basmalah Pictures, Images and Photos
12/13/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Kematian Napoleon Bonaparte Sebab Sakit atau Diracun? Mungkin tidak banyak yang mengetahui detail peristiwa yang membuat kaisar ...

Kematian Napoleon Bonaparte Sebab Sakit atau Diracun?


Mungkin tidak banyak yang mengetahui detail peristiwa yang membuat kaisar sekaligus pemimpin militer Prancis, Napoleon Bonaparte, meninggal dunia. Kematiannya secara resmi diumumkan pada usianya yang menginjak 51 tahun. Saat itu disampaikan bahwa Napoleon meninggal akibat kanker perut.

Namun, pengumuman resmi itu tidak mengubur pertanyaan tentang apa detail penyebab Napoleon meninggal. Apalagi, dokternya pun menolak untuk menandatangani laporan autopsi.

Napoleon Bonaparte lahir di Pulau Corsica, Prancis, pada 15 Agustus 1769. Ketika Revolusi Prancis meletus pada 1789, kesempatan baiknya datang. Keberhasilan militer yang dipimpinnya dalam Pengepungan Toulon pada 1793 menjadikannya sebagai kekuatan yang diperhitungkan.

Pada 1795, Napoleon Bonaparte, yang saat itu berusia 26 tahun, menghentikan pemberontakan melawan republik di Paris. Sejak saat itu, kehadiran Napoleon mengejutkan seluruh Eropa karena dia dengan cepat menjadi kekuatan politik. Dia mengambil kendali Pemerintah Prancis dalam "kudeta 18 Brumaire" pada 1799. Lima tahun kemudian, Napoleon Bonaparte, pada usia 35, menobatkan dir sebagai Kaisar Prancis.

Kemenangan Napoleon bergulir di medan perang, misalnya dengan menghancurkan Rusia dan Austria pada Pertempuran Austerlitz pada 1805 dan juga menaklukkan Kekaisaran Romawi yang berusia 1.000 tahun.

Napoleon mencatatkan awal dari akhir hidupnya ketika dia memutuskan untuk menginvasi Rusia pada 1812. Rusia membakar desa dan kota saat mereka mundur, meninggalkan tentara Prancis dengan sedikit pasukan dan hampir tidak ada yang bisa dimakan. Pada September 1812, pasukan Prancis terisolasi di Moskow tanpa persediaan makanan dan musim dingin akan tiba.

Prancis akhirnya terpaksa mundur dari Moskow dan Napoleon kehilangan ratusan ribu tentaranya. Seluruh Eropa merasakan kelemahan pasukan Napoleon pada saat itu. Austria, Prusia, Rusia, dan Swedia menyatukan pasukan mereka melawan Prancis dalam Pertempuran Leipzig pada 1813. Napoleon menyerah pada April 1814 dan dipaksa untuk melepaskan takhtanya.

Lalu Napoleon diasingkan ke Pulau Elba di Mediterania, tetapi berhasil melarikan diri dan berusaha merebut kekuasaan di Prancis lagi sampai ia dikalahkan dalam "Pertempuran Waterloo" pada Juni 1815. 

Setelah itu, Napoleon dikirim kembali ke pengasingan, kali ini ke Saint Helena, sebuah pulau kecil yang terisolasi di Inggris yang pernah digambarkan sebagai lokasi yang sangat jauh dari tempat mana pun di dunia. 

Napoleon tahu bahwa akhir hidupnya sudah dekat, dan pada April 1821 dia memutuskan untuk mendikte wasiatnya, menuduh Inggris menyebabkan kematiannya dan memerintahkan penguburannya di "tepi Sungai Seine" di Prancis.

Napoleon bimbang antara hidup dan mati selama berminggu-minggu. Kesehatannya memburuk pada 5 Mei 1821. "Dia sangat kesakitan. Dia mengucapkan beberapa kata yang tidak bisa dibedakan yang tampaknya tentang tentara," ujar Jenderal Prancis Henri Bertrand, salah satu komandan tentara Napoleon, mengenang. 

Napoleon Bonaparte meninggal pada hari yang sama saat usianya menginjak 51 tahun. Sekelompok dokter kemudian mengaitkan kematiannya dengan kanker perut. Namun, perdebatan tentang penyebab kematian tidak berhenti sampai di sini karena muncul kontroversi pascakematiannya terkait apa yang menyebabkannya meninggal. 

Pertama, Inggris dan Prancis tidak sampai pada titik temu soal autopsi Napoleon. Beberapa dokter yang memeriksa tubuhnya mengakui bahwa dia meninggal karena kanker perut. Ini masuk akal sebab kakek, ayah, saudara laki-laki, dan tiga saudara perempuan Napoleon semuanya meninggal karena kanker perut juga. 

Namun, salah satu dokter Napoleon, Francesco Antomarchi, menolak untuk menandatangani laporan autopsi, yang menimbulkan beberapa pertanyaan. Setelah melihat lebih dekat pada mayat Napoleon, Antomarchi melihat bahwa livernya membesar. 

Akan tetapi, ada tuduhan bahwa pihak Inggris tidak mau menunjukkan hal ini dalam laporan autopsi sehingga dia tidak akan dikatakan memiliki riwayat penyakit pada livernya, di mana pihak Inggris mengirimnya ke pengasingan tanpa pengobatan. Karena itu, catatan Francesco Antomarchi tentang pembesaran liver Napoleon dihilangkan dari laporan tersebut.  

Selain itu, dokter Inggris mengecualikan pengamatan Antomarchi tentang kondisi paru-paru Napoleon yang buruk. Karena itu, tidak mengherankan jika Antomarchi menahan diri untuk menandatangani laporan ini.

Setelah itu, Inggris dan Prancis berselisih tentang di mana mantan kaisar itu dimakamkan. Napoleon telah meminta agar tubuhnya dikembalikan untuk dimakamkan di Prancis, yang sangat dia cintai. Tetapi, Inggris tidak ingin makam Napoleon ada di Eropa. Dia akhirnya dimakamkan di Pulau Saint Helena. 

Akhirnya, Inggris dan Prancis memperdebatkan apa yang harus ditulis di nisannya. Prancis ingin menulis nama Napoleon sebagai Kaisar, sementara Inggris menolak memberikan legitimasi apa pun pada pemerintahannya dan ingin mencukupi dengan sebuah tulisan dengan nama lengkapnya, "Napoleon Bonaparte".

Tubuh Napoleon terbaring selama hampir 20 tahun di kuburan tanpa saksi sampai tahun 1840, yaitu ketika Inggris, yang membutuhkan kerja sama Prancis dalam persoalan politik, setuju untuk mengembalikan jasad Napoleon ke Paris. 

Namun, para penganut teori pembunuhan sering merujuk pada "satu tersangka", yaitu Pangeran Charles Montholon, orang Prancis yang tinggal di pPlau Saint Helena bersama Napoleon. 

Alasan utama kecurigaan terhadap orang ini adalah karena beberapa sejarawan percaya bahwa Montholon adalah agen dari kaum royalis Prancis sehingga mungkin dia ingin memastikan bahwa Napoleon tidak akan mencoba merebut kekuasaan lagi. 

Menurut teori itu, diasumsikan bahwa Montholon meracuni Napoleon dengan arsen dengan memasukkannya ke dalam botol anggur. Beberapa helai rambut Napoleon yang diawetkan setelah kematiannya menunjukkan kadar arsenik 38 kali lebih tinggi dari biasanya.

Meski begitu, hasil yang lebih baru menunjukkan bahwa laporan autopsi awal yang dikeluarkan pada 1821 adalah benar sehingga ini membantah teori pembunuhan Napoleon oleh Montholon. Karena, walaupun kadar arseniknya mengkhawatirkan, perlu diketahui arsenik sangat populer selama abad ke-19 untuk digunakan dalam pengobatan, produk makanan, dan produk perawatan rambut.    

Selain itu, gejala Napoleon identik dengan gejala pasien kanker perut. Pemeriksaan celana yang dia kenakan dalam pengasingannya di Pulau Saint Helena mengungkapkan bahwa pinggangnya lebih kecil daripada saat di Prancis sehingga memungkinkan dia kehilangan berat 30 pon sebelum kematiannya. 

Kondisi ini biasa terjadi pada seseorang dengan kanker perut, dan bukan pada keracunan arsenik. Pada saat yang sama, kulit dan kuku Napoleon digambarkan sebagai "pucat", yang bisa disebabkan oleh dosis arsenik yang fatal.

Terlepas dari kemungkinan tidak pernah mendapatkan kebenaran yang dikonfirmasi, fakta bahwa pertanyaan itu diajukan dan tidak menemukan jawaban, menunjukkan bahwa Inggris gagal membendung nama besar Napoleon ketika mereka membawanya ke Saint Helena. Sebab, kehidupan dan biografinya terus menempati sebagian besar sejarah.

 
Sumber: arabicpost


7 Fakta di Balik Kematian Joseph Stalin, Diracun atau Kena Stroke? Pada tahun 1924, Joseph Stalin mengambil alih kendali Uni Sov...

7 Fakta di Balik Kematian Joseph Stalin, Diracun atau Kena Stroke?



Pada tahun 1924, Joseph Stalin mengambil alih kendali Uni Soviet setelah Vladimir Lenin meninggal karena stroke. Stalin pun menjabat sebagai Sekjen Partai Komunis Uni Soviet dari tahun 1922 sampai kematiannya pada 5 Maret 1953. Sampai saat ini, ada banyak spekulasi yang menyelimuti kematian Stalin yang mendadak di usia 74 tahun.

Artikel ini akan membahas beberapa fakta tentang kematiannya. Tanpa harus menunggu lebih lama lagi, berikut 7 fakta di balik kematian Joseph Stalin.

1. Kesehatan Stalin sempat menurun sebelum kematiannya
Beberapa tahun sebelum kematiannya, Stalin menjadi semakin paranoid. Dia percaya kalau semua orang di sekitarnya bersekongkol untuk menjatuhkannya. Pada tahun 1952, kondisi kesehatannya semakin menurun. Di salah satu kesempatan, salah satu dokter pribadi Stalin, Vladimir Vinogradov, menyarankan agar ia menanggapi segalanya dengan kepala dingin.

Namun, Stalin tak mau mendengar saran dari dokternya dan malah membuang mereka ke penjara. Peristiwa ini dikenal sebagai "Doctors' plot," yang memicu desas-desus yang mengatakan kalau sekelompok dokter berencana untuk membunuh para petinggi Soviet.

Seperti dikutip dari History Today, enam dari sembilan dokter yang dipenjara Stalin adalah orang Yahudi. Tak lama setelahnya, kerusuhan anti-Semitisme pecah di seluruh Uni Soviet. Untungnya, Stalin meninggal beberapa minggu sebelum para dokter itu diadili dan dieksekusi.

2. Penyebab kematiannya
Dokter pribadi Stalin, Alexander Myasnikov, menulis kondisi kesehatan dan hasil otopsi Stalin di buku hariannya. Namun, buku itu baru bisa diakses oleh publik ketika keluarganya memulihkannya dari arsip negara yang disembunyikan. Hal yang menarik adalah pendapat Myasnikov yang menyebut Stalin menderita penyakit mental.

Myasnikov mengklaim kalau kegilaan Stalin berasal dari aterosklerosis serebral tingkat lanjut, yang menyebabkan pengerasan pembuluh darah di otak dan bisa memicu stroke. Menurut Myasnikov, penyakit otak ini memengaruhi pengambilan keputusan Stalin dan berkontribusi pada paranoia dan peningkatan kekejamannya di akhir hidupnya.

3. Terkapar di ruangannya sendiri
Pada pagi hari ketika ditemukan, para dokter dan pemimpin Partai Komunis Soviet melihat tubuh Stalin terbaring tak sadarkan diri di lantai. Saat itu, tubuhnya basah kuyup dengan air seninya sendiri. Bau busuk yang meresap ke ruangan menambah kengerian suasana saat itu.

Butuh waktu empat hari setelah Stalin ditemukan tidak sadarkan diri sampai ia menghembuskan napas terakhirnya. Namun alih-alih memanggil dokter, pengawalnya justru menghubungi menteri keamanan negara. Para pemimpin komunis itu baru memanggil dokter yang bisa mereka temui 12 jam setelah melihat tubuh Stalin.

Dalam sebuah ironi, beberapa dokter terbaik Uni Soviet yang sebelumnya merawat Stalin justru sedang mendekam di penjara sehingga tidak bisa mengeceknya. Tak hanya dokter, para sekutu dan orang kepercayaan Stalin juga tidak berani menyentuh tubuhnya. 


Dalam wawancara dengan jurnalis Rusia Edvard Radzinsky, Peter Lozgachev, pengawal yang pertama kali melihat jasad Stalin, menceritakan, "Semua dokter sangat ketakutan. Mereka menatap Stalin dengan perasaan terguncang. Mereka harus memeriksanya, tapi tangan mereka gemetar karena ketakutan."

Ketika diperiksa, tekanan darah Stalin 210/120, lengan dan kaki kanannya lumpuh, dan gigi palsu kesayangannya hampir hancur semua. Menurut kepala dokter gigi Kremlin, Alexei Doinikov, Stalin hanya memiliki tiga gigi asli pada hari ketika dia meninggal.

4. Penggunaan lintah dan enema nutrisi 
Lintah sudah digunakan sejak abad ke-18 dan ke-19 untuk mengurangi tekanan darah pasien. Seperti dikutip dari buku The Last Days of Stalin, para dokter juga menaruh lintah di kepala Stalin untuk menyadarkannya. Tak hanya itu, mereka juga menyuntikkan enema glukosa serta "enema nutrisi" yang berisi krim dan kuning telur ke dalam tubuhnya.

Ketika Stalin tak kunjung sadar dari koma, para dokter menggunakan kompres dingin, pernapasan buatan, dan suntikan adrenalin. Pada saat itu, putra Stalin, Vasily, memprotes perlakuan terhadap ayahnya dengan berteriak, "Kalian bajingan. Kalian membunuh ayahku."

Putri Stalin, Svetlana Alliluyeva, juga menceritakan saat-saat terakhir ayahnya. "Dia tiba-tiba membuka matanya dan menatap semua orang di ruangan itu," katanya. "Itu adalah tatapan yang mengerikan, marah atau mungkin geram dan penuh ketakutan akan kematian."

Ketika Stalin menghembuskan nafas terakhirnya, semua orang yang hadir berlutut dan mencium tangannya, kecuali kepala polisi rahasia Uni Soviet, Lavrenti Beria. Dikatakan kalau Beria telah meludahi jasad Stalin pada saat kematiannya.

5. Tetap "membunuh" rakyat Soviet sampai akhir hayatnya
Setelah hidup selama puluhan tahun dengan keyakinan yang salah, yakni bahwa Stalin telah melindungi dan merawat rakyat Soviet, warga Soviet langsung menangis setelah mendengar kabar wafatnya Stalin. Puluhan ribu orang bahkan berkumpul di Trubnaya Square untuk menghadiri prosesi pemakamannya.

Dalam putaran nasib yang ironis, Stalin masih membawa teror ke jalan-jalan Uni Soviet setelah kematiannya. Pada hari pemakamannya, orang-orang yang ingin melihat jasadnya harus berdesak-desakkan. Ratusan orang bahkan terinjak-injak di tengah kerumunan itu sampai mati.

Menurut beberapa sumber, diperkirakan kalau 500 orang harus meninggal hanya karena ingin melihat jasad Stalin di Hall of Columns, Moskow.

6. Mumifikasi jasad Stalin
Ketika Lenin meninggal pada Januari 1924, Stalin menyarankan agar jasadnya dibalsem agar bisa dipamerkan di depan umum meskipun mayoritas pemimpin Soviet menentang gagasan tersebut. Tidak mengherankan kalau Stalin menginginkan prosedur yang sama setelah kematiannya sendiri. Namun, prosesnya tidak semudah itu.

Pada saat Stalin meninggal, Profesor Vorobyev, yang memimpin pembalseman Lenin, juga telah meninggal. Oleh karena itu, tugas yang berat ini diserahkan kepada asisten Profesor Vorobyev, Profesor Zharsky. Sayangnya, pembalseman Stalin tidak direncanakan dengan baik mengingat kematiannya yang sangat mendadak.

Pada akhirnya, butuh waktu tujuh bulan untuk menyelesaikan proses "mumifikasi" Stalin. Tubuhnya ditempatkan di dalam kuburan kaca di samping Lenin, tetapi dipindahkan lagi ketika Nikita Khrushchev menjadi kepala negara Uni Soviet. 

Setelah naik ke tampuk pemerintahan Soviet, Khrushchev langsung bertekad untuk memberlakukan kebijakan de-Stalinisasi. Khrushchev percaya kalau diktator kejam itu tidak pantas mendapat tempat di samping Lenin.

Akibatnya, delapan tahun setelah dibalsem dan dimakamkan dalam kuburan kaca, jenazah Stalin dikeluarkan dari mausoleum di Lapangan Merah dan dikubur di dekat Tembok Kremlin. Pada akhirnya, Stalin kehilangan kehormatan dan prestise yang dia yakini sebagai haknya. 

Alih-alih beristirahat di samping Lenin, Stalin malah ditempatkan di samping tokoh-tokoh yang lebih rendah dari para pentolan Revolusi Rusia. Secara kebetulan, hari "penggusuran" makam Stalin bertepatan pada hari Halloween 1961.

7. Konspirasi di sekitar kematiannya
Misteri terus berputar di sekitar kematian Stalin meskipun ada bukti yang telah merinci penyebab kematiannya. Selama bertahun-tahun, para sejarawan terus memperdebatkan kemungkinan kalau pemimpin Soviet itu telah diracun secara bertahap.

Misalnya, pada malam kematian Stalin, dia muntah darah karena mengalami pendarahan saluran pencernaan. Rincian pendarahan perutnya baru dipublikasikan pada 2011 ketika laporan otopsi resmi dirilis. Akibatnya, beberapa spekulasi liar pun bermunculan.

Beberapa menyangka kalau orang-orang di lingkaran dalam Stalin memberinya warfarin, pengencer darah yang tidak berasa dan tidak berwarna. Diyakini kalau Stalin diberikan racun selama makan malam terakhir dengan empat anggota Politbiro-nya, termasuk Nikita Khrushchev dan Lavrenti Beria.

Bahkan, Beria sempat membual tentang pembunuhan Stalin sekitar dua bulan setelah kematiannya. Pada saat itu, ia mengatakan "Aku membunuhnya! Aku menyelamatkan kalian semua." Dipercaya kalau mereka takut akan perang nuklir dengan Amerika Serikat.

Oleh karena itu, mereka bersekongkol untuk meracuni Stalin selama 5-10 hari secara bertahap agar tidak dicurigai oleh Stalin sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Nah, itu tadi 7 fakta di balik kematian Joseph Stalin. Jadi, bagaimana menurutmu? Setujukah kalian kalau Stalin meninggal karena serangan stroke? Atau, kalian lebih percaya kalau Stalin meninggal karena diracun?


Sumber:
https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/science/discovery/amp/shandy-pradana/7-fakta-di-balik-kematian-joseph-stalin-diracun-atau-kena-stroke-c1c2

Awalnya Julius Caesar Dianggap Epilepsi, Temuan Terkini Dia Strok     Julius Caesar mengubah Roma dari republik menjadi kekaisar...

Awalnya Julius Caesar Dianggap Epilepsi, Temuan Terkini Dia Strok


   
Julius Caesar mengubah Roma dari republik menjadi kekaisaran, merebut kekuasaan melalui reformasi politik yang ambisius. Dia terkenal tidak hanya karena keberhasilan militer dan politiknya, tetapi juga karena hubungannya yang panas dengan Cleopatra.
Julius Caesar mengubah Roma dari republik menjadi kekaisaran, merebut kekuasaan melalui reformasi politik yang ambisius. Dia terkenal tidak hanya karena keberhasilan militer dan politiknya, tetapi juga karena hubungannya yang panas dengan Cleopatra.

Nationalgeographic.co.id—Secara umum diterima sebagai fakta sejarah bahwa Julius Caesar menderita epilepsi, penyakit yang pada zaman klasik kadang-kadang dikaitkan dengan kejeniusan yang dianugerahkan Tuhan. Sumber-sumber kuno menggambarkan beberapa episode ketika, kadang-kadang pada saat-saat kritis, salah satu komandan militer paling terkenal dalam sejarah dilumpuhkan oleh penyakitnya yang disebut sebagai morbus comitialis.

Akan tetapi, apakah bukti tersebut benar-benar sesuai dengan diagnosis epilepsi? Dan jika bukan epilepsi yang menimpa Caesar, lalu apa itu?

Ini adalah pertanyaan yang coba dijawab oleh dokter Galassi dan Ashrafian dengan menerapkan pengetahuan medis modern pada gejala dan keadaan yang dijelaskan oleh sejarawan dan komentator kontemporer kehidupan Caesar.

Hasilnya adalah karya detektif patologis-historis yang menarik yang menantang kebijaksanaan yang diterima tentang salah satu pria paling terkenal sepanjang masa. Berkat penemuan ini, apa yang diderita Julius Caesar semakin jelas. Ia mengalami serangan stroke.

Diktator zaman Romawi ini mengalami serangan stroke di Spanyol dan Afrika. Serangan pertama diperkirakan terjadi pada 46 sebelum Masehi di Thapsus, yang kini menjadi Tunisia. Stroke kedua terjadi di Cordoba, Spanyol, saat usianya menginjak 50 tahun.

Suetonius mengklaim bahwa Caesar mendadak tak sadarkan diri dan menyebut kondisi itu sebagai morbis comitialis. Sementara berdasarkan tulisan Plutarch, ia menuliskan bahwa Caesar tak sadarkan diri saat berada di Thapsus dan terpaksa dibawa meninggalkan medan pertempuran untuk beristirahat dan menenangkan diri.

Dua peneliti dari Imperial College London menyarankan bahwa serangkaian stroke ringan, atau "serangan iskemik sementara" lebih masuk akal, terutama ketika menggambarkan gejalanya. Gejala-gejala itu termasuk vertigo dan sakit kepala, serta "pusing dan tidak peka."

Gaius Julius Caesar (100 - 44 SM) adalah seorang jenderal dan negarawan Romawi. Selama ini diktator Romawi ini dikira mengalami epilepsi, namun setelah diselidiki ia mengidap stroke.

Para peneliti menunjukkan perubahan dramatis dalam kondisi mental Caesar seiring berjalannya waktu, terutama depresi yang sering menyertai kerusakan otak akibat stroke.

“Adanya teori bahwa Caesar mengidap epilepsi tampaknya tidak mempunyai bukti yang valid. Jika meneliti lebih dalam, fakta menunjukkan bahwa sebenarnya Caesar didiagnosa mengalami stroke,” ujar Francesco M. Galassi, seorang dokter medis di Imperial yang melakukan analisis dengan Hutan Ashrafian, seorang ahli bedah di kampus Imperial College London. Keduanya merilis buku berdasar penelitian yang berjudul Julius Caesar's Disease, A New Diagnosis.

Menurut Galassi, Suetonius menggunakan istilah morbus comitialis yang merupakan istilah sangat umum dan tidak menyebutkan sebagai epilepsi. “Semua gejala yang dilaporkan dalam kehidupan Caesar cocok dengan dia yang mengalami beberapa stroke ringan,” kata Galassi.

Para ilmuwan juga memeriksa kematian mendadak ayah Caesar dan kerabat lainnya. Keduanya meninggal saat membungkuk untuk memakai sepatu mereka. Para peneliti menunjukkan,"bahkan jika Caesar berpartisipasi dalam gaya hidup aktif dan mungkin mendapat manfaat dari diet Mediterania, ada kemungkinan tambahan kecenderungan genetik terhadap penyakit kardiovaskular."

Christopher Pelling, profesor bahasa Yunani di Universitas Oxford, mengatakan bahwa sementara penyakit Caesar mungkin dianggap epilepsi, "Saya tidak tahu apakah itu masuk akal secara medis, tetapi ini menarik, dan itu penting," ujarnya kepada Digital Journal. "Penyakit fisik apa pun tidak akan membantu, apakah itu epilepsi dibandingkan sesuatu yang lain."

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Neurological Sciences dengan judul: “Has the diagnosis of a stroke been overlooked in the symptoms of Julius Caesar?”

https://nationalgeographic.grid.id/amp/132908570/awalnya-julius-caesar-dianggap-epilepsi-temuan-terkini-dia-strok?page=all

Mulai Terungkap Penyakit yang Dialami Alexander Agung Jelang Kematiannya Kehidupan Alexander Agung memang dipenuhi misteri. Namu...

Mulai Terungkap Penyakit yang Dialami Alexander Agung Jelang Kematiannya


Kehidupan Alexander Agung memang dipenuhi misteri. Namun, baru-baru ini ilmuwan mulai menguak selubung yang menutupi penyebab kematian penakluk terkenal asal Makedonia itu.

Dilansir dari New York Post pada Rabu (30/1/2019), para peneliti mengungkap bahwa ada kemungkinan ahli perang yang meninggal muda itu menderita penyakit langka yang membuatnya lumpuh selama enam hari. Ini membuatnya tidak bisa bergerak, bicara, dan bernapas secara bertahap.

Bahkan, studi ini juga mengungkapkan bahwa dia dinyatakan meninggal hampir seminggu lebih awal. Otot-ototnya yang lumpuh membuat para dokter saat itu tidak bisa melihat apakah Alexander Agung masih bisa bernapas atau tidak. Ini berarti para prajuritnya sudah mempersiapkan tubuhnya untuk dimakamkan pada 323 SM, sebelum dia benar-benar meninggal.

Kematian Alexander Agung di usia 32 tahun sendiri membingungkan para ilmuwan dan ahli sejarah. Beberapa mengatakan bahwa tifus, alkohol, hingga racun menjadi penyebab meninggalnya pria itu di Babel. Namun, baru-baru ini para ilmuwan di Selandia Baru berpikir bahwa penyakit autoimun langka menghancurkan tubuhnya. Temuan ini diterbitkan di Ancient History Bulletin.

"Kematiannya mungkin merupakan kasus pseudothanatos yang paling terkenal, atau diagnosis palsu kematian, yang pernah dicatat," kata penulis studi Dr. Katherine Hall dari Dunedin School of Medicine, Selandia Baru.

"Saya ingin merangsang debat dan diskusi baru dan mungkin menulis ulang buku-buku sejarah dengan menyatakan kematian Alexander yang sebenarnya, enam hari lebih lambat dari yang diterima sebelumnya."

Hall dan rekan-rekan satu timnya meneliti catatan kuno yang mengungkapkan berbagai gejala penyakit yang diderita Alexander. Terungkap, penyakit itu dimulai setelah dia menenggak 12 liter anggur.

Keesokan paginya, Alexander mengeluh sakit namun tetap menjalankan tugasnya. Hingga hari berikutnya, dia merasakan sakit perut, demam, dan perlahan kehilangan kemampuannya untuk bergerak serta hanya bisa mengedipkan mata dan menggerakkan tangannya. Di hari ke sebelas, Raja Makedonia dan Persia itu dinyatakan meninggal. Hall mengungkapkan bahwa gejala tersebut mirip dengan gangguan otak Sindrom Guillain-Barre.

Namun, dokter saat itu tidak melihat denyut nadi untuk memeriksa pertanda kehidupan. Mereka hanya mencari tanda-tanda pernapasan. Selain itu, Hall memiliki asumsi bahwa ada kemungkinan Alexander masih berada di tahap koma ketika pemakamannya akan dimulai.

"Sangat mungkin dia dalam keadaan koma dalam tahap ini dan tidak akan memiliki kesadaran saat para prajurit memulai tugasnya."



https://m.liputan6.com/health/read/3883051/mulai-terungkap-penyakit-yang-dialami-alexander-agung-jelang-kematiannya?


Manajemen Jiwa dengan Mengkaji Sejarah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mempelajari sejarah, berarti b...

Manajemen Jiwa dengan Mengkaji Sejarah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mempelajari sejarah, berarti berinteraksi dengan mereka yang sudah wafat. Belajar sejarah mengingatkan akan kematian. Ini pembersihan hati

Ibrahim bin Adham di atas singgasana. Seseorang datang ke istananya, bertanya siapa saja yang telah menempati istana ini? Ibrahim bin Adham tertegun

Semua raja-raja telah pergi. Yang duduk, berdiri, dan berjalan di singgasana ini telah banyak yang datang dan pergi. Ibrahim bin Adham tersadarkan diri dari sejarah

Raja yang paling berkuasa, Panglima yang paling perkasa, Ilmuwan yang paling bersinar, Hartawan yang terkaya sudah sirna. Itu yang tercatat di sejarah

Alexander dari Macedonia, jadi penguasa Timur dan Barat, wafat di usia 30-an. Dapatkah menikmati kekuasaan yang terbentang luas? Tersisa hanya kisahnya

Belajar sejarah berarti menelaah dan menapaki kehidupan mereka yang telah wafat. Mengapa yang mempelajarinya merasa hidup abadi?

Mereka yang paling cerdik dan licik bermanuver meraih segala sesuatu dengan cara apa pun akhirnya wafat juga. Tak ada yang bisa menahan kematian.

Bila belajar sejarah menghasilkan perseteruan dan perselisihan sebab persepsi peristiwa sejarah, tandanya sejarah hanya pengetahuan belaka

Sejarah seharusnya melembutkan Hati, membersihkan jiwa, mengingatkan kematian juga ketidakabadian hidup.

Kematian terasa dekat. Waktu terasa singkat. Amal perbuatan tak sehebat sosok yang disebutkan dalam sejarah. Ini intropeksi diri

Dari sejarah, parameter hidup, diri, amal, dan karya dibandingkan tokoh sejarah. Muncullah kerendahan hati, rasa masih sedikitnya amal dan keterbuangan waktu.

Rahasia Kecerdasan Ibnu Sina, Imam Ghazali, dan Ibnu Rusyd Jika ingin menjadi orang yang cerdas, silahkan tiru Ibnu Sina. Hal in...

Rahasia Kecerdasan Ibnu Sina, Imam Ghazali, dan Ibnu Rusyd


Jika ingin menjadi orang yang cerdas, silahkan tiru Ibnu Sina. Hal ini ditegaskan oleh KH Imam Mawardi saat memberikan tausiah pada acara Nuzulul Qur'an 1436 H serta menyongsong Muktamar ke-33 NU, di gedung Rahmatul Ummah Sidoarjo, Senin (29/6) malam.<>

Orang cerdas menurut Islam yaitu jika dirinya mendapatkan sebuah masalah cepat-cepat menghadap Allah SWT. "Kenapa harus Ibnu Sina," tanya Kiai Mawardi. "Beliau itu kalau tidak paham masalah, beliau datang ke masjid sujud minta kepada Allah SWT," imbuhnya menjelaskan.

Disamping meminta kepada Allah SWT, rahasia bagi orang yang ingin cerdas selanjutnya yaitu suka bershadaqah. "Kalau pingin cerdas yang rajin shadaqah. Insya Allah akan dijadikan Allah menjadi orang yang cerdas. Hal ini merupakan rahasia dari Ibnu sina," paparnya.

Kiai Mawardi juga menyatakan, beberapa rahasia dari Ibnu Sina tadi bisa diterapkan oleh Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) pada khususnya serta Universitas lainnya.

"Jika mahasiswa Unusida ingin menjadi orang yang cerdas, silahkan mencontoh rahasia dari Ibnu Sina," ucapnya.

Selain Ibnu Sina, Kiai Mawardi juga mencontohkan Imam Al-Ghazali. Menurut Kiai Mawardi, suatu ketika Imam Al-Ghazali sedang menunaikan shalat bersama adiknya. Sang adik melihat banyak darah bercecer di sekitar sajadah Imam Al-Ghazali.

"Waktu itu Imam Ghazali kaget kenapa adiknya sampai melihat ada banyak darah disekitar sajadah kakaknya. Karena waktu sholat, Imam Ghazali sepintas memikirkan haid. Hal ini yang membuat Imam Ghazali semakin penasaran kepada adiknya. Beliau pun ingin tahu siapa Sang guru adiknya tersebut," ulas Kiai Mawardi menceritakan pengalaman Imam Ghazali.

Ketika Imam Ghazali berguru sama seorang tukang sol sepatu tak lain adalah guru dari adik Imam Ghazali. Dia kemudian mendapatkan perintah untuk membersihkan halaman sekolah, namun tidak boleh menggunakan sapu. Melainkan memakai tangan.

"Setelah berguru dan selesai menjalankan tugas. Imam Ghazali akhirnya dinyatakan memiliki ilmu laduni. Kemudian beliau melakukan spiritual sujud ke Madinah dan Makkah. Disana dibuka ilmunya oleh Allah SWT. Setelah ke Makkah, tulisannya berbeda dari sebelumnya," katanya.

Singkat cerita, Kiai Mawardi menegaskan, bahwa jika ingin menjadi orang cerdas dan mendapatkan ilmu manfaat harus taat kepada guru. Jangan sampai musuhan sama kiainya. Meskipun orang itu pintar, tapi kalau berani sama guru atau kiainya, nanti akan dicabut ilmunya oleh Allah.

"Jadi orang itu harus tawadhu'. Tidak boleh mentang-mentang. Meskipun sudah mendapatkan ilmu laduni, Imam Ghazali setiap hari masih suka membersihkan toilet masjid," ujarnya.

Selain Ibnu Sina dan Imam Ghazali, Kiai Mawardi juga menyebutkan Ibnu Rusyd. Kelebihan dari Ibnu Rusyd, suka berkumpul dengan orang-orang sholeh dan alim. "Kalau kita ingin mendapatkan ilmu manfaat harus suka berkumpul sama orang sholeh dan alim. Nanti Allah sendiri yang akan membuka hati kita supaya mendapatkan ilmu manfaat," tutupnya. (Moh Kholidun/Fathoni)


Sumber:
https://nu.or.id/daerah/kh-imam-mawardi-paparkan-rahasia-kecerdasan-ibnu-sina-imam-ghazali-dan-ibnu-rusyd-PgQhw

Rekayasa Bisikan Hati dalam Berstrategi dan Berkarya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Khalid bin Wali...

Rekayasa Bisikan Hati dalam Berstrategi dan Berkarya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Khalid bin Walid seringkali bermanuver dalam pertempurannya. Namun mengapa manuvernya tak mampu menaklukkan muslimin?

Khalid bin Walid mampu menaklukkan strategi Heraklius, padahal menurut pengamat militer Eropa, dia panglima terhebat kekaisaran Romawi Timur

Khalid bin Walid mampu menaklukan strategi panglima terhebat Persia, padahal Persia pernah menaklukkan Romawi Timur. Saat Muslimin tertindas di Makah

Apa pun yang dilakukan, sumbernya dari besitan hati atau al-Khatir. Bagaimana agar al-khatir yang muncul sangat brilian dan bijaksana?

Terlalu sering mengagumi strategi dan hasil karya hebat seseorang, namun luput mengkaji, titik awal kebrilianan yang pernah hadir di muka bumi

Menurut Imam Ahmad bin Hambal dan Al-Ghazali, yang membentuk al-khatir adalah inputan yang masuk ke tubuh melalui mata, telinga, dan mulut.

Allah akan meminta pertanggungjawaban atas mata, telinga dan mulut di akhirat. Jadi inilah titik kritis terbentuknya al-khatir.

Kehidupan, kesehatan dan kebrilianan hati, jiwa, nafsu, akal dan raga dipengaruhi total oleh inputan yang masuk melalui mata, telinga dan mulut

Syariat Allah pun mengatur tata kelola apa yang layak masuk ke mata, telinga dan mulut. Bukankah yang haram membuat doa tak terkabul?

Bukankah mata dan telinga yang bermaksiat membutakan dan mengeraskan hati? Jiwanya menjadi nafsu Amaratul bi Su'u?

Akal mejadi cerdas bila hatinya bersih dan jiwanya mutmainah (tenang). Perhatikan perang Badar, Allah turunkan ketentraman  sebelum kemenangan

Perhatikan kucing jantan yang sedang berkelahi, yang menang si pejantan yang tenang bukan yang mengeong keras.

Kebrilianan akal hanya efek dari hati yang bersih dan jiwa yang tentram. Ilmu itu cahaya yang mendatangi hati yang bersih dan jiwa yang tentram

Bila semuanya berorientasi Allah, malaikat akan mengelilinginya dengan al-khatir yang brilian. Allah menjaga dari bisikan bodoh dan merusak dari syetan

Bagaimana mengontrol inputan yang berbahaya? Sibukkan diri beribadah. Sibukkan diri bersama Allah. Semua karya berharap ridha Allah.

Banyak kisah, Rasulullah saw Sudah mengetahui strategi musyrikin, munafikin dan Yahudi, karena Jibril sudah menginformasikannya terlebih dahulu.

Para Wali Allah tak merasakan takut terhadap apa pun, dianugerahkan besitan ketentraman. Inilah tanda Kebrilianan dan  kemenangan tiba.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (128) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (161) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (208) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (99) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (375) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (131) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (177) Sirah Sahabat (107) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (67) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)