basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Rehat

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Rehat. Tampilkan semua postingan

Agar Meyakini Pertemuan Dengan-Nya Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Alam semesta diciptakan agar manusia meyakini dan mengokohkan dir...

Agar Meyakini Pertemuan Dengan-Nya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Alam semesta diciptakan agar manusia meyakini dan mengokohkan diri akan pertemuannya dengan Allah. Bukankah semakin banyak ilmuwan yang meyakini kehancuran alam semesta? Bukankah semakin berlimpah beragam model kemungkinan kehancuran alam semesta?

Alam semesta seperti raga manusia, tumbuhan dan binatang. Bukankah semuanya tua? Bukankah sangat banyak kemungkinan untuk sakit? Bukankah sangat tak terhitung dan tak terduga penyebab kematiannya?

Peradaban Yunani, Romawi dan Persia sudah hancur. Tak muncul lagi. Banyak kaum dan suku bangsa yang tak ada jejaknya lagi. Banyak perusahaan yang bangkrut, tak bangkit lagi. Banyak negara-negara yang hilang dari peta bumi.

Kemana kaum Nabi Hud, Syuaib, Shaleh dan Luth? Kemana Firaun dan Namrudz? Semuanya terkubur. Allah menyisakan jejak perjalanan mereka agar paham semua yang dibangun sehebat dan sekuat apa pun akan musnah.

Allah memendekan usia manusia di akhir zaman, agar berita kematian selalu mengingat. Fenomena gempa dan gunung meletus. Perkembangan jenis penyakit yang semakin banyak dan penyebaran cepat. Iklim yang anomali yang efeknya terhadap suhu, permukaan laut, bencana dan ketersediaan pangan. Apakah tak menyadarkan pertemuannya dengan Allah?

Mengapa Rasulullah saw banyak memberikan berita tentang huru hara Hari Kiamat, baik yang kecil maupun yang besar? Mengapa tanda-tandanya dimunculkan secara bertahap dan berkesinambungan? Agar suasana kesadaran kejiwaan pertemuan dengan Allah terjaga.

Allah Maha Pengasih dan Penyayang, terus mengepung manusia dengan fakta, data dan peristiwa di sekitar dan dekat  untuk bisa menangkap kepastian dan kebenaran akan pertemuan dengan Allah melalui panca indra, akal dan hatinya.

Mengapa Tanah Indonesia Dikuasai  Asing? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mengikuti training shalat khusyu di Shalat Center Bandung. ...

Mengapa Tanah Indonesia Dikuasai  Asing?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Mengikuti training shalat khusyu di Shalat Center Bandung. Saat acara tadabur alam, jalan kaki ke sebuah air terjun. Jalan menuju ke lokasi masih bebatuan. Rumah pun masih sangat jarang. Kontur tanahnya berbukit dan suasana cukup dingin.

Selama perjalanan terlihat banyak pohon cengkeh yang sangat besar. Ini sebuah tanda, cengkeh pernah menjadi sumber penghasilan utama. Kota Bandung pun terlihat dari perbukitan. Namun ada yang cukup memprihatinkan, apa itu?

Selama berjalan kaki, banyak tanah yang tak diolah dan terlantar. Pohon dan rerumputan dibiarkan tak terurus. Tak terlihat bekas cangkul yang dihentakan ke tanah. Padahal tak jauh dari tempat tersebut ada Kantor Dinas Perkebunan provinsi Jawa Barat. Bukankah fenomena yang paradoks?

Ada tanah yang cukup luas yang dipagari beton. Pagarnya pun banyak yang ambruk. Sepertinya dulu pernah dibangun perumahan, tetapi sepi peminat. Sekarang tanahnya pun tak terurus. Ada papan pengumuman yang menginformasikan bahwa tanah tersebut adalah tanah wakaf pertanian. Tetapi, tak terurus juga.

Dalam perjalanan ada rumah dan mushalla yang cukup memprihatinkan. Mushallanya diberi nama Tawakal. Dindingnya hanya terbuat dari lembaran GRC. Rumahnya pun seperti itu. Seorang ibu keluar dari rumah. Kondidi anak-anak terlihat cukup memprihatinkan. Mengapa pertanian identik dengan kemiskinan?

Tanah yang terlantar di pinggiran kota Bandung, itulah wajah Indonesia juga. Indonesia ditelantarkan oleh penghuninya sendiri.  Mengapa tak mensyukuri tanah yang subur dan iklim yang mendukung? Mengapa kolonial Belanda justru sangat serius mengelola tanah Indonesia?

Mengapa tanah Indonesia dikuasai asing? Lihatlah, tanah-tanah yang berada di sisi rumahnya pun ditelantarkan. Bagaimana Allah berkehendak mengamanahkan tanah yang sangat luas? Bagaimana Allah berkehendak menurunkan ilmu dan teknologi untuk mengelola tanah? 

Konservasi Nanas di Kampungku Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mencoba mengumpulkan bibit nanas dari kampungku untuk dibudidayakan di...

Konservasi Nanas di Kampungku

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Mencoba mengumpulkan bibit nanas dari kampungku untuk dibudidayakan di kebun Sukabumi. Semoga kelak menjadi sejarah seperti nanas madu Pemalang yang sebenarnya dari Bogor. Bagaimana Nanas Bogor sekarang jadi salah satu penggerak ekonomi di Pemalang?

Seorang kiyai dari Pemalang melakukan perjalanan wisata religi ke Bogor pada 1942. Pulangnya membawa oleh-oleh buah Nanas. Sampai di Pemalang, mahkotanya dibuang ke kebun. Ternyata tumbuh dengan baik. Semakin lama semakin banyak, lalu ditanam di lahan kritis agar tidak erosi.

Setelah ditanam, ternyata memiliki rasa yang berbeda dengan tempat asalnya, Bogor. Dengan perbedaan geografi, ternyata rasanya menjadi lebih manis dan lebih kering. Akhirnya,  diberi nama nanas Madu. Sekarang nanas yang dibawa oleh seorang kiyai telah menghidupi penduduk Pemalang dari generasi ke generasi.

Bagi saya, nanas memiliki sejarah tersendiri. Dahulu, di kampungku masih banyak kebun yang luas. Setiap di perbatasan kebun atau tepian jalan selalu ditanami nanas sehingga setiap jengkal tanah menjadi produktif.

Setiap pohon yang berbuah pun, selalu ditaruh tebangan pohon nanas di batangnya agar anak-anak tidak mencuri buahnya. Sehabis mengambil kayu bakar di kebun, seringkali kali mengambil daun muda nanas untuk dimakan agar tidak kelaparan.

Sekarang ada bagian kampungku yang akan terkena gusuran jalan tol. Di daerah gusuran tersebut banyak sekali penduduk yang menanam nanas. Anggap saja, memindahkan nanas ke Sukabumi sebagai upaya penyelamatan pohon nanas tersebut. Seperti penyelamatan yang dilakukan Nabi Nuh di saat banjir.

Menanam nanas di tebingan kebun di Sukabumi sebuah upaya agar tidak longsor tanahnya. Pada sisi lain, tanah menjadi lebih produktif karena bisa memanen nanas. Semakin beragam yang bisa dihasilkan dalam satu kebun.

Nasib Ilmuwan, Bagai Katak Dalam Tempurung  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Para ilmuwan ruang angkasa dan astronot mengembara di an...

Nasib Ilmuwan, Bagai Katak Dalam Tempurung 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Para ilmuwan ruang angkasa dan astronot mengembara di antariksa dengan mengembangkan teknologi super canggih. Mereka menemukan ruang angkasa yang tak bertepi dan sangat banyak rahasia yang tak terpecahkan. Beragam benda-benda di ruang angkasa diberi nama sesuai yang pertama kali melihatnya atau membuat teorinya.


Mengirimkan satelit, robot hingga manusia, memprediksi apakah pernah ada kehidupan di luar bumi? Bisakah membuat kehidupan di planet lain? Bisakah menambang kekayaan planet lain?  Hingga bisakah berlibur ke luar angkasa?

Dengan riset ke luar angkasa, teori kehancuran di bumi pun menjadi sangat logis. Bukan itu saja, tetapi juga kehancuran alam semesta. Ternyata bumi itu hanya debu di alam semesta. Ternyata galaksi bima sakti hanya setitik debu pula di alam semesta.

Hasil risetnya hanya melahirkan teori ilmu pengetahuan, kelak teori ini pun akan terbantahkan dengan data yang baru. Seperti itulah pergumulan ilmu. Hasil riset hanya bagaimana bisa menjadi bisnis atau kekayaan?   Atau sekedar mercusuar kehebatan atas bangsa lain.

Mengapa riset yang semakin luas hanya berujung pada akhir yang sama? Ilmu pengetahuan saja. Gelar akademik seperti profesor?  Berakhir pada membangun bisnis dan kekayaan? Mengapa tidak sampai menyentuh pada kesadaran ketuhanan?

Bukankah riset ilmuwan ruang angkasa seperti menjalani babak kecil awal perjalanan Miraj Rasulullah saw? Mengapa tak sedikitpun yang diraih seperti yang diraih Rasulullah saw saat Miraj?

Itulah jalan sesat yang tak tahu tujuan sesuatu. Muslimin memang belum  meneliti fenomena ruang angkasa, namun hasil riset mereka dimanfaatkan untuk menafsirkan ayat Al-Qur'an tentang langit, meneguhkan keimanan kepada Allah dan kelak dimanfaatkan untuk membangun peradaban. Ilmuwan Barat hanya kelelahan membuka hakikat sesuatu. Lelah dalam kebingungan dan pertanyaan. Namun Muslimin yang memanfaatkannya. Sungguh kasihan para ilmuwan Barat?

Yang Diburu dan Dilakukan Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Yang diburu dalam hidup ini hanya maaf, ampunan dan rahmat Allah. ...

Yang Diburu dan Dilakukan Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Yang diburu dalam hidup ini hanya maaf, ampunan dan rahmat Allah. Adakah yang lebih berharga selain itu? Yang dilakukan dalam hidup ini hanya amal shaleh, sabar dan takwa. Adakah ikhtiar yang lebih hebat dari itu semua?

Pernak pernik perjalanan manusia dalam surat Al-Baqarah ditutup dengan permohonan maaf, ampunan dan rahmat Allah. Bukankah surat Al-Baqarah merupakan bimbingan dalam mengelola masyarakat, bisnis, perang dan negara? Bukankah surat Al-Baqarah diturunkan setelah Rasulullah saw di Madinah untuk membangun peradaban?

Dalam shalat, saat duduk di antara dua sujud, deretan utama yang diminta adalah maaf, ampunan dan rahmat Allah. Doa-doa yang dipanjatkan oleh para Nabi dan Rasul, paling banyak memuat permohonan maaf, ampunan dan rahmat Allah.

Doa-doa yang ditujukan bagi yang sudah wafat pun, agar dilimpahkan maaf, ampunan dan rahmat Allah. Bukankah Rasulullah saw pun masuk surga karena rahmat-Nya? Bukankah kebaikan di dunia dan akherat karena rahmat-Nya?

Bagaimana menjalani hidup ini? Bagaimana menjalani liku-liku hidup ini? Jangan pernah berhenti beramal kebaikan. Agar menjadi amal jariah. Agar menjadi tabungan. Apapun yang menimpa, teruslah berorientasi untuk membangun kebaikan.

Hidup ini berproses, tak tahu kapan sesuatu bisa diraih dan terwujud. Maka, dibutuhkan kesabaran. Membangun sesuatu tidak bisa langsung jadi. Sebab hanya Allah yang bisa, "Kun fayakun." Sabar sebuah kesadaran bahwa kita hanya seorang hamba.

Ingin beruntung? Bertakwalah. Jangan mengandalkan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki. Hidup melelahkan dan energi terkuras habis karena mengandalkan diri. Bertakwalah, maka jalan kemudahan terpampang luas.

Paradoks Alam Semesta dan Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Suhu bumi semakin naik. Sejumlah negara dihantam gelombang panas. ...

Paradoks Alam Semesta dan Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Suhu bumi semakin naik. Sejumlah negara dihantam gelombang panas. Seluruh program untuk menghambat pemanasan global telah gagal. Air tanah terus menyusut. Mengapa manusia terus saja berlomba dengan kekayaan dan kekuasaan?

Para ilmuwan melakukan riset ke dalam bumi dan ke ruang angkasa. Hasilnya, alam semesta ini akan hancur. Hari Kiamat itu pasti terjadi. Namun, manusia terus memburu memuaskan nafsu dan angkara murkanya. Berbangga dengan yang telah dihimpunnya.

Berbisnis masih untuk mengembangkan bisnisnya. Berbisnis masih untuk menghimpun kekayaan dan kebanggaan. Berkuasa masih ingin melanggengkan kekuasaannya. Berkuasa masih untuk menjarah kekayaan rakyat dan negerinya.

Gaya hidupnya, seolah bumi ini abadi. Seolah kesenangan dan ketenaran itu langgeng. Seolah seluruh hidup sesuai dengan keinginan egonya.

Manusia penghuni alam semesta. Saat alam semesta menuju kehancuran, mengapa penghuninya merasa hidupnya abadi? Saat alam semesta pasti hancur, mengapa manusia  tak melihat tanda-tanda kehancurannya?

Manusia saling menghancurkan dan bersaing. Saling berebut dan membunuh. Saling berselisih dan bertengkar?  Mengapa tidak bersinergi? Mengapa tidak mencari titik fokus? Mengapa merasa alam semesta ini terbatas bukan berlimpah? Pada bila berhasil mengungguli semuanya pun, akan hancur pula.

Sebuah kenyataan yang paradoks antara manusia dan alam semesta. Penghuninya merasa abadi, padahal tempat yang dihuninya, alam semesta, sedang menuju kehancuran. Betapa bodohnya manusia.

Pertumbuhan Islam Bagai Pohon Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Sayid Qutb dalam tafsirnya, Fizilali Qur'an,  mengumpamakan pertum...

Pertumbuhan Islam Bagai Pohon

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Sayid Qutb dalam tafsirnya, Fizilali Qur'an,  mengumpamakan pertumbuhan Islam di dunia ini seperti pohon. Tumbuh perlahan namun pasti. Angin yang kencang tidak akan menumbangkan. Perubahan iklim tidak akan pernah mematikannya. Selalu bisa beradaptasi dengan beragam kondisi ekstrim sekalipun.

Sekali waktu, pohon ini terkena hama. Sedikit menghambat pertumbuhannya. Ulat memakan dedaunan. Ada yang memetik rantingnya. Namun bekas gigitan ulat dan potongan ranting akan menambah jumlah ranting baru. Bahkan, bisa mengeluarkan bunga dan buah.

Semakin lama, batangnya semakin besar dan kokoh. Daunnya semakin rindang. Akan semakin banyak yang datang sendiri hingga berbondong-bondong dan bergerombol untuk bernaung. Semuanya hidup dari pohon tersebut.

Yang melempari pohon ini dengan apapun akan diberikan buah. Yang ingin menebang pohon ini akan berhadapan dengan makhluk yang hidup di bawah pohon tersebut. Andai, pohon ini ditebang sekalipun, akan muncul dahan-dahan baru, dari sisa-sisa tunggulnya.

Bukankah umat Islam dihabisi di Andalusia? Bukankah umat Islam pernah dihabisi di Masjidil Aqsha? Bukankah umat Islam pernah dihabisi di Baghdad? Bukankah gerakan Kristenisasi di era penjajahan Eropa sangat terstruktur, kuat dan massif? Bukankah gerakan sekularisme dan kapitalisme seperti badai yang menghempaskan apapun?

Hingga hari ini, pertumbuhan umat Islam tetap yang tertinggi. Ajaran Islam yang dihinakan tetapi dijadikan referensi walapun dikamuflasekan dengan nama dan sebutan lain. Saat ideologi lain ditinggalkan dan dihempaskan karena bertentangan dengan fitrah dan tak pernah bisa menyelesaikan persoalan manusia, umat manusia berbondong-bondong mempelajari Islam.

Para ilmuwan melihat dunia menuju kehancuran. Semua solusi yang dilakukan tak bisa menahan kehancuran bumi. Mereka sedang mencari siapa yang bisa menyelesaikan krisis ini? Hanya tinggal menerapkan Islam di kehidupan ini.

Bila Tak Bisa Bersahabat Dengan Malaikat? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mewujudkan kehendak Allah di muka bumi, itulah orientasi b...

