basmalah Pictures, Images and Photos
08/22/26 - Our Islamic Story

Mengapa Geopolitik Zionis Israel Sedang Menuju Titik Nadir? Bergantung pada Amerika dan London  ...

Mengapa Geopolitik Zionis Israel Sedang Menuju Titik Nadir? Bergantung pada Amerika dan London 



Perbudakan Intelektual di Persimpangan Zaman

Dunia intelektual Muslim kontemporer tengah mengidap sebuah paradoks akut. Di satu sisi, kita menyaksikan kemajuan teknologi yang luar biasa, namun di sisi lain, terjadi semacam "perbudakan intelektual" yang sistematis.

Banyak pemikir kita terpesona oleh gemerlap filsafat Barat—mulai dari dialektika komunisme, pragmatisme kapitalisme, hingga nihilisme eksistensialisme—dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan menuju pencerahan.

Efek samping yang paling merusak dari "mimikri budaya" ini adalah munculnya anggapan bahwa agama merupakan residu masa lalu yang menghambat kemajuan. Narasi ini sebenarnya hanyalah jiplakan mentah dari trauma sejarah Eropa, di mana kaum paderi dan institusi gereja sempat menjadi "batu perintang" bagi ilmu pengetahuan.

Namun, haruskah kita mengadopsi trauma orang lain untuk menghakimi iman kita sendiri? Apakah kita sedang buta terhadap kenyataan bahwa Islam justru pernah menjadi dirigen utama peradaban dunia di saat Barat masih meraba dalam kegelapan?


Salah Kaprah "Pertarungan" Ilmu dan Agama

Kesalahan fundamental kaum terpelajar kita hari ini adalah terjebak dalam hegemoni epistemologis Barat yang memisahkan secara paksa antara wahyu dan rasio.

Di dunia Barat, kebangkitan ilmiah lahir dari rahim pemberontakan terhadap otoritas agama yang kaku. Namun, memproyeksikan konflik sosiologis tersebut ke dalam sejarah Islam adalah sebuah kekeliruan metodologis yang fatal.

Islam tidak mengenal kasta paderi yang memusuhi mikroskop. Sebaliknya, Islam memerintahkan penggunaan akal ('aql) sebagai instrumen untuk menyembah Sang Pencipta. Islam adalah satu-satunya sistem nilai yang menempatkan aktivitas meneliti alam semesta sebagai ibadah. 

Para pahlawan dan pemikir besar dalam sejarah Islam berasal dari berbagai ras dan warna kulit, dipersatukan oleh satu keyakinan bahwa penemuan ilmiah adalah upaya mengungkapkan "Sunnah Allah".

Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri..." (QS. Fussilat: 53). Penekanan pada "diri mereka sendiri" juga diperkuat dalam ayat lain: "Dan pada dirimu sendiri (terdapat tanda-tanda kebesaran Allah), apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. Adz-Dzariyat: 21).

Ini adalah undangan terbuka bagi para ilmuwan untuk membedah misteri struktur manusia yang bahkan hingga hari ini belum sepenuhnya terungkap oleh sains tercanggih sekalipun.


Ketika Wahyu Mendahului Teleskop

Jika kita menilik teks suci dengan kacamata objektif, kita akan menemukan sebuah realitas yang mencengangkan: wahyu sering kali memberikan koordinat yang baru ditemukan sains modern berabad-abad kemudian.

Al-Qur'an memang bukan buku teks astronomi, namun ia adalah kompas bagi "Ulul Albab"—orang-orang yang mengingat Allah sambil memikirkan penciptaan langit dan bumi (QS. Ali Imran: 190-191).

Mari kita bicara tentang astronomi. Jauh sebelum teleskop canggih mengonfirmasi evolusi benda langit, Al-Qur'an dalam QS. Al-Isra: 12 telah mengisyaratkan tentang penghapusan tanda malam (bulan) dan pemberian cahaya pada tanda siang (matahari). 

Terkait hal ini, penafsir agung Ibnu Abbas r.a. memberikan pernyataan yang melampaui zamannya:

"Semula bulan menyala seperti matahari, kemudian padam."

Sains modern kini mengakui bahwa bulan pada masa awalnya adalah entitas yang panas dan memancarkan cahaya sendiri sebelum akhirnya mendingin dan menjadi benda mati. Begitu pula dengan asal-usul alam semesta. Isyarat dalam QS. Al-Anbiya: 30 mengenai langit dan bumi yang dulunya adalah "suatu yang padu" kemudian dipisahkan, secara elegan mendahului teori ilmiah tentang alam semesta yang bermula dari gumpalan gas yang meledak menjadi tata surya.

Wahyu tidak pernah menyangkal penemuan para teknisi; ia justru memberikan kerangka metafisika bagi fakta-fakta fisik tersebut.


Tali yang Getas: Anatomi Geopolitik Ketergantungan

Hukum yang mengatur peredaran bintang di langit—Sunnah Allah—ternyata beresonansi dengan hukum yang mengatur jatuh bangunnya sebuah bangsa, yang bisa kita sebut sebagai Sunnah Madaniyah.

Salah satu pelajaran paling tajam dari teks sumber adalah mengenai nasib entitas yang membangun eksistensinya di atas pondasi yang rapuh.

Ambillah contoh fenomena entitas Yahudi yang merampas negeri yang diberkati. Secara sosiopolitik, ia bukanlah sebuah negara yang berdaulat secara hakiki, melainkan sebuah proyek yang kehidupannya bergantung sepenuhnya pada belas kasihan Washington dan London.

Harta, senjata, dan jaminan keamanan mereka bukan berasal dari kemandirian internal, melainkan dari "tali manusia" yang rentan.

Dalam QS. Ali Imran: 112, Allah memperingatkan bahwa kehinaan akan menyelimuti mereka kecuali jika mereka berpegang pada "tali Allah" dan "tali manusia". Namun, sejarah membuktikan bahwa "tali" dari Washington atau London adalah tali yang getas. Kepentingan global bersifat fluktuatif; lambat atau cepat, tali-tali diplomatik itu akan diputuskan.

Sebuah entitas yang hanya bersandar pada hegemoni pihak luar sedang menanti titik nadir eksistensinya, karena mereka telah meninggalkan pondasi spiritual dan keadilan yang abadi.


Menuju Puncak Baru: Logika Kebangkitan dan Strategi Diversi

Keterpurukan umat saat ini bukanlah kegagalan doktrin, melainkan akibat dari ditinggalkannya prinsip-prinsip Islam yang progresif. Kita jatuh dari puncak tertinggi ke dasar terbawah sejak kita melepaskan semangat pencarian ilmu yang dibalut keimanan.

Namun, arus bawah sejarah sedang berubah. Saat ini, muncul gelombang pemuda yang mulai mempelajari Islam bukan sebagai ritual sempit, melainkan sebagai ideologi kemajuan yang komprehensif. Fenomena kembalinya kesadaran kolektif ini mulai menggetarkan kemapanan global. Sebagai respons, disusunlah berbagai "rencana makar" (deceptive plans) untuk memalingkan (memalingkan/divert) generasi muda dari identitas aslinya. Upaya memalingkan ini bisa berupa distraksi budaya pop yang dangkal hingga infiltrasi pemikiran yang menjauhkan agama dari diskursus sains dan politik.

Kebangkitan ini bukanlah tentang kembali ke abad pertengahan, melainkan mengambil kembali api kemajuan yang pernah dipadamkan oleh kolonialisme intelektual.


Menatap Garis Waktu Masa Depan

Masa depan tidak akan dimiliki oleh mereka yang hanya menjadi pembeo filsafat Barat yang mulai kehilangan arah. Masa depan adalah milik mereka yang mampu mensintesiskan kedalaman wahyu dengan ketajaman analisis ilmiah. 

Konflik antara iman dan sains adalah mitos yang sengaja dipelihara untuk menjaga kita tetap dalam kondisi subordinasi.

Pertanyaan besarnya kini kembali kepada kita: Apakah kita akan terus menjadi pengikut setia dari narasi-narasi global yang sedang menuju titik jenuhnya, atau kita berani menjadi bagian dari gelombang yang menemukan kembali harmoni antara langit dan bumi?

