Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu
“Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.”
Kalimat ini bukan teriakan emosi, melainkan peringatan sunyi yang keluar dari kedalaman ilmu dan kejernihan iman. Ia dikumandangkan oleh ahli hadis terpercaya, Maimun bin Mahram, ketika beliau khawatir manusia akan tertipu oleh nama-nama indah yang terus berganti dari generasi ke generasi. Nama-nama yang terdengar meyakinkan, tampak rasional, bahkan dibungkus dengan niat kebaikan—namun sejatinya menjauhkan manusia dari wahyu.
Pesannya sederhana, tetapi mengguncang:
segala sesuatu yang berdiri selain Islam, apa pun bentuknya dan kapan pun zamannya, tidak lebih dari hawa nafsu.
Inilah benang merah yang menyatukan perkataan para imam kaum Muslimin. Mereka sepakat dalam satu hal: kebenaran hanya satu, dan sumbernya hanya satu—wahyu. Adapun selain wahyu, betapapun halus dan menarik rupanya, adalah hawa nafsu yang tercela.
Karena itu, tidak ada satu pun hawa nafsu yang terpuji. Tidak ada hawa nafsu yang boleh disejajarkan dengan kebenaran. Seorang Muslim tidak diperkenankan berpedoman kepadanya, apalagi merasa tenang dengannya. Ketenteraman sejati hanya lahir dari tunduk kepada wahyu, bukan dari mengikuti kecenderungan jiwa.
Prinsip ini ditegaskan oleh Imam Asy-Syathibi dalam al-Muwāfaqāt. Dengan kalimat ringkas namun menyeluruh, beliau menjelaskan bahwa Allah menjadikan mengikuti hawa nafsu sebagai bentuk penentangan terhadap kebenaran, sekaligus menetapkan akibat bagi para pengikutnya. Beliau mengaitkannya dengan firman Allah kepada Nabi Daud:
> “Maka berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah.”
(Ṣād [38]:26)
Di sini, Allah tidak memberi ruang kompromi. Memutuskan dengan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu diletakkan sebagai dua jalan yang berlawanan. Yang satu mengantarkan kepada hidayah, yang lain menjerumuskan ke dalam kesesatan.
Al-Qur’an lalu memperluas gambaran ini dalam banyak ayat. Allah menyebut orang yang melampaui batas dan mengutamakan kehidupan dunia, lalu menutup ayat-Nya dengan kesimpulan yang tegas: neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Sebaliknya, Allah memuji mereka yang takut kepada kebesaran-Nya dan menahan diri dari hawa nafsu—bagi mereka, surgalah tempat kembali.
Pemisahan ini semakin dipertegas ketika Allah menafikan hawa nafsu dari lisan Rasulullah ﷺ:
> “Ia tidak berbicara menurut hawa nafsu. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
Dengan ini, Allah membatasi realitas pada dua kutub saja: wahyu atau hawa nafsu. Tidak ada wilayah ketiga. Tidak ada jalan abu-abu. Jika suatu perkara tidak berdiri di atas wahyu, maka ia berdiri di atas hawa nafsu, meskipun dinamai dengan istilah paling agung sekalipun.
Karena itulah, ketika kebenaran wahyu telah jelas, maka mengikuti hawa nafsu berarti menentang syariat. Dan penentangan itu tidak selalu hadir dalam bentuk pembangkangan kasar; sering kali ia datang dalam rupa pembenaran yang halus.
Allah menggambarkan kondisi paling berbahaya dari ini: manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Ia mendengar, tetapi tidak memahami. Ia melihat, tetapi tidak mengambil pelajaran. Hatinya dikunci, pandangannya ditutup, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena ia memilih hawa nafsu di atas kebenaran.
Bahkan Allah memperingatkan, seandainya kebenaran tunduk kepada keinginan manusia, niscaya langit dan bumi akan rusak. Artinya, ketertiban semesta ini hanya tegak karena kebenaran tidak pernah berkompromi dengan hawa nafsu.
Maka renungkanlah: setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur’an, penyebutan itu selalu dalam rangka mencelanya dan mencela para pengikutnya. Makna ini ditegaskan oleh Ibnu Abbas,
“Tidaklah Allah menyebutkan hawa nafsu dalam Kitab-Nya kecuali untuk mencelanya.”
Dari seluruh rangkaian ini, satu tujuan syariat menjadi terang: Allah ingin membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu. Membebaskan akal dari tipu daya, membebaskan hati dari kesesatan, dan membebaskan jiwa untuk tunduk hanya kepada wahyu.
Dan di sanalah kemuliaan manusia bermula—bukan ketika ia mengikuti apa yang diinginkan jiwanya, tetapi ketika ia berani berkata: aku menolak hawa nafsuku, demi kebenaran yang datang dari Tuhanku.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif