basmalah Pictures, Images and Photos
12/17/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Efek Sisa Makanan Oleh : Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Milyaran manusia akan hadir. Kelaparankah? Di Ameri...

Efek Sisa Makanan

Oleh : Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Milyaran manusia akan hadir. Kelaparankah? Di Amerika, punya mobil, rumah bagus, tubuh gemuk, tapi kelaparan? Itu yang ku baca dari National Geographic. Yang berjualan cepat saji banyak, tapi sangat jarang yang berjualan pangan mentah. Akhirnya, mereka kelaparan makanan yang sehat.

Pertanian akan jadi bisnis yang sangat menjanjikan. Mengapa banyak ditinggalkan?

Masihkah meninggalkan sisa makanan? Tahukah dampak dari menyisakan makanan? Di luar negri, konsumen yang menyisakan makanan dikenakan biaya tambahan. Konsumen bertanggung jawab atas biaya tambahan yang dikeluarkan restoran karena mengelola sisa makanan.

Masihkah menyisakan makanan? Padahal keberkahan makanan terdapat disitu? Menyisakan makanan berarti sudah membuang sumber daya dan waktu dari pembuatan bibit, penyemaian hingga menyajikan di hadapan kita. Berapa dana investasi yang dikeluarkan? Berapa waktu yang dibutuhkan yang dihabiskan? Berapa orang terlibat? Sadarkah bahwa perjalanan makanan menguras perasaan dan jiwa banyak orang?

Bila menyisakan makanan, bayangkan petani yang di sawah, supir yang membawanya, pedagang di pasar dan warung, buruh yang mengolahnya, Chef yang mengerahkan pikiran dan pengalaman untuk meraciknya. Mereka meninggalkan keluarga dan banyak orang untuk membuat makanan. Maka sebutir nasi adalah kumpulan investasi, konsumsi waktu dan peluh manusia.

Tahukah? Sisa makanan di Barat, bisa memberi kenyang kepada penduduk miskin di Afrika? Itulah mengapa jangan menyisakan makanan dan minuman.

Efek sisa makanan, pernah dibayangkan? Sisa makanan yang ditaruh diruangan tertutup akan menghasilkan gas yang bisa merusak rumah kaca. Membuat bumi makin panas. Begitu pakar berbicara.

Hadist Rasulullah saw melarang menyisakan makanan. Menjilat tangan yang terdapat sisa makanan. Begitu sederhana, tapi luar biasa efeknya.

Perpecahan, Menuju Keterpaduan Baru Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Makhluk sosial itulah manusia. Ing...

Perpecahan, Menuju Keterpaduan Baru

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Makhluk sosial itulah manusia. Ingin bersama namun ada perbedaan. Akhirnya muncullah konflik. Perbedaan maksud, pemikiran, ilmu, pemahaman hingga yang terakhir kepentingan itulah penyebabnya, walau pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. Ada yang harus diperdalam dalam setiap perbedaan, mengapa saya berbeda? Apa maksud besar sebuah perbedaan? Diri, kelompok atau organisasi? Duniawi atau ukhrawi?

Ketika Rasulullah saw wafat, semua sahabat sepakat, harus segera ada pemimpin baru. Pertanyaan siapakah? Dari Muhajirin atau Anshar? Dari Muhajirin, Abu Bakar ataukah Ali bin Abi Thalib? Dalam setiap titik peralihan, memang selalu muncul perbedaan, menuju kehancuran atau lompatan? Keberhasilan kepemimpinan, apakah penerusnya semakin lebih baik atau terpuruk? Bagaimana di era Khalifatur Rasyidin pasca wafatnya Rasulullah saw? Islam menyebar ke pelosok dunia. Ini bukti kesuksesan Rasulullah saw menyiapkan kader penerus.

Ada kejadian luar biasa pasca syahidnya Utsman bin Affan. Terbunuhnya seorang Khalifah bukanlah masalah remeh, harus segera diselesaikan. Semua sepakat Ali bin Abi Thalib sebagai penggantinya, namun bagaimana cara menghukum para pemberontak? Yang harus diselesaikan terlebih dahulu, memulihkan suasana agar kondusif atau menghukum para pemberontak? Disinilah terjadi perbedaan tajam antara Ali-Aisyah-Muawiyah. Semangatnya sama, menyelesaikan masalah, namun bagaimana caranya?

Setiap konflik ada perbedaan, namun ada juga persamaannya. Alam itu berbeda, namun ada tali penghubungnya yang menyatukan keteraturan alam. Kejelian ini ada pada Hasan bin Ali. Benih-benih penyatuannya sudah ada di era Ali-Aisyah-Muawiyah, Ali-Aisyah berdamai. Mereka kembali ke Mekah dan Kufah. Ali-Muawiyah melakukan proses Tahkim, namum kelompok Abdullah bin Saba dan Khawarij selalu ingin menghancurkannya. Mengapa mereka kembali menyatu? Diingatkan kembali sabda-sabda Rasulullah saw tentang perpecahan. Diingatkan kembali, memori saat mereka duduk bersama Rasulullah. Diingatkan kembali tanggungjawab terhadap bangsa. Siapa yang akan mengurus negara dan rakyatnya?

Ali-Aisyah-Muawiyah memang berkonflik, namun di dalam hati mereka memiliki tujuan yang sama. Menghukum para pemberontak. Menghukum para pembunuh Utsman bin Affan dengan cara persepsi mereka sendiri. Ini yang dibaca oleh Hasan bin Ali. Ini yang menjadi titik sentral perbaikan dan penyelesaian oleh Hasan bin Ali. Setiap perbedaan akan menghadirkan generasi baru yang menyatukannya kembali. Generasi yang memahami masa lalu dan mengantisipasi masa depan. Itu ada pada Hasan bin Ali.

Kota Kufah dan Madinah. Mercusuar ilmu pengetahuan saat itu. Namun memiliki prinsip yang berbeda dalam prinsip penggaliannya. Madinah, memiliki prinsip segala permasalahan  harus diselesaikan bila ada basis pemikiran dari Al Quran dan As sunnah. Bila tidak ada maka didiamkan. Kufah, masalah bisa diselesaikan dengan penggalian akal dengan filosofi Al Quran dan As Sunnah. Madinah, tidak bisa memberikan solusi baru bila masalah sebelumnya tidak ditemukan dalam Al-Quran dan As Sunnah. Kufah, bisa tergelincir bila memfokuskan pada akal saja. Maka lahirlah perbedaan dan perdebatan para ulama.

Imam Syafii muncul menyatukan kedua kutub perbedaan ini. Al Quran dan As Sunnah harus menjadi pondasi hukum, namun bagaimana menjaga agar tidak terjadi ketergelinciran akal? Bagaimana akal menggali hukum dengan benar? Bagaimana membingkai akal dengan pondasi yang benar dan kokoh? Imam Syafii menyatukan keduanya dengan kaidah Ushul Fiqh. Madinah dan Kufah akhirnya menyatu. Generasi pemersatu selalu melihat ruang keterhubungan dan penyatuan dalam perseteruan pertentangan. Menurut Sayid Qutb, bukan perbedaan yang menyebabkan perpecahan, tapi dominasi hawa nafsulah yang menyebabkannya.

Abdullah Ibnu Masud berkeliling negri. Setiap kaum memiliki logat intonasi berbicara yang berbeda. Akhirnya, terjadi perbedaan dalam membaca Al-Quran. Abdullah Ibnu Masud melihat kaum muslimin bersitegang tentang bagaimana membaca Al Quran yang terbaik? Bagaimana mencegah perpecahan ini?  Umat Islam sudah menyebar ke seluruh negri, bagaimana mencegah agar tidak ada satu pun yang berbohong atas nama Rasulullah saw? Bila setiap orang mengaku ini Sunnah Rasulullah saw, bisa menimbulkan perpecahan dengan mengatasnamakan sunah Rasulullah saw? Setiap konflik selalu ada generasi yang bisa menyatukannya. Siapa yang bisa menuntaskannya?

Ustman Bin Affan menuntaskan persoalan perbedaan bacaan al Qur'an dengan mengkodifikasikannya sesuai kaidah ketika al Qur'an itu turun. Imam Bukhari meneliti hadist-hadist Rasulullah saw dengan kategori Shahih, Hasan, Da'if dan Mungkar. Sehingga tak ada lagi ruang perpecahan yang menghancurkan. Setiap perbedaan, setiap perpecahan, setiap konflik selalu menghadirkan penyatuan. Seolah-olah ada kaidah hukum, setelah perpecahan ada penyatuan seperti sebuah kaidah yang sudah terkenal bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Ilmu Fiqih menyebar ke seluruh negri. Interaksi umat Islam dengan beragam pemikiran mulai terjalin. Pengetahuan terhadap peradaban Yunani, Persia dan India mulai digali. Akhirnya umat Islam bersentuhan dengan ilmu Filsafat yang kebanyakan dari Yunani. Ilmu Fiqh cendrung pada formalitas ibadah. Ukurannya apa apa yang terlihat dan dilakukan, sehingga disebut ilmu Zahir. Filsafat berkaitan dengan akal yang mengacaukan pemikiran. Ada yang beribadah yang mementingkan rasa dan hati, fokus pada suasana bathin berupa takut, harap dan cinta. Disini terjadi perseteruan luar biasa antara pendukung ilmu zahir, akal dan bathin. Korbanya adalah Al Hallaj yang dituduh mengajarkan kesatuan wujud antara Tuhan dan Makhluk. Akhirnya dia dihukum mati. Perpecahan besar pun dimulai. Siapa yang menyatukannya?

Al Ghazali mempelajari ilmu Fiqh hingga mumpuni. Membelajari ilmu logika dan filsafat.  Mempelajari ilmu jiwa. Akhirnya terlahir karya besar yaitu Ihya Ulumudin. Dengan Ihya Ulumudin, Ilmu Zahir, Akal dan Bathin berpadu. Akal diasah untuk menemukan hakikat diri, hidup dan Allah. Akal tanpa hati dan Fiqh akan tersesat. Fiqh tanpa hati akan kehilangan manisnya ibadah dan tak tercapainya tujuan ibadah. Hati tanpa Fiqh, ibadanya tidak diterima karena melabrak takaran dan ketentuannya. Semua yang berbeda, semua yang bertentangan, semua yang menimbulkan perpecahan ternyata bisa dipadukan. Hanya butuh, dengan apa direkatkan? Bagaimana merekatnya?

Semua perpecahan akhirnya berujung pada keterpaduan pula. Perpecahan membentuk kubu yang jelas tak tersamar. Konflik menjelaskan perbedaan yang ekstrim. Namun dari perbedaan yang ekstrim itulah kita melihat sebuah jalinan yang sebenarnya saling terhubung dan berpadu. Konflik itu menuju pada penyatuan baru untuk menghadapi tantangan baru. Konflik sebuah penyesuaian karena terguncang dengan tantang baru yang bermunculan. Ada kebaikan, ada inovasi dalam setiap konflik. Begitu pun dalam berbangsa, berorganisasi dan berjamaah? Temukan cara baru untuk menyatukannya.

Memiskinkan Diri Setelah Berkuasa Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sedikit meminta. Sedikit menerima. S...

Memiskinkan Diri Setelah Berkuasa

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Sedikit meminta. Sedikit menerima. Sedikit menuntut hak. Sedikit meminta jatah. Itulah pribadi yang kaya dan berbahagia. Namun mengapa para petinggi negri, selalu meminta lebih dari jatah anggaran daerah dan negara?

Semakin berkuasa, semakin tak terkira keinginannya. Seolah anggaran daerah dan negara adalah haknya. Membuat beragam cara agar anggaran masuk ke kantongnya sendiri. Anggaran menjadi wajah kamuflase memakmurkan negri, namun uangnya mengalir ke kantongnya sendiri.

Mengapa hutang ribuan trilyunan tak bisa memakmurkan? Mengapa kekayaan alam tak bisa mensejahterakan? Padahal perut kita tidak sebesar perut binatang yang besar. Padahal tubuh kita berpostur kecil-kecil. Mengapa tak bisa mengenyangkan seluruh rakyat?

Rasulullah saw tidur di atas pelepah kurma. Sehari makan, sehari berpuasa. Fatimah hidup dalam kemiskinan. Pernah suatu hari, wajah Fatimah pucat lemah karena tak ada makanan. Saat ditanya mau makanan atau didoakan saja agar kenyang oleh Rasulullah saw, Fatimah memilih didoakan agar perutnya kenyang.

Terdengar bahwa Rasulullah saw mendapatkan kekayaan banyak. Mendapatkan tanah Fandak seluas kota. Namun Rasulullah saw tetap hidup dalam kesederhanaan. Saat Fatimah mengadukan kesulitannya, Rasulullah saw hanya mengajarkan dzikir-dzikir saja. Saat Rasulullah saw wafat, seluruh kekayaannya dimasukan ke Kas Negara, tak ada yang diwariskan.

Dalam kemiskinan, mengapa Rasulullah saw mampu memberi semua permintaan kebutuhan rakyatnya? Dalam kemiskinan, mengapa Rasulullah saw bisa memberikan ratusan unta kepada kaum muslimin yang baru masuk Islam. Sehingga para petinggi kabilah Arab berkata, "Masuklah Islam, Muhammad akan memberikan keinginan kita seolah-olah dia tidak pernah takut miskin." Dalam kemiskinan pribadi, bisa memberikan harta yang banyak kepada orang lain.

Harta kekayaan berdatangan dari segala penjuru. Umar Bin Khatab akan memberikan harta tersebut pada rakyatnya. Tiba-tiba seseorang berbicara, "Saya tidak mau menerima harta tersebut sebelum Umar mengambilnya." Orang tersebut melihat sang Umar berpakaian dengan tambalan yang cukup banyak. Lalu putranya Umar berkata, "Akulah yang menanggungnya." Setelah itu barulah mereka mau mengambil harta yang dibagikan Umar. Khalifah yang tak pernah memikirkan dirinya, karena sibuk memikirkan rakyatnya.

Adakah yang miskin setelah menjadi berkuasa? Adakah yang memilih miskin ketika berkuasa? Adakah yang hartanya habis setelah menggenggam kekuasaan tertinggi? Rasullulah saw, Khalifatur Rasyidin dan Umar Bin Abdul Aziz, itulah contohnya. Mereka  menggenggam anggaran negara, menggenggam kekayaan sumber daya daerah-daerah yang pernah dikuasai Romawi dan Persia, mereka hidup memilih dalam kemiskinan namun rakyatnya hidup dalam keberlimpahan kemakmuran.

Ketika penguasa berorientasi pada kekayaan dan keserakahan, maka rakyatnya yang akan dimiskinkan oleh sistem yang dirancangnya. Sistem dirancang untuk memiskinkan bukan mengembangkan dan membangun kekayaan rakyatnya.

Apakah ada calon pemimpin yang berkarakter Khalifatur Rasyidin dan Umar Bin Abdul Aziz? Pilihlah pemimpin yang lahir dari penempaan hidup yang mereka alami. Carilah pemimpin yang perjalanan hidupnya seperti yang mereka lakukan.

Mengapa di setiap zaman, pemimpin yang tak memperdulikan dirinya selalu berhasil membangun bangsanya?

Menikmati Hiruk-Pikuknya Medsos Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati)9 Bila tidak ada hiruk-pikuk bukanlah d...

Menikmati Hiruk-Pikuknya Medsos

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)9

Bila tidak ada hiruk-pikuk bukanlah dunia. Dunia memang ajang keramaian, pesta pora dan permainan.  Dunia ajang pergolakan, perdebatan, argumentasi hingga pertarungan.  Apakah diam dari semua hiruk-pikuk adalah kebenaran?

Apakah para Nabi dan Rasul berdiam dari hikuk-pikuk? Berdiam di gua, lereng dan rumah saja? Apakah para Sahabat terdiam dari hiruk-pikuk pergolakan dunia? Apakah para Ulama Salaf terdiam  di majlis ilmu saja? Menyeru adalah bersuara. Mengajak adalah bersuara dan berargumentasi. Minimal ada pergolakan batin di jiwanya.

Semua menghentakan kuda dan pelana, bergerak menapaki darat dan mengarungi samudera, menggoreskan pena, berbicara lantang hingga dihadapan penguasa yang zalim. Bila hidup hanya terdiam, untuk apa dilahirkan sebagai makhluk sempurna? Hiruk-pikuk mungkin hanya kebisingan. Suara siapa yang didengar, itulah persoalannya. Yang paling keras dan mendominasi, biasanya yang didengarkan dan mempengaruhi jiwa dan pemikiran.

Jiwa manusia pun penuh hiruk-pikuk. Pertarungan berbagai bisikan dan pemikiran. Pertarungan beragam was-was. Perselisihan kebenaran dan keburukan. Kebimbangan teru bermunculan. Keraguan selalu ada. Itulah jiwa manusia. Bagaimana dengan dunia nyata yang dihuni milyaran manusia?

Apakah para Walisongo terdiam  dari hiruk-pikuk? Mereka mendirikan Demak. Memilih Raden Fatah sebagai Sultan. Berstrategi secara kebudayaan, sosial, seni dan ekonomi. Semua yang fitrahnya bersih pasti akan turun ke gelanggang untuk menciptakan kemaslahatan walau resikonya penuh dengan hiruk-pikuk kebisingan yang membahana.

Hiruk-pikuk adalah ujian. Apakah tetap tentram di tengah kebisingan. Apakah tetap jernih di tengah teriakan. Apakah tetap berfikir sehat di tengah hasutan. Apakah tetap tegar di tengah suara hujatan dan penghinaan? Jiwa yang lemah akan segera meminggirkan dirinya. Tak peduli dengan alasan kesucian.

Hiruk-pikuk adalah ujian. Adakah rasa benci, dendam kesumat, dan kesal? Apakah ada sakit hati, marah, ingin membalasnya? Itulah makna sebuah hiruk-pikuk, tercipta dengan kebisingan yang pekat dan membahana, agar tahu kualitas kebeningan hati manusia.

Rasulullah saw memaafkan orang yang menghinanya setiap hari. Rasulullah saw memberikan harta kepada orang yang menarik baju lehernya dengan kasar. Memaafkan orang yang sudah membuat berita palsu tentang istrinya Siti Aisyah. Ali memaafkan orang yang meludahinya. Andai tidak ada hiruk-pikuk, kita tidak tahu tentang diri kita, berada diposisi manakah?

Hiruk-pikuk memang kejam. Menghancurkan karakter melalui ucapan, tulisan dan rekayasa peristiwa. Rasulullah saw pun mengalaminya, dengan tuduhan tukang sihir, ahli tenun hingga orang gila. Bila kita membalasnya dengan dorongan tercabiknya harga diri, tandanya masih ada egosentris. Namun bila alasannya agar kebenaran tidak direndahkan, itulah tindakan yang tepat. Sebelum bertindak timbanglah, ini soal diri atau pembelaan kebenaran?

Hiruk-pikuk pikuk ladang beragurmentasi, ladang berfikir mendalam, ladang mendapatkan sudut pandang, ladang mengkritisi dengan ilmu dan pemahaman. Jangan bergeser kepada kebencian, merendahkan dan dendam. Hiruk-pikuk itu ladang penempaan diri untuk tetap berakhlak mulia di tengah telinga dan hati yang mungkin sudah mulai memanas. Itulah jihad di tengah hiruk-pikuk yang keras.

Tegar Dengan Cita-cita Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Negri yang kehilangan prioritas. Sibuk dengan b...

Tegar Dengan Cita-cita

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Negri yang kehilangan prioritas. Sibuk dengan banyak hal yang tidak berkualitas. Fokus padahal yang tidak esensial. Menikmati permainan. Semua memenuhi ruang-ruang berita di negri ini. Wajar bila kita selalu tidak bisa membuat lompatan besar dalam membangun bangsa.

Muhammad Al Fatih, membuat lompatan sejarah karena mimpinya menaklukan Konstatinopel yang diberitakan oleh Rasulullah saw. Para Sahabat dan Tabiin membuat lompatan karena mimpinya menaklukan Romawi dan Persia. Semuanya membuat lompatan karena visi besarnya membangun peradaban rahmatan bagi semesta. Itu yang menciptakan lompatan sejarah.

Apa yang menyesakkan dada? Apa yang membuat kita resah? Itulah titik fokus kehidupan kita. Mimpi yang besar, membuat seluruh masalah menjadi kecil. Mimpi yang kecil, membuat masalah selalu menjadi besar. Membesarkan cita-cita akan menghantam  dan menatikan semua keresahan dan kesulitan dengan sendirinya. 

Mengapa orientasi hidup hanya Allah? Agar tak ada satu pun peristiwa dunia yang bisa menyusahkan hidup kita. Agar tak ada satu pun kejadian yang bisa meresahkan jiwa kita. Agar tak ada satu pun yang bisa menghambat laju hidup kita. Itulah pentingnya mimpi dan orientasi.

Mengapa para pahlawan mampu bertahan beban perjuangan yang berat? Bukan fisiknya yang kuat. Bukan tubuhnya yang kekar. Tetapi cita-citanya yang bisa melupakan dan menghancurkan seluruh sakitnya penderitaan dan kesulitan. Cita-cita menjadi penghibur dan pengobat segala perintang jalan.

Andai jiwa terlalu mudah bersedih. Andai jiwa terlalu mudah terpukul dengan keadaan, segera periksalah cita-cita dan orientasi hidup. Keduanya pasti terlalu rendah derajatnya. Keduanya terlalu hina untuk dijadikan target. Keduanya tak pantas untuk diprioritaskan.

Andai capaian hidup biasa saja. Segeralah memeriksa cita-citanya. Seberapa tinggi capaian hidup, tergantung dari tingginya cita-citanya. Capaian berbanding lurus dengan cita-cita.

Tanpa cita-cita, takkan ada kesibukan yang memberikan nilai kehidupan. Tanpa cita-cita, takkan bisa menciptakan energi kemauan. Tanpa cita-cita, hidup hanya tongkrongan obrolan semata.

Negri ini, negri tanpa cita-cita. Senang dengan obrolan di tongkrongan media sosial semata. Menyibukkan hal yang kecil. Mengabaikan hal esensial. Hanya mencari kepopuleran dari segala hal yang tidak berarti.

Menjadi Pemimpin atau Artis? Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Wajah rakyat, itulah wajah pemimpinnya. W...

Menjadi Pemimpin atau Artis?

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Wajah rakyat, itulah wajah pemimpinnya. Wajah pemimpin, itulah wajah rakyatnya. Darimana harus memulai? Bila melihat rukun wudhu, maka yang pertama dibersihkan adalah wajahnya, lalu tangannya. Maka perbaikan frontal dimulai dari perbaikan kepemimpinan, lalu aparatnya. Itulah perubahan besar sebuah masyarakat.

Kehancuran tatanan masyarakat dunia di Era Romawi dan Persia, dituntaskan dengan hadirnya pemimpin baru yaitu Rasulullah saw. Salah pengelolaan kekhalifahan Bani Ummayah dituntaskan dengan hadirnya Umar Bin Abdul Aziz. Konflik internal Ali-Aisyah-Muawiyah dituntaskan dengan hadirnya Hasan Bin Ali. Langkah terbaik dan tercepat sebuah perbaikan adalah pergantian kepemimpinan.

Hayam Wuruk hadir untuk menuntaskan kelemahan Majapahit di era sebelumnya. Raden Fatah lahir setelah perang Paregreg menghancurkan Majapahit pasca kematian Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pemimpin yang lemah akan melahirkan pemimpin yang kuat di periode berikutnya.

Pemimpin yang kuat bekerja dalam diam. Tak perlu tegar pesona. Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Utsman bin Affan mampu menuntas semua persoalan di belahan dunia dengan adil dan bijaksana hanya dari kota Madinah. Umar Bin Khatab membangun sistem pemerintahan, administrasi, birokrasi dan pemilihan kepala daerah yang sangat ketat. Umar Bin Khatab fokus membangun kebijakan, sistem, pengendalian dan manusianya. Itulah fokus kepemimpinan. Bukan membanggakan pembangunan untuk sebuah popularitas.

Allah sudah menghadiri presiden BJ Habibie untuk negri ini. Hanya dalam waktu 2 tahun, dia bisa membangun dasar pemerintah paling demokratis, menuntaskan krisi ekonomi yang memporakporanda negri. Allah sudah menghadiri Gus Dur, agar anak negri berbaur tanpa sekatan suku dan etnis. Begitulah tugas pemimpin, membangun jiwa bangsa, membangun jiwa anak negrilah yang diutamakan. Jangan sampai muncul pemimpin yang secara fisik terlihat luar biasa, tetapi menghancurkan jiwa anak bangsa dan pondasinya. Inilah kepemimpinan yang rapuh.

Umar bin Khatab bergerak dalam keheningan dan kegelapan malam. Seluruh penduduk tak ada yang mengetahui perjalanan Umar bin Khatab dari rumah ke rumah rakyatnya. Pagi harinya, persoalan mereka sudah dituntaskan oleh Umar Bin Khatab. Umar bergerak tanpa ekspose, pemberitaan yang massif, yang penting solusi selalu hadir cepat dan tepat. Itulah yang ditunggu oleh masyarakat. Mungkin kisah Umar akan tetap menjadi rahasia, seandainya para sahabatnya tidak menceritakan pasca kematiannya. 

Pemimpin selalu menyembunyikan kiprahnya, namun jelas solusinya. Pemimpin membuat keputusan dan kebijakan dari ruang-ruang kesunyian, keheningan dan ketentraman jiwa, hati dan pemikiran, namun menghadirkan kemanfaatan luar biasa bagi rakyatnya. Bila pemimpin hadir dalam riuh-rendah massa, hadir dalam gemuruh tepuk-tangan, gantilah menjadi artis jangan menjadi pemimpin.

Imam Syiah yang Mencintai dan Menghormati Seluruh Sahabat  Rasulullah saw Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Ha...

Imam Syiah yang Mencintai dan Menghormati Seluruh Sahabat  Rasulullah saw

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Membaca kitab Siyar Alam An-Nubala', karangan Imam Adz-Dzahabi, membaca biografi seluruh perjalanan Sahabat ra, Tabiin, At Tabiin dan Ulama Salaf. Membaca biografi mereka seakan mereka hadir sedanf beramal, berjihad, menuntut ilmu dan beribadah dihadapan kita. Itulah kekuatan sebuah biografi.

Imam Abu Hanifah pernah berkata membaca biografi orang sholeh lebih utama daripada membelajari ilmu yang hanya bermain di ranah akal dan pemikiran saja. Mungkin itu pula yang menyebabkan para ulama mengabadikan perjalanan manusia mulia. Mendidik dengan menghadirkan sosok bukan ilmu semata.

Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib atau dikenal juga sebagai Abu Ja'far Al Baqir. Diberi gelar Al Baqir berarti membedah ilmu hingga mengetahui sumbernya dan rahasianya. Kaum Syiah Al Imamiah menganggapnya sebagai salah satu Imam dua belas yang maksum dan mengetahui persoalan agama. Bagaimana pendapat beliau tentang para Sahabat Rasulullah saw?

Sebuah pepatah mengatakan, "Hanya orang terhormatlah yang mengetahui keutamaan orang yang mulia." Begitulah gambar singkat sosoknya. Abu Ja'far berkata, "Tempatkanlah Abu Bakar dan Umar itu sebagai pemimpin kaum muslimin dan jauhkanlah pemikiran untuk memusuhi keduanya, karena mereka berdua adalah pemimpin yang mendapatkan petunjuk."

Suatu hari seorang pengikut Syiah Rafidhah menemui Abu Ja'far yang sedang sakit, dihadapan pengikut Syiah, beliau berdoa, "Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku rela dan cinta kepada Abu Bakar dan Umar, seandainya di dalam diriku ada ucapan selain itu, maka jauhkanlah syafaat Nabi Muhammad dari diriku pada hari kiamat."

Suatu hari sesorang bertanya tentang menghiasi pedang, Abu Ja'far membolehkan karena Abu Bakar As Shidiq pun menghiasi pedangnya. Orang tersebut bertanya dengan keheranan, "Anda mengucapkan Ash Shidiq pada Abu Bakar?"

Abu Ja'far pun berkata, "Ya, Aku mengucapkan Ash Shiddiq. Barangsiapa yang tidak mau mengucapkan Ash Shiddiq, maka Allah tidak akan membenarkan perkataannya di dunia dan akhirat."

Begitulah pemahaman satu Imam Dua Belas yang dihormati oleh kaum Syiah terhadap para Sahabat Rasulullah saw. Bagaimana sekarang, bila tidak menghormati para Sahabat Rasulullah saw?

Budaya Daerah Bila ke luar kota, ada dua tempat yang dicoba untuk dikunjungi. Yaitu, kuliner dan Museum. Dari kuliner mencari in...



Budaya Daerah

Bila ke luar kota, ada dua tempat yang dicoba untuk dikunjungi. Yaitu, kuliner dan Museum. Dari kuliner mencari inspirasi produk. Dari Museum belajar sejarah dan budaya.

Tadi siang ke kabupaten Tenggarong, mengunjungi Museum Kutai Kertanegara.  Lalu ke  Desa Taman Budaya Dayak Paman.

Di Museum ku belajar tentang bagaimana masuknya beragam budaya ke Kalimantan. Dari pengaruh Budha, Jawa hingga Islam. Semua itu terlihat dari nama dan gelar para rajanya.

Ada keunikan yang kulihat. Hindu, Budha dan Islam masuk ke Nusantara tanpa menghabisi dan memperbudak penduduk asli. Namun mengapa Barat masuk ke sebuah negri dengan semangat memperbudak dan menghabisi penduduk asli ? 

Hubungan budaya Kalimantan Timur dengan Jawa terlihat dari gamelan dan pertunjukan Wayang yang masuk ke kesultanan Kutai,  juga senjata keris. Mengapa keris yang pendek menjadi senjata keagungan para sultan baik di Kalimantan dan Jawa ? Dimana letak kehebatan keris dibandingkan tombak dan pedang ? 

Saat ke Taman Budaya Dayak, terlihat sebuah perbedaan menyolok antara budaya yang mendapat pengaruh Islam dan tidak. Itu terlihat dengan membandingkan budaya di Kutai dengan Dayak.

Menjelajah beragam daerah, dengan mencatat beragam budaya bila diseriusi bisa berbuah karya seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Batutah. Mungkinkah ? 

Nasrulloh Baksolahar 

Belajar Keluarbiasaan dari Para Ulama Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Membaca buku 1.000 mukjizat Rasu...

Belajar Keluarbiasaan dari Para Ulama

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Membaca buku 1.000 mukjizat Rasulullah saw. Membaca buku karamah para Wali. Membaca beragam keajaiban dalam kehidupan ini. Dari mana sumber keluarbiasaan itu? Keluarbiasaan itu tak bisa dipelajari. Tak bisa diturunkan dan ditularkan, karena tergantung dari energi jiwa setiap manusia. Keluarbiasaan itu berasal dari interaksi hati, jiwa, pemikiran dengan Allah. Itulah kuncinya dari keluarbiasaan hidup.

Apakah nabi Ibrahim menduga api menjadi dingin? Apakah nabi Musa menduga laut akan terbelah? Apakah nabi Yunus menduga akan diselamatkan melalui ikan paus? Apakah Rasulullah saw menduga akan diberikan Al-Quran sebagai mukjizat terbesar dan terjaga di sepanjang masa? Para nabi tak ada yang tahu. Mereka hanya menyusuri jalan kebenaran, menyeru kepada Allah, mengikatkan hidupnya pada Allah dan menguatkan hidupnya pada Allah.

Membaca karamah para ulama. Sekali membaca langsung ingat seluruhnya. Imam Ahmad hafal 1.000.000 hadist. Imam Bukhari hafal 300.000 hadist dengan runutan perawinya dan kisah hidup para perawinya. Imam Syafii mampu membangun pondasi ilmu Ushul Fiqh yang menjadi acuan dalam menggali hukum syariah sesuai dengan realita dan zamannya. Dariman seluruh kekuatan itu? Bacalah biografinya, akan tahu bagaimana kekuatan hubungannya dengan Allah.

Bagaimana perjuangan rakyat Indonesia tetap hidup? Bagaimana bambu runcing bisa mengalahkan kekuatan sekutu? Bagaimana perang Jawa bisa menghancurkan VOC Belanda? Kekuatan apa yang ada didalamnya? Mari mengupas perjalanan Syekh Yusuf yang mengajarkan ilmu Tasawuf. Mari mengupas guru Pangeran Diponegoro yang mengajarkan Tasawuf. Mereka mulai membangkitkan kekuatannya melalui keyakinan pada Allah.

Imam Nawawi Al Bantani Jawai diusir dan dilarang mengajarkan ilmunya oleh Belanda di Nusantara. Akhirnya beliau bermukim di Mekkah. Mengajarkan para jamaah haji dan pemuda dari Indonesia untuk berjuang apa pun kondisinya. Begitu juga dengan Kiyai Al Khatib Al Minangkabaui. Mereka mengajarkan keyakinan pada Allah sebagai narasi perjuangan kemerdekaan.

Menurut Hamka, dalam bukunya Perkembangan dan Pemurnian Tasawuf, Jiwa yang diliputi interaksi dengan Allah menjadi tempat pulang orang yang telah payah berjalan. Menjadi tempat lari orang yang telah terdesak. Menjadi penguat pribadi yang lemah. Menjadi tempat berpijak yang teguh bagi orang yang kehilangan tempat berpijak. Seketika bangsa Indonesia terjajah 350 tahun, rakyat Indonesia kembali untuk kemurnian interaksinya dengan Allah.

Jika keduniaan sudah diborong semua oleh pihak musuh, maka umat mencari kebahagiaan di dalam perasaannya sendiri, dalam membina kebahagiaan jiwa sendiri. Tetapi apabila pemimpin bangsa Indonesia seperti Imam Bonjol, Cik Di Tiro, Diponegoro dan lain-lain hendak melawan kekuatan penjajah yang besar, maka dengan keyakinan pada Allahlah mereka memperkuat jiwanya. Keluarbiasaan selalu hadir dari keyakinan yang kuat pada Allah.

Dengan keyakinan pada Allah, Allah akan mengajari manusia dengan qalam-Nya, mengajari manusia apa yang manusia tidak diketahuinya. Jiwa besar terlahir dari mendekati Allah, memperoleh serpihan Nur Hidayah dari Allah. Jiwanya tak terkait oleh zaman dan tidak terkukung oleh tempat. Baginya terbuka rahasia dan hijab seluruh alam, berkah anugerah dan ijin Allah. Itulah energi terbesar dalam hidup ini. Itulah inti kehidupan ini; yaitu meyakini Allah.

Kiat Menulis Buya Hamka Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup, Buya Hamka m...

Kiat Menulis Buya Hamka

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup, Buya Hamka menceritakan bagaimana dia menjadi seorang penulis. Menurut Hamka, dia sendiri tidak memiliki teori ada sistem baku agar bisa menjadi seorang penulis. Kuncinya, dengan kekuatan membaca tulisan orang lain maka menimbulkan dorongan jiwa untuk turut menulis.

Yang perlu diingat, kata Hamka, kita bukan menjadi pak Turut. Setiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri-sendiri. Jangan pernah mengcopy paste gaya tulisan orang lain. Penulis yang berpendirian, mereka yang menempuh jalan sendiri.

Menurut Hamka, yang menelatarbelakangi menjadi penulis adalah Ayahnya. Di rumahnya banyak sekali kitab-kitab milik ayahnya yang berderet-deret di dinding. Tidak itu saja, daya kritisnya muncul karena seringnya berdiskusi dengan ayahnya. Banyak membaca dan sering berdiskusi, itulah langkah awal untuk menulis.

Hamka mulai menulis sejak usia 17 tahun dengan mengarang buku kecil yang berjudul Khatibul Ummah yang merupakan kumpulan  bahan pidato  kawan-kawanya. Mengingat saat itu baru Hamka yang menuliskannya, buku sederhana tersebut menjadi sangat populer di daerahnya.

Hamka sering membaca kembali tulisannya untuk memperbaiki, mengisi dan memperluas isi tulisannya sehingga bisa lebih bagus daripada tulisan sebelumnya.

Kegagalan menjadi penulis, menurut Hamka, karena sering mundur maju, ditakutkan oleh terlalu banyak teori. Merasa ilmu belum cukup, mesti lengkap syarat dan rukunya, mesti tahu ramasastra bahasa, mesti banyak penyelidikannya, baru menulis. Terlalu banyak teori justru menimbulkan ketakutan dan keraguan. Banyak temannya yang lebih pintar justru tidak berani untuk menulis.

Dalam menulis akan bertemu dengan kegagalan. Dalam menulis akan ditemukan angin baik dan buruk. Kadang inspirasi sangat luar biasa sehingga produktif menulis. Kadang sepi ide. Menurut Hamka, Ilhamlah kawan karib seorang penulis. Jika ilham tidak datang, ya sudahlah... Namun jangan berputus asa, keinginan menulis harus terus dibangkitkan.

Menulis harus memiliki prinsip. Penulisannya harus tepat, timbangannya mesti benar, adil dan berani. Karena tulisan akan mempengaruhi timbangan pemikiran masyarakat. Karena menulis hakikatnya mencurahkan pemikiran tertinggi kepada bangsanya dan dunianya. Menulis jangan lantaran perut dan kantong. Bila orientasinya seperti itu maka runtuhlah keistimewaan sebuah tulisan.

Bercita-cita tinggilah. Bermimpilah menjadi penulis seperti Tagore dari India, Iqbal dari Pakistan dan Mustafa Sadik Rifai dari Mesir. Kegagalan menjadi Penulis mesti bertemu. Kekecewaan pasti ada. Namun dengannya kita mengenal yang mana kesanggupan kita. Lalu Hamka menutup dengan, "Penulis harus mengatasi zamannya."


Naik Level Karyawan Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Berkubang, itulah fenomena kita. Asyik yang melena...

Naik Level Karyawan

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Berkubang, itulah fenomena kita. Asyik yang melenakan itulah rutinitas yang membentuk kita. Tak berani naik yang lebih tinggi, karena tak ingin berkeringat lebih. Menikmati apa yang ada, apakah itu bentuk syukur? Bukankah bentuk syukur itu akan ditambah kenikmatannya? Bila kenikmatan yang dirasakan selalu sama dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, berarti ada kesalahan konsep bersyukur kita.

Dari menganggur lalu menjadi karyawan, itu bentuk naik level. Namun disinilah kubangan itu dimulai. Kubangan yang berkutat pada jabatan dan naik jabatan. Seolah-olah keseluruhan hidup hanyalah menjadi karyawan.

Kita harus bisa mengkapitalisasi status karyawan kita. Apa pun level jabatannya, harus berubah menjadi asset atau sumber daya. Merubah jabatan menjadi asset masa depan. Jangan hanya berkutat pada jabatan untuk naik ke jabatan berikutnya. Apapun jabatan kita, semua hanya sebuah kubangan yang sama.

Apakah dengan posisi yang sekarang, ada institusi di luar yang menawarkan posisi bagus tanpa proses rekrutmen yang berbelit-belit? Apakah dengan posisi sekarang, ada yang menawarkan posisi freelance di sebuah perusahaan untuk menjadi konsultan? Ini sebuah intropeksi diri, sudah naik levelkah?

Orientasi bekerja harus dirubah. Status karyawan hanyalah sebuah media belajar mengelola bisnis. Harus ada pertumbuhan dari mengelola bisnis orang lain, mengarah pada mengelola bisnis sendiri. Jadi targetnya, status karyawan hanyalah sebuah training
center untuk mengelola bisnis sendiri. Itulah kenaikan levelnya.

Jadi perlu ada kesesuaian antara pekerjaan hari ini dengan target profesi kita di luar. Menjaga kesinambungan antara jabatan hari ini dengan bisnis yang akan kita kelola sendiri.

Bekerja di perusahaan ibarat pohon yang telah berbuah, dia akan mati seiring dengan naik-turunnya trend bisnis atau usia yang tak memenuhi syarat bekerja lagi. Saat pohon sudah berbuah, bangunlah gedung bisnis kita. Tak peduli dengan skalanya. Tak perlu malu berapa pun omsetnya. Karena targetnya kita sedang membuat pertumbuhan diri yang baru.

Bekerja hanya untuk menciptakan dan menambah kapasitas dan kompetensi diri. Bekerja hanyalah untuk membangun relasi untuk memasuki sebuah level baru sebagai pengusaha. Pondasi yang ada harus menaikkan ke level jenjang hidup yang baru.




Jalan Sempit, Pertemuan Dua Mobil?  Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mengendarai roda 4 di jalan yang s...

Jalan Sempit, Pertemuan Dua Mobil? 

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mengendarai roda 4 di jalan yang sempit, yang hanya bisa di lewati oleh satu mobil saja, sungguh sangat menakjubkan. Banyak pelajaran hidup yang bisa ditemukan. 

Saat ke pemandian air panas di Kawah Merah Gunung Pancar Sentul, kita akan melewati jalan yang sempit, berliku dan menanjak. Anehnya jarang di temukan mobil yang berpapasan. Anehnya, saat  berpapasan dengan mobil yang lainnya selalu ada celah di pinggir jalan, sehingga salah satu mobil bisa menyisi agar mobil yang lainnya bisa berjalan lebih dulu.

Saat saya di Purwokerto Banyumas menuju Cilacap, Google maps mengarahkan jalan ke sempit, melewati bukit di tengah malam. Jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil. Saat jalan berbelok ke kiri, ternyata ada mobil yang masuk ke jalan yang sama. Mobil tersebut, mundur lalu masuk ke perkarangan rumah orang lain. Akhirnya bisa saling bergantian melewati jalan tersebut.

Kejadian ini tidak hanya sekali, sering saya alami. Apakah ini sebuah kebetulan, atau ada yang mendesain? Bila sering terjadi, berarti ada yang mendesain sangat rapi semua perjalanan ini. Apa maknanya?

Allah yang mendesain. Allah tak pernah menubrukkan kendaraan di sebuah jalan sempit, kecuali bila kita berprilaku ugal-ugalan. Setiap mobil berpapasan di sebuah jalan sempit, pasti sudah disiapkan ruang kosong agar salah satu mobil menepi. Begitulah sebenarnya karakter kehidupan.

Permasalahannya, apakah salah satu pengendara mau mundur atau menepi? Apakah setiap pengendara  saling ngotot, tidak mau menepi? Apakah menepi bertanda kelemahan diri? Bila orientasinya solusi, maka jalan menepi akan ditemukan. Bila hanya ego diri, yang terjadi pertengkaran dan tidak ada yang bisa melewati jalan tersebut. Pilih yang mana? 

Perjalanan sungguh  mengasyikan. Kecelakaan terjadi hanya bila pengendaranya berprilaku ugal-ugalan. Namun bila mengendarai dengan ketentraman dan mentaati rambu, kecelakaan bisa dihindari. Begitulah hidup yang sebenarnya. Jiwa yang ugal-ugalan, itulah inti persoalan sebuah perjalanan.




Kucing, Mengajarkan Moralitas Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Sembilan hari meninggalkan rumah. Tiba d...

Kucing, Mengajarkan Moralitas

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Sembilan hari meninggalkan rumah. Tiba di rumah disambut oleh 3 kucing yang terbiasa tinggal di rumah saya. Sang kucing menggeong kemana saya pergi. Mungkin mereka kelaparan selama ditinggalkan.

Melihat prilaku kucing, jadi ingat prilaku manusia. Kucing terus mengeong saat kelaparan. Saat kenyang, dia fokus membersihkan bulu-bulunya. Bagaimana dengan manusia?

Manusia sering merintih dan meminta di saat perlu. Sering berdoa dan bermunajat pada Allah di setiap waktu. Saat terpenuhi, apakah manusia diam? Bagi yang rakus, terus saja meminta tambahan baik, dengan cara halal maupun haram. Terpenuhi permintaan, tak berarti bisa memenuhi dan memuaskan kebutuhan nafsunya.

Waktu terbanyak bagi kucing adalah membersihkan dirinya. Membersihkan bulunya dengan lidahnya. Di saat sakit, kucing tidak memperdulikan bulunya. Dibiarkan bulunya tak terurus.

Apa waktu terbesar manusia? Mereka yang sehat jiwanya, terfokus memperbaiki jiwa dan pemikiran. Terus berkaca tentang jiwanya. Terus melakukan introspeksi dan membersihkan dirinya. Jarang sekali memikirkan keburukan orang lain, apalagi mencela dan dengki. Fokusnya, pada keburukan dirinya.

Jiwa yang sakit, tak pernah mengurusi jiwanya. Tak pernah kebersihan jiwanya. Tak peduli dengan keburukan jiwanya. Fokusnya pada kemalangan, kesulitan dan penderitaan. Fokusnya pada memikirkan apa yang ada dan dimiliki oleh orang lain.

Kucing yang diberi makanan oleh tuanya cendrung setia. Namun mengapa manusia yang hidupnya dijamin dan dipelihara Allah, selalu membangkang pada Allah? Selalu tidak mentaati perintah-Nya?  Bahkan segala yang berbau Syariah dilarang dan dianggap anti kebhinekaan.

Dari seekor kucing, kehadiran kucing di rumah ternyata mengajarkan banyak hal tentang interaksi dengan Allah.

Berkisah di Era Milenium Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Mampir ke Bandung dari Jogyakarta . Bertemu ...

Berkisah di Era Milenium

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Mampir ke Bandung dari Jogyakarta . Bertemu dengan keponakan yang usianya sekitar 7 tahun. Dia sudah menunggunya, ingin diceritakan tentang sejarah Indonesia. Ku ceritakan tentang pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol. Agar lebih menarik, disiapkan Atlas Indonesia dan google search  engine untuk mencari gambar yang berhubungan dengan Diponegoro dan Imam Bonjol.

Ini era milenial. Bagaimana membangun ketertarikan anak kecil  pada sejarah? Fitrah anak ingin mendengarkan cerita. Daya jangkau fisiknya terbatas tapi imajinasi dan keingintahuan tak ada yang bisa membatasinya. Itulah yang membuat bercerita bagian pendidikan yang berlaku sepanjang masa. Kadang sebuah cerita terbawa ke alam mimpi sang anak. Jangan pernah melewatkan masa kecil anak tanpa cerita dari orangtuanya. Inilah momentum dasar menanam ketertarikannya pada alam, lingkungan dan ilmu.

Saat bercerita sosoknya, apakah sudah ada di pecahan uang rupiah? Bila ada gunakan pecahan uang rupiah. Lebih berkesan bukan? Saat bercerita tempat kelahirannya, ambilah peta atau  google maps. Saat bercerita perjalanan keilmuan dan perjuangannya. Gunakan google maps. Visual tempat kelahiran dan perjalanan para pahlawan menjadi lebih tergambar dengan sempurna. Baik pulau, propinsi, kota maupun daerahnya.

Bila filemnya sudah beredar. Gunakan Youtube. Cari potongan filemnya. Sarana visual dan audio harus dioptimalkan secara maksimal. Era Ini, lebih mudah mengajarkan anak pada sejarah. Saat pangeran Diponegoro menyusun kekuatan di Goa Secang di bukit Selarong, tinggal unduh gambarnya. Saat Diponegoro di penjara di Benteng Rotterdam Makassar, tinggal diunduh gambarnya di google.

Mengajarkan sejarah harus mengasah keingintahuan. Buat pertanyaan yang tak terduga. Seperti mengapa Diponegoro dan Imam Bonjol berpakaian putih? Mengapa mereka diasingkan ke Manado? Mengapa kapal yang membawa mereka singgah dulu ke Ambon? Apa pun jawabannya harus diterima dan didukung. Kita tidak sedang melatih jawaban benar-salah, tetapi sedang merangsang daya pikir, daya kritis dan keberanian mengungkapkan pikirannya.

Ungkap juga kisah masa kecil para pahlawan. Seperti, hobinya, kebiasaannya, liku-liku masa kecilnya agar sejak kecil sudah memiliki identitas diri untuk membentuk jati dirinya. Kisah Diponegoro cukup komplit untuk diceritakan masa kecilnya. Karena saat bayi Diponegoro dibawa ke Sultan Jogyakarta, sang Sultan sudah melihat tanda kebesaran dan kepahlawanan Diponegoro dari ramalan Jayabaya. Begitu pula masa kecil Diponegoro yang berada di luar Istana. Hidup bersama masyarakat biasa. Merasakan penderitaan dan kepedihan, juga belajar dengan para kiyai sebagai Santri.

Lebih seru lagi, buatlah drama peperangan Diponegoro bersama anak. Bagaimana berkelahinya. Bagaimana menunggang kudanya. Bagaimana meneriakan takbirnya. Lakukan bersama anak, seolah sang anak ikut hadir dalam perang Sabil  tanah Jawa. Tentu saja suasana rumah akan lebih hidup dibandingkan hanya menonton televisi di rumah.

Di akhir cerita, saya ungkap cerita masuknya Islam di Indonesia sebelum peperangan Diponegoro melalui perdagangan. Saat saya pulang, saya beri keponakan beberapa rupiah dengan penegasan bahwa uang itu bukan untuk jajan atau ditabung tetapi sebagai modal untuk berdagang. Mengajarkan sejarah sambil mempraktekkannya. Sang keponakan tidak saja diajarkan kebijaksanaan sejarah tetapi juga menjadi pengusaha. Begitulah cara memadukan kemilenialan dengan cerita sejarah pada anak kecil.

Perjuangan, Tak Pernah Terputus Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Perjuangan selalu bersambung, yakinla...

Perjuangan, Tak Pernah Terputus

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Perjuangan selalu bersambung, yakinlah. Itulah hukum kesinambungan sejarah. Ajaran tauhid dimulai dari nabi Adam, ditutup oleh nabi Muhammad. Berhentikah? Selalu akan hadir generasi baru. Yang terus menyebar ke setiap penjuru.

Saat perjuangan seakan terhenti. Sesungguhnya Allah sedang melahirkan generasi baru yang tak terduga. Saat Imam Abu Hanifah wafat, di waktu itu pula lahirlah Imam Syafii. Kadang generasi itu lahir dari didikan kita sendiri. Kadang lahir dari tempat yang tak terduga.

Bagaimana perjuangan Raden Fatah sultan Demak, kemudian berlanjut ke Sultan Agung dari Mataram? Bagaimana perjuangan Sultan Hasanuddin terhenti di Makasar, lalu muncul perjuangan baru di Banten dan Trunojoyo di Madura?  Begitulah, walau mereka tak pernah bertemu, namun mengapa memiliki langkah yang sama? Bertemu dalam ruang pemikiran. Bertemu dalam ruang jiwa. Kadang mereka meninggal buku-buku. Kadang mereka hanya meninggalkan kisah-kisah perjuangan yang terus dikisahkan dari generasi ke generasi. Seperti itulah pertemuan mereka.

Imam Syafii tidak pernah bertemu dengan imam Abu Hanifah. Namun Imam Syafii bertanya dengan gurunya Imam Malik tentang kiprah  imam Abu Hanifah. Imam Syafii tidak hanya belajar keilmuan Abu Hanifah tetapi juga biografinya dari imam Malik.  Belajar harus memadukan pemahaman terhadap ilmunya ulama tetapi juga biografinya. Belajar pemikiran dari ilmunya. Belajar jiwa dan akhlak dari biografinya. Untuk itulah mengapa Imam Jauzy merangkum biografi para ulama dalam kitabnya Syair Alam An Nubula,Tadzkirah Huffazah. Begitu pula dengan beragam karya Imam At Thabari, Khatib Al Baghdadi dan imam Adzahabi.

Saat pangeran Diponegoro kalah dalam perang Sabil di Jawa. Apakah ada generasi baru yang bermunculan?  Di 1930, saat Diponegoro ditangkap, di Banten seorang pemuda berusia 20 tahun pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu . Dari tangannya lahir KH Muhammad Khalil Bangkalan yang kemudian melahirkan KH Hasyim Ashari dan KH Ahmad Dahlan. Sang pemuda ini bernama Syekh Nawawi Al Bantani Jawai. Di saat Kiyai Mojo dan Kiyai Sentot ditangkap dan diasingkan. Telah disiapkan generasi yang memiliki cara berbeda dalam berjuang untuk negrinya.

Di saat Diponegoro memulai perang Jawa. Sejarah melahirkan Muhamad Khalil Bangkalan yang kelak menjadi kakek guru Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah. Yang menggerakkan dan mengorganisir masyarakat untuk bergerak secara pendidikan dan perjuangan senjata melawan penjajah.

Saat seluruh kekuasaan struktural digenggam Belanda, bermunculan semangat perlawanan dari sela-sela pesantren, pendidikan non formal, balik mushalah dan masjid. Dalam setiap perjuangan, selalu ada celah-celah sejarah. Dalam setiap perjalanan sejarah, selalu ada intervensi sejarah untuk menahan laju penurunan dan mendongkrak kenaikan. Intervensi sejarah kadang dilakukan oleh mereka yang sudah berkiprah. Namun terkadang berasal dari generasi baru yang tidak terduga.

Begitulah perjalanan perjuangan. Perjuangan membutuhkan energi dan semangat lintas generasi. Perjuangan membutuhkan tanggungjawab setiap generasi. Perjuangan membutuhkan sumbangsih setiap generasi. Setiap generasi memilik peran untuk mengisi ruang kosong yang belum ditunaikan oleh generasi sebelumnya.




Filosofi Kesuksesan Dari Alam Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Awal dan Akhir, itulah kefanaan hidup. A...

Filosofi Kesuksesan Dari Alam

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Awal dan Akhir, itulah kefanaan hidup. Awal, menembus permukaan tanah yang keras. Awal, sangat rentan. Awal, menembus tempurung dan biji-bijian yang keras. Awal itu memang sebuah  perjuangan yang keras.

Awal itu menembus kegelapan rahim. Tak tahu ada cahaya. Yang dilakukan hanya menembus rentang kegelapan untuk mendapatkan cahaya.  Benih yang lemah menembus permukaan tanah dan biji yang keras. Bagaimana cara menembus yang keras di tengah kelemahan?  Yang pasti setiap yang keras, dapat ditaklukan dengan kelembutan.

Air yang lembut, mampu menembus bebatuan dan perkapuran. Dia tidak melawan, tetapi memanfaatkan lorong dan celah yang sempit. Menaklukan tak harus memiliki kekuatan yang sama atau lebih besar. Menaklukan tak harus melakukan cara yang sama dengan yang dilakukan mereka.

Api ditaklukan dengan air. Air ditaklukan dengan angin. Angin ditaklukan dengan gunung. Untuk menaklukan, hanya membutuhkan pemahaman terhadap karakternya. Menaklukan dengan memanfaatkan karakternya dengan karakter yang berbeda. Itulah yang dilakukan Snouck Hurgronje untuk meredam total jihad umat Islam di Indonesia. Menaklukan hanya butuh cara yang berbeda.

Segala sesuatu memiliki keterpaduan. Dalam kekuatan ada kelemahan. Setiap kekuatan memiliki kelemahan. Setiap kekuatan memiliki umurnya. Tak ada kekuatan yang abadi. Semua kekuatan akan hancur pada waktunya. Jadi tak ada kekuatan yang tak bisa ditaklukan.

Setiap benih baru selalu memiliki peluang untuk melampui pohon-pohon yang sudah besar dan berbuah. Setiap benih baru memiliki kesempatan untuk besar seperti pohon yang sudah ada. Setiap pohon yang besar dan berbuah akan redup dan mati ditelan usia. Hukum kehidupan inilah yang membuat keoptimisan setiap benih yang baru tumbuh.

Setiap pohon itu akan tua, menguning dan mati. Ada pohon yang cepat memanen, umurnya pun akan pendek. Ada pohon yang lama memanennya, usianya pun akan panjang melampaui umur petaninya. Segala yang serba cepat, biasanya mudah hancur dan tenggelam karena tak menyiapkan akar yang menghujam, batang dan dahan yang kokoh. Yang bisa kita lakukan adalah menghambat datangnya kelemahan, memperpanjang usia kekuatan namun tak bisa menghentikan tua dan keterpurukan.

Setiap petani selalu menanam benih baru agar panenya tak pernah berhenti setiap musim. Sebelum pohon yang sedang berbuah mati, dia sudah menanam benih baru untuk menggantikan pohon yang akan mati. Begitulah cara menjaga panen yang terus terjaga di sepanjang waktu.

Setiap pohon menciptakan buah yang sangat banyak. Agar buahnya menjadi bibit dan benih yang baru. Seharusnya dari waktu ke waktu sumberdaya terus berkembang dan tumbuh, tidak ada yang habis dan hilang.

Pohon, buah, benih dan petani. Sebuah filosofi memulai dan melanggengkan sebuah kesuksesan hidup.

Hidup, Menciptakan Nilai Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Yang dikenang? Siapakah? Apakah? Apakah pemen...

Hidup, Menciptakan Nilai

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Yang dikenang? Siapakah? Apakah? Apakah pemenang selalu yang dikenang? Mengapa dikenang? Mereka yang memilik jejak kehidupanlah yang selalu dikenang. Jejak seperti apa? Dikenang bukanlah sebuah tujuan. Kadang Allah menyembunyikan untuk menjaga kebaikannya, baik itu keburukan atau kebaikannya. Agar yang baik, dilipatgandakan pahalanya. Agar yang buruk, tidak menambah keburukannya.

Apakah para pecundang akan selalu dilupakan? Apakah yang kalah akan selalu dipetieskan? Kenangan sejarah tidak berbicara tentang menang-kalah, tak berbicara siapa yang paling tinggi jabatan dan kejayaan. Kenangan sejarah selalu berbicara tentang nilai kehidupan. Apakah jejak karya mampu membangun peradaban? Mampu menginspirasi kesinambungan nilai kehidupan melintasi generasi? Keabadian kenangan tergantung seberapa jauh dan lama efek jejak nilai kehidupan yang dibangun. Seberapa lama dan dalam mempengaruhi jiwa, pemikiran, hati dan perasaan dalam memandang diri dan kehidupan.

Mari melihat buku 100 orang yang berpengaruh di dunia? Apakah hanya berisi para pemenang? Apakah melupakan para pecundang? Kemenangan yang mempengaruhi pemikiran banyak orang. Kekalahan yang membimbing banyak orang untuk membangun peradaban baru. Mengapa masih memunculkan Napoleon Bonaparte? Bukankah dia mengalami kekalahan di akhirnya?

Mengapa sejarah Indonesia tetap mencatat Sultan Hasanuddin, Sultan Ageng Tritayasa, Syekh Yusuf, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol yang dikalahkan Belanda? Kekalahan yang membangkitkan semangat untuk berjuang dan membangun. Kekalahan yang menciptakan kebangkitan orang yang tertidur. Sejarah tetap mencatat kemenangan dan kekalahan, bukan untuk menyombongkan dan merendahkan tetapi membangkitkan dan membangun jiwa peradaban manusia.

Apakah pemenang akan selalu dikenang? Kadang kemenangan tidak menghasilkan senyuman tetapi pil pahit bagi sebuah negri. Berapa banyak para pemenang bersama Belanda yang hilang dari peredaran. Kemenangan justru melumpuhkan dan menghancurkan. Seperti kemenangan Sultan Haji, Amangkurat 1-2, Aru Palaka dan Kapten Yonker dari Maluku. Jangan berfikir menang-kalah dan pemenang-pecundang, tapi apakah kemenangan dan kekalahan akan memberikan nilai positif bagi kehidupan dan peradaban?

Mengapa perang Uhud dan Hunain diabadikan dalam Al Qur'an? Padahal hampir memusnahkan kaum muslimin? Mengapa kisah Ashabul Ukhdud diabadikan dalam Al Quran? Padahal memusnahkan semua orang beriman yang ada dinegri tersebut? Yang diabadikan sejarah bukan lagi menang dan jaya, tetapi nilai kehidupan yang ingin terus terjaga dalam jiwa manusia.

Mengapa Nabi Zakaria terus dicatat sejarah? Padahal wafatnya digregaji oleh penguasa? Mengapa turunya Nabi Adam dari Surga tetap tercatat? Mengapa Allah tidak membuat perjalanan nabi Adam yang tetap di Surga?

Takdir manusia adalah sebuah perjalanan karya. Menang-kalah, sukses-gagal, pemenang-pecundang tak perlu dipersoalkan. Namun apakah semua ikhtiar karya  memberikan nilai bagi kehidupan?

Hancur Di Tangan Anak Negri Sendiri Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ternyata bangsa ini dijajah melalu...

Hancur Di Tangan Anak Negri Sendiri

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ternyata bangsa ini dijajah melalui tangan anak bangsanya  sendiri. Saat Sultan Hasanuddin Makassar ditaklukan oleh Belanda. Belanda dengan kekuatan 600 pasukan hanya berdiri di tepian pantai sambil menyaksikan Sultan Hasanuddin berperang dengan Aru Palaka.

Saat Belanda menaklukan pangeran Diponegoro, ada bangsawan Madura dan sekitar Jogyakarta membantu Belanda. Bahkan  panglima perang Belanda salah satunya putra Jawa yang diberi gelar Raden Cokronegoro yang kelak menjadi bupati Purworejo.

Pangeran Diponegoro membuat tulisan Babad Diponegoro, sedang Cokronegoro membuat tulisan babad tersendiri. Mereka berdua bukan hanya bertarung di medan laga tetapi juga melalui tulisan-tulisan tentang perang Jawa menurut persepsinya sendiri. Pertarungan senjata tak lepas dari pertarungan pemikiran melalui tulisan

Mataram hancur bukan oleh Belanda sendiri tetapi ditopang oleh anak-anak Sultan Agung sendiri. Menggadaikan  negri demi kenyamanan, keselamatan, dan kesinambungan tahta. Mereka tak memiliki jiwa perjuangan seperti Ayahnya. Mengapa Sultan Agung tidak bisa melahirkan sultan Agung yang baru? Mengapa baru beberapa generasi melahirkan seorang pangeran Diponegoro?

Sebuah negri hancur bukan melalui tangan orang lain bukan tangan asing, tetapi melalui tangan kita sendiri. Yang selalu memandang asing sebagai biang kehancuran bertanda tidak mau menelisik dirinya sendiri. Penyakit tubuh bukan karena kekuatan luar tubuh, tetapi antibodi yang lemah. Pertahanan terbaik adalah membangun diri.

Abdurahman Ad-Dakhil, mengalami kegagalan saat ingin melakukan penetrasi ke Eropa. Ternyata biang kekalahan bukan hebatnya Eropa. Tetapi lemahnya internal. Lalu dia membangun pendidikan, ekonomi, menghilangkan semua kezaliman pemerintah terhadap rakyatnya. Setelah kurun waktu tertentu, penyerbuan ke Eropa dilakukan, sebagian Eropa pun takluk.

Bangun rasa gentar musuh dengan membangun diri kita sendiri. Buat keajaiban kemakmuran dan kesejahteraan. Bangun ikatan hati dan persatuan. Dengan ini Musuh sudah gentar dengan aura kita. Pertikaian hanya menghabiskan energi dan kekuatan. Seperti pepatah, kalah jadi debu, menang jadi arang.

Bacalah perjuangan negri ini, setiap kekalahan oleh Belanda selalu dimulai dengan pergulatan internal yang keras. Musuh menguasai tanpa berjerih payah. Cukup memanfaatkan kekuatan kita untuk menghancurkan diri kita sendiri.

Sultan Ageng Tritayasa kalah dari Belanda bukan karena kehebatan Belanda tetapi topangan kekuatan Anaknya, Aru Palaka dari Makassar dan seorang Kapten dari tanah Maluku. Setelah itu baru kekuatan Kompeni Belanda. Mengapa terhadap asing kita lebih bersahabat dibandingkan dengan sesama  anak negri? Mengapa bila ditopang asing kita merasa lebih hebat dan berwibawa? Mengapa kekuatan asing hanya digunakan untuk menghancurkan negri sendiri?

Kita begitu heroik bertarung dengan bangsa sendiri. Namun rendah diri dihadapan bangsa asing yang ingin menghancurkan bangsa kita sendiri. Itukah yang terjadi pula saat ini?

Konsisten Hingga Akhir Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Konsisten membuahkan kemukjizatan. Konsistensi,...

Konsisten Hingga Akhir

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Konsisten membuahkan kemukjizatan. Konsistensi, membuat amal yang tak dikerjakan karena darurat, tetap tercatat seperti sedang dikerjakan. Bila terbiasa bertahajud saat sehat, maka bila sakit tak mengerjakan tahajud tetap tercatat sebagai seolah-olah sedang bertahajud. Konsistensi meraih kebaikan tanpa dikerjakan.

Konsistensi membentuk kebiasaan, karakter dan akhlak. Konsistensi menciptakan gerakan refleks sebuah perbuatan. Konsistensi menciptakan brand image kepribadian. Apa yang dikenang tentang dirimu, itulah yang konsisten ditampilkan oleh dirimu sendiri.

Karya Besar lahir dari sebuah konsistensi. Abu Bakar Asshidiq, selalu membenarkan Rasulullah saw. Umar Bin Khatab Al Faruq, selalu tegas terhadap kemungkaran. Imam Al-Bukhari menghabiskan seluruh hidup untuk meneliti hadist. Lampu pijar, lahir dari ribuan percobaan. Apa yang sudah dikonsistenkan hingga hari ini? Apa yang akan dikonsistenkan hingga hari esok? Itulah karya terbesar yang akan tercipta. Satu konsistensi lebih berguna daripada ide brilian yang berubah-ubah.

Konsistensi tanda kestabilan emosi, pemikiran dan suasana jiwa. Konsistensi bertanda ada titik fokus dan arah kehidupan. Konsistensi bertanda keteguhan dan ketegaran terhadap aral rintangan yang menghadang. Konsistensi tanda ketidakjemuan. Mereka yang berjiwa labil, selalu berkelok-kelok mengikuti arah angin dan suasana emosi jiwa. Apa yang bisa dihasilkan dari sebuah ketidakstabilan? Negri yang tidak stabil hanya membuahkan huru-hara dan keributan saja.

Konsistensi buah dari kelongaran, hiburan,  disiplin dan keteguhan. Tanpa kelonggaran dan hiburan, jiwa ditimpa kebosanan. Jiwa butuh rileksasi untuk mengambil energi.  Jiwa butuh disiplin untuk fokus pada tujuan. Hanya disiplin saja, jiwa menjadi kaku dan keras. Hanya hiburan saja, jiwa terjatuh pada keterlenaan. Konsistensi hasil rumusan dan ramuan keseimbangan beragama karakter yang bertolak belakang.

Menjaga konsistensi sangat berat. Perintah beristiqamah membuat rambut Rasulullah saw beruban putih. Surga atau neraka terlihat di akhirnya, saat maut menjemput. Kondisi akhir hayat manusia merupakan perjuangan menempuh hingga titik akhir. Akhir yang baik, buah menjaga konsisten kebaikan. Akhir yang buruk, buah jiwa yang terombang-ambing antara hawa nafsu dan fitrah. Berkacalah pada perjalanan hidup Harun Yahya yang tak bisa menjaga konsistensi intelektualnya. Berkacalah pada pengusaha dan pejabat yang hancur di hari tuanya.

Ada guru Imam Bukhari yang akhirnya memusuhi sang Imam. Ada sahabat Rasulullah saw yang murtad di Habasyah. Ada yang dulunya ulama, kemudian menjadi penguasa yang kejam. Ini cermin beratnya konsistensi dan keistiqamahan. Untuk itulah nabi Yusuf berdoa agar dimatikan dalam kondisi orang yang berbakti. Untuk itulah kaum muslimin berdoa agar mati dalam berserah diri kepada Allah. Hidup yang tetap konsistensi dalam pergolakan yang tak menentu, itulah pembuktian jati diri manusia.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (197) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (193) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)