Hidup Pernahkah kita bertanya, mengapa tidak pernah ada dua manusia yang benar-benar sama jalan kehidupannya? Bahkan dua...

Hidup
Pernahkah kita bertanya, mengapa tidak pernah ada dua manusia yang benar-benar sama jalan kehidupannya?

Bahkan dua orang yang lahir dari rahim yang sama pun tidak memiliki kekuatan tubuh, kecerdasan, pengalaman, keinginan, dan perjalanan hidup yang sepenuhnya sama. Setiap manusia memiliki kekuatannya sendiri. Sebagaimana wajah, suara, dan langkah kaki membedakan seseorang dari orang lain, demikian pula akal dan jalan hidupnya.

Bahkan perbedaan itu telah mulai tampak sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya.

Setiap anak lahir membawa keunikan yang tidak sama dengan anak lainnya. Bentuk tubuhnya berbeda, demikian pula susunan otaknya. Di dalam otak terdapat jaringan sel yang sangat banyak dan sangat halus. Sel-sel itu saling berhubungan dan bekerja membentuk suatu sistem yang luar biasa rumit. Ada bagian yang menerima rangsangan dari telinga, mata, hidung, tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Semuanya bermuara dalam suatu pusat pengaturan yang kita kenal sebagai otak.

Lalu kita bertanya: siapakah yang mengatur semua itu?

Kita bekerja sejak dilahirkan. Kita berpikir, mengingat, berkehendak, membayangkan, mencita-citakan sesuatu, dan mengambil keputusan. Semua pengalaman yang telah berlalu seakan-akan tidak benar-benar hilang. Sebagian tersimpan dalam perbendaharaan ingatan.

Karena itu, bukankah menakjubkan bahwa sesuatu yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu masih dapat muncul kembali dalam ingatan kita hanya karena sebuah suara, aroma, wajah, atau tempat tertentu mengingatkannya?

Di situlah kita mulai menyadari betapa rumitnya kehidupan manusia.

Otak, Akal, dan Misteri Kehidupan

Para ahli kedokteran telah mempelajari otak manusia dengan berbagai alat dan metode. Mereka menemukan bahwa susunannya sangat rapi, sedangkan cara kerjanya amat kompleks. Semakin manusia mempelajarinya, semakin banyak pula rahasia yang terbuka.

Otak seorang anak berkembang seiring pertumbuhannya menuju dewasa. Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan mengambil keputusan pun berkembang. Tetapi bagaimana jika perkembangan itu terganggu oleh penyakit atau cedera?

Ada seorang anak muda dalam keluarga kami yang berasal dari keturunan orang-orang yang dikenal memiliki kemampuan berpikir baik dan berbudi pekerti. Namun ia mengalami kesulitan dalam pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung, menghafal, dan berpikir secara abstrak.

Ketika berumur sekitar empat tahun, ia pernah jatuh dan kepalanya terbentur. Bekas benturan itu bahkan masih terlihat ketika ia dewasa.

Ia dapat memahami sesuatu apabila diperlihatkan kepadanya, tetapi mengalami kesulitan ketika harus memikirkannya sendiri.

Bukankah pengalaman seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa kesehatan tubuh dan kesehatan akal tidak dapat dipisahkan?

Jika bagian tertentu dari otak mengalami gangguan, kemampuan yang berkaitan dengannya pun dapat terganggu. Karena itu, menjaga kesehatan otak berarti juga menjaga salah satu perangkat penting yang memungkinkan manusia berpikir dan menjalani kehidupannya.

Namun di sini muncul pertanyaan yang lebih dalam:

Apakah manusia hanyalah otaknya?

Apakah Akal Hanya Hasil Kerja Otak?

Sebagian ahli yang memandang kehidupan terutama dari sisi material berusaha menjelaskan akal, kehendak, ingatan, dan berbagai gejala kejiwaan melalui kerja otak.

Menurut pandangan ini, otak merupakan pusat kehidupan mental manusia. Sebagaimana nyala api muncul dari lilin yang terbakar, demikianlah pikiran dan kesadaran dianggap muncul dari aktivitas otak.

Perumpamaan itu tampak sederhana.

Tetapi apakah benar sesederhana itu?

Di sinilah perbedaan pandangan mulai muncul.

Ada kalangan yang melihat otak sebagai zat jasmani yang menjadi alat bagi sesuatu yang lebih dalam, yaitu kekuatan batin atau roh. Menurut pandangan ini, otak bukanlah sumber terakhir kehidupan, melainkan perkakas yang digunakan oleh kekuatan yang lebih halus.

Bukankah kita sering mengenal sebuah alat melalui apa yang dihasilkannya, tetapi tidak berarti alat itu adalah sumber segala sesuatu yang dihasilkannya?

Sebuah gitar menghasilkan suara, tetapi gitar bukanlah musik itu sendiri. Musik lahir melalui permainan dan pengaturan yang menggunakan gitar sebagai alat.

Demikian pula manusia.

Tubuh adalah jasad. Otak adalah perangkat yang luar biasa rumit. Tetapi apakah seluruh hakikat manusia dapat direduksi menjadi tubuh dan otaknya?

Pertanyaan itu membawa kita kepada wilayah yang lebih dalam: roh.

Bagi kalangan yang memandang kehidupan dari sisi rohani, roh bukan sekadar produk dari tubuh. Roh dipandang sebagai sesuatu yang datang dari alam yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh pengamatan inderawi. Ia menyertai tubuh selama kehidupan berlangsung, kemudian berpisah ketika datang kematian.

Dengan demikian, terdapat dua cara pandang.

Yang pertama mendahulukan tubuh lalu menjelaskan kehidupan dari sana.

Yang kedua melihat tubuh sebagai tempat berlangsungnya kehidupan yang digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam.

Manakah yang sepenuhnya benar?

Mungkin di sinilah manusia harus belajar merendahkan diri di hadapan misteri kehidupan.

Kehidupan: Tenunan yang Tak Terputus

Kehidupan laksana tenunan yang terus bersambung menjadi kain.

Kita melihat satu bagian kecil dari tenunan itu dan menyebutnya sebagai kehidupan kita. Padahal sebelum kita lahir, telah ada kehidupan yang mendahului kita. Setelah kita mati, kehidupan makhluk lain tetap berjalan.

Dari mana pangkal tenunan itu?

Dan ke mana ujungnya?

Kita tidak mengetahui seluruhnya.

Kita hanya menyaksikan satu bagian kecil dari perjalanan yang sangat panjang.

Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada satu titik yang disebut kematian.

Kematian tidak selalu datang seperti kilat yang menyambar. Dalam banyak keadaan, tubuh mengalami proses yang berlangsung bertahap. Fungsi-fungsi kehidupan melemah, organ-organ berhenti bekerja, dan akhirnya tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kehidupannya.

Para ahli kedokteran bahkan menemukan bahwa berbagai bagian tubuh tidak selalu berhenti pada saat yang persis sama. Ada fungsi tertentu yang dapat bertahan sesaat setelah fungsi lainnya berhenti.

Semua itu semakin memperlihatkan kepada kita betapa rumitnya kehidupan.

Kematian bukan sekadar satu titik yang sederhana.

Ia adalah batas antara satu keadaan dengan keadaan yang lain.

Makanan, Udara, dan Kehidupan

Lalu apa yang membuat manusia tetap hidup?

Kita membutuhkan udara. Kita membutuhkan air. Kita membutuhkan makanan. Tubuh membutuhkan berbagai zat untuk mempertahankan kehidupannya.

Otak pun membutuhkan oksigen. Ketika pasokan oksigen terhenti, fungsi otak akan terganggu dan akhirnya berhenti.

Karena itu, tidak mengherankan jika kondisi tubuh sangat memengaruhi kemampuan berpikir.

Anak yang kekurangan gizi dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Tubuh yang sakit dapat memengaruhi kejernihan pikiran. Kehidupan yang serba kekurangan dapat menghambat perkembangan manusia.

Maka tidak tepat jika kita memandang kecerdasan hanya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.

Di balik kemampuan berpikir terdapat tubuh yang harus dipelihara.

Namun sekali lagi, pertanyaan itu kembali:

Apakah tubuh yang sehat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh hakikat manusia?

Jika makanan, air, dan oksigen dapat menjaga tubuh tetap hidup, dari mana asal kesadaran yang membuat manusia bertanya tentang kehidupan itu sendiri?

Dari mana datangnya keinginan untuk mencari kebenaran?

Dari mana muncul rasa cinta, takut, harapan, cita-cita, dan kesadaran tentang baik dan buruk?

Di sinilah ilmu pengetahuan berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar tubuh.

Dari Sel Menjadi Manusia

Coba kita kembali kepada awal kehidupan manusia.

Sebelum menjadi manusia yang dapat berbicara, berjalan, berpikir, dan mencintai, manusia bermula dari sesuatu yang sangat kecil.

Sebuah pertemuan terjadi di dalam rahim.

Dari sana bermula proses yang panjang dan menakjubkan. Sel berkembang, membelah, dan membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Organ menjadi bagian dari tubuh. Perlahan-lahan terbentuklah manusia.

Dari sesuatu yang begitu kecil, lahirlah makhluk yang begitu kompleks.

Allah berfirman:

«“Dialah yang telah membentukmu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.”»

Maka renungkanlah.

Di dalam tubuh kita sendiri terdapat jutaan bahkan miliaran proses kehidupan yang berlangsung tanpa kita perintah secara sadar.

Kita tidak memerintahkan jantung untuk berdetak.

Kita tidak mengatur setiap tarikan napas.

Kita tidak memerintahkan sel untuk menjalankan tugasnya satu per satu.

Namun semuanya berlangsung.

Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas dirinya sendiri?

Manusia: Jutaan Kehidupan dalam Satu Kehidupan

Tubuh manusia sendiri merupakan suatu dunia yang sangat besar.

Di dalamnya terdapat begitu banyak sel. Sebagian tumbuh, sebagian bekerja, sebagian mengalami kerusakan, dan sebagian mati. Semua berlangsung dalam satu kesatuan yang kita sebut sebagai tubuh manusia.

Dengan demikian, dalam satu kehidupan terdapat berjuta-juta kehidupan.

Kita hidup, sementara di dalam diri kita berlangsung kehidupan yang jauh lebih kecil yang tidak pernah kita sadari.

Bahkan ketika kita melihat, mendengar, mencium, menyentuh, atau berjalan, ada proses-proses mikroskopis yang bekerja di balik semua itu.

Lalu tiba-tiba muncul sebuah kesadaran:

Bukankah manusia setiap hari mengalami kelahiran dan kematian dalam dirinya sendiri?

Ada sel yang lahir.

Ada sel yang mati.

Ada jaringan yang tumbuh.

Ada jaringan yang rusak.

Ada kekuatan yang bertambah.

Ada kekuatan yang berkurang.

Kita seakan-akan sedang menyaksikan gambaran kecil dari perjalanan hidup manusia secara keseluruhan.

Hari demi hari kita bertumbuh.

Hari demi hari pula kita bergerak menuju kematian.

Pintu yang Belum Terbuka Sepenuhnya

Ilmu pengetahuan terus berkembang. Manusia menemukan sel, memahami proses biologis, mempelajari otak, meneliti saraf, dan mencoba memahami bagaimana kehidupan berlangsung.

Tetapi setiap kali manusia menemukan satu jawaban, sering kali muncul pertanyaan baru.

Dahulu manusia mencari penjelasan tentang kehidupan melalui teori tertentu. Kemudian teori itu berkembang dan digantikan oleh teori yang lebih baru. Manusia menemukan berbagai mekanisme biologis, tetapi tetap menghadapi pertanyaan tentang asal-usul kehidupan dan hakikat kesadaran.

Kita menemukan prosesnya.

Tetapi apakah kita telah menemukan sumber terakhirnya?

Kita mengetahui bagaimana sebagian proses berlangsung.

Tetapi apakah kita telah mengetahui sepenuhnya mengapa kehidupan itu ada?

Di sinilah manusia seakan-akan berdiri di hadapan sebuah pintu yang setengah terbuka.

Kita dapat melihat sebagian dari apa yang ada di baliknya.

Tetapi kita belum mampu membuka seluruhnya.

Dan mungkin memang demikian kedudukan manusia.

Kita diberi akal untuk mencari, tetapi tidak diberi kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu.

“Karena Tidak Mendapat, Maka Telah Mendapat”

Pada akhirnya kita sampai kepada sebuah kesadaran yang sederhana tetapi dalam.

Kita tidak mengetahui zat Tuhan dengan penglihatan kita.

Kita tidak dapat mengurung-Nya dalam laboratorium.

Kita tidak dapat membedah hakikat-Nya dengan mikroskop.

Namun apakah karena kita tidak melihat-Nya berarti Dia tidak ada?

Justru dari jejak-jejak ciptaan-Nya kita mengenal keberadaan-Nya.

Kita tidak melihat angin, tetapi kita melihat daun bergerak.

Kita tidak melihat gaya gravitasi, tetapi kita melihat benda jatuh.

Kita tidak melihat hakikat kehidupan secara langsung, tetapi kita melihat kehidupan bekerja dalam diri kita setiap detik.

Maka, ketika manusia telah sampai pada batas pengetahuannya, ia bukan sedang kehilangan jawaban.

Ia justru sedang menemukan batas dirinya sendiri.

“Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita.”

Kita tidak mendapatkan hakikat Zat-Nya, tetapi kita mendapatkan kesadaran bahwa ada kekuasaan yang berada di luar kemampuan kita untuk menjangkaunya.

Ada Yang Mengatur.

Ada Yang Menghidupkan.

Ada Yang Menentukan.

Ada Yang Menyusun kehidupan dengan hikmah yang tidak seluruhnya mampu kita pahami.

Tenunan Takdir

Manusia bermula dari pertemuan dua unsur yang sangat kecil. Ia tumbuh di dalam rahim. Ia dilahirkan. Ia belajar berjalan. Ia belajar berbicara. Ia tumbuh, berpikir, mencintai, berjuang, berharap, mengalami kegagalan dan keberhasilan.

Kemudian ia menjadi tua.

Dan akhirnya ia mati.

Namun setiap manusia menempuh jalannya masing-masing.

Tidak ada dua kehidupan yang benar-benar identik.

Ada yang diberi kekuatan jasmani, tetapi sedikit kekayaan.

Ada yang diberi kecerdasan, tetapi diuji dengan penyakit.

Ada yang diberi harta, tetapi diuji dengan kehilangan.

Ada yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenteram.

Ada yang berjalan panjang.

Ada yang berjalan singkat.

Ada yang diuji dengan kesulitan sejak kecil.

Ada yang baru mengenal kesulitan ketika dewasa.

Semua itu seperti benang-benang yang berbeda warna, berbeda panjang, dan berbeda bentuk, tetapi ditenun dalam satu kain kehidupan.

Kita hanya melihat satu helai.

Allah melihat seluruh tenunan.

Maka, ketika kita melihat kehidupan orang lain dan merasa jalan mereka lebih mudah daripada jalan kita, mungkin kita sedang membandingkan satu helai benang dengan seluruh kain yang hanya Allah ketahui bentuk akhirnya.

Dan ketika kita merasa hidup kita terlalu berat, mungkin kita lupa bahwa kita sedang berada di tengah tenunan yang belum selesai.

Kita belum melihat gambar keseluruhannya.

Kita belum mengetahui ke mana setiap peristiwa akan membawa kita.

Karena itu, bukankah yang paling pantas bagi manusia adalah menjalani bagian hidupnya dengan kesadaran bahwa ia bukan pemilik mutlak kehidupan?

Ia hanyalah seorang musafir.

Ia datang melalui jalan yang telah dibentangkan.

Ia berjalan dengan bekal yang diberikan.

Ia menggunakan akal yang dianugerahkan.

Ia menikmati kehidupan yang dihidupkan oleh-Nya.

Dan pada saat yang telah ditentukan, ia akan berhenti.

Itulah hidup: sebuah tenunan yang terus berjalan, dari sesuatu yang tidak kita ketahui pangkalnya menuju suatu akhir yang pasti, sementara di sepanjang jalan manusia diajak untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah dalam dirinya sendiri.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (17) Dakwah (19) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (13) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (332) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (10) Nusantara (298) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (721) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (324) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)