basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: dakwah
Tampilkan postingan dengan label dakwah. Tampilkan semua postingan

Dalam Sirah yang Harum Terdapat Bekal Para aktivis dakwah pada masa ...

Dalam Sirah yang Harum Terdapat Bekal


Para aktivis dakwah pada masa ini dapat menemukan sebaik-baik bekal bagi perjalanan dakwah dalam sirah Nabawiyah yang harum. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya adalah bahwa jalan yang sedang kita tapaki saat ini adalah jalan yang pernah dilalui oleh Rasulullah Saw. dan para sahabat.

Saat ini, Islam kembali mengalami keterasingan dan kejahiliahan kembali mengancam masyarakat kita. Para dai yang menyeru manusia agar kembali kepada Allah dipersempit ruang geraknya, ditindas, bahkan disiksa. Sementara itu, musuh-musuh Allah senantiasa mengintai dan membuat berbagai tipu daya.

Semua itu semakin menegaskan perlunya membekali diri dengan sirah yang sarat dengan peristiwa dan pelajaran. Allah Swt. berfirman:

«“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Al-Ahzab: 21)»

Orang-orang yang menempuh jalan bersama Rasulullah Saw. adalah para sahabat yang menjadi penopang tegaknya negara Islam pertama. Mereka laksana lampu penerang. Siapa pun di antara mereka yang kita teladani, insya Allah akan memperoleh petunjuk.

Di samping itu, sirah merupakan masa keemasan yang dipenuhi berbagai nilai kebaikan. Ia adalah masa turunnya karunia, rahmat, dan cahaya bagi manusia melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Lebih dari itu, sirah merupakan contoh konkret dan benar tentang realisasi ajaran Islam dalam kehidupan manusia.

Semua itu mengharuskan kita mengkaji sirah untuk diamalkan dan diteladani. Kita perlu mengenal dengan saksama berbagai sikap dan peristiwa yang dihadapi Rasulullah Saw. dan para sahabat, serta bagaimana sikap dan tindakan mereka dalam menghadapinya. Semua itu dapat kita jadikan teladan, pelajaran, dan bekal dalam perjalanan dakwah.

Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa keteladanan nyata memiliki pengaruh yang sangat efektif dalam jiwa, bahkan melebihi nasihat semata. Karena itu, sirah merupakan salah satu sebaik-baik bekal di jalan dakwah.

Kita tidak mungkin memaparkan seluruh nasihat, pelajaran, dan ibrah yang terdapat dalam sirah. Akan tetapi, sebagian di antaranya akan kita tampilkan sebagai contoh sekaligus untuk menegaskan pentingnya mengkaji sirah.

Bekal Dakwah yang Pertama: Kesiapan Mental dan Bekal Rohani

Bekal pertama dan utama yang kita ambil dari sirah Nabawiyah, sekaligus yang sangat kita butuhkan dalam perjalanan dakwah, adalah kesiapan mental dan bekal rohani.

Bekal tersebut merupakan faktor penting yang membantu seseorang melaksanakan tuntutan-tuntutan dakwah, mengatasi berbagai rintangan dan kesulitan, serta menjaga diri dari berbagai bujukan dan penyimpangan.

Hal itu dapat kita lihat dari ilham yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya sebelum beliau diutus, ketika beliau melakukan tahannuts, yaitu menyepi untuk beribadah di Gua Hira dalam waktu yang cukup lama. Bekal tersebut juga tercermin dalam pengarahan Allah kepada Rasul-Nya untuk melaksanakan qiyamullail.

Allah Swt. berfirman:

«“Hai orang yang berselimut. Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit daripadanya, yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun pada waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan pada waktu itu lebih berkesan.”
(Al-Muzzammil: 1–5)»

Taqarrub kepada Allah dan memperbaiki hubungan dengan-Nya merupakan sebaik-baik bekal dalam perjalanan dakwah.

Kesabaran Menghadapi Gangguan

Setiap kali kita membaca berbagai gangguan yang dihadapi Rasulullah Saw., kesabaran beliau dalam menghadapinya, serta keinginan kuat beliau untuk membimbing umatnya, kita dapat memperoleh bekal dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan dakwah dan bersabar menghadapi berbagai rintangan.

Demikian pula kesyahidan Yasir dan Sumayyah r.a. di bawah penyiksaan Quraisy serta ketegaran Bilal r.a. dalam menghadapi siksaan merupakan bekal dan penguat bagi generasi sepanjang masa. Kisah mereka meneguhkan hati agar tetap berada di atas Al-Haq.

Perhatikanlah betapa besar dan dalam pengaruh sikap Rasulullah Saw. ketika beliau ditawari kerajaan dan kedudukan. Beliau berkata:

«“Demi Allah, andai mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”»

Kata-kata tersebut merupakan keteguhan menghadapi kebatilan sekaligus menunjukkan betapa kecilnya seluruh kekayaan dunia dibandingkan dengan perjuangan menegakkan kebenaran.

Rasulullah Saw. pernah dituduh sebagai pendusta, tukang sihir, dan orang gila. Namun, beliau bersabar dan tidak membalas tuduhan tersebut dengan kemarahan. Realitas kemudian membuktikan kebohongan tuduhan-tuduhan tersebut.

Dahulu Nabi Musa a.s. juga dituduh sebagai penebar kerusakan, sementara Fir’aun mengklaim bahwa dirinyalah yang membimbing umat menuju jalan yang lurus.

Para dai pada masa kini juga dapat menghadapi berbagai tuduhan, seperti ekstremis, teroris, mempolitisasi agama, dan sebagainya. Karena itu, hendaklah para dai bersabar, tidak menjadi lemah, dan pantang menyerah dalam menyampaikan kebenaran.

Keteguhan dalam Kesulitan

Perhatikan pula kesabaran kaum Muslimin generasi pertama ketika menanggung rasa lapar selama masa pemboikotan di lembah Abu Thalib yang berlangsung selama tiga tahun, hingga mereka harus memakan dedaunan. Namun, mereka tetap istiqamah, tidak melepaskan akidah, dan lebih mengutamakan seruan Allah daripada kenikmatan dunia.

Setiap aktivis dakwah juga dapat menemukan bekal yang luar biasa dalam kisah perjalanan Rasulullah Saw. ke Thaif. Beliau menempuh perjalanan yang jauh untuk menyampaikan dakwah, tetapi justru disambut dengan batu dan cercaan.

Setelah itu beliau berdoa:

«“Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.”»

Beliau juga mengadukan lemahnya kekuatan dan ketidakberdayaan dirinya kepada Allah:

«“Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli dengan semua gangguan ini.”»

Di dalam peristiwa tersebut terdapat banyak makna yang memotivasi seseorang untuk terus melakukan kebajikan dan melanjutkan dakwah meskipun menghadapi berbagai gangguan.

Khadijah: Bekal bagi Muslimah

Sikap Khadijah, Ummul Mukminin r.a., bersama Rasulullah Saw. merupakan sebaik-baik bekal bagi muslimah agar dapat membantu suaminya dalam menapaki jalan dakwah. Ia mendukung dan menguatkannya, bukan menghambat ataupun membiarkannya menghadapi perjuangan seorang diri.

Siapa pun yang membaca peristiwa Isra dan Mi'raj dalam sirah akan menemukan bekal dan pelajaran berharga yang dapat menambah keimanannya. Kaum Muslimin juga perlu menyadari kedudukan Masjidil Aqsha dan wilayah sekitarnya serta kewajiban menjaga dan membebaskan tempat-tempat suci tersebut dari berbagai bentuk penjajahan dan perampasan.

Hijrah: Bekal Perjuangan dan Pengorbanan

Seluruh peristiwa hijrah merupakan pelajaran berharga dan bekal yang sangat baik. Kita tidak mungkin menguraikan semuanya di sini. Setiap orang yang memiliki andil dalam peristiwa tersebut merupakan figur teladan yang mengagumkan dalam satu atau beberapa aspek yang perlu ditiru oleh para dai.

Kita dapat melihat ketenangan dan keyakinan Rasulullah Saw. terhadap pertolongan Allah; perhatian Abu Bakar r.a. terhadap keselamatan Rasulullah; ketabahan Abdullah bin Abu Bakar; kesabaran Asma binti Abu Bakar; serta perannya dalam suasana yang genting. Kita juga dapat melihat kekuatannya dalam menyimpan rahasia.

Kita menemukan pula janji Rasulullah Saw. untuk memberikan dua gelang Kisra, Raja Persia, serta keyakinan beliau terhadap pertolongan dan kemenangan dari Allah yang terkandung dalam janji tersebut.

Di sisi lain, terdapat kecintaan yang menggelora dan kerinduan yang mendalam dari penduduk Madinah terhadap Rasulullah Saw. Hal itu tercermin dalam kesabaran mereka menunggu kedatangan beliau di perbatasan kota.

Semua itu merupakan pelajaran yang memiliki pengaruh besar terhadap jiwa dan sangat dibutuhkan oleh para aktivis yang sedang menapaki jalan dakwah.

Masjid dan Pembangunan Masyarakat

Wahai saudaraku, ambillah pelajaran dari perhatian Rasulullah Saw. terhadap pembangunan masjid di setiap tempat yang beliau diami. Dari sini kita dapat memahami risalah dan peran masjid dalam membangun masyarakat dan negara Islam.

Dengan demikian, kita perlu berusaha mengembalikan peran penting masjid dalam membina masyarakat, bukan sekadar menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan salat.

Pelajaran dari Hubungan dengan Kaum Yahudi

Ada pelajaran penting yang sangat kita butuhkan saat ini, yaitu sikap Rasulullah Saw. terhadap kaum Yahudi dan sikap sebagian mereka terhadap beliau serta dakwahnya.

Ketika pertama kali bermukim di Madinah, Rasulullah Saw. menjalin hubungan yang harmonis dengan mereka, menjamin keamanan agama dan harta mereka, serta membuat perjanjian dengan mereka.

Akan tetapi, menurut uraian dalam sirah, kemudian terjadi sejumlah pelanggaran perjanjian dan konflik. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah Saw., yang menjadi salah satu sebab terjadinya konflik dengan Bani Nadhir.

Kemudian terjadi pula pelanggaran perjanjian pada kondisi yang sangat genting, yaitu ketika Perang Ahzab, yang kemudian berujung pada konflik dengan Bani Quraizhah. Setelah itu terjadi penghimpunan kekuatan dan persiapan untuk menghadapi kaum Muslimin hingga terjadilah Perang Khaibar.

Rangkaian peristiwa tersebut memberikan pelajaran penting mengenai perlunya kewaspadaan, keteguhan dalam memegang prinsip, dan kehati-hatian dalam menghadapi pihak-pihak yang tidak memenuhi perjanjian.

Perang Tabuk: Keimanan dan Pengorbanan

Wahai saudaraku, ambillah bekal dari Perang Tabuk. Perhatikan bagaimana keimanan yang tulus dalam dada kaum mukminin dapat mengobarkan semangat mereka untuk berperang, mengorbankan harta, serta rela menghadapi, bahkan menikmati, kegetiran, kepayahan, dan kelelahan demi mencapai keridaan Allah.

Ambillah bekal pula dari sikap sekelompok Muslimin yang datang menemui Rasulullah Saw. Mereka ingin ikut serta dalam perjuangan, tetapi Rasulullah tidak dapat menyertakan mereka karena tidak memiliki perbekalan untuk mereka.

Mereka kemudian kembali pulang dengan air mata berlinang karena tidak mendapatkan kesempatan untuk berjihad dan memperoleh kesyahidan di jalan Allah.

Padahal, biasanya manusia bergembira apabila selamat dari bahaya dan terbebas dari peperangan. Akan tetapi, keimanan yang tulus telah meluruskan tolok ukur mereka. Kematian di jalan Allah dipandang sebagai kesyahidan, gangguan yang diterima dalam memperjuangkan Al-Haq dipandang sebagai kemuliaan, dan ujian yang diterima karena perjuangan dipandang sebagai jalan menuju kenikmatan yang abadi.

Persaudaraan Muhajirin dan Anshar

Alangkah butuhnya para aktivis dakwah terhadap pelajaran yang terdapat dalam sirah tentang persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta kecintaan dan itsar yang menghiasi persaudaraan tersebut.

Al-Qur’an mengisahkan:

«“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin), dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(Al-Hasyr: 9)»

Persaudaraan, kecintaan, pengorbanan, dan itsar seperti inilah yang sangat dibutuhkan dalam perjalanan dakwah.

Pelajaran dari Berbagai Peperangan

Dalam berbagai peperangan juga terdapat banyak bekal. Kita dapat melihat keberanian, sikap pantang mundur, pengorbanan, dan kerinduan untuk mati syahid.

Kita juga melihat ketawadhuan Rasulullah Saw. Beliau tidak tertipu dan tidak sombong ketika memperoleh kemenangan.

Dalam Perang Uhud dan Hunain terdapat pelajaran yang sangat berharga. Demikian pula ketika kaum Muslimin berangkat ke medan perang meskipun berada dalam kondisi panas dan tidak menghiraukan orang-orang munafik yang berkata, “Janganlah berangkat pada musim panas.”

Kisah tiga orang yang tertinggal dari Perang Tabuk juga mengandung banyak pelajaran bagi para aktivis dakwah, terutama mengenai kejujuran, kesabaran, penyesalan, dan keteguhan untuk kembali kepada Allah.

Kecintaan kepada Rasulullah dan Ketundukan kepada Wahyu

Dalam sirah kita dapat melihat kecintaan kaum Muslimin kepada Rasulullah Saw. serta kesungguhan mereka dalam meneladani beliau, baik dalam perkara kecil maupun besar.

Kita juga melihat ketundukan mereka terhadap perintah dan larangan yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang disampaikan Rasulullah Saw. Di antaranya terlihat dalam peristiwa turunnya pengharaman khamar dan turunnya perintah yang berkaitan dengan kaum wanita.

Nusaibah Ummu ‘Imarah: Bekal bagi Muslimah

Muslimah juga mendapatkan bekal berharga dari sirah. Salah satu contohnya adalah kisah Nusaibah, Ummu ‘Imarah Al-Anshariyah r.a., dalam Perang Uhud.

Ketika Rasulullah Saw. terluka dan dikepung oleh kaum musyrikin yang hendak membunuhnya, beliau bersama sekelompok kecil kaum Muslimin tetap tegar.

Di antara mereka terdapat Abu Dujanah r.a. yang menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi Rasulullah Saw. dari serangan panah kaum musyrikin.

Ada pula Nusaibah Ummu ‘Imarah yang meninggalkan tugas memberi minum pasukan yang terluka. Ia kemudian turut berperang dengan menggunakan pedang dan panah untuk melindungi Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. bersabda tentang Nusaibah:

«“Saya tidak menoleh ke kanan dan ke kiri pada hari Uhud, melainkan saya melihatnya berperang untuk melindungiku.”»

Pada saat itu, Nusaibah mendapat dua belas luka pada tubuhnya.

Usamah bin Zaid: Bekal bagi Para Pemuda

Para pemuda Muslim dapat mengambil bekal dan memperoleh kepercayaan diri ketika membaca kisah pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid r.a.

Islam membuka kesempatan kepada seseorang untuk menjadi pemimpin apabila ia memang layak untuk itu. Pengangkatan Usamah sebagai panglima pasukan, sementara di dalam pasukan tersebut terdapat tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali r.a., mengandung pelajaran penting.

Peristiwa tersebut menunjukkan kebersihan jiwa dan keluhuran budi yang telah mereka capai melalui hidayah Allah dan tarbiyah yang dilakukan Rasulullah Saw.

Membaca Sirah dengan Penghayatan

Wahai saudaraku, agar engkau memperoleh faedah yang besar dari membaca sirah, bacalah dengan penghayatan, seolah-olah engkau bersama Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam berbagai peristiwa yang mereka hadapi.

Konsekuensinya, kita harus menghadapi berbagai peristiwa dan kondisi pada masa sekarang dengan sikap yang pernah ditunjukkan Rasulullah Saw. dan para sahabat. Seolah-olah mereka hadir di tengah-tengah kita, membimbing kita untuk menapaki jalan dakwah ini.

Dengan cara demikian, sirah tidak berhenti sebagai rangkaian kisah sejarah yang kita baca, tetapi menjadi sumber keteladanan, kekuatan, keteguhan, dan bekal untuk menjalani perjalanan dakwah.

Kerabbanian: Sumber dan Keaslian Konsep Islam «“Katakanlah: Sesungguhnya aku tel...

Kerabbanian: Sumber dan Keaslian Konsep Islam



«“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am [6]: 161)»

Apa yang menjadikan konsep Islam berbeda dari berbagai konsep pemikiran manusia tentang kehidupan?

Apakah sekadar karena Islam memiliki seperangkat keyakinan dan aturan? Ataukah ada sesuatu yang lebih mendasar, yang menjadi sumber bagi seluruh karakteristik Islam?

Jawabannya terletak pada satu karakteristik utama: kerabbanian.

Kerabbanian berarti bahwa konsep Islam bersumber dari Allah SWT. Ia bukan hasil perenungan manusia tentang hakikat Tuhan, alam, manusia, dan hubungan di antara ketiganya. Ia juga bukan hasil khayalan, perasaan, prasangka, atau pengalaman manusia yang kemudian diangkat menjadi keyakinan.

Konsep Islam adalah konsep akidah yang diwahyukan oleh Allah dan bersumber dari-Nya.

Di sinilah letak perbedaan yang sangat mendasar.

Konsep yang Bersumber dari Allah

Manusia sepanjang sejarah selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan besar:

Siapakah Tuhan?

Dari mana alam berasal?

Untuk apa manusia hidup?

Apa hubungan manusia dengan Penciptanya?

Bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut melahirkan berbagai filsafat, kepercayaan, dan sistem pemikiran. Sebagian lahir dari kemampuan intelektual manusia, sebagian dari perasaan dan khayalan, dan sebagian lainnya berkembang dari tradisi keagamaan yang telah mengalami perubahan sepanjang sejarah.

Namun Islam menawarkan sesuatu yang berbeda.

Islam tidak meminta manusia membangun konsep tentang Tuhan hanya berdasarkan keterbatasan akalnya. Islam menerima penjelasan tentang Tuhan, manusia, alam, kehidupan, dan tujuan penciptaan berdasarkan wahyu yang datang dari Sang Pencipta sendiri.

Bukankah Sang Pencipta lebih mengetahui ciptaan-Nya daripada ciptaan itu sendiri?

Karena itu, sumber ilahi menjadi karakteristik pertama dan paling mendasar dari konsep Islam.

Ia adalah konsep rabbani.

Keaslian yang Dijaga

Di sinilah muncul persoalan penting.

Bagaimana dengan agama-agama samawi yang datang sebelum Islam?

Konsep-konsep akidah yang dibawa para nabi terdahulu pada asalnya juga bersumber dari Allah. Namun dalam perjalanan sejarah, sebagian ajaran tersebut mengalami berbagai perubahan, penafsiran, tambahan, dan campur tangan manusia.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada sumber wahyu yang pertama kali diturunkan, melainkan pada proses yang terjadi setelahnya.

Sedangkan Islam memiliki kedudukan yang berbeda. Al-Qur'an sebagai sumber utama konsep Islam dijaga keasliannya.

Allah menegaskan:

«“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(QS. Al-Hijr [15]: 9)»

Apa arti jaminan tersebut?

Artinya, konsep dasar Islam tidak diserahkan kepada manusia untuk dibentuk kembali sesuai dengan perubahan selera, hawa nafsu, atau keterbatasan pengetahuan manusia.

Inilah yang memberikan kepada konsep Islam nilai yang unik: sumbernya ilahi dan pokok ajarannya terjaga.

Konsep Filsafat dan Konsep Keyakinan

Lalu, apa perbedaan antara konsep filsafat dan konsep keyakinan?

Konsep filsafat pada dasarnya tumbuh dalam pikiran manusia. Ia merupakan hasil usaha intelektual manusia untuk memahami wujud, kehidupan, manusia, dan hubungan manusia dengan realitas.

Akal melakukan pengamatan.

Akal menyusun argumentasi.

Akal membangun teori.

Akal kemudian menghasilkan suatu konsep tentang kehidupan.

Namun konsep filsafat tetap berangkat dari kemampuan manusia yang terbatas.

Berbeda dengan konsep keyakinan.

Konsep keyakinan tidak hanya hidup dalam pikiran. Ia masuk ke dalam hati nurani, berinteraksi dengan perasaan, membentuk sikap, dan akhirnya memengaruhi seluruh kehidupan.

Karena itu, keyakinan bukan sekadar teori tentang kehidupan.

Ia adalah hubungan hidup antara manusia dengan wujud dan, lebih khusus lagi, hubungan manusia dengan Pencipta wujud.

Namun Islam memiliki perbedaan yang lebih mendasar lagi.

Jika konsep keyakinan pada umumnya dapat lahir dari pengalaman atau pemikiran manusia, konsep Islam tidak demikian.

Konsep Islam datang dari Allah.

Manusia Tidak Menciptakan Konsep Islam

Jika konsep Islam berasal dari Allah, lalu apa peran manusia?

Manusia tidak menciptakannya.

Manusia menerimanya, memahaminya, mengimaninya, menyesuaikan kehidupannya dengannya, dan menerapkan tuntutannya.

Demikian pula para Rasul.

Rasulullah SAW tidak menciptakan konsep Islam berdasarkan pemikirannya sendiri. Beliau menerima wahyu, kemudian menyampaikannya kepada manusia dengan penuh amanah.

Para Rasul adalah penerima dan penyampai wahyu, bukan pencipta wahyu.

Al-Qur'an menjelaskan:

«“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”
(QS. Asy-Syura [42]: 52)»

Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk bukan hasil penemuan manusia semata.

Allah yang memberikan wahyu.

Allah yang menjadikan wahyu sebagai cahaya.

Dan Allah pula yang memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.

Adapun Rasulullah SAW menyampaikan jalan tersebut kepada manusia.

Karena itu, Al-Qur'an melanjutkan:

«“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
(QS. Asy-Syura [42]: 52–53)»

Rasul Tidak Berbicara atas Hawa Nafsu

Kerabbanian konsep Islam juga menjelaskan kedudukan Rasulullah SAW sebagai penyampai wahyu.

Allah berfirman:

«“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. An-Najm [53]: 1–4)»

Perhatikan penegasan tersebut.

Tidak sesat.

Tidak keliru.

Tidak mengikuti hawa nafsu dalam menyampaikan wahyu.

Mengapa?

Karena yang disampaikan adalah wahyu dari Allah.

Bahkan Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat tegas:

«“Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 44–46)»

Pesan ini sangat jelas: wahyu tidak boleh dicampuradukkan dengan kehendak manusia.

Karena itu Allah juga memerintahkan:

«“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-Ma'idah [5]: 67)»

Tugas Rasul adalah menyampaikan amanah wahyu.

Bukan mengubahnya.

Bukan menambahinya.

Bukan menguranginya.

Bukan pula menjadikannya sebagai produk pemikiran pribadi.

Memberi Petunjuk dan Membuka Hati

Namun ada satu persoalan lagi.

Jika Rasul telah menyampaikan kebenaran, apakah semua orang otomatis akan menerimanya?

Tidak.

Mengapa?

Karena menyampaikan petunjuk berbeda dengan memberikan hidayah ke dalam hati.

Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:

«“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”
(QS. Al-Qashash [28]: 56)»

Rasul menyampaikan.

Manusia mendengar.

Akal mempertimbangkan.

Hati merespons.

Tetapi terbukanya hati kepada hidayah berada dalam kehendak Allah.

Allah juga berfirman:

«“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.”
(QS. Al-An'am [6]: 125)»

Dengan demikian, terdapat perbedaan antara menunjukkan jalan dan membukakan hati untuk menerima jalan tersebut.

Rasulullah SAW menunjukkan jalan.

Allah memberikan hidayah.

Mengapa Kerabbanian Menjadi Keunggulan Konsep Islam?

Sekarang kita dapat melihat mengapa kerabbanian menjadi karakteristik paling mendasar dari konsep Islam.

Jika suatu konsep sepenuhnya merupakan produk manusia, maka ia akan membawa keterbatasan manusia.

Manusia memiliki pengetahuan yang terbatas.

Manusia memiliki pengalaman yang terbatas.

Manusia memiliki kecenderungan dan kepentingan.

Manusia dapat keliru.

Manusia dapat dipengaruhi hawa nafsu.

Karena itu, konsep yang seluruhnya dibangun oleh manusia tidak mungkin terlepas dari keterbatasan manusia.

Lalu bagaimana jika konsep tersebut berasal dari Allah, Zat Yang Mahamengetahui manusia, kehidupan, alam, dan seluruh tujuan penciptaan?

Di sinilah letak keunggulan konsep Islam.

Ia tidak dibangun di atas kebodohan.

Ia tidak bersumber dari keterbatasan manusia.

Ia tidak tunduk kepada hawa nafsu manusia.

Ia datang dari Zat Yang menciptakan manusia dan paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia.

Wahyu dan Fitrah Manusia

Namun apakah konsep yang datang dari Allah itu bertentangan dengan manusia?

Justru sebaliknya.

Karena Allah adalah Pencipta manusia, wahyu-Nya sesuai dengan fitrah manusia.

Bukankah Pencipta lebih mengetahui struktur ciptaan-Nya?

Allah mengetahui kebutuhan jasmani manusia.

Allah mengetahui kebutuhan akal manusia.

Allah mengetahui kebutuhan ruhani manusia.

Allah mengetahui kelemahan dan kekuatan manusia.

Allah mengetahui kecenderungan manusia kepada kebaikan maupun potensi penyimpangannya.

Karena itu, konsep Islam tidak hanya memberikan jawaban untuk pikiran.

Ia juga memberikan arah bagi hati.

Ia tidak hanya berbicara tentang keyakinan.

Ia mengatur kehidupan.

Ia tidak hanya menjelaskan hubungan manusia dengan Allah.

Ia juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama manusia, alam, masyarakat, dan seluruh kehidupan.

Maka konsep Islam bukan sekadar konsep untuk direnungkan.

Ia adalah konsep untuk diimani, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan.

Dari Akidah Menuju Sistem Kehidupan

Jika demikian, apa konsekuensinya?

Konsep rabbani tidak berhenti pada keyakinan dalam hati. Karena sumbernya berasal dari Allah dan ditujukan untuk kehidupan manusia, ia menjadi dasar bagi pembentukan sistem kehidupan.

Akidah melahirkan pandangan hidup.

Pandangan hidup membentuk nilai.

Nilai membentuk perilaku.

Perilaku yang teratur melahirkan kehidupan sosial.

Dengan demikian, kerabbanian bukan sekadar label teologis. Ia merupakan sumber bagi seluruh bangunan Islam.

Dari sinilah kita memahami mengapa Islam mampu menjadi sumber dan tumpuan bagi sistem kehidupan yang menyeluruh.

Ia berangkat dari sumber yang sempurna.

Ia berbicara kepada manusia secara utuh.

Ia sesuai dengan fitrah.

Dan ia memberikan petunjuk bagi berbagai sisi kehidupan.

Maka pertanyaan akhirnya bukan sekadar:

“Dari mana konsep Islam berasal?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Jika konsep ini benar-benar datang dari Allah, bagaimana mungkin manusia yang telah menerimanya kemudian memilih untuk menjalani kehidupan seolah-olah ia adalah penciptanya sendiri?”

Di situlah kerabbanian menuntut konsekuensi.

Jika Allah adalah sumber petunjuk, maka manusia adalah penerima petunjuk.

Jika Allah adalah Pencipta manusia, maka Dia paling mengetahui jalan yang harus ditempuh manusia.

Dan jika jalan itu telah ditunjukkan melalui wahyu, tugas manusia bukan menciptakan jalan baru, melainkan menerima, memahami, menghayati, dan berjalan di atas jalan yang lurus tersebut.

«“Katakanlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am [6]: 161)»

Itulah inti kerabbanian: konsep Islam datang dari Allah, dijaga dalam sumbernya, disampaikan melalui Rasul-Nya, diterima oleh hati yang memperoleh hidayah, dan diwujudkan dalam kehidupan manusia.

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah Kin...

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah

Kini, marilah kita berhenti sejenak pada satu kata yang sangat penting dalam Al-Qur'an: 'ibadah.

Mengapa Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah?

Mengapa para rasul, dari generasi ke generasi, selalu membawa seruan yang sama?

«قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apakah seruan itu hanya berarti: jangan menyembah berhala, jangan sujud kepada patung, jangan mempersembahkan sesaji kepada selain Allah?

Ataukah maknanya jauh lebih luas?

Di sinilah kita perlu kembali kepada makna asli 'ibadah.

Ibadah: Bukan Sekadar Ritual

Kita sering memahami ibadah terutama sebagai aktivitas ritual: salat, puasa, zakat, haji, doa, dan berbagai bentuk penghambaan yang bersifat langsung kepada Allah.

Semua itu memang ibadah.

Tetapi apakah seluruh makna ibadah berhenti di sana?

Tidak.

Secara bahasa, kata 'abada mengandung makna tunduk, patuh, merendahkan diri, dan menghambakan diri. Karena itu, 'ibadah pada hakikatnya menunjuk kepada ketundukan manusia kepada Allah.

Maka pertanyaannya berubah.

Bukan sekadar:

"Kepada siapa kita melakukan ritual?"

Tetapi:

"Kepada siapa kita tunduk?"

Bukan hanya:

"Siapa yang kita sembah di masjid?"

Tetapi:

"Siapa yang kita taati dalam seluruh kehidupan?"

Inilah titik penting yang sering terlewat.

Ketika Al-Qur'an pertama kali turun kepada masyarakat Arab di Makkah, kewajiban ritual Islam belum turun secara lengkap seperti yang kita kenal kemudian. Namun mereka sudah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah.

Lalu apa yang mereka pahami dari seruan itu?

Tentu bukan sekadar ritual.

Mereka memahami bahwa mereka dituntut untuk menundukkan diri kepada Allah dan menolak ketundukan kepada selain-Nya.

Dengan demikian, persoalan tauhid sejak awal bukan hanya persoalan siapa yang disembah secara ritual, tetapi juga siapa yang menjadi tempat ketundukan manusia.

---

Ketika Ibadah Direduksi Menjadi Ritual

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jika ibadah dipersempit hanya menjadi ritual, maka seseorang mungkin berkata:

"Saya tidak menyembah patung. Saya tidak bersujud kepada berhala. Saya tetap salat dan berpuasa. Berarti saya sudah terbebas dari seluruh bentuk kemusyrikan."

Benarkah sesederhana itu?

Bagaimana jika seseorang tidak menyembah patung, tetapi dalam persoalan tertentu ia menempatkan manusia sebagai sumber ketaatan yang lebih tinggi daripada Allah?

Bagaimana jika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi dalam kehidupan nyata ia mengikuti aturan yang bertentangan dengan petunjuk-Nya karena menganggap aturan manusia lebih layak ditaati?

Di sinilah pemahaman tentang ibadah menjadi penting.

Rasulullah saw. memberikan penjelasan yang sangat mendalam ketika menafsirkan firman Allah:

«اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..."
(QS. At-Taubah [9]: 31)»

Ketika 'Adi bin Hatim mempertanyakan hal itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa mereka mengikuti para pemimpin agama tersebut dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Artinya, persoalannya bukan karena mereka melakukan ritual penyembahan kepada para pendeta.

Mereka tidak bersujud kepada para rahib.

Tetapi mereka mengikuti ketetapan mereka dalam persoalan halal dan haram.

Di situlah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa makna ibadah tidak boleh direduksi menjadi ritual semata.

Ritual adalah salah satu bentuk ibadah karena ia merupakan bentuk ketundukan kepada Allah.

Tetapi ibadah memiliki cakupan yang lebih luas daripada ritual.

---

Lalu Apa Persoalan Hud dengan Kaumnya?

Sekarang mari kita kembali kepada kisah Nabi Hud 'alaihis-salam.

Allah mengabadikan seruan beliau:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apa sebenarnya yang diminta Hud dari kaumnya?

Apakah sekadar agar mereka berhenti menyembah patung?

Jika hanya itu, mengapa perjuangan para rasul demikian panjang?

Mengapa dakwah mereka menghadapi penolakan, permusuhan, bahkan penyiksaan?

Mengapa persoalan tauhid menjadi begitu besar dalam sejarah manusia?

Jawabannya karena dakwah para rasul tidak berhenti pada perubahan ritual.

Mereka datang untuk mengubah ketundukan manusia secara menyeluruh.

Mereka menyeru manusia agar tidak menjadikan makhluk sebagai pusat ketaatan yang menggantikan Allah.

Karena itu, seruan:

"Sembahlah Allah!"

pada hakikatnya juga mengandung seruan:

"Tunduklah kepada Allah!"

Dan konsekuensinya:

"Jangan menjadikan selain Allah sebagai tujuan ketundukan mutlak."

---

Kaum 'Ad: Mengapa Mereka Dibinasakan?

Al-Qur'an kemudian menjelaskan keadaan kaum 'Ad:

«"Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran."
(QS. Hûd [11]: 59)»

Perhatikan rangkaian ayat ini.

Mereka mengingkari ayat-ayat Allah.

Mereka mendurhakai rasul-rasul.

Dan mereka mengikuti perintah para penguasa yang sewenang-wenang.

Bukankah ini menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ritual?

Persoalannya adalah siapa yang mereka ikuti dan kepada siapa mereka tunduk.

Karena itu, dakwah Hud bukan hanya:

"Jangan menyembah patung!"

Tetapi:

"Jangan serahkan ketundukan mutlakmu kepada selain Allah."

Inilah yang menjadikan tauhid memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata.

---

Al-Qur'an: Kitab Dakwah Sepanjang Zaman

Namun mengapa kisah Hud diceritakan kepada kita?

Bukankah peristiwa itu telah berlalu ribuan tahun?

Mengapa Al-Qur'an masih mengajak kita berhenti dan merenungkannya?

Karena Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah.

Kisah para rasul merupakan petunjuk bagi perjalanan dakwah sepanjang zaman.

Jahiliyah mungkin berubah bentuk.

Teknologi berubah.

Sistem politik berubah.

Struktur ekonomi berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Tetapi persoalan mendasarnya tetap ada:

Kepada siapa manusia tunduk?

Siapa yang menjadi sumber nilai?

Siapa yang menentukan arah kehidupan?

Siapa yang menjadi tujuan akhir?

Karena itulah dakwah para rasul tetap relevan.

Manusia dapat berpindah dari menyembah patung kepada menyembah kekuasaan.

Dapat berpindah dari tunduk kepada berhala batu kepada tunduk kepada hawa nafsu.

Dapat berpindah dari mengagungkan benda kepada mengagungkan manusia.

Bentuknya berubah.

Tetapi penyakitnya bisa tetap sama:

ketundukan yang diberikan kepada selain Allah.

---

Tauhid Mengubah Seluruh Kehidupan

Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai pengakuan lisan.

Tauhid harus mempunyai konsekuensi dalam kehidupan.

Tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah dalam peribadatan.

Tauhid rububiyyah mengakui Allah sebagai Rabb, Pemilik dan Pengatur.

Dan pengakuan tersebut semestinya membentuk cara manusia memahami kepemimpinan, hukum, nilai, tujuan hidup, dan seluruh manhaj kehidupannya.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar tema teologis yang dibicarakan di ruang kelas atau masjid.

Tauhid adalah pandangan hidup.

Ia menjawab pertanyaan paling mendasar:

Siapa Tuhan kita?

Siapa yang kita sembah?

Siapa yang kita taati?

Dari mana nilai dan petunjuk kehidupan kita?

Ke mana seluruh kehidupan kita diarahkan?

Ketika jawaban atas semua pertanyaan itu kembali kepada Allah, maka tauhid mulai menemukan pengaruhnya dalam kehidupan.

---

Mengapa Para Rasul Berjuang Sedemikian Berat?

Sekarang kita dapat memahami mengapa dakwah tauhid menjadi pusat seluruh kerasulan.

Jika ibadah hanya berarti ritual, mengapa para rasul harus menghadapi perlawanan sedemikian hebat?

Mengapa para penguasa jahiliyah merasa terancam oleh kalimat:

"Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."

