basmalah Pictures, Images and Photos
09/19/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Agama Nasrani pada Abad Keenam Masehi Sebelum kelahiran Islam, agama-agama besar yang ada pa...




Agama Nasrani pada Abad Keenam Masehi
Sebelum kelahiran Islam, agama-agama besar yang ada pada waktu itu telah menjadi makanan empuk bagi orang-orang yang berakhlak rendah, mangsa bagi orang-orang yang mempermainkan agama demi mengejar kemegahan dan kemewahan dunia, serta barang mainan bagi para penyeleweng dan kaum munafik. Akibatnya, agama-agama tersebut telah kehilangan jiwa dan bentuknya semula.

Kerusakan agama-agama pada masa itu telah sedemikian parah sehingga, seandainya para nabi yang dahulu membawanya masih hidup, tentulah mereka tidak dapat mengenalinya lagi.

Pada masa itu, agama-agama besar telah menjadi gelanggang permainan pusat peradaban, kebudayaan, kekuasaan, dan politik. Bahkan, agama telah terseret menjadi gelanggang kekacauan, perpecahan, kerusakan, kelumpuhan, penindasan, dan kesewenang-wenangan para penguasa.

Agama-agama pada saat itu tidak lagi mampu melaksanakan tujuannya terhadap dunia dan tidak dapat pula menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia.

Sungguh, dunia pun telah mengalami kebangkrutan dalam berbagai segi pembentukan moral dan kehilangan arah kehidupannya. Dunia tidak lagi memiliki ketentuan hukum yang suci dan jernih sebagaimana yang seharusnya diberikan oleh agama samawi, serta tidak mempunyai peraturan yang tetap dan berlaku bagi umat manusia sebagaimana yang dibutuhkan untuk tegaknya suatu peradaban dan penyelesaian berbagai persoalan kehidupan.

Dalam keadaan seperti itu, agama Nasrani pun tidak luput dari kerusakan tersebut.

Agama Nasrani tidak lagi mempunyai penjelasan dan perincian yang dapat dijadikan dasar bagi penyelesaian berbagai masalah kehidupan, maupun bagi berdirinya suatu negara atau pemerintahan.

Agama Nasrani hanya mengandung sisa-sisa ajaran kebaikan yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s. dalam bentuk yang sangat sederhana. Kemudian datanglah Paulus yang, menurut uraian ini, memudarkan cahaya ajaran tauhid tersebut, lalu mencampurnya dengan tahayul (khurafat) Jahiliyah yang baru saja ditinggalkannya sebelum menjadi seorang Nasrani. Ia juga mencampurkannya dengan ajaran watsaniyah atau keberhalaan yang pernah membesarkannya.

Kemudian, sisa-sisa ajaran yang masih tertinggal itu semakin hancur pada masa Kaisar Konstantin. Agama Nasrani berubah menjadi ajaran yang mencampuradukkan berbagai unsur kepercayaan, seperti khurafat-khurafat Yunani, ajaran berhala Romawi, Platonisme Mesir, serta paham kerahiban (rohbaniah).

Akibatnya, ajaran Nabi Isa a.s. yang semula sangat sederhana itu akhirnya tenggelam di tengah berbagai unsur tersebut, bagaikan setetes air yang jatuh ke tengah samudra luas.

Agama Nasrani pun akhirnya menjadi sebuah anyaman yang tersusun dari berbagai macam kepercayaan dan tradisi. Menurut uraian ini, agama tersebut tidak lagi mampu menghidupkan jiwa, mengembangkan akal pikiran, menggairahkan perasaan, maupun memecahkan persoalan-persoalan kehidupan. Berbagai tambahan dari kaum perusak dan rekaan orang-orang yang bodoh semakin memperkeruh keadaannya.

Akhirnya, agama Nasrani terombang-ambing dan menjadi penghalang antara manusia dan ilmu pengetahuan. Pada zaman berikutnya, agama tersebut bahkan berubah menjadi ajaran watsaniyah atau keberhalaan.

Sale, salah seorang penerjemah Al-Qur'an ke dalam bahasa Inggris, memberikan komentar tentang orang-orang Nasrani pada abad keenam Masehi. Ia mengatakan:

«“Orang-orang Nasrani sangat berlebihan dalam memuja orang-orang sucinya dan gambar-gambar Al-Masih sehingga melebihi kaum Katholik pada masa ini.”¹»

 Perang Seagama dalam Kerajaan Romawi

Kerusakan dalam kehidupan keagamaan tersebut kemudian melahirkan berbagai perselisihan di antara umat Nasrani.

Timbullah perdebatan-perdebatan mengenai agama dan ajaran pokok. Perdebatan itu berlangsung secara tajam, tidak terselesaikan, dan sangat mengacaukan pikiran umat Nasrani. Kemampuan mereka pun semakin dirusak oleh perselisihan tersebut.

Bahkan, perang lidah atau perdebatan-perdebatan keagamaan itu sering kali berakhir menjadi perang senjata yang banyak menumpahkan darah. Terjadilah pembunuhan, perusakan, penyiksaan, penyekapan di bawah tanah, perampokan, dan pembunuhan gelap.

Sekolah, gereja, dan istana berubah menjadi kubu-kubu keagamaan yang saling bersaing dan bertentangan. Perselisihan tersebut akhirnya menyeret negara ke dalam kancah perang saudara sekaligus perang seagama.

Puncak dari berbagai perselisihan agama yang paling dahsyat ketika itu terjadi antara kaum Nasrani di Syam dan Kerajaan Romawi, atau lebih jelas lagi antara kelompok mulkanisme dan monofisitisme.

Kaum penganut mulkanisme berpegang teguh pada keyakinan bahwa Al-Masih memiliki sifat kembar (dualisme). Sementara itu, monofisitisme berpegang teguh pada keyakinan bahwa Al-Masih hanya memiliki sifat tunggal, yaitu sifat ketuhanan yang terlebur pada tabiat nasut Al-Masih, sebagaimana leburnya setetes cuka yang jatuh ke dalam samudra luas hingga tidak diketahui lagi keberadaannya.

Pertentangan kedua golongan ini mencapai puncaknya pada abad keenam dan ketujuh Masehi hingga seakan-akan menjadi peperangan yang tiada henti. Perselisihan tersebut bahkan seolah-olah menjadi peperangan sengit antara dua kelompok keagamaan yang masing-masing menuduh pihak lainnya tidak mengandung kebenaran apa pun.

Mengenai pertentangan tersebut, Doktor Alfred G. Butler mengatakan:

«“Hal yang sangat memalukan dalam dua abad itu (6 dan 7) ialah terjadinya peperangan berkepanjangan antara bangsa Mesir dan bangsa Romawi. Peperangan ini berawal dari pertikaian tentang ras dan agama, kemudian menjadi pertikaian masalah agama yang jauh lebih dahsyat dan mengerikan daripada pertikaian tentang ras. Inilah penyebab paling mendasar terjadinya peperangan tersebut, yaitu permusuhan antara mulkanisme dan monophysisme. Golongan mulkanisme merupakan sekte resmi negara imperium Romawi, pendukung raja dan negara, yaitu kaum penganut keyakinan tradisional yang diwariskan kepada mereka bahwa sesungguhnya Al-Masih memiliki sifat kembar, sedangkan golongan lainnya, yaitu monophysisme merupakan sekte rakyat Egypte (Mesir) yang selalu memojokkan keyakinan golongan pertama dan terus-menerus mencelanya serta memeranginya dengan keras dan semangat yang selalu berkobar-kobar. Sukar sekali bagi kita untuk membayangkan atau memberikan pengertian kepada orang-orang yang berakal budi tentang bagaimana sesungguhnya peperangan itu berlangsung, sekalipun orang-orang itu percaya pada kitab Injil.”²»

Fethul Rob Li Mishra, diterjemahkan oleh Muhammad Faridh Abu Hadid, hlm. 37–38.

Kaisar Heraclius (610–641 M), setelah kemenangannya dalam peperangan melawan bangsa Persia pada tahun 628 M, mencoba menyatukan dan mendamaikan sekte-sekte yang sedang bertikai di dalam negerinya.

Ia melarang pembicaraan mengenai masalah sifat Al-Masih, apakah Al-Masih memiliki sifat tunggal atau kembar. Penduduk diperintahkan untuk meyakini bahwa Tuhan hanya memiliki satu iradah (kehendak) dan satu qadha' (ketentuan).

