basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Al-Qur’an

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Al-Qur’an. Tampilkan semua postingan

Kitab Allah yang Tersurat dan yang Terlihat Bagaimana manusia mengenal Allah? Apakah cukup hanya dengan membaca Al-Q...

Kitab Allah yang Tersurat dan yang Terlihat



Bagaimana manusia mengenal Allah?

Apakah cukup hanya dengan membaca Al-Qur'an?

Ataukah cukup hanya dengan mengagumi keindahan alam semesta?

Sesungguhnya Al-Qur'an mengajarkan bahwa ma'rifatullah—mengenal Allah—tidak dibangun hanya melalui satu jalan. Allah membuka dua "kitab" yang sama-sama dapat dibaca oleh manusia: kitab yang tersurat dan kitab yang terlihat.

Yang pertama adalah Al-Qur'an, wahyu yang dibaca, didengar, dipahami, dan ditadabburi.

Yang kedua adalah alam semesta, ciptaan Allah yang terbentang luas dan dapat disaksikan oleh siapa saja.

Keduanya saling menguatkan. Yang satu berbicara dengan wahyu, yang lain berbicara dengan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Mengenal Allah Melalui Alam Semesta

Pernahkah kita bertanya, mengapa Al-Qur'an begitu sering mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, lautan, hujan, tumbuhan, hewan, bahkan diri manusia sendiri?

Allah berfirman:

«"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan muatan yang bermanfaat bagi manusia... terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
(QS. Al-Baqarah: 164)»

Dan firman-Nya:

«"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."
(QS. Ali 'Imran: 190)»

Mengapa Allah berulang kali mengarahkan pandangan manusia kepada alam?

Karena seluruh alam semesta adalah ayat-ayat Allah yang terlihat.

Setiap ciptaan merupakan jejak dari perbuatan-Nya.

Dan setiap perbuatan menunjukkan sifat-sifat Sang Pencipta.

Mengenal Allah Melalui Al-Qur'an

Namun, apakah mengamati alam saja sudah cukup?

Tidak.

Allah juga memerintahkan manusia untuk merenungi wahyu-Nya.

Firman-Nya:

«"Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an?"
(QS. An-Nisa': 82)»

Dan firman-Nya:

«"Tidakkah mereka menghayati firman Allah?"
(QS. Al-Mu'minun: 68)»

Serta firman-Nya:

«"Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya."
(QS. Shad: 29)»

Jika alam mengajak manusia melihat kebesaran Allah dengan mata, maka Al-Qur'an mengajak manusia melihatnya dengan hati dan akal.

Karena itu, seorang mukmin tidak cukup hanya membaca Al-Qur'an tanpa memperhatikan alam, dan tidak cukup pula mengagumi alam tanpa bimbingan wahyu.

Apa yang Diajarkan Alam Tentang Allah?

Setiap ciptaan selalu menunjukkan adanya Pencipta.

Sebuah bangunan menunjukkan adanya pembangun.

Sebuah lukisan menunjukkan adanya pelukis.

Lalu mungkinkah alam semesta yang jauh lebih sempurna hadir tanpa Sang Pencipta?

Mustahil.

Keberadaan ciptaan menuntut adanya Zat yang hidup, berilmu, berkehendak, berkuasa, dan mampu bertindak sesuai kehendak-Nya.

Tidak mungkin suatu perbuatan lahir dari sesuatu yang tidak ada.

Tidak mungkin pula lahir dari sesuatu yang ada tetapi tidak memiliki ilmu, kehendak, atau kekuasaan.

Karena itu, setiap fenomena alam sesungguhnya sedang memperkenalkan sifat-sifat Allah kepada manusia.

Apa yang Diceritakan Ciptaan-Ciptaan Allah?

Ketika kita melihat keragaman makhluk yang begitu menakjubkan, bukankah itu menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak yang bebas?

Ketika kita menyaksikan keteraturan alam yang penuh manfaat, bukankah itu menunjukkan hikmah dan kebijaksanaan-Nya?

Ketika hujan turun menyuburkan bumi, tumbuhan tumbuh memberi kehidupan, udara menopang seluruh makhluk, dan matahari memberi cahaya tanpa meminta balasan, bukankah semua itu memperlihatkan kasih sayang Allah?

Sebaliknya, ketika Al-Qur'an mengisahkan kehancuran kaum-kaum yang durhaka, bukankah itu menunjukkan keadilan dan murka-Nya terhadap kezaliman?

Ketika Allah memuliakan hamba-hamba yang taat dengan pertolongan dan kemenangan, bukankah itu menjadi bukti cinta-Nya kepada orang-orang beriman?

Dan ketika manusia dibiarkan tenggelam dalam kesombongannya hingga menuai akibat perbuatannya sendiri, bukankah itu menunjukkan bahwa Allah membenci kezaliman?

Alam Mengajarkan Kehidupan Setelah Kematian

Ada pertanyaan yang sering muncul sejak dahulu.

Bagaimana mungkin manusia yang telah menjadi tanah akan dibangkitkan kembali?

Allah menjawabnya melalui alam.

Bukankah bumi yang kering dapat hidup kembali setelah hujan turun?

Bukankah sebutir benih yang tampak mati mampu tumbuh menjadi pohon yang besar?

Bukankah manusia sendiri memulai kehidupannya dari setetes air yang sangat lemah, kemudian tumbuh menjadi makhluk yang sempurna, lalu kembali menjadi lemah sebelum akhirnya meninggal?

Jika Allah mampu menciptakan semua itu, apakah membangkitkan manusia setelah kematian merupakan sesuatu yang mustahil?

Alam setiap hari sedang memberikan jawabannya.

Rahmat Allah di Balik Kehidupan

Orang yang mengenal Allah melalui kedua kitab-Nya akan memandang hidup secara berbeda.

Ketika nikmat datang, ia melihat kasih sayang Allah.

Ketika musibah datang, ia tetap melihat kasih sayang Allah.

Mengapa?

Karena ia percaya bahwa tidak ada satu pun ketetapan Allah yang sia-sia.

Kasih sayang Allah tidak selalu hadir dalam bentuk kemudahan.

Sering kali ia hadir dalam bentuk ujian yang menguatkan jiwa.

Orang yang saleh mampu melewati berbagai musibah dengan ketegaran karena hatinya sibuk menyaksikan hikmah Allah, bukan tenggelam dalam penderitaan semata.

Al-Qur'an dan Alam Saling Membenarkan

Allah berfirman:

«"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga menjadi jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."
(QS. Fushshilat: 53)»

Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat indah.

Al-Qur'an menjelaskan alam.

Alam membenarkan Al-Qur'an.

Keduanya berasal dari Allah Yang Maha Esa.

Karena itu, tidak mungkin terjadi pertentangan antara wahyu yang benar dan alam ciptaan-Nya.

Semakin manusia memahami keduanya, semakin kokohlah keyakinannya kepada Allah.

Allah Adalah Bukti atas Diri-Nya Sendiri

Pada akhirnya, mungkinkah Allah memerlukan bukti sebagaimana makhluk memerlukan bukti?

Seorang ulama pernah berkata dengan ungkapan yang sangat indah:

«"Bagaimana aku mencari bukti tentang Allah, sedangkan Dia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu? Bukti apa pun yang aku cari, keberadaan Allah jauh lebih nyata daripada bukti itu sendiri."»

Karena itulah para rasul berkata kepada umatnya:

«"Apakah masih ada keraguan terhadap Allah?"
(QS. Ibrahim: 10)»

Sesungguhnya Allah adalah Zat yang paling nyata.

Segala sesuatu dikenal karena Dia.

Walaupun manusia mengenal-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya, pada hakikatnya seluruh ciptaan itu hanyalah jendela yang memperlihatkan kebesaran Sang Pencipta.

Penutup

Semakin seseorang mentadabburi Al-Qur'an, semakin ia mampu membaca alam.

Semakin ia memperhatikan alam, semakin ia memahami Al-Qur'an.

Kedua "kitab" itu tidak pernah saling bertentangan.

Al-Qur'an adalah kitab Allah yang tersurat.

Alam semesta adalah kitab Allah yang terlihat.

Keduanya sama-sama mengajak manusia menuju satu kesimpulan yang agung: bahwa Allah Maha Ada, Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, dan Maha Benar.

Maka, mengenal Allah bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan belajar melihat jejak-Nya pada setiap ayat yang dibaca dan pada setiap ciptaan yang disaksikan.

Metode Penceritaan dalam Al-Qur'an dan Urgensinya Kisah-kisah da...

Metode Penceritaan dalam Al-Qur'an dan Urgensinya

Kisah-kisah dalam Al-Qur'an tidak disampaikan secara acak. Setiap kisah ditempatkan pada surah dan konteks yang paling sesuai dengan tema yang sedang dibangun. Karena itu, pemaparannya selalu relevan dengan situasi, sasaran dakwah, dan pesan yang hendak ditegaskan.

Relevansi inilah yang menentukan panjang-pendeknya sebuah kisah, bingkai peristiwanya, cara pelukisannya, serta metode penyampaiannya. Akibatnya, setiap kisah menyatu dengan suasana kejiwaan ayat-ayat di sekitarnya, selaras dengan alur pemikiran yang sedang dibangun, dan memperkuat keindahan bahasa Al-Qur'an. Dengan demikian, tujuan tematis, pengaruh psikologis, dan irama sastranya dapat tercapai secara utuh.

Sebagian orang mengira bahwa Al-Qur'an banyak mengulang kisah yang sama karena suatu peristiwa diceritakan kembali dalam beberapa surah. Padahal, jika dicermati dengan teliti, tidak ada satu pun kisah atau episode yang diulang secara persis, baik dari segi cakupan maupun metode penyampaiannya. Setiap pengulangan selalu menghadirkan sudut pandang, penekanan, atau pelajaran baru yang sesuai dengan konteks surahnya. Oleh sebab itu, yang tampak sebagai pengulangan sesungguhnya adalah penyempurnaan makna dan pengayaan pesan.

Ada pula yang beranggapan bahwa pengulangan tersebut semata-mata bertujuan memperindah gaya bahasa dan memenuhi nilai sastra, tanpa memiliki hubungan dengan realitas. Anggapan ini tidak tepat. Siapa pun yang membaca Al-Qur'an dengan hati yang jernih akan melihat bahwa penempatan setiap kisah sepenuhnya ditentukan oleh keterkaitannya dengan tema pembahasan. Demikian pula metode penyampaiannya selalu disesuaikan dengan tujuan dakwah yang sedang dibangun pada bagian tersebut.

Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah, kumpulan cerita, atau karya sastra. Al-Qur'an adalah kitab petunjuk, kitab dakwah, pedoman hidup, undang-undang Ilahi, dan manhaj kehidupan. Karena itulah kisah-kisah yang dipilih di dalamnya disampaikan dengan ukuran, bentuk, dan metode yang paling sesuai untuk mendukung tujuan dakwah. Keindahan sastranya bukanlah hasil rekayasa atau hiasan bahasa semata, melainkan lahir dari perpaduan antara kebenaran yang kokoh, penyampaian yang indah, dan pesan yang mendalam.

Kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an menampilkan perjalanan panjang iman sepanjang sejarah manusia. Melalui kisah-kisah itu, Al-Qur'an menggambarkan dakwah para rasul kepada umatnya, beragam respons manusia terhadap seruan tauhid dari generasi ke generasi, serta berbagai bentuk ujian yang mereka hadapi dalam menegakkan kebenaran.

Di sisi lain, kisah-kisah tersebut memperlihatkan hakikat keimanan yang hidup dalam jiwa para nabi, sekaligus menggambarkan hubungan mereka yang begitu dekat dengan Allah yang telah memilih dan memuliakan mereka dengan risalah. Mengikuti perjalanan para nabi melalui kisah-kisah Al-Qur'an akan menumbuhkan ketenangan, kejernihan hati, serta penghargaan yang semakin tinggi terhadap nilai keimanan sebagai unsur paling mulia dalam kehidupan manusia.

Lebih dari itu, kisah-kisah Al-Qur'an membentuk tashawwur imani (cara pandang yang berlandaskan iman). Melalui kisah-kisah tersebut, Al-Qur'an membedakan secara tegas antara pola pikir yang dibimbing wahyu dan berbagai pola pikir lain yang menyimpang dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, kisah-kisah Al-Qur'an bukan sekadar pelengkap isi kitab suci, melainkan merupakan salah satu pilar utama dakwah Al-Qur'an dalam membangun akidah, membentuk karakter, dan mengarahkan kehidupan manusia menuju jalan yang benar.


Sumber;
Sayid Qutb, Tafsir Fizhilalil Qur'an, GIP, 2008, Hal.66

Akidah dan Kemerdekaan yang Sempurna "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolo...


Akidah dan Kemerdekaan yang Sempurna

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."

«إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."
(QS. Al-Fātiḥah: 5)»

Apakah kebebasan manusia hanya berarti bebas memilih, bebas berbicara, atau bebas memiliki harta?

Ataukah kemerdekaan yang sejati justru dimulai ketika hati tidak lagi diperbudak oleh siapa pun selain Allah?

Ayat kelima Surah Al-Fātiḥah merupakan inti dari seluruh ajaran tauhid. Setelah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Penguasa Hari Pembalasan, manusia diajarkan bagaimana seharusnya merespons semua pengenalan itu.

Jawabannya bukan sekadar pengakuan di lisan, melainkan sebuah ikrar yang diulang setiap hari dalam setiap rakaat salat:

«"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."»

Kalimat ini bukan sekadar doa. Ia adalah deklarasi akidah, pernyataan loyalitas, sekaligus manifesto kemerdekaan seorang mukmin.

Tauhid yang Membebaskan Manusia

Mengapa Allah mendahulukan kalimat iyyāka (hanya kepada-Mu)?

Dalam balaghah Arab, mendahulukan objek menunjukkan pembatasan (qaṣr). Artinya, ibadah benar-benar dikhususkan hanya kepada Allah. Demikian pula permohonan pertolongan hanya ditujukan kepada-Nya.

Karena itu, seorang muslim tidak boleh menjadikan apa pun sebagai sesembahan selain Allah, baik berupa manusia, kekuasaan, harta, ideologi, maupun hawa nafsu.

Di sinilah letak kemerdekaan manusia yang sesungguhnya.

Selama hati masih bergantung kepada makhluk, manusia belum benar-benar merdeka. Ia bisa menjadi budak kekuasaan, budak popularitas, budak materi, bahkan budak pendapat manusia.

Namun ketika ia hanya tunduk kepada Allah, seluruh bentuk perbudakan itu runtuh dengan sendirinya.

Inilah makna terdalam dari tauhid.

Kemerdekaan dari Segala Bentuk Perbudakan

Sayyid Qutb menjelaskan bahwa ayat ini merupakan titik pemisah antara dua kehidupan.

Di satu sisi ada manusia yang hanya menghambakan diri kepada Allah.

Di sisi lain ada manusia yang diperbudak oleh berbagai kekuatan selain Allah.

Perbudakan itu tidak selalu berupa rantai besi.

Seseorang bisa diperbudak oleh ideologi yang sesat, tradisi yang keliru, sistem kehidupan yang menyalahi fitrah, bahkan oleh hawa nafsunya sendiri.

Tauhid datang untuk membebaskan manusia dari seluruh belenggu tersebut.

Ketika seorang mukmin mengucapkan, "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah," sesungguhnya ia sedang menyatakan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang berhak menguasai hati dan jiwanya selain Allah.

Mengapa Ibadah Didahulukan daripada Memohon Pertolongan?

Menariknya, ayat ini tidak berbunyi:

"Hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, lalu kami menyembah."

Tetapi justru:

"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."

Mengapa demikian?

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah adalah kewajiban manusia kepada Allah, sedangkan pertolongan merupakan karunia Allah kepada hamba-Nya.

Karena itu, seorang hamba diajarkan untuk mendahulukan kewajibannya sebelum memohon haknya.

Lebih menarik lagi, Al-Qur'an menggunakan kata "kami" (na'budu dan nasta'īn), bukan "aku."

Ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak berjalan sendirian. Ia merupakan bagian dari umat yang bersama-sama beribadah, saling menguatkan, dan memohon pertolongan kepada Allah.

Tauhid Melahirkan Ibadah, Ibadah Menguatkan Tauhid

Mengapa seseorang beribadah?

Karena ia mengenal Tuhannya.

Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin besar pula rasa syukur, cinta, takut, dan harap kepada-Nya.

Perasaan inilah yang melahirkan ibadah.

Sebaliknya, ibadah yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan semakin menguatkan tauhid di dalam hati.

Karena itulah tauhid dan ibadah tidak dapat dipisahkan.

Tauhid melahirkan ibadah.

Ibadah memelihara tauhid.

Hubungan keduanya saling menguatkan seperti akar dan batang sebuah pohon.

Ibadah yang Mengubah Akhlak

Ibadah dalam Islam bukan sekadar rangkaian gerakan lahiriah.

Ibadah adalah seluruh perkataan, perbuatan, dan niat yang dilakukan untuk mencari rida Allah.

Jika ibadah lahir dari keyakinan yang benar, maka ia akan mengubah perilaku pelakunya.

Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Puasa melatih kesabaran dan menumbuhkan empati kepada kaum miskin.

Zakat membersihkan jiwa dari sifat kikir.

Haji melatih persaudaraan dan pengorbanan.

Sebaliknya, ibadah yang hanya dilakukan sebagai rutinitas atau tradisi tanpa kehadiran hati akan kehilangan ruhnya.

Ia bagaikan patung yang menyerupai manusia, tetapi tidak memiliki kehidupan.

Seorang Mukmin Memandang Kekuatan dengan Cara yang Berbeda

Bagaimana seorang mukmin memandang kekuatan manusia?

Menurut Sayyid Qutb, kekuatan manusia hanya terbagi menjadi dua.

Pertama, kekuatan yang beriman kepada Allah dan berjalan di atas manhaj-Nya.

Kekuatan seperti ini harus didukung karena menjadi sarana menegakkan kebenaran.

Kedua, kekuatan yang memutus hubungan dengan Allah dan membangun kehidupan di atas kesesatan.

Sekuat apa pun tampaknya, kekuatan seperti ini sesungguhnya rapuh.

Mengapa?

Karena ia telah terputus dari sumber kekuatan yang hakiki, yaitu Allah.

Al-Qur'an mengingatkan:

«"Betapa banyak golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah."
(QS. Al-Baqarah: 249).»

Kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah, teknologi, atau kekuatan material.

Ia bergantung pada hubungan dengan Sang Pemilik seluruh kekuatan.

Alam Bukan Musuh Manusia

Bagaimana seorang muslim memandang alam?

Pandangan Islam sangat berbeda dengan pandangan yang melihat alam sebagai musuh yang harus ditaklukkan.

Menurut Sayyid Qutb, alam dan manusia sama-sama merupakan ciptaan Allah.

Keduanya tunduk kepada kehendak-Nya.

Karena itu hubungan manusia dengan alam seharusnya bukan hubungan permusuhan, melainkan hubungan persahabatan.

Allah sendiri berfirman:

«"Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya."
(QS. Al-Jātsiyah: 13).»

Ketika manusia mempelajari sunnatullah yang berlaku di alam semesta, sesungguhnya ia sedang membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Kemajuan ilmu pengetahuan bukanlah hasil "menaklukkan alam", melainkan buah dari memahami hukum-hukum Allah yang bekerja di alam.

Karena itu, setiap penemuan ilmiah semestinya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan.

Berusaha, Berdoa, dan Bertawakal

Lalu mengapa kita diperintahkan hanya meminta pertolongan kepada Allah, sementara pada ayat lain Allah memerintahkan kita saling tolong-menolong?

Tidak ada pertentangan.

Islam mengajarkan keseimbangan.

Manusia wajib berusaha semaksimal mungkin.

Ia diperintahkan bekerja, belajar, berikhtiar, bermusyawarah, dan saling membantu dalam kebaikan.

Namun, setelah seluruh ikhtiar dilakukan, seorang mukmin menyadari bahwa masih ada banyak hal di luar kemampuannya.

Ada sebab-sebab yang tidak diketahuinya.

Ada rintangan yang tidak mampu diatasinya.

Di sinilah ia mengangkat kedua tangannya kepada Allah.

Ia berdoa.

Ia memohon taufik.

Ia memohon hidayah.

Ia memohon pertolongan.

Lalu ia bertawakal kepada-Nya.

Inilah makna sejati dari firman Allah:

«"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan."»

Penutup

Setiap kali seorang muslim membaca ayat ini dalam salatnya, sesungguhnya ia sedang memperbarui janji kepada Allah.

Ia memperbarui tauhidnya.

Ia membebaskan dirinya dari segala bentuk penghambaan kepada makhluk.

Ia mengakui bahwa seluruh ibadah hanya untuk Allah, seluruh harapan hanya kepada Allah, dan seluruh pertolongan pada hakikatnya berasal dari Allah.

Inilah akidah yang melahirkan manusia yang merdeka.

Merdeka dari hawa nafsu.

Merdeka dari tekanan manusia.

Merdeka dari ketakutan kepada selain Allah.

Dan justru karena hanya tunduk kepada Allah, ia menjadi manusia yang paling kuat, paling tenang, dan paling bebas dalam menjalani kehidupan.

Saat Orang Kafir Mengatakan Bahwa di Akhirat Mereka Tetap Dianugerahi Harta dan Anak Apakah seseorang dapat memastikan nasibnya ...

Saat Orang Kafir Mengatakan Bahwa di Akhirat Mereka Tetap Dianugerahi Harta dan Anak

Apakah seseorang dapat memastikan nasibnya di akhirat hanya berdasarkan angan-angannya?

Apakah kekayaan di dunia otomatis menjamin kemuliaan di hadapan Allah pada hari kemudian?

Ataukah semua itu hanyalah kesombongan yang dibangun di atas dugaan tanpa ilmu?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab Allah dalam Surah Maryam ayat 77–81.

Kesombongan yang Berbicara Tanpa Dasar

Allah berfirman,

«"Lalu, apakah engkau melihat orang yang kufur terhadap ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, 'Di akhirat pasti aku akan diberi harta dan anak.'"
(QS. Maryam: 77).»

Ucapan ini bukanlah lahir dari keyakinan kepada hari akhir. Justru sebaliknya, ia merupakan ejekan kepada orang-orang beriman.

Dalam riwayat tafsir disebutkan bahwa ucapan ini berkaitan dengan seorang musyrik yang berutang kepada sahabat Khabbab bin Al-Aratt. Ketika ditagih, ia justru mengejek, "Kalau memang ada hari kebangkitan, nanti saja aku bayar di sana. Bahkan di akhirat aku akan memperoleh harta dan anak yang lebih banyak."

Betapa beraninya seseorang berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak ia yakini.

Ia mengingkari hari kebangkitan, tetapi sekaligus mengklaim mengetahui apa yang akan diterimanya pada hari itu.

Allah Mengajukan Pertanyaan yang Membungkam

Lalu Allah menjawab dengan dua pertanyaan yang tidak mungkin dapat dijawab oleh orang tersebut.

«"Apakah dia melihat yang gaib ataukah telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih?"
(QS. Maryam: 78).»

Pertanyaan ini mengguncang dasar kesombongannya.

Apakah ia mampu menembus alam gaib sehingga mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian?

Ataukah ia telah memperoleh jaminan langsung dari Allah bahwa dirinya pasti mendapatkan kenikmatan di akhirat?

Jawabannya tentu tidak.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.

Tidak ada pula orang yang dapat mengklaim memperoleh janji keselamatan dari Allah sementara ia sendiri mengingkari-Nya.

Maka atas dasar apa ia begitu yakin?

Setiap Ucapan Tidak Akan Pernah Hilang

Setelah membantah kesombongan mereka, Allah memberikan peringatan yang sangat tegas.

«"Sama sekali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya secara sempurna."
(QS. Maryam: 79).»

Tidak ada satu pun ucapan yang luput dari pencatatan.

Kesombongan, ejekan, kedustaan, dan klaim tanpa ilmu semuanya tercatat dengan sempurna.

Bahkan ucapan yang dianggap ringan oleh manusia dapat menjadi sebab beratnya azab di sisi Allah.

Ini menjadi pengingat bahwa lisan bukan sekadar alat berbicara, tetapi juga saksi yang kelak dipertanggungjawabkan.

Harta dan Anak Tidak Akan Menemani

Allah kemudian menyingkap kenyataan yang sering dilupakan manusia.

«"Kami akan mengambil kembali apa yang dia katakan itu (harta dan anak), dan dia datang kepada Kami seorang diri."
(QS. Maryam: 80).»

Selama hidup, manusia sering merasa kuat karena kekayaan.

Sebagian merasa aman karena banyak anak, keluarga besar, atau pengaruh yang luas.

Namun ketika kematian datang, semua itu tertinggal.

Tidak ada rumah yang ikut dibawa.

Tidak ada rekening yang menyertai.

Tidak ada jabatan yang dapat membela.

Bahkan anak-anak yang paling dicintai pun tidak mampu menggantikan amal orang tuanya.

Sebagaimana firman Allah,

«"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
(QS. Asy-Syu'ara: 88–89).»

Pada hari itu setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya, membawa amalnya masing-masing.

Mencari Kemuliaan kepada Selain Allah

Lalu mengapa mereka begitu yakin akan selamat?

Allah menjelaskan akar persoalannya.

«"Mereka menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan agar menjadi pembela mereka."
(QS. Maryam: 81).»

Kaum musyrik berharap berhala-berhala yang mereka sembah akan menjadi pelindung, pemberi syafaat, dan pembela mereka di hadapan Allah.

Mereka menggantungkan kemuliaan kepada sesuatu yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan.

Padahal kemuliaan sejati hanya berada di tangan Allah.

Apa pun yang dijadikan sandaran selain-Nya pada akhirnya akan mengecewakan.

Renungan

Rangkaian ayat ini mengajarkan bahwa kesombongan sering kali lahir dari angan-angan yang tidak memiliki dasar.

Seseorang merasa dirinya pasti selamat hanya karena kekayaan, keturunan, jabatan, atau kedudukan yang dimilikinya.

Padahal Allah bertanya,

"Apakah engkau mengetahui yang gaib?"

Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada kaum musyrik Mekah.

Ia juga menjadi cermin bagi setiap manusia yang terlalu percaya diri terhadap keselamatannya tanpa memperbaiki iman dan amalnya.

Sebab pada akhirnya, semua harta akan ditinggalkan.

Semua anak akan berpisah.

Semua jabatan akan berakhir.

Semua pembela akan menghilang.

Yang tetap tinggal hanyalah iman, amal saleh, dan hati yang bersih ketika menghadap Allah.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah,

"Berapa banyak harta yang akan aku miliki?"

atau,

"Siapa yang akan membelaku?"

Melainkan,

"Apa yang akan aku bawa ketika datang menghadap Allah seorang diri?"

Menjawab Kesombongan Orang Kafir yang Merasa Lebih Baik, Lebih Kaya, dan Lebih Terhormat Apakah kemewahan, kekayaan, dan status ...

Menjawab Kesombongan Orang Kafir yang Merasa Lebih Baik, Lebih Kaya, dan Lebih Terhormat

Apakah kemewahan, kekayaan, dan status sosial merupakan bukti bahwa seseorang berada di jalan yang benar?

Apakah rumah yang megah, lingkungan yang elit, dan banyaknya pengikut adalah tanda bahwa Allah meridai seseorang?

Pertanyaan semacam inilah yang pernah dilontarkan kaum musyrik Mekah kepada kaum Muslimin pada masa awal dakwah. Ketika ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak membantah isi wahyu dengan argumen ilmiah atau logika yang kuat. Sebaliknya, mereka mengalihkan pembicaraan kepada ukuran-ukuran duniawi.

Allah berfirman,

«"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggal dan lebih indah tempat pertemuannya?'"
(QS. Maryam: 73)»

Bagi mereka, kebenaran diukur dengan kemewahan. Mereka memandang kaum Muslimin sebagai kelompok kecil yang miskin, lemah, dan sering berkumpul secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam. Sebaliknya, mereka merasa berada di pihak yang benar karena memiliki rumah-rumah megah, kekuasaan, pengaruh, dan majelis-majelis yang dipenuhi tokoh-tokoh terkemuka Quraisy.

Logika mereka sederhana: "Kalau agama Muhammad benar, mengapa justru orang-orang miskin yang mengikutinya? Mengapa kami yang kaya dan terpandang tidak lebih dahulu beriman?"

Pola pikir seperti ini ternyata bukan hanya milik kaum Quraisy. Allah mengabadikannya pula dalam firman-Nya:

«"Sekiranya Al-Qur'an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak akan mendahului kami (beriman) kepadanya."
(QS. Al-Ahqaf: 11).»

Seolah-olah kekayaan adalah ukuran kebenaran.

Namun, bagaimana Allah menjawab kesombongan itu?

Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ membalas ejekan mereka dengan membanggakan kaum Muslimin. Allah justru mengajak mereka melihat sejarah.

«"Betapa banyak umat sebelum mereka telah Kami binasakan, padahal mereka lebih bagus perkakas rumah tangganya dan lebih indah dipandang mata."
(QS. Maryam: 74).»

Bukankah kaum 'Ad memiliki bangunan-bangunan megah?

Bukankah kaum Tsamud memahat gunung menjadi istana?

Bukankah mereka jauh lebih makmur daripada kaum Quraisy?

Lalu mengapa mereka tetap dibinasakan?

Karena kemewahan bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Keindahan kota, kecanggihan peradaban, kemajuan ekonomi, dan kemegahan bangunan tidak pernah menjadi jaminan keselamatan suatu bangsa. Yang menjadi ukuran adalah iman, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.

Lalu mengapa Allah tidak segera menghancurkan orang-orang yang sombong itu?

Allah menjawab:

«"Katakanlah, siapa yang berada dalam kesesatan, biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang waktu baginya..."
(QS. Maryam: 75).»

Penangguhan bukan berarti pembenaran.

Kelapangan rezeki bukan selalu tanda keridaan.

Panjang umur bukan berarti Allah menyetujui semua perbuatannya.

Kadang-kadang Allah memberi waktu agar manusia memiliki kesempatan untuk bertobat. Namun, apabila mereka terus tenggelam dalam kesombongan, pada akhirnya mereka akan menyaksikan sendiri siapa yang sebenarnya berada pada posisi yang hina dan siapa yang memiliki bala tentara yang lemah.

Di dunia mereka mungkin tampak kuat.

Di akhirat seluruh kekuatan itu lenyap.

Lalu bagaimana dengan orang-orang beriman yang pada saat itu hidup dalam tekanan, kemiskinan, dan penghinaan?

Allah memberikan kabar gembira kepada mereka.

«"Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal kebajikan yang kekal lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu."
(QS. Maryam: 76).»

Inilah jawaban Allah kepada orang-orang beriman.

Jangan sibuk membandingkan kemewahan.

Jangan berkecil hati karena sedikit pengikut.

Jangan minder karena tidak memiliki kekuasaan.

Yang terpenting adalah terus bertambah dalam hidayah dan amal saleh.

Sebab seluruh kemewahan dunia akan berakhir, sedangkan amal kebajikan akan tetap kekal.

Renungan

Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, jabatan, popularitas, atau kemegahan tempat tinggalnya.

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa banyak peradaban yang tampak tak terkalahkan akhirnya runtuh karena kesombongan dan kedurhakaannya.

Sebaliknya, orang-orang yang tetap beriman, meskipun tampak lemah di mata manusia, justru memperoleh pertolongan Allah dan kemuliaan yang abadi.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah:

"Siapa yang paling kaya?"

atau,

"Siapa yang paling megah tempat tinggalnya?"

Melainkan:

"Siapakah yang paling dekat kepada Allah?"

Sebab di hadapan-Nya, bukan kemewahan yang menentukan nilai seseorang, melainkan iman, ketakwaan, dan amal salehnya.

Apakah Yang Mati Akan Dihidupkan Kembali? Ketika Al-Qur'an Menjawab Keraguan Kaum Kafir tentang Hari Kebangkitan...


Apakah Yang Mati Akan Dihidupkan Kembali?

Ketika Al-Qur'an Menjawab Keraguan Kaum Kafir tentang Hari Kebangkitan

Apakah manusia benar-benar akan hidup kembali setelah jasadnya hancur menjadi tanah dan tulang-belulang?

Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan baru. Jauh sebelum berkembangnya peradaban modern, kaum musyrik Mekah telah melontarkannya sebagai bentuk ejekan terhadap ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Mereka tidak sekadar bertanya, tetapi berusaha meruntuhkan keyakinan tentang hari kebangkitan.

Salah satu peristiwa paling terkenal melibatkan Ubay bin Khalaf. Menurut riwayat yang dikutip dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI dari Al-Wāḥidī, ia mengambil sepotong tulang yang telah lapuk. Tulang itu diremas hingga hancur menjadi serpihan halus, kemudian diterbangkan oleh angin.

Dengan nada mengejek ia berkata,

«"Apakah setelah menjadi seperti ini manusia masih mungkin dihidupkan kembali?"»

Provokasi inilah yang menjadi latar turunnya firman Allah dalam Surah Maryam.

«"Orang (kafir) berkata, 'Betulkah apabila telah mati kelak, aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan hidup kembali?'"
(QS. Maryam: 66)»

Pertanyaan yang Berulang Sepanjang Sejarah

Al-Qur'an menunjukkan bahwa keraguan semacam ini bukan hanya diucapkan oleh Ubay bin Khalaf. Pertanyaan serupa berkali-kali muncul dari kaum yang mengingkari kehidupan akhirat.

Mereka berkata,

«"Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?"
(QS. Al-Waqi'ah: 47)»

Mereka juga bertanya,

«"Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?"
(QS. Al-Isra': 49)»

Bagi mereka, hancurnya jasad dianggap sebagai bukti mustahilnya kebangkitan. Cara berpikir ini lahir karena penilaian mereka hanya bertumpu pada apa yang dapat dilihat oleh mata.

Allah Membalik Logika Mereka

Al-Qur'an tidak menjawab dengan teori filsafat yang rumit.

Allah justru mengajak manusia kembali kepada fakta yang paling dekat dengan dirinya sendiri.

«"Apakah manusia tidak menyadari bahwa Kami telah menciptakannya dahulu, padahal sebelumnya dia tidak berwujud sama sekali?"
(QS. Maryam: 67)»

Inilah argumen yang sangat mendasar.

Jika Allah mampu menciptakan manusia dari keadaan yang sama sekali tidak ada, mengapa menghidupkan kembali manusia yang pernah ada dianggap mustahil?

Menciptakan dari "ketiadaan" tentu bukanlah pekerjaan yang lebih ringan daripada membangkitkan sesuatu yang telah pernah diciptakan.

Karena itu Allah menegaskan,

«"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali."
(QS. Ar-Rum: 27)»

Dan dalam Surah Yasin Allah memberikan jawaban yang lebih tegas kepada orang yang membawa tulang belulang itu.

«"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?"»

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

«"Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui segala makhluk."
(QS. Yasin: 78–79)»

Hadis Qudsi: Mendustakan Kebangkitan Berarti Mendustakan Allah

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Allah berfirman bahwa manusia telah mendustakan-Nya ketika menganggap kebangkitan mustahil.

Allah berfirman,

«"Anak Adam telah mendustakan-Ku... Ia berkata bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku menciptakannya pertama kali. Padahal mengulang penciptaan tidaklah lebih sulit bagi-Ku daripada memulainya."»

Hadis ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah kemampuan Allah, melainkan keengganan manusia mengakui kekuasaan-Nya.

Dari Keraguan Menuju Pengadilan Akhirat

Setelah membantah logika orang-orang kafir, Al-Qur'an kemudian membawa pembaca kepada gambaran Hari Kiamat.

Allah bersumpah,

«"Demi Tuhanmu, sungguh Kami akan mengumpulkan mereka bersama setan-setan, kemudian Kami akan mendatangkan mereka ke sekeliling Jahanam dalam keadaan berlutut."
(QS. Maryam: 68)»

Mereka yang dahulu mengikuti langkah-langkah setan akan dikumpulkan bersama pemimpin yang mereka taati.

Suasana Mahsyar digambarkan sangat dahsyat. Pada hari itu setiap manusia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Surah 'Abasa ayat 34–37.

Pemimpin Kedurhakaan Didahulukan

Al-Qur'an kemudian mengungkap proses pengadilan yang sangat adil.

«"Kemudian pasti Kami tarik dari setiap golongan siapa di antara mereka yang paling durhaka kepada Yang Maha Pengasih."
(QS. Maryam: 69)»

Mereka yang paling sombong, paling keras menentang kebenaran, dan paling banyak menyesatkan manusia akan dipisahkan terlebih dahulu.

Allah menegaskan,

«"Kami lebih mengetahui siapa yang paling layak dimasukkan ke dalam neraka."
(QS. Maryam: 70)»

Tidak ada satu pun amal yang tersembunyi. Seluruh perbuatan manusia telah tercatat secara sempurna.

Semua Akan Melewati Neraka

Salah satu ayat yang paling menggugah dalam rangkaian ini adalah firman Allah,

«"Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak akan melewatinya."
(QS. Maryam: 71)»

Para ulama menjelaskan bahwa seluruh manusia akan melewati Shirath yang dibentangkan di atas Neraka Jahanam.

Hadis sahih riwayat Muslim menggambarkan bahwa sebagian orang melintasinya secepat kilat, sebagian seperti angin, sebagian seperti burung, sebagian lagi tersandung, tercabik oleh pengait-pengait neraka, bahkan ada yang akhirnya terjatuh ke dalamnya.

Kecepatan melintas bergantung kepada kadar iman dan amal seseorang.

Akhir yang Berbeda

Perjalanan itu berakhir dengan dua nasib yang sangat kontras.

Allah berfirman,

«"Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan tersungkur."
(QS. Maryam: 72)»

Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa yang memperoleh keselamatan bukan sekadar orang yang mengaku beriman, melainkan mereka yang menjaga ketakwaannya.

Orang-orang yang amal baiknya lebih berat akan memperoleh ampunan dan rahmat Allah, sedangkan mereka yang dipenuhi kezaliman akan menerima balasan yang setimpal.

Penutup

Rangkaian ayat Surah Maryam ayat 66–72 memperlihatkan pola argumentasi Al-Qur'an yang sangat sistematis.

Dimulai dari pertanyaan sinis orang-orang kafir, kemudian dijawab dengan bukti penciptaan manusia dari ketiadaan, dilanjutkan dengan penegasan tentang kekuasaan Allah menghidupkan kembali makhluk-Nya, lalu ditutup dengan gambaran nyata tentang Mahsyar, Shirath, dan keputusan akhir bagi setiap manusia.

Pesan utamanya sangat jelas: bagi Zat yang menciptakan manusia dari tiada, membangkitkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang mustahil. Yang dipersoalkan Al-Qur'an adalah kesombongan manusia yang enggan mempercayainya sebelum hari itu benar-benar datang.

Menyiapkan Anak Berinteraksi dengan Lingkungan Baru dan Berbeda  Bagaimana cara melindungi anak di zaman ketika dunia seolah mas...


Menyiapkan Anak Berinteraksi dengan Lingkungan Baru dan Berbeda 


Bagaimana cara melindungi anak di zaman ketika dunia seolah masuk ke dalam genggaman mereka?

Apakah solusinya dengan menutup semua pintu menuju dunia luar?

Ataukah justru membekali mereka dengan kemampuan membedakan mana yang layak diterima dan mana yang harus ditolak?

Inilah tantangan terbesar orang tua pada era digital. Anak-anak tidak lagi menunggu dewasa untuk mengenal beragam budaya, pemikiran, dan gaya hidup. Melalui layar kecil di tangan mereka, semuanya hadir dalam hitungan detik.

Karena itu, tugas orang tua bukan lagi membangun tembok setinggi mungkin. Tembok pada akhirnya akan ditembus. Yang jauh lebih penting adalah menanamkan kompas yang akan selalu mereka bawa ke mana pun melangkah.

Para ulama terdahulu memberikan teladan yang menarik. Mereka membaca berbagai karya dari beragam peradaban, berdialog dengan berbagai pemikiran, lalu menyaringnya dengan timbangan Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka tidak kehilangan identitas justru karena memiliki prinsip yang kokoh.

Bukankah metode seperti inilah yang paling dibutuhkan anak-anak kita hari ini?

1. Bangun Kompas Sebelum Membuka Peta

Mengapa sebagian orang mudah terbawa arus, sedangkan sebagian lainnya tetap teguh meski hidup di lingkungan yang penuh tantangan?

Sering kali jawabannya bukan karena lingkungan yang berbeda, tetapi karena kekuatan kompas yang mereka miliki.

Sebelum mengenalkan anak kepada luasnya dunia, kenalkan terlebih dahulu kepada rumahnya sendiri: Al-Qur'an dan Sunnah.

Yang dibutuhkan bukan sekadar hafalan, melainkan pemahaman tentang mengapa seorang Muslim memilih suatu nilai dan meninggalkan nilai yang lain.

Sampaikan kepada anak,

«"Dunia ini penuh ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Kita boleh belajar dari siapa saja. Namun setiap ilmu harus kita timbang dengan apa yang Allah cintai. Jika baik, ambillah. Jika bertentangan, tinggalkan. Jika belum jelas, pelajari lebih dahulu."»

Kompas inilah yang akan menjaga langkah mereka ketika orang tua tidak lagi berada di sampingnya.

2. Ajarkan Verifikasi, Bukan Ketakutan

Haruskah anak dijauhkan dari semua perbedaan?

Ataukah mereka justru perlu belajar menghadapi perbedaan dengan cara yang benar?

Larangan tanpa penjelasan sering kali hanya membangkitkan rasa penasaran. Sebaliknya, dialog melahirkan kedewasaan.

Ketika anak menemukan tren baru, tokoh yang sedang populer, atau gagasan yang berbeda di media sosial, jangan terburu-buru menghakimi. Duduklah bersama mereka.

Ajarkan tiga pertanyaan sederhana.

- Apakah ini sesuai dengan ajaran Allah?
- Apakah ini membawa manfaat atau mudarat?
- Jika hanya informasi yang netral, adakah hikmah yang bisa dipelajari?

Dengan cara ini, anak belajar bahwa seorang Muslim tidak menelan semua informasi, tetapi juga tidak menolak semuanya secara membabi buta.

3. Ambil Hikmah, Jangan Kehilangan Jati Diri

Apakah belajar dari bangsa lain berarti harus menjadi seperti mereka?

Tentu tidak.

Islam mengajarkan bahwa hikmah adalah milik orang beriman. Di mana pun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.

Kita dapat belajar disiplin dari Jepang, belajar teknologi dari Barat, belajar manajemen dari berbagai bangsa, sekaligus tetap menjaga akidah dan akhlak Islam.

Anak perlu memahami bahwa mengambil manfaat bukan berarti kehilangan identitas.

Yang berubah boleh jadi cara bekerja, cara belajar, atau cara memanfaatkan teknologi.

Namun yang tidak boleh berubah adalah arah hidup dan prinsip yang menjadi pegangan.

4. Jadikan Akal Sebagai Pelayan Iman

Mengapa Allah menganugerahkan akal kepada manusia?

Bukan agar manusia merasa tidak membutuhkan wahyu, tetapi agar semakin mengenal kebesaran-Nya.

Karena itu, jangan takut ketika anak bertanya.

Jangan biasakan menjawab, "Pokoknya begitu."

Sebaliknya, jadikan pertanyaan mereka sebagai pintu untuk berdiskusi.

Semakin anak memahami alasan di balik ajaran Islam, semakin kuat pula keyakinannya.

Akal yang dibimbing wahyu akan melahirkan keimanan yang kokoh, bukan keraguan yang berkepanjangan.

5. Bangun Kepercayaan Diri dalam Perbedaan

Mengapa sebagian anak mudah hanyut oleh tekanan teman sebaya?

Sering kali bukan karena mereka tidak tahu mana yang benar, tetapi karena tidak percaya diri mempertahankan kebenaran itu.

Kepercayaan diri lahir ketika anak memahami nilai dirinya.

Berikan mereka ruang untuk bergaul dengan berbagai kalangan. Namun jadikan rumah sebagai tempat paling aman untuk berdiskusi, bertanya, bahkan menyampaikan kebingungan mereka.

Rumah seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat dihakimi.

Ketika hubungan antara orang tua dan anak kuat, lingkungan luar tidak mudah menggoyahkan mereka.

Penutup

Mendidik anak pada zaman ini bukan tentang mengurung mereka dari dunia.

Dunia terlalu luas untuk dihindari.

Yang perlu dilakukan adalah membekali mereka dengan kompas yang benar, melatih kemampuan menyaring setiap informasi, serta membangun keberanian untuk tetap berpegang pada prinsip.

Seorang anak yang memiliki kompas tidak akan takut memasuki dunia yang beragam. Ia mampu belajar dari siapa pun, mengambil hikmah dari mana pun, lalu mengembalikannya kepada nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar melahirkan anak yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi melahirkan generasi yang mampu menghadirkan cahaya Islam di mana pun mereka berada.

Sebab, anak yang memiliki kompas yang benar bukan hanya akan selamat dari arus zaman, tetapi juga akan menjadi penunjuk arah bagi orang-orang di sekitarnya.

Hubungan Allah dengan Manusia dan Pengaruh Hari Pembalasan Terhadap Karakter Manusia  «"Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyay...

Hubungan Allah dengan Manusia dan Pengaruh Hari Pembalasan Terhadap Karakter Manusia 



«"Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Fatihah: 3)»

Bagaimanakah sebenarnya hubungan Allah dengan manusia?

Apakah hubungan itu sekadar hubungan antara Penguasa dengan yang dikuasai? Antara Pencipta dengan ciptaan-Nya? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada itu?

Al-Qur'an menjawabnya melalui dua nama Allah yang selalu diulang setiap hari dalam shalat kita: Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Mengapa kedua nama ini diulang, padahal telah disebut sebelumnya dalam basmalah?

Pengulangan itu bukan tanpa hikmah. Allah ingin menegaskan bahwa fondasi hubungan antara Rabb dan hamba-Nya adalah rahmat.

Dialah Rabb yang memelihara, membimbing, memberi rezeki, mengampuni, dan membuka pintu kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk.

Karena itulah, setelah mengenal-Nya sebagai Rabbul 'Alamin, fitrah manusia secara spontan mengucapkan,

«"Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin."»

Pujian lahir karena manusia menyadari besarnya kasih sayang Allah yang meliputinya sejak sebelum ia lahir hingga kelak kembali kepada-Nya.

Allah Bukan Tuhan yang Digambarkan oleh Mitos

Mengapa Al-Qur'an begitu menekankan sifat kasih sayang Allah?

Karena sepanjang sejarah, manusia sering menggambarkan Tuhan dengan cara yang keliru.

Dalam mitologi Yunani, dewa-dewa digambarkan mudah murka, cemburu, dan mempermainkan manusia sesuai hawa nafsunya.

Dalam sebagian kisah yang terdapat dalam Perjanjian Lama, Allah bahkan digambarkan seolah-olah melakukan tipu daya terhadap manusia, seperti dalam kisah Menara Babel.

Islam menolak gambaran seperti itu.

Allah bukanlah Tuhan yang memusuhi makhluk-Nya. Dia juga bukan Tuhan yang mempermainkan hamba-hamba-Nya.

Hubungan Allah dengan manusia dibangun di atas rahmat, pemeliharaan, keadilan, dan hikmah.

Karena itu, rasa takut kepada Allah dalam Islam tidak pernah dipisahkan dari rasa cinta dan harapan kepada-Nya.

Mengapa Setelah Rahmat Datang Hari Pembalasan?

Setelah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman Ar-Rahim, Allah berfirman,

«"Pemilik Hari Pembalasan."
(QS. Al-Fatihah: 4)»

Mengapa kasih sayang langsung diikuti dengan pembicaraan tentang hari pembalasan?

Karena rahmat Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya.

Kasih sayang tanpa keadilan akan melahirkan ketidakpastian.

Sebaliknya, keadilan tanpa kasih sayang akan melahirkan keputusasaan.

Dalam Islam, keduanya berjalan beriringan.

Allah Maha Pengasih, tetapi Dia juga Maha Adil.

Seluruh amal manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Mengapa Iman kepada Akhirat Sangat Penting?

Bukankah banyak orang mengakui bahwa Allah adalah Pencipta?

Benar.

Al-Qur'an sendiri menjelaskan,

«"Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka menjawab, 'Allah'."
(QS. Luqman: 25)»

Namun pengakuan terhadap keberadaan Allah ternyata belum cukup.

Banyak orang mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi menolak adanya hari kebangkitan.

Al-Qur'an menggambarkan ucapan mereka,

«"Apakah setelah kami mati dan menjadi tanah, kami akan dikembalikan lagi? Itu adalah suatu pengembalian yang mustahil."
(QS. Qaf: 2–3)»

Di sinilah letak pembeda yang sangat mendasar antara keimanan Islam dan pandangan hidup materialistik.

Apa yang Berubah Ketika Seseorang Meyakini Hari Akhir?

Apa pengaruh iman kepada hari pembalasan terhadap kehidupan sehari-hari?

Segalanya berubah.

Orang yang yakin akan adanya akhirat tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Ia tidak diperbudak oleh jabatan, harta, popularitas, ataupun pujian manusia.

Ia mengetahui bahwa kehidupan dunia hanyalah satu tahap perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Karena itu, ia tetap berbuat baik meskipun tidak dihargai.

Ia tetap berlaku adil meskipun dirugikan.

Ia tetap mempertahankan kebenaran meskipun harus berkorban.

Mengapa?

Karena ia tidak menunggu seluruh balasan diberikan di dunia.

Ia yakin bahwa Allah telah menyediakan hari ketika seluruh keadilan akan ditegakkan dengan sempurna.

Keyakinan inilah yang menghadirkan ketenangan, kesabaran, dan keteguhan dalam hidup.

Persimpangan Dua Jalan Kehidupan

Di sinilah sebenarnya manusia berada di sebuah persimpangan.

Apakah ia akan menjadi hamba kepentingan dunia?

Ataukah ia akan menjadi hamba Allah?

Jika dunia menjadi tujuan akhir, maka seluruh keputusan hidup akan ditentukan oleh untung dan rugi, kuat dan lemah, serta berhasil atau gagal menurut ukuran manusia.

Namun jika akhirat menjadi tujuan, maka ukuran hidup berubah.

Yang dicari bukan lagi sekadar keuntungan sesaat, tetapi keridaan Allah.

Yang menjadi ukuran bukan hanya keberhasilan dunia, melainkan keberhasilan di hadapan Allah pada Hari Pembalasan.

Inilah yang membebaskan manusia dari perbudakan terhadap hawa nafsu, ambisi, dan kepentingan sesaat.

Mengapa Akidah Akhirat Menjadi Fondasi Peradaban?

Sebuah masyarakat tidak akan mampu menegakkan manhaj Allah hanya dengan aturan-aturan lahiriah.

Aturan membutuhkan hati yang meyakininya.

Hati membutuhkan tujuan yang lebih besar daripada dunia.

Karena itu, iman kepada akhirat menjadi fondasi bagi seluruh bangunan akhlak dan peradaban Islam.

Seseorang bersedia menahan hawa nafsunya karena ia yakin ada kehidupan setelah kematian.

Ia rela berkorban demi kebenaran karena ia percaya bahwa tidak ada satu pun amal yang akan sia-sia.

Ia tetap jujur meskipun tidak ada manusia yang melihatnya karena ia yakin Allah akan menghisab seluruh amalnya.

Tanpa keyakinan itu, manusia mudah terjebak pada logika pragmatis: apa yang menguntungkan hari ini dianggap benar, sedangkan yang merugikan dianggap harus ditinggalkan.

Dua Jalan, Dua Akhir

Karena itu, Al-Qur'an memisahkan dengan tegas antara orang yang beriman kepada akhirat dan orang yang mengingkarinya.

Perbedaan mereka bukan hanya pada keyakinan.

Perbedaan itu tampak dalam cara berpikir, akhlak, perilaku, tujuan hidup, dan keputusan-keputusan yang mereka ambil setiap hari.

Mereka berjalan di atas dua jalan yang berbeda.

Yang satu menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Yang lain menjadikan dunia sebagai ladang menuju akhirat.

Mereka mungkin bertemu dalam satu tempat, hidup pada satu zaman, bahkan melakukan pekerjaan yang sama. Namun arah perjalanan mereka berbeda.

Karena tujuan akhirnya berbeda, maka ukuran keberhasilannya pun berbeda.

Dan karena ukuran keberhasilannya berbeda, maka kelak tempat kembalinya juga berbeda.

Di sinilah letak persimpangan yang sesungguhnya.

Persimpangan antara kehidupan yang hanya berakhir di dunia dan kehidupan yang terus berlanjut menuju Hari Pembalasan.

Persimpangan antara menjadi hamba dunia atau menjadi hamba Allah.

Itulah sebabnya Allah memperkenalkan diri-Nya dalam Surah Al-Fatihah dengan dua sifat yang saling melengkapi: Ar-Rahman Ar-Rahim, yang menghadirkan harapan, dan Maliki Yaumid Din, yang menghadirkan tanggung jawab. Dengan keduanya, seorang mukmin menjalani hidup dalam keseimbangan antara cinta, harapan, rasa takut, dan keyakinan kepada Allah.


Sumber;
Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur'an, GIP, 2008, Hal. 28-30

Bekal Menempuh Jalan yang Panjang «"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguh...

Bekal Menempuh Jalan yang Panjang



«"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
(QS. Al-Baqarah: 153)»

Mengapa Allah berulang kali memerintahkan kesabaran dalam Al-Qur'an?

Karena Allah mengetahui hakikat perjalanan seorang mukmin. Jalan menuju ridha-Nya bukanlah jalan yang selalu lapang. Istikamah membutuhkan tenaga, pengorbanan, dan keteguhan hati. Di sepanjang perjalanan itu selalu ada ujian, tekanan, godaan, dan hambatan yang datang silih berganti.

Terlebih lagi bagi mereka yang mengemban amanah dakwah. Jalan ini sering kali dipenuhi penolakan, fitnah, intimidasi, bahkan hukuman yang menguras tenaga lahir dan batin. Karena itulah kesabaran bukan sekadar anjuran, melainkan bekal yang mutlak diperlukan.

Sabar itu memiliki banyak wajah. Sabar dalam menaati Allah. Sabar meninggalkan maksiat. Sabar menghadapi kesulitan karena mempertahankan kebenaran. Sabar menghadapi fitnah dan tipu daya manusia. Sabar menanti datangnya pertolongan Allah. Sabar ketika penolong sedikit dan musuh terasa begitu banyak. Sabar saat perjalanan terasa panjang hingga muncul keraguan dalam hati. Sabar menghadapi kelemahan diri sendiri, sekaligus sabar menghadapi kerasnya kedurhakaan manusia.

Namun, muncul pertanyaan lain. Bukankah kesabaran manusia ada batasnya?

Benar. Pada saat tenaga mulai melemah dan hati mulai letih, Allah tidak hanya memerintahkan sabar. Allah juga memerintahkan shalat.

Mengapa shalat?

Karena shalat adalah sumber kekuatan yang tidak pernah habis. Ia adalah bekal yang terus diperbarui. Shalat menyegarkan hati yang lelah, menghidupkan kembali semangat yang mulai padam, dan menghubungkan seorang hamba dengan Dzat Yang Mahakuat.

Kesabaran mungkin melemah, tetapi shalat mempertebal kesabaran itu. Dari shalat lahir ketenangan. Dari ketenangan tumbuh keyakinan. Dari keyakinan lahirlah keteguhan untuk terus melangkah.

Bukankah manusia pada hakikatnya lemah?

Sehebat apa pun seseorang, ia tetap memiliki batas kemampuan. Akan tiba saatnya seluruh ikhtiar telah dilakukan, tetapi persoalan belum juga terselesaikan. Pada titik itulah seorang mukmin menyandarkan dirinya kepada kekuatan Allah Yang Mahabesar.

Ia memohon pertolongan ketika menghadapi keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Ia memohon kekuatan ketika hawa nafsu mengajak kepada kesenangan dunia. Ia memohon keteguhan ketika jalan dakwah terasa sunyi, ketika kejahatan tampak semakin meluas, sementara cahaya kebaikan seolah redup dan harapan tampak samar di kejauhan.

Di sinilah nilai shalat menjadi begitu agung.

Shalat adalah hubungan langsung antara makhluk yang lemah dengan Rabb Yang Mahakuasa. Ia adalah saat-saat terbaik ketika rahmat Allah mengalir kepada hamba-Nya tanpa henti. Ia adalah pintu menuju perbendaharaan karunia yang tidak pernah kering.

Shalat mengangkat manusia dari dunia yang sempit menuju keluasan rahmat Allah. Ia menjadi penyejuk bagi jiwa yang terbakar oleh berbagai persoalan kehidupan. Ia menjadi naungan ketika hati kepanasan oleh tekanan dan kegelisahan. Ia menjadi sentuhan kasih sayang Allah kepada hati yang letih.

Tidak mengherankan apabila Rasulullah ﷺ setiap kali menghadapi kesulitan segera mendirikan shalat. Beliau berkata kepada Bilal,

«"Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat."»

Beliau tidak menjadikan shalat sebagai pelarian dari masalah, tetapi sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi masalah.

Inilah salah satu rahasia besar manhaj Islam.

Islam bukan hanya mengajarkan perjuangan, tetapi juga menyediakan bekal ruhani agar perjuangan itu dapat dijalani hingga akhir. Ibadah bukan sekadar kewajiban, melainkan penguat jiwa, penjernih hati, dan pengisi kembali energi keimanan.

Karena itulah, ketika Allah hendak mempersiapkan Rasulullah ﷺ memikul amanah terbesar dalam sejarah, Allah tidak terlebih dahulu memerintahkannya menyusun strategi atau mengumpulkan pengikut. Allah justru memerintahkannya untuk memperbanyak ibadah malam.

«"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk shalat pada malam hari, kecuali sedikit. Seperduanya atau kurangilah sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat."
(QS. Al-Muzzammil: 1–5)»

Mengapa qiyamul lail didahulukan sebelum amanah yang berat?

Karena hati yang kuat lahir dari kedekatan dengan Allah. Qiyamul lail dan tilawah Al-Qur'an menyiapkan ruh untuk memikul beban dakwah, menguatkan hubungan dengan Allah, melapangkan dada, menerangi hati, serta menghadirkan ketenangan dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Maka tidak mengherankan apabila Allah memerintahkan kaum mukminin, ketika berada dalam kesempitan, agar bersabar dan mendirikan shalat.

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang menjadi sumber harapan sepanjang zaman,

«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."»

Apa makna kebersamaan Allah itu?

Bukan sekadar mengetahui keadaan mereka. Allah menguatkan mereka ketika tenaga melemah. Allah meneguhkan mereka ketika hati mulai goyah. Allah menghibur mereka ketika merasa sendiri. Allah mengawasi langkah mereka dan tidak membiarkan mereka berjalan hanya dengan kemampuan dirinya yang terbatas.

Perhatikan pula keindahan susunan ayat ini. Allah membuka dengan panggilan penuh kasih,

«"Wahai orang-orang yang beriman..."»

Lalu menutupnya dengan jaminan yang menenangkan,

«"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."»

Seakan-akan Allah berkata, "Jangan takut berjalan di jalan-Ku. Selama engkau bersabar, engkau tidak pernah sendirian."

Karena itulah, Rasulullah ﷺ berkali-kali menanamkan nilai kesabaran kepada para sahabat.

Ketika Khabbab bin Al-Aratt r.a. mengeluhkan beratnya siksaan kaum musyrik, Nabi ﷺ mengingatkan bagaimana umat-umat terdahulu digergaji tubuhnya dan disisir dengan sisir besi hingga daging terkelupas dari tulang, namun mereka tetap teguh memegang agama. Lalu beliau bersabda,

«"Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini... Akan tetapi, kalian tergesa-gesa."
(HR. Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa'i)»

Pesannya jelas. Pertolongan Allah pasti datang, tetapi setiap kemenangan memiliki waktunya sendiri.

Demikian pula Ibnu Mas'ud r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menceritakan seorang nabi yang dipukuli kaumnya hingga wajahnya berlumuran darah. Sambil mengusap darah itu, beliau berdoa,

«"Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui."
(HR. Bukhari dan Muslim)»

Inilah puncak kesabaran: tetap mendoakan orang yang menyakiti.

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

«"Seorang muslim yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka."
(HR. At-Tirmidzi)»

Kesabaran bukan berarti menjauh dari manusia. Justru kesabaran diuji ketika kita hidup di tengah masyarakat, menghadapi berbagai karakter, lalu tetap memilih akhlak yang baik.

Pada akhirnya, jalan perjuangan tidak pernah dijanjikan mudah. Yang dijanjikan Allah bukanlah bebas dari ujian, melainkan kebersamaan-Nya bagi orang-orang yang bersabar. Selama seorang mukmin menjaga kesabarannya dan terus menguatkannya dengan shalat, ia tidak pernah berjalan sendirian. Allah senantiasa membersamainya, menguatkannya, dan membimbingnya hingga mencapai kemenangan yang telah Allah tetapkan.


Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur'an, GIP, 2008, Hal. 170-171

Mengapa Setahun Itu 12 Bulan dan Sepekan Itu 7 Hari? Pernahkah kita berhenti sejenak untuk b...

Mengapa Setahun Itu 12 Bulan dan Sepekan Itu 7 Hari?



Pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa setahun terdiri atas dua belas bulan? Mengapa satu pekan terdiri atas tujuh hari? Apakah pembagian waktu itu sekadar hasil kesepakatan manusia, ataukah ia telah ditetapkan sejak awal penciptaan alam semesta?

Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun semakin dalam ditelusuri, semakin terlihat bahwa waktu bukanlah ciptaan manusia. Manusialah yang hidup di dalam waktu, bukan sebaliknya.

Seorang muslim yang mengimani firman Allah,

«"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)»

meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang ada dengan sendirinya. Ruang diciptakan. Langit dan bumi diciptakan. Matahari dan bulan diciptakan. Bahkan waktu pun merupakan makhluk Allah.

Ibnu Hajar Al-Asqalani ketika menjelaskan hadis tentang penulisan takdir dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa keberadaan waktu adalah sesuatu yang diciptakan setelah sebelumnya tidak ada. Dengan kata lain, waktu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri bersama Allah, tetapi bagian dari ciptaan-Nya.

Lalu, apakah sebenarnya waktu itu?

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa waktu adalah ukuran pergerakan. Kita mengenal hari karena adanya pergantian malam dan siang. Kita mengenal bulan karena perjalanan bulan pada orbitnya. Kita mengenal tahun karena keteraturan peredaran benda-benda langit yang Allah tetapkan.

Karena itulah Al-Qur'an berulang kali mengaitkan waktu dengan penciptaan langit dan bumi.

Allah berfirman,

«"Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Al-Anbiya': 33)»

Dalam ayat lain Allah berfirman,

«"Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190)»

Ayat-ayat ini seakan mengajak manusia bertanya:

Apakah waktu berjalan sendiri? Ataukah ia bergerak mengikuti hukum yang Allah tetapkan?

Waktu Telah Ada Sebelum Alam Semesta yang Kita Kenal

Rasulullah ﷺ bersabda,

«"Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, sedangkan Arasy-Nya berada di atas air." (HR. Muslim)»

Hadis ini membuka cakrawala baru.

Sebelum langit dan bumi yang sekarang kita lihat diciptakan, Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk. Ini menunjukkan bahwa seluruh ukuran waktu berada dalam ilmu dan ketetapan Allah sejak awal penciptaan.

Kemudian Allah mengabarkan bahwa penciptaan langit dan bumi berlangsung dalam enam hari.

Mengapa enam hari?

Apakah Allah membutuhkan waktu?

Tentu tidak.

Allah Mahakuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan firman "Kun fayakun."

Maka enam hari bukanlah karena Allah memerlukan proses, melainkan karena Allah hendak mengajarkan keteraturan, tahapan, dan sunnatullah kepada makhluk-Nya.

Bahkan para ulama menjelaskan bahwa enam hari penciptaan itu tidak harus sama dengan ukuran dua puluh empat jam sebagaimana hari yang kita kenal sekarang. Ibnu Abbas menafsirkan bahwa sebagian "hari-hari Allah" memiliki ukuran yang berbeda dengan hari dunia.

Dengan demikian, sejak awal Al-Qur'an telah memperlihatkan bahwa ukuran waktu berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Allah.

Mengapa Satu Pekan Terdiri atas Tujuh Hari?

Jika Allah menciptakan alam dalam enam hari, mengapa manusia hidup dalam siklus tujuh hari?

Di sinilah menariknya.

Riwayat-riwayat para ulama menjelaskan bahwa penciptaan berlangsung dari Ahad hingga Jumat. Pada hari Jumat penciptaan Adam disempurnakan, sedangkan Sabtu menjadi hari setelah selesainya penciptaan.

Karena itu siklus kehidupan manusia berjalan dalam irama tujuh hari.

Islam kemudian menjadikan hari Jumat sebagai hari terbaik dalam satu pekan. Setiap tujuh hari kaum muslimin dikumpulkan untuk shalat Jumat, mendengarkan nasihat, memperbarui iman, dan mengevaluasi perjalanan hidupnya.

Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh tenggelam terus dalam kesibukan dunia tanpa berhenti untuk kembali mengingat-Nya.

Mengapa Setahun Terdiri atas Dua Belas Bulan?

Jika pekan ditetapkan dalam siklus tujuh hari, bagaimana dengan satu tahun?

Allah sendiri yang menjawabnya.

«"Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi." (QS. At-Taubah: 36)»

Perhatikan redaksi ayat tersebut.

Allah tidak mengatakan bahwa manusia menetapkan dua belas bulan.

Allah menegaskan bahwa jumlah itu telah ditetapkan sejak hari penciptaan langit dan bumi.

Artinya, dua belas bulan bukan hasil keputusan suatu bangsa, bukan pula warisan sebuah kerajaan, melainkan bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan alam.

Empat di antaranya dijadikan sebagai bulan-bulan haram: Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Dalam Haji Wada', Rasulullah ﷺ menegaskan kembali ketetapan ini:

«"Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri atas dua belas bulan, dan empat di antaranya adalah bulan haram...." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)»

Kalimat "waktu telah berputar sebagaimana keadaannya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi" merupakan penegasan bahwa kalender telah kembali kepada susunan aslinya setelah praktik penyisipan dan penggeseran bulan (nasî') yang dilakukan masyarakat Arab Jahiliyah.

Ketika Allah Menguasai Waktu

Masihkah manusia menganggap waktu sebagai sesuatu yang mutlak?

Peristiwa Isra dan Mi'raj memberikan jawaban yang menakjubkan.

Dalam satu malam Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Makkah ke Baitul Maqdis, naik menembus tujuh langit, menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah, menerima kewajiban shalat, lalu kembali sebelum fajar menyingsing.

Bagi manusia, perjalanan itu tampak mustahil.

Namun bagi Allah yang menciptakan waktu, mempercepat atau memperlambat perjalanan bukanlah sesuatu yang sulit.

Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak ragu membenarkan berita Isra Mi'raj. Baginya, jika wahyu yang turun dari langit ke bumi dapat dipercaya, maka perjalanan luar biasa itu pun pasti benar.

Renungan

Mungkin selama ini kita mengira sedang mengatur waktu.

Padahal sesungguhnya kitalah yang diatur oleh waktu.

Hari berganti tanpa pernah terlambat.

Pekan berulang tanpa pernah keliru.

Bulan terus beredar tanpa pernah keluar dari orbitnya.

Tahun terus berganti sebagaimana ketetapan yang Allah tetapkan sejak penciptaan langit dan bumi.

Semua berjalan dalam keteraturan yang sempurna.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa setahun dua belas bulan dan sepekan tujuh hari.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Sudahkah kita mengisi waktu yang Allah ciptakan itu dengan amal yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya?

Tafakur Bayangan Setiap hari kita berjalan bersama bayangan. Ia mengikuti langkah kita sejak matahari terbit hingga tenggelam. K...

Tafakur Bayangan

Setiap hari kita berjalan bersama bayangan.

Ia mengikuti langkah kita sejak matahari terbit hingga tenggelam. Kadang memanjang, kadang memendek, lalu menghilang tanpa pernah menarik perhatian. Padahal, Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan makhluk yang tampak sederhana ini.

Mengapa Al-Qur'an berbicara tentang bayangan?

Mengapa Allah menjadikannya sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya?

Semakin dalam pertanyaan itu ditelusuri, semakin tampak bahwa bayangan bukan sekadar gejala optik, melainkan salah satu "ayat kauniyah" yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.

Bayangan: Nikmat yang Sering Terlupakan

Ketika Al-Qur'an menyebut nikmat Allah, perhatian manusia biasanya tertuju pada air, makanan, atau udara. Namun, di antara nikmat yang jarang disadari adalah bayangan.

Allah berfirman,

«"Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan. Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas serta pakaian (baju besi) yang memeliharamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu agar kamu berserah diri."
(QS. An-Nahl: 81)»

Menurut Imam Al-Qurthubi, kata azh-zhilal (bayangan) dalam ayat ini mencakup seluruh bentuk naungan, baik yang berasal dari pepohonan, bangunan, maupun segala sesuatu yang Allah ciptakan sebagai pelindung manusia dari sengatan matahari.

Bayangan menjadi selimut yang meneduhkan bumi. Ia menurunkan suhu, memberikan kenyamanan, dan memungkinkan manusia beraktivitas di tengah panas yang menyengat.

Namun fungsi bayangan tidak berhenti sebagai pelindung.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia menjadikannya sebagai penunjuk waktu. Pergeseran panjang bayangan membantu menentukan waktu siang, pergantian musim, hingga menjadi dasar penentuan waktu salat Zuhur, Asar, Dhuha, dan waktu-waktu larangan salat.

Makhluk yang tampak diam itu ternyata menjadi jam alam yang bekerja tanpa pernah berhenti.

Sebuah Fenomena yang Mengundang Penyelidikan

Lalu muncul pertanyaan yang lebih mendalam.

Siapakah yang menggerakkan bayangan?

Mengapa ia memanjang pada pagi hari, memendek saat matahari meninggi, lalu kembali memanjang menjelang senja?

Mengapa ia selalu bergerak dengan keteraturan yang tidak pernah terlambat sedetik pun?

Al-Qur'an mengajak manusia menyelidiki fenomena ini.

Allah berfirman,

«"Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang? Sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap. Kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk tentangnya. Kemudian Kami menariknya kepada Kami sedikit demi sedikit."
(QS. Al-Furqan: 45–46)»

Ayat ini menggambarkan sebuah proses yang berlangsung setiap hari tetapi hampir tidak pernah disadari manusia.

Bayangan bergerak perlahan.

Tidak melompat.

Tidak berubah secara tiba-tiba.

Ia berpindah sedikit demi sedikit mengikuti hukum yang telah Allah tetapkan bagi matahari dan bumi.

Bagaimana Jika Bayangan Tidak Pernah Bergerak?

Al-Qur'an mengajukan sebuah kemungkinan yang menggugah akal.

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikannya tetap."

Bayangkan apabila bayangan tidak pernah berubah.

Keadaan itu hanya mungkin terjadi apabila sistem pergerakan bumi dan matahari berhenti sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa jika penyinaran matahari berlangsung terus-menerus pada satu sisi bumi, suhu akan meningkat secara ekstrem. Laut dapat menguap, kehidupan terancam, sedangkan sisi bumi lainnya mengalami pendinginan luar biasa hingga membeku.

Dengan kata lain, bergeraknya bayangan adalah bagian dari mekanisme yang menopang kehidupan.

Apa yang tampak sederhana ternyata berkaitan dengan keseimbangan kosmos.

Bayangan yang Bersujud

Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang fungsi bayangan.

Lebih jauh, Allah menjelaskan bahwa bayangan merupakan makhluk yang tunduk kepada-Nya.

Allah berfirman,

«"Hanya kepada Allah bersujud siapa pun yang berada di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. Demikian pula bayang-bayang mereka pada waktu pagi dan petang."
(QS. Ar-Ra'd: 15)»

Dalam ayat lain Allah berfirman,

«"Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang diciptakan Allah, yang bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedang semuanya tunduk?"
(QS. An-Nahl: 48)»

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa perubahan arah bayangan ke timur, barat, utara, dan selatan merupakan bentuk ketundukan seluruh alam terhadap hukum Allah.

Bayangan tidak pernah melawan.

Ia bergerak sesuai ketetapan yang telah digariskan Sang Pencipta.

Setiap pagi dan petang, seluruh alam memperlihatkan "sujud" yang terus berlangsung tanpa suara.

Bayangan Menjadi Saksi Keteraturan Alam

Ilmu astronomi modern menunjukkan bahwa perubahan panjang bayangan terjadi karena perubahan sudut datang sinar matahari akibat rotasi bumi serta peredaran benda-benda langit.

Rotasi bumi yang berlangsung sekitar 24 jam menghasilkan pergantian siang dan malam.

Revolusi bumi mengelilingi matahari menyebabkan perubahan posisi matahari semu sepanjang tahun sehingga arah bayangan berubah mengikuti musim.

Semua proses itu berlangsung dengan presisi yang luar biasa.

Sedikit saja terjadi penyimpangan pada rotasi atau orbit bumi, keseimbangan suhu bumi akan terganggu dan kehidupan menjadi mustahil.

Fenomena sederhana berupa bayangan ternyata merupakan bukti bahwa alam semesta berjalan di bawah hukum yang sangat teliti.

Tafakur di Balik Bayangan

Bayangan mengajarkan bahwa seluruh alam hidup dalam kepatuhan kepada Allah.

Ia tidak pernah membangkang.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah keluar dari garis edarnya.

Sementara manusia, makhluk yang diberi akal dan kehendak, justru sering melawan aturan Penciptanya.

Karena itu, ketika Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan bayangan, sesungguhnya yang sedang diajarkan bukan hanya ilmu tentang cahaya.

Al-Qur'an sedang mengajak manusia melihat bahwa di balik setiap gerakan alam terdapat keteraturan, hikmah, dan kekuasaan Allah.

Bayangan yang setiap hari menemani langkah manusia sesungguhnya adalah makhluk yang diam-diam sedang bertasbih, bersujud, dan menjadi saksi bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada Rabb semesta alam.


Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Alam Semesta Sebelum Adam, Pustaka Al-Kautsar, 2023

Jejak Wahyu di Balik Kisah-Kisah Sejarah Muhammad ﷺ tidak pernah tinggal di Mesir. Ia tidak pernah hidup bersama penduduk Madyan...


Jejak Wahyu di Balik Kisah-Kisah Sejarah


Muhammad ﷺ tidak pernah tinggal di Mesir. Ia tidak pernah hidup bersama penduduk Madyan. Ia juga tidak berada di Lembah Suci Ṭuwā ketika Allah berbicara kepada Nabi Musa.

Namun mengapa beliau mampu mengisahkan semua peristiwa itu dengan begitu rinci?

Pertanyaan inilah yang dijawab Al-Qur'an melalui rangkaian ayat yang sangat menarik dalam Surah Al-Qaṣaṣ. Seolah-olah Allah sendiri sedang mengajak manusia melakukan investigasi terhadap sumber pengetahuan Nabi Muhammad ﷺ.

Allah tidak sekadar menceritakan sejarah Nabi Musa. Allah juga menunjukkan bahwa mustahil Nabi Muhammad mengetahui seluruh kisah tersebut melalui pengalaman pribadi, perjalanan hidup, atau hasil belajar dari manusia.

Investigasi Pertama: Muhammad Tidak Menyaksikan Peristiwa Itu

Allah berfirman:

«"Engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (Lembah Suci Ṭuwā) ketika Kami menyampaikan urusan kenabian kepada Musa. Engkau bukan termasuk orang-orang yang menyaksikan."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 44)»

Ayat ini langsung menutup kemungkinan pertama.

Nabi Muhammad bukan saksi mata. Beliau tidak hadir ketika Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa. Bahkan beliau hidup lebih dari seribu tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang ummi, tidak membaca kitab-kitab terdahulu dan tidak hidup di lingkungan ahli kitab. Karena itu, kemampuan beliau menceritakan berbagai peristiwa gaib merupakan bukti bahwa seluruh informasi tersebut berasal dari wahyu Allah.

Investigasi Kedua: Muhammad Tidak Pernah Belajar di Madyan

Allah kembali menegaskan:

«"Engkau tidak tinggal bersama penduduk Madyan sehingga dapat membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Akan tetapi Kamilah yang mengutus para rasul."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 45)»

Sejarah Nabi Musa sangat erat dengan Madyan.

Seandainya Muhammad pernah tinggal di sana, orang-orang Quraisy mungkin dapat menuduh beliau memperoleh kisah-kisah tersebut dari penduduk setempat.

Namun Allah menutup dugaan itu.

Muhammad tidak pernah hidup di Madyan, tidak pernah berguru kepada penduduknya, dan tidak pernah mempelajari sejarah Musa dari saksi-saksi peristiwa tersebut.

Semua pengetahuan itu datang melalui wahyu.

Investigasi Ketiga: Muhammad Tidak Berada di Bukit Thur

Allah kembali mengulang argumentasi-Nya.

«"Engkau tidak berada di dekat Gunung Thur ketika Kami memanggil (Musa), tetapi semua itu adalah rahmat dari Tuhanmu..."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 46)»

Ini merupakan penegasan ketiga.

Muhammad tidak hadir.

Muhammad tidak menyaksikan.

Muhammad tidak belajar langsung.

Namun beliau mengetahui seluruh rangkaian peristiwa dengan benar.

Pengulangan ini bukan tanpa tujuan. Al-Qur'an sedang membangun sebuah pembuktian yang sangat kuat bahwa sumber informasi Nabi Muhammad bukan berasal dari manusia, melainkan dari Allah Yang Maha Mengetahui seluruh sejarah.

Mengapa Allah Mengisahkan Semua Itu?

Setelah membuktikan sumber wahyu tersebut, Allah menjelaskan hikmah pengutusan Rasul.

«"Seandainya mereka ditimpa azab karena perbuatan mereka, lalu mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami?'..."
(QS. Al-Qaṣaṣ: 47)»

Inilah salah satu sunnatullah yang sangat penting.

Allah tidak menghukum suatu kaum sebelum hujah ditegakkan.

Para rasul diutus agar manusia tidak memiliki alasan pada Hari Kiamat.

Prinsip ini juga ditegaskan dalam firman-Nya:

«"Para rasul itu sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya para rasul."
(QS. An-Nisā': 165)»

Demikian pula:

«"Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."
(QS. Al-Isrā': 15)»

Artinya, wahyu bukan sekadar kumpulan kisah sejarah.

Wahyu adalah bukti kasih sayang Allah kepada manusia sebelum datangnya hisab.

Sejarah sebagai Bukti Kenabian

Kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar dokumentasi sejarah.

Setiap kisah menjadi bukti bahwa Muhammad benar-benar menerima wahyu.

Beliau menceritakan peristiwa yang tidak pernah disaksikan, tidak pernah dipelajari, dan tidak mungkin diketahui melalui kemampuan manusia biasa.

Karena itu, sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar cerita masa lalu.

Ia adalah salah satu mukjizat Al-Qur'an.

Semakin banyak seseorang menelusuri kisah-kisah para nabi, semakin tampak bahwa seluruh rangkaian sejarah itu berasal dari satu sumber yang sama, yaitu Allah Yang Maha Mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Penutup

Surah Al-Qaṣaṣ ayat 44–47 mengajarkan bahwa sumber pengetahuan Nabi Muhammad ﷺ bukanlah hasil penelitian sejarah, bukan tradisi lisan, bukan pula warisan budaya.

Allah sendiri berulang kali menegaskan:

"Engkau tidak berada di sana."

Pengulangan itu menjadi argumentasi Ilahi yang sangat kuat. Muhammad tidak menyaksikan, tidak mempelajari, dan tidak mengalami peristiwa-peristiwa tersebut. Namun beliau mampu mengisahkannya dengan penuh keyakinan karena semuanya berasal dari wahyu.

Di sinilah letak kemukjizatan Al-Qur'an. Ia tidak hanya mengabarkan sejarah, tetapi sekaligus menjelaskan dari mana sejarah itu diketahui.

Sejarah menjadi saksi kerasulan, sedangkan wahyu menjadi sumber kebenaran yang membimbing manusia agar tidak memiliki alasan lagi di hadapan Allah ketika hari perhitungan tiba.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (12) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (108) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (285) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (699) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (313) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (172) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)