Bukankah kalimat itu tampaknya hanya berbicara tentang ibadah?

Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Seruan tauhid berarti membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia.

Ia mengembalikan manusia kepada penghambaan kepada Allah.

Itulah sebabnya tauhid memiliki konsekuensi yang sangat luas.

Ia membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah.

Ia membebaskan akal dari taklid yang membutakan.

Ia membebaskan manusia dari ketundukan mutlak kepada penguasa yang zalim.

Ia membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu.

Dan ia mengarahkan seluruh kehidupan kepada Allah.

Maka perjuangan para rasul bukanlah perjuangan yang sempit.

Ia adalah perjuangan memanusiakan manusia dengan mengembalikannya kepada penghambaan hanya kepada Allah.

---

Dari Jahiliyah Menuju Islam

Menurut kerangka ini, sejarah manusia dapat dilihat sebagai perjalanan antara dua keadaan:

Islam, yaitu ketundukan kepada Allah,

dan jahiliyah, yaitu ketika manusia menyimpang dari ketundukan tersebut.

Adam 'alaihis-salam membawa petunjuk Allah ketika memulai kehidupan manusia di bumi.

Kemudian manusia mengalami penyimpangan.

Datanglah para rasul.

Mereka mengingatkan manusia kembali.

Lalu manusia kembali menyimpang.

Datang lagi para rasul.

Demikianlah perjalanan itu berlangsung dari generasi ke generasi.

Karena itu, dakwah Islam bukan sesuatu yang asing bagi manusia.

Dakwah Islam adalah seruan untuk kembali kepada fitrah ketundukan kepada Allah.

Dan Al-Qur'an datang untuk mengembalikan manusia kepada jalan tersebut.

---

Ibadah sebagai Pembebasan

Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting.

Ibadah bukan sekadar ritual.

Ibadah adalah ketundukan kepada Allah.

Dan penghambaan kepada Allah memiliki konsekuensi: manusia tidak boleh memberikan ketundukan mutlak kepada selain-Nya.

Karena itu, ketika Islam menyeru:

«"Sembahlah Allah!"»

seruan itu sesungguhnya juga mengandung pesan:

"Bebaskan dirimu dari penghambaan kepada selain Allah."

Inilah rahasia mengapa tauhid menjadi inti dakwah seluruh rasul.

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Kitalah yang membutuhkan tauhid.

Kitalah yang membutuhkan kehidupan yang lurus.

Kitalah yang membutuhkan arah.

Kitalah yang membutuhkan standar kebenaran.

Kitalah yang membutuhkan pembebasan dari perbudakan manusia, hawa nafsu, kekuasaan, materi, dan berbagai bentuk penghambaan yang menjauhkan kita dari Allah.

Maka pertanyaan akhirnya bukan hanya:

"Apakah kita sudah melakukan ritual ibadah?"

Tetapi lebih dalam:

"Apakah seluruh kehidupan kita benar-benar tunduk kepada Allah?"

Jika salat kita menghadap Allah, tetapi keputusan hidup kita sepenuhnya tunduk kepada hawa nafsu, apa yang sebenarnya sedang kita sembah?

Jika lisan kita mengucapkan la ilaha illallah, tetapi hati kita menjadikan selain Allah sebagai sumber ketundukan mutlak, apakah kita sudah memahami sepenuhnya makna kalimat itu?

Dan jika tauhid benar-benar telah hidup dalam diri manusia, bukankah ia akan membentuk seluruh kehidupannya?

Ibadah membentuk hati.
Tauhid membentuk arah.
Dan ketundukan kepada Allah membentuk kehidupan.

Itulah sebabnya seruan Hud 'alaihis-salam tetap bergema hingga hari ini:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."»

Bukan sekadar seruan untuk mengubah ritual.

Tetapi seruan untuk mengubah pusat ketundukan manusia:

dari makhluk kepada Al-Khaliq,

dari jahiliyah kepada Islam,

dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah.

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah? Per...

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah?



Pernahkah kita memperhatikan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita?

Ketika seseorang memberikan bantuan kepada kita, meskipun kecil, sering kali kita segera mengucapkan terima kasih. Bahkan kita dapat berkali-kali memuji orang yang telah membantu kita. Kita mengingat kebaikannya dan merasa berutang budi kepadanya.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung nikmat Allah yang kita terima setiap hari?

Bukankah nikmat-Nya jauh lebih besar daripada bantuan manusia kepada kita?

Kita menerima penglihatan, pendengaran, akal, kesehatan, makanan, air, udara, keluarga, keamanan, kesempatan hidup, dan begitu banyak nikmat lainnya tanpa pernah mampu membayarnya. Bahkan kita sering menikmatinya tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah.

Seolah-olah nikmat tersebut adalah hak kita.

Seolah-olah kita memperolehnya semata-mata karena usaha kita sendiri.

Lebih ironis lagi, ada manusia yang menggunakan nikmat Allah justru untuk mendurhakai-Nya.

Bukankah ini sebuah kelalaian?

Bukankah ini bentuk ketidaksyukuran yang sangat besar?

Allah berfirman,

«“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).”
(QS. An-Nahl: 53–55)»

Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.

Ketika mata masih melihat, kita jarang memikirkannya. Ketika pendengaran masih berfungsi, kita tidak banyak merenungkannya. Ketika tubuh sehat, kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa.

Tetapi ketika sakit datang, ketika penglihatan terganggu, ketika pendengaran hilang, atau ketika anggota tubuh tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, barulah kita menyadari betapa mahalnya nikmat yang selama ini kita miliki.

Mengapa harus menunggu kehilangan untuk bersyukur?

Mengapa harus menunggu musibah untuk mengenal karunia Allah?

Allah telah mengingatkan kita,

«“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat).”
(QS. Ibrahim: 34)»

Karena itu, Al-Qur’an mengajak kita bukan sekadar menerima nikmat, tetapi mengenali nikmat, menyadari sumbernya, menghargainya, memuji Allah atasnya, dan menggunakannya untuk menaati-Nya.

Mari kita berhenti sejenak.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita benar-benar mengenal nikmat Allah yang selama ini kita nikmati?

---

Nikmat Terbesar: Nikmat Islam

Mari kita mulai dari nikmat yang paling besar dan paling agung: nikmat Islam.

Allah berfirman,

«“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)»

Allah juga berfirman,

«“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)»

Dan,

«“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)»

Lalu, apakah kita benar-benar menyadari besarnya nikmat Islam?

Sebagian kaum Muslimin mungkin kurang merasakan nilainya karena mereka memperoleh Islam melalui keluarga. Mereka lahir dari orang tua Muslim, tumbuh dalam lingkungan Muslim, mendengar azan sejak kecil, dan mengenal nama Allah sejak masih kanak-kanak.

Karena tidak perlu bersusah payah mendapatkannya, terkadang kita justru tidak menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Padahal nikmat Islam adalah nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat dunia apa pun.

Kehilangan harta adalah musibah.

Kehilangan pekerjaan adalah musibah.

Kehilangan sebagian kesehatan adalah musibah.

Kehilangan orang yang kita cintai adalah musibah.

Tetapi kehilangan agama jauh lebih besar daripada semua itu.

Sebab harta hanya menemani kita di dunia. Sedangkan agama menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Dengan Islam, manusia menemukan arah hidup, mengenal Rabb-nya, mengetahui tujuan penciptaannya, memahami halal dan haram, serta memiliki harapan terhadap kehidupan setelah kematian.

Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa agar musibah terbesar bukanlah musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama.

Maka pantaskah kita hanya bangga karena terlahir sebagai Muslim?

Bukankah kita harus berusaha menjadi Muslim yang benar-benar tunduk kepada Allah, bukan sekadar Muslim karena keturunan dan pengakuan?

Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah:

«“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”
(QS. Al-A’raf: 43)»

Maka jangan hanya berkata, “Saya seorang Muslim.”

Tetapi tanyakan kepada diri:

Apakah nikmat Islam itu telah mengubah cara saya hidup?

Apakah Islam telah menjadi pedoman dalam pikiran, perkataan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kehidupan saya?

---

Mempertahankan Nikmat Islam Sampai Akhir Hayat

Mendapatkan nikmat Islam adalah karunia.

Tetapi mempertahankannya sampai akhir hayat adalah perjuangan.

Allah berfirman,

«“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)»

Perhatikanlah doa Nabi Yusuf a.s.

Setelah Allah memberinya kekuasaan, ilmu, dan kedudukan, beliau tidak meminta agar kekuasaannya bertambah.

Beliau justru memohon keselamatan yang lebih besar:

«“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku dan mengajarkan kepadaku sebagian dari takwil mimpi. Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101)»

Mengapa Nabi Yusuf berdoa demikian?

Karena segala sesuatu pada akhirnya dinilai dari kesudahannya.

Bukan hanya bagaimana kita memulai hidup, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam keadaan apa kita bertemu dengan Allah.

---

Nikmat Ukhuwah

Setelah nikmat Islam, ada nikmat besar lainnya yang sering kita lupakan: ukhuwah karena Allah.

Pernahkah kita merasakan nikmat memiliki saudara yang mencintai kita bukan karena harta, jabatan, keturunan, atau kepentingan dunia, tetapi karena Allah?

Ada orang yang mengingatkan kita ketika kita salah.

Ada yang mendoakan kita ketika kita tidak mengetahuinya.

Ada yang menolong ketika kita kesulitan.

Ada yang menasihati ketika kita mulai menyimpang.

Ada yang ikut bahagia ketika kita mendapatkan kebaikan.

Bukankah semua itu nikmat?

Allah berfirman,

«“Dan (Allah-lah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfal: 63)»

Dan Allah berfirman,

«“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)»

Bayangkan kehidupan tanpa ukhuwah.

Bagaimana rasanya hidup di tengah orang-orang yang hatinya dipenuhi dendam?

Bagaimana rasanya hidup bersama orang yang selalu iri terhadap keberhasilan kita?

Bagaimana rasanya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi kebencian, permusuhan, dan saling menjatuhkan?

Bukankah kehidupan seperti itu sangat melelahkan?

Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mencintai kita karena-Nya, jangan anggap itu sesuatu yang biasa.

Itu nikmat.

Dan nikmat harus disyukuri.

---

Pernahkah Kita Membayangkan Kehilangan Penglihatan?

Sekarang mari kita turun kepada nikmat yang lebih dekat dengan tubuh kita.

Cobalah duduk sendirian sejenak.

Pejamkan mata.

Bayangkan suatu hari penglihatan kita benar-benar hilang.

Dokter mengatakan bahwa penglihatan itu tidak mungkin kembali.

Bagaimana kehidupan kita setelah itu?

Bagaimana kita bekerja?

Bagaimana kita membaca?

Bagaimana kita berjalan?

Bagaimana kita mengenali wajah orang yang kita cintai?

Bagaimana kita menikmati keindahan alam?

Betapa banyak aktivitas yang tiba-tiba menjadi sulit.

Pada saat itu, bukankah kita akan menyadari bahwa penglihatan ternyata jauh lebih berharga daripada harta yang selama ini kita kejar?

Jika seseorang menawarkan pilihan:

“Kamu boleh memiliki harta yang sangat banyak, tetapi kehilangan penglihatanmu, atau mempertahankan penglihatanmu tanpa mendapatkan harta itu.”

Apa yang akan kita pilih?

Bukankah kita akan memilih penglihatan?

Lalu mengapa ketika mata masih sehat, kita gunakan untuk melihat sesuatu yang Allah haramkan?

Mengapa kita baru berjanji untuk taat setelah kehilangan?

Mengapa tidak bersyukur sebelum musibah datang?

---

Bagaimana Jika Pendengaran Pun Hilang?

Sekarang bayangkan sesuatu yang lebih berat.

Penglihatan hilang.

Kemudian pendengaran pun hilang.

Kita tidak dapat melihat dunia dan tidak dapat mendengar suara di sekitar kita.

Betapa sempit rasanya kehidupan.

Betapa besar kebutuhan kita kepada orang lain.

Saat itulah kita mungkin baru menyadari:

Ternyata mendengar adalah nikmat.

Suara anak kita adalah nikmat.

Suara pasangan kita adalah nikmat.

Suara azan adalah nikmat.

Suara Al-Qur’an adalah nikmat.

Suara orang yang memberi nasihat adalah nikmat.

Bukankah selama ini kita sering mendengar semuanya tanpa pernah benar-benar bersyukur?

Karena itu, selama pendengaran masih diberikan, mari kita gunakan untuk mendengar yang halal dan bermanfaat.

Jangan tunggu pendengaran hilang untuk mengetahui nilainya.

---

Bagaimana Jika Suara Kita Pun Hilang?

Sekarang bayangkan suara kita pun tidak dapat digunakan.

Kita ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak mampu mengucapkannya.

Orang lain ingin memahami keinginan kita, tetapi kita kesulitan menyampaikannya.

Betapa beratnya berkomunikasi.

Bukankah kemampuan berbicara adalah nikmat?

Maka selama suara masih ada, mengapa kita gunakan untuk mencela?

Mengapa untuk berdusta?

Mengapa untuk menyakiti?

Mengapa untuk menyebarkan keburukan?

Bukankah lebih pantas jika kita berkata:

“Ya Allah, selama Engkau memberikan suara kepadaku, jadikan lisanku sebagai sarana untuk berkata benar, mengingat-Mu, menasihati dalam kebaikan, dan tidak menyakiti hamba-Mu.”

---

Nikmat Akal

Lalu bagaimana dengan akal?

Ini adalah nikmat yang sangat besar.

Kita dapat berpikir.

Kita dapat memahami.

Kita dapat membedakan yang bermanfaat dan yang berbahaya.

Kita dapat belajar.

Kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.

Kita dapat mengenal tanda-tanda kebesaran Allah.

Cobalah bayangkan jika tubuh kita sehat, mata kita melihat, telinga kita mendengar, tetapi kemampuan berpikir kita hilang.

Kita tidak mampu memahami apa yang terjadi.

Kita tidak mampu mengendalikan tindakan.

Kita tidak mampu berkomunikasi secara normal dengan orang lain.

Bukankah saat itu kita akan menyadari betapa agungnya nikmat akal?

Karena itu, akal jangan digunakan untuk mencari jalan menuju kemurkaan Allah.

Gunakan akal untuk mengenal Allah.

Gunakan untuk memahami wahyu-Nya.

Gunakan untuk mencari ilmu.

Gunakan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan.

Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

---

Tubuh yang Sehat: Nikmat yang Sering Dianggap Biasa

Masih banyak nikmat lain pada tubuh kita.

Tangan.

Jari-jemari.

Kaki.

Telapak kaki.

Saraf.

Jantung.

Paru-paru.

Ginjal.

Lambung.

Dan berbagai organ yang bekerja tanpa pernah kita perintah satu per satu.

Pernahkah kita bertanya:

Siapa yang membuat semuanya bekerja begitu teratur?

Satu gangguan kecil pada sistem tubuh dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis.

Satu saraf yang terganggu dapat menyebabkan kelumpuhan.

Satu organ yang gagal berfungsi dapat membuat seseorang harus menjalani perawatan panjang.

Maka Allah mengingatkan,

«“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
(QS. Al-Infithar: 6–8)»

Lalu mengapa kita masih merasa biasa saja?

Mengapa kita baru menyadari nikmat kesehatan ketika sakit?

Bukankah lebih baik bersyukur ketika sehat daripada menyesal ketika sakit?

---

Air, Udara, Makanan, dan Kehangatan

Tubuh kita membutuhkan makanan.

Membutuhkan air.

Membutuhkan udara.

Membutuhkan suhu yang sesuai.

Semua itu tersedia di sekitar kita.

Tetapi pernahkah kita memikirkan perjalanan sebuah gelas air sampai ke tangan kita?

Air laut menguap.

Uap air naik.

Awan terbentuk.

Angin membawa dan menggerakkannya.

Hujan turun.

Air mengalir melalui tanah, pegunungan, sungai, dan berbagai saluran.

Kemudian air itu sampai kepada kita.

Kita hanya membuka keran.

Air mengalir.

Kita minum.

Selesai.

Tetapi apakah sesederhana itu?

Tidak.

Di balik segelas air terdapat rangkaian proses yang sangat panjang dan berada dalam ketetapan Allah.

Allah berfirman,

«“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya: 30)»

Begitu pula udara.

Kita menghirupnya tanpa membeli.

Kita tidak menghitung setiap tarikan napas.

Kita tidak memikirkan nilainya setiap detik.

Namun jika udara terhenti hanya beberapa saat saja, kita akan menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Maka mengapa kita tidak bersyukur ketika masih dapat bernapas?

---

Nikmat Keluarga

Bagaimana dengan pasangan hidup?

Bagaimana dengan anak-anak?

Bukankah mereka juga nikmat Allah?

Allah mengajarkan doa,

«“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)»

Pasangan yang saleh bukan sekadar teman hidup.

Ia dapat menjadi tempat beristirahatnya jiwa.

Ia dapat menjadi teman dalam ketaatan.

Ia dapat menjadi orang yang mengingatkan ketika kita lalai.

Demikian pula anak.

Anak yang saleh dapat menjadi sumber kebahagiaan dan doa bagi orang tuanya.

Sebaliknya, pasangan atau keturunan yang tidak baik dapat menjadi sumber kesusahan dan fitnah.

Maka jangan hanya meminta keluarga yang membahagiakan kita.

Mintalah kepada Allah agar kita juga menjadi pasangan dan orang tua yang membahagiakan keluarga kita.

Allah berfirman,

«“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)»

---

Sudahkah Kita Berpikir?

Allah berfirman,

«“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagimu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar dalam orbitnya; dan telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 32–34)»

Maha benar Allah.

Kita tidak akan mampu menghitung nikmat-Nya.

Bahkan kemampuan kita untuk menghitung pun merupakan nikmat dari-Nya.

Kita tidak mampu memenuhi seluruh hak syukur kepada-Nya.

Karena itu, bagaimana mungkin kita sombong?

Bagaimana mungkin kita merasa tidak membutuhkan-Nya?

Bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya?

---

Pernahkah Kita Memikirkan Nikmat Malam dan Siang?

Kita terbiasa dengan pergantian siang dan malam.

Pagi datang.

Siang berlalu.

Malam tiba.

Kita tidur.

Kemudian bangun kembali.

Semuanya terasa biasa.

Tetapi bagaimana jika malam tidak pernah berakhir?

Allah berfirman,

«“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan siang kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?’”
(QS. Al-Qashash: 71)»

Allah melanjutkan,

«“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”
(QS. Al-Qashash: 73)»

Tidur pun nikmat.

Bayangkan seseorang ingin tidur, tetapi tidak mampu tidur.

Ia berbaring berjam-jam.

Tubuhnya lelah.

Pikirannya ingin beristirahat.

Tetapi matanya tidak kunjung terpejam.

Saat itu ia akan memahami:

Ternyata tidur adalah nikmat.

Demikian pula bangun.

Demikian pula pagi.

Demikian pula siang.

Demikian pula malam.

Semuanya adalah nikmat Allah.

---

Apakah Engkau Telah Bersyukur?

Sungguh, kita tidak akan mampu menyelesaikan pembicaraan tentang nikmat Allah.

Bagaimana mungkin?

Setiap detik kehidupan kita dipenuhi nikmat.

Ketika bergerak, ada nikmat.

Ketika berbicara, ada nikmat.

Ketika makan, ada nikmat.

Ketika minum, ada nikmat.

Ketika tidur, ada nikmat.

Ketika bangun, ada nikmat.

Ketika melihat, ada nikmat.

Ketika mendengar, ada nikmat.

Ketika mencium, ada nikmat.

Ketika merasakan, ada nikmat.

Bahkan ketika kita mampu mengucapkan “Alhamdulillah”, kemampuan itu sendiri adalah nikmat.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Berapa banyak nikmat yang saya miliki?”

Sebab kita tidak akan mampu menghitungnya.

Pertanyaannya adalah:

“Sudahkah saya menyadari nikmat tersebut?”

“Sudahkah saya bersyukur?”

“Untuk apa saya menggunakan nikmat itu?”

Sebab syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah.

Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridhai.

Mata yang disyukuri adalah mata yang dijaga dari yang haram.

Telinga yang disyukuri adalah telinga yang digunakan untuk mendengar kebenaran.

Lisan yang disyukuri adalah lisan yang berkata baik.

Akal yang disyukuri adalah akal yang digunakan untuk mengenal Allah dan mencari kebenaran.

Harta yang disyukuri adalah harta yang digunakan pada jalan yang halal.

Kesehatan yang disyukuri adalah kesehatan yang digunakan untuk ketaatan.

---

Jangan Mengukur Nikmat Hanya dengan Uang

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap nikmat hanya berupa pendapatan.

Jika gajinya bertambah, ia merasa Allah memuliakannya.

Jika penghasilannya berkurang, ia merasa Allah menghinakannya.

Padahal Allah berfirman,

«“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15–16)»

Benarkah kemuliaan hanya diukur dengan banyaknya harta?

Benarkah kesempitan rezeki selalu berarti kehinaan?

Tidak.

Hidup ini adalah ujian.

Allah berfirman,

«“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)»

Kita diuji dengan kekayaan.

Kita juga diuji dengan kemiskinan.

Kita diuji dengan kesehatan.

Kita juga diuji dengan sakit.

Kita diuji dengan keberhasilan.

Kita juga diuji dengan kegagalan.

Kita diuji dengan kelapangan.

Kita juga diuji dengan kesempitan.

Maka jangan hanya bertanya:

“Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang Allah kehendaki dariku melalui nikmat ini?”

---

Dari Menikmati Nikmat Menuju Mengenal Pemberi Nikmat

Setelah perjalanan panjang ini, semoga kita memperoleh satu bekal penting: ma’rifah terhadap karunia Allah.

Kita mulai menyadari bahwa seluruh kehidupan kita bergantung kepada-Nya.

Kita tidak berdiri sendiri.

Kita tidak hidup dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak bernapas dengan kemampuan kita sendiri.

Kita tidak melihat dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak berpikir dengan kekuatan kita sendiri.

Bahkan kemampuan kita untuk berusaha pun merupakan nikmat Allah.

Lalu, bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk melawan-Nya?

Bagaimana mungkin mata yang Allah berikan digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya?

Bagaimana mungkin telinga yang Allah berikan digunakan untuk mendengar sesuatu yang Dia murkai?

Bagaimana mungkin lisan yang Allah berikan digunakan untuk menyakiti hamba-hamba-Nya?

Bagaimana mungkin harta yang Allah titipkan digunakan untuk sesuatu yang haram?

Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi bencana.

Sebab masalahnya bukan hanya pada apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki.

---

Mari Bertanya kepada Diri Sendiri

Maka sebelum kita mengakhiri renungan ini, mari duduk sejenak bersama diri kita sendiri.

Tanyakanlah:

Sudahkah aku bersyukur atas nikmat Islam?

Sudahkah aku menjaga iman yang Allah karuniakan kepadaku?

Sudahkah aku mensyukuri keluarga yang Allah berikan?

Sudahkah aku mensyukuri kesehatan sebelum kesehatan itu hilang?

Sudahkah aku menggunakan mataku untuk melihat yang halal?

Sudahkah aku menggunakan telingaku untuk mendengar kebaikan?

Sudahkah aku menggunakan lisanku untuk berkata benar?

Sudahkah aku menggunakan akalku untuk mengenal Allah?

Sudahkah aku menggunakan hartaku untuk sesuatu yang diridhai-Nya?

Sudahkah aku mensyukuri waktu yang setiap hari berlalu tanpa pernah kembali?

Dan pertanyaan yang paling penting:

Jika semua nikmat yang sedang kita nikmati hari ini adalah titipan Allah, apakah kita telah menggunakan titipan itu sesuai dengan kehendak Pemiliknya?

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.

Padahal Allah telah memberikan begitu banyak hal yang bahkan tidak pernah kita minta.

Mungkin kita terlalu sibuk mengeluhkan kekurangan.

Padahal ada jutaan nikmat yang setiap hari bekerja dalam tubuh dan kehidupan kita tanpa kita sadari.

Mungkin kita terlalu sering meminta tambahan nikmat.

Padahal kita belum selesai mensyukuri nikmat yang sudah ada.

Maka mulai hari ini, jangan hanya melihat apa yang hilang.

Lihatlah apa yang masih Allah berikan.

Jangan hanya menghitung kekurangan.

Hitunglah karunia.

Jangan menunggu musibah untuk belajar bersyukur.

Bersyukurlah sebelum kehilangan.

Jangan menunggu sakit untuk mengenal nikmat sehat.

Kenalilah kesehatan ketika tubuh masih kuat.

Jangan menunggu kehilangan iman untuk memahami nikmat Islam.

Jagalah iman sebelum ajal datang.

Dan jangan menunggu kehidupan berakhir untuk menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah karunia.

Sebab pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengenali nikmat-Nya, mengakui karunia-Nya, memuji-Nya atas segala pemberian-Nya, serta menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk menaati-Nya.

Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu yang kami terima sebagai sebab kami semakin jauh dari-Mu.

Jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan bagi kami untuk semakin mengenal-Mu, mencintai-Mu, menaati-Mu, dan bersyukur kepada-Mu.

Amin.

Tauhid sebagai Poros Kehidupan Orang yang menelaah seluruh ayat Makkiyyah secara...


Tauhid sebagai Poros Kehidupan


Orang yang menelaah seluruh ayat Makkiyyah secara saksama akan menemukan satu garis besar yang tegas, orisinal, mengakar, dan terus berulang. Garis itu bukan sekadar salah satu tema al-Qur'an, melainkan poros tempat seluruh ajaran agama ini berputar.

Apakah garis itu?

Ia adalah akidah.

Akidahlah yang menjadi pusat seluruh kegiatan agama. Dari sanalah lahir pandangan hidup, ibadah, akhlak, hukum, dan seluruh manhaj rabbani dalam mengatur kehidupan manusia, baik dalam persoalan yang besar maupun yang terperinci.

Karena itu, ketika kita membaca surat Hûd, kita perlu berhenti sejenak di hadapan poros besar tersebut. Mengapa? Karena surat ini memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana al-Qur'an menegakkan tauhid sebagai fondasi kehidupan manusia.

Surat Hûd dan Hakikat Tauhid

Hakikat utama yang menonjol dalam keseluruhan surat Hûd dapat kita lihat sejak mukadimahnya, kemudian dalam kisah-kisah para nabi, hingga pada penutupnya.

Mukadimah surat ini memperkenalkan Kitab yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Kisah-kisah di dalamnya memperlihatkan perjalanan akidah Islam sepanjang sejarah manusia. Adapun bagian penutupnya mengarahkan Rasulullah ﷺ untuk menghadapi orang-orang musyrik dengan mengambil pelajaran dan kesimpulan dari kisah-kisah tersebut.

Jika seluruh rangkaian itu kita renungkan, apa yang sebenarnya menjadi titik temunya?

Ibadah hanya kepada Allah.

Inilah inti yang terus ditegaskan: beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, serta meyakini adanya hisab, pembalasan, pahala, dan siksa berdasarkan ketauhidan tersebut.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar pembahasan tentang siapa yang menciptakan alam. Tauhid adalah persoalan kepada siapa manusia mengarahkan seluruh ibadahnya.

Lalu, bagaimana al-Qur'an menanamkan hakikat sebesar ini ke dalam jiwa manusia?

Di sinilah kita menemukan metode yang sangat menarik.

Mengapa Al-Qur'an Menggunakan Perintah Sekaligus Larangan?

Perhatikan dua bentuk ungkapan berikut.

«قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»

«“Hai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia...”
(QS. Hûd [11]: 50)»

Di sini terdapat perintah:

“Sembahlah Allah.”

Namun perhatikan ayat lainnya:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari-Nya.”
(QS. Hûd [11]: 2)»

Di sini terdapat larangan:

“Jangan menyembah selain Allah.”

Sekilas keduanya tampak sama. Bukankah orang yang diperintahkan menyembah Allah berarti secara otomatis tidak boleh menyembah selain-Nya?

Benar.

Tetapi mengapa al-Qur'an tetap menyebutkan keduanya?

Di sinilah terdapat pelajaran yang sangat dalam.

Perintah untuk menyembah Allah menunjukkan sisi positif tauhid: manusia mengarahkan ibadahnya kepada Allah.

Sedangkan larangan menyembah selain Allah menunjukkan sisi negatif tauhid: manusia harus membersihkan ibadahnya dari segala bentuk kemusyrikan.

Yang pertama menegaskan apa yang harus dilakukan.

Yang kedua menegaskan apa yang harus ditinggalkan.

Yang pertama merupakan makna yang tampak secara eksplisit (manthûq), sedangkan larangan menyembah selain Allah sebenarnya sudah dapat dipahami secara implisit dari perintah menyembah Allah. Namun Allah tidak membiarkan sisi tersebut hanya bergantung pada pemahaman tersirat.

Mengapa?

Karena manusia membutuhkan penegasan.

Manusia Bisa Mengaku Bertauhid, tetapi Tetap Berbuat Syirik

Coba kita renungkan keadaan manusia.

Bukankah seseorang bisa mengatakan, “Saya percaya kepada Allah”?

Bukankah seseorang bisa tetap melakukan ibadah kepada Allah?

Namun pada saat yang sama, bukankah ia bisa mengarahkan sebagian bentuk penghambaan kepada selain Allah?

Di sinilah letak persoalannya.

Manusia bisa merasa dirinya tidak mengingkari Allah, tetapi pada saat yang sama melakukan kemusyrikan.

Karena itu, al-Qur'an tidak hanya mengatakan:

“Sembahlah Allah.”

Tetapi juga menegaskan:

“Jangan menyembah selain Allah.”

Mengapa?

Agar tidak ada ruang bagi jiwa manusia untuk menyelipkan sesuatu yang lain ke dalam pengabdiannya kepada Allah.

Tauhid membutuhkan dua gerakan sekaligus:

mendekat kepada Allah dan menjauh dari selain Allah;

menetapkan ibadah hanya untuk Allah dan menolak ibadah kepada selain-Nya.

Bukankah ini jauh lebih kokoh?

Perintah dan larangan saling menguatkan. Yang satu menetapkan tauhid, sementara yang lain menutup jalan menuju syirik.

Dengan cara inilah al-Qur'an menjaga hakikat tauhid dari berbagai bentuk penyimpangan yang mungkin muncul dalam kehidupan manusia.

Pola yang Berulang dalam Al-Qur'an

Pola ini bukan hanya terdapat dalam surat Hûd. Ia muncul berulang kali dalam al-Qur'an.

Allah berfirman:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 2)»

Kemudian dalam kisah Nabi Nuh:

«أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ»

«“Agar kamu tidak menyembah selain Allah.”
(QS. Hûd [11]: 26)»

Dalam kisah Nabi Hûd:

«اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ»

«“Sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.”
(QS. Hûd [11]: 50)»

Allah juga berfirman:

«لَا تَتَّخِذُوا إِلَٰهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ»

«“Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dia hanyalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.”
(QS. an-Nahl [16]: 51)»

Demikian pula ketika al-Qur'an berbicara tentang Nabi Ibrahim:

«وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

«“Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.”
(QS. Âli ‘Imrân [3]: 67)»

Dan Nabi Ibrahim sendiri berkata:

«وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ»

«“Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
(QS. al-An‘âm [6]: 79)»

Perhatikan polanya.

Tauhid ditegaskan dengan menetapkan dan menafikan.

Menyembah Allah.

Tidak menyembah selain Allah.

Mengakui keesaan-Nya.

Menolak segala bentuk kemusyrikan.

Mengapa Penegasan Ini Begitu Penting?

Sekarang mari kita bertanya lebih dalam.

Mengapa Allah mengulang pola ini dalam berbagai tempat?

Apakah pengulangan itu sekadar pengulangan bahasa?

Tentu tidak.

Di dalamnya terdapat pengetahuan yang sempurna tentang tabiat manusia.

Manusia membutuhkan ungkapan yang jelas. Ia mudah terjebak dalam kesamaran. Ia bisa memahami suatu prinsip secara umum, tetapi kemudian memberikan pengecualian dalam praktik.

Ia bisa berkata:

“Saya beriman kepada Allah.”

Tetapi kemudian muncul pertanyaan:

Apakah seluruh ibadah benar-benar hanya ditujukan kepada Allah?

Ia bisa berkata:

“Saya menyembah Allah.”

Tetapi:

Apakah ia juga menggantungkan penghambaan, ketundukan, rasa takut, harapan, doa, atau bentuk ibadah lainnya kepada selain Allah?

Di sinilah pentingnya penegasan al-Qur'an.

Tauhid tidak boleh dibiarkan berada dalam wilayah yang samar. Ia harus dinyatakan dengan terang.

Allah disembah. Selain Allah tidak disembah.

Tidak cukup hanya mengatakan:

“Allah adalah Tuhan saya.”

Tetapi harus dilanjutkan dengan konsekuensinya:

“Karena itu, hanya Allah yang berhak menerima seluruh ibadah.”

Tauhid: Menetapkan dan Membersihkan

Dengan demikian, tauhid memiliki dua sisi yang tidak boleh dipisahkan.

Pertama, itsbât—menetapkan bahwa ibadah hanya untuk Allah.

Kedua, nafy—menolak seluruh bentuk ibadah kepada selain Allah.

Keduanya seperti dua sisi dari satu kesatuan.

Jika hanya menetapkan tanpa menolak, seseorang bisa mengakui Allah tetapi masih mencampurkan ibadah kepada selain-Nya.

Jika hanya menolak tanpa menetapkan, seseorang memang meninggalkan berbagai sesembahan, tetapi belum tentu mengarahkan ibadahnya kepada Allah.

Karena itu tauhid yang sempurna mengandung keduanya:

“Hanya kepada Allah aku beribadah, dan kepada selain Allah aku tidak beribadah.”

Inilah kekuatan metode al-Qur'an.

Ia tidak hanya menunjukkan jalan menuju Allah, tetapi sekaligus memperingatkan manusia terhadap jalan-jalan yang menjauhkannya dari Allah.

Ia tidak hanya membangun.

Ia juga membersihkan.

Ia tidak hanya menetapkan.

Ia juga menolak.

Dan bukankah kehidupan manusia memang membutuhkan keduanya?

Kita bukan hanya membutuhkan sesuatu yang harus dilakukan, tetapi juga sesuatu yang harus ditinggalkan.

Ketelitian Ilahi dalam Menjaga Tauhid

Pada akhirnya, metode al-Qur'an dalam mengungkapkan hakikat tauhid menunjukkan ketelitian yang luar biasa.

Allah mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Allah mengetahui bagaimana manusia berpikir, bagaimana manusia mudah terjebak dalam kesamaran, dan bagaimana manusia dapat mencampurkan kebenaran dengan kebatilan.

Karena itu, hakikat tauhid disampaikan dengan ungkapan yang tegas, berulang, dan dari berbagai sisi.

Perintahnya jelas.

Larangan-Nya jelas.

Yang disembah jelas.

Yang tidak boleh disembah juga jelas.

Seakan-akan al-Qur'an mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri:

Siapa yang sebenarnya menjadi tujuan seluruh ibadahku?

Kepada siapa aku berdoa?

Kepada siapa aku menggantungkan pengharapan tertinggi?

Kepada siapa ketundukan mutlak itu diberikan?

Dan akhirnya:

Apakah pengakuanku kepada Allah sebagai Tuhan benar-benar telah dibuktikan dengan memurnikan seluruh ibadah hanya kepada-Nya?

Di sinilah kita memahami mengapa tauhid menjadi poros seluruh dakwah para nabi.

Ia bukan sekadar teori tentang keesaan Tuhan.

Ia adalah perubahan arah kehidupan manusia.

Dari menyembah banyak kepada menyembah Yang Esa.

Dari bergantung kepada makhluk menuju bergantung kepada Allah.

Dari tunduk kepada berbagai sesembahan menuju ketundukan hanya kepada Rabb semesta alam.

Maka tepatlah bahwa dalam metode al-Qur'an terlihat ketelitian, kesengajaan, dan hikmah yang sempurna.

Allah paling mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Dan hanya milik Allah hikmah yang sempurna.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (25) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (24) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (340) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (60) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (116) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (306) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (734) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (7) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (334) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)