Pada tahun 631 M, tercapailah kesepakatan mengenai hal tersebut dan ditetapkan suatu aliran sebagai aliran resmi negara yang mendapat dukungan dari para pengikut gereja. Heraclius bertekad untuk menonjolkan dan mempromosikan aliran baru tersebut di atas sekte-sekte lainnya.

Akan tetapi, gereja Mesir menentang aliran baru tersebut dan berusaha mempertahankan keyakinan lamanya secara mati-matian. Heraclius kembali mencoba mempersatukan semua sekte yang ada dan berhasil meredakan pertikaian. Ia merasa cukup apabila penduduk mengakui bahwa Tuhan hanya mempunyai satu iradah. Adapun masalah-masalah lainnya, seperti pelaksanaan kehendak Tuhan, ditangguhkan dahulu dan penduduk dilarang memperdebatkannya.

Larangan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk surat resmi yang dikirimkan ke seluruh wilayah bagian timur Imperium Romawi. Akan tetapi, surat itu tidak dapat menenangkan situasi yang terjadi di Mesir.

Di bawah kekuasaan Cyrus, Mesir mengalami penindasan hebat selama sepuluh tahun.

Selama sepuluh tahun itulah terjadi berbagai kekejaman yang mengerikan. Banyak tokoh keagamaan negeri Mesir yang disiksa, kemudian dibunuh dengan cara ditenggelamkan di Sungai Nil. Tempat-tempat pembantaian manusia didirikan, berupa api unggun dengan manusia sebagai korbannya sehingga lemak orang-orang yang dibakar itu meleleh. Orang-orang yang dihukum dimasukkan ke dalam karung-karung goni berisi pasir, lalu dilemparkan ke laut. Masih banyak lagi bentuk kekejaman lainnya.

Masyarakat Berpecah-Belah dan Perekonomian Ikut Terguncang

Perpecahan dan keruntuhan masyarakat mencapai puncaknya pada masa Kekaisaran Byzantium, wilayah Romawi Timur.

Kesulitan demi kesulitan yang dirasakan oleh penduduk semakin bertambah berat karena kewajiban membayar upeti atau pajak yang terus meningkat dan mencekik. Akibatnya, rakyat semakin membenci pemerintahnya dan bahkan mengharapkan datangnya kekuasaan asing yang dapat membebaskan mereka dari beban tersebut.

Berbagai macam pungutan dan denda dirasakan sebagai bencana di atas bencana yang telah ada.

Semua keadaan tersebut menyebabkan terjadinya kegoncangan-kegoncangan besar yang disertai berbagai pemberontakan. Pada tahun 532 M, akibat kegoncangan dan pemberontakan yang terjadi di ibu kota, tidak kurang dari 30.000 orang dilaporkan gugur.³

Di tengah situasi perekonomian yang sangat memprihatinkan pada waktu itu, masih banyak orang yang hidup berfoya-foya. Sedemikian royalnya kehidupan yang mereka nikmati hingga mencapai titik kemerosotan akhlak yang sangat rendah.

Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana mencari dan mendapatkan harta kekayaan. Mereka menempuh berbagai cara tanpa mengindahkan penderitaan rakyat jelata. Setelah memperoleh kekayaan, mereka menghambur-hamburkannya untuk bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu.

Dasar-dasar kemanusiaan menjadi hancur dan kaidah-kaidah moral pun runtuh. Banyak orang lebih suka hidup membujang daripada berkeluarga demi melampiaskan keinginan dan hawa nafsunya secara bebas.⁴

Dalam hal itu, Sale berkata:

«“Ketika keadilan itu telah diperjualbelikan dan disahkan dengan tawar-menawar, seperti halnya barang dagangan. Sogok-menyogok dan pengkhianatan mendapat pasaran yang luas dan memperoleh dorongan maupun dukungan dari bangsa Romawi (pusat).”⁵»

Edward Gibbon mengatakan:

«“Pada akhir abad ke-6 negara Romawi sampai pada titik kejatuhannya. Apabila diumpamakan pohon besar yang rindang, bangsa-bangsa di dunia berteduh di bawah naungannya yang luas, tetapi pohon tersebut hanya tinggal batangnya yang dari hari ke hari semakin layu dan mengering.”⁶»

Adapun para penulis sejarah lainnya mengatakan:

«“Sesungguhnya kota-kota besar yang dilanda keruntuhan dan tidak dapat bangkit lagi selama-lamanya telah menjadi saksi atas malapetaka yang menimpa negara Byzantium akibat adanya pemerasan, pungutan pajak, kemerosotan ekonomi, mengabaikan pertanian, dan semakin berkurangnya kesejahteraan di berbagai wilayah kekuasaannya.”»

Ketika mempelajari suatu ilmu, penting untuk mengenal manfaatnya. Bagi seorang M...



Ketika mempelajari suatu ilmu, penting untuk mengenal manfaatnya. Bagi seorang Muslim, patut pula ditanyakan: apakah ilmu tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk meraih surga Allah? Lalu, apa guna sejarah?

Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telisik terlebih dahulu: apa itu sejarah?

Masa lalu. Dua kata itulah salah satu unsur terpenting dari sejarah. Tetapi, apakah seluruh peristiwa di masa lalu termasuk sejarah?

Jika sepekan silam ada seekor kucing mencakar sofa di ruang tamu rumah kita, apakah itu sejarah? Atau ketika seseorang berjalan di sekitar Ambarawa pada tahun 2020, apakah itu juga merupakan peristiwa sejarah?

Sampai di sini, kita dapat mengambil dua kesimpulan.

Pertama, sejarah bukan sekadar peristiwa di masa lalu, tetapi peristiwa yang dinilai penting. Namun, penting untuk siapa?

Tentu bagi kepentingan manusia.

Singkatnya, sejarah adalah penceritaan kembali peristiwa-peristiwa penting di masa lalu. Dengan kata lain, keberadaan Jenderal Soedirman di Ambarawa ketika bertempur melawan Sekutu memiliki nilai yang berbeda dibandingkan dengan keberadaan kita di Ambarawa dalam rangka berwisata.

Kehadiran Jenderal Soedirman dan pasukannya di Ambarawa memberi dampak terhadap lembaran sejarah Indonesia, bahkan dunia. Adapun keberadaan kita di Ambarawa dalam rangka wisata tidak memiliki signifikansi sejarah, kecuali, misalnya, kita menemukan sebuah peninggalan kuno yang telah tertimbun selama ribuan tahun di Ambarawa.

Karena itu, sebelum mengangkat suatu peristiwa atau tokoh dari masa lalu, kita perlu bertanya: mengapa hal itu perlu diceritakan pada hari ini? Apa pentingnya?

Kedua, sejarah umumnya berhubungan dengan manusia.

Pertarungan antara Tyrannosaurus rex dan Giganotosaurus jutaan tahun lalu, misalnya, tidak bermuatan sejarah dalam pengertian sejarah manusia, jika kita meyakini bahwa dinosaurus memang pernah ada.

Menurut sejarawan Inggris Gilbert Garraghan, “Dalam arti yang lebih sempit, sejarah hanya mencakup peristiwa-peristiwa yang melibatkan manusia.” Senada dengan Garraghan, sejarawan James Viscount Bryce mengatakan bahwa sejarah juga berurusan dengan sifat dan pikiran manusia: “Sejarah menjadikan sifat manusia sebagai subjeknya. Ia adalah catatan tentang apa yang telah dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan oleh manusia.”

Meskipun terdapat pakar sejarah arsitektur kuno yang menitikberatkan kajiannya pada benda mati, seperti bangunan, studi tersebut tetap tidak dapat dilepaskan dari peran manusia yang merancang dan membangun infrastruktur tersebut.

Bukan berarti makhluk selain manusia tidak memainkan peran dalam panggung sejarah. Makhluk selain manusia dapat muncul dan bahkan memainkan peran penting dalam penelitian sejarah. Namun, penyebutan mereka bukan karena mereka menjadi pusat sejarah itu sendiri, melainkan karena mereka turut berperan dalam perjalanan sejarah manusia.

Hal ini dapat kita lihat dalam kisah-kisah umat terdahulu di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an mengabarkan tentang makhluk-makhluk selain manusia, seperti semut, burung hud-hud, malaikat, jin, dan setan. Kehadiran mereka dalam kisah-kisah tersebut tetap berkaitan dengan perjalanan manusia dan pelajaran yang dapat diambil manusia darinya.

Dengan kata lain, sejarah yang dikisahkan Al-Qur’an memiliki tujuan bagi manusia, yaitu menyajikan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Allah berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan hak.” (Az-Zumar: 41).

Al-Qur’an mengandung hal-hal yang bermanfaat bagi manusia. Singkatnya, berdasarkan perspektif Al-Qur’an, sejarah adalah peristiwa penting di masa lalu yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia.

Namun, ada persoalan berikutnya.

Peristiwa yang terjadi di masa lalu tidak dapat berbicara sendiri. Ia hanyalah fakta-fakta yang terpisah seperti kepingan-kepingan. Agar dapat memberikan hikmah kepada manusia, fakta sejarah perlu ditafsirkan.

Maka, elemen sejarah lainnya adalah penafsiran.

Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda adalah fakta sejarah. Namun, bagaimana fakta tersebut ditafsirkan dapat berbeda-beda.

Bagi Belanda pada saat itu, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya adalah ekstremis dan pembuat onar. Bagi penduduk Jawa, Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang melawan kekuasaan kolonial. Bagi kalangan Muslim, ia adalah pejuang sekaligus seorang mujahid yang mengamalkan jihad di jalan Allah.

Karena manusia adalah penafsirnya, intervensi subjektivitas sulit dihindari. Isi kepala manusia tidak sama. Akibatnya, penafsiran terhadap suatu peristiwa dapat beragam, bahkan di antaranya boleh jadi saling bertolak belakang.

Jika seorang penafsir memiliki kecenderungan terhadap keburukan, tafsiran sejarahnya pun dapat mengikuti kecenderungan tersebut. Jika penafsir adalah seorang pakar ekonomi, analisisnya pun cenderung bercorak ekonomi.

Penafsiran terbaik tentu adalah penafsiran yang benar dan sesuai dengan realitas.

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa penafsiran yang benar datang dari mereka yang benar, yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya dengan baik (ulul albab). Ulul albab bukan sekadar orang yang benar secara intelektual, tetapi juga benar secara akidah.

Sudah menjadi prinsip mendasar dalam Al-Qur’an bahwa kebenaran sejati adalah mentauhidkan Allah. Karena itu, idealnya, seorang sejarawan adalah ulul albab: orang yang bertauhid, banyak berzikir, dan banyak berpikir tentang ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliyah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun ayat-ayat kauniyah berupa alam semesta.

Sebagai permisalan, di dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa Khidir menghilangkan nyawa seorang anak kecil. Ini adalah fakta.

Namun, apakah hal itu berarti Khidir berbuat zalim karena telah “membunuh nyawa tak berdosa”?

Tidak.

Di balik tindakan tersebut terdapat maslahat yang lebih besar nilainya di sisi Allah. Dengan wafatnya anak tersebut, keimanan kedua orang tuanya di kemudian hari akan tetap terjaga. Sebaliknya, jika anak itu hidup hingga dewasa, ia akan menimpakan musibah besar kepada kedua orang tuanya. Dan musibah terbesar adalah musibah yang menimpa agama.

Tindakan Khidir itu pun bukan atas keinginannya sendiri, melainkan berdasarkan perintah Allah. Inilah penafsiran yang kemudian dijelaskan kepada Nabi Musa, yang sebelumnya merasa heran terhadap tindakan Khidir.

Dengan demikian, fakta perlu ditafsirkan dengan benar agar realitas yang terkandung di dalam fakta tersebut dapat dipahami.

Peristiwa di masa lalu dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan.

Seiring berjalannya waktu, bangunan itu sering kali tidak terawat sehingga bagian-bagiannya mengalami kerusakan. Semakin lama ditinggalkan, semakin parah kerusakannya dan semakin sulit pula bangunan tersebut dikenali.

Bahkan, ada bangunan yang tidak terawat sama sekali sehingga, seiring berlalunya waktu, akhirnya roboh. Tidak hanya roboh, jika reruntuhannya dibiarkan begitu saja, puing-puing tersebut akan terkikis, tertimbun, lalu lenyap ditelan bumi tanpa bekas.

Akhirnya, jangankan merekonstruksi kembali bangunan tersebut, generasi-generasi berikutnya bahkan tidak mengetahui bahwa bangunan itu pernah berdiri.

Tugas sejarawan adalah berupaya mendirikan kembali bangunan tersebut.

Jika sejarawan dapat membangunnya kembali seperti sediakala, tentu itu luar biasa. Kalaupun tidak, setidaknya sebagian bangunan dapat direkonstruksi. Dengan sebagian yang tersisa itu, kita dapat membayangkan bagaimana bentuk utuh bangunan tersebut pada asalnya.

Jika membangun kembali sebagian bangunan pun tidak memungkinkan, setidaknya kita dapat mengumpulkan puing-puing reruntuhan yang masih tersisa. Dari kepingan-kepingan tersebut, kita dapat berusaha membayangkan bagaimana bentuk bangunan itu dahulu.

Seperti itulah penafsiran.

Penafsiran adalah cara untuk menyusun kembali masa lalu.

Karena itu, Kuntowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah menjelaskan secara singkat bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Untuk mengisahkan kembali masa lalu melalui proses rekonstruksi, penafsiran menjadi bagian yang sangat sentral.

Namun, perlu diingat bahwa seberapa pun besar tenaga yang dikerahkan para sejarawan untuk membangun kembali bangunan masa lalu, bangunan tersebut tidak akan pernah dapat dibangun secara utuh dan persis seperti bangunan aslinya.

Sebab, masa lalu telah usai. Ia tidak akan pernah kembali lagi, selama-lamanya.

Kecuali ada campur tangan Tuhan.

Artinya, satu-satunya jalan untuk mengakses masa lalu secara sempurna adalah melalui wahyu Allah. Sebab, Allah mengetahui seluruh realitas: masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Adapun berita-berita masa lalu yang tidak Allah kisahkan melalui wahyu-Nya, sejarawan sendirilah yang harus mengerjakannya sebaik mungkin. Ia harus berusaha merekonstruksi masa lalu dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan fakta-fakta yang masih dapat ditemukan dan ditafsirkan secara benar.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Ia juga perlu menyadari bahwa proses rekonstruksi tersebut membutuhkan fakta, penafsiran, dan terutama orientasi kepada kebenaran.

Di sinilah pertanyaan awal kita kembali muncul:

Apa guna sejarah bagi seorang Muslim?

Jika sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, dan masa lalu itu mengandung berbagai pelajaran bagi manusia, maka mempelajari sejarah bukan sekadar menghafal nama, tanggal, tempat, atau rangkaian peristiwa. Sejarah menjadi sarana untuk membaca perjalanan manusia, memahami sunnatullah yang bekerja di dalamnya, dan mengambil hikmah untuk menjalani kehidupan pada masa kini.

Karena itu, setiap Muslim pada hakikatnya memiliki kebutuhan untuk memahami sejarah.

Bahkan, dalam pengertian tertentu, setiap Muslim adalah “sejarawan”: ia perlu membaca masa lalu, menimbang fakta, memahami konteks, menafsirkan peristiwa dengan benar, dan mengambil pelajaran darinya untuk menjalani amanah kehidupan pada masa kini.

Pengertian dan Kemukjizatan Al-Qur’an Ar-Raghib berkata dalam kitab ...


Pengertian dan Kemukjizatan Al-Qur’an

Ar-Raghib berkata dalam kitab Al-Mufradat, “Kata Al-Qur’an pada dasarnya adalah masdar. Kata tersebut memiliki kesamaan shighah dengan kata kufran dan rujhan.”

Allah berfirman:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ، وَقُرْءَانَهُ فَإِذَا قَرَأْنَهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ

“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah: 17–18)

Ibnu Abbas berkata mengenai tafsir ayat tersebut, “Jika telah Kami kumpulkan Al-Qur’an dan memantapkannya di dalam dadamu, maka amalkanlah.”

Kata Al-Qur’an kemudian menjadi nama khusus bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sebagaimana Taurat merupakan nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Injil merupakan nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa.

Sebagian ulama berkata bahwa dari seluruh kitab yang Allah turunkan, hanya kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang secara khusus menyandang nama Al-Qur’an. Hal ini karena Al-Qur’an mencakup kandungan pokok kitab-kitab sebelumnya, sekaligus menjadi petunjuk yang menjelaskan berbagai persoalan yang dibutuhkan manusia. Allah mengisyaratkan keluasan kandungannya dalam beberapa firman-Nya:

وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ

“Dan menjelaskan segala sesuatu.” (Yusuf: 111)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (An-Nahl: 89)

قُرْءَانًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ

“(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (Az-Zumar: 28)

Dari perkataan Ar-Raghib di atas, dapat dipahami bahwa kata Al-Qur’an pada asalnya merupakan masdar dari kata:

قَرَأَ – يَقْرَأُ – قِرَاءَةً – قُرْآنًا

Secara bahasa, Al-Qur’an berkaitan dengan makna membaca, menghimpun, dan menyatukan. Kata masdar tersebut kemudian menjadi nama khusus bagi kitab Allah yang mulia.

Adapun pengertian Al-Qur’an secara istilah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., disampaikan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an juga menjadi hujah yang kuat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.

Al-Qur’an Diturunkan dalam Bahasa Arab

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. dalam bahasa Arab. Allah berfirman:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ ۝ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ ۝ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192–195)

Pemilihan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an memiliki konteks yang sangat kuat. Masyarakat Arab ketika itu dikenal memiliki kemampuan bahasa dan sastra yang tinggi. Mereka menguasai berbagai bentuk syair dan prosa, serta sangat membanggakan kefasihan bahasa mereka.

Dalam konteks seperti itu, Rasulullah saw. datang membawa Al-Qur’an sekaligus memberikan tantangan kepada mereka untuk mendatangkan sesuatu yang semisal dengannya. Tantangan tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak menguasai bahasa Arab, tetapi justru kepada masyarakat yang berada pada puncak kejayaan bahasa dan sastra mereka.

Allah berfirman:

وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah: 23)

Tantangan tersebut kembali ditegaskan:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Hud: 13)

Allah bahkan menegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan mampu membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an:

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ، وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (Al-Isra’: 88)

Tantangan serupa juga terdapat dalam firman Allah:

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَل لَّا يُؤْمِنُونَ ۝ فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ

“Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) membuat-buatnya.’ Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.” (Ath-Thur: 33–34)

Al-Qur’an sebagai Mukjizat Nabi Muhammad

Secara umum, manusia yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. lebih mudah mengakui mukjizat yang berbentuk peristiwa luar biasa yang dapat mereka saksikan secara langsung. Karena itu, para rasul terdahulu diberi mukjizat yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kaum mereka.

Nabi Musa, misalnya, diberi mukjizat berupa tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Nabi Isa diberi kemampuan menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Adapun Nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh manusia dan membawa risalah yang berlaku hingga akhir zaman. Karena itu, mukjizat utama beliau juga memiliki karakter yang sesuai dengan keabadian risalah tersebut. Mukjizat itu bukan sekadar peristiwa yang disaksikan oleh satu generasi, melainkan wahyu yang dapat terus dibaca, dikaji, direnungkan, dan menjadi hujah bagi manusia sepanjang zaman.

Mukjizat tersebut adalah Al-Qur’an.

Rasulullah saw. bersabda:

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dengannya manusia beriman kepadanya. Adapun mukjizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Karena itu, aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat.”

Dengan demikian, kemukjizatan Al-Qur’an tidak berhenti pada satu bentuk saja. Ia merupakan mukjizat yang dapat terus dihadapi dan dikaji oleh manusia sepanjang zaman.

Tantangan Al-Qur’an kepada Masyarakat Arab

Siapa saja yang memiliki pengetahuan tentang sejarah Arab dan sastra mereka akan memahami konteks penting dari tantangan Al-Qur’an tersebut. Masyarakat Arab memiliki tradisi bahasa yang sangat kuat. Kefasihan, syair, prosa, dan kemampuan berpidato merupakan bagian penting dari kehidupan sosial mereka.

Berbagai pasar sastra menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan berbahasa sekaligus membanggakan keunggulan suatu kabilah. Bahasa menjadi salah satu sarana utama untuk mempertahankan kehormatan dan kedudukan sosial.

Dalam masyarakat seperti ini, Al-Qur’an hadir dengan susunan bahasa yang tidak mampu mereka tandingi. Mereka membaca ayat-ayatnya, mendengarkannya, dan berusaha membandingkannya dengan syair serta prosa yang mereka kuasai. Namun, mereka tidak mampu menghadirkan sesuatu yang dapat menandingi Al-Qur’an.

Bahkan, sebagian pengakuan mereka sendiri menunjukkan kuatnya pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa mereka. Al-Qur’an mengguncang hati mereka, tetapi kesombongan membuat mereka mencari berbagai alasan untuk menolaknya. Muhammad saw. dituduh sebagai penyihir, penyair, orang yang terkena sihir, bahkan pembawa dongeng orang-orang terdahulu.

Walid bin Mughirah merupakan salah satu contoh yang sering disebut dalam pembahasan ini. Ketika berhadapan dengan Al-Qur’an, mereka tidak menemukan jalan untuk menandinginya. Karena itu, penolakan akhirnya dilakukan bukan melalui tandingan bahasa yang setara, melainkan melalui berbagai tuduhan terhadap Rasulullah saw.

Jika mereka benar-benar mampu menandingi Al-Qur’an, tentu kondisi masyarakat Arab ketika itu menyediakan kesempatan yang sangat luas untuk melakukannya. Mereka memiliki kemampuan bahasa, motivasi kesukuan, kepentingan politik, dan dorongan yang kuat untuk menggagalkan dakwah Nabi Muhammad saw. Namun, tantangan tersebut tidak mereka jawab dengan karya yang semisal Al-Qur’an.

Dalam konteks inilah ketidakmampuan mereka menjadi bagian dari argumentasi tentang kemukjizatan Al-Qur’an.

Kemukjizatan Al-Qur’an Sepanjang Zaman

Kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan keindahan lafaz dan susunan bahasanya. Ia juga berkaitan dengan keluasan kandungan, kedalaman makna, berita tentang umat-umat terdahulu, petunjuk mengenai kehidupan manusia, serta hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat.

Al-Qur’an melemahkan manusia dengan berbagai sisi kemukjizatannya.

Pertama, dengan lafaz dan bahasanya. Susunan kata, pilihan lafaz, dan struktur kalimatnya memiliki karakter yang tidak dapat ditandingi. Setiap bagian Al-Qur’an tersusun dalam keserasian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan bangunannya.

Kedua, dengan penjelasan dan susunan maknanya. Al-Qur’an memberikan gambaran yang mendalam mengenai manusia, kehidupan, alam semesta, serta hubungan antara manusia dengan Penciptanya.

Ketiga, dengan kandungan maknanya. Al-Qur’an menyingkap hakikat kehidupan manusia dan menjelaskan tujuan keberadaannya di dunia. Ia tidak sekadar memberikan informasi, tetapi mengarahkan manusia agar memahami kedudukan dan tanggung jawabnya.

Keempat, dengan ilmu dan pengetahuannya. Al-Qur’an mengandung berbagai isyarat mengenai alam dan kehidupan. Pengetahuan manusia yang terus berkembang dapat menemukan berbagai tanda kebesaran Allah di alam semesta, meskipun Al-Qur’an bukan kitab ilmu pengetahuan dalam pengertian teknis.

Kelima, dengan hukum dan sistem kehidupannya. Al-Qur’an menetapkan hukum, menjaga hak manusia, mengatur hubungan antarindividu, dan memberikan prinsip-prinsip bagi terbentuknya masyarakat yang adil dan bermartabat.

Karena itu, kemukjizatan Al-Qur’an tidak terikat pada satu generasi. Tantangannya tetap terbuka sepanjang zaman. Setiap perkembangan pengetahuan manusia justru menghadapkan manusia kembali kepada keluasan ayat-ayat Allah dan keterbatasan kemampuan mereka.

Misteri alam semesta yang kemudian disingkap oleh ilmu pengetahuan modern bukanlah sesuatu yang berdiri di luar kekuasaan Allah. Ia merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Al-Qur’an telah memberikan isyarat global mengenai berbagai hakikat tersebut dan mengarahkan manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, baik yang terdapat dalam wahyu maupun yang terbentang di alam.

Pada akhirnya, Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab yang dibaca, tetapi juga wahyu yang membentuk manusia. Ia mengubah manusia yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan visi menjadi manusia yang mampu memikul amanah besar. Ia bahkan mengangkat para penggembala kambing menjadi pemimpin umat dan pembawa peradaban.

Perubahan sebesar itu merupakan salah satu bukti paling nyata tentang kekuatan Al-Qur’an dalam membentuk manusia dan masyarakat.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (64) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (35) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (31) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (3) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (763) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (16) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)