Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan Islam hari ini membutuhkan jamaah para juru dakwah yang memiliki pandangan...
Juru Dakwah: Penyambung Misi Masa Lalu dan Masa Depan
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan peng...
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang
Tarbiyah yang Penuh Kasih Sayang
Seorang juru dakwah tidak akan mampu teguh di atas jalan kebenaran, apalagi meningkatkan pengorbanan dan mendahulukan saudaranya, kecuali bila dalam dirinya telah sempurna makna kemerdekaan dan kesetiaan. Di atas semua itu, ia menjaga kasih sayang dan afiliasi sebagai fondasi hubungan.
Kasih sayang inilah mustika akhlak dan kesucian yang harus dijaga terlebih dahulu, sebelum syarat ilmu pengetahuan dan kemampuan kepemimpinan. Sebab tarbiyah bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi pembentukan jiwa.
Di kalangan para juru dakwah, ketaatan bukanlah sikap buta, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keteladanan. Karena itu, mereka menyeleksi setiap calon pemimpin pertama-tama dari sisi kesucian jiwa dan ketinggian kepribadian, sebelum menimbang kemampuan teknis, pengalaman organisasi, atau kecakapan politik.
Seorang penyair menggambarkan hal ini:
“Para juru dakwah akan berpaling kepada pemimpin keselamatan—
bersih jiwanya dan bersih akhlaknya.
Jiwa seperti itu akan ditaati oleh jiwa-jiwa lain,
bahkan sebelum dibaiat dengan ikatan kesetiaan yang paling kuat.”
Akhlak dan pengalaman memang sama-sama dibutuhkan. Namun, ukuran pengutamaan dalam tradisi tarbiyah berbeda dengan tradisi politik. Yang didahulukan dan diakhirkan bukan semata karena kecakapan, tetapi karena ketakwaan.
Para juru dakwah memahami bahwa akhlak adalah wujud nyata dari takwa, dan takwa adalah pintu kesadaran. Dengan takwa, seorang hamba yang sederhana mampu belajar, terbuka terhadap kebenaran, dan memperoleh ilham yang lurus. Dari sinilah terbentuk pribadi yang utuh dan seimbang.
Kesempurnaan akhlak melahirkan jiwa yang merdeka—jiwa yang setia kepada para pendidik yang telah membinanya, bukan karena ikatan formal, tetapi karena ikatan hati dan nilai. Ini bukan ungkapan sesaat, sebagaimana dikatakan:
“Sesungguhnya para juru dakwah itu telah menyuapkan pikiran kepadamu,
mereka membawa petunjuk bagi timur dan barat.
Engkau hidup dalam ketulusan mereka,
betapa indah hidupmu selama mereka masih mengasuhmu.”
Al-Qur’an sendiri mengajarkan pentingnya penghormatan kepada pendidik melalui perintah agar kaum Muslimin memuliakan Rasulullah ﷺ, tidak menyamakan panggilan kepada beliau dengan panggilan kepada sesama manusia:
“Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nūr [24]: 63)
Ayat ini menegaskan bahwa hati seorang Muslim harus dipenuhi rasa hormat kepada Rasulullah ﷺ agar ia mampu memahami, menerima, dan menghargai setiap arahan beliau. Prinsip ini menjadi dasar dalam tarbiyah: penghormatan adalah syarat tumbuhnya pengaruh dan keberkahan.
Karena itu, seorang juru dakwah perlu memiliki kharisma, dan seorang pemimpin atau panglima harus memiliki wibawa. Ada perbedaan jelas antara rendah hati dan lemah lembut, dengan sikap yang menghapus jarak kehormatan antara pendidik dan yang dididik.
Bagaimanapun, seorang pendidik harus menempati posisi yang mulia di hati murid-muridnya. Dari sanalah arahan akan diterima dengan lapang, dan pelanggaran batas akan terasa sebagai sesuatu yang memalukan, bukan karena tekanan, tetapi karena adab.
Namun, kehormatan ini tidak boleh melahirkan kesombongan. Jangan pernah berkata, “Dia hanyalah anak didikku,” atau “Dia tidak pernah membinaku.” Bisa jadi, pada suatu hari, seseorang pernah memberi kita nasihat yang menyelamatkan kita dari kekeliruan besar.
Betapa banyak orang yang baru mengenal dakwah hari ini, tetapi Allah alirkan melalui dirinya semangat, kejujuran, atau dorongan kebaikan yang menguatkan langkah kita. Semua itu adalah bentuk tarbiyah—dan setiap tarbiyah menuntut balasan berupa kasih sayang, bukan perendahan.
Di sinilah tarbiyah menemukan ruhnya: kasih sayang yang melahirkan ketaatan, adab yang melahirkan pengaruh, dan kemerdekaan jiwa yang melahirkan kesetiaan.
Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terh...
Kasih Sayang dan Jalinan Hubungan Dakwah
Sikap adil dan proporsional adalah pintu awal bagi pengenalan diri dan pengenalan terhadap orang lain. Dari sanalah seseorang belajar menempatkan diri, membaca situasi, dan memahami makna hubungan. Sebab sejatinya, seorang mukmin adalah seorang mujahid. Dan seorang mujahid tidak menerima kehinaan. Ia menolak tunduk pada kerendahan, lalu bangkit untuk bergerak.
Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada semangat perlawanan semata. Seorang yang merdeka memiliki prinsip, karakter, dan keluhuran sikap. Inilah langkah awal—bukan keseluruhan jalan—menuju kemuliaan.
Di antara tanda kemerdekaan jiwa adalah sikapnya dalam membalas kebaikan. Ketika seseorang membalas kebaikan orang lain dengan tulus, ia sesungguhnya sedang melepaskan salah satu bentuk perbudakan: perbudakan ego, gengsi, dan kepentingan diri. Ia tidak lagi terikat oleh rasa ingin unggul, ingin dipuji, atau ingin menang sendiri.
Makna inilah yang ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i ketika berkata:
“Orang merdeka adalah orang yang memelihara kasih sayang walau hanya sesaat. Atau, ia memilih menjalin hubungan dengan orang yang pernah memberinya sepatah kata yang bermanfaat.”
Kasih sayang, dalam pandangan ini, bukan emosi sesaat dan bukan pula basa-basi hubungan. Ia adalah pilihan sadar untuk menjaga ikatan kebaikan, meski tipis dan sederhana. Bahkan, sepatah kata yang memberi manfaat cukup menjadi alasan bagi seorang yang merdeka untuk memelihara hubungan.
Dakwah telah mengajarkan makna kasih sayang secara utuh—bukan sekadar sebagai istilah, tetapi sebagai sikap hidup. Kasih sayang adalah keikhlasan, penjagaan hubungan, dan kesediaan menjauh dari fitnah-fitnah yang selalu mengintai relasi manusia. Orang yang berjiwa merdeka akan menjaga kasih sayangnya, tulus di dalamnya, dan tidak menjadikannya alat kepentingan.
Sebaliknya, ketika seseorang mengorbankan kemerdekaan jiwanya demi kepentingan diri, maka nilai dirinya akan mengikuti pilihan itu. Ia mungkin tampak bebas secara lahir, tetapi sejatinya terbelenggu oleh ambisi, rasa iri, dan kepentingan dunia.
Seseorang yang benar-benar selamat dari fitnah tidak akan terus-menerus hidup di dalamnya. Namun, orang yang malas secara ruhani sering kali memutus hubungan, meninggalkan sahabat, dan mengganti lingkaran pergaulan hanya karena ketidakmampuan menjaga makna kemerdekaan. Ia mudah kecewa, mudah berpaling, dan mudah membuang hubungan—bukan karena kebenaran, tetapi karena ia telah mengenakan “pakaian perbudakan dunia”.
Pada titik inilah, kasih sayang menjadi ujian kemerdekaan. Apakah ia dijaga, atau dikorbankan. Apakah hubungan dirawat dengan kesadaran, atau diputus oleh hawa nafsu. Di situlah nilai diri seseorang ditimbang—bukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia pelihara dalam jiwanya.
Jamaah Satu Hati Rasulullah ﷺ menggambarkan satu keadaan yang sangat agung tentang sebuah jamaah beriman: > “Tidak ada pertik...
Jamaah Satu Hati
Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu “Tinggalkan setiap hawa nafsu yang diberi nama selain Islam.” Kalima...
Pintu Hikmah dan Hidayah Hanya bagi yang Menolak Hawa Nafsu
Titik Tolak Dakwah untuk Para Pelanjut Kembalilah ke titik tolak dakwah. Bukan untuk berbicara kepada mereka yang berpaling, tet...
Titik Tolak Dakwah untuk Para Pelanjut
Marilah Duduk Sesaat Seorang juru dakwah yang beriman tidak pernah berjalan di jalan yang sunyi dari tarikan. Ia selalu berada ...
Marilah Duduk Sesaat
Marilah Duduk Sesaat
Seorang juru dakwah yang beriman tidak pernah berjalan di jalan yang sunyi dari tarikan. Ia selalu berada di antara dua arus yang saling menarik jiwanya.
Di satu sisi, ada tarikan iman: niat yang jernih, semangat yang menyala, dan rasa tanggung jawab yang menuntunnya untuk beramal saleh serta bersegera dalam kebaikan. Tarikan ini mengajaknya bangkit, bergerak, dan memberi.
Namun di sisi lain, ada tarikan setan yang halus dan menipu. Dunia ditampakkan indah, kemalasan diberi wajah kenikmatan, angan-angan dipanjangkan tanpa ujung. Maka muncullah cinta dunia, kelalaian, kebiasaan menunda, kesenangan berkhayal, serta keengganan untuk mempelajari apa yang belum diketahui.
Keterombang-ambingan di antara dua tarikan ini bukanlah hal baru. Ia adalah kondisi yang senantiasa menyertai perjalanan manusia beriman, sejak dahulu hingga hari ini. Tidak ada yang benar-benar aman darinya.
Karena itulah, orang-orang mukmin diwajibkan untuk terus berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk berpikir. Bukan untuk melemah, tetapi untuk mengoreksi diri. Mereka diperintahkan untuk saling menasihati, merenungkan keadaan jiwa, dan menimbang ulang arah langkahnya.
Jangan-jangan hati telah disusupi kesombongan yang samar. Jangan-jangan semangat telah berubah menjadi ambisi. Jangan-jangan ilmu tercemari bid‘ah, atau perintah dan petunjuk Allah mulai diabaikan tanpa disadari.
Kepekaan semacam inilah yang diterjemahkan Mu‘adz bin Jabal dengan sebuah kalimat sederhana, namun mengguncang kesadaran. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya,
“Marilah kita duduk untuk beriman sesaat.”
Kalimat itu bukan ajakan untuk berhenti dari amal, melainkan undangan untuk menghidupkan kembali iman di tengah kesibukan.
Ucapan itu kemudian dihidupkan kembali oleh Ibnu Rawahah. Ia menggenggam tangan Abu Darda seraya berkata,
“Marilah kita beriman sesaat. Sesungguhnya hati itu berbolak-balik lebih cepat daripada air mendidih di dalam periuk.”
Dua kalimat ini diwariskan lintas generasi, bukan sekadar sebagai kata-kata, tetapi sebagai metode menjaga jiwa. Sebagai pengingat bahwa iman pun perlu dijaga, dirawat, dan diperbarui.
Maka kami pun mengambil kalimat itu dari mereka berdua, menjadikannya nasihat dalam memahami dakwah dan perjalanan para penyerunya.
Dengan kalimat itu pula kami menyeru setiap juru dakwah: duduklah sesaat. Ambillah waktu untuk merenung, memperbarui iman, dan mengoreksi diri—ilmu, niat, dan semangat. Sebab dakwah yang terus berjalan tanpa jeda perenungan, perlahan akan kehilangan kejernihan arah.
Keterusterangan dan Kesucian Dakwah Kami ingin berterus terang kepada manusia tentang tujuan dakwah. Kami ingin mengungkapkan ma...
Keterusterangan dan Kesucian Dakwah
Paling Banyak Dibaca
-
Bukan Muslim, Tapi Rakyatnya Minta Dinaungi Kekhalifahan Islam
-
Risalah Al-Matsurat Hasan Al Banna dan Syeikh Hasan Asy-Syadzali
-
Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani
-
Saad bin Abi Waqqash, Aktor Interaksi Awal Islam dan Tiongkok
-
Kilas Balik Sejarah, Bisakah Palestina Dihapus dari Peta Dunia?
-
Pengaruh Islam dalam Penamaan Pulau di Nusantara
-
Manuskrip Nusantara Beraksara Arab Melayu di Eropa, Bukti Tingginya Peradaban Islam dan Kemakmurannya
Cari Artikel Ketik Lalu Enter
Artikel Lainnya
- ► 2021 (1014)
- ► 2022 (604)
- ► 2023 (330)
- ► 2024 (825)
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif