Wali dan Karamah: Antara Cinta kepada Orang Saleh dan Kemurnian Tauhid
Siapakah sebenarnya yang disebut wali Allah?
Apakah setiap orang yang dianggap memiliki kesaktian otomatis merupakan wali?
Benarkah setiap kisah luar biasa yang dinisbatkan kepada seseorang pasti merupakan karamah?
Dan yang tidak kalah penting, apakah mencintai para wali berarti boleh meminta pertolongan kepada mereka?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan agar kecintaan kepada orang-orang saleh tidak bergeser menjadi pengkultusan yang justru bertentangan dengan prinsip tauhid.
Seorang Muslim yang memiliki pemahaman yang benar tentang Islam akan mencintai, menghormati, dan memuliakan orang-orang saleh karena ketakwaan dan amal kebaikan mereka kepada Allah SWT. Namun, penghormatan itu tetap berada dalam koridor syariat dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.
Al-Qur'an telah menjelaskan siapakah wali Allah.
«"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (QS. Yunus: 62–63)»
Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas. Ukuran kewalian bukanlah kesaktian, popularitas, banyaknya pengikut, ataupun kisah-kisah luar biasa, melainkan keimanan dan ketakwaan.
Siapakah Wali Allah?
Dalam bahasa Arab, auliya' adalah bentuk jamak dari wali, yang berarti penolong, sahabat, atau orang yang dekat.
Ketika disandarkan kepada Allah menjadi Wali Allah, maknanya mencakup beberapa pengertian.
Pertama, orang yang menolong agama Allah dengan berpegang teguh kepada syariat-Nya.
Kedua, orang yang dekat kepada Allah karena kesungguhannya dalam beribadah.
Ketiga, orang yang Allah dekatkan kepada-Nya karena Allah senantiasa mendapatinya dalam keadaan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Karena itu, kewalian bukanlah gelar yang diwariskan, bukan pula kedudukan yang diperoleh melalui pengakuan manusia. Ia merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.
Al-Qur'an banyak menjelaskan hal ini, di antaranya dalam QS. Yunus: 62–64, QS. Al-Hajj: 78, dan QS. Al-Baqarah: 257.
Rasulullah SAW juga memberikan isyarat tentang adanya hamba-hamba pilihan yang memperoleh ilham dari Allah. Beliau bersabda:
«"Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang diberi ilham (muhaddats). Jika di kalangan umatku ada seorang seperti itu, maka dia adalah Umar bin Al-Khattab."
(HR. Bukhari)»
Hadis ini menunjukkan adanya kemuliaan yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya tanpa menjadikan mereka nabi.
Apa Itu Karamah?
Lalu, apakah setiap kejadian luar biasa merupakan karamah?
Dalam pengertian syariat, karamah adalah peristiwa luar biasa yang Allah tampakkan kepada seorang hamba yang benar keimanannya dan nyata kesalehannya, tanpa disertai pengakuan sebagai nabi.
Dengan demikian, karamah bukanlah kemampuan yang dimiliki seseorang atas kehendaknya sendiri, melainkan semata-mata anugerah Allah.
Karena itu, karamah tidak dapat dipelajari, diwariskan, ataupun dipertontonkan untuk mencari pengikut.
Benarkah Karamah Itu Ada?
Mayoritas ulama ahli hadis menerima adanya karamah karena dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah menunjukkan keberadaannya.
Di antaranya adalah kisah Maryam yang memperoleh rezeki langsung dari Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali 'Imran ayat 37.
Demikian pula kisah Ashabul Kahfi yang tidur selama 309 tahun dalam perlindungan Allah.
Begitu pula kisah Ashif, seorang yang memiliki ilmu dari Kitab Allah, yang atas izin-Nya mampu menghadirkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap kepada Nabi Sulaiman AS.
Selain itu, terdapat pula berbagai riwayat tentang karamah yang dialami sebagian sahabat Rasulullah SAW.
Semua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa melakukan apa pun yang Dia kehendaki kepada hamba-hamba-Nya.
Mengapa Ada Ulama yang Menolak Karamah?
Sebagian ulama dari kalangan Mu'tazilah berpendapat bahwa karamah tidak mungkin terjadi.
Menurut mereka, jika karamah banyak terjadi maka akan sulit dibedakan dengan mukjizat para nabi.
Namun pendapat ini dinilai lemah oleh mayoritas ulama.
Mengapa?
Karena mukjizat selalu menjadi bukti kenabian, sedangkan karamah sama sekali bukan tanda kenabian.
Mukjizat disertai risalah.
Karamah tidak.
Mukjizat menjadi hujah bagi umat.
Karamah hanyalah kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang hamba yang saleh.
Dengan demikian, keduanya memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda sehingga tidak menimbulkan kerancuan.
Bagaimana Sikap Seorang Muslim terhadap Para Wali?
Di sinilah keseimbangan Islam tampak begitu indah.
Islam memerintahkan umatnya mencintai para wali Allah.
Menghormati mereka merupakan bagian dari penghormatan terhadap orang-orang yang dicintai Allah.
Namun, apakah cinta itu boleh berubah menjadi pengkultusan?
Jawabannya, tidak.
Seorang Muslim tidak boleh berlebihan dalam memuliakan para wali hingga mengangkat mereka ke derajat yang hanya layak bagi Allah.
Karena pengkultusan selalu menjadi pintu masuk penyimpangan akidah.
Sejarah umat terdahulu memberikan pelajaran tentang bagaimana penghormatan yang berlebihan akhirnya berubah menjadi bentuk-bentuk kesyirikan.
Karena itu, Islam menutup semua jalan menuju pengultusan tersebut.
Tidak boleh meyakini bahwa seorang wali mampu memberi manfaat atau menolak mudarat dengan kekuatannya sendiri.
Tidak boleh meminta perlindungan, keselamatan, ataupun syafaat kepada mereka.
Tidak boleh bernazar untuk mereka.
Tidak boleh menyembelih hewan sebagai persembahan di kuburan mereka.
Dan tidak boleh menetapkan adanya karamah kepada seseorang tanpa dasar yang sah menurut syariat.
Semua bentuk keyakinan seperti itu bertentangan dengan kemurnian tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.
Menjaga Keseimbangan
Islam mengajarkan keseimbangan yang indah.
Tidak meremehkan orang-orang saleh.
Namun juga tidak mengangkat mereka melebihi kedudukan yang Allah berikan.
Mencintai para wali adalah bagian dari kecintaan kepada orang-orang yang dicintai Allah.
Akan tetapi, ibadah, doa, permohonan pertolongan, rasa takut, harapan, dan tawakal tetap hanya ditujukan kepada Allah semata.
Sebab para wali sendiri adalah hamba Allah.
Mereka tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat bagi diri mereka sendiri kecuali atas izin Allah, apalagi bagi orang lain.
Penutup
Prinsip yang dijelaskan oleh Imam Hasan Al-Banna ini mengajarkan bahwa kemurnian tauhid harus berjalan seiring dengan penghormatan kepada orang-orang saleh.
Seorang Muslim mencintai para wali karena ketakwaan mereka, bukan karena mitos yang dilekatkan kepada mereka.
Ia menghormati mereka tanpa mengultuskan.
Ia mengakui kemungkinan adanya karamah tanpa menjadikannya ukuran utama kesalehan.
Dengan demikian, akidah akan tetap bersih dari khurafat, wahm (khayalan), dan berbagai keyakinan yang menisbatkan sifat-sifat ketuhanan kepada manusia.
Kemuliaan para wali adalah anugerah Allah.
Sedangkan keagungan mutlak tetap hanya milik Allah SWT.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif