Hubungan Awal Muslim Nusantara dengan Timur Tengah
Jejak yang Jauh Sebelum Islam
Bagaimana sebenarnya hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah bermula?
Jika kita menelusuri sejarahnya, ternyata hubungan kedua kawasan ini jauh lebih tua daripada kedatangan Islam. Jejak kontak tersebut bahkan dapat ditelusuri hingga masa antiquity, terutama melalui jaringan perdagangan yang melibatkan bangsa-bangsa pelaut seperti Phunisia dan Saba.
Namun, pembahasan mengenai hubungan pra-Islam bukanlah fokus utama kita. Yang lebih menarik adalah pertanyaan berikut:
Apa yang terjadi setelah Islam bangkit di Timur Tengah?
Apakah hubungan antara Timur Tengah dan Nusantara berhenti pada perdagangan?
Ternyata tidak.
Perdagangan memang menjadi salah satu pintu utama. Tetapi melalui jalur perdagangan itulah kemudian terbuka hubungan yang jauh lebih luas: pertukaran keagamaan, sosial, politik, intelektual, dan kebudayaan.
Dengan demikian, sejarah awal hubungan Islam dengan Nusantara tidak dapat dipahami hanya sebagai sejarah kedatangan para pedagang Muslim. Ia merupakan bagian dari jaringan dunia yang jauh lebih luas, yang menghubungkan Timur Tengah, India, Cina, dan Nusantara.
---
Dari Timur Tengah Menuju Timur Jauh
Pada masa awal Islam, hubungan antara Timur Tengah dan Cina pada mulanya lebih banyak bersifat diplomatik dan perdagangan.
Sumber-sumber Cina mencatat bahwa pada 31 H/651 M, istana Dinasti Tang menerima dua orang utusan dari negeri yang disebut Ta Shih, istilah Cina yang digunakan untuk menyebut orang Arab.
Empat tahun kemudian, datang lagi utusan Muslim. Ia memperkenalkan dirinya sebagai wakil Amir al-Mu'minin dan menjelaskan kepada penguasa Cina bahwa kaum Muslim telah mendirikan pemerintahan Islam beberapa puluh tahun sebelumnya.
Mengapa hal ini penting bagi sejarah Nusantara?
Karena hubungan Timur Tengah-Cina itu tidak berlangsung melalui jalur darat semata. Laut menjadi jalan utama yang menghubungkan kedua dunia tersebut.
Ketika Islam meluas ke Persia dan kemudian ke wilayah Anak Benua India pada masa Umayyah, terbuka semakin banyak pelabuhan strategis di sepanjang jalur perdagangan dari Teluk Persia menuju Samudra Hindia.
Dari sinilah pelayaran Muslim menuju Timur Jauh berkembang semakin intensif.
Para pelaut Arab dan Persia tidak hanya memiliki kemampuan berdagang. Mereka juga memiliki keterampilan navigasi yang memungkinkan mereka menempuh pelayaran panjang melintasi Samudra Hindia.
Bahkan, pada masa itu para peziarah Buddha dari Cina turut menggunakan kapal-kapal Muslim ketika melakukan perjalanan menuju pusat-pusat keagamaan dan keilmuan Buddha di India.
Bayangkan jaringan yang terbentuk.
Seorang pelaut Arab berlayar dari Teluk Persia.
Ia menuju India.
Dari India melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara.
Kemudian menuju Cina.
Di sepanjang perjalanan, ia singgah di berbagai pelabuhan.
Maka bukankah sangat masuk akal apabila Nusantara juga menjadi bagian dari jaringan tersebut?
---
Timur Tengah, Cina, dan Nusantara dalam Satu Jaringan
Hubungan yang semakin intensif antara dunia Islam dan Cina dapat dilihat dari banyaknya pertukaran diplomatik.
Selama sekitar sembilan puluh tahun masa Dinasti Umayyah, tercatat tidak kurang dari 17 utusan Muslim datang ke istana Cina. Pada masa Abbasiyah, antara 133 H/750 M dan 182 H/798 M, sekitar 18 utusan kembali dikirim.
Frekuensi hubungan yang tinggi ini mendorong terbentuknya komunitas Muslim di Cina, khususnya di Kanton.
Pada paruh kedua abad ke-7, komunitas Muslim Arab dan Persia telah mulai menetap di sana. Menjelang pertengahan abad ke-8, jumlah mereka semakin besar.
