basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Al-Qur'an

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Sinergi Karakter Tanah dan Roh Tanah dan tiupan roh dari Allah, itulah komposisi penciptaan manusia. Dengan keduanya, manusia be...

Sinergi Karakter Tanah dan Roh


Tanah dan tiupan roh dari Allah, itulah komposisi penciptaan manusia. Dengan keduanya, manusia bertransformasi menjadi mulia. Malaikat dan iblis diperintahkan bersujud setelah jasad yang berasal dari tanah ditiupkan roh.

Berbekal roh pula yang menjadikan manusia mendapatkan amanah untuk menjadi khalifah di muka bumi karena keistimewaannya sejak diciptakan itu. Roh pula yang memberikan manusia sifat kemanusiaan yang membuatnya unggul dari segala makhluk.

Dengan roh, manusia meniti jalan kehidupan dengan model yang berbeda dari makhluk lain sejak keberadaannya. Sedangkan yang lain, tetap dalam derajat kebinatangan dan tidak pernah mengalami peningkatan.

Roh inilah yang menghubungkan dan manusia mampu berkomunikasi dengan Rabbnya. Roh ini pula yang membuat manusia mampu melakukan lompatan dari alam materi yang interaksinya menggunakan perangkat panca indra dan otot ke alam immateri yang perangkat interaksinya hati dan akal.

Roh juga yang membuat manusia mampu mengetahui rahasia yang tersembunyi dibalik masa maupun tempat, di luar kemampuan panca indra maupun otot. Namun, roh harus berhadapan dengan karakter tanah yang tunduk dengan kebutuhan asasinya, seperti makan, minum, pakaian dan syahwat. Tanah juga memiliki karakter lemah, dan serba kurang sempurna yang berimplikasi kepada hasil aktivitas manusia yang juga lemah dan tidak sempurna.

Tanah dan tiupan roh tidak dapat dipisahkan. Manusia bukanlah makhluk yang memiliki karakter tanah murni ataupun ruh murni. Kesempurnaan manusia ditetapkan pada kemampuannya untuk menjadikan kedua karakter tersebut berimbang.

Mereka yang memandulkan potensi fisiknya yang energik sama seperti orang yang menelantarkan potensi ruhiahnya yang bebas. Bila salah satu didominankan, maka menjadi makhluk yang tak sesuai dengan harapan Allah. Berarti telah merusak jati diri manusia yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fi Zilalil Qur'an Jilid 7, GIP

Dilonggarkan Menikmati Karunia-Nya Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah memberitahukan ragam kenikmatan dari langit dan bumi. Dari ...

Dilonggarkan Menikmati Karunia-Nya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah memberitahukan ragam kenikmatan dari langit dan bumi. Dari perguliran malam dan siang. Lalu disimpulkan, bahwa manusia tidak akan bisa menghitung nikmat tersebut. Bagaimana cara mensyukurinya?

Manusia sering terjatuh pada tidak bisa merasakan nikmat. Hingga kufur nikmat. Lalai terhadap nikmat. Salah menikmatinya karena tak mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Bila seperti ini, nikmat bisa menjadi bumerang yang menghancurkannya. Nikmat bisa berubah menjadi azab.

Allah berkisah tentang kaum Saba. Yang tanahnya subur. Panennya melimpah. Tak ada yang kekurangan. Bagaimana seruan Allah kepada mereka?

Saat Allah menjelaskan nikmat yang dicurahkan kepada manusia. Allah menutup ayat dengan asma-Nya. Yaitu, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Seolah berkata bahwa kekeliruan, kekhilafan, kebodohan dan kesalahan manusia dalam menikmati karunia- Nya masih diampuni.

Walaupun manusia sering teledor dalam bersyukur, Allah masih melimpahkan rahmat-Nya. Terus mencurahkan nikmat-Nya. Seolah-olah Allah tidak peduli terhadap prilaku buruk manusia dalam menyikapi nikmat dari Allah.

Terkadang Allah menutup gambaran neraka yang siksaannya sangat keras dengan menyebutkan bahwa Diri-Nya Maha Pengampun dan Penyayang. Seolah-olah berkata bahwa manusia masih bisa menghindari api neraka selama kematian belum tiba. Rahmat-Nya masih terbuka bagi yang mau memperbaiki diri.

Allah pun menegaskan bahwa ampunan-Nya seluas langit dan bumi. Rahmat-Nya tak terbatas. Dengan sifat-Nya ini, manusia merasa nyaman dan tentram hidup di bumi. Tentram pula dalam melanjutkan kehidupan berikutnya yaitu alam kubur dan negri akhirat. Apakah merasakan kasih sayang Allah ini? Mengapa manusia justru lupa diri dengan kasih sayang ini?

Berjihadlah, Itulah Sarana Terbaik Ditolong Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Jihad di jalan Allah puncak sebuah amal. Puncak da...

Berjihadlah, Itulah Sarana Terbaik Ditolong Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Jihad di jalan Allah puncak sebuah amal. Puncak dari peran sang khalifah. Al-Qur'an membuat tahapan sebuah amal berawal dari iman, hijrah dan terakhir jihad. Kelak, manusia sangat iri kepada para syuhada. Sehingga berniatlah untuk berjihad dan mati syahid.

Perang adalah kondisi yang tersulit dan terberat. Mengorbankan harta, jiwa dan seluruh energi yang dimiliki. Lawan pun akan mengerahkan semua kekuatan,  kebengisan dan kekejamannya. Oleh sebab itu, jihad sangat sering dikaitkan dengan pertempuran. Walaupun jihad tidak selalu perang.

Bila jihad puncak peran sebagai khalifah, maka puncak pertolongan dan perlindungan Allah pun tercurah saat manusia berjihad. Bila manusia mencurahkan seluruh potensinya, maka Allah semakin besar menolong dan melindunginya. Perhatikan surat Al-Anfal, yang menjadi wirid dalam pertempuran?

Surat Al-Anfal berkisah tentang pertempuran, namun sangat unik saat Allah berfirman di surat ini. Allah menjelaskan syarat memenangkan jihad. Allah menjelaskan pertolongan-Nya. Allah menjelaskan yang harus dihindarkan dalam pertempuran.

Surat Al-Anfal sangat sedikit mengkisahkan kehebatan jalannya pertempuran mukminin. Sangat sedikit menjelaskan syarat persiapan fisik, seperti infrastruktur dan jumlah pasukan,  seperti yang dilakukan pakar militer. Tetapi lebih banyak menjelaskan kehendak-Nya, perbuatan-Nya. Seolah-olah tak ada andil sedikit pun dari manusia.

Allah juga menjelaskan strategi fundamental dalam mengalahkan musuh dengan sangat mudah. Allah juga menjelaskan ragam jenis pertolongan yang telah diturunkan dan menjelaskan ragam kehancuran yang telah ditimpakan kepada pelaku kezaliman sebelumnya.

Dalam Jihad, justru Allah yang banyak berkisah tentang Diri-Nya, Kehendak-Nya, Perbuatan-Nya . Seolah-olah Allah berkata," Majulah ke medan jihad dalam kondisi apapun, walaupun dalam kondisi yang paling terlemah sekalipun. Sebab Allah yang akan menghadapi musuh-musuhmu." Majulah berjihad, hanya untuk menjalankan peran kita.

Pokok-pokok Perbaikan Pengelolaan Harta Benda oleh Sayid Rasyid Ridha Islam mengakui milik pribadi dan melarang memakan harta ma...


Pokok-pokok Perbaikan Pengelolaan Harta Benda oleh Sayid Rasyid Ridha



Islam mengakui milik pribadi dan melarang memakan harta manusia dengan jalan batil. Dilarang melakukan riba dan segala macam perjudian. Dilarang menjadikan harta benda hanya beredar di tangan orang yang kaya saja.

Belum pernah terjadi suatu zaman yang peredaran harta hanya di tangan orang kaya saja, seperti yang terdapat dalam bangsa-bangsa Barat sekarang ini, yang semuanya ini telah menimbulkan berontak kaum buruh kepada kaum  modal. 

Orang bodoh yang tidak pandai mengatur harta benda sendiri sehingga bisa hancur, yang membawa rugi bagi dirinya dan umatnya, tidaklah boleh memegang hartanya, melainkan dikuasai penguasa.

Wajib mengeluarkan zakat. 2,5% untuk emas, perak dan perniagaan. 10% dan 5% untuk hasil pertanian. Zakat Peternakan pun ada ketentuannya. Perbelanjaan istri dan keluarga kerabat adalah wajib.

Wajib membela orang, bangsa dan agama apapun. Wajib memberikan makan dan penginapan tetamu. Menjadi kaffarah karena perbuatan dosa tertentu. Selalu dianjurkan memperbanyak sedekah.

Dicela keras boros, royal dan berfoya-foya. Dicela keras bakhil, kikir. Semuanya menyebabkan kehancuran dan keruntuhan, baik untuk diri, umat maupun negara.

Dibolehkan berhias, berharum-harum dengan rejeki yang baik, dengan syarat jangan boros, sombong, yang membawa pada penyakit dan punahnya harta dan menimbulkan dengki, permusuhan dan segala penyakit masyarakat. Berhias menyebabkan meningkatnya produksi.

Ekonomis dan sederhana dalam menafkahi diri sendiri dan keluarga.  Kaya yang bersyukur lebih utama daripada miskin yang sabar. Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Amal kebajikan yang merata manfaatnya bagi banyak orang, lebih utama dari pada yang terbatas. Jadikan sedekah jariyah (wakaf) sebagai pahala yang tak terputus.

Sayid Rasyid Ridha berkata, "Adakah terpikir, kalau ada umat yang benar-benar menjalankan pokok-pokok di atas, akankah ada kemelaratan yang mencolok? Pukulan yang membuat luka parah atau sengsara yang mengerikan?" 

Sumber:
Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 4, GIP

Sekelumit Ilmu Makrifat Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di Al-Qur'an, sering kali saat menceritakan alam semesta dan makhluk-Nya...

Sekelumit Ilmu Makrifat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di Al-Qur'an, sering kali saat menceritakan alam semesta dan makhluk-Nya, Allah memulai dengan bahwa Allah yang menciptakan, Allah yang menundukkan, Allah yang menurunkan, Allah yang menancapkan, Allah yang memperjalankan, Allah yang menghidupkan dan masih banyak lagi. Setelah tuntas pemaparannya, Allah menutupnya dengan Asmaulhusna-Nya. Sangat menarik, inilah inti ilmu Marifat.

Nabi Yusuf mengkisah kembali perjalanan hidupnya pada orang tua dan saudaranya, "Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. Wahai Tuhan, Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat." Inilah kepahaman akan ilmu marifat.

Perjalanan masa kecil Nabi Musa merupakan kehendak-Nya, " Dan sungguh, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan lain. Yaitu, saat Kami mengilhamkan kepada ibu mu sesuatu yang diilhamkan. Yaitu, letakan dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil)." Semua yang terjadi atas kehendak Allah. Inilah salah satu sisi ilmu Marifat.

Nabi Yusuf langsung memahami ilmu makrifat dari perjalanan hidupnya. Sedangkan Nabi Musa dijelaskan terlebih dahulu ilmu tersebut sebelum dia mendapatkan tugas menghadapi Firaun. Bahkan Allah menegaskan kepada Nabi Musa bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar, Maha Mengawasi selama menjalani tugas menghadapi Firaun.

Di alam semesta dan dirinya, dipenuhi dengan Asmaulhusna-Nya, diliputi dengan tanda-tanda kebesaran dan keagungan-Nya. Menyaksikan kehendak-Nya. Menyaksikan sujud, tasbih dan dzikirnya alam semesta. Itulah kesaksian yang dipahami dari ilmu Makrifat.

Dari alam semesta, menyaksikan ilmu-Nya, kemuliaan-nya, kesempurnaan-Nya, Kesucian-Nya, Keagungan-Nya, Kekuasaan-Nya, Keperkasaan-Nya.  Menyaksikan Rabbulalamin-Nya Allah. Menyaksikan kehadiran Allah dalam setiap sudut dan ruang di alam semesta.

Inti ilmu Marifat ada di surat Al-Fatihah. Inti ilmu Marifat ada pada dzikir Tauhid, Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar. Cara mulai meraih ilmu Marifat dengan cara mensucikan dirinya, agar hatinya jernih melihat dan merasakan kehadiran Allah dalam setiap yang direkam oleh panca indra. Dan, dibukakan ilmu Marifat bila mau mengemban peran kenabian.

Haji Puncak Penghambaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Haji adalah puncak perannya sebagai hamba Allah. Datang dari penjuru negri, ...

Haji Puncak Penghambaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Haji adalah puncak perannya sebagai hamba Allah. Datang dari penjuru negri,  menyiapkan perbekalan dengan meninggalkan seluruh yang dicintai, orang tua, keluarga, kerabat dan tanah air. Datang ke Baitullah hanya untuk menyambut seruan-Nya.

Jihad adalah puncak perannya sebagai khalifah di muka bumi. Mengerahkan seluruh potensi dan sumber daya dengan kesungguhan dan keseriusan untuk mewujudkan kehendak-kehendak Allah yang tertuang di Al-Qur'an.

Puncak Haji adalah Mengagungkan Allah. Mentauhidkan Allah. Meng-illah-kan Allah. Allah sebagai tempat bergantung. Menyambut seruan Allah. Segera berlari kepada Allah dalam segala hal, termasuk pernak pernik kehidupan.

Haji telah menggelora semangat jihad di tanah Nusantara. Mendeklarasikan merdeka atau mati. Melawan semua yang memasung kebebasannya sebagai manusia yang telah dimerdekakan Allah dari semua belenggu kesyirikan, ketakutan, hawa nafsu dan bisikan syetan.

Haji sebuah deklarasi kepada alam semesta dan manusia akan kebebasan dan kemerdekaan hati, jiwa, akal dan jasad dari semua belenggu. Deklarasi pembebasan dari semua orientasi kekayaan, kekuasaan dan kesenangan. Semua orientasi dirubah haluannya hanya menuju satu titik, hanya Allah.

Allah telah menjadi tuan rumahnya. Allah telah menjamunya dengan hidangan keteguhan iman dan ketauhidan. Allah telah menerimanya dengan duduk bersama-Nya. Apakah terasa pesan-Nya? Apakah terasa kehangatan sambutan-Nya?

Apakah jamuan di rumah-Nya masih terasa energinya? Apakah kenikmatan hidangan-Nya masih terus diingat sepanjang hidupnya? Apakah pesan-Nya akan menjadi arah hidup dan perjuangannya setelah sampai di negrinya? Allah telah mengundang manusia, pasti ada titipan, pesan, bingkisan, hadiah dan kata sambutan yang disampaikan-Nya agar menjadi kenangan, pedoman hidup dan program perjuangan setelah keluar dari rumah-Nya.

Fokus Saja Mengabdi Kepada Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bila kezaliman akan dicabut hingga ke akar-akarnya oleh Allah. Bila...

Fokus Saja Mengabdi Kepada Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bila kezaliman akan dicabut hingga ke akar-akarnya oleh Allah. Bila pelakunya tidak ditolong dan diberi petunjuk oleh Allah. Bila pelakunya akan diazab,  mengapa harus takut dengan kezaliman yang ditopang oleh militer, kekuasaan, kekayaan dan pendukungnya yang banyak dan militan?

Bila semua tipu daya dan rencana kejahatan akan kembali kepada yang merencanakan dan pelakunya, mengapa harus khawatir dengan segala operasi intelejen, operasi kontra, operasi pengejaran, operasi penghancuran, operasi penyusupan dan segala operasi lainnya? Tentram dan teruslah beristiqamah.

Bila selain Allah tidak bisa menimpakan keburukan. Tidak bisa menciptakan kemaslahatan. Tak bisa menggariskan jalan hidup. Mengapa harus takut menghadapi kekuatan paling bengis sekalipun? Mereka seperti mayat yang tak bisa melakukan apapun meski kekuatan dan pendukungnya sangat banyak dan besar.

Bila hak-hak tak bisa dirampas. Bila rezeki tak bisa dirampas dan dialihkan kepada siapapun. Bila keluarga dan keturunan sudah ditetapkan rezeki dan jalan hidupnya, apa lagi yang harus dikhawatirkan di kehidupan ini?

Bila akhir seluruh peristiwa adalah kebaikan. Bila Allah Maha Rahman dan Rahim pada hamba-Nya. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?  Bersabarlah terhadap seluruh ketetapan-Nya. Teguhlah dalam mengabdi kepada Allah.

Teruslah berbuat kebajikan. Bersabar dan bertakwalah. Bertawakallah. Jadikan Allah sebagai penolong dan pelindung. Mengapa segala hal berubah menjadi kebaikan pada akhirnya.

Bila doa pasti dikabulkan Allah. Bila permohonan dan rintihan didengarkan Allah. Apalagi yang perlu dikhawatirkan? Jadi fokus hidup hanya tinggal mengabdi kepada-Nya. Hanya itu saja.

Membedah Jalan Yang Lurus Jalan yang lurus, siapakah yang diberi petunjuk dan kemana arahnya? Jalan yang lurus dalam Al-Qur'...

Membedah Jalan Yang Lurus


Jalan yang lurus, siapakah yang diberi petunjuk dan kemana arahnya? Jalan yang lurus dalam Al-Qur'an bagi seluruh bangsa, semua generasi, tanpa sekat waktu dan geografis. Mencakup semua aspek yang pernah ada pada sistem dan ideologi, merambah setiap kebaikan yang pernah dicapai oleh umat manusia.

Al-Qur'an memberikan petunjuk jalan lurus pada tataran ego dan hati nurani melalui aqidah yang jelas, mudah, tak rumit, tak sulit untuk dipahami. Aqidah yang membebaskan penyakit waham, ilusi, khayalan dan kurafat. Memberikan kemerdekaan untuk berkarya dan membangun. Menggabungkan hukum alam dan fitrah manusia secara harmonis dan proporsional.

Jalan yang lurus, mesinergikan dengan kokoh, tak terputus antara lahir dan batin, perasaan dan perilaku, aqidah dan amal. Sehingga, pandangannya ke alam samawi namun kakinya tetap tegak di bumi. Karyanya menjadi ibadah, jika arah niatnya kepada Allah, walaupun pekerjaannya berupa kesenangan dan berisi kenikmatan hidup duniawi.

Jalan yang lurus Dalam beribadah dengan menyeimbangkan tugas yang dibebankan dengan kemampuan diri, sehingga tidak membosankan, memberatkan dan putus asa dalam menjalankannya. Juga, tidak mempermudah dan memperingankan sehingga jatuh pada kemalasan dan berbuat seenaknya. Tidak melampaui batas keseimbangan dan kemampuan manusia.

Jalan yang lurus dalam hubungannya dengan manusia, berkelompok, berorganisasi dan bernegara. Dalam membangun sistem ekonomi, hukum, sosial, kekuasaan, dengan tidak terhanyut oleh hawa nafsu. Tidak melenceng pada suka dan tidak suka. Tidak dibelokkan oleh berbagai kepentingan dan ambisi pribadi. Tetapi fokus merealisasikan tujuan- tujuan yang tetapkan dalam Al-Qur'an.

Jalan yang lurus dalam mengayomi semua agama yang ada di muka bumi, dengan membangun hubungan antara agama, memuliakan dan menjaga tempat-tempat suci sehingga hidup bersama secara damai dan saling menghargai.

Yang tidak menempuh jalan yang lurus akan terbawa oleh ambisi dan hawa nafsu yang punya ceroboh dan bodoh. Tak tahu yang benar, bermanfaat, dan yang membahayakan. Manusia seringkali bersikap emosional, tak mampu menahan dorongan nafsunya sekalipun berakibat buruk pada dirinya.

Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fizilali Qur'an Jilid 7, GIP

Mengobsesikan Dunia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak obsesi, ilmu dan semangatku...

Mengobsesikan Dunia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai puncak obsesi, ilmu dan semangatku. Jadikan hanya penopang untuk meraih keridhaan-Mu. Jadikan hanya untuk sarana pembuktian bahwa diri ini hanya hamba dan khalifah-Mu.

Setiap obsesi terhadap dunia adalah "kemusyrikan dan kekafiran". Sebab, telah menjadi dunia sebagai tandingan-Mu. Telah mengingkari Engkau sebagai Rabb, Illah, Malik dan tempat bergantung.

Obsesi terhadap dunia berarti kekerasan dan kekelaman hati. Obsesi terhadap dunia berarti kehancuran dan kemunduran kemanusiaan dan peradaban manusia. Alam semesta saja bertasbih dan bersujud, mengapa yang dilayani alam semesta justru menjadi hamba dunia?

Kekeruhan hati karena obsesi dunia. Kekeruhan hidup karena perseteruan akan dunia. Cinta dunia penyebab prahara yang tidak pernah tuntas sesama manusia. Bumi yang luas menjadi sangat sempit.

Kesemrawutan sistem kehidupan, kekuasaan dan sosial kemasyarakatan, disebabkan oleh obsesi terhadap dunia. Dunia menyebabkan setiap manusia menjalani hidup sesuai egonya, bukan bimbingan Allah.

Mengapa dunia sangat melekat di hati? Selalu menjadi puncak ilmu dan kelelahan? Padahal puncak kesenangan dunia hanya saling berbangga atas yang dimiliki dan banyaknya pengikut saja. Hanya mengakui dan pengakuan saja bahwa diri lebih baik dari yang lain.

Berebut akan sampah. Berperang dan berselisih akan yang musnah dan ditinggalkan. Kemana akal dan mata hatinya? Padahal manusia hanya tinggal beramal kebaikan, bertawakal dan bersabar terhadap segala yang ada di dunia. Setelah itu, akan tuntas semua persoalan dunia.

Beristiqamah Amalan Terbaik Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah mempergilirkan siang dan  malam. Kejayaan dan kehancuran. Kekayaan...

Beristiqamah Amalan Terbaik

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Allah mempergilirkan siang dan  malam. Kejayaan dan kehancuran. Kekayaan dan kemiskinan. Kehidupan dan kematian. Agar, manusia tahu hakikat kehidupan dunia sebelum ke akhirat.

Sunnah perguliran untuk mengetahui siapakah yang istiqamah dalam semua kondisi? Istiqamah ketika berkuasa dan menjadi rakyat jelata. Beristiqamah saat kaya dan miskin. Beristiqamah di saat jaya dan bangkrut. Siapakah yang bersabar di semua kondisi?

Bila beristiqamah dalam melakukan amal-amal yang terbaik. Maka, Allah menegaskan sifat-Nya, Dia Maha Perkasa dan Maha Pemberi Taubat. Dengan sifat-Nya ini Allah hendak menghibur hamba-Nya.

Teruslah melakukan amal terbaik, sebab Allah Maha Perkasa. Allah akan menolong dan melindungi. Allah akan membimbing dan memimpin. Allah akan memberikan ilham, firasat dan ilmu. Memberikan jalan keluar yang tak terduga.

Teruslah melakukan amal terbaik di semua kondisi, sebab Allah Maha Pengampun. Mengampuni semua kesalahan dan keteledoran. Mengampuni semua kebodohan dan kelemahan. Mengampuni ketidaktahuan dan kekhilafan.

Dengan Allah Maha Perkasa dan Pengampun, seorang mukmin akan tentram melakukan perbaikan. Tak gelisah dengan semua ikhtiar kebaikan yang dilakukannya. Tak perlu takut akan kegagalan ataupun kekalahan.

Amal terbaik itu mengacu pada tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Bukan menurut ego dan persepsinya. Bukan menurut ambisi dan obsesi pribadinya. Inilah cara menikmati jaminan Allah bahwa Dia Maha Perkasa dan Pengampun.

Di Lingkaran Majlis Ilmu Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mencari ilmu atau meraih keberkahan ilmu? Apakah ilmu itu hanya kumpulan pe...

Di Lingkaran Majlis Ilmu

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Mencari ilmu atau meraih keberkahan ilmu? Apakah ilmu itu hanya kumpulan pengetahuan? Keluasan wawasan? Mengapa ada yang ilmunya sangat luas, tetapi sedikit manfaatnya?  Mengapa ada yang ilmunya sedikit, tetapi manfaatnya luas?

Ilmunya sangat luas, hasilnya hanya debat kusir tiada henti. Ilmunya hanya untuk merendahkan dan mematahkan ilmu  orang lain. Ilmunya hanya untuk membangun kebanggaan atas dirinya. Agar orang-orang berbondong-bondong mendatangi dirinya. Apakah seperti ini tujuan ilmu?

Apakah belajar itu harus kepada yang ilmunya lebih luas dan lebih baik? Kepada yang populer? Yang referensi dan literasinya lebih mumpuni? Bukankah sangat banyak, penduduk langit yang tidak dikenal di bumi?

Apakah harus belajar kepada yang referensi buku dan kitabnya sangat banyak? Apakah sumber ilmu itu hanya dari kumpulan buku referensi? Bukankah ilmu itu bersemayam di hati bukan dikumpulkan bacaan dan referensi?

Buya Hamka justru menemukan kekaguman pada gurunya Sutan Mansur. Sang guru hanya membawa Al-Qur'an serta indeks ayat Al-Qur'an kemana pun ia pergi. Namun ilmu hikmahnya melampui ketua umum Muhammadiyah saat itu.

Samudera ilmu itu berawal dari ketundukan hati, maka duduklah di majlis ilmu walapun majlis tersebut kering dengan ilmu. Sebab yang dididik hatinya terlebih dahulu. Adakah kerendahan hati? Di majlis ilmu apa pun, bukankah malaikat akan mengelilinginya? Menurunkan berkah kepada yang duduk bersamanya?

Bila masih meremehkan majlis ilmu yang dianggap kering dan dangkal ilmunya, bertanda masih ada kesombongan. Keberkahan ilmu tidak akan dirasakan pada yang sombong, walaupun ilmunya seluas langit dan bumi. Ilmu bisa dicari di media sosial, video, buku dan paper hasil penelitian. Namun keberkahan ilmu hanya didapatkan di lingkaran majlis ilmu.

Bisa jadi sang guru ilmunya sangat terbatas, namun doanya mustajab di sisi Allah. Sehingga dengan doanya, Allah melimpahkan ilmu yang luar biasa, melampaui mereka yang hanya mengandalkan buku, referensi dan literasi yang luas.

Tak Butuh Ibadah Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apakah Allah butuh ketaatan manusia? Perhatikan ibadah yang diwajibkan, han...

Tak Butuh Ibadah Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Apakah Allah butuh ketaatan manusia? Perhatikan ibadah yang diwajibkan, hanya shalat, zakat, puasa, dan haji saja. Itu pun masih ada keringanan dan pembebasan dalam situasi tertentu.

Bersyahadat yang diwajibkan hanya untuk mereka yang masuk Islam saja. Tidak ada kewajiban lain saat peralihan menjadi muslim. Dosa dan kesalahan masa lalu dihapuskan tanpa syarat apapun. Tanpa penembusan dosa apa pun. Seolah-olah Allah hendak berkata tak menambah keagungan Allah dengan keislaman seseorang.

Shalat hanya 5 waktu dalam sehari. Waktunya pun di saat lengang bukan super sibuk. Yang dibutuhkannya pun hanya beberapa menit saja.  Manusia tak diharuskan menguras waktunya untuk senantiasa shalat. Seolah-olah Allah hendak berkata tidak butuh waktu manusia.

Zakat umumnya hanya 2,5 persen. Dibayarkan setahun sekali. 97,5 persennya untuk manusia. Seolah-olah Allah hendak berkata tidak butuh harta manusia. Namun tetap dilakukan untuk membersihkan manusia dari cinta dunia.

Berpuasa hanya sebulan dalam setahun. Itupun ada sahur dan buka. Itupun masih dibebaskan bila memenuhi kondisi tertentu. Seolah-olah Allah hendak berkata tidak butuh puasa manusia.

Berhaji hanya sekali dalam seumur hidup. Itupun bagi yang mampu. Seolah-olah Allah hendak berkata tidak butuh kunjungan manusia. Ibadah itu sangat mudah dan ringan untuk menunjukkan ketidakbutuhan Allah pada manusia.

Mengapa yang tidak melaksanakan ibadah wajib tidak langsung diazab di dunia? Karena Allah tidak butuh ibadah. Allah menunda azab dan siksaan-Nya karena tak butuh kebaikan dan ibadah manusia.

Perjalanan Hidup Mukmin Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Al-Qur'an itu nyata, bahkan lebih nyata dari apa yang bisa dilihat. Al-Q...

Perjalanan Hidup Mukmin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Al-Qur'an itu nyata, bahkan lebih nyata dari apa yang bisa dilihat. Al-Qur'an itu ilmu dan kehendak-Nya, semuanya pasti terwujud. Tidak ada yang remang-remang di kehidupan ini bagi mukmin.

Mukmin melangkah dengan keoptimisan yang melampui keoptimisan manusia yang paling optimis. Konsisten dan berkomitmen dengan semua yang difirmankan Allah dan disunahkan Rasulullah saw. Sebab, semua itu kepastian dan pasti terwujud.

Keyakinan mukmin bukan berdasarkan data, informasi dan berita. Bukan berdasarkan survei, riset dan publikasi lembaga terpercaya. Tetapi berdasarkan janji-janji Allah dan Nubuwah Rasulullah saw.

Kekonsistenan dan keteguhan perjalanan mukmin bukan karena prediksi dan ramalan keberhasilan. Bukan karena obsesi yang ingin diraihnya. Bukan karena dukungan kekuatan dan sumberdaya yang menopangnya. Tetapi karena anjuran Allah dan Rasulullah saw.

Mukmin berjalan sesuai dengan goresan di Lauhul Mahfudz. Seusai hukum alam semesta. Sesuai dengan hukum keimanan. Dengan perjalanan ini lautan dapat disebrangi dan gunung pun dapat ditundukkan walaupun dengan minimnya perbekalan.

Mukmin berjalan sesuai panduan yang pasti akan diraihnya. Tak ada keraguan akan keberhasilan. Tak ada yang bisa menggagalkannya, walaupun seluruh manusia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghalangi, menggagalkan dan menghancurkannya.

Dengan keyakinan inilah Romawi, Persia, Andalusia dan belahan dunia dapat dibebaskan. Pasukan terkuat Salib gabungan negara Eropa dan Mongol bisa diruntuhkan. Mengapa mukminin sekarang lemah? Karena menanggalkan dan membuang pondasi kekuatannya. Namun sibuk dengan kesenangan, hawa nafsu dan kekuatan palsu yang melemahkan dirinya sendiri.

Cara Mengelola Takdir Kehidupan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Air bermanfaat bila diminum atau untuk keperluan harian. Buah-buahan...

Cara Mengelola Takdir Kehidupan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Air bermanfaat bila diminum atau untuk keperluan harian. Buah-buahan bermanfaat bila dimakan. Minyak bumi bermanfaat bila digunakan untuk menggerakkan mesin. Bila dibiarkan, semuanya menjadi sampah.

Rumput bermanfaat ditangan ahli pertamanan. Rumput kering bermanfaat bagi para peternak sapi untuk makanan sapi. Rumput bermanfaat di musim kemarau untuk menjaga kelembaban tanah. Bagi yang tak paham, semuanya hanya sampah.

Al-Qur'an bermanfaat bagi yang membaca, mentadaburi dan mengamalkannya. Syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji, bermanfaat bagi yang menunaikannya. Kemanfaatannya seperti yang meminum air, terasa kesegaran dan nutrisi untuk menjalani aktivitas keseharian.

Takdir Allah ada yang sangat jelas, seperti syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji. Bila benar mengamalkan takdir-Nya yang jelas. Maka, akan benar pula dalam menjalani takdir-Nya yang masih dirahasiakan-Nya.

Syahadat adalah pondasi. Shalat adalah tiang. Puasa adalah perisai. Zakat adalah penghapus kesalahan. Bila ditunaikan dengan benar, maka dalam menjalani takdir yang masih dirahasiakan-Nya akan mudah. Seperti mereka yang makan dan minum, tidak akan lemah dalam menjalani rutinitas hariannya.

Mengapa manusia diliputi kekhawatiran dalam menjalani takdir? Mengapa salah mengelola takdir kehidupan, sehingga takdir kesenangan pun menjadi terpuruk? Karena tidak benar dalam memahami dan menjalani takdir-Nya yang dirangkum dalam Rukun Islam.

Takdir kehidupan menjadi pembekalan, pembangun, energi kekuatan, pendidikan, dan penghindar keburukan bila manusia benar menjalani takdir-Nya yang sangat jelas, yaitu Rukun Islam. Benar mengelola kehidupan? Semuanya berakhir dengan kebaikan?  Mulailah dengan benar dalam menjalani rukun Iman, Islam dan Ihsan.

Memahami Takdir Kesuksesan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Semua orang pasti meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Yang yang miskin, ya...

Memahami Takdir Kesuksesan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Semua orang pasti meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Yang yang miskin, yang tidak pintar, yang tidak sekolah, yang cacat, yang tak bisa bergaul, yang tak memiliki keterampilan dan sebagainya. Sebab, kebahagiaan dan kesuksesan itu pemberian Allah. Yang Allah kehendaki. Yang Allah tolong. Yang Allah kabulkan doanya.

Manusia sering meyakini jalan kesuksesan menurut manusia. Mengandalkan dirinya, kepintarannya, sekolahnya, modal finansialnya dan segal hal yang bersumber dari dirinya. Padahal, kesuksesan itu bila dikehendaki-Nya dan ditolong-Nya. Doa Nabi Sulaiman saat meminta kekayaan dan kekuasaan yang tak tertandingi ditutup dengan kalimat, "Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

Nabi Sulaiman dan Nabi Daud yang kekayaan dan kekuasaannya tak tertandingi menyatakan bahwa seluruh yang diraihnya karena keutamaan dan kemuliaan dari Allah. Mengapa sekarang semua orang mengatakan hasil kepintaran dan kehebatan dirinya?

Segala yang ada di muka bumi ini karena pemberian Allah. Jadi tak butuh kehebatan diri? Syaratnya hanya, ikuti yang dikehendaki Allah. Maka, semua obsesi akan terrealisasi dengan sendirinya. Allah yang mewujudkannya, bukan jerih payah dan banting tulang kita. Sangat mudah bukan?.

Syarat sukses itu hanya, bersabarlah atas kehendak Allah, menegakkan shalat, berzakat dan balas seluruh kejahatan dengan kebaikan. Setelah itu, Allah yang akan mewujudkan obsesi kita. Setelah itu Allah yang memberikan syarat-syarat kesuksesan.

Syarat sukses itu hanya senantiasa beristighfar, tidak melampaui batas dalam setiap urusan, dan konsisten. Setelah itu berdatangan semua yang dibutuhkan untuk sukses.

Ketidaksuksesan karena tidak paham hukum kesuksesan yang telah digariskan Allah. Inilah penyebab, yang sukses itu sangat sedikit. Kekayaan itu hanya digenggam oleh segelintir orang. Padahal Allah memberikan kesempatan semua orang tanpa pandang bulu untuk sukses.

Bersama Rombongan Mulia Akidah bagi mukmin adalah tanah air, bangsa dan keluarganya. Oleh karena itu, semua manusia berhimpun pa...

Bersama Rombongan Mulia



Akidah bagi mukmin adalah tanah air, bangsa dan keluarganya. Oleh karena itu, semua manusia berhimpun padanya dan bertumpu atasnya. Bukan seperti binatang yang berhimpun pada rumput, tempat pengembalaan, pepohonan dan padang yang membentang.

Mukmin tidak bernasab kepada keturunan, tetapi bagian dari satu rombongan yang mulia. Rombongan yang terhormat itu adalah Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaqub, Yusuf, Musa, Isa dan Muhammad saw.

Rombongan yang mulia ini, yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman sejak dulu, dengan terus menghadapi-sebagaimana tampak dalam goresan Al-Qur'an-berbagai macam-macam perjalanan yang memang sudah ditakdirkan untuk harus dilalui.

Yang dihadapi berbagai macam sikap manusia yang mirip-mirip, bahaya yang mirip-mirip, dan pengalaman yang mirip-mirip, di sepanjang perjalanan zaman dan masa, perubahan tempat dan berbilangnya golongan manusia.

Mereka juga menghadapi kesesatan, kebutaan, penyimpangan, hawa nafsu, kesewenangan, kezaliman, teror dan ancaman. Akan tetapi, mereka terus berjalan di jalannya dengan langkah yang mantap, hati yang tenang, percaya kepada pertolongan Allah, menggantungkan harapan kepada-Nya dan selalu menantikan realisasi janji Allah yang benar dan pasti pada setiap langkahnya.

Sikap manusia yang mereka hadapi adalah sama, pengalamannya sama, ancamannya sama, keyakinannya sama, dan yang dijanjikan untuk mereka pun sama, yaitu yang dijanjikan kepada rombongan yang terhormat ini.

Dan, akibat yang mereka nantikan juga sama, yaitu akibat yang dinantikan oleh orang-orang mukmin di ujung perjalanan mereka, sedang mereka menghadapi kesewenangan, teror dan ancaman.

Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fi Zilalil Qur'an Jilid 1, GIP

Cakrawala Kehidupan Hidup di bawah naungan Al-Qur'an berarti menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi dan bersih ba...

Cakrawala Kehidupan


Hidup di bawah naungan Al-Qur'an berarti menikmati gambaran yang sempurna, lengkap, tinggi dan bersih bagi alam wujud ini, tentang tujuan alam wujud ini seluruhnya dan tujuan wujud manusia.

Bandingkan dengan konsepsi kejahiliahan tempat manusia hidup, "Bagaimana bisa hidup dalam kubangan yang busuk, dataran yang paling rendah  dan kegelapan yang hitam pekat, sementara di sisi lain ada pengembalaan yang subur, pendakian yang tinggi dan cahaya yang cemerlang?"

Dengan hidup di bawah naungan Al-Qur'an, terasa simponi yang indah antara gerak kehidupan manusia yang dikehendaki Allah dan gerak alam semesta yang diciptakan-Nya. 

Sedangkan kejahiliahan penyebab kejatuhan yang dialami manusia karena menyimpang dari sunnah kauniyah dan benturan antara ajaran yang rusak serta jahat yang telah lama bercokol di atasnya.

Dengan hidup di bawah naungan Al-Qur'an, terlihat alam wujud ini jauh lebih besar daripada kenyataan lahiriah yang terlihat ini. Lebih besar hakikatnya, lebih banyak sisinya.

Ia adalah alam gaib dan alam nyata. Ia adalah dunia dan akhirat. Pertumbuhan manusia terus berkembang di cabang-cabang dari ruang lingkup yang amat panjang ini.

Kematian bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi sebuah tahapan perjalanan itu sendiri. Padahal, apa yang didapatkan manusia di muka bumi ini bukanlah bagiannya secara keseluruhan, melainkan hanya sejumput kecil saja dari bagiannya itu. Balasan yang terluput darinya di sini, tidak akan terluput di sana. Maka, tidak ada penganiayaan, tidak ada pengurangan dan tidak ada penyia-nyiaan.

Perjalanan yang ditempuhnya di bumi ini hanya sebuah perjalanan di alam kehidupan yang biasa berlaku.  Sedang dunia yang jujur dan penyayang adalah yang punya ruh yang saling bertemu dan bertegur sapa, dan menuju kepada Pencipta Yang Maha Esa, yang kepada-Nyalah ruh orang mukmin dalam kekhusyuan.

"Hanya kepada Allahlah sujud segala apa yang di langit dan di bumi." Manakah gerangan kesenangan, kelapangan, dan ketenangan yang datang ke dalam hati seperti gambaran yang komplet, sempurna, lapang dan benar ini?

Sumber:
Sayid Qutb, Tafsir Fi Zilalil Qur'an Jilid 1, GIP

Kejahiliahan Seperti Rengekkan Anak Kecil Hidup di bawah naungan Al-Qur'an adalah sebuah nikmat. Nikmat yang tidak dimengert...

Kejahiliahan Seperti Rengekkan Anak Kecil


Hidup di bawah naungan Al-Qur'an adalah sebuah nikmat. Nikmat yang tidak dimengerti kecuali oleh yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat harkat usia manusia, menjadikannya diberkahi dan disucikan.

Segala puji milik Allah yang telah memberikan karunia dengan hidup di bawah naungan Al-Qur'an dalam rentang waktu, yang nikmatnya dirasakan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dirasakan nikmat ini yang membuat usia bermakna, diberkahi dan suci bersih.

Menempuh hidup dengan mendengarkan Allah Yang Mahasuci berbicara pada diri dengan Al-Qur'an, padahal manusia hanya hamba yang kecil. Adakah penghormatan bagi manusia seperti penghormatan yang tinggi dan mulia seperti ini?

Adakah pemaknaan dan peningkatan harkat manusia seperti yang diberikan Al-Qur'an ini? Kedudukan manakah yang lebih mulia yang diberikan oleh Pencipta Yang Mahamulia kepada manusia?

Dengan hidup dibawah naungan Al-Qur'an. Dari tempat yang tinggi, terlihat kejahiliahan yang bergelombang di muka bumi, terlihat kepentingan para penghuninya yang kecil tak berarti.

Terlihat kekaguman orang-orang jahiliah terhadap apa yang mereka miliki bagaikan kanak-kanak. Pikiran, kepentingan dan perhatiannya bagaikan anak kecil. Permainan, pekerjaan dan tutur katanya seperti anak kecil.

Mengapakah manusia ini? Mereka terbenam di dalam lumpur lingkungan, tanpa bisa dan mau mendengar seruan yang luhur dan mulia, seruan yang mengangkat harkat kehidupan, menjadikannya diberkahi dan mensucikannya?

Sumber: 
Sayid Qutb, Tafsir Fi Zilalil Qur'an Jilid 1, GIP

Menghitung Sebuah Perintah Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Segala peristiwa dan segala yang ada, semuanya bisa menjadi data ku...

Menghitung Sebuah Perintah Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Segala peristiwa dan segala yang ada, semuanya bisa menjadi data kuantitatif. Persoalannya kemampuan berhitung manusia terbatas. Sebab, manusia hanya bisa mengkalkulasi yang diketahuinya saja. Padahal yang tidak diketahui, tak terbatas. Itulah sebab, kalkulasi manusia sering salah.

Mengapa semuanya bisa dihitung? Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran tertentu. Menciptakan segala sesuatu dengan petunjuk dan teratur. Setiap sesuatu ada ajal dan masanya.

Mengapa kalkulasi manusia bisa salah? Sebab, hanya Allah yang turun dan naik ke langit. Hanya Allah yang tahu yang masuk ke bumi dan keluar dari bumi. Hanya Allah yang tahu makhluk-Nya. Yang diketahui manusia sebatas yang dikehendaki-Nya.

Karena manusia sering salah berhitung, maka bertakwalah. Dengan takwa, Allah akan menghapus semua kesalahan, memperbaiki dan menyempurnakan urusan manusia. 

Manusia yang pandai berhitung mendapatkan tempat khusus di sisi Allah. Perdebatan di akhirat tentang berapa lama hidup di dunia? Tak bisa dijawab kecuali diserahkan kepada yang pandai berhitung. Allah memerintahkan bila ada persoalan bertanyalah kepada yang ahli berhitung.

Dahulu, seorang ulama fiqh pasti pandai berhitung. Sebab, bukankah hukum Islam dipenuhi dengan perhitungan? Shalat, zakat, waris, dan puasa, harus ditopang dengan keahlian menghitung.

Menentukan waktu shalat dan puasa, butuh perhitungan waktu. Pembagian zakat dan waris, butuh perhitungan agar didistribusikan sesuai hukum Allah. Keahlian menghitung merupakan keahlian yang dianjurkan oleh Allah.

Ilmu matematika, fisika dan kimia lahir dari para ulama Islam, sebab ada perintah dari Allah untuk bertanya kepada yang pandai berhitung. Sebab, alam semesta dan peristiwanya, semuanya bisa dihitung, karena Allah Maha Teliti dan Tidak Pernah Lengah. Berhitung bagian dari ketaatan kepada Allah yang memerintahkan untuk berhitung. 

Agar Pengadilannya Final di Dunia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Perdebatan dan perselisihan tidak saja di dunia, tetapi juga di ak...

Agar Pengadilannya Final di Dunia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Perdebatan dan perselisihan tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Bedanya, di dunia, manusia bisa berdusta, merekayasa dan bersekongkol. Di akhirat, semua fakta terbuka. Sang Hakim Maha Bijaksana.

Perdebatan di akhirat, antara pembesar dengan  jongos kemungkaran. Antara syetan dengan pengikutnya. Ada juga perdebatan tentang berapa lama hidup di dunia. Pelajari perdebatan di akhirat. Seperti itulah perdebatan di persidangan dunia.

Di dunia, kisah Nabi Yusuf dengan saudaranya, merupakan kisah rekayasa bukti hukum. Kisah Nabi Yusuf dengan istri pembesar istana, merupakan kisah rekayasa kasus, walapun bukti hukum menunjukkan bahwa istri pembesar istana yang bersalah. Apakah keburukan bisa disembunyikan?

Dengan segala rekayasa bukti hukum dan kasus, Allah memberikan kelapangan bagi para hakim, yaitu bila ijtihadnya salah maka akan mendapatkan satu pahala. Bila benar, akan mendapatkan dua pahala. Hakim yang mampu menegakkan integritasnya, berpeluang semuanya didambakan surga. Namun mengapa justru banyak yang ke neraka?

Hakim adalah wakil Tuhan di bumi. Menyelesaikan persoalan dan perselisihan antar manusia di dunia. Bukankah Allah pun yang menyelesaikan perselisihan manusia di dunia? Pengadilan Allah adalah pengadilan final. Keputusan final. Sedangkan pengadilan di dunia akan dilanjutkan dengan pengadilan di akhirat.

Bagaimana agar pengadilan dunia tidak berlanjut ke akhirat? Bagaimana agar persoalan tuntas di dunia? Sebab, pengadilan di akhirat sangat berat dan melelahkan. Jadikan dunia, sebagai penghapusan beratnya pengadilan di akhirat.

Adili diri oleh diri sendiri, sebelum diadili oleh Allah. Hisablah diri, sebelum dihisab oleh Allah. Itu cara meringankan pengadilan di akhirat.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (207) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (244) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (8) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (183) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (431) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (155) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)