Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan Kitab-kitab Suci kepada manusia?
Jika direnungkan, tujuan pokok dari seluruh risalah para Nabi dan Rasul dapat dirangkum dalam dua perkara besar.
Pertama, mengenalkan manusia kepada Tuhan yang sebenarnya.
Manusia diberi tahu bahwa Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia.
Kedua, memberitahukan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti di dunia.
Setelah kehidupan dunia yang terbatas ini berakhir, manusia akan dihidupkan kembali untuk memasuki kehidupan kedua, yaitu kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Di sana setiap manusia akan menerima balasan atas apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sedangkan keburukan akan mendapatkan balasan yang sesuai.
Lalu, bagaimana kedudukan iman kepada akhirat dalam ajaran Islam?
Islam mengajarkan enam pokok keimanan yang dikenal sebagai Rukun Iman: iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.
Namun, jika kita memperhatikan Al-Qur'an dan hadis, ada dua perkara yang sangat sering dipertemukan: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir.
Mengapa keduanya begitu sering disebut bersamaan?
Karena iman kepada Allah menentukan kepada siapa manusia harus menghambakan diri, sedangkan iman kepada hari akhir menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya. Keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah seharusnya membentuk perilaku manusia sejak sekarang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ.»
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
Perhatikan hubungan yang sangat erat itu.
Iman kepada Allah dan hari akhir tidak berhenti sebagai keyakinan di dalam hati. Ia harus tampak dalam cara kita memperlakukan tetangga, menghormati tamu, menjaga lisan, dan mengendalikan perilaku.
Dengan demikian, iman kepada akhirat seharusnya mengubah cara kita memandang kehidupan dunia.
Dunia atau Akhirat?
Mengapa manusia sering begitu bersungguh-sungguh mengejar dunia?
Kita bekerja keras untuk mendapatkan harta. Kita berusaha membangun rumah yang nyaman. Kita memikirkan masa depan, kesehatan, pendidikan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan lainnya.
Semua itu tidak salah. Namun, pernahkah kita memberikan perhatian yang sama—bahkan lebih besar—kepada kehidupan yang akan berlangsung setelah kematian?
Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini sangat terbatas jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Allah berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 32:
«“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memikirkannya?”»
Ayat ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan berpikir.
Apa sebenarnya ukuran keberhasilan hidup kita?
Apakah seseorang benar-benar beruntung jika ia memperoleh kesenangan dunia, tetapi kehilangan kebahagiaan akhirat?
Sebaliknya, apa arti kesulitan dunia jika pada akhirnya seseorang memperoleh keselamatan dan kebahagiaan yang kekal?
Di sinilah iman kepada akhirat memberikan perspektif yang berbeda terhadap kehidupan.
Setetes Air di Lautan
Rasulullah ﷺ memberikan sebuah perumpamaan yang sangat kuat untuk menggambarkan perbandingan dunia dan akhirat.
Kehidupan dunia dan kehidupan akhirat ibarat seseorang yang berjalan menuju laut, lalu memasukkan satu jarinya ke dalam air. Ketika jari itu diangkat, air yang melekat pada jarinya itulah gambaran kehidupan dunia, sedangkan lautan yang sangat luas adalah gambaran kehidupan akhirat.
Bayangkan perbandingan itu.
Setetes air di jari dibandingkan dengan luasnya lautan.
Begitulah kecilnya kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Umumnya manusia hidup hanya dalam rentang puluhan tahun. Enam puluh atau tujuh puluh tahun terasa panjang ketika kita menjalaninya. Tetapi ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal, rentang waktu tersebut menjadi sangat singkat.
Bahkan seandainya kehidupan dunia berlangsung jauh lebih lama dari kehidupan manusia pada umumnya, tetap saja ia merupakan kehidupan yang terbatas.
Sedangkan kehidupan akhirat tidak demikian.
Ia adalah kehidupan yang tidak berakhir.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:
“Bagaimana saya bisa hidup nyaman di dunia?”
