basmalah Pictures, Images and Photos
11/19/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Sejarah Orang Siak dan Kehidupan Sosial Surau di Minangkabau Suku bangsa Minangkabau memiliki sistem yang unik untuk menghasilka...

Sejarah Orang Siak dan Kehidupan Sosial Surau di Minangkabau



Suku bangsa Minangkabau memiliki sistem yang unik untuk menghasilkan kearifan lokal. Salah satu kearifan lokal adalah sistem pendidikan. Sistem pendidikan ini dilahirkan dari salah satu entitas yaitu surau. Surau adalah bagian dari sistem adat dan sampai sekarang identik dengan sarana pendidikan terutama pada bidang agama. Sejarawan Azyumardi Azra menyebutkan bahwa Surau menjadi semacam asrama anak-anak muda, menjadi tempat belajar mengaji Al Qur’an, belajar agama, tempat upacara-upacara yang berkaitan dengan agama, tempat suluk, tempat berkumpul dan rapat, tempat penginapan musafir, berkasidah/ bergambus, dan lainnya. Kalau dilihat secara umum, sistem Surau memiliki kesamaan dengan pondok pesantren pada masyarakat di Jawa, yaitu sebagai wadah pendidikan Islam dan tidak meninggalkan unsur kebudayaan. Namun juga terdapat perbedaan yang menjadikan surau sebagai bentuk kearifan lokal Minangkabau.

Salah satu bentuk kearifan lokal dari Surau adalah Orang Siak. Kalau peserta didik pesantren di Jawa disebut dengan santri, maka di ranah Minang disebut dengan Orang Siak. Pemahaman orang siak terbagi kepada dua makna, yaitu orang yang berasal dari Siak, Riau dan orang siak yang aktivitasnya berada di lingkungan Surau dan mendalami ajaran Islam. Pada pengertian pertama kita juga akan mendapat pandangan sejarah, bahwa nama Siak di Riau juga berkaitan dengan jalur perkembangan Islam di tanah Melayu dan Minangkabau. Namun pada pembahasan kali ini berfokus kepada orang siak pada pemahaman kedua, sejarah orang-orang yang mengabdikan dirinya untuk mendalami ajaran Islam dalam naungan institusi Surau.

Orang Siak Dalam Rentang Sejarah Surau
Dalam perkembangan masyarakat Minang di era disrupsi ini, mungkin kita sudah jarang menemui sosok orang siak. Kalaupun ada, orang siak hanya akan terlihat eksistensinya dalam acara-acara tertentu bidang keagamaan. Keberadaan orang siak memang sudah tidak lagi menjadi corak masyarakat Minang. Majunya zaman dan berkembangnya pendidikan modern, keberadaan orang siak menjadi jarang ditemui.

Buya Hamka menyebutkan beberapa pengertian orang yang berkelindan dalam tradisi surau di Minangkabau. Pertama, orang siak adalah orang yang dianggap ahli dalam agama Islam, bisa juga diartikan sebagai lebai-lebai atau marbot masjid. Kedua, orang siak di tanah Melayu disebut sebagai pengurus-pengurus harian masjid, orang yang ditugaskan mengurus, memandikan, dan menyembahyangkan jenazah.

Lebih mendetail dari profil orang Siak bisa kita temui dalam buku Prof. Azyumardi Azra "Surau; Pendidikan Islam Tradisional Dalam Transisi Modernisasi. Kedatangan ajaran Islam di ranah Minang, membentuk institusi surau yang sudah ada sebelumnya pada periode Hindu-Budha. Surau yang menjadi sentral pengajaran Islam dan orang siak adalah peserta didiknya. Dalam adat Minang, pemuda yang sudah akil baligh mengharuskan mereka untuk mendalami Islam dan inilah yang menjadi landasan berkembangnya orang siak. Tidak ada pembatasan umur untuk orang siak belajar di surau, lamanya belajar di surau tergantung kemampuan dan penguasaan masing-masing.

Untuk melihat model pemenuhan kebutuhan pokok orang siak ini, kita bisa menilik ke surau gadang (besar) yang didirikan oleh kakek Bung Hatta, Syaikh Abdurrahman di Batu Hampar, Payakumbuh. Selama mendalami Islam di Surau, orang siak tidak dipungut biaya, kalaupun ada merupakan inisiatif dan kerelaan dari pihak keluarga kepada pengurus surau. Penopang biaya hidup orang siak berasal dari masyarakat dengan dekat dengan surau. Prof. Azyumardi Azra memaparkan bahwa di Payakumbuh masyarakat menyuplai bahan makanan kebutuhan pokok untuk orang siak yang ada di Surau Syekh Abdurrahman. Bagi masyarakat, gotong royong ini sebagai bentuk sedekah di mana mereka akan mendapatkan timbal balik berupa pengajaran Islam serta proses peribadatan yang dilakoni oleh orang siak atau pengurus surau. Selain mendapatkan suplai makanan dari masyarakat sekitar surau, orang siak juga punya aktivitas keluar surau untuk mengumpulkan bahan pokok dengan membawa buntil (semacam kantong terigu yang diisi beras).

Sejarah Orang Siak dan Kehidupan Sosial Surau di Minangkabau (1)
Surau Gadang Syaikh Abdurrahman di Batu Hampar, Lima Puluh Kota Salsah Satu Surau Tempat Belajar Orang Siak di Minangkabau.

Pada perkembangannya, orang siak tidak hanya berasal dari pemuda dari suatu kaum. Tradisi merantau juga menyebabkan orang siak datang dari berbagai daerah lain. Melalui orang siak, ranah Minang mengalami periode islamisasi. Keberadaan orang siak juga menjadi petunjuk bagi kita yang ada di era modern ini terkait dengan sistem pendidikan dan arus islamisasi di ranah Minang. Untuk mendalami ajaran Islam dengan pendekatan tasawuf, orang siak menjalankan metode belajar yang relatif lebih sederhana berupa: ceramah dan resitasi melingkar (halaqah). Materi belajar ditentukan syaikh yang menyesuaikan dengan umur dan kemampuan masing-masing orang siak. Pelajaran tingkat dasar: membaca Al-Qur’an dengan qira’at, ibadah, dasar ilmu tauhid. Untuk orang siak dewasa, materi belajar: tasawuf dan tarekat (Azyumardi Azra: 2003).

Pada mulanya metode belajar di surau hanya diampu oleh seorang syaikh. Tetapi dengan bertambah banyaknya orang siak, syaikh kemudian mengangkat beberapa guru tuo (guru senior). Tugasnya: memberikan penjelasan lebih rinci dari materi dan bertugas mengawasi orang siak dalam menghafal pelajaran. Dengan banyaknya peminat dan orang siak yang lebih senior ditunjuk menjadi guru senior maka kondisi ini turut memperbesar organisasi surau. Semakin besarnya organisasi ini berdampak kepada terciptanya lingkungan seperti kawasan pendidikan dalam sebuah kampung atau nagari. Christine Dobbin menyebutkan surau besar umumnya memiliki paling sedikit 20 bangunan dan dibagi berdasarkan daerah asal mereka. Hal ini tercermin di komplek Surau Besar Syaikh Abdurrahman di Batu Hampar, Payakumbuh (Azyumardi Azra: 2003).

Surau dan Orang Siak Hari Ini

Sistem pendidikan surau yang relatif lebih sederhana berhasil mengislamisasi Minangkabau dengan pendekatan tasawuf dan orang siak hadir sebagai motor islamisasi ini. Namun sistem ini mengalami transformasi karena dinamika yang terjadi di ranah Minang. Masuknya kolonialisme yang membawa pendidikan barat, terbukanya akses dengan Arab di mana sedang bangkit gelombang pemurnian Islam membawa dampak terhadap eksistensi surau.

Secara perlahan, pengaruh dari luar ini menimbulkan perbenturan seperti konflik kaum adat dan kaum paderi atau munculnya sekolah dengan sistem Eropa. Dalam dinamika ini, kemudian juga muncul sekolah Islam dengan mengadaptasi konsep sekolah Eropa seperti adanya kurikulum dan ditambahkannya mata pelajaran sains yang memang menjadi semangat pendidikan di Eropa. Perubahan ini berdampak juga kepada eksistensi dan peran orang siak yang tidak lagi memiliki peran sentral seperti sebelumnya.

Hingga hari ini, secara riil di ranah Minang orang siak bukan lagi menjadi pemandangan umum. Keberadaannya bisa dikatakan masih ada, tetapi tergerus oleh kemajuan zaman. Dalam lingkungan masyarakat Minang juga terjadi perubahan orientasi, lembaga pendidikan modern lebih mendapatkan tempat untuk membentuk manusia Minang sebagai upaya menjawab tantangan zaman. Walaupun demikian, secara etis surau tidak bisa dihilangkan begitu saja, pun dengan keberadaan orang siak. Ranah Minang harus merawat nilai-nilai surau dan menyelaraskannya dengan gerak maju zaman.

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (4): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (2) “Nenek moyang dari Wali Songo masih mer...

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (4): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (2)


“Nenek moyang dari Wali Songo masih merupakan keturunan dari ‘Alawiyin”

–O–


Berbicara mengenai Habaib atau keturunan Alawiyin yang mengambil peran penting dalam struktur kerajaan di Nusantara, kita tidak bisa melepaskannya dari sosok Al-Imam Jamaluddin Husain atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Syekh Jumadil Kubro”. Beliau adalah putra Maulana Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmathkhan bin Abdul Malik bin Awali bin Muhammad Shahib Mirbath (leluhur semua keturunan Alawi sekarang). Beliau lahir pada pertengahan abad ke-13 dan wafat pada awal abad ke-14. Jumadil Kubro bukan berdarah murni Yaman, melainkan mempunyai darah dari garis ibu yang merupakan bangsawan India dan Cina.[1]

Berdasarkan cita-cita dan arahan leluhur beliau hingga Al-Imam Abdul Malik untuk Nusantara (Asia Tenggara), beliau membuat konsep dakwah di Nusantara yang kemudian konsep itu digunakan secara berkesinambungan oleh beliau dan anak cucu beliau. Konsep itu terus dikembangkan hingga pada puncaknya, cucu beliau yang bergelar Sunan Ampel (Maulana Ahmad Rahmatullah bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Syekh Jumadil Kubro) berhasil mengubah budaya Jawa dengan konsep Wali Songo-nya sehingga peneliti barat ada yang menyebut keberhasilan Sunan Ampel adalah yang kedua setelah Rasulullah karena beliau berhasil mengubah budaya sebuah bangsa dengan tim Wali Songo yang beliau buat.[2]

Maka keberhasilan Sunan Ampel sebenarnya bukan keberhasilan beliau sendiri, melainkan keberhasilan bersama mulai Al-Imam Abdul Malik. Konsep Wali Songo adalah intisari dari master plan yang dibuat oleh Syekh Jumadil Kubro, sedangkan Syekh Jumadil Kubro mengembangakan “cetak biru” yang dibuat oleh Al-Imam Abdul Malik dan dikembangkan oleh Maulana Abdullah Azmatkhan dan Maulana Ahmad Jalaluddin.[3]

Keturunan Syekh Jumadil Kubro diketahui selalu memerankan diri seperti pribumi di tempat mana pun. Misalnya, yang tinggal di tanah Jawa berasimilasi dengan penduduk lokal sehingga kemudian mereka tidak bisa lagi dibedakan dengan suku “Jawa asli”. Hal yang serupa terjadi pula di Madura, tanah Sunda, dan sebagainya.[4]

Di kemudian hari keturunan Syekh Jumadil Kubro tidak hanya mewarnai struktur kekuasaan di pulau Jawa saja, tapi juga daerah-daerah lainnya, bahkan sampai Asia Tenggara, sebut saja penguasa Kesultanan Campa (Vietnam), Kesultanan Patani (Thailand), Kesultanan Mindanau (Filipina), Kesultanan Kelantan (Malaysia), Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Palembang.[5]

 

Bukan Habib

Ismail Fajrie Alatas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Habib adalah seluruh keturunan Alawiyin dari Hadhramaut, Yaman, yang tersebar di Hadhramaut itu sendiri, Asia Tenggara, dan Pesisir Swahili di Afrika Timur.[6] Maka bila merujuk ke definisi tersebut, mestinya Syekh Jumadil Kubro masih termasuk dalam kategori seorang Habib.

Akan tetapi, keturunan Syekh Jumadil Kubro sendiri, yang diwakili oleh K.H. Ali Badri, bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina “Naqabat Ali Azmatkhan Al-Husaini” dan di Indonesia lebih populer dengan nama “Majelis Dzuriyat Wali Songo”, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Habib adalah keturunan Alawiyin dari garis  Al-Faqih Al-Muqaddam. Menurutnya, walaupun sama-sama berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Imam Ahmad bin Isa atau al-Imam al-Muhajir—generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra—namun dalam perkembangannya antara keluarga Azmatkhan Al-Husaini dan Al-Faqih Al-Muqaddam berasal dari keluarga yang berbeda. Keturunan Al-Faqih Al-Muqaddam yang datang belakangan ke Indonesialah yang memperkenalkan istilah Habib untuk keturunan Alawiyin.[7]

Walaupun demikian, dalam perkembangan kekinian, sebagaimana yang dikatakan oleh Ismail Fajrie Alatas di atas, umumnya penduduk di Indonesia beranggapan bahwa seluruh keturunan Alawiyin bergelar Habib (Jamak: Habaib).

 

Wali Songo

Wali Songo atau yang secara harfiah berarti wali sembilan merupakan tokoh-tokoh penyebar Islam di nusantara. Mereka adalah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Maulana Makhdam Ibrahim), Sunan Giri (Muhammad ‘Ain Al-Yaqin/ Sultan ‘Abd Al-Faqih), Sunan Drajat (Maulana Syarifuddin), Sunan Kalijaga (Maulana Muhammad Syahid), Sunan Kudus (Maulana Ja‘far Al-Shadiq ibn Sunan ‘Utsman), Sunan Muria (Raden Umar Said bin Maulana Ja‘far Al-Shadiq), dan Sunan Gunung Jati (Maulana Al-Syarif Hidayatullah).

Berdasarkan pohon silsilah hasil penelitian Sayid Zain bin Abdullah Alkaf dalam Khidmah al-‘Asyirah, sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim,[8] kecuali Sunan Kalijaga, delapan Wali Songo lainnya adalah keturunan Abdullah Azmathkhan (Keturunan Alawiyin yang bermukim di India) dari jalur Syekh Jumadil Kubro, atau dengan kata lain mereka adalah masih keturunan Alawiyin dari Yaman. Lebih jelas silakan lihat pohon silsilah di bawah ini:

Mengenai Sunan Kalijaga, Professor Sumanto Al Qurtuby mengatakan bahwa beliau adalah putra dari Raja Majapahit Brawijaya V, yang menikahi seorang perempuan China Muslim yang bernama Retna Subanci. Retna Subanci merupakan anak dari Babah Ba Tong atau Tan Go Hwat. Babah Ba Tong atau Babah Bentong pada waktu itu merupakan seorang China Muslim yang mempunyai pengaruh luas di Jawa Tengah, Cirebon, dan Pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Versi lain megatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan anak dari raja Tuban yang bernama Oei Tik To, nama lain dari Sunan Kalijaga adalah Oei Sam Ik.[9]

Tidak hanya Sunan Kalijaga, Sunan Bonang pun dikatakan memiliki nama China, yaitu Bo Bing Nang. Beberapa penyebar Islam lainnya yang bukan Wali Songo juga diidentifikasikan sebagai China Muslim, misalnya Ki Ageng Gribig (Siauw Dji Bik), Ki Ageng Pengging (Heng Pa Hing), dan Sunan Pajang (Na Pao Tjing).[10]

Nama-nama China yang melekat pada sebagian Wali Songo dan penyebar Islam lainnya sesungguhnya memungkinkan, mengingat Jumadil Kubro sendiri selain dari Yaman nyatanya masih ada keturunan China. Selain itu proses kawin mawin antara keturunan Alawiyin dan orang-orang China di Indonesia juga memungkinkan karena jumlah China pada waktu itu sudah banyak dan mereka juga memainkan peran sentral dalam situasi politik dan kultural di Indonesia. Mengenai Nasab dari para penyebar Islam di Indonesia yang masih keturunan China akan kita bahas dalam artikel lain.

Singkat kata, berdasarkan pohon silsilah di atas, maka dapat dikatakan bahwa mayoritas Wali Songo merupakan keturunan Alawiyin dari Yaman. Dalam perkembangannya keluarga mereka akan memainkan peran penting dalam dakwah Islam di Indonesia, dan bahkan beberapa di antaranya ada yang sampai naik ke tampuk kekuasaan tertinggi kerajaan-kerajaan di Indonesia. Pembahasan mengenai hal itu akan dibahas dalam artikel selanjutnya. (PH)

Catatan Kaki:

[1] Muhammad Subarkah, Jalur Dakwah Diaspora Hadhramaut, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 243.

[2] K.H. Ali Badri, Sikap Mempribumi Kunci Sukses Dakwah Ulama ‘Alawiyin Di Nusantara, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 162.

[3] Ibid., hlm 162-163.

[4] Muhammad Subarkah, Ibid., hlm 244.

[5] .H. Ali Badri, Ibid., hlm 163.

[6] Ismail Fajrie Alatas, Habaib in Southeast Asia, The Encyclopaedia Of Islam Three (Leiden: Brill, 2018), hlm 56.

[7] K.H. Ali Badri, Ibid., hlm 157-164

[8] Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 19-20.

[9] Sumanto Al Qurtuby, The Tao of Islam: Cheng Ho and the Legacy of Chinese Muslims in Pre-Modern Java, (Studia Islamika, Vol. 16, No. 1, 2009), hlm 60-61.


Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-4-habaib-dalam-pusaran-kerajaan-di-indonesia-2/

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (3): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (1) “Tidak sedikit dari kaum ‘Alawiyin awal...

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (3): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (1)



“Tidak sedikit dari kaum ‘Alawiyin awal yang datang ke Indonesia masuk ke dalam keluarga berbagai kerajaan lokal melalui perkawinan, kemudian tidak sedikit pula tampuk kepemimpinan kesultanan di Asia Tenggara sampai saat ini berada dalam jalur keturunan tokoh-tokoh ini, antara lain, kesultanan di Pontianak dan tempat-tempat lain.”

–O–


Pada artikel sebelumnya kita telah membahas bahwasanya Habaib (jamak dari Habib) baik secara filosofis maupun pergerakkan datang ke Indonesia dengan jalan damai. Tidak terkecuali pada saat masa-masa kerajaan di Indonesia, metode dakwah Islam dan ajaran yang mereka bawa dikemas dengan sedemikian harmonis dengan budaya di masyarakat lokal sehingga dalam waktu yang relatif singkat, para tokoh di kalangan ini mendapat tempat di hati elit dan akar rumput pada bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Karena pendekatan persuasif dan damai, kerajaan-kerajaan lokal dengan leluasa dan sukarela membuka diri terhadap agama Islam yang relatif baru sehingga peluang dakwah semakin luas.[1]

Tidak sedikit dari kaum ‘Alawiyin awal yang datang ke Indonesia masuk ke dalam keluarga berbagai kerajaan lokal melalui perkawinan, kemudian tidak sedikit pula tampuk kepemimpinan kesultanan di Asia Tenggara sampai saat ini berada dalam jalur keturunan tokoh-tokoh ini, antara lain, kesultanan di Pontianak dan tempat-tempat lain. Tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan bukanlah betapa cepatnya Islam menyebar di Nusantara pada khususnya dan Asia Tenggara pada umumnya, melainkan fakta bahwa Islam menyebar dengan cepat dan dengan cara damai.[2]



Berkat cara damai ini pula, Islam sebagai agama baru, dibanding Hindu dan Budha yang lebih dulu ada di Indonesia, dengan mudah dapat menggugah kesadaran masyarakat dan segera menjadi agama mayoritas. Sebagai ilustrasi, orang Jawa yang semula begitu menghayati ajaran-ajaran Hindu, segera menyerap dan menghayati aspek-aspek spritualitas dan tasawuf Islam.[3]

Selain dengan cara damai, memang struktur masyarakat nusantara sendiri, khususnya orang-orang Melayu, dalam mendalami agama Hindu-Budha, tidak terlalu dalam secara teologis. Sebagaimana diungkapkan oleh Haji Muzaffar Dato’ Hj Muhammad dan (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, Habaib datang pertama kali di sini sebagai juru dakwah, mereka menemukan penduduk lokal secara umum memeluk ajaran Hindu-Budha dan beberapa lainnya masih menganut agama Pagan. Untungnya, kepercayaan penduduk ini kebanyakaan tidak terlalu dalam.[4]

Ketika mereka menyelenggarakan upacara untuk menyembah dewa atau semacamnya, hal ini sebenarnya hanyalah apresiasi fisik tanpa terlalu jauh mendalami filosofi sebenarnya dari ibadah tersebut. Dengan kata lain, filosofi Hindu-Budha tidak secara total menguasai aspek psikologis orang-orang Melayu. Mereka cenderung hanya mengikuti itu untuk memenuhi kebutuhan sosial dan rekreasi, hiburan dan dalam rangka menjadi kreatif, sehingga Prof. Sayyid Muhammad Naquib Al-Attas, mengungkapkan, “pengaruh Hindu tidak pernah sampai pada tahapan mengubah pandangan dunia orang Melayu, yang mana (ajarannya) berbasis pada seni, bukan filosofi”.[5]

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa praktik ibadah orang-orang Melayu lebih bersifat ritualistik, bukan teologis. Kondisi tersebut memberikan ruang yang luas bagi juru dakwah Islam untuk menanam benih-benih Islam di dalam pikiran mereka, sebuah benih yang sedikit demi sedikit akan tumbuh untuk menjadi kepribadian Islam Melayu yang solid.[6]

Dalam tataran yang lebih jauh, Habaib dapat masuk ke dalam lingkaran elit kerajaan di nusantara dan bahkan sampai menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Pada awalnya, sebagaimana dikisahkan oleh Musa Kazhim, sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa, seperti Portugis dan Belanda. Kebanyakan Habaib diberi kepercayaan oleh raja-raja setempat sebagai syahbandar, seorang diplomat ekonomi yang bertugas mengatur gerak perdagangan antara kerajaan setempat dengan para importir. Pada masa pemerintah kolonial Portugis dan Belanda, jabatan syahbandar diubah menjadi kapiten atau letnan, yang tidak sekedar menjadi makelar ekonomi, tetapi juga makelar budaya, penghubung antara masyarakat lokal dengan pemerintah kolonial. Bukan hanya para Habib, jabatan kapiten atau letnan juga dipercayakan kepada elite Tionghoa dan Melayu.[7]

Jika bangsa-bangsa kolonial Eropa mengeruk kekayaan alam daerah jajahan, maka para Habib membuat simpul-simpul jaringan intelektual di daerah-daerah tempat mereka berdiaspora. Azyumardi Azra, Ulrike Freitag, dan Michael R. Feener telah memetakan jaringan-jaringan itu secara rinci. Sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim, paling tidak, ada tiga pola simpul jaringan intelektual para Habib. Pertama, jaringan intelektual antara Mekkah dan Nusantara, yang sekarang dikenal sebagai Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Kedua, jaringan intelektual antara Hadhramaut dan Asia Tenggara. Ketiga, pusat-pusat studi Islam di kerajaan-kerajaan lokal di daerah-daerah Asia Tenggara, seperti Riau dan Sumenep.[8]



Dalam perkembangannya, Habaib juga melakukan perkawinan dengan perempuan-perempuan setempat yang merupakan keluarga bangsawan lokal sehingga memungkinkan mereka atau keturunan mereka pada akhirnya mencapai kekuasaan politik yang dapat digunakan untuk penyebaran Islam.[9] K.H. Ali Badri Ketua Dewan Pembina Majelis Dzurriyat Wali Songo, mengatakan tak sedikit dari tokoh ‘Alawiyin awal itu kemudian masuk ke dalam keluarga berbagai kerajaan lokal melalui jalinan perkawinan. Maka, kenyataannya, kemudian tak sedikit tampuk kekuasaan kesultanan di Asia Tenggara sampai saat ini berada di jalur keturunan tokoh-tokoh tersebut. Misalnya, Kesultanan Pontianak.[10] (PH)


Catatan Kaki:

[1] Prolog Abdillah Toha dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm xix.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Haji Muzaffar Dato’ Hj Muhammad dan (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, Ahlulbait (Keluarga) Rasulullah SAW. dan Kesultanan Melayu, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 90

[5] Pehin Jawatan Luar Pekerma Raja Dato Seri Utama Dr. Ustaz Hj Md Zain Hj Serudin, Melayu Islam Beraja; Suatu Pendekatan, 1998, hlm. 105, dalam Haji Muzaffar Dato’ Hj Muhammad dan (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, Ibid.

[6] Haji Muzaffar Dato’ Hj Muhammad dan (Tun) Suzana (Tun) Hj Othman, Ibid.

[7] Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 13

[8] Ibid., hlm 13-13.

[9] Azyumardi Azra, “Islamisasi Nusantara; Dakwah Damai”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 111-112.

[10] Muhammad Subarkah, Jalur Dakwah Diaspora Hadhramaut, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 242.


Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-3-habaib-dalam-pusaran-kerajaan-di-indonesia-1/

 Asal-Usul Habib di Indonesia (2): Dakwah Damai Alawiyin “Islam disebarkan para penyiarnya dalam dakwah damai dengan pendekatan ...


 Asal-Usul Habib di Indonesia (2): Dakwah Damai Alawiyin



“Islam disebarkan para penyiarnya dalam dakwah damai dengan pendekatan inklusif dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya lokal”

–O–


Pada tahun 2017, di Indonesia diperkirakan terdapat sebanyak 500 ribu – 1,5 juta jiwa keturunan Alawiyin asal Hadhramaut. Pendataan terhadap kaum Alawiyin tersebut pertama kali dilakukan pada tahun 1932-1940. Dari hasil pendataan tersebut, tercatat terdapat 68 marga atau kabilah (kaum dari satu ayah) kaum Alawiyin. Sementara, di luar itu terdapat 239 marga Arab di Indonesia yang tidak termasuk keturunan Alawiyin. Artinya, jumlah marga keturunan Nabi lebih kecil dibanding marga Arab lainnya.[1]

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas bahwa para Habib tersebut sudah ada sejak lama di Indonesia, bahkan mereka sudah ada jauh hari dari sejak sebelum masa kemerdekaan. Namun, kapankah tepatnya para habib tersebut masuk ke Indonesia?

Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Azyumardi Azra merangkumnya ke dalam empat teori, yaitu Pertama, Islam dibawa langsung dari Arabia, yakni pada masa-masa awal tahun Hijriah; kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyair “profesional”—yakni mereka yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam; ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; dan keempat, kebanyakan para penyebar Islam “profesional” ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Mungkin benar bahwa Islam sudah diperkenalkan ke dan ada di Nusantara pada abad-abad pertama Hijriah, tetapi hanyalah setelah abad ke-12 pengaruh Islam kelihatan lebih nyata. Oleh karena itu, proses Islamisasi tampaknya mengalami akselarasi antara abad ke-12 dan ke-16.[2]

Dari empat teori tersebut, pada bagian manakah para Habib masuk ke Indonesia? Tahap pertama kedatangan para Habib dijelaskan oleh dua habib terkemuka, yaitu Sayid Alwi bin Thahir Al-Haddad (1957) dan Sayid Muhammad Naquib Al-Attas (1972 dan 2011), dan diamini oleh H. Aboebakar Atjeh, mereka mengemukakan bahwa para pembawa Islam kali pertama adalah para Habib pedagang dari Hadhramaut. Aceh merupakan daerah pertama berlabuhnya para Habib tersebut. Bukti dari kehadiran para Habib tersebut dapat dilacak dari keberadaan kuburan kaum Hadhrami di Aceh.[3]

Tahap pertama proses Islamisasi Nusantara oleh para Habib terjadi pada abad-abad pertama Hijriah. Mengingat jauhnya jarak dari tempat turunnya wahyu dan keterbatasan teknologi transportasi, keberhasilannya masih terbatas pada wilayah-wilayah tertentu yang amat terbatas dan belum lagi mampu mencapai wilayah-wilayah lain di seluruh penjuru negeri.[4]

Pada tahapan kedua, Musa Kazhim menjelaskan bahwa para Habib Alawiyin keturunan ‘Ali dan Fâthimah binti Rasulullah SAW tersebut datang pada abad ke-14 M. Pada periode ini, dakwah Islam berkembang sedemikian rupa sehingga dapat tersebar di seluruh penjuru Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Perkembangan tersebut mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga abad ke-17 M.[5]

 

Dakwah Damai Alawiyin

Namun terlepas dari teori mana yang benar, Azyumardi Azra mengatakan, hanya satu hal yang pasti, yaitu Islam disebarkan para penyiarnya dalam dakwah damai dengan pendekatan inklusif dan akomodatif terhadap kepercayaan dan budaya lokal.[6] Pengarang Al-Madkhal ilâ Târîkh Al-Islâm bi Al-Syarq Al-Aqshâ sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim mengatakan:

“Islam datang ke pulau-pulau yang jauh ini dibawa oleh orang-orang berakhlak mulia, bermoral tinggi, cerdik pandai, dan semangat kerja keras. Sementara itu, bangsa-bangsa yang menerima kedatangan mereka memiliki hati yang jernih sehingga dengan suka cita menerima ajakan mereka dan menyatakan beriman. Mereka adalah keturunan ‘Ali dan Fâthimah binti Rasulullah Saw. yang menginjakkan kaki di wilayah- wilayah yang belum pernah terjamah oleh tangan Barat. Mereka melakukan itu bukan dengan membawa bala tentara, melainkan semangat iman; bukan pula kekuatan, melainkan sikap percaya diri dan keimanan. Tiada mereka berbekal, kecuali tawakal; tiada perahu motor, tiada pula angkatan perang, yang mereka bawa hanya iman dan Alquran. Mereka berhasil mencapai tujuan yang tak dapat dicapai beribu pasukan dengan segala perbekalan dan fasilitas lengkap sekalipun, padahal mereka hanya beberapa orang.”[7]

Bila ditarik lebih ke belakang lagi, tokoh besar Alawiyin, Muhammad bin ‘Ali (574-653 H), atau juga dikenal dengan sebutan Al-Faqih Al-Muqaddam, tokoh yang menjadi peletak dasar-dasar tasawuf kaum ‘Alawiyin secara demonstratif pernah melakukan “upacara” pematahan pedang. Al-Faqih Al-Muqaddam mematahkan pedangnya sebagai simbol politik dan sosial-religius. Ahli sejarah ‘Alawiyin, Sayid Muhammad bin Ahmad Al-Syathiry mengupasnya, dalam kitab Adwar Al-Tarikh al-Hadhramy, sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim, mengatakan:

“Di masa Al- Faqih Al-Muqaddam dan sebelumya, para penguasa di Hadhramaut menyoroti gerak-gerak ‘Alawiyin karena mereka selalu mendapatkan tempat di hati rakyat (mengingat klaim kuat keimaman sebagaimana dinyatakan dalam berbagai hadis dan dipercayai banyak orang). Mereka khawatir, tokoh-tokoh di kalangan kaum ‘Alawiyin dapat menjadi sumber berkumpulnya kekuatan politik dan ditakutkan dapat menggerogoti kekuasaan mereka. Bukan hanya selalu mengawasi gerak gerik ‘Alawiyin, para penguasa ini juga terus menyudutkan kelompok ini, seperti perlakuan para penguasa sebelumnya, yang bermula sejak Bani Umayyah, Bani Abbas, dan lainnya (inilah juga yang mengakibatkan Ahmad bin ‘Isa hijrah ke Hadhramaut untuk pertama kalinya). Alasan yang sama telah membuat kakeknya, Shahib Mirbath (Muhammad bin Ali) hijrah dari daerahnya; juga kematian pamannya Alwi yang dipercayai diracun oleh Al Qahthany, penguasa Tarim saat itu. Maka, pematahan pedang harus dilihat sebagai simbol peletakan senjata, yang berarti kesediaan untuk menempuh cara-cara damai dalam dakwah dan kemasyarakatan. Penekanan pada tasawuf dan metode dakwah secara damai inilah yang kemudian secara umum mewarnai secara turun temurun “mazhab” kaum ‘Alawiyin di mana pun mereka berada, sampai pada masa sekarang ini.”[8]

Rupanya, metode dakwah damai ini diturunkan dari generasi ke generasi Alawiyin berikutnya, termasuk kaum Alawiyin di Indonesia. Memang sejarah mencatat, terlepas kaum Alawiyin ataupun bukan, sebab ternyata ditemukan juga tokoh dakwah Islam di Indonesia yang berasal dari China,[9] bahwa tidak pernah ditemukan adanya unsur peperangan apapun sepanjang sejarah dakwah penyebaran Islam di bumi Indonesia. (PH)


Catatan Kaki:

[1] Reja Hidayat, “Dinamika Menelusuri Silsilah Para Habib”, dari laman https://tirto.id/dinamika-menelusuri-silsilah-para-habib-chda, diakses 25 Desember 2017.

[2] Azyumardi Azra, “Islamisasi Nusantara; Dakwah Damai”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 111.

[3] Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 14.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm 15.

[6] Azyumardi Azra, Ibid., hlm 101.

[7] Musa Kazhim, Ibid., hlm 15.

[8] Ibid., hlm 6-7.

[9] Tentang pendakwah dari China, lihat “Masjid Muhammad Cheng Ho Palembang (2): Siapakah Cheng Ho?”, dari laman https://ganaislamika.com/masjid-muhammad-cheng-ho-palembang-2/, diakses 26 Desember 2017.

Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-2-dakwah-damai-alawiyin/

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (1): Siapakah Habib? Habib, siapakah dia? Gambaran Habib bagi masyarakat Indonesia barangka...

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (1): Siapakah Habib?


Habib, siapakah dia? Gambaran Habib bagi masyarakat Indonesia barangkali adalah seorang laki-laki berwajah Arab, berjanggut, bersorban, dan mengenakan gamis. Namun, di luar soal tampilan, biasanya seorang Habib memiliki banyak sekali jamaah yang rutin menghadiri kegiatan keagamaan yang dilakukan olehnya. Namun siapakah sebenarnya Habib itu? Sejarah mencatat, keberadaan para Habib di Indonesia sudah berlangsung lama sejak sebelum kemerdekaan.

Di antara nama Habib-habib di Indonesia yang mempunyai nama dalam lingkup nasional adalah Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau lebih populer dengan nama Habib Ali Kwitang, Pendiri Majelis Ta’lim Kwitang, Jakarta; Habib Ali Alatas, mantan Menteri Luar Negeri; dan yang belakangan banyak menghiasi berita media nasional, Habib Rizieq Shihab, pendiri dan ketua FPI (Front Pembela Islam). Selain nama-nama tersebut masih banyak Habib-habib lainnya yang mempunyai pengaruh besar.


“Habib” yang yang secara tekstual berarti “kekasih” adalah gelar kehormatan yang ditujukan kepada para keturunan Nabi Muhammad SAW yang tinggal di daerah Lembah Hadhramaut, Yaman; Asia Tenggara; dan Pesisir Swahili, Afrika Timur.[1] Lebih spesifik lagi, definisi “keturunan” ini mesti dari keturunan Husein, yakni putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra (putri Nabi Muhammad SAW).[2]


Secara pemaknaan, Quraish Shihab memberikan penjelasan yang lebih detail mengenai Habib, “Habib itu orang yang mengasihi dan dikasihi. Jadi kalau ‘mengasihi’ dalam bahasa Arab itu artinya ‘muhib’. Kalau ‘yang dikasihi’ itu ‘mahbub’. Kalau ‘habib’, bisa berarti subjek bisa berarti objek. Jadi, ‘habib’ tidak boleh bertepuk sebelah tangan, hanya mau dicintai tapi tidak mencintai orang,” ujar Quraish Shihab dalam sebuah wawancara.[3]

Asal muasal keberadaan para Habib dapat dilacak dari pendirinya, yaitu Ahmad bin Isa (wafat tahun 345 H). Pria yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Ahmad bin Isa atau al-Imam al-Muhajir ini adalah generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra.[4] Secara berturut-turut garis keturunannya dapat dilihat dari diagram berikut ini:

SILSILAH ALAWIYIN
Ahmad bin Isa diketahui melakukan hijrah dari Basra ke Hadhramaut (Yaman) bersama keluarganya pada tahun 317 H untuk menghindari Dinasti Abbasiyah yang sedang berkuasa pada saat itu. Sebelum ke Yaman, Ahmad bin Isa diketahui pernah melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, dia kemudian tinggal di dekat kuburan buyutnya. Di Madinah, beredar isu bahwa para keturunan Rasul akan mengambil alih kekuasaan. Isu tersebut membuat pemerintah yang berkuasa saat itu cemas sehingga banyak keturunan Nabi yang diburu dan bahkan dibunuh. Karena hal itu lah, akhirnya Ahmad bin Isa dan keluarganya memutuskan untuk berhijrah.[5]

Sementara, versi lain mengatakan bahwa Ahmad bin Isa adalah seorang yang ‘alim, ‘amil (mengamalkan ilmunya), hidupnya bersih dan wara’ (pantang bergelimang dalam soal keduniaan). Di Irak beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan terpandang, dan mempunyai kekayaan cukup banyak. Mereka hijrah ke Hadhramaut bukan karena dimusuhi atau dikejar-kejar oleh penguasa, melainkan karena lebih mementingkan keselamatan akidah keluarga dan pengikutnya. Mereka hijrah dari Basrah ke Hadhramaut mengikuti contoh kakek buyutnya, yaitu Muhammad Rasulullah SAW yang hijrah dari Mekah ke Madinah.[6]

Ahmad bin Isa wafat di Husaisah, salah satu desa di Hadhramaut, pada tahun 345 Hijriah. Beliau mempunyai dua orang putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi (Alawi), Jadid, dan Ismail. Pada akhir abad ke-6 H keturunan Ismail dan Jadid dikatakan tidak mempunyai kelanjutan, sehingga mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap berlanjut. Keturunan dari Alwi inilah yang kemudian dikenal dengan kaum Alawiyin. Maka, secara khusus, istilah “Habib” mengacu kepada keturunan Alwi bin Ubaidillah (wafat awal abad ke-5 H).[7]

Ahmad bin Isa semasa hidupya dikenal sebagai orang yang berilmu tinggi dan berbudi tinggi, selain itu, beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa beliaulah pewaris agama Islam serta Ahlul Bait yang sah.[8] Berdasarkan fakta tersebut, maka dalam perkembangannya, wilayah Hadhramaut menjadi semacam “sekolah” bagi orang-orang yang ingin menimba ilmu agama Islam, walaupun sebenarnya di sana tidak ada institusi formal. Hubungan antara murid dan guru di sana lebih diikat dalam bentuk ikatan spiritual. Di kemudian hari sekolah Hadhramaut dikenal memiliki aliran tersendiri yang disebut al-tariqa al-Alawiyya (Tarikat Alawiyin).[9]

Dengan keberadaan Tarikat Alawiyin, maka istilah Habib di Hadhramaut menjadi lebih luas, tidak lagi dibatasi sebatas garis keturunan. Lulusan sekolah Tarikat Alawiyin yang ternama pun dapat dipanggil sebagai Habib. Namun, bagi kalangan Alawiyin di Asia Tenggara, istilah Habib masih dibatasi berdasarkan garis keturunan, oleh karena itu lah muncul varian-varian lain dari gelar yang disematkan kepada para keturunan Nabi, yaitu Sayyid dan Sharif.[10] Sayyid berarti keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis Husein, sementara Sharif adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari garis Hasan.[11] (PH)


 Catatan Kaki:

[1] Ismail Fajrie Alatas, Habaib in Southeast Asia, The Encyclopaedia Of Islam Three (Leiden: Brill, 2018), hlm 56.

[2] Arbi Sumandoyo, “Kita Harus Bisa Memilah antara Sayid dan Habib”, dari laman https://tirto.id/kita-harus-bisa-memilah-antara-sayid-dan-habib-chc8, diakses 3 November 2017.

[3] Zen RS dan Ahmad Khadafi, “Banyak Habib yang Tidak Mencerminkan Akhlak yang Baik”, dari laman https://tirto.id/banyak-habib-yang-tidak-mencerminkan-akhlak-yang-baik-chxg, diakses 4 November 2017.

[4] Arbi Sumandoyo, Ibid.

[5] Ibid.

[6] Benmashoor, “Asal Usul Para Habaib di Nusantara”, dari laman http://www.sarkub.com/asal-usul-para-habaib-di-nusantara/, diakses 4 November 2017.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ismail Fajrie Alatas, Loc. Cit.

[10] Ibid.

[11] Arbi Sumandoyo, Loc. Cit.

 
Sumber:
https://ganaislamika.com/melacak-asal-usul-habib-di-indonesia-1-siapakah-habib/

Syeik Abdurrauf dan Tafsir Al Quran Pertama Di Nusantara Prof. Hamka dalam salah satu prasarannya di Seminar Sejarah Masuk dan B...

Syeik Abdurrauf dan Tafsir Al Quran Pertama Di Nusantara


Prof. Hamka dalam salah satu prasarannya di Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia tahun 1980, menyatakan bahwa tafsir Al Quran tertua yang memuat lengkap 30 Juz, dengan ditulis dalam bahasa Melayu adalah Kitab tafsir Tarjuman al-Mustafid yang ditulis oleh ‘Abd ar-Ra’uf bin ‘Ali al-Jawiyy al-Fansuriyy as-Sinkiliyy, atau dikenal dengan Syeik Abdurrauf al-Sinkily yang diperkirakan hidup antara tahun 1615-1693 M.[1]

Dr. Rinkes seorang sarjana Belanda dan turut aktif membangun Serikat Islam (SI) sekitar 1915, dalam disertasinya yang berjudul “Abdurrauf Van Singkel”, menyebut nama lengkap beliau, yaitu Syaikh Aminuddin Abdurrauf bin ‘Ali Al Jawy, Tsummal Fanshuri As Sinkily.[2]

Terkait adanya nama Jawy pada nama Syeik Abdurrauf, menurut Hamka, sejak dulu Ibn Batutah kerap menyebut penduduk Nusantara sebagai orang Jawi. Meskipun Ibn Batutah tercatat pernah berkunjung ke Aceh, namun dalam catatatnya beliau menamakan penduduk Siam (Thailand), pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi dan Mindano (Filipina Sekarang), dengan sebutan Jawy. Catatan ini kemudian terkenal dan menjadi lingua franca internasional tentang Nusantara. Maka tidak mengherankan bila Syeik Abdurrauf memperkenalkan dirinya dengan nama Jawy.[3]

Adapun asal usul Syeik Abdurrauf sendiri berasal dari daerah Barus. Ini sebabnya ia menggunakan nama Al Fanshury, sebab pada masa lalu, masyarakat lebih banyak menyebut Barus dengan Pancur atau Fansur. Sedang As Sinkily menunjukkan daerah Singkel yang letaknya berada di Pesisir sebelah barat Pulau Sumatera. Jarak antara Barus dengan Sinkel ini menurut Hamka hanya 60 Km saja.[4]

Syeik Abdurrauf menjabat sebagai mufti Kerajaan Aceh Darussalam dengan gelaran “Qadi Malik al-Adil” pada tahun 1665 M, atau pada masa pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam. Kedudukan yang begitu tinggi ini tidak sekonyong-konyong ia dapatkan. Dikabarkan selama puluhan tahun beliau sudah merantau menuntut ilmu hingga ka tanah Arab, sampai akhirnya menguasai begitu banyak ilmu agama baik di bidang Tafsir al-Qur’an, hadis, aqidah, fiqih, dll. Banyaknya karya yang dibuat oleh beliau semasa hidupnya menunjukkan bukti kedalaman ilmunya. Beberapa diantaranya, di bidang Fiqih, beliau menulis kitab Majmu’ul Masaa-il (Kumpulan masalah-masalah), ataupun dalam hal akhlaq beliau menulis kitab yang berjudul Al Mawaa’zh Al Badii’ah.[5] Dan dalam bidang Tafsir Al Quran, beliau menulis Tafsir Tarjuman al-Mustafid, yang merupakan magnum opus-nya.

Salah satu kelebihan kitab-kitab karangan Syeik Abdurrauf adalah kontekstualitasnya. Menurut Hamka, Kitab-kitab yang ditulisnya selalu menyesuaikan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat Islam di Nusantara pada waktu itu, khususnya di wilayah Aceh Darussalam. Ia mengadaptasikan ilmu-ilmu agama yang dibawanya ke dalam bahasa-bahasa yang ringan, mudah dimengerti oleh masyarakat, dan langsung menjawab ke pokok persoalan. Hal yang sama juga terjadi pada Tafsir Tarjuman al-Mustafid, dimana beliau menulis ini dengan Bahasa Melayu lengkap 30 Juz, dengan penjelasan yang singkat, dan tidak panjang lebar. Sehingga mudah dibaca dan dipahami oleh para pembaca yang awam sekalipun.

Terdapat cukup banyak komentar terkait Tafsir Al Quran pertama di Nusantara ini, diantaranya yang menyatakan bahwa Tarjuman al-Mustafid tidak lain merupakan terjemah dari Tafsir al-Baydlawi. Pendapat ini muncul dari Christian Snouck Hurgronje. Serta Peter Riddle yang berpendapat Tarjuman al-Mustafid sebagai terjemahan dari Tafsir Jalalayn, karya Jalaludin Al Suyuthi. Sedangkan menurut Prof. Azrumardi Azra, Tafsir Jalalayn memberikan pengaruh yang kuat pada Tafsir Tarjuman al-Mustafid.[6]



Namun bila melihat dari teks halaman pertama Tafsir “Turjuman al-Mustafid” pada gambar di atas, bisa dipastikan bahwa Turjuman al-Mustafid sebenarnya lebih merupakan terjemahan, atau adaptasi dari kitab “Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil” atau yang dikenal dengan “Tafsir al-Baidhawi” karangan al-Qadhi al-Baidhawi (w. 685 H/ 1286 M), sebuah kitab tafsir legendaris yang banyak tersebar dan dijadikan rujukan utama di dunia Sunni. Kenyataan ini terlihat pada kalimat pembuka “basmalah” pada halaman naskah di atas, yaitu: إنيله تفسير البيضاوي “inilah tafsir al-baidhawi”. Sementara itu, di sampul naskah kitab edisi tersebut, juga terdapat tulisan sebagai berikut:

“ترجمان المستفيد في تفسير القرآن المجيد يغ دترجمهكن دغن بهاس ملايو يغ دأمبيل ستنه معنان درفد تفسير البيضاوي”

(Turjuman al-Mustafid fi Tafsir al-Quran al-Majid yang diterjemahkan dengan bahasa Melayu yang diambil setengah ma’nanya daripada Tafsir al-Baidhawi).[7]

Dalam Jurnal Substansia disebutkan beberapa kelebihan dan kekuarangan Tafsir Tarjuman al-Mustafid adalah sebagai berikut: 1) Selalu memulai dengan kata Basmalah; 2) Menjelaskan ayat-ayat secara berurutan dimulai dari surat al-Fatihah ditutup dengan Surat al-Nas; 3) Menjelaskan ayat-ayatnya dengan singkat padat dan mudah untuk dipahami, serta cocok bagi semua usia; 4) Sebelum menjelaskan ayat-ayatnya terlebih dahulu memperkenalkan surat yang akan dijelaskan. Seperti Nama surat, tempat turun, dan juga fadilah membaca surat tersebut serta jumlah ayat dalam surat tersebut; 5) Penjelasan ayat terletak berdampingan dengan ayat, artinya penjelasan ayat dan ayat terletak dalam satu halaman, sehingga mempermudahkan bagi pembaca; 6) Setiap penjelasan diberi kode tersendiri sesuai dengan penjelasan yang akan dijelaskan, seperti menjelaskan tentang bacaan para imam qiraat kode yang diberikan adalah kata ikhtilaf yang terletak didalam kurung dan kata “wallahu’alam” pada penutup penjelasan bacaan para imam qiraat tersebut. Penjelasan mengenai sebab turun ayat biasanya diberi kode atau tanda dengan kata qisah dalam kurung, dan lain sebagainya; 7) Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawi.[8]

Adapun kekurangannya antara lain: 1) Penjelasannya terlalu singkat sehingga tidak menambah wawasan bagi pembaca; 2) Tidak menjelaskan tentang sanad dan matan hadits ketika menjelaskan suatu ayat; 3) Tidak menjelaskan tentang sanad dan matan hadits pada penjelasan asbabun nuzul atau menjelaskan tentang yang lainnya.[9]

Syeik Abdurrauf meninggalkan pada tahun 1693 M dan ada juga yang berpendapat beliau meninggal pada tahun 1693 hingga 1695 M. Kemudian beliau dimakamkan di muara Sungai Aceh atau Kuala Krueng Aceh, Banda Aceh, bersebelahan dengan makam Tengku Anjung yang dianggap di Aceh. Oleh itu, masyarakat Aceh menggelar beliau sebagai “Tengku di Kuala” atau “Syiah Kuala”. (AL)

Catatan Kaki:

[1] Lihat, Prof. DR. Hamka, “Aceh Serambi Mekah”, dalam Prof. A. Hasjmy, “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia”, Medan, PT. Al Ma’arif, 1993, Hal. 221

[2] Ibid, Hal. 222

[3] Ibid

[4] Ibid

[5] Ibid, Hal. 223-224

[6] Lihat, Suarni, Karakteristik Tafsir Tarjuman al-Mustafid, Jurnal Substantia, Volume 17 Nomor 2, http://substantiajurnal.org, Oktober 2015

[7] Lihat, http://www.nu.or.id/post/read/67951/turjuman-al-mustafid-tafsir-karya-ulama-aceh-terbit-di-turki, Diakses 18 Oktober 2017

[8] Suarni, Op Cit

[9] Ibid

 

Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/syeik-abdurrauf-dan-tafsir-al-quran-pertama-di-nusantara/

Sejarah, Pertumbuhan, dan Perkembangan Tarekat di Indonesia Artikel ini akan menjelaskan kepada anda tentang sejarah, pertumbuha...

Sejarah, Pertumbuhan, dan Perkembangan Tarekat di Indonesia


Artikel ini akan menjelaskan kepada anda tentang sejarah, pertumbuhan, dan perkembangan tarekat di Indonesia.

Tarekat adalah mengamalkan syari’at dan menghayati inti dari syati’at, serta menjauhkan perkara yang bisa melalaikan pelaksanaan dari tujuan syari’at.

Islamisasi di Indonesia berawal pada corak pemikiran tasawuf yang lebih unggul di dunia Islam. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan tarekat di Indonesia dapat diterima oleh masyarakat dan ajaranya eksis hingga saat ini.

Tasawuf adalah mensucikan hati agar terhindar dari kelemahan, menghilangkan sifat kemanusiaan, menjahui akhlak alamiah, dan mejauhi segala keinginan nafsu.

Tokoh sufi, seperti Ibnu ‘Arobi dan Ghozali sangat berpengaruh terhadap pengarang muslim di Indonesia pada generasi awal.

Bahkan hampir seluruh pengarang muslim di Indonesia penganut tarekat.

Sejarah masuknya Islam di Indonesia terdapat dua pendapat.

Pertama, pada abad ke-7 Masehi Islam masuk ke Indonesia dibawa langsung dari Arab.

Kedua, Islam masuk di Indonesia pada abad ke-13 dibawa dari Gujarat.

Dari kedua pendapat di atas bisa dijelaskan bahwa masuknya Islam di Indonesia terdiri dari dua segmen.

Segmen pertama, terjadi pada abad ke-7 yang mana masuknya Islam di Indonesia termotivasi dari perdagangan.

Segmen kedua, terjadi pada abad ke-13 yang mana masuknya Islam di Indonesia dengan motivasi dakwah secara besar-besaran.

Pada pendapat di atas penulis mengambil segmen yang kedua karena sangat berkaitan dengan perkembangan tasawuf serta tarekat di Indonesia.

Pada masa tersebut dunia tasawuf dan tarekat sedang mengalami kejayaan di dunia Islam, sehingga pengaruhnya terasa sampai ke Indonesia.

Berkembang pesatnya tarekat pada puncak kejayaan menjadi peran penting dari perkembangan Islam di Indonesia.

Dengan demikian proses islamisasi di Indonesia dalam bentuk tarekat sangat besar kontribusinya dari peranan tasawuf yang terlembaga dengan baik.

Hal tersebut tidak hanya mendapatkan pengakuan dari sarjana muslim saja akan tetapi para sarjana Barat juga mengakuinya.

Pengakuan di atas seakan-akan berparadigma bahwa yang membuat Islam tumbuh dan berkembang menjadi kekuatan besar di masyarakat Indonesia adalah tasawuf.

Sejarah masuknya tarekat di Indonesia sangat berhubungan dengan sejarah masuk Islam di Indonesia.

Berdasarkan laporan Marcopolo yang datang ke Indonesia pada tahun 1629 M, mengatakan bahwa di Sumatera hanya satu kerajaan Aceh-Perlak yang beragama Islam dari delapan kerajaan.

Bukti lain masuknya Islam di Indonesia dengan tercapainya puncak kejayaan pada kerajaan Aceh yang didukung oleh para sufi dan syech tarekat.

Penyebaran Islam yang dibawa Syech Burhanuddin Ulaka, berfokus pada seluruh wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sekitarnya.

Sedangkan penyebaran Islam di pulau Jawa dikenalkan oleh Syech Maulana Malik Ibrahim, Syech Maulana Ishak, dan Syech Ibrahim Asmoro.

Mereka merupakan alumni dari pusat pendidikan Islam di Aceh.

Menurut Jalaluddin tarekat yang terdapat di Indonesia seperti, Tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Sammaniyah, Tijaniyyah, Khalwatiyyah, Wahidiyyah, Shiddiqiyyah dan lain-lain.

Meskipun tarekat tersebut tidak bisa diprediksi secara pasti.

Dilansir dari buku yang berjudul Tasawuf dan Tarekat Studi Pemikiran dan Pengalaman Sufi, terbitan tahun 2013, karya Prof. Dr. H. Ris’an Rusli, M.A.

Demikian penjelasan tentang sejarah, pertumbuhan, dan perkembangan tarekat di Indonesia yang dapat anda ketahui.***

https://semarangku.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-312715726/sejarah-pertumbuhan-dan-perkembangan-tarekat-di-indonesia 

Sejarah Tarekat di Nusantara Menurut peneliti Belanda, Martin van Bruinesen, beberapa sumber pribumi yang ada secara tegas menge...

Sejarah Tarekat di Nusantara


Menurut peneliti Belanda, Martin van Bruinesen, beberapa sumber pribumi yang ada secara tegas mengemukakan bahwa tarekat-tarekat mendapatkan pengikutnya, pertama-tama, di lingkungan istana, dan lama kemudian, barulah merembet ke kalangan masyarakat awam. Bagi pihak kerajaan, tarekat dipandang sebagai sumber kekuatan spiritual sekaligus melegitimasi dan mengukuhkan posisi raja.

Perkembangan tarekat di Indonesia secara nyata baru terlihat pada abad ke-17, yaitu dimulai pertama kali oleh Hamzah Fansuri (w 1610 M) dan muridnya, Syamsuddin as-Sumatrini (w 1630 M).

Akan tetapi, keduanya tidak meninggalkan organisasi tarekat yang berlangsung terus-menerus. Baru kemudian setelah Abdur Rauf bin Ali Singkel memperkenalkan Tarekat Syattariyah di Aceh pada 1679 M, organisasi tarekat ini menjadi jelas dan dapat ditelusuri perkembangannya melalui silsilah hubungan guru dan murid sampai ke beberapa daerah di Indonesia.

Ahmad Syafii Mufid dalam Tangklukan, Abangan, dan Tarekat menjelaskan, Hamzah Fansuri secara tegas disebut sebagai penganut Tarekat Qadiriyah. Namun kemudian, tarekat yang dianut oleh Hamzah Fansuri maupun muridnya, Syamsuddin as-Sumantrani, berbeda dengan Tarekat Qadiriyah yang sekarang berkembang.

Keduanya dikenal menganut paham penyatuan manusia dan Tuhan (wahdatul wujud), sedangkan Tarekat Qadiriyah yang sekarang ada, tidak lagi mengenal ajaran tersebut.

Tokoh-tokoh penyiar Islam yang hidup dan berdakwah di Indonesia sebelumnya secara samar-samar juga cenderung menganut paham ini. Syekh Abdullah Arif, seorang penyiar pertama di Aceh pada abad ke-12 M, dalam karyanya yang berjudul Bahrul Laahut juga mengajarkan ajaran yang sama dengan Abu Mansur al-Hallaj dan Muhyiddin Ibnu Arabi, yakni wahdatul wujud.

Begitu juga di Jawa, pada zaman penyiar Islam pertama (Wali Songo) terdapat seorang tokoh tasawuf yang mengajarkan paham ini. Tentang aliran tarekat apa yang dianut oleh Wali Songo tidaklah jelas. Hanya, dalam Babad Tanah Jawi dinyatakan bahwa Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus mengajarkan ilmu Abdul Qadir.

Di Sulawesi, tarekat juga berkembang atas prakarsa Syekh Yusuf Tajul Khalwati (1621-1689 M). Ulama Makassar ini dikenal seorang sufi yang menerima banyak ijazah tarekat seperti Qadiriyah dari Nuruddin ar-Raniri, Naqsyabandiyah dari Muhammad Abdul Baqi Billah Ba'lawiyah dari Sayid Ali, Syatariyah dari Burhanuddin al-Mula bin Ibrahim, dan Khalwatiyah dari Abdul Barakat Ayyub bin Ahmad.


Sumber: 
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/oawlse29

Tarekat Versus Belanda 1859-1926. Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, Budayawan Betawi. Sartono Kartodirdjo keliru m...

Tarekat Versus Belanda 1859-1926.


Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, Budayawan Betawi.

Sartono Kartodirdjo keliru menyebut pemberontakan petani melawan Belanda, untuk babakan sejarah 1859-1926. Itu adalah seri pemberontakan dengan tema penindasan petani oleh Belanda dengan pimpinan perlawanan para guru tarekat.

Pemicu pemberontakan guru tarekat ini adalah Ahmad Rifangi 1859 di Pekalongan. Sejak itu selama 67 tahun Jawa  tak sunyi dari pemberontakan. Guru-guru Tarekat seperti Rama Ratujaya pimpin pemberontakan Tambun tahun 1869.

Asisten Residen dan tiga lainnya terbumuh. Rama sendiri terbunuh. Sebanyak 33 orang pelaku pemberontakan ditangkap dan dijatuhi hukuman mati yang eksekusinya di lapangan Mester. Kloter pertama 11 orang digantung. 22 menunggu.

Ketika 11 jenasah dipindahkan, datang utusan Gubernur Jenderal ke lapangan ekskusi. Ia langsung membaca surat Ratu Belanda yang baru saja tiba. Isinya, hukum mati tak boleh dilakukan lagi. Kasian yang 11 orang itu.

Guru tarekat bernama Cing Sairin yang orang Cawang malah mengilhami tiga pemberontakan: Ciomas, Condet, dan Tana Tinggi. Cing Sairin mendirikan basis di Jembatan Lima, Jakarta Barat pada awal XX M, yang terkenal sebagai Kontingen Jembatan Lima.

Pemberontakan Condet 1916 yang dipimpin Entong Gendut paling aneh dalam sejarah. Pemberontakan diawali malam harinya dengan gelar Topeng Betawi di depan rumah Lady Rollinson pemilik tanah Cililitan Besar. Topeng Betawi bawa lakon kejahatan Tuan Tanah.

Dalam pemberontakan esok harinya banyak Belanda mati. Entong Gendut juga syahid.

Nama yang lainm juga ada Kayin bapa (bin) Kayah. Dia seorang dalang wayang kulit Betawi. Entah mengapa ia memutuskan meninggalkan Tangerang dan gabung dengan Kontingen Jembatan Lima.

Setelah merasa matang digembleng di tempat guru tarekat Cing Sairin di Jembatan, Kayin balik Tangerang susun kekuatan. Photo atas sebagian anak buah Kayin yang ditangkap. Sebelum penangkapan oleh Belanda, banyak sekali kaki tangan Belanda yang disembelih.

Kiyin sendiri wafat ditembak di Kampung Mauk.

Tokoh pemberontak Banten tahun 1926 itu bernama Alipan. Dia bukan komunis. Pada era merdeka Alipan tokoh partai IP-KI.Alipan pimpin perlawanan petani Banten lawan Belanda.

Di sini semua belajar bahwa ruh sejarah tak dapat ditangkap kalau isinya kerajaan-kerajaan saja. Apalagi banyak kerajaan fiktif dengan dasar prasasti-prasasti yang mereka tak dapat bedakan bahasa Armen dan Sanskrit, bahasa Khmer-Hind, dan Sanskrit.


Sumber:
https://m.republika.co.id/berita/r2sq5u385/tarekat-versus-belanda-18591926

Sejarah Pondok Pesantren dan Perjuangan Kemerdekaan   Sejarah pendidikan di Indonesia tak lepas dari akar sejarah pendidikan mod...

Sejarah Pondok Pesantren dan Perjuangan Kemerdekaan

 
Sejarah pendidikan di Indonesia tak lepas dari akar sejarah pendidikan model pondok pesantren.

Pondok Pesantren adalah suatu sistem pendidikan yang mana murid atau disebut santri tinggal dan belajar bersama dalam sebuah pondokan.

Dalam pembelajaran itu pondok pesantren dibimbing oleh guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai.

Di Jawa, Sunda, dan Madura menggunakan istilah pondok pesantren.

Sedangkan di Aceh disebut sebagai dayah atau rangkang atau menuasa. Sementara di Minangkabau disebut sebagai surau.

Sistem pendidikan pondok pesantren
Setiap pesantren pasti memiliki beberapa fasilitas yang merujuk pada arti pesantren itu. Salah satunya adalah adanya tempat yang disebut pondok atau pondokan.

Pondok atau pondokan ini digunakan untuk tempat tinggal para santri atau yang dikenal dengan asrama. Di pondok ini terjadi interaksi kegiatan belajar mengajar antara santri dan kiai pembimbingnya.

Dengan adanya pondokan ini akan tercipta suatu hubungan komunikatif yang timbal balik antara santri dan kiai, juga antarsantri dan santri lainnya.

Terciptanya hubungan ini berakibat pada timbulnya rasa kekeluargaan dan sikap saling menyayangi antarsesama santri dan kiai.

Selain itu, masjid juga menjadi elemen utama dalam sistem pendidikan pondok pesantren. Masjid menjadi pusat kegiatan belajar dan mengajar, sholat lima waktu, khotbah, sholat Jumat dan pengajaran kitab-kitab klasik.

Masjid digunakan sebagai pusat kegiatan merupakan manifestasi dari sistem pendidikan Islam.

Selain itu digunakannya masjid sebagai pusat kegiatan juga merupakankesinambungan ajaran yang dibawa pada masa Nabi Muhammad SAW.

Dalam tradisi ini seorang kiai yang mengembangkan pesantren pertama-tama pasti akan mendirikan masjid terlebih dahulu di dekat rumahnya.

Langkah ini dilakukan karena sebelumnya pasti sudah mendapatkan restu dari guru atau kiainya terlebih dahulu.

Selanjutnya masjid akan menjadi pusat pendidikan tradisional pesantren.

Elemen lain dalam pendidikan pondok pesantren adalah pengajaran kitab-kitab klasik.

Pengajaran kitab klasik ini tujuan utamanya adalah mendidik santri menjadi calon ulama yang setia terhadap pemahaman agama Islam.

Pemahamaan terkait kitab klasik sendiri tidak begitu jelas, namun pada umumnya kitab klasik ini populer dengan "kitab kuning".

Pondok Pesantren Pertama di Jawa
Mayoritas sarjana sepakat bahwa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, salah satu wali songo, adalah polopor dari sistem pendidikan tradisional ini.

Hal ini didasarkan pada perannya dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa, khususnya di wilayah pesisir pantai utara.

Sunan Gresik memiliki banyak pengikut yang dianggap sebagai santri atau murid.

Selain itu, Sunan Gresik diduga menjadikan Langgar Bubrah di Kudus sebagai awal dari pendidikan untuk menyebarkan agama Islam.

Tak jauh dari langgar itu ada bangunan dalem yang digunakan sebagai tempat kegiatan juga.

Wali songo lain, Sunan Ampel di Surabaya, juga dipastikan memiliki bangunan seperti pesantren sebagai pusat menyiarkan agama Islam.

Sunan Ampel juga dipastikan memiliki banyak pengikut.

Peran Pesantren dalam kemerdekaan
Pada perkembangannya, pondok pesantren tidak hanya menjadi pusat penyiaran agama Islam. Melainkan memperlebar ajarannya dengan mempertajam kesadaran sosial bagi santrinya.

Sistem pendidikannya tidak lagi hanya soal keagamaan dan hubungan manusia dengan tuhan, melainkan menyentuh persoalan yang dialami masyarakat saat itu.

Pada era kolonial Belanda, pondok pesantren dibatasi ruang geraknya dan berusaha didiskreditkan.

Namun di samping itu keberadaan pondok pesantren yang menjangkau pelosok mampu mengembangkan masyarakat Islam yang solid dan mampu menentang Belanda.

Pada akhirnya kelompok ini menjadi salah satu garis pertahanan dalam melawan penjajahan dan merebut kemerdekaan dari masa kolonial Belanda hingga Jepang.

Salah satu contoh adalah pesantren pimpinan KH Zainal Mustafa di Singaparna, Tasikmalaya yang mengadakan perlawanan pada era penjajahan Jepang.

Ia memanfaatkan mimbar untuk menyerang kebijakan politik dari era Kolonial Belanda hingga memberontak pada penjajah Jepang.

Setelah kemerdekaan, peran pesantren juga masih aktif dalam mempertahankan kemerdekaan.

Salah satunya adalah peran kiai di Jawa Timur yang memompa semangat jihad melawan Inggris pada peristiwa 10 November di Surabaya.

 
Referensi:

Arifin, Imron. 1993, Kepemimpinan kyai: kasus Pondok Pesantren Tebuireng, Malang, Kalimasahada Press.
Azra, Azuamrdi. 2004, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Jakarta, Kencana.

Symber:
https://www.kompas.com/stori/read/2021/10/13/120000179/sejarah-pondok-pesantren-dan-perjuangan-kemerdekaan

Pertumbuhan Pesantren di Nusantara Kata pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Namun, ada ju...

Pertumbuhan Pesantren di Nusantara


Kata pesantren atau santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa kata ini berasal dari bahasa India, yaitu shastri yang berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.

Di pesantren, para santri atau murid tinggal bersama kiai atau guru mereka dalam suatu kompleks tertentu sehingga tercipta ciri khas kehidupan pesantren seperti hubungan yang akrab antara kiai dan santri, santri taat kepada kiai, kehidupan yang mandiri dan sederhana, adanya semangat gotong royong dalam suasana yang penuh persaudaraan, dan hidup disiplin.

Ada yang mengatakan asal mula pesantren di Indonesia merupakan bagian dari tradisi Islam, dan ada yang menyebutkan bahwa pesantren di Indonesia awalnya diadakan oleh orang-orang Hindu.

Keberadaan pesantren di Indonesia pertama kali ditemukan pada karya-karya Jawa klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centhini yang berasal dari abad ke-16. dari sumber inilah diketahui bahwa pesantren mengajarkan berbagai kitab islam klasik dalam bidang fikih, teologi, dan tasawuf, serta menjadi pusat penyiaran agama islam. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1984-1985, jumlah pesantren di abad ke-16 sebanyak 613 buah.

Menurut laporan Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa pada tahun 183 di Indonesia terdapat 1.863 lembaga pendidikan Islam tradisional.Van den Berg mengadakan penelitian di tahun 1885 dan hasilnya terdapat 14.929 lembaga pendidikan Islam dengan 300 di antaranya merupakan pesantren.

Pesantren terus berkembang baik dari segi jumlah, materi, maupun sistem. Di tahun 1910 beberapa pesantren seperti Pesantren Denanyar, Jombang, membuka pondok khusus untuk santri wanita.

Di tahun 1920-an pesantren-pesantren di Jawa Timur seperti Pesantren Tebuireng, dan Pesantren Singosari mulai mengajarkan pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi, dan sejarah.

Pada masa penjajahan Belanda, pesantren berkembang dengan pesat. Pesantren ini ada yang memiliki kekhususan sehingga berbeda dengan pesantren lainnya. Ada yang khusus mengajarkan ilmu hadis dan fikih, ilmu bahasa Arab, ilmu tafsir, tasawuf, dan lain-lain.

Kemudian pesantren memasukkan sistem madrasah. Dalam sistem ini jenjang-jenjang pendudukan terbagi menjadi ibtidaiah, tsanawiyah, dan aliah. Sistem madrasah ini mendorong perkembangan pesantren sehingga jumlahnya meningkat pesat.Pada tahun 1958/1959 lahir Madrasah Wajib Belajar yang memiliki hak dan kewajiban seperti sekolah negeri.

Selanjutnya, di tahun 1965, berdasarkan rumusan Seminar Pondok Pesantren di Yogyakarta, disepakati perlunya memasukkan pelajaran keterampilan seperti pertanian, pertukangan, dan lain-lain di pondok pesantren.

Pada masa Orde Baru, pemerintah melakukan pembinaan terhadap pesantren melalui Proyek Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Dana pembinaan pesantren diperoleh dari pemerintahan terkait, dari pemerintahan pusat hingga daerah.

Tahun 1975, muncul gagasan untuk mengembangkan pondok pesantren dengan model baru. Lahirlah Pondok Karya Pembangunan, Pondok Modern, Islamic Center, dan Pondok Pesantren Pembangunan. Akan tetapi pondok pesantren ini mengalami kesulitan dalam pembinaan karena tidak adanya kiai yang karismatik yang bisa memberi bimbingan dan teladan pada santrinya.

Kemudian banyak pesantren yang mendirikan sekolah umum dengan kurikulum sekolah umum yang ditetapkan oleh pemerintah. Bahkan, pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 03 tahun 1975, menetapkan mata pelajaran umum sekurang-kurangnya sebanyak 70 persen dari seluruh kurikulum madrasah. Banyak juga madrasah yang mendirikan perguruan tinggi seperti pesantren AS-Syafi’iyah dan pesantren at-Tahiriyah.  

 Sumber:
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qdx3kd430

Sejarah Pesantren di Nusantara  Salah satu cara penyebaran dan pengajaran agama Islam di Indonesia dilakukan oleh lembaga pendid...

Sejarah Pesantren di Nusantara 


Salah satu cara penyebaran dan pengajaran agama Islam di Indonesia dilakukan oleh lembaga pendidikan yang dikenal dengan sebutan pondok pesantren. Perannya sangat besar dalam masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara.

Mengutip nu.or.id, pengamat pendidikan Darmaningtyas, berpendapat bahwa sejarah pendidikan Indonesia dimulai dari institusi swasta, di lingkungan pesantren dan padepokan.

Sementara itu, dalam buku Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto, pesantren disinyalir merupakan hasil Islamisasi sistem pendidikan lokal yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara. Kala itu, lembaga pendidikan lokal berupa padepokan dan dukuh banyak didirikan untuk mendidik para cantrik.

Sejarah pesantren

Dalam jurnal Al-Ta’dib, Sejarah Pesantren di Indonesia yang ditulis oleh Herman DM, dijelaskan bahwa pesantren setidaknya mempunyai tiga unsur, yaitu santri, kiai atau guru, dan asrama atau pondok.


Selanjutnya, banyak orang yang memaknai pesantren semata-mata dengan bentuk bangunan fisik pesantren itu sendiri.

Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengenal pesantren dari perspektif yang lebih luas, yakni perannya dalam penyebaran Islam di indonesia, mulai dari membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, keagamaan hingga politik.

Lebih lanjut, kata pesantren yang berakar dari kata santri dengan imbuhan “pe-” di awal dan “-an” di akhir, dapat diartikan sebagai tempat tinggal para santri.

Istilah pesantren pada dasarnya merupakan sebuah tempat pendidikan Islam tradisional yang di dalamnya juga terdapat asrama bagi para siswa atau muridnya. Dengan kata lain, para siswa tinggal bersama dan belajar ilmu agama di bawah bimbingan guru yang dikenal dengan sebutan kiai.

Berdiri di sekitar tempat kiai menetap

Biasanya berdirinya pondok pesantren bermula dari seorang kiai atau ulama agama Islam yang menetap di suatu tempat. Kemudian, datanglah para santri yang hendak belajar berbagai ilmu agama kepadanya.

Tidak jarang santri yang ingin belajar berasal dari daerah yang jauh. Untuk itu, kemudian dibangun pula tempat bermukim para santri di sekitar kediaman kiai tadi. Semakin banyak santri yang ingin menuntut ilmu, akan semakin banyak pula pondok yang dibangun.

Di masa lalu, biaya kehidupan dan pendidikan di pesantren disediakan bersama-sama oleh para santri dengan dukungan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Cara tersebut dimaksudkan agar kehidupan di pesantren tidak terpengaruh dengan gejolak yang ada di luar.

Cikal bakal lahirnya pondok pesantren diduga ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan Sunan Ampel, mendirikan sebuah padepokan di Ampel, Surabaya, jawa Timur. Meski pada waktu itu belum disebut pesantren, tetapi bisa dikatakan kalau yang dilakukan Sunan Ampel menjadi peletak dasar-dasar pendidikan pesantren di indonesia.

Santri-santri yang telah belajar dan cukup ilmu di padepokan Sunan Ampel. Kemudian satu per satu pulang ke daerahnya masing-masing dan mengamalkan ilmunya di sana. Maka murid-murid Sunan Ampel tersebut, mendirikan padepokan seperti apa yang telah mereka dapatkan di Padepokan Ampel. Ulama-ulama besar banyak yang lahir dari padepokan-padepokan tersebut.

Melansir dari laman tebuireng.online, pada 1899 Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren Tebuireng di Jombang, kemudian membentuk Nahdlatul Ulama (NU) yang kini menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. Di sisi lain, rekan seperguruan Kiai Hasyim di Mekkah, Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mendirikan pusat pendidikan Islam yang lebih modern, dengan kurikulum yang sedikit berbeda.

Kini, seiring perkembangan zaman, pesantren-pesantren sudah semakin modern, baik dari kurikulum maupun fisk bangunannya. Meski begitu, kesederhanaan dan keikhlasan yang digambarkan oleh kehidupan kiai dan para santrinya, masih menjadi nilai utama yang patut diteladani dari ajaran kehidupan di pesantren.


M. RIZQI AKBAR

Sumber: 
https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1519849/mengenal-sejarah-pesantren-di-indonesia

Adakah Campur Tangan Manusia? Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ada siklus kemarau yang panjang di bumi...



Adakah Campur Tangan Manusia?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ada siklus kemarau yang panjang di bumi ini. Efeknya, bumi akan menjadi sangat subur kembali. Banyak pohon yang berbuah pula.

Ada era, dimana gunung berapi memuntah laharnya ke permukaan bumi. Efeknya, tanah yang kekurangan hara akan terpenuhi kembali.

Daerah yang banyak petirnya akan lebih subur daripada yang tidak ada petirnya. Jadi siapakah yang merancang kesuburan bumi? Manusiakah?

Andai tidak ada air hujan, tidak ada sungai dan mata air, apakah kehidupan di bumi? Manusiakah yang merekayasanya?

Andai tidak ada matahari dan udara, adakah kehidupan di muka bumi? Ikhtiar manusia tak ada andilnya dalam penciptaan  alam semesta.

Manusia tak pernah menanam, mengapa tiba-tiba banyak tanaman yang tumbuh dengan sendirinya?

Manusia menaruh biji dan batang, mengapa kemudian tumbuh membesar dan berbuah tanpa peran manusia sedikit pun?

Sperma yang ada dirahim pun, manusia tak pernah memiliki andil dalam merekayasa pertumbuhannya. Semua tumbuh membesar tanpa bantuan manusia.

Rambut panjang dengan sendirinya. Luka sembuh dengan sendirinya. Mendengar dan melihat tak pernah dibuatkan alatnya. Tanpa andil manusia

Saat membuka warung, kita pun tak pernah tahu orang-orang datang berbelanja dengan sendirinya. Ikhtiar manusia tak ada andilnya dalam rezeki.

Manusia hanya membuat pancing dan umpan, setelah itu tak tahu apakah ikan itu akan datang ataukah tidak.

Agar manusia bersemangat berikhtiar maka dianugerahkan pahala dan balasan. Tapi Allah yang menentukan besarannya.

Berikhtiar hanya agar Allah meridhai, menolong dan memudahkan urusannya. Namun takdir tetap dalam genggaman-Nya

Berikhtiar hanya untuk mengharapkan cinta-Nya, membutuhkan pertolongan-Nya, mendekati-Nya, pengakuan sebagai hamba-Nya, bukan sebab semuanya

Kejahatan Pertama Generasi Awal Yahudi dan Penjajahanya atas Palestina Sekarang Nama Yahudi dinisbahkan pada salah seorang putra...

Kejahatan Pertama Generasi Awal Yahudi dan Penjajahanya atas Palestina Sekarang


Nama Yahudi dinisbahkan pada salah seorang putra Nabi Ya’kub yang bernama Yahudza bin Ya’kub, salah satu dari 12 orang putra Ya’kub. Putra lainnya bernama Ruben, Simeon, Lewi Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf AS, Benyamin, Dan, Naftali, Gad, dan Asyer. Ke-12 putra Ya’kub itulah yang disebut-sebut menjadi keturunan Bani Israil.

Kaum Yahudi ini juga sering disebut dengan Bani Israil. Istilah Israil dinisbahkan kepada Nabi Ya’kub bin Ishak AS. Dinamakan Bani Israil karena mereka merupakan keturunan dari nenek moyang mereka yang bernama Israil (Ya’kub AS).

--------------------
Bacalah surat Yusuf. Dibuka dengan perbincangan khusus berdua antara Nabi Yakub dan Nabi Yusuf tentang mimpi Nabi Yusuf yang merupakan indikasi Kenabian Nabi Yusuf. Lalu, Nabi Yaqub menyarankan Nabi Yusuf untuk merahasiakannya.

Fragmen kedua, Anak-anak Nabi Yakub atau Saudara Nabi Yusuf membuat makar untuk membunuh Nabi Yusuf. Perdebatannya cukup panjang hingga akhirnya diputuskan untuk melemparkan Nabi Yusuf ke sumur tua di padang pasir. Inilah kejahatan awal generasi pertama Bani Israel atau Yahudi.

Sebab kejahatan ini adalah kedengkian mereka terhadap perlakuan Nabi Yakub kepada Nabi Yusuf. Nabi Yakub amat mencintai Nabi Yusuf. Saudara Nabi Yusuf berkata, "Sesungguhnya ayah kita dalam kekeliruan yang nyata agar perhatian ayah tertuju kepada kita. Setelah membunuhnya, kita menjadi orang-orang baik. Hanya itu titik awal persoalannya.

Fragmen ketiga, kunjungan Saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Yaqub untuk melobi dengan janji palsu yang penuh kebohongan bahwa mereka ingin mengajak Nabi Yusuf bermain bersama. Mereka berjanji akan melindungi Nabi Yusuf karena mereka menginginkan kebaikan bagi Nabi Yusuf.

Fragmen keempat, Nabi Yaqub merasa khawatir bila Nabi Yusuf dimakan Srigala saat bermain. Tapi saudara Nabi Yusuf merasa kuat untuk melindunginya dari serangan Srigala.

Fragmen kelima, diajaklah Nabi Yusuf bermain lalu dimasukkan ke sumur. Saudara Nabi Yusuf pun merancang cerita bohong tentang kematian Nabi Yusuf yang bersimbah darah dengan bukti bajunya. Merekonstruksi peristiwa palsu untuk membenarkan tindakannya.

Bukankah perbuatan ini dilakukan juga oleh Yahudi dengan mengarang cerita palsu agar bisa menjajah Palestina? Bukankah mereka pun mengarang cerita bohong tentang genocide?Merancang kisah palsu tentang kehebatan mereka atas bangsa-bangsa lain?


Sumber:
Yusuf, Yasir Burhami, Al-Kautsar 
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/on4nxf313

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (203) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (222) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (222) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (173) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (429) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)