basmalah Pictures, Images and Photos
02/24/24 - Our Islamic Story

Choose your Language

Dokter Datang Berkat Doa Seorang akhwat bercerita bahwa suaminya ditangkap dan digiring ke penjara, sedangkan ia meninggalkan em...

Dokter Datang Berkat Doa

Seorang akhwat bercerita bahwa suaminya ditangkap dan digiring ke penjara, sedangkan ia meninggalkan empat orang anak yang masih kecil-kecil.

Pada suatu sore, anakku yang masih kecil terserang flu dan saya sempat bingung, tak berdaya, karena saya tidak mempunyai hubungan yang akrab dengan tetangga. Maka saya meminta pertolongan kepada Allah, berdoa dihadapan-Nya, dan terus menerus berdoa agar Allah menyelamatkanku dan mengasihani kelemahan dan keterasinganku.

Kurang satu jam atau lebih, seseorang mengetuk pintu, lalu saya membukanya, tidak disangka seorang dokter di hadapanku, ia datang untuk menanyakan yang sakit.

Setelah selesai mendiagnosa dan memberikan obat seperti biasanya, ia pergi setelah  mengetahui keadaan keluarga itu dari perbincangan dan kondisinya.

Tatkala dokter itu pulang ke rumahnya, teleponnya berdering dan dia diminta segera datang. Dokter itu pun heran dan menjawab, "Saya baru saja dari rumah Anda."

Setelah itu, sang dokter baru sadar bahwa ruangan yang seharusnya ia tuju di gedung itu berhadapan dengan ruangan yang ia ketuk dengan keliru.

Mahasuci Allah yang memiliki alam semesta dan menjalankannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Ambillah kejadian ini untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang memiliki pandangan.

(Abbas Assisi, Ikhwanul Muslimin dalam Kenangan, Gema Insani Press)

Allah Tujuan Kami Tahun 1938 M, Komite Pelajar Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar di Kairo, ketika Hasan Al-Banna menyampaika...

Allah Tujuan Kami


Tahun 1938 M, Komite Pelajar Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar di Kairo, ketika Hasan Al-Banna menyampaikan ceramah, tiba-tiba seorang pemuda yang masih  pelajar  berdiri. Dengan semangat, ia berteriak, "Hidup Hasan Al-Banna!" 

Suara itu hanyalah teriakan kosong dan hampa karena tidak ada satu pun yang menjawab dan menyahut. Hasan Al-Banna berdiri diam mematung. Semua mata tertuju padanya. Kemudian beliau berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya setelah ini  tidak ada lagi yang berteriak dalam dakwah kami dengan menyeru kepada nama seseorang."

Hasan Al-Banna melanjutkan, "Sesungguhnya dakwah kita adalah menyeru kepada Islam dan terbangun di atas aturan Rabbani. Catatlah, tidak akan pernah melenceng dari pakem ini. Jangan kalian lalai dan lupa dalam gemuruh semangatmu. Prinsip awal yang kita yakini bersama dan kita gelorakan dalam hati dan jiwa kita berupa kalimat 'Allahu Ghayatuna' (Allah tujuan kami).

Sasaran dakwah kita adalah mengingatkan kembali manusia terhadap ikatan yang mengikat mereka dengan Allah swt, yang telah mereka lupakan. Akhirnya, Allah pun melupakan mereka."

Menurut Abbas Assisi dalam kesempatan lain, Hasan Al-Banna menjelaskan lebih detail tentang Allahu Ghayatuna, dalam sebuah ceramahnya yang berisi, "Sesungguhnya dakwah Islam lahir dari awal sampai akhir mengajarkan kepada semua; hendaklah manusia menjalin hubungan yang erat dengan Allah swt, hubungan yang hakiki. Lahir dari kesucian hati, perbaikan diri, dan pengenalan yang baik dan benar. Inilah tujuan yang dihamparkan langit dan bumi, diutusnya para Nabi dan Rasul serta orang shaleh pelanjut misi dan dakwah mereka.

Ketahuilah, manusia tidak akan menjadi baik dan prilaku mereka tidak akan dapat diperbaiki kecuali mereka mengenal dengan baik siapa Rabbnya!"

"Kami ingin membentuk manusia di atas perintah dan seruan Allah swt. Ini tidak akan berhasil kecuali mereka mengenal dan memahami Allah. Hati mereka terbuka untuk menerima kebenaran-Nya. Ketika nilai-nilai marifatullah menyentuh hati manusia, ia akan melahirkan sebuah perubahan yang signifikan.

Jika hati berubah, berubahlah sikap individu. Perubahan individu disusul dengan perubahan keluarga, selanjutnya mengarah pada perubahan masyarakat. Tidak ada sesuatu umat atau masyarakat, kecuali terbangun dari kumpulan keluarga dan individu."

"Sesungguhnya, ketika kami meneriakkan "Allah adalah tujuan kami" yang kami inginkan hanyalah meninggikan kalimat Allah swt di atas kalimat-kalimat lainnya. Undang-undang Allah memimpin undang-undang lainnya. Kaum Muslimin benar-benar menjadi Rabbaniyyin, penuh kearifan, kebijaksanaan, dan ketundukan karena berdasarkan nilai-nilai Rabbani.

Ketahuilah, tujuan kita adalah Allah swt. Kita menyeru manusia hanya kepada-Nya. Mengumpulkan mereka dalam ajaran-Nya. Mengenalkan mereka tentang Allah dan akhirnya menyatakan bahwa kita tidak diciptakan di dunia ini kecuali semata untuk beribadah kepada-Nya."

"Kita sekali-kali tidak berserah diri kecuali hanya kepada Allah swt. Tidak meminta kecuali dari-Nya. Tidak ada ketakutan, kecuali kepada-Nya. Tidak akan merasa terhina selama Allah swt bersama kita. Kita selalu dalam kenikmatan yang tidak ada habisnya walaupun begitu banyak dan musibah yang menimpa.

(Abbas Assisi, Biografi Dakwah Hasan Al-Banna, Harakatuna)

Menyuburkan  Harapan Ajaran sufi mengajarkan takut kepada Allah, bukan kepada makhluk. Ia mengajarkan kepada kita bahwa musibah ...

Menyuburkan  Harapan


Ajaran sufi mengajarkan takut kepada Allah, bukan kepada makhluk. Ia mengajarkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita tidak bermaksud mencelakakan kita, dan kecelakaan yang terjadi pada kita bukanlah musibah. 

Jadi intinya, mengembalikan semua urusan kepada Allah. Selama kita berjalan di atas jalan Allah, memiliki niat yang bersih dan jiwa yang iffah, zuhud terhadap yang dimiliki manusia dan yakin kepada kekuasaan Maha Pencipta, maka takkan ada lagi sisa rasa takut dalam hati kita kepada manusia.

Dalam mengarungi kehidupan ini saya selalu bersikap optimis. Tak pernah sekalipun saya memberikan kesempatan bagi kata pesimis untuk masuk ke jiwaku. Sebabnya satu: Tak ada satu pun yang ada dan terjadi di dunia ini kecuali karena kehendak Allah. Kehendak Allah mustahil dilawan sebab segala keinginan-Nya pasti terwujud. Dia-lah Dzat Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Jika kita ditimpa peristiwa yang tidak menyenangkan maka kita harus melihatnya dari beberapa segi:

1. Bukankah Allah itu bijaksana? Benar, jadi segala sesuatu yang telah terjadi pasti ada hikmahnya.
2. Bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Benar, jadi di dalam ujian hidup terpendam hikmah yang belum sempat dicerna akal-akal kita.
3. Bukankah Allah itu adil? Benar, jadi tak ada satu pun kezaliman yang pantas dikeluhkan.

Saya selalu memiliki harapan. Semua harapanku penuh dengan optimisme dan kepastian. Sebab ia selalu bergantung kepada Yang Maha Tinggi lagi Maha Jaya. Saya sadar bahwa sekiranya ada seorang dai bisa lepas dari batu ujian maka Muhammad saw orang yang paling pantas untuk itu. Sebab, beliau orang yang paling dicintai Allah, yang paling dekat dengan-Nya dan paling tinggi kedudukannya di sisi-Nya. 

Dalam kehidupan dunia ini, seorang manusia berdiri di antara dua karang: karang di mana takdirnya telah ditentukan dan karang di mana takdirnya belum diputuskan. Jadi apa alasannya seorang muslim yang memiliki keimanan kokoh harus merasa takut ketika takdirnya belum diputuskan? Tak ada seorang manusia pun yang akan takut karena ia begitu yakin dengan ketentuan takdir. Akan tetapi, ketika takdir telah diputuskan, kemanakah gerangan ia harus melarikan diri? Tak ada satu celah pun yang bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian atau meloloskan diri dari takdir tersebut.

Kejayaan atau kelemahan tidak selamanya berpihak kepada kelompok tertentu saja. Sebab, hari-hari kejayaan akan dipergilirkan. Syaratnya, bertakwa kepada Allah dengan sebenarnya takwa, bertawakal kepada-Nya, sungguh-sungguh dalam bekerja (ihsan). Ihsan dalam berinovasi, dalam dunia bisnis, dalam pergaulan, dalam mengerahkan potensi, ihsan dalam memupuk pohon kebangkitan Islam di semua bidang kehidupan dan ihsan dalam membina kalangan pemuda yang kini telah bangkit setelah tidur panjang.

Semua ini berita gembira yang ditakdirkan Allah sebagai lahan tanaman dari harapan-harapan kita dan tali penguat bagi bulatan-bulatan tekad agar kita terus berjalan sampai ke tujuan. Perjalanan 1.000 mil dimulai dengan hitungan satu langkah.

Sumber:
Umar Tilmisani, Robbani Press

Fenomena Rakyat Palestina  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Fenomena penderitaan rakyat Palestina, paling menderita di dunia. Kekejam...

Fenomena Rakyat Palestina 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Fenomena penderitaan rakyat Palestina, paling menderita di dunia. Kekejaman terhadap rakyat Palestina, paling kejam di dunia. Mengapa? Penjajah Israel melakukannya dengan kesombongan dan kemarahan. Namun apa yang terjadi? Rakyat Palestina justru mendukung para pejuangnya. Pemukim penjajah Israel justru mencemooh militernya karena tak satu pun target militer yang tercapai. 53 persen pemukim illegal Yahudi tak yakin bahwa militernya mampu mengalahkan perlawanan rakyat Palestina.

Penjajah Israel telah menggunakan kelaparan, penyiksaan dan penghancurleburan seluruh fasilitas Palestina agar rakyat Palestina keluar dari tanahnya. Namun mengapa tetap tegar? Akhirnya, para ilmuwan dunia menyimpulkan bahwa rakyat Palestina merupakan suku bangsa paling tangguh di dunia. Apa penyebabnya?

Yang syahid tersenyum. Yang disiksa melawan. Yang hidup terus memasuki arena pertempuran dan bertahan. Bahkan di tengah bombardir bom dan roket, mereka tetap merayakan acara pernikahan. Apa yang membuat mereka kuat?

Surat Al-Imran 169-170 membongkar rahasianya. Allah memberikan rasa kegembiraan bagi yang telah syahid dan yang menantikan kesyahidan. Allah mencabut rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Seandainya diberitakan bahwa penjajah Israel telah mengumpulkan pasukan elit dalam sekala besar pun, rakyat Palestina hanya akan berkata, "Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." Luka-lukanya merupakan rahmat dari Allah untuk mendapatkan pahala yang besar.

Kematian dan penderitaan. Kehancuran dan kelaparan bukan karena bombardir serangan dan blokade penjajah Israel. Semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Bila bersabar dan bertakwa, semuanya tak berpengaruh sedikit. Mengapa Allah masih membiarkan penjajah Israel? Agar dosa mereka semakin bertambah dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan dan membakar.

