basmalah Pictures, Images and Photos
Februari 2024 - Our Islamic Story

Choose your Language

Soal Hatimu Sibukanlah dirimu dengan mensucikan hatimu terlebih dahulu. Karena itu merupakan fardhu. Kemudian perluaslah dengan ...

Soal Hatimu

Sibukanlah dirimu dengan mensucikan hatimu terlebih dahulu. Karena itu merupakan fardhu. Kemudian perluaslah dengan marifatullah.

Jika engkau mengabaikan yang pokok, kesibukanmu dengan yang cabang tak akan diterima.

Tak ada manfaatnya bagimu mensucikan anggota badan, sedangkan hatimu dalam keadaan najis.

Sucikanlah anggota badanmu dengan sunah Rasulullah saw dan sucikan hatimu dengan mengamalkan Al-Qur'an.

Jagalah hatimu agar anggota badanmu terjaga. Setiap bejana merefleksikan isinya. Apa pun yang ada di hatimu akan tampak pada anggota badanmu.

Hati yang benar itu penuh dengan tauhid, tawakkal, keyakinan, taufik, ilmu, iman, serta dekat dengan Allah swt.

Dihadapan Allah seperti seonggok daging. Dia bersikap tawadhu dan merendahkan diri dihadapan orang shaleh, bertakwa dan wara.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Suasana Jiwa Yang Membuat Datangnya Pertolongan Allah Seberapa besar niat seorang hamba, semangatnya, itikadnya, dan keinginanny...

Suasana Jiwa Yang Membuat Datangnya Pertolongan Allah



Seberapa besar niat seorang hamba, semangatnya, itikadnya, dan keinginannya dalam mengerjakan kebaikan, maka sebesar itu pula pertolongan dan petunjuk dari Allah datang.

Pertolongan dari Allah akan turun kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan semangat, niat dan keinginan mereka.

Dan, kehinaaan dari Allah juga akan turun sesuai hal tersebut. Allah swt adalah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Dia meletakkan taufik pada wilayah yang tepat, dan mendatangkan kehinaan pada momen yang tepat. Dialah Tuhan Yang Maha Mengetahui Yang Maha Bijaksana.

(Ibnu Qayim Al-Jauzy)

Menggapai Kemuliaan Dengan shalat malam, bacaan Al-Qur'an, tahajud  dan pertalian yang abadi dengan Allah, itulah jalan yang...

Menggapai Kemuliaan



Dengan shalat malam, bacaan Al-Qur'an, tahajud  dan pertalian yang abadi dengan Allah, itulah jalan yang akan mendatangkan kedudukan yang terpuji.

Rasulullah saw diperintahkan untuk bertahajud dan membaca Al-Qur'an agar beliau sampai pada kedudukan terpuji yang dipersiapkan oleh Allah, padahal beliau manusia pilihan Allah.

Maka, betapa lebih perlunya manusia-manusia lain pada wasilah-wasilah ini untuk meraih kedudukan mulia yang dipersiapkan bagi mereka? Itulah bekal perjalanan yang harus dimiliki.

(Sayyid Quthb)

Kenikmatan seorang Hamba Kebahagiaan seorang mukmin terdapat pada kesendiriannya untuk bermunajat kepada Allah (Ahli Ibadah dari...

Kenikmatan seorang Hamba


Kebahagiaan seorang mukmin terdapat pada kesendiriannya untuk bermunajat kepada Allah
(Ahli Ibadah dari Yaman)

Tahajud dapat menyejukkan mata para pelaku ibadah, sedangkan dahaga kala berpuasa akan membuat hati mereka bahagia bertemu dengan Allah.
(Yazid ibn Aban)

Tidak ada di dunia ini suatu momen yang lebih menyerupai kenikmatan ahli surga, kecuali yang dirasakan oleh orang-orang yang hati mereka merendah pada waktu malam karena menemukan kenikmatan bermunajat kepada Tuhannya.
(Orang Shaleh)

Tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat aku rasakan daripada mengerjakan shalat malam
(Tsabit Al-Banani)

Mari Kita Duduk Untuk Beriman Sesaat Juru dakwah yang beriman tidak akan pernah lepas dari dua tarikan. Yaitu, tarikan imannya, ...

Mari Kita Duduk Untuk Beriman Sesaat


Juru dakwah yang beriman tidak akan pernah lepas dari dua tarikan. Yaitu, tarikan imannya, niatnya, semangatnya, dan rasa tanggungjawabnya. Karena itu, ia selalu berusaha mengerjakan amal shaleh dan bertekad mengerjakan kebaikan.

Dan tarikan setan dari sisi lain. Ditampakkannya indah sikap bermalas-malasan dan cinta dunia. Karena itu, ia sangat cinta kepada dunia, malas, panjang angan-angan, suka mengkhayal, dan enggan mempelajari apa yang tidak diketahuinya.

Keterombang-ambingan di antara dua jenis tarikan itu merupakan sesuatu yang abadi, senantiasa ada sejak dulu.

Karena itulah, orang-orang Mukmin harus mewajibkan dirinya untuk selalu memikirkan, merenungkan, dan saling memberi nasihat, dengan senantiasa melakukan koreksi terhadap jiwanya. 

Jangan-jangan dihinggapi perasaan sombong atau congkak.
 
Mengoreksi hatinya. Jangan-jangan dihinggapi kecendrungan yang tidak baik.

Merenungkan ilmu dan imannya, jangan-jangan terkontaminasi oleh berbagai bidah, atau mengabaikan perintah dan petunjuk.

Muadz bin Jabal menerjemahkan sensitivitas ini dengan perkataannya yang kelak menjadi materi pedoman segenap generasi beriman.

Ia berkata kepada sahabatnya ketika ia memberi peringatan kepadanya, "Marilah kita duduk untuk beriman sesaat."

Kalimat ini kemudian dipakai oleh Ibnu Rawahah, maka berkatalah ia kepada Abu Darda sambil memegang tangannya, "Marilah kita beriman sesaat, sesungguhnya hati itu berbolak balik lebih cepat daripada berbolak baliknya air mendidih di dalam periuk."

Maka kita juga mengambil kalimat ini dari kedua mereka itu, sehingga menjadi nasihat dan pelajaran dalam memahami dakwah.

Dengannya kami menyeru juru dakwah untuk duduk sesaat mengambil pelajaran dan perenungan, beriman dan mengoreksi dirinya, ilmunya, dan semangatnya.


Sumber:
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, Titik Tolak, Robbani Press

Strategi Tanah Menghadapi Api Kezaliman Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ini era kekuasaan yang kejam. Seperti itulah periode sejarah...

Strategi Tanah Menghadapi Api Kezaliman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Ini era kekuasaan yang kejam. Seperti itulah periode sejarah yang telah ditakdirkan Allah bagi Muslimin. Bagaimana cara menghadapinya? Bisa menggunakan strategi Nabi Ibrahim, Musa, Yahya, Isa, dan Ashabul Kahfi. Mereka tidak mencemooh dan memaki, tetapi berargumentasi dengan kebenaran. Bisa melalui ranah hukum, politik maupun mimbar intelektual.

Namun jangan pula sibuk dengan menghadapi penguasa yang kejam saja, tetapi juga membina para generasi penerusnya. Nabi Isa, dalam pengembaraannya karena dikejar oleh penguasa Romawi terus membangun generasi Hawariyun. Nabi Zakariya mendidik Siti Maryam dan Nabi Yahya. Nabi Musa menyiapkan Nabi Harun dan Yusya bin Nun yang menemaninya saat bertemu dengan Nabi Khidir.

Seluruh para Nabi dan Rasul menghadapi kezaliman tidak dengan kehebatan dan keperkasaan dirinya, tetapi dengan terus berbuat kebaikan, bersabar dan bertakwa. Bekal para Nabi dan Rasul adalah dengan beristiqamah dalam mentaati-Nya. Menjadi seorang hamba Allah bukan super hero.

Kekuatan para Nabi dan Rasul tak terlihat dan tak terduga. Bentuknya berupa kebenaran, keadilan, kekuatan hati dan sistem. Bentuknya berupa pertolongan, perlindungan, bimbingan dan pimpinan Allah.

Perhatian tanah, apa kehebatan tanah dibandingkan api dan cahaya? Apakah kehidupan lahir dari api dan cahaya? Api memang bisa menghabiskan segala yang ada dengan cepat menjadi abu. Cahaya hanya bisa menerangi dan memberikan energi. Namun, tak pernah bisa membangun kehidupan.

Tanah sepertinya diam. Namun dia mampu menyimpan energi yang ada di alam semesta. Tanah menampung benda luar angkasa, cahaya matahari dan air hujan. Di dalam tanah banyak kehidupan yang bisa menyuburkan tumbuhan. Dalam tanah terdapat harta karun. Semua bangkai, sampah dan sisa apa pun dapat diolahnya menjadi bahan baku dan energi kembali.

Strategi para Nabi dan Rasul ada strategi tanah, bukan api yang menghancurkan lawan. Dalam ketenangannya ada kehidupan yang tak terlihat. Dalam kesunyiannya, menampung seluruh energi alam semesta dan terus membangun. Kelak, saat api kezaliman memporakporandakan, maka abu sisa pembakarannya justru menyuburkan benih yang tak tersimpan di tanah atau biji-biji yang terbawa angin dan makhluk lainnya.

Sibuk Selain Allah Ketahuilah, menyibukkan diri dengan selain Allah adalah perbuatan bodoh. Demikian pula dengan takut dan berha...

Sibuk Selain Allah


Ketahuilah, menyibukkan diri dengan selain Allah adalah perbuatan bodoh. Demikian pula dengan takut dan berharap kepada selain-Nya.

Tak seorang pun dapat membahayakan  dan memberi manfaat kepada kita selain Allah swt. Dia-lah yang menjadikan sebab bagi segala sesuatu.

Hukum (syariat Allah) berjalan di atas sebab. Apabila kau amalkan hukum dengan sungguh-sungguh, sebab-sebab itu akan gugur darimu, sebagaimana dedaunan yang gugur dari pohonnya.

Sang penyebab muncul dan sebab-sebab pun lenyap. Isinya akan tampak, sedang kulit akan hilang. Isi itu bergantung pada Sang Sebab, seperti buah bagi pohon.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Sabar Dalam Perjalanan Hidup  Ingatlah,  umurmu telah habis untuk urusan makan, minum, pakaian dan mengumpulkan harta. Barangsia...

Sabar Dalam Perjalanan Hidup 

Ingatlah,  umurmu telah habis untuk urusan makan, minum, pakaian dan mengumpulkan harta.

Barangsiapa yang mengharapkan keberuntungan hendaknya bersabar menghadapi perkara yang haram dan syubhat dari keinginan nafsu.

Serta, bersabar dalam menunaikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; juga dalam mematuhi takdir-Nya.

Kaum yang shaleh telah bersabar bersama Allah dan tidak sabar jika jauh dari-Nya.

Mereka telah bersabar untuk Allah. Dengan kekuasaan-Nya, mereka bersabar hingga dapat bersama Allah.

Mereka berupaya meraih kedekatan dengan Allah. Mereka keluar dari rumah hawa nafsu dan tabiat mereka.

Mereka menjadikan syariat sebagai sahabat dalam perjalanan menuju Allah.

Mereka menghadapi berbagai musibah, ketakutan, penyakit, kesusahan, kelaparan, kehausan, ketiadaan pakaian dan kehinaan. Namun, mereka tidak memperdulikan semua itu dan tidak mundur dari perjalanan mereka.

Mereka terus maju ke depan tanpa mengubah arah perjalanan. Mereka terus demikian hingga mencapai kelestarian hati dan bentuk.

Wahai Muslimin, beramallah untuk menjumpai Allah swt. Malulah kepada-Nya sebelum menemui-Nya.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Fungsi Lidah, Sang Sensor Makanan Lidah merupakan alat sensor dan detektor sehat atau tidaknya suatu makanan. Bukan, semata-mata...

Fungsi Lidah, Sang Sensor Makanan

Lidah merupakan alat sensor dan detektor sehat atau tidaknya suatu makanan. Bukan, semata-mata pengecap asam-manis-gurih-pedas-pahit-asin-asam.

Sebagai detektor, lidah memiliki sensitivitas khusus. Bila seseorang terancam kencing manis, lidahnya menjadi peka untuk tidak menginginkan gula.

Jika kadar asam lambung meningkat, lidahnya tidak merasa nyaman dengan kopi, soda, menu pedas atau asam.

Dalam dunia medis, fungsi utama lidah adalah memberi tahu kita makanan mana yang terbaik dan mana yang membahayakan.

Begitu spesialnya resptor pengecap lidah hanya berumur 10 hari, kemudian diganti dengan sel baru agar fungsinya tetap terpelihara.

Lidah ibarat satpam bagi lambung. Manusia dibekali lidah untuk mensensor apa yang akan dimakan dan minum.

Sabda Rasulullah saw, " Berhentilah makan sebelum kenyang.." Kemampuan untuk berhenti makan sebelum kenyang ditentukan oleh peran lidah sebagai organ penikmat rasa.

Hanya lidah yang memiliki syahwat untuk menagih jatah makanan lebih dari kebutuhan.

(dr. Ade Hashman, Cinta, Kesehatan, dan Munajat EMHA AINUN NAJIB, Bentang)

Konsisten Beramal Ketahuilah, semua kebahagiaan dan amal kebajikan yang terus menerus yang tetap bersamamu ketika perahumu tengg...

Konsisten Beramal

Ketahuilah, semua kebahagiaan dan amal kebajikan yang terus menerus yang tetap bersamamu ketika perahumu tenggelam itu terletak pada dua hal.

Pertama, kebersihan dan kesucian hati dari selain Allah.

Allah berfirman, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (26:89)

Kedua, penuhnya hati dengan makrifatullah yang menjadi tujuan penciptaan alam dan pengutusan para Nabi dan Rasul

Akhlak mulia adalah perilaku atau sikap yang merangkai kedua hal di atas pula.

(Imam Al-Ghazali, Raudhatu Ath-Thalibin, Turos)

Sebab Malu Kepada Allah  Malu kepada Allah karena pengetahuan hamba akan pengawasan Allah terhadap dirinya. Pengetahuan hamba te...

Sebab Malu Kepada Allah 

Malu kepada Allah karena pengetahuan hamba akan pengawasan Allah terhadap dirinya.

Pengetahuan hamba terhadap cacat-cacat diri dan ketidakmampuannya untuk menunaikan hak-hak Allah swt.

Siapa yang malu kepada Allah, hendaknya menjaga kepala beserta yang apa yang ada di dalamnya, perut beserta apa yang dimuatnya.

Selayaknya mengingat maut dan bencana, menginginkan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia.

(Imam Al-Ghazali, Raudha Ath-Thalibin, Turos)

Mengelola Sesuai Kehendak Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Alam semesta milik Allah. Semuanya yang di muka bumi milik Allah. Al...

Mengelola Sesuai Kehendak Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Alam semesta milik Allah. Semuanya yang di muka bumi milik Allah. Allah memberikan sesuatu kepada yang dikehendaki-Nya. Allah mencabut sesuatu kepada yang dikehendaki-Nya. Inilah prinsip dasar mengelola kehidupan.

Kesuksesan dan kegagalan sama-sama pemberian Allah. Kebahagiaan dan kesedihan adalah pemberian Allah. Berkuasa dan jadi rakyat jelata adalah pemberian Allah. Yang terpenting, terus melakukan amal kebaikan, bersabar dan bertakwa.

Bagaimana mengelola kekayaan sesuai kehendak Allah? Bagaimana mengelola kemiskinan sesuai kehendak Allah? Bagaimana menjadi penguasa sesuai kehendak Allah? Bagaimana menjadi rakyat jelata sesuai kehendak Allah? Sesuai kehendak Allah, itulah titik fokus mengelola hidup.

Dalam kekayaan ada kebaikan. Dalam kemiskinan ada kebaikan. Menjadi penguasa ada kebaikan. Menjadi rakyat jelata ada kebaikan bila menjalaninya sesuai kehendak Allah. Tak ada yang sia-sia bila menjalaninya sesuai kehendak Allah.

Bila bangkrut, bukankah sebelumnya memang tidak memiliki apa pun? Bila tak berkuasa lagi, bukankah sebelumnya memang hanya seorang anak?  Rasa memiliki dan iri. Rasa tamak dan serakah. Yang membuat ketakutan akan kehilangan dan perubahan yang tak dikehendaki.

Para Nabi dan Rasul tak pernah mengadukan takdir dan peristiwa yang dilaluinya. Yang diadukan hanya tanggungjawab akan dakwahnya. Nabi Ayyub tak pernah mengadukan sakit dan lenyapnya semua yang dimilikinya. Nabi Isa tak pernah mengadukan penderitaan selama pengembaraannya. Yang diadukan hanya persoalan dakwahnya.

Teruslah berjihad untuk berbuat baik. Bersabar dan bertakwa. Maka, Allah yang akan menuntaskan persoalan kita. Allah yang akan memperbaiki dan menyempurnakan amal kebaikan yang kita lakukan.

Pembentukan Spiritualitas Hasan Al-Banna Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Syeikh Muhammad Hamid berkisah tentang Hasan Al Banna, &quo...

Pembentukan Spiritualitas Hasan Al-Banna

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Syeikh Muhammad Hamid berkisah tentang Hasan Al Banna, "Hasan Al-Banna mempunyai hati seperti hati orang-orang yang selalu ingin dekat dengan Allah swt, atau pendidik yang mendidik dengan ruh dan juga lisannya. Ia menghabiskan usianya dengan menempuh jalan mujahadah (perjuangan) dan tashfiyah (penjernihan, permunian) hingga mencapai puncak yang paling tinggi. Ia tergolong ahl adz-dzikir dan ahl al-fikr. Ia juga tergolong orang yang selalu memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah, selalu ridha dengan-Nya dan selalu menerima hukum-hukum-Nya.

"Setiap Hasan Al-Banna menyendiri, air matanya berlinang menumpahkan rasa cinta dan kerinduan kepada Allah. Sepanjang malam, ia berharap bisa dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah dan mendengarkan apa yang dapat menggerakkan himmah (semangat) dan menggiringi ruh kepada-Nya."

Pada suatu hari, Hasan Al-Banna berkata kepada Syeikh Hamawi, "Wahai syeikh, sudikah engkau membangkitkan pada diri kami kerinduan yang paling utama?" Maksudnya, kegembiraan yang ditanggung oleh seorang ahli ibadah dan pendzikir, serta keadaan yang melingkupinya.

Setelah Hasan Al-Banna syahid dibunuh oleh penguasa Mesir, Syeikh Muhammad Hamid menceritakan mimpinya tentang Hasan Al-Banna, "Di dalam mimpi, aku melihat tanda-tanda penerimaan Allah dan ridha-Nya. Aku, Hasan Al-Banna dan beberapa ikhwan yang lain terlihat sedang duduk-duduk di sebuah jamuan. Di situ terdapat roti istimewa dan semerbak harum-haruman. Ketika saya terbangun dari tidur, saya teringat firman Allah swt,"

"Adapun jika dia (orang yang wafat) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga kenikmatan." (Al-Waqiah:88-89)

Kepribadian Hasan Al-Banna telah ditempa sejak remaja. Teman-temannya, sangat sering menyaksikan dia bangun di tengah malam menunaikan shalat fajar, kemudian menghadiri pengajian yang menelaah kitab Ihya Ulumudin, terus membangun para mu'adzin, dan setiap selesai shalat Subuh menghapal Al-Qur'an hingga menjelang berangkat sekolah.

Sekeluarnya dari sekolah, ia membuat dan memperbaiki jam hingga menjelang waktu  shalat Isya. Setelah shalat Isya, ia kembali memudzakarah pelajarannya hingga menjelang tidur."

Ada kisah lain saat Hasan Al-Banna masih remaja. Hasan Al-Banna melakukan perjalanan panjang menelusuri jalan ibadah dan dzikir, yaitu dengan cara melakukan itikaf di masjid pada waktu-waktu istirahat bersama temannya. Mereka menunaikan shalat Isya berjamaah, kemudian bersantap malam, dan kembali berdzikir kepada Allah swt beberapa lama. Setelah beristirahat sejenak, lalu bangun malam untuk menunaikan shalat Tahajjud hingga menjelang fajar.

Sejak remaja Hasan Al-Banna sudah terbiasa mewiridkan dzikir Zaruqiyah setiap pagi dan petang. Sang ayah Hasan Al-Banna turut menjelaskan dalil-dalil yang diambil dari hadist-hadist yang shahih atas dzikir Zaruqiyah tersebut. Kumpulan dzikir ini terdiri dari ayat-ayat Al-Qur'an, hadist-hadist Nabi dan doa-doa ma'tsurat yang dibaca tiap pagi dan sore.

Saat remaja pun, Hasan Al-Banna menyediakan hari-hari tertentu yang sengaja dipergunakan untuk berdiam diri dan menjauhkan diri dari manusia. Yang ada hanya berdzikir dan lantunan ayat suci Al-Qur'an. Berdiam diri untuk melatih jiwa dan menghindari bermain-main, memutuskan hubungannya dengan semua hal selain Allah, berjuang di jalan Allah selama mampu, juga memperkuat iradah sehingga dapat berlaku bijaksana.

Masa remaja membentuknya sangat kuat dan mendalam.

Sumber:
Anwar Jundi, Biografi Hasan Al-Banna, Media Insani Publishing
Raa'uf Syalabi, Jiwa yang Tenang Lahirkan Ide Cemerlang, Nuansa Press

Dokter Datang Berkat Doa Seorang akhwat bercerita bahwa suaminya ditangkap dan digiring ke penjara, sedangkan ia meninggalkan em...

Dokter Datang Berkat Doa

Seorang akhwat bercerita bahwa suaminya ditangkap dan digiring ke penjara, sedangkan ia meninggalkan empat orang anak yang masih kecil-kecil.

Pada suatu sore, anakku yang masih kecil terserang flu dan saya sempat bingung, tak berdaya, karena saya tidak mempunyai hubungan yang akrab dengan tetangga. Maka saya meminta pertolongan kepada Allah, berdoa dihadapan-Nya, dan terus menerus berdoa agar Allah menyelamatkanku dan mengasihani kelemahan dan keterasinganku.

Kurang satu jam atau lebih, seseorang mengetuk pintu, lalu saya membukanya, tidak disangka seorang dokter di hadapanku, ia datang untuk menanyakan yang sakit.

Setelah selesai mendiagnosa dan memberikan obat seperti biasanya, ia pergi setelah  mengetahui keadaan keluarga itu dari perbincangan dan kondisinya.

Tatkala dokter itu pulang ke rumahnya, teleponnya berdering dan dia diminta segera datang. Dokter itu pun heran dan menjawab, "Saya baru saja dari rumah Anda."

Setelah itu, sang dokter baru sadar bahwa ruangan yang seharusnya ia tuju di gedung itu berhadapan dengan ruangan yang ia ketuk dengan keliru.

Mahasuci Allah yang memiliki alam semesta dan menjalankannya sesuai dengan kehendak-Nya.

Ambillah kejadian ini untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang memiliki pandangan.

(Abbas Assisi, Ikhwanul Muslimin dalam Kenangan, Gema Insani Press)

Allah Tujuan Kami Tahun 1938 M, Komite Pelajar Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar di Kairo, ketika Hasan Al-Banna menyampaika...

Allah Tujuan Kami


Tahun 1938 M, Komite Pelajar Ikhwanul Muslimin mengadakan muktamar di Kairo, ketika Hasan Al-Banna menyampaikan ceramah, tiba-tiba seorang pemuda yang masih  pelajar  berdiri. Dengan semangat, ia berteriak, "Hidup Hasan Al-Banna!" 

Suara itu hanyalah teriakan kosong dan hampa karena tidak ada satu pun yang menjawab dan menyahut. Hasan Al-Banna berdiri diam mematung. Semua mata tertuju padanya. Kemudian beliau berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya setelah ini  tidak ada lagi yang berteriak dalam dakwah kami dengan menyeru kepada nama seseorang."

Hasan Al-Banna melanjutkan, "Sesungguhnya dakwah kita adalah menyeru kepada Islam dan terbangun di atas aturan Rabbani. Catatlah, tidak akan pernah melenceng dari pakem ini. Jangan kalian lalai dan lupa dalam gemuruh semangatmu. Prinsip awal yang kita yakini bersama dan kita gelorakan dalam hati dan jiwa kita berupa kalimat 'Allahu Ghayatuna' (Allah tujuan kami).

Sasaran dakwah kita adalah mengingatkan kembali manusia terhadap ikatan yang mengikat mereka dengan Allah swt, yang telah mereka lupakan. Akhirnya, Allah pun melupakan mereka."

Menurut Abbas Assisi dalam kesempatan lain, Hasan Al-Banna menjelaskan lebih detail tentang Allahu Ghayatuna, dalam sebuah ceramahnya yang berisi, "Sesungguhnya dakwah Islam lahir dari awal sampai akhir mengajarkan kepada semua; hendaklah manusia menjalin hubungan yang erat dengan Allah swt, hubungan yang hakiki. Lahir dari kesucian hati, perbaikan diri, dan pengenalan yang baik dan benar. Inilah tujuan yang dihamparkan langit dan bumi, diutusnya para Nabi dan Rasul serta orang shaleh pelanjut misi dan dakwah mereka.

Ketahuilah, manusia tidak akan menjadi baik dan prilaku mereka tidak akan dapat diperbaiki kecuali mereka mengenal dengan baik siapa Rabbnya!"

"Kami ingin membentuk manusia di atas perintah dan seruan Allah swt. Ini tidak akan berhasil kecuali mereka mengenal dan memahami Allah. Hati mereka terbuka untuk menerima kebenaran-Nya. Ketika nilai-nilai marifatullah menyentuh hati manusia, ia akan melahirkan sebuah perubahan yang signifikan.

Jika hati berubah, berubahlah sikap individu. Perubahan individu disusul dengan perubahan keluarga, selanjutnya mengarah pada perubahan masyarakat. Tidak ada sesuatu umat atau masyarakat, kecuali terbangun dari kumpulan keluarga dan individu."

"Sesungguhnya, ketika kami meneriakkan "Allah adalah tujuan kami" yang kami inginkan hanyalah meninggikan kalimat Allah swt di atas kalimat-kalimat lainnya. Undang-undang Allah memimpin undang-undang lainnya. Kaum Muslimin benar-benar menjadi Rabbaniyyin, penuh kearifan, kebijaksanaan, dan ketundukan karena berdasarkan nilai-nilai Rabbani.

Ketahuilah, tujuan kita adalah Allah swt. Kita menyeru manusia hanya kepada-Nya. Mengumpulkan mereka dalam ajaran-Nya. Mengenalkan mereka tentang Allah dan akhirnya menyatakan bahwa kita tidak diciptakan di dunia ini kecuali semata untuk beribadah kepada-Nya."

"Kita sekali-kali tidak berserah diri kecuali hanya kepada Allah swt. Tidak meminta kecuali dari-Nya. Tidak ada ketakutan, kecuali kepada-Nya. Tidak akan merasa terhina selama Allah swt bersama kita. Kita selalu dalam kenikmatan yang tidak ada habisnya walaupun begitu banyak dan musibah yang menimpa.

(Abbas Assisi, Biografi Dakwah Hasan Al-Banna, Harakatuna)

Menyuburkan  Harapan Ajaran sufi mengajarkan takut kepada Allah, bukan kepada makhluk. Ia mengajarkan kepada kita bahwa musibah ...

Menyuburkan  Harapan


Ajaran sufi mengajarkan takut kepada Allah, bukan kepada makhluk. Ia mengajarkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita tidak bermaksud mencelakakan kita, dan kecelakaan yang terjadi pada kita bukanlah musibah. 

Jadi intinya, mengembalikan semua urusan kepada Allah. Selama kita berjalan di atas jalan Allah, memiliki niat yang bersih dan jiwa yang iffah, zuhud terhadap yang dimiliki manusia dan yakin kepada kekuasaan Maha Pencipta, maka takkan ada lagi sisa rasa takut dalam hati kita kepada manusia.

Dalam mengarungi kehidupan ini saya selalu bersikap optimis. Tak pernah sekalipun saya memberikan kesempatan bagi kata pesimis untuk masuk ke jiwaku. Sebabnya satu: Tak ada satu pun yang ada dan terjadi di dunia ini kecuali karena kehendak Allah. Kehendak Allah mustahil dilawan sebab segala keinginan-Nya pasti terwujud. Dia-lah Dzat Yang Maha Pemurah dan Penyayang.

Jika kita ditimpa peristiwa yang tidak menyenangkan maka kita harus melihatnya dari beberapa segi:

1. Bukankah Allah itu bijaksana? Benar, jadi segala sesuatu yang telah terjadi pasti ada hikmahnya.
2. Bukankah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Benar, jadi di dalam ujian hidup terpendam hikmah yang belum sempat dicerna akal-akal kita.
3. Bukankah Allah itu adil? Benar, jadi tak ada satu pun kezaliman yang pantas dikeluhkan.

Saya selalu memiliki harapan. Semua harapanku penuh dengan optimisme dan kepastian. Sebab ia selalu bergantung kepada Yang Maha Tinggi lagi Maha Jaya. Saya sadar bahwa sekiranya ada seorang dai bisa lepas dari batu ujian maka Muhammad saw orang yang paling pantas untuk itu. Sebab, beliau orang yang paling dicintai Allah, yang paling dekat dengan-Nya dan paling tinggi kedudukannya di sisi-Nya. 

Dalam kehidupan dunia ini, seorang manusia berdiri di antara dua karang: karang di mana takdirnya telah ditentukan dan karang di mana takdirnya belum diputuskan. Jadi apa alasannya seorang muslim yang memiliki keimanan kokoh harus merasa takut ketika takdirnya belum diputuskan? Tak ada seorang manusia pun yang akan takut karena ia begitu yakin dengan ketentuan takdir. Akan tetapi, ketika takdir telah diputuskan, kemanakah gerangan ia harus melarikan diri? Tak ada satu celah pun yang bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian atau meloloskan diri dari takdir tersebut.

Kejayaan atau kelemahan tidak selamanya berpihak kepada kelompok tertentu saja. Sebab, hari-hari kejayaan akan dipergilirkan. Syaratnya, bertakwa kepada Allah dengan sebenarnya takwa, bertawakal kepada-Nya, sungguh-sungguh dalam bekerja (ihsan). Ihsan dalam berinovasi, dalam dunia bisnis, dalam pergaulan, dalam mengerahkan potensi, ihsan dalam memupuk pohon kebangkitan Islam di semua bidang kehidupan dan ihsan dalam membina kalangan pemuda yang kini telah bangkit setelah tidur panjang.

Semua ini berita gembira yang ditakdirkan Allah sebagai lahan tanaman dari harapan-harapan kita dan tali penguat bagi bulatan-bulatan tekad agar kita terus berjalan sampai ke tujuan. Perjalanan 1.000 mil dimulai dengan hitungan satu langkah.

Sumber:
Umar Tilmisani, Robbani Press

Fenomena Rakyat Palestina  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Fenomena penderitaan rakyat Palestina, paling menderita di dunia. Kekejam...

Fenomena Rakyat Palestina 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Fenomena penderitaan rakyat Palestina, paling menderita di dunia. Kekejaman terhadap rakyat Palestina, paling kejam di dunia. Mengapa? Penjajah Israel melakukannya dengan kesombongan dan kemarahan. Namun apa yang terjadi? Rakyat Palestina justru mendukung para pejuangnya. Pemukim penjajah Israel justru mencemooh militernya karena tak satu pun target militer yang tercapai. 53 persen pemukim illegal Yahudi tak yakin bahwa militernya mampu mengalahkan perlawanan rakyat Palestina.

Penjajah Israel telah menggunakan kelaparan, penyiksaan dan penghancurleburan seluruh fasilitas Palestina agar rakyat Palestina keluar dari tanahnya. Namun mengapa tetap tegar? Akhirnya, para ilmuwan dunia menyimpulkan bahwa rakyat Palestina merupakan suku bangsa paling tangguh di dunia. Apa penyebabnya?

Yang syahid tersenyum. Yang disiksa melawan. Yang hidup terus memasuki arena pertempuran dan bertahan. Bahkan di tengah bombardir bom dan roket, mereka tetap merayakan acara pernikahan. Apa yang membuat mereka kuat?

Surat Al-Imran 169-170 membongkar rahasianya. Allah memberikan rasa kegembiraan bagi yang telah syahid dan yang menantikan kesyahidan. Allah mencabut rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.

Seandainya diberitakan bahwa penjajah Israel telah mengumpulkan pasukan elit dalam sekala besar pun, rakyat Palestina hanya akan berkata, "Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." Luka-lukanya merupakan rahmat dari Allah untuk mendapatkan pahala yang besar.

Kematian dan penderitaan. Kehancuran dan kelaparan bukan karena bombardir serangan dan blokade penjajah Israel. Semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Bila bersabar dan bertakwa, semuanya tak berpengaruh sedikit. Mengapa Allah masih membiarkan penjajah Israel? Agar dosa mereka semakin bertambah dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan dan membakar.

Rakyat Palestina terus berdiri tegak kokoh. Pada akhirnya penjajah Israel akan mengalami seperti yang tertulis dalam surat Al-Isra' ayat 7.  Kejahatannya akan kembali kepada dirinya. Allah akan membangkitkan rakyat Palestina untuk menyuramkan wajahnya dan akan masuk ke masjidil Aqsa sebagaimana ketika memasukinya pertama kali. Rakyat Palestina akan membinasakan apa yang dikuasai penjajah Israel.

Membabibutanya Gempuran Penjajah Israel di Gaza Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Gaza terus dibombardir dan dihancurkan oleh penjajah...

Membabibutanya Gempuran Penjajah Israel di Gaza

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Gaza terus dibombardir dan dihancurkan oleh penjajah Israel. Targetnya, melenyapkan perlawanan hingga ke akar-akarnya. Bantuan kemanusiaan dihalangi.  Pengadilan Internasional memutuskan telah terjadi genosida di Palestina dan diperintahkan untuk menghentikannya. Namun Amerika terus mengirimkan bantuan infrastruktur militer ke penjajah Israel yang digunakan untuk genosida di Palestina. Amerika juga selalu memveto upaya gencatan senjata di Dewan Keamanan PBB. Bagaimana masa depan Palestina? Hancurkah?

Sehebat apa pun kekuatan penjajah Israel dengan dukungan Amerika dan Barat sekalipun, tidak dapat menolak azab Allah. Semua kekuatan dan sumber daya penjajah Israel yang dikerahkan untuk penghancuran Palestina, dalam surat Al-Imran ayat 117, diibaratkan seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman milik penjajah Israel sendiri, lalu angin itu merusaknya. Jadi, semua upaya dan pengerahan sumber daya penjajah Israel akan menghancurkan segala hal yang telah dibangun oleh penjajah Israel sendiri.

Bukankah, perekonomian penjajah Israel mulai hancur? Bukankah, kesehatan mental pemukimnya parah? Bukankah, pemukim ilegalnya banyak yang pergi ke negara asalnya?  Bukankah, banyak negara yang menarik duta besarnya? Bukankah, masyarakat dunia mengecamnya sebagai pelaku genosida? Bukankah, infrakstruktur senjata tercanggihnya dihancurkan oleh senjata sederhana? Yang telah dibangun, justru hancur oleh ulah penjajah Israel sendiri.

Penguasa Penjajah Israel terus memborbardir Gaza Selatan. Penghancuran seluruh Gaza adalah targetnya. Padahal Gaza Selatan merupakan tempat terakhir yang aman bagi pengungsi Palestina. Bila seluruh Gaza akan hancur ? Siapakah yang kelak akan hancur? Di surat Ali-Imran ayat 119, Allah menjelaskan bahwa tindakan brutal dengan kemarahan dan kesombongan, justru yang akan hancur. Maka kelak, yang hancur adalah penjajah Israel itu sendiri.

Apapun kebrutalan penjajah Israel, rakyat Palestina tetap berdiam di tanahnya. Dunia menyaksikan kesabaran dan keteguhannya. Tidak ada kerusuhan di tengah gempuran kelaparan. Mereka tetap shalat berjamaah. Mereka tetap mengkhatamkan Al-Qur'an. Mereka tetap yakin dengan janji Allah. Mereka tetap teguh melakukan perlawanan. Apa yang akan terjadi kelak, dengan karakter ini?

Allah berjanji kepada yang sabar dan bertakwa, di surat Al-Imran ayat 125, jika terus bersabar dan bertakwa maka seluruh serangan penjajah Israel yang secepat kilat pun, serangan operasi rahasia yang paling besar dan hebat pun, tidak akan bisa menghancurkan Palestina. Sebab, Allah berjanji akan menolong dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Pertolongan Allah ini sebagai berita gembira yang menentramkan rakyat Palestina. Juga, untuk membinasakan dan membuat hina penjajah Israel.

Mengapa rakyat Palestina diberi ujian yang sangat berat? Palestina adalah tanah yang diberkahi. Di tanah ini, orang-orang kafir akan dibinasakan. Orang mukmin akan dibersihkan dan diberikan gelar syuhada. Di Palestina, doa-doanya hanya ingin menjadi syuhada. Maka, gempuran membabi-butanya penjajah Israel  menjadi pintu mewujudkannya doa-doanya. Itulah paparan surat Al-Imran ayat 143.

Potret Keteguhan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup s...

Potret Keteguhan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Keteguhan, itulah salah satu tema besar surat Al-Imran. Keteguhan sebagai penutup surat Al-Imran. Apakah perjuangan akan membuahkan hasil tanpa keteguhan? Keteguhan membuat semua rencana jahat, tipu daya, kemungkaran dan kezaliman tak akan mendatangkan kemudharatan apa pun.

Bila langkah telah dimulai, jangan pernah berbalik ke belakang. Ketika pedang sudah terhunus, jangan pernah disarungkan kembali. Seperti Rasulullah saw yang tak mau menyarungkan pedangnya, saat keputusan perang Uhud sudah diambil. Seperti seorang sahabat yang menunaikan hak pedang yang sudah diberikan Rasulullah saw kepadanya.

Keteguhan hanya harus berakhir pada satu titik, hidup mulia atau mati syahid. Tak ada lagi kata lemah dan sedih. Tak lemah karena bencana. Tidak pernah lesu dan menyerah sebelum hidup mulia ditegakkan dan sebelum mati syahid diraih.

Perang Uhud adalah pembelajaran keteguhan. Saat pasukan Muslimin diporakporandakan musuh oleh kelalaiannya sendiri. Saat berita syahidnya Rasulullah saw menggaung kencang yang melemahkan jiwa muslimin. Saat orang terbaik berguguran di depan batang hidungnya. Apa yang bisa meneguhkannya?

Yang bisa menjaga keteguhan di tengah badai hempasan adalah janji kita kepada Allah dan Rasulullah saw. Janji seorang hamba kepada Rabb-nya, pada Malik-nya dan pada Illah-nya. Janji setia prajurit kepada qiyadahnya Rasulullah saw.

Istri Imran, bernazarkan bahwa bayi yang dikandung diperuntukkan bagi pembebasan Baitul Maqdis yang sedang dijajah oleh Romawi. Ternyata, yang lahir seorang bayi wanita yang diberi nama Maryam. Apakah kecewa? Maryam tetap dididik untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Kelak, cucunya, Isa bin Maryam yang melanjutkan.

Nabi Zakaria tetap teguh berdoa untuk memiliki putra. Beliau tidak pernah kecewa dengan doanya, walaupun sudah tua renta. Walapun istrinya mandul. Walapun infrastruktur tidak mendukung. Sebab semua penyebab adalah Allah swt. Keteguhanlah yang membuat gunung pun dapat dipindahkan.

Merdeka Dengan Sabar Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di...

Merdeka Dengan Sabar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menutup kisah Nabi Musa dengan janji akan menganugerahkannya kekuasaan di Timur dan Barat. Allah menutup kisah Nabi Musa dengan kehancuran Firaun dan pasukannya dengan sebab kesabarannya. Allah menjelaskan masuknya orang beriman ke surga pun karena kesabarannya.

Para Nabi dan Rasul yang diberi gelar ulul azmi, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, disebabkan oleh kesabarannya. Kualitas para Nabi dan Rasul pun ditentukan oleh kualitas kesabarannya. Para Nabi dan Rasul melalui liku-liku kehidupan dengan kesabaran. Sebab, semuanya hak prerogatif-Nya Allah.

Semua hasil butuh proses dan waktu. Tak ada yang seketika jadi. Tak ada seorang Nabi dan Rasul pun yang berdakwah langsung berhasil. Penghulu para Nabi pun, Muhammad saw, meraih kemenangan melalui kesabaran. Bila ada kesabaran maka akan muncul perjuangan. Bila ada kesabaran maka akan muncul keistiqamahan.

Sabar menghasilkan sikap moderat. Tak serampangan. Tidak terlena. Tak tergesa-gesa.  Tak berdiam diri. Ada optimisme dan kewaspadaan. Dalam kesabaran ada kelenturan sesuai kondisi zaman. Tidak terbawa arus tetapi juga tidak kaku. Dalam kesabaran ada pemikiran yang mendalam.

Dalam kesabaran ada daya tahan, ketegaran, daya tahan dan nafas panjang. Sabar dalam kesulitan dan pertarungan. Dalam semua pertempuran dan peperangan, yang memenangkannya adalah mereka yang sabar. Bukan yang memiliki infrakstruktur militer yang kuat dan canggih.

Dalam kesabaran tidak ada hujatan dan cacian. Tak ada keluhan dan menyalahkan. Tak ada kegalauan dan keresahan. Tak ada ketakutan dan kekhawatiran. Tak ada penyakit hati dan akhlak yang  buruk. Yang ada hanya terus melangkah dengan prinsip yang diyakininya.

Sabar itu lahir dari kepahaman akan diri, kehidupan dan Tuhannya. Diri ini hanya seorang hamba. Kehidupan ini hanya ujian sementara. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Akibat yang terbaik hanya bagi yang bertakwa. Dari sabar, lahirlah kemerdekaan diri dan hidup.

Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakah...


Tahapan Tanda-Tanda Kehancuran Penguasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Rezim kezaliman lahir karena ketakutan dan keserakahan. Semuanya harus dalam kendali dan genggamannya. Saat mendengar ada sosok yang akan mengusiknya, selagi masih bayi pun, harus dihancurkan. Seperti Firaun yang mimpinya ditafsirkan sebagai penggulingan rezimnya dari bayi yang akan dilahirkan. Maka, pembantaian terhadap sosok tersebut pun dilakukan secara terencana dan massif dengan penggunaan alat kekuasaan negara.

Kezaliman justru yang memelihara bayi perlawanan. Kezaliman yang lebih massif, kejam dan terorganisir, justru yang lebih kuat memelihara dan menyuburkan api perlawanan. Seperti Firaun yang memelihara bayi Musa, padahal bayi Musalah yang kelak melakukan perlawanan terhadap kezalimannya.

Tanda perlawanan itu berawal dari ditariknya jenggot Firaun. Firaun murka. Musa kecil pun hendak dihukumnya. Perlindungan itu selalu ada. Istrinya meminta Firaun untuk menguji Musa kecil dengan roti dan bara api, mana yang dipilh? Allah melindungi Musa kecil dengan memilih bara api untuk makan. Sangat menyakitkan, namun sekenario besar pembunuhan terhadap Musa kecil pun gagal. Itulah penyelamatan dari Allah.

Tindakan kedua adalah dengan pengusiran pemuda Musa dengan dalih telah melakukan pembunuhan terhadap pemuda Mesir. Padahal Musa ingin membela seseorang yang lemah yang dizalimi. Namun pukulannya membuat pemuda yang berbuat zalim mati. Pasukan pun dikerahkan untuk menangkap pemuda Musa. Namun pemuda Musa berhasil menyelamatkan diri dengan ijin Allah. Ditinggalkan Musa, Firaun semakin semena-mena.

Musa telah menjadi Nabi. Nabi Musa diutus untuk memberikan nasihat dan peringatan pada Firaun. Namun ditolak Firaun. Firaun pun menyebarkan isu bahwa Musa datang untuk mengambil kekuasaan dan mengusir rakyat Mesir dari tanah airnya. Saat gemuruh nasihat ditolak. Saat nasihat perbaikan dianggap ancaman, maka Allah memberikan peringatan berupa krisis ekonomi.

Saat krisis ekonomi terjadi, Firaun justru menyalahkan Nabi Musa. Rakyat Mesir pun mengkambinghitamkan Nabi Musa. Padahal krisis yang terjadi karena prilaku kezaliman dan mismanajemen pemerintahan dan pembangunan penguasa. Semua nasihat perbaikan ditolak. Dengan berkata kepada Nabi Musa, "Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu."

Saat krisis ekonomi tak juga menyadarkan untuk melakukan reformasi kekuasaan dan sosial. Maka Allah menurunkan krisis baru berupa dikirimkan kepada rakyat Mesir berupa angin taufan, belalang, kutu, katak dan darah (air minum berubah menjadi darah). Namun krisis yang baru pun tidak juga menyadarkan diri. Kesombongan terus mewarnai pengelolaan kekuasaan.

Saat krisis tak juga berhenti, lalu mereka mendatangi Nabi Musa dengan berkata, "Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu sesuai dengan janji-Nya kepadamu. Jika engkau menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu." Namun janji komitmen perbaikan hanyalah janji palsu. Saat krisis selesai, mereka pun mengulangi dan meneruskan kezaliman sebelumnya. Apa yang terjadi setelah itu?

Allah menghukum rezim Firaun dengan menghancurkan seluruh kekuatannya sehingga tak tersisa di lautan. Padahal sebelumnya mereka mengira akan menghancurkan Nabi Musa dan pengikutnya. Seperti itulah tahapan peringatan Allah swt kepada penguasa yang zalim sebelum dihancurkan.

Memberangus Politik Kesukarelaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak mengha...

Memberangus Politik Kesukarelaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana cara memberangus  politik kesukarelaan yang hendak menghancurkan kezaliman? Hanya, intimidasi dan kekerasan. Sebab, tawaran syahwat, kekayaan dan jabatan tak menarik lagi. Semua tawaran tersebut terasa hina bila dibandingkan harus menghancurkan harga dirinya. Janji Allah di akhirat lebih mulia dari semua tawaran tersebut.

Saat para penyihir telah menyaksikan kebenaran Nabi Musa, mereka pun menjatuhkan diri dengan bersujud dan beriman kepada Tuhan seluruh alam. Firaun pun marah besar, mengapa para penyihir langsung berbalik arah? Tidak meminta ijin terlebih dahulu? Firaun meyakini semuanya merupakan sekenario tipu muslihat yang sudah direkayasa  sebelumnya antara penyihir dan Nabi Musa untuk mengusir penduduk Mesir. Disini, Firaun selalu mengatasnamakan rakyatnya walaupun sebenarnya hanya untuk kepentingan kekuasaannya semata. Siapa yang sebenarnya melakukan tipu daya?

Firaun tak sadar bahwa hukum yang tertulis abadi sebelum alam semesta diciptakan hingga Hari Kiamat adalah rencana jahat akan kembali kepada yang merencanakannya. Makar Allah lebih baik dari semua makar yang ada di muka bumi. Allah SWT sebaik-baiknya penolong dan pelindung.

Bagaimana melenyapkan pengaruh pemikiran para penyihir yang telah sadar sebelum meluas ke tengah masyarakat? Mencap mereka sebagai pembangkang dan penghianat, dengan mengatakan mengapa tidak meminta ijin dan restu? Firaun pun merekayasa informasi dan berita bahwa ada persengkokolan besar antara penyihir dan Nabi Musa yang direncanakan dengan rapih. Dengan alasan ini para penyihir layak untuk dihukum dengan cara yang amat kejam.

Firaun merealisasikan hukumannya kepada para penyihir, tangan dan kakinya dipotong secara bersilang, kemudian menyalibnya. Namun para penyihir tetap teguh. Mereka berkata, "Sesungguhnya kami semua akan kembali kepada Tuhan kami, dan engkau (Firaun) tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami."

Penghancuran politik kesukarelaan tak puas hanya di level atas, tetapi juga harus hingga ke akar rumput. Semua benih kekuatan harus dihancurkan dan diberangus sebelum membesar. Maka pembesar Mesir berkata kepada Firaun, "Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negri ini dan meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu? Atas saran ini, Firaun membuat keputusan yang sangat tegas dan kejam terhadap semua pendukung kebenaran.

Firaun membuat keputusan hukum bahwa seluruh anak laki-laki mereka akan dibunuh dan membiarkan  hidup anak-anak perempuan mereka. Firaun meyakini bahwa semuanya dapat dilakukan dengan mudah karena Firaun memiliki kekuasaan yang besar. Dalam suasana yang mencekam ini, apa yang dilakukan oleh Nabi Musa?

Nabi Musa menjawab atas kegelisahan kaumnya tersebut, "Mudah-mudahan Tuhanmu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu." Allah pun mewahyukan kepada Nabi Musa, "Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal kaummu dan jadikan rumah-rumahmu itu tempat ibadah dan laksanakanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang mukmin."

Saat pemberangusan semakin merajalela dan kejam, maka dibangunlah kelompok perjuangan yang menyebar di setiap rumah. Tema penempaannya adalah ibadah, shalat dan terus menggelorakan berita gembira akan janji Allah. 

Dari Politik Transaksional Menuju Politik Kesukarelaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Politik transaksional sudah sangat melekat da...

Dari Politik Transaksional Menuju Politik Kesukarelaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Politik transaksional sudah sangat melekat dan massif. Pemenang Pilpres, Pilkada, terpilihnya Caleg hingga kepala desa cendrung dimenangkan oleh mereka yang massif berpolitik uang, politik dagang sapi hingga gentong babi. Mungkinkah bisa dirubah menjadi politik kesukarelaan? Bagaimana membangun politik kesukarelaan? Mari membuka kisah Nabi Musa.

Allah SWT mengutus Nabi Musa kepada Firaun. Misinya, menyadarkan Firaun bahwa tuhan itu bukan dirinya, tetapi Allah SWT. Ada rasa ketakutan pada diri Nabi Musa dalam  menghadapi Firaun. Maka, Allah memberikan dua mukjizat yaitu tongkat yang bisa berubah menjadi ular yang besar dan tangannya menjadi putih bercahaya bagi orang yang melihatnya. Nabi Musa pun meminta agar saudaranya, Harun, menjadi Nabi sebagai pendampingnya karena dia sangat ahli berkomunikasi.

Bagaimana cara menghancurkan kebenaran? Mempersepsikan kebenaran sebagai  sosok hantu dan gerakan yang menakutkan sehingga  dapat menghancurkan singgasana kekuasaan. Saat mukjizat Nabi Musa diperlihatkan di hadapan Firaun, pemuka kerajaan Mesir mempengaruhi Firaun dengan mengatakan bahwa Nabi Musa merupakan sosok pesihir yang pandai yang hendak mengusir Firaun dari Mesir. Lalu, bagaimana menghadapi Nabi Musa?

Menghancurkan kebenaran yang kecil pun butuh gerakan yang massif, terencana, kuat dengan dukungan ragam sumber daya yang besar. Para pemuka kerajaan Mesir pun menyarankan pada Firaun agar menahan Nabi Musa dan Harun untuk sementara waktu. Secara bersamaan, utusan kerajaan disebar ke seluruh kota untuk mencari, menemukan dan mengumpulkan semua pesihir terbaik yang ada di Mesir untuk menghadapi kemukjizatan Nabi Musa. Para penyihir pun tiba di Istana Firaun. Apa yang dibicarakan mereka?

Dialog Firaun dan para penyihir merupakan dialog politik transaksional. Apa yang didapatkan? Apa imbalannya? Politik transaksional harus jelas dulu apa yang diperoleh sebelum eksekusi misi dilakukan. Firaun menjanjikan jika para penyihir menang maka akan mendapatkan imbalan yang besar dan mereka dijadikan orang terdekat di sisi Firaun. Pada prinsipnya, yang melawan kebenaran tidak saling mempercayai dan bersatu. Mereka bergerak bila mendapatkan imbalan.

Pertarungan Nabi Musa dan para penyihir pun dimulai. Para penyihir mengelabuhi mata orang  yang melihatnya sehingga menjadikan orang banyak itu takut karena sihirnya sangat menakjubkan. Nabi Musa diperintahkan Allah untuk melemparkan tongkatnya. Maka tongkat Nabi Musa menelan habis semua  kepalsuan sihir mereka. Kebenaran itu digdaya walaupun harus menghadapi kerumunan yang banyak dan besar.

Sia-sialah kekuatan para penyihir. Segala yang telah mereka kerjakan jadi sia-sia. Maka, mereka dikalahkan di tempat tersebut dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Pertarungan akan mengungkapkan jati diri kebenaran dan sihir kepalsuan. Perjalanan waktu akan mengungkapkan selimut kepalsuan, kebobrokan dan kebohongan. Di saat semuanya terungkap, barulah muncul kesadaran pada diri para penyihir. Kesadaran berproses secara alamiah setelah menyaksikan kenyataan kasat mata.

Saat kepalsuan terungkap, para penyihir berbalik menjadi pembela Nabi Musa tanpa meminta imbalan apa pun. Keberanian para penyihir tiba-tiba muncul. Para penyihir rela mengorbankan jiwa dan raganya. Rela dihukum, walaupun hukumannya dipotong tangan dan kaki dengan bersilang, kemudian disalib. Disini lahirlah politik kesukarelaan.

Butuh proses panjang dan berliku dari politik transaksional menuju politik kesukarelaan. Ada momentum pertarungan ide, gagasan dan implementasi operasional. Pelaku kebenaran harus konsisten melakukan dari waktu ke waktu di setiap sektor kehidupan untuk mewujudkannya. Kelak, politik transaksional akan ditinggalkan dan terkubur. Minimal, terus  semakin berkurang  pendukungnya.

Memandang Kenyataan dan Membangun Harapan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Melihat peristiwa jangan dari suasana jiwa. Melihat perist...

Memandang Kenyataan dan Membangun Harapan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Melihat peristiwa jangan dari suasana jiwa. Melihat peristiwa jangan dari logika akal semata. Jangan meyakini masa depan dari keyakinan diri semata. Pandang dan yakini setiap peristiwa dan masa depan dari sudut Firman-Nya. Inilah bekal utama.

Bangun harapan-harapan dan keyakinan akan masa depan dari Firman-Nya. Jangan dari suasana jiwa dan akal semata. Harapan dan keyakinan yang bersumber dari suasana jiwa hanya akan menjadi ilusi dan khayalan. Maka, berinteraksilah dengan Firman-Nya agar tahu bagaimana cara benar melihat kenyataan dan  membangun harapan.

Firman-Nya yang pasti terjadi. Kehendak-Nya yang pasti menjadi kenyataan. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Kaitkan segala yang ada di bumi dengan Firman-Nya. Inilah rahasia keistiqamahan para Nabi dan Rasul.

Dalam kesedihan dan kegembiraan. Dalam setiap kekalahan dan kemenangan. Allah menghibur Rasulullah saw dengan kisah para Nabi dan Rasul. Mengapa bukan yang lain? Mengapa bukan pikiran dan keyakinan para Nabi dan Rasul itu sendiri? Mengapa bukan gagasannya?

Kisah para nabi dan rasul merupakan cara terbaik dengan hasil yang terindah dalam melalui semua perjalanan hidup. Kisah Para nabi dan rasul merupakan strategi termudah dan termurah dengan hasil optimal dalam melalui liku-liku kehidupan. Kisah para nabi dan rasul merupakan perjalanan hidup yang diberkahi dan dibimbing Allah. Itulah kebahagiaan hidup yang nyata.

Semuanya yang terjadi di Lauhul Mahfudz sudah dijelaskan dalam Firman-Nya. Maka, yang dibutuhkan hanya kesabaran dalam prinsip dan jejak hidup yang dibimbing dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Kelak, semuanya akan berproses sesuai dengan Firman-Nya.

Keindahan dan kebahagiaan itu bersama perjalanan yang dilalui oleh para Nabi dan Rasul. Allah mampu seketika dan setiap kesempatan membuat manusia tertunduk mengikuti kebenaran. Namun mengapa tidak dilakukan-Nya? Sebab, kehidupan ini ujian kepada siapa keberpihakan dan pembelaan kita.

Menanam Talas Kimpul Di Rerimbunan Pohon Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Setelah menanam 4.000 pisang, selanjutnya 4.000 talas kimpu...

Menanam Talas Kimpul Di Rerimbunan Pohon

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Setelah menanam 4.000 pisang, selanjutnya 4.000 talas kimpul. Mengapa? Pesan leluhur di kampung saya mengatakan bila tidak ada padi, maka talas kimpul bisa menjadi penggantinya. Saat itu talas kimpul baru sebagai makanan alternatif bagi pengidap diabetes.

Karakter talas kimpul dan pisang sangat berdekatan. Kepastian panennya. Mudah ditanam dan tidak banyak hama. Batangnya mudah diurai menjadi pupuk. Bisa dikombinasikan dengan pisang karena pohonnya tidak tinggi dan tidak membutuhkan sinar matahari.

Talas kimpul tidak memiskinkan nutrisi tanah. Umbinya yang berada di bawah tanah bisa mendorong pembalikan tanah saat memanen agar tetap gembur dan subur. Talas kimpul pun tidak membutuhkan tanah yang subur.

Daun dan batangnya bisa digunakan untuk pakan ikan. Umbinya bisa diolah menjadi tepung, keripik, dan pakan ternak. Kelak dari kimpul muncul turunan bisnis baru yaitu industri pengolahan, perikanan dan peternakan di area yang sama. Multiplier efek akan meningkatkan hasil.

Di kerimbunan pohon pisang dan Alpukat, talas kimpul masih bisa hidup dengan hasil yang optimal.  Sebab, tak butuh sinar matahari yang optimal. Memadukan tanaman yang tinggi dan rendah dalam satu lahan mengoptimalkan kapasitas tanaman yang ditanam. Memahami karakter tanaman dan keterkaitannya membuat lahan optimal penggunaannya.

Talas kimpul bisa jadi alternatif bagi kebutuhan karbohidrat yang selama ini hanya bertumpu pada padi saja. Salah satu strategi ketahanan pangan bukan sekedar swasembada beras tetapi juga menciptakan keragaman baru sumber karbohidrat.

Di sebuah negara di samudera pasifik, ada yang berhasil mengkonversikan beras ke talas. Awalnya, makanan pokoknya adalah talas. Setelah mengenal beras, mereka beralih ke beras. Namun padi tak bisa ditanam di tanah mereka. Untuk menghindari ketergantungan pada import beras, akhirnya mereka kembali menanam talas. Menanam talas sebuah ikhtiar langkah ketahanan pangan negri ini.

Pergulatan Politik Kekuasaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut k...

Pergulatan Politik Kekuasaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Allah berikan kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan kepada yang Engkau kehendaki. Setiap periode kekuasaan penguasa menggigit dan diktator pun ada waktunya yang telah ditentukan oleh Allah. Saat para ulama Tabiin mengadukan kekejaman gubernur Hajaj Ats Tsaqafi kepada Anas bin Malik, dijawab bahwa semuanya ada waktunya.

Nabi Nuh bersabar dengan perjuangan. Tak perlu bertanya, kapan dimenangkan Allah? Sebab semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sebelum alam semesta diciptakan. Rasulullah saw harus menghadapi periode Mekah terlebih dahulu. Maka, bersabarlah dalam perjuangan karena yang merancang kemenangan adalah Allah. Bila masih ada hari esok berarti masih ada harapan.

Bersabarlah atas ketetapan Allah. Bersabarlah bahwa janji Allah itu benar. Seperti para panglima perang Muslimin di Perang Salib. Walapun para sultan saling berperang sendiri dalam pertikaian internal. Para ulama dan panglima level gubernur terus bahu membahu. Banyak ulama dan panglima yang berguguran pula akibat diserang oleh Muslimin sendiri yang bekerjasama dengan tentara salib. Namun mereka terus berjuang hingga Allah mentakdirkan pemimpin perlawanan sekelas Nurudin Zanky dan Shalahuddin Ayubi.

Nabi Musa dikejar-kejar Firaun tanpa kekuatan yang sebanding.  Namun Nabi Musa tak pernah mengendorkan perlawanannya. Para ahli sihir dipotong kaki dan tangannya secara bersilang karena beriman kepada Allah. Puncaknya, Nabi Musa terhimpit di Laut Merah.  Namun perlawanan terus dilakukan. Sebab, Allah yang berkuasa memberikan dan mencabut kekuasaan. Sikap kita hanya bagaimana bersikap yang benar terhadap ragam para penguasa.

Sikap yang konsisten terhadap ragam penguasa adalah dengan amar makruf nahi munkar dan terus berdakwah. Ini yang dinilai oleh Allah. Apakah terus dilakukan? Baik terhadap penguasa yang zalim maupun yang adil? Bukan hanya bergulat bagaimana memenangi kekuasaan atau tidak?  Kekonsistenan amar makruf nahi munkar dan berdakwahlah yang menjadi ukuran kemenangannya.

Akhir yang baik hanya bagi yang beriman dan bertakwa. Jadi kekalahan dan kemenangan sama saja. Allah pasti akan mendesain akhir yang baik bagi yang beriman dan bertakwa. Terus berbuat baik dan beriman, maka apapun keburukan akan dipatahkan dan dihalau oleh Allah.

Rencana jahat itu akan kembali kepada yang merencanakan. Allah sebaik-baiknya penolong dan pelindung. Allah sebaik-baiknya pembuat makar. Seperti Allah menghancurkan seluruh kekuatan Firaun, saat Firaun merasa kemenangannya sudah dalam genggaman.

Ilmu Penegak Kebenaran? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Yang literatur dan referensi bacaan tentang demokrasi dan pemerintah sangat ...

Ilmu Penegak Kebenaran?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Yang literatur dan referensi bacaan tentang demokrasi dan pemerintah sangat banyak, mengapa justru menjadi bagian indikasi kecurangan Pilpres 2024? Padahal di dua Pilpres sebelumnya, mereka yang menggugat kecurangan Pilpres. Ada juga pakar hukum tata negara yang jadi bagian indikasi kecurangan Pilpres kali ini. Apakah kepakaran telah mati?

Apakah ilmu tidak bisa menjadi pembimbing jalan hidup? Apakah ilmu tidak membuat seseorang menjadi pembela dan penegak kebenaran? Apakah ilmu tidak bisa menjinakan hawa nafsu dan membersihkan hati? Apakah ini yang disebut Imam Al Ghazali sebagai ulama suu?

Di kitab Ihya Ulumudin, lebih banyak membedah sarana pembersihan hati, penyakit hati dan sikap hati terhadap ritual ibadah. Mengapa tidak mengikuti methodelogi para Imam Mazhab Fiqh sebelumnya? Ilmu pun harus memiliki jiwa dan rasa. Ilmu pun harus diarahkan. Sebab, sangat banyak orientasi puncak ilmu adalah dunia.

Ilmu tidak bisa menjadi satu-satunya alat untuk melihat dan menegakkan kebenaran. Sebab, masih ada syahwat dan bisikan syetan. Seperti Nabi Adam, beliau telah diajarkan ilmu oleh Allah yang melampaui para malaikat. Namun jatuh oleh hawa nafsunya yang ingin hidup abadi. Dalam setiap keinginan selalu ada tipuan dan bisikan hawa nafsu dan syetan.

Bukankah banyak yang mengetahui rambu lalu lintas tetapi melabraknya? Bukankah banyak pembuat dan penegak rambu lalu lintas, justru yang melanggarnya? Jadi bukan semata-mata ilmu yang bisa menegakkan kebenaran. Hati yang bersih yang membimbing pada kebenaran.

Kiprah politik untuk mengungkap apa yang ada di hati. Kiprah bisnis untuk mengungkap apa yang ada di hati. Semua kiprah kehidupan untuk mengungkapkan apa yang ada di relung hati. Al-Qur'an menjelaskan bahwa wajah dan suara menjadi sarana membongkar apa yang ada di hati. Hati tak bisa disembunyikan.

Berkiprahlah di semua bidang kehidupan. Bukan untuk meraih sesuatu, tetapi untuk intropeksi berbolakbaliknya hati. Untuk membongkar semua bisikan hawa nafsu dan tipu daya syetan. Apakah diikuti? Apakah lebih memilih kehendak Allah dan Rasul-Nya?

Cara Nabi Daud Mengokohkan Kekuasaan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bagaimana menciptakan ketahanan pangan? Bagaimana  meningkatka...

Cara Nabi Daud Mengokohkan Kekuasaan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bagaimana menciptakan ketahanan pangan? Bagaimana  meningkatkan gross nasional produk? Bagaimana menciptakan pemerataan pembangunan? Bagaimana mengokohkan kekuasaan? Bagaimana agar keputusannya bijaksana? Semuanya sangat mudah. Bukalah kisah Nabi Daud.

Allah menundukkan gunung. Gunung bertasbih bersama Nabi Daud. Apa maknanya? Bukankah gunung sumber ketahanan pangan? Hujan dan air berasal dari gunung. Kesuburan tanah bersumber dari gunung. Bukankah gunung menjadi sumber energi panas bumi yang menggerakkan infrakstruktur teknologi?

Hasil panen lebih berlimpah di gunung dibandingkan di dataran rendah. Lereng gunung, membuat tanah menjadi lebih luas dibandingkan tanah datar. Air mengalir bertanda pengelolaan kebun yang terbaik. Gunung melayani manusia selama manusia mentaati Allah.

Allah menantang manusia, siapakah yang bisa menghentikan burung yang sedang terbang? Namun, Allah menundukkan burung kepada Nabi Daud karena  Nabi Daud mentaati-Nya. Apa maknanya? Bukankah burung telah dijadikan tentara dan intelejen di era Nabi Sulaiman? Bukankah burung dijadikan sarana pengiriman surat? Bukankah burung menjadi penguasa angkasa? Menguasai angkasa dengan mentaati-Nya.

Allah mengkisahkan bagaimana Nabi Daud menjadi sosok penguasa yang mampu mengokohkan kekuasaannya. Hingga anaknya menjadi penggantinya pun, semuanya ridha dan mendukungnya. Sebab, keduanya mentaati Allah. Menegakkan tujuan-tujuan syariat-Nya. Menegakkan syariat-Nya, secara otomatis mengokohkan kekuasaannya. Dalam syariat-Nya ada keadilan, kemakmuran, ketentraman dan menunaikan hak seluruh manusia dan alam semesta.

Ada dua kisah kasus penduduk yang diajukan ke pengadilan Nabi Daud dan Sulaiman. Mengapa keputusan benar dan adil? Allah melimpahkan hikmah kepada Nabi Daud dan Sulaiman karena sebab ketaatan kepada Allah. Memahami hakikat sebuah peristiwa. Bisa membaca tipu muslihat dan rekayasa.  Taat kepada Allah menyebabkan semua sarana ditundukkan oleh Allah.

Taat kepada Allah bukan sekedar membuat seseorang menjadi pribadi shaleh, tetapi mengokohkan kekuasaan, keputusan benar dan adil, serta ditundukkannya alam semesta. Hanya jalan ini yang paling mudah untuk dilalui bagi manusia untuk mencapai cita-cita peradaban dunia.

Pencurian Hasil Panen Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Teruslah menanam walapun panennya mulai ada yang mencuri. Jadikan sarana untuk...

Pencurian Hasil Panen

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Teruslah menanam walapun panennya mulai ada yang mencuri. Jadikan sarana untuk bersedekah kepada pencuri. Seperti sebuah hadist, semoga dengan bersedekah kepada pencuri, membuatnya sadar. Sebab, sedekah itu tidak pernah salah sasaran.

Menanamlah lebih banyak dan lebih luas sehingga panen yang dicuri menjadi sangat kecil dari total yang dipanen. Bukankah, pencurian itu atas kehendak Allah? Jadi segeralah berintrospeksi bagaimana meminimalisir potensi pencurian berikutnya. Bila pencurian tetap terjadi, itulah resiko bertani. Namun pencurian tidak akan pernah menjadi sumber utama kegagalan. Kesalahan internal yang menyebabkan kegagalan dan kebangkrutan.

Rasulullah saw bersabda hasil panen yang dicuri merupakan sedekah. Artinya, bisa jadi yang mencuri memang tidak memiliki sesuatu untuk keluarganya, ada kepentingan yang mendesak yang tidak ada solusinya, dan ada proses internal kritis yang salah yang harus diperbaiki. Bila diperbaiki, akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar lagi.

Pencurian bertanda masih banyaknya kezaliman. Belum tegaknya keadilan. Di masa seperti apa pencurian dan perampokan merajalela? Di zaman seperti apa koruptor justru menjadi pemenang, pejabat dan penguasa yang dipuja? Pencurian sebuah realitas kondisi masyarakat di semua strata sosial. Yang termiskin hingga terkaya berpeluang mencuri.

Kekayaan bukan milik kita. Alam semesta bukan milik kita. Mengapa harus resah dengan pencurian yang bukan milik kita? Pencegahan terhadap pencurian dengan beragam sarana dan strategi  hanya agar orang lain tidak mencuri karena kita memberikan peluang. Pencegahan pencurian bagian dari proses nahi munkar. Bukan karena takut kehilangan harta karena dicuri.

Allah menciptakan neraka agar manusia sadar untuk tidak melakukan keburukan dan kezaliman. Allah menurunkan hukum pidana dan perdata agar manusia tidak melakukan keburukan dan kezaliman. Jadi strategi dan infrastruktur pencegahan pencurian bagian dari membangun masyarakat.

Bila zakat dan infaq belum ditunaikan, pencurian sebuah proses pengambilan hak orang lain pada kita. Bila zakat dan infaq sudah ditunaikan, bertanda bahwa infaqnya belum optimal. Bila semuanya sudah ditunaikan, Allah sedang menguji siapakah sangat dicintai? Harta atau Allah?

  Menggelorakan  Perubahan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Semangat perubahan terus terpatri. Semangat perubahan terus hidup. Seper...


 

Menggelorakan  Perubahan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Semangat perubahan terus terpatri. Semangat perubahan terus hidup. Seperti para pendukung para Nabi dan Rasul. Seperti, para Hawariyun di sisi Nabi Isa dan para Sahabat di sisi Rasulullah saw. Walaupun dihalangi dan dimusuhi oleh para raja, kaisar, pembesar istana dan kaumnya, gerakan perubahan terus hidup dan muncul menunggu momentumnya.

Hukum perguliran terus hidup. Kekuasaan dan kekuatan yang paling besar dan kuat pun, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa memberangusnya. Tidak ada yang bisa mengentikan perubahan malam dan siang. Tidak ada yang bisa menghentikan perputaran matahari dan bulan. Tak ada yang bisa menghentikan perputaran masa dan waktu.

Namrudz dan Firaun tak bisa menghentikannya. Para pembesar kaum tidak bisa menghambatnya. Semakin dihambat, kekuatannya semakin besar dan terakumulasi. Keikhlasan menuju perubahan sangat berbeda dengan pengorbanan mempertahankan kezaliman. Dalam kezaliman ada ambisi keserakahan, penguasaan, perebutan dan kompensasi yang besar.

Apa suasana Musyrikin Mekah dengan Muslimin di perang Badar? Muslimin merasakan ketentraman walaupun di tengah keterbatasan dan kekurangan. Orientasinya jelas, hidup mulia atau mati syahid. Musyrikin dipenuhi dendam dan nafsu menghancurkan. Seperti penjajah Israel yang menghancurkan Gaza. Namun, mereka mengalami tekanan mental yang berat karena targetnya tidak pernah tercapai.

Kezaliman menggunakan kekuatan besar kekuasaan, kekayaan dan anteknya untuk menekan, menakuti dan menghasut. Itulah yang diagungkan dan dilakukan para pembesar pendurhaka kepada para Nabi dan Rasul. Para nabi dan rasul menggunakan kekuatan seruan penyadaran. Menyeru hati dan akal. Membuka cakrawala kebenaran, lalu bebas memilih. Apakah mau menjadi pembela kebenaran?

Arus perubahan menggerakkan penyadaran bukan tekanan, janji dan iming-iming kompensasi. Para nabi dan rasul dilarang memaksa, yang diperintahkan hanya menyampaikan risalah dakwah saja. Menyampaikan peran dan tanggungjawab kehidupan pada diri setiap manusia. Hanya itu tugas utamanya.

Mana yang akan dipilih perubahan atau kezaliman? Semuanya diserahkan kepada manusia itu sendiri. Sebab, setiap pilihan memiliki konsekuensi dan akibat yang akan dirasakannya sendiri. Yang penting gelora perubahan terus dikumandangkan agar tanggungjawab terhadap umat tertunaikan.

Bekal Pendaki Gunung Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Semakin berumur semakin mendekati kematian. Apa yang dibutuhkan saat kematian t...

Bekal Pendaki Gunung

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Semakin berumur semakin mendekati kematian. Apa yang dibutuhkan saat kematian tiba? Itulah yang harus disiapkan. Membuang yang imitasi dan palsu. Membuang sampah. Membuang yang memperberat pertanggungjawaban di akhirat. Mengumpulkan fasilitas kemudahan di akhirat.

Yang dikumpulkan. Yang telah diraih, ternyata hampa. Yang didapatkan hanya pujian, decak kagum, saling berbangga dan hebat. Setelah itu kembali ke rumah. Ada yang berjuang dengan kesendiriannya. Ada yang berjuang dengan sakitnya. Ada yang menikmati kumpul riung di masjid, mushalah atau pos ronda.

Hidup itu teramat singkat untuk dinikmati dan diburu. Hidup itu hanya untuk menyempurnakan kebaikan dan senantiasa beriman kepada Allah. Setelah itu, jangan lagi dipikirkan apa pun yang terjadi, karena Allah sudah menjaminnya.

Bertakwa dan bersabarlah. Bersabar dan shalatlah. Teruslah bersabar. Maka, semua kejahatan, kezaliman dan tipu daya akan sia-sia. Seperti kisah gagalnya tipu daya dan kejahatan para  pendurhaka kepada para Nabi dan Rasul.

Allah yang menggenggam semua keputusan. Allah yang memiliki wewenang dalam kehidupan. Semua ubun-ubun manusia dalam genggamannya. Semu urusan kembali kepada Allah. Maka, cukupkah dengan menjalankan peran sebagai hamba dan khalifah Allah.

Berjalanlah seperti para pendaki gunung. Bawalah yang hanya dibutuhkan saat dalam perjalanan dan menetap sementara di puncak untuk menikmati keindahannya. Itulah konsep sederhana mengumpulkan apa yang dibutuhkan dalam kehidupan ini.

Semuanya Istimewa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Semua terasa istimewa, itulah cara Allah memperlakukan makhluk-Nya. Bukankah setia...

Semuanya Istimewa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Semua terasa istimewa, itulah cara Allah memperlakukan makhluk-Nya. Bukankah setiap makhluk tidak ada yang sama? Bukankah sesama manusia pun saling berbangga? Bukankah setiap daerah pun memiliki keindahan dan sumberdaya yang berbeda?

Setiap Nabi dan Rasul diberi kemukjizatan yang berbeda. Setiap Wali Allah diberi karamah yang berbeda. Setiap ulama diberi ilmu yang berbeda. Setiap umat diturunkan Nabi dan Kitab Suci yang berbeda sesuai zamannya. Alam semesta memiliki warna-warni yang berbeda. Setiap yang ada di kehidupan ini sangat diistimewakan oleh Allah. Allah memperlakukan makhluk-Nya dengan sangat khusus. Sehingga setiap makhluk-Nya merasakan diistimewakan oleh Allah.

Malam dan siang. Daratan dan lautan. Angin dan awan. Lembah dan gunung. Air dan batu. Matahari dan bulan. Semuanya memiliki keindahan dan peran yang tak tergantikan. Bila disatukan akan menambah keindahan dan kemanfaatannya. Yang istimewa, bila dipadukan menjadi lebih istimewa lagi dan segalanya menjadi lebih mudah.

Allah tak pernah merendahkan makhluk-Nya. Allah memerintahkan untuk saling mengenal dan memahaminya agar sadar akan perannya lalu bekerjasama dan bahu membahu. Bila tidak ada keragaman peran, maka akan hancurkan hutan, lautan, bumi hingga alam semesta.

Bila seluruh makhluk-Nya sangat istimewa, mengapa masih mencemooh, merendahkan dan menghina? Bila Allah telah melebihkan setiap makhluk-Nya, mengapa diperbandingkan untuk menguak kejelekan dan keburukannya? Istimewakan makhluk-Nya seperti Allah mengistimewakannya.

Ayah dan ibu, mengistimewakan putra-putrinya, walaupun orang lain ada yang merendahkan anaknya. Seorang anak, mengistimewakan orang tuanya, walaupun banyak orang yang menghina orang tuanya. Pandang orang lain seperti anak dan orang tua kita sendiri. Maka, semua orang menjadi pahlawan.

Rasulullah saw selalu mengungkapkan kelebihan para Sahabatnya. Para Sahabat selalu mengungkapkan kelebihan sahabatnya begitupun para ulama salafus shaleh. Mengapa derajat kita yang hina selalu membicarakan kesalahan dan keburukannya sesama kita? Seperti syetan yang melihat kelemahan manusia, padahal manusia telah dimulaikan Allah. Kerendahan seseorang terlihat dari bagaimana dia merendahkan makhluk Allah.

Kesamaan Suasana Kejiwaan Para Nabi dan Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Membaca kisah para nabi dan rasul di Al-Qur'an s...

Kesamaan Suasana Kejiwaan Para Nabi dan Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Membaca kisah para nabi dan rasul di Al-Qur'an seperti membaca kisah keseharian manusia. Kisah kekayaan dan kemiskinan. Kisah kejayaan dan kebangkrutan. Kisah penguasa dan rakyat jelata. Kisah penghargaan dan penghinaan. Kisah anak dan kerabat. Semua serba serbi persoalan manusia sangat amat terasa dekatnya.

Apa perbedaan Nabi dengan kita? Nabi itu utusan Allah. Para kekasih Allah. Bukankah ujiannya pun lebih besar dan berat dari manusia biasa? Semakin tinggi derajatnya, semakin besar ujiannya. Oleh sebab itu, doa-doa para Nabi diabadikan dalam Al-Qur'an. Untuk apa? Agar umat manusia mencontohnya.

Ujian manusia biasa tidak seberat para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, derajatnya pun tidak setinggi para Nabi dan Rasul. Apa artinya? Suasana kejiwaan para Nabi dan Rasul sama dengan manusia biasa. Yang dirasakan para Nabi dan Rasul sama dengan yang dirasakan oleh manusia biasa. Ada titik keseimbangan dan kesamaan antara para Nabi dan Rasul dengan manusia biasa dalam menjalani liku-liku kehidupan.

Maka, perjalanan para Nabi dan Rasul pada hakikatnya adalah perjalanan manusia biasa. Mereka diberi mukjizat karena ujian dan tantangannya melampaui kemampuan manusia biasa. Ini bentuk keadilan Allah. Setiap diberi tantangan yang besar, maka Allah memberikan "fasilitas" yang besar pula.

Perintah dan larangan Allah kepada para Nabi dan Rasul sama dengan yang diperintahkan kepada manusia biasa. Bila para Nabi dan Rasul mampu melewati tantangan tersebut dengan menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah, maka manusia pun bisa mendapatkan solusi dan kemudahan seperti yang diperoleh oleh para Nabi dan Rasul.

Bila liku-liku kehidupan para Nabi dan Rasul sama dengan liku-liku kehidupan manusia, maka dengan mencontoh para Nabi dan Rasul dalam menyelesaikan masalah maka manusia akan lebih mudah menyesuaikan persoalannya. Karena, hanya tinggal mengikuti dan mencontoh para Nabi dan Rasul saja.

Kitab suci bukan filsafat. Indah dan ideal, namun tak bisa dipraktekkan dalam dunia nyata. Kitab suci adalah ayat-ayat yang nyata, realistis dan mudah dilaksanakan karena para Nabi dan Rasul pun manusia biasa bukan malaikat, bukan manusia setengah tuhan, bukan pula anak tuhan. Menjadi manusia dengan mengikuti para Nabi dan Rasul.

Mengembalikan Kejayaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan kelu...

Mengembalikan Kejayaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menguji Nabi Ayyub dengan kekayaan berlimpah, anak yang banyak dan keluarga yang bahagia. Bagaimana bila sebaliknya? Miskin, kehancuran bisnis, kehilangan anak dan ditinggalkan istri? Apakah masih tetap berkarakter yang sama? Iman dan bertakwa? Perguliran kejayaan dan kehancuran. Perguliran kekayaan dan kemiskinan untuk menguji keistiqamahan di semua kondisi kehidupan.

Saat bangkrut dan miskin. Saat sakit dan hancurnya keluarga. Nabi Ayub hanya berdoa, "Ya Allah, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang." Dengan doa tersebut Allah melenyapkan semua penyakit, mengembalikan dan melipatgandakan yang telah hilang. Semuanya rahmat dari Allah. Keistiqamahan dalam beragam kondisi, merupakan solusi persoalan hidup.

Nabi Yunus dalam kegelapan lautan, kegelapan malam dan kegelapan di perut ikan paus, berdoa, "Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, Sungguh, aku termasuk orang yang zalim. Dalam keterpurukan, tauhidkan Allah. Akui kezaliman diri bukan orang lain. Itulah jalan keluarnya dari persoalan. Menyalahkan hanya membuat rahmat Allah semakin jauh.

Tazkiyatu Nafs, membersihkan diri, awal semua perbaikan dan dikembalikannya kepemimpinan dan kejayaan. Seperti Nabi Adam yang bersegera mengatakan kepada Allah bahwa dirinya telah menzalimi dirinya sendiri. Awal semua perbaikan adalah hanya beristighfar dan bertaubat. Melihat ke dalam bukan menyalahkan ke luar.

Nabi Zakaria sudah tua renta. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Hingga di usia senjanya belum memiliki putra. Nabi Zakaria berdoa, "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik." Solusi hidup adalah yakin kepada Allah walaupun tidak memiliki sumberdaya sama sekali untuk meraihnya.

Ikhtiar yang dilakukan oleh Nabi Zakaria adalah bersegera melakukan kebaikan, berdoa dengan rasa penuh harap dan cemas dan hatinya khusyu kepada Allah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan para hamba-Nya. Itulah yang suratan takdir yang tercatat di Lauhul Mahfudz.

Kisah para nabi dan rasul untuk meneguhkan hati yang beriman. Menentramkan dalam kegelisahan. Terlihat cahaya walaupun di kegelapan. Optimisme walaupun tak memiliki sumber daya yang cukup untuk meraih impian. Syaratnya, lalui apa yang pernah dilalui dan kerjakan apa yang telah dikerjakan oleh para nabi dan rasul.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (199) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (216) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (166) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (428) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)