basmalah Pictures, Images and Photos
01/12/22 - Our Islamic Story

Choose your Language

Kiai Mojo Sang Ideolog Perang Diponegoro Perang Diponegoro pada 1825-1830 merupakan suatu tonggak penting dalam sejarah nasional...

Kiai Mojo Sang Ideolog Perang Diponegoro


Perang Diponegoro pada 1825-1830 merupakan suatu tonggak penting dalam sejarah nasional Indonesia. Perang ini termasuk pertempuran besar yang pernah dialami Belanda selama masa penjajahannya di Nusantara.

Kaum Muslimin Jawa bersatu di bawah komando Raden Mas Antawirya atau Pangeran Harya Diponegoro (1785-1855). Akibat perang tersebut, penduduk Jawa yang gugur mencapai 200 juta jiwa. Sementara itu, pihak Belanda kehilangan 8.000 tentara totok dan 7.000 serdadu pribumi.

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro didukung banyak tokoh Muslim. Di antaranya adalah Kiai Mojo. Sosok yang dijuluki “tangan kanan” Diponegoro itu merupakan ulama yang ahli strategi. Dengan taktik perang gerilya yang dirumuskannya, pasukan Islam pun terus bergerak menggempur kekuatan Belanda.

Kiai Mojo lahir pada 1764 dengan nama Muslim Muhammad Halifah di Desa Mojo, Pajang, dekat Delanggu, Surakarta, Jawa Tengah. Ayahnya, Iman Abdul Ngarif merupakan seorang mubaligh terkenal.

Keraton setempat menganugerahkan kepada keluarga ini tanah perdikan di Desa Baderan dan Mojo, Pajang. Ibundanya, Raden Ayu Mursilah, merupakan adik perempuan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Artinya, antara Kiai Mojo dan Pangeran Diponegoro masih terikat hubungan kekerabatan.

Menurut Ahmad Baso dalam artikelnya, “Kiai Maja, Ahli Strategi dan Perang Gerilya dari Pesantren”, Muslim tumbuh dan berkembang dalam lingkungan santri. Pesantren yang diasuh ayahnya sangat disegani di Keraton Surakarta maupun Yogyakarta. Banyak putra-putri bangsawan yang nyantri di lembaga tersebut.

Saat berusia dewasa, Muslim menjadi sosok dai yang cukup berpengaruh khususnya di daerah Surakarta. Sepeninggalan ayahnya, ia meneruskan tugas almarhum sebagai guru agama. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari kawula biasa, tetapi juga keluarga ningrat. Sejak saat itu, namanya dikenal sebagai Kiai Mojo, sesuai dengan nama desa tempat kelahirannya.

 
Murid-muridnya tidak hanya berasal dari kawula biasa, tetapi juga keluarga ningrat.
  
Pada pertengahan Mei 1825, rezim kolonial Belanda menerapkan kebijakan pembangunan jalan. Rute proyek itu terbentang antara Yogyakarta dan Magelang. Dalam perkembangannya, patok-patok yang pembangunan jalan tersebut melintasi makam leluhur keraton, termasuk Pangeran Diponegoro.

Awalnya, penanggung jawab proyek itu menerima protes Diponegoro. Namun, patok-patok yang telah dicabut justru kembali dipasang. Alhasil, Pangeran Diponegoro menyuruh para pengikutnya untuk mengganti patok-patok itu dengan tombak sebagai simbol pernyataan perang.

Dalam perang ini, Kiai Mojo tidak hanya mendukung langsung perjuangan Pangeran Diponegoro. Ia bahkan berperan sebagai guru spiritual sekaligus panglima perangnya.

Pangeran Diponegoro memang sangat mengandalkan kemampuan Kiai Mojo dalam beberapa hal krusial, terutama yang terkait dengan keagamaan. Sebagai sosok ulama besar, Kiai Mojo diberi mandat untuk menanamkan keyakinan dan pengetahuan agama Islam kepada pasukan Diponegoro. Dalam menjalankan tugasnya, ia selalu berpegang teguh pada tuntunan kitab suci Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Kiai Mojo bergabung sejak hari pertama pasukan Diponegoro tiba di Goa Selarong. Ia turut serta bersama pasukan Islam tersebut untuk menjalankan siasat perang gerilya melawan Belanda.

Alasan utama Kiai Mojo ikut mengangkat senjata melawan Belanda adalah janji sang pangeran. Menurutnya, Diponegoro telah bersumpah akan membangun suatu pemerintahan Islam di Tanah Jawa.

“Percaya janji itu, saya langsung bergabung kepadanya,” kata Kiai Mojo.

 
Menurutnya, Diponegoro telah bersumpah akan membangun suatu pemerintahan Islam di Tanah Jawa.
  
Perkataan itu ditulis Kiai Mojo saat menjalani pembuangan oleh Belanda di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Sejarawan Inggris Peter Carey menemukan kesaksian Kiai Mojo itu dalam catatan yang ditulis ajudan Pangeran Diponegoro, Raden Mas Djojodiningrat.

Pada akhirnya, Kiai Mojo mengetahui tujuan sebenarnya dari Pangeran Diponegoro. Dia berpandangan ternyata sang pangeran hanya ingin mendirikan suatu kerajaan baru di Jawa. Kiai Mojo sendiri sudah mengajukan keberatan terhadap Pangeran Diponegoro. Keduanya lantas berdebat. Diponegoro sampai-sampai menyarankan Kiai Mojo untuk berhenti berperang.

Mobilitas tinggi

Sejak perang berkecamuk pada 1825, Kiai Mojo mendukung Pangeran Diponegoro sepenuhnya. Ia juga menggerakkan memobilisasi sanak keluarga dan sebagian besar pengikutnya di Pajang, Surakarta. Seorang mata-mata pernah dikirim khusus oleh Belanda untuk mengetahui lokasi dan peta kekuatan pasukan Diponegoro. Dalam salah satu laporannya, terkuak bahwa kunci kesuksesan strategi sang pangeran ialah peran krusial Kiai Mojo.

Sepanjang hidupnya, Kiai Mojo dikenal sebagai seorang ulama dengan mobilitas yang tinggi. Mengikuti tradisi santri kelana, ia mempunyai banyak relasi dan jaringan dengan pusat-pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga Bali.

Menurut Baso, Kiai Mojo juga pernah menjadi penghubung antara Keraton Surakarta dan Kerajaan Buleleng di Bali. Meskipun berbeda agama dan kepercayaan, antara komunitas pesantren Jawa dan Bali sudah terjalin hubungan yang saling mendukung setidaknya sejak abad ke-18.

Hal itu dibuktikan dari ikatan politik dan kebudayaan di antara mereka. Misalnya, Buleleng menjamin perlindungan atas kiai dan santri yang menyelamatkan diri ke Bali untuk menghindari penangkapan Kompeni Belanda. Selama di Pulau Dewata, kehidupan religi Muslimin pun tidak akan diusik. Beberapa kampung Muslim Jawa marak dijumpai antara lain di pesisir utara Bali.

Pemerintah kolonial sempat menangkap Kiai Mojo pada Juli 1812. Pembatasan kemudian diberlakukan kepada orang-orang pesantren yang sebelumnya bisa leluasa keluar-masuk keraton.

Alih-alih menumpasnya, Belanda kemudian berupaya membujuk Kiai Mojo agar mau bekerja sama. Sebab, mobilitas diri dan jejaringnya dinilai ampuh untuk mengatasi perlawanan Pangeran Diponegoro.

Atas ajakan ini, Kiai Mojo secara tegas menolaknya. Setelah bebas, ia terus menggerakkan perjuangan gerilya untuk melumpuhkan kekuatan Kompeni. Dengan siasat yang licik, pada 12 November 1828, Belanda lagi-lagi menangkap Kiai Mojo. Kali ini, penangkapan itu terjadi di Desa Kembang Arum, utara Yogyakarta.

Pasukan Kiai Mojo lalu digiring ke Klaten, sambil menyanyikan bersama-sama lagu-lagu keagamaan yang menunjukkan tanda kemenangan. Mereka lalu dibawa ke Batavia dan ditahan hingga setahun lamanya. Absennya Kiai Mojo dalam dinamika perang menandai titik balik perjuangan Diponegoro, hingga akhirnya meredup pada 1830.

Pada awal 1830, Kiai Mojo bersama lebih dari 60 orang pendampingnya dibuang Belanda ke Minahasa. Istrinya menyusul setahun kemudian. Kebanyakan pendampingnya itu memiliki peranan yang strategis dalam bidang kemiliteran dan keagamaan sewaktu masih begerilya mendukung Diponegoro. Tak sedikit yang termasuk kalangan bangsawan atau agamawan. Mulai dari gelar tumenggung, dipati, basah, hingga kiai.

Kiai Mojo dan rombongannya tiba di Tondano. Banyak pengikutnya yang kemudian menikah dengan perempuan lokal. Akhirnya, terbentuklah komunitas baru yang menamakan tempat tinggalnya sebagai Kampung Jawa. Hingga kini, desa tersebut masih bertahan dengan tradisi ahlussunnah wa al-jama’ah (aswaja). Dari sumber-sumber terkini, Kiai Mojo disebut sebagai “Mbah Guru” atau “Kiai Guru”

Ahmad Baso menjelaskan, Kiai Mojo juga merupakan seorang yang memiliki pandangan nasionalis, “Amrih mashlahate kawulanίng Allah sedaya sarta amrίh karaharjane negari lestarίne agamί Islam,” demikian nasihatnya.

Artinya, “Berjuanglah untuk kepentingan, kemaslahatan para hamba Allah semua; untuk kesejahteraan negeri, serta untuk kepentingan lestarinya agama Islam.”

Bagi Ahmad Baso, pesan Kiai Mojo itu sangat kental semangat nasionalis. Oleh karena itu, ia berharap, generasi kini dan nanti dapat terus mengambil pelajaran dari perjuangan sang kiai. Bila Pangeran Diponegoro dianggap sebagai ikon perjuangan kaum pergerakan Indonesia, maka sudah sepatutnya ketokohan Kiai Mojo tak dilupakan. Sebab, dialah ideolog dalam Perang Diponegoro.

