basmalah Pictures, Images and Photos
01/31/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan Islam hari ini membutuhkan jamaah para juru dakwah yang memiliki pandangan...

Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan


Islam hari ini membutuhkan jamaah para juru dakwah yang memiliki pandangan perubahan berkesinambungan. Para juru dakwah ini memahami dengan baik kewajiban mereka dalam memberi petunjuk kepada umat. Mereka sadar bahwa diri mereka berada di dalam gerbong dakwah yang terus bergerak, dan bahwa mereka adalah mata rantai yang menyambung masa lalu dengan masa depan.

Kesadaran ini pernah diekspresikan dalam sebuah syair yang menggambarkan ruh perjuangan mereka:

> Kami di dalam hidup ini adalah kafilah musafir, yang menyambung generasi mendatang dengan masa lalu kami. Para pendahulu kami telah menunjuki kami jalan, dan kami pun harus menunjuki para penerus kami.


Para pendahulu telah menunaikan tugas itu dengan penuh keletihan—semoga Allah merahmati mereka. Mereka menyampaikan akidah tauhid kepada kita, mendidik dan membimbing kita, serta mengentaskan kita dari berbagai bahaya yang mengintai. Dari tangan merekalah Islam sampai kepada kita dalam keadaan hidup.

Karena itu, kewajiban generasi hari ini bukan sekadar menikmati hasil perjuangan mereka, tetapi membalas jasa tersebut. Kita harus memenuhi janji yang pernah mereka ambil dari kita: berbuat sebagaimana mereka telah berbuat. Mereka menanam sehingga kita bisa memetik hasilnya; dan kita harus kembali menanam agar generasi setelah kita juga dapat memetik buahnya.

Proses penanaman ini menuntut keberanian untuk membaur dengan umat, bertatap muka dengan mereka, serta menyampaikan kebenaran secara terang-terangan. Dakwah tidak mungkin tumbuh dalam jarak dan keterasingan, tetapi dalam perjumpaan dan keterlibatan.

Karena itu, pilihan untuk berkhalwat dan meninggalkan perjuangan menghadapi pemikiran sekuler serta kerusakan etika tidak selalu merupakan kemuliaan. Mustafa Shadiq ar-Rafi‘i menggambarkan sikap ini dengan tajam dalam Wahyul Qalam. Ia menulis bahwa sebagian orang mengira uzlah adalah pelarian dari perkara-perkara hina menuju keutamaan, padahal pelarian dari perjuangan melawan kehinaan justru merupakan kehinaan itu sendiri bagi setiap klaim keutamaan.

Ar-Rafi‘i mempertanyakan makna nilai-nilai luhur seperti iffah, amanah, kejujuran, dan kebajikan apabila semua itu hanya dimiliki oleh seseorang yang memutuskan diri dari manusia—hidup sendirian di padang pasir atau di puncak gunung. Apa bedanya uzlah semacam itu dengan hidup di tengah manusia tetapi dalam keadaan bisu dan tak memberi pengaruh?

Problematika kaum Muslimin hari ini sejatinya bukan terletak pada jumlah mereka yang sedikit. Umat Islam banyak, tetapi yang berkomitmen pada keislamannya di tengah arus penelantaran shalat dan penetrasi pemikiran kufur jumlahnya terbatas. Krisis ini adalah krisis peran, bukan krisis populasi.

Di setiap kawasan Islam, masih terdapat banyak pemuda yang baik dan memiliki potensi besar. Namun persoalannya, mereka tidak mendeklarasikan keislamannya dalam ruang publik, tidak berdakwah, atau berdakwah tanpa koordinasi dan arah yang jelas. Energi mereka tercerai-berai dan tidak terkonsolidasi menjadi kekuatan perubahan.

Kondisi ini pernah diisyaratkan oleh seorang dai, Abdul Qadir Audah. Ia mengatakan bahwa di negeri-negeri Islam terdapat generasi yang memiliki wawasan Islam yang tinggi dan tekad untuk mengejar ketertinggalan umat. Dalam memperjuangkan kebenaran, mereka tidak gentar terhadap cacian. Secara pribadi, mereka tidak memiliki aib yang besar.

Namun, Abdul Qadir Audah menilai bahwa kelemahan mereka terletak pada orientasi perjuangan. Mereka sangat dipengaruhi oleh pola pendahulu dalam satu sisi: mengerahkan sebagian besar tenaga hanya pada ibadah individual dan nasihat moral semata.

Menurutnya, seandainya generasi ini mengerahkan sebagian besar usaha mereka untuk mengingatkan kaum Muslimin tentang syariat yang ditelantarkan, serta menentang hukum dan sistem yang bertentangan dengan Islam, niscaya hal itu akan jauh lebih bermanfaat—baik bagi mereka sendiri maupun bagi kebangkitan Islam secara keseluruhan.

Di sinilah posisi juru dakwah menjadi krusial: sebagai penyambung misi sejarah, penjaga amanah masa lalu, dan pembuka jalan bagi masa depan. Mereka bukan sekadar pewaris, tetapi juga penanam yang sadar bahwa hasilnya mungkin tidak mereka nikmati, namun akan menjadi kehidupan bagi generasi setelah mereka.

Pengemban Dakwah dan Mukmin yang Bisu Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani Setiap mukmin berharap Allah mengampuninya dan memasu...

Pengemban Dakwah dan Mukmin yang Bisu Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani


Setiap mukmin berharap Allah mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga. Itu adalah kemenangan besar: keselamatan akhirat yang diraih dengan melangkah melewati pintu surga. Namun, bagi para pencari Allah, hasrat terhadap apa yang ada di sisi-Nya tidak berhenti pada sekadar selamat. Ia adalah hasrat yang nikmat—kerinduan yang lebih tinggi dari sekadar masuk surga.

Karena itu, jika manusia diberi kesempatan hidup di antara dua waktu yang singkat namun penuh kenikmatan, ia tidak akan puas hanya dengan berada di pintu surga atau tinggal di kediaman-kediamannya yang indah. Ia akan berharap berada di tempat yang lebih tinggi: di ‘Illiyyin dan Firdaus tertinggi.

Dari kesadaran inilah muncul satu kaidah yang jujur dan logis: siapa yang mengharap tempat puncak di surga, maka ia harus menempati posisi puncak dalam kehidupan dunia. Satu banding satu. Setiap derajat memiliki harga, dan setiap kemuliaan menuntut pengorbanan.

Derajat tertinggi di dunia ini, menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailani, tidak lain adalah derajat dakwah kepada Allah. Hal ini beliau tegaskan dalam kitab Futuhul Ghaib. Bagi beliau, dakwah bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan maqam spiritual tertinggi yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang pembaharu dan juru dakwah sejati. Karena itu, hampir seluruh karya-karyanya berporos pada makna dakwah dan kewajibannya. Orang yang benar-benar menang, menurut beliau, adalah orang yang dipilih Allah untuk memikul amanah ini.

Beliau menggambarkan kelompok ini dengan ungkapan yang tegas: Allah menjadikan mereka tokoh dan dai bagi para hamba, penyampai peringatan, hujjah di tengah manusia, serta pemberi petunjuk yang sekaligus mendapat petunjuk. Lalu beliau menegaskan,

> “Inilah derajat tertinggi di tengah bani Adam. Tidak ada derajat yang mengunggulinya kecuali kenabian.”

Di bawah derajat ini, Syekh Abdul Qadir menyebut kelompok lain, yaitu mereka yang memiliki “hati tanpa lisan.” Mereka adalah mukmin yang ditabir Allah dari makhluk-Nya, dipayungi penjagaan-Nya, diperlihatkan aib-aib dirinya, dan disinari hatinya dengan cahaya iman. Mereka adalah orang-orang saleh, tetapi memilih ketersembunyian.

Karena tidak memiliki lisan dakwah, derajat mereka tertinggal. Mereka tidak memperoleh kehormatan dan kebesaran yang Allah limpahkan kepada kelompok pertama. Yang pertama tampil sebagai tokoh, juru dakwah, dan hujjah; sedangkan yang kedua berada dalam keadaan “tertabir”.

Perbedaan antara dua derajat ini sangat jauh. Pancaran kehormatan dalam istilah “tokoh”, “dai”, dan “hujjah” tidak dapat disamakan dengan makna “tertabir”. Jarak antara keduanya, menurut ungkapan Syekh Abdul Qadir, seperti jarak antara langit dan bumi.

Inilah perbedaan besar antara derajat dakwah dan derajat iman yang terpencil. Penyebabnya bukan kekurangan iman, tetapi ketiadaan lisan yang mengucapkan kebenaran.

Siapa yang memiliki lisan ini—lisan dakwah—maka ia telah menyalip kafilah orang-orang yang berjalan menuju Allah. Semua manusia berjalan menuju-Nya, tetapi siapa yang berada di barisan terdepan dan siapa yang tertinggal di belakang?

Semua akan masuk surga, insya Allah. Namun, siapa yang memasukinya dalam barisan pertama, dan siapa yang harus menunggu bertahun-tahun di padang Mahsyar sebelum diperkenankan masuk?

Karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menegaskan bahwa pemahaman seorang dai tentang kewajibannya—mengubah kebatilan dan membela kebenaran—adalah anugerah Rabbaniyah. Anugerah ini diberikan kepada orang-orang yang Allah ketahui kesalihan hatinya.

Makna ini beliau rangkai dalam kalimat yang singkat tetapi sangat berharga:

> “Apabila hati seorang hamba telah layak bagi al-Haqq dan mampu dekat kepada-Nya, maka ia diberi kerajaan dan kekuasaan di berbagai penjuru bumi, diserahkan kepadanya penyebaran dakwah di tengah makhluk, dianugerahi kesabaran atas penganiayaan mereka, dan diberikan kepadanya kendali untuk mengubah kebatilan serta memenangkan kebenaran.”

Demikian kefasihan Syekh Abdul Qadir al-Jailani—kefasihan yang dipetik dari pelita kenabian, baik melalui nasab maupun ilmu. Beliau berada di puncak kemuliaan sebagai seorang Alawi yang sah nasabnya, sekaligus di puncak keilmuan hadis dan pemahaman mendalam terhadap mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Beliau menegaskan bahwa penyebaran dakwah adalah taufik dari Allah. Taufik ini diberikan kepada orang yang diketahui kesucian dan kelayakan hatinya. Ia bukan semata beban, melainkan penghormatan.

Karena itu, ketika Syekh Abdul Qadir berkata bahwa seorang dai diberi kendali untuk mengubah kebatilan dan memenangkan kebenaran, maknanya jelas: kebatilan harus dihadapi, diterangi, dihilangkan, dan ditimbun. Dan tugas itu, menurut beliau, berada di pundak para juru dakwah yang dipilih Allah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (361) Al-Qur’an (6) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (2) Kecerdasan (263) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (3) Nusantara (249) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (568) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (263) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (6) Sirah Penguasa (243) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (160) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (21) Sirah Ulama (157) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)