basmalah Pictures, Images and Photos
12/21/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Merancang Kecerdasan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ingin cerdas, ingatlah kematian. Sangat mudahkan?...

Merancang Kecerdasan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Ingin cerdas, ingatlah kematian. Sangat mudahkan? Gelar akademik bukanlah tanda kecerdasan. Tanda kecerdasan adalah kemampuan dalam menciptakan solusi kehidupan bukan soal-soal mata pelajaran sekolah. Tanda kecerdasan adalah kemauan untuk terus belajar. Tanda kecerdasan bisa memilah maslahat dan mudharat. Tanda kecerdasan bisa memilah hal yang prinsip dan cabang.

Menurut Umar Bin Khatab, hisab dirimu. Hitunglah dirimu sebelum dihitung oleh Allah, Merencanakan dan antisipasi berbagai hal yang akan terjadi di masa depan itulah tanda kecerdasan.

Memahami takaran setiap urusan adalah tanda kecerdasan. Tidak melampaui batas dan tidak berlebihan. Tidak menyia-nyiakannya dan tidak mencuekan. Berfikir dan bertindak dalam sebuah kesetimbangan itulah tanda kecerdasan. Tidak boros, tapi tidak kikir. Tidak marah, tapi tidak mendiamkan.

Berada dalam jalan lurus, tanda kecerdasan. Tidak tergoda dan terrayu oleh tarikan dari kanan dan kiri. Tidak hanyut dalam hasutan nafsu dan syetan. Cerdas itu paham kawan dan lawan. Paham yang akan mendorong pada kesuksesan dan kegagalan. Paham yang akan merusak dan menghancurkan. Paham semua sebab kesuksesan hidup. Itulah kecerdasan.

Andai kita tidak sempat belajar tentang makna kecerdasan. Andai tak tahu cara menjadi cerdas. Andai kita tak tahu liku-liku menjadi orang cerdas, cukuplah dengan mengingat kematian saja. Cukuplah dengan mengingat orang-orang terdekat yang sudah wafat saja. Seorang ulama Sufi mengatakan, "Andai lupa mengingat kematian sesaat saja, maka hati akan rusak."

Mengapa mengingat kematian bisa mencerdaskan? Kekelaman hati, kebekuan hati, kekaratan hati, kekerasan hati akan cepat diobati dengan mengingat kematian. Ilmu itu cahaya, dia akan bersemayam di hati yang bersih.

Ingat kematian akan mengendalikan hawa nafsu yang cendrung membuat manusia malas, santai, terlena dan tertipu. Ingat kematian menciptakan daya cipta dan karya. Karena selalu bertanya apa yang sudah disiapkan? Apa yang sudah dikerjakan? Apa yang sudah ikhlas? Bertanya kepada diri merangsang untuk bergerak dan berkarya. Bertanya pada diri menghancurkan semua kebekuan akal dan tembok pikiran. Bertanya akan selalu menginsiprasi pada dirinya sendiri. Bertanya akan selalu memberikan energi kehidupan pada dirinya sendiri. Itulah energi mengingat kematian.

Mengingat adalah pekerjaan jiwa. Kita sering mencoba untuk mengingat segala hal, namun mengapa tidak mau berusaha mengingat kematian?

Mindset Akhirat, Mindset Sukses Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berfikir sukses, berfikir masa depan m...

Mindset Akhirat, Mindset Sukses

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Berfikir sukses, berfikir masa depan maka itulah cara berfikir akhirat. Berfikir kegagalan, befikir tentang masa lalu, itulah cara berfikir syahwat dunia. Orang sukses selalu berfikir apa yang dilakukan hari ini untuk masa depannya. Yang berfikir akhirat, apa yang dilakukan hari ini untuk kehidupan akhiratnya? Sangat sinkron bukan?

Cara berfikir akhirat, itu pulalah cara berfikir sukses. Kita tinggal membuka, merenungi, memahami dan mengamalkan semua yang ada di Al Quran dan As Sunnah saja. Itu sudah cukup. Tak ada jalan lain selain itu. Kitab kunci sukses itu sudah ada dihadapan kita semua. Mengapa sering dilalaikan? Kita tidak sukses bukan karena tidak bisa, tetapi hanya tidak mau dan malas saja. Begitu jawaban Rasulullah menjawab keheranan para Sahabat tentang banyaknya manusia yang masuk neraka.