Ahmad Baso mengungkapkan, ada beberapa manuskrip yang mengabadikan riwayat kehidupan Kiai Mojo. Di antaranya adalah naskah yang disimpan pihak keturunan sang kiai di Jakarta. Manuskrip berbahasa Jawa huruf pegon itu ditulis oleh Kiai Mojo sendiri selama menjalani masa pembuangan di Tondano, Minahasa, sekitar awal 1833.

Buku De java Oorlog juga menghimpun berbagai laporan dan surat gerilya Kiai Mojo. Namun, lanjut Baso, surat-surat itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda; bukan lagi dalam versi aslinya yang berbahasa Jawa.

photoSetelah sempat dipindah-pindah oleh Belanda, Kiai Mojo dan para pengikutnya akhirnya dibuang di Minahasa, Sulawesi Utara. Hingga kini, sebagian keturunan sang kiai masih dapat dijumpai di sana.

Tak Sudi Berkongsi dengan Penjajah

Kiai Muslim Muhammad Halifah atau yang lebih dikenal sebagai Kiai Mojo merupakan seorang ulama pejuang. Ketokohannya mengemuka terutama dalam Perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 dan 1830.

Belanda sangat kewalahan dalam menghadapi perlawanan tersebut. Kompeni sampai-sampai menjalankan taktik devide et impera, yakni memecah belah persatuan lawan dengan bujukan dan tipu daya.

Belanda paham betul peranan Kiai Mojo dalam pertempuran ini. Beberapa kali pihaknya mengirimkan surat atau perantara kepada sang kiai. Pemerintah kolonial sangat berharap agar dirinya sudi berdamai. Ia pun diiming-imingi jabatan atau kedudukan bila mau berbalik melawan Pangeran Diponegoro.

Dengan semangat kepahlawanan, Kiai Mojo terus bertekad mengusir Belanda dari Pulau Jawa. Maka, segala bujuk rayu Belanda itu pun ditolaknya.

Selanjutnya, Belanda memulai strategi yang lebih keras. Hasilnya, pada akhir 1828, Kiai Mojo dapat ditangkap. Itu pun melalui suatu tipu muslihat yakni pura-pura menawarkan perundingan.

Setelah ditahan, Kiai Mojo lantas dibuang oleh pemerintah kolonial ke Minahasa, Sulawesi Utara.

Selama berada di pengasingan, Kiai Mojo menikah dengan penduduk setempat. Begitu pula dengan para pengikutnya. Sebab, mereka tidak membawa serta istri dalam menjalani hukuman tersebut.

Keturunan Kiai Mojo saat ini sampai pada generasi ketujuh. Mereka masih dapat dijumpai di sana hingga kini. Sebagian mereka terus merawat kompleks makam dan masjid yang menjadi peninggalan Kiai Mojo di Kampung Jawa Tondano, Minahasa.

Dalam masa pengasingannya, Kiai Mojo ditemani 62 orang pengikutnya yang kesemuanya adalah pria. Mereka berangkat dari Batavia (Jakarta) melalui Ambon dan tiba di Minahasa di Desa Kema Kecamatan Kauditan daerah pantai Timur Minahasa pada 1829.

Kiai Mojo dan pengikutnya pertama kali ditempatkan oleh pemerintah Belanda di Kaburukan, bagian selatan Kema. Selanjutnya, mereka dipindahkan ke sebelah utara, yaitu di kawasan Tasikoki atau Tanjung Merah.

Lagi-lagi, Kiai Mojo dan para pengikutnya diungsikan. Kali ini, tujuannya ke sebelah barat Sungai Tondano. Perpindahan itu dilakukan atas pertimbangan Belanda agar sang kiai tidak dapat melarikan diri.

Dalam pengasingannya tersebut, Kiai Mojo juga disertai beberapa ulama. Di antaranya adalah Kiai Teuku Madja, Tumenggung Pajang, Pati Urawan, Kiai Baduran, dan Kiai Hasan Bedari. Pada Desember 1849, Kiai Mojo wafat. Jenazahnya dimakamkan di Desa Wulauan, Kecamatan Tondano—tak jauh dari Kampung Jawa Tondano.

Makamnya terletak di atas sebuah bukit yang diberi nama Tondata. Jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari ibu kota Kabupaten Minahasa, Tondano.

Sumber:
https://www.republika.id/posts/10848/kiai-mojo-sang-ideolog-perang-diponegoro

Pohon Sawo Kecik dan Isyarat Jaringan Pengikut Diponegoro Pohon sawo kecik raksasa berdiri megah di depan Masjid Pathok Nagari P...

Pohon Sawo Kecik dan Isyarat Jaringan Pengikut Diponegoro


Pohon sawo kecik raksasa berdiri megah di depan Masjid Pathok Nagari Ploso Kuning, Yogyakarta. Di Pesantren inilah dahulu Pangeran Diponegoro kerap mengaji.

Selain tersurat dalam bentuk berbagai bangunan pesantren, jaringan ulama di wilayah selatan Jawa itu tersirat dalam bentuk tanaman pohon di halaman asrama para santri yang kerap di lazim di sebut pesantren. Sejarawan asal Inggris yang menekuni penulisan sejarah Pangeran Diponegoro, Peter Carey, pada suatu perbincangan mengungkapkan setelah Perang Jawa usai para pengikutnya menyebar sembari menaman pohon sawo di tempat tinggalnya.

''Pohon sawo itu tanda jaringan Pangeran Diponegoro. Bila kemudian muncul perintah untuk bergerak lagi, maka tinggal di cek siapa yang memerintahkannya itu. Dan bila di depan kediamannya ada pohon sawo maka itu jelas masih merupakan jaringannya,'' kata Carey.


Pesantren Abdul Kahfi Somalangu, Kebumen. lihat pohon sawo kecik yang ada di depannya. Pesantren ini adalah salah satu pesantren tertua di Jawa. Pendirinya adalah Syekh Abdul Kahfi dari Yaman. Pesantren ini mempunyai prasasti dengan angka tahun semasa dengan berdirinya kerajaan Islam Demak.

Pesantren Abdul Kahfi Somalangu, Kebumen. lihat pohon sawo kecik yang ada di depannya. Pesantren ini adalah salah satu pesantren tertua di Jawa. Pendirinya adalah Syekh Abdul Kahfi dari Yaman. Pesantren ini mempunyai prasasti dengan angka tahun semasa dengan berdirinya kerajaan Islam Demak.

Pesantren Abdul Kahfi Somalangu,Kebumen. lihat pohon sawo yang ada di depannya.Di kawasan Selatan Jawa itu, memang banyak sekali anak keturunan Pangeran Diponegoro yang menjadi ulama dengan mendirikan pesantren. Alhasil, di beberapa 'pesantren berpengaruh' di wilayah itu bisa ditemukan pohon sawo. Di Pesantren Al Kahfi Somalangu misalnya masih ditemukan pohon Sawo yang tua, baik jenis sawo kecik maupun sawo biasa.

''Pohon sawo keciknya baru saja di tebang terkena perluasan halaman pesantren. Sedangkan pohon sawo jenis yang biasa masih tumbuh subur di samping masjid,'' kata Hidayat Aji Pambudi, pengurus Yayasan Pesantren Al Kahfi.

Di tempat lain, misalnya di 'Masjid Pathok Negara' Ploso Kuning, Sleman Yogyakarta, pohon sawo kecik raksasa masih menjulang tinggi. Masjid yang dahulunya menjadi salah satu tempat mengaji Pangeran Diponegoro ketika menjadi santrai Kiai Mustofa yang mengasuh pondok tersebut. Pohon sawo itu masih bisa dilihat sampai sekarang (lihat foto di atas).

''Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Pohon sawo tampaknya digunakan sebagai 'perlambang' (isyarat) dari perintah untuk taat meluruskan shaf ketika hendak shalat: sawwu shufufakum (luruskan shafmu)' kata peneliti dunia pesantren di kawasan selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi. Sedangkan sawo kecik itu dmemberi pesan setelah meluruskan shaf (bersatu membentuk jaringan) jadilah orang yang 'becik' (baik).

Fahmi menceritakan, sebagai seorang kiai ayahnya selalu menasihatkan, dengan mengutip kalimat tersebut terutama ketika anak-anak selalu ribut saat akan shalat berjamah."Kata Ayah saya, ingat di depan masjid kita ada pohon sawo. Jadi, segera laksanakan shalat ketika kamu dengar imam memberi perintah luruskan atau rapikan Shafmu."

Beberapa cicit Pangeran Diponegoro atau kiai yang berdarah bangsawan keraton Yogyakarta yang kemudian menjadi ulama berpengaruh di wilayah ini adalah KHMuhammad Ilyas dan KH Abdul Malik (di Sokaraja), KH Badawi di Kesugihan, KH Masurudi (di Baturaden Purwokerto).

Bila demikian, wajar bila banyak pesantren tua yang ada di berbagai pesantren tua banyak di tanam pohon jenis sawo biasa atau sawo kecik yang ternyata itu isyarat adanya jaringan ulama. Dan dulu para kiai kerapkali memang menyuruh santrinya menanam pohon ini ketika hendak menamatkan masa pendidikannya. Sawo kecik dipilih selain buahnya manis karena juga punya sinonim dalam bahasa Jawa: sarwo becik (serba baik).

Pesantren Takeran, Magetan, Jawa Timur. Lihat suasana masjidnya sangat bernuaansa Jawa. Di depan pesantren ini tumbuh pohon sawo kecik. Pesantren ini didirikan oleh seorang pangeran dari Keraton Yogyakarta yang menjadi panglima perang pasukan Diponegoro.
Pesantren Takeran, Magetan, Jawa Timur. Lihat suasana masjidnya sangat bernuaansa Jawa. Di depan pesantren ini tumbuh pohon sawo kecik. Pesantren ini didirikan oleh seorang pangeran dari Keraton Yogyakarta yang menjadi panglima perang pasukan Diponegoro.
Di Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM) Takeran,Magetan Jawa Timur, pohon sawo kecik juga berdiri tegak menjulang tinggi persis di tengah halaman masjid. Pesantren yang didirikan salah satu panglima perang pasukan Diponegoro, Pangeran Kertopati, lagi-lagi menjadi bukti adanya simpul pergerakan atau 'jaringan Islam' di situ.

''Pohon sawo itu sudah ada dari dulu. Bahkan ketika saya lahir pohon itu sudah ada,'' kata Pengasuh Pondok Pesantren Takeran, KH Zakaria.Meski begitu dia mengaku tak tahu persis mengenai makna pesan yang terkait dari ditanamnya pohon tersebut.

''Seusai perang Diponegoro berakhir, Pangeran Kertopati berhasil bersembunyi di hutan yang ada di sekitar lereng Gunung Lawu. Setelah situasinya reda eyang saya mulai mendirikan langgar, yang kemudian oleh salah satu putranya, yakni KH Hasan pada tahun 1880 mulai dirintis dan dibesarkan menjadi pesantren hingga sekarang ini,'' ujar Zakaria.

Keliatan jaringan pergerakan Islam yang diisyaratkan oleh pohon sawo tua tersebut, pun telah dibuktikan oleh kiprah Pesantren Takeran itu. Bukti yang paling nyata adalah peran pesantren itu dalam masa menjelang dan masa awal kemerdekaan. Harap diketahui di pesantren itulah pendirian partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) digagas. Tak hanya itu berbagai pemikiran mengenai pembentukan dasar negara dari kelompok umat Islam yang akan dibawa ke rapat BPUPKI di pesantren inilah dulu dimatangkan.

''Istilahnya, di Pesantren Takeran ide itu diolah atau dimasak. Lalu ketika siap disajikan maka itu diajukan di Pesantren Tebu Ireng Jombang,'' kata Zakaria.

Dan sebagai pusat pergerakan Islam, tentu saja Pesantren Takeran kerap menjadi sorotan. Bukan hanya itu saja pesantren ini juga acapkali menjadi korban pergerakan politik. Di zaman pra kemerdekaan, selain punya hubungan emosional dengan 'pergulatan perang Jawa' (Perang Diponegoro), pesanren ini pernah menjadi melakukan perlawanan terhadap penguasa Kerjaan Mangkunegaran Solo karena bertindak sewenang-wenang. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1916-an.

Namun kisah yang paling tragis dari Pesantren itu terjadi pada masa awal kemerdekaan, tepatnya pada 17 September 1948. Saat itu gerombolan pemberontak PKI pimpinan Muso menyerbu dan menculik penghuni pesantren itu. Akibatnya, pengasuh pengasuh pondok dan beberapa santri hilang. Beberapa diantaranya jasadnya kemudian ditemukan disebuah lubang sumur tua yang berada di tengah perkebunan tebu.

''untuk Kiai Mursyid dan sesama kiai pesantren itu lainnya sampai kini jasadnya belum ditemukan,'' begitu tulis KH Abdurrahman Wahid, dalam sebuah tulisannya di Majalah Persepsi yang terbit pada tahun 1982.

Pesantren Takeran, Magetan, Jawa Timur. Lihat suasana masjidnya sangat bernuaansa Jawa. Di depan pesantren ini tumbuh pohon sawo.Namun, di masa kini isyarat pohon sawo meski bermakna dalam, namun mulai dilupakan. Hal inilah misalnya menimpa pesantren peninggalan Pahlawan Nasional asal Bekasi, KH Noer Alie. Beberapa bulan silam pohon sawo tua yang di depan pesantrennya itu dikabarkan ditebang.

Mendengar ini tentu saja membuat hati orang yang tahu makna pohon itu seperti teriris-iris. Isyarat pergerakan Islam rupanya tak dikenali lagi!

https://algebra.republika.co.id/posts/28266/pohon-sawo-kecik-dan-isyarat-jaringan-pengikut-diponegoro

Menghadirkan Syekh Abdul Qadir Jailani Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Menikmati buku-buku Syekh Abdul...

Menghadirkan Syekh Abdul Qadir Jailani

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Menikmati buku-buku Syekh Abdul Qadir Jailani seperti menikmati untaian obat hati. Seperti sedang membaca samudera hati. Seperti sedang memahami jiwa manusia.

Saya mencoba membandingkan tulisan para ulama salaf yang fokus pada pembersihan hati. Syekh Abdul Qadir Jailani, Imam Al Ghazali dan Ibnu Qayim. Ibnu Qayyim sangat teliti dari sisi Syariahnya. Al Ghazali sangat komprehensif mengkaitkan seluruh kiprah manusia. Syekh Abdul Qadir Jailani fokus tentang cinta. Cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah membuka semua rahasia kehidupan. Inilah titik sentral semua kebaikan.

Imam Ibnu Taimiyah memiliki kekaguman sendiri terhadap Syekh Abdul Qadir Jailani. Dia ulama yang penuh dengan karamah. Karamah-Karamah itu datang dari cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah inilah yang menyatukan kaum jelata, ulama dan penguasa berpadu mengusir bangsa Frank dari Baitul Maqdis yang dipimpin oleh Shalahuddin Al Ayubi.

Tak sengaja mendapatkan buku yang berisi ceramah-ceramah syekh Abdul Qadir Jailani di Majlis Ilmunya yang disampaikan dihadapan murid-muridnya. Seakan-akan saya sedang duduk di Majlis Syekh Abdul Qadir Jailani. Seakan sedang mendengarkan lisannya yang bersumber dari hati yang jernih, bersih dan khusyuk. Lisan seperti inilah yang bisa mengobati jiwa yang berkarat dan sekarat.

Tak sengaja mendapatkan buku  menyibak rahasia jiwa yang tersembunyi karangan syekh Abdul Qadir Jailani, membacanya seakan tengah membongkar jiwa saya yang kotor dan busuk yang tak pernah saya sadari. Membacanya seakan tengah dibimbing oleh dokter jiwa yang lembut dan penyayang.

Membaca sepak terjang Syekh Abdul Qadir Jailani dalam buku yang ditulis oleh Muhammad Ash Shalabi dalam era pemerintahan bani Saljuk dan Zanky. Membuka wawasan bagaimana beliau berkiprah dalam kancah intelektualitas, jihad, sosial kemasyarakatan dan perbaikan moralitas umat. Begitu komprehensif kiprah beliau. Dari hati yang bersih, dari cinta kepada Allah, dari kecintaan kepada manusia, melahirkan kiprah luar biasa.

Membaca buku para ulama salaf, membaca tulisan yang lahir dari cinta, ikhlas dan khusyuk  sangat menembus inti dan dinding jiwa. Revolusi diri berasal dari membaca dan mendengarkan untaian yang berasal dari tulisan dan lisan jiwa-jiwa yang ikhlas.

Tak Ada Ketakutan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tanda takwa, ada sakinah, ada ketentraman, ada keten...

Tak Ada Ketakutan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tanda takwa, ada sakinah, ada ketentraman, ada ketenangan. Tak ada yang bisa menggelisahkan dirinya. Tak ada yang bisa membuatnya takut.

Rasulullah saw di perang Badar, para Sahabat justru tertidur pulas. Saking tentramnya, malamnya ada sahabat yang bermimpi basah hingga harus mandi. Lalu Allah menurunkan air hujan untuk mensucikannya. Saat perang khandak, dikepung 10.000 tentara, para Sahabat justru berkata, "Inilah yang telah dijanjikan Allah." Rasa takut tak pernah menghantui orang yang bertakwa.

Takut memulai bisnis? Takut bertemu dengan seseorang? Takut miskin? Takut dicemooh? Takut dikucilkan? Takut bangkrut? Berarti masih ada selain Allah dalam hati. Teruslah melangkah. Enyahkan rasa takut. Namun tetap berjalan di rel-rel sunatullah kehidupan. Itulah keseimbangan orang bertakwa. Jangan seperti babi, berani tapi memiliki perhitungan. Dalam keberanian ada perhitungan. Jangan berhitung yang menyebabkan ketakutan.

Rasulullah saw sudah tahu bahwa dia akan terpojok di perang Uhud. Namun apakah diam tak berperang? Rasulullah saw tetap melangkah. Rasulullah saw merancang strategi untuk mengurangi resiko. Kekalahan tak perlu ditakutkan. Resiko sebuah perjalanan harus ditanggung. Kesulitan dan kepayahan dari sebuah keputusan harus dijalani. Karena kenikmatan itu ada dalam peluh-peluh perjuangan. Kenikmatan itu tidak pada kesenangan dan pesta pora. Kenikmatan itu ada dalam perjalanan.

Rasulullah saw sudah tahu bahwa para Sahabat akan tertahan di perang Mu'tah karena harus menghadapi ratusan ribu tentara Romawi. Apakah mundur? Yang dipikirkan apa yang disiapkan? Apa strateginya? Bagaimana kematian semua panglima terbaiknya takkan bisa mengacaukan barisan kaum muslimin? Rasulullah saw yang sudah paham akan terjadi kekalahan saja terus maju dengan beragam strategi untuk mengurangi efek buruk dari kekalahan? Sedangkan kita, belum tahu ditakdirkan kekalahan mengapa harus takut? Ikhtiar manusia hanya bisa mengurangi resiko, tapi jangan pernah takut melangkah.

Takut melangkah dengan sudah berfikir berbagai keburukan yang pasti terjadi, berarti telah berburuk sangka kepada Allah. Berarti, sudah melampui Kemahakuasaan Allah. Seperti kaum Bani Israel yang merasa pasti kalah dengan bangsa Palestina saat nabi Musa mengajaknya masuk ke Palestina setelah diburu oleh Firaun.

Bila ada keyakinan, namun takut menghantui, maka tetaplah melangkah, definiskan berbagai macam ketakutan tersebut. Lalu buatlah  strategi yang bisa mengurangi dampaknya, setelah itu melangkahlah. Setelah itu bertawakallah.

Sesungguhnya buah dari iman adalah sakinah, ketenteraman dan ketenangan dalam berbagai situasi.

Yang Dibanggakan, Semuanya Dari Tanah Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tanah, itulah asal kita. Andai A...

Yang Dibanggakan, Semuanya Dari Tanah

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Tanah, itulah asal kita. Andai Allah tak meniupkan ruh, manusia hanyalah seonggok bangkai yang bau dan menjijikkan. Temannya, belatung, cacing dan hewan yang menjijikan lainnya. Itulah yang layak menemani bagi yang menuhankan tampang fisik.

Rumah yang mewah dan megah, semuanya berasal dari tanah. Asset yang berbentuk properti hanyalah kreasi dari pasir, batu, besi, kayu yang semua digali dari tanah. Andai Allah tidak membekali manusia dengan imajinasi dan akal, manusia tak punya daya cipta dan kreasi. Akan dimana tempat tinggal manusia? Mungkin menjadi makhluk yang terhina karena tak memiliki kekuatan fisik seperti harimau, kerbau, unta dan makhluk lainnya.

Uang yang sering dikorupsi dan diperebutkan  hanyalah sebuah kertas yang diciptakan dari pepohonan. Uang hanyalah kertas, andai pemerintah tak mengakuinya sebagai alat tukar, uang hanyalah  mainan seorang anak kecil. Bisa jadi sebuah kertas yang indah karena ada gambarnya saja.

Mobil hanyalah besi, karet, plastik dan batu yang dikerasikan. Namun kita silau dengan desainnya saja. Andai manusia tak diberikan akal dan imajinasi, semua terpendam didalam bumi. Namun kita lebih menuhankan mobil dibandingkan bersyukur dengan yang memberikan akal.

Saling berbangga itulah yang membuat perekonomian hedonisme dan kapitalis tumbuh dan bergerak. Berlebih-lebihan itulah yang membuat apa yang diproduksi dan dikonsumsi manusia menghancurkan sumber daya yang seharusnya disiapkan bagi generasi berikutnya.

Apa yang dibanggakan manusia, pada hakikatnya berasal dari tanah. Makanan, minuman, sandang dan papan semuanya dari tanah. Yang berjiwa kerendahan akan membanggakan yang rendah. Yang rendah selalu berpoles dan berkamuflase untuk menutupi kerendahan dan kehinaannya.

Lihatlah semua yang telah dikonsumsi dan digunakan manusia. Bagaimana bentuknya? Kotoran dan kehancuran. Itulah hakikatnya. Apa yang dibanggakan manusia akhirnya menjadi kotoran, sampah dan kehancuran. Manusialah pencipta sampah-sampah di semesta ini.

Mana yang lebih berharga, kotoran hewan atau manusia? Mana yang lebih wangi keringat rusa, aroma bunga atau keringat manusia? Mana yang lebih indah, kulit hewan atau manusia? Cobalah bandingkan manusia dengan yang lainnya. Andai bukan anugerah tiupan ruh dan akal, apa jadinya manusia ini? Namun mengapa kedurhakaan pada Allah masih terus melekat?

 Taruhlah dunia dalam hati sesuai dengan tempatnya. Berfikirlah terhadap dunia sesuai dengan kedudukannya. Medan kehidupan dunia untuk apa? Itulah yang harus selalu ditanyakan pada hati kita.

Apa itu Hati, Heart Atau Liver? Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hati itu heart bukan liver. Itulah car...

Apa itu Hati, Heart Atau Liver?

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hati itu heart bukan liver. Itulah cara memahami hati versi barat.  Para ulama salaf  banyak yang berpendapat bahwa hati itu jantung. Karena jantung titik sentral tubuh manusia. Menurut pakar dari Universitas Hawai dan Arizona, Jantung mempengaruhi aktifitas listrik otak. Jantung memiliki kekuatan untuk menyimpan dan mengolah informasi.

Institute of Heart Math  melakukan penelitian bahwa sinyal-sinyal jantung dikirimkan ke otak untuk mempengaruhi persepsi, pengolahan emosi, dan fungsi-fungsi kognitif lainnya.

Penelitian Institute of Heart Math, dalam pertumbuhan janin, pembentukan jantung lebih dahulu dari otak. Jantung memiliki sistem syaraf yang dikirimkan ke otak untuk mempengaruhi pengalaman emosi dan informasi. Emosi positif membantu otak dalam kreatifitas, pemecahan masalah yang inovatif dan lebih baik serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Emosi negatif, membuat sistem syaraf terganggu.

Bila ingin mengetahui suara hati, di dada atau di kepala? Bila ingin mendengarkan berbagai bisikan dan was-was, di dada atau di kepala? Bila memiliki niat dan keinginan, suaranya di dada atau kepala? Di balik dadalah sentral manusia. Kepala atau otak hanya menjalankan apa yang diperintahkan dari balik dada. Bagaimana menyehatkan apa yang dibalik dada manusia? Hanya Allah yang paham akan hal ini. Allah telah tuntas menjelaskan melalui Firman-Nya, Sabda Rasulullah saw dan para Ulama yang fokus pada Tazkiyatul Nafs.

Manusia hanya bisa meningkatkan kapasitas dan kapabelitas diri yang sempurna dan tepat hanya dengan bertakwa, taat kepada Allah, Rasulullah dan orang yang beristiqamah pada jalan Allah. Takwalah yang bisa menghidupkan, membersihkan dan mendidik hati manusia. Takwa itu adanya di dada, begitulah Rasulullah saw bersabda.

Kemudahan Rezeki dan Kehancuran Bangsa Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Rezeki tak berkaitan dengan kep...

Kemudahan Rezeki dan Kehancuran Bangsa

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Rezeki tak berkaitan dengan kepintaran, keturunan, sekolah dan gelar. Rezeki berkaitan dengan sikap mental.

Allah memaparkan kaitan sikap mental dengan keberlimpahan rezeki dan kemakmuran dibeberapa ayat. Surat Nuh ayat 10-12, dengan istighfar Allah akan memperbanyak harta, anak, kebun-kebun, dan dimunculkannya mata air dan sungai.

Dalam Al A'raaf ayat 96, Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi. Dalam Al Maidah ayat 65-66, Allah akan memberikan makanan dari atas dan bawah kaki manusia. Dalam Huud ayat 2-3, Allah akan memberikan kenikmatan yang baik terus-menerus hingga waktu yang tentukan. Sangat mudahnya rezeki itu mengalir dan berlimpah. Namun mengapa terasa rezeki itu sempit?

Sayid Qutb dalam tafsir Fizilalil Quran mengatakan bahwa kaidah yang ditetapkan oleh Al Qur'an dalam beberapa tempat yang terpisah menunjukkan sebuah kaidah yang tepat, yang menjadi tumpuan sebab-sebab segala sesuatu yang dijanjikan Allah dan sunnah kehidupan, sebagaimana kenyataan praktis yang dapat disaksikan realisasinya sepanjang masa.

Bagaimana sebuah kemakmuran yang tidak didasari oleh istighfar dan takwa? Ini sebuah penjerumusan oleh Allah. Menurut Sayid Qutb, kemakmuran seperti ini pada akhirnya terserang penyakit, dimakan bencana krisis sosial, krisis moral, kezaliman, kesewenangan dan pelecehan terhadap harkat manusia.

Barat dengan kemakmurannya, masyarakatnya mengalami krisis moral hingga ke tingkatan yang lebih rendah dari binatang. Sedang komunis, nilai kemanusiaan melorot ketingkat lebih rendah daripada budak, kehidupannya selalu diawasi mata-mata, hidup dalam ketakutan dan pembantaian yang berkepanjangan. Begitulah Sayid Qutb menjelaskannya.

Berbagai bangsa dan negri sudah hancur dengan kemakmuran tanpa dasar istighfar dan takwa. Berbagai bangsa dan negri hancur dalam kemiskinan tanpa dasar istighfar dan takwa. Tanpa dasar istighfar dan takwa, baik kemakmuran dan kemiskinan akan menghancurkan baik itu umat, bangsa maupun pribadi. Itulah hukum kehidupan.

Betapa mudahnya manusia untuk hidup makmur dalam ketentraman dan keamanan. Betapa mudahnya manusia hidup sejahtera dalam perlindungan Allah, namun mengapa memilih jalan dengan pengingkaran dan perlawanan terhadap Allah?

Ikrar Kehidupan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Hidup itu amanah. Waktu itu amanah. Banyak amanah kehi...

Ikrar Kehidupan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Hidup itu amanah. Waktu itu amanah. Banyak amanah kehidupan yang menjadi tanggungjawab kita. Gunung yang kuat dan kokoh tidak sanggup memikul amanah. Manusia yang mengambil amanah tersebut.

Banyak hal yang tak disadari oleh kita. Sebelum dilahirkan ke dunia, kita sudah berikrar dihadapan Allah. Berikrar menyembah dan taat kepada Allah. Berikrar menjaga dan menjalankan amanah kehidupan yang gunung tak sanggup menjalankannya. Atas dua komitmen inilah kita dihadirkan oleh Allah di muka bumi ini.

Saat dunia berhias dengan kenikmatan harta, kekuasaan dan syahwat. Saat dunia memunculkan sifat aslinya yang penuh dengan  kepayahan dan kegelisahan. Manusia melupakan ikrarnya dihadapan Allah. Manusia melalaikannya dan mengikuti setingan hasrat keduniaan.

Banyak yang terperosok dengan kenikmatan. Banyak yang terhina dengan kesempitan. Itulah takdir bagi yang melupakan ikrarnya dihadapan Allah.

Hidup ini adalah perjuangan dengan ikrar kita sendiri. Hidup ini untuk merealisasikan ikrar kita kepada Allah. Hidup ini menjaga dan mewujudkan sumpah kita kepada Allah. Karakter manusia memang sering mengabaikan dan melanggar ikrar dan sumpahnya sendiri.

Allah menghukum manusia, karena manusia mengkhianati ikrar dan sumpahnya. Ada kesenjangan antara ikrar dengan realita perbuatannya, inilah yang dituntut oleh Allah. Diturunkan Nabi, Rasul dan Kitab Suci hanyalah pertolongan Allah agar manusia memiliki panduan untuk mengingatkan, menjaga, memudahkan dalam merealisasikan ikrar kehidupan tersebut. Menjaga dan mendidik manusia agar bisa merealisasikan ikrarnya. Masya Allah.

Ikrar kita selalu diulangi ketika shalat. Ketika baru bangun tidur, ketika sedang sibuk dan kelelahan dan ketika akan tidur. Itulah cara Allah agar manusia teringat terus akan janji kehidupannya. Walau kita tak maksimal merealisasikan ikrar tersebut, minimal kita selalu mengingatnya. Inilah yang bisa mengendalikan tarikan nafsu syahwat keduniaan.

Mari kita ingat kembali ikrar kita  dihadapan Allah. Ikrar untuk taat pada Allah dan merealisasikan amanah kehidupan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (199) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (216) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (166) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (428) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)