basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Sirah ulama

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Sirah ulama. Tampilkan semua postingan

Wali dan Karamah: Antara Cinta kepada Orang Saleh dan Kemurnian Tauhid Siapakah sebenarnya yang disebut wali Allah? ...

Wali dan Karamah: Antara Cinta kepada Orang Saleh dan Kemurnian Tauhid


Siapakah sebenarnya yang disebut wali Allah?

Apakah setiap orang yang dianggap memiliki kesaktian otomatis merupakan wali?

Benarkah setiap kisah luar biasa yang dinisbatkan kepada seseorang pasti merupakan karamah?

Dan yang tidak kalah penting, apakah mencintai para wali berarti boleh meminta pertolongan kepada mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan agar kecintaan kepada orang-orang saleh tidak bergeser menjadi pengkultusan yang justru bertentangan dengan prinsip tauhid.

Seorang Muslim yang memiliki pemahaman yang benar tentang Islam akan mencintai, menghormati, dan memuliakan orang-orang saleh karena ketakwaan dan amal kebaikan mereka kepada Allah SWT. Namun, penghormatan itu tetap berada dalam koridor syariat dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Al-Qur'an telah menjelaskan siapakah wali Allah.

«"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa." (QS. Yunus: 62–63)»

Ayat ini memberikan ukuran yang sangat jelas. Ukuran kewalian bukanlah kesaktian, popularitas, banyaknya pengikut, ataupun kisah-kisah luar biasa, melainkan keimanan dan ketakwaan.

Siapakah Wali Allah?

Dalam bahasa Arab, auliya' adalah bentuk jamak dari wali, yang berarti penolong, sahabat, atau orang yang dekat.

Ketika disandarkan kepada Allah menjadi Wali Allah, maknanya mencakup beberapa pengertian.

Pertama, orang yang menolong agama Allah dengan berpegang teguh kepada syariat-Nya.

Kedua, orang yang dekat kepada Allah karena kesungguhannya dalam beribadah.

Ketiga, orang yang Allah dekatkan kepada-Nya karena Allah senantiasa mendapatinya dalam keadaan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Karena itu, kewalian bukanlah gelar yang diwariskan, bukan pula kedudukan yang diperoleh melalui pengakuan manusia. Ia merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

Al-Qur'an banyak menjelaskan hal ini, di antaranya dalam QS. Yunus: 62–64, QS. Al-Hajj: 78, dan QS. Al-Baqarah: 257.

Rasulullah SAW juga memberikan isyarat tentang adanya hamba-hamba pilihan yang memperoleh ilham dari Allah. Beliau bersabda:

«"Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian terdapat orang-orang yang diberi ilham (muhaddats). Jika di kalangan umatku ada seorang seperti itu, maka dia adalah Umar bin Al-Khattab."
(HR. Bukhari)»

Hadis ini menunjukkan adanya kemuliaan yang Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya tanpa menjadikan mereka nabi.

Apa Itu Karamah?

Lalu, apakah setiap kejadian luar biasa merupakan karamah?

Dalam pengertian syariat, karamah adalah peristiwa luar biasa yang Allah tampakkan kepada seorang hamba yang benar keimanannya dan nyata kesalehannya, tanpa disertai pengakuan sebagai nabi.

Dengan demikian, karamah bukanlah kemampuan yang dimiliki seseorang atas kehendaknya sendiri, melainkan semata-mata anugerah Allah.

Karena itu, karamah tidak dapat dipelajari, diwariskan, ataupun dipertontonkan untuk mencari pengikut.

Benarkah Karamah Itu Ada?

Mayoritas ulama ahli hadis menerima adanya karamah karena dalil-dalil Al-Qur'an dan Sunnah menunjukkan keberadaannya.

Di antaranya adalah kisah Maryam yang memperoleh rezeki langsung dari Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali 'Imran ayat 37.

Demikian pula kisah Ashabul Kahfi yang tidur selama 309 tahun dalam perlindungan Allah.

Begitu pula kisah Ashif, seorang yang memiliki ilmu dari Kitab Allah, yang atas izin-Nya mampu menghadirkan singgasana Ratu Balqis dalam sekejap kepada Nabi Sulaiman AS.

Selain itu, terdapat pula berbagai riwayat tentang karamah yang dialami sebagian sahabat Rasulullah SAW.

Semua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa melakukan apa pun yang Dia kehendaki kepada hamba-hamba-Nya.

Mengapa Ada Ulama yang Menolak Karamah?

Sebagian ulama dari kalangan Mu'tazilah berpendapat bahwa karamah tidak mungkin terjadi.

Menurut mereka, jika karamah banyak terjadi maka akan sulit dibedakan dengan mukjizat para nabi.

Namun pendapat ini dinilai lemah oleh mayoritas ulama.

Mengapa?

Karena mukjizat selalu menjadi bukti kenabian, sedangkan karamah sama sekali bukan tanda kenabian.

Mukjizat disertai risalah.

Karamah tidak.

Mukjizat menjadi hujah bagi umat.

Karamah hanyalah kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang hamba yang saleh.

Dengan demikian, keduanya memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda sehingga tidak menimbulkan kerancuan.

Bagaimana Sikap Seorang Muslim terhadap Para Wali?

Di sinilah keseimbangan Islam tampak begitu indah.

Islam memerintahkan umatnya mencintai para wali Allah.

Menghormati mereka merupakan bagian dari penghormatan terhadap orang-orang yang dicintai Allah.

Namun, apakah cinta itu boleh berubah menjadi pengkultusan?

Jawabannya, tidak.

Seorang Muslim tidak boleh berlebihan dalam memuliakan para wali hingga mengangkat mereka ke derajat yang hanya layak bagi Allah.

Karena pengkultusan selalu menjadi pintu masuk penyimpangan akidah.

Sejarah umat terdahulu memberikan pelajaran tentang bagaimana penghormatan yang berlebihan akhirnya berubah menjadi bentuk-bentuk kesyirikan.

Karena itu, Islam menutup semua jalan menuju pengultusan tersebut.

Tidak boleh meyakini bahwa seorang wali mampu memberi manfaat atau menolak mudarat dengan kekuatannya sendiri.

Tidak boleh meminta perlindungan, keselamatan, ataupun syafaat kepada mereka.

Tidak boleh bernazar untuk mereka.

Tidak boleh menyembelih hewan sebagai persembahan di kuburan mereka.

Dan tidak boleh menetapkan adanya karamah kepada seseorang tanpa dasar yang sah menurut syariat.

Semua bentuk keyakinan seperti itu bertentangan dengan kemurnian tauhid yang menjadi inti ajaran Islam.

Menjaga Keseimbangan

Islam mengajarkan keseimbangan yang indah.

Tidak meremehkan orang-orang saleh.

Namun juga tidak mengangkat mereka melebihi kedudukan yang Allah berikan.

Mencintai para wali adalah bagian dari kecintaan kepada orang-orang yang dicintai Allah.

Akan tetapi, ibadah, doa, permohonan pertolongan, rasa takut, harapan, dan tawakal tetap hanya ditujukan kepada Allah semata.

Sebab para wali sendiri adalah hamba Allah.

Mereka tidak memiliki kemampuan mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat bagi diri mereka sendiri kecuali atas izin Allah, apalagi bagi orang lain.

Penutup

Prinsip yang dijelaskan oleh Imam Hasan Al-Banna ini mengajarkan bahwa kemurnian tauhid harus berjalan seiring dengan penghormatan kepada orang-orang saleh.

Seorang Muslim mencintai para wali karena ketakwaan mereka, bukan karena mitos yang dilekatkan kepada mereka.

Ia menghormati mereka tanpa mengultuskan.

Ia mengakui kemungkinan adanya karamah tanpa menjadikannya ukuran utama kesalehan.

Dengan demikian, akidah akan tetap bersih dari khurafat, wahm (khayalan), dan berbagai keyakinan yang menisbatkan sifat-sifat ketuhanan kepada manusia.

Kemuliaan para wali adalah anugerah Allah.

Sedangkan keagungan mutlak tetap hanya milik Allah SWT.

Berinteraksi dengan Bid'ah: Antara Keteguhan Beragama dan Kearifan Menyikapi Perbedaan Apakah setiap hal yang b...



Berinteraksi dengan Bid'ah: Antara Keteguhan Beragama dan Kearifan Menyikapi Perbedaan


Apakah setiap hal yang baru dalam agama otomatis merupakan bid'ah yang sesat?

Apakah setiap perbedaan praktik ibadah harus berujung pada saling menyalahkan?

Dan yang lebih penting lagi, apakah Rasulullah SAW pernah memperlakukan setiap orang yang dianggap melakukan bid'ah sebagai orang yang harus dijauhi, bahkan tidak dishalatkan ketika meninggal?

Pertanyaan-pertanyaan ini layak direnungkan agar pembahasan tentang bid'ah tidak berubah menjadi alat untuk menghakimi sesama Muslim.

Islam mengajarkan bahwa perkara yang berkaitan dengan akidah memiliki kedudukan yang berbeda dengan persoalan cabang ibadah. Karena itu, para ulama sejak dahulu membedakan berbagai bentuk bid'ah dan tidak meletakkannya dalam satu hukum yang sama.

Bid'ah dalam Akidah

Dalam persoalan akidah, para ulama sepakat bahwa membuat keyakinan baru yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah merupakan penyimpangan yang sangat berat, bahkan dapat mengantarkan kepada kekufuran apabila memenuhi syarat-syaratnya.

Al-Qur'an telah memberikan contoh praktik keagamaan yang diada-adakan oleh masyarakat Jahiliah, seperti bahirah, sa'ibah, washilah, dan ham, yang ditegaskan Allah tidak pernah disyariatkan (QS. Al-Ma'idah: 103).

Dalam wilayah ini, ruang toleransi memang sangat sempit karena menyangkut pokok-pokok keimanan.

Bid'ah dalam Ibadah

Lalu bagaimana dengan ibadah?

Di sinilah para ulama mulai memberikan rincian. Tidak semua bentuk yang disebut bid'ah dalam ibadah diposisikan pada tingkat hukum yang sama.

Ada yang dihukumi haram, makruh, bahkan oleh sebagian ulama terdapat perkara yang dinilai mubah, tergantung hakikat perbuatannya dan dalil yang melandasinya.

Rasulullah SAW pernah menegur tiga orang sahabat yang ingin beribadah secara berlebihan. Ada yang ingin shalat malam tanpa henti, ada yang ingin berpuasa terus-menerus, dan ada yang ingin tidak menikah selamanya.

Beliau bersabda:

"Aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, serta aku menikahi perempuan. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku."
(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa sikap berlebih-lebihan dalam ibadah hingga meninggalkan keseimbangan hidup bukanlah ajaran Islam.

Namun pada saat yang sama, Rasulullah SAW juga memberikan ruang terhadap amalan-amalan baru yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat.

Beliau tidak melarang Bilal bin Rabah yang membiasakan berwudhu setiap kali berhadas. Beliau membenarkan Abu Sa'id Al-Khudri yang meruqyah dengan Surah Al-Fatihah. Beliau juga tidak menyalahkan sahabat yang berdoa dengan lafaz yang belum pernah beliau ajarkan secara khusus.

Semua itu menunjukkan bahwa tidak setiap praktik baru otomatis tertolak.

Bid'ah dalam Urusan Dunia

Bagaimana dengan adat, budaya, teknologi, cara berpakaian, sistem administrasi, atau berbagai perkembangan zaman?

Mayoritas ulama tidak memasukkan perkara-perkara duniawi sebagai bid'ah syar'iyyah selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Kalau semua hal baru dianggap bid'ah, maka kendaraan modern, pengeras suara di masjid, percetakan mushaf, sekolah, universitas, hingga penggunaan teknologi digital pun harus dianggap sesat. Tentu kesimpulan seperti ini tidak pernah dikemukakan oleh para ulama.

Karena itu, perkara adat mengikuti perubahan waktu, tempat, dan kemaslahatan manusia.

Bid'ah Idhafiyah dan Bid'ah Tarkiyah

Imam Hasan Al-Banna juga menjelaskan adanya dua bentuk yang sering menjadi wilayah khilafiyah.

Bid'ah idhafiyah adalah menambahkan suatu bentuk praktik yang dikaitkan dengan ibadah.

Sedangkan bid'ah tarkiyah adalah meninggalkan suatu amalan yang sebenarnya disyariatkan dengan keyakinan tertentu.

Dalam wilayah inilah banyak terjadi perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha.

Mereka sepakat terhadap perkara yang jelas wajib dan jelas haram.

Adapun persoalan selain itu merupakan wilayah ijtihad yang terbuka untuk didiskusikan dengan dalil dan argumentasi, bukan dengan saling mencela.

Bagaimana Pandangan Muhammadiyah?

Majelis Tarjih Muhammadiyah mendefinisikan bid'ah sebagai perbuatan atau ucapan baru yang dijadikan ibadah ritual (umur ta'abbudiy) tanpa adanya tuntunan dari Rasulullah SAW.

Karena itu, Muhammadiyah membedakan secara tegas antara ibadah mahdhah dan urusan dunia.

Teknologi, sistem pendidikan, administrasi, metode dakwah, maupun berbagai sarana kehidupan modern bukan termasuk bid'ah yang tercela selama tidak bertentangan dengan syariat.

Pendekatan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

"Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak."

Artinya, yang ditolak adalah sesuatu yang benar-benar tidak memiliki dasar dalam agama, bukan seluruh bentuk pembaruan dalam kehidupan.

Lalu Bagaimana Kita Berinteraksi dengan Pelaku Bid'ah?

Di sinilah kearifan sangat diperlukan.

Perbedaan dalam masalah ijtihadiyah tidak boleh berubah menjadi permusuhan.

Apalagi sampai mudah mengeluarkan vonis sesat, apalagi kafir.

Lebih jauh lagi, pernahkah Rasulullah SAW mengharamkan diri beliau untuk menyalatkan jenazah seseorang hanya karena dianggap melakukan bid'ah?

Jawabannya, tidak pernah.

Yang secara tegas dilarang untuk dimintakan ampunan dan dishalatkan adalah orang yang meninggal dalam kekafiran atau kemurtadan.

Adapun seorang Muslim yang melakukan kesalahan, bahkan melakukan amalan yang dipandang bid'ah oleh sebagian ulama, tidak otomatis keluar dari Islam.

Karena itu, menjadikan tuduhan bid'ah sebagai alasan untuk memutus ukhuwah, menolak menyalatkan jenazah, atau menganggap seseorang bukan bagian dari kaum Muslimin merupakan sikap yang memerlukan kehati-hatian yang sangat besar.

Penutup

Diskursus tentang bid'ah semestinya melahirkan keluasan ilmu, bukan sempitnya hati.

Perbedaan yang memang berada dalam wilayah ijtihad hendaknya disikapi dengan dialog, kajian ilmiah, dan penghormatan terhadap khazanah para ulama.

Mencari dalil yang paling kuat adalah bagian dari semangat menuntut ilmu.

Namun menjaga persaudaraan sesama Muslim juga merupakan bagian dari ajaran Islam yang tidak kalah penting.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang benar, hikmah dalam memahami perbedaan, serta kesantunan dalam memperjuangkan syariat-Nya.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Mereka yang Pernah (Ingin) Mengganti Bahasa Arab dalam Shalat Disebutkan pada sebuah hadis y...

Mereka yang Pernah (Ingin) Mengganti Bahasa Arab dalam Shalat


Disebutkan pada sebuah hadis yang menegaskan bahwa shalat tidak sah tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Karena itu, Al-Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat. Konsekuensinya, setiap Muslim berkewajiban menghafalnya sekaligus memahami maknanya, agar bacaan yang terucap di lisan sejalan dengan penghayatan yang hadir di dalam hati.

Pada masa modern pernah muncul gagasan agar bacaan shalat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan alasan mempertahankan bahasa nasional. Menurut Hamka, gagasan semacam ini sangat berbahaya karena dapat memutus hubungan umat Islam dengan sumber ajaran yang asli sebagaimana diwariskan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Mencintai bahasa dan bangsa sendiri merupakan sesuatu yang baik. Namun, kecintaan tersebut tidak boleh mengorbankan warisan akidah yang menjadi fondasi agama. Kehidupan seorang Muslim tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur'an, termasuk bahasa yang digunakan dalam ibadah yang telah ditetapkan syariat.

Hamka memandang bahwa gagasan mengganti bahasa Arab dalam shalat tidak dapat dilepaskan dari pengaruh panjang masa penjajahan yang berusaha mengurangi kedekatan umat Islam dengan bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa penjajah. Ia mencontohkan bahwa hingga tahun 1965, dua puluh tahun setelah Indonesia merdeka, masih ada orang yang lebih mudah berbicara dalam bahasa Belanda daripada bahasa Indonesia.

Ia juga mengemukakan bahwa tata bahasa Melayu, yang menjadi dasar bahasa Indonesia, dalam beberapa hal justru lebih dekat dengan bahasa Arab daripada bahasa Belanda. Sebagai contoh, kata rumahku memiliki bentuk yang sepadan dengan kata Arab baiti, yang sama-sama menunjukkan kepemilikan melalui imbuhan. Sebaliknya, dalam bahasa Belanda digunakan bentuk mijn huis dengan susunan yang berbeda.

Lebih jauh, Hamka mengingatkan bahwa bangsa-bangsa Muslim seperti Persia dan Turki, meskipun lebih dahulu memeluk Islam daripada masyarakat Nusantara, tidak pernah menjadikan bahasa mereka sebagai pengganti bacaan shalat.

Pada abad ketiga dan keempat Hijriah memang pernah muncul gerakan Syu'ubiyah di Persia yang berusaha menonjolkan keunggulan bangsa non-Arab. Namun, gerakan itu tidak sampai mendorong penggantian bacaan shalat dari bahasa Arab ke bahasa Persia.

Memang diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah berijtihad membolehkan seorang mualaf yang sama sekali belum mampu membaca Al-Fatihah menggunakan bahasa Persia untuk sementara waktu. Akan tetapi, pendapat tersebut tidak menjadi pandangan mayoritas ulama. Bahkan, murid-murid beliau lebih memilih pendapat bahwa orang yang belum mampu membaca Al-Fatihah sebaiknya mendengarkan bacaan imam hingga mampu mempelajarinya daripada menggantinya dengan bahasa lain.

Karena itu, para ulama menegaskan bahwa lafaz Al-Fatihah tidak boleh diganti, bahkan dengan susunan kata lain dalam bahasa Arab sekalipun, apalagi diterjemahkan ke bahasa lain. Sebab, setiap bahasa memiliki kekhasan makna yang tidak dapat dipindahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain.

Pengalaman di Turki juga sering dijadikan pelajaran. Pada masa Mustafa Kemal Atatürk, adzan pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki sebagai bagian dari kebijakan sekularisasi. Namun, setelah beliau wafat, adzan dikembalikan ke bahasa Arab karena masyarakat merasakan bahwa terjemahan tersebut telah menghilangkan kekuatan dan pengaruh spiritualnya.

Ketika Jalal Bayar memimpin Partai Demokrat menghadapi Partai Republik peninggalan Atatürk, salah satu janjinya adalah mengembalikan adzan ke bahasa Arab. Janji tersebut memperoleh dukungan luas dari masyarakat dan menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya kepada kemenangan.

Oleh sebab itu, Al-Fatihah hendaknya tetap dibaca dalam bahasa aslinya sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ. Setiap Muslim juga berkewajiban mempelajari bacaannya sesuai kaidah tajwid serta memahami maknanya agar shalat dapat dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan.

Shalat adalah tiang agama. Dalam shalat, seorang hamba memuji Allah, memohon pertolongan-Nya, serta mengungkapkan doa-doanya melalui bacaan Al-Fatihah. Karena itu, memahami makna bacaan merupakan bagian penting dalam menghadirkan kekhusyukan. Bagaimana mungkin seseorang dapat menghayati dialognya dengan Allah jika ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang diucapkannya?

Tanggung jawab ini juga berada di pundak setiap orang tua. Anak-anak hendaknya dibiasakan membaca Al-Qur'an sejak usia dini, dimulai dengan menghafal Al-Fatihah karena surah inilah yang akan selalu mereka baca dalam setiap shalat. Apabila orang tua belum mampu mengajarkannya sendiri, mereka hendaknya menghadirkan guru yang dapat membimbing bacaan anak dengan benar.

Adapun bagi orang yang benar-benar belum mampu membaca Al-Fatihah, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan agar ia menggantinya dengan terjemahan atau bacaan lain.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa'i, Ahmad, Ibnu Jarud, Ibnu Hibban, dan Ad-Daruquthni disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Sesungguhnya aku tidak mampu menghafal sedikit pun bacaan Al-Qur'an. Karena itu, ajarkanlah kepadaku bacaan yang dapat kugunakan dalam shalatku."

Beliau bersabda:

"Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah."

Hadis ini menunjukkan bahwa apabila seseorang benar-benar belum mampu membaca Al-Fatihah, ia tidak diperintahkan menggantinya dengan bahasa lain. Sebagai gantinya, ia diperbolehkan membaca dzikir-dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ hingga mampu mempelajari bacaan Al-Qur'an.

Karena bacaan shalat termasuk ibadah yang bersifat tauqifi—ditetapkan berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ—maka tidak boleh diubah menurut kehendak manusia. Jika seseorang belum mampu membaca Al-Fatihah maupun dzikir-dzikir tersebut, ia dapat mengikuti imam sambil mendengarkan bacaannya hingga mampu mempelajarinya.

Keadaan seperti ini dapat terjadi pada seorang mualaf yang baru mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia telah berkewajiban melaksanakan shalat, tetapi belum menguasai bacaan-bacaannya. Dalam kondisi demikian, ia tetap wajib terus belajar hingga mampu membaca Al-Fatihah dengan baik, sehingga keadaan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menjadi alasan untuk mengganti bahasa shalat dengan bahasa lain.


Sumber:
Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP, 2021, Hal. 88-90

Dari Calon Pastor hingga Pembela Islam: Menangisi Kepergian John Esposito (1940–2026) Bagaimana mungkin ...

Dari Calon Pastor hingga Pembela Islam: Menangisi Kepergian John Esposito (1940–2026)


Bagaimana mungkin seorang calon pastor Katolik justru dikenang sebagai salah satu pembela Islam paling berpengaruh di dunia Barat?

Bukankah perjalanan hidup seperti itu tampak paradoks? Ataukah justru di situlah letak keindahannya—bahwa kebenaran sering kali ditemukan ketika seseorang berani melampaui batas-batas prasangka yang diwariskan lingkungannya?

Pada 15 Juli 2026, dunia akademik kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. John L. Esposito wafat pada usia 86 tahun akibat komplikasi operasi jantung. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang profesor, melainkan berpulangnya seorang jembatan yang selama puluhan tahun menghubungkan dua dunia yang sering dipertentangkan: Barat dan Islam.

Di balik puluhan buku, penghargaan internasional, dan ribuan mahasiswa yang pernah dididiknya, tersimpan kisah yang jauh lebih menarik daripada sekadar riwayat akademik. Kisah itu adalah perjalanan seorang pencari kebenaran yang membuktikan bahwa memahami tidak selalu berarti harus menjadi, tetapi selalu menuntut kerendahan hati untuk belajar.

Ketika Jalan Menuju Gereja Berbelok ke Dunia Islam

Siapa sangka, langkah awal Esposito bukanlah menuju pusat studi Islam.

Ia lahir dari keluarga Katolik Italia yang taat di Brooklyn, New York. Semasa muda, cita-citanya sederhana sekaligus mulia: menjadi seorang pastor Fransiskan. Ia bahkan sempat menjalani kehidupan di seminari, mempersiapkan diri menjadi misionaris dan pelayan gereja.

Namun, bukankah sejarah sering bergerak melalui peristiwa-peristiwa yang tampaknya kecil?

Titik balik itu hadir ketika ia menempuh studi doktoral teologi Katolik di Temple University. Kurikulum mewajibkannya mengambil mata kuliah agama-agama dunia. Sebuah mata kuliah yang mungkin hanya dianggap pelengkap, justru mengubah seluruh arah hidupnya.

Di sanalah ia bertemu Ismail al-Faruqi, cendekiawan Palestina-Amerika yang kelak menjadi mentor intelektualnya.

Dengan kejujuran yang mengagumkan Esposito pernah mengakui,

«"I knew nothing about Islam."»

Justru karena tidak membawa pengetahuan yang dipenuhi prasangka, ia datang dengan pikiran yang terbuka. Kanvasnya masih kosong. Dan dari ruang kosong itulah tumbuh salah satu pakar Islam paling berpengaruh di dunia Barat.

Ketika Salib dan Bulan Sabit Bertemu di Ruang Ilmu

Apakah perbedaan agama selalu harus melahirkan permusuhan?

Hubungan Esposito dengan Ismail al-Faruqi memberikan jawaban yang berbeda.

Faruqi bukan sekadar dosen pembimbing. Ia menjadi sosok yang mendorong Esposito untuk mengenal Islam secara langsung, bukan hanya melalui buku-buku orientalis. Ia memintanya belajar bahasa Arab, berdialog dengan masyarakat Muslim, dan mengalami sendiri kehidupan mereka.

Esposito pun menjalani proses imersi yang mendalam.

Ia pernah mengenang,

«"Sembilan puluh persen dari kelas saya adalah mahasiswa dari dunia Muslim, membentang dari Mesir hingga Malaysia dan Indonesia. Seolah-olah saya sedang tinggal di luar negeri. Itu adalah proses imersi, dan saya menjadi sangat terpesona dengan Islam."»

Pengalaman itu mengubah cara pandangnya.

Latar belakang Katolik tidak menjadi penghalang untuk memahami Islam. Justru dari sanalah lahir kemampuan menjembatani dua tradisi keagamaan yang selama berabad-abad sering diposisikan saling berhadapan.

Kelak ia turut membawa studi Islam memperoleh tempat yang lebih terhormat di American Academy of Religion, sebuah ruang akademik yang sebelumnya sangat didominasi tradisi Kristen.

Revolusi Iran dan Lahirnya Sebuah Tanggung Jawab

Apakah sejarah memilih orang-orang tertentu pada saat yang tepat?

Ketika Esposito meraih gelar doktor pada tahun 1974, studi Islam belum dianggap bidang yang menjanjikan. Hampir tidak ada penerbit yang tertarik, tidak banyak universitas yang membutuhkan pakar Islam, dan kesempatan akademik pun sangat terbatas.

Lima tahun kemudian segalanya berubah.

Revolusi Iran 1979 membuat dunia Barat tiba-tiba ingin memahami Islam.

Di tengah gelombang ketakutan itu, Esposito tampil bukan sebagai penyebar kecemasan, melainkan sebagai pemberi penjelasan.

Dengan selera humornya, ia pernah berkata,

«"Saya berutang karier, bahkan mobil Lexus pertama saya, kepada Revolusi Iran."»

Namun di balik candaan tersebut tersimpan kenyataan yang serius.

Ia sadar bahwa dunia sedang membutuhkan penjelasan yang jujur, bukan propaganda. Ia menolak menjadikan ketakutan publik sebagai komoditas akademik.

Melawan Prasangka dengan Data, Bukan Emosi

Bagaimana cara menghadapi kebencian yang dibangun oleh stereotip?

Esposito memilih jalan ilmu.

Melalui buku Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think yang ditulis bersama Dalia Mogahed, ia menggunakan data survei Gallup berskala global untuk menguji berbagai anggapan tentang umat Islam pasca-11 September.

Alih-alih membangun opini, ia menghadirkan bukti.

Alih-alih memperkuat prasangka, ia mengajak dunia membaca kenyataan.

Nihad Awad, Direktur Eksekutif CAIR, mengenangnya dengan mengatakan,

«"Esposito mendedikasikan hidupnya untuk memajukan pemahaman yang akurat tentang Islam ketika informasi yang salah dan prasangka mendominasi diskursus publik."»

Sementara Jonathan Brown menggambarkannya sebagai seorang akademisi yang memandang ketidaktahuan dan bigotisme sebagai "monster" yang harus dilawan sepanjang hayat.

Membangun Jembatan, Bukan Sekadar Menulis Buku

Apakah warisan seorang ilmuwan hanya berupa karya tulis?

Dalam diri Esposito, jawabannya tidak.

Ia membangun institusi.

Pada tahun 1993 ia mendirikan Prince Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University. Pusat kajian ini menjadi salah satu institusi paling berpengaruh dalam membangun dialog antara dunia Islam dan Barat.

Namun perannya tidak berhenti di ruang akademik.

Ia berbicara tentang Palestina, mengkritik diskriminasi terhadap komunitas Muslim di berbagai negara, menyuarakan pentingnya hak asasi manusia, dan terlibat dalam berbagai isu keadilan global.

Bagi Esposito, membela hak-hak umat Islam bukanlah tindakan partisan.

Itu adalah konsekuensi dari komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Obor yang Tidak Boleh Padam

Kini John Esposito telah tiada.

Namun pertanyaannya bukan lagi tentang siapa dirinya.

Pertanyaannya justru tertuju kepada kita.

Masih adakah orang-orang yang bersedia mendengarkan sebelum menghakimi?

Masih adakah akademisi yang berani melawan prasangka ketika opini publik memilih jalan yang lebih mudah?

Masih adakah jembatan ketika dunia semakin sibuk membangun tembok?

Barangkali itulah warisan terbesar John Esposito.

Ia membuktikan bahwa dialog antaragama tidak menuntut seseorang meninggalkan keyakinannya. Sebaliknya, iman yang matang justru melahirkan keberanian untuk memahami orang lain tanpa kehilangan jati dirinya sendiri.

Esposito telah menyalakan sebuah obor di tengah badai prasangka.

Kini, obor itu telah berpindah tangan.

Pertanyaannya, siapakah yang bersedia menjaganya agar tetap menyala?

Hasan Al-Banna tentang Kepemimpinan Islam Apakah dominasi peradaban dunia selalu berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain? Apak...

Hasan Al-Banna tentang Kepemimpinan Islam



Apakah dominasi peradaban dunia selalu berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain?

Apakah kebangkitan dan kemunduran sebuah peradaban merupakan sekadar hasil kekuatan militer dan ekonomi, ataukah bagian dari sunnatullah yang mengatur perjalanan sejarah manusia?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak pemikiran Imam Hasan Al-Banna dalam Risalah An-Nur.

Menurut pendiri Ikhwanul Muslimin tersebut, sejarah dunia menunjukkan bahwa kepemimpinan peradaban tidak pernah bersifat abadi. Ia selalu berpindah dari satu pusat kekuatan ke pusat kekuatan lainnya sesuai dengan kehendak Allah dan hukum-hukum sejarah yang telah ditetapkan-Nya.

Hasan Al-Banna menulis:

«"Sesungguhnya kepemimpinan dunia pada suatu masa berada di tangan Timur. Kemudian berpindah ke Barat setelah munculnya Yunani dan Romawi. Setelah itu dipindahkan kembali oleh kenabian Musa, Isa, dan Muhammad kepada Timur. Kemudian Timur tertidur lelap, sedangkan Barat bangkit pada era modern. Semua itu berlangsung sesuai sunnatullah yang tidak pernah berubah."»

Bagi Hasan Al-Banna, kebangkitan Barat bukanlah sebuah kecelakaan sejarah.

Demikian pula, kemundurannya kelak bukanlah sesuatu yang mustahil.

Ia melihat bahwa setiap peradaban memiliki masa kejayaan, kemudian mengalami kemunduran ketika kezaliman, kesombongan, dan penyimpangan moral mulai mendominasi.

Karena itu, menurutnya, dominasi Barat bukanlah akhir sejarah.

Ia meyakini akan datang suatu masa ketika kepemimpinan dunia kembali berada di bawah nilai-nilai Al-Qur'an.

Hasan Al-Banna menggambarkan harapan tersebut dengan kalimat yang sangat optimistis:

«"Yang tersisa adalah kekuatan Timur di bawah panji Allah, dipimpin oleh bendera Al-Qur'an dan didukung pasukan kaum mukmin yang kokoh."»

Dalam pandangannya, apabila kepemimpinan dunia kembali dibangun di atas petunjuk Allah, maka yang lahir bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan lahirnya peradaban yang menghadirkan keadilan dan ketenteraman.

Karena itulah ia mengutip doa penghuni surga yang diabadikan dalam Surah Al-A'raf ayat 43:

«"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kami. Kami tidak akan memperoleh petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk kepada kami."»

Mengapa Hasan Al-Banna mengutip ayat yang berbicara tentang penghuni surga ketika membahas kepemimpinan dunia?

Jawabannya menarik.

Ayat tersebut sesungguhnya berbicara tentang keadaan penghuni surga yang telah dibersihkan dari segala rasa dengki, kebencian, dan permusuhan. Mereka memuji Allah karena menyadari bahwa seluruh keberhasilan mereka bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan karena petunjuk dan rahmat Allah.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa penghuni surga mengakui satu kenyataan penting: tanpa petunjuk Allah, mereka tidak akan sampai kepada keselamatan. Bahkan masuk surga sendiri bukan semata-mata karena amal, tetapi karena rahmat Allah yang menyempurnakan amal tersebut.

Karena itu, kutipan Hasan Al-Banna dapat dipahami sebagai penegasan bahwa kemenangan sebuah peradaban Islam—jika benar-benar terjadi—bukanlah hasil keunggulan manusia semata, melainkan buah dari petunjuk dan pertolongan Allah.

Namun Hasan Al-Banna juga menegaskan bahwa harapan tersebut bukanlah angan-angan kosong.

Ia mendasarkan optimisme itu pada firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54:

«"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya..."»

Ayat ini turun dalam konteks peringatan kepada kaum Muslimin agar tidak berpaling dari agama. Allah menegaskan bahwa jika ada orang-orang yang meninggalkan Islam, agama ini tidak akan runtuh. Allah akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih layak memikul amanah.

Menurut Tafsir Tahlili, sejarah membuktikan kebenaran ayat tersebut.

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, sebagian kabilah Arab murtad dan menolak membayar zakat. Namun Allah menghadirkan generasi yang tetap teguh mempertahankan agama melalui kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Berbagai pemberontakan berhasil dipadamkan sehingga persatuan umat tetap terjaga.

Al-Qur'an kemudian menyebut enam karakter utama generasi pengganti tersebut.

Pertama, mereka dicintai Allah.

Kedua, mereka mencintai Allah.

Ketiga, mereka rendah hati terhadap sesama orang beriman.

Keempat, mereka tegas dalam menghadapi pihak yang memusuhi agama.

Kelima, mereka bersungguh-sungguh berjihad di jalan Allah.

Keenam, mereka tidak takut terhadap celaan manusia ketika mempertahankan kebenaran.

Bagi Hasan Al-Banna, enam karakter inilah fondasi kepemimpinan Islam.

Kebangkitan umat tidak dimulai dari kekuatan ekonomi ataupun teknologi semata.

Ia dimulai dari pembentukan manusia yang memiliki hubungan kuat dengan Allah, kasih sayang kepada sesama mukmin, keberanian menegakkan kebenaran, serta keteguhan dalam menghadapi tekanan.

Karena itu, cita-cita kebangkitan Islam menurut Hasan Al-Banna bukanlah sekadar pergantian pusat kekuasaan dunia.

Yang lebih penting adalah lahirnya generasi yang pantas menerima amanah tersebut.

Jika generasi seperti itu belum hadir, maka pergantian kepemimpinan hanyalah perubahan penguasa tanpa perubahan peradaban.

Sebaliknya, apabila sifat-sifat yang disebutkan dalam Surah Al-Ma'idah ayat 54 benar-benar terwujud dalam diri kaum Muslimin, maka mereka telah mempersiapkan diri menjadi bagian dari sunnatullah kebangkitan yang dijanjikan Allah.

Pada akhirnya, pesan Hasan Al-Banna bukan mengajak umat sibuk menebak kapan perubahan itu akan datang.

Ia justru mengajak setiap Muslim bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah aku sedang menjadi bagian dari generasi yang akan diganti, atau justru bagian dari generasi yang Allah cintai dan dipilih untuk memikul amanah kebangkitan Islam?

Sumber:
Ali Muhammad Jarisyah, Syarah Syiar Tarbiyah, Era Intermedia, 2021, Hal. 154-155

Liku-Liku Hidup Ibnu al-Jauzi: Pergulatan dengan Fatwa, Kekuasaan, dan Cahaya Hati Ada kalan...

Liku-Liku Hidup Ibnu al-Jauzi: Pergulatan dengan Fatwa, Kekuasaan, dan Cahaya Hati


Ada kalanya seorang ulama tidak dikalahkan oleh kebodohan, melainkan oleh pujian.

Bukan karena ia berhenti mengetahui kebenaran, tetapi karena perlahan ia kehilangan kejernihan hati untuk merasakannya.

Demikianlah pengakuan yang begitu jujur dari Ibnu al-Jauzi. Ia tidak sedang menceritakan kemenangan hidupnya, melainkan luka-luka batin yang pernah menggerogoti ruhnya. Ia membuka aib dirinya agar orang lain tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama.

---

"Aku masih ingat," seakan Ibnu al-Jauzi bertutur, "ketika usiaku baru memasuki masa remaja."

Saat itu aku begitu mencintai kehidupan para zahid. Shalat terasa panjang namun tidak melelahkan. Puasa menjadi kenikmatan, bukan beban. Aku menyukai kesendirian, karena di sanalah hatiku terasa paling hidup.

Setiap detik yang berlalu tanpa ketaatan membuatku menyesal. Waktu terasa begitu berharga. Munajat kepada Allah menghadirkan kemanisan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mata hati terasa bening, seolah mampu melihat kehidupan dengan cahaya yang berbeda.

Namun ternyata, menjaga hati jauh lebih sulit daripada menjaga ibadah.

---

Suatu hari, para penguasa mulai memuji-muji perkataanku.

Semula aku menganggap pujian itu tidak berarti apa-apa. Aku merasa tetap sama seperti sebelumnya. Tetapi aku keliru.

Pujian yang terus-menerus adalah pintu yang sangat halus menuju penyakit hati.

Tanpa kusadari, aku mulai menikmatinya. Sedikit demi sedikit, manisnya munajat menghilang. Nikmat berduaan dengan Allah tidak lagi kurasakan sebagaimana dahulu.

Saat itulah aku mengerti bahwa hati dapat berubah, bukan karena dosa-dosa besar, tetapi karena rasa senang dipuji manusia.

Aku berusaha menjaga jarak dari berbagai godaan itu. Aku menjauhi perkara-perkara syubhat, dan keadaan hatiku sempat membaik.

Tetapi ujian berikutnya ternyata lebih berat.

---

Aku mulai terbiasa dengan takwil yang memudahkan segala sesuatu.

Sedikit demi sedikit, batas antara yang harus dihindari dan yang boleh dilakukan menjadi kabur. Apa yang dahulu membuatku berhati-hati kini terasa ringan untuk ditoleransi.

Aku tidak merasa sedang jatuh.

Justru itulah bahayanya.

Seseorang sering kali tidak menyadari bahwa cahaya dalam hatinya telah padam, sampai ia benar-benar hidup dalam kegelapan.

Aku masih mengajar. Aku masih memberi nasihat. Bahkan banyak orang bertaubat setelah mendengar ceramahku.

Namun di balik semua itu, jiwaku sendiri terasa miskin.

Orang lain memperoleh cahaya dari lisanku, sementara aku kehilangan cahaya di dalam dadaku.

Betapa pedih keadaan itu.

---

Kemudian penyakit demi penyakit menghampiriku.

Tubuhku melemah.

Tetapi yang lebih menyakitkan adalah aku tidak lagi mampu mengobati penyakit jiwaku sendiri.

Aku mendatangi makam orang-orang saleh.

Aku berharap keheningan mereka mampu membangunkan hatiku yang telah lama tertidur.

Lalu Allah membimbingku menuju khalwat.

Aku sebenarnya tidak menyukai kesendirian itu.

Namun justru di sanalah Allah memperlihatkan seluruh aib yang selama ini berhasil kusembunyikan dari diriku sendiri.

Sedikit demi sedikit, cahaya itu kembali.

Hatiku yang lama terpenjara mulai terbuka.

Aku pun bermunajat,

"Wahai Tuhanku...

Bagaimana mungkin aku mampu mensyukuri seluruh nikmat-Mu?

Dengan lisan yang mana aku layak memuji-Mu?

Seandainya Engkau tidak mengguncang kesadaranku...

Seandainya Engkau membiarkanku terus hanyut...

Seandainya Engkau tidak menegurku dengan berbagai musibah...

Apa jadinya diriku hari ini?"

Saat itulah aku memahami sebuah rahasia.

Terkadang Allah mengambil sesuatu dari kita bukan untuk menghukum, tetapi untuk mengembalikan kita kepada-Nya.

Betapa beruntungnya seorang hamba ketika kehilangan dunia, tetapi menemukan kembali Tuhannya.

Betapa kayanya seseorang ketika Allah menjadikannya fakir di hadapan-Nya.

Betapa merdekanya seorang manusia ketika Allah memutus ketergantungannya kepada makhluk.

---

Aku menangisi waktu-waktu yang telah hilang.

Ada masa ketika azan Subuh berkumandang, tetapi aku baru terbangun tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Ada hari-hari yang berlalu tanpa satu amal yang pantas kubanggakan di hadapan Allah.

Dahulu aku tidak merasakan sakit itu.

Kini aku mengerti.

Bukan karena dosaku bertambah.

Melainkan karena dahulu hatiku telah mati.

Rasa sakit yang kurasakan sekarang justru menjadi tanda bahwa Allah mulai menyembuhkan penyakitku.

---

Aku seperti seorang pemabuk.

Selama mabuk, seseorang tidak mengetahui seberapa buruk dirinya.

Barulah ketika sadar, ia melihat puing-puing yang telah ia hancurkan.

Aku menyesali begitu banyak kesempatan yang terbuang.

Aku seperti nelayan yang telah berlayar jauh ke tengah lautan, namun tertidur sehingga arus membawanya kembali ke pantai tanpa membawa seekor ikan pun.

---

Karena itu, wahai saudaraku...

Janganlah engkau tertipu oleh sesuatu yang tampak mubah pada permulaannya.

Setan jarang mengajak manusia langsung menuju keharaman.

Ia memulai dengan sesuatu yang tampak baik.

Ia menghiasi niat.

Ia memperindah tujuan.

Lalu sedikit demi sedikit mengubah jalan yang ditempuh.

Bukankah kepada Nabi Adam pun Iblis tidak berkata, "Makanlah agar engkau durhaka."

Ia berkata,

"Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?"

Tujuannya tampak mulia.

Jalannya ternyata membawa petaka.

Demikian pula banyak ulama yang tergelincir.

Mereka tidak berniat mencari dunia.

Mereka ingin menolong orang yang dizalimi.

Mereka ingin menasihati penguasa.

Namun ketika memasuki lingkaran kekuasaan, perlahan mereka kehilangan kebebasan untuk berkata benar.

Fatwa menjadi lunak.

Takwil semakin longgar.

Sedikit demi sedikit, ilmu kehilangan wibawanya.

Bukan mereka yang mengubah penguasa.

Justru kekuasaanlah yang mengubah mereka.

---

Karena itulah aku berkata kepada diriku sendiri sebelum mengatakannya kepada orang lain:

Jika agamamu masih lemah, jangan mendekati pintu-pintu fitnah.

Jika engkau khawatir tidak mampu menjaga hati, maka uzlah lebih selamat daripada tenggelam dalam arus yang tidak mampu kau lawan.

Ada masa ketika menyelamatkan diri sendiri lebih utama daripada berusaha menyelamatkan banyak orang, sementara engkau sendiri ikut binasa.

---

Maka berhati-hatilah terhadap tipu daya takwil.

Berhati-hatilah terhadap fatwa yang lahir bukan dari kejernihan hati, melainkan dari kedekatan dengan kekuasaan.

Jagalah hubunganmu dengan Allah sebelum engkau sibuk memperbaiki manusia.

Sebab ketika seorang hamba benar-benar dekat dengan Tuhannya, Allah akan membukakan baginya pintu-pintu hikmah yang sebelumnya tertutup.

Yang sulit menjadi mudah.

Yang pahit menjadi manis.

Yang gelap menjadi terang.

Dan seorang hamba akan kembali menemukan sesuatu yang dahulu pernah hilang: cahaya hati yang tidak dapat dibeli oleh pujian, jabatan, maupun kedekatan dengan penguasa.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan taufik, menjaga hati kita dari fitnah dunia, dan mengembalikan kita kepada-Nya setiap kali langkah ini mulai menyimpang.

Belajar dari Metode Para Ulama dalam Menyaring Hikmah Peradaban Mengapa para ulama besar tid...


Belajar dari Metode Para Ulama dalam Menyaring Hikmah Peradaban

Mengapa para ulama besar tidak menutup diri dari berbagai pemikiran di luar tradisi Islam?

Mengapa nama Wahb bin Munabbih begitu sering muncul dalam kitab-kitab klasik, terutama ketika membahas kisah para nabi terdahulu?

Mengapa Imam Al-Ghazali berkali-kali mengutip hikmah dari berbagai sumber untuk melembutkan hati manusia?

Dan mengapa Tafsir Ibnu Katsir, yang menjadi salah satu rujukan utama umat Islam, justru mengalami proses tahqiq (verifikasi) pada banyak bagian yang memuat kisah-kisah Israiliyat?

Pertanyaan-pertanyaan ini membuka sebuah pelajaran besar.

Yang sedang diajarkan para ulama ternyata bukan hanya isi ilmunya, tetapi juga cara berinteraksi dengan ilmu dan peradaban.

Menemukan Sosok di Balik Banyak Riwayat

Nama Wahb bin Munabbih mungkin tidak sepopuler Imam Malik, Imam Syafi'i, atau Imam Ahmad.

Namun jejaknya tersebar di berbagai literatur Islam.

Ia adalah seorang tabi'in, ahli sejarah, dan dikenal memiliki pengetahuan luas mengenai tradisi Bani Israil. Latar belakang keluarganya yang berasal dari Yaman dan memiliki hubungan dengan tradisi Yahudi serta Nasrani menjadikannya banyak meriwayatkan kisah-kisah Israiliyat.

Riwayat-riwayatnya kemudian dikutip oleh banyak ulama, baik dalam kitab tafsir, sejarah, maupun kitab-kitab tentang kezuhudan.

Namun para ulama tidak menerimanya secara mutlak.

Mereka juga tidak menolaknya secara keseluruhan.

Di sinilah letak kedewasaan metodologi Islam.

Israiliyat: Belajar Tanpa Kehilangan Kompas

Para ulama telah meletakkan prinsip yang jelas ketika berinteraksi dengan Israiliyat.

Riwayat yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah diterima sebagai penguat penjelasan.

Riwayat yang bertentangan dengan wahyu ditolak.

Sedangkan riwayat yang tidak diketahui benar atau salahnya tidak dijadikan landasan akidah maupun hukum, tetapi dapat disebutkan sebagai informasi selama tidak diyakini sebagai kebenaran pasti.

Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam tidak membangun tradisi intelektual yang anti-dialog.

Sebaliknya, Islam mengajarkan verifikasi, bukan penolakan membabi buta.

Karena itu, proses tahqiq terhadap kitab-kitab klasik bukanlah bentuk pelemahan karya ulama terdahulu.

Justru itulah bukti hidupnya tradisi ilmiah Islam.

Ilmu terus dikaji, diperiksa, dan disempurnakan.

Dapatkah Metode Ini Diterapkan pada Peradaban Modern?

Pertanyaan berikutnya menjadi sangat relevan.

Jika para ulama mampu berinteraksi dengan warisan Yahudi dan Nasrani tanpa kehilangan akidah, apakah prinsip yang sama dapat diterapkan ketika berhadapan dengan peradaban modern?

Apakah seluruh produk peradaban yang dibangun oleh orang-orang non-Muslim harus ditolak?

Ataukah ada hikmah yang dapat diambil tanpa harus menerima ideologi yang melatarbelakanginya?

Sejarah para ulama tampaknya memberikan jawaban yang menarik.

Mereka tidak pernah mengukur sebuah pengetahuan berdasarkan siapa yang membawanya semata.

Mereka mengukurnya dengan timbangan wahyu.

Belajar dari Peradaban, Bukan Menjadi Pengikutnya

Peradaban, sebagaimana manusia, memiliki kelebihan sekaligus kelemahan.

Tidak ada satu pun peradaban yang sempurna.

Al-Qur'an sendiri mengisahkan Mesir, Persia, Romawi, Saba', kaum 'Ad, Tsamud, dan berbagai bangsa lainnya.

Mengapa Allah mengabadikan kisah mereka?

Karena setiap peradaban menyimpan pelajaran.

Ada yang menjadi teladan.

Ada pula yang menjadi peringatan.

Artinya, seorang mukmin diperintahkan membaca sejarah dengan mata hikmah, bukan dengan prasangka.

Allah berfirman bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (ta'aruf).

Ta'aruf bukan sekadar saling mengetahui identitas.

Ia adalah proses saling belajar, saling memahami, dan mengambil pelajaran tanpa kehilangan jati diri.

Ketika Logika Menjadi Pelayan Wahyu

Sejarah Islam menunjukkan bahwa para ulama tidak pernah alergi terhadap metode berpikir.

Imam Al-Ghazali mempelajari filsafat secara mendalam.

Namun tujuan beliau bukan menjadi filsuf.

Beliau mempelajari cara berpikir lawan agar mampu menjawabnya dengan argumentasi yang lebih kuat.

Dalam Ihya' Ulumuddin maupun Minhajul 'Abidin, logika digunakan untuk membongkar kesombongan hati dan menghidupkan kesadaran ruhani.

Begitu pula Abu Hasan Al-Asy'ari.

Beliau menggunakan pendekatan rasional dalam menjelaskan akidah Ahlus Sunnah agar dapat dipahami masyarakat yang saat itu akrab dengan perdebatan filsafat.

Logika tidak dijadikan pengganti wahyu.

Logika dijadikan alat untuk menjelaskan wahyu.

Di tangan para ulama, akal bukan pesaing iman.

Akal adalah pelayan iman.

Membangun Tradisi Intelektual yang Percaya Diri

Pelajaran terbesar dari sejarah para ulama adalah lahirnya sikap percaya diri dalam berinteraksi dengan dunia.

Mereka tidak merasa terancam hanya karena membaca pemikiran dari luar Islam.

Sebab mereka memiliki kompas yang jelas.

Kompas itu adalah Al-Qur'an dan Sunnah.

Dengan kompas tersebut, mereka mampu mengambil manfaat tanpa kehilangan arah.

Mereka mampu menyerap ilmu tanpa menyerap penyimpangan.

Mereka mampu memanfaatkan metode tanpa mengadopsi keyakinannya.

Inilah kedewasaan intelektual yang melahirkan peradaban Islam sebagai pusat ilmu pengetahuan selama berabad-abad.

Penutup

Berinteraksi dengan ragam pemikiran bukanlah ancaman bagi orang yang memiliki fondasi akidah yang kokoh.

Justru di situlah kualitas ilmu seseorang diuji.

Apakah ia mampu membedakan antara hikmah dan kebatilan?

Apakah ia mampu mengambil manfaat tanpa kehilangan prinsip?

Sejarah para ulama mengajarkan bahwa keterbukaan bukan berarti kehilangan identitas.

Sebaliknya, keterbukaan yang dipandu wahyu akan melahirkan kebijaksanaan.

Sebab hikmah adalah milik Allah.

Ia dapat ditemukan di mana saja.

Namun hanya hati yang dibimbing oleh wahyu yang mampu mengenali, menyaring, lalu mengembalikannya menjadi bagian dari bangunan peradaban Islam.

Baitul Hikmah: Mercusuar Keterbukaan Peradaban Islam dan Dialektika antara Khalifah Al-Ma'mun dan Imam Ahmad bin Hanbal ...

Baitul Hikmah: Mercusuar Keterbukaan Peradaban Islam dan Dialektika antara Khalifah Al-Ma'mun dan Imam Ahmad bin Hanbal




Bagaimana sebuah peradaban dapat menjadi pemimpin dunia?

Apakah cukup dengan memiliki ulama yang menjaga kemurnian agama?

Ataukah harus memiliki ilmuwan yang berani menjelajahi berbagai khazanah ilmu dari seluruh dunia?

Sejarah Islam pernah memperlihatkan sebuah pemandangan yang menarik.

Pada abad ke-9 M, Baghdad menjelma menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Di jantung kota itu berdiri Baitul Hikmah (Bayt al-Hikmah), sebuah lembaga yang bukan hanya menjadi perpustakaan terbesar pada masanya, tetapi juga pusat penerjemahan, penelitian, diskusi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Ironisnya, masa keemasan lembaga ini justru berlangsung ketika terjadi salah satu perdebatan teologis paling besar dalam sejarah Islam, yaitu perselisihan antara Khalifah Al-Ma'mun dan Imam Ahmad bin Hanbal mengenai persoalan "khalq al-Qur'an" (apakah Al-Qur'an makhluk atau kalam Allah yang tidak diciptakan).

Apakah kedua peristiwa besar ini saling bertentangan?

Ataukah justru menyimpan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah peradaban dibangun?

Baitul Hikmah: Ketika Baghdad Menjadi Pusat Ilmu Dunia

Cikal bakal Baitul Hikmah telah muncul sejak masa Khalifah Harun ar-Rasyid.

Namun di tangan putranya, Khalifah Al-Ma'mun, lembaga ini berkembang menjadi pusat intelektual terbesar di dunia.

Berbagai manuskrip dari Yunani, Persia, India, hingga kawasan-kawasan lain dikumpulkan secara sistematis.

Para penerjemah, ilmuwan, dokter, astronom, matematikawan, dan ahli geografi bekerja dalam satu ekosistem yang sama.

Di tempat inilah berkembang berbagai disiplin ilmu seperti astronomi, matematika, kedokteran, kartografi, zoologi, kimia, dan filsafat.

Yang menarik, para ilmuwan Muslim tidak berhenti pada tahap menerjemahkan.

Mereka mengkritisi, mengembangkan, lalu melahirkan penemuan-penemuan baru yang kemudian menjadi fondasi perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Pada pertengahan abad ke-9 M, Baghdad telah menjadi salah satu pusat penyimpanan manuskrip terbesar di dunia.

Al-Ma'mun: Membangun Infrastruktur Peradaban

Dalam banyak pembahasan sejarah, nama Al-Ma'mun sering lebih dikenal karena kebijakan mihnah yang menimpa Imam Ahmad bin Hanbal.

Namun jika hanya melihat sisi itu, gambaran sejarah menjadi tidak utuh.

Di sisi lain, Al-Ma'mun adalah seorang khalifah yang memiliki visi besar terhadap pembangunan ilmu pengetahuan.

Ia mendukung gerakan penerjemahan besar-besaran.

Ia membangun observatorium astronomi.

Ia mengalokasikan sumber daya negara untuk riset dan pengembangan ilmu.

Baginya, kekuatan peradaban tidak hanya dibangun oleh pasukan, tetapi juga oleh ilmu pengetahuan.

Warisan intelektual yang lahir pada masanya kemudian memberi pengaruh besar terhadap perkembangan sains, baik di dunia Islam maupun Eropa beberapa abad kemudian.

Imam Ahmad: Menjaga Fondasi Akidah

Namun sebuah peradaban tidak cukup hanya memiliki akselerasi ilmu.

Ia juga membutuhkan fondasi yang kokoh.

Di sinilah peran Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika terjadi tekanan agar menerima pandangan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, Imam Ahmad memilih mempertahankan keyakinannya meskipun harus menghadapi penjara dan siksaan.

Sikap beliau bukan sekadar mempertahankan sebuah pendapat.

Beliau sedang menjaga batas agar perkembangan intelektual tidak mengubah prinsip-prinsip dasar akidah.

Sejarah kemudian mengenangnya sebagai salah satu simbol keteguhan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam.

Dua Peran yang Sama-sama Penting

Perselisihan keduanya memang nyata.

Namun jika dilihat dari perspektif sejarah peradaban, tampak bahwa umat Islam saat itu memiliki dua kekuatan yang bekerja pada bidang berbeda.

Al-Ma'mun membangun infrastruktur ilmu.

Imam Ahmad menjaga fondasi akidah.

Sebuah peradaban memerlukan keduanya.

Kemajuan tanpa prinsip akan kehilangan arah.

Sebaliknya, prinsip tanpa pengembangan ilmu akan mudah mengalami stagnasi.

Meskipun mereka berada pada posisi yang saling berhadapan dalam persoalan teologis tertentu, sejarah memperlihatkan bahwa pembangunan peradaban Islam juga ditopang oleh dua dimensi tersebut: pengembangan ilmu dan penjagaan kemurnian agama.

Baitul Hikmah: Model Interaksi Antarperadaban

Mengapa Baitul Hikmah menjadi begitu penting?

Karena di sana umat Islam menunjukkan kepercayaan diri sebagai sebuah peradaban.

Mereka tidak takut mempelajari ilmu dari Yunani.

Tidak merasa rendah ketika memanfaatkan matematika India.

Tidak menolak pengalaman administrasi Persia.

Tidak alergi terhadap pengetahuan dari luar.

Namun semua itu tidak diterima begitu saja.

Setiap ilmu melewati proses penyaringan dengan neraca Al-Qur'an dan Sunnah.

Yang bertentangan dengan prinsip Islam dikritisi.

Yang bermanfaat dikembangkan.

Yang belum jelas dikaji kembali.

Inilah tradisi ilmiah yang melahirkan peradaban besar.

Menjadi Saksi bagi Peradaban Dunia

Al-Qur'an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan, agar menjadi saksi bagi seluruh manusia (QS. Al-Baqarah: 143).

Menjadi saksi berarti memahami.

Bukan mengasingkan diri.

Bukan pula meniru tanpa kritik.

Seorang saksi harus mengetahui kelebihan dan kekurangan setiap pihak.

Demikian pula umat Islam.

Ia dituntut mengenal berbagai peradaban, memahami kekuatan dan kelemahannya, kemudian menimbang semuanya dengan wahyu.

Al-Qur'an dan Sunnah menjadi hakim yang membedakan antara hikmah dan penyimpangan.

Pelajaran bagi Peradaban Modern

Dunia saat ini dibanjiri arus informasi, teknologi, dan pemikiran dari berbagai penjuru.

Sebagian memilih menolak semuanya.

Sebagian lagi menerima semuanya.

Sejarah Baitul Hikmah menawarkan jalan yang berbeda.

Keterbukaan yang disertai penyaringan.

Keberanian belajar tanpa kehilangan identitas.

Kemampuan berdialog tanpa harus melebur.

Inilah yang dahulu menjadikan Baghdad sebagai mercusuar ilmu dunia.

Penutup

Baitul Hikmah bukan sekadar bangunan megah yang pernah berdiri di Baghdad.

Ia adalah simbol kepercayaan diri sebuah peradaban.

Peradaban yang berani belajar dari siapa pun.

Namun tetap menjadikan wahyu sebagai kompas.

Al-Ma'mun menunjukkan pentingnya membangun infrastruktur ilmu.

Imam Ahmad menunjukkan pentingnya menjaga fondasi akidah.

Sejarah mengajarkan bahwa sebuah peradaban akan mencapai kejayaan ketika mampu memadukan keduanya: semangat mengembangkan ilmu pengetahuan dan keteguhan menjaga kemurnian nilai.

Di situlah Baitul Hikmah tidak hanya menjadi perpustakaan terbesar pada zamannya, tetapi juga menjadi mercusuar yang menunjukkan bagaimana Islam berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Mengambil Kejernihan Peradaban Lain Bagaimana sebenarnya wajah peradaban Arab sebelum Islam?...

Mengambil Kejernihan Peradaban Lain







Bagaimana sebenarnya wajah peradaban Arab sebelum Islam?

Banyak orang langsung membayangkan penyembahan berhala, tawaf dalam keadaan telanjang, peperangan antarsuku, dan berbagai praktik jahiliah lainnya. Gambaran itu memang benar. Namun, benarkah seluruh peradaban Quraisy hanya berisi kegelapan?

Jika ditelusuri lebih dalam, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Jejak sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Quraisy masih menyimpan sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di tengah penyimpangan akidah yang begitu jauh, masih terdapat tradisi-tradisi luhur yang diwariskan dari agama hanif. Islam kemudian tidak menghapus seluruh warisan itu, tetapi menyaringnya: yang menyimpang diluruskan, sedangkan yang selaras dengan tauhid dipertahankan dan disempurnakan.

Inilah pola besar yang menarik untuk ditelusuri.

Menelusuri Awal Penyimpangan

Mengapa kaum Quraisy bertawaf tanpa busana? Apakah sejak awal ibadah itu memang seperti demikian?

Tidak.

Tradisi itu lahir melalui proses penyimpangan yang panjang. Demikian pula keberadaan ratusan berhala di sekitar Ka'bah. Pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Ka'bah dibangun sebagai pusat tauhid. Penyembahan terhadap berhala baru muncul setelah generasi-generasi berikutnya mengubah ajaran yang lurus.

Al-Qur'an juga menggambarkan pola serupa pada kaum Nabi Nuh. Penyimpangan tidak dimulai dengan kemusyrikan secara tiba-tiba. Awalnya masyarakat hanya menghormati orang-orang saleh. Setelah beberapa generasi, penghormatan berubah menjadi pengkultusan, lalu berkembang menjadi penyembahan. Setan memanfaatkan kecenderungan manusia sedikit demi sedikit hingga tauhid bergeser menjadi syirik.

Sejarah memperlihatkan sebuah siklus yang terus berulang. Sebuah peradaban lahir di atas fitrah, berkembang, kemudian perlahan mengalami distorsi karena hawa nafsu dan penyimpangan manusia.

Islam Tidak Menghapus Segalanya

Di sinilah letak keunikan Islam.

Ketika Rasulullah ﷺ menaklukkan Makkah, beliau tidak membangun seluruh tata kehidupan dari titik nol. Beliau menghancurkan berhala, menghapus kesyirikan, dan mengoreksi berbagai praktik yang menyimpang. Namun pada saat yang sama, beliau mempertahankan berbagai tradisi yang memang berasal dari warisan Nabi Ibrahim.

Sa'i antara Shafa dan Marwah tetap menjadi syiar Allah.

Penghormatan terhadap bulan-bulan haram tetap dipelihara.

Pelayanan kepada jamaah haji tetap diteruskan dengan orientasi yang dibersihkan dari kebanggaan kesukuan menuju keikhlasan karena Allah.

Dengan kata lain, Islam tidak sekadar meruntuhkan sebuah peradaban, tetapi melakukan proses pemurnian. Yang rusak dibuang, yang benar dilanjutkan.

Inilah metode perubahan yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Melihat Peradaban dengan Perspektif yang Lebih Luas

Pelajaran tersebut memberi cara pandang baru terhadap berbagai peradaban dunia saat ini.

Seluruh manusia berasal dari Nabi Adam. Seluruh risalah para nabi bermuara pada tauhid. Karena itu, berbagai peradaban di dunia sesungguhnya memiliki akar fitrah yang sama, meskipun kemudian berkembang melalui pengalaman sejarah yang berbeda-beda.

Perjalanan sejarah melahirkan berbagai penyimpangan, tetapi juga menyisakan nilai-nilai universal yang tetap hidup: kejujuran, disiplin, penghargaan terhadap ilmu, kepedulian sosial, kerja keras, amanah, dan keadilan.

Nilai-nilai inilah yang menjadi titik temu antarmanusia.

Karena itu, seorang Muslim tidak diperintahkan menolak seluruh produk sebuah peradaban hanya karena peradaban tersebut dibangun oleh masyarakat non-Muslim. Yang diperintahkan adalah melakukan penyaringan dengan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar kebenaran.

Mengambil Kejernihan, Membuang Kekeruhan

Al-Qur'an memberikan ilustrasi yang sangat kuat.

Air bah membawa buih ke permukaan. Buih tampak besar, tetapi segera menghilang. Adapun air yang memberi manfaat tetap tinggal dan menghidupi manusia.

Demikian pula perjalanan peradaban.

Kebatilan, kesombongan, dan penyimpangan hanyalah buih sejarah. Ia mungkin tampak dominan pada suatu masa, tetapi tidak bertahan lama. Yang akan tetap hidup adalah nilai-nilai yang membawa manfaat bagi manusia.

Maka tugas umat Islam bukan sekadar mengkritik peradaban lain, melainkan menemukan kejernihan yang masih tersisa di dalamnya, kemudian mengembalikannya kepada orientasi tauhid.

Baitul Hikmah: Contoh Nyata dalam Sejarah

Prinsip inilah yang diwujudkan pada masa Dinasti Abbasiyah.

Di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun, kaum Muslim mengumpulkan naskah-naskah ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, India, dan berbagai peradaban lainnya. Semua itu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab melalui Baitul Hikmah.

Mereka tidak sekadar menerjemahkan.

Mereka mengkritisi, mengembangkan, mengoreksi, lalu melahirkan ilmu-ilmu baru yang kemudian menjadi fondasi kemajuan dunia.

Mereka mengambil kejernihan ilmu, bukan menyerap seluruh pandangan hidup yang menyertainya.

Di sinilah tampak kepercayaan diri sebuah peradaban yang memiliki standar wahyu. Mereka tidak takut berdialog dengan ilmu dari luar karena memiliki Al-Qur'an dan Sunnah sebagai neraca.

Menjadi Saksi Peradaban

Al-Qur'an menyebut umat Islam sebagai syuhadā' 'ala an-nās—umat yang menjadi saksi bagi manusia.

Menjadi saksi bukan berarti menolak semua yang berasal dari luar, juga bukan berarti menerima semuanya tanpa kritik.

Menjadi saksi berarti mampu membedakan antara kejernihan dan kekeruhan.

Mengambil hikmah yang masih hidup.

Meluruskan penyimpangan yang muncul.

Lalu membangun kembali peradaban di atas fondasi tauhid.

Inilah pelajaran besar yang diwariskan Rasulullah ﷺ ketika memurnikan tradisi Quraisy, dan inilah pula pelajaran yang diwariskan Baitul Hikmah ketika berinteraksi dengan peradaban dunia.

Peradaban Islam tidak lahir dari sikap tertutup, tetapi juga tidak dibangun di atas sikap latah meniru. Ia tumbuh melalui keberanian berdialog, kecermatan menyaring, dan keteguhan menjaga wahyu sebagai hakim tertinggi.

Mungkin di situlah letak pelajaran terpenting bagi umat Islam hari ini: bukan sekadar menjadi konsumen peradaban dunia, melainkan menjadi penyaring, penyempurna, dan penjaga kejernihan nilai-nilai kemanusiaan agar kembali bermuara kepada Allah SWT.


Seribu Lilin Hasan Al Bashri  Suatu malam Hasan al Bashri menyalakan lampu. Satu per satu lampu itu dinyalakan ternyata jumlahny...

Seribu Lilin Hasan Al Bashri 


Suatu malam Hasan al Bashri menyalakan lampu. Satu per satu lampu itu dinyalakan ternyata jumlahnya mencapai seribu.

Para sahabatnya memandang bahwa jumlah tersebut terlalu banyak untuk menerangi sebuah tempat. Akhirnya mereka meminta ijin untuk mematikan sejumlah lampu.

Imam Hasan al Bashri," Matikanlah lampu yang dinyatakannya bukan niat karena Allah." Mereka pun mematikan lampu tersebut satu persatu. Bagaimana hasilnya ?  

Ternyata tak satu pun lampu yang bisa dimatikan. Karena imam Hasan al Bashri menyalakannya berniat karena Allah.

Andai lampu itu adalah karya, amal dan bisnis, maka kelanggengannya tergantung dari niat-niat yang dibangun. Bukankah Allah berjanji bahwa apa yang diraih tergantung dari niatnya? Bukankah Allah berjanji bahwa manusia akan meraih yang diniatkan ? Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan semua doa-doa ?

Kekuatan dan keikhlasan niat itulah pondasi dari keberhasilan karya, amal dan bisnis. Seperti kata Hisyam bin Abdul Malik, bahwa keberhasilan sepupunya yaitu Umar bin Abdul aziz, karena setiap langkah kecilnya terdapat niat-niat yang besar.

Andai kelesuan melanda. Andai kegagalan terus menempa. Cara pertama untuk menggairahkannya kembali dengan membangun kembali niat-niat yang kokoh dan ikhlas. Seperti lampunya Hasan al Bashri yang tak bisa dipadamkan.

Budak yang Dinikahkan dengan Putri Majikannya Suatu hari, seorang majikan datang ke kebunnya yang dijaga oleh seorang budak bern...

Budak yang Dinikahkan dengan Putri Majikannya

Suatu hari, seorang majikan datang ke kebunnya yang dijaga oleh seorang budak bernama Mubarak. Ia meminta buah delima yang manis. Namun, setiap delima yang diberikan ternyata terasa asam.

Sang majikan heran, lalu bertanya mengapa demikian. Mubarak menjawab dengan jujur bahwa ia tidak mengetahui mana yang manis dan mana yang asam, karena selama ini ia tidak pernah mencicipi buah tersebut. Tugasnya hanyalah menjaga kebun, bukan mengambil atau merasakan hasilnya.

Kejujuran ini membuat sang majikan sangat terkesan. Di saat yang sama, ia sedang menghadapi persoalan: banyak pemuda melamar putrinya, tetapi ia ragu menentukan pilihan. Ia pun meminta pendapat Mubarak tentang siapa yang paling pantas menikahi putrinya.

Mubarak menjawab, “Orang jahiliah menikahkan berdasarkan keturunan, orang Yahudi berdasarkan harta, dan orang Nasrani berdasarkan kecantikan. Adapun seorang mukmin, hendaknya menikahkan karena agama.”

Jawaban yang jernih dan penuh hikmah itu menggugah hati sang majikan. Ia pun menikahkan putrinya dengan Mubarak. Dari pernikahan itu lahirlah Abdullah ibn al-Mubarak, yang kelak dikenal sebagai ulama besar, mujahid, dan dermawan.

Sumber
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009

Imam Ahmad Rela Disiksa untuk Menyelamatkan Semua Orang  Imam Ahmad dalam siksaan pada era khalifah Al-Ma'mun, Al-Mu'tas...

Imam Ahmad Rela Disiksa untuk Menyelamatkan Semua Orang 


Imam Ahmad dalam siksaan pada era khalifah Al-Ma'mun, Al-Mu'tashim, dan Al-Wastiq karena teguh berfatwa bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.

Saat terus disiksa oleh khalifah. Salah satu muridnya ingin menyelamatkan Imam Ahmad dengan berkata,

"Wahai Imam, apa yang dimaksud dengan firman Allah, 'Dan janganlah kalian membunuh dirimu sendiri.'"

Maksudnya agar Imam mengikuti kemauan penguasa yang telah menyiksa dirinya sangat berat. Karena bisa membahayakan nyawa sang Imam.

Imam Ahmad justru berkata, 

"Wahai muridku, lihatlah ke luar !"

Sang murid menyaksikan lautan manusia membawa kertas dan pena untuk mencatat fatwa Imam Ahmad tentang Al-Qur’an, kalamullah atau makhluk.

Imam Ahmad melanjutkan perkataannya,

"Wahai muridku, apakah aku boleh menyesatkan semua orang ini? Aku tentu lebih memilih dibunuh penguasa dan tidak menyesatkan semua orang itu."

Sumber:
Majdi Al-Hilali, Syarah Arkanul Baiah, 2021, hal. 275

Kriteria Pelanjut Imam Syafi‘i Imam Syafi‘i menganggap Muhammad bin Abdul Hakam sebagai saudaranya. Ia sangat dekat dan senantia...

Kriteria Pelanjut Imam Syafi‘i


Imam Syafi‘i menganggap Muhammad bin Abdul Hakam sebagai saudaranya. Ia sangat dekat dan senantiasa bersamanya. Imam Syafi‘i berkata, 

"Tidak ada yang senantiasa membersamaiku di Mesir selain dia."

Orang-orang menyangka bahwa Imam Syafi‘i akan menyerahkan halaqah ilmunya padanya karena begitu tulus cinta di antara keduanya.

Saat Imam Syafi‘i sakit. Saat semua orang bertanya siapakah penggantinya? Lalu Muhammad bin Abdul Hakam yang saat itu berada disisi kepalanya menampakkan diri. Namun, Imam Syafi‘i berkata, 

"Subhanallah, apakah Abu Yaqub Al-Buwaithi diragukan kapasitasnya?"

Abu Yaqub Al-Buwaithi lebih utama dan lebih dekat dengan sikap zuhud dan warak dibandingkan Muhammad bin Abdul Hakam.

Akhirnya, Muhammad bin Abdul Hakam kecewa lalu meninggalkan mazhab Syafi‘i dan kembali ke mazhab yang dulu pernah dipelajari bersama ayahnya yaitu Imam Malik.

Sumber:
Majdi Al-Hilali, Syarah Arkanul Baiah, 2021, hal. 303

Kecerdasan dan Keilmuan Muhammad Al-Ghazali Muhammad Al-Ghazali berasal dari keluarga yang agamis sekaligus berlatar belakang pe...

Kecerdasan dan Keilmuan Muhammad Al-Ghazali


Muhammad Al-Ghazali berasal dari keluarga yang agamis sekaligus berlatar belakang pengusaha. Ayahnya adalah seorang hafizh Al-Qur’an, sementara ia sendiri telah menghafal Al-Qur’an sejak usia sepuluh tahun.

Ia dikenal sebagai ulama dan penulis produktif, dengan lebih dari 90 buku yang telah ditulisnya. Gaya penulisannya mendapat pujian dari Hasan Al-Banna, yang berkata, “Saya sangat kagum dengan tulisanmu yang ringkas, maknanya cermat, dan adabnya sopan. Seperti inilah seharusnya menulis. Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah selalu bersamamu.”

Pujian juga datang dari Syaikh Al-Azhar, Dr. Abdul Halim Mahmud, yang mengatakan, “Kita memiliki Al-Ghazali yang masih hidup (Muhammad Al-Ghazali) dan Imam Al-Ghazali, penyusun kitab Ihya.”

Salah satu karya pentingnya adalah Jahiliyah Modern, yang mengingatkan umat bahwa jahiliyah tidak hanya terjadi pada masa sebelum Rasulullah ﷺ, tetapi terus hadir dan mengepung manusia di setiap zaman.

Melalui tulisan-tulisannya, ia juga mengingatkan tentang bahaya berbagai ideologi seperti komunisme, sekularisme, freemasonry, ateisme, eksistensialisme, salibisme, dan zionisme, sekaligus menawarkan cara menghadapi dan melawannya.

Muhammad Al-Ghazali juga mengkritik kondisi bangsa-bangsa Timur dengan mengatakan, “Tiada bangsa yang menghinakan diri seperti bangsa Timur, dan tiada yang hak-haknya dirampas sebagaimana dirampasnya hak agamanya.”

Beliau wafat pada Maret 1996 dan dimakamkan di Madinah, di pemakaman Al-Baqi.


Sumber:
Abdullah Al-Aqil, Mereka yang Telah Pergi, Penerbit Al-I'tishom, 2020

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (10) Dakwah (7) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (56) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (107) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (6) Nusantara (282) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (685) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (308) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)