Cara berfikir akhirat, cara berfikir tentang penghambaan diri kepada Allah. Serahkan hidup dan mati pada Allah. Serahkan seluruh takdir pada Allah. Nikmati seluruh rangkaian kehidupan, maka tidak akan ada yang membuat kematian berfikir. Akal kita itu mati dan lemah karena ketakutan dan keresahan yang negatif. Ketakutan yang menciptakan putus asa dan kebuntuan. Keresahan yang menyebabkan keterganguan jiwa.

Penghambaan diri membuat keluasan berfikir. Menciptakan ketentraman. Menciptakan mindset positif. Inilah samudera segala solusi hidup. Kebuntuan hidup karena melihat dunia dari kesempitan dunia, bukan dari keluasan akhirat. Langkah kita sering terhenti karena orientasi dunia yang sempit.

Penghambaan diri, menyebabkan pertolongan Allah. Allah akan mengilhamkan solusi, mendesain peristiwa tanpa pernah kita duga dan pikirkan. Ikhtiar kita hanyalah sekedar menjalani sunah kehidupan. Seperti kisah Siti Maryam yang diperintahkan untuk menggoyang pohon kurma agar buahnya jatuh, padahal Allah bisa saja menjatuhkan buah kurma secara langsung dari pohonnya.

Berikhitiarlah karena itu hukum kehidupan. Namun camkanlah, seolah-olah hanya ikhtiar yang menjadi satu-satunya jalan untuk sukses. Bertawakallah, seolah-seolah hanya tawakkal yang menyebabkan kesuksesan. Penghambaan menciptakan ketawakalan. Ketawakalan menciptakan ketetraman dalam berikhtiar dan berkarya.

Cara berfikir akhirat adalah cara berfikir ilmu dan eksekusi. Adakah kebahagiaan akhirat tanpa ilmu dan amal? Sukses butuh ilmu dan eksekusi. Apakah kebahagiaan akhirat dapat diraih dengan khayalan dan berpangku tangan?  Menurut Ibnu Qayyim, mereka yang ingin meraih surga tanpa karya berarti orang yang tertipu. Khayalan akan menjadi tipuan dan kehancuran bila tanpa ilmu dan karya.

Cara berfikir Akhirat, cara berfikir tentang membahagiakan orang lain, membantu dan menolong sesama. Meringankan kesulitan dan beban hidup orang lain. Bukankah ini kunci cara berfikir kesuksesan bisnis dan kepemimpinan? Cara berfikir akhirat akan secara otomatis menciptakan kesuksesan bisnis dan kepemimpinan. Jadi berfikirlah tentang akhirat, maka yang kesuksesan hidup sebuah akibat yang tercipta dengan sendirinya. Bahagia dan sukses hanyalah akibat dari pelaksanaan cara berfikir akhirat.

Berakar Cinta Jangan Benci Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Perpecahan tanda hilangnya ikatan hati. Hat...

Berakar Cinta Jangan Benci

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Perpecahan tanda hilangnya ikatan hati. Hati itu hanya bisa berhimpun bukan dengan kekuatan, kekerasan, kedisiplinan dan menebar ketakutan, tetapi dengan saling mencintai. Adakah lautan cinta dalam hati?

Mencintai bukan karena parasnya, kekayaannya, segudang kelebihannya. Adakah tanda-tanda bahwa Allah mencintainya? Bila itu ada, maka cintailah. Persepsi cinta kita adalah persepsi cinta Allah kepada manusia. Manusia belum tentu mencintai Allah, namun Allah pasti mencintai manusia. Semua tergambar dalam Rahman-Rahim-Nya Allah.

Atas dasar cinta, Allah merekayasa semua kehidupan semesta. Atas dasar cinta, Allah memperlakukan takdir manusia, baik mukmin, munafik dan kafir. Cinta Allah merata diberikan kepada manusia, kepada semua manusia tak peduli agama, suku dan bangsanya. Bila sikap Allah seperti itu, maka seperti itu pula cinta kita pada seluruh makhluk.

Apa dorongan memperlakukan orang lain? Apa dorongan memperlakukan semesta?  Cinta, benci, kesal atau marah? Tanyakan motivasinya sebelum bertindak. Bila alasan cinta, maka buah sikapnya untuk mendidik, membangun, memperbaiki dan mengembangkan. Bila alasannya bukan cinta, sikap kita hanya berorientasi untuk menghancurkan dan membumihanguskan semata. Adakah dasar cinta dari tindakan dan sikap kita?

Cinta akan membuahkan kebaikan, walau semua orang membenci dan memusuhi sikap kita. Namun cinta kadang sulit dimengerti oleh yang dicintai. Allah mencintai manusia. Namun manusia tak memahami cinta Allah. Jadi perlu memahami bahasa cinta?

Muhammad Nuri, seorang Sufi, suatu hari di perahu menemukan 6 gentong berisi minuman keras. Ternyata gentong itu untuk petinggi negara. Maka Muhammad Nuri menghancurkan gentong tersebut satu per satu. Namun ketika di gentong terakhir, dia menghentikan tindakannya. Saat ditangkap oleh petinggi negara, mengapa menyisakan satu gentong, dia menjawab, "5 gentong aku hancurkan karena cinta seorang ulama pada penguasa agar tidak jatuh pada keburukan. Namun saat akan menghancurkan gentong ke 6 yang ada motivasi marah dan kesal pada penguasa, maka tidak dilanjutkan penghancuran gentong yang terakhir." Mendengar kata itu sang petinggi negara tak jadi menghukumnya. Menghancurkan kemungkaran dan keburukan pun harus berdasarkan cinta.

Cinta kadang membuahkan sikap tegas dan lembut. Tegas dan lembutnya untuk kebaikan. Namun yang dicintai kadang tak memahami kebaikan untuk dirinya sendiri. Inilah yang menyebabkan cinta menuai penolakan. Tak memahami rasa cinta, tak memahami bahasa cinta. Seperti kaum para Nabi yang menolak ajaran Nabinya. Namun bila diri dipenuhi rasa cinta, dia tidak akan pernah berhenti untuk melangkah dan berbuat. Karena cinta tak pernah melahirkan keputusasaan dan ketidakpedulian. Seperti nabi Nuh, yang terus berdakwah hingga 900 tahun lamanya.

Cinta adalah energi tertinggi untuk bergerak dan berkarya. Cinta adalah energi terbesar yang ada di alam semesta. Tanpa cinta yang ada hanya penghancuran semata. Adakah lautan cinta dalam hati kita?

Tak Ada Yang Melemahkannya Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tak ada yang bisa melemahkannya. Tak ada ya...

Tak Ada Yang Melemahkannya

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tak ada yang bisa melemahkannya. Tak ada yang bisa menyurutkan langkahnya. Tak ada yang bisa mengusik jiwanya. Tak ada yang bisa merampas kebahagiaannya. Siapkan dia?

Tak ada yang bisa melalaikannya apalagi menjerumuskannya. Tak ada yang bisa menipunya apalagi menghancurkannya. Tak ada yang bisa membuatnya ragu apalagi mengombang- ambingnya. Dia selalu memiliki keyakinan yang kokoh. Dia selalu memiliki dan menciptakan alasan untuk teguh pada prinsip dan jalan hidupnya.

Siapa  yang bisa menciptakan prilaku terbaik dalam kondisi yang terburuk? Siapa yang bisa menciptakan prilaku terbaik dalam kondisi yang baik? Banyak yang hancur dalam menyikapi kondisi buruk dan baik. Kegagalan itu bukan soal kondisi, tetapi sikap kita terhadap kondisi.

Kita selalu diuji dengan kondisi kebaikan dan keburukan. Jiwa yang lemah akan hancur dengan kondisi yang buruk. Kelemahan, tanda tak memiliki kekuatan dan energi jiwa. Jiwa yang lalai akan hancur dengan kondisi yang baik. Kelalaian, tanda tak paham cara mengelola dan tak berfikir tentang hakikat hari esok. Keburukan untuk menyisihkan mereka yang lemah. Kebaikan untuk menyingkirkan mereka yang lalai. Kuat dan selalu waspada itulah sarana menciptakan sukses dalam kondisi buruk dan baik.