Rakyat Palestina terus berdiri tegak kokoh. Pada akhirnya penjajah Israel akan mengalami seperti yang tertulis dalam surat Al-Isra' ayat 7.  Kejahatannya akan kembali kepada dirinya. Allah akan membangkitkan rakyat Palestina untuk menyuramkan wajahnya dan akan masuk ke masjidil Aqsa sebagaimana ketika memasukinya pertama kali. Rakyat Palestina akan membinasakan apa yang dikuasai penjajah Israel.

Membabibutanya Gempuran Penjajah Israel di Gaza Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Gaza terus dibombardir dan dihancurkan oleh penjajah...

Membabibutanya Gempuran Penjajah Israel di Gaza

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Gaza terus dibombardir dan dihancurkan oleh penjajah Israel. Targetnya, melenyapkan perlawanan hingga ke akar-akarnya. Bantuan kemanusiaan dihalangi.  Pengadilan Internasional memutuskan telah terjadi genosida di Palestina dan diperintahkan untuk menghentikannya. Namun Amerika terus mengirimkan bantuan infrastruktur militer ke penjajah Israel yang digunakan untuk genosida di Palestina. Amerika juga selalu memveto upaya gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB. Bagaimana masa depan Palestina? Hancurkah?

Sehebat apa pun kekuatan penjajah Israel dengan dukungan Amerika dan Barat sekalipun, tidak dapat menolak azab Allah. Semua kekuatan dan sumber daya penjajah Israel yang dikerahkan untuk penghancuran Palestina, dalam surat Al-Imran ayat 117, diibaratkan seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman milik penjajah Israel sendiri, lalu angin itu merusaknya. Jadi, semua upaya dan pengerahan sumber daya penjajah Israel akan menghancurkan segala hal yang telah dibangun oleh penjajah Israel sendiri.

Bukankah, perekonomian penjajah Israel mulai hancur? Bukankah, kesehatan mental pemukimnya parah? Bukankah, pemukim ilegalnya banyak yang pergi ke negara asalnya?  Bukankah, banyak negara yang menarik duta besarnya? Bukankah, masyarakat dunia mengecamnya sebagai pelaku genosida? Bukankah, infrakstruktur senjata tercanggihnya dihancurkan oleh senjata sederhana? Yang telah dibangun, justru hancur oleh ulah penjajah Israel sendiri.

Penguasa Penjajah Israel terus memborbardir Gaza Selatan. Penghancuran seluruh Gaza adalah targetnya. Padahal Gaza Selatan merupakan tempat terakhir yang aman bagi pengungsi Palestina. Bila seluruh Gaza akan hancur ? Siapakah yang kelak akan hancur? Di surat Ali-Imran ayat 119, Allah menjelaskan bahwa tindakan brutal dengan kemarahan dan kesombongan, justru yang akan hancur. Maka kelak, yang hancur adalah penjajah Israel itu sendiri.

Apapun kebrutalan penjajah Israel, rakyat Palestina tetap berdiam di tanahnya. Dunia menyaksikan kesabaran dan keteguhannya. Tidak ada kerusuhan di tengah gempuran kelaparan. Mereka tetap shalat berjamaah. Mereka tetap mengkhatamkan Al-Qur'an. Mereka tetap yakin dengan janji Allah. Mereka tetap teguh melakukan perlawanan. Apa yang akan terjadi kelak, dengan karakter ini?

Allah berjanji kepada yang sabar dan bertakwa, di surat Al-Imran ayat 125, jika terus bersabar dan bertakwa maka seluruh serangan penjajah Israel yang secepat kilat pun, serangan operasi rahasia yang paling besar dan hebat pun, tidak akan bisa menghancurkan Palestina. Sebab, Allah berjanji akan menolong dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Pertolongan Allah ini sebagai berita gembira yang menentramkan rakyat Palestina. Juga, untuk membinasakan dan membuat hina penjajah Israel.

Mengapa rakyat Palestina diberi ujian yang sangat berat? Palestina adalah tanah yang diberkahi. Di tanah ini, orang-orang kafir akan dibinasakan. Orang mukmin akan dibersihkan dan diberikan gelar syuhada. Di Palestina, doa-doanya hanya ingin menjadi syuhada. Maka, gempuran membabi-butanya penjajah Israel  menjadi pintu mewujudkannya doa-doanya. Itulah paparan surat Al-Imran ayat 143.

Potret Keteguhan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup s...

Potret Keteguhan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup surat Al-Imran. Apakah perjuangan akan membuahkan hasil tanpa keteguhan? Keteguhan membuat semua rencana jahat, tipu daya, kemungkaran dan kezaliman tak akan mendatangkan kemudharatan apa pun.

Bila langkah telah dimulai, jangan pernah berbalik ke belakang. Ketika pedang sudah terhunus, jangan pernah disarungkan kembali. Seperti Rasulullah saw yang tak mau menyarungkan pedangnya, saat keputusan perang Uhud sudah diambil. Seperti seorang sahabat yang menunaikan hak pedang yang sudah diberikan Rasulullah saw kepadanya.

Keteguhan hanya harus berakhir pada satu titik, hidup mulia atau mati syahid. Tak ada lagi kata lemah dan sedih. Tak lemah karena bencana. Tidak pernah lesu dan menyerah sebelum hidup mulia ditegakkan dan sebelum mati syahid diraih.

Perang Uhud adalah pembelajaran keteguhan. Saat pasukan Muslimin diporakporandakan musuh oleh kelalaiannya sendiri. Saat berita syahidnya Rasulullah saw menggaung kencang yang melemahkan jiwa muslimin. Saat orang terbaik berguguran di depan batang hidungnya. Apa yang bisa meneguhkannya?

Yang bisa menjaga keteguhan di tengah badai hempasan adalah janji kita kepada Allah dan Rasulullah saw. Janji seorang hamba kepada Rabb-nya, pada Malik-nya dan pada Illah-nya. Janji setia prajurit kepada qiyadahnya Rasulullah saw.

Istri Imran, bernazarkan bahwa bayi yang dikandung diperuntukkan bagi pembebasan Baitul Maqdis yang sedang dijajah oleh Romawi. Ternyata, yang lahir seorang bayi wanita yang diberi nama Maryam. Apakah kecewa? Maryam tetap dididik untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Kelak, cucunya, Isa bin Maryam yang melanjutkan.

Nabi Zakaria tetap teguh berdoa untuk memiliki putra. Beliau tidak pernah kecewa dengan doanya, walaupun sudah tua renta. Walapun istrinya mandul. Walapun infrastruktur tidak mendukung. Sebab semua penyebab adalah Allah swt. Keteguhanlah yang membuat gunung pun dapat dipindahkan.

Merdeka Dengan Sabar Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di...

Merdeka Dengan Sabar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di Timur dan Barat. Allah menutup kisah Nabi Musa dengan kehancuran Firaun dan pasukannya dengan sebab kesabarannya. Allah menjelaskan masuknya orang beriman ke surga pun karena kesabarannya.

Para Nabi dan Rasul yang diberi gelar ulul azmi, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, disebabkan oleh kesabarannya. Kualitas para Nabi dan Rasul pun ditentukan oleh kualitas kesabarannya. Para Nabi dan Rasul melalui liku-liku kehidupan dengan kesabaran. Sebab, semuanya hak prerogatif-Nya Allah.

Semua hasil butuh proses dan waktu. Tak ada yang seketika jadi. Tak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang berdakwah langsung berhasil. Penghulu para Nabi pun, Muhammad saw, meraih kemenangan melalui kesabaran. Bila ada kesabaran maka akan muncul perjuangan. Bila ada kesabaran maka akan muncul keistiqamahan.

Sabar menghasilkan sikap moderat. Tak serampangan. Tidak terlena. Tak tergesa-gesa.  Tak berdiam diri. Ada optimisme dan kewaspadaan. Dalam kesabaran ada kelenturan sesuai kondisi zaman. Tidak terbawa arus tetapi juga tidak kaku. Dalam kesabaran ada pemikiran yang mendalam.

Dalam kesabaran ada daya tahan, ketegaran, daya tahan dan nafas panjang. Sabar dalam kesulitan dan pertarungan. Dalam semua pertempuran dan peperangan, yang memenangkannya adalah mereka yang sabar. Bukan yang memiliki infrakstruktur militer yang kuat dan canggih.

Dalam kesabaran tidak ada hujatan dan cacian. Tak ada keluhan dan menyalahkan. Tak ada kegalauan dan keresahan. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran. Tak ada penyakit hati dan akhlak yang  buruk. Yang ada hanya terus melangkah dengan prinsip yang diyakininya.

Sabar itu lahir dari kepahaman akan diri, kehidupan dan Tuhannya. Diri ini hanya seorang hamba. Kehidupan ini hanya ujian sementara. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Akibat yang terbaik hanya bagi yang bertakwa. Dari sabar, lahirlah kemerdekaan diri dan hidup.

Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakah...


Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakahan. Semuanya harus dalam kendali dan genggamannya. Saat mendengar ada sosok yang akan mengusiknya, selagi masih bayi pun, harus dihancurkan. Seperti Firaun yang mimpinya ditafsirkan sebagai penggulingan rezimnya dari bayi yang akan dilahirkan. Maka, pembantaian terhadap sosok tersebut pun dilakukan secara terencana dan massif dengan penggunaan alat kekuasaan negara.

Kezaliman justru yang memelihara bayi perlawanan. Kezaliman yang lebih massif, kejam dan terorganisir, justru yang lebih kuat memelihara dan menyuburkan api perlawanan. Seperti Firaun yang memelihara bayi Musa, padahal bayi Musalah yang kelak melakukan perlawanan terhadap kezalimannya.

Tanda perlawanan itu berawal dari ditariknya jenggot Firaun. Firaun murka. Musa kecil pun hendak dihukumnya. Perlindungan itu selalu ada. Istrinya meminta Firaun untuk menguji Musa kecil dengan roti dan bara api, mana yang dipilh? Allah melindungi Musa kecil dengan memilih bara api untuk makan. Sangat menyakitkan, namun sekenario besar pembunuhan terhadap Musa kecil pun gagal. Itulah penyelamatan dari Allah.

Tindakan kedua adalah dengan pengusiran pemuda Musa dengan dalih telah melakukan pembunuhan terhadap pemuda Mesir. Padahal Musa ingin membela seseorang yang lemah yang dizalimi. Namun pukulannya membuat pemuda yang berbuat zalim mati. Pasukan pun dikerahkan untuk menangkap pemuda Musa. Namun pemuda Musa berhasil menyelamatkan diri dengan ijin Allah. Ditinggalkan Musa, Firaun semakin semena-mena.

Musa telah menjadi Nabi. Nabi Musa diutus untuk memberikan nasihat dan peringatan pada Firaun. Namun ditolak Firaun. Firaun pun menyebarkan isu bahwa Musa datang untuk mengambil kekuasaan dan mengusir rakyat Mesir dari tanah airnya. Saat gemuruh nasihat ditolak. Saat nasihat perbaikan dianggap ancaman, maka Allah memberikan peringatan berupa krisis ekonomi.

Saat krisis ekonomi terjadi, Firaun justru menyalahkan Nabi Musa. Rakyat Mesir pun mengkambinghitamkan Nabi Musa. Padahal krisis yang terjadi karena prilaku kezaliman dan mismanajemen pemerintahan dan pembangunan penguasa. Semua nasihat perbaikan ditolak. Dengan berkata kepada Nabi Musa, "Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu."

Saat krisis ekonomi tak juga menyadarkan untuk melakukan reformasi kekuasaan dan sosial. Maka Allah menurunkan krisis baru berupa dikirimkan kepada rakyat Mesir berupa angin taufan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah). Namun krisis yang baru pun tidak juga menyadarkan diri. Kesombongan terus mewarnai pengelolaan kekuasaan.