Tetapi juga:
“Bagaimana saya mempersiapkan kehidupan yang tidak akan pernah berakhir?”
Jangan Sampai Menyesal
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya memperoleh berbagai kesenangan dunia. Ia memiliki harta, kedudukan, rumah yang bagus, dan berbagai kenikmatan.
Namun, ketika kehidupan dunia berakhir, ternyata ia tidak memiliki bekal untuk akhirat.
Apa yang terjadi?
Ia akan menghadapi penyesalan yang tidak mungkin diperbaiki lagi.
Allah menggambarkan penyesalan orang-orang yang mendustakan kehidupan akhirat dalam Surah Al-An'am ayat 27–29. Ketika mereka berada di hadapan neraka, mereka berkata dengan penuh penyesalan:
«“Alangkah baiknya sekiranya kami dikembalikan ke dunia, kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami dan kami akan menjadi orang-orang yang beriman.”»
Tetapi penyesalan itu tidak berhenti di sana.
Allah menjelaskan bahwa seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali melakukan apa yang dahulu mereka lakukan. Mereka tetap akan kembali kepada kekafiran dan kemaksiatan.
Kemudian mereka berkata:
«“Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.”»
Inilah gambaran manusia yang baru menyadari kebenaran setelah kesempatan untuk memperbaiki diri telah berakhir.
Di dunia, manusia masih memiliki kesempatan. Di akhirat, kesempatan itu telah selesai.
Mengapa Para Nabi Mengingatkan Akhirat?
Jika demikian, kita dapat memahami mengapa persoalan akhirat menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan para Nabi dan Rasul.
Mereka tidak sekadar mengajak manusia melakukan ritual ibadah.
Mereka mengajak manusia mengenal Allah, menyembah-Nya, menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.
Mereka mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara.
Mereka menyeru manusia agar tidak menukar kehidupan yang kekal dengan kesenangan yang sesaat.
Dan mereka memperingatkan manusia agar jangan sampai mengalami penyesalan ketika seluruh kesempatan telah tertutup.
Pertanyaan untuk Kita
Sekarang mari kita bertanya kepada diri sendiri.
Jika kita benar-benar yakin bahwa kehidupan akhirat itu kekal, apakah cara kita menjalani hidup hari ini sudah mencerminkan keyakinan tersebut?
Ketika kita memilih antara kejujuran dan keuntungan sesaat, apakah kita mengingat akhirat?
Ketika kita hendak menyakiti seseorang dengan lisan, apakah kita mengingat bahwa setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan?
Ketika tidak ada seorang pun yang melihat perbuatan kita, apakah kita tetap ingat bahwa Allah melihat?
Dan ketika dunia menawarkan sesuatu yang menggiurkan tetapi harus dibayar dengan mengorbankan iman dan ketaatan, mana yang kita pilih?
Di sinilah iman kepada akhirat menjadi nyata.
Iman kepada akhirat bukan sekadar percaya bahwa kehidupan setelah kematian itu ada. Iman kepada akhirat adalah kesadaran bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sekarang akan menentukan kehidupan yang kekal nanti.
Maka, jangan sampai kita menjadi orang yang sangat serius mempersiapkan kehidupan dunia yang hanya sementara, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan akhirat yang tidak berakhir.
Para Nabi dan Rasul telah mengingatkan manusia tentangnya. Kitab-kitab Allah telah menerangkannya. Al-Qur'an terus mengingatkan kita tentangnya.
Kini pertanyaannya kembali kepada kita:
Apakah kita akan mendengarkan peringatan itu sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna?
Selama kita masih hidup, pintu untuk memperbaiki diri masih terbuka.
Selama napas masih berembus, kita masih dapat memperbanyak iman, memperbaiki amal, meninggalkan keburukan, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya.
Dunia adalah tempat beramal. Akhirat adalah tempat menerima balasan.
Karena itu, jangan sampai kita memenangkan kehidupan yang sementara, tetapi kehilangan kehidupan yang kekal.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif