basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Akhirat

Postingan Popular Pekan ini

Tampilkan postingan dengan label Akhirat. Tampilkan semua postingan

HIDUP DAN MATI Ketahuilah bahwa MATI itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad. Jasad yang terdiri dari...

HIDUP DAN MATI

Ketahuilah bahwa MATI itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad.

Jasad yang terdiri dari tulang, daging, darah, urat-urat, kulit bulu dan kuku setelah ditinggalkan oleh roh, tidak lama kemudian akan menjadi rusak dan hancur, menjadi tanah dan dikuburkan, menjadi air bila dibuang ke laut, atau menjadi udara bila dilempar-kan ke udara, karena asalnya memang dari tanah, dari air dan udara.

Adapun roh asalnya bukan dari tanah, air atau udara, bukan benda tetapi suatu unsur yang gaib yang diciptakan Allah, dan hanya Allah saja yang mengetahui akan rahasianya. Janganlah kita manusia biasa, para Nabi dan Rasul pun tidak mengetahui dan tidak diberi tahu oleh Allah akarr hakikat dan rahasianya.

Firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al Isra' ayat 85:

"Dan mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah: Roh itu urusan Tuhan-Ku, dan kamu tidaklah diberi pengetahuan kecuali sedikit."

Akal manusia sekalipun bagaimana juga hebatnya, tidaklah dapat mengetahui akan rahasia roh itu. Ilmu pengetahuan manusia bagaimanapun juga tingginya dianggap oleh Allah masih sedikit, sehingga tidaklah mungkin akal dapat mengetahui akan hakikat dan rahasia roh itu.

Tetapi di dalam Al-Qur'an tidak kurang dari 900 ayat yang membicarakan tentang roh. Bukan membicarakan tentang hakikat dan rahasianya, tetapi membicarakan tentang sifat-sifatnya roh itu, yaitu bahwa roh itu adalah satu unsur rohaniah yang hidup sendiri (sumber hidup) yang mempunyai kesadaran dan pengertian, yang mempunyai kekuatan dan perasaan, keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan, yang kekal abadi tak dapat rusak atau musnah menjadi tidak ada, . atau tetap dengan segenap kesadaran, pengertian dan perasaan sekalipun sudah bercerai dengan tubuh, tetap merasakan kebahagiaan dan kegembiraan, mengalami kesedihan dan kesengsaraan, menurut amal dan perbuatan yang pernah dilakukannya selama hidupnya di dunia ini.

DUA PERKARA yang pasti ditempuh atau dialami oleh setiap manusia. Kedua perkara itu yang pertama ialah MATI, sedang yang kedua ialah bahwa sesudah mati itu akan HIDUP kembali di alam Barzah atau alam Akhirat.

Selain kedua perkara ini, belum tentu akan ditempuh atau dialami oleh seseorang manusia. Sekalipun sudah sedia uang dan tiket K.A., belum tentu dia berangkat ke Jakarta. Sekalipun sudah tersedia makanan dan minuman, belum tentu dia akan makan atau minum akan makanan dan minuman yang tersedia itu.

Selain mati dan hidup kembali, tidak ada yang pasti. Bahwa setiap orang akan mati itu adalah suatu yang sudah pasti yang tak dapat diragukan atau dibahas lagi.

MATI adalah satu perkataan yang paling ditakuti oleh hampir setiap manusia. Setiap manusia, juga binatang-binatang takut mati, kecuali beberapa manusia yang sudah putus asa dalam penghidup-an ini, yang ingin lekas mati.

Pantas sekali kalau manusia takut mati, sebab mati berarti berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan bapak atau ibu, berpisah dengan harta benda dan pangkat, berpisah dengan dunia dan šegaļa isinya.

Berpisah sebentar saja dengan anak atau isteri, orang dapat mengalirkan air mata kesedihan, apalagi berpisah buat selamanya.

Semua orang takut mati, tetapi ada yang takutnya bersangatan sekali, ada pula yang takutnya sedangan saja, dan ada pula yang takutnya itu sedikit saja, bahkan ada yang tak takut sama sekali, malah berani atau ingin mati.

Seorang yang yakin dan percaya bahwa roh manusia itu akan hidup terus, kekal dan abadi dengan segala kadaran dan pengertian sebagai yang telah kita bicarakan sebelum ini, maka ketakutannya akan mati akan berkurang. Berkurang sedikit atau banyak, tergantung dengan sedikit banyaknya kepercayaan atau keyakinan sendiri.

Tetapi bagi orang yang tak ada keyakinan dan kepercayaan bahwa roh itu akan hidup terus, maka bagi orang ini mati adalah suatu yang tak dapat dibayangkan hebat dan menakutkan sekali. Orang ini akan mengalami kegoncangan hebat dalam batinnya bila menghadapi sedikit bahaya dalam hidupnya. Misalnya bila dia jatuh sakit atau terjadi kekacauan atau kerusuhan dalam masyarakat.

Orang yang tak punya kepercayaan dan keyakinan ini, tak mungkin dapat merasakan ketenangan dalam hidupnya, sekalipun dia sehat atau kaya raya, sekalipun dia kuat dan mempunyai kedudukan.

Tanpa keyakinan dan kepercayaan, jiwa menjadi ringan, gampang digoyangkan oleh sedikit angin saja. Tetapi jiwa orang yang berisi kepercayaan dan keyakinan, adalah jiwa yang berat, tak gampang digoyangkan oleh kejadian-kejadian kecil.

Sebab itu beruntung sekali orang yang mempunyai kepercayaan dan keyakinan itu, dan merugi sekali orang yang hidupnya tanpa kepercayaan dan tanpa keyakinan.

Setelah mengetahui akan rahasia roh dan tubuh manusia sebagai yang diterangkan sebelum ini, dapatlah diketahui bahwa mati itu tidak lain hanyalah terjadinya perpisahan antara roh dan jasad.

Ketahuilah, bahwa unsur roh adalah unsur samawi, unsur yang tinggi, asalnya dari atas (langit), sedang jasad (tubuh) adalah unsur ardhy, yang rendah, yang berasal dari tanah (bumi). 

Alam roh adalah alam rohani, yang hidup sendiri bukan karena dihidupkan, tidak membutuhkan makan dan minum, tidak membutuhkan pakaian dan tempat.

Adapun jasad karena unsunya rendah, hidupnya karena dihidupkan, geraknya karena ada yang menggerakkan. Untuk hidup dan geraknya ini, jasad atau tubuh membutuhkan makan dan minum, membutuhkan pakaian dan tempat untuk menjaga dan mempertahankan wujud atau adanya.

Karena manusia terdiri dari roh dan jasad, maka semua kebu tuhan manusia terhadap benda-benda dunia ini adalah karena untuk memenuhi kebutuhan jasad semua.

Karena kebutuhan-kebutuhan jasad yang banyak ini, maka selama roh berada dalam jasad, maka roh turut berpengaruh oleh kebutuhan-kebutuhan jasmanı manusia.

Bukan saja turut berpengaruh, malah turut repot memenuhi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan jasmani; Roh turut memikirkan, berusaha, memeras kemampuan-kemampuannya yang bernama pengertian dan kęsadaran (akal) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau tuntutan-tuntutan jasmani mencari makanan dan minuman, harta benda, kedudukan-kedudukan dan pangkat dan lain-lain.

Roh Manusia  Ketahuilah bahwa roh kita manusia tidaklah sama dengan roh tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang (hewan). Roh tumbu...

Roh Manusia 

Ketahuilah bahwa roh kita manusia tidaklah sama dengan roh tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang (hewan). Roh tumbuh. tumbuhan yang di dalam bahasa Latin dinamai ANIMA VEGE TATIVA (Roh Nabati) adalah semacam roh yang hanya sanggup menumbuhkan, tidak sanggup menggerakkan dan merasakan.

Sedang roh binatang-binatang yang di dalam bahasa Latin disebut ANIMA SENSITIVA (Roh Hewani) adalah semacam roh yang hanya sanggup merasakan, menggerakkan dan menumbuhkan atau memperkembangbiakkan, tidak sanggup memberikan kesa daran, pengertian atau pemikiran.

Karena ketiadaan kemampuan untuk berfikir, ketidak sadaran dan pengertian itulah, binatang-binatang itu tidak punya belas kasihan, tidak punya rasa balas budi, tidak ber-akhlak, tidak ber. moral, tidak bersusila, dan tidak mempunyai rasa malu yang lain-lain rasa yang disebut kehormatan atau kemuliaan diri. Tidak punya naluri ingin memiliki atau menguasai.

Kalau ada binatang-binatang yang tampaknya amat setia terhadap tuan yang memberi makan-minum kepadanya, atau patuh menurut perintah tuannya itu, itu bukan karena kesadaran atau pengertian, bukan berdasarkan pemikiran, tetapi itu adalah pembawaan (instinct) semata Yaitu instinct yang terdapat pada sebagian binatang-binatang yang agak tinggi mutunya yang disebut superiour animals.

Instinct inilah rahmat Tuhan yang amat besar pula artinya bagi kita manusia yang diberikan Tuhan kepada binatang-binatang tersebut rakhmat Tuhan yang diberikan kepada binatang-binatang untuk meneruskan tata hidup binatang-binatang itu sendiri untuk kebaikan manusia juga.

Adapun kita manusia diberi Tuhan roh yang sadar dan mengerti yang di dalam bahasa Latin disebut ANIMA INTELECTIVA (Roh Insani), yaitu semacam roh yang paling sempurna mulia dan tinggi, semacam roh yang bukan saja memberikan kemampuan untuk hidup, bergerak, bertumbuh dan berketurunan, tetapi roh yang memberikan kemampuan untuk berfikir, sadar dan mengerti. 

Karena roh yang demikian mulia dan tingginya, kita menjadi makhluk yang mempunyai rasa harga diri, mempunyai rasa belas kasihan, rasa membalas budi, bermoral, bersusila, men-jadi makhluk sosial, pemalu, mempunyai rasa kasih, sayang cinta mencintai.

Menjadi makhluk tertinggi dan terbaik, terus maju dalam segala bidang dan lapangan kehidupan kita. Menjadi makhluk berperadaban dan berkebudayaan. Roh yang sadar akan diri sendiri dan sadar terhadap lainnya. Akhirnya menjadi makhluk yang sadar akan Tuhan atau Khaliq yang menciptakannya.

Roh yang begini mulia dan tinggi akan kekal dan abadi, tidak akan lenyap atau musnah, akan ada selama-lamanya, roh yang tidak akan mengalami kerusakan, sekalipun tubuh atau badan kita sudah rusak dan binasa, sekalipun binatang-binatang dan planit-planit sudah hancur.

Roh kita akan tetap hidup, utuh, dengan segenap pengertian dan kesadaran, dengan segenap kemampuan-kemampuannya di alam dunia yang fana, di alam barzah dan sampai-sampai ke alam akhirat yang kita sebutkan di atas ini.

Sesudah uraian keadaan roh manusia sebagai yang diterangkan di atas itu, marilah kita coba menyadari perkara-perkara yang lebih penting dan lebih besar lagi, yaitu kenapa dan apa maksudnya Tuhan memberikan kepada kita manusia, roh yang sadar dan mengerti, yaitu kekuatan akal dan fikiran itu?

Apakah saudara mengira bahwa Allah memberi manusia ini akal dan fikiran itu hanya sekedar agar manusia dapat membi-kin makanan dan minuman yang enak-enak, mendirikan rumah dan gedung yang indah-indah untuk menjadi tempat tinggal, lalu menciptakan alat-alat modern seperti auto, kereta api, kapal terbang, radio, televisi, kulkas dan air conditioning?

Bukan, bukan, sekali lagi bukan. Bukan hanya untuk itu Allah memberi manusia berakal dan berfikiran. Bukan hanya untuk mendapatkan keenakan dan kesenangan, manusia diberi Allah akal dan fikiran. Tetapi ada tujuan dan maksud yang lebih dari auto, kapal terbang, radio dan televisi, lebih penting dari tinggi dan mulia dari pada makanan dan minuman, lebih penting keenakan dan kesenangan semata.

Tujuan yang utama bagi Allah memberi manusia akal dan fikiran, roh yang sadar dan mengerti, ialah agar dengan akal dan fikiran itu kita dapat memperbedakan perbuatan-perbuatan yang baik dan perbuatan yang jelek, yaitu agar melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan yang jelek dalam hidup.

Diberi Allah kesempatan hidup yang terbatas di atas dunia ini, agar setiap manusia melakukan perbuatan-perbuatan baik itu sebanyak-banyaknya.

Tetapi bila kesempatan hidup yang tak lama ini dipergunakan untuk melakukan perbuatan buruk dan jahat, maka sudah pasti tidak akan dibiarkan Allah demikian saja.

Perhatikan dan renungkan akan ayat Allah dalam Kitab Suci Nya Al-Qur'an sebagai berikut ini:

Al-Kahfu 7:

"Kami jadikan apa saja yang terdapat di muka bumi ini menja di hiasan baginya untuk mentesting (menguji) mereka untuk mengetahui siapakah di antara mereka (manusia) yang melakukan perbuatan yang baik."

Al Qiyamah 35:

"Apakah manusia mengira yang ia akan dibiarkan sia-sia!"

Al-'Alaq 6-8:

"Amat disayangkan, manusia berlaku serampangan (melam-paui batas). Karena menganggap diri serba cukup. (Ia lupa) bahus kepada Tuhan ia pasti kembali (untuk mempertanggung jawabkan sebagian perbuatannya)".

Al-Qashah 39:

"Fir'aun dan tentaranya sudah berlaku sombong (kejam) di muka bumi dengan tak menghiraukan kebenaran, mereka mengira yang bahwa mereka tidak akan dihadapkan kehadapor Kami (Allah)."

Luqman 23:

"(Hai Muhammad) Dan terhadap orang-orang yang engkar (kafir) itu janganlah engkau bersedih hati atas kekafirannya itu, Mereka akan dihadapkan kehadapan Kami, dan Kami akan perhitungkan (satu persatu) apa saja yang mereka telah perbuat. Sesungguhnya Allah mengetahui akan segala gerak-gerik dada (hati)'

As-Sajdah 12:

"(Alangkah hebatnya) jika engkau (hai Muhammad) melihat nanti (di akhirat) ketika orang-orang yang berbuat jahat itu sama-sama menundukkan kepala mereka di hadapan Tuhan mereka sambil berkata: Hai Tuhan kami, kami sudah melihat dan sudah mendengar, maka kembalikanlah kami) hidup kembali di dunia), kami akan berbuat yang baik-baik, karena sesungguhnya kami sudah yakin."

Demikianlah hebatnya sesalan yang akan menimpa diri setiap manusia yang berbuat jahat di permukaan bumi sekarang ini. 

Selama hidup di bumi ini mereka berlaku sombong dan angkuh karena merasa diri berkecukupan: Cukup harta, cukup ilmu penge-tahuan dan kedudukan. Dengan serba cukup itu mereka lupa diri, lupa kehidupan akhirat. Mereka berlaku seakan-akan mereka akan hidup kekal selama-lamanya di permukaan bumi.

Mereka berbuat sekehendak hati tanpa mengindahkan halal-haram, yang baik dan yang merusak.

Setelah mereka dihadapkan kehadapan Tuhan di alam akhirat, setelah melihat siksa neraka, mereka menundukkan kepala kepada Tuhan, mohon agar dikembalikan hidup di dunia dan berjanji akan mengerjakan segala kebaikan.

Apa jawaban Tuhan terhadap keluhan yang menyedihkan ini? 

Firman Allah surah As-Sajdah 14:

"Rasakanlah olehmu sebagai akibat kelupaan kamu terhadap Hari-mu (akhirat) ini. Sesungguhnya kami akan lupakan (biarkan) yang kamu telah perbuat semasa hidipmu," pula kamu, rasakanlah azab yang kekal sebagai balasan dari apa yang kamu telah perbuat semasa hidupmu."

Kita sudah dapat menyaksikan dan mendengarkan hebatnya sesalan dan kesedihan orang-orang yang dihadapkan ke sidang Mahmilub yang dijatuhkan hukuman mati atau penjara. Sedih kita melihat nasib mereka. Sedang hukuman mati atau penjara seumur hidup yang dijatuhkan Mahmilub jauh lebih ringan dari hukuman dan siksa akhirat yarig jauh lebih pedih dan berkekalan.

Renungkanlah nasib setiap manusia, anak istri dan sanak keluarganya yang pasti akan menghadapi sidang Mahkamah Allah di alam akhirat nanti. 

Seorang manusia pun tak ada yang bebas, baik ia Nabi atau Rasul, baik dia Ulama atau Pemimpin. Makin penting dan tinggi kedudukan seorang, makin berat tanggung jawab yang harus dipikulnya.

Sabda Rasulullah s.a.w.:

لكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ را وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ سئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلِدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ .

) اخرجه البخاري ومسلم عن عدة طرق عن عبد الله ابن عمر )

Masing-masing kamu pemimpin, dan masing-masing kamu akan ditanya tentang pimpinannya.

"Penguasa atas manusia adalah pemimpin, ia akan di tanyai tentang mereka, laki-laki pemimpin atas ahli bait (keluarga)-nya, ia akan ditanyai tentang mereka, wanita pemimpin di rumah suaminya dan anaknya, ia akan ditanyai ten tang mereka, masing-masing kamu akan ditanyai tentang rakyatnya".

Wahai manusia yang masih saja bergelimang berbuat kejahatan, kesalahan, kejelekan dosa fan kekejaman, berhentilah dari mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tak senonoh itu.

Bertaubatlah, sesali dirimu dari segala perbuatan-perbuatan yang tak senonoh itu, dan iringilah taubat itu dengan perbuatan-perbuatan yang baik. 

Mudah-mudahan Allah sudi memberi taubat dan ampunan-Nya, karena Allah Maha Pengasih, Penyayang, sangat suka mem-beri taubat terhadap hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Firman Allah, Az-Zumar 53:

"Katakanlah (hai Muhammad): Hai hamba-hamba-Ku yang sudah berlaku sembrono atas diri mereka, jangan kamu berputus asa dari kasih sayang Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya, karena la Maha Pengampun Maha Pengasih"


ROH DAN TUBUH MANUSIA Tangga pertama untuk mengetahui dan meyakini kehidupan di Akhirat ialah pengetahuan tentang roh dan tubuh ...

ROH DAN TUBUH MANUSIA

Tangga pertama untuk mengetahui dan meyakini kehidupan di Akhirat ialah pengetahuan tentang roh dan tubuh manusia. Semua manusia sudah sama mengetahui, bahwa kita manusia terdiri atas 2 unsur, yaitu unsur ROH dan unsur TUBUH (JASAD).

Tetapi pengetahuan kebanyakan manusia tentang roh amat sederhana sekali, sehingga kebanyakan mereka tidak memikirkan dan tidak mementingkan akan masalah roh atau jiwa mereka sendiri. 

Yang mereka ketahui dan pelajari sedalam-dalamnya hanya mengenai tubuh atau jasad, sebab itu maka kebanyakan manusia dalam hidup mereka hanya mementingkan masalah-masalah jasmani, seperti makan, minum, pakaian serta kesenangan. kesenangan hidup duniawi saja.

Ilmu pengetahuan manusia tentang masalah-masalah jasmani dan duniawi selalu meningkat tinggi semakin sempurna. Tetapi pengetahuan mereka tentang masalah-masalah rokhani dan akhirat tetap sederhana, tidak bertambah dan tak maju, malah mungkin semakin berkurang atau mundur.

Ini yang menyebabkan sekalipun maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi manusia semakin rusak dalam peradaban atau akhlak mereka. Karena mereka akan mementingkan benda (materi), dan melalaikan soal-soal akhlak atau rokhani.

Kalau keadaan yang begini dibiarkan, akhirnya manusia akan sampai pada satu titik atau taraf, dimana semua orang amat tinggi ilmu pengetahuannya, tetapi lenyap sama sekali akhlak atau budi pekertinya.

Disaat itulah semua manusia akan menjadi binatang-binatang liar yang modern, yaitu manusia-manusia pintar yang tak bermoral, tidak berbudi pekerti, semacam makhluk yang amat besar nafsunya dan tidak ada malunya.

Akan berbuat sesuka hatinya. Alangkah jeleknya dan kejamnya masyarakat manusia yang demikian itu (Na'-uzhu billahi min zalik = Kita mohon per-lindungan Allah dari keadaan yang demikian itu).

Kita manusia terdiri dari TUBUH dan ROH.

Tubuh merupakan daging, tulang, darah, kulit, bulu, yang semuanya berupakan kumpulan berjuta-juta sel yang bertumbuh dan berkembang karena pengaruh roh menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Al Khalik (Maha Pencipta).

Kalau bukan karena roh yang ada padanya, maka semuanya berupakan barang (benda) mati seperti batu atau tanah biasa, karena asalnya memang dari tanah jua.

Adapun roh adalah satu unsur Ilahi, yaitu sesuatu yang hanya Allah saja yang mengetahui akan rahasianya, bukan terdiri dari benda (materi). Unsur inilah yang menyebabkan daging, tulang darah, kulit dan bulu itu berkembang dan bertumbuh, yang menyebabkan tubuh itu bergerak, berketurunan dan berkembang biak.

Unsur roh inilah yang menyebabkan manusia melihat, mendengar, merasa, berfikir, berkesadaran dan berpengertian. Usur roh inilah yang menyebabkan kita mempunyai rasa kasih, sayang dan cinta, mempunyai rasa benci, marah dan anti, menja-dikan kita manusia gembira, senang, bahagia, atau susah dan seng-sara.

Unsur roh inilah yang menjadikan kita manusia menjadi makhluk yang pemalu, bermoral, sosial dan susila atau menjadi makhluk yang tak tahu malu, a moral, a susila atau a sosial.

Roh atau Rokhani manusia mempunyai banyak nama menurut fungsinya. Dinamai Roh atau Jiwa, atau Nyawa dalam fungsinya menghidupkan, menumbuhkan dan memperkembangkan-biakkan Dinamai Akal dalam fungsinya memikir (menyelidiki), mencari sebab dan akibat, mengingat dan mengkhayal.

Dinamai Hati atau Kalbu dalam fungsinya merasa, perasaan rendah seperti panas, dingin, berat, ringan, sakit, lapar dan dahaga, perasaan tinggi seperti kasih, sayang, cinta, rindu, riang, gembira, bahagia, kasihan malu, hormat marah, benci dan lain-lain.

Dinamai Nafsu dalam fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan. Jadi rokhani (Roh, Akal, Hati, Nafsu) adalah kesatuan berbagai-bagai nama menurut fungsinya.

Tubuh karena terdiri dari benda (berasal dari tanah), hidupnya karena dihidupkan, bergerak karena digerakkan, bertumbuh karena ditumbuhkan. Yang menghidupkan, menggerakkan dan menumbuhkan ialah roh.

Bila roh keluar dari tubuh, tubuh akan mati, tak bergerak dan tak bertumbuh lagi, akhirnya hancur dan lebur menjadi tanah kembali. Pulang ke tempat asalnya. Adapun roh karena dia menghidupkan, maka dia hidup terus, tidak mengenal mati.

Roh itu hidup kekal abadi, tidak akan musnah, hancur atau lebur. Sesudah seorang manusia mati dan tubuhnya dikubur dalam tanah, dibakar menjadi abu atau masuk samudera menjadi air, rohnya tetap hidup, tetap sadar dan mengerti, tetap melihat mendengar dan merasa. Bahkan dengan kesadaran, pengertian, penglihatan, pendengaran dan perasaan yang lebih sempurna. 

Dengan perkataan lain, rohnya tetap hidup tanpa tubuh kasar seperti hidupnya para Malaikat, Jin dan lain-lain makhluk halus yang sudah sama kita ketahui sendiri. Hidup dalam keadaan lebih sadar, lebih mengerti, lebih tajam penglihatan dan pendengarannya.

Berkata Ali bin Abi Thalib:

النَّاسُ نِيَامٌ وَإِذَا مَا تُوا انْتَبَهُوا .

الدُّنْيَا حِلْمُ وَالْمَوْتُ يقظة ) هما من كلام على ابن ابى طالب كرم الله وجهه - في أسنى المطالب ونهج البلاغة )

"Manusia hidup seperti orang yang tidur, bila sudah mati menjadi seperti orang yang sudah bangun dari tidur."

