Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terhadap orang lain. Dari sanalah seseorang belajar menempatkan diri, membaca situasi, dan memahami makna hubungan. Sebab sejatinya, seorang mukmin adalah seorang mujahid. Dan seorang mujahid tidak menerima kehinaan. Ia menolak tunduk pada kerendahan, lalu bangkit untuk bergerak.
Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada semangat perlawanan semata. Seorang yang merdeka memiliki prinsip, karakter, dan keluhuran sikap. Inilah langkah awal—bukan keseluruhan jalan—menuju kemuliaan.
Di antara tanda kemerdekaan jiwa adalah sikapnya dalam membalas kebaikan. Ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan tulus, ia sesungguhnya sedang melepaskan salah satu bentuk perbudakan: perbudakan ego, gengsi, dan kepentingan diri. Ia tidak lagi terikat oleh rasa ingin unggul, ingin dipuji, atau ingin menang sendiri.
Makna inilah yang ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i ketika berkata:
“Orang merdeka adalah orang yang memelihara kasih sayang walau hanya sesaat. Atau, ia memilih menjalin hubungan dengan orang yang pernah memberinya sepatah kata yang bermanfaat.”
Kasih sayang, dalam pandangan ini, bukan emosi sesaat dan bukan pula basa-basi hubungan. Ia adalah pilihan sadar untuk menjaga ikatan kebaikan, meski tipis dan sederhana. Bahkan, sepatah kata yang memberi manfaat cukup menjadi alasan bagi seorang yang merdeka untuk memelihara hubungan.
Dakwah telah mengajarkan makna kasih sayang secara utuh—bukan sekadar sebagai istilah, tetapi sebagai sikap hidup. Kasih sayang adalah keikhlasan, penjagaan hubungan, dan kesediaan menjauh dari fitnah-fitnah yang selalu mengintai relasi manusia. Orang yang berjiwa merdeka akan menjaga kasih sayangnya, tulus di dalamnya, dan tidak menjadikannya alat kepentingan.
Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan kemerdekaan jiwanya demi kepentingan diri, maka nilai dirinya akan mengikuti pilihan itu. Ia mungkin tampak bebas secara lahir, tetapi sejatinya terbelenggu oleh ambisi, rasa iri, dan kepentingan dunia.
Seseorang yang benar-benar selamat dari fitnah tidak akan terus-menerus hidup di dalamnya. Namun, orang yang malas secara ruhani sering kali memutus hubungan, meninggalkan sahabat, dan mengganti lingkaran pergaulan hanya karena ketidakmampuan menjaga makna kemerdekaan. Ia mudah kecewa, mudah berpaling, dan mudah membuang hubungan—bukan karena kebenaran, tetapi karena ia telah mengenakan “pakaian perbudakan dunia”.
Pada titik inilah, kasih sayang menjadi ujian kemerdekaan. Apakah ia dijaga, atau dikorbankan. Apakah hubungan dirawat dengan kesadaran, atau diputus oleh hawa nafsu. Di situlah nilai diri seseorang ditimbang—bukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia pelihara dalam jiwanya.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif