basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Nabi Adam
Tampilkan postingan dengan label Nabi Adam. Tampilkan semua postingan

Mengapa Adam Harus Turun ke Bumi? Padahal Sebelum di Surga? ...

Mengapa Adam Harus Turun ke Bumi? Padahal Sebelum di Surga?



Marilah kita kembali ke awal kisah manusia. Bukan kepada sejarah sebuah bangsa, melainkan kepada kisah manusia pertama.

Allah berfirman kepada para malaikat,

«"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."»

Ayat ini menghadirkan sebuah pertanyaan yang menarik.

Jika sejak awal Allah telah menetapkan bahwa Adam akan menjadi khalifah di bumi, mengapa Adam terlebih dahulu ditempatkan di surga? Mengapa ada pohon yang dilarang? Mengapa ada godaan setan? Mengapa harus terjadi pelanggaran, penyesalan, lalu penurunan ke bumi?

Bukankah Adam memang diciptakan untuk bumi sejak semula?

Di sinilah kita menemukan salah satu pelajaran terbesar dari kisah Nabi Adam.

Peristiwa di surga bukanlah kegagalan rencana Allah. Justru itulah proses pendidikan pertama bagi seorang khalifah.

Allah sedang mempersiapkan manusia sebelum mengemban amanah besar di bumi.

Adam harus belajar bahwa godaan itu nyata.

Ia harus merasakan bagaimana bisikan setan bekerja.

Ia harus mengalami akibat dari sebuah pelanggaran.

Ia harus mengenal penyesalan.

Ia harus belajar bertobat.

Dan yang paling penting, ia harus mengetahui siapa musuhnya sepanjang kehidupan.

Bukankah seluruh pengalaman itu terus berulang dalam kehidupan setiap manusia?

Bukankah kita pun berkali-kali diuji oleh godaan, tergelincir karena kelalaian, menyesal, lalu kembali memohon ampun kepada Allah?

Karena itu, kisah pohon terlarang bukan sekadar cerita masa lalu. Kisah itu adalah cermin perjalanan setiap anak Adam.

Kasih sayang Allah menghendaki agar manusia memasuki bumi sebagai khalifah dengan bekal pengalaman. Ia tidak dibiarkan memasuki medan perjuangan tanpa terlebih dahulu mengenal medan perang yang akan dihadapinya.

---

Lalu muncul pertanyaan lain.

Di manakah sebenarnya surga yang ditempati Adam?

Surga apakah itu?

Bagaimana Allah berbicara kepada para malaikat?

Bagaimana percakapan itu berlangsung?

Siapakah hakikat malaikat?

Siapakah iblis?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu menarik perhatian manusia.

Namun, apakah semua itu memang harus diketahui?

Al-Qur'an justru mengajarkan sikap yang berbeda.

Perkara-perkara tersebut termasuk wilayah gaib yang hanya diketahui Allah. Allah tidak membekali manusia dengan kemampuan untuk mengetahui seluruh hakikatnya, karena pengetahuan itu bukan syarat menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi.

Bukankah seorang khalifah tidak harus mengetahui seluruh rahasia alam gaib agar dapat menjalankan amanahnya?

Allah membuka sebagian rahasia alam semesta agar manusia dapat membangun peradaban. Namun, pada saat yang sama Allah menutup sebagian rahasia lainnya karena tidak membawa manfaat bagi tugas kekhalifahan.

Hingga hari ini manusia mampu menembus ruang angkasa, mengungkap berbagai hukum alam, bahkan membaca sebagian kode kehidupan.

Namun, adakah manusia yang mengetahui apakah napas yang sedang dihirupnya akan menjadi napas terakhir?

Tidak.

Di balik seluruh kemajuan ilmu pengetahuan tetap terbentang wilayah gaib yang hanya menjadi milik Allah.

Karena itu, akal tidak semestinya memaksakan diri memasuki wilayah yang memang tidak diberi jalan untuk mencapainya.

Usaha semacam itu hanya akan menghabiskan tenaga tanpa menghasilkan kepastian.

Namun demikian, ketidakmampuan mengetahui perkara gaib juga bukan alasan untuk mengingkarinya.

Mengingkari sesuatu memerlukan ilmu.

Sementara perkara gaib memang berada di luar jangkauan alat-alat pengetahuan manusia.

Maka dua sikap yang sama-sama keliru harus dihindari.

Yang pertama, tenggelam dalam khayalan dan takhayul.

Yang kedua, menolak seluruh perkara gaib hanya karena tidak mampu menjangkaunya.

Sikap kedua bahkan lebih berbahaya, sebab ia menjadikan manusia tidak lebih dari makhluk yang hanya percaya kepada apa yang dapat disentuh oleh indranya.

Padahal manusia diciptakan dengan kemampuan untuk beriman kepada Yang Mahagaib.

---

Jika demikian, apa yang seharusnya kita ambil dari kisah Adam?

Bukan sibuk memperdebatkan detail-detail gaibnya.

Yang jauh lebih penting adalah menangkap petunjuk yang ingin Allah tanamkan melalui kisah tersebut.

Kisah Adam adalah pelajaran tentang hakikat manusia.

Tentang kedudukannya.

Tentang amanahnya.

Tentang musuhnya.

Dan tentang jalan keselamatannya.

Nilai terbesar yang ditegaskan Al-Qur'an dalam kisah ini adalah kemuliaan manusia.

Bayangkan.

Sebelum manusia diciptakan, Allah mengumumkan kepada para malaikat bahwa makhluk ini akan menjadi khalifah di bumi.

Kemudian para malaikat diperintahkan bersujud sebagai bentuk penghormatan.

Sementara iblis diusir karena kesombongannya.

Bukankah ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan manusia di sisi Allah?

Karena itu, manusia tidak boleh merendahkan dirinya menjadi budak materi.

Segala sesuatu di bumi diciptakan untuk manusia, bukan manusia diciptakan untuk mengabdi kepada benda.

Maka sangat ironis apabila manusia mengorbankan kehormatan, akhlak, bahkan agamanya demi mengejar kekayaan dan materi.

Materi hanyalah sarana.

Manusialah tujuan.

---

Pelajaran berikutnya adalah bahwa manusialah pelaku utama sejarah.

Manusialah yang mengelola bumi.

Manusialah yang membangun peradaban.

Peralatan hanyalah alat.

Teknologi hanyalah sarana.

Ekonomi hanyalah instrumen.

Islam tidak pernah membiarkan manusia menjadi budak sistem produksi atau mesin-mesin yang diciptakannya sendiri.

Sebaliknya, manusia adalah pihak yang mengendalikan semuanya berdasarkan petunjuk Allah.

Pandangan inilah yang membedakan Islam dari ideologi-ideologi materialistik yang menjadikan manusia sekadar bagian dari mesin produksi.

Akibatnya, kehormatan manusia sering dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi, efisiensi, dan keuntungan materi.

Islam menolak cara pandang seperti itu.

Dalam Islam, kemajuan material tidak boleh dibangun dengan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.

---

Lalu, apa yang menjadi penopang utama kekhalifahan manusia?

Jawabannya adalah iman.

Kekhalifahan bukan hanya membangun bumi.

Kekhalifahan adalah membangun bumi dengan mengikuti petunjuk Allah.

Karena itu Allah berfirman,

«"Maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."»

Inilah fondasi seluruh peradaban Islam.

Keimanan.

Kesalehan.

Kejujuran.

Keikhlasan.

Akhlak.

Semua nilai ini lebih tinggi daripada sekadar pencapaian materi.

---

Kisah Adam juga mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas.

Di sinilah letak kemuliaannya.

Manusia dimuliakan bukan karena bebas berbuat sesuka hati, melainkan karena mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menaati Allah.

Di sinilah manusia dapat lebih mulia daripada malaikat.

Sebaliknya, ketika manusia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada syahwat, ia jatuh lebih rendah daripada binatang.

---

Sejak Adam hingga hari ini, peperangan yang sama terus berlangsung.

Bukan sekadar peperangan fisik.

Melainkan peperangan antara petunjuk Allah dan bisikan setan.

Antara iman dan kufur.

Antara kebenaran dan kebatilan.

Antara hidayah dan kesesatan.

Medan peperangannya adalah hati manusia.

Setiap orang sedang berperang.

Dan setiap orang akan menentukan sendiri apakah ia menjadi pemenang atau pecundang.

---

Terakhir, kisah Adam meluruskan cara pandang tentang dosa.

Islam tidak mengenal dosa warisan.

Adam berdosa.

Adam bertobat.

Allah menerima tobatnya.

Selesai.

Setiap manusia memikul dosanya sendiri.

Setiap manusia memiliki pintu tobat yang terbuka.

Tidak ada seorang pun yang harus menanggung dosa orang lain.

Tidak pula ada manusia yang lahir membawa kesalahan nenek moyangnya.

Karena itu, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Selama pintu tobat masih terbuka, harapan selalu ada.

---

Maka, seluruh kisah Adam pada hakikatnya bermuara pada satu pilihan yang terus berulang dalam kehidupan manusia.

Apakah kita akan mengikuti petunjuk Allah?

Ataukah mengikuti bisikan setan?

Tidak ada jalan ketiga.

Hanya ada dua pilihan.

Jalan petunjuk atau jalan kesesatan.

Jalan kebenaran atau jalan kebatilan.

Jalan menuju kebahagiaan atau jalan menuju kerugian.

Inilah hakikat yang ingin ditanamkan Al-Qur'an sejak awal kisah manusia.

Dan di atas hakikat inilah seluruh bangunan kehidupan Islam ditegakkan.

Saat Allah Mengajarkan kepada Adam Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: «"Tuhan ber...

Saat Allah Mengajarkan kepada Adam



Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

«"Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.' Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, 'Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.' Allah berfirman, 'Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu.' Maka setelah Adam memberitahukan nama-nama itu kepada mereka, Allah berfirman, 'Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?'"
(QS. Al-Baqarah: 31–33)»

Melalui ayat-ayat ini, dengan mata hati yang diterangi cahaya wahyu, kita diajak menyaksikan sekelumit rahasia Ilahi yang diperlihatkan kepada para malaikat. Di hadapan mereka, Allah menampakkan salah satu keistimewaan manusia yang menjadi dasar penugasannya sebagai khalifah di bumi.

Rahasia itu adalah kemampuan yang Allah anugerahkan kepada Nabi Adam untuk mengetahui dan menyebut nama-nama segala sesuatu. Inilah salah satu kunci kekhalifahan manusia. Kemampuan memberi nama bukan sekadar menghafal kata-kata, tetapi kemampuan menggunakan simbol, bahasa, dan konsep untuk mewakili realitas. Melalui nama, manusia dapat mengenali, mengingat, mengajarkan, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.

Nilai kemampuan ini baru benar-benar terasa apabila kita membayangkan kehidupan tanpa bahasa dan tanpa nama.

Bayangkan jika setiap kali seseorang ingin menjelaskan tentang kurma, ia harus menghadirkan buah kurma itu di hadapan orang lain. Jika ingin menjelaskan gunung, ia harus membawa orang tersebut ke gunung. Jika ingin memperkenalkan seseorang, orang itu harus selalu hadir secara fisik. Tanpa kemampuan memberi nama dan menggunakan simbol bahasa, hampir mustahil manusia dapat bertukar pengetahuan, menyusun pengalaman, atau membangun peradaban.

Kehidupan akan dipenuhi kesulitan yang nyaris tidak terbayangkan. Proses belajar, mengajar, berdagang, bermusyawarah, hingga menyusun ilmu pengetahuan tidak akan dapat berlangsung sebagaimana yang kita kenal sekarang. Karena itulah, kemampuan memberi nama merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia.

Adapun para malaikat tidak diberikan kemampuan khusus ini, bukan karena adanya kekurangan pada diri mereka, melainkan karena kemampuan tersebut tidak berkaitan dengan tugas yang Allah bebankan kepada mereka. Setiap makhluk memperoleh bekal yang sesuai dengan misi penciptaannya.

Ketika Allah memperlihatkan kepada para malaikat apa yang telah Dia ajarkan kepada Adam, mereka tidak mampu menyebutkan nama-nama benda tersebut. Mereka tidak mengetahui bagaimana simbol-simbol bahasa digunakan untuk mewakili berbagai objek dan makna.

Maka mereka pun berkata:

«"Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana."»

Jawaban ini bukan sekadar pengakuan atas keterbatasan ilmu mereka, tetapi juga pengakuan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari Allah. Mereka menyucikan-Nya, mengakui kebijaksanaan-Nya, dan menerima bahwa setiap makhluk diberi kemampuan sesuai dengan hikmah dan tugas yang telah ditetapkan-Nya.

Melalui peristiwa ini, Allah memperlihatkan kepada para malaikat hikmah di balik penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Manusia dibekali kemampuan berpikir, berbahasa, memberi nama, dan mengembangkan pengetahuan. Kemampuan inilah yang menjadi salah satu fondasi utama lahirnya ilmu pengetahuan, komunikasi, dan seluruh bangunan peradaban manusia.

Saat Allah Hendak Menjadikan Khalifah di Bumi Allah SWT berfirman, «"Ingatl...

Saat Allah Hendak Menjadikan Khalifah di Bumi




Allah SWT berfirman,

«"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.'" (QS. Al-Baqarah: 30).»

Ayat ini mengawali salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah penciptaan manusia. Allah mengumumkan kepada para malaikat kehendak-Nya untuk menghadirkan makhluk baru yang akan mengemban amanah sebagai khalifah di bumi.

Kehendak ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Kepadanya diserahkan amanah untuk mengelola bumi sesuai dengan kehendak Sang Pencipta: membangun dan memakmurkan kehidupan, mengolah serta menyusun berbagai potensi alam, menggali kekayaan yang tersimpan di dalamnya, dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang Allah ciptakan demi menjalankan tugas kekhalifahan.

