basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Nusantara

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Syeikh Yusuf Al-Makasari Role Model Afsel Melawan Genosida  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Basis keislaman masyarakat Banten dibentu...

Syeikh Yusuf Al-Makasari Role Model Afsel Melawan Genosida 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Basis keislaman masyarakat Banten dibentuk oleh Wali Songo angkatan pertama dari Palestina, yaitu Maulana Hasanuddin dan Aliyuddin yang ditugaskan ke Banten oleh Maulana Malik Ibrahim sebagai ketua Walisongo pertama, saat baru tiba di Nusantara. Dalam perkembangan, Banten berubah menjadi kesultanan Banten pada puncak kejayaannya dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa dengan penasihatnya Syekh Yusuf Al-Makasari. Mereka berjihad melawan Belanda hingga sang sultan tertangkap dan Syeikh Yusuf Al-Makasari dibuang ke Srilanka.

Pengasingan Syeikh Yusuf Al-Makasari di Srilangka tidak menyurutkan  perlawanan di Nusantara. Para jamaah haji Nusantara yang berlabuh dan singgah semantara waktu di Srilanka saat pergi dan pulang dalam menunaikan ibadah Haji, memanfaatkannya untuk belajar, mendengarkan wejangan, menulis dan menyebarkan risalah perjuangan Syeikh Yusuf Al-Makasari ke Nusantara. Nusantara terus bergolak. Belanda mengendusnya. Maka Syeikh Yusuf Al-Makasari diasingkan ke Tanjung Harapan atau Afrika Selatan saat ini.

Syeikh Yusuf Al-Makasari dijauhkan dari perlawanan terhadap penjajah di Nusantara oleh Belanda. Namun ilmu, nasihat, ajaran dan risalahnya tetap menjadi ruh perjuangan yang tak pernah berhenti. Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf Al-Makasari bergaul dengan para budak dan tawanan. Selama 5 tahun di Afrika Selatan, beliau mendidik mereka dengan keimanan kepada Allah. Dari sinilah lahir jiwa-jiwa merdeka yang hanya tunduk kepada sang Pencipta Alam Semesta. Jiwa yang melawan terhadap segala bentuk penindasan terhadap sesama manusia. Suasana kejiwaan ini terserap oleh Nelson Mandela, pejuang Apartheid, yang kelak menjadi Presiden Afrika Selatan.

Nelson Mandela mengalami apa yang dialami oleh Syeikh Yusuf Al-Makasari. Dipenjara dan diasingkan karena perjuangan melawan penjajah kulit putih. Kekuatan jiwa Nelson Mandela dalam berjuang terinspirasi dari Syeikh Yusuf Al-Makasari. Bahkan secara tegas Nelson Mandela menyatakan bahwa Syeikh Yusuf Al-Makasari menjadi role modelnya dalam melawan penjajah apartheid. Maka, dari pemerintah Afrika Selatan ia juga diberi gelar pahlawan pada 23 September 2005. “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik” oleh mantan Presiden Nelson Mandela. Apakah perjuangan melawan penjajah apartheid hanya sampai terusirnya rezim kolonial apartheid dari Afrika Selatan? Jiwa-jiwa merdeka yang disentuh oleh Syeikh Yusuf Al-Makasari terus bergema di Afrika Selatan.

Afrika Selatan menyatakan sikapnya terhadap Palestina yang dijajah oleh Zionis Israel. Simpati Afrika Selatan terhadap perjuangan Palestina untuk negara merdeka sudah ada sejak mendiang ikon anti-apartheid Nelson Mandela. Pernyataannya yang terkenal pada tahun 1997, tiga tahun setelah ia menjadi presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negara tersebut setelah berpuluh-puluh tahun berjuang melawan kekuasaan minoritas kulit putih: "Kami tahu betul bahwa kebebasan kami tidak lengkap tanpa kebebasan rakyat Palestina."

Bila Syeikh Yusuf Al-Makasari menjadi inspirasi perjuangan anti apartheid di Afrika Selatan. Maka Palestina menjadi Sahabat perjuangannya. Selama perjuangan melawan pemerintahan minoritas kulit putih, Kongres Rakyat Afrika (ANC) mengembangkan hubungaan dengan Yasser Arafat dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). PLO membantu dengan dukungan material dan moral dan memandang satu sama lain sebagai sesama gerakan pembebasan.

Beberapa bulan setelah mengundurkan diri sebagai presiden pada tahun 1999, Nelson Mandela mengunjungi pemimpin Palestina Yasser Arafat di Gaza. Arafat adalah salah satu pemimpin pertama yang ditemui Mandela setelah dibebaskan dari penjara pada 11 Februari 1990. Mendiang pemimpin PLO ini termasuk di antara sekelompok pemimpin negara tetangga Afrika Selatan yang membantu perjuangan melawan apartheid. Mandela bertemu Arafat  di Zambia hanya dua minggu setelah pembebasannya dari 27 tahun penjara.

Sekarang, setelah 7 Oktober 2023, saat dua puluh ribuan rakyat Palestina dibantai oleh penjajah Israel. Afrika Selatan merasakan yang pernah terjadi pada negri dan bangsanya. Afrika Selatan menarik duta besarnya dari pendudukan Israel dan menuntut Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) bertindak tegas terhadap Tel Aviv. Presidennya memimpin demonstrasi atas praktek apartheid dan genosida oleh penjajah Israel. Tidak hanya itu, Afrika Selatan pun membawa penjajah Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag Belanda pada 29 Desember 2023 atas praktek genosidanya di Gaza yang melanggar Konvensi Genosida 1948.

Afrika Selatan ingin membuktikan bahwa penjajah ingin memusnahkan Palestina. Langkah ini semakin menambah tekanan dunia internasional terhadap penjajah Israel. Penguasa penjajah dan Amerika memandang serius langkah Afrika Selatan ini. Sebab, akan memojokkan penjajah Israel yang dahulunya dipersepsikan dari sebagai korban, menjadi pelaku nyata genosida. Begitu pun Amerika, akan menjadi negara adi daya yang mendukung penuh genosida dengan bantuan militer, dana dan diplomasinya.

Manajemen Berkebun, Belajar Dari Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati dan  Muria Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Perjalanan ziarah ke s...

Manajemen Berkebun, Belajar Dari Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati dan  Muria

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Perjalanan ziarah ke sembilan Walisongo, terutama dari Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria, memberikan banyak pelajaran tentang berkebun di sawah yang kering karena kemarau dan dataran tinggi yang cukup terjal. Tanah yang terjal antara 50-70 derajat ternyata dapat dimanfaatkan tanpa menimbulkan erosi dan kerusakan tanah.

Perjalanan melalui tol dari makam Sunan Gunung Jati menuju makam Syekh Jumadil Kubro di Semarang, telihat pemandangan unik di tanah sawah yang kering kerontang sepanjang tol. Beberapa sawah yang sebelumnya padi, namun menghadapi kemaru diubah menjadi tanaman pisang. Di saat tanaman lain mengering, pohon pisang masih terlihat hijau.

Walaupun musim kemarau cukup menghambat pertumbuhan buahnya, namun bila hujan sebentar saja, buah pisang akan cepat tumbuh. Di bawah pohon pisang terlihat sejumlah pohon lainnya yang terjaga dari sengatan sinar matahari karena tertutupi daun pisang. Setiap musim harus diantisipasi dengan menanam pohon tertentu agar tanah terus produktif.

Dari makam Syeikh Al Kubro, menuju Sunan Kudus lalu melanjutkan ke Sunan Muria. Udara yang sejuk dan dingin. Jalan yang mulai berkelok dan menanjak, mewarnai perjalanan ke makam Sunan Muria. Dari jendela bus, banyak perkarangan rumah yang ditumbuhi pohon Alpukat dan Petai. Semakin ke atas semakin banyak yang tumbuh.

Semakin ke atas, semakin banyak terlihat kebun milik warga yang cukup luas yang ditanami pohon Alpukat lalu petai. Ketika sampai di terminal bus, dilanjutkan perjalanan ke makam Sunan Muria dengan naik ojek yang medannya berkelok dan cukup terjal. Sang pengendara ojek melaju dengan kecepatan yang cukup  tinggi, yang membuat was-was bagi yang baru pertama kali ke lokasi makam Sunan Muria.

Di sepanjang jalur ojek yang terjal dan naik, di sepanjang perjalanan, dipenuhi pohon Alpukat yang cukup besar dengan buahnya yang cukup lebat. Dataran yang tinggi dan terjal, diolah tanahnya tanpa sedikitpun terlihat erosi oleh air. Konsep terasering yang mungil memanjang dan dibawah pohon Alpukat yang dipenuhi pohon kopi, membuat tanah dataran tinggi disekitar Sunan Muria terjaga sumber airnya dan terhindar erosi.

Perjalanan dari Sunan Gunung Jati ke Sunan Muria banyak memberikan pencerahan tentang konsep berkebun. Mengelola tanaman yang cocok di musim kemarau. Manajemen tanah dan tumbuhan di dataran tinggi yang terjal tanpa menimbulkan erosi dan tetap menjaga sumber air.

Mitos dan Legenda Dakwah Walisongo Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ada berita duka dari negri Andalusia pada 1492 Masehi bagi seluru...

Mitos dan Legenda Dakwah Walisongo

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ada berita duka dari negri Andalusia pada 1492 Masehi bagi seluruh Muslimin di dunia. Negri Islam yang dibebaskan pada 898 Masehi oleh Thariq bin Ziyad runtuh. Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabel dari Castila bersatu menghancurkan Andalusia. Kaum Muslimin dibantai terusir dari negrinya setelah 600 tahun berdiri kokoh. Namun ada berita yang lebih membahagiakan itu semua. Apakah itu?

Di Nusantara umumnya, khususnya di tanah Jawa, para Walisongo berhasil mengislamkan Jawa serta mendirikan Kesultanan Demak. Tidak itu saja, pengaruhnya hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Bersama kesulitan ada kemudahan. Dalam berita buruk ada berita baik.

Menurut Ibnu Batutah, pengembara muslim,  kerajaan Pasai itu seperti negri Andalusia. Oleh sebab itulah pulau tempat berdirinya kesultanan Pasai diberi nama Andalas, sekarang disebut Sumatera. Andalusia dan Nusantara mana yang lebih berharga? Bukankah seluruh bangsa mencari bahan barang dagangan internasional dari Nusantara bukan Andalusia?

Menurut Sir Thomas Arnold dalam bukunya Preaching of Islam mengatakan bahwa hancurnya kekuasaan Islam di Andalusia atau Spanyol, berganti dengan tersebarnya Islam dengan megah dan berkembang terus ke Indonesia, mulai dari Aceh lalu menjalar ke daerah yang lain. Peran para ulama dan saudagar. Untuk tanah Jawa adalah para Walisongo.

Dakwah Walisongo sangat berkesan,  mendalam dan sangat luas pengaruhnya. Tidak saja di ranah kekuasaan, tetapi juga pada setiap jiwa semua kalangan masyarakat hingga level terbawah. Diterima dengan kerelaan, kesadaran dan keyakinan yang mendalam. Apa buktinya? Mitos, dongeng dan legenda tentang Walisongo.

Mitos, legenda dan dongeng para Walisongo tidak lahir begitu saja, tetapi lahir dari kenyataan yang dilihat, pengalaman bersama mereka dalam kurun waktu yang panjang sejak kedatangannya tahun 1404 Masehi. Pesannya selalu didengar, dijaga dan dipatuhi. Kisah-kisahnya terus disambung dari satu generasi ke generasi lainnya.

Menurut Buya Hamka dalam bukunya Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam, banyaknya variasi legenda tentang masuknya Islam di Indonesia membuktikan pengaruh pribadi, dengan bekerja sendiri, tidak dengan paksaan, tampak menjalar di seluruh Indonesia. Mereka ulama tapi pengaruh dan kemuliaannya melampaui para raja. Oleh sebab itu mereka digelari Sunan. Mereka diberi gelar bukan saat masih hidup, tetapi setelah wafatnya.

Aksi Bela Palestina di Monas, Ungkapan Perasaan Indonesia pada Dunia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menunggu Kereta Komuter Line di...

Aksi Bela Palestina di Monas, Ungkapan Perasaan Indonesia pada Dunia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Menunggu Kereta Komuter Line di sebuah Stasiun Kereta dari arah Bogor menuju Monas yang hari ini, 5 Nopember 2023, digelar Aksi Bela Palestina. Di dekat stasiun tersebut ada sebuah Mushalla yang sedang mengadakan pengajian rutin ibu-ibu. Dari suaranya terdengar suara yang sudah cukup sepuh dari sang ustadzah. Ada yang sangat menarik, saat pengajian tersebut akan dimulai. Yaitu, kepedulian terhadap Palestina.

Layaknya Majelis Taklim lainnya, sebelum dimulai pengajian, sang ustadzah mengirimkan doa dengan membaca surat Al-Fatihah untuk para guru, leluhur dan kerabat yang sudah wafat. Juga memohon dihindarkan dari segala bencana. Setelah itu, terdengar ajakan untuk mengirimkan doa untuk rakyat Palestina.

Dari kerasnya speaker, sang ustadzah berkata, "Mari ibu-ibu! kita mengirimkan surat Al-Fatihah untuk mereka yang terluka dan mendoakan mereka yang syahid. Semoga yang terluka segera disembuhkan oleh Allah." Ini sebuah fenomena yang luar biasa. Kesadaran akan Palestina telah membumi, tak hanya dikalangan tertentu dan terbatas saja.

Sabtu 4 Nopember 2023, dikaki Gunung Halimun Sukabumi, seorang ibu pun membicarakan perihal penderitaan ibu dan anak Palestina yang dibombardir dengan kejam oleh penjajah Israel. Artinya, kesadaran Palestina sudah menembus ke pedesaan. Kota dan desa, telah terbangun kesadaran ini. Setelah kesadaran, apa tingkat selanjutnya? Keberpihakan.

Setiap peringatan Isra Miraj, yang dibahas tidak sekedar sejarah shalat dan kisah perjalanan Rasulullah saw saja, tetapi tentang kondisi bahwa Masjidil Aqsha sedang dijajah oleh Israel. Kesadaran ini terus dibumikan setiap tahunnya. Tema Isra Miraj telah diupgrade dari ritual ibadah ke ruh perjuangan.

Penjajah Israel, Barat dan  Amerika, mencoba menghapus Palestina. Namun kesadaran sejarah tentang Palestina terus membumi dan membahana. Keberpihakan terus dipompa. Inilah awal gerakan perjuangan dan pengorbanan. Bila seperti ini, bisakah Palestina dihilangkan? Bukankah cara menghilangkan sesuatu dimulai dari menghilangkan kesadaran  akan sejarahnya dulu?

Tiba di Monas, massa Aksi Palestina membludak. Area Monas tak bisa dimasuki lagi oleh Massa. Para Menteri, terutama Mentri Luar Negri hadir. Ketua DPR, jajaran MPR dan DPD hadir. Jajaran Eksekutif dan Legislatif hadir bersama. Mantan Wakil Presiden Yusuf Kalla juga hadir. Ini Aksi Bela Palestina yang luar biasa dari sudut gaung diplomasi internasional. Inilah Aksi Bela Palestina  yang seluruh komponen bangsa bergerak bersama. Ini mewakili perasaan Indonesia di mata dunia.

Tasawuf Al-Ghazali Inspirasi Strategi Dakwah Walisongo Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menurut Buya Hamka, ulama penyiar Islam yang ...

Tasawuf Al-Ghazali Inspirasi Strategi Dakwah Walisongo

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menurut Buya Hamka, ulama penyiar Islam yang datang ke tanah Jawa, yang dikenal dengan Walisongo, sebagian besarnya merupakan guru-guru Tasawuf, yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan politiknya. Ini teridentifikasi dari panggilannya yaitu Sunan.

Tasawuf yang masuk ke Indonesia, menurut Buya Hamka, sejalan dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. Khususnya Mazhab Syafii. Dalam sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia, pengaruh al-Ghazali-asy-Syafii lebih besar daripada pengaruh al-Hallaj. Lalu, bagaimana dengan tasawufnya Walisongo?

Bila merujuk pada kitab-kitab yang ditulis oleh para Walisongo yaitu Primbon Bonang (Het Boek Van Bonang) karya Sunan Bonang dan Kropak Jawa (Kropak Ferrara) karya Maulana Malik Ibrahim, terlihat jelas bahwa rujukan utama kedua kitab tersebut adalah Ihya  Ulumuddin dan Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali. Juga, Quth Qulub karya Abu Thalib al-Makki yang merupakan guru dari imam Al-Ghazali juga.

Kropak Ferrara karya Maulana Malik Ibrahim, memuat naskah yang judulnya sama dengan risalah Imam al-Ghazali, Bidayat al-Hidayah (Menjelang Hidayah). Tetapi versi Maulana Malik Ibrahim adalah ringkasan dan tak semua yang diajarkan Imam al-Ghazali dikemukakan. Isinya berupa marifat, hakikat manusia, Tuhan, Surga, etika kehidupan dan beragama.

Mengapa rujukan Walisongo cendrung pada tasawufnya Imam Al-Ghazali? Menurut Azyumardi Azra, Imam Al-Ghazali mampu membuat rekonsiliasi hingga memadukan ahl al-syariah (fukaha) dan ahl al-haqiqah (sufi) sekaligus. Menurut Buya Hamka, tasawufnya Al-Ghazali memadukan rasa keindahan dan cinta dengan bimbingan syariat Nabi Muhammad yang tidak boleh berubah-ubah.

Tasawuf Al-Ghazali telah menimbulkan seni yang hidup dalam Islam. Karena seni adalah tiruan dari keindahan, dan sumber keindahan adalah Allah yang terlihat jejak-jejaknya di alam semesta ini. Keindahan ini hanya bisa dirasakan oleh mereka yang bermarifat kepada Allah.

Tasawuf Al-Ghazali memberikan inspirasi luas biasa bagi strategi dakwah Walisongo. Ini tercermin dari sikap Sunan Ampel, Ketua Walisongo, yang mengutamakan senjata bathin yang lebih tajam daripada kekerasan senjata. Saat Sunan Ampel akan wafat seluruh Walisongo dinasehati agar dakwah Walisongo dilakukan dengan sabar, jangan ada paksaan dan jangan ada pertumpahan darah. Oleh sebab itulah, jalur dakwah Walisongo lebih banyak melalui jalur kultural, sedangkan  jalur senjata hanya ditujukan kepada para penjajah saja.

Sumber:
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
Buya Hamka, Perkembangan dan Pemurnian Tasawuf, Penerbit Republika
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Wafi Publishing
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad ke 17 dan 18, Kencana 

Jalinan Keturunan dan Kekerabatan Walisongo dengan Para Raja di Tanah Jawa  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Para Walisongo dipanggil...

Jalinan Keturunan dan Kekerabatan Walisongo dengan Para Raja di Tanah Jawa 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Para Walisongo dipanggil dengan sebutan Sunan. Menurut Buya Hamka, Sunan berasal dari kata sesuhunan, artinya yang disuhun atau dimohon. Sebutan ini bersifat kompromistis untuk memuliakan ulama sesuai dengan kemuliaan raja. Ada yang mengartikan, Sunan berarti susuhunan atau sinuhun yang biasanya dinisbatkan kepada raja atau penguasa daerah di Jawa. Siapakah sebenarnya Walisongo itu?

Walisongo pada awalnya merupakan ulama utusan khalifah Muhammad I Turki Utsmani yang berasal dari luar Jawa. Namum generasi Walisongo berikutnya sudah bercampur dengan keturunan atau memiliki hubungan dengan raja-raja yang ada di Jawa. Bisa jadi atas dasar inilah mereka disejajarkan dengan raja atau sunan walapun mereka ulama. Mari kita runut nasab para Walisongo yang memiliki keterkaitan atau keturunan dengan para raja.

Ibunya Sunan Ampel bernama Dewi Condrowulan yang merupakan putri dari raja Campa. Ayahnya seorang ulama yang bernama Ibrahim Asmarakandi. Sedang kakak ibunya yang perempuan menikah dengan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Maka, Sunan Ampel adalah keturunan raja Campa dari jalur ibu dan memiliki hubungan kekerabatan dengan raja Majapahit dari kakak perempuan ibunya.

Sunan Ampel menikah dengan putri dari Bupati Tuban yang memeluk Islam yang bernama Nyi Ageng Manila. Dari pernikahan ini lahirlah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Mengingat Sunan Ampel merupakan keturunan raja Campa dan memiliki kekerabatan dengan raja Majapahit, maka anaknya pun secara otomatis memiliki darah raja pula.

Ibunya Sunan Giri merupakan putri dari raja Blambangan yang disembuhkan penyakitnya oleh Maulana Ishaq yang merupakan generasi pertama Walisongo. Raja Blambangan berjanji memeluk Islam, namun tidak ditepati. Lalu, mengusir Maulana Ishaq dari istana Blambangan. Sunan Giri memiliki garis keturunan raja dari jalur Ibunya.

Berdasarkan Carita Purwaka Caruban Nagari 1720 M, ibunya Sunan Gunung Jati yang bernama Nyai Rara Santang merupakan putri dari Prabu Siliwangi yang merupakan raja Padjadjaran. Sedangkan ayahnya merupakan Sultan Mahmud yang merupakan keturunan Bani Ismail yang merupakan penguasa kota Islamiyah di Mesir. Berarti, Sunan Gunung Jati, baik dari jalur Ibu maupun bapak merupakan keturunan para raja.

Raden Fattah atau Sunan Fattah merupakan anak langsung dari Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya V yang kemudian diangkat menjadi Sultan di Kesultanan Demak. Bila dirunut dari garis keturunan dan kekerabatan, maka Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa sebagian besar merupakan keturunan atau memiliki kekerabatan dengan raja Majapahit dan Padjadjaran. Oleh sebab itu, penyebutan Sunan bukan saja karena mereka menjadi penguasa di daerah tertentu tetapi juga memiliki hubungan spesial dengan para raja di tanah Jawa.


Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Pustaka Surya Dinasti
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
Rachmad Abdullah, Walisongo, Wafi Publishing 

Interaksi Walisongo dengan Majapahit Oleh: Nasrulloh Baksolahar Dongeng yang menyebar di tanah Jawa, keruntuhan Majapahit akibat...

Interaksi Walisongo dengan Majapahit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Dongeng yang menyebar di tanah Jawa, keruntuhan Majapahit akibat serangan Demak pada 1478 M. Sunan Fatah membanjiri halaman Kraton Majapahit dengan laskar Demak. Cahaya kilatan pedang mereka mengalahkan sinar matahari. Prabu Majapahit pun terbang ke langit lalu mengutuk putranya, Sunan Fatah, yang tidak menghormati orang tuanya. Benarkah seperti itu?

Demak tidak pernah meruntuhkan Majapahit. Yang meruntuhkan Majapahit adalah Prabhu Girindro Wardhono dari daerah Kalinga, Jenggala dan Kediri yang terletak Jawa Timur yang memberontak terhadap raja Brawijaya V. Setelah Majapahit runtuh,  ia menggelari dirinya Raja Brawijaya VI. Namun pada 1498 M,  dia diserang oleh Prabhu Udhoro hingga tewas. Maka Majapahit pun dikuasai Prabhu Udhoro dengan gelar Brawijaya VII.

Sunan Fattah memang pernah menyerbu Kraton Majapahit, namun tujuannya untuk merebut kembali tahta ayahnya, Brawijaya V, dari tangan Prabhu Udhoro. Di samping itu pula, pada 1512 M, Prabhu Udhoro telah mengirimkan utusan ke Portugis di Malaka, bertemu dengan Alfonso d'Albuquerque untuk menghancurkan kekuatan Islam di tanah Jawa dengan meruntuhkan kesultanan Demak.

Pada 1518 M, Prabhu Udhoro berhasil dikalahkan. Sunan Fattah memimpin langsung peperangan ini bersama Sunan Kudus. Serangan darat melalui Madiun lalu ke Kediri. Serangan laut dipimpin oleh Adipati Yunus melalui Sedayu. Dengan kemenangan ini, kedaulatan Demak diakui hampir di seluruh tanah Jawa. Pamor Majapahit pun telah berpindah ke Demak.

Sebelum kehancuran Majapahit, awal kedatangan Walisongo ke tanah Jawa, Sunan Ampel dan Maulana Ishaq pernah mengunjungi Kraton Majapahit bertemu baginda raja. Maksudnya, menjelaskan cita-cita dan maksud ajaran Islam. Penjelasannya diterima baik oleh baginda dan mempersilahkan menyebarkannya  ke rakyat Majapahit asalkan dengan suka relanya sendiri, tidak dengan paksaan.  Baginda tidak akan menghalangi perkembangan Islam dan justru menganjurkan tetap melanjutkan cita-citanya menyiarkan agama Islam dengan berpusat di Ampel.

Sunan Ampel menikahkan putrinya dengan Sunan Fattah, yang juga muridnya. Dibukalah daerah yang bernama Bintara (Demak). Para Walisongo bermusyawarah untuk mendirikan masjid besar di daerah tersebut sebagai pusat dari masjid yang sudah ada di Kudus, Ngampel, Giri dan lainnya. Berita ini sampai ke Majapahit. Majapahit pun mengundang Sunan Fattah ke Kraton Majapahit untuk bertemu ayahnya.

Tiba di Majapahit, Sunan Fattah diberi gelar Pangeran Adipati oleh ayahnya, raja Brawijaya V. Sekembalinya dari Majapahit, Sunan Fattah segera mendirikan masjid besar di Demak dengan tonggaknya sembilan buah sebagai lambang dari Walisongo yang telah memelopori Islam di Tanah Jawa. Sejak itu daerah Bintara berubah namanya menjadi Demak. Interaksi antara Walisongo dengan Majapahit penuh kelembutan dan toleransi sehingga tidak ada benturan dan gesekan.


Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Penerbit Surya Dinasti
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
Rachmad Abdullah, Walisongo, Wafi Publishing 

Walisongo, Perwujudan Firasat Muawiyah Bin Abu Sofyan tentang Tanah Jawa? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Apakah umat Islam di Jawa b...

Walisongo, Perwujudan Firasat Muawiyah Bin Abu Sofyan tentang Tanah Jawa?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Apakah umat Islam di Jawa baru ada setelah kedatangan Walisongo pada 1404 M? Menurut Buya Hamka, yang tercatat dalam sejarah dari tulisan pengembaraan Cina pada sekitar tahun 674-675 M, telah menginjakkan kaki utusan khalifah Muawiyah Bin Abu Sofyan di tanah Jawa untuk bertemu dengan Ratu Simo dari kerajaan Kalingga yang masih beragam Hindu.

Perkampungan muslim sudah ada di Pesisir Utara Jawa di era Kerajaan Jenggala, Daha  dan Singasari. Buktinya pada tahun 1101 M ditemukannya batu nisan dari perkuburan muslimin, atau 300 tahun sebelum kedatangan Maulana Malik Ibrahim yang merupakan Walisongo pertama di Jawa pada 1404 M. Bahkan, Buya Hamka meyakini 500 tahun sebelum kedatangan para Walisongo kaum Muslimin sudah ada di tanah Jawa.

Di era kerajaan Pajajaran, Haji Purwa yang merupakan kakak kandung Prabu Mundingsari, menjadi orang yang pertama kali pergi haji dari tataran tanah Sunda. Dia berusaha berdakwah di istana Pajajaran pada 1337 M walapun belum berhasil.

Pendirian kerajaan Majapahit salah satunya hasil jerih payah kaum muslimin dari tentara Mongol muslim yang tidak pulang ke Tiongkok pada 1293 M. Mereka berkolaborasi dengan dengan Raden Wijaya membangun Majapahit. Oleh sebab itu saat Laksamana Ceng Ho ke Jawa pada 1406 M, di Majapahit telah ada masyarakat bercorak Islam   hingga di sekitar Istana Majapahit.

Informasi tanah Jawa, tentang kondisi Majapahit bercorak Hindu,  yang diselimuti perang Paregreg (1404-1406 M) akibat kemelut internal telah sampai ke Khalifah Muhammad I Kekhalifahan Turki Utsmani melalui pedagang muslim. Maka, khalifah pun mengutus duta dakwah sebanyak 9 ulama dari berbagai negri untuk berlayar dari Turki ke Jawa. Untuk apakah?

Menurut Buya Hamka, Muawiyah Bin Abu Sofyan sudah memperhitungkan bahwa islamisasi tanah Jawa belum bisa dilakukan di eranya karena sangat kuatnya kekuasaan kerajaan Hindu. Ternyata hal ini dipahami juga oleh Khalifah Muhammad I di era Turki Utsmani. Maka, setelah masyarakat muslim berkembang  dan kerajaan Hindu memasuki era kemunduran di tanah Jawa, barulah dakwah di tanah Jawa dilakukan secara serius, sistematis dan terorganisir dengan didatangkannya Walisongo sebagai utusannya.

Setibanya di tanah Jawa, generasi pertama Walisongo disebar ke Jawa Barat yaitu Maulana Malik Israil, Muhammad Ali Akbar, Hasanudin dan Aliyudin. Ke Jawa Tengah, Syeikh Subakir dan Maulana Muhammad al-Maghribi. Ke Jawa Timur, Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq dan Ahmad Jumadil Kubra. Mereka berdakwah hingga lahir generasi Walisongo berikutnya yang mendirikan Kesultanan Demak, Giri, Cirebon dan Banten.

Sumber:
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
Rachmad Abdullah, Walisongo, Wafi Publishing 

Kitab-Kitab Karya Sunan Walisongo Oleh: Nasrulloh Baksolahar Melacak jejak para Walisongo seringkali dilakukan dengan berziarah ...

Kitab-Kitab Karya Sunan Walisongo

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Melacak jejak para Walisongo seringkali dilakukan dengan berziarah ke makam-makamnya saja, sangat jarang yang berinteraksi dengan karya mereka yang memuat ajarannya. Ada dua teks yang menjadi sumber rujukan Walisongo yaitu Teks Wejangan Sunan Bonang (Het Boek Van Bonang)  yang menjadi bahan tesis Dr. Schrieke dan Kropak Ferrara yang menjadi tesis GJW Drewes.

Banyak sumber rujukan tentang Walisongo berupa babad, serat, suluk dan sejenisnya, hanya saja ditulis atas perintah para penguasa di masa jauh setelahnya, yang berpeluang digunakan untuk kepentingan politik tertentu. Dilihat dari sisi tersebut, Het Boek Van Bonang dan Kroprak Ferrara menjadi bahan otentik tentang ajaran Walisongo.

Het Boek Van Bonang sebuah tulisan pada daun lontar yang ditulis oleh Sunan Bonang, diyakini  dapat yang mewakili ajaran Walisongo, sebab  dia putra sekaligus murid Sunan Ampel. Berguru juga dengan angkatan pertama Walisongo yaitu Maulana ishaq, berteman dengan Sunan Giri, Raden Fattah, Sunan Gunung Jati, dan gurunya Sunan Kalijaga.

Het Boek Van Bonang sering disebut juga sebagai Primbon Bonang yang berisi ajaran tasawuf yang mendalam yang referensinya yang salah satunya berasal dari Ihya Ulumuddin dari Imam Al-Ghazali, Qut al-Qulub dari Abu Thalib al-Makki, Talkhis al-Minhaj dari Imam Nawawi. Sedangkan tokoh yang disebutkan dalam kitab tersebut adalah Abu Yazid Al-Busthami, Ibnu Arabi, Syeikh Abdul Qadir Jailani.

Menurut Poerbatjaraka dalam Majalah Djawa vol XVIII 1938, menyebutkan bahwa selain Primbon Bonang, Suluk Wujil diyakini ditulis oleh Sunan Bonang yang memuat pengetahuan tasawuf yang lebih dalam dan rahasia lagi yang membahas hakikat Ketuhanan.

Kropak Jawa atau Kropak Ferrara berisi ajaran Islam yang diajarkan kepada penduduk Jawa yang tersimpan selama tiga abad di perpustakaan Marquis Cristino, Ferrara, Italia. Isinya tentang dasar fikih, tasawuf, dan ilmu kalam, serta etika bersifat praktis. Naskah itu dibawa para pelaut Belanda dari pelabuhan Sedayu dekat Tuban menuju Eropa pada 1585.

Drewes menisbahkan Kropak Ferrara  sebagai ajaran Maulana Malik Ibrahim (w. 1414). Judul risalah yang dimuat dalam naskah ini sama dengan judul risalah Imam al-Ghazali, Bidayat al-Hidayah (Menjelang Hidayah). Tetapi versi Maulana Malik Ibrahim adalah ringkasan dan tak semua yang diajarkan Imam al-Ghazali dikemukakan.

Sumber:
Rachmad Abdullah, Walisongo, Al-Wafi Publishing
Agus Sunyoto, Atlas Walisongo, Pustaka Iman
https://historia.id/amp/agama/articles/naskah-ajaran-islam-awal-di-jawa-DL3w6

Jalan Ruhani Walisongo Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menurut para Walisongo, yang terhimpun dalam Keropak Ferrara,  para penempuh ...

Jalan Ruhani Walisongo

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menurut para Walisongo, yang terhimpun dalam Keropak Ferrara,  para penempuh jalan ruhani adalah gemar berpuasa, bangun tengah malam dan menyendiri untuk tafakur, tadabur, dan muhasabah. Dengan berpuasa, akal akan bercahaya. Dengan bangun malam, hati akan bercahaya. Dengan menyendiri, tak terpedaya dengan fitnah dunia. Orientasi dunia sangat mudah dienyahkan.

Akal menjadi sempurna bila tidak disetir dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Pertimbangan dan keputusan menjadi rusak bila orientasinya hawa nafsu. Strategi dan implementasi menyimpang karena dorongan hawa nafsu. Bila akal rusak maka buah pikiran pun akan rusak pula.

Cara mendidik hawa nafsu hanya dengan memisahkannya dari apa yang digandrunginya. Mengambil kebutuhan dan membuang keinginan dan gaya hidup. Yang melampaui batas akan menyuburkan dan memperkokoh hawa nafsu. Bagaimana mengetahui batasnya? Ikutilah syariat-Nya.

Menyinari hati dengan bangun di sepertiga akhir malam. Saat Allah turun ke langit dunia untuk menebarkan ampunan dan rahmat-Nya. Bukankah yang bisa membolak balikan hati hanya Allah? Bukankah yang bisa membimbing  hati hanya Allah? Dengan cahaya hati dari Allah, hawa nafsu diberi rahmat-Nya sehingga tidak melampui batas dan menyimpang. Hawa nafsu menjadi teman seperjalanan dan seperjuangan.

Menyendiri berarti menghalau kepungan fitnah dunia. Mengurangi ketertarikan akal dan hati dengan gemerlapnya dunia. Mengurangi interaksi panca indera dengan sentuhan dunia. Terjun ke dunia hanya untuk mengemban amanah kekhalifahan saja bukan bersenda gurau dengan dunia.

Para Walisongo terjun mengarungi dan bergelut dengan dunia untuk membangun kesultanan Demak, Cirebon, Banten, Gresik, Kalimantan dan kesultanan lain di Indonesia Timur. Memerangi Portugis di Malaka dan Sunda Kelapa yang akan menjajah Nusantara. Serta menanam jiwa merdeka yang hanya tunduk kepada Allah sebagai modal perlawanan terhadap para penjajah di kemudian hari.

Para Walisongo bergelut dengan kehidupan untuk membangun pertanian, perdagangan, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kebudayaan,  kesustraan dan keprajuritan. Semuanya diawali dari penempaan diri untuk menjalani jalan para ruhani.

Sumber:
Rachmad Abdullah, Walisongo, Al Wafi Publishing 

Gerakan Rahasia Syeikh Yusuf Al Makassar Untuk Perlawanan Terhadap Belanda dari Pengasingannya di Srilanka Oleh: Nasrulloh Bakso...

Gerakan Rahasia Syeikh Yusuf Al Makassar Untuk Perlawanan Terhadap Belanda dari Pengasingannya di Srilanka

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Syeikh Yusuf Al Makassar berjuang melawan Belanda bersama Sultan Ageng Tritayasa dan Pangeran Purbaya. Sultan Ageng Tritayasa tertangkap lalu ditahan di benteng Batavia. Menyusul Syeikh Yusuf pun tertangkap. Menurut Buya Hamka, tertangkapnya Syeikh Yusuf terdengar oleh Sultan India, Aurangzib. Apa reaksinya?

Awalnya dihadapkan di depan pengadilan, akan dihukum mati dengan alasan penghasut perang. Namun, Sultan India meminta melalui  perwakilan Belanda di India agar hukuman matinya ditinjau ulang karena sang Syeikh merupakan ulama yang dihormati di negri India. Pengembaraan Syeikh Yusuf ke Timur Tengah hingga ke Turki membuat jaringan diplomatiknya sangat luas. Akhirnya, Syeikh Yusuf diasingkan di Srilanka.

Menurut Azyumardi Azra, berita penahanan Syeikh Yusuf menyebar di Batavia dan dielu-elukan sebagai pahlawan besar dalam perjuangan melawan Belanda, bahkan kunyahan sirihnya dipungut para pengikutnya ketika meludah dan disimpannya sebagai peninggalan keramat. Belanda khawatir ada gerakan besar untuk membebaskannya, maka untuk menghindari ini semua Syeikh Yusuf diasingkan di Srilanka. Bagaimana kiprah Syeikh Yusuf dipengasingan?

Di Kesultanan Banten, Syeikh Yusuf sibuk ketatanegaraan dan jihad. Di Srilanka, dia sibuk dengan  keilmuannya. Ulama India dan jamaah haji Nusantara  belajar, meminta dituliskan kitab hingga mengangkatnya sebagai mursyid thariqah. Syeikh Yusuf pernah belajar dan mengajar di Aceh, Makassar dan Banten. Jaringannya di Nusantara sangat luas. Dia mengirimkan juga risalahnya untuk muridnya melalui jamaah haji Nusantara. Para muridnya juga menyalin memperbanyak risalahnya lalu menyebarkannya.

Kondisi perlawanan terhadap Belanda pasca penangkapan Syeikh Yusuf tidak pernah berhenti. Menurut Hamka, di tahun 1686 M, Sultan Iskandar yang Dipertuan Minangkabau menjalin kontak rahasia dengan Sultan Aceh, Sultan Mataram, Sultan di Kalimantan dan Andalas Timur agar berserikat melawan Belanda untuk meninggikan harga diri umat Islam. Terpikirlah oleh Belanda bahwa salah satu sumber penting semua pergolakan melawan Belanda tidak ada di Nusantara tetapi di Srilanka.

Menurut Azyumardi Azra, hubungan Syeikh Yusuf  yang luas dan intens melalui jamaah haji Nusantara, dicurigai Belanda akan membentuk jaringan yang lebih luas lagi hingga terdiri atas berbagai penguasa Muslim di Nusantara, yang akan melakukan peperangan serentak dan dalam skala besar terhadap Belanda. Kekhawatiran akan reaksi politis dan religius hubungan Syeikh Yusuf dengan orang-orang senegrinya, membuat Belanda membuat langkah strategis baru pada 1693 M.

Syeikh Yusuf Al Makassar dengan tulisan risalahnya dan genggaman tasbih di tangannya, tersimpan kekuatan yang lebih tajam dari pedang. Tidak ada jalan lain kecuali disingkirkan lebih jauh lagi ke tempat yang tidak didatangi oleh para jamaah haji yaitu Tanjung Harapan di Afrika Selatan.


Sumber:
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad ke 17 dan 18, Kencana
Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, GIP
Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP

Upaya Mengobarkan Perang Jawa Dari Kota Suci Mekah Oleh: Nasrulloh Baksolahar 13 Februari 1755 tanah Jawa berduka. Inilah hari d...

Upaya Mengobarkan Perang Jawa Dari Kota Suci Mekah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


13 Februari 1755 tanah Jawa berduka. Inilah hari ditandatanganinya perjanjian Giyanti yang membagi Kesultanan Mataram menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti sebuah tanda mulai meredupnya kobaran jihad melawan VOC Belanda. Padahal sebelumnya, leluhurnya Sultan Agung pendiri Mataram, memimpin pertempuran yang gigih melawan Belanda hingga mengirimkan pasukan ke Batavia.

Di Mekah, Abdul Shamad al-Palimbani, ulama Nusantara yang menetap di Mekah terus memantau perkembangan Nusantara dari temannya sesama ulama yang hidup di Nusantara  seperti Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahhab Bugis,  Abdurrahman al-Batawi dan dari jamaah haji Nusantara.  Kondisi Jawa dengan perjanjian Giyanti membuatnya prihatin. Apa yang dilakukannya?

Syeikh Abdul Shamad al-Palimbani belajar dari pendahulunya, Syeikh Yusuf Al Makassari yang terus menggelorakan jihad dari negri pengasingan Srilanka, yang ditangkap Belanda di era Kesultanan Banten karena berjuang bersama Sultan Ageng Tritayasa. Dari Srilanka, Syeikh Yusuf Al Makassar mengirimkan risalah perjuangan melalui murid-muridnya dan jamaah haji yang berisirahat di Srilanka ke seluruh kaum Muslimin di Nusantara untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Langkah ini diikuti oleh Syeikh Palimbani.

Yang dilakukan oleh Syeikh Palimbani untuk menggelorakan jihad melawan penjajahan di Nusantara dengan menulis kitab Fadhail Al-Jihad. Sedangkan yang khusus untuk mengobarkan jihad di tanah Jawa dengan mengirimkan surat khusus untuk para pangeran Mataram, panji-panji yang berbunyi "Al-Rahman Al-Rahim, Muhammad Rasul Allah Abd Allah" dan sejumlah kecil air Zamzam.

Menurut Prof Dr Azyumardi Azra, surat Syeikh Palimbani berisi desakan kepada penguasa dan pangeran Jawa untuk melakukan perang suci melawan orang kafir. Menurut Ricklefs, surat-surat Syeikh Palimbani merupakan bukti pertama adanya usaha dari Dunia Islam Internasional untuk mengobarkan perang suci di Jawa pada paruh kedua abad ke-18.

Tiga surat Syeikh Palimbani akhirnya dapat disita oleh Belanda. Surat pertama dan kedua ditujukan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono 1. Surat ketiga ditujukan kepada Pangeran Mangkunegara. Surat-surat ini, menurut Ricklefs, diyakini menguatkan kembali perlawanan kuat pribumi terhadap Belanda.

Surat-surat Syeikh Palimbani yang disita langsung dihancurkan atas perintah Belanda sebelum diterima oleh Sultan Hamengkubuwono 1 dan Pangeran Mangkunegara. Namun isi pesannya tetap tersampaikan kepada mereka melalui lisan pembawa surat yang merupakan ulama utusan Syeikh Palimbani. Perang Jawa memang tidak terjadi saat itu juga, namun bara apinya tetap hidup hingga kehadiran Pangeran Diponegoro yang merupakan anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono III.

Sumber:
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad 17-18, Kencana
Hamka, Dari Perbendaharaan Lama, GIP
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Perjanjian_Giyanti
https://www.republika.id/posts/43403/biografi-syekh-abdus-samad-al-palimbani

Islam Di Jawa Sebelum Majapahit Oleh: Nasrulloh Baksolahar Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa Islam masuk ke tanah Jawa ...

Islam Di Jawa Sebelum Majapahit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa Islam masuk ke tanah Jawa di era keruntuhan Majapahit. Padahal sebelum Majapahit (1294 M), 19 tahun lamanya kerajaan Islam Pasai sudah berdiri (1275 M). Sebelum Majapahit, Maharaja Sriwijaya sudah menjalin diplomasi dengan Kekhalifahan Bani Ummayah dan telah banyak bermunculan pemukiman muslim di pesisir Sumatera. Apakah kondisi tersebut tidak mempengaruhi kondisi masyarakat tanah Jawa? Bukankah pendirian beberapa kerajaan di Jawa awalnya kepanjangan tangan dari Sriwijaya?

Menurut Buya Hamka, jauh sebelum Majapahit, di tataran Sunda, sudah ada keturunan raja dari kerajaan Galuh menunaikan haji ke Makkah (1195M). Pengelanaan hidupnya sebagai saudagar menyebabkan dia bertemu dengan para saudagar muslim. Ketertarikan dengan konsep bisnis dan karakter pedagang muslim yang menyebabkan dia memeluk Islam. Julukan putra Mahkota ini adalah Haji Purwa. Dia pun berdakwah ke kalangan bangsawan Galuh walapun belum berhasil.

Di Leran Gresik ditemukan makam yang bernama Fatimah binti Maimun, yang merupakan putri dari Dinasti Hibatullah  di Leran yang dibangun pada abad ke 10-M, yang meninggal pada tahun 1082 M. Ini menjadi bukti sebelum berdirinya Majapahit telah ada masyarakat Muslim di pantai utara Jawa.

Peneliti Donald Maclaine Campble dalam bukunya Yava mengatakan orang Arab telah bermukim di pantai Gresik dan Madura di era kerajaan Janggala, Daha dan Singasari. Ketiga kerajaan ini berdiri sebelum Majapahit. Peran masyarakat muslim saat itu membuat pangkalan untuk memperbaiki kapal-kapal yang rusak dan tempat memuat bahan makanan untuk kapal yang akan berlayar. Mereka diyakini mengambil bagian dalam mendirikan Majapahit.

Pada tahun 674 M, ratusan tahun sebelum Majapahit berdiri, utusan Khalifah Muawiyah Bin Abu Sofyan sudah menginjakkan kaki ke Jawa Timur di Kerajaan Kalingga. Ini menandakan bahwa sejak abad pertama Hijriyah pulau Jawa sudah bersentuhan dengan Islam.

Ingatkan tentang serangan Kubilai Khan (1294 M) ke Singasari? Dia memang tidak beragama Islam tetapi menaruh perhatian yang besar kepada Islam. Dimana petinggi kerajaannya banyak beragama Islam. Dalam buku Orang Tionghoa dan Islam di Majapahit, saat pasukan Mongol membantu Raden Wijaya menghancurkan Jayakatwang yang telah meruntuhkan Singosari, banyak pasukan Mongol yang muslim yang tidak kembali ke Cina.

Orang Muslim Mongol yang tidak pulang ke Cina mengabdikan dirinya untuk Majapahit dengan menularkan teknologi pembuatan peralatan rumah tangga, pembuatan senjata hingga teknologi pembuatan kapal. Oleh karena Buya Hamka menyebutkan bahwa kaum muslimin ikut andil dalam pendirian Majapahit.

Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Pustaka Surya Dinasti
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, KPG
Andrian Perkasa, Orang Tionghoa dan Islam di Majapahit, Ombak

Tulisan Arab Mendominasi Naskah Nusantara Sejak Abad 14 Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bahasa Melayu dengan tulisan Arab, tulisan Ja...

Tulisan Arab Mendominasi Naskah Nusantara Sejak Abad 14

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Bahasa Melayu dengan tulisan Arab, tulisan Jawi, mulai mendominasi di Nusantara sejak abad ke-14 di era Samudera Pasai. Di tanah Jawa dan Sunda pun mulai muncul bahasa Jawa dan Sunda yang ditulis dengan tulisan Arab yang disebut dengan Pegon. Untuk apa saja tulisan Arab digunakan?

Arkeolog Uka Tjandrasasmita menyebutkan peran tulisan Arab dengan bahasa Melayu, Jawa dan Sunda untuk menulis kitab keagamaan yang isinya fikih, syariat, tasawuf atau suluk, teologi, tafsir, ilmu falak dan ragam keilmuan lainnya. Bagi para raja, tulisan Arab menjadi sarana korespondensi dan perjanjian-perjanjian antara kerajaan Islam dengan asing.

Surat Sultan Aceh, Sultan Alaudin Riayat Syah, pada 1602 M  kepada Harry Middleton. Surat Sultan Iskandar Muda pada 1615 M kepada Raja James 1. Surat Sultan Ternate pada 1514 dan 1514 kepada Raja Portugal menggunakan surat bertuliskan Arab. Bahkan perjanjian para Sultan di Nusantara dengan VOC Belanda di tulisan dengan tulisan Arab.

Tulisan Arab digunakan juga untuk menulis yang berkaitan dengan karya sastra seperti Babad, Hikayat, Syair, Suluk, dan sastra yang berbentuk kitab. Mulai abad ke-14 di Nusantara segala hal dalam penyampaian perasaan dan buah pikiran dengan tulisan menggunakan tulisan Arab.

Perpustakaan Nasional di Jakarta pada 1972 mencoba membuat Katalog Naskah Melayu Museum Pusat, hasilnya ada 953 nomor.  Bila menyebutkan naskah Melayu berarti bertuliskan Arab. Dalam Catalogus des Catalogus de Manuscripts Malais memperkirakan jumlah naskah Melayu di perpustakaan di dunia lebih kurang 4.000 buah naskah. Jumlah naskah ini belum menghitung yang ada di masyarakat yang masih sangat banyak jumlahnya.

Para ahli mengungkapkan bahwa naskah yang bertuliskan Arab tersebar di seluruh Nusantara  dari Aceh hingga bagian Timur Nusantara seperti Bima dan Ternate. Tulisan yang dahulunya berbentuk Palawa dan Sangsakerta, di era Hindu-Budha, tiba-tiba tertelan bumi digantikan dengan tulisan Arab.

Banyak Naskah Nusantara yang bertuliskan Arab yang disimpan diberbagai perpustakaan di dunia dan menjadikan tulisan Arab sebagai sarana komunikasi keagamaan Islam, kemasyarakatan, perekonomian, kesenian, kebudayaan, korespondensi, hubungan diplomatik dan sebagainya menjadi bukti bahwa Islamlah yang telah membentuk kebudayaan di Nusantara.


Sumber:
Uka Tjandrasasmita dalam, Arkeologi Islam Nusantara, KPG
Tiar Anwar Bachtiar, Jas Merah, Pro-U Media 

Utusan Khalifah Bani Ummayah Sudah ke Jawa Sebelum Pendirian Candi Borobudur Oleh: Nasrulloh Baksolahar Sejarawan Ahmad Mansur S...


Utusan Khalifah Bani Ummayah Sudah ke Jawa Sebelum Pendirian Candi Borobudur

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah menegaskan bahwa Islam sebagai agama jauh lebih awal dari pembangunan candi Budha misalnya Borobudur. Seperti yang dituturkan dalam sejarah Dinasti Tang, masuknya Islam ke pulau Jawa terjadi pada abad ke-7 M. Sedangkan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, baru didirikan pada abad ke-9 M.

Menurut sejarawan J.G. de Casparis menyebutkan bahwa pendiri Candi Borobudur adalah Raja Samaratungga. Adapun Raja Samaratungga memimpin Mataram Kuno pada tahun 782 – 812 M pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra. Candi ini terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sedangkan Dinasti Syailendra merupakan kepanjangan tangan dari Raja Sriwijaya di Jawa

Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam menyebutkan, dalam catatan Tiongkok menyatakan di Kho'po ada sebuah kerajaan Holing. Pada tahun 674-675 M diangkat seorang perempuan menjadi ratu yang bernama Si Ma. Kemakmuran, keamanan, dan keadilan negeri ini terdengar oleh Raja Ta Cheh. Kemudian, dia utuslah orang ke negri itu untuk membuktikannya.

Utusan Raja Ta Cheh mencecerkan pundi-pundi emas di pusat kota, tetapi tidak ada yang mengambilnya. Akhirnya, setelah 3 (tiga) tahun pundi tersebut berhujan panas, datanglah putra raja mengambilnya. Mendengar kejahatan tersebut, sang ratu menghukumnya dengan memotong kaki putranya. Siapakah mereka dalam Catatan Tiongkok ini?

Kho Po adalah Tanah Jawa. Holing adalah kerajaan Kalingga di Jawa Timur. Ratu Si Ma adalah Ratu Simo, seorang raja perempuan Kalingga pada masa itu. Raja Ta Chen adalah Raja Arab. Siapakah raja Arab saat itu? Menurut Buya Hamka adalah Muawiyah Abu Sofyan, Sekertaris Rasulullah saw, yang saat itu menjadi khalifah Bani Ummayah.

Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara dan Buya Hamka sepakat bahwa Islam masuk sebelum pendirian Candi Borobudur. Bahkan Buya Hamka berdasarkan Catatan Cina sudah sangat yakin bahwa Utusan Kekhalifahan Islam sudah menginjakkan kaki ke tanah Jawa sebelum pendirian Candi Borobudur. Hanya saja utusan sang khalifah tiba di Jawa Timur sedangkan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Bukti lainnya, Sayyid Qudratullah Fatimi (S.Q Fatimi) dalam ’Two Letters from Maharaja to The Khalifah mengidentifikasi addenda dual surat Raja Sriwijaya kepada Khalifah Bani Umayyah, yakni surat kepada Muawiyah dari kitab Al-Hayawan, karya Abu Usman Amr Ibn Bahr atau dikenal dengan Al-Jahiz (776-869 M/150-255 H). Surat menyurat ini menjadi bukti kuat bahwa hubungan kekhilafan Islam dengan Sriwijaya sudah sangat kuat sebelum Candi Borobudur di Magelang Jawa Tengah dibangun.

Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Penerbit Surya Dinasti
Buya Hamka, Sejarah Umat Islam, GIP
https://sma13smg.sch.id/materi/sejarah-candi-borobudur/
https://maktabu.republika.co.id/posts/79643/raja-sriwijaya-pernah-berkirim-surat-ke-muawiyah-begini-isinya-

Bahasa Melayu, Bahasa Dakwah Islam di Nusantara Hingga Menjadi Bahasa Indonesia Oleh: Nasrulloh Baksolahar Di masa kebangkitan n...

Bahasa Melayu, Bahasa Dakwah Islam di Nusantara Hingga Menjadi Bahasa Indonesia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Di masa kebangkitan nasional, nama bahasa melayu diubah menjadi bahasa Indonesia. Jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928,  bahasa ini sudah digunakan sebagai bahasa perjuangan oleh organisasi sosial, pendidikan, jurnalistik dan politik Islam. Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara di bukunya Api sejarah, sejak 1905, Syarikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) Jong Islamieten Bond hingga Tarbiyah Islamiah, sudah menggunakannya sebagai bahasa komunikasi di organisasinya.

Jauh sebelum itu, bahasa melayu pun sudah digunakan oleh para saudagar muslim di pasar.  Para santri di pesantren menggunakannya sebagai bahasa ilmu. Para Sultan menggunakannya sebagai bahasa diplomatik. Umumnya, bahasa Melayu dituliskan dalam huruf Arab Melayu atau Tulisan Jawi. Inilah salah satu yang mendorong integritas nasional dalam menghadapi penjajahan Belanda . Bagaimana bahasa Melayu sehingga mengakar di Nusantara?

Arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam bukunya Arkeologi Islam Nusantara, berdasarkan tulisan prasasti abad ke-7 M pada era Sriwijaya, menggunakan bahasa Melayu dengan tulisan Sanskerta. Di saat bersamaan, Islam masuk ke Nusantara disertai penyebaran  bahasa Arab dengan tulisannya juga. Prasasti bertuliskan Arab mulai ditemukan pada abad ke 11 hingga 15. Contohnya nisan kubur Fatimah binti Maimun 1082 M di Leran Gresik.

Masuknya Islam ke Nusantara mempercepat pertumbuhan bahas Melayu. Jalur perdagangan internasional yang diominasi pedagang Arab, tumbuhnya pemukiman Arab di pesisir yang dibarengi dengan asimilasi dengan penduduk lokal  dan masuknya raja-raja ke agama Islam membuat bahasa Melayu yang sebelumnya ditulis dengan Sanskerta tumbuh menjadi tulisan Arab yang dikenal dengan Tulisan Jawi.

Pada abad-14, Kerajaan Pasai sudah menggunakan bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Pasai berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan sehingga banyak pemuda dari seluruh pelosok Nusantara belajar di Pasai. Salah satunya adalah Sunan Giri. Yang kelak menjadi pimpinan Wali Songo, mendirikan pesantren, yang pengaruhnya hingga ke Indonesia Timur hingga kepulauan Maluku. Bahkan raja-rajanya baru merasa sah dianggap raja bila sudah diakui oleh Sunan Giri.

Ulama di kerajaan Aceh Darussalam, dari Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Syeikh Abdul Rauf Singkili, menulis kitabnya dengan bahas Melayu dengan tulisan Arab. Syeikh Abdul Shamad Palimbani, ulama Nusantara di yang hidup di Mekah, di era Mataram, menuliskan kitabnya dengan bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Kitab-kitab ini menjadi rujukan para santri di pesantren untuk belajar dan pejabat kerajaan dalam mengelola ketatanegaraan.

Uka Tjandrasasmita juga menuturkan bahwa karya sastra, perundangan, kitab-kitab bahasa melayu bertuliskan Arab merata ada di seluruh kerajaan Islam di Nusantara. Hingga surat perjanjian antara kerajaan Riau, Palembang, Bima, Makassar, Ternate, Banten, Cirebon dan Jogyakarta dengan Belanda pun ditulis dengan bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Bahasa Melayu tumbuh pesat bersamaan dengan pesatnya pertumbuhan Islam di Nusantara.


Sumber:
Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, Penerbit Surya Dinasti
Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, KPG
Rachmad Abdullah, Walisingo, Al Wafi Publishing 

Nusantara Mengenal Islam Sejak Periode Mekah? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Kapan Islam tersebar di Indonesia? Bisa jadi sejak peri...



Nusantara Mengenal Islam Sejak Periode Mekah?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Kapan Islam tersebar di Indonesia? Bisa jadi sejak periode Mekah. Sejak periode dimana Rasulullah saw berdakwah secara bersembunyi. Periode saat Rasulullah saw berdakwah secara personal dari rumah ke rumah. Periode saat Rasulullah saw dan para Sahabatnya dalam tekanan, siksaan, pengusiran dan intimidasi. Dalam era seperti ini mengapa Islam bisa sampai ke Indonesia?

Mekah yang dihuni oleh suku Quraisy telah lama melakukan hubungan dagang dengan Yaman sejak peradaban Saba, Aad dan Tsamud. Perdagangan ini diabadikan dalam surat Quraisy bahwa kaum Quraisy berdagang  saat musim dingin ke Yaman dan musim Panas ke Syam.

Saat Rasulullah saw mulai berdakwah di Mekah, penduduk Yaman sudah mengetahui dari perbincangannya saat berbisnis di pasar-pasar. Baik saat suku Quraisy ke Yaman ataupun saat suku yang ada di Yaman ke Mekah lalu melanjutkannya ke Syam untuk berbisnis. Bukankah Rasulullah saw juga pebisnis? Bukankah Rasulullah saw juga berdakwah ke pasar-pasar?

Kabar dakwah Rasulullah saw di Mekah diterima oleh para kabilah di Yaman. Seorang pemimpin kabilah yang bernama Abu Musa al-Asyari mendatangi Rasulullah saw dan memeluk Islam. Lalu Rasulullah saw mengutus  Abu Musa al-Asyari untuk berdakwah kepada kaumnya di Yaman. Sehingga banyak penduduk Yaman yang memeluk Islam. Ini terjadi sebelum Mushab bin Umair diutus ke Madinah.

Saat Rasulullah saw bermimpi bahwa negri tempat hijriahnya memiliki banyak pohon kurma, maka Rasulullah saw memperkirakan antara Madinah atau Yaman, karena kedua daerah telah siap. Rasulullah saw mengharapkan Yaman karena yang paling siap, namun Allah memerintahkannya ke Madinah bukan ke Yaman.

Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, pakar sejarah Islam, mengatakan bahwa penduduk Yaman merupakan pebisnis yang sukses. Mereka berdagang dengan mengarungi lautan hingga Afrika, India, Indonesia, Sumatera,  negara-negara asia lainnya dan samudera hindia. Setelah memeluk Islam penduduk Yaman memiliki andil menyebarkan agama Islam ke daerah tersebut.

Kemana pedagang Nusantara berdagang saat itu? Berinteraksi dengan pedagang Arab yang berasal dari Yaman (Arab) atau membawanya ke Yaman (Arab) kemudian disebar melalui Mekah ke Syam lalu ke Eropa. Setelah perjanjian Hudaibiyah, utusan dan masyarakat Yaman berdatangan ke Madinah untuk menunjukkan pesatnya pertumbuhan Islam ke Madinah.

Tahun 7 Hijriyah, pemguasa Yaman yang bernama Bazan, memeluk Islam. Tahun 9 Hijriyah, Rasulullah saw mengutus Ali bin Abi Thalib sebagai qadhi, seluruh Yaman pun memeluk Islam. Yaman sejak kemunculan Islam menjadi pusat pertumbuhan Islam hingga ke Nusantara. Sedangkan Madinah ke Syam hingga ke Eropa.

Teori Masuknya Islam ke Nusantara dari Jalur Sutera IHRAM.CO.ID, Perdagangan rempah-rempah juga melintasi Jalur Sutra. Inilah me...

Teori Masuknya Islam ke Nusantara dari Jalur Sutera


IHRAM.CO.ID, Perdagangan rempah-rempah juga melintasi Jalur Sutra. Inilah mengapa Islam juga sampai ke nusantara karena nusantara-lah gudang penghasil rempah-rempah yang sangat disukai Eropa. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia IV: Nusantara di abad ke-18 dan ke-19 menuturkan, pelabuhan-pelabuhan rempah-rempah nusantara, seperti di Sumatra, Ternate, Tidore, dan Banda menjadi terkenal pertama-tama karena para pedagang Cina. Kemudian, para pedagang dari Jawa dan Melayu juga menjadi penting dalam Jalur Sutra. Semuanya bermuara di Cina dan diteruskan melalui Jalur Sutra.

Karena berada pada jalur perdagangan laut dari Timur Tengah ke Cina, kata Marwati, tidak mengherankan jika agama Islam telah dianut di nusantara. Hanya saja, sumber agama Islam di nusantara tidak saja langsung dari Timur Tengah, tetapi bersamaan dengan terbentuknya emporium-emporium (pasar-pasar) sepanjang jalur perdagangan itu sejak abad ke-10. Kota-kota pelabuhan di India, seperti Kalikut, menjadi sumber agama Islam di nusantara.

Dengan demikian, muncullah di nusantara sejumlah kota pelabuhan yang penduduknya beragama Islam. Selain kedua sumber, yakni Timur Tengah dan India, terdapat pula sumber ketiga, yakni Cina (khususnya dari Mazhab Syafi'i), yang mendapat pengaruh Islam dari Timur Tengah dan India. "Agama Islam dari Cina itu makin menyebar setelah Cheng Ho mendapat izin dari sultan-sultan Malaka sejak Parameshwara untuk membangun pusat perdagangannya di kota pelabuhan itu dan menjadikannya sebuah emporium," tulis keduanya.

Hal tersebut sesuai dengan beragamnya teori masuknya Islam ke nusantara. Namun, jika melihat Jalur Sutra, teori Cina juga tak dapat luput begitu saja. Teori tersebut menyatakan, perantau Cina-lah yang membawa Islam ke Indonesia. Para perantau ini telah mendapat pengaruh dari Arab. Sebagaimana disebutkan bahwa banyak permukiman Muslim yang bermunculan di Cina.

Menurut Tan Ta Sen, sejarah Islam di Indonesia sangat berkaitan erat, bahkan berasal dari Champa. Berlokasi di Semenanjung Indocina, Champa merupakan salah satu wilayah taklukkan Cina sejak era Dinasti Tang. Di tengah pengaruh konfusian dan Hindu,  Champa disinyalir mendapat pengaruh Islam dari pedagang Arab. Dugaan tersebut datang setelah ditemukannya dua batu nisan Muslim di wilayah Phan-rang, Champa selatan.

M Ikhsan Tanggo dkk dalam “Menghidupkan kembali Jalur Sutra Baru" menuturkan, agama Islam telah masuk Cina sejak abad ketujuh melalui Jalur Sutra. Demikian pula, masuknya Cina ke Indonesia telah terjadi sejak abad ke-7 Masehi dengan banyaknya bukti arkeologis. Dengan demikian, penyebaran Islam di Indonesia tak hanya dilakukan oleh orang-orang Arab dan Persia melalui Laut India, tapi juga dilakukan Muslimin dari daratan Cina.

sumber : Republika

Tionghoa Muslim Di Balik Pendirian Kerajaan Majapahit? Oleh: Ali Romdhoni (Dosen Universitas Wahid Hasyim, Semarang) Dari catata...


Tionghoa Muslim Di Balik Pendirian Kerajaan Majapahit?


Oleh: Ali Romdhoni (Dosen Universitas Wahid Hasyim, Semarang)

Dari catatan sejarah kita bisa mengerti bahwa orang-orang penting di lingkaran istana Singasari telah menjalin komunikasi baik dengan kelompok Muslim dari negeri seberang. Kondisi yang demikian terus berlangsung sampai Singasari runtuh, dan akhirnya Majapahit berdiri. Mengenai hal ini, sangat menarik mencermati pemberitaan dalam Serat Pararaton.

Cerita bermula ketika kerajaan Singasari di Tumapel berhasil digulingkan oleh Adipati Gelang-gelang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1292. Awalnya Kertanegara tidak percaya bahwa Jayakatong, raja bawahan dan besannya sendiri berkhianat. Setelah melihat para prajuritnya bersimbah darah, raja yang bergelar Bhatara Siwa-Buddha (bertahta 1270-1292) itu mulai sadar, istana telah bobol.

Kertanegara memerintahkan menantunya, Wijaya untuk menghadang pemberontak dari arah utara Tumapel. Wijaya dilindungi para satria pilih-tanding Singasari: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Sora, Dangdi, Gajah Pagon, Nambi, Peteng, dan Wirot.

Pasukan Daha dalam jumlah yang jauh lebih besar telah mengepung istana Singasari. Untuk melawan orang-orang Jayakatong itu jumlah tentara Singasari terlalu sedikit. Iya, sebagian dari mereka sedang diberangkatkan ke Sumatera untuk menaklukkan Melayu. Kelak peristiwa ini dikenal sbagai ekspedisi Pamalayu (1275).

Pasukan Wijaya kocar-kacir. Kertanegara gugur bersama Patih Kebo Tengah (Apanji Aragani), dan lebih banyak lagi dari pembesar Singasari. Wijaya bersama para pengikut setianya menjadi pelarian.

Atas saran Sora, Rangga Lawe, dan Nambi, seyogyanya Raden Wijaya lari ke Madura bagian timur, meminta perlindungan kepada Arya Wiraraja. Sora meyakinkan, Wiraraja bisa menolong.

Benar, Wiraraja menerima Wijaya yang sedang dalam pelarian dengan sangat baik. Puncaknya, Arya Wiraraja menyanggupi permintaan menantu bekas junjungannya itu. Ahli strategi dan penasehat politik Singasari itu kemudian mengatur langkah untuk mewujudkan keinginan Wijaya menjadi raja. Wiraraja menggunakan senjata pamungkasnya, meminta bantuan kepada raja Tatar di seberang utara (Mongolia).

“Saya bersahabat baik dengan raja Tatar. Saya akan berkirim surat ke Tatar, mengajak mereka untuk menyerang Daha,” kata Arya Wiraraja sebagaimana tertulis dalam serat Pararaton.

Dengan keahlian Arya Wiraraja dalam bidang diplomasi, politik, dan strategi kemiliteran, Raden Wijaya akhirnya berhasil menggulingkan Raja Jayakatong. Peristiwa ini terjadi tahun 1292.

Hal yang menarik dicermati dalah persahabatan Wiraraja dengan orang-orang Tatar. Asal-usul bangsa Tatar (kadang dilafalkan dengan ‘Tartar’) adalah orang-orang Turki. Mereka bermigrasi ke timur, sampai kemudian menjadi warga minoritas terbesar di Rusia. Ada juga kelompok suku Tatar yang tersebar di berbagai negara, mulai dari China, Jepang, Polandia, dan ke San Francisco. Nama Tatar mulai muncul pada abad pertengahan untuk menyebut salah satu suku Mongol. Pada awalnya, istilah Tatar atau Tartar digunakan oleh orang China untuk menyebutkan bangsa Mongol yang melewati negara China tanpa izin.

Di China, Tartar merupakan suku terkecil yang tinggal di Provinsi Xinjiang, di wilayah barat laut negeri itu. Mayoritas penduduk Xinjiang adalah warga etnis Uighur yang beragama Islam. Walaupun dikaitkan dengan Mongolia, pada kenyataannya suku Tartar lebih memiliki kemiripan budaya dan rupa (wajah) dengan orang-orang Eropa Timur. Mereka paling mashur dengan reputasi sebagai penunggang kuda terbaik.

Di Universitas Heilongjiang Harbin, China penulis memiliki seorang teman mahasiswa yang berasal dari suku Tatar. Dia seorang Muslim berkebangsaan Rusia. Kepada penulis, dia bercerita seputar tradisi keislaman orang-orang Tatar di kampung halamannya. Termasuk bagaimana suku Tatar belajar agama Islam, dan mengajari anak-anaknya.

Menurut kesan penulis, orang Tatar umumnya bisa membaca dan menulis aksara Arab dengan baik. Anak-anak di lingkungan suku Tatar mendapat pendidikan tata-cara shalat lima waktu hingga doa-doa penting keseharian. Ini menunjukkan, model keislaman mereka tidak berbeda jauh dari pendidikan keislaman tradisional di Indonesia.

Jadi, pengaruh pribadi seorang Arya Wiraraja yang bisa meyakinkan orang-orang Tatar untuk datang ke pulau Jawa, kemudian membantu penyerangan Wijaya ke Daha bukanlah kedekatan yang biasa. Artinya, pada saat itu bangsa Tatar telah percaya dengan setiap berita dan analisis politik Arya Wiraraja.

Di sisi lain, mayoritas orang Tatar beragama Islam. Iya, pasukan Angkatan Laut Tatar yang didatangkan dari daratan China itu semuanya terdiri dari orang-orang Muslim. Menurut cerita, setelah sampai di pinggiran pantai di dekat Surabaya, perahu-perahu membawa bala tentara yang dipesan Wiraraja itu menuju Tarik dengan menyusuri sungai Brantas (Wahid, 2010:2).

Mencermati kisah tentara Tatar dan orang-orang Tarik, kedekatan kedua pihak agaknya memiliki landasan (etika) nilai-nilai tertentu, mengingat mereka berasal dari dua negeri yang berbeda, bahkan berjauhan. Selanjtnya, bukan tidak mungkin prinsip (ajaran) yang dipegang kedua belah pihak saling bertemu dan mempengaruhi. Apakah Wiraraja sudah mengenal Islam, atau lebih jauh dari itu, semuanya memiliki kemungkinan.

Penulis juga mencatat ceramah-ceramah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, khususnya yang ada kaitannya dengan informasi sejarah. Dalam beberapa kesempatan Gus Dur mengatakan, hutan Tarik—yang kemudian dibuka oleh Wijaya, dan kelak menjadi kotaraja Majapahit—berasal dari kata thariqat (tarekat).

Artinya, wilayah hutan Tarik sejak awal sudah didiami oleh sekelompok orang yang mengamalkan ajaran tarekat. Mungkin juga, kerajaan Majapahit dibangun di atas landasan nilai-nilai sufistik yang bersumber dari ajaran tarekat. Bila benar demikian, sejak awal kerajaan Majapahit sebenarnya telah menjalankan nilai-nilai keislaman.

Kecurigaan penulis tentang kemungkinan kerajaan Majapahit sejak awal didirikan oleh orang-orang (muslim) penganut ajaran tarekat bukan tanpa dasar. Diceritakan, pada abad ke-10 telah ada komunitas muslim di Gresik, tidak jauh dari desa Tarik (hutan Tarik). Lahirnya masyarakat muslim itu dipelopori atau didirikan oleh Fatimah binti Maimun di desa Leran, dekat Gresik (Soedjatmoko, 2007:43).

Hingga berdirinya Majapahit berarti telah ada jeda waktu sekitar tiga ratus tahun. Dalam rentang waktu yang demikian panjang, sangat masuk akal bila masyarakat muslim telah berkembang menjadi kelompok yang kuat (Wahid, 2010:22).

Sampai di sini menjadi mudah dipahami, mengapa Arya Wiraraja meminta bantuan kepada pasukan angkatan laut Tatar ketika hendak mendirikan Majapahit.

Peristiwa lain yang memungkinkan orang-orang (tentara) Singasari bertemu dengan komunitas Muslim adalah ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275. Raja yang bertahta di Dharmasraya (Tanah Melayu) kala itu adalah Tribuwanaraja Mauliwarmadewa (1286–1316). Pada tahun 1286 raja ini menerima Arca Amoghapasa dari Raja Kertanegara. Delapan tahun kemudian, anaknya, Putri Dara Petak diboyong ke Majapahit dan diperistri Wijaya yang telah dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit pada tahun 1294 (Muljana, 2007:4).

Di sisi lain, sudah sejak tahun 1028 M para saudagar asing yang berpusat di muara sungai Perlak dan Pasai (keduanya di dekat Aceh) berusaha memonopoli daerah penghasil lada di sungai Kampar kanan dan Kampar kiri (di Minangkabau). Mereka umumnya seorang Muslim beraliran Syi’ah, berburu buah lada di Pulau Sumatera dengan dukungan pemerintah Dinasti Fathimiah (909-1171 M) di Mesir.

Selain berdagang dan mengenalkan ajaran Islam, pada tahun 1128 M para pedagang ini menyeponsori berdirinya kesultanan Pasai, dan pada tahun 1161 M ikut mendirikan kesultanan Perlak. Sampai tahun 1168 M, tidak ada kelompok lain yang bisa menggeser pengaruh kaum perantau dari Mesir ini (Muljana, 2007:130).

Keberadaan kerajaan Islam di Sumatera ini juga disaksikan seorang pedagang dan penjelajah dari Venesia, Italia yang pernah menyusuri jalur sutera. Sekitar tahun 1292 M, Marco Polo singgah di Samudera Pasai. Menurut Marco Polo, di Pasai ada banyak orang yang sudah mengenal dan menyebarkan Islam. Catatannya tentang kisah-kisah menarik selama berperjalanan kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul The Travels of Marco Polo (New York, 1845).

Pertemuan pasukan Singasari dengan orang-orang dari Dinasti Fatimiyah di Tanah Melayu selama hampir dua puluh memungkinkan mereka saling bertukar-pengetahuan dan kebudayaan, termasuk nilai-nilai universal (agama).

Selain itu, sumber-sumber lama seperti Babad Tanah Djawi, Babad Demak Pesisiran, dan Babad Pajang mengabarkan, raja Majapahit terakhir memiliki seorang istri perempuan muslim anak seorang raja dari negeri Campa. Pernikahan Raja Brawijaya dengan Putri Campa melahirkan tiga anak. Keluarga Campa ini pendukung bagi kemudahan perkembangan Islam di Jawa pada masa-masa selanjutnya.

Dari paragraf-paragraf di atas bisa dipahami, pada akhir kekuasaan Singasari telah terjadi kontak politik antara elit istana Singasari dengan angkatan laut Tatar yang muslim. Pada masa-masa berikutnya, penguasa Majapahit memberi kelonggaran bagi tumbuh dan berkembangnya agama Islam di Jawa. Para pembawa agama Islam dari negeri seberang (Campa) diijinkan untuk menyiarkan syari’at, dan pada akhirnya dijadikan kerabat dekat istana.

Tanah pekuburan Muslim Troloyo yang berada tidak terlalu jauh dari pusat situs terbesar peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur juga menjadi bukti bahwa Islam sudah berada di dalam Istana Majapahit. Sejumlah tokoh penting Majapahit yang ternyata seorang Muslim dimakamkan di tanah pekuburan itu.[]

Orang Islam di Majapahit Red: Muhammad Subarkah Oleh: Sunano* Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam salah satu tulisan yang dibukuka...


Orang Islam di Majapahit

Red: Muhammad Subarkah
Oleh: Sunano*

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam salah satu tulisan yang dibukukan dengan judul “Membaca Sejarah Nusantara, 25 Kolom Sejarah Gus Dur” (Yogyakarta: LKiS, 2010), pada halaman 22–24 menjelaskan tentang perang Jawa-Tiongkok.


Secara jeli Gus Dur menjelaskan tentang islamisasi Jawa. Bahwa alasan politik kekuasaan kurang rasional dalam perang Jawa-Tiongkok, yang mungkin adalah persamaan agama. Bahwa Raden Wijaya adalah seorang Muslim sehingga pasukan Muslim Tionghoa sudi membantu. Bahkan Gus Dur lebih lanjut menjelaskan bahwa Wijaya adalah nama yang dimilikinya, yaitu Oei atau Wie, yang dalam cabangnya disebut Wong atau Wang.


Jika benar apa yang dituturkan oleh Gus Dur, maka Majapahit didirikan oleh orang Islam dari etnis Tionghoa. Masalah sumber referensi memang tidak dijelaskan oleh Gus Dur, sehingga jika ada perdebatan sejarah mengenai bukti arkeologis atau bukti historis bahwa Raden Wijaya adalah Muslim akan susah dijelaskan.

Pakar sejarah Nusantara, Denys Lombard dalam buku “Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia”  (Jakarta: Gramedia, 2005) menjelaskan bahwa sejak awal abad ke-13 terjadi revolusi bahari dan telah mendorong berbagai pelabuhan di Sumatera dan Jawa menjadi pusat perdagangan penting dan sangat ramai. Bersamaan waktu, Islam menyebar di semua pusat perdagangan, pelabuhan, dan mencapai puncak kejayaan dalam bentuk kesultanan Islam.


Lombard mengistilahkan, selama dua abad, Samudera Hindia menjadi lautan bersuasana Islam, tempat perdagangan Lautan Tengah dan Laut Cina Selatan menyatu secara alamiah.

Lombard lebih jauh menjelaskan bahwa banyak elite militer Dinasti Mongol yang sudah diislamkan telah mendorong para penasihat Kubilai Khan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran ke arah Jepang, Champa, Vietnam, dan Jawa. Pasukan tempur ini terdiri atas para pedagang, petani, dan tukang kayu Tiongkok Selatan yang sudah akrab dengan pelayaran ke Asia Tenggara.

Hal tersebut terwujud dalam catatan sejarah tentang kedatangan militer Tiongkok ke Indonesia dalam jumlah sangat besar pada waktu Dinasti Yuan berkuasa. Jumlah pasukan Mongol untuk menyerang Jawa dengan perkiraan mencapai 20.000 orang, yang terdiri atas banyak tentara Muslim. Upaya damai penaklukan kerajaan Jawa dilakukan dengan mengutus Men-Shi sebagai wakil Kubilai Khan agar raja Jawa tunduk kepada kekuasaan Mongol. Namun, upaya ini malah dicederai dengan melukai wajah dan memotong telinga utusan resmi tersebut.

Kronik peperangan antara Jawa dan Tiongkok pada masa Dinasti Yuan yang ditulis oleh WP. Groeneveldt dalam buku “Historical Notes Indonesia and Malaya Compiled From Chinese Sources” (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009) menjelaskan tentang penyerangan pasukan Mongol.

Pada tahun 1293, Kaisar Kubilai Khan mengirim pasukan untuk menghukum Raja Singasari yang dipimpin oleh tiga jenderal; Shih-Pi, biasa dipanggil Tarkun yang berasal dari Po Yeh Disktrik Li Chou (Provinsi Chih Li). Merupakan wakil Kubilai Khan untuk menaklukkan Jawa. Selama Dinasti Yuan, menjadi kebiasaan orang Semu (orang Arab, Persia dan Turki), yang merupakan leluhur komunitas Hui, memakai nama Han China sebagai tambahan nama etnis mereka. Karena itu, sangat diyakini bahwa Shih-pi adalah jenderal Muslim.

Ike Mese yang berasal dari Uighur (Provinsi Xinjiang), yang merupakan suku terpandang, paling cerdas, dan berkebudayaan tinggi di antara suku-suku Turkistan lainnya. Xinjiang pada masa Dinasti Yuan merupakan salah satu provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Jenderal ketiga adalah Gaoxing (Kau Shing) yang berasal dari Ts’ai Chou yang merupakan seorang dari bangsa Han.

Kedatangan militer Mongol tersebut membawa dampak signifikan terhadap jumlah populasi Tionghoa dan orang Islam di pulau Jawa dan Sumatera. Kegagalan penyerangan tentara Mongol menyebabkan banyak pasukan bisa kembali ke Tiongkok.

Mereka menyebar dan menetap di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa dan pesisir timur Sumatera. Sisa pasukan Mongol tersebut banyak mengembangkan teknologi kapal, pertanian, dan pertukangan yang sudah sejak lama maju di Tiongkok. Mereka juga membangun jaringan perdagangan antar pulau dan luar negeri.

Komunitas Muslim Tionghoa yang bermukim di Jawa terekam secara jelas oleh Ma-Huan yang membuat catatan perjalanan ekspedisi Laksamana Cheng Ho selama tujuh kali (1405–1433). Catatan tersebut menginformasikan komunitas Muslim Tionghoa di berbagai bandar pelabuhan yang dikunjungi Cheng Ho.

Di bandar pelabuhan Tuban, orang Tionghoa merupakan sebagian besar dari penduduk yang menurut taksiran mencapai “seribu keluarga lebih sedikit”. Di bandar pelabuhan Gresik, juga banyak orang Tionghoa menetap dan berdagang emas, batu mulia, barang impor. Banyak di antara mereka sudah menjadi pedagang kaya.

Mereka juga banyak yang menganut agama Islam dan mentaati aturan agama. Oleh Groeneveldt lebih rinci menjelaskan bahwa di ibukota Majapahit, penduduk terbagi menjadi tiga, orang Hui yang merujuk pada komunitas Arab, mereka makan dan berpakaian sangat layak dan bersih, orang Tionghoa yang banyak memeluk Islam dan Pribumi yang sangat kotor dan jelek.


Komunitas Islam di Majapahit jika merujuk pada sumber primer berupa situs makam sudah ada sejak Raja Hayam Wuruk. Kompleks makam raja-raja dan bangsawan Majapahit di Troloyo sebagai pemakaman Islam bagi keluarga raja. Kompleks makam Troloyo berada di selatan keraton berdekatan dengan perumahan bangsawan dan keluarga Raja Hayam Wuruk.

Seperti ditulis Adrian Perkasa dalam “Orang-Orang Tionghoa & Islam di Majapahit” (Yogyakarta: Ombak, 2012), menjelaskan bahwa kuncup makam pada kompleks makam Kubur Pitu (makam tujuh) menggunakan lambang surya Majapahit dan bertuliskan Arab “la ilaha illahu mukhammadun rasawlu allahu” dengan inskripsi angka tahun meninggal 1397, 1407, 1427, 1467, 1476 M.

Maka, jika melihat tahun meninggalnya, berarti merupakan makam keluarga raja sejak Hayam Wuruk, Wikramawardhana hingga Ratu Suhita. Penggunaan simbol surya Majapahit menandakan kedekatan hubungan dengan keluarga raja atau orang yang sangat penting.

Bukti nisan bertuliskan arab di kompleks pemakaman Troloyo menjelaskan bahwa Islam sudah berkembang pada puncak kejayaan Majapahit.

Catatan sejarah yang dipercaya sampai sekarang memang tidak ada yang menyebutkan bahwa Majapahit adalah kerajaan Islam, tetapi Islam sudah mulai berkembang sejak awal berdiri. Komunitas Islam dari Arab dan Tiongkok memiliki posisi cukup penting sebagai ahli pertukangan dan saudagar kaya yang menguasai perdagangan eksport Majapahit.

 

*Sunano, penulis buku 'Muslim Tionghoa di Yogyakarta'.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (184) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (136) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (403) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (142) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (189) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (88) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)