Saat krisis tak juga berhenti, lalu mereka mendatangi Nabi Musa dengan berkata, "Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu." Namun janji komitmen perbaikan hanyalah janji palsu. Saat krisis selesai, mereka pun mengulangi dan meneruskan kezaliman sebelumnya. Apa yang terjadi setelah itu?

Allah menghukum rezim Firaun dengan menghancurkan seluruh kekuatannya sehingga tak tersisa di lautan. Padahal sebelumnya mereka mengira akan menghancurkan Nabi Musa dan pengikutnya. Seperti itulah tahapan peringatan Allah swt kepada penguasa yang zalim sebelum dihancurkan.

Memberangus Politik Kesukarelaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak mengha...

Memberangus Politik Kesukarelaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak menghancurkan kezaliman? Hanya, intimidasi dan kekerasan. Sebab, tawaran syahwat, kekayaan dan jabatan tak menarik lagi. Semua tawaran tersebut terasa hina bila dibandingkan harus menghancurkan harga dirinya. Janji Allah di akhirat lebih mulia dari semua tawaran tersebut.

Saat para penyihir telah menyaksikan kebenaran Nabi Musa, mereka pun menjatuhkan diri dengan bersujud dan beriman kepada Tuhan seluruh alam. Firaun pun marah besar, mengapa para penyihir langsung berbalik arah? Tidak meminta ijin terlebih dahulu? Firaun meyakini semuanya merupakan sekenario tipu muslihat yang sudah direkayasa  sebelumnya antara penyihir dan Nabi Musa untuk mengusir penduduk Mesir. Disini, Firaun selalu mengatasnamakan rakyatnya walaupun sebenarnya hanya untuk kepentingan kekuasaannya semata. Siapa yang sebenarnya melakukan tipu daya?

Firaun tak sadar bahwa hukum yang tertulis abadi sebelum alam semesta diciptakan hingga Hari Kiamat adalah rencana jahat akan kembali kepada yang merencanakannya. Makar Allah lebih baik dari semua makar yang ada di muka bumi. Allah SWT sebaik-baiknya penolong dan pelindung.

Bagaimana melenyapkan pengaruh pemikiran para penyihir yang telah sadar sebelum meluas ke tengah masyarakat? Mencap mereka sebagai pembangkang dan penghianat, dengan mengatakan mengapa tidak meminta ijin dan restu? Firaun pun merekayasa informasi dan berita bahwa ada persengkokolan besar antara penyihir dan Nabi Musa yang direncanakan dengan rapih. Dengan alasan ini para penyihir layak untuk dihukum dengan cara yang amat kejam.

Firaun merealisasikan hukumannya kepada para penyihir, tangan dan kakinya dipotong secara bersilang, kemudian menyalibnya. Namun para penyihir tetap teguh. Mereka berkata, "Sesungguhnya kami semua akan kembali kepada Tuhan kami, dan engkau (Firaun) tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami."

Penghancuran politik kesukarelaan tak puas hanya di level atas, tetapi juga harus hingga ke akar rumput. Semua benih kekuatan harus dihancurkan dan diberangus sebelum membesar. Maka pembesar Mesir berkata kepada Firaun, "Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negri ini dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu? Atas saran ini, Firaun membuat keputusan yang sangat tegas dan kejam terhadap semua pendukung kebenaran.

Firaun membuat keputusan hukum bahwa seluruh anak laki-laki mereka akan dibunuh dan membiarkan  hidup anak-anak perempuan mereka. Firaun meyakini bahwa semuanya dapat dilakukan dengan mudah karena Firaun memiliki kekuasaan yang besar. Dalam suasana yang mencekam ini, apa yang dilakukan oleh Nabi Musa?

Nabi Musa menjawab atas kegelisahan kaumnya tersebut, "Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu." Allah pun mewahyukan kepada Nabi Musa, "Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu dan jadikan rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang mukmin."

Saat pemberangusan semakin merajalela dan kejam, maka dibangunlah kelompok perjuangan yang menyebar di setiap rumah. Tema penempaannya adalah ibadah, shalat dan terus menggelorakan berita gembira akan janji Allah. 

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (185) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (137) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (406) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (89) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)