Manusia yang masih hidup mengerti tetapi dengan pengertian yang terbatas sekali. Sadar tetapi dengan kesadaran yang terbatas sekali.

Karena pengertian dan kesadaran yang terbatas itulah, banyak diantara mereka hanya mementingkan soal makan, minum, pakaian, soal-soal jasmani dan dunia saja. Karena pengertian dan kesadaran yang terbatas itulah mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang merusak terhadap diri mereka sendiri dan juga terhadap orang lain.

Karena pengertian dan kesadaran yang terbatas itulah mereka menjadi rusak akhlak dan budi pekertinya, menjadi manusia yang a moral, a susila, a sosial dan a theis.

Sesudah mati, setelah roh mereka keluar dari sangkarnya, yang bernama tubuh, barulah mereka mengerti dan sadar sesadar sadarnya tahu dan insyaf seinsyaf-insyafnya, bahwa di balik dunia yang luas dan fana ini, ada alam lain yang lebih luas dan abadi.

Karena kesadaran dan pengertian yang lebih sempurna itu, maka sesudah mati itulah mereka akan merasakan kesusahan dan kesengsaraan yang lebih sempurna pula.

Sebab itu sesudah mati benar-benar ada kesusahan dan kesengsaraan benar-benar ada kegembiraan dan kebahagiaan.

Yang susah dan sengsara ialah roh-roh manusia-manusia yang jahat. Sedang yang gembira dan bahagia adalah manusia-manusia yang baik.

Semua kejahatan yang dilakukan manusia dalam hidupnya pasti menyebabkan roh, jiwa dan batinnya menderita. Tetapi semasa hidupnya penderitaan batin itu dirasakannya benar, karena kekurangan kesadaran dan pengertian, dan juga karena pengaruh kesenangan dan kelezatan hidup duniawinya. 

Tetapi sesudah dia mati, rohnya akan merasakan benar-benar akan derita karena kejahatan-kejahatan yang dilakukannya semasa hidupnya. Derita karena pengertian dan kesadaran sendiri, dan juga derita karena azab siksa kubur yang disiksakan kepada rohnya oleh Petugas Tuhan yang bernama Malaikat Mungkar dan Nakir sebagai yang sering dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur'an dan Hadis Rasulullah s.a.w.

Roh manusia yang hidup sesudah manusia mati tanpa tubuh itu dinamai ALAM QUBUR atau ALAM BARZAH. Jadi di alam Qubur atau alam Barzah itu ada kesengsaraan dan penderitaan, dan ada pula kesenangan dan kebahagiaan.

Kehidupan roh tanpa jasad di alam Qubur atau alam Barzah itu akan berlangsung ribuan tahun, yaitu sampai terjadinya Qia-mat Besar yang akan dibicarakan pula nantinya.

Jadi kesengsaraan dan penderitaan dalam Qubur itu akan berlangsung ribuan tahun lamanya. Begitu pula kegembiraan dan kebahagiaan, akan berlangsung ribuan tahun pula.

Jadi lain dengan kesengsaraan dan penderitaan yang terjadi di alam dunia sekarang ini yang hanya berlangsung hanya beberapa jam, beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun saja.

Sebab itulah orang-orang yang sadar, tidak takut terhadap kesengsaraan dan penderitaan dunia ini sekalipun bagaimana juga bentuk kesusahan dan penderitaan itu.

Yang amat mereka takutkan ialah kesusahan dan kesengsaraan di Alam Qubur, Lebih-lebih lagi yang amat mereka takutkan ialah kesengsaraan dan kesusahan di Alam Akhirat nanti yang tak ada batas waktu baginya, terus menerus tanpa ujung atau akhiran.

PENGETAHUAN TENTANG AKHIRAT Segala macam pengetahuan, pengetahuan apa saja adalah penting, berguna, dan mulia. Tidak...


PENGETAHUAN TENTANG AKHIRAT

Segala macam pengetahuan, pengetahuan apa saja adalah penting, berguna, dan mulia. Tidak ada pengetahuan yang tidak penting atau kurang penting, yang berguna atau yang kurang berguna.

Alangkah pentingnya ilmu kesehatan, ilmu kedokteran. Dengan ilmu kesehatan dan pengobatan dari dokter, orang dapat hidup sehat dan kuat, kuat jasmani dan kuat rokhani, sehingga dapat merasakan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidupnya. Alangkah sengsaranya manusia yang hidupnya sakit-sakitan, sekalipun dia kaya raya atau mempunyai pangkat yang tinggi.

Mahkota termahal di dunia ini ialah kesehatan, demikian artinya salah satu sabda Rasulullah s.a.w.

Demikian pentingnya ilmu kesehatan dan pengobatan, dan tak kurang dari itu pentingnya ilmu yang lain-lain, seperti ilmu hukum, ilmu teknik, ilmu ekonomi dan lain-lain.

Tetapi yang paling menonjol pentingnya ialah ilmu atau pengetahuan tentang kehidupan yang kekal dan abadi, yaitu kehidupan di akhirat nanti.

Dikatakan menonjol, karena kehidupan di akhirat jauh lebih besar, lebih luas dan lebih lama daripada kehidupan di dunia ini, satu penghidupan di dunia ini, satu penghidupan yang tak berakhir, tidak berkesudahan, tetapi harus terus menerus tak ada ujung atau akhirnya.

Perbandingan kehidupan di dunia ini dengan penghidupan di akhirat nanti sebagai yang telah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. adalah ibarat seorang yang pergi ke laut, lalu memasukkan salah satu jarinya ke dalam laut, lalu mengangkatkan jari itu ke atas. Air yang melekat pada jarinya itulah kehidupan dunia, sedang air yang masih tertinggal di dalam samudera luas itulah ke hidupan akhirat itu.

Ilmu kesehatan, pengobatan, ekonomi, hukum, teknik dan lain-lain ilmu pengetahuan, hanya mengantar manusia mencapai kebahagiaan dan kegembiraan hidup dunia yang fana. Sedang pengetahuan tentang akhirat mengantar manusia untuk mencapai kebahagiaan dan kesenangan hidup di akhirat yang kekal dan abadi.

Ilmu pengetahuan akhirat adalah inti atau puncak dari seluruh ilmu pengatahuan. Orang atau sarjana-sarjana yang telah mendapat titel kesarjanaan dalam ilmu pengetahuan yang lain, tetapi belum yakin dan belum mengetahui tentang kehidupan di akhirat, berarti belum sampai di top atau di puncak ilmu pengetahuannya.

Pengetahuan tentang akhirat lain dari pengatahuan-pengetahuan lainnya. Pengetahuan biasa boleh dikatakan seluruhnya mengenai hal-hal yang sudah terjadi, sebab itu mempunyai fakta-fakta yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Tetapi pengetahuan tentang akhirat adalah pengetahuan tentang suatu yang belum terjadi, tentang suatu yang akan terjadi kelak dikemudian hari. Tidak ada fakta-faktanya, tidak dapat dibawa kedalam laboratorium.

Pengetahuan tentang akhirat 100% berdasarkan Kitab-kitab Suci yang diturunkan kepada Rasul-rasul-Nya, yang kita dapat mempercayainya berdasarkan fakta-fakta yang sudah terjadi di alam ini.

Sebab itu tidak semua orang dapat mempercayai dan meyakinkannya. Ada orang yang mempercayai dan meyakinkannya, dan ada pula orang yang tidak dapat mempercayai dan meya-kinkannya.

Ilmu tentang akhirat adalah ilmu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan harta, benda, makan, minum, pangkat dan lainnya. Karena kesuciannya, maka pengetahuan tentang akhirat tidak dapat dicapai oleh Setan dan Iblis.

Pengetahuan tentang akhirat tertutup bagi Setan dan Iblis. Juga tertutup bagi manusia-manusia yang masih dipengaruhi oleh Setan dan Iblis, manusia-manusia yang bergelimang dengan kesalahan dan dosa-dosa, manusia yang masih dikuasainya oleh hawa nafsu terhadap harta, benda dan pangkat.

Hanya orang-orang yang bersih dan selalu mensucikan diri dapat mencapai ilmu pengetahuan dan keyakinan terhadap kehi-dupan akhirat ini. Yaitu orang-orang yang terpilih, manusia-manusia pilihan, yaitu para Nabi-nabi dan Rasul-rasul, para Wali-wali Allah dan pengikut-pengikut mereka.

Allah memberikan ucapan selamat terhadap manusia-manusia terpilih yang dapat meyakinkan akan kehidupan di akhirat nanti.

"Katakanlah: Segala puji bagi Allah, dan selamat sejahteralah atas hamba-hamba-Nya yang terpilih itu. Apakah Allah yang lebih baik ataukah Tuhan-Tuhan palsu yang mereka sekutukan itu?"

Manusia yang terpilih yang mendapatkan rakhmat dan karunia Allah untuk dapat meyakinkan dan mempercayai kehidupan di akhirat lebih yakin akan adanya kehidupan akhirat itu daripada tertib atau munculnya matahari dipagi besok.

Manusia yang mengingkari kehidupan akhirat mengira bahwa hukum yang berlaku pada manusia sesudah mati adalah sama dengan hukum yang berlaku pada tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang.

Mereka lihat tumbuh-tumbuhan itu bertumbuh nya berdaun berkembang dan berbuah, lama-lama menjadi tua meninggi dan membesar dengan batang, dahan dan ranting-ranting dan rontok, lalu mati dan lapuk, lalu tumbuh lagi yang lain.

Begitu juga binatang-binatang lahir menyusu menjadi semakin besar lalu beranak dan berkembang biak. Maka yang tua mati dan hancur menjadi tanah, lalu digantikan oleh anak turunannya.

Manusia mereka anggap sama dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang itu, sesudah mati hancur menjadi tanah lalu lahir manusia-manusia baru, yang sudah mati menjadi tidak ada.

Mereka tidak tahu amat besar perbedaan antara manusia dan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang itu, dengan beratus-ratus perbedaan.

Mengapa ada persamaan antara manusia dan tumbuh-tumbuh an dan binatang-binatang dalam jasad atau tumbuhnya, tetapi terdapat perbedaan yang besar dan banyak sekali dalam roh atau jiwanya?

Tangga pertama untuk dapat meyakinkan kehidupan di akhirat ialah mempelajari lebih dalam tentang tubuh dan roh manusia.

Manusia yang tak mengetahui atau buta sama sekali tentang hakekat roh atau jiwanya sendiri, tidak mengetahui perbedaan antara jasad dan roh, maka perhatian dalam hidupnya tertuju hanya kepada jasad atau tubuhnya saja.

Yang mereka pentingkan hanya kelezatan dan kesenangan hidup dunia. Mereka bercita-cita akan hidup kekal dan selama-lamanya di dunia ini, lupa akan hari pembalasan dan hakekat kehidupan akhirat.

Tetapi bila manusia sudah mempelajari akan hakikat diri manusia dan jiwanya, maka manusia itu akan memikirkan dan memperhatikan soal-soal roh dan jiwa ini lebih dari soal-soal jasad dan tubuhnya. 

Mereka akan lebih banyak memikirkan soal-soal yang bertalian dengan mati dan soal-soal yang akan terjadi sesudah mati. Mereka lalu bersiap dan bersedia segala keperluan untuk menghadapi kehidupan akhirat itu selama mereka masih hidup di dunia ini. 

Mereka akan mempergunakan setiap kesempatan dalam hidup ini untuk melakukan sebanyak mungkin kebaikan dan kebajikan, bertaubat dan minta ampun. Mereka akan jauhi segala perbuatan-perbuatan jahat, kemungkaran dan maksiyat.

Jelas sekali perbedaan antara orang-orang yang meyakinkan akan akhirat dan orang-orang yang mengingkarinya. Yang yakin akan akhirat berlomba-lomba berbuat kebajikan, sedang yang mengingkarinya berlomba-lomba berbuat jahat dan bersenang-senang.

Orang-orang yang yakin akan akhirat dan berlomba-lomba berbuat kebajikan dan menjauhi segala kejahatan dan kemungkaran. Hilanglah bagi mereka ketakutan terhadap mati, timbul keinginan untuk bertemu dengan Allah.

Beginilah sifat-sifatnya orang-orang suci, para Nabi dan Rasul, para Wali dan Shalihin.

Bila kepada mereka ditentukan umur yang pendek, mereka redha, tetapi bila diberi umur yang panjang, umur yang panjang itu mereka pergunakan untuk melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.

Alangkah indahnya dunia ini, bila semua manusia berlomba-lomba melakukan kebajikan, menjauhi segala kejahatan dan kemungkaran.

Sumber:
Bey Arifin, Lantaran Sesudah Mati

PERTANYAAN-PERTANYAAN ALLAH DAN JAWABANNYA UNTUK ORANG-ORANG YANG MASIH MERAGUKAN AKHIRAT Kebangkitan dan kehidupan di alam akhi...

PERTANYAAN-PERTANYAAN ALLAH DAN JAWABANNYA UNTUK ORANG-ORANG YANG MASIH MERAGUKAN AKHIRAT

Kebangkitan dan kehidupan di alam akhirat yang kekal dan abadi adalah sebuah berita yang amat besar. Ia bukan berita tentang sesuatu yang telah terjadi dan dapat kita saksikan dengan mata kepala sendiri, melainkan berita tentang sesuatu yang pasti akan terjadi.

Kejadian langit dan bumi, bintang-bintang, planet-planet, serta seluruh alam semesta memang merupakan peristiwa yang luar biasa besar. Namun, karena semua itu telah terjadi dan sebagian dapat kita lihat serta saksikan, maka bagi manusia ia bukan lagi sekadar berita, melainkan kenyataan yang dapat diamati.

Berbeda dengan kehidupan akhirat.

Kebangkitan manusia setelah kematian, kehidupan yang kekal, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah belum kita alami. Karena itulah ia menjadi berita besar yang menuntut keimanan, perenungan, dan penggunaan akal.

Allah berfirman:

«عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ ۝ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ ۝ الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ»

«"Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentangnya."
(QS An-Naba' [78]: 1–3)»

Berita itu begitu besar sehingga sejak dahulu manusia memperdebatkannya. Ada yang membenarkannya, ada yang meragukannya, bahkan ada yang sama sekali menolaknya.

Dahulu, sebagian manusia meragukan akhirat karena keterbatasan pengetahuan. Namun pada zaman modern, keraguan itu kadang justru muncul di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Apakah semakin tinggi ilmu pengetahuan otomatis membuat manusia semakin dekat kepada kebenaran?

Belum tentu.

Ilmu