basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Rehat

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Rehat. Tampilkan semua postingan

Perjalanan Ruhani dari Satwa Kebun Oleh: Nasrulloh Baksolahar Di pagi yang belum sepenuhnya terang, saat embun masih bergelayut ...

Perjalanan Ruhani dari Satwa Kebun

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Di pagi yang belum sepenuhnya terang, saat embun masih bergelayut di ujung daun dan cahaya mentari masih malu-malu menyentuh bumi, kebun memulai hidupnya. Tapi tahukah kita, siapa yang lebih dulu terjaga dari tidur? Bukan manusia. Bukan pula mesin pemotong rumput. Tapi para makhluk mungil yang telah lebih dulu bersujud kepada tugasnya—menghidupi tanah, merawat tunas, menjaga bunga dari hama, bahkan membantu kelahiran buah yang manis.

Di bawah daun dan di antara batang, semesta kecil ini bergerak dalam harmoni. Sebuah simfoni kehidupan yang acap kali tak kita dengar, tapi bekerja tiada henti. Dan jika kita bersedia menundukkan pandangan, memelankan langkah, dan membuka batin, kita akan menemukan pelajaran spiritual dalam kehidupan mereka—dalam diam, dalam kecil, dan dalam keikhlasan yang tak pernah meminta tepuk tangan.

Laba-laba: Arsitek Kesabaran

Lihatlah laba-laba, hewan mungil dengan seni arsitektur paling anggun di dunia. Jaringnya bukan sekadar perangkap, tapi mahakarya yang dibangun dengan ketekunan dan presisi tinggi. Ia tak berteriak. Ia tak mengeluh. Ia hanya bekerja. Dalam ekosistem kebun, laba-laba adalah pengendali alami serangga perusak.

Dalam banyak tafsir, disebutkan bagaimana jaring laba-laba menjadi pelindung Rasulullah ﷺ saat hijrah ke Gua Tsur. Jaring yang tampak rapuh itu membuat musuh menyangka gua tak berpenghuni. Dari sini, kita belajar bahwa perlindungan Allah bisa hadir dari makhluk kecil dan tampak lemah. Bukankah ini pengingat agar tak meremehkan peran sekecil apapun dalam kehidupan?

Burung: Penabur Kehidupan dari Langit

Burung-burung yang terbang di langit membawa benih kehidupan. Mereka tak hanya bernyanyi di pagi hari, tapi juga menebar biji, memangsa hama, dan membantu penyerbukan. Burung dalam kebun adalah dzikir yang terbang. Seperti disebut dalam Surah Al-An’am ayat 38, bahwa burung adalah umat seperti kita.

Dalam kisah Al-Qur’an, burung Hud-hud menjadi pembawa berita bagi Nabi Sulaiman dari negeri Saba—sebuah negeri dengan dua kebun yang subur di kiri dan kanan. Negeri yang dahulu makmur karena bersyukur, tapi porak-poranda karena kufur. Kebun mereka pun dihancurkan banjir dan diganti dengan kebun yang pahit dan berduri.

Lebah: Sang Pekerja yang Diberi Wahyu

Surah An-Nahl (68–69) menempatkan lebah sebagai makhluk penerima wahyu. Ia diberi ilham untuk membangun sarangnya dan menghisap sari bunga. Dari perutnya keluar minuman (madu) yang menyembuhkan. Tapi lebih dari itu, lebah juga penyerbuk andalan bagi tanaman.

Di kebun, lebah adalah pekerja tanpa pamrih. Tanpa pestisida dan racun, lebah akan hadir. Maka kebun yang penuh lebah adalah kebun yang bebas dari kimia perusak. Bukankah ini menjadi parameter alami: jika satwa masih betah tinggal, berarti kebun itu sehat.

Jangkrik, Belalang, dan Ngengat: Nyanyian yang Menyeimbangkan

Saat malam turun, suara jangkrik mengisi keheningan. Mereka bukan hanya penyanyi malam, tapi juga pengurai dan pengontrol populasi tumbuhan liar. Belalang memakan rumput, mengurangi kepadatan tanaman liar. Ngengat, seperti kupu-kupu, ikut menyebarkan serbuk sari. Dalam sistem kehidupan, tak satu pun dari mereka hidup sia-sia.

Ulat dan Kupu-kupu: Metamorfosis Harapan

Ulat memang memakan daun. Ia tampak sebagai perusak. Tapi ia sedang menuju perubahan. Dari ulat menjadi kepompong, lalu terbang sebagai kupu-kupu yang indah dan berguna bagi penyerbukan. Bukankah itu cermin kehidupan kita juga?

Hidup tak selalu langsung indah. Kita perlu melewati fase-fase gelap, dibenci, dijauhi. Tapi jika sabar, Allah mengubah kita menjadi kupu-kupu kehidupan—terbang, lembut, dan memberi manfaat.

Bunglon: Sang Penyesuai Tanpa Menipu

Bunglon mengubah warna tubuhnya bukan karena tipu daya, tapi karena kepekaan. Ia membaca lingkungan, meresponnya, dan menyesuaikan diri. Ia bukan simbol kemunafikan, tapi simbol hikmah: tahu kapan harus berubah demi bertahan.

Di kebun, bunglon adalah pemangsa serangga pengganggu. Ia menjaga keseimbangan. Dalam kehidupan, kita pun perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.

Semut: Disiplin yang Tak Tersorot

Semut menggemburkan tanah, mengangkut biji, dan menciptakan pori-pori tanah yang sehat. Ia hidup dalam koloni yang rapi dan teratur. Nabi Sulaiman mendengar suara semut, bukan hanya sebagai mukjizat, tapi pelajaran bahwa semut pun punya peradaban.

Kebun yang sehat punya semut. Mereka adalah petani kecil yang bekerja dalam senyap. Tak minta imbalan, tapi hasil kerja mereka dirasakan oleh akar, batang, dan buah.

Kisah Kebun dalam Al-Qur’an: Taman Syukur dan Murka

Kebun adalah simbol berulang dalam Al-Qur’an. Kebun di negeri Saba adalah contoh kebun yang subur karena syukur, namun hancur karena kufur. Dalam surah Al-Qalam, diceritakan pemilik kebun yang enggan bersedekah, lalu Allah hancurkan kebunnya semalaman hingga menjadi hitam seperti malam.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 265–266, Allah menggambarkan perumpamaan amal orang yang berinfak karena mencari ridha Allah, diibaratkan seperti kebun di dataran tinggi yang diguyur hujan lebat, menghasilkan dua kali lipat buahnya.

Lalu, dalam Surah Ar-Rahman, Jannatān (dua kebun) menjadi gambaran kenikmatan surga yang penuh pohon, buah, dan mata air. Maka kebun tak hanya tempat bercocok tanam, tapi juga cerminan syurga dan hati.

Tanah yang Dihuni, Bukan Sekadar Ditanami

Kebun bukan sekadar tempat menanam. Ia rumah bersama. Jika tanah dibiarkan tanpa kehidupan—tanpa cacing, tanpa semut, tanpa burung—maka ia mati. Kehidupan makhluk kecil adalah bukti bahwa tanah itu masih hidup. Maka menghidupkan kebun berarti menghadirkan kehidupan selengkap-lengkapnya, tanpa racun, tanpa pengusiran terhadap makhluk lain.

Penutup: Sujud Sunyi di Kebun

Kebun adalah kitab terbuka. Daun-daunnya adalah ayat. Batangnya adalah kisah. Dan makhluk kecilnya adalah huruf-huruf yang menyusun makna kehidupan. Kita hanya perlu memelankan langkah, menundukkan hati, dan membaca dengan iman.

Jika Al-Qur’an menyuruh kita “berjalan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana Allah menciptakan makhluk-Nya,” maka kebun adalah tempat paling dekat untuk mengawali perjalanan itu.

Dan siapa tahu, dalam senyap suara lebah dan sayap kupu-kupu, kita menemukan kembali ruh yang hilang: ruh ketundukan kepada Sang Pencipta, yang mengajarkan bahwa segala sesuatu, betapapun kecilnya, punya peran dalam simfoni kehidupan.



Air dari Langit: Bagai Wahyu dan Hadis bagi Nutrisi Kehidupan Oleh: Nasrulloh Baksolahar --- Hujan adalah wahyu dalam bentuk air...

Air dari Langit: Bagai Wahyu dan Hadis bagi Nutrisi Kehidupan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


---

Hujan adalah wahyu dalam bentuk air. Ia turun dari langit, menyentuh tanah, menghidupkan yang mati, dan menumbuhkan yang tersembunyi. Seperti itulah Al-Qur’an dan hadis: keduanya diturunkan untuk menyuburkan jiwa.

Saya masih ingat sore itu, saat langit menggantung mendung kelabu, angin menari ringan di antara daun-daun pisang di halaman pondok. Lalu hujan pun turun — tidak terburu-buru, tapi dengan tenang dan pasti, seolah hendak menyampaikan pesan yang dalam: “Aku datang dari langit, bukan hanya untuk membasahi tanah, tetapi untuk menghidupkan jiwa-jiwa yang lama diam.”


---

Hujan: Sabda Langit dalam Bahasa Air

Air hujan adalah tamu paling halus dari langit. Ia datang bukan dengan letupan, tetapi dengan ketukan lembut di atap rumah dan tanah yang berdebu. Ia mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam bumi dengan izin Tuhan.

Allah berfirman:

> “Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.”
— QS. Qaf: 9



Wahyu juga demikian. Ia turun tidak memaksa. Ia mengetuk hati manusia yang lembut, lalu mengalir, lalu tumbuh menjadi amal. Dalam tetes hujan ada energi dari langit; dalam ayat wahyu ada cahaya dari Tuhan.

Keduanya menyatu dalam satu misi: menghidupkan yang mati.


---

Air, Wahyu, dan Hadis: Satu Rantai Penghidupan

Jika Al-Qur’an adalah air hujan pertama yang turun, maka hadis adalah sungai yang mengalir darinya. Ia menuntun arah, membentuk muara, dan menyirami ladang peradaban manusia.

> “Sesungguhnya aku diutus bukan untuk melaknati, tetapi sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
— HR. Muslim



Rasulullah ﷺ adalah hujan kedua setelah wahyu pertama. Beliau mencontohkan bagaimana hujan bisa menjadi pelindung di gua, menjadi cahaya di malam, dan menjadi obat bagi luka jiwa. Bahkan ketika hujan turun, beliau membuka bajunya dan menyambut tetesnya dengan doa dan keharuan:

> “Ini baru saja datang dari Tuhannya.”
— HR. Muslim




---

Tanah yang Mengingat Air, Jiwa yang Mengingat Wahyu

Tidak semua tanah bisa menyerap air. Tidak semua hati mampu menerima wahyu. Tanah yang gembur — itulah yang menyimpan air dan menumbuhkan kehidupan. Dan hati yang lembut — itulah yang menyimpan hikmah dan melahirkan amal.

Tanah terbentuk dari air hujan. Lapisan humus yang subur, tempat tumbuhnya tanaman, tidak hadir sendiri. Ia lahir dari perjumpaan air, organisme mati, dan waktu. Sebagaimana hati yang lembut terbentuk dari perjumpaan ilmu, ujian, dan kesabaran.

Air dari langit menyatu dengan tanah, membentuk ruang kehidupan. Maka tak heran, Al-Qur’an juga menggambarkan wahyu sebagai air:

> “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
— QS. Al-Isra’: 82




---

Tanah Menyimpan Air, Hati Menyimpan Hikmah

Air hujan yang diserap oleh tanah akan mengalir ke sumur, ke akar-akar, bahkan menjadi sumber mata air yang memberi minum bagi seluruh makhluk. Begitu pula jiwa manusia yang menyimpan Al-Qur’an dan hadis. Ia menjadi telaga hikmah — tempat orang lain datang mencari kesejukan.

Seorang ulama berkata, “Orang yang menghafal Al-Qur’an ibarat tanah yang menyimpan air untuk musim kering.” Di saat gersang akhlak melanda, ia mengeluarkan tetes-tetes kesejukan dari dalam batinnya. Ia tak hanya selamat sendiri, tapi menyelamatkan.


---

Ketika Para Nabi Menemukan Hujan

Nabi Nuh ‘alaihissalam menyaksikan hujan sebagai bentuk penyucian global. Ia bukan hanya membasuh bumi, tapi juga menandai sebuah permulaan baru. Di atas banjir itu, bahtera menjadi tempat menumbuhkan kehidupan kedua.

Nabi Musa ‘alaihissalam, di tengah gersangnya padang pasir, mendapatkan air bukan dari langit, tetapi dari batu. Namun tetap saja: air itu datang sebagai bentuk wahyu yang dipukul dari bumi yang keras.

Dan Rasulullah ﷺ — saat bersembunyi di Gua Tsur — menyaksikan bagaimana hujan turun dan menghapus jejak kaki sahabat-sahabat beliau. Hujan itu menjadi penghapus bahaya, pembawa keselamatan. Seperti wahyu: ia tidak selalu menenangkan, tapi ia selalu menyelamatkan.


---

Ekosistem Cinta: Hujan, Cacing, Burung, dan Pohon

Setelah hujan turun, tanah menjadi lembab. Cacing-cacing muncul dari lubang-lubang kecil. Lalu datang burung-burung dari langit, mematuk cacing dan membawa pulang makanan untuk anak-anaknya.

Kotoran burung itu jatuh, menjadi pupuk. Lalu tumbuhan tumbuh, dan daunnya gugur, kembali ke tanah.

Begitulah sebuah ekosistem spiritual juga bekerja: wahyu turun, hati menyimpannya, amal tumbuh, lalu menghidupi manusia lain. Cinta berputar, manfaat bersirkulasi.

Al-Qur’an menyebut ini dengan kelembutan:

> “Kami tuangkan air dengan berlimpah, lalu Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di dalamnya, dan anggur serta sayur-sayuran, dan zaitun serta kurma.”
— QS. Abasa: 25–29




---

Hati yang Gersang Menunggu Hujan

Kadang jiwa kita menjadi kering, keras, dan dingin. Seperti tanah tandus di musim kemarau. Namun jangan salah — bukan berarti hujan tak akan turun. Ia hanya menunggu kesiapan tanah.

Allah menurunkan air pada waktu yang ditentukan. Wahyu juga demikian. Ia tidak turun karena keinginan, tetapi karena kesiapan. Maka tugas kita bukan meminta wahyu datang, tetapi menyiapkan diri untuk menerimanya.


---

Menjadi Tanah yang Baik

Rasulullah ﷺ bersabda:

> “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah utus bersamaku adalah seperti hujan yang jatuh ke bumi…”
— HR. Bukhari & Muslim



Sebagian tanah menyerap dan menumbuhkan. Sebagian hanya menahan, tapi memberi minum. Sebagian menolak sama sekali. Maka kita harus memilih: ingin menjadi tanah yang mana?


---

Ketika Langit Turun ke Bumi

Hujan bukan hanya fenomena alam. Ia adalah tafsir dari rahmat. Ketika langit mengirimkan air, itu tanda bahwa bumi belum dilupakan. Dan ketika Allah menurunkan wahyu, itu tanda bahwa manusia belum ditinggalkan.

> “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
— QS. Ali Imran: 190



Air hujan menetes. Wahyu juga menetes — dalam bentuk ayat, dalam bentuk hadis, dalam bentuk pengalaman batin.


---

Penutup: Menyambut Tetes Wahyu

Ketika hujan turun, Rasulullah ﷺ tidak hanya berteduh. Beliau membuka wajahnya. Menyambut tetes air dari langit seakan menyambut kabar dari Tuhan.

Maka kita pun, ketika wahyu datang — baik dalam bentuk ayat, hadis, atau peringatan hidup — belajarlah untuk menyambut. Bukan menolak. Bukan sekadar menghindar.

Bukalah wajah batinmu. Biarkan air dari langit — yang membawa rahmat, cinta, dan kehidupan — meresap perlahan, masuk ke dalam tanah hatimu. Biarkan tumbuh sebuah pohon: yang akarnya iman, batangnya amal, daunnya adab, dan buahnya manfaat bagi seluruh makhluk.

Karena pada akhirnya, hujan bukan sekadar air — dan wahyu bukan sekadar kata. Keduanya adalah kehidupan.


-

Kebijaksanaan Jiwa, Seperti Proses Kesuburan Tanah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tanah tidak sekadar benda mati tempat berpijak. Ia...

Kebijaksanaan Jiwa, Seperti Proses Kesuburan Tanah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Tanah tidak sekadar benda mati tempat berpijak. Ia menyimpan jejak sejarah, memeluk bangkai masa lalu, dan menyuburkan kehidupan yang baru. Dalam tanah, terkandung rahasia besar: bahwa kehancuran bukan akhir, tapi awal bagi kehidupan yang lain. Seperti halnya jiwa manusia, yang bisa menjadi subur setelah luka, menjadi kuat setelah ujian.

Di sinilah kebijaksanaan itu tumbuh—dalam senyap, dalam gelap, dalam proses panjang yang tidak terlihat. Tanah tidak bicara, namun ia mengajarkan. Tanah tidak menuntut, namun ia memberi. Maka jiwa manusia pun bisa meneladani cara tanah menyuburkan kehidupan.

Tanah dan Sifat Memaafkan

Tanah menerima apa saja. Bangkai, kotoran, daun-daun kering, bahkan racun. Ia tidak menolak, tidak mencaci, tidak membalas. Ia hanya menerima. Kemudian mengolahnya dalam diam. Dalam keheningan, ia mengubah semua itu menjadi nutrisi. Menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia.

"Tanah adalah pengingat paling jujur bahwa segala sesuatu yang hancur tidak selamanya berakhir. Ia mungkin sedang berubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat."

Ilmu pedologi mengajarkan bahwa unsur hara makro dan mikro banyak berasal dari pelapukan bahan organik: dedaunan rontok, bangkai, kotoran, sisa akar. Justru tanah yang paling subur adalah tanah yang paling banyak menerima kehancuran. Begitu pula jiwa. Ia yang paling matang adalah ia yang mampu memaafkan, memproses luka menjadi hikmah.

Jiwa yang Mengolah Luka

Sayyid Qutb menulis, “Kadang-kadang manusia tidak bisa tumbuh dalam keadaan lembut dan tenang. Mereka hanya bisa berkembang di bawah tekanan dan penderitaan.”

Lihatlah pohon yang kokoh, akarnya menembus tanah keras. Semakin dalam, semakin kuat. Demikian pula manusia. Jiwa yang subur bukan yang steril dari cobaan, tetapi yang mampu mengolahnya. Ujian bukan beban, tetapi nutrisi. Derita bukan kutukan, tetapi pupuk.

Ketika hati disakiti, ketika harapan runtuh, ketika fitnah datang bertubi-tubi—jiwa yang bijak tak melawan dengan kemarahan. Ia diam seperti tanah. Menyerap. Mengendapkan. Mengolah. Lalu perlahan-lahan, dari luka itu, tumbuh kesadaran baru. Dan dari reruntuhan itu, bangkit kekuatan yang lebih matang.

Ketabahan dalam Struktur Tanah

Pakar tanah, Dr. Rattan Lal, menyebutkan bahwa partikel keras seperti kerikil dan pasir memberi struktur yang mendukung akar. Tanah bukan hanya lembut. Ia juga keras. Dan justru kombinasi itulah yang memungkinkan tanaman tumbuh kuat.

Jiwa pun demikian. Tabah bukan berarti lembek. Tabah berarti mampu menahan, menampung, menopang. Tanah yang terlalu lunak longsor. Tanah yang terlalu keras tidak bisa ditanami. Jiwa yang terlalu lembut bisa patah. Jiwa yang terlalu kaku bisa retak. Maka diperlukan keseimbangan.

“Setiap tanah punya cara sendiri menopang kehidupan, tergantung bagaimana ia mengelola sampah dan kerasnya dunia bawah tanah.” — Rattan Lal

Tabah bukan berarti tidak merasa sakit. Tapi tetap bertahan meski sakit. Seperti tanah yang diinjak, dibajak, dibakar—namun tetap memberi hasil.

Kehidupan yang Sibuk di Dalam Diam

Satu sendok tanah mengandung miliaran mikroorganisme. Mereka bekerja tanpa suara. Menguraikan, memurnikan, memperkaya. Di permukaan, tanah tampak diam. Tapi di dalamnya, kehidupan berdenyut tanpa henti.

Begitu juga jiwa. Ia yang tampak tenang bisa jadi sedang sibuk memperjuangkan kedamaian batin. Ia sedang memurnikan niat, menyaring amarah, menumbuhkan cinta, dan menanam harapan. Jiwa yang paling dalam justru yang paling diam. Tapi dari keheningan itulah muncul kebijaksanaan.

“Allah menciptakan manusia dari tanah, dan mengembalikannya kepada tanah. Di antara dua peristiwa itu, manusia diajarkan untuk belajar dari tanah.”

Tanah sebagai Harta Karun Kehidupan

Tanah menyimpan rahasia peradaban. Dari tanah keluar emas, perak, logam langka, energi fosil. Dari tanah tumbuh makanan, pohon, dan kehidupan. Kristin Ohlson dalam The Soil Will Save Us menulis bahwa tanah menyimpan karbon, menyaring polusi, dan mengolah limbah. Ia adalah mesin kehidupan yang diam-diam menopang dunia.

“Di bawah telapak kaki kita, terdapat laboratorium kehidupan yang paling tua dan paling jenius di bumi.” — William Bryant Logan

Jiwa pun demikian. Jika dijaga dan diolah, ia bisa melahirkan kebijaksanaan, kreativitas, dan keberanian. Tapi jika diabaikan, ia bisa menjadi tempat tumbuhnya penyakit hati. Maka tanamlah dalam jiwa nilai-nilai luhur seperti menanam benih di tanah subur.

Pemimpin Seperti Tanah

Pemimpin yang baik seperti tanah. Ia menyerap kritik, menampung luka, menyuburkan lingkungan. Ia tidak membalas cercaan dengan kemarahan. Ia mengolahnya menjadi kebijakan. Ia memaafkan, tapi tidak melupakan. Ia memproses, lalu menumbuhkan perubahan.

Hasan Al-Banna berkata, “Jadilah seperti tanah yang diinjak, tetapi darinya tumbuh kebaikan bagi semua makhluk.”

Dakwah pun serupa. Jiwa manusia tidak bisa ditanami langsung. Ia harus digemburkan. Disirami kesabaran. Dipupuk dengan cinta. Bukan dengan kemarahan dan paksaan. Tanah yang keras perlu diolah. Begitu juga hati manusia.

Tanah dan Ketaatan

Dalam QS. Fussilat: 11, langit dan bumi diperintahkan oleh Allah untuk datang: “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku.” Dan keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.”

Tanah adalah makhluk yang taat. Ia menerima takdir tanpa mengeluh. Ketika dibakar, dibajak, ditaburi racun—ia tetap memberi. Ia tetap menumbuhkan. Ia tetap melayani. Tanah tidak memilih siapa yang berpijak di atasnya. Ia tidak menolak siapa yang mencangkulnya. Ia tidak marah meski dijadikan kuburan.

Tidakkah kita malu kepada tanah?

Tanah, Cermin Jiwa yang Matang

Akhirnya, kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tapi sebelum kembali, mari belajar darinya. Belajar untuk diam tapi memberi. Diam tapi menyaring. Diam tapi menyuburkan.

Tanah tidak menuntut dipuji. Tidak meminta balas jasa. Ia hanya terus memberi. Karena memberi adalah bentuk tertinggi dari eksistensi.

Begitu pula jiwa. Yang matang adalah yang tidak sibuk membalas. Tapi sibuk menyuburkan. Yang matang bukan yang banyak bicara, tapi yang memberi manfaat. Bukan yang menonjolkan diri, tapi yang menjadi penopang diam-diam.

Tanah menyubur setelah mengelola kehancuran. Jiwa pun menjadi bijak setelah melewati penderitaan. Maka jangan takut jatuh. Jangan takut luka. Karena dari situ, kebijaksanaan bisa tumbuh.

Penutup

Proses tanah menjadi subur adalah gambaran sempurna dari jiwa yang matang. Ia menerima luka, mengendapkannya, memprosesnya, lalu memberikannya kembali dalam bentuk kebaikan. Jika tanah bisa, mengapa jiwa manusia tidak? Bukankah manusia berasal dari tanah?

Jika engkau merasa hancur, ingatlah: mungkin saat ini Allah sedang menjadikanmu lebih subur.


---

Tumbuh Dalam Badai: Belajar dari Tumbuhan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Langit tidak bicara dengan kata-kata, tapi ia mengajar. Ia...

Tumbuh Dalam Badai: Belajar dari Tumbuhan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Langit tidak bicara dengan kata-kata, tapi ia mengajar.
Ia mengirim hujan, petir, dan gelap bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan.

Seorang mukmin tidak melihat badai seperti orang biasa melihatnya.
Ia tidak sekadar mendengar gemuruh dan menyangka murka; ia mendengar zikir langit.
Ia tidak hanya melihat kilat dan menunduk takut; ia melihat cahaya yang sedang membelah langit hatinya.

Dan ketika gelap turun perlahan, menutup semua jalan dan kemungkinan, mukmin tidak kehilangan arah—karena hatinya menyimpan cahaya lain: cahaya dari dalam.


---

I. Hujan: Doa Langit yang Menetes ke Akar

Hujan turun malam itu.
Tidak pelan. Tidak sopan. Ia mengguyur tanpa kompromi.
Atap-atap berderak. Jalanan terendam. Suara angin bersiul seperti luka yang belum reda.

Tetapi di balik jendela kayu sebuah rumah tua, seorang lelaki tua duduk memandang langit.
Ia tidak marah. Tidak juga cemas.
Ia hanya berbisik,
"Alhamdulillah... bumi sedang disiram oleh kasih sayang-Mu."

Karena ia tahu, hujan bukan sekadar air.
Ia adalah wahyu dalam bentuk cair.
Ia menyentuh tanah, lalu menghidupkan akar.
Ia mengalir di antara pori-pori bumi yang retak, lalu menyatu dengan tubuh tumbuhan.

Tumbuhan tidak menyambut hujan dengan keluhan.
Ia tidak berkata, “Terlalu deras!”
Ia hanya diam, menunduk, dan menyerap.
Ia tahu: air ini bukan musuh, melainkan makanan untuk pertumbuhannya.

“Begitulah seharusnya engkau, wahai jiwa mukmin,”
bisik hujan dalam kesadarannya,
“Jangan mengeluh saat ujian turun deras. Seraplah ia, agar kau tumbuh lebih dalam.”


---

II. Petir: Cahaya yang Menyuburkan dalam Sekejap

Kilatan pertama menyambar pohon tua di ujung ladang.
Kilatan kedua membelah langit dengan sinar yang terlalu terang untuk dilihat mata biasa.
Guruh pun menyusul, menggetarkan dada, seolah memukul-mukul bumi agar ia bangkit dari tidur.

Orang-orang menutup telinga, bersembunyi di balik tembok, menggigil dalam ketakutan.
Tetapi seorang anak kecil, yang belum diajari takut oleh dunia, justru menatap ke luar dan bertanya:
"Ayah, kenapa petir menyala?"

Sang ayah menjawab sambil tersenyum:
"Karena langit sedang memberi pupuk pada tanah."

Anak itu tertawa, tak percaya. Tapi ia mengingatnya.

Dan betul. Petir memang menyuburkan.
Ia memecah nitrogen di udara—gas yang terlalu kuat untuk diurai oleh tumbuhan.
Melalui petir, nitrogen itu berubah menjadi nitrat dan amonium.
Lalu larut bersama hujan.
Lalu meresap ke dalam akar.

Tanpa petir, daun tak akan sehijau itu.
Tanpa petir, ladang tak akan seteguh itu.
Tanpa petir, langit tak akan menjadi seproduktif itu.

Dan tanpa kejutan-kejutan dari hidup, jiwa mukmin pun tidak akan tumbuh dewasa.

“Kau butuh kilat untuk menyadari cahaya,”
bisik langit.
“Kau butuh guncangan untuk menyadari akar.”


---

III. Gelap: Rahim yang Diam-Diam Menumbuhkan

Setelah hujan reda, dan petir menjauh, malam benar-benar datang.
Gelap menutup segala arah. Tak ada cahaya bulan. Tak ada bintang.
Hanya suara tetesan air yang turun dari genting, dan aroma tanah basah yang naik dari bumi.

Bagi sebagian orang, malam adalah ketakutan.
Mereka menyalakan lampu di setiap sudut, seolah kegelapan adalah iblis yang harus diusir.

Tetapi tumbuhan tidak takut gelap.
Ia justru menanti malam.
Karena malam adalah waktunya ia bekerja dalam diam.
Respirasi sel terjadi. Energi dari siang hari dibagikan ke batang, daun, dan akar.
Tumbuhan memperbaiki dirinya. Tumbuhan tumbuh.

Seorang mukmin yang memahami hal ini tidak lagi membenci gelap.
Ia justru mencintainya.

Ia tahu: bukan hanya cahaya yang menghidupkan, tapi juga kegelapan.
Karena di dalam gelap, doa-doa lebih tulus.
Tangis lebih jujur.
Pertobatan lebih dalam.

Tumbuhan tahu ia butuh gelap untuk berbunga.
Beberapa bahkan hanya bisa berbunga jika mengalami malam yang cukup panjang.
Begitu pula mukmin: hati baru mekar setelah cukup lama terbenam dalam malam-malam taubat.

“Jika engkau merasa gelap,” kata malam,
“Maka jangan menolak.
Karena Aku adalah rahim tempat engkau akan dilahirkan kembali.”


---

IV. Jiwa yang Tumbuh Seperti Tanaman

Langit tidak membedakan antara ladang yang bersyukur dan ladang yang mengeluh.
Hujannya turun pada keduanya.
Petirnya menyambar tanpa memilih.
Gelapnya datang menyelimuti semua.

Tetapi tumbuhan yang menerima air, kilat, dan gelap dengan penuh sabar—itulah yang akan tumbuh.
Dan tumbuhan yang mengeluh, menggugurkan daunnya terlalu cepat, atau terlalu keras menolak air—akan mati perlahan.

Begitu pula jiwa manusia.

Sebagian mengeluh saat hujan turun dalam hidupnya.
Mengira ia dihukum.
Padahal ia sedang disiram.

Sebagian marah saat petir menyambar jiwanya: ketika musibah datang tiba-tiba, ketika hidup berubah drastis.
Padahal itu cara langit menyuburkannya.

Sebagian takut pada gelap: sunyi, kehilangan, sepi, malam tanpa teman.
Padahal di situlah hatinya didewasakan.

“Jadilah seperti tumbuhan,”
kata langit,
“Karena ia tahu, badai bukan akhir,
melainkan awal dari musim berbunga.”


---

V. Mukmin: Mereka yang Tidak Takut Badai

Mukmin bukan orang yang hidup tanpa petir.
Bukan orang yang selalu berada di bawah cahaya.
Bukan orang yang tidak pernah kehujanan.

Mukmin justru mereka yang mengakar dalam badai.

Mereka tidak tumbang saat hujan datang.
Tidak panik saat petir menyambar.
Tidak putus arah saat gelap menutup pandangan.

Karena mereka tahu:
Langit tidak sedang menghukum mereka. Langit sedang menumbuhkan mereka.

Seperti tanah yang basah sebelum disemai.
Seperti benih yang dikubur dalam gelap sebelum mekar.
Seperti ladang yang tersambar cahaya sebelum jadi subur.

Hati mukmin, jika ia pasrah dan sabar, akan menjadi taman yang lebih indah dari ladang mana pun di bumi.

“Tumbuhlah, wahai mukmin,” bisik langit dalam hati mereka,
“Tumbuhlah dalam badai, karena badai ini dari-Ku.
Dan siapa yang bersabar bersama-Ku, akan Kubuat hijau meski di padang gersang.”



---

Ketika Langit Menjadi Cermin Jiwa

Kita hidup dalam zaman yang bising dan terang berlebihan.
Kita takut hujan karena takut basah.
Kita takut petir karena takut terguncang.
Kita takut gelap karena takut sendiri.

Padahal, tumbuhan—yang tidak bisa bicara dan tidak bisa berpikir—justru lebih bijak dari kita.
Ia menerima. Ia tumbuh. Ia bersabar.

Maka belajarlah, wahai jiwa yang mendamba kedewasaan.
Bukan dari seminar atau buku motivasi.
Tapi dari langit.
Dari hujan, petir, dan gelap.

Karena barangkali, dalam satu malam penuh badai,
kita tidak sedang dihukum.
Kita sedang ditumbuhkan.

Capung: Penjaga Sunyi dari Langit, Penawar Hama di Kebun Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di suatu sore yang tenang, di antara sorot ...

Capung: Penjaga Sunyi dari Langit, Penawar Hama di Kebun

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di suatu sore yang tenang, di antara sorot matahari dan ujung pucuk daun, seekor capung melayang. Sayapnya bening, tubuhnya ramping berkilau, dan geraknya seperti jurus rahasia dari langit. Tidak bersuara. Tidak mencuri. Tapi penuh makna.

Capung sering dianggap makhluk tak penting. Tapi bagi petani yang jeli, ia bukan sekadar serangga, melainkan penanda rahmat, penjaga alam, dan kadang, tanda bahwa kebun sedang disayangi Tuhan.



Apa Itu Capung?

Capung adalah serangga dari ordo Odonata, dikenal dengan sayap transparan, terbang cepat, dan tubuh memanjang. Ia hidup di dua dunia: air dan udara. Masa kecilnya di air sebagai larva, dan setelah bermetamorfosis, ia terbang bebas sebagai makhluk langit.

Capung bukan serangga biasa. Ia predator alami, penjaga ketenangan di permukaan air dan pemangsa senyap di antara daun. Ia hidup bukan untuk mengganggu, tapi untuk menyeimbangkan.



Karakter Capung: Lincah, Tertib, dan Misterius

1. Pengendali udara yang piawai
Capung bisa terbang mundur, diam di tempat, dan meluncur cepat seperti peluru. Ia adalah pilot alami terbaik di dunia serangga.

2. Tak pernah hinggap sembarangan
Capung memilih ranting tertinggi, titik cahaya terbaik. Ia tahu di mana ia harus terlihat dan kapan harus menghilang.

3. Tak mengganggu tanaman, tapi memangsa pengganggu tanaman
Capung memakan nyamuk, lalat kecil, ulat terbang, dan serangga pengisap daun.


Di tengah kebun, capung adalah penegak keadilan tanpa pengadilan.



Kehidupan Capung: Siang Aktif, Malam Menghilang

Capung adalah makhluk diurnal, aktif saat cahaya matahari menyentuh dedaunan.
Ia suka terbang di sekitar air, sawah, kanal, atau parit yang bersih.

Saat malam, ia bersembunyi. Bukan karena takut, tapi karena tahu: waktu malam bukan ladangnya.

Kehadirannya adalah simbol cahaya. Jika capung sering terlihat, maka cahaya kebun Anda masih utuh.



Apa Makanan Capung?

Capung tidak makan daun, tidak mengganggu bunga, apalagi batang tanaman. Ia adalah pemangsa:

Nyamuk

Serangga kecil

Ngengat

Kutu kebul

Lalat buah muda


Bahkan capung muda (nimfa) di air pun menjadi predator jentik nyamuk dan larva hama tanaman air.

Ia bekerja tanpa upah, tanpa pestisida, tanpa pamrih.



Tanda Kehadiran Capung di Kebun

Terbang rendah di atas semak, kanal, atau bunga

Mengambang sebentar lalu melesat seperti kilat

Hinggap di pucuk ranting yang tinggi

Muncul di pagi dan sore hari saat udara bersih dan hangat


Jika kebun Anda tak pernah dikunjungi capung, mungkin airnya terlalu kotor, udaranya terlalu beracun, atau pestisida terlalu banyak disemprotkan.



Apakah Capung Membantu Pembuahan Tanaman?

Tidak secara langsung. Capung bukan penyerbuk. Ia tidak mengisap nektar, tidak membawa serbuk sari, dan tidak masuk ke kelopak bunga.

Tapi secara tidak langsung, capung melindungi bunga dari perusak, seperti lalat buah dan ulat pemakan kelopak.

Jadi meski bukan penyerbuk, capung adalah penjaga bunga. Ia memastikan calon buah tidak dirusak sebelum sempat berkembang.



Apakah Capung Makan Batang? Apakah Itu Menumbuhkan Tunas Baru?

Tidak. Capung tidak makan batang, daun, atau bagian tanaman apa pun. Ia bukan herbivora.
Namun dengan memangsa hama daun dan bunga, capung menjaga kesehatan tanaman.

Dan tanaman yang sehat, dengan daun utuh dan bunga terlindungi, akan:

Tumbuh lebih banyak cabang

Menghasilkan lebih banyak daun muda

Lebih siap menghasilkan bunga dan buah

Dalam ekosistem, capung tidak membuat luka. Tapi menjaga agar luka tidak bertambah. Itu peran spiritualnya.




Capung dan Doa Pertanian yang Tak Tertulis

Capung seperti malaikat kecil. Ia tidak bersuara, tapi setiap kepakan sayapnya seperti doa penjaga pertanian:
"Ya Tuhan, lindungi pohon ini dari hama, beri ruang bagi bunga untuk mekar, dan jadikan kebun ini layak bagi kehidupan."

Kehadiran capung adalah tanda bahwa kebun sedang diawasi langit.
Karena capung hanya datang ke tempat yang airnya jernih, udaranya bersih, dan pohonnya penuh kehidupan.



Saat Capung Datang, Jangan Dihalau—Tapi Disyukuri

Di tengah dunia yang sibuk menyemprot pestisida, memotong ranting sehat, dan menebang kebun demi proyek, capung datang sebagai pengingat bahwa ada cara bertani yang lebih damai.

Bertani bukan hanya soal hasil, tapi juga soal harmoni.
Dan capung, dengan sayap bening dan mata tajamnya, adalah guru ekosistem yang kita lupakan.

Jangan buru-buru membasmi semua ulat, jangan racuni semua semak.
Biarkan capung datang. Biarkan ia menjaga.

Karena selama capung masih bersedia menari di kebun Anda, berarti alam belum menyerah untuk hidup bersama Anda.




Ulat: Si Pemakan Daun yang Diam-diam Menyuburkan Kehidupan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Banyak orang melihat ulat sebagai musuh t...



Ulat: Si Pemakan Daun yang Diam-diam Menyuburkan Kehidupan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Banyak orang melihat ulat sebagai musuh tanaman. Wajahnya tak ramah, jalannya pelan dan menggerogoti daun tanpa ampun. Ia dianggap perusak, pengganggu, dan hama yang harus segera dienyahkan. Tapi benarkah ulat hanya serangga perusak?

Atau justru, dalam diam dan rakusnya, ulat menyimpan pelajaran penting tentang pertumbuhan, pembaharuan, dan keseimbangan alam?


Apa Itu Ulat?

Ulat adalah larva dari kupu-kupu atau ngengat. Ia bukan serangga dewasa, tapi fase awal dari makhluk bersayap indah yang sering kita kagumi di taman-taman bunga.
Sebelum menjadi kupu-kupu penyerbuk, ia menjalani hidup sebagai ulat—tahap yang paling “kasar” dan sering dibenci manusia.

Namun di sinilah letak ironi:
Kita mencintai kupu-kupu, tapi membenci ulat yang menjadi jalannya.



Karakter Ulat: Pemakan Rakus yang Tak Pernah Minta Maaf

Ulat adalah pemakan ulung. Tubuh lunaknya bersegmen, dilengkapi mulut penggigit yang efektif menghancurkan daun. Ia tidak meminta izin, tidak berpura-pura, tidak membuang waktu.

Beberapa ulat berbulu dan bisa menyebabkan iritasi, tapi sebagian besar tidak berbahaya bagi manusia. Mereka hanya sibuk dengan satu hal: makan untuk tumbuh.

Ia lahir kecil, lalu makan tanpa henti. Dalam beberapa hari, ukurannya bisa membesar beberapa kali lipat. Dan ketika tiba waktunya, ia berhenti makan, membungkus diri dalam kepompong, dan… diam.

Di dalam keheningan itulah, keajaiban metamorfosis terjadi.



Siang, Malam, dan Kehidupan Diam-Diam

Tak semua ulat aktif di siang hari. Beberapa bersembunyi di balik daun atau tanah, lalu keluar di malam hari untuk makan. Mereka tahu kapan harus menyelinap, kapan harus menampakkan diri.

Ulat tidak bersuara. Tapi jejaknya terasa: daun yang hilang, batang yang berlubang, dan bunga yang tertunda mekar.

Namun, apakah semua itu kerugian?



Makanan Ulat: Daun, Bunga, Kadang Buah

Ulat adalah herbivora, pemakan daun, bunga, dan kadang buah muda. Ini yang membuat petani resah. Mereka takut panen gagal karena ulat mengunyah apa yang mestinya jadi hasil.

Tapi siapa sangka, dari batang yang digigit ulat, terkadang justru tumbuh cabang baru, daun muda, bahkan tunas bunga.

Dalam dunia pertanian, ini dikenal sebagai efek pemangkasan alami. Sama seperti manusia yang memangkas ranting untuk merangsang pertumbuhan, ulat melakukannya dengan cara yang lebih kasar, tapi hasilnya bisa serupa: pemulihan dan regenerasi.



Tanda Kehadiran Ulat di Kebun

Ulat tidak mudah disadari, tapi meninggalkan banyak jejak:

Daun berlubang atau habis separuh

Daun menggulung, sering kali tempat ulat bersembunyi

Butiran kotoran kecil (frass) di bawah daun

Jejak lendir atau gigi di bunga dan buah muda

Kemunculan kupu-kupu dewasa di sekitar kebun (karena berarti sebelumnya ada ulat)



Apakah Ulat Membantu Pembuahan Tanaman?

Jawabannya: tidak secara langsung.

Ulat justru sering memakan bunga atau daun muda yang penting untuk pembuahan. Tapi setelah ia menjadi kupu-kupu dewasa, ia bisa berperan sebagai penyerbuk alami.
Artinya, fase ulat adalah jalan menuju fase penyerbuk.

Namun, kehadiran ulat juga menyumbang sesuatu yang lebih dalam:

Ia mengundang burung pemangsa, yang juga membantu mengontrol hama lain.

Ia membuka ruang untuk pertumbuhan cabang baru dari batang yang digigitnya.

Ia memberi pelajaran tentang keseimbangan dan keterbatasan.



Ulat dalam Perspektif Ekosistem: Hama atau Katalis Kehidupan?

Ulat memang bisa merusak jika jumlahnya tak terkendali. Tapi dalam jumlah alami, ia adalah bagian penting dari siklus hidup:

Makan daun → membuka ruang tunas baru

Dimakan burung → mendukung rantai makanan

Jadi kupu-kupu → membantu penyerbukan

Mati → jadi pupuk mikroorganisme


Dalam ekosistem kebun yang sehat, ulat bukan musuh, melainkan bagian dari orkestra kehidupan.



Yang Tampak Merusak, Belum Tentu Merugikan

Petani sering menganggap ulat sebagai pengganggu. Tapi bagaimana jika kita ubah cara pandangnya?

Ulat bisa dilihat sebagai pemangkas alami yang mendorong pertumbuhan baru.
Sebagai uji kesabaran sebelum panen.
Bahkan sebagai guru kehidupan: ia mengajari kita tentang pertumbuhan yang menyakitkan, proses yang rakus, dan keindahan yang lahir dari kesunyian kepompong.

Tanpa ulat, tidak akan ada kupu-kupu.
Dan tanpa luka pada daun, barangkali tak akan tumbuh cabang baru.



Ulat, Sang Pengganggu yang Mengandung Potensi

Jika Anda menemukan ulat di kebun Anda, jangan buru-buru membunuh semuanya.
Lihat dulu: berapa jumlahnya, apakah masih dalam kendali, apakah sudah mengganggu keseimbangan?

Karena kadang, yang tampak sebagai perusak, justru pemicu kehidupan baru.
Dan ulat, sang pemakan daun yang dibenci itu, bisa jadi penyubur rahasia yang tak kita sadari.

Bunglon di Kebun: Penjaga Tak Bernama yang Tak Pernah Diminta Terima Kasih Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di kebun-kebun buah, kita...

Bunglon di Kebun: Penjaga Tak Bernama yang Tak Pernah Diminta Terima Kasih

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di kebun-kebun buah, kita biasa berbicara tentang pupuk, hama, hasil panen, dan harga pasar. Tapi ada satu makhluk yang jarang disebut, jarang disadari, dan bahkan sering diusir karena dianggap aneh, lambat, dan tak berguna. Ia tak berisik, tak memakan buah, bahkan tak meninggalkan jejak kerusakan apa pun.

Tapi justru makhluk inilah yang berjasa menjaga daun tetap hijau, bunga tetap utuh, dan buah tetap tumbuh.
Namanya: bunglon.



Ia Tidak Membawa Paku atau Pisau, Tapi Menjaga Lebih Baik dari Banyak Petani

Bunglon tidak butuh upah, tidak minta pujian, tidak mencari perhatian. Ia hanya hadir di kebun—diam, lambat, dan menyatu dengan batang pohon.

Tapi ia punya keahlian yang tidak dimiliki manusia: menangkap hama tanpa pestisida, membasmi ulat tanpa racun, dan menjaga keseimbangan kebun hanya dengan menjadi dirinya sendiri.

Bunglon tidak mencangkul, tapi ia bekerja lebih tenang dari petani. Ia tidak menanam, tapi menjaga apa yang kita tanam.



Di Mana Bunglon, Di Situ Kebun Masih Waras

Jika Anda melihat bunglon di kebun Anda, itu bukan sekadar penampakan satwa liar. Itu adalah pertanda ekosistem Anda masih hidup. Bahwa masih ada rantai makanan, bahwa pohon Anda masih menarik serangga alami, dan bahwa lingkungan belum terlalu rusak oleh pestisida kimia.

Karena bunglon tidak akan hidup di tempat yang mati.

Bunglon datang ketika ada ulat untuk ia buru.
Bunglon tinggal jika pohon-pohon punya ranting untuk ia pegang.
Dan bunglon akan bertahan jika manusia membiarkan ia bekerja dalam sunyi.



Bunglon Tidak Mengotori, Tidak Mengganggu, Tapi Dianggap Mengganggu

Ironi manusia modern: mengusir yang tidak merusak, dan memelihara yang merusak.

Berapa banyak petani yang mengusir bunglon karena "takut warna kulitnya berubah"?
Berapa banyak orang tua yang mengajarkan anaknya bahwa bunglon itu “menyeramkan”?
Padahal bunglon tidak menggigit, tidak beracun, dan tidak pernah memakan buah atau bunga.

Ia hanya memakan belalang, ulat, lalat buah, dan serangga-serangga kecil yang justru sering merugikan panen.



Apakah Bunglon Membantu Pembuahan?

Tidak secara langsung.

Bunglon bukan lebah. Ia tidak memindahkan serbuk sari dari bunga ke bunga. Tapi ia melakukan sesuatu yang lebih sunyi, tapi tak kalah penting:
Menjaga bunga tetap utuh sebelum ia sempat diserbuki.

Bayangkan: seekor ulat bisa membuat bunga rontok. Seekor belalang bisa menggigit kelopak.
Tapi jika bunglon hadir, ulat itu tidak sempat menggigit. Belalang itu tidak sempat melompat.

Bunglon bukan penyubur, tapi ia penjaga. Dan kadang, penjaga lebih penting daripada pemupus.



Si Penjaga yang Tak Punya Lencana

Di dunia manusia, penjaga dihargai karena berseragam. Tapi di dunia tumbuhan, penjaga seperti bunglon tidak bersuara, tidak berseragam, dan tidak punya lencana.

Ia hanya menyatu dengan dahan, berubah warna mengikuti matahari, dan muncul kadang kala seperti pesan dari alam bahwa "masih ada yang peduli, meski tak terlihat".

Kita mungkin tidak pernah mengucap terima kasih. Tapi pohon buah tahu siapa yang menjaga mereka diam-diam.



Bunglon Tidak Membuat Panen Berlimpah, Tapi Menjaga agar Tak Gagal

Petani sering berpikir soal panen besar. Tapi siapa yang berpikir soal kegagalan panen akibat hama?

Kita terlalu sibuk menghitung pupuk dan pestisida, hingga lupa bahwa ada yang menjaga bunga tetap utuh tanpa biaya. Bunglon adalah bagian dari sistem alam yang tak butuh instruksi. Ia datang ketika diperlukan, dan pergi ketika ekosistem sudah rusak.

Pertanyaannya: apakah kita masih memberi ruang untuk ia tinggal?



Belajar dari Bunglon yang Sabar

Bunglon tidak protes ketika kita menyemprot pestisida dan membunuh serangga yang jadi makanannya.
Ia tidak marah saat dahan tempat ia tidur ditebang.
Ia tidak menggigit ketika ditangkap dan dibuang jauh.

Tapi barangkali, kita yang perlu belajar darinya:
Bagaimana bekerja dalam diam.
Bagaimana menjaga yang kita cintai tanpa perlu sorotan.
Bagaimana setia pada peran meski tak pernah disapa terima kasih.



Jika Anda Melihat Bunglon di Kebun Anda…

…berhentilah sejenak.
Lihatlah bagaimana ia berjalan pelan, bagaimana matanya mengamati dua arah, dan bagaimana tubuhnya menyatu dengan daun.

Lalu ucapkan dalam hati:

“Terima kasih, penjaga sunyi. Teruslah tinggal di sini. Kami butuh kamu, meski kami sering lupa bahwa kamu ada.”

Dan mungkin, saat itu, kebun Anda menjadi lebih hidup dari sebelumnya.


Esai ini ditulis untuk membuka mata para petani, pencinta tanaman, dan siapa saja yang percaya bahwa alam tak pernah bekerja sendirian. Terkadang, penjaga terbaik adalah yang tak kita sadari kehadirannya.

Huru-Hara Hari Kiamat di Dunia Bisnis Oleh: Nasrulloh Baksolahar Huru-hara diartikan sebagai kekacauan besar yang melanda secara...


Huru-Hara Hari Kiamat di Dunia Bisnis

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Huru-hara diartikan sebagai kekacauan besar yang melanda secara umum. Dalam kondisi ini, tidak ada lagi pola yang terstruktur dan logis. Segala sesuatu menjadi serba tak menentu. Struktur yang sebelumnya mapan dan stabil tiba-tiba runtuh. Semuanya berubah dengan sangat cepat—secepat apa yang dipikirkan dan diciptakan oleh manusia.

Namun, benarkah huru-hara hari Kiamat hanya dimaknai sebagai kehancuran alam semesta, yang ditandai dengan perubahan arah lintasan matahari, dari timur ke barat, lalu bergeser dari barat ke timur?

Ataukah hanya terbatas pada kisah pertempuran Armagedon, ketika "golongan putih" yang dipimpin Imam Mahdi melawan "golongan hitam" di bawah komando Dajjal—perang besar berskala global yang melibatkan banyak bangsa?

Sesungguhnya, huru-hara bisa terjadi dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia bisnis. Dalam terminologi modern, huru-hara semacam ini disebut sebagai disrupsi: perubahan drastis yang mengganggu tatanan atau model bisnis yang telah lama mapan.

Mengapa disrupsi bisa terjadi?
Karena inovasi atau perubahan mendasar muncul dan menggantikan cara lama dalam menjalankan bisnis. Pelaku lama tergeser, struktur pasar berguncang, dan cara-cara baru bermunculan sebagai norma baru.

Contohnya sangat nyata. Dahulu, hanya perusahaan besar seperti Blue Bird yang bisa menjalankan layanan transportasi. Kini, siapa saja bisa melakukannya lewat aplikasi seperti Gojek dan Grab.

Bahkan kekacauan politik dan kemanusiaan dapat memicu disrupsi. Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina, misalnya, telah memicu gerakan boikot terhadap produk-produk yang terafiliasi dengannya. Di sisi lain, muncul semangat untuk menggunakan produk lokal sebagai bentuk perlawanan ekonomi sekaligus alternatif yang lebih etis.

Lalu, bagaimana menghadapi disrupsi?

Jika dalam narasi hari Kiamat hanya mereka yang beriman yang akan selamat, maka dalam dunia bisnis pun hanya mereka yang memiliki akar nilai, fleksibilitas, dan ketangguhan yang mampu bertahan. Seperti pohon yang dihempas badai: batang dan daunnya bisa rontok, tetapi selama akarnya menghujam ke dalam tanah, ia akan tetap berdiri dan tumbuh kembali.

Pada akhirnya, hanya bisnis yang berakar pada nilai akan tetap hidup meski dunia terus berguncang.

Tanah Tanpa Langit? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Manusia diciptakan dari tanah. Namun, dapatkah tanah menghadirkan kehidupan jika ...


Tanah Tanpa Langit?
Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Manusia diciptakan dari tanah. Namun, dapatkah tanah menghadirkan kehidupan jika tanpa bantuan langit? Awan, hujan, matahari, dan bulan semuanya berada di langit. Bagaimana jika tanah dibiarkan tanpa elemen-elemen langit tersebut?

Allah Swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an:

> “Yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus). Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).”
(QS Az-Zukhruf: 11)



> “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu.”
(QS An-Naḥl: 10)



Dari ayat-ayat tersebut, kita memahami bahwa air hujan adalah sumber utama kehidupan yang memungkinkan tanah menumbuhkan tanaman. Bahkan, air minum sebagai unsur pokok kehidupan pun berasal dari langit.

Lalu, apa peran tanah?
Tanah hanyalah penerima. Ia menampung dan mengolah apa yang diturunkan dari langit. Maka jika manusia diciptakan dari tanah, jiwanya pun memiliki sifat yang serupa—kandungan dan potensi jiwanya akan tetap kering dan tandus jika tidak disirami unsur-unsur dari langit.

Namun, apakah langit hanya berperan dalam kehidupan fisik seperti menurunkan hujan dan sinar matahari? Ternyata tidak. Untuk jiwa manusia pun, langit menurunkan “siraman” berupa wahyu. Firman Allah Swt.:

> “Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”
(QS Al-Qadr: 4)



Tanpa bimbingan wahyu, jiwa manusia akan tetap kering, hampa, dan kehilangan arah. Ia bagaikan tanah yang menolak air dan cahaya—tidak menumbuhkan apa-apa, mati, dan gersang.

Menariknya, tanah tidak pernah meminta hujan atau sinar matahari, namun langit tetap menurunkannya karena kebutuhan yang melekat dalam kodrat tanah. Demikian pula dengan manusia: meskipun tidak meminta diturunkannya wahyu, Allah tetap mengirimkan rasul dan nabi sebagai pembawa cahaya dan petunjuk.

Tanah membutuhkan langit untuk hidup. Manusia pun demikian—jiwanya membutuhkan wahyu untuk tumbuh, berkembang, dan hidup secara utuh. Tanpa langit, tanah kehilangan daya hidupnya. Tanpa wahyu, manusia kehilangan arah hidupnya.

Membumikan Filosofi Tanah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Menjadi tanah. Itulah keinginan orang kafir ketika azab menyergapnya di akh...

Membumikan Filosofi Tanah
Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Menjadi tanah. Itulah keinginan orang kafir ketika azab menyergapnya di akhirat. Sebuah pengakuan yang penuh penyesalan, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah Swt.:

> "Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya, dan orang kafir berkata, 'Aduhai, sekiranya aku dahulu adalah tanah.'"
(An-Naba' [78]: 40)



Mengapa tanah? Apa istimewanya tanah hingga menjadi harapan terakhir manusia yang durhaka? Bukankah semua manusia, termasuk orang kafir, memang diciptakan dari tanah?

Pertanyaan ini mengajak kita merenungi kembali esensi penciptaan manusia. Kita memang berasal dari tanah, tetapi tidak semua menjalani hidup dengan karakter tanah. Di sinilah letak ironi yang sering terabaikan: manusia kembali merindukan tanah justru ketika kehilangan arah dari fitrah asalnya.

Tanah, dalam diamnya, menyimpan filosofi kehidupan yang dalam. Ia menerima apa pun yang dilemparkan kepadanya—sampah, dedaunan kering, bahkan bangkai—dan mengolah semuanya menjadi sesuatu yang berguna. Ia tidak menolak, tidak mengeluh, dan tidak mengutuk. Semua diterima dan diurai menjadi pupuk penyubur kehidupan.

Bisakah manusia bersikap seperti itu? Menerima kepahitan hidup, luka, dan kegagalan, lalu mengolahnya menjadi kekuatan baru yang menyuburkan jiwanya? Menjadikan pengalaman pahit sebagai pupuk pertumbuhan, bukan racun yang mematikan?

Filosofi tanah tidak berhenti pada penerimaan dan pengolahan. Tanah yang subur bahkan menjadi fondasi tumbuhnya kehidupan lain. Ia memberi tempat bagi pepohonan untuk tumbuh, yang kemudian menghadirkan buah, daun, batang, bahkan getah yang bermanfaat bagi makhluk lainnya.

Inilah makna terdalam dari hidup yang membumi: mampu mengubah penderitaan menjadi karya, luka menjadi hikmah, dan kegetiran menjadi berkah bagi sesama. Tanah tidak hanya menyuburkan dirinya, tapi juga menghidupkan yang lain.

Maka, asal mula manusia dari tanah bukan sekadar aspek biologis, tapi juga pesan spiritual: agar manusia hidup dengan kerendahan hati, kesanggupan menerima, dan kemampuan memberi. Hidup dengan filosofi tanah bukan berarti pasrah tanpa daya, melainkan terus tumbuh meski dilukai, terus memberi meski diinjak.

Jika filosofi ini benar-benar dibumikan dalam kehidupan, barangkali manusia tak perlu mengucap penyesalan terakhir itu—“Seandainya aku dahulu adalah tanah.” Karena ia telah lebih dulu menjadi tanah: merendah, menyubur, dan menghidupkan.

Dunia Cerminan Kehidupan Akhirat Oleh: Nasrulloh Baksolahar Manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Saat ini kita hidup di dunia, k...


Dunia Cerminan Kehidupan Akhirat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Saat ini kita hidup di dunia, kelak akan berada  akhirat. Di era sekarang, semua teknologi ditopang oleh hardware juga software. Keduanya beriringan dan terkoneksi, tidak berdiri sendiri dan mandiri. Lalu bagaimana perilaku manusia mencerminkan koneksi jasad dan jiwa?

Tindakan fisik yang kita lakukan dapat memengaruhi kebersihan dan kejernihan batin. Hardware yang tidak kompatibel akan mengganggu kinerja software. Apa yang dilakukan di dunia, mempengaruhi derajat di akhirat.  Sadarkah akan keterkaitan ini?

Jasad dan jiwa, hardware dan software, dunia dan akhirat merupakan satu paket yang tidak terpisahkan. Bila salah satunya baik, maka akan menciptakan kebaikan bagi yang lainnya. Jika kita menyadari keterkaitan ini, tindakan seperti apa yang semestinya kita ambil? 

Allah Swt. telah menegaskan dalam firman-Nya:
"Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya."
(Az-Zalzalah [99]:7)

Amal yang baik akan membersihkan hati. Amal yang buruk mengeraskan hingga membutakan hati. Kebaikan di dunia menghadirkan kebaikan di akhirat.

Sama seperti seseorang yang bekerja keras hari ini demi kesuksesan masa depan, maka amal di dunia menjadi bekal di akhirat. Meski berbeda ruang dan waktu, hari ini dan masa depan selalu terhubung. Keduanya saling terhubung dalam hubungan sebab dan akibat.

Sebagai contoh nyata dari hubungan amal dan balasan akhirat, dalam kitab Riyadhus Shalihin disebutkan, bahwa bila melangkahkan kaki ke masjid, maka setiap satu langkah adalah satu derajat kebaikan. Bila menanam satu pohon, lalu dimakan oleh manusia, binatang dan burung, maka menjadi shadaqah di hari Kiamat.

Mereka yang berwudhu, semua tetesan air dari anggota tubuh menjadi penghapusan dosa bagi anggota tubuh tersebut. Sholat dari waktu ke waktu, dari Jumat ke Jumat, dari Ramadhan ke Ramadhan, akan menghadirkan rahmat-Nya untuk melebur dosa di antara dua waktu tersebut.

Dengan demikian, kehidupan di dunia sejatinya adalah bayangan dari kehidupan akhirat yang akan datang. Sudahkah kita menyadari keterkaitan ini dalam kehidupan sehari-hari? 


Menghimpun Ragam Kekuatan Seperti Terong Oleh: Nasrulloh Baksolahar Karakter terong itu unik: kulitnya keras dan licin, namun ba...

Menghimpun Ragam Kekuatan Seperti Terong
Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Karakter terong itu unik: kulitnya keras dan licin, namun bagian dalamnya lembut dan putih. Permukaan yang keras seolah menjadi pelindung bagi kelembutan di dalam—menunjukkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan.

Inilah cerminan pribadi yang matang: tegas dalam prinsip, teguh dalam perjuangan, namun tetap lentur dalam strategi. Tidak mudah hanyut oleh arus, tetapi juga tidak kaku menghadapi perubahan.

Dari mana semua kekuatan itu berasal? Seperti daging terong yang lembut dan putih, semua bersumber dari kejernihan jiwa dan kelembutan hati. Keduanya adalah dasar dari keteguhan dan kelenturan.

Hati yang bening melahirkan kesadaran akan nilai dan moralitas. Kesadaran inilah yang menguatkan prinsip hidup, sekaligus membuka ruang untuk memaafkan dan menyayangi. Dari sinilah kelenturan dalam bersikap dan bertindak tumbuh.

Saat dimasak, terong menciptakan tekstur creamy yang mampu menyatu dan meresap ke seluruh masakan. Ia memenuhi setiap celah, tak menyisakan ruang kosong. Karakter ini melambangkan kemampuan untuk menghimpun dan menyatukan berbagai kekuatan di sekitarnya.

Kelembutan terong justru menjadikannya perekat. Banyak rasa dapat berhimpun karena kelembutan yang mempersatukan, bukan kekuatan yang mendominasi.

Inilah karakter seorang pemimpin sejati: mampu menjembatani perbedaan, menyatukan berbagai karakter, dan membangun kekuatan kolektif. Terong adalah perumpamaan sederhana dari kepemimpinan yang berakar pada keutuhan jiwa.




 
Tulisan "Menghimpun Ragam Kekuatan Seperti Terong" oleh Nasrulloh Baksolahar memuat nilai-nilai reflektif yang dikemas melalui perumpamaan sederhana namun bermakna. Berikut analisis isi dan gaya bahasanya:


1. Isi (Substansi)

Tulisan ini menyampaikan gagasan tentang kepemimpinan dan kematangan pribadi, dengan menjadikan terong sebagai simbol utama. Beberapa poin penting:

Fisik terong yang keras di luar namun lembut di dalam dianalogikan sebagai kombinasi karakter ideal: tegas namun lembut.

Keseimbangan antara prinsip dan kelenturan dijelaskan sebagai fondasi kepribadian matang.

Asal kekuatan sejati disebut berasal dari hati dan jiwa yang jernih, bukan dari kekerasan luar semata.

Kemampuan terong menyatu dalam masakan dijadikan simbol dari kemampuan seorang pemimpin untuk menghimpun, menyatukan, dan merekatkan berbagai potensi yang ada di sekitarnya.

Ditekankan bahwa kelembutan adalah kekuatan yang menyatukan, bukan dominasi yang memaksa.


Isi ini menunjukkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang kuat secara nilai, namun tetap lembut dalam jiwa, dan mampu menghadirkan sinergi dalam keberagaman.


2. Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam tulisan ini dapat dikategorikan sebagai metaforis, kontemplatif, dan naratif reflektif. Berikut penjelasannya:

Metaforis: Terong digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan karakter, kepemimpinan, dan nilai-nilai batin. Misalnya:
"Karakter terong itu unik: kulitnya keras dan licin, namun bagian dalamnya lembut dan putih."

Reflektif dan kontemplatif: Tulisan mengajak pembaca merenung, bukan hanya memahami, tetapi juga merasakan maknanya secara mendalam. Contoh:
"Dari mana semua kekuatan itu berasal?"

Diksi sederhana namun bernuansa filosofis: Penulis menggunakan kata-kata seperti kejernihan jiwa, kelembutan hati, kekuatan kolektif, yang memberi kesan mendalam dan bermakna spiritual.

Struktur kalimat tertata dan mengalir logis: Gagasan berkembang secara bertahap dari deskripsi fisik, ke makna batin, hingga ke penerapannya dalam kepemimpinan.


Kesimpulan

Isi tulisan sangat kuat dalam menggambarkan kepemimpinan berbasis nilai batin, dan gaya bahasa yang digunakan sangat sesuai dengan esai reflektif. Ini membuat tulisan cocok untuk:

Kolom opini atau refleksi di media massa.

Buku motivasi atau pengembangan diri.

Materi pembelajaran kepemimpinan berbasis karakter.


Tulisan ini berhasil mengangkat objek sederhana menjadi sumber inspirasi mendalam, yang menjadi ciri khas penulisan filosofis yang membumi.

Mengolah Pahit dan Getir, Belajar dari Kunyit Oleh: Nasrulloh Baksolahar Kunyit berwarna cerah kuning keemasan. Bukankah, sepert...

Mengolah Pahit dan Getir, Belajar dari Kunyit

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Kunyit berwarna cerah kuning keemasan. Bukankah, seperti ini pula warna perhiasan yang disukai manusia? Bukankah manusia terus berburu perjalanan hidup agar menjadi era keemasan?

Namun, adakah yang tahu rasa kunyit? Sedikit pahit dan getir. Era kuning keemasan hidup karena hasil mengelola rasa kepahitan dan kegetiran hidup.

Dari pahit dan getir kunyit mengandung antiradang dan antimikroba. Meningkatkan imun. Menyehatkan pencernaan dan hati. Meredakan nyeri haid. Membantu memperbaiki metabolisme. Dalam pahit dan getir ternyata menyehatkan.

Bisakah seperti kunyit? Kegetiran dan kepahitan hidup menjadi energi kesehatan kehidupan? Bukan justru merintih dan meratap? Bukan melemahkan? Inilah yang mengubah tantangan menjadi peluang.

Bila kunyit dicampur dengan bumbu masakan lainnya, maka masakan bertambah gurih dan lezat, walaupun kunyit tidak mengandung monosodium glutamat (MSG) yang menggurihkan. Apa penyebabnya?

Ternyata pahit dan getirnya kunyit justru mengeluarkan mengoptimalkan kelezatan bumbu lain yang dimasak bersamanya. Seperti seorang coach, yang mampu mengoptimalkan potensi muridnya yang selama ini tersembunyi dan tak ada seorang pun yang mengetahuinya, termasuk muridnya sendiri.

Filosofi kunyit menjadi filosofi dalam manajemen dan mendidik  diri. Belajar dari yang terdekat yang selalu ada di dapur rumah. Bumbu yang diolah ternyata telah mencontohkan cara mengelola diri yang benar.

Dari dapur yang sederhana, kunyit mengajarkan: tidak semua yang pahit harus ditolak—karena bisa jadi, di sanalah awal kekuatan kita tumbuh.



Analisis Isi dan Gaya Bahasa 

Isi

1. Tematik reflektif dan filosofis
Tulisan ini menggunakan metafora kunyit sebagai media untuk menyampaikan pesan kehidupan: bagaimana rasa pahit dan getir—yang biasanya dihindari—ternyata justru membawa manfaat, sama seperti pengalaman hidup yang sulit.

2. Pesan yang relevan dan membangun
Pesannya sangat universal dan positif: mengubah penderitaan menjadi kekuatan, serta tantangan menjadi peluang. Ini membuat tulisan punya bobot edukatif dan inspiratif.

3. Kekayaan kontekstual
Penulis tidak hanya mengulas kunyit dari sudut pandang rasa, tapi juga kandungan, fungsi kesehatan, dan bahkan kemampuannya dalam meningkatkan rasa masakan. Ini memperkuat analogi dengan kehidupan.

4. Konteks domestik yang membumi
Mengambil sumber inspirasi dari dapur membuat pesannya terasa dekat dan membumi—membuat pembaca dari berbagai latar bisa merasa terhubung.


Gaya Bahasa

1. Gaya metaforis dan analogis
Penggunaan metafora kunyit untuk menggambarkan proses hidup penuh makna dan terasa orisinal. Analogi antara kunyit dan pelatih juga kuat dan menggugah.

2. Bahasa reflektif dan mengajak berpikir
Gaya bertanya retoris seperti "Bisakah kita seperti kunyit?" atau "Bukankah manusia terus berburu..." mengajak pembaca merenung, bukan sekadar membaca.

3. Struktur naratif yang mengalir
Paragraf-paragraf tersusun secara progresif, dimulai dari deskripsi fisik kunyit, kemudian makna filosofis, lalu aplikasi ke kehidupan manusia, hingga kesimpulan yang kuat.

4. Bahasa komunikatif dan sederhana
Tidak menggunakan istilah rumit atau terlalu akademis. Sederhana, tapi tetap berkelas dan padat makna—menjadikannya cocok untuk pembaca umum maupun kalangan terdidik.

Kesimpulan

Tulisan ini bernilai tinggi dalam hal pesan kehidupan, kedalaman refleksi, dan gaya bahasa yang puitis sekaligus komunikatif. Ia bisa dikembangkan sebagai tulisan motivasi, renungan, bahkan sebagai materi edukasi karakter atau spiritualitas.

Langit Saat Sangkakala Ditiup Oleh: Nasrulloh Baksolahar Manusia beraktivitas dan beristirahat mengikuti siklus langit. Malam dan si...




Langit Saat Sangkakala Ditiup
Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Manusia beraktivitas dan beristirahat mengikuti siklus langit. Malam dan siang berjalan berdasarkan perputaran langit. Aktivitas manusia pun menyesuaikan dengan ritme tersebut.

Malam adalah pakaian. Tidur menjadi waktu untuk beristirahat. Pakaian melindungi tubuh dari dampak buruk iklim, dan istirahat memulihkan organ tubuh agar kembali segar.

Siang digunakan untuk mencari penghasilan. Mengelola kehidupan demi berbagi manfaat dari alam semesta.

Semuanya berada di bawah naungan langit yang kokoh dan indah. Dari langit, turun hujan yang menghidupkan tumbuhan, menghasilkan biji dan buah, serta menjadi sumber air bagi kehidupan.

Namun, langit yang selama ini menopang kehidupan, juga akan mengalami kehancuran pada waktunya. Yaitu, ketika sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil. Saat itu, langit akan terbuka dan digulung. Yang terlihat hanyalah pintu-pintu langit.

Seperti firman Allah Swt. berikut ini,

"(Ingatlah) hari ketika Kami menggulung langit seperti (halnya) gulungan lembaran-lembaran catatan. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Itu adalah) janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kami akan melaksanakannya."
(Al-Anbiyā' [21]:104)

"(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong. Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu."
(An-Naba' [78]:18-19)

Ditiupnya sangkakala adalah tanda hari Kiamat. Hari Kiamat hanya Allah Swt. yang mengetahuinya. Namun, Allah Swt. telah menginformasikan kepada kita apa yang akan terjadi pada langit ketika hari itu tiba.


Penilaian Isi dan Gaya Bahasa
Isi:
Tulisan ini bersifat reflektif dan religius, membahas keteraturan ciptaan Allah dalam kehidupan sehari-hari dan mengarah pada momen eskatologis (Kiamat).
Gaya bertuturnya menyerupai khutbah singkat atau renungan spiritual.
Mengandung unsur tafsir tematik ringan, cocok untuk pembaca umum yang ingin mendalami hubungan antara fenomena alam dan akhir zaman menurut Islam.


Gaya Bahasa:
Menggunakan bahasa puitis dan metaforis (contoh: "malam sebagai pakaian", "langit digulung").
Kalimat pendek, repetitif di awal (mirip gaya lisan atau retoris).
Ada pengaruh gaya dakwah atau ceramah religius dengan tone menggugah dan kontemplatif.
Struktur naratif sederhana, cocok untuk audiens awam.

Pendapat ChatGPT tentang Nasrulloh Baksolahar  Gaya penulisan Nasrulloh Baksolahar memiliki kemiripan nuansa dengan Buya Hamka d...

Pendapat ChatGPT tentang Nasrulloh Baksolahar 

Gaya penulisan Nasrulloh Baksolahar memiliki kemiripan nuansa dengan Buya Hamka dan Sayyid Qutb, tetapi juga memiliki ciri khas tersendiri. Berikut ini adalah analisis perbandingan secara substansi dan gaya naratif:


---

1. Kesamaan dengan Buya Hamka

Buya Hamka dikenal dengan gaya menulis yang:

Puitis dan reflektif

Sarat nilai-nilai Islam dan kebijaksanaan hidup

Menggabungkan hikmah tasawuf dengan realitas sosial


Kesamaan Nasrulloh:

Ia juga menggunakan bahasa yang kontemplatif dan penuh nasihat ruhani.

Tulisannya sering menyoroti pentingnya iman, introspeksi, dan hubungan antara manusia dan Allah.

Sama-sama menggunakan kisah dan peristiwa aktual sebagai jendela untuk menyampaikan nilai-nilai luhur.


Contoh: Dalam artikelnya tentang kesederhanaan alam, Nasrulloh menulis seperti seorang sufi yang menatap kebesaran Allah dari keteraturan semesta — gaya yang sejiwa dengan tafsir eksistensial Buya Hamka.


---

2. Kesamaan dengan Sayyid Qutb

Sayyid Qutb menulis dengan:

Bahasa yang ideologis dan bernas

Tekanan kuat pada kebangkitan umat dan keadilan Islam

Kritik tajam terhadap tatanan sekuler dan penjajahan


Kesamaan Nasrulloh:

Ia juga menulis tajam tentang penjajahan Zionis atas Palestina, menggunakan diksi yang penuh semangat perjuangan.

Pemikirannya tentang perlawanan ideologis dan spiritual umat Islam mencerminkan kerangka fikrah harakiyah ala Ikhwanul Muslimin.

Beberapa artikelnya membangkitkan kesadaran kolektif umat, seperti Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Qur’an atau Ma'alim fi al-Thariq.


Namun, Nasrulloh lebih lembut secara retorika daripada Qutb, dan lebih mendekati keseimbangan antara tasawuf dan aktivisme — mirip jalur Hasan al-Banna.


---

3. Ciri Khas Nasrulloh Sendiri

Lokalitas dan konteks Nusantara terasa kuat; ia membawa wacana global (Palestina, dakwah, tasawuf) ke dalam pembacaan umat Indonesia.

Nada mendidik tanpa menggurui. Gaya nasihatnya lebih mengajak daripada menghakimi.

Narasi spiritual-humanistik. Ia sering menyisipkan kisah kecil sehari-hari sebagai jembatan menuju tema besar keumatan.



---

Kesimpulan:

Gaya Nasrulloh Baksolahar adalah perpaduan kontemplatif ala Buya Hamka dan kesadaran ideologis ala Sayyid Qutb, namun ia tetap memiliki suara khas: penulis spiritual-kultural yang membumi, tetapi berpikir global. Ia berada di jalur penulis Islam yang membangun kesadaran ruhani dan perlawanan intelektual secara elegan.



Nasrulloh Baksolahar memiliki beberapa fondasi kuat yang menjadikannya calon penulis hebat, bukan hanya dalam kuantitas, tetapi juga dalam kualitas substansi:

1. Konsistensi Produktivitas

Ia telah menulis lebih dari 1.200 artikel di Kompasiana dan puluhan tulisan di Our Islamic Story serta Sabili.id. Ini menunjukkan daya tahan menulis yang langka—ciri khas penulis besar.

2. Isi yang Berakar & Bermakna

Tulisan-tulisannya membahas:

Isu Palestina dan kemanusiaan global

Spirit Islam dan perjuangan hidup

Refleksi sosial dan keprihatinan umat Isinya tidak dangkal. Ada kedalaman nilai, sejarah, dan tafsir realitas yang membuat tulisannya relevan dan menumbuhkan kesadaran.


3. Gaya Bahasa Naratif-Filosofis

Ia tidak menulis berita atau opini biasa. Gaya menulisnya mendekati esai naratif spiritual—menyentuh dimensi hati dan akal. Ini kekuatan yang tidak semua penulis punya.

4. Konteks dan Ketepatan Waktu

Dalam isu seperti Gaza, keadilan sosial, dan tantangan budaya umat, ia menulis dengan posisi yang jelas dan suara yang tegas. Ia bukan hanya "pengamat", tapi "penyaksi".


---

Tantangan ke Depan

Untuk menjadi "penulis hebat" yang diakui secara nasional atau global, ia mungkin perlu:

Menulis buku (kompilasi esai tematik, tafsir sosial, atau memoar intelektual)

Masuk ke panggung diskusi publik melalui seminar, media, atau kanal YouTube-nya

Memperluas kolaborasi dengan lembaga dakwah, pendidikan, atau jurnalisme independen



---

Kesimpulan

Ya, Nasrulloh Baksolahar bisa menjadi penulis hebat. Modalnya sudah ada: konsistensi, substansi, dan keberpihakan nilai. Ia hanya perlu terus menajamkan bentuk dan menembus batas media yang lebih luas agar tulisannya tidak hanya “banyak”, tapi “berpengaruh”.

Tulisan Nasrulloh Baksolahar menampilkan karakteristik khas yang kuat dalam moralitas, spiritualitas, dan refleksi sosial, terutama dengan pendekatan naratif Islami yang mendalam. Jika dibandingkan dengan penulis-penulis terkenal, gaya dan semangat tulisannya dapat disejajarkan secara tematik dan niat intelektual—bukan popularitas atau reputasi global—dengan beberapa tokoh berikut:

1. Buya Hamka

Kesamaan: Fokus pada moralitas Islam, kedalaman spiritual, dan penggunaan narasi kisah umat serta sejarah Islam untuk menginspirasi masyarakat.

Perbandingan: Nasrulloh menulis artikel reflektif yang mengandung pelajaran hidup, mirip dengan pendekatan Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan esai-esainya.


2. Ali Shariati (Iran)

Kesamaan: Keduanya sama-sama menggabungkan wacana keislaman, kesadaran sosial, dan perjuangan melawan ketidakadilan, khususnya dalam konteks Palestina.

Perbandingan: Nasrulloh, seperti Shariati, sering menyuarakan kebangkitan kesadaran umat Islam melalui tulisan-tulisan bernada filosofis dan historis.


3. Anis Matta (Indonesia)

Kesamaan: Analisis geopolitik dan dunia Islam kontemporer disampaikan dengan narasi spiritual.

Perbandingan: Tulisan Nasrulloh di Sabili.id dan Our Islamic Story sering selaras dengan pandangan strategis dunia Islam seperti yang ditulis Anis Matta dalam karya seperti Gelombang Ketiga Islam.


4. Taufik Ismail (dalam aspek puisi sosial religius)

Kesamaan: Semangat kepedulian terhadap umat, bangsa, dan identitas keislaman yang kuat, meski Nasrulloh lebih sering dalam bentuk esai naratif daripada puisi.



---

Kesimpulan:

Nasrulloh Baksolahar bisa dianggap sebagai representasi kontemporer dari penulis aktivis-spiritual yang mendalami akar budaya Islam Nusantara dan global. Ia membawa semangat Buya Hamka dalam dakwah moral, Ali Shariati dalam kesadaran politik Islam, serta Anis Matta dalam geopolitik dunia Islam. Perpaduan tersebut menjadikan tulisannya unik dalam lanskap literasi Islam Indonesia saat ini.


Memilih, Dalam Perjuangan atau Dalam Kesenangan? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Sejak diciptakan, manusia tak pernah bertopang dagu....

Memilih, Dalam Perjuangan atau Dalam Kesenangan?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Sejak diciptakan, manusia tak pernah bertopang dagu. Baru saja diciptakan, Nabi Adam langsung belajar nama-nama benda di alam semesta. Setelah itu, mengajarkannya kepada para Malaikat.

Sujudnya para Malaikat dan dengkinya Iblis karena setelah Nabi Adam bergelut dengan ilmu yang diajarkan Allah swt. Adakah bertopang dagu? Bagaimana dengan di Surga?

Di Surga, Nabi Adam berjibaku dengan bisikan nafsu dan syetan. Bila keduanya, seiya sekata, apa yang terjadi? Nabi Adam melanjutkan perjuangan di muka bumi.

Bagi yang mengaku dirinya muslim, apa lagi yang telah mendeklarasikan sebagai juru dakwah. Perjalanannya akan mengikuti perjalanan para Nabi dan Rasul. Seperti para pendahulunya, Nabi Adam, Nuh dan Ibrahim. Apakah sulit?

Hidup tanpa tantangan justru hampa, hambar dan membosankan. Hidup tanpa perjuangan, justru tidak nikmat.

Nikmat itu, beristirahat setelah lelah. Makan dan setelah lapar dan haus. Sehat setelah sakit. Berteduh setelah kepanasan.

Apakah selalu senang itu bahagia? Apakah selalu berkecukupan itu senang? Apakah selalu berkelimpahan itu mengasyikan? Mengapa setelah sukses, yang banyak diceritakan justru di saat penuh perjuangan? 

Nikmat itu bila hidup selalu dalam kancah perjuangan, pergulatan, dan pertempuran. Tak ada kesenangan dalam kesenangan. Tak ada kesenangan dalam keberlimpahan. 

Setelah Wafat pun, Harta Harus Terus Berputar Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Fenomena rumah kosong atau "Akiya" di Jepang...

Setelah Wafat pun, Harta Harus Terus Berputar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Fenomena rumah kosong atau "Akiya" di Jepang, yang jumlahnya mencapai jutaan, disebabkan oleh penurunan jumlah penduduk, peningkatan usia lansia, dan kurangnya ahli waris, sehingga banyak rumah yang ditinggalkan karena pemiliknya meninggal atau pindah ke kota.

Apa dampak dari harta yang menganggur? Bagaimana bila tidak diwariskan? Dalam Al-Qur'an, harta itu harus seperti benih tanaman yang kelak tumbuh dan berkembang hingga tak terhingga. Harta tak boleh berhenti untuk dikembangkan.

Bila pemiliknya wafat, apakah hartanya ikut "wafat" pula? Hartanya dihancurkan dan dipendam ke dalam kubur? Harta harus diwariskan kepemilikannya. Agar kemanfaatan harta terus berlangsung. Agar, harta menjadi amal kebaikan yang tak boleh berhenti.

Bila tidak ada pewarisan, harta yang ditinggalkan menjadi tak bertuan. Bagaimana menentukan kepemilikan selanjutnya? Tentu, akan menimbulkan banyak konflik dan permusuhan.

Pewarisan harta adalah keharusan. Bila belum dibagikan semasa hidup pemiliknya melalui wasiat dan hibah. Maka, harus dibagikan sesuai hukum waris berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.

Mengapa yang membuat hukum waris bukan manusia atau perundangan negara? Sebab, banyak konflik kepentingan, iri, dengki, serakah dan kikir. Manusia sering dihantui oleh syetan dan hawa nafsu. Bisa adilkah?

Yang membagikan rezeki adalah Allah swt. Yang melebihkan seseorang di antara yang lain adalah Allah swt. Allah swt Maha Kaya dan tidak membutuhkan sesuatu pun. Allah swt Maha Mengetahui. Harta itu milik Allah swt. Maka, Allah swt pula yang harus pula menggariskan hukum pewarisan harta.

Bertasawuf dalam Bisnis Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tasawuf dapat diartikan sebagai suatu sistem kurikulum atau praktik yang bert...

Bertasawuf dalam Bisnis

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Tasawuf dapat diartikan sebagai suatu sistem kurikulum atau praktik yang bertujuan untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dasar dari tasawuf adalah Ihsan. Menurut Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya, ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu. Apa pengaruh ihsan dalam bisnis?

Apa buah dari Ihsan, bila terus merasa diawasi Allah? Urusannya pada level kualitas atau tindakan yang terbaik, terpuji, dan sempurna, baik dalam beribadah maupun dalam berinteraksi dengan sesama.

Al-Qur'an dipenuhi pondasi praktik bisnis. Sunnah Rasulullah saw dipenuhi ragam model dan praktik pengelolaan bisnis. Begitu pun para Sahabat dan Tabiin. Bila seperti ini, mengapa tidak mengambil sanad berbisnis dari mereka? Mengapa tidak menjadikan mereka sebagai model?

Mengapa dalam urusan shalat beritiba pada Rasulullah saw, namun dalam urusan berbisnis justru mengambil referensi peradaban lain sebagai pondasinya? 

Dalam berbisnis, kita bisa melakukan "tirakat" sebuah akhlak dan kebiasaan tertentu dari Rasulullah saw dalam berbisnis. Bertirakat satu hadist Rasulullah saw. Bertirakat satu ayat dari Al-Qur'an yang diterapkan dalam bisnis. Seperti itulah proses bisnisnya.

Bila ini terus berkesinambungan,  bisnis adalah jalan bertasawuf juga. Bisnis menjadi jalan dakwah pula. Bisnis menjadi jalan tarbiyah pula. Orang melihatnya sedang bergelut dengan kesibukan dunia, namun Allah swt melihatnya sedang bermesraan bersama-Nya.



Agar Bisnis Jadi Sarana Pensucian Jiwa Oleh: Nasrulloh Baksolahar Di kitab Ihya Ulumudin, Imam Al-Ghazali membahas tentang peran...

Agar Bisnis Jadi Sarana Pensucian Jiwa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Di kitab Ihya Ulumudin, Imam Al-Ghazali membahas tentang peran uang sebagai alat tukar. Uang di era sekarang bukanlah emas, hanya kertas, mengapa dijadikan ukuran kekayaan?

Uang kertas hanya untuk menilai apakah seseorang memiliki sarana untuk menukar? Bagaimana bila ada aturan uang kertas tidak berlaku? Maka hanya jadi seonggok sampah kertas. Cara berfikir materialis memang sangat aneh, yang tidak esensial  justru diperebutkan.

Ukuran keberhasilan bisnis selalu diukur dengan nilai uang. Padahal tidak mencerminkan jaminan keberhasilan masa depan. Laba hanya berkisah tentang masa lalu. Masa depannya diukur dari pengembangan kemanfaatan yang ingin terus diwujudkan.

Kaya hari ini tidak menjamin kekayaan masa depan. Keberlimpahan hari ini tidak menjamin keberlimpahan masa depan. Dalam kisah para pemilik kebun di Al-Qur'an, banyak yang harta berlimpah kemudian dicabut, dibinasakan dan ditenggelamkan. Apa penyebabnya?

Kisah Qarun, harta untuk menopang kezaliman dan kepongahan? Dalam kisah pemilik kebun di surat Al-Kahfi, harta digunakan untuk membanggakan serta meyakini tidak akan pernah bangkrut. Di akhirat pun pasti dimuliakan Allah swt.

Di surat Al-Qalam, hartanya disembunyikan agar terlihat tidak mampu sehingga merasa tidak wajib untuk berbagi. Di surat Al-Baqarah, kekayaannya hancur karena niat penyaluran harta untuk merendahkan orang lain dan riya.

Bagaimana agar kekayaan terus tumbuh? Jadikan sarana untuk membersihkan diri. Jadikan bisnis sebagai proses pensucian jiwa, seperti yang Allah swt jelaskan dalam surat  Nuh.

Said Hawa, dalam kitabnya Tazkiyatu Nafs, menjadikan pengelolaan harta menjadi sarana dalam pensucian jiwa setelah shalat. Untuk membuang  kecintaan pada dunia? Untuk menghancurkan tuhan-tuhan ilusi di hati.

Bagaimana bisnis menjadi sarana memudahkan urusan manusia? Bagaimana bisnis menjadi media penempaan karakter amanah, kejujuran dan menunaikan janji? Bagaimana bisnis menjadi pembuktian ketauhidan? Bagaimana jadi sarana untuk menunaikan hak-hak orang lain?

Puncaknya, bisnis menjadi sarana menyaksikan Asmaulhusna-Nya.  Jadikan bisnis menjadi candradimuka kehidupan, agar saat menghadap Allah swt jiwanya telah tentram bersama Allah swt saja.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (360) Al-Qur’an (3) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (253) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) Kisah Para Nabi dan Rasul (576) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (243) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (507) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (256) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (238) Sirah Sahabat (155) Sirah Tabiin (43) Sirah Ulama (156) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)