Menciptakan kekuatan dalam kondisi yang buruk dan terpuruk, bacalah sejarah dakwah periode Mekkah, peperangan Badar dan Khandaq. Apa yang disiapkan? Keyakinan pada Allah. Ketawakalan pada Allah. Kepasrahan pada Allah. Adakah prinsip hidup yang lebih kuat dari keyakinan tersebut?  Jangan mencap keburukan sebelum terjadi. Jangan mendahulukan prediksi kegagalan sebelum diusahakan.

Keyakinan akan keberkahan dan kegemilangan  masa depan. Masa depan harus digambarkan dengan kondisi yang lebih baik. Bukankah masa depan adalah kumpulan kebaikan dan karya masa lalu dan hari ini? Bila itu terus akumulasikan, tak pernah ada pohon kebaikan melahirkan bibit keburukan.  Itulah seni membangkitkan keyakinan masa depan.

Saat perang Badar, minimnya peralatan tempur ditambah dengan pembelotan munafikin. Saat perang Uhud, pembelotan munafikin dan larinya beberapa orang mukmin dari posisinya. Kabar berita gugurnya Rasulullah saw merebak ke setiap telinga pasukan muslim. Adakah yang membuat mereka lemah? Adakah yang membuatnya terpaku diam dan lunglai tak lagi mengobarkan semangat? Kondisi boleh terpojok dan terjebit. Pasukan boleh diporak-porandakan oleh banyaknya prajurit dan kelengkapan senjata musuh. Namun mereka yang beriman  pantang untuk melemahkan semangat dan ikhtiar.

Mushab bin Umair, tangan kanan boleh tertebas. Tangan kiri boleh tertebas. Selama nafas masih ada, tak ada kata untuk meraung kesakitan apalagi melemahkan. Panglima pasukan boleh berguguran, namun bendera semangat harus terus dikibarkan. Masih banyak prajurit lain yang siap mengembannya selama semangat masih berkobar. Apa artinya panglima yang hebat bila semangat prajuritnya melemah?

Jiwa ahli surga, jiwa yang sudah ditempa dengan keburukan dan kebaikan. Jiwa pada taraf, tak ada yang bisa menolongnya kecuali hanya Allah.

Dicari Para Penanggung Peran Sejarah  Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Menanggung beban, siapa yang ber...

Dicari Para Penanggung Peran Sejarah 

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Menanggung beban, siapa yang berani memikulnya? Saat Siti Khadijah bertanya pada pamannya tentang suaminya yang kedatangan seseorang di gua Hira, sang paman berkata, "Dia malaikat Jibril yang datang kepada Musa, bersiaplah untuk dimusuhi, dicaci, diusir hingga dibunuh. Andai aku masih hidup, saya akan berjuang bersamanya." Itulah keberanian menanggung beban dari sang paman.

Abu Bakar menanggung seluruh resiko saat menyertai hijrah Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib menanggung resiko saat menggantikan posisi Rasulullah saw di tempat tidurnya saat malam hijrah. Semakin banyak yang berani menanggung beban, energi yang dikeluarkan setiap orang akan semakin ringan. Masalahnya, hanya sedikit yang mau menjadi penanggung beban?

Para jiwa yang bersiap menjadi penanggung beban akan berbeda karakternya, prilaku dan mindsetnya. Liku-liku hidupnya menyukai tantangan dan tanggungjawab. Menyukai kerasnya dan bergelut dengan pernak-pernik kehidupan. Hidup yang berleha dianggap sampah kehidupan. Hidup yang santai dianggap racun kehidupan. Semua yang tidak membawa pada kekokohan jiwa dianggap menghancurkan kehidupannya.

Para penanggung beban, menjadi sosok yang brilian. Masalah, mencerdaskannya. Pikirannya bekerja menghempaskan kebekuan akal. Tantangan, menguatkannya. Jiwanya ditempa dan dididik. Bukankah melatih beban yang sedikit demi sedikit akan terus memperkuat diri? Penempaan jiwa membuat segala hal menjadi ringan, kekuatannya terlatih dan terus dilatih untuk melampaui tantangannya.

Kenikmatan itu bukan pada saat kemenangannya. Kenikmatan itu justru diraih pada saat perjuangan. Amr bin Ash bersedih ketika sudah menjadi penguasa Mesir dengan ungkapan, "Mengapa aku tidak diwafatkan ketika Rasulullah saw masih hidup?" Abdurahman bin Auf bersedih saat dibukakan banyak keberlimpahan, pada saat yang lain sahabatnya banyak yang wafat di arena perjuangan.

Para penanggung beban tidak pernah berdiam diri. Bukan karakter diperintah baru bergerak. Bukan karakter diberi komando. Dia selalu membuat arena perjuangan baru ketika sebuah  kemenangan sudah diraih. Dia selalu membuat  ladang amal dan karya baru untuk mengeskpresikan jiwanya. Adakah sahabat Rasulullah saw yang berdiam diri di Mekkah dan Madinah? Sangat sedikit. Mereka terus bergerak melangkahi dunia.

Ketika peperangan bersama Rasulullah saw sudah meraih kemenangan, apakah mereka berdiam diri? Ketika futuh Mekkah diraih apakah berdiam diri? Ketika Persia sudah ditaklukan apakah berdiam diri? Ketika Romawi sudah ditaklukan apakah berdiam diri? Ketika Konstatinopel direbut lalu berdiam diri? Diam berarti terhentinya kebaikan hidup. Itulah perasaan yang menghantam kemalasan dan kesantaian para penanggung beban.

Para penanggung beban bisa merubah profesinya dengan sangat cepat dan tepat. Adakah sahabat Rasulullah yang hanya ahli dalam bacaan Al Quran saja? Yang ahli di medan pertempuran saja? Yang ahli dalam tafsir dan hukum saja? Mereka bisa menjadi seorang khalifah, panglima perang, gubernur, hakim, saudagar, dan berbagai kapabilitas lainnya. Para penanggung beban sudah ditempa dalam berbagai medan tantangan. Bukan sekedar terjun, tetapi mampu meraih keilmuan tertinggi dalam setiap bidang yang digelutinya.

Para penanggung beban sudah mengabdikan diri untuk peradaban, untuk kehidupan. Tidak pernah berniat sedikit pun untuk bertindak atas nama kejayaan dan kehebatan dirinya. Harga dirinya untuk menembus harga diri umatnya.

Penetrasi atau Konsolidasi di Era Khalifatur Rasyidin  Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Memilih, tumbuh...

Penetrasi atau Konsolidasi di Era Khalifatur Rasyidin 

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Memilih, tumbuh cepat tanpa pondasi? Atau lambat berjalan dengan pondasi? Semestinya dua hal dipadukan antara pertumbuhan dan membangun pondasi. Namun bagaimana bila menghadapi salah satu kondisi?

Dunia itu indah. Ibarat padi, cepat menguning dan dipanen. Ini yang menyilaukan. Hasilnya cepat namun usianya pendek. Kesuksesan yang cepat, biasanya hancur dengan cepat pula. Hancur bukan untuk memberangus tapi agar kembali berfikir tentang pondasi.

Hasilnya lambat, namun berpijak pada pondasi yang kokoh. Ini lebih baik, daripada cepat tetapi hancur. Lambat yang jumud akan menghancurkan pula. Tetapi lambat yang memadukan pertumbuhan dan membangun pondasi itulah kekuatan.

Penetrasi selalu dibarengi konsolidasi. Konsolidasi yang menghasilkan penetrasi. Konsolidasi bentuk kelambatan untuk menggalang kekuatan. Penetrasi, memanfaatkan  konsolidasi untuk pertumbuhan. Penetrasi terus bisa hancur. Konsolidasi terus tidak ada pertumbuhan. Memilih pondasi, tetap hidup tetapi lambat atau cepat tanpa pondasi tapi hancur?

Di masa Abu Bakar, kondisinya hampir porak poranda. Fokusnya sedikit penetrasi ke Romawi dengan pengiriman Usamah bin Zaud, tetapi mengutus Khalid bin Walid untuk memberangus kaum murtad yang mengaku Nabi dan tak mau membayar zakat?

Di masa Ali Bin Abi Thalib, fokusnya konsolidasi. Menghancurkan kekuatan Khawarij, berdamai dengan Aisyah dan Muawiyah. Di era ini, tidak ada penetrasi ke luar wilayah yang sudah dikuasai, namun tak ada wilayah Islam yang dirampas oleh Romawi. Konsolidasi memunculkan kelambatan tetapi membangun kekuatan untuk tumbuh kembali.

Di masa Utsman bin Affan, penetrasi sangat luar biasa, perluasan wilayah sangat cepat. Kekayaan berlimpah. Rumah-rumah mulai tampil mewah dan ditingkat. Abu Dzar Al Gifari melantangkan untuk kembali kepada pondasi. Disinilah perpaduan yang selaras

Andai memilih kelambatan dalam membangun pondasi dengan pertumbuhan dengan melupakan pondasi, mana yang dipilih?

Sosok Progresif, Sang Intervensi Sejarah  Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Siklus sejarah. Bahu membah...

Sosok Progresif, Sang Intervensi Sejarah 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Siklus sejarah. Bahu membahu dalam bangunan yang kokoh. Tumbuh menjadi besar semakin besar. Setelah itu, memasuki masa kemunduran.

Kemunduran itu bisa terjadi  bila persoalan masa kini dipecahkan dengan solusi masa lalu. Bukan mengambil jiwa masa lalu untuk memandu penyelesaian ke masa kini. Apakah Umar menyelesaikan masa kini dengan solusi masa lalu? Apakah Imam Syafii menyelesaikan masalah di Mesir dengan solusi yang ada di Baghdad?

Kemunduran bisa terjadi karena tidak bisa mengakomodasi kaum progresif yang tetap teguh pada prinsip. Kaum progresif yang tidak memiliki prinsip bisa menghancurkan. Kaum progresif yang berprinsip justru yang akan menciptakan kelenturan untuk menampung kemodernan, kemajemukan dalam bingkai yang terkendali. Ingin tahu karakter progresif, bertanyalah pada anak muda? Berikan anak muda ruang, seperti Umar dan Ali yang memberikan ruang kepada Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Zubair. Seperti Abu Bakar yang memberikan ruang kepada Usamah bin Zaid.

Dari orang tua kita belajar prinsip dan pakem hidup. Dari anak muda kita belajar terobosan untuk  menjawab tantangan jaman. Andai isinya hanya orang tua, apa jadinya? Bila isinya hanya anak muda apa jadinya? Dalam gerakan Soekarno-Hatta dan para pemuda pejuang kemerdekaan ada HOS Cokroaminoto yang menjadi guru bangsa. Itulah perpaduan tua dan muda.

Bila yang tua tidak mempercayai yang muda, apa jadinya? Kemandekan dan kevakuman sejarah. Bila yang muda meninggalkan yang tua, apa jadinya? Terobosan yang liar dan berpotensi merusak. Memadukan karakter orang tua dan anak muda, itulah kematangan sejarah.

Imam Ibnu Qayyim membahas tuntas tentang akhlak yang penuh kematangan dalam kitabnya Madarijus Salikin. Hamka membahasnya dalam bukunya Tasawuf Modern. Perpaduan sifat yang berlebihan dan kekurangan. Itulah kematangan.

Pemberani itu muncul dari titik tengah antara ketakutan dan keterburuan. Tangguh itu muncul dari titik tengah antara keras kepala dan bimbang. Peduli itu titik tengah antara tidak acuh dengan mania. Menimbang untuk menemukan titik tengah, itulah yang harus ditemukan oleh individu dan organisasi agar terus tumbuh dan tidak berkonflik internal.

Setiap hari, kita akan menjadi bagian masa lalu bila kita tak memahami masa kini. Setiap hari, kita akan menjadi bagian masalah bila tak mau belajar. Setiap hari, kita akan selalu bagian dari keterbelakangan bila tak memahami tuntutan masa depan. Menjadi pribadi yang selalu sesuai dengan jamannya namun mimpi dan pemikirannya harus melampaui jamannya. Itulah pribadi dan organisasi yang progresif.

Syarat Menjadi Tokoh Umat Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hasan Al Bashri Orang tuanya hanyalah budak...

Syarat Menjadi Tokoh Umat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hasan Al Bashri Orang tuanya hanyalah budak. Namun kemudian dimerdekakan. Namun di era khalifah Abdul Malik bin Marwan, masyarakat Bashrah sangat menghormati Hasan Al Bashri. Apa sebabnya?

Khalifah bertanya pada penduduk Bashrah, "Siapa yang menjadi tokoh di kota Bashar?" Sang penduduk menjawab, "Al Hasan." Sang Khalifah melanjutkan, "Dia hamba sahaya atau orang Arab?" Sang penduduk menjawab, "Hamba Sahaya." Sang khalifah terperangah, "Bagaimana mungkin seorang hamba sahaya menjadi tuan bagi bangsa Arab?"

Sang penduduk menjawab, "Iya, bisa." Khalifah melanjutkan, "Dengan modal apa dia memimpin?" Sang penduduk menjawab, "Dia tidak membutuhkan harta duniawi yang kita punya, dan kita membutuhkan ilmu yang dimilikinya." 

Sang Khalifah bertanya tentang ciri-ciri sifatnya. Dijawab, "Dia adalah orang yang paling cepat melaksanakan perintah Allah, dan paling banyak meninggalkan larangan Allah."

Hasan Al Bashri terkenal methodelogi tasawufnya yang lebih mengedepankan takut kepada Allah. Ini sesuai dengan pesan Umar Bin Khatab kepada Abu Musa, "Pemahaman agama itu tidak ditentukan oleh luasnya pengetahuan dan banyaknya riwayat. Tetapi dalamnya pemahaman agama ditentukan oleh sikap takut kepada Allah."

Ciri-ciri takut kepada Allah adalah  cepat melaksanakan perintah Allah dan paling banyak meninggalkan larangan Allah. Itulah karakter yang melekat pada Hasan Al Bashri.

Suatu hari seseorang bertanya pada Hasan Al Bashri, "Sesungguhnya aku berusaha untuk mendirikan shalat malam,  namun tidak kuat melakukannya. Ingin bershadaqah, namun tak sanggup. Apa solusinya?" Menurut Hasan Al Bashri itu tanda kekaratan hati. Bagaimana membersihkannya? Mulailah dengan duduk bersama ulama di majlis ilmu."

Menyatukan, Bisa Berulangkah? Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mengapa hati mudah terbelah? Mengapa hat...

Menyatukan, Bisa Berulangkah?

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mengapa hati mudah terbelah? Mengapa hati sulit disatukan? Mengapa langkah sulit berderap seirama? Mengapa perselisihan mudah tersulut? Mengapa perpisahan lebih mudah terucap padahal seruan persatuan yang sering disuarakan? Seperti inikah karakter manusia?

Entah kapan gelora merdeka atau mati berkumandang lagi untuk menyatukan? Entah kapan takbir Allahu Akbar menggerakkan seluruh potensi?  Entah kapan ulama dan pemimpin beriring sejajar bergandengan tangan lagi? Entah kapan kebersamaan hadir kembali?

Kapankah hadir kembali perjuangan yang tidak memperdulikan posisi? Kapankah misi perjuangan hanya untuk berkontribusi? Kapan hadir kembali ketika jerih payah hanya untuk mewujudkan mimpi peradaban? Kapankah ketika nurani dan iman menjadi penggerak bukan lagi perintah dan kewajiban?

Kapankah seorang yang berdiam diri bersedih karena tak bisa bergerak bersama? Kapankah seorang rela berkorban walau yang dimilikinya hanya sesuap nasi? Kapankah orang yang berdiam diri merasa merugi?

Hati ini penuh bisikan dan prasangka. Pikiran ini penuh ketercamukan. Jiwa ini lebih sering menyuruh kepada keburukan. Setiap orang memiliki obsesi dan kepentingan. Apakah tak bisa disatukan? Bukankah dzikir dan shalat selalui mewarnai untuk mengobati jiwa?  Bukankah puasa untuk mengelola bisikan hawa nafsu? Bukankah Al Quran dan As Sunnah selalu dibaca untuk meluruskan kebengkokan jiwa, hati, pemikiran, perasaan dan emosi? Lalu mengapa masih berselisih?

Di surga itu tidak ada perselisihan. Setiap pertemuannya selalu disapa dengan, "assalamualaikum."  Salam sejahtera, salam keselamatan. Saling mendoakan kebaikan dan keberkahan. Bukankah itu sudah dilakukan di dunia ini? Mengapa salam yang begitu agung tidak bisa menyatukan hati? Mengapa tak berlomba untuk mewujudkan kebaikan bagi orang lain? Mengapa masih berbicara tentang egosentris diri dan kelompok?

Bukankah akhir semua manusia adalah kematian? Bukankah akhir obsesi manusia adalah keridhaan Allah? Bukankah akhirat adalah tempat kembalinya kita semua? Bukankah kita ditanya tentang perlakuan terhadap sesama? Bukankah kambing yang berkelahi saja dimintai pertanggungjawaban? Mengapa kita terus berselisih atas nama egosentris?

Bukankah manusia ditakdirkan untuk berbeda? Ditakdirkan bersuku-suku? Ditakdirkan berbangsa-bangsa? Semua untuk saling mengenal, memahami, bekerjasama dan saling menopang, begitulah tujuan hukum perbedaan yang Allah kehendaki dari kehidupan ini. Mengapa berbeda untuk menyerang dan menghilangkan? Apa bedanya dengan binatang?

Mungkin jiwa manusia bagaikan samudera dalam dan luas yang sulit dipahami. Mungkin pemikiran manusia terlalu jauh menerobos semesta yang tak betepi. Mungkin kepentingan manusia seperti siluman yang tak terlihat dan tak terduga arah dan tempatnya. Namun bukan kitab suci untuk memperbaiki semuanya? Persoalan sebenarnya keegoan diri yang besar. Merasa diri lebih hebat dari Tuhan sehingga tak mau tunduk dan ingin bebas dengan ikatan hawa nafsu diri.

Kitab Suci hadir untuk mengelola keegoan agar berada diposisi sebenarnya. Kitab Suci dihadirkan untuk mengelola kepentingan, obsesi, jiwa dan kehidupan agar semuanya terarah pada satu tujuan bersama. Saat kita mengabaikannya, permusuhan dan pertentangan yang terjadi.

Islam, Benteng Pelindung Yang Kokoh Bagi Minoritas Saat kaum muslimin berhasil menguasai Persia. Umar bin Khatab membacakan janj...

Islam, Benteng Pelindung Yang Kokoh Bagi Minoritas

Saat kaum muslimin berhasil menguasai Persia. Umar bin Khatab membacakan janjinya dihadapan orang-orang Kristen Mada'in dan Persia. Janji komitmen  Umar bin Khatab sebagai berikut:

"Amma baru, aku memberi kalian pesan dan janji Allah atas diri kalian, harta kalian, keluarga kalian, dan orang-orang kalian. Aku memberikan kalian jaminan keamanan dari semua bentuk gangguan."

"Aku berkomitmen untuk berada di belakang kalian, menjadi pembela kalian dari setiap musuh yang ingin menimpakan keburukan kepada diriku dan kepada kalian. Aku berkomitmen untuk menyingkirkan setiap bentuk gangguan dari diri kalian."

"Tidak ada satu pun uskup dan pemimpin kalian yang diganti. Tidak ada satu rumah tempat ibadah kalian yang dirobohkan. Tidak akan ada sedikit pun dari bangunan kalian yang akan dimasukkan ke dalam bangunan masjid, dan tidak pula kedalam bagian dari rumah kaum Muslimin."

"Kalian tidak dibebani untuk ikut pergi berperang bersama kaum muslimin untuk memerangi musuh mereka. Tidak akan ada satu pun orang Nasrani yang dipaksa masuk Islam."

"Aku hanya punya satu syarat untuk kalian, yaitu tidak boleh ada satu orang pun dari kalian yang membantu dan mendukung musuh yang memerangi Islam, baik secara rahasia maupun terang-terangan."

"Tidak boleh kalian memberikan tempat singgah di rumah kalian kepada musuh Muslimin, tidak boleh menjalin hubungan dengan satu pun dari pihak musuh dan tidak boleh menulis surat-surat padanya."

Bila melihat karakter Umar bin Khatab, bagaimana dengan Ratu Isabel dan Ferdinand yang memurtadkan muslimin dengan penyiksaan di Andalusia? Tentara Salib yang menguasai Yerusalem? Mongol yang meruntuhkan Abbasiyah? Colombus yang memasuki benua Amerika? James Cook yang memasuki Australia?

Sumber:
Parlemen di Negara Islam Modern, Muhammad Shalabi, Al-Kautsar 

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (208) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (223) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (266) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (30) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (188) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (430) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (155) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (195) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)