Di kota-kota tertentu, komunitas pedagang Arab dan Persia bahkan menjadi sangat penting secara ekonomi.
Semua ini membawa kita kepada sebuah kesimpulan penting:
Muslim Timur Tengah yang melakukan perjalanan ke Cina hampir pasti memiliki pengetahuan tentang pelabuhan-pelabuhan di Asia Tenggara yang mereka lewati.
Dengan kata lain, Nusantara bukanlah wilayah yang tiba-tiba muncul dalam kesadaran dunia Islam.
Ia telah berada di dalam jaringan pelayaran Samudra Hindia.
---
I-Tsing dan Jejak Muslim di Sriwijaya
Salah satu bukti paling menarik datang dari seorang pengembara dan agamawan Buddha Cina, I-Tsing.
Pada 51 H/671 M, I-Tsing melakukan perjalanan dari Kanton menuju India dengan menumpang kapal Arab dan Persia. Dalam perjalanannya, ia singgah di sebuah pelabuhan yang disebut Bhoga atau Sribhoga, yang oleh banyak sarjana diidentifikasi dengan Palembang.
Di sinilah kita berhadapan dengan fakta sejarah yang sangat menarik.
Seorang peziarah Buddha Cina menuju India dengan kapal milik pelaut Muslim dan singgah di wilayah Nusantara.
Bukankah ini menunjukkan betapa kosmopolitnya jaringan maritim Asia pada masa itu?
Pelabuhan Nusantara bukan sekadar tempat bongkar muat barang.
Ia menjadi titik pertemuan manusia dari berbagai agama, bahasa, bangsa, dan kebudayaan.
Dan pusat penting dari jaringan tersebut adalah Sriwijaya.
---
Sriwijaya: Penguasa Jalur Perdagangan
Sriwijaya mulai berkembang sebagai kekuatan besar pada paruh kedua abad ke-7. Kekuasaannya mencakup wilayah luas di Sumatra dan kawasan strategis Semenanjung Malaya serta memiliki hubungan erat dengan Jawa.
Dalam sumber-sumber Arab, Sriwijaya sering dikaitkan dengan Zabaj atau al-Mamlakat al-Maharaja, "Kerajaan Raja di Raja". Sumber-sumber Cina mengenalnya dengan berbagai nama, seperti Shih-li-fo-shih atau San-fo-chi.
Posisinya sangat strategis.
Sriwijaya berada di jalur yang menghubungkan perdagangan antara dunia Timur Tengah, India, Cina, dan kepulauan Nusantara.
Karena itu, Palembang berkembang menjadi entrepôt, pusat perdagangan tempat berbagai komoditas dan pedagang dari berbagai negeri bertemu.
Sebuah kronik Cina yang ditulis pada 1178 menggambarkan posisi Sriwijaya sebagai pusat yang harus dilalui oleh berbagai negeri yang hendak mencapai Cina.
Jika kita membayangkan peta perdagangan Asia pada masa itu, kita akan menemukan sebuah jaringan yang sangat hidup:
Arabia → India → Selat Malaka → Sriwijaya → Cina.
Dan sebaliknya:
Cina → Sriwijaya → India → Timur Tengah.
Sriwijaya dengan demikian bukan wilayah pinggiran.
Ia berada di tengah-tengah jaringan dunia.
---
Pusat Buddha, tetapi Kosmopolitan
Menariknya, Sriwijaya pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Buddha yang penting.
I-Tsing melaporkan bahwa di Palembang terdapat lebih dari seribu pendeta Buddha yang mempelajari berbagai cabang ilmu keagamaan.
Ia bahkan menyarankan para pelajar Buddha Cina yang hendak pergi ke India untuk terlebih dahulu tinggal di Sriwijaya selama satu atau dua tahun.
Mengapa?
Karena Sriwijaya telah memiliki lingkungan keilmuan yang memadai untuk mempersiapkan mereka sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Tetapi ada satu hal yang tidak kalah menarik.
Sriwijaya yang menjadi pusat keilmuan Buddha ternyata juga merupakan masyarakat yang sangat kosmopolitan.
Kapal Arab dan Persia datang.
Pedagang Muslim menetap.
Pedagang dari berbagai kawasan singgah.
Utusan berbagai negeri datang dan pergi.
