basmalah Pictures, Images and Photos
11/28/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Hoax! Pembakaran Perpustakaan Alexanderia oleh Amr bin Ash Abu Al-Faraj Uskup Metropolis Aleppo menulis dalam buku sejarahnya ba...

Hoax! Pembakaran Perpustakaan Alexanderia oleh Amr bin Ash

Abu Al-Faraj Uskup Metropolis Aleppo menulis dalam buku sejarahnya bahwa bangsa Arab ketika menguasai Alexanderia, Amr bin Ash memerintahkan pembakaran perpustakaan atas titah Khalifah Umar bin Khatab.  Pasukan Islam juga membakar burung merpati selama 6 bulan. Apakah demikian?

Dairah Maarif Al-Qarn Al-Isyrin berkomentar, "Masalah pembakaran perpustakaan oleh pasukan Arab Islam memicu keraguan atas kritis sejarah untuk saat sekarang dan masih diselimuti misteri dan keraguan serta banyak menerima bantahan."

Dalam Khuthath Al-Faransawiyah disebutkan, peristiwa pembakaran ini tidak pernah disinggung oleh Sejarawan pada masanya baik yang beragama Nashrani maupun beragama lain. Masalah ini baru mencuat pada abad 13M dalam kitab yang dinobatkan kepada Abu Al-Faraj Uskup Alepo.

Peristiwa pembakaran pernah terjadi beberapa kali. Sekolah yang didirikan oleh Alexander Macedonia  diruntuhkan dalam serangan tentara Romawi yang dipimpin oleh Julius Cesar. Perpustakaannya dibakar. Sejak itu kaum intelektual tidak pernah lagi berkumpul dan bersatu.

Perpustakaan Alexanderia pernah mengalami kebakaran sebelum penaklukan Islam.  Buku sisanya dibawa oleh Romawi ke Konstantinopel. Sisanya dibakar oleh Raja Theodorus tatkala memerintahkan pembakaran berhala di Iskandariah. Pendapat ini didukung oleh Louis Sedillot dalam bukunya Khulashah Tarikh Al-Arab

Kisah pembakaran ini tidak ditemukan dalam kitab sejarah ulama klasik seperti Ath-Thabari, Al-Yaqubi, Al-Kindi, Ibnu Abdul Hakam serta Al-Baladzuri. Inilah sejarah yang kerap dinukil oleh penulis sejarah penaklukan kontemporer dan di sana nama perpustakaan Alexanderia tidak disebutkan sama sekali.

Potichus tidak menyebutkan adanya pembakaran perpustakaan Alexanderia. Kitab-kitab hadist dengan sanad shahih pun dalam biografi Umar bin Khatab tidak menyebutkan sedikit pun tentang pembakaran perpustakaan Alexanderia.

Sumber:
https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/kultur/articles/kisah-jutaan-manuskrip-yang-dibakar-vQNx9
Zulkarnain Sang Penakluk Timur dan Barat, Syeikh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf, Al-Kautsar 

Memotret Nusantara di Era Khalifatur Rasyidin Di era Khalifatur Rasyidin sudah ada pemukiman Muslim di pesisir pantai Sumatera. ...

Memotret Nusantara di Era Khalifatur Rasyidin


Di era Khalifatur Rasyidin sudah ada pemukiman Muslim di pesisir pantai Sumatera. Kerajaan Hindu dan Budha yang masih berdiri, Tarumanegara, Kutai, Kalingga dan Sriwijaya


--------------------
Kekhalifahan Rasyidin adalah kekhalifahan yang berdiri setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M, atau tahun 11 H. Kekhalifahan ini terdiri atas empat khalifah pertama dalam sejarah Islam, yang disebut sebagai Khulafaur Rasyidin. Pada puncak kejayaannya, Kekhalifahan Rasyidin membentang dari Jazirah Arab, sampai ke Levant, Kaukasus dan Afrika Utara di barat, serta sampai ke dataran tinggi Iran dan Asia Tengah di timur. Kekhalifahan Rasyidin merupakan negara terbesar dalam sejarah sampai masa tersebut.

Yang menjadi khalifah selama era Khalifatur Rasyidin:
• 632–634
Abu Bakar
• 634–644
Umar bin Khattab
• 644–656
Utsman bin Affan
• 656–661
Ali bin Abi Thalib
• 661–661
Hasan bin Ali

----------------------
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Kerajaan Tarumanegara (358-700)
Berdasarkan catatan-catatan dalam prasasti peninggalan, Tarumanegara didirikan pada 358 oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman yang juga jadi raja pertama. Selain itu, kerajaan ini merupakan kelanjutan cerita dari Salakanegara yang menjadi kerajaan daerah.

Kerajaan Kutai (400-1635)
Di hulu sungai Mahakam daerah Kalimantan Timur kerajaan ini berlokasi. Didirikan oleh Kudungga yang juga merangkap sebagai raja pertama. Kerajaan Kutai berakhir pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia. Ia tewas dan akhirnya Kutai menjadi Kesultanan bercorak Islam.

Kerajaan Kendan (536-702)
Raja pertama dan pendiri kerajaan ini adalah Raja Maha Guru Manikmaya. Selama masa pemerintahan, jabatan raja selalu diwariskan ke anak dan cucunya hingga sampai ke Wretikandayun yang mengganti kerajaan ini menjadi Kerajaan Galuh.

Kerajaan Kalingga (594-782)
Kerajaan Kalingga mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Ratu Shima yang terkenal tegas. Setelah Ratu Shima meninggal dunia, kerajaan ini dibagi menjadi dua bagian dan diwariskan kepada kedua anaknya.

Kerajaan Indraprahasta (598-747)
Raja pertama dari kerajaan ini adalah Maharesi Sentanu. Kerajaan ini terletak di lereng gunung Ciremai, Cirebon. Kehancuran Indraprahasta dimulai ketika Kerajaan Sunda menyerang pada 747 M.

Kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi. Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Memotret Nusantara di Era Kehidupan Rasulullah saw Potret Nusantara di Era Kehidupan Rasulullah saw, sudah ada perkampungan musl...

Memotret Nusantara di Era Kehidupan Rasulullah saw

Potret Nusantara di Era Kehidupan Rasulullah saw, sudah ada perkampungan muslim di Barus. Beberapa kerajaan Hindu-Budha sudah berdiri seperti Tarumanegara, Kutai, Kalingga dan Sriwijaya

-----------------------------
Nabi Muhammad saw; lahir di Mekkah, 570M – meninggal di Madinah, 8 Juni 632M adalah seorang nabi dan rasul terakhir bagi umat Muslim. Muhammad memulai penyebaran ajaran Islam untuk seluruh umat manusia dan mewariskan pemerintahan tunggal Islam. Muhammad sama-sama menegakkan ajaran tauhid untuk mengesakan Allah sebagaimana yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya.

------------------
Kerajaan Tarumanegara (358-700)
Berdasarkan catatan-catatan dalam prasasti peninggalan, Tarumanegara didirikan pada 358 oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman yang juga jadi raja pertama. Selain itu, kerajaan ini merupakan kelanjutan cerita dari Salakanegara yang menjadi kerajaan daerah.

Kerajaan Kutai (400-1635)
Di hulu sungai Mahakam daerah Kalimantan Timur kerajaan ini berlokasi. Didirikan oleh Kudungga yang juga merangkap sebagai raja pertama. Kerajaan Kutai berakhir pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia. Ia tewas dan akhirnya Kutai menjadi Kesultanan bercorak Islam.

Kerajaan Kendan (536-702)
Raja pertama dan pendiri kerajaan ini adalah Raja Maha Guru Manikmaya. Selama masa pemerintahan, jabatan raja selalu diwariskan ke anak dan cucunya hingga sampai ke Wretikandayun yang mengganti kerajaan ini menjadi Kerajaan Galuh.

Kerajaan Kalingga (594-782)
Kerajaan Kalingga mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Ratu Shima yang terkenal tegas. Setelah Ratu Shima meninggal dunia, kerajaan ini dibagi menjadi dua bagian dan diwariskan kepada kedua anaknya.

Kerajaan Indraprahasta (598-747)
Raja pertama dari kerajaan ini adalah Maharesi Sentanu. Kerajaan ini terletak di lereng gunung Ciremai, Cirebon. Kehancuran Indraprahasta dimulai ketika Kerajaan Sunda menyerang pada 747 M.

Kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi. Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Memotret Nusantara di Era Imam Al-Ghazali Saat Imam Al-Ghazali hidup dan berkiprah dengan karya-karyanya, apa saja yang berkemba...

Memotret Nusantara di Era Imam Al-Ghazali


Saat Imam Al-Ghazali hidup dan berkiprah dengan karya-karyanya, apa saja yang berkembang di Timur Tengah dan Nusantara? Di dunia Arab berdiri Kesultanan Saljuk yang merupakan bagian Kekhalifahan Bani Abbasiyah.

Sedangkan di Nusantara, sudah ditemukan masyarakat Islam di daerah pesisir hingga ke Jawa Timur, kesultanan Islam yang telah berdiri ada Perlak dan kerajaan Hindu dan Budha masih berdiri kokoh.

--------------------------
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

--------------------------------
Perintis berdirinya Dinasti Seljuk adalah Seljuk Beg. Namun, yang berhasil mewujudkan berdirinya dinasti ini adalah Tugril Beg. Dinasti Seljuk berdiri pada awal abad ke-11, tepatnya tahun 1063 Masehi.

Dinasti ini menjadi kekhalifahan Islam di abad ke-11-14 Masehi. Wilayahnya terbentang dari Anatolia hingga Punjab di India. Selama masa kekuasaan Dinasti Seljuk, umat Islam dapat hidup dalam kedamaian, keadilan, dan kemakmuran.

--------------------------
Islam diperkirakan pertama kali masuk ke Jawa Timur pada abad ke-11. Salah satu bukti pengaruh Islam telah masuk di Jawa Timur pada abad ke-11 adalah ditemukannya makam Islam di Gresik, yaitu makam Fatimah binti Maimun yang menunjuk tahun 1082 M.

Kesultanan Peureulak atau Kesultanan Perlak adalah kerajaan Islam di Indonesia dan merupakan kesultanan yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh TimurAceh sekarang disebut-sebut antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292Peureulak atau Perlak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama "Negeri Perlak". 

------------------------
Kerajaan Janggala (1045-1135)
Sama seperti Kahuripan, kerajaan ini terletak di Jawa Timur dan berpusat di Sidoarjo. Tercatat dalam Prasasti Kambang Putih, raja pertamanya bernama Mapanji Garasakan. Berakhirnya kerajaan ini disebabkan oleh kekalahan melawan Kerajaan Kediri pada 1135.

Kerajaan Kadiri (1045-1222)
Raja pertama dari kerajaan ini adalah Sri Maharaja Jyetendrakara Parakrama Bakta. Hal tersebut dijelaskan pada Prasasti Mataji. Kehancurannya terjadi pada masa pemerintahan Kertajaya pada 1222

Kerajaan Pajajaran (1042-1482)
Awalnya,kerajaan ini muncul ketika Prasasti Batutulis dan Prasasti Kebantenan ditemukan. Pemimpin kerajaan ini merupakan Maharaja Jayabhupati yang sebelumnya pernah memimpin Kerajaan Sunda. Setelah lama menjadi kerajaan, Pajajaran diserang oleh Banten yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin dan mengalami kekalahan.

Kerajaan Sriwijaya (671-1377)
Salah satu kerajaan terbesar di daerah Sumatera yang didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan pada abad ke-8 hingga akhirnya runtuh pada 1377 karena serangan Majapahit.

Al-Ghafiqi, Pemimpin Pasukan Muslim Taklukkan Prancis Penaklukan Islam di Andalusia pada 711 M terjadi di bawah kepemimpinan Tar...

Al-Ghafiqi, Pemimpin Pasukan Muslim Taklukkan Prancis


Penaklukan Islam di Andalusia pada 711 M terjadi di bawah kepemimpinan Tariq bin Ziyad. Penaklukan berlanjut di luar tanah Goth (sekarang Spanyol), untuk mencapai wilayah kaum Frank (Prancis) dan mencapai negara bagian Septimania (di barat Prancis sekarang).

Namun, setibanya mereka di kota Lyon Prancis, datang utusan Khalifah Umayyah Al-Walid bin Abdul Malik kepada Tariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair. Keduanya diperintah untuk menghentikan operasi militer dan kembali ke ibu kota Damaskus. Dengan demikian penaklukan berhenti pada titik ini.

Pada 719 M, di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Al-Samh bin Malik Al-Khawlani ditunjuk untuk mengerjakan rekonstruksi Andalusia, lalu diperintah pergi ke negara bagian Septimania pada tahun 720 M untuk menjadi pangkalan penaklukan Islam di Eropa kembali.

Setelah mencaplok semua basis Septimania, Al-Samh menuju ke timur untuk terlibat dalam pertempuran dengan Kerajaan Aquitaine, dan menuju ke ibu kotanya, Toulouche (Toulouse) di barat daya Prancis. Penguasa Kerajaan Aquitaine saat itu adalah Udo, yang membentuk pasukan besar dan berbaris untuk perang. Banyak Muslim yang terbunuh, termasuk Al-Samh terbunuh. Tentara Islam kembali ke Septimania pada tahun 721 Masehi.

Dalam situasi sulit ini, pemimpin yang dipilih untuk menggantikan Al-Samh adalah Abdul Rahman bin Abdullah Al-Ghafiqi, sampai penguasa baru datang dari negara Umayyah. Al-Ghafiqi menghabiskan waktu singkat dalam pemerintahan Andalusia, di mana ia mampu menegakkan aturan Muslim di Septimania dan pusatnya.

Pada 731 M, di era Khalifah Hisham bin Abdul Malik, Ghafiqi ditunjuk sebagai gubernur Andalusia. Andalusia menyambut baik penunjukan Al-Ghafiqi sebagai penguasanya, karena ia populer di kalangan rakyatnya dan memiliki prestise di antara para prajurit tentaranya, sehingga suku-suku tersebut berkumpul di bawah panjinya.

Ghafiqi pada tahun 732 M merapatkan barisan untuk berangkat ke utara, menembus dua kerajaan Aragon dan Navarre, dan menyeberangi Pamplona lalu memasuki Prancis dan berbaris di kota Arles di Prancis, yang terletak di Sungai Rhone, dan menaklukkannya.

Setelah pertempuran sengit yang membuat pasukan Odo kehilangan banyak tentara, Ghafiqi berbaris ke barat untuk menyerang Kerajaan Aquitaine. Udo mencoba menghentikan gerak maju, dan bertemu dengan kaum Muslim di tepi Sungai Dardon, tetapi pasukannya dikalahkan.

Kerajaan Aquitaine pun jatuh ke tangan kaum Muslimin. Namun Ghafiqi tidak berhenti pada titik ini. Bersama tentaranya, dia merebut Lyon, salah satu kota Prancis yang paling penting. Untuk menyelesaikan penaklukan Prancis dengan memasuki Paris, Ghafiqi meresmikan seluruh bagian selatan Prancis dari timur ke barat pada jalur yang diperpanjang 1.000 mil hanya dalam beberapa bulan.

Ghafiqi adalah satu-satunya pemimpin Muslim yang berhasil memperluas penaklukkan sampai ke tengah Eropa. Namun, pemimpin kaum Frank, Karl Martel, tidak tinggal diam. Dia tidak hanya mengumpulkan tentara kerajaan Frank, tetapi juga termasuk tentara Jerman, suku yang biasanya berperang dengan kaum Frank.

Pertempuran tersebut adalah pertemuan antara Timur dengan peradabannya dan Islam saat itu, melawan Barat yang diwakili Eropa dan kerajaan Frank dengan agama Kristennya bersama kekuatan Eropa lainnya.

Pada akhir Oktober tahun 732 M, kedua pasukan itu berhadapan. Pada hari kesepuluh pertempuran, tentara Muslim berhasil meraih kemenangan. Namun, di tengah situasi ini, kaum Frank mengambil celah di kamp rampasan kaum Muslim. Akibatnya, sebagian besar pasukan memberontak untuk melindungi rampasan.

Ghafiqi mencoba memulihkan keadaan dan bergerak di antara para prajurit, mengumpulkan diaspora mereka lagi. Ketika itulah, sebuah anak panah mengenai dirinya dan dia pun terbunuh pada 732 M. Dalam kondisi itu, para pemimpin tentara Muslim memutuskan untuk mundur menuju pangkalan mereka di Septimania. 

Kehidupan pemimpin Abdul Rahman al-Ghafiqi berakhir. Ini adalah pertempuran terpenting yang disaksikan umat Islam saat itu di hadapan kekuatan Eropa di rumah mereka sendiri, di Prancis.


Sumber:
https://ihram.co.id/berita/qtni8m385/al-ghafiqi-pemimpin-pasukan-muslim-taklukkan-prancis

Seni Menghancurkan Muslimin Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Abdurrahman al Ghafiqi, seorang Tabiin ya...

Seni Menghancurkan Muslimin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Abdurrahman al Ghafiqi, seorang Tabiin yang berguru pada Abdullah bin Umar. Dia seorang panglima perang di masa Sulaiman bin Abdul Malik.

Ditangan beliau pintu pintu kemenangan di Eropa dibukakan Allah. Sebagian Perancis berhasil ditaklukkan. Namun ada sebuah keanehan. Mengapa tentara Eropa tidak bahu membahu melawan kaum Muslimin? 

Muhamad al Ghafiqi memanggil intelejennya. Sang Intelejen mengemukakan dialog antara para petinggi Eropa dengan seorang pemimpin Eropa saat itu yang bernama Charles Martel.

Para petinggi Eropa berkata,"Mengapa Eropa bisa terkalahkan padahal kaum Muslimin itu jumlahnya sedikit, persenjataannya rapuh, dan mereka orang rendah di mata bangsa yang berperadaban ? Lalu mengapa kita diam ?"

Charles Martel berkata," Kaum Muslimin ibarat air yang mengalir deras, menghanyutkan apa pun yang menghadangnya. Keyakinan mereka lebih kokoh dan lebih kuat dari baju besi, benteng dan tembok penghalang, tombak dan semua senjata. Jadi percuma melawan mereka."

Charles Martel terdiam sesaat. Lalu melanjutkan," Bila ingin mengalahkan kaum Muslimin, beri mereka waktu hingga tangan mereka dipenuhi rampasan perang, hingga hari mereka condong pada istana dan rumah serta saling bersaing memperebutkan dunia dan perhiasannya, disaat itulah mereka dapat dikalahkan."

Muhamad al Ghafiqi menghela nafas panjang. Memang seperti itulah faktanya.

Benar saja, Islam terusir dari Andalusia setelah intelejen Eropa menemukan fakta saat pemuda bersedih hati disaat ditinggalkan kekasihnya bukan karena tak memiliki kesempatan untuk berjihad.

Panglima Hebat, Beristiqamah Bersama Jamaah Mari belajar pada Musa bin Nushair, sang panglima perang di masa khalifah Walid bin ...

Panglima Hebat, Beristiqamah Bersama Jamaah

Mari belajar pada Musa bin Nushair, sang panglima perang di masa khalifah Walid bin Abdul Malik. Di tangannya banyak negri yang dibebaskan.

Saat tongkat Kekhalifahan berpindah dari al Walid ke Sulaiman. Sulaiman menghukum Musa bin Nushair hingga sakitnya kambuh. Lalu bagaimana reaksi Musa kepada Khalifah? 

Yazid bin al Muhallab bertanya pada Musa tentang kekuatannya. 
Mau tahu berapa jumlah hamba sahaya Musa ?  Satu juta orang. Bayangkan bila hamba sahayanya dikerahkan untuk membentuk negara sendiri atau memberontak pada khalifah, bukankah bisa? 

Yazid bin al Muhallab berkata pada Musa," Jika begitu keadaan mu, mengapa kau masih mau tunduk pada khalifah? Bukankah bisa mendirikan negara sendiri ? " 

Musa bin Nushair berkata," Demi Allah, sampai kiamat aku takkan melakukan itu. Aku hanya ingin memberikan hak Allah. Aku tak ingin meninggalkan jamaah. Aku tak ingin membangkang pada khalifah."

Bagaimana seandainya kita seperti Musa bin Nushair?  Berjasa besar pada negara. Punya satu juta hamba sahaya yang bisa digerakan sebagai prajurit. Lalu dihukum oleh khalifah ?

Apakah masih bersama jamaah?  Nyaman bersama jamaah?  Masih mau membela jamaah? 

Sikap Harimau Nan Salapan dan Haji Rasul dalam Pembaharuan Islam di Minangkabau  Tiga pemuda Minangkabau baru pulang belajar dan...

Sikap Harimau Nan Salapan dan Haji Rasul dalam Pembaharuan Islam di Minangkabau 


Tiga pemuda Minangkabau baru pulang belajar dan berhaji dari Makkah pada tahun 1802. Yaitu, Haji Miskin, Haji Abdurahman dan Haji Muhammad Arif. Mereka membawa semangat pembaharuan baru untuk menegakkan tauhid dan syariat murni dari Rasulullah saw.

Semuanya mendapatkan perlawanan di tempat tinggalnya masing-masing. Hanya Haji Miskin yang mendapat teman perjuangan yaitu Tuanku Nan Receh dan beberapa daerah lainnya sehingga dari 3 orang menjadi 8 orang. Mereka menyebutnya Harimau nan Salapan.

Mereka membuat rencana untuk menerapkan syariat Islam di setiap Nagari, bila perlu menggunakan senjata. Rencana ini ditunda, lalu disampaikanlah niatnya kepada ulama senior yaitu Tuanku Nan Tuo. Bagaimana sikapnya?

Menurut Tuanku Nan Tuo, pembaharuan di Minangkabau dimulai dari menanamkan pengaruh yang besar pada satu setiap nagari. Apabila seorang ulama seorang ulama pada satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya ke penghulu, imam khatib, menteri, dan dubalang karena nagari di Minangkabau telah kukuh memegang adat berdasarkan musyawarah mufakat.

Dengan demikian, tidak ada ada pertentangan antara adat dan agama. Lebih baik bekerjasama dengan kaum adat daripada mengadakan pertentangan, karena kalo ada pertentangan orang lain yang akan mendapatkan untung. Apalagi Belanda telah berkuasa di Padang.

Jasa Tuanku Nan Tuo telah banyak berjasa memperkaya adat istiadat Minangkabau dengan Islam. Beliau menyusun tambo alam Minangkabau dengan dasar Islam. Hukum Islam pun telah banyak dijadikan hukum adat. Pekerjaan ini yang harus diteruskan. Namun nasihat ini tidak digubris oleh Harimau nan Salapan.

----------------
Seratus tahun kemudian, pada 1905 M, Haji Abdul Karim atau Haji Rasul pulang dari Makkah setelah berhaji dan belajar pada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabaui. Sang guru membekali kitab Izhharu Zughalil Kazhibin yang memuat beberapa praktek tarekat Naqsyabandiah yang bertentangan dengan syariat seperti merabithahkan guru, berpantang daging dan sebagainya.

Haji Rasul harus menghadapi orang tuanya sendiri, Tuanku Syeikh Kisai seorang Syeikh dari Tarekat Naqsyabandiah. Haji Rasul sangat berpegang teguh pada paham gurunya, namun beliau pun sangat sayang, takut, cinta dan segan pada ayahnya. Sebab itu saat awal kepulangannya, dia tidak banyak menyinggung soal tarekat di kampungnya sendiri.

Haji Rasul masih belum menyatakan pandangannya tentang  thariqah Naqsyabandiah yang telah menjadi pakaian hampir seluruh ulama di Minangkabau. Padahal polemiknya terus memuncak. Hingga pada 1906 M terjadi pertemuan ulama di Pasar Raba Padang Panjang yang membahas tentang thariqah Naqsyabandiah.

Haji Rasul berpegang teguh pada paham gurunya hingga perdebatan tak bisa dihindari. Akhirnya muncul pengelompokan ulama tua dan muda. Bagaimana sikap Haji Rasul terhadap ayahnya?

Sikap Haji Rasul tetap tak berubah. Demikian pula sikap ayahnya sang Syeikh Naqsyabandiah. Banyak pengikut Naqsyabandiah yang mengadukan persoalan ini kepada ayahnya tentang sikap anaknya, Haji Rasul, yang menentang thariqah Naqsyabandiah. Namun sang ayah selalu mendinginkan masalah tersebut. Sang ayah tidak mau terjadi pertentangan dengan anaknya. Dijaga pula hati murid-muridnya.

Setelah peristiwa perkumpulan ulama di Padang Panjang, banyak yang datang ke Haji Rasul untuk belajar. Akhirnya ayah dan anak sama mengajar tentang pandangannya masing-masing di surau yang berbeda.

Setelah sang ayah wafat, Syeikh Muhammad Amrullah 1907 M, barulah Haji Rasul secara terbuka melakukan pembaharuan di Minangkabau.

----------------
Harimau nan Salapan melakukan pembaharuan. Haji Rasul melakukan pembaharuan di tempat yang sama namun dengan strategi yang berbeda.

Sumber:
https://www.google.com/amp/s/katasumbar.com/tuanku-nan-tuo-guru-dari-pejuang-pejuang-perang-padri/amp/
Ayahku, Buya Hamka, GIP

Tasawuf Menghadirkan Pembaharuan di Nusantara Tasawuf dianggap menciptakan kemunduran karena menarik massa Muslim ke arah kepasi...

Tasawuf Menghadirkan Pembaharuan di Nusantara


Tasawuf dianggap menciptakan kemunduran karena menarik massa Muslim ke arah kepasifan dan penarikan diri dari persoalan dunia. Ia dianggap sikap pelarian dari kemunduran sosio-ekonomi dan politik.

Abdurrauf Singkili, pendiri thariqah Syattariyah di Nusantara, memberikan perhatian bukan saja pada perjalanan spiritual mereka sendiri tetapi juga pemegang Mufti di Kesultanan Aceh.

Syeikh Yusuf Al Makasari, Mursyid Thariqah Khalwatiyah, menjadi Qadhi dan Penasihat Kesultanan Banten. Pemimpin perang dan juga pahlawan terpenting dalam Perang Banten melawan Belanda.

Muhammad Arsyad merupakan perintis jabatan Mufti dan pendiri berbagai lembaga pendidikan Islam di Kesultanan Banjar yang terus diganggu oleh Belanda. Al-Palimbani yang disebut sebagai Al-Ghazalinya Nusantara terus mengobarkan jihad kepada kesultanan Mataram. Snouck Hurgronje menyebutkan karya Palimbani jadi referensi jihad Perang Aceh.

Snouck Hurgronje menyarankan kepada Kolonial Belanda bahwa Syeikh Sufi adalah musuh paling berbahaya bagi pemerintah Belanda di Nusantara. Ancamannya tidak lebih kecil daripada ancaman kaum Sanusiyah terhadap Perancis di Aljazair. Mereka sulit dikendalikan karena mengembara ke pelosok tanpa terdeteksi.

Salah satu strategi menahan laju pertumbuhannya, buku-buku dan surat-suratnya dilarang dan ditahan seperti yang dilakukan terhadap Palimbani. Belanda menahan suratnya yang ditujukan kepada penerus kesultanan Mataram. Juga pada Yusuf Al Makasari saat pengasingan di Srilanka yang mengirimkan surat dan tulisannya melalui jamaah haji Nusantara.

Tuanku Nan Tuo, seorang Syeikh Sufi di Minangkabau dari thariqah Syattariyah, merupakan seorang pedagang tulen, dia dikenal sebagai tempat perlindungan para pedagang. Dia memimpin perlawanan terhadap praktek perdagangan yang tidak islami, ajaran syariat yang dilanggar, juga membasmi perampokan dan penawanan orang-orang untuk dijual sebagai budak.

Sumber:
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara abad 17-18, Azyumardi Azra, Kencana 

Cordoba, Pusat Ilmu Pengetahuan di Eropa Le Mezquita Cordoba bermula ketika Kerajaan Bani Umaiyyah diambil alih oleh Kerajaan Ba...

Cordoba, Pusat Ilmu Pengetahuan di Eropa


Le Mezquita Cordoba bermula ketika Kerajaan Bani Umaiyyah diambil alih oleh Kerajaan Bani Abassiyah pada tahun 750 sehingga pusat peradaban Islam dipindahkan dari Damaskus, Syria, ke Baghdad. Keadaan itu memaksa Abdulrahman I--dikenal sebagai Abdulrahman Al-Dakhil--yang menjadi Khalifah Bani Umaiyyah ketika itu hengkang ke Spanyol. Ia kemudian menjadikan Kerajaan Bani Umaiyah kedua di Spanyol dengan Cordoba sebagai ibu kota.

Bani Umaiyyah kedua ini bertahan selama hampir 800 tahun (756-1492). Perkembangannya pesat, menyaingi Kerajaan Bani Abassiyah yang berpusat di Baghdad ketika itu. Di masa-masa kejayaannya, Cordoba menjadi bandar terkaya di Eropa. Di masa Khalifah Abdul Rahman I itulah, Masjid Cordoba dibangun dan dilanjutkan oleh penerusnya: Abdulrahman II, Al Hakam, dan Al Mansur.

Pada saat pemerintahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Spanyol. Cordoba saat itu juga dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Volume kunjungan ke perpustakaan mencapai angka 400.000 kunjungan, sementara volume pengunjung perpustakaan-perpustakaan besar di Eropa lainnya jarang mencapai angka seribu.

Cordoba mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Pada masa kekuasaan Abdurhaman III, didirikan Universitas Cordoba yang terkenal dan menjadi kebanggaan umat Islam. Banyak mahasiswa dari berbagai negara, termasuk mahasiswa Kristen dari Eropa, menuntut ilmu di universitas itu. Geliat pendidikan di Cordoba makin bersinar pada era pemerintahan Al Hakam Al Muntasir. Sebanyak 27 sekolah swasta didirikan, bahkan gedung perpustakaan mencapai 70 buah. Anak-anak miskin dan terlantar bisa bersekolah secara gratis di 80 sekolah yang disediakan pemerintah.

Pendek kata, Cordoba masa itu dikenal sebagai the greatest centre of learning di Eropa ketika kota-kota lain di benua itu berada pada masa kegelapan. Cordoba bagai bunga yang menebar harum di Eropa pada abad pertengahan sebagaimana digambarkan oleh seorang penulis Lane-Poole sebagai the wonders of the world.

Cordoba menjadi kota termegah pada masanya. Kejayaannya banyak menginspirasi penulis Barat dan banyak digambarkan oleh para ahli sejarah ataupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi Barat di masa sekarang.

Saat Cordoba berada dalam puncak kejayaannya pada abad ke-9 dan ke-10 Masehi, kota ini dipenuhi lebih dari 200.000 rumah, sekitar 600 masjid, dan tak kurang dari 50 rumah sakit serta sejumlah pasar besar yang menjadi pusat perdagangan dan sentra perekonomian. Di antara ratusan masjid yang ada di sana, masjid termegah dan terbesar adalah Le Mezquita atau Masjid Cordoba.

Setelah Pemerintahan Islam jatuh, beberapa bagian dari Masjid Cordoba dirombak menjadi sebuah katedral. Kejatuhan itu diakibatkan adanya perpecahan dalam tubuh umat Islam sendiri karena perebutan kekuasaan antara Dinasti Umayyah dan Dinasti Amiriyah. Perpecahan ini makin tajam oleh segelintir tokoh Islam yang mengundang pihak musuh sebagai sekutunya memerangi sesama raja Islam. Puncaknya, Ratu Isabel dari Castila dan Ferdiand dari Aragon berhasil menaklukkan Grenada dan kemudian mengusir kaum Muslim dari Spanyol.

Kekalahan itu tidak serta-merta meruntuhkan Masjid Cordoba yang kental dengan arsitektur Islam. Beberapa bagian dari masjid tersebut hingga kini masih terpelihara dan telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu tempat peninggalan bersejarah yang penting di dunia. Keberadaan Masjid Cordoba ini menunjukkan jejak sejarah kejayaan Islam di daratan Eropa abad ke-9 dan 10 Masehi. 

Sumber:
https://m.republika.co.id/berita/p66p47313/cordoba-pusat-ilmu-pengetahuan-di-eropa

9 Fakta Menarik Al-Qarawiyyin di Maroko, Universitas Tertua di Dunia Maroko merupakan negara yang sebagian besar penduduknya men...

9 Fakta Menarik Al-Qarawiyyin di Maroko, Universitas Tertua di Dunia

Maroko merupakan negara yang sebagian besar penduduknya menganut agama Islam. Ternyata negara ini juga mempunyai sebuah madrasah yang kini menjadi sebuah universitas yang telah berdiri lebih dari seribu tahun yang lalu dan menjadi universitas tertua di dunia. Universitas ini bernama Universitas Al-Qarawiyyin.


Universitas ini telah mempunyai banyak pelajar yang tersebar di seluruh dunia. Mereka dapat mengambil berbagai program, seperti musik, kedokteran, astronomi, hingga ilmu fisika. Berikut sembilan fakta menarik Al-Qarawiyyin di Maroko, universitas tertua di dunia. Penasaran?

1. Universitas Al-Qarawiyyin merupakan universitas tertua di dunia yang didirikan pada tahun 859 dan terletak di kota Fez
Universitas Al-Qarawiyyin 

2. Guinness World Records dan UNESCO juga menganggap universitas ini sebagai universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini

3. Bangunan universitas juga mempunyai fungsi sebagai masjid yang memiliki desain elegan dan indah

4. Bangunan yang indah ini dipenuhi dengan dekorasi seni Andalusia dan juga kaligrafi Kufi

5. Terdapat juga sebuah perpustakaan yang menjadi penyimpanan sejumlah manuskrip berharga, yang diantaranya adalah salinan bersejarah Al-Qur'an

6. Universitas ini sudah dijadikan pusat pendidikan utama di dunia Muslim sejak berabad-abad lamanya

7. Mulanya, pembangunan difokuskan untuk madrasah yang mempelajari agama dan hafalan Al-Qur'an

8. Namun seiring perkembangan jaman, menjadi tempat pembelajaran tata bahasa Arab, kedokteran, astronomi, hingga musik dan tasawuf

9. Mahasiswa universitas tak hanya pelajar yang berasal dari Maroko, melainkan dari Afrika Barat dan meluas hingga Asia Tengah
Universitas tertua ini masih terus beroperasi hingga sekarang. Bahkan seiring perkembangan zaman, universitas ini juga terus mengalami perkembangan. Ada yang tertarik untuk melanjutkan pendidikan di sini?

Sumber:
https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/life/education/amp/ratna-herlina/9-fakta-menarik-al-qarawiyyin-di-maroko-universitas-tertua-di-dunia-c1c2

Sekilas Sejarah Universitas al-Azhar Kairo, Mesir Kota yang terletak di daerah delta Sungai Nil ini sejak zaman purba menjadi pu...

Sekilas Sejarah Universitas al-Azhar Kairo, Mesir


Kota yang terletak di daerah delta Sungai Nil ini sejak zaman purba menjadi pusat peradaban dunia. Pada awal abad ketujuh, Islam menguasai Mesir di bawah komando Amr bin Ash.

Salah satu pusat intelektual yang masyhur di Kairo adalah Universitas al-Azhar. Kampus ini terbentuk sejak masa Dinasti Fatimiyah, yang menguasai Mesir periode tahun 909-1171.
Menurut Ensiklopedia Islam, peletakan batu pertama Masjid Raya al-Azhar, cikal bakal universitas tersebut, dilakukan atas perintah Khalifah al-Mu’izz Lidinillah (953-975).

Pembangunan masjid ini selesai pada 971. Awalnya, nama masjid tersebut bukanlah al-Azhar, melainkan Jami’ al-Kahhirah. Adapun nama al-Azhar dinisbahkan kepada gelar putri Rasulullah SAW, Fatimah az-Zahra.

Pada awalnya, kegiatan belajar-mengajar di lingkungan al-Azhar dilatari kepentingan mazhab yang dianut penguasa setempat. Dalam perkembangan berikutnya, institusi tersebut menjadi lembaga pendidikan tinggi.

Kegiatan akademis untuk pertama kalinya berlangsung pada 975 di al-Azhar. Pemberi kuliahnya bernama Abu hasan Ali bin Muhammad bin an-Nu’man. Dia adalah kadi tertinggi Dinasti Fatimiyah kala itu.
Jadwal belajar-mengajar kian teratur berkat dorongan Wazir Ya’kub bin Killis. Hal itu atas restu Khalifah al-Aziz Billah Abu Mansur Nazzar (wafat 996 Masehi).

Saat kekuasaan beralih ke Dinasti Ayyubiyah, Universitas al-Azhar tak terlalu berkembang. Ini disebabkan kampus tersebut masih kuat menganut paham sebagaimana dinasti sebelumnya, Fatimiyah.
Perlahan namun pasti, kalangan elite Dinasti Ayyubiyah berupaya menghidupkan lagi aktivitas intelektual di al-Azhar. Mereka pun mengundang para sarjana dari pelbagai penjuru Dunia Islam untuk datang dan mengajar di sana.
Dalam masa Dinasti Mamluk (1250-1517), Universitas al-Azhar sempat vakum 100 tahun lamanya. Bagaimanapun, periode ini merupakan masa yang penuh kemelut di pelbagai belahan Dunia Islam.

Di timur, Baghdad (Irak) porak-poranda akibat serangan bangsa barbar, sedangkan di barat terjadi pengusiran yang dialami kaum Muslimin di Andalusia (Spanyol). Dalam momentum itulah, banyak sarjana Muslim dari arah timur dan barat menyelamatkan diri ke Mesir.
Menyadari hal itu, tidak ada alasan untuk menunda-nunda pemulihan aktivitas keilmuan di al-Azhar. Dinasti Mamluk pun mendukung hal itu. Para sultan meminta alim ulama untuk tidak hanya mengajar di sana, tetapi juga membukukan pengajaran mereka.

Jabatan syekh atau rektor Universitas al-Azhar baru terbentuk pada 1517 Masehi. Seorang rektor al-Azhar berhak memberikan penilaian atau reputasi kepada para sarjana, guru, mufti, dan hakim.
Sistem pengajaran di al-Azhar adalah lingkaran-lingkaran studi dalam masjid (halaqah), dengan syarah, diskusi-diskusi (niqasy), dan dialog (hiwar). Sebelum tahun 1872, ijazah tidak diperoleh para mahasiswa melalui ujian, melainkan keputusan para guru dengan ketentuan yang ketat.
Misalnya, untuk mahasiswa kuliah tertentu, ia diwajibkan mendampingi seorang guru besar sampai wafatnya. Diharapkan, mahasiswa tadi dapat mencapai taraf keilmuan yang setara dengan sang guru.

Selain itu, ada pula ketentuan lain. Bilamana ada mahasiswa yang merasa mampu dalam matakuliah tertentu, maka ia berkesempatan mengajar dan memberikan fatwa terkait ilmu itu. Perpustakaan al-Azhar berdiri sejak 1879 Masehi dengan jumlah koleksi awalnya sebanyak 7.700 buku.


Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/pnj0ql458

Universitas Al-Mustansiriyah, Cahaya Peradaban dari Baghdad Universitas Al-Mustansiriyah. Nama universitas tertua yang berdiri d...

Universitas Al-Mustansiriyah, Cahaya Peradaban dari Baghdad


Universitas Al-Mustansiriyah. Nama universitas tertua yang berdiri di kota Baghdad, Irak ini memang tak setenar Al-Azhar di Kairo, Mesir atau Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Meski begitu, perguruan tinggi yang dibangun Khalifah Al-Muntansir Billah (1226 M - 1242 M) --penguasa Abbasiyah ke-37 -- pada 5 Mei 1234 M ini turut memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban Islam.

Perguruan tinggi yang namanya masih tetap dijadikan universitas di era modern itu tercatat sebagai universitas pertama yang secara konsen mengajarkan ilmu Alquran, seni berpidato, serta matematika. Universitas Al-Mustansiriyah pun mencatatkan dirinya sebagai perguruan tinggi perintis di Baghdad yang mampu menyatukan pengajaran berbagai bidang ilmu dalam satu tempat.

Pada awalnya, madrasah-madrasah di Metropolis Intelektual Islam - begitu Baghdad kerap dijuluki -- mengajarkan ilmu tertentu secara khusus. Namun, Khalifah Al-Mustansir Billah menyatukan empat studi penting pada masa itu ke dalam satu perguruan tinggi. Keempat bidang studi itu antara lain; ilmu Alquran, biografi Nabi Muhammad, ilmu kedokteran, serta matematika.

Universitas yang dibangun pada 1227 M dan diresmikan tahun 1234 M itu diyakini sebagai salah satu universitas tertua dalam sejarah. Pamor dan popularitas universitas ini mampu membetot perhatian para pelajar dari seluruh dunia untuk menimba ilmu di kota Baghdad. Para pelajar berbondong-bondong datang ke Mustansiriyah untuk mempelajari beragam ilmu unggulan yang ditawarkan di sana.
Al-Mustansiriyah pun menjadi perguruan tinggi yang mengajarkan dan menyatukan empat madhab fikih Sunni yakni, Hambali, Syafi'i, Maliki dan Hanafi. Setiap madhab menempati pojok madrasah - istilah perguruan tinggi di era kekhalifahan. Inilah salah satu kelebihan dari Universitas Al-Mustansiriyah.

Guna menunjang aktivitas perkuliahan, Khalifah Al-Mustansir Billah mendirikan sebuah perpustakaan yang luar biasa besarnya. Penjelajah Muslim terkemuka kelahiran Tangier, Maroko bernama Ibnu Batutta dalam catatan perjalanannya berjudul Ar-Rihla mengungkapkan betapa besarnya perpustakaan kampus Universitas Al-Mustansiriyah.

Menurut Ibnu Batutta, perpustakaan ini mendapatkan sumbangan buku-buku langka yang diangkut oleh 150 unta. Dari kekhalifahan saja, pada abad ke-13 M perpustakaan ini mendapatkan sumbangan 80 ribu buku. Perpustakaan ini terbilang unik, karena di dalamnya terdapat rumah sakit.


Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/px145z313

Madrasah Nizamiyah, Madrasah Pertama di Dunia Islam Kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat belajar. Akar kat...

Madrasah Nizamiyah, Madrasah Pertama di Dunia Islam


Kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat belajar. Akar katanya darasa yang artinya belajar. Madrasah merupakan nama atau sebutan bagi sekolah agama Islam, tempat proses belajar-mengajar ajaran Islam secara formal yang mempunyai kelas dan kurikulum dalam bentuk klasikal.

Dalam bahasa Indonesia,  padanan kata madrasah adalah sekolah.  Pengertian madrasah dalam bahasa Arab menggambarkan bawah tempat belajar tak harus dilakasanakan di suatu tempat tertentu. Belajar juga bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di masjid atau di surau.

Dalam perkembangannya, kata madrasah secara teknis memiliki arti atau konotasi tertentu, yakni suatu gedung  atau bangunan tertentu yang lengkap dengan segala sarana dan fasilitas yang menunjang proses belajar agama. Istilah madrasah juga berarti aliran atau mazhab, yakni sebutan bagi sekelompok ahli yang mempunyai pandangan atau paham yang sama dalam ilmu-ilmu keislaman.

Pada awal perkembangan Islam, umat Muslim belum memiliki madrasah atau tempat belajar seperti saat ini. Saat itu, kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan di masjid-masjid. Di zaman Rasulullah SAW, para sahabat menimba ilmu agama di Masjid Nabawi.  Di dalam masjid itu terdapat suatu ruangan tempat belajar yang disebut suffah, sekaligus menjadi tempat menyantuni fakir miskin.

Keadaan itu berlangsung hingga pada zaman Khulafa ar-Rasyidun  (empat sahabat Nabis SAW) dan  Bani Umayah.  Madrasah mulai berubah pada era kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Di masa itu ilmu pengetahuan berkembang pesat. Kegiatan belajar mengajar sudah dilaksanakan di perpusatakaan, istana khalifah serta rumah-rumah para ulama dan tentunya masjid.

Kebanyakan masjid di masa keemasan Islam itu sudah dilengkapi dengan ruang belajar, ruang baca dan ruang perpustakaan. Para ulama dan sarjana mengajar dengan sistem halaqah (murid duduk bersila di sekeliling guru), seperti yang berlangsung Masjidilharam, Masjid Madinah dan masjid-masjid di Baghdad, Kufah, Basra, Damaskus dan Kairo.

Madrasah yang pertama kali berdiri di dunia Islam sebagai lembaga pendidikan yang bentuk dan sistemnya mendekati sperti sekarang adalah Madrasah Nizamiyah di baghdad. Madrasah ini didirikan oleh Perdana Menteri Nizamul Mulk (1018-1092), seorang penguasa bani Seljuk pada abad ke-11 M.

Sejak saat itu, madrasah mulai berkembang di berbagai kota di wilayah kekuasaan Islam dan banyak melahirkan ulama dan sarjana. Di Indonesia, perkembangan pendidikan dan pengajaran Islam dalam bentuk madrasah juga merupakan pengembangan dari sistem tradisional yang diadakan di surau,  masjid dan pesantren.

Pada perkembangannya, sistem halaqah mulai berubah menjadi sistem klasikal. Hal itu dipengaruhi oleh sikaf diskriminatif sekolah-sekolah milik penjajah Belanda terhadap umat Islam. Bertujuan untuk menandingi sekolah-sekolah milik  penjajah Belanda, madrasah pun berubah bentuk dari sistem halaqah ke klasikal. Di Indonesia, madrasah berkembang setelah lahirnya organisasi-organisasi Islam. 

(disarikan dari Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta).

Sumber:
https://m.republika.co.id/berita/p6xdyf313/madrasah-nizamiyah-madrasah-pertama-di-dunia-islam

Method Belajar Ulama Nusantara di Makkah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mengapa ulama Nusantara berk...

Method Belajar Ulama Nusantara di Makkah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mengapa ulama Nusantara berkumpul di Mekkah? Bukankah di Kairo Mesir terdapat Universitas Al-Azhar tertua dan ternama?

Bukankah di Baghdad Iraq terdapat Universitas Nizhamiyah tempat mercusuar aqidah Asy'ariyah dan fiqh Syafii yang menjadi referensi Muslimin di Nusantara ? Apakah tentang aksesnya yang mudah sekalian menunaikan ibadah haji?

Ada kemiripan Nusantara dengan Makkah. Makkah tempat berhimpunnya guru dan murid dari seluruh dunia. Semua mazhab diajarkan. Kurikulumnya fiqh di madrasah dan Riyadhah tasawuf di Ribath. 

Bukankah Nusantara terdiri dari beragam suku? Tempat berkumpulnya beragam bangsa dari seluruh dunia. Beragam kecendrungan dan karakter masyarakat. Butuh kompleksitas keilmuan untuk terjun di Nusantara.

Ulama di Makkah berasal dari seluruh penjuru dunia. Khazanah kompleksitas keilmuan bisa didapat dengan sangat mudah dalam satu tempat. Banyaknya Guru Nurudin Annarini, Abdul Rauf Singkili dan Yusuf Al Makasari, bisa jadi disebabkan oleh kemudahan ini.

Belajar di madrasah berbasis formal, sulit membawa murid ke tingkat keilmuan Islam tinggi. Ini yang diremehkan oleh Snouck Hurgronje. Padahal banyak pembelajaran non formal yang ditutupi dengan method Ribath dan Halaqah.

Ulama Nusantara bisa belajar di waktu-waktu tertentu di masjid suci Makkah setelah shalat. Berkumpul di rumah guru-guru, hampir tidak ada formalitas dalam halaqah, hubungan pribadi terbentuk menjadi ikatan kuat  yang menghubungkan mereka.

Guru-guru kenal baik secara pribadi dengan setiap murid satu sama lain.  Mengetahui bakat, kebutuhan dan saling memenuhi kebutuhan yang khas tersebut. Guru-guru pun mengeluarkan ijazah khusus yang tak dikeluarkan di madrasah atau mengangkatnya jadi khalifah thariqah.

Yang belajar dan mengajar pun dari beragam kalangan. Penguasa Persia, Syah Syuja, mengajar hadist Nabi. Pejabat dari Bani Mamluk, Basyir Al-Jumdar Al-Nashiri, belajar fiqh Hambali di Makkah. Ini menambah kompleksitas keahlian dan ilmu khusus.

Ada majlis khusus  seorang guru  menjawab pertanyaan dari berbagai tempat dari penjuru dunia dalam tempat yang terbuka. Di majlis ini persoalan khusus setiap negara tergambar jelas sehingga bisa menjadi referensi prinsip dasar  mendapatkan solusi.

Sumber:
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara abad 17 dan 18, Azyumardi Azra, Kencana 

Fragmen Sejarah Pencipta Momentum Pertolongan Allah dan Kemukijzatan Rasulullah saw Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube ...

Fragmen Sejarah Pencipta Momentum Pertolongan Allah dan Kemukijzatan Rasulullah saw

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Di era Rasulullah saw, bila menghadapi persoalan dan menyikapi kekinian, menunggu wahyu turun, lalu mendapatkan solusi dan bertindak

Hingga era Salafus Shaleh, bila menghadapi persoalan dan menyikapi kekinian, mereka mencarinya di Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.

Muslimin sekarang, semestinya cepat bersolusi dan bertindak, karena seluruh khazanah yang dibutuhkan sudah tersedia. Mengapa lambat?

Di Badar, Muslimin berjanji setia bersama Rasulullah saw, mengorbankan yang dimiliki, berstrategi dan berdoa. Setelah itu Rasulullah saw melihat malaikat turun

Di Uhud, dalam kondisi kocar kacir, mereka meneguhkan hati, kembali pertempuran, berstrategi dan berkorban. Strategi musuh pun gagal

Di Hunain, kemukijzatan Rasulullah saw dihadirkan setelah muslimin menyambut seruan Rasulullah saw untuk bertempur kembali.

Mengapa fragmen keporakporandaan muslimin di pertempuran dikisahkan seluruhnya, namun tak semua kemenangan disuguhkan di Al-Qur'an?

Fragmen yang dilakukan oleh para Sahabat sebelum kedatangan pertolongan Allah dan kemukijzatan Rasulullah saw, seharusnya jadi titik fokus sikap dan akhlak

Fragmen menunggu kedatangan wahyu Allah untuk menjawab persoalan, menjadi titik fokus kejiwaan dan prilaku, agar semua terjadi lagi sekarang

Semua kejadian sejarah akan berulang kembali dengan kejiwaan, bathin sikap, karakter, akhlak yang sama, namun dengan strategi yang sesuai.

Syekh Yusuf al-Makassari, Karya dan Tarekatnya Sebagai seorang ulama sufi, Syekh Yusuf al-Makassari pun dikenal mursyid (pembimb...

Syekh Yusuf al-Makassari, Karya dan Tarekatnya


Sebagai seorang ulama sufi, Syekh Yusuf al-Makassari pun dikenal mursyid (pembimbing) tarekat Khalwatiyah. Meski demikian, mubaligh kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1037/1627 itu juga bisa mengajarkan tarekat lainnya. Misalnya, Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba'lawiyah, dan Syattariyah. Itu semua sesuai ijazah yang pernah ia terima.

Dalam urusan tarekat ini, Syekh Yusuf pernah seperguruan dengan Syekh Abdur Rauf Singkel (1620-1693) dari Syekh Mulla Ibrahim, khalifah tarekat Syattariyah. Abdur Rauf Singkel mengajarkan tarekat Syattariyah di Singkel, sehingga silsilah Syekhnya sama dengan Syekh Yusuf.

Ajaran pokok tarekat Syekh Yusuf berkisar pada usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang mengacu pada peningkatan kualitas akhlak yang mulia serta penekanan amal shalih dan zikir.

Ibadah shalat dan zikir--menurut Syekh Yusuf--merupakan amalan yang dapat membawa seorang salik sampai ke ujung suluknya. Dengan demikian, kedudukan zikir dalam tarekat Syekh Yusuf menempati posisi yang sangat penting.

Setiap pengikutnya wajib mengamalkan zikir, baik secara perorangan maupun kelompok. Tentang pokok-pokok ajaran tarekat dan seluk beluknya, di antaranya dapat kita temui penjelasan Syekh Yusuf dalam risalahnya berjudul An Nafhatu As Sailaniyah.

Dalam manuskrip lama ini terungkap petunjuk-petunjuk bagi orang yang akan mulai memasuki tarekat. Syekh Yusuf menjelaskan permulaan memasuki dunia tarekat itu dimulai dengan pengertian maqam (tempat) dan al-hal (kondisi).

Khusus berkaitan dengan tata cara melakukan zikir, salah satu amalan terpenting dalam tarekat, diuraikan dalam risalahnya berjudul Kaifiyat Al Dzikir (Cara-cara Berdzikir).
Menurutnya, ada 20 macam adab berzikir. Lima di antaranya mengenai hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum berzikir. Lima macam itu, katanya, sebagai berikut.

Bertaubat dari segala dosa; berwudhu jika hadas (najis) serta mandi jika junub; berdiam diri tidak bicara, kecuali mengucapkan kalimat zikir; minta tolong pada Allah supaya sempurna keikutan pada Syekhnya saat mulai zikir; serta orang tersebut mengetahui bahwa minta pada Syekhnya adalah yang sebenarnya minta kepada Rasulullah SAW. Sebab, Syekhnya itu sebagai penggantinya dan Rasul adalah khalifah Allah.

Bagi Syekh Yusuf, fungsi tarekat adalah menjaga berlangsungnya penghayatan agama bagi anggotanya. Fungsi lainnya, agar syariat dan hakikat tetap dijalankan dalam semua perilaku keagamaan.
Kualitas hidup yang dimotivasi dari nilai-nilai agama maupun dari 'pengetahuan' tasawuf, jelasnya, amat berguna bagi pembentukan etos dan pandangan dunia. 

Orientasi kerja anggota tarekat adalah penuh keyakinan diri dan percaya diri bahwa kehidupan ini harus dijalani dengan kerja keras untuk memperoleh anugerah bagi keselamatan di dunia dan di akhirat.

Selain beberapa risalah yang disebut di atas, sedikitnya ada 20 judul buku telah ditulis Syekh Yusuf. Hampir semuanya dalam bahasa Arab. Di antaranya yang terkenal adalah Zubdad Al Asraar fi Tahqiq Ba'd Masyarib Al Akhyar, Taj Al Asraar fi Tahqiq Masyrab Al 'Arifin min Ahl Al Istibshar, dan Matalib As Salikiin, Fath Kaifiyyah Az Zikr. Karyanya yang paling populer, yakni Safiinat An Najah, yang hingga kini masih banyak diajarkan di berbagai pesantren. Di Museum Pusat Jakarta, juga didapati sekitar 10 manuskrip Syekh Yusuf yang belum diterjemahkan.

Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/q7tqr0458

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Buah Makrifat Ulama Nusantara  Tarekat sebagai sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Al...

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Buah Makrifat Ulama Nusantara 


Tarekat sebagai sebuah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah telah berkembang sangat pesat. Tarekat bukan hanya sebagai metode pembersihan hati dengan zikir, wirid, shalawat semata, namun sudah melembaga menjadi lembaga-lembaga formal sufi. Agar terhindar dari ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunah, kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi tarekat qodariah, Tarekat Naqsabandiyah, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Tarekat Syadziliyah, Tarekat Syatariyyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Tijaniyah, danTarekat Samaniyah.

Nah siapa tokoh Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah? Apa ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah?

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah sebuah tarekat yang didirikan oleh seorang sufi besar asal Indonesia, yakni Syakh Achmad Khatib al-Syambasi. Beliau adalah ulama besar Nusantara yang tinggal di Mekah sampai akhir hayatnya. Tarekat ini merupakan gabungan dari dua tarekat, yaitu tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah. Tradisi tarekat Qadiriyah memiliki kebebasan bagi yang telah memikili derajat mursyid. Gabungan dari dua tarekat ini menjadi tarekat baru dan berdiri sendiri. Penggabungan ini bisa dilakukan karena Syaikh Achmad Khatib al-Syambasi adalah mursyid Tarekat Qadiriyah. Sebagai seorang mursyid Syaikh Achmad Khatib memiliki otoritas untuk memodifikasi tersendiri tarekat yang dipimpinnya.


Menurut Naquib al-Attas seorang cendekiawan dan filosof muslim, Syakih Sambas adalah seorang syaikh dari dua tarekat, Tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyah. Namun, dia tidak mengajarkan kedua tarekat tersebut secara terpisah tetapi mengkombinasikan keduanya. Sehingga tarekat kombinasinya dapat dilihat sebagai sebuah tarekat yang baru, berbeda dari kedua tarekat asalnya. Sambas juga merupakan ulama yang handal, unggul didalam tiap-tiap cabang pengetahuan Islam dan menguasai hukum fiqih empat mazhab. Keahlian yang luas ini menyebabkan beliau menggunakan pendekatan yang menyeluruh untuk memahami tarekat, terutama keputusannya mendirikan TQN (Tarekat Naqsabandiyah wa Qadiriyah).

Pada masanya telah ada penyebaran tarekat Naqsabandiyah di kota suci Makkah maupun Madinah, maka sangat dimungkinkan dia mendapat bai’at dari tarekat tersebut. Kemudian dia menggabungkan inti ajaran kedua tarekat tersebut yaitu tarekat Qadiriyah wa Naqsabanidiyah dan mengajarkan kepada murid-muridnya, khususnya yang berasal dari Indonesia.

Ajaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah
Kesempurnaan Suluk, yaitu keyakinan bahwa kesempurnaan sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt jika berada dalam 3 (tiga) dimensi keimanan, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga term ini merupakan rangkaian ajaran yang dikenal juga dengan sebutan syariat, tarekat dan hakikat.

Adab, yaitu adab seorang murid kepada mursyid adalah ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat. Adab atau etika murid kepada mursyid-nya diatur sedemikian rupa menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi. Hal ini diyakini karena hubungan antara murid dan mursyid sebagai cara melestarikan ajaran Nabi Muhammad Saw.
Dzikir. Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah dikenal dengan tarekat dzikir. Dzikir dilakukan terus menerus, sebagai suatu latihan psikologis agar seseorang dapat mengingat Allah Swt disetiap waktu dan kesempatan. Dzikir adalah bentuk cinta kepada Allah. Sebab orang yang mencintai sesuatu tentunya akan menyebut nama yang dicintainya.

Muraqabah, yaitu latihan psikologis untuk menanaman keyakinan yang mendalam bahwa ibadahnya seorang hamba dilakukan dengan penuh kesadaran seolah-olah mereka melihat Allah Swt.

Tarekat Syattariyah, Menyebar dari Aceh ke Nusantara Tak seperti penyebaran tarekat lainnya yang dilakukan seorang mustyid (guru...

Tarekat Syattariyah, Menyebar dari Aceh ke Nusantara


Tak seperti penyebaran tarekat lainnya yang dilakukan seorang mustyid (guru) dari mushala ke mushala, dari masjid ke masjid, dan majelis taklim ke majelis taklim, penyebaran Tarekat Syattariyah justru menyebar ke berbagai pelosok Nusantara melalui jalur atas, kalangan masyarakat elite, yakni istana.

Di Indonesia, Tarekat Syattariyah dibawa oleh Syekh Abdurrauf Singkili, ulama asal Aceh. Keilmuan dan ketokohannya membuat Ratu Shafiyyatu Ad-Din, yang memerintah Aceh kala itu tahun 1641-1675, tertarik untuk mendapatkan pelajaran agama dari Syekh Abdurrauf Singkili. Ratu ini pun memintanya untuk menuliskan sebuah buku yang menjelaskan tentang Tarekat Syattariyah. Syekh Abdurrauf Singkili lalu menulis buku dengan judul At-Tariqatu Asy-Syattariyyah.

Sang Ratu juga meminta kepada Syekh Abdurrauf agar membimbingnya dalam menjalankan disiplin tasawuf. Permohonan itu lantas ia sanggupi setelah terlebih dahulu Syekh Abdurrauf melakukan shalat istikharah, agar memperoleh petunjuk dari Yang Mahakuasa. Keterlibatan Ratu Shafiyatu ad-Din dalam aktivitas Tarekat Syattariyah akhirnya memperkuat kedudukan ajaran tarekat itu di dalam istana.

Sebagaimana dicatat oleh Ahmad Syafii Mufid dalam bukunya Tangklukan, Abangan, dan Tarekat, Tarekat Syattariyah masuk ke Nusantara pada 1665 M. Diterimanya tarekat ini oleh masyarakat Aceh, tidak lama setelah Kerajaan Aceh menolak ajaran Hamzah Fansuri dan muridnya, Syamsudin Sumatrani, dengan paham wujudiyah, yang mengajarkan konsep wihdatul wujud (penyatuan jiwa dengan Tuhan).

Syafii Mufid menuturkan, meskipun Tarekat Syattariyah berasal dari India, namun ia masuk ke Indonesia melalui jalur Makkah. Menurut sejarah, Syekh Abdurrauf mempelajari tarekat ini di Makkah dari Syekh Ahmad al-Qusyasyi asal Palestina dan Ibrahim al Kurani asal Turki. Sesudah Syekh Ahmad Qusyasyi meninggal, Syekh Abdurrauf kembali ke Aceh dan mengembangkan Tarekat Syattariyah di daerah asalnya itu (Aceh--Red).

John L Esposito dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern menyebutkan, Syekh Abdurrauf belajar kepada Syekh Ahmad al-Qusyasyi selama 19 tahun. Menurut Esposito, Tarekat Syattariyah merupakan tarekat pertama yang berkembang di Pulau Jawa.

Dengan dukungan dari istana, perkembangan tarekat ini berjalan sangat cepat hingga merambah ke luar wilayah Aceh, melalui aktivitas murid-murid Syekh Abdurrauf. Di wilayah Sumatra Barat, ada muridnya yang bernama Syekh Burhanuddin dari Pesantren Ulakan; di Jawa Barat, daerah Kuningan sampai Tasikmalaya, ada Abdul Muhyi.

Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sulawesi Selatan, disebarkan oleh salah seorang tokoh yang cukup terkenal dan juga murid langsung dari Ibrahim al-Kurani, yaitu Yusuf Tajul Khalwati (1629-1699).

Seperti halnya di Aceh, perkembangan Tarekat Syatariyah di luar Aceh, juga didukung oleh kalangan istana. Di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, tarekat ini dikembangkan oleh Pangeran Muhammad Syafiyuddin atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Raja Suleman Sulendraningrat. Ia mengajarkan doktrin Tarekat Syattariyah kepada putranya, Pangeran Arifuddin. Lalu, diturunkan lagi kepada Pangeran Adikusumo.

Syafii Mufid menjelaskan, penyebaran Tarekat Syattariyah sejak dari Makkah sampai di tanah Jawa dapat diketahui dari Naskah Keprabon yang terdiri atas seratus halaman dengan bahasa Jawa berhuruf Arab. Naskah ini ditulis oleh Syekh Muhammad Nurullah Habibuddin atau Pangeran Adikusumo.

Selain Naskah Keprabon, ada pula sebuah naskah yang dikenal dengan Naskah Sumedang. Naskah ini terdiri atas 84 halaman, dan ditulis oleh Bagus Alifuddin atau Syekh Muhammad Arifuddin, ayahanda Pangeran Adikusumo.

Silsilah
Para pengikut Tarekat Syattariyah meyakini betul bahwa para syekh tarekat ini punya sanad atau silsilah yang bersambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Mereka meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW--atas petunjuk Allah SWT--menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk mewakilinya dalam melanjutkan tugas-tugas kerasulannya. Kemudian Ali menyerahkan risalahnya kepada putranya, Hasan bin Ali, dan demikian seterusnya.

Pelimpahan hak dan wewenang ini tidak selalu didasarkan atas garis keturunan, tetapi lebih didasarkan atas kehendak Allah SWT yang isyaratnya biasanya diterima oleh sang wasithah (syekh tarekat) jauh sebelum melakukan pelimpahan kepada syekh penggantinya, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW sebelum melimpahkan amanah kerasulan kepada Ali bin Abi Thalib. Adapun penerima tugas dan fungsi sebagai syekh tarekat yang pertama di Indonesia adalah Syekh Abdurrauf.

Sumber:
https://m.republika.co.id/amp/qaqecz430

Kiprah Ulama di Nusantara Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bagaimana karateristik ulama di era awal ke...

Kiprah Ulama di Nusantara

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bagaimana karateristik ulama di era awal kedatangan Islam? Saudagar, kelas menengah ekonomi, orang kaya, orang kota terhormat, berkedudukan tinggi di Istana

Ulama jadi kelompok sosial utama yang terlibat dalam kehidupan istana sebagai penasihat raja, dan penegak hukum Islam di kerajaan.

Ulama Sufi mengembara ke pelosok pedalaman tertutup, yang berbudaya agraris dan naturalis yang menyatu dengan alam.

Ulama menjadi sentral studi Teologis Islam seperti yang ada di Kudus. Membangun irigasi, lahan dan teknologi pertanian.

Ulama membangun sentra-sentra pengobatan penyakit dan menghilangkan Pandemi seperti di Blambangan

Ulama membentuk kesultanan, seperti di Banten dan Cirebon. Juga, mengislamkan berbagai kerajaan

Ulama sebagai Sultan, seperti Giri Gresik yang menjadi mutiara Jawa diantara bandar perdagangan, pusat pendidikan dan penyebaran Islam di Nusantara.

Ulama mengasimilasikan budaya-budaya lokal dengan Islam. Juga membangun budaya dan kesenian baru

Ulama juga penentang semua bentuk penjajahan terhadap manusia dengan gerakan jihad konprehensifnya dengan niat di jalan Allah

Kisah Iskandar Zulkarnain dan Obsesi Para Sultan Nusantara Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Zulkarnain...

Kisah Iskandar Zulkarnain dan Obsesi Para Sultan Nusantara

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Zulkarnain sebuah kisah yang melenggeda. Awalnya kisah ini hilang atau dihilangkan, lalu Al-Qur'an memunculkannya kembali.

Awalnya kisah Zulkarnain untuk menghancurkan kredibilitas Kerasulan Muhammad saw. Musyrikin dan Yahudi menguji kisah yang hilang, apakah Rasulullah saw tahu?

Obsesi kepemimpinan para Sultan di Nusantara adalah menjadi Zulkarnain. Menurut imam Ibnu Taimiyah, inilah kisah terbaik para penguasa.

Sedikit penguasa yang terobsesi menjadi Zulkarnain, sebab kisahnya tersembunyi. Jarang diketahui manusia. Dihimpun hanya di surat Al-Kahfi saja.

Wilayah Nusantara terdiri dari lautan, daratan dan gunung, tersebar luas melebihi Timur Tengah, juga Eropa. Wajar bila visi kekuasaan sultannya seperti Zulkarnain

Daerah kekuasaan Zulkarnain di Al-Qur'an persis sama dengan Nusantara. Maka cara pengelolaannya harus seperti Zulkarnain. Itu yang dipahami Sultan Nusantara

Kisah Zulkarnain merata pada historiografi kesultanan di Nusantara. Contohnya pada Hikayat Sejarah Melayu, Hikayat Siak, Misa Melayu dan Hikayat Zulkarnain

Kisah Zulkarnain merata di historiografi Melayu, di Sejarah Melayu, Misa Melayu, Hikayat Siak dan Hikayat Zulkarnain. Artinya, Obsesi ini sangat kuat

Kisah Zulkarnain menonjol dan mendominasi pada Historiografi Melayu, di sejarah Melayu kisah ini setengah dari isinya. Ini mimpi besar Sultan di Nusantara

Para sultan di Nusantara menobatkan dirinya sebagai keturunan langsung dari raja Iskandar Zulkarnain. Inilah hebatnya Historiografi Melayu dibandingkan Sejarawan Arab

Sejarawan Arab menulis Zulkarnain itu Alexander Agung, Penguasa Himyar, Koresh. Tapi Sultan Nusantara ingin mewujudkan kisah Zulkarnain.

Allah merahasiakan jati diri Zulkarnain, tempat, era dan daerah kekuasaannya. Karena setiap penguasa bisa menjadi Raja Iskandar Zulkarnain di sepanjang zaman


Sumber:
Zulkarnain Sang Penakluk Timur dan Barat, Syeikh Muhammad Khair  Ramadhan Yusuf, Al-Kautsar
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara abad 17-18, Azyumardi Azra, Kencana
Ulama dan Kekuasaan, Jajat Burhanuddin, Mizan 

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)