basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Kecerdasan Finansial

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Finansial. Tampilkan semua postingan

Kecerdasan Finansial dari Buya Hamka  Buku: Akhlakul Karimah Termasuk hak atas diri ialah mencari nafkah untuk menghidupi diri d...

Kecerdasan Finansial dari Buya Hamka 

Buku: Akhlakul Karimah

Termasuk hak atas diri ialah mencari nafkah untuk menghidupi diri dan keluarga. Kita mesti hidup, mesti makan dan minum, dalam hidup itu kita harus berusaha. Seperti perkataan Sayyidina Umar r.a., "Langit tidak pernah menghujankan emas." Maka ada orang yang beroleh rezeki dari waris harta pusaka, ada pula yang daripada usahanya sendiri, dari makan gaji atau berniaga, bertukang, bertani, dan sebagainya. Semua pekerjaan itu adalah hak dan tugas hidup, semuanya itu perlu dan wajib.

Orang penganggur dan pemalas, sebagaimana dahulu pernah diterangkan, adalah kutu yang berbahaya bagi masyarakat. Cuma satu yang perlu diperhatikan yaitu hendaklah semuanya itu dari pintu halal.

Harta waris jangan dari hasil penipuan, jangan sebagai perbuatan seorang kemenakan yang mendakwakan anak mamaknya karena menurut adat negerinya pusaka itu turun kepada kemenakan sehingga anak yang berhak itu menjadi telantar hidupnya.

Atau seperti di suatu negeri lagi, seorang istri menerima waris dari suaminya, kemudian didakwakan pula di muka hakim oleh saudara suaminya itu karena disana kaum perempuan tidak berhak menerima waris menurut adat, walaupun syara membolehkannya. Kedua golongan ini meskipun beroleh harta, tetapi seakan-akan menyalakan api neraka di dalam perutnya.

Berniaga hendaklah jujur karena keuntungan yang diperoleh dengan tipu muslihat itu adalah harta yang haram dan merendahkan derajat. Harta menjadi tidak berharga, walaupun bagaimana besar jumlahnya dan hina walaupun mulia tampaknya.

Kehinaan itu berkesan pada muka si penipu, dia menjadi kebencian masyarakat sebab merugikan masyarakat. Begitu juga orang yang hidup dari gaji, cuma tenaga yang dijual, bukan jiwa. Banyak orang yang makan gaji menjadi orang yang pengecut, takut menyatakan kebenaran, dan takut menempuh suatu perkara yang wajib ditempuhnya.

Orang seperti ini lama-lama boleh menjadi musyrik dengan tidak disadarinya, tidak percaya akan kekuasaan Tuhannya bahwa dunia ini masih luas, medan perjuangan masih terbentang. 

Suatu perusahaan yang mulia walaupun amat mahal harganya dan amat besar kesannya bagi budi kita. Jangan sampai lupa bahwa harta benda itu untuk mencapai maksud yang mulia, dikumpulkan untuk tangga mempertinggi budi, bukan untuk menghina dan merendahkan orang lain.

Banyak orang yang berharta, kaya raya, hartawan, tetapi kehilangan kawan dan sahabat lantaran sombongnya. Dia sombong lantaran kayanya, sahabat-sahabat yang setia hilang, berganti dengan sahabat-sahabat pengambil muka yang mengharapkan "persenan." Orang ini sebetulnya bukan kaya raya, tetapi amatlah miskin. Orang ini sebetulnya lupa pada hadits, bahwasanya yang menyebabkan seseorang menjadi kaya ialah lantaran pertolongan orang lain yang lebih dhaif darinya. Sebab itu, tidaklah pantas dia memutuskan hubungan dengan orang yang dhaif itu.

Jangan dikurangi nafsu bersedekah, berzakat, dan menolong orang karena kita sendiri tidak selamanya hidup seperti sekarang. Hidup seperti roda pedati, sekali di atas sekali di bawah.

Sukses keberuntungan yang mengantarkan kita ke atas puncak kekayaan, hanyalah seizin Allah SWT semata, dan peruntungan itu bisa di cabut-Nya sewaktu-waktu. Di samping itu kita disuruh menabung untuk persiapan hari esok, jangan dicurahkan semuanya. Berzakatlah demi menyucikan batin dari kebatilan dan kebakhilan, berbuat baik dan berdermalah sebagai tabungan yang dikirim lebih dahulu kepada Allah SWT pengganti tabungan supaya dicatatkan-Nya kebaikan atas dirimu supaya diperbuat-Nya rumah mulia yang kita dapati nanti.

Sering-seringlah berbuat baik karena dapat menjadi ketenteraman hati. Rahasiakan kebaikan itu kepada orang lain karena merahasiakan artinya menyatakannya. Kecil-kecilkan dan jangan dibesar-besarkan sebutannya karena dengan mengecil-ngecilkan itulah yang membesarkannya.

Letakkan pada tempatnya. Karena derma dan uang yang dihamburkan tidak diletakkan pada tempatnya yang betul, kelak tidak ubahnya dengan menanamkan padi di bumi yang tiada subur, hilang lenyap kepada bumi. Hasil tidak ada, badan pun payah.

Memunculkan Kecerdasan Keuangan Personal Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bila penghasilan berapa pun ...

Memunculkan Kecerdasan Keuangan Personal

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Bila penghasilan berapa pun tak bisa mencukupi. Bila terjebak pada budaya pemborosan. Bila uang terasa mudah dikeluarkan untuk konsumtif. Bila makan tak pernah mengenyangkan dan minum terus. Intropeksilah, ada apa dengan diri?

Bila perut merasa tak pernah kenyang. Bila haus tak pernah lenyap. Bila konsumsi terus tak terhindarkan. Bila hasrat membeli perabotan dan perlengkapan rumah tak bisa dihentikan. Segeralah berintropeksi diri. Ada apa gerangan?

Bisa jadi, sumber penghasilan berasal dari yang haram. Sumbernya halal, tetapi cara mendapatkannya mengabaikan kewajiban dan kesepakatan. Sumbernya halal, tetapi adab dan prilakunya bertentangan dengan sunah Rasulullah saw.  Ulama salaf, Salim Al Khawwash berkata, "Makanlah, karena yang halal itu tidak mengandung keborosan."

Pemborosan adalah hukuman dari Allah atas ketidakhalalan harta. Berfoya-foya adalah hukuman Allah atas ketidakbenaran dalam adab dan sunah mendapatkan rezeki. Selalu merasa ketidakcukupan harta, adalah hukuman atas kerakusan terhadap harta. Bukankah Allah memberikan rasa miskin  terhadap mereka yang mendapatkan harta dengan haram? Bukankah Allah menolak taubat bagi yang perutnya dipenuhi harta yang haram?

Hukuman Allah yang terberat di muka bumi adalah hati yang hitam, keras membatu. Hati yang melalaikan nasihat Allah dan Rasulullah saw. Hati yang keras membatu, kebanyakan disebabkan dari penghasilan dan harta yang tidak halal. Tertutupnya hidayah Allah karena penghasilan yang haram. Seorang ulama Salaf berkata, "Kesempurnaan kebaikan di dunia ini salah satunya berada di harta yang halal."

Bila hidup penuh keborosan dan berfoya-foya, itu bertanda lepasannya dzikrulmaut. Imam al-Auza'i berkata, "Siapa yang banyak mengingat kematian, maka akan dicukupi dengan kesederhanaan." Lihatlah, aktifitas apa yang terbesar di era ini? Gemar berbelanja konsumtif. Berhutang untuk berbelanja konsumtif. Seolah-olah masih ada hari esok.  Itulah cermin hilangnya dzikrulmaut dari tubuh umat ini.

Bila harta bersumber dari yang halal. Bila dzikrulmaut terus terjaga. Maka Allah akan mengilhamkan manajemen keuangan personal yang baik. Menurut Ulama, manajemen keuangan yang terbaik adalah 1/3 untuk sedekah, 1/3 untuk investasi dan 1/3 untuk konsumtif. Bila belum, intropeksilah. Mengapa Allah mengabaikan kita?

Puasa, Cara Praktis Cerdas Finansial Oleh: Nasrulloh Baksolahar (ChannelYoutube Dengerin Hati) Kecerdasan finansial bukanlah tuj...

Puasa, Cara Praktis Cerdas Finansial

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(ChannelYoutube Dengerin Hati)


Kecerdasan finansial bukanlah tujuan, tetapi efek samping dari manajemen dan kematangan diri. Bukankah pengeluaran uang tergantung dari persepsi keinginan dan kebutuhan? Bukankah pengeluaran uang buah dari gaya hidup? Mereka yang tak bisa mengelola syahwat takkan bisa dan tidak akan pernah merealisasikan kecerdasan finansial. Anekdot bila ingin kaya menikah dulu, untuk menunjukkan bahwa kematangan dirilah yang bisa memunculkan kecerdasan finansial.

Cara mudah dan praktis menciptakan kecerdasan finansial adalah dengan berpuasa. Tak perlu banyak teori dari para ahli. Tak perlu banyak studi kasus untuk memahaminya. Cukup berpuasalah. Berpuasa untuk mengelola  yang halal dan mubah pada tempatnya. Puasa menutup pintu keharaman. Keharaman menghacurkan kecerdasan finansial. Keharaman mendorong seseorang pada kecanduan mengeluarkan uang yang efeknya menghancurkan manajemen dan kematangan diri. Akal sehat hilang. Berfikir jangka panjang hancur. Sensitivitas berinvestasi mati, karena terfokus pada kesenangan hari ini dengan penghamburan yang tak terkira.

Puasa menata yang halal dan mubah. Para sufi sudah mencapai taraf berhati-hati pada yang halal dan mubah. Mendayagunakan yang halal dan mubah pada posisi sesuai dengan kebutuhan yang darurat saja. Makan hanya sepertiga perut. Minum hanya sepertiga perut. Rumah, perabotan dan fasilitas hidup hanya pada level bisa menjaga harga diri dihadapan orang lain. Tak dihinakan tapi juga tak membuat orang berdecak kagum sehingga menimbulkan iri dan dengki pada orang lain.

Haram harus ditinggalkan total. Namun jangan sampai jatuh pada jebakan berikutnya yaitu halal dan mubah. Menikmati kehalalan. Menikmati yang dibolehkan sering kali menjatuhkan diri pada pada berlebihan, penghamburan, melampaui batas, kesia-siaan dan kekikiran. Jadi akhlak para sufi agar terhindar dari jebakan ini adalah wara. Sedangkan para ahlul fiqh kadang menjelaskan kadar nila uang tertentu agar tak jatuh pada jebakan ini. Jadi perlu kepahaman ilmu fiqh dalam menghadirkan kecerdasan finansial.

Menelitian di Amerika menunjukkan bahwa seorang anak yang bisa menahan diri untuk tidak langsung memakan permen saat dibagikan menunjukkan kesuksesan di usia dewasanya. Sikap menahan dan menunda sementara terhadap yang diinginkan ternyata menciptakan kecerdasan finansial. Seorang pengusaha merekomendasikan setiap pembelian barang atau aset bila memungkinkan dibeli dengan tunai. Bahkan dia membuang semua fasilitas hutang untuk kemudahan pembayaran hari ini karena  sangat memberatkan cashflow. Berpuasa sejenak dapat melipatgandakan cashflow.

Bagaimana dengan pendapatan  yang haram? Berefek pada kecerdasan finansialkah? Dosa besar menjauhkan dan menutup keberkahan rezeki. Jadilah hidupnya yang hanya menengadahkan tangan, menipu dan mencuri.Tak ada ketentraman hati. Apakah cara ini dapat melipatgandakan harta dalam jangka panjang? Pendapatan haram menjerumuskan pada pengeluaran yang haram juga. Ini kehancuran totalitas terhadap manajemen dan kematangan diri. Harta haram menggelapkan hati. Bagaimana dapat berinovasi radikal bila Allah tak mengilhamkan ilmu dan solusi ke hati manusia? Bukankah inovasi salah satu jalan kecerdasan finansial?

Sangat mudah menciptakan kecerdasan finansial. Berpuasalah. Puasa cara efektif mengelola diri. Mengelola keinginan dan kebutuhan. Puasa penyebab terbakar lemak sehingga aliran oksigen ke otak lancar dan mudah. Disinilah ide-ide brilian muncul. Disinilah kecerdasan finansial terbentuk dengan sendirinya. Mulailah mendidik diri, itulah cara awal meraih kecerdasan finansial.

Cerdasan Finansial dari Umar bin Khatab Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dalam kitab Mawazih Ushfuriya...

Cerdasan Finansial dari Umar bin Khatab

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Dalam kitab Mawazih Ushfuriyah, seorang ulama meneliti keberkahan harta seorang yang bertakwa, mengapa hujan hanya turun di perkebunan miliknya? Mengapa panennya melimpah hanya diperkebunannya? Sedangkan di kebun-kebun di sekitarnya biasa saja?

Sang ulama menemukan seseorang yang tengah mengolah perkebunan tersebut, ternyata dialah pemiliknya. Saat ditanya rahasia pengelolaan hartanya, sang pemilik berkata, "Sepertiga untuk investasi, sepertiga untuk sedekah, sepertiga untuk konsumsi." Komponen pengelolaan harta itu, ada yang untuk menjaga kebutuhan dasar, pengembangan harta masa depan dan pembersihan harta berupa sedekah.

Yang sering dilupakan adalah strategi pengembangan harta masa depan di dunia maupun akhirat. Terbuai dengan kebutuhan hari ini saja. Umar bin Khatab sangat mengkhawatirkan hal ini. Ketika Umar bin Khatab mengelola harta anak yatim, Umar Bin Khatab mencari mereka yang mampu  mengembangkan harta tersebut agar harta tidak habis karena zakat dan pemenuhan konsumsi anak Yatim.

Suatu hari Umar Bin Khatab berkeliling daerah. Dia menyapa para aparatur negaranya. Salah satu nasihatnya, "Bila keluar gajimu, maka sebagiannya agar dibelikan kambing. Jika keluar gaji berikutnya, belilah satu kambing satu atau dua ekor, lalu jadikanlah sebagai harta pokok." Gaji sebagai modal pengembangan harta masa depan, itulah nasihat Umar Bin Khatab.

"Keluarlah ke pasar." Itu perintah Umar Bin Khatab pada tiga orang pemuda yang tekun beribadah ke masjid. Padahal saat itu bukan waktunya beritikaf dan berjamaah di masjid. Dari masjid, pergilah ke pasar. Yang pertama di bangun Rasulullah saw saat tiba di Madinah adalah masjid lalu pasar. Jadi seorang mukmin harus cerdas spiritual terlebih dahulu baru kemudian cerdas dalam mengembangkan harta. Tak ada kecerdasan finansial tanpa kecerdasan spiritual.

Kecerdasan spiritual membangun pertanyaan besar dalam pengelolaan harta. Darimana harta diperoleh? Bagaimana mengembangkan harta? Bagaimana mengelola,  mengeluarkan dan menghabiskan harta? Inilah yang akan ditanyakan Allah di akhirat nanti. Pertanyaan tentang harta lebih banyak dibandingkan pertanyaan lainnya.

Harta tidak boleh menganggur. Asset tak boleh didiamkan. Harta harus terus dikembangkan. Untuk itulah Umar Bin Khatab membuat kebijakan bahwa tanah yang selama 3 tahun ditelantarkan oleh pemiliknya, maka kepemilikannya dialihkan kepada mereka yang mau mengelolanya. Menganggurkan harta berarti tak mensyukuri nikmat Allah.

Harta tak boleh dibabibutakan untuk konsumsi semata. Rasulullah saw bersabda, "Seburuk-buruknya manusia adalah mereka yang memakan berbagai makanan, meminum berbagai minuman, mengenakan berbagai pakaian, dan berbicara dengan keras." Belajarlah pada lebah dan semut. Ada harta untuk masa kini dan masa depan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (197) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (193) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)