Jadi, pusat Buddha itu tidak berarti Sriwijaya tertutup dari pengaruh dunia Islam.
Justru sebaliknya.
Keterbukaan maritim membuat berbagai komunitas bertemu di wilayahnya.
---
Ketika Pedagang Muslim Mulai Menetap
Sumber-sumber Cina juga menyebut kedatangan kapal-kapal Persia ke Palembang.
Pada sekitar 99 H/717 M, misalnya, disebutkan adanya puluhan kapal Persia yang sampai di Palembang.
Setelah terjadi kerusuhan di Kanton, sebagian pedagang Muslim Arab dan Persia yang meninggalkan Cina juga diperkirakan menuju wilayah-wilayah Asia Tenggara, termasuk Palembang.
Apa artinya?
Artinya, kehadiran Muslim di Nusantara bukan semata-mata kehadiran sementara para pelaut yang datang untuk berdagang lalu pergi.
Sebagian dari mereka kemungkinan menetap.
Mereka membentuk komunitas.
Mereka berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dan interaksi yang terus-menerus tentu membuka kemungkinan terjadinya pertukaran budaya dan agama.
Di sinilah kita harus membedakan dua hal:
kehadiran Muslim dan Islamisasi masyarakat.
Keduanya tidak selalu terjadi secara bersamaan.
Kehadiran pedagang Muslim di suatu pelabuhan tidak otomatis berarti kerajaan atau mayoritas penduduk setempat telah memeluk Islam.
Tetapi kehadiran mereka menciptakan salah satu kondisi penting bagi proses Islamisasi pada masa-masa berikutnya.
---
Apakah Sudah Ada Muslim Pribumi?
Pertanyaan berikutnya jauh lebih menarik:
Apakah pada masa awal itu sudah terdapat penduduk Nusantara yang memeluk Islam?
Beberapa sumber Arab dan Cina memberikan indikasi yang menarik.
Al-Ramhurmuzi dalam 'Aja'ib al-Hind, misalnya, menyebut adanya Muslim di lingkungan penduduk Sriwijaya.
Sementara itu, Chau Ju-Kua mencatat adanya sejumlah penduduk San-fo-chi yang menggunakan nama dengan unsur P'u.
Sejumlah sarjana menghubungkan P'u dengan bentuk singkatan dari Abu, sebuah unsur yang lazim terdapat dalam nama Muslim.
Jika interpretasi tersebut benar, maka terdapat kemungkinan bahwa hubungan antara Muslim pendatang dengan masyarakat lokal telah menghasilkan komunitas Muslim yang lebih luas.
Namun di sini kita perlu berhati-hati.
Kemungkinan bukanlah kepastian.
Nama yang tampak Arab tidak selalu membuktikan identitas agama seseorang. Karena itu, bukti-bukti tersebut harus dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber lain.
Sejarah yang baik bukan sejarah yang tergesa-gesa memastikan sesuatu yang masih menjadi perdebatan.
---
Muslim sebagai Pedagang, Pemilik Kapal, dan Diplomat
Yang lebih jelas terlihat dari sumber-sumber Cina adalah peran orang-orang Muslim dalam jaringan perdagangan dan diplomasi Sriwijaya.
Nama-nama yang muncul dalam catatan Cina pada abad ke-10 hingga ke-12 menunjukkan banyak tokoh yang oleh sejumlah sarjana diidentifikasi sebagai pemilik nama Arab, seperti 'Ali Muhammad, Abu Adam, Abu Musa, Abu 'Abd Allah, dan lainnya.
Mereka muncul sebagai:
- duta,
- wakil duta,
- pedagang,
- pemilik kapal,
- dan tokoh yang menghubungkan Sriwijaya dengan dunia luar.
Jika sebagian interpretasi tersebut benar, maka kita melihat sesuatu yang sangat penting:
Muslim bukan hanya hadir sebagai pedagang asing. Mereka juga dapat memainkan fungsi diplomatik dalam hubungan internasional kerajaan Nusantara.
Bahkan terdapat tokoh yang pada satu kesempatan tercatat sebagai utusan Sriwijaya dan pada kesempatan lain muncul sebagai utusan Ta-Shih, yakni dunia Arab.
Ini menunjukkan betapa cairnya identitas dan jaringan sosial pada dunia perdagangan maritim masa itu.
Seorang pedagang dapat menjadi diplomat.
Seorang pendatang dapat dipercaya oleh penguasa setempat.
Dan seorang pelaut dapat menjadi penghubung antara dua dunia yang sangat jauh.
---
Surat Maharaja kepada Khalifah
Bukti yang lebih menarik lagi adalah riwayat mengenai surat yang disebut dikirim oleh Maharaja Sriwijaya kepada penguasa Muslim di Timur Tengah.
Salah satu surat dikaitkan dengan Khalifah Mu'awiyah.
Sumber lain menyebut surat yang ditujukan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Surat kepada Umar bin Abdul Aziz bahkan digambarkan dengan gaya yang sangat menarik. Sang Maharaja memperkenalkan dirinya sebagai penguasa besar yang memiliki kekayaan, wilayah luas, dan ribuan gajah.
Tetapi bagian yang paling menarik bukanlah kemegahan tersebut.
Melainkan permintaannya:
ia meminta seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepadanya dan menjelaskan hukum-hukumnya.
Jika surat tersebut autentik dan memang berkaitan dengan penguasa Sriwijaya, bukankah ini merupakan bukti yang sangat penting tentang adanya kontak intelektual dan keagamaan antara Nusantara dan Timur Tengah pada masa awal?
Namun sekali lagi, kita harus berhati-hati.
Sumber sejarah seperti ini perlu dikaji dari segi transmisi, kronologi, identitas penguasa, dan konteks politiknya.
Sejarah tidak cukup dibangun hanya dari satu kutipan.
Tetapi setidaknya, surat tersebut memperlihatkan bahwa dunia Arab dan dunia Melayu-Sriwijaya telah berada dalam satu cakrawala hubungan politik dan intelektual.
---
Sri Indravarman dan Dunia Islam
Pada masa Umar bin Abdul Aziz berkuasa, penguasa Sriwijaya yang disebut dalam sumber-sumber Cina adalah Sri Indravarman.
Sumber Cina mencatat beberapa pengiriman utusan Sriwijaya ke istana Cina, termasuk pada 83 H/702 M, 98 H/716 M, dan 106 H/724 M.
Menariknya, terdapat pula barang-barang yang diasosiasikan dengan jaringan perdagangan Timur Tengah.
Namun, apakah Sri Indravarman sendiri telah memeluk Islam?
Belum ada dasar yang cukup kuat untuk memastikan hal tersebut.
Di sinilah kita harus membedakan antara:
hubungan dengan Muslim,
penerimaan barang dari dunia Muslim,
pengangkatan Muslim sebagai diplomat,
dan
konversi penguasa kepada Islam.
Keempat hal tersebut tidak sama.
Hubungan yang erat tidak otomatis berarti perpindahan agama.
Tetapi hubungan yang erat jelas membuka jalan bagi pertukaran gagasan dan keagamaan.
---
Jejak yang Sama di Borneo
Hubungan tersebut ternyata tidak terbatas di Sriwijaya.
Chau Ju-Kua juga mencatat adanya kerajaan di Borneo Barat yang mengirim utusan ke istana Cina pada 977 M.
Salah seorang tokoh yang memimpin delegasi tersebut memiliki nama yang diduga berasal dari nama Arab, seperti Abu 'Ali atau Abu 'Abd Allah.
Sumber Cina bahkan memberikan kesan bahwa tokoh tersebut mungkin merupakan seorang pedagang Arab yang kapalnya berlabuh di wilayah kerajaan tersebut dan kemudian dipercaya memimpin delegasi.
Sekali lagi kita melihat pola yang sama:
pedagang → pelabuhan → hubungan dengan penguasa → diplomasi → hubungan internasional.
Jalur perdagangan ternyata bukan hanya membawa barang.
Ia membawa manusia.
Manusia membawa bahasa.
Bahasa membawa gagasan.
Gagasan membawa kebudayaan.
Dan kebudayaan dapat membawa agama.
---
Dari Perdagangan Menuju Pertukaran Keagamaan
Maka, ketika kita berbicara mengenai awal hubungan Islam dengan Nusantara, kita harus menghindari gambaran yang terlalu sederhana.
Islam tidak datang ke Nusantara melalui satu kapal, satu tokoh, atau satu tahun tertentu.
Ia muncul dalam jaringan hubungan yang panjang.
Pedagang Muslim datang.
Mereka singgah.
Sebagian menetap.
Mereka membangun hubungan sosial.
Mereka berinteraksi dengan penguasa.
Sebagian dipercaya menjadi diplomat.
Pelabuhan menjadi ruang pertemuan.
Dari ruang pertemuan itu, agama dan kebudayaan ikut bergerak.
Karena itu, pengenalan Islam di Nusantara sangat mungkin berlangsung secara bertahap dan melalui banyak jalur.
Perdagangan menjadi salah satu pintunya, tetapi bukan satu-satunya pintu.
Hubungan politik membuka pintu lain.
Hubungan intelektual membuka pintu lainnya.
Perkawinan dan komunitas Muslim membuka pintu sosial.
Dan jaringan ulama pada masa-masa berikutnya semakin memperdalam hubungan tersebut.
---
Tetapi Seberapa Banyak yang Mereka Ketahui tentang Nusantara?
Ada satu hal yang juga perlu kita akui.
Meskipun hubungan antara Timur Tengah dan Nusantara sudah cukup intensif, pengetahuan orang-orang Timur Tengah tentang kondisi Nusantara tampaknya masih terbatas.
Mengapa?
Karena sebagian besar catatan Arab awal lebih banyak bersifat geografis dan nautikal.
Mereka tertarik pada pelabuhan.
Jalur pelayaran.
Jarak antarwilayah.
Komoditas.
Angin musim.
Hasil bumi.
Dan berbagai hal yang penting bagi perdagangan.
Sementara informasi mengenai masyarakat, agama, struktur sosial, dan kehidupan sehari-hari penduduk Nusantara relatif lebih sedikit.
Catatan para pengembara juga tidak selalu mudah diverifikasi.
Sebagian berasal dari cerita para pelaut yang mungkin lebih tertarik pada hal-hal luar biasa daripada gambaran sosial yang akurat.
Sebagian lainnya merupakan kompilasi dari berbagai sumber yang berasal dari masa berbeda.
Karena itu, ketika kita membaca sumber Arab atau Cina tentang Nusantara, kita harus bertanya:
Siapa yang menulisnya?
Dari mana informasinya diperoleh?
Kapan peristiwa itu terjadi?
Apakah penulis menyaksikannya sendiri?
Atau hanya mengutip cerita seorang pelaut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting agar kita tidak mengubah informasi yang masih fragmentaris menjadi kesimpulan sejarah yang terlalu pasti.
---
Nusantara dalam Jaringan Dunia Islam
Pada akhirnya, seluruh rangkaian data tersebut membawa kita kepada satu gambaran besar.
Nusantara sejak masa awal tidak berdiri sebagai dunia yang terisolasi.
Ia berada dalam jaringan maritim internasional yang menghubungkan:
Timur Tengah — Persia — India — Sri Lanka — Nusantara — Cina.
Di dalam jaringan itu beredar bukan hanya rempah-rempah, kapur barus, gaharu, dan berbagai komoditas lainnya.
Yang ikut bergerak adalah manusia.
Dan bersama manusia bergerak pula:
bahasa, ilmu, teknologi, kebudayaan, gagasan, dan agama.
Islam masuk ke dalam jaringan tersebut sebagai salah satu kekuatan keagamaan dan peradaban yang semakin berkembang.
Maka sejarah Islam Nusantara sesungguhnya bukan sejarah sebuah wilayah yang tiba-tiba menerima agama dari luar.
Ia adalah bagian dari sejarah pertemuan berbagai dunia melalui lautan.
Laut yang bagi sebagian orang tampak sebagai pemisah, justru bagi para pelaut masa lalu merupakan jalan penghubung.
Dan di sepanjang jalan itulah sejarah Islam Nusantara mulai menemukan jejak-jejak awalnya.
Bukan dengan satu peristiwa tunggal.
Bukan dengan satu kapal.
Bukan pula dengan satu tokoh.
Melainkan melalui jaringan panjang hubungan manusia yang berlangsung selama berabad-abad.
Dari situlah kita dapat memahami satu hal yang sangat penting:
sebelum Islam menjadi kekuatan sosial dan politik yang besar di Nusantara, ia terlebih dahulu hadir sebagai bagian dari jaringan perdagangan, pelayaran, diplomasi, dan pertukaran intelektual yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam.
Dan dari jaringan itulah, perlahan-lahan, pintu Islamisasi Nusantara mulai terbuka.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif