mengapa kualitas hidupnya berbeda? Mengapa kejayaannya berbeda? Mengapa keberkahan hidupnya berbeda? Mengapa keilmuannya berbeda? Berarti ada esensi lain yang tidak pernah kita lakukan.

Berkarya, Rengekkan Kepada Allah Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Jalan yang kau pilih? Seperti apa? Ja...

Berkarya, Rengekkan Kepada Allah

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Jalan yang kau pilih? Seperti apa? Jalan menuju Allahkah?  Kuatkah menjalaninya? Itu persoalannya. Jalan yang dipilih berresikokah?  Sangat sedikit yang mau dan bisa menempuh jalan ini. 

Dari sekian banyak jalan hanya Ahlussunnah wal jamah yang benar. Dari bermilyar manusia hanya puluhan ribu yang masuk surga tanpa hisab. Menurut Syeikh Abdul Qadir Jailani, dari 1 juta orang hanya 1 orang yang bisa mencapai cinta dan rindu kepada Allah. Betapa sulitnya jalan ini? Betapa sangat khususnya jalan ini?

Manusia tidak mampu menempuh jalan menuju Allah kecuali yang dikehendaki Allah. Dia yang Maha Mengetahui siapa yang layak untuk menempuh jalan ini. Dengan kebijaksanaan-Nya, Dia memilih manusia yang layak untuk menempuh jalan ini. Siapakah dia? Apa syaratnya?

Orang yang mendapatkan rahmat Allahlah yang bisa menempuh jalan ini. Orang yang mendapatkan pertolongan Allahlah yang dapat menempuhnya. Sangat sedikit yang tegar. Sangat sedikit yang tetap berjalan ditengah kesulitan dan tantangan. Siapakah yang berpeluang meraih rahmat Allah?

Sayid Qutb,dalam tafsir Fizilalil Quran, membeberkan mereka yang berpeluang mendapatkan rahmat Allah. Yaitu, orang yang mencari perlindungan Allah, orang yang mencari pertolongan Allah dengan ketaatan, dan memohon taufik-Nya agar diberi petunjuk.

Karya, kerja keras dan perjuangan di kehidupan ini bukan untuk menunjukkan kehebatan dan kepintaran diri di hadapan manusia, tapi sebuah rengekkan, sebuah ibaan kepada Allah agar menurunkan pertolongan-Nya, perlindungan-Nya dan taufik-Nya. Tiada daya upaya kecuali atas pertolongan Allah. Itulah puncak kecerdasan, karya dan kerja keras kita.

Titik Awal Perjuangan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Perjuangan hidup, kapan dimulai? Sejak tersadark...

Titik Awal Perjuangan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Perjuangan hidup, kapan dimulai? Sejak tersadarkan dari tidur di waktu sebelum Subuh, disitulah perjuangan dimulai. Ada 3 belenggu yang harus dilepaskan dan dihancurkan. Kesuksesan hidup tergantung kemampuan kita melepaskan semua belenggu-belenggu.

Pejuangan melepaskan belenggu sejak kelopak mata pertama kali terbuka. Berdoa melepaskan belenggu pertama. Berwudhu melepaskan belenggu ke dua. Shalat melepaskan belenggu ke tiga. Berdoa, berwudhu dan shalat itulah cara melepaskan belenggu berbaring untuk bangkit.

Perjuangan pertama kali adalah  melawan ngantuk, melawan keempukan kasur, melawan kehangatan selimut. Itulah belenggu di strat awal hari-hari kita. Selanjutnya, kita akan menghadapi beragam belenggu kehidupan lainnya. Sukses di awal, akan sukses di akhir. Seorang ulama Iraq, Muhammad Ahmad Rasyid, mengatakan bahwa keistiqamahan kehidupan dimulai dari kebenaran di titik permulaannya.

Diterima amal tergantung dari niat awalnya. Ujian yang paling berat, kesabaran yang paling berat adalah pada pukulan pertamanya. Begitulah Rasulullah saw bersabda. Awal menentukan akhir. Menjaga niat awal hingga di akhir sebuah amal.

Titik awal yang terbaik dalam kehidupan dan hari kita adalah ucapan Segala Puji bagi Allah. Titik awal terbaik adalah merendahkan jiwa, akal dan raga dengan pengakuan Allah adalah  Penguasa Semesta Alam.  Titik awal terbaik adalah bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan hidup kembali. Adakah titik awal yang lebih baik dari itu semua?

Imam Hasan Al Banna menghimpun semua pengakuan ini dalam kumpulan doa pagi dan petang yang bernama Al-Ma'tsurat. Doa adalah pengakuan ketauhidan. Doa adalah pengakuan penyerahan diri. Doa adalah pengakuan kebutuhan dan kekuasaan Allah. Itulah, titik awal hari, titik awal semua aktifitas adalah doa. Titik awal manusia di muka bumi pun doa nabi Adam yang mengakui kezaliman diri manusia.

Doa, menyertakan Allah dalam semua nafas kita. Jadi, adakah keberhasilan tanpa pertolongan Allah? Lebih banyak peran Allah dalam semua keberhasilan dan karya kita dibandingkan yang kita usahakan sendiri.

Kasih Sayang Allah pada Kemaksiatan Kita Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Kasih sayang Allah pun tercur...

Kasih Sayang Allah pada Kemaksiatan Kita

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Kasih sayang Allah pun tercurah pada ahli maksiat. Baik dalam menyembunyikan kemaksiatan mereka, atau pun mencegahnya. Sudah dicegah, bila tetap dilakukan maka disembunyikan Allah, hingga mereka sendiri yang membuka aibnya secara terang benderang.

Allah mencegah kemaksiatan dengan fitrah, nurani dan hati. Sebelum bermaksiat, mereka harus melawan fitrahnya sendiri. Membunuh jiwa nuraninya sendiri. Setelah membunuh akal sehatnya, membunuh rasa malu, membunuh rasa sakitnya raga dan persepsi masyarakat terhadap sebuah kemaksiatan. Kemaksiatan sebenarnya penghancuran total sosok manusia. Itulah cara Allah mencegah manusia dari dalam diri mereka sendiri.

Allah mencegah kemaksiatan manusia melalui perjalanan sejarah manusia. Bacalah sejarah bagaimana akhir kesudahahan para ahli maksiat. Dari kehidupan kesehariannya, kematiannya hingga penghancuran total mereka. Allah menjaga kisah-kisah sejarah masa lampau agar manusia tercegah dari kesalahan yang sama. Sayang, masa lalu dianggap takkan terulang lagi. Sayang, masa lalu dianggap sebuah dongeng belaka. Itulah yang menyebabkan khazanah keilmuan dari para pendahulu menjadi sia-sia.

Ketika maksiat merebak, Allah tak menghancurkan para ahli maksiat sebelum datangnya orang yang memberikan peringatan. Inilah penangguhan waktu. Inilah peluang waktu yang diberikan Allah agar mereka memperbaiki diri. Ketika peringatan sudah disampaikan, lalu tetap menolak, disitulah eksekusi Allah terhadap ahli maksiat terjadi.

Pintu taubat masih terus terbuka hingga hari kiamat. Pintu Allah terbuka hingga saat kematian tiba. Berapa lama, Allah menunggu keinsyafan manusia dengan kasih sayang-Nya? Allah menunggu manusia sadar sepanjang usia manusia. Masya Allah.

Allah tak memperdulikan banyaknya kemaksiatan. Seandainya dosa manusia seberat langit dan bumi. Seandainya dosa manusia sebanyak partikel yang ada di planet ini, Allah mengampuni semua dosa tersebut. Betapa Maha Sayang-Nya Allah pada ahli maksiat.

Berkat kasih sayang-Nya, didatangkan sakit dan beragam kesulitan untuk menghapus dosa-dosa manusia di muka bumi agar tak ada lagi penghapusan dosa dengan api neraka di dunia. Hudud dan rajam, cara Allah agar dosa besar bisa dibersihkan di dunia bukan dengan neraka.

Satu kebaikan diberi 10 pahala. Niat yang baik diberi 1 pahala. Satu kemaksiatan dihitung 1 dosa. Inilah kasih sayang Allah agar dosa kemaksiatan tidak bisa melampaui pahala kebaikan. Bila semua kasih sayang Allah masih membuat dosa manusia melampaui pahalanya, berarti bukan "Sistem" Allah yang salah, tetapi manusialah yang sudah menzalimi dirinya sendiri.

Renungkan kasih sayang Allah pada kemaksiatan-kemaksiatan kita. Agar paham Rahman-Rahim-Nya.

Memeriksa Ketakwaan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sayid Qutb datang ke tiang gantungan dengan senyum...

Memeriksa Ketakwaan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Sayid Qutb datang ke tiang gantungan dengan senyuman dan lambaian tangan penuh ketenangan. Umar Mukhtar pahlawan dari Libiya datang ke tiang gantungan di hadapan penjajah Italia dengan ketentraman. Mereka menjalani semua takdir dengan ketenangan yang luar biasa. Apa rahasianya? Selama iman tak tercabut, semua bukanlah penderitaan dan kesulitan.

Definisi penderitaan dan kesulitan hanya diartikan sesuatu yang tidak selaras dengan keinginan dan harapan. Harapan kita standarnya. Keinginan kita ukurannya. Bila seperti itu rubah saja persepsi keinginan dan harapan? Maka takkan ada lagi penderitaan dan kesulitan? Begitu mudah menghilangkan penderitaan dan kesulitan, hanya sekedar merubah persepsi saja.

Penderitaan dan kesulitan bisa saja diartikan segala hal yang tak bisa memuaskan hawa nafsu kita. Mengapa kesempitan makanan, minumam, pakaian, harta, dan sakit, dianggap kesulitan dan penderitaan? karena ukurannya nafsu yang tak  terpuaskan. Bila diri merasakan kesulitan, tanyakan kembali, soal perutkah? Soal kenyamanan hidupkah? Soal sedikitnya hartakah? Bila masih dalam lingkaran itu, maka definisi kesulitan masih dalam kubangan tak terpuaskannya nafsu saja. Allah mencabut semuanya agar manusia tak berkubang dalam nafsu yang menjerumuskan.

Para Rasul, Sahabat dan Ulama Shaleh tak pernah merasakan penderitaan dan kesulitan soal dunia. Karena keinginan, cita-cita dan harapan mereka sudah selaras dengan takdir-takdir Allah. Kehendak mereka sama dengan kehendak Allah. Mereka tak lagi peduli dengan semua yang dialami di dunia, selama ujian itu tidak mengenai agama dan akhlak. Sebab itulah, permohonan mereka jangan sampai musibah itu menimpa agama mereka. Permohonan mereka, jangan jadikan dunia sebagai puncak dari cita-cita. Bukan pula puncak dari ilmu mereka. Bukan puncak dari khayalan dan angan-angan.

Bila permintaan doa masih berkutat soal dunia, maka segala hal akan bisa mengguncangkan jiwa. Bila permintaan doa menginginkan cinta dan rindu bertemu Allah, maka takkan ada yang membuatnya sedih apalagi terguncang. Semua  peristiwa dunia dianggap permainan dan senda gurau, takkan ada yang menusuk hati dan merisaukan jiwa.

Andai takwa ada di dada, bukankah Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tak terduga? Bila takwa di dada, bukankah Allah akan memudahkan seluruh urusan? Bila takwa ada di dada, bukankah Allah akan menganugerahkan kekuasaan dan kepemimpinan di dunia? Andai semua itu belum tercapai, periksalah ketakwaanmu, ada yang salah dengan ketakwaanmu.

Hidup Itu sebuah tamasya manusia sebelum ke Surga. Hidup itu sebuah perjalanan hiburan sebelum ke Surga. Kecintaan manusia pada belenggu dunialah yang menyebabkan kehidupan ini terasa menyulitkan dan penuh penderitaan.

Bila dengan ketakwaan banyak orang yang merintangmu. Tenang sajalah. Karena Allah yang akan mengurus mereka. Allah yang akan mengurus tipu daya mereka. Seperti Allah memperlakukan Namrudz, Firaun, Qarun, dan menghancurkan beberapa kaum. Begitulah Allah berjanji dalam surat Muzamil ayat 11. Lalu, apa yang membuatmu menderita?

Ikhlas, Pembangun Jiwa Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ikhlas, menurut Sayid Qutb dalam tafsir Fizila...

Ikhlas, Pembangun Jiwa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ikhlas, menurut Sayid Qutb dalam tafsir Fizilalil Quran, memiliki dimensi lain, bukan sekedar syarat diterima amal, tetapi energi membangun dari dari dalam. Ikhlas akan membangun mindset dan persepsi dari dalam. Ikhlas pula yang membentuk kehendak manusia sejalan dengan kehendak Allah. Hidupkan api keikhlasan, maka energi dari dalam akan membangun jiwa manusia.

Imam Al Ghazali mengibaratkan jiwa manusia seperti danau yang menampung air. Ada air yang bersumber dari sungai ada pula yang bersumber dari mata air yang ada di danau itu sendiri. Yang paling bersih dan segar adalah yang bersumber dari mata air, bukan sungai yang kadang sudah tercampur oleh sampah-sampah. Mata air bersih itu bernama keikhlasan.

Keikhlasan inilah yang akan menjadi sumber mata air hikmah, ilmu, solusi, kreatifitas dan pemikiran yang lahir dari jiwa-jiwa manusia itu sendiri. Keikhlasan yang memberikan kontribusi bagi kehidupan, kebangkitan dan kegairahan jiwa. Tanpa keikhlasan, jiwa manusia akan mati dan  kering kerontang.

Keikhlasan tidak hadir dari sekedar banyak beribadah. Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, yang pertama harus diperhatikan adalah kehalalan harta, dari mana memperoleh harta? Untuk apa dibelanjakan? Meneliti makanan yang dimakan dan diminum. Meneliti pakaian, kendaraan dan rumah yang ditempati. Dari harta halalkah?

Mari berkaca pada Abu Bakar, Utsman bin Affan dan generasi asabiquna awalun lainnya, mereka cepat merespon hidayah dan seruan Rasulullah saw, karena di masa Jahiliyah mereka tetap menjaga kehalalan harta. Kehalalan hartalah yang membentuk kejernihan hati, yang kemudian menjadi tanah subur bagi memancarnya keikhlasan.

Keikhlasan membangun karakter yang kokoh. Kekuatan yang paling kuat di semesta ini adalah keikhlasan. Bila ikhlas sudah bersemayam, maka jiwa tersebut menjadi pribadi yang paling dahsyat. Begitulah sabda Rasulullah saw. Tak perlu pusing bagaimana membangun jiwa, cukup hadirkan keikhlasan saja maka Allah yang akan membangun jiwa kita.

Seni Beristiqamah Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Semakin panjang usia, semakin sulit beristiqamah. Ad...

Seni Beristiqamah

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Semakin panjang usia, semakin sulit beristiqamah. Ada kisah  rahib Bani Israel yang sudah beribadah 100 tahun, namun di usia 100 tahun itulah dia terjerumus pada dosa besar.  Ya Allah, panjang usia bila bertambahnya usia semakin mencintai dan merindukan-Mu. Wafatkanlah bila bertambahnya usia justru  bertambah kedurhakaan kepada-Mu.

Ketaatan, ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah, bukan semata kerja keras dan perjuangan kita sendiri. Allahlah yang memberikan hidayah. Allahlah yang membimbing. Allahlah yang menggerakkan. Sedikit andil kita. Bila semua ibadah karena perjuanganmu, disitulah muncul rasa sombong dan bangga. Disitulah awal penggerogotan istiqamah.

Bukankah Abu Thalib yang telah berjuang bersama Rasulullah saw tidak mendapatkan hidayah? Bukankah ada seorang Sahabat yang berjuang bersama Rasulullah saw akhirnya murtad di tangan Musailamah Al Khazab? Bukankah ada yang berjuang dan berhijrah bersama Rasulullah saw akhirnya tak diterima amalnya? Kita harus lebih takut dan lebih berharap kepada Allah ketika dalam ketaatan. Kita harus lebih bergantung kepada Allah ketika dalam beribadah. Inilah seni menjaga keistiqamah.

Syetan takkan ridha dengan ketaatan seseorang. Semua strategi diluncurkan untuk menjerumuskan. Bila sudah mencapai ketaatan tertentu, bersiaplah menghadapi godaan dan bisikan syetan yang baru, yang lebih menipu, lebih halus kamuflasenya, lebih tak terasa bisikannya. Hingga merasa dalam ketaatan namun sebenarnya penyimpangan. Inilah seni menjaga kewaspadaan seperti yang didefinisikan oleh Umar Bin Khatab bahwa takwa adalah kehati-hatian.

Ketaatan bukanlah level tertinggi, bukan pula perhentian terakhir. Bila ini ada, bersiaplah keistiqamah akan tercabut tanpa sadar. Ketaatan dan penghambaan adalah ungkapan rasa syukur. Bila rasa syukur sudah ada, maka kita harus bersyukur atas dilimpahkan rasa syukur oleh Allah. Bersyukur atas rasa syukur. Beristighfar atas istighfar kita, itulah ungkapan Al Adawiyah.

Agar tak terjebak pada stagnasi ibadah, maka ada rukun Iman, rukun Islam, bila sudah meraih seluruhnya apakah ada Ihsan dalam jiwa kita? Bila sudah meninggal yang haram, apakah bisa meninggalkan yang makruh? Apakah sudah bisa meninggalkan yang subhat?

Bila sudah meraih yang halal, apakah sudah berhati-hati terhadap yang halal? Sudahkah mencapai kewaraan? Para Sufi mencoba membuat maqam dalam ibadah dari syariat, hakikat lalu hakikat? Imam Al Ghazali membuat  tangga-tangga ketaatan seseorang dalam kitab Minhajul Abidinnya. Ibnu Qayyim membedah tingkatan ibadah dalam kitab Madarijus Salikinnya. Tak ada tempat perhentian terakhir dalam ketaatan. Karena perhentian terakhir adalah melihat wajah Allah. Inilah seni beristiqamah.

Keadilan, Menentramkan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dalam kemarahan ada akhlak. Dalam peperangan ad...

Keadilan, Menentramkan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Dalam kemarahan ada akhlak. Dalam peperangan ada akhlak. Dalam kekacauan ada akhlak. Itulah cara melihat hakikat seseorang dan sebuah ideologi. Dalam ketentraman ada akhlak itu hal yang biasa. Dalam kedamaian ada akhlak, itu hal biasa.

Hajjah Ats Tsaqafi memerangi lawan politiknya dengan penangkapan, penjara, tiang gantungan  dan penghancuran. Umar Bin Abdul Aziz yang hidup di era yang sama, memerangi lawan politiknya dengan pedang keadilan. Mana yang berpengaruh lebih besar? Keadilan menembus hati, jiwa dan pemikiran. Keadilan, seni menaklukan yang sempurna.

Syarat kemakmuran adalah keadilan. Syarat kesejahteraan adalah keadilan. Cara melihat keadilan pemimpin lihatlah ketika dia sedang marah. Menjadi diktatorkah? Menjadi otoriterkah?

Melihat keadilan pemimpin, lihatlah bagaimana memainkan payung hukum dan konstitusional. Hukum untuk memberangus lawan politiknya, sesuai persepsi pribadinya? Atau hukum memang ditegakkan untuk menjaga kemaslahatan? Hukum bukan sekedar timbangan tekstual tetapi juga konstektual, itulah sikap keadilan.

Keadilan adalah penyanggah utama kehidupan, harus disemai kepada semua pihak, kepada semua yang hidup. Keadilan harus dirasakan kepada yang beriman dan ahli maksiat. Keadilan harus dirasakan kepada muslim dan kafir. Keadilan harus disemai kepada hewan dan tumbuhan. Yang diharapkan rakyat dari pemimpin adalah keadilannya.

Rasulullah saw tidak menghukum penzina karena yang melihat perzinahan tersebut hanya satu saksi. Rasulullah saw memohonkan surga kepada penzina setelah dihukumi rajam. Kepada ahli maksiat pun Rasulullah saw berlaku adil. Menegakkan hukum itu memang harus ada syarat-syaratnya, bukan sekadar menegakkan kebaikan saja.

Kebaikan dan kebenaran tidak bisa ditegakkan dengan menghalalkan segala cara. Namun harus ditegakan dengan keadilan. Saat Rasulullah saw berperang, beliau membuat beragam perjanjian pendahuluan. Menawarkan syarat-syarat perdamaian. Umar bin Abdul Aziz  memanggil seluruh pejabat, panglima dan tentaranya, agar keluar dari daerah tersebut,  saat mengetahui bahwa daerah tersebut dahulunya tidak dibebaskan dengan syarat-syarat  yang tetapkan syariat.

Umar Bin Abdul Aziz pernah menghapus seluruh pungutan yang dibebankan kepada masyarakat non muslim karena penerapannya tidak sesuai syariat Islam. Namun mengambil harta kekayaan keluarga besarnya yang diambil  dengan kezaliman ke kas negara. Keadilanlah yang akan menyatukan hati rakyat sebuah bangsa, bukan gembar gembor ideologi yang hampa.

Dalam catatan sejarah, hiruk pikuk rakyat, perpecahan rakyat, benturan rakyat, ketidaktentraman terlahir karena ketidakadilan pemimpinnya. Kehancuran sebuah bangsa karena masyarakatnya tidak mampu menghadirkan pemimpin yang berkeadilan. Kerusakan seluruh sendi bangsa dan masyarakat karena ketidakadilan pemimpinnya. Kezaliman akan menghancurkan kehidupan manusia.

Bila hari ini penuhi hoax, bila hari ini penuh ujaran kebencian, bila hari ini penuh hujatan, mari kita lihat para pemimpinnya. Karena keadilan pemimpin akan menciptakan ketentraman di sanubari jiwa bangsanya. Semua ini bukan soal Pilpres, tetapi soal rasa keadilan.

Kesyahduan Dzikir di Sawah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berkarya di kesunyian. Berinteraksi dengan...

Kesyahduan Dzikir di Sawah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Berkarya di kesunyian. Berinteraksi dengan alam, tumbuhan, hewan dan para petani di sawah. Adakah keindahan dan kebahagiaan selain ini?  Berinteraksi dengan Al-Qur'an, setelah berinteraksi dengan alam dan sejarah, sebuah upaya pendalaman pemahaman yang semakin terasa.

Terasa bahagia saat melihat seekor semut membawa sisa-sisa makanan di sawah. Terasa bahagia saat bertemu dengan cacing tanah, ulat, kupu-kupu, hama dan binatang lain yang sedang hidup di alamnya. Terasa bahagia saat binatang malam memakan buah-buahan.

Alam telah banyak dirusak dengan dalih produktivitas hasil panen. Alam telah banyak dihancurkan dengan dalih menyuburkan tanah dan menjaga tanaman. Persoalan kerusakan ini karena kemalasan untuk mengetahui hukum berpasangan dan keseimbangan di alam. Padahal semuanya tersedia gratis di alam.

Semakin banyak binatang yang hidup di semua lahan pertanian, bukankah semakin subur? Bukankah semakin banyak sedekah? Bukankah makin banyak yang bertasbih dan berdzikir kepada Allah? Bukankah semakin banyak yang berdoa agar hujan turun? Bukankah semakin banyak yang menundukkan diri kepada Allah?

Berapa yang mendapatkan manfaat dari bisnis yang dijalankan? Sejumlah karyawan dan keluarganya. Berapa yang mendapatkan manfaat dari sebuah lahan yang dikelola dengan alami? Seluruh makhluk yang hidup di lahan tersebut. Berapa banyakkah?

Berapa banyak hama dan gulam yang hidup? Berapa banyak makhluk di bawah lahan dan di atasnya yang hidup? Berapa banyak air yang terserap ke bumi lalu menjadi mata air? Berapa banyak oksigen yang dihasilkan? Berapa banyak yang bisa menekankan iklim pemanasan global?

Sebuah cangkul, garpu dan parang, ternyata bisa menjadi sarana ke Surga. Menjadi amal takwa di kesunyian alam yang ditinggalkan dan dirusak oleh manusia.

Titik Fokus Kesuksesan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Masa depan itu ghaib. Bagaimana merekayasanya?...

Titik Fokus Kesuksesan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Masa depan itu ghaib. Bagaimana merekayasanya? Bagaimana agar kesuksesan itu pasti terjadi? Bagaimana agar kebahagiaan itu pasti diraih? Bagaimana agar jalanya mudah dan sederhana?

Bagaimana agar kesalahan masa lalu dan hari ini dalam menapaki masa depan dihapus dan tak berpengaruh terhadap rekayasa kesuksesan masa depan? Bagaimana kekurangan dan kelemahan amal, ilmu, teknologi, dan strategi yang diikhtiar tidak mempengaruhi kesuksesan? Bagaimana agar muncul secara tak terduga mereka yang mau menyempurnakan dan memperbaiki amal yang penuh kekurangan?

Bagaimana agar seluruh makhluk di bumi dan langit, selalu mendoakan dan membantu jalan kesuksesan? Bagaimana agar mereka yang menghalangi jalan kesuksesan tak mempengaruhi sedikit pun terhadap pencapaian hasilnya?

Kunci semuanya, "Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya." (Yunus (10): 109). Inilah cara kesuksesan masa depan yang dipenuhi kegaiban.

Kunci kesuksesan hanya menyelaraskan sepak terjang hidup sesuai kehendak Allah. Fokusnya hanya apakah tindakannya sesuai wahyu Allah? Sesuai arahan Sunnah Rasulullah saw? Apakah yang terbesit di hati hanya Allah? Lalu, teruslah bersabar dan kuatkanlah kesabarannya.

Allah, Sang Hakim yang memberi keputusan yang adil, bijaksana dan benar. Tentramkanlah dengan keyakinan ini. Jangan ada keraguan apalagi tak mempercayainya. Apalagi keputusasaan. Rentang waktu menuju kesuksesan hanyalah untuk menguji keseriusan jihad dan sabar.

Berjihadlah dalam setiap pekerjaan kecil dengan amal yang terbaik. Bila amanah pekerjaan kecil berhasil dilalui, maka Allah akan memberikan pekerjaan yang lebih besar lagi. Seperti itulah tingkatan tangga kesuksesan.

Jerih payah, kerja kerasnya justru bukan bagaimana agar sukses? Bagaimana strateginya? Yang terpenting menyelaraskan seluruh amal hati, jiwa, nafsu, akal dan raga sesuai wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Lalu berjihadlah hingga Allah menunjukkan jalan-jalan-nya. Bersabarlah jiwa layak mendapatkan amanah yang lebih besar dari Allah.

Membangkitkan Budaya Ilmiah Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Getaran pemikiran manusia lebih cepat diba...

Membangkitkan Budaya Ilmiah

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Getaran pemikiran manusia lebih cepat dibandingkan kedipan mata. Dengan berfikir akan tumbuh berbagai ilmu dan keahlian. Peradaban itu dibangun melalui jiwa yang terus disucikan dan akal yang terus diasah dan berfikir.

Berfikir membongkar segala hal yang tersembunyi. Menguak segala rahasia. Meraih wawasan yang belum diketahui. Berfikir membimbingnya untuk belajar kepada pendahulunya. Meneliti dan memahami apa yang ditemukannya. Inilah yang membuat manusia tumbuh dan berkembang. Menghentikan berfikir berarti menghentikan pertumbuhan.

Terus berfikir, terus bergelut, terus menekuni, terus belajar, terus mencoba, dan terus mengajarkan, melahirkan insting. Insting sebuah kecepatan dan ketepatan mengetahui yang prinsip dan kaidah, mencermati inti masalah, dan mengambil kesimpulan. Inilah yang membuat kecerdasan dan ketangkasan dalam ilmu tertentu.

Menurut Ibnu Khaldun, kehancuran peradaban karena hilangnya budaya keilmuan dan pengajaran. Sebuah bangsa yang hanya berfikir  soal pencari penghidupan saja, tanpa berfikir tentang masa depannya dengan budaya keilmuan dan pengajaran maka akan lenyap. Masa kejayaan perlu ditopang oleh budaya keilmuan, mengembangkan keahlian dan pengajaran.

Menurut Ibnu Khaldun, cara mudah mengasah insting adalah dengan membangkitkan mulut dan melatihnya berbicara dengan cara berdebat dan berdialog tentang berbagai masalah ilmiah, menghadiri berbagai forum ilmiah dan berinteraksi dengan ahlinya sehinggga menciptakan nalar ilmiah. Seolah-olah terciptanya The Additional Intelligence pada bangsa tersebut.

Budaya ilmiah dan budaya tata krama, itulah gambaran nyata sebuah peradaban. Masyarakat yang beradab, menurut Ibnu Khaldun, memiliki tata krama dalam kesehariannya, dalam hal mata pencaharian, tempat tinggal, mendirikan bangunan, masalah keagamaan dan duniawi, berbagai aktifitas, kebiasaan, muamalat dan semua prilakunya.

Tata krama menjadi batas-batas yang harus dihormati dan tak boleh dilanggar. Tata krama memberikan pengaruh positif untuk menumbuhkan akal, keahlian dan pengetahuan baru dengan lebih cepat. Budaya nalar yang ilmiah dan tata krama merupakan bingkai bangkitnya sebuah peradaban.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (203) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (222) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (173) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (429) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)