basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Dakwah

Postingan Popular Pekan ini

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

ISLAM DAN PENGENALAN TERHADAP ALAM Konsep Islam tidak hanya memperkenalkan manusia kepada di...

ISLAM DAN PENGENALAN TERHADAP ALAM

Konsep Islam tidak hanya memperkenalkan manusia kepada dirinya sendiri dan kepada Penciptanya, tetapi juga memperkenalkan manusia kepada alam tempat ia hidup. Islam mengungkapkan kepada manusia tabiat alam, karakteristiknya, hubungannya dengan Penciptanya, serta berbagai tanda yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Alam bukan sesuatu yang berdiri sendiri tanpa makna. Ia memiliki keteraturan, hukum, karakteristik, dan tujuan. Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Penciptanya. Alam juga disiapkan untuk menerima kehidupan dan berbagai makhluk hidup di dalamnya, serta ditundukkan bagi manusia atas izin Allah.

Semua itu diungkapkan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh fitrah dan akal. Kebenarannya tidak hanya dapat direnungkan secara abstrak, tetapi juga dapat disaksikan dalam realitas indrawi dan dirasakan melalui fitrah yang tersimpan dalam diri manusia.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk memandang alam sebagai sesuatu yang asing atau terpisah dari kehidupan spiritualnya. Islam justru mengajak manusia untuk mengenalnya secara luas, memahami hukum-hukumnya, menyelami rahasia-rahasianya, dan berinteraksi dengannya secara benar.

Dengan demikian, hubungan manusia dengan alam bukan hubungan yang dibangun di atas ketidaktahuan, apalagi sekadar pemanfaatan tanpa arah. Ia merupakan hubungan yang bertumpu pada pengenalan, pemahaman, pengamatan, dan interaksi yang benar.

Al-Qur'an berulang kali mengarahkan pandangan manusia kepada alam. Bukan sekadar agar manusia melihat, tetapi agar mereka memikirkan apa yang dilihatnya dan menangkap makna yang berada di baliknya.

Allah berfirman:

«“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(QS. al-Baqarah, 2:22)»

Perhatikan bagaimana ayat ini menghubungkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia—bumi, langit, hujan, buah-buahan, dan rezeki—dengan persoalan tauhid.

Manusia melihat bumi sebagai tempat berpijak. Ia melihat langit sebagai ruang yang menaunginya. Ia melihat hujan turun, tumbuh-tumbuhan berkembang, dan buah-buahan menjadi rezeki. Namun Al-Qur'an mengajak manusia melangkah lebih jauh: siapakah yang menjadikan semua itu ada dan berlangsung dengan keteraturan seperti itu?

Dengan demikian, pengamatan terhadap alam tidak berhenti pada fenomena. Ia mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Penciptanya.

Allah juga berfirman:

«“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
(QS. al-An'am, 6:1)»

Langit dan bumi, gelap dan terang, bukan sekadar objek yang dilihat mata. Semuanya merupakan bagian dari tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.

Karena itu, semakin manusia mengenal alam dengan benar, seharusnya semakin terbuka pula kesadarannya terhadap kebesaran Penciptanya.

Hal itu semakin jelas ketika Al-Qur'an membawa manusia mengamati keteraturan yang lebih luas:

«“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.»

«Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya, dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.»

«Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang. (Meskipun) disirami dengan air yang sama, (namun) Kami lebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain dalam rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.”
(QS. ar-Ra'd, 13:2–4)»

Di sini manusia diarahkan untuk melihat alam sebagai suatu sistem yang teratur. Matahari dan bulan bergerak dalam perjalanan masing-masing. Malam dan siang silih berganti. Bumi membentang, gunung-gunung berdiri, sungai-sungai mengalir, dan berbagai tanaman tumbuh.

Bahkan sesuatu yang tampak sederhana—seperti air yang sama-sama menyirami tanaman—dapat menghasilkan rasa dan karakter yang berbeda.

Maka alam bukan sekadar sesuatu yang berada di luar diri manusia. Ia adalah ruang terbuka untuk berpikir.

Al-Qur'an kemudian membawa manusia lebih dekat lagi kepada berbagai kenikmatan dan mekanisme kehidupan yang mereka jumpai setiap hari:

«“Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuh)nya kamu menggembalakan ternakmu.»

«Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.»

«Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.»

«Dan Dia menundukkan pula apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.»

«Dan Dia-lah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.»

«Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.»

«Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. an-Nahl, 16:10–17)»

Perhatikan kembali alurnya. Air turun dari langit. Tumbuhan tumbuh. Hewan memperoleh makanan. Manusia memperoleh rezeki. Malam dan siang silih berganti. Matahari, bulan, dan bintang berjalan menurut ketentuan-Nya. Laut dapat dilayari. Dari laut manusia memperoleh makanan dan berbagai manfaat.

Semua itu kemudian ditutup dengan pertanyaan yang sangat mendasar:

“Maka apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa?”

Pertanyaan tersebut mengubah cara manusia memandang alam. Alam tidak lagi sekadar tempat manusia mengambil manfaat. Alam menjadi ayat kauniyah, tanda yang mengarahkan manusia kepada Allah.

Karena itu, Al-Qur'an juga mengajak manusia memperhatikan asal-usul dan keteraturan kehidupan:

«“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?»

«Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.»

«Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.»

«Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
(QS. al-Anbiya', 21:30–33)»

Ayat ini kembali memperlihatkan bahwa Al-Qur'an tidak memisahkan pengenalan terhadap alam dari pengenalan terhadap Allah.

Manusia diajak melihat langit, bumi, air, kehidupan, gunung, jalan-jalan, malam, siang, matahari, dan bulan. Namun semua pengamatan itu diarahkan kepada satu kesadaran: di balik keteraturan tersebut terdapat kehendak dan kekuasaan Allah.

Karena itu, memahami alam dalam perspektif Islam bukan berarti sekadar mengumpulkan pengetahuan tentang benda-benda yang ada di dalamnya. Pengetahuan itu seharusnya mengantarkan manusia kepada pemahaman tentang hubungan antara alam dan Penciptanya.

Allah berfirman:

«“Apakah kamu tidak melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya dan Dia menahan (benda-benda) langit hingga tidak jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. al-Hajj, 22:65)»

Di sini muncul dimensi lain dari hubungan manusia dengan alam: ketundukan alam bagi manusia atas izin Allah.

Alam bukan Tuhan yang harus disembah. Alam juga bukan sesuatu yang boleh diperlakukan semaunya. Ia adalah ciptaan Allah yang ditundukkan bagi manusia dalam batas-batas yang telah ditetapkan-Nya.

Maka ketundukan alam kepada manusia bukan alasan untuk berlaku sewenang-wenang terhadapnya. Justru karena alam merupakan amanah dari Allah, manusia dituntut mengenalinya, memahami hukum-hukumnya, dan memperlakukannya dengan benar.

Al-Qur'an juga mengarahkan perhatian manusia kepada keteraturan air dan kehidupan:

«“Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.»

«Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur. Di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan.”
(QS. al-Mu'minun, 23:17–19)»

Air turun menurut suatu ukuran. Ia menetap di bumi. Kemudian kehidupan tumbuh darinya.

Apakah manusia tidak seharusnya berhenti sejenak untuk memikirkan keteraturan itu?

Bukankah di balik sesuatu yang begitu biasa—air hujan yang turun dari langit—terdapat rangkaian proses yang memungkinkan kehidupan berlangsung?

Al-Qur'an bahkan mengajak manusia memperhatikan proses terbentuknya hujan:

«“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkannya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.»

«Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.”
(QS. an-Nur, 24:43–44)»

Yang menarik bukan hanya fenomenanya, tetapi cara Al-Qur'an mengarahkan manusia untuk menyikapinya. Awan bukan hanya untuk dilihat. Hujan bukan hanya untuk dimanfaatkan. Pergantian malam dan siang bukan hanya sesuatu yang berlangsung berulang-ulang.

Semua itu adalah pelajaran bagi orang yang mempunyai penglihatan.

Dengan demikian, penglihatan dalam perspektif Al-Qur'an bukan sekadar kemampuan mata. Mata melihat fenomena, tetapi akal dan fitrah menangkap makna.

Perhatikan pula bagaimana Al-Qur'an mengajak manusia memperhatikan bayang-bayang, malam, tidur, siang, angin, hujan, tanah yang mati, dan kehidupan:

«“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan.»

«Dan Dia-lah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.»

«Dan Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami hidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami beri minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang ternak dan manusia yang banyak.”
(QS. al-Furqan, 25:45–49)»

Di sini alam bahkan menjadi bagian dari ritme kehidupan manusia.

Malam memberi kesempatan untuk beristirahat. Siang membuka ruang untuk berusaha. Angin membawa kabar tentang hujan. Air menghidupkan tanah yang mati. Dari tanah itu manusia, hewan, dan berbagai makhluk memperoleh kehidupan.

Bukankah semua itu menunjukkan bahwa manusia hidup di dalam sebuah sistem yang jauh lebih besar daripada dirinya?

Ia tidak menciptakan siang dan malam. Ia tidak mengatur perjalanan matahari. Ia tidak menciptakan hujan. Ia tidak menentukan dari mana angin datang. Namun ia hidup di antara semua ketetapan tersebut dan memperoleh kehidupan darinya.

Karena itu, kesadaran terhadap alam semestinya melahirkan kesadaran terhadap posisi manusia di dalamnya.

Allah berfirman:

«“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.»

«Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?»

«Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.»

«Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta-merta mereka berada dalam kegelapan.»

«Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.»

«Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang; masing-masing beredar pada garis edarnya.”
(QS. Yasin, 36:33–40)»

Perhatikan penutup bagian pertama ayat tersebut: “Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”

Di sinilah pengenalan terhadap alam bertemu dengan akhlak.

Manusia melihat bumi yang mati kemudian hidup kembali. Ia melihat tanaman tumbuh, mata air memancar, buah-buahan dapat dimakan, matahari dan bulan berjalan pada ketentuannya. Semua itu bukan hanya pengetahuan untuk disimpan dalam pikiran. Ia seharusnya melahirkan syukur.

Dengan demikian, dalam konsep Islam, ilmu tentang alam tidak berhenti pada mengetahui bagaimana sesuatu berlangsung, tetapi juga mengarahkan manusia untuk bertanya untuk apa pengetahuan itu digunakan dan kepada siapa semua itu akhirnya mengantarkan dirinya.

Al-Qur'an kemudian mengarahkan manusia kepada penciptaan bumi dan langit:

«“Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.’»

«Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya.»

«Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka rela atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka rela.’»

«Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Fushshilat, 41:9–12)»

Ayat ini kembali membawa manusia dari pengamatan terhadap ciptaan menuju pengenalan terhadap Sang Pencipta.

Bumi memiliki ketentuan. Langit memiliki ketentuan. Masing-masing berjalan dalam tatanan yang telah ditetapkan Allah.

Maka semakin manusia mengenal keteraturan alam, semakin ia seharusnya menyadari bahwa alam bukan sesuatu yang berjalan tanpa hukum dan tanpa arah.

Dan akhirnya Al-Qur'an mengajak manusia menatap langit dan bumi dengan pandangan yang lebih dalam:

«“Maka apakah mereka tidak melihat langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?»

«Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pengajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).»

«Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.”
(QS. Qaf, 50:6–11)»

Sekali lagi, manusia diajak melihat.

Namun melihat saja tidak cukup.

Ia harus memperhatikan, memikirkan, memahami, dan mengambil pelajaran. Langit yang tinggi, bumi yang terbentang, gunung-gunung, tumbuh-tumbuhan, air yang turun dari langit, dan tanah yang kembali hidup setelah mati—semuanya berada dalam satu rangkaian tanda.

Bahkan kehidupan tumbuhan setelah turunnya hujan dijadikan perumpamaan bagi kebangkitan manusia.

Dengan demikian, alam dalam konsep Islam bukan sekadar objek penelitian, dan bukan pula sekadar sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Alam adalah ayat Allah yang terbentang.

Manusia diperintahkan untuk membacanya dengan mata, memahaminya dengan akal, merasakannya dengan fitrah, dan memperlakukannya dengan amanah.

Di sinilah hubungan antara wahyu dan alam menjadi jelas. Wahyu membimbing manusia membaca alam, sedangkan alam menghadirkan tanda-tanda yang dapat direnungkan manusia. Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Alam mengajarkan manusia tentang keteraturan. Wahyu mengajarkan manusia bagaimana memahami keteraturan itu dan bagaimana menempatkan dirinya di dalamnya.

Karena itu, mengenal alam dalam perspektif Islam pada akhirnya bukan hanya persoalan mengetahui alam, tetapi juga persoalan mengenal diri, mengenal batas diri, dan mengenal Pencipta alam.

Manusia boleh menjelajahi rahasia-rahasia alam sejauh kemampuan akalnya. Ia boleh meneliti hukum-hukumnya, memahami mekanismenya, memanfaatkan sumber dayanya, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang lahir darinya.

Namun semakin luas pengetahuannya, semakin dalam pula seharusnya kesadarannya bahwa ia hidup di dalam tatanan yang bukan ciptaannya sendiri.

Di situlah pengetahuan berubah menjadi pengenalan, pengenalan melahirkan kesadaran, kesadaran melahirkan syukur, dan syukur mengarahkan manusia untuk berinteraksi dengan alam secara benar.

Alam tidak hanya untuk ditaklukkan. Ia untuk dibaca.
Tidak hanya untuk dimanfaatkan. Ia untuk dipahami.
Tidak hanya untuk diteliti. Ia untuk direnungkan.

Sebab di balik setiap keteraturan yang terbentang di hadapan mata, Al-Qur'an mengajak manusia menemukan tanda-tanda kebesaran Allah.

Dalam Jihad Ada Bekal Jihad adalah kewajiban yang berlaku sampai hari kiamat. Al...

Dalam Jihad Ada Bekal

Jihad adalah kewajiban yang berlaku sampai hari kiamat. Allah swt. berfirman,

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.” (Al-Baqarah: 216)

Ayat di atas senada dengan kewajiban puasa:

“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Jihad merupakan puncak segala urusan. Sebab, kebenaran harus didukung oleh kekuatan yang melindunginya. Mahabenar Allah yang berfirman,

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nashrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan masjid-masjid, yang di dalamnya disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Hajj: 40)

Masih banyak ayat dan hadis yang berbicara tentang jihad.

Seorang mujahid (baca: pejuang) membutuhkan bekal keimanan dan ketakwaan yang membantunya dalam menapaki setiap tahapan jihad. Ia membutuhkan bekal yang dapat mendorongnya untuk segera memenuhi panggilan jihad tanpa ragu dan tidak lebih berat kepada kekayaan dunia hingga malas berjuang. Ia membutuhkan bekal yang dapat menjadikannya tegar dan pantang mundur dalam peperangan. Ia juga membutuhkan bekal yang dapat menjadikannya ikhlas dalam berjuang, terbebas dari motif-motif duniawi, hingga mendapatkan kesyahidan.

Namun, jihad itu sendiri juga merupakan sumber perbekalan. Ketika seorang muslim berada dalam suasana jihad dan persiapan untuk jihad, ia akan terbebas dari kehinaan dunia, tuntutan fisik, syahwat, dan daya tarik dunia. Ruhnya membumbung tinggi, menatap kenikmatan surga dan menikmati semerbak bau surga. Ketinggian ruhani dan terbebasnya diri dari daya tarik dunia merupakan sebaik-baik bekal.

Seorang pejuang melakukan jihad untuk mewujudkan kemenangan dan kemantapan bagi agama Allah, agar manusia dapat merasakan kebahagiaan dengan nilai-nilai positif yang diajarkan oleh Islam serta terhindar dari kesesatan, kejahatan, dan kesyirikan yang dilarang oleh Islam. Perhatian seperti itu dapat menjadikan pelakunya sebagai pribadi yang berwibawa dan terhormat dibandingkan dengan orang yang sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak pernah berpikir kecuali tentang hal-hal yang tidak bermutu dari urusan dunia.

Orang yang maju berjihad menginginkan keridaan Allah, keberuntungan, kemenangan, atau kesyahidan. Orang yang berada dalam kondisi seperti itu tidak mungkin menyimpan kebencian atau dendam kepada saudara-saudaranya sesama muslim. Ia tidak akan berpikir untuk mengganggu orang, merampas hak orang lain, atau melakukan hal-hal yang membuat Allah murka. Bagaimana mungkin ia melakukan hal itu, padahal ia terjun ke medan perang untuk mencari kesyahidan?

Penyucian jiwa dan mujahadah seperti itu merupakan bekal yang sangat bermanfaat, meskipun ia tidak segera mendapatkan kesyahidan.

Orang yang berjihad fi sabilillah selalu berupaya memerangi godaan setan yang menghambatnya untuk berjihad dengan berbagai sarana: kesenangan, kenyamanan, istri, anak-anak, bayangan tentang susahnya keluarga sepeninggal dirinya, serta berbagai sarana setan lainnya.

Perang melawan godaan setan ini dapat memperkuat kemauan dan menimbulkan imunitas kejiwaan dengan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kekayaan dunia, bertawakal kepada-Nya, bersandar kepada-Nya, serta yakin bahwa Dia-lah kawan dalam perjalanan dan pengganti bagi keluarga, harta, dan anak.

Semua itu dapat melatih jiwa, memperkuat kemauan, dan membangun kepribadian muslim yang kuat di atas dasar ketakwaan. Dan ini merupakan bekal yang besar.

Mujahid harus melakukan persiapan dan mengupayakan faktor-faktor kekuatan:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal: 60)

Kekuatan yang harus dipersiapkan tidak hanya terbatas pada kekuatan senjata dan logistik, tetapi juga mencakup kekuatan akidah, keimanan, persatuan, ikatan, ilmu, harta, dan seluruh faktor kekuatan lainnya. Terealisasinya hal-hal tersebut merupakan bekal bagi seorang mukmin.

Di samping mengupayakan faktor-faktor kekuatan, mujahid juga harus menghilangkan faktor-faktor kelemahan: kelemahan kemauan, kerisauan, kesedihan, tidak produktif, ketidakberdayaan, malas, minder, pengecut, bakhil, kurang percaya diri, tidak merasa bangga dengan agamanya, dan lain sebagainya.

Rasulullah saw. mengajarkan sebuah doa agar terhindar dari faktor-faktor kelemahan tersebut:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan duka cita. Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari kepengecutan dan kebakhilan. Aku berlindung kepada-Mu dari dililit utang dan didominasi orang lain.”

Terbebasnya diri dari kelemahan-kelemahan tersebut merupakan sebaik-baik bekal.

Alangkah tepatnya bila seorang muslim yang telah berazam untuk berjihad menyepi bersama Al-Qur'an. Ia membacanya dan berhenti sejenak untuk meresapi ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah jihad. Sebab, kesiapan mentalnya untuk berjihad dapat memudahkannya meresapi ayat-ayat tersebut secara mendalam.

Dengan begitu, ia akan mendapatkan bekal yang cukup dan pelajaran berharga yang dapat dijadikan pedoman dalam menapaki tahapan-tahapan jihad. Kami sebut beberapa ayat tentang hal tersebut sebagai contoh, agar kita dapat mengetahui sejauh mana kejelasan dan ketelitian Al-Qur'an dalam membahas masalah jihad.

Allah swt. berfirman:

“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.’

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut. Sebab itu, perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?’

“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.’” (An-Nisa: 74–77)

Kemudian perhatikanlah ayat-ayat yang mengetengahkan dua kondisi yang dihadapi oleh orang mukmin. Kondisi yang pertama menghasilkan pahala yang besar, sementara kondisi yang kedua membawa kepada siksa dan murka Allah.

Allah swt. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang di jalan Allah)’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksaan yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberikan kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (At-Taubah: 38–39)

Allah juga berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berperang untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan Allah dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 15–16)

Al-Qur'an juga mengisahkan Thalut dan pasukannya yang melalui beberapa tahapan penyaringan, hingga terseleksilah sekelompok kecil pasukan yang sabar dan tegar serta memohon kepada Allah agar diberi kesabaran dan keteguhan. Dengan kelompok yang sedikit itu, Thalut memperoleh kemenangan.

Allah swt. berfirman:

“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa yang tidak meminumnya, kecuali menciduk tangan, maka ia adalah pengikutku.’

“Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata, ‘Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.’

“Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, ‘Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah. Dan Dawud membunuh Jalut. Kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah sesudah meninggalnya Thalut dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (Al-Baqarah: 249–251)

Ketika kelompok batil yang tengah berjaya, didukung oleh persenjataan serta peralatan yang lengkap dan jumlah personel yang besar, menakut-nakuti kelompok yang berada di pihak yang hak, hal itu tidak membuat hati para mujahid menjadi ciut. Bahkan, hal itu justru menambah keimanan mereka.

Sebab, mereka benar-benar memahami bahwa kemenangan itu berasal dari Allah dan seluruh kekuatan hanyalah milik Allah. Allah swt. berfirman:

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.’

“Mereka tidak mendapat bencana apa-apa. Mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

“Sesungguhnya mereka (yang menakut-nakuti) itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Ali Imran: 173–175)

Demikianlah, dalam suasana jihad iman semakin bertambah kokoh, melebihi masa-masa biasa.

Bentuk lain dari karakteristik keuniversalan konsep Islam adalah bah...


Bentuk lain dari karakteristik keuniversalan konsep Islam adalah bahwa, sebagaimana ia berbicara tentang hakikat uluhiyah dengan segala karakteristik, pengaruh, dan sifatnya—dengan menempatkan hakikat tersebut sebagai hakikat pertama, terbesar, dan fundamental dalam konsep Islam—ia juga berbicara tentang hakikat 'ubudiyah beserta karakteristik dan sifatnya.

Konsep Islam tidak hanya menjelaskan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga berbicara tentang hakikat 'ubudiyah yang terdapat dalam alam, kehidupan, dan diri manusia. Karena itu, konsep ini sekaligus berbicara tentang hakikat alam, hakikat kehidupan, dan hakikat manusia. Pembahasannya meliputi tabiat, kejadian, sifat, keadaan, hubungan di antara ketiganya, serta hubungan semuanya dengan hakikat Ilahi yang Mahabesar itu.

Dengan demikian, berbagai hakikat tersebut dipadukan dari segala sisinya dalam satu konsep yang logis dan fitri. Konsep itu berinteraksi dengan insting, pikiran, perasaan, dan seluruh unsur eksistensi manusia dengan cara yang mudah dan selaras.

Dari keseluruhan hakikat yang dikandung oleh konsep Islam—yang bersifat universal, luas, mendalam, sekaligus terperinci—terbentuklah suatu gambaran yang sempurna dan menyeluruh serta penafsiran yang lengkap dan terperinci. Konsep ini tidak memerlukan tambahan dari sumber lain. Bahkan, tambahan dari konsep lain berpotensi merusak kesatuan dan keharmonisannya, karena konsep Islam telah mencakup wilayah yang luas dan menyeluruh, cermat dan mendalam, serta harmonis dan integral.

Kerusakan dan keruwetan dalam memahami konsep Islam pernah terjadi ketika sejumlah orang yang dalam sejarah dikenal sebagai "filosof-filosof Islam" berusaha meminjam beberapa konsep dan istilah dari filsafat Yunani, khususnya dari Aristoteles, Plato, dan sejumlah teolog Masehi, lalu memasukkannya ke dalam bangunan konsep Islam.

Padahal, konsep Islam demikian universal dan luas, demikian cermat dan mendalam, serta demikian orisinal dan harmonis, sehingga ia menolak setiap unsur asing yang dimasukkan ke dalamnya, bahkan ketika unsur tersebut hanya berupa istilah yang digunakan dalam pola-pola pemikiran asing.

Hal ini berkaitan dengan karakter istilah itu sendiri. Setiap istilah memiliki sejarah dan konotasi tertentu yang bersumber dari lingkungan pemikiran tempat istilah tersebut lahir. Makna itu tidak selalu dapat dilepaskan begitu saja dari sejarahnya, kemudian ditempatkan dalam suatu medan pemikiran baru seolah-olah terbebas dari konotasi asalnya.

Konsep Islam memiliki istilah-istilah khusus yang sejalan dengan watak etimologi bahasanya, kondisi sejarahnya, permasalahannya, tabiatnya, dan konotasi yang dikandungnya. Karena itu, memahami konsep Islam memerlukan kepekaan yang mampu menangkap tuntutan-tuntutan konsep tersebut, baik dalam rasa maupun dalam cara pengungkapannya.

Konsep Islam sejak semula ditegakkan di atas landasan pengenalan manusia kepada Tuhannya secara cermat, sempurna, dan menyeluruh. Konsep ini mengenalkan kepada manusia Zat Allah SWT, sifat-sifat-Nya, serta karakteristik uluhiyah-Nya yang unik dan benar-benar berbeda dari karakteristik 'ubudiyah.

Konsep ini juga mengenalkan pengaruh uluhiyah tersebut terhadap alam, diri manusia, kehidupan, dan seluruh dunia makhluk hidup. Pengenalan itu disampaikan demikian luas di dalam Al-Qur'an sehingga wujud Ilahi dalam jiwa manusia menjadi sesuatu yang kokoh, jelas, inspiratif, berpengaruh, dan menguasai jiwa dari berbagai sisinya.

Jiwa hidup dan terikat dengan wujud ini. Ia tidak dapat berpaling darinya, melupakannya, ataupun melalaikannya, karena gambaran tentang wujud Ilahi itu demikian kuat, jelas, dan aktif. Ia senantiasa hadir di hadapan jiwa, memperlihatkan tanda-tanda-Nya, dan memberikan pengaruh kepadanya.

Hal tersebut antara lain tergambar dalam berbagai ayat Al-Qur'an berikut.

"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan."
(QS. al-Fatihah, 1:2–4)

"Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
(QS. al-Baqarah, 2:255)

"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (al-Qur'an) untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Ali 'Imran, 3:2–6)

"Katakanlah: Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau beri kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab."
(QS. Ali 'Imran, 3:26–27)

"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?' Katakanlah: 'Kepunyaan Allah'. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan diri mereka, mereka itu tidak beriman. Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah: 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah: 'Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerahkan diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik'.

Katakanlah: 'Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku'. Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.

Dan jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Katakanlah: 'Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?' Katakanlah: 'Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai Al-Qur'an kepadanya.' Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?' Katakanlah: 'Aku tidak mengakui.' Katakanlah: 'Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)."

(QS. al-An'am, 6:12–19)

"Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. Yang mengetahui semua yang gaib dan yang tampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi.

Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antara kamu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya. Dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan mereka berbantah-bantah tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Mahakeras siksa-Nya.

Hanya bagi Allah-lah dakwah yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.

Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan sujud pula bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang.

Katakanlah: 'Siapakah Tuhan langit dan bumi?' Jawablah: 'Allah'. Katakanlah: 'Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri?'

Katakanlah: 'Samakah orang yang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang?' Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: 'Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa'."

(QS. ar-Ra'd, 13:8–16)

"Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.

Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai."

(QS. al-Anbiya', 21:19–23)

"Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati."

(QS. al-Hadid, 57:1–6)

Dan masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bagaimana Al-Qur'an membangun pengenalan manusia terhadap hakikat uluhiyah secara luas, mendalam, dan menyeluruh.

Sunah Rasul: Bekal Sepanjang Kehidupan Sunah Rasulullah saw. secara ...


Sunah Rasul: Bekal Sepanjang Kehidupan
Sunah Rasulullah saw. secara keseluruhan adalah bekal bagi kehidupan seorang muslim. Sunah menghidupkan hati orang-orang yang mengikutinya, membawa mereka menuju derajat iman dan ketakwaan yang lebih tinggi, membekali mereka dengan berbagai kebaikan, menjauhkan mereka dari berbagai keburukan, serta membangun kepribadian mereka dalam berbagai aspek: akidah, ibadah, akhlak, fisik, pemikiran, dan kehidupan sosial.

Sunah tidak hanya berbicara tentang satu atau dua sisi kehidupan. Ia mengikuti perjalanan seorang muslim dalam seluruh tahap kehidupannya: sejak sebelum kelahirannya hingga setelah ia meninggalkan dunia; ketika terjaga maupun tidur; ketika bergerak maupun diam; ketika mukim maupun bepergian; ketika berada di masjid, rumah, pasar, tempat kerja, jalan, dan di berbagai tempat lainnya.

Seolah-olah sunah menjadi pendamping yang senantiasa membekali seorang muslim dengan sesuatu yang bermanfaat dan menjaganya dari berbagai hal yang membahayakan serta melemahkannya. Seluruh kehidupan itu diarahkan agar berdiri di atas fondasi akidah Islam yang diridai Allah.

Namun, kehidupan yang dimaksud bukan sekadar kehidupan fisik sebagaimana makhluk hidup lainnya. Kehidupan yang paling utama adalah kehidupan hati: mengenal Allah, beriman kepada-Nya, dan berjalan dengan cahaya petunjuk-Nya. Allah berfirman,

«"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?"
(QS. Al-An'am: 122)»

Allah juga berfirman,

«"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu."
(QS. Al-Anfal: 24)»

Dengan mengikuti sunah dan menyambut seruan Rasulullah saw., hati akan memperoleh kehidupan. Inilah salah satu bentuk bekal yang luar biasa. Pada saat yang sama, sunah juga memberikan tuntunan yang menjaga kesehatan dan kesegaran fisik.

Rasulullah saw. Sangat Menginginkan Kebaikan bagi Kita

Rasulullah saw. sangat mencintai umatnya. Beliau menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka, perhatian terhadap penderitaan mereka, dan tidak menginginkan sesuatu yang menyusahkan mereka. Allah menggambarkan sifat tersebut dalam firman-Nya,

«"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 128)»

Jika kita menyadari hal itu, semestinya kita semakin terdorong untuk mengikuti sunahnya. Sunah adalah sumber petunjuk yang penuh kebaikan. Perkataan, perbuatan, perintah, dan larangan Rasulullah saw. merupakan petunjuk bagi manusia yang berada dalam bimbingan Allah, Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang bermanfaat maupun membahayakan manusia.

Allah berfirman,

«"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?"
(QS. Al-Mulk: 14)»

Karena itu, mengikuti sunah bukan sekadar mengikuti kebiasaan seorang tokoh dalam sejarah. Ia adalah upaya menapaki jalan kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., manusia pilihan yang kehidupannya menjadi teladan bagi orang-orang yang mengharapkan keridaan Allah.

Figur yang Sempurna

Rasulullah saw. adalah figur teladan bagi kehidupan yang diridai Allah. Karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya. Allah berfirman,

«"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah."
(QS. Al-Ahzab: 21)»

Bahkan Allah mengaitkan kecintaan seorang hamba kepada-Nya dengan kesediaannya mengikuti Rasulullah saw. Allah berfirman,

«"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: 31)»

Ayat ini memperlihatkan betapa erat hubungan antara cinta kepada Allah, mengikuti Rasulullah saw., memperoleh cinta Allah, dan mendapatkan ampunan-Nya.

Rasulullah saw. telah mencapai puncak keimanan dan ketakwaan. Karena itu, meneladani beliau merupakan jalan untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita.

Ketika kita mengetahui bahwa Rasulullah saw. melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak, misalnya, pengetahuan itu seharusnya mendorong kita untuk menghidupkan sebagian malam dengan salat, doa, dan munajat. Kita mungkin tidak mampu menyamai beliau, tetapi kita dapat belajar dari kesungguhannya. Dan itu adalah sebaik-baik bekal.

Hati Rasulullah saw. senantiasa terhubung dengan Allah. Beliau tidak hidup dalam kelalaian. Nikmat Allah, karunia-Nya, ayat-ayat-Nya, berbagai peristiwa yang dihadapi, serta fenomena alam yang disaksikannya menjadi jalan untuk mengingat Allah.

Ketika kita meneladaninya, kita pun belajar menghubungkan berbagai keadaan hidup dengan Allah. Makan, minum, bekerja, bepergian, beristirahat, berinteraksi dengan manusia, menghadapi kesulitan, maupun menikmati kesenangan tidak lagi menjadi aktivitas yang terpisah dari penghambaan kepada-Nya.

Inilah bekal yang tidak akan pernah habis.

Sunah Mengubah Aktivitas Menjadi Kesadaran

Mengikuti sunah dalam makan, minum, berpakaian, tidur, bangun, buang hajat, berinteraksi dengan orang lain, dan berbagai aktivitas sehari-hari mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Allah.

Kita belajar memilih yang halal, menjauhi yang dimurkai Allah, dan menghadirkan zikir dalam berbagai keadaan.

Perhatikan, misalnya, doa setelah buang hajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah karena telah menghilangkan gangguan dari tubuh. Sesuatu yang tampak sederhana ternyata mengingatkan kita kepada nikmat yang sering tidak kita sadari.

Bayangkan jika buang air kecil atau buang air besar tertahan dan tidak dapat keluar. Tentu akan menimbulkan penderitaan, bahkan dapat membahayakan kehidupan. Sunah mengajarkan kita untuk menyadari nikmat yang sering kali baru terasa ketika nikmat itu terganggu.

Dengan demikian, sunah tidak sekadar mengatur gerakan lahiriah. Ia mendidik kesadaran batin.

Orang yang menjalani aktivitas tanpa kesadaran kepada Allah mudah terjebak dalam kelalaian. Ia makan ketika lapar, tidur ketika mengantuk, bekerja ketika membutuhkan penghasilan, dan menikmati berbagai kesenangan tanpa menghubungkannya dengan tujuan penciptaan manusia.

Sunah mengangkat aktivitas-aktivitas tersebut dari sekadar rutinitas menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Tentu, seluruh sunah Rasulullah saw. yang menyimpan begitu banyak bekal tidak mungkin dibahas dalam kesempatan yang terbatas ini. Untuk mengetahuinya secara lebih luas, kita perlu merujuk kepada kitab-kitab hadis dan sunah yang telah dibukukan oleh para imam. Di sini cukup kita perhatikan beberapa keindahannya sebagai bahan renungan.

Di antara Keindahan Sunah

Perhatikanlah bagaimana sunah memperhatikan kehidupan manusia sejak tahap yang sangat awal.

Sunah menganjurkan pembentukan keluarga yang dibangun di atas ketakwaan, antara lain melalui pemilihan pasangan yang baik agamanya. Dari keluarga yang baik diharapkan lahir lingkungan rumah tangga yang kondusif bagi pendidikan anak.

Dalam hubungan suami istri pun terdapat tuntunan doa dan perlindungan kepada Allah. Ketika seorang anak lahir, terdapat berbagai tuntunan yang berkaitan dengan penyambutan kelahirannya, pemberian nama yang baik, dan perhatian terhadap kehidupannya.

Demikian seterusnya. Sunah memberikan perhatian terhadap berbagai tahapan kehidupan manusia.

Perhatian tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, kekuatan fisik, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan berbagai kebutuhan manusia lainnya. Sunah juga memberikan perhatian terhadap aktivitas yang melatih keberanian dan keterampilan, serta mendorong para pemuda untuk membangun keluarga dan memperingatkan berbagai hal yang dapat merusak bangunan keluarga dan masyarakat.

Bahkan ketika seorang muslim menghadapi kematian, sunah tetap memberikan tuntunan. Orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dituntun untuk mengingat kalimat tauhid. Setelah meninggal, jenazah dimandikan, dikafani, disalatkan, disegerakan pemakamannya, dan didoakan. Sunah juga melarang berbagai bentuk ratapan yang tidak dibenarkan.

Betapa luas perhatian sunah terhadap manusia.

Rasulullah saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu tampak dalam berbagai wasiat dan tuntunan beliau terhadap perempuan, anak-anak, pelayan, tawanan, fakir miskin, orang sakit, orang-orang lemah, mereka yang membutuhkan bantuan, bahkan terhadap hewan.

Mengikuti sunah berarti belajar menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan. Semakin kita memahami sunah, semakin kita menyadari bahwa Islam tidak hanya mendidik hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan makhluk-makhluk Allah.

Sunah Menjaga Perasaan Manusia

Sunah juga memberikan perhatian yang sangat halus terhadap perasaan manusia.

Ketika berbicara dengan seseorang, Rasulullah saw. memberikan perhatian kepada lawan bicaranya. Beliau memperjelas perkataannya dan mendengarkan dengan baik.

Ketika ingin mengingatkan kesalahan seseorang, beliau tidak selalu menyebutkan nama orang tersebut. Beliau dapat mengatakan, "Mengapa sebagian kaum melakukan demikian dan demikian?" Dengan cara itu, kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus mempermalukan pelakunya.

Sunah juga melarang seseorang berbisik dengan orang lain ketika ada orang ketiga yang duduk bersama mereka. Sebab, hal tersebut dapat melukai perasaan atau menimbulkan prasangka.

Perhatian-perhatian kecil semacam ini menunjukkan bahwa akhlak dalam sunah bukan sesuatu yang abstrak. Ia hadir dalam cara berbicara, cara mendengarkan, cara menegur, bahkan cara menjaga perasaan orang lain.

Sunah Menguatkan Ukhuwah

Sunah juga menyeru kepada pengokohan hubungan antara ayah, ibu, anak, kerabat, dan tetangga.

Kita dianjurkan untuk saling mencintai karena Allah, saling mengunjungi, memberi hadiah, mengucapkan salam, berjabat tangan, tersenyum ketika bertemu, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin, mengantar jenazah, dan melakukan berbagai hal yang memperkuat hubungan antarsesama.

Sebaliknya, sunah melarang berbagai tindakan yang dapat merusak persaudaraan.

Semua itu merupakan bekal yang sangat dibutuhkan setiap muslim, terlebih bagi orang yang menapaki jalan dakwah. Seorang dai tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Ia juga membutuhkan hati yang hidup, akhlak yang baik, kemampuan menjaga perasaan, dan kemampuan membangun hubungan dengan manusia.

Sunah dan Pembinaan Kepribadian

Sunah membina pribadi muslim agar memiliki iman yang kuat, tekad yang kokoh, fisik yang sehat, akhlak yang mulia, serta berbagai bentuk kekuatan yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.

Pada saat yang sama, sunah mendidik seorang muslim agar terbebas dari berbagai kelemahan: pengecut, bakhil, tidak berdaya, malas, ragu-ragu, bimbang, waswas, pesimis, mudah mempercayai kesialan, dan tidak memiliki pendirian.

Seorang muslim diharapkan menjadi pribadi yang memiliki prinsip, mampu mengambil keputusan, memberi pengaruh yang baik, dan tidak mudah terseret oleh keadaan.

Karena itu, sunah tidak hanya membentuk manusia yang saleh secara pribadi, tetapi juga manusia yang memiliki daya tahan dan tanggung jawab dalam kehidupan.

Sunah juga mengajarkan agar tarikan dunia tidak menguasai hati. Dunia bukan untuk ditinggalkan seluruhnya, tetapi kenikmatannya tidak boleh menjadikan manusia lupa terhadap tujuan akhirnya.

Nilai ini semakin penting ketika kehidupan modern mendorong manusia untuk terus mengejar harta, memenuhi berbagai kebutuhan, meningkatkan konsumsi, dan menciptakan sarana-sarana baru yang terus menggoda manusia untuk memilikinya.

Jika tidak berhati-hati, manusia dapat menghabiskan seluruh energinya untuk mengejar dunia dan menganggap dunia seolah-olah merupakan kehidupan yang sesungguhnya.

Sunah menjaga manusia dari keadaan tersebut. Ia mengarahkan perhatian kepada akhirat dan keridaan Allah, sehingga dunia tetap berada di tangan, bukan menguasai hati.

Bahkan Tidur Pun Menjadi Bagian dari Pendidikan

Perhatikan pula bagaimana sunah memberikan perhatian terhadap sesuatu yang sangat sederhana: tidur.

Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang tidur dalam keadaan berwudu, berbaring ke sisi kanan, membaca doa sebelum tidur yang mengingatkan kepada Allah dan kematian, serta membaca doa-doa tertentu ketika mengalami mimpi buruk dan ketika bangun tidur.

Seolah-olah sunah hadir dalam kehidupan seorang muslim seperti seorang ibu yang penuh kasih kepada anaknya: menenangkannya ketika ketakutan, menjaganya dari sesuatu yang membahayakan, dan membimbingnya dengan penuh kasih.

Di sinilah kita menemukan keindahan sunah.

Ia tidak hanya hadir ketika kita berada di masjid. Ia hadir ketika kita berada di rumah. Ia tidak hanya hadir ketika kita sedang beribadah dalam bentuk ritual. Ia juga hadir ketika kita makan, tidur, bekerja, berbicara, bergaul, bepergian, dan menjalani berbagai aktivitas kehidupan.

Sunah memberikan bekal agar kehidupan seorang muslim tidak menjadi kehidupan yang terpecah-pecah.

Ia membentuk kepribadian yang memiliki arah dan prinsip, bukan pribadi yang tambal sulam: mengambil nilai dari sana, mengikuti kebiasaan dari sini, lalu kehilangan identitas dan arah hidup.

Ketika Sunah Menjadi Sebab Perpecahan

Namun, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan.

Jangan sampai perhatian kita terhadap amalan sunah justru mengurangi perhatian terhadap amalan yang fardu. Jangan pula menjadikan persoalan sunah sebagai alasan untuk berseteru, saling membenci, saling menjauhi, atau saling berlepas diri.

Kita perlu membedakan antara berkomitmen mengamalkan sunah dan mengajak orang lain untuk mengamalkannya.

Berkomitmen terhadap sunah adalah sesuatu yang baik. Mengajak orang lain kepada sunah juga merupakan bagian dari dakwah. Tetapi dakwah kepada sunah harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, bukan dengan menghina, memfasiqkan, menjauhi, atau menimbulkan perpecahan.

Dalam persoalan-persoalan yang memang termasuk wilayah perbedaan pendapat di kalangan ulama, seorang muslim perlu memiliki keluasan hati dan memahami bahwa menjaga persaudaraan merupakan bagian penting dari ajaran Islam.

Terdapat kisah yang dinisbatkan kepada Imam Hasan Al-Banna. Dalam salah satu kunjungan dakwah, ia menjumpai penduduk sebuah kampung yang terbagi menjadi dua kelompok dan hampir bertikai karena perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan azan. Sebagian menyertakan shalawat dengan cara tertentu dalam azan, sementara sebagian lainnya menolaknya.

Hasan Al-Banna kemudian berkata kepada mereka, "Kalian tidak perlu mengumandangkan azan dan salatlah tanpa azan."

Mereka terheran-heran dan menjawab bahwa mereka tidak rela jika azan tidak dikumandangkan dengan keras di kampung tersebut.

Kemudian ia mengatakan, "Azan itu sunah, sedang persatuan itu kewajiban. Karenanya, tinggalkanlah yang sunah bila menyebabkan yang wajib terlantar."

Kisah tersebut, terlepas dari pembahasan mengenai kedudukan riwayatnya, mengandung sebuah pelajaran yang penting: jangan sampai perhatian terhadap perkara cabang membuat kita kehilangan perkara yang lebih pokok.

Sunah semestinya menjadi bekal yang menghidupkan hati, memperbaiki akhlak, memperkuat ukhuwah, dan mendekatkan kita kepada Allah. Jika cara kita memperjuangkan sunah justru menghasilkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang mengikuti sunah Rasulullah saw., atau hanya sedang mempertahankan pendapat kita tentang sunah?

Menjadikan Sunah sebagai Bekal

Demikianlah, sunah Rasulullah saw. menyimpan bekal yang begitu melimpah.

Ia menghidupkan hati dengan iman.
Ia membimbing kehidupan dengan petunjuk.
Ia memperbaiki akhlak.
Ia menjaga tubuh dan kehidupan.
Ia menguatkan keluarga dan masyarakat.
Ia membentuk pribadi yang kokoh.
Ia mengajarkan kasih sayang.
Ia mempersiapkan manusia menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.

Semakin kita mengenal sunah, semakin kita menyadari bahwa ia bukan sekadar kumpulan amalan tambahan dalam kehidupan seorang muslim. Sunah adalah jalan untuk menghadirkan teladan Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, marilah kita mengambil bekal yang bermanfaat dari sunah Rasulullah saw. Kita berusaha menjadi orang-orang yang mengikuti sunah, bukan membuat-buat ajaran baru; mencintai sunah tanpa meremehkan kewajiban; mengajak kepadanya dengan hikmah; dan menjadikannya sarana untuk semakin dekat kepada Allah.

Sebab, pada akhirnya, sunah bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan.

Dan ketika sunah hidup dalam hati, ia akan tercermin dalam akhlak, keluarga, masyarakat, dan seluruh perjalanan kehidupan seorang muslim.

Hanya Allah yang membimbing kita kepada jalan yang benar dan memberikan taufik untuk mengamalkan apa yang kita ketahui.

DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL Sunah Rasulullah saw. memiliki kedudukan y...




DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL

Sunah Rasulullah saw. memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar kumpulan perkataan dan perbuatan Nabi, melainkan cermin pertama dan paling nyata dari bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan. Sunah menjelaskan Kitabullah, menerjemahkan ajaran Al-Qur’an ke dalam kehidupan, dan menjadi sumber kedua dalam syariat Islam.

Karena itu, jika Al-Qur’an adalah sumber perbekalan yang tidak pernah habis, maka Sunah adalah jalan untuk menggali dan menghidupkan perbekalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum berbicara tentang bekal yang kita peroleh dengan mengikuti Sunah, kita perlu merenungkan kembali kedudukan dan urgensinya. Renungan ini semakin penting ketika pada zaman kita muncul berbagai upaya untuk mengecilkan peran Sunah, meragukan otoritasnya, bahkan memisahkan Al-Qur’an dari penjelasan Rasulullah saw.

Padahal, bagaimana mungkin seseorang mengaku menerima Islam, tetapi pada saat yang sama ragu terhadap petunjuk Rasul yang membawa dan menjelaskan Islam itu sendiri?

Mengapa Kita Harus Mengikuti Sunah?

Sikap seorang muslim terhadap Rasulullah saw. bukanlah perkara tambahan dalam keislamannya. Ia merupakan bagian dari konsekuensi iman.

Allah Swt. berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur: 51)

Bahkan Allah memberikan ukuran yang sangat tegas mengenai iman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)

Lalu Allah mengaitkan kecintaan kepada-Nya dengan mengikuti Rasulullah saw.:

“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’”
(QS. Ali ‘Imran: 31–32)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: seberapa sungguh-sungguh kita mencintai Allah jika mengikuti Rasulullah saw. masih terasa sebagai sesuatu yang berat?

Allah tidak hanya menjanjikan cinta kita kepada-Nya, tetapi juga cinta-Nya kepada kita, ketika kita mengikuti Rasulullah saw.

Maka seorang muslim yang tulus tidak seharusnya memandang Sunah sebagai beban tambahan dalam agama. Sunah justru merupakan jalan yang menunjukkan bagaimana iman diterjemahkan menjadi kehidupan.

Sunah Adalah Petunjuk Kehidupan

Jika kita benar-benar meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah dan Muhammad saw. adalah utusan Allah, maka mengikuti petunjuk beliau seharusnya menjadi sesuatu yang alami dalam kehidupan kita.

Sebab manusia membutuhkan petunjuk. Akal manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, tetapi juga memiliki keterbatasan. Pengalaman manusia terus berkembang, tetapi tidak selalu menghasilkan kebenaran. Tradisi masyarakat dapat diwariskan turun-temurun, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk dari Penciptanya.

Allah Swt. berfirman:

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 123–124)

Dengan demikian, mengikuti Al-Qur’an dan Sunah bukan sekadar persoalan mempertahankan identitas keagamaan. Ia berkaitan dengan arah kehidupan manusia: apakah ia berjalan menuju petunjuk atau mengikuti jalan yang dibuat oleh hawa nafsu, kebiasaan, dan tekanan lingkungan.

Dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunahku.”

Para sahabat yang hidup bersama Rasulullah saw. memahami persoalan ini dengan sangat serius. Mereka tidak memandang perkataan dan perbuatan Nabi sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masjid atau ritual keagamaan. Mereka memperhatikan bagaimana Rasulullah berbicara, makan, tidur, bermuamalah, memimpin, mendidik, menyelesaikan perselisihan, memperlakukan keluarga, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Mengapa?

Karena mereka memahami bahwa kehidupan Rasulullah saw. adalah kehidupan yang dibimbing wahyu.

Dari Ibadah Ritual Menuju Seluruh Kehidupan

Sering kali kita memahami ibadah hanya dalam bentuk shalat, puasa, zakat, dan haji. Padahal kehidupan seorang muslim jauh lebih luas daripada itu.

Makan, minum, tidur, bekerja, belajar, mencari nafkah, menikah, mendidik anak, bermuamalah, memimpin, bahkan cara kita berbicara kepada orang lain, semuanya dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam ibadah ritual, kita memahami pentingnya mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Kita tidak melaksanakan shalat menurut selera sendiri. Kita tidak menentukan sendiri tata cara haji. Kita tidak menciptakan bentuk puasa yang kita anggap paling baik.

Lalu mengapa ketika memasuki wilayah kehidupan sehari-hari kita merasa bebas menentukan semuanya berdasarkan selera, tren, adat, atau budaya yang sedang dominan?

Bukankah kehidupan sehari-hari juga bagian dari amanah Allah?

Bayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi sebuah alat. Perusahaan itu biasanya menyertakan petunjuk penggunaan agar alat tersebut dapat digunakan dengan benar, optimal, dan tidak cepat rusak.

Jika manusia menerima logika sederhana ini terhadap sebuah produk buatan manusia, bagaimana dengan manusia yang diciptakan oleh Allah?

Allah adalah Pencipta kita. Dia mengetahui apa yang memperbaiki dan apa yang merusak kita; apa yang membawa maslahat dan apa yang mendatangkan mudarat. Karena itu, Dia memberikan petunjuk melalui Kitab-Nya dan melalui Rasul-Nya.

Maka mengikuti Sunah bukanlah kehilangan kebebasan. Justru di dalam petunjuk itulah manusia menemukan jalan agar kebebasannya tidak berubah menjadi kesesatan.

Sunah Melahirkan Kesadaran

Ada bekal yang sangat penting dari mengikuti Sunah: kesadaran.

Ketika seseorang berusaha mengikuti Rasulullah saw. dalam berbagai aspek kehidupannya, ia tidak lagi menjalani hidup secara sembarangan. Ia mulai bertanya sebelum bertindak:

Bagaimana Rasulullah melakukan hal ini?

Bagaimana beliau berbicara dalam keadaan seperti ini?

Bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda pendapat?

Bagaimana beliau memperlakukan keluarga, tetangga, sahabat, bahkan orang yang memusuhinya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu melahirkan kesadaran.

Kita menjadi lebih berhati-hati terhadap ucapan dan perbuatan. Kita belajar mengoreksi diri sebelum kelak diperiksa pada hari kiamat. Kita belajar mengendalikan hawa nafsu karena tidak setiap keinginan layak diikuti.

Inilah salah satu bekal terbesar dari Sunah: disiplin jiwa.

Sunah tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus dilakukan, tetapi juga melatih kita untuk hidup dalam kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sunah Membentuk Masyarakat

Mengikuti Sunah juga tidak berhenti pada perubahan pribadi. Ia memiliki dampak sosial.

Setiap manusia memiliki watak, selera, dan kecenderungan yang berbeda. Jika setiap orang membangun kehidupannya hanya berdasarkan selera masing-masing, perbedaan tersebut dapat berkembang menjadi persaingan, pertentangan, bahkan konflik.

Islam menghadirkan pedoman bersama.

Ketika masyarakat memiliki nilai yang sama—dalam kejujuran, amanah, adab, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan cara menyelesaikan persoalan—perbedaan individu tidak harus berubah menjadi perpecahan.

Masyarakat muslim ibarat bangunan yang tersusun dari batu bata. Setiap batu memiliki posisi dan fungsi masing-masing, tetapi semuanya disusun dalam satu aturan sehingga menjadi bangunan yang kokoh.

Sunah memberikan banyak contoh konkret mengenai bagaimana manusia hidup bersama: bagaimana menghormati tetangga, memperlakukan keluarga, berdagang, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan, dan menjaga hak orang lain.

Dengan demikian, mengikuti Sunah bukan hanya membentuk individu yang saleh, tetapi juga membantu membangun masyarakat yang beradab.

Ketika Kita Kehilangan Sunah

Salah satu persoalan umat Islam hari ini bukan karena mereka tidak memiliki agama, tetapi karena sebagian nilai kehidupan mereka semakin jauh dari petunjuk agama.

Pada titik tertentu muncul perasaan bahwa kemajuan harus selalu dicari dengan meniru masyarakat lain. Tradisi sendiri dianggap terbelakang, sedangkan budaya asing dipandang sebagai simbol kemajuan.

Padahal kita perlu membedakan antara mengambil ilmu dan teknologi yang bermanfaat dengan kehilangan orientasi nilai.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menolak ilmu, teknologi, atau kemajuan manusia. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menganggap bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meninggalkan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu.

Peradaban bukan sekadar bentuk luar. Di balik sistem sosial, ekonomi, pendidikan, keluarga, dan politik terdapat nilai dan pandangan hidup. Karena itu, meniru sebuah peradaban secara membabi buta dapat berarti menerima sebagian nilai yang berada di baliknya tanpa kita sadari.

Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak kehilangan jati diri hanya karena merasa rendah diri terhadap orang lain.

Masalah umat Islam bukan karena Islam tidak memiliki pedoman kehidupan yang lengkap. Masalahnya justru sering kali karena kita semakin jauh dari pedoman tersebut.

Bukankah Allah yang menciptakan manusia adalah Yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia?

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)

Apakah Mengikuti Sunah Memasung Kebebasan?

Sebagian orang mungkin bertanya: bukankah mengikuti Rasulullah saw. dalam seluruh aspek kehidupan akan membatasi kebebasan manusia?

Pertanyaan ini perlu direnungkan kembali.

Sebab kebebasan tanpa petunjuk tidak selalu menghasilkan kemerdekaan. Seseorang dapat merasa bebas, tetapi sebenarnya diperbudak oleh hawa nafsu, konsumsi, tren, tekanan sosial, atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Islam menawarkan bentuk kebebasan yang berbeda: manusia tidak menjadi hamba bagi sesama manusia, budaya, materi, atau hawa nafsunya. Ia menjadi hamba Allah.

Karena itu Allah berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah saw. bukan hanya figur untuk diteladani dalam ibadah ritual. Beliau adalah teladan dalam kehidupan: sebagai hamba Allah, suami, ayah, pemimpin, pendidik, hakim, panglima, tetangga, sahabat, dan anggota masyarakat.

Tentu, mengikuti Rasulullah tidak berarti mengubah seluruh persoalan manusia menjadi bentuk yang sama secara lahiriah. Ada perkara yang bersifat ibadah dan harus mengikuti tuntunan secara khusus, sementara ada perkara kehidupan dunia yang memiliki ruang ijtihad dan perkembangan.

Namun prinsipnya tetap: kehidupan seorang muslim tidak boleh kehilangan arah yang diberikan wahyu.

Bagaimana dengan Keaslian Sunah?

Ada pula pertanyaan lain yang lebih mendasar: apakah seluruh Sunah benar-benar dapat dipercaya?

Keraguan terhadap hadis tentu tidak dapat dijawab hanya dengan emosi. Ia harus dijawab dengan ilmu.

Para ulama hadis sejak generasi awal telah mengembangkan metode yang sangat ketat untuk meneliti riwayat. Mereka tidak sekadar mengumpulkan hadis, tetapi meneliti sanad, perawi, kesinambungan periwayatan, dan berbagai aspek yang berkaitan dengan validitas sebuah hadis.

Para imam seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan para ahli hadis lainnya mencurahkan kehidupan mereka untuk memilah riwayat-riwayat yang dapat diterima dan yang harus ditolak.

Ilmu hadis bahkan melahirkan tradisi penelitian terhadap biografi para perawi, termasuk penilaian terhadap integritas dan ketelitian mereka.

Karena itu, tidak tepat jika Sunah ditolak secara keseluruhan hanya berdasarkan anggapan bahwa hadis hanyalah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa metode ilmiah.

Tentu, tidak semua riwayat memiliki derajat yang sama. Karena itulah ulama membedakan hadis sahih, hasan, dhaif, dan berbagai kategori lainnya. Sikap ilmiah bukanlah menerima semua riwayat secara membabi buta, tetapi juga bukan menolak Sunah secara keseluruhan hanya karena sebagian riwayat diperselisihkan.

Yang dibutuhkan adalah ilmu, kehati-hatian, dan kejujuran akademik.

Bekal yang Sebenarnya

Pada akhirnya, mengikuti Sunah bukan sekadar persoalan menambah daftar amalan. Ia adalah proses membentuk cara hidup.

Sunah mengajarkan kita bagaimana menghubungkan iman dengan tindakan, keyakinan dengan akhlak, ibadah dengan kehidupan, dan hubungan dengan Allah dengan hubungan kepada manusia.

Ia memberi kita bekal untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran.

Ketika makan, kita memiliki adab.

Ketika berbicara, kita memiliki batas.

Ketika bekerja, kita memiliki amanah.

Ketika memiliki harta, kita memiliki tanggung jawab.

Ketika memiliki kekuasaan, kita memiliki pertanggungjawaban.

Ketika menghadapi masalah, kita memiliki teladan.

Ketika berhadapan dengan manusia, kita memiliki akhlak.

Dan ketika menghadapi kehidupan secara keseluruhan, kita memiliki arah.

Karena itu, seorang muslim tidak seharusnya merasa malu dengan Sunah Nabinya. Ia justru perlu mengenalnya, memahaminya, mencintainya, dan berusaha menghidupkannya dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Bukan karena kita ingin sekadar berbeda dari orang lain, tetapi karena kita yakin bahwa Rasulullah saw. adalah utusan Allah dan kehidupan beliau merupakan teladan yang Allah tunjukkan kepada kita.

Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi, “Mengapa saya harus mengikuti Sunah?”

Tetapi:

“Sudah sejauh mana Sunah membentuk kehidupan saya?”

Sebab bisa jadi selama ini kita telah banyak membaca Sunah, tetapi belum banyak hidup dengannya.

Kita mengetahui bagaimana Rasulullah saw. berbicara, tetapi belum mampu menjaga lisan.

Kita mengetahui bagaimana beliau memperlakukan manusia, tetapi masih mudah menyakiti sesama.

Kita mengetahui bagaimana beliau beribadah, tetapi hati kita masih jauh dari Allah.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa mengikuti Sunah bukan sekadar mengetahui apa yang dilakukan Rasulullah saw. Mengikuti Sunah adalah menjadikan petunjuk beliau sebagai bekal perjalanan hidup.

Dan semakin dekat seseorang kepada Sunah dengan ilmu, cinta, dan kesungguhan, semakin ia menyadari bahwa bekal terbaik dalam perjalanan menuju Allah bukanlah sekadar banyaknya pengetahuan yang ia miliki, tetapi sejauh mana pengetahuan itu membentuk kehidupannya.

Dalam mengikuti Sunah terdapat bekal.

Bekal untuk menjaga hati.

Bekal untuk mendisiplinkan jiwa.

Bekal untuk membangun keluarga.

Bekal untuk memperbaiki masyarakat.

Bekal untuk menghadapi perubahan zaman.

Dan pada akhirnya, bekal untuk menempuh perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan Allah Swt.


Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (16) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (332) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (811) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (255) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)