Bila Tak Bisa Bersahabat Dengan Malaikat?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Mewujudkan kehendak Allah di muka bumi, itulah orientasi berkebun. Berinvestasi di perkebunan hanya untuk mewujudkan bahwa harta itu milik Allah sehingga harus diputar dan didistribusikan. Hasil investasi diserahkan kepada Allah, karena diniatkan untuk bersedekah kepada alam dan memberi makan pada makhluk-Nya.

Allah menggambarkan hati mukmin dan kafir dengan karakter tanah. Olahlah tanah seperti gambaran hati seorang mukmin. Allah menghendaki air hujan bersemayam di bumi, olahlah tanah agar menjadi tempat yang nyaman bagi air hujan.

Salah satu ciri pengolahan tanah  yang diberkahi Allah adalah munculnya mata air di kebun tersebut. Airnya terus mengalir di antara pepohonan. Bagaimana agar ini terwujud? Al-Qur'an sangat jelas mengidentifikasi keberhasilan sebuah proses tertentu.

Orang kafir menyesal karena selama hidupnya di dunia tidak mencontoh karakter tanah. Mengolah tanah berarti menyelami kehidupan yang menyelamatkan dari api neraka. Semua tumbuhan hidup di atas tanah. Bagaimana agar hati bisa menumbuhkan ragam kebaikan?

Setiap menanam satu pohon berarti menambah teman yang mengingatkan untuk bertasbih dan bersujud. Memelihara tumbuhan berarti berinteraksi dan bergaul dengan teman yang shaleh. Bukankah seseorang itu tergantung temannya? Bila tidak bisa bercengkrama langsung dengan malaikat, maka bercengkramalah dengan tumbuhan.

Setiap terpaan sinar matahari, bulan dan angin. Setiap pergantian malam dan siang. Tanah dan tumbuhan terus berdzikir. Semuanya berdzikir. Betapa tentramnya bila hidup di tengah teman yang terus berdzikir. Mengenal karakter alam semesta agar paham bagaimana menjalani kehidupan yang diberkahi.

Rasulullah saw pernah bersabda bahwa sepeninggalku akan dipenuhi dengan perselisihan yang besar. Semakin mendekati Hari Kiamat, perselisihan semakin ruwet sehingga lahirlah beragam firqah, mazhab, dan aliran. Lahirlah ragam kerakusan dan ketamakan. Bila tak ada lagi teman yang bisa diajak untuk mengingat Allah, maka bergaul dengan alam yang senantiasa bertasbih dan bersujud.

Mengasah Ketawakalan Dari Berkebun Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Berkebun berarti mengasah ketawakalan dan keridhaan. Bukankah tum...

Mengasah Ketawakalan Dari Berkebun

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Berkebun berarti mengasah ketawakalan dan keridhaan. Bukankah tumbuhan tidak berakal? Bukankah tumbuhan hanya bertasbih dan bersujud saja? Mereka fokus pada yang harus dilakukannya saja. Faktanya, yang dibutuhkan sudah disediakan oleh Allah.

Tumbuhan butuh air? Allah menyediakan air hujan. Air dari langit turun. Dari bumi, memancar dengan sendirinya. Dari udara, Terciptalah embun.

Butuh panas? Allah menyediakan teriknya matahari dan energi panas dari bumi. Tanah menyimpan energi panas untuk sementara waktu. Jadi, saat malam yang dingin, tanah masih menyediakan kehangatan.

Butuh makanan? Dedaunan yang basah dikeringkan oleh matahari. Dibusukan oleh iklim yang lembab. Diurai oleh hewan tanah. Jadilah serpihan berbentuk abu. Apakah yang melakukan tumbuhan itu sendiri?

Butuh kenyamanan? Allah menciptakan tanah yang mudah digemburkan. Berpori sehingga yang berasal dari langit bisa disimpan. Akarnya, mudah menggenggam agar bisa tumbuh tinggi. Apakah semua rekayasa tumbuhan?

Butuh naungan? Allah menggerakkan awan-awan. Yang terik menjadi teduh. Butuh kesegaran? Allah menghembuskan angin. Tumbuhan hanya fokus menjalani visi hidupnya. Bertawakal dan ridha menjalani takdirnya. Apakah berakhir buruk?

Tumbuhan yang dibiarkan oleh manusia di hutan dan pegunungan, justru hidup dengan subur dan indah. Tumbuhan pertanian yang selalu diurus manusia justru banyak yang berguguran. Mengapa? Manusia sombong. Merasa serba bisa mengurus. Padahal semuanya rekayasa Allah.

Sifat Petani Yang Membuat Panen Berlimpah  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Sungguh menarik, Allah selalu mengaitkan infak dengan bert...

Sifat Petani Yang Membuat Panen Berlimpah 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Sungguh menarik, Allah selalu mengaitkan infak dengan bertani atau berkebun. Yang sukses bertani dan berkebun, apakah harus memiliki karakter berinfak? Yang gagal panen dalam Al-Qur'an, dalam kisah dua pemilik kebun,  pun dikaitkan dengan karakter kekikiran.

Sangat menarik, hasil dari istighfar pun dikaitkan dengan pertanian dan perkebunan. Kebun yang indah, buahnya berlimpah dan mata air yang mengalir di dalam kebun. Negri Saba yang makmur pun dikaitkan dengan Allah yang Maha Pengampun.

Agar panennya berlimpah maka gemarlah berinfak. Bila tata pengelolaan tanah kebunya ingin menjadi baik, maka banyaklah beristighfar. Semuanya dianugerahkan oleh Allah.

Allah menggambarkan mereka yang berinfak untuk mendapatkan ridha Allah bagaimana sebuah biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Yang berinfak untuk mencari ridha Allah seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun pun memadai.

Bagi yang berinfak karena ria seperti mereka yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tuanya sedang dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu kebun itu ditiup oleh angin keras yang mengandung api.

Dalam sebuah hadist, ada petani yang hasil kebunnya berlimpah  karena setiap hasil panennya didistribusikan menjadi sepertiga untuk infak, investasi dan konsumsi. Allah yang telah menghidupkan tanaman dan mengeluarkan buah-buahan tanpa campur tangan manusia. Maka, berinfaklah sebagai bentuk rasa syukur.

Tak Terbatas Menjadi Terbatas? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Manusia memburu yang terbatas dan mengabaikan yang tak terbatas. Dian...

Tak Terbatas Menjadi Terbatas?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Manusia memburu yang terbatas dan mengabaikan yang tak terbatas. Dianggap yang terbatas itu sangat bernilai. Bertempur dan bertarung demi yang terbatas. Anehnya, mengapa manusia justru mengabaikan "Yang Esa", justru memburu berhala yang tak terbatas?

Cadangan emas, minyak, dan sumber daya lainnya sangat terbatas. Lapangan pekerjaan kantoran terbatas. Semuanya diburu dan diperebutkan. Mengapa terbatas? Karena manusia menganggap hanya itu yang mulia. Semuanya mengarah ke satu titik, jadilah sangat berdesakan.

Mengolah tanah yang membutuhkan sumber daya manusia yang banyak justru diabaikan. Manusia menjauhinya. Pertanian yang membutuhkan terobosan dan teknologi justru tak dipikirkan. Teknologi mengarah pada bukan  yang mendasar. Justru pada peralatan militer.

Kebutuhan manusia sangat terbatas, mengapa menjadi tidak terbatas? Alam semesta sejak Nabi Adam mampu menghidupkan seluruh makhluk di bumi, mengapa menganggap yang ada di bumi terbatas? Keserakahan yang membentuk segala sesuatu menjadi sangat terbatas.

Keserakahan yang menciptakan persaingan dan perburuan. Saling berbangga yang menyebabkan yang tak dibutuhkan menjadi sangat penting. Padahal setelah diraih hanya menjadi sampah dan tak digunakan.

Banyak gedung-gedung ditinggalkan. Banyak rumah mewah yang runtuh, tak berpenghuni lagi. Banyak tanah yang terlantarkan. Banyak kekayaan hanya disimpan, tak digunakan. Padahal dahulu menjadi objek perburuan dan perselisihan.

Rahmat-Nya itu sangat luas. Rahmat-Nya tak terbatas. Bukankah seandainya seluruh manusia dari awal hingga akhir dipenuhi seluruh permintaannya pun, kekayaan Allah tak berkurang sedikitpun. Mengapa manusia selalu berfikir serba terbatas?

Hikmah dari Alam Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bertani dan berkebun berarti menyiapkan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tidak saja ...

Hikmah dari Alam

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bertani dan berkebun berarti menyiapkan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tidak saja manusia tetapi juga hewan dan tumbuhan lainnya. Hasil pertanian dan perkebunan akan mengisi "perut-perut" seluruh makhluk-Nya. Bila perut kenyang, maka akan menentramkan kehidupan.

Satu buah berarti satu kemaslahatan. Satu buah bisa jadi menjadi rangkaian produk-produk turunan lainnya. Berapa banyak kemaslahatan yang tercipta? Bukankah dasar perekonomian dan kesejahteraan adalah memberi makan dan minum?

Hasil panen dari menanam untuk meredam kekacauan. Rasulullah saw bersabda untuk mengolah tanah, menanam dan berternak, di saat huru-hara Hari Kiamat. Dengan menanam, interaksi lebih banyak kepada tanaman dan hewan yang senantiasa bertasbih dan bersujud. Terhindar dari kebisingan manusia.

Penglihatan, pendengaran dan hati diciptakan agar manusia fokus untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah. Bertani membuat manusia terkepung dengan tanda-tanda kebesaran Allah. Inilah yang membuat hati dan keegoan nafsu tertunduk pada keagungan-Nya.

Dalam kisah persilatan, mengapa para pendekar utama lebih memilih kesunyian di saat tuanya? Memilih menjadi bertani dan warga biasa? Bahkan menanggalkan kehebatan dan kedigjayaannya.

Menyelesaikan persoalan dengan kepintaran dan ilmu. Menyelesaikan dengan pertengkaran dan pertempuran telah usai. Saatnya menyelesaikan kehidupan dengan hikmah dan kebijaksanaan yang dipelajari dari alam.

Bertani berarti memahami hikmah dan kebijaksanaan alam. Bukankah banyak nasihat  dengan perumpamaan alam? Bukankah Rasulullah saw bersedih karena sedikitnya manusia yang mau mengambil hikmah kehidupan dari alam?

Cara Alami Menghadapi Kemarau Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Sejak berkebun jadi peduli dengan iklim bulanan. Waktu terasa amat sin...

Cara Alami Menghadapi Kemarau

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Sejak berkebun jadi peduli dengan iklim bulanan. Waktu terasa amat singkat, tak terasa bersiap menghadapi kemarau lagi. Kemarau mulai di Juni, puncaknya di Juli-Agustus. Seperti itu prakiraan iklim menurut BMKG.

Iklim merupakan takdir-Nya. Hujan dan kemarau merupakan takdir-Nya. Dalam kisah Nabi Yusuf, setelah kemarau akan muncul masa pohon anggur berbuah lebat. Sebelum datang kemarau, Nabi Yusuf menyiapkan perbekalan.

Sudah setahun yang lalu memperbanyak tanaman pisang di sekitar tanaman utama. Beberapa pohon utama sudah berumur 2 hingga setahun. Ada beberapa yang baru ditanam untuk menggantikan pohon utama yang mati atau pertumbuhannya kurang baik.

Jadi, seharusnya di tahun ini lebih siap menghadapi kemarau. Sebab, pohon utama sudah besar, hanya sebagian kecil yang perlu perhatian. Di lahan yang baru dibuka pun, yang lebih dahulu ditanam adalah pohon pisang, jadi di musim kemarau, pohon pisang bisa jadi pelindung atau bila kekurangan air bisa dimanfaatkan untuk melembabkan tanah untuk pohon utama.

Cara lain menghadapi kemarau adalah membiarkan tanaman gulma hidup. Gulma membuat sinar matahari tidak langsung mengenai tanah jadi kelembaban tanah bisa lebih terjaga selama kemarau.

Gulma yang lebih tinggi dari rerumputan akan semakin baik  dan banyak menjaring embun di musim kemarau. Saat fajar menyingsing, embun akan berjatuhan ke tanah sehingga membantu kelembaban tanah.

Akar pohon pisang yang banyak mengandung air akan menyejukkan suhu dalam tanah. Semoga di kemarau ini tidak terlalu ekstra keras dalam menghadapinya.

Jejak Air dan Kezaliman Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menyusuri sisi bawah gunung Halimun. Menapaki selokan yang kering di...

Jejak Air dan Kezaliman Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menyusuri sisi bawah gunung Halimun. Menapaki selokan yang kering di sisi tebingan. Dahulu, sepertinya air jernih mengalir di selokan tersebut. Mengapa sekarang kering?

Setelah hujan besar cukup deras semalaman, paginya mencoba menyelusuri selokan tersebut. Ternyata selokannya tetap kering. Terlihat jejak arus air yang cukup kencang dan erosi tanah dari gunung Halimun. Air hujan terbuang percuma. Padahal negri Saba  menjadi makmur karena pengelolaan air hujan.

Di ujung selokan, ada pancuran kecil, yang kering di musim kemarau. Namun bila habis hujan, pancuran tersebut mengalirkan air. Bila tidak hujan beberapa hari, pancuran tersebut tak mengeluarkan air lagi. Bagaimana agar pancuran tersebut selalu mengeluarkan air?

Keberadaan air dan warna air menunjukkan karakter manusia terhadap alam? Adakah kasih  sayang?  Bila zalim, air akan menjauh dan hilang. Warna air tidak jernih lagi.

Di pegunungan, air keluar dengan sendirinya. Penghuninya tinggal menampung dan menyalurkannya ke rumah-rumah. Di musim kemarau pun, air terus mengalir dengan lebih jernih dan sejuk.

Di kota, harus memasang instalasi air tanah hingga ratusan meter untuk mendapatkan air. Warna airnya hijau hingga hitam. Tak bisa dikonsumsi. Apa artinya? Zalim terhadap alam.

Di pegunungan pun bila penduduknya zalim, air sungainya berwarna kemerahan bila hujan karena kerusakan hutan di gunung. Di setiap rumah harus memasang mesin instalasi air tanah. Air tanda kasih sayang atau kezaliman pada alam.

Dilayani Alam Semesta Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ingin merasakan bahwa hidup ini dilayani oleh alam semesta? Ingin merasakan ba...

Dilayani Alam Semesta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ingin merasakan bahwa hidup ini dilayani oleh alam semesta? Ingin merasakan bahwa manusia adalah sang khalifah Allah di bumi? Bertanilah. Berkebunlah. Langit melayani bumi agar kehidupan terus berlangsung. Bumi menampung dan memanfaatkan yang diberikan oleh langit.  Lalu manusia?

Tanpa manusia, kehidupan alam semesta tetap berjalan secara harmoni. Tanpa manusia, bumi tetap berjalan dengan harmoni dan makmur bagi penghuninya. Apa yang dilakukan oleh manusia, bisa dilakukan oleh penghuni bumi. Bukankah kecerdasan manusia hasil mencontek dari alam semesta?

Kecerdasan alam merupakan bawaan takdir-Nya. Manusia diberi akal untuk bisa memahami kecerdasan yang ada di alam. Lalu Allah memberikan fasilitas agar alam semesta bisa dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana mencontek alam semesta juga.

Alam semesta merupakan perwujudan kecil dari ilmu Allah. Alam semesta merupakan perwujudan dari maha berkuasa-Nya Allah tanpa campur tangan siapapun kecuali atas kehendak-Nya. Untuk siapakah kehendak-Nya itu? Hanya bagi manusia.

Air hujan, matahari, bulan, udara, angin, tanah, bebatuan dan yang lainnya, hanya agar manusia nyaman hidup di muka bumi. Hanya agar tumbuhan dan hewan menjadi bahan baku memenuhi kebutuhan manusia. Apakah manusia bisa memenuhi kebutuhannya?

Bukankah makan dan minum dari alam? Bukankah bernafas dan bisa berdiri di atas tanah dari alam? Bisakah manusia membuat butiran padi sendiri? Membuat daging dan telur sendiri? Semuanya berasal dari tumbuhan dan hewan.

Semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup sudah disediakan di alam. Manusia hanya menikmatinya saja. Manusia hanya tinggal mencontek dan mengolahnya saja. Bila dilayani oleh alam, apa yang dilakukan manusia? Berkasih sayanglah pada alam. Maka, alam akan mengeluarkan keberkahan atas ijin-Nya.

Mendayagunakan Takdir Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Belajar takdir dari berkebun. Tanah memiliki takdir. Cacing, rayap, dan semut ...

Mendayagunakan Takdir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Belajar takdir dari berkebun. Tanah memiliki takdir. Cacing, rayap, dan semut menjalani takdirnya. Setiap tumbuhan menjalani takdirnya. Apakah mereka bahagia? Tentu saja, setiap pagi, tumbuhan daunnya segar. Bunganya terus berseri. Setiap hewan menggeliat dengan semangat setiap pagi.

Tumbuhan dan hewan menjalani takdirnya. Apakah kehidupan mereka buruk? Apakah mereka tidak makan dan minum? Apakah mereka tersiksa? Semuanya tercukupi. Bila tidak ada kezaliman manusia, alam semesta berbahagia hidupnya.

Dengan berserah diri terhadap takdir, alam semesta  bergerak menjadi teratur, tertata, bersistem, bersinergi dan bersimbiosis mutualisme. Tak ada kerusakan dan kehancuran. Semuanya serba indah dan mengagumkan. Mengapa manusia justru memberontak terhadap takdirnya?

Alam semesta menyerahkan diri terhadap takdir karena "dorongan di luar alam sadarnya". Sedangkan manusia yang dianugerahi akal dan kebebasan, justru melawan takdirnya. Akal dan kebebasan merupakan anugerah, namun pada sisi lain adalah ujian.

Dalam kesempurnaan manusia ada ujiannya. Manusia harus melawan akal dan kebebasan yang dihiasi oleh keindahan hawa nafsu dan kepalsuan bisikan syetan. Manusia harus mengalahkan fikiran sadarnya terlebih dahulu untuk berserah diri terhadap takdirnya.

Padahal dengan berpasrah terhadap takdirnya, manusia akan seindah alam semesta. Bila akal dan kebebasannya digunakan sesuai tuntunan takdirnya, maka manusia akan bisa mendayagunakan takdir-takdir yang tersebar pada setiap makhluk Allah dan peristiwa di muka bumi.

Akal dan kebebasan bukan untuk merubah takdir. Bukan untuk memperbaiki takdir. Apalagi menentang takdir. Tetapi untuk mempelajari seluruh takdir yang ada di alam semesta, lalu mendayagunakan, meramu, menata takdir  sehingga kehidupan menjadi surga di bumi.

Yang Rendah, Yang Tersubur dan Paling Bermanfaat Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Jati diri manusia adalah tanah. Tanah yang paling r...

Yang Rendah, Yang Tersubur dan Paling Bermanfaat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Jati diri manusia adalah tanah. Tanah yang paling rendah, itulah yang paling subur. Karena air, sampah dan humus yang terhanyut akan berakhir di lokasi yang paling rendah. Mata air dan sungai berada di lokasi yang paling rendah.

Lautan terluas berada di bagian bumi yang paling rendah. Sebagai besar luas bumi merupakan dataran rendah yang kemudian terbentuk lautan. Di lautan, kekayaan tersimpan tak terhingga. Yang paling banyak menampung kehidupan adalah tanah yang paling rendah. Bukan yang paling tinggi.

Tanah yang paling subur adalah tanah yang paling banyak dipenuhi kotoran, sampah dan bangkai. Tanah yang paling subur adalah yang berwarna hitam bukan yang paling putih atau berwarna. Yang dianggap kotor dan hina, justru yang paling dicari untuk menumbuhkan tanaman.

Untuk membangun bendungan atau waduk, yang dibutuhkan dan dicari adalah daerah yang paling rendah di antara perbukitan. Hanya dataran yang rendah yang bisa menampung dan menghimpun air hujan, sungai dan mata air.

Di pegunungan dan perbukitan, lahan yang ditanami oleh para petani adalah daerah yang paling rendah. Binatang hutan atau gunung, saat kelaparan mencari daerah yang rendah untuk mendapatkan makanan. Kebermanfaatan ada di lokasi yang rendah. Kota-kota lebih banyak yang dibangun di dataran rendah.

Bila yang rendah menjadi tanah yang paling subur, mengapa manusia yang berasal dari tanah justru berlomba dengan kegagahan, kesombongan, takabur dan merendahkan yang lain? Padahal Allah pun akan menghancurkan kesombongan manusia agar kembali kepada karakter asal tanah yaitu kerendahan.

Sebab kehancuran manusia adalah kesombongan. Dengan kesombongan ini manusia menghancurkan kebenaran dan merendahkan makhluk-Nya. Yang sombong pum diharamkan memasuki surga-Nya Allah karena telah mengikrarkan diri ingin menyamai Tuhan.

Melembutkan  Hati Seperti Mengolah Tanah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mendidik jiwa seperti mengolah tanah. Cukup digemburkan aga...


Melembutkan  Hati Seperti Mengolah Tanah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Mendidik jiwa seperti mengolah tanah. Cukup digemburkan agar air hujan dan sinar matahari  merembes dan merambat maksimal ke dalam tanah. Atau, menanam beragam pohon yang akarnya kecil-kecil, agar tanah gembur alamiah tanpa harus kerja keras mengayunkan pacul dan garpu tanah.

Tanah yang buruk adalah tanah yang membuang seluruh air hujan dari langit. Air hujan yang merupakan rahmat-Nya, justru membawa tanah humus yang ada di atasnya. Tanah yang baik, yang bisa menahan dan menyimpan air hujan. Bila berkelebihan disimpan atau disalurkan ke tempat yang benar.

Karakter hati seperti karakter tanah. Hati yang keras tak bisa membuahkan kebaikan apa pun, seperti tanah keras yang membuang air hujan dan humus tanahnya tergerus. Tanah pun bisa berubah menjadi benda yang sangat keras. Jadi bagaimana melembutkan hati?

Hati bisa lembut dengan tempaan ujian yang berat, bertafakur, bertadabur, merasakan nikmat Allah, mengimani akhirat, surga dan nerakat. Ada yang melembutkan hati dengan dzikir dan berpuasa. Semua perintah Allah dan Sunnah Rasulullah saw pada akhirnya akan melembutkan hati.

Semakin banyak tanaman, walapun tidak dipacul dan digarpu, tanah akan terjaga kegemburannya. Karena akar tanaman yang akan menembus tanah-tanah yang keras. Bila sudah ditembus akar maka air hujan akan masuk untuk melunakkan tanah tersebut.

Tanaman tersebut adalah seluruh perintah Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Merubah tanah yang tandus menjadi subur dan terus bertambah kesuburannya hanya dengan menanam. Di awal, mengolah tanah yang tandus sangat sulit dan berat, namun di saat ada satu tanaman yang hidup, maka semakin mudah mengolah tanahnya.

Cara pertama mengolah tanah yang tandus adalah dengan menjaga air hujan agar tidak terbuang. Menampung seluruh yang datangnya dari langit. Cara pertama mengelola hati ada dengan menampung semua hal yang berasal dari Allah swt dan Sunnah Rasulullah saw.

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah at...

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah atau panen. Saat bercerita tentang buah, Rasulullah saw justru bersabda bahwa yang dicuri adalah sedekah. Yang dimakan makhluk lain adalah sedekah. Hidup itu soal karya, bukan tentang hasil.

Saat hiruk pikuk menggema, Rasulullah saw memerintahkan untuk tidak mengikuti arus kebisingan, tetapi memerintahkan mengolah tanah dan menanam. Sibukkan dengan karya bukan berkoar-koar dan perselisihan.

Sumber daya yang terus tanpa henti memberikan kehidupan pada makhluk di muka bumi adalah tanah. Mengolah tanah berarti awal menjaga kesinambungan generasi dan seluruh makhluk-Nya. Menanam berarti membangun optimisme dan harapan.

Bukankah misi para penjelajah adalah mendapatkan tanah baru? Bukankah pertempuran paling sengit di muka bumi tentang perebutan tanah? Bukankah dari tanah seluruh pundi-pundi kekayaan berasal? Anehnya, mengapa justru merasa terhina dengan mengolah tanah?

Tanah bisa mengeluarkan perbendaharaannya hanya dengan menggali dan menanamnya. Tanah hanya bisa mengeluarkan keberkahannya hanya dengan bertakwa. Bila mengolah tanah dan menanamnya disemangati oleh takwa, maka bumi ini menjadi surga.

Mengolah tanah itu sangat mudah, hanya dengan menggemburkannya. Menanam itu sangat mudah, hanya dengan memasukan biji-bijian ke tanah yang gembur. Setelah itu, Allah yang menjaga dan memeliharanya. Setelah itu,  tugas alam semesta yang untuk membesarkannya.

Tanah merupakan harta karun yang tak pernah berhenti mengeluarkan kekayaannya. Caranya amat mudah hanya dengan menggemburkan dan memasukkan biji-bijian ke dalamnya. Dengan cara ini kehidupan di muka bumi terus berkelanjutan.

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Se...

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Setiap tanaman memiliki peranan tersendiri yang tak bisa tergantikan. Kontur tanah sangatlah berbeda. Bagaimana memadukan kontur tanah dengan cara hidup tanaman?

Tanah tebingan yang berbentuk vertikal, apakah bisa dimanfaatkan? Tanah tebingan apakah bisa menghasilkan sesuatu bagi kesejahteraan manusia? Bukankah segala sesuatu tidak sia-sia? Tanaman apa yang cocok di tanah tebingan?

Tanah yang diterasering menyisakan tebingan tanah. Selama ini hanya dibiarkan sehingga yang hidup hanya rumput dan ilalang. Apakah tidak ada yang lain? Bagaimana agar tebingan tidak longsor dengan tumbuhan tetapi menghasilkan nilai tambah?

Sedang dibuat riset pemanfaatan tanah tebingan. Bagian atas tebingan ditanami nanas. Bagian bawahnya ditanami pohon lada. Riset adalah metodologi untuk bertafakur dan tadabur untuk memanfaatkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Akar nanas akan mengokohkan tanah tebingan bagian atas, sebab akarnya berserabut dengan kedalaman 30-50 cm. Kelak akan bermunculan juga tunas-tunas baru sehingga bagian atas tebingan semakin kokoh. Semakin vertikal tanah, rasa nanas akan semakin manis dan segar.

Pohon lada yang merambat akan ditanam di bawah tebingan. Kelak akar pelekatnya akan berpegangan pada tanah tebingan. Dengan karakter lada seperti rumput, semoga akan menjaga tebingan dari air hujan dan angin yang bisa melongsorkan tanah sedikit demi sedikit.

Semuanya memang baru tahap riset. Bukankah riset itu lebih baik dari ibadah sunah tahunan? Bukankah bila risetnya salah pun mendapatkan satu pahala? Bukankah riset membongkar takdir-Nya di alam semesta untuk dijadikan hikmah kehidupan?

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)