basmalah Pictures, Images and Photos
09/02/26 - Our Islamic Story

Perlawanan Ilmuwan dan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hu...



Perlawanan Ilmuwan dan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel


Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hukum internasional oleh Israel.

Di sini hanya disebutkan dua contoh yang telah diteriaki dengan keras, sebagaimana yang direnungkan oleh jutaan orang Yahudi, tetapi tanpa kekuasaan untuk mengungkapkannya di depan umum akibat inkuisisi intelektual yang dilancarkan oleh lobi israelo-Zionis. Pada saat dilangsungkan proses pengadilan terhadap Eichman pada tahun 1960 di Jerusalem, American Council for Judaism menyatakan,

"Dewan Judaisme Amerika telah mengirimkan surat kepada Christian Herter supaya menolak pemerintah Israel untuk berbicara atas nama seluruh orang Yahudi.

Dewan menyatakan bahwa Judaisme adalah masalah keagamaan, bukan kewarganegaraan." (Le Monde, 21 Juni 1960)

Saat berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv, pada tanggal 8 Juni 1982, menulis kepada Profesor Vidal-Naquet,

"Saya menulis surat untuk Anda sambil mendengarkan radio yang baru saja mengumumkan bahwa negara kita baru saja mencapai tujuan kita di Lebanon: menjamin 'perdamaian' terhadap penduduk Galilea. Kebohongan yang setara dengan Goebbels ini membuat saya gila. Jelas bahwa perang liar ini lebih barbar dari yang sebelumnya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan serangan bom di London ataupun dengan keamanan di Galilea. Orang-orang Yahudi, putra Abraham. Orang-orang Yahudi sendiri yang merupakan korban dari banyak kekejaman, dapatkah mereka menjadi sekejam itu? Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi.

Kawanku, lakukan sesuatu untuk mencegah Begin dan Sharon supaya tidak mencapai tujuan ganda: penghancuran final (kata-kata yang sangat populer di sini saat ini) orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia." (Surat yang di-publikasikan dalam harian Le Monde, 19 Juni 1982, hlm. 2)

"Profesor Leibowitz menilai bahwa politik Israel di Lebanon termasuk Judeo-Nazi." (Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)

Itulah masalah yang timbul dari pertarungan antara keimanan Yahudi yang berdasarkan tradisi kenabian dan nasionalisme Zionis, yang didirikan atas dasar penolakan terhadap yang lain dan penyucian diri sendiri.

Semua nasionalisme membutuhkan penyucian terhadap tuntutan-tuntutannya: setelah terjadi dislokasi agama Kristen, setiap negara menganggap telah menerima warisan suci dan telah menerima pelantikan dari Tuhan.

Prancis adalah "Putri Sulung Gereja (Vatican)" yang dilengkapi dengan aksi Tuhan (Gesta Dei per Francos). Jerman berada "di atas semuanya" karena Tuhan bersamanya (Gott mit uns). Eva Peron memproklamirkan bahwa misi Argentina adalah membawa Tuhan ke bumi.

Pada tahun 1972, Perdana Menteri Afrika Selatan, Vorster, yang terkenal dengan rasisme liar "apartheid", pada gilirannya berkata, "Jangan kita lupa bahwa kita adalah rakyat Tuhan yang dibekali dengan satu misi...." Nasionalisme Zionis juga berbagi kemabukan ini dengan seluruh nasionalisme lainnya.

Orang yang cerdas sekalipun membiarkan dirinya tergoda oleh "kemabukan" ini.

Bahkan, orang yang seperti Profesor André Neher sekalipun, dalam bukunya yang indah, L'Essence du Prophétisme Esensi Kenabian', terbitan Calmann-Levi, 1992, hlm. 331, setelah menjelaskan dengan baik arti universal dari "Persekutuan":  Persekutuan Tuhan dengan manusia, ia, sampai menulis,

 "Israel adalah sebuah tanda luar biasa dari sejarah Ilahiah di dunia. Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." (hlm. 311)

Pembicaraan yang demikian membangkitkan dengan marah "mitos Arya yang ideologinya adalah dasar dari Pan-Germanisme dan Hitlerisme. Dalam jalur ini, kita berada di antipoda dari ajaran nabi-nabi dan dari buku tulisan Martin Buber, Je et Tu 'Saya dan Kamu', yang mengesankan.

Eksklusivisme melarang dialog: kita tidak dapat "berdialog", baik dengan Hitler maupun Begin, karena superioritas rasial dan persekutuannya dengan Tuhan, tidak memungkinkan mereka mendengar orang lain.

Hal ini karena kami mempunyai kesadaran bahwa pada masa kini tidak ada pilihan lain kecuali dialog atau perang, dan bahwa dialog seperti apa yang telah kami ulang-ulangi, bahwa setiap orang memiliki kesadaran terhadap apa yang kurang pada keimanannya, dan setiap orang membutuhkan orang lain untuk melengkapi apa yang kosong dalam dirinya. Kekosongan ini merupakan kondisi yang melampaui segalanya dan dari segala nafsu yang cepat puas (yang merupakan nyawa dari segala keimanan hidup).

Antologi kami mengenai kejahatan yang dilakukan orang Zionis, terletak dalam perpanjangan usaha-usaha dari orang-orang Yahudi yang telah berupaya untuk membela satu Judaisme kenabian melawan satu Zionisme kesukuan.

Apa yang menjadi sumber energi antisemitisme bukan berasal dari kritik politik agresi, politik kebohongan, ataupun darah Zionisme Israel.

Akan tetapi dukungan tak bersyarat atas politik ini yang mengambil beberapa hal saja dari tradisi Judaisme berdasarkan interpretasi harfiah kitab suci, dalam rangka menjustifikasikan politik ini dan mengangkatnya di atas segala hukum inter nasional dengan cara mengkeramatkannya melalui mitos-mitos kemarin dan mari ini.

Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel  ...


Perang Lebanon 1982: Lahirnya Perlawanan yang Lebih Kuat Terhadap Zionisme Israel 

Pada 6 Juni 1982, Israel meluncurkan invasi militer masif ke Lebanon dengan kode puitis "Operasi Perdamaian untuk Galilea." Nama tersebut membawa janji pasifikasi yang menggiurkan bagi publik Israel yang lelah akan teror: sebuah intervensi singkat untuk mendorong mundur gerilyawan Palestina sejauh 40 kilometer demi menjamin "40 tahun perdamaian."

Namun operasi ini adalah studi kasus klasik tentang bagaimana sebuah fait accompli militer dapat menyeret sebuah negara ke dalam quagmire atau rawa politik yang tak berujung.

Diskrepansi antara retorika perdamaian dan realitas eskalasi ini segera terungkap. Apa yang dipromosikan sebagai operasi terbatas dengan cepat bermutasi menjadi invasi penuh yang mengepung Beirut, memicu konfrontasi udara terbesar di era jet, dan pada akhirnya mengubah peta konflik Timur Tengah selamanya.

Di balik narasi heroik dan debu pertempuran, tersimpan realitas-realitas tajam yang sering kali terabaikan oleh sejarah arus utama.


Tragedi Logika: Menghukum PLO atas Dosa Musuh Bebuyutannya

Setiap perang besar membutuhkan pretext atau alasan pembenaran. Dalam kasus ini, pemicunya adalah upaya pembunuhan Shlomo Argov, Duta Besar Israel untuk Inggris, di London.

Secara politik, pemerintah Menachem Begin segera menuding Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Namun, sejarah intelijen mengungkapkan sebuah ironi yang gelap: serangan itu dilakukan oleh kelompok Abu Nidal—faksi radikal yang merupakan musuh bebuyutan Yasser Arafat.

Faktanya, intelijen Inggris melaporkan bahwa para pemimpin PLO sendiri berada dalam "daftar target" Abu Nidal. Menyerang PLO atas tindakan Abu Nidal adalah sebuah paradoks logika yang disengaja. 

Menteri Pertahanan Ariel Sharon menggunakan insiden ini sebagai "percikan yang menyulut sumbu" untuk mengaktifkan rencana "Big Pines"—sebuah rencana invasi luas hingga jalan raya Beirut-Damaskus yang sebelumnya sempat ditolak oleh kabinet karena dianggap terlalu ambisius.

Sharon memanipulasi situasi sedemikian rupa sehingga operasi yang seolah-olah terbatas berkembang menjadi perang total untuk menghancurkan infrastruktur politik Palestina.

"Serangan itu hanyalah percikan yang menyulut sumbu." — Ariel Sharon


Superioritas Teknologi: Ketika Bekaa Mengguncang Tirai Besi

Di medan tempur, Perang Lebanon 1982 menjadi ajang unjuk gigi supremasi teknologi Barat yang secara tak terduga berkontribusi pada keruntuhan mental blok Soviet.

Melalui Operation Mole Cricket 19, Angkatan Udara Israel (IAF) melakukan penghancuran sistematis terhadap 29 baterai rudal SAM Suriah di Lembah Bekaa menggunakan teknik electronic warfare (perang elektronik) yang canggih untuk mengacaukan radar musuh.

Dunia menyaksikan pertempuran udara terbesar di era jet, melibatkan lebih dari 150 pesawat tempur. Hasilnya sangat timpang: IAF menjatuhkan antara 82 hingga 86 jet tempur Suriah tanpa kehilangan satu pun pesawat di udara.

Di darat, tank Merkava Israel memulai debutnya dengan klaim keunggulan atas T-72 buatan Soviet. Meski analis militer mencatat bahwa T-72 Suriah sempat memberikan perlawanan tangguh dan menghentikan laju Israel di Rashaya, kekalahan total teknologi pertahanan udara Soviet di Bekaa sangat mengguncang Moskow.

Mantan komandan IAF David Ivri mencatat bahwa dominasi teknologi ini menjadi faktor krusial yang mengubah pola pikir pemimpin Uni Soviet, mendorong kebijakan Glasnost, dan mempercepat berakhirnya Perang Dingin.


Bumerang Strategis: Vakum Kekuasaan dan Ekspor Revolusi Iran

Salah satu hukum besi geopolitik adalah bahwa intervensi militer sering kali menghasilkan konsekuensi yang tidak disengaja. Tujuan utama Israel adalah mengusir PLO dari Lebanon, dan secara taktis, mereka berhasil.

Namun, pengusiran Arafat ke Tunisia menciptakan kekosongan kekuasaan di wilayah Lebanon Selatan yang mayoritas penduduknya adalah Syiah.

Kekosongan ini segera diisi oleh kekuatan baru yang jauh lebih ideologis dan tangguh. Pada Juli 1982, Pasdaran (Garda Revolusi Iran) tiba di Lembah Bekaa untuk memberikan pelatihan gerilya, pendanaan, dan doktrin militer. Dari rahim pendudukan ini, lahirlah Hizbullah.

 Jika PLO adalah musuh nasionalis sekuler yang relatif bisa diprediksi, Hizbullah adalah entitas Islamis yang menggunakan taktik perang asimetris dan bom bunuh diri—seperti yang terlihat dalam kehancuran markas besar IDF di Tyre.

Invasi ini secara tidak sengaja justru mengimpor revolusi Iran ke depan pintu utara Israel, menciptakan musuh bebuyutan yang hingga kini tetap menjadi tantangan strategis terbesar mereka.


Retaknya Konsensus: Suara dari Pinggir Jurang Maut

Perang 1982 adalah titik balik di mana konsensus nasional Israel mengenai "perang demi keberlangsungan" mulai retak. 

Sejak awal, oposisi di Knesset telah memperingatkan bahaya dari ambisi Sharon. Anggota Knesset Meir Vilner dari partai Hadash menyatakan dengan pahit bahwa pemerintah sedang membawa Israel menuju "jurang maut" yang akan menimbulkan penyesalan bagi generasi mendatang.

Kekecewaan publik mencapai puncaknya setelah pembantaian warga sipil di kamp Sabra dan Shatila oleh milisi Phalangis Kristen di bawah pengawasan posisi-posisi tentara Israel. 

Tragedi ini memicu "Rally 400.000" di Tel Aviv, sebuah demonstrasi masif yang menuntut tanggung jawab moral. Investigasi oleh Komisi Kahan akhirnya menyimpulkan bahwa Ariel Sharon memikul "tanggung jawab pribadi" karena gagal mencegah pembantaian tersebut, yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai Menteri Pertahanan.

Perang ini mengubah lanskap sosial Israel, menciptakan pembelahan tajam antara kelompok militeris dan gerakan perdamaian yang bertahan hingga dekade-dekade berikutnya.


Runtuhnya Arsitektur Politik: Akhir Ambisi Aliansi Maronit

Strategi jangka panjang Israel di Lebanon sangat bergantung pada satu sosok: Bachir Gemayel, pemimpin milisi Maronit yang pro-Israel.

Rencana besar Sharon adalah memasang Gemayel sebagai Presiden Lebanon untuk kemudian menandatangani perjanjian damai formal dan mengusir pengaruh Suriah. 

Namun, arsitektur politik yang dipaksakan melalui kekuatan senjata ini terbukti sangat rapuh.

Hanya beberapa hari setelah terpilih sebagai Presiden, Gemayel terbunuh dalam sebuah ledakan bom pada September 1982. Kematiannya menghancurkan seluruh rencana strategis Israel.

Meskipun Perjanjian 17 Mei 1983 sempat ditandatangani untuk mengakhiri status perang, dokumen tersebut akhirnya dibatalkan oleh pemerintah Lebanon di bawah tekanan berat dari Suriah.

Israel gagal menanamkan pemimpin boneka, dan Lebanon justru jatuh ke dalam pengaruh rezim Assad yang lebih dalam daripada sebelumnya.


Perang Lebanon 1982 berakhir dengan catatan korban yang mengerikan: 19.085 tewas dan lebih dari 30.000 luka-luka. Angka-angka ini menjadi saksi bisu atas kegagalan mengubah kemenangan taktis menjadi perdamaian strategis.

Operasi yang dijanjikan selesai dalam hitungan hari justru menyeret Israel dalam pendudukan selama 18 tahun, hingga penarikan terakhir pada tahun 2000.

Sejarah ini meninggalkan pertanyaan reflektif yang tetap relevan di era modern: Apakah keamanan sebuah bangsa benar-benar bisa dibeli dengan invasi ke kedaulatan tetangganya?

Dan ketika sebuah kekuatan militer mencoba mendikte realitas politik melalui senjata, apakah mereka sedang membangun perdamaian, atau justru sedang menanam benih-benih konflik yang lebih berdarah bagi generasi mendatang?

Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari ...


Palestina dan Berdirinya Kesultanan Cirebon dalam Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari


Hubungan mendalam antara Indonesia dan Palestina ternyata telah mengakar kuat dalam literatur sejarah tradisional nusantara jauh sebelum era modern. Melalui naskah kuno seperti Babad Cirebon dan Purwaka Caruban Nagari, terungkap silsilah Sunan Gunung Jati yang diyakini memiliki garis keturunan dari wilayah tersebut. 

Selain itu, Sunan Kudus secara simbolis menghadirkan nuansa Baitul Maqdis di Jawa Tengah dengan mendirikan Masjid Al-Aqsa dan mengganti nama wilayahnya menjadi Al-Quds. 

Berbagai catatan sejarah ini menunjukkan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina didasarkan pada ikatan emosional, spiritual, dan budaya yang sangat panjang. 

Cerita rakyat ini tidak hanya mempererat hubungan keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan identitas Palestina ke dalam memori kolektif masyarakat lokal melalui akulturasi arsitektur dan sejarah kerajaan.


Hubungan emosional dan solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina memiliki akar sejarah yang sangat dalam, bahkan jauh sebelum berdirinya negara Indonesia modern. 

Kedekatan ini terekam dalam berbagai literatur historiografi tradisional (seperti Babad, Hikayat, dan Sajarah) yang mengaitkan tokoh-tokoh penyebar Islam di Jawa (Walisongo) dengan tanah Palestina atau Baitul Maqdis. 

Hal ini terbukti melalui naskah kuno Cirebon yang menghubungkan silsilah Sunan Gunung Jati dengan wilayah "Filistin" (Palestina).

Hubungan emosional ini tampak semakin kuat di Jawa Tengah melalui Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), yang secara sengaja menghadirkan "Yerusalem di Tanah Jawa dengan mengganti nama wilayah Tajug menjadi Kudus (Al-Quds), mendirikan Masjid Al-Aqsa, dan menamai bukit di sekitarnya sebagai Gunung Muria.

Melalui pendekatan akulturasi arsitektur yang sangat toleran, Sunan Kudus menjadikan simbol-simbol Palestina sebagai sarana dakwah yang damai dan meresap dalam ingatan bangsa.

Hari-hari ini, kita menyaksikan genosida yang terjadi di Palestina. Suara-suara solidaritas dan pembelaan menggaung dari segala penjuru dunia, tak terkecuali bangsa Indonesia. Tentu sebagian orang ada yang bertanya, sejak kapan bangsa yang terpisah ribuan kilometer, dapat merasakan sedekat ini? Jika menilik pada sejarah negeri ini, kedekatan masyarakat Kepulauan Melayu-Indonesia dengan Palestina dapat ditelusuri jauh sebelum hadirnya Indonesia.

Hal tersebut dapat ditelusuri dalam beberapa literatur sejarah tradisional yang menyebutkan negeri Palestina nun jauh di negeri Syam.

Kita dapat melihat kedekatan hubungan Indonesia dan Palestina masa silam dalam cerita-cerita rakyat yang meresap di hati sebagian besar masyarakat tradisional kita. Kedekatan tersebut bahkan mewujud dalan keindahan sebuah kota di pesisir Jawa Tengah bernama Kudus. Bagaiman ceritanya?

Catatan historiografi tradisional seperti Sajarah, Hikayat, atau Babad sudah menyebut istilah-istilah dan cerita tentang Palestina, Isra Mi'raj, dan Bani Israil bahkan negeri Syam.

Salah satunya terdapat dalam naskah "Purwaka Caruban Nagari", salah satu historiografi tradisional yang ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon, putra kedua dari Sultan Sepuh Cirebon tahun 1720 berdasarkan beberapa naskah kuno tentang sejarah Cirebon.

Mengenai Purwaka Caruban Nagari, H.A. Dasuki (1978) dalam pengantarnya menyebut naskah ini sebagai salah satu naskah babad Cirebon yang paling tua usianya.

"Yang menarik dari naskah ini ialah cara penulisannya yang lebih objektif dibanding dengan naskah-naskah lainnya yang kadang-kadang penuh alegoris, sehingga naskah ini patut digolongkan dalam kategori babad- historiografis. "

Naskah ini bercerita tentang berdirinya Kesultanan Cirebon, dimulai dari masuk Islamnya putra seorang Ratu (raja) di Tatar Sunda yang bernama Prabu Siliwangi yang menikah dengan Nyai Subang Larang. 

Mereka memperoleh tiga putra, yaitu Raden Walangsungsang, adiknya Nhay Lara Santang dan yang bungsu adalah Raja Senggara. Raden Walangsungsang dan Nhay Lara Santang belajar agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi di daerah Cirebon sekarang, dan diperintahkan untuk menunaikan rukun Islam ke-5 yaitu Haji ke Baitullah.

 "Hai anakku, cobalah kalian sempurnakan sarengat Islam, yaitu pergi haji ke Baitullah di negeri Mekah," pesan gurunya itu.

Di Makkah inilah, para penulis cerita Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon maupun Purwaka Caruban Nagari atau Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) mengisahkan pernikahan Nyai Lara Santhang dengan Sultan Mesir dan "Bani Israil" yang menguasai "Palestina" sehingga melahirkan putranya yang kelak dikenal dengan nama Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, salah satu Walisongo penyebar Islam di Tatar Sunda, pendiri Kerajaan Cirebon.

Dalam Purwaka Caruban Nagari yang diterjemahkan HA Dasuki (1978) dikisahkan:

"Nyi Lara Santang menikah dengan Maulana Sultan yang
dikenal dengan gelar Syarief Abdullah putra Nurul Aliss dari suku Bani Hasyim, keturunan nabi Ismail. Dahulu memerintah di kota Ismailiyah, juga memerintah Bani Israil di Palestina yang termasuk kekuasaannya. Daerat daerah itu semuanya takluk di bawah pemerintah negar Mesir. Kemudian Nhay Lara Santang diberi nama Syarife Mudaim sedang kakaknya diberi nama Haji Abdullah Iman Kemudian mereka kembali ke Mekah."

Dalam versi bahasa aslinya, bahasa Cirebon, tampak istilah 'Filistin muncul dalam naskah tua ini, yang diterjemahkan sebagai Palestina.

"Ing Waluhrama ika Talana Sultan Mahmud kang sinebut yugang Syarief Abdullah anak ira Nurul Aliem. Saking Hasyim wangsanira, witan ikang sakheng Bani Ismail ikakang rumuhun amagehi Ismailiyah kitha nira kang yugang amagehi Bani Israil kang haneng "Filistin" mandalanyı kawilang kakawasan nira."

Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Penanggung Jawab Sejarah Cirebon dan Staf Keprabonan Lemahwungkung Cirebon dalam Purwaka Caruban Nagari (1972) menuliskan cerita yang relatif sama, tetapi disebutkan nama Sultannya, yaitu Sultan Machmud.

"Di Mekah Nhay Lara Santang mendapat jodoh dengan Maulana Sultan Machmud alias Sjarif Abdullah, seorang putra dari Nurul Alim, dari bangsa Hasyim, berasal dari Bani Ismail yang pada masanya memerintah di ibu kota Ismailiyah (Mesir) pada memerintah Bani Isroil Palestina yang pada waktu itu berada dalam lingkungan kedaulatan Mesir."

Sedangkan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang diteliti oleh Atja (1986), kisah serupa dengan istilah Pilistin (Palestina).

Istilah seperti "Palestina" dan "Bani Israil" rupanya sudah melekat dalam cerita rakyat masyarakat Indonesia di masa silam, khususnya masyarakat Sunda.

Dalam Perjuangan Wali Sanga Babad Cirebon (Pasundan), H Mahmud Rais dan A. Sayidil Anam menulis kisah yang relatif mirip, hanya saja Sultan Mesir namanya menjadi Sultan Iskak-bahkan Syarif Hidayatullah sempat memerintah di negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina).

"Syahdan di Negeri Bani Israil ada seorang Sultan namanya Sultan Iskak gelarnya Sultan HUT. Isterinya telah meninggal dunia sejak beberapa lama dan belum mendapatkan gantinya. Pada suatu malam kebetulan malam Jumat ketika beliau istikharah tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang mengatakan," Hai Iskak, carilah jodohmu di Mekah yang berasal dari Jawa..."

"Syahdan Akhirnya Somadullah dengan Rara Santang telah tiba di Mekah pada malam Jumat tanggal 25 Rajab."

"...Sultan Iskak menyuruh Ki Penghulu Bani Israil, pernikahan terjadi di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil'."

"Syarif Hidayatullah kembali ke negeri Bani Israil... Hal ini terdengar dari luar daerah bahwa di Kerajaan Bani Israil ada perubahan besar mengenai ketatanegaraan. Akhirnya, Bani Israil mendapat kemajuan yang luar biasa berkat pimpinan Syarif Hidayatullah seorang cakap dan bijaksana."

Dari kisah tersebut, tampak sang penulis naskah menuliskan bahwa pernikahan anak Prabu Siliwangi ini terjadi pada Bulan Rajab, bulan terjadinya peristiwa Isra Mi'raj dalam ajaran Islam, dan ditulis pelaksanaa pernikahannya di Negeri Bani Israil di Keraton Bani Israil. Tak hanya itu, Syarif Hidayatullah dikisahkan sempat memerintah Negeri Bani Israil (Mesir dan Palestina) dan memimpin dengan cakap dan bijaksana. Cerita semacam ini mengisyaratkan bahwa penulis naskah berusaha mengaitkan pendiri kerajaan Cirebon dengan kisah-kisah terkait Palestina.



Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (25) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (24) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (340) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (60) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (116) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (307) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (736) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (7) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (334) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)