Karena tugas itu begitu besar, Allah pun membekali manusia dengan berbagai potensi yang memadai. Di dalam diri manusia ditanamkan kemampuan berpikir, belajar, berkreasi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sementara itu, di dalam bumi Allah menyediakan kekayaan alam, berbagai sumber energi, bahan-bahan mentah, serta beragam potensi yang dapat dimanfaatkan. Seluruhnya menjadi sarana agar manusia mampu merealisasikan amanah yang telah dipercayakan kepadanya.

Di sinilah tampak adanya keserasian antara hukum-hukum yang mengatur alam semesta dan potensi yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Alam tidak diciptakan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan manusia, melainkan sebagai ruang pengabdian yang dapat dipelajari, dipahami, dan dikelola. Dengan demikian, manusia memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan alam tanpa harus berbenturan dengan hukum-hukum ciptaan Allah.

Inilah kedudukan mulia yang diberikan kepada manusia dalam tatanan kehidupan di bumi. Amanah sebagai khalifah merupakan bentuk kemuliaan yang Allah kehendaki bagi makhluk ciptaan-Nya, sekaligus tanggung jawab yang sangat besar.

Semua makna tersebut terkandung dalam firman Allah, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi." Semakin direnungkan dengan hati yang terbuka, semakin tampak betapa agungnya kedudukan manusia sekaligus beratnya amanah yang dipikulnya.

Namun, pengumuman Allah itu memunculkan pertanyaan dari para malaikat.

«"Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?"»

Pertanyaan para malaikat memberikan kesan bahwa mereka mengetahui, atau setidaknya memperoleh gambaran, bahwa makhluk yang akan menghuni bumi memiliki potensi melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Pengetahuan itu mungkin berasal dari pengalaman terhadap makhluk sebelumnya, dari pemahaman mereka tentang tabiat kehidupan di bumi, atau dari ilham yang Allah berikan kepada mereka.

Sebagai makhluk yang diciptakan dengan fitrah penuh ketaatan, para malaikat tidak mengenal dorongan hawa nafsu ataupun kecenderungan berbuat maksiat. Kehidupan mereka sepenuhnya diisi dengan tasbih, tahmid, penyucian kepada Allah, dan ketaatan yang tidak pernah berhenti. Dari sudut pandang mereka, tujuan penciptaan tampaknya telah terwujud melalui ibadah yang murni dan sempurna sebagaimana yang mereka lakukan.

Namun, ada hikmah yang belum mereka ketahui.

Allah menghendaki terbangunnya kehidupan di bumi melalui makhluk yang memiliki pilihan, kehendak, serta kemampuan untuk berkembang. Manusia memang memiliki potensi melakukan kerusakan dan menumpahkan darah. Akan tetapi, di balik potensi tersebut Allah juga menanamkan kemampuan untuk membangun peradaban, menegakkan keadilan, mengembangkan ilmu pengetahuan, melakukan penelitian, melahirkan inovasi, dan terus memperbaiki kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perjalanan sejarah, memang akan terjadi berbagai bentuk kerusakan sebagai konsekuensi dari kebebasan memilih yang dimiliki manusia. Namun, melalui proses itu pula terwujud berbagai kebaikan yang lebih besar: pertumbuhan peradaban, perkembangan ilmu pengetahuan, pembangunan kehidupan, lahirnya berbagai bentuk kreativitas, serta usaha yang tidak pernah berhenti untuk memperbaiki keadaan.

Dengan demikian, amanah kekhalifahan bukan sekadar tentang kekuasaan atas bumi, melainkan tentang tanggung jawab untuk mengelola seluruh potensi yang Allah anugerahkan sesuai dengan petunjuk-Nya. Di situlah manusia diuji: apakah ia akan menggunakan kebebasan yang dimilikinya untuk membuat kerusakan, atau justru menghadirkan kemaslahatan sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Metode Penceritaan dalam Al-Qur'an dan Urgensinya Kisah-kisah da...

Metode Penceritaan dalam Al-Qur'an dan Urgensinya

Kisah-kisah dalam Al-Qur'an tidak disampaikan secara acak. Setiap kisah ditempatkan pada surah dan konteks yang paling sesuai dengan tema yang sedang dibangun. Karena itu, pemaparannya selalu relevan dengan situasi, sasaran dakwah, dan pesan yang hendak ditegaskan.

Relevansi inilah yang menentukan panjang-pendeknya sebuah kisah, bingkai peristiwanya, cara pelukisannya, serta metode penyampaiannya. Akibatnya, setiap kisah menyatu dengan suasana kejiwaan ayat-ayat di sekitarnya, selaras dengan alur pemikiran yang sedang dibangun, dan memperkuat keindahan bahasa Al-Qur'an. Dengan demikian, tujuan tematis, pengaruh psikologis, dan irama sastranya dapat tercapai secara utuh.

Sebagian orang mengira bahwa Al-Qur'an banyak mengulang kisah yang sama karena suatu peristiwa diceritakan kembali dalam beberapa surah. Padahal, jika dicermati dengan teliti, tidak ada satu pun kisah atau episode yang diulang secara persis, baik dari segi cakupan maupun metode penyampaiannya. Setiap pengulangan selalu menghadirkan sudut pandang, penekanan, atau pelajaran baru yang sesuai dengan konteks surahnya. Oleh sebab itu, yang tampak sebagai pengulangan sesungguhnya adalah penyempurnaan makna dan pengayaan pesan.

Ada pula yang beranggapan bahwa pengulangan tersebut semata-mata bertujuan memperindah gaya bahasa dan memenuhi nilai sastra, tanpa memiliki hubungan dengan realitas. Anggapan ini tidak tepat. Siapa pun yang membaca Al-Qur'an dengan hati yang jernih akan melihat bahwa penempatan setiap kisah sepenuhnya ditentukan oleh keterkaitannya dengan tema pembahasan. Demikian pula metode penyampaiannya selalu disesuaikan dengan tujuan dakwah yang sedang dibangun pada bagian tersebut.

Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah, kumpulan cerita, atau karya sastra. Al-Qur'an adalah kitab petunjuk, kitab dakwah, pedoman hidup, undang-undang Ilahi, dan manhaj kehidupan. Karena itulah kisah-kisah yang dipilih di dalamnya disampaikan dengan ukuran, bentuk, dan metode yang paling sesuai untuk mendukung tujuan dakwah. Keindahan sastranya bukanlah hasil rekayasa atau hiasan bahasa semata, melainkan lahir dari perpaduan antara kebenaran yang kokoh, penyampaian yang indah, dan pesan yang mendalam.

Kisah-kisah para nabi dalam Al-Qur'an menampilkan perjalanan panjang iman sepanjang sejarah manusia. Melalui kisah-kisah itu, Al-Qur'an menggambarkan dakwah para rasul kepada umatnya, beragam respons manusia terhadap seruan tauhid dari generasi ke generasi, serta berbagai bentuk ujian yang mereka hadapi dalam menegakkan kebenaran.

Di sisi lain, kisah-kisah tersebut memperlihatkan hakikat keimanan yang hidup dalam jiwa para nabi, sekaligus menggambarkan hubungan mereka yang begitu dekat dengan Allah yang telah memilih dan memuliakan mereka dengan risalah. Mengikuti perjalanan para nabi melalui kisah-kisah Al-Qur'an akan menumbuhkan ketenangan, kejernihan hati, serta penghargaan yang semakin tinggi terhadap nilai keimanan sebagai unsur paling mulia dalam kehidupan manusia.

Lebih dari itu, kisah-kisah Al-Qur'an membentuk tashawwur imani (cara pandang yang berlandaskan iman). Melalui kisah-kisah tersebut, Al-Qur'an membedakan secara tegas antara pola pikir yang dibimbing wahyu dan berbagai pola pikir lain yang menyimpang dari petunjuk Allah. Oleh karena itu, kisah-kisah Al-Qur'an bukan sekadar pelengkap isi kitab suci, melainkan merupakan salah satu pilar utama dakwah Al-Qur'an dalam membangun akidah, membentuk karakter, dan mengarahkan kehidupan manusia menuju jalan yang benar.


Sumber;
Sayid Qutb, Tafsir Fizhilalil Qur'an, GIP, 2008, Hal.66

Kisah Nabi Adam, Kesamaan Malaikat, Manusia dan Jin Oleh: Nasrulloh Baksolahar Kapan ketidaktahuan malaikat terungkap? Saat Alla...

Kisah Nabi Adam, Kesamaan Malaikat, Manusia dan Jin

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Kapan ketidaktahuan malaikat terungkap? Saat Allah swt hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat paham karakter manusia, tetapi tidak paham maksud dijadikannya sebagai khalifah.

Malaikat pun mengetahui sesuatu bila diajarkan oleh Allah swt. Malaikat yang dekat di sisi Allah swt pun ternyata tidak mengetahui apa pun, kecuali yang telah diajarkan oleh Allah swt.

Oleh sebab itu, ada fragmen Allah swt mengajarkan malaikat melalui perantara manusia, Adam. Malaikat bersegera bertasbih karena menjawab sesuatu yang tidak diajarkan Allah swt. Itulah sumber kesalahannya.

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(Al-Baqarah [2]:30)

Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!”
(Al-Baqarah [2]:31)

Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Al-Baqarah [2]:32)

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!” Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, Dia berfirman, “Bukankah telah Kukatakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?”
(Al-Baqarah [2]:33)


Syetan tergelincir kepada kedurhakaan, saat diperintahkan bersujud kepada Adam. Padahal, sudah sangat lama berinteraksi dengan penduduk langit. Pasalnya, ada dorongan kesombongan dan kedengkian yang sangat kuat pada manusia.

Kesombongan dan kedengkian, penghalang untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Penghalang akan kebangkitan, pertumbuhan dan hari esok yang lebih baik. Justru, semakin menghancurkan dirinya.

(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.
(Al-Baqarah [2]:34)

Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu, dan janganlah kamu dekati pohon ini,  sehingga kamu termasuk orang-orang zalim!”
(Al-Baqarah [2]:35)


Manusia sangat mudah tergelincir dan jatuh pada kesalahan. Mudah khilaf, lalai dan lupa. Mudah terperdaya dan tertipu oleh hawa nafsu dan bisikan syetan. Kelebihannya, masih memiliki peluang untuk memperbaiki diri.

Bagaimana proses perbaikannya? Menerima kalimat Allah swt. Mentaati Allah swt. Tidak ada jalan selain itu. 

Lalu, setan menggelincirkan keduanya darinya sehingga keduanya dikeluarkan dari segala kenikmatan ketika keduanya ada di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain serta bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.”
(Al-Baqarah [2]:36)

Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
(Al-Baqarah [2]:37)

Jadi, malaikat pun hanya mengetahui sesuatu bila  diajarkan Allah swt. Syetan telah menjadi makhluk durhaka sepanjang masa. Manusia mudah tergelincir pada kesalahan. Semuanya memiliki kelemahan. Yang Maha Sempurna hanya Allah swt.

Allah Menjelaskan Langsung Hikmah Kisah Nabi Adam Allah memaparkan kisah Nabi Adam di surat Al-A'raf ayat 10 sd/d 25. Ternya...

Allah Menjelaskan Langsung Hikmah Kisah Nabi Adam


Allah memaparkan kisah Nabi Adam di surat Al-A'raf ayat 10 sd/d 25. Ternyata tidak hanya itu, Allah pun langsung menjelaskan hikmahnya pada ayat selanjutnya.

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. (26)


Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (27)

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, "Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya." Katakanlah, "Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (28)

Katakanlah, "Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap salat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepadanya sebagaimana kamu diciptakan semula. (29)

Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi sepantasnya menjadi sesat. Mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain Allah. Mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (30)

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan! Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (31)

Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, "Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. (32)

Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui." (33)

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (34)

Wahai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu Rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barang siapa bertakwa dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (35)

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan dalam Kitab sampai datang para utusan (malaikat) Kami kepada mereka untuk mencabut nyawanya. Mereka (para malaikat) berkata, Manakah sembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?" Mereka (orang musyrik) menjawab, "Semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka memberikan kesaksian diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir. (37)

Mengapa Kisah di Al-Qur'an Hanya Untuk yang Beriman? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kisah para nabi dan rasul, dikisahkan oleh ...


Mengapa Kisah di Al-Qur'an Hanya Untuk yang Beriman?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kisah para nabi dan rasul, dikisahkan oleh Allah hanya untuk yang beriman. Mengapa khusus bagi yang beriman? Bagi yang tak beriman, dianggap dongeng dan legenda. Semuanya bualan, mimpi, khayalan dan tak mungkin terjadi. Yang menggunakan logika, akal, dan pengalaman, tak akan mempercayainya. 

Kisah para nabi dan rasul sangat mencengangkan dan menakjubkan. Banyak yang di luar nalar dan jangkauan. Namun, bagi yang beriman, semuanya nyata, jelas dan pasti terjadi dalam waktu singkat.

Allah membuka kisah Nabi Musa dengan latarbelakang situasi dan kondisi yang sangat kontradiktif. Istana yang sewenang-wenang dan pembuat kerusakan, melawan kaum minoritas yang tertindas, terpecah belah, dan tak memiliki kekuatan sedikit pun. Namun apa janji Allah bagi yang tertindas?

"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)," (Al-Qasas: 5)

"dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman bersama bala tentaranya apa yang selalu mereka takutkan dari mereka." ( Al-Qasas: 6)

Bagaimana proses pertumbuhan kaum minoritas yang tertindas, terpecah belah dan tidak memiliki kekuatan menjadi kekuatan yang menghancurkan Firaun, Haman dan bala tentaranya yang sangat kuat? Bagaimana kekuatan yang zalim tiba-tiba diliputi kepungan ketakutan yang luar biasa?

Di saat kontradiktif ini. Allah justru menampilkan adegan seorang ibu yang sedang ketakutan dipinggir sungai. Yang sedang menyusui lalu menghanyutkan sang bayi ke sungai Nil. Bagaimana situasi ini kelak menghancurkan kezaliman dan kerusakan Firaun sang "tuhan" Mesir? 

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul." (Al-Qasas: 7)

Solusi ragam fenomena kontradiktif ini dibutuhkan keimanan. Liku-liku perjalanannya dibutuhkan keimanan. Sebab, iman melahirkan para pemimpin yang berkarakter pahlawan. 

Khusyu Shalat dan Kisah Nabi Adam Oleh: Nasrulloh Baksolahar Apa yang paling dibenci oleh Iblis? Ada kisah, Iblis mau bertaubat....

Khusyu Shalat dan Kisah Nabi Adam

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Apa yang paling dibenci oleh Iblis? Ada kisah, Iblis mau bertaubat. Namun, syaratnya harus bersujud di kuburan Nabi Adam. Iblis berkata bahwa di saat hidupnya Nabi Adam saja tidak mau bersujud, apalagi bila sudah wafat?

Bersujud, itulah yang dibenci oleh Iblis. Wajar saja, bila shalat itu sulit dan malas dikerjakan karena banyak bersujudnya. Bukankah hanya bersujud yang diulang-ulang dalam shalat?

Wajar saja bila khusyu itu sangat sulit bahkan ilmu pertama yang dicabut di muka bumi, karena Iblis akan menurunkan golongannya yang terbaik untuk memberdayakan dan mengalihkan dari kekhusyuan.

Bila masih terfokus pada selain Allah di saat shalat, perhatikan Iblis dalam kisah Nabi Adam! Bukankah, seluruh permintaannya dipenuhi? Bukankah seluruh upayanya sudah dilakukan? Apakah jerih payah yang maksimal membuahkan hasil untuk menyesatkan seluruh manusia?

Iblis hanya bisa menjerumuskan manusia yang tidak dilindungi oleh Allah? Bukankah sia-sia saja penangguhan waktu dan ikhtiarnya?

Saat shalat, fokuslah menghadirkan Allah. Sebab, semua yang terjadi dalam genggaman Allah. Semua urusan kembali pada Allah. Allah cukup mengatakan, "Kun fayakun." saja untuk merealisasikan semua keinginan manusia. Mengapa masih memikirkan sesuatu saat shalat?

Ikhtiar manusia hanya berhasil bila dikehendaki-Nya. Jerih payah manusia tak berguna tanpa ijin-Nya. Jadi cukuplah ada Allah di hati di saat shalat. Sebab semua yang di alam semesta dan ikhtar manusia tak berguna dan bermanfaat sedikit pun. Belajarlah pada kegagalan iblis dalam kisah Nabi Adam yang ingin menjerumuskan seluruh manusia.

Mengapa Manusia Tak Berdaya? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Iblis berkata kepada Allah, bila dia diberi waktu hingga hari kiamat mak...

Mengapa Manusia Tak Berdaya?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Iblis berkata kepada Allah, bila dia diberi waktu hingga hari kiamat maka dia bisa menyesatkan manusia, kecuali sedikit saja yang selamat. Mengapa bisa? Dimana letak kelemahan manusia?

Allah menjelaskan bahwa yang bisa disesatkan adalah mereka yang menjadikan Iblis sebagai teman dan pemimpin. Dalam kondisi ini, manusia hanya bola yang bisa dipermainkan. Bisa ditendang ke arah mana pun.

Perhatian awal keruntuhan sebuah negara dan bangsa! Di awali dari menuhankan hawa nafsu. Memperebutkan kekuasaan dan kedudukan. Setelah itu, menimbun kekayaan dan kikir. Awal, kezaliman di mulai dari sini.

Kehancuran bani Ummayah dan Abbasiyah disebabkan karena kekuasaan tidak untuk mengimplementasikan peran kekhalifahan. Bukan untuk menegakkan yang diperintahkan Allah.  Bukan untuk meredam yang dilarang Allah. Bila peran khalifah Allah digantikan dengan hawa nafsu, maka hancurlah semua kekuatan.

Bila jihad telah ditanggalkan. Bila mujahadah diri telah diabaikan. Maka, Allah cabut semua jalan keluar dan solusi. Allah cabut semua jalan-jalan kemudahan dan yang tak terduga. Tak ada lagi pertolongan dan pemeliharaan Allah.

Allah menyisakan pohon khuldi yang dilarang bagi Nabi Adam, agar jiwa jihad terhadap hawa nafsu terus terjaga. Agar kewaspadaan dan kehati-hatian terus tertanam. Bila interaksi manusia hanya pada keinginan yang dituruti tanpa batas, maka jiwanya justru menjadi lemah. Bukankah tubuh yang sakit karena kebanyakan makan?

Manusia tak lagi menjadi manusia. Manusia menjadi budak. Manusia menjadi lebih rendah dari hewan ternak. Hidupnya dalam permainan hawa nafsu dan tipu daya iblis. Itulah sebab semua ketidakberdayaan manusia. Itulah sebab, kehancuran negara dan bangsa. 

Agar Keturunan Adam Tak Tertipu  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Iblis dikeluarkan dari surga karena keinginannya sendiri. Dia tidak ...

Agar Keturunan Adam Tak Tertipu 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Iblis dikeluarkan dari surga karena keinginannya sendiri. Dia tidak sujud karena argumentasi yang diyakininya. Dia durhaka karenat kesombongannya. Memang, sangat sulit rendah hati itu.

Bagaimana dengan Adam? Dikeluarkan karena sudah diingatkan tetapi lupa dan lalai. Tertipu oleh bujuk rayu agar menjadi malaikat dan abadi. Lalai akan kenikmatan yang melimpah.

Bagaimana agar tidak lalai? Bukankah manusia memang mudah lalai? Bukankah manusia memang pelupa? Bagaimana agar selalu ingat? Bagaimana agar selalu dalam kesadaran penuh?

Rukun Iman, Islam dan Ihsan itulah sistem pendidikan Allah pada manusia agar terjaga kesadaran. Mengapa harus iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, nabi dan rasul, hari akhir dan takdir? Agar jiwa terus diingatkan.

Mengapa harus bersyahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji? Itulah kurikulum untuk mengingatkan manusia. Ada yang wajib dan sunah. Mengapa semakin banyak dikerjakan semakin tinggi derajatnya? Karena frekwensi akan hadirinya kesadaran akan visi hidup tetap terjaga.

Mengapa menuntut ilmu lebih didahulukan dari ibadah sunah? Mengapa bertafakur lebih baik dari ibadah sunah? Sebab, membangun kesadaran yang lebih lama, kuat dan mengakar. 

Lupa dan lalai itulah penyebab Adam tertipu. Maka, buatlah alarm untuk mengingatkan. Yang paling mujarab adalah ihsan. Yaitu, Allah senantiasa mengawasi.

Melawan Penjajah Israel dari Kisah Nabi Adam Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bagaimana cara Iblis menjerumuskan Adam dan keturunannya...

Melawan Penjajah Israel dari Kisah Nabi Adam

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Bagaimana cara Iblis menjerumuskan Adam dan keturunannya? Dengan segala hal. Dari depan, belakang, kanan dan kiri. Mengerahkan pasukan pejalan kaki, berkuda, bersekutu dengan harta dan anak-anak. Juga dengan rayuan dan tipuan.

Apakah strategi iblis berhasil menjerumuskan seluruh manusia? Ternyata ada satu kelompok manusia yang dijaga Allah. Mereka adalah para hamba-Nya. Mereka dipelihara dan ditolong oleh Allah.

Manusia yang berkarakter iblis pun tidak akan bisa menghancurkan seluruh manusia. Ada sekelompok manusia yang sangat kuat dan tegar. Ada sekelompok manusia yang mampu melemahkan semua strategi manusia yang berkarakter iblis. Yaitu, manusia yang menjadi hamba-Nya. Manusia yang taat kepada-Nya.

Penjajah Israel membunuh bangsa Palestina dengan membuat penjara di Gaza maupun Tepi Barat. Merampas tanah dan rumah rakyat Palestina. Menjadikannya kelaparan, kehausan dan dihancurkan semua infrastruktur dasar kehidupan. Rumah sakit, sekolah dan tempat ibadah pun dihancurkan.

Palestina dikepung oleh manusia yang melampaui karakter iblis. Bila manusia dijadikan boneka, bukankah kebengisan manusia yang dikhawatirkan oleh malaikat akan berpadu dengan karakter Iblis? Siapakah yang bisa menghadapi dua kekuatan manusia dan iblis?

Hanya manusia yang berkarakter Robbaniyah yang bisa melawannya. Manusia yang memiliki karakter beribadah dan khalifah. Manusia yang mengikuti petunjuk dari Allah. Hanya itulah solusi melawan kekejaman dan kebiadaban penjajah Israel.

Semua kerusakan di muka bumi tidak dapat dipecahkan dengan ilmu dan teknologi. Tak bisa menggunakan cara-cara yang berasal dari akal manusia. Hanya satu cara, mengikuti petunjuk-Nya.

Sejarah Ucapan  Salam  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Allah telah menciptakan Adam. Allah mengajarkan nama-nama benda. Lalu memerint...

Sejarah Ucapan  Salam 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Allah telah menciptakan Adam. Allah mengajarkan nama-nama benda. Lalu memerintahkan untuk menjelaskan nama-nama benda tersebut kepada malaikat. Disamping nama-nama benda, apalagi yang diajarkan Allah?

Allah tidak langsung mengajarkan kepada Adam, tetapi diperintahkan untuk belajar melalui para malaikat.  Jika Adam menjelaskan nama-nama benda, maka malaikat mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan sesama manusia. 

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Setelah menciptakan Adam as, Allah berfirman, "Pergilah dan berilah salam kepada malaikat, lalu dengarkan salam mereka kepadamu. Salam yang mereka ucapkan adalah salam untukmu dan anak cucumu."

Kemudian Adam menemui para malaikat, dengan mengucapkan, "Assalamualaikum'alaikum." Malaikat menjawab, Assalamu'alaika warahmatullah." Para malaikat menambah kalimat lagi, "Warahmatullah."

Pada suatu hari, malaikat Jibril menemui Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw menghampiri Siti Aisyah ra dengan berkata, "Jibril mengirim salam kepadamu." Lalu, Siti Aisyah menjawab dengan, "Alaihissalam warahmatullahi wabarakaatuh."

Siti Aisyah menjawab salam dari Jibril seperti para malaikat menjawab salam kepada Nabi Adam. Bagaimana bila tidak selengkap yang dicontohkan oleh para malaikat?

Suatu hari, seseorang datang menemui Rasulullah saw dengan mengucapkan, "Assalamu'alaikum." Datang lagi orang kedua, Assalamu'alaikum warahmatullah." Datang lagi orang ketiga, "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh." 

Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang pertama mendapatkan 10 kebaikan, yang kedua 20 kebaikan, yang ketiga 30 kebaikan.

Hukuman Kepada Kekasih-Nya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Nabi Adam hanya mencicipi buah khuldi. Langsung dihukum dengan diusir dari...

Hukuman Kepada Kekasih-Nya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Nabi Adam hanya mencicipi buah khuldi. Langsung dihukum dengan diusir dari surga. Mengapa hukumannya sangat cepat sekali? Mengapa tidak diberikan waktu tenggang untuk memperbaiki?

Malaikat memberikan argumentasi tentang penciptaan Adam yang bisa menimbulkan pertumpahan darah di muka bumi. Pada episode kisah berikutnya, langsung dikisahkan Allah sedang mendidik Nabi Adam atas nama-nama seluruh benda.

Allah langsung menunjukkan kelebihan Adam di hadapan malaikat. Malaikat diperintahkan untuk menyebutkan nama-nama benda. Malaikat tidak mengetahuinya. Mengapa sangat cepat Allah meluruskan kesalahpahaman para malaikat?

Namun, bagaimana saat iblis tidak bersujud kepada Adam? Allah masih memberikan kesempatan untuk berdialog. Iblis dikabulkan permintaannya. Iblis masih di surga hingga dia berhasil menggoda dan menjerumuskan Nabi Adam. Mengapa tidak langsung dihukum keras? Seperti Nabi Adam dan malaikat?

Hukuman Allah kepada kekasih-Nya sangat cepat. Mengapa? Agar segera menyadari kesalahannya. Segera bertaubat dan memperbaiki diri. Bukankah semua yang terjadi di bumi itu ringan? 

Cepatnya, hukuman Allah kepada kekasih-Nya bukanlah hukuman tetapi kasih sayang. Agar, ketaatan tak terjangkit oleh penyakit hati. Agar kemurnian tujuan, akhlak dan sistem kehidupan tetap terjaga. Agar kesalahan tak melalaikan terlalu lama. Agar kesalahan tak jadi karakter penyimpangan dan kedurhakaan. Hukuman yang cepat agar bersegera ke jalan yang lurus. 

Mengapa iblis dan pengikutnya dibiarkan dalam kubangan hawa nafsu, maksiat,  kezaliman dan kedurhakaan? Bahkan tidak tahu bahwa perbuatan salah? Lebih parahnya semuanya dianggap kebaikan. Allah membiarkan untuk menghancurkannya.

Iblis dan Adam, Saat Bersalah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Iblis bersalah karena tak sujud kepada Adam, padahal yang memerintahkan...

Iblis dan Adam, Saat Bersalah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Iblis bersalah karena tak sujud kepada Adam, padahal yang memerintahkannya adalah Allah. Apa yang dilakukan Iblis? Membenarkan kesalahannya. Mencari alasan  dengan berkata bahwa dirinya lebih baik dari Adam karena terbuat dari api.

Apakah hanya sampai disitu saja? Iblis sekuat tenaga menjerumuskan Adam dan keturunannya agar bernasib sama seperti Iblis juga. Adam dianggap menjadi sumber pengusirannya dari surga. Maka, harus disingkirkan juga.

Membenarkan kesalahan dengan beragam argumentasi. Menghancurkan yang dianggap menjadi sebab keterpurukan dan kehancurannya, itulah sifatnya iblis. Bagaimana dengan Nabi Adam?

Saat Nabi Adam memakan buang khuldi karena godaan iblis. Nabi Adam tidak menuduh iblis sebagai penyebabnya. Tidak mencari pembenaran akan kesalahannya. Bukankah iblis hanya menggoda? Bukankah keputusannya ada pada Nabi Adam?

Adam juga tidak pernah menyalahkan istrinya, Siti Hawa. Bukankah istrinya ikut andil sehingga mendorong Nabi Adam mencicipi buah khuldi? Nabi Adam mengambil tanggung jawab semua kesalahan tersebut.

Di era sekarang, siapakah yang selalu saling melempar kesalahan? Selalu membenarkan kesalahannya dengan alasan tertentu?  Selalu mencari kawan untuk berbuat salah bersama-sama?

Nabi Adam justru cepat meresponnya dengan memohon taubat dan juga doa. Menerima resiko dan hukuman atas kesalahannya. Bukankah mengakui kesalahan justru menentramkan dan meningkatkan kualitas diri? 

Cara Iblis Memanfaatkan Sumberdaya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bila Qarun mengatakan bahwa kekayaannya hasil dari kepintarannya,...

Cara Iblis Memanfaatkan Sumberdaya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Bila Qarun mengatakan bahwa kekayaannya hasil dari kepintarannya, namun Iblis mengatakan bahwa dia diciptakan dari api. Berarti iblis mengakui bahwa kelebihan dirinya berasal dari Allah.

Bila Qarun memproklamirkan bahwa dirinyalah yang bisa menciptakan kemanfaatan, namun Iblis justru meminta sumberdayanya dari Allah. Iblis bisa menggoda, menjerumuskan, dan menyesatkan karena sumber dayanya dari Allah. Jadi, siapakah yang lebih sesar?

Iblis berkata, "Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan."

Allah berfirman, "Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu."

Iblis meminta sumberdaya yang paling berharga. Yaitu, waktu. Bukankah permintaan orang  Kafir di akhirat adalah meminta waktu? Meminta dikembalikan ke bumi? Sebab hanya dengan waktu seluruh sumberdaya bisa dimanfaatkan. Bila mati, berhargakah kekayaan dan jabatan?

Iblis memanfaatkan sumberdaya dari Allah dengan sangat efektif dan optimal. Sumberdayanya untuk menjalankan visi dan misinya. Tak ada setiap tiupan nafas pun, kecuali ada bisikan syetan yang menyelusup ke hati manusia. Hati terus berbolak balik tanpa ada yang bisa mengendalikannya.

Saat bangun tidur, syetan sudah mengikat manusia dengan 3 ikatan. Saat makan dan minum, syetan mencoba untuk ikut menikmati. Saat masuk ke rumah, syetan mencoba untuk bermukim. Dalam setiap pandangan mata dan ucapan, ada yang berkhianat. Manusia terkepung dari seluruh penjuru.

Iblis berkata, "Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." Itulah cara Iblis mengoptimalkan sumberdayanya.

Iblis, Pantaskah Sombong? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Saat Iblis mengungkapkan alasan tidak bersujudnya kepada Adam karena dia be...

Iblis, Pantaskah Sombong?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Saat Iblis mengungkapkan alasan tidak bersujudnya kepada Adam karena dia berasal dari api sedangkan Adam berasal dari tanah. Allah menegaskan bahwa surga bukan tempat untuk menyombongkan diri. Mengapa tak pantas?

Bila obsesi manusia adalah surga, maka yang yang sombong di dunia bukan bagian penduduk surga. Karakter penduduk surga adalah para malaikat. Yang bersujud,  taat dan bertasbih. Segala liku-liku hidup. Segala bisikan hati. Untuk mengungkap siapakah yang karakternya seperti malaikat.

Dalam kebebasan berkehendak ada ketaatan. Menjadi khalifah juga seorang hamba Allah. Diberikan akal untuk berfikir, menggali dan memahami, juga ada ruang yang tak boleh menggunakan akal, hanya iman saja. Dalam keegoannya ada kebersamaan. Itulah ujian manusia.

Mengapa tak pantas sombong? Bukankah semuanya sudah ditakdirkan? Bukankah semuanya sudah tertulis sebelum alam semesta diciptakan? Bukankah semuanya hanya pemberian Allah? Bukankah rezeki yang tidak diikhtiarkan lebih tak terbatas?

Iblis tak pantas sombong. Sebab, yang menjadikannya dari api adalah Allah. Yang melebihkan satu makhluk dengan yang lainnya adalah Allah. Semua perbedaan dan keragaman hanya ujian, siapakah yang sombong? Siapakah yang merasa lebih baik? Siapakah yang berputus asa? Siapakah yang merasa hina kepada selain Allah?

Yang sombong berarti telah menuhankan dirinya. Merasa, penyebab cerdas dan berilmu adalah dirinya. Merasa, penyebab sehat, sukses, bahagia, kaya, berwibawa adalah dirinya. Bukankah manusia tidak bisa menciptakan kemanfaatan?

Seperti Firaun yang menjadi tuhan. Merasa bisa memakmurkan rakyatnya  karena sungai Nilnya. Padahal, bukankah sungai Nil telah ada sebelum dirinya lahir? 

Memilih Takdir-Nya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Kehidupan ini hanya rentetan menjalani takdir-Nya. Semua makhluk, dari malaikat, i...

Memilih Takdir-Nya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Kehidupan ini hanya rentetan menjalani takdir-Nya. Semua makhluk, dari malaikat, iblis, jin, manusia, dan alam semesta hanya menjalankan takdir-Nya. Adakah yang terbebas dari takdir-Nya?

Umar bin Khatab tidak jadi memasuki Syam yang tengah dilanda wabah. Alasannya, takdir dilawan dengan takdir. Berpindah dari satu takdir ke takdir yang lainnya. Bila semua adalah takdir-Nya. Bagaimana menyikapinya?

Ikutilah takdir yang diridai-Nya. Ikuti takdir yang dibimbing-Nya. Ikuti takdir yang dimuliakan-Nya. Ikuti takdir yang memuliakan bukan yang merendahkan. Ikuti takdir yang membahagiakan, bukan yang menyengsarakan. Itulah cara menjalani takdir.

Takdir itu bisa dipilih. Sebab, Allah membebaskan manusia untuk memilih. Ada takdir perjalanan kekafiran, kemunafikan dan ketakwaan. Ada takdir perjalanan kezaliman, kedurhakaan dan keimanan. Ada takdir perjalanan menuju neraka dan surga.

Setiap takdir memiliki liku-likunya sendiri. Syetan pun telah memilih takdirnya dengan tidak mau bersujud kepada Adam. Memilih yang tak dibimbing Allah. Syetan pun mengajukan beragam permohonan atas pilihan takdir yang telah dipilihnya.  Allah pun memenuhi semua permohonannya.

Malaikat memilih takdirnya. Memilih yang dibimbing Allah. Memilih bersujud kepada Adam. Setelah itu apakah ada episode kisah Malaikat? Tidak ada. Yang asa kisah pergulatan iblis terhadap takdir yang telah dipilihnya. Yaitu, menjerumuskan seluruh manusia dengan segenap sumberdaya dan infrastruktur yang dimilikinya.

Bagaimana akhir perjalanan takdir yang dipilih iblis? Ternyata hanya kegagalan walaupun seluruh sumber daya dan infrastruktur telah dikerahkan maksimal. Yang mengikuti iblis hanya mereka yang telah menjadi iblis sebagai teman dan pemimpinnya.   Seperti itulah akhir ragam pemilihan takdir.

Jangan Membandingkan Antar Makhluk  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Allah memerintahkan bersujud. Namun, iblis menolaknya. Sebelum me...

Jangan Membandingkan Antar Makhluk 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Allah memerintahkan bersujud. Namun, iblis menolaknya. Sebelum memerintahkan bersujud, Allah telah berfirman bahwa Dia telah  menciptakan seluruh makhluk dengan bentuk yang terbaik.

Bentuk makhluk-Nya berbeda-beda, mengapa difirmankan dengan sebaik-baiknya bentuk? Setiap makhluk memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, itulah penyebab perbedaannya.

Cacing, semut, kadal, kucing, kelinci dan ragam hewan lainnya, mengapa bentuknya berbeda? Tumbuhan adalah yang berkayu keras, lembut, dan menjalar. Ada yang tinggi, sedang, rendah dan menghampar di tanah. Mengapa semuanya berbeda? Peran dan tanggung jawabnya yang berbeda.

Saat Iblis tidak bersujud, Allah bertanya alasannya. Iblis menjawab bahwa dirinya lebih baik dari Adam. Dirinya dari api, sedangkan Adam dari tanah. Bukankah Adam memang diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi yang dipenuhi tanah?

Iblis telah merendahkan makhluk ciptaan-Nya. Artinya, merendahkan Dzat yang menciptakannya juga? Bukankah Allah telah menegaskan bahwa seluruh ciptaan-Nya dibentuk dengan sebaik-baik bentukan?

Takdir manusia pun ciptaan Allah. Yang ditulis dengan Kalam-Nya di Lauhul Mahfudz. Mengapa masih muncul merendahkan dan meninggikan derajat seseorang dari takdirnya? Merendahkan dan meninggikan dari profesi, keturunan, jabatan, kekayaan dan status sosialnya?

Bila di surga, di era Nabi Adam, tak pantas membandingkan antar makhluk-Nya. Maka di bumi pun tak pantas membandingkan antar makhluk dan juga antar manusia untuk menunjukkan kelebihan dan kehebatan yang berbuah pada kesombongan diri.

Prinsip Berinteraksi Dengan Perintah dan Larangan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Ibadah, yang diperintahkan Allah,  itu ada yang ru...

Prinsip Berinteraksi Dengan Perintah dan Larangan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Ibadah, yang diperintahkan Allah,  itu ada yang rukun, wajib dan sunahnya. Yang rukun harus dilakukan, bila diabaikan maka tidak sah atau batal ibadahnya. Yang rukun sangat sedikit dibandingkan yang wajib dan sunah. Itulah kemudahan dari Allah.

Semakin banyak dilakukan maka kebaikannya semakin banyak. Semakin banyak ibadah yang dilakukan semakin besar pahalanya.  

Dalam ibadah terdapat prinsip memudahkan dan toleransi. Bila sedang sakit maka boleh diganti di hari yang lain. Bila belum mencapai syarat tertentu, maka boleh meninggalkan.

Namun soal yang dilarang atau diharamkan, tidak ada pembagian rukun, wajib dan sunah, semuanya harus ditinggalkan. Totalitas meninggalkan itulah prinsip berinteraksi dengan keburukan.

Sedikitnya sama dengan banyaknya. Derajat dosanya tidak melihat sedikit atau banyak. Hukumannya sama, baik sedikit mau pun banyak. 

Prinsip dasarnya adalah menjauhi, jangan mendekat. Semakin jauh, semakin selamat. Semakin dekat, semakin berbahaya.

Kisah Nabi Adam bersama Siti Hawa sangat jelas mengajarkan prinsip berinteraksi dengan keburukan. Jangan mendekati pohon larangan. Walaupun hanya mencicipi buahnya, hukuman tetap dijatuhkan. Keduanya, diusir dari surga.

Gagalnya Execution Excellence? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Menurut Ibnu Abbas, Iblis merupakan kelompok jin. Bertugas memegang pe...

Gagalnya Execution Excellence?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Menurut Ibnu Abbas, Iblis merupakan kelompok jin. Bertugas memegang perbendaharaan kebun-kebun di surga. Yang berilmu dan tekun beribadah. Juga, memiliki empat sayap.

Menurut Hasan Al-Basri, Iblis yang pertama melakukan qiyas (perbandingan). Menurut Ibnu Jarir, buktinya, Iblis membandingkan dirinya dengan Adam, dimana iblis merasa lebih mulia karena terbuat dari api, sedangkan Adam lebih rendah karena dari tanah.

Saat Iblis tidak bersujud kepada Adam, dihukum dengan diusir dari surga. Maka, Iblis mendefinisikan tujuan hidupnya. Yaitu, menyesatkan seluruh manusia agar tidak bersyukur. Apa yang dipersiapkan? Meminta sumber daya kepada Allah, yaitu waktu. Ditangguhkan usianya hingga hari Kiamat.

Ragam strategi dilakukan. Yaitu, membisikkan pikiran yang jahat, menyimpangkan dari jalan yang lurus, melakukan tipu daya, yang buruk dan jahat diberi hiasan yang indah, membisikkan ketamakan terhadap keabadian dan kekuasaan, menjadikannya dirinya seolah-olah sebagai penasihat.

Tidak itu saja, Iblis pun berkolaborasi dengan anak-anak dan kekayaan untuk menipu manusia. Bahkan Iblis itu pun bisa berbentuk manusia. Dengan kepungan seperti ini, manusia  tersesat seluruhnya?

Eksekusi  strategi ini pun sangat sempurna. Bukankah manusia dikepung Iblis sejak kesadarannya hadir? Bukankah saat tersadar dari tidur pun, Iblis telah menjerat dan mempenjarakan manusia dengan tiga ikatan?

Iblis mengepung manusia dari depan, belakang dan samping. Syetan mengerahkan seluruh pasukan infanteri dan kavelarinya dalam seluruh waktu yang dijalani manusia. Berhasilkah kejeniusan strateginya? Berhasilkah Execution excellence-nya? Yang mengubah strategi menjadi aksi untuk mencapai hasil terbaik? 

Kegagalan iblis hanya satu. Dia melawan takdir kesuksesan yang telah ditetapkan Allah. Yaitu, sujud. Walaupun iblis mengerahkan seluruh sumber daya dan potensi diri  sepanjang waktu hingga hari Kiamat. Maka, execution excellence-nya akan tetap gagal.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (16) Dakwah (17) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (10) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (113) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (8) Nusantara (297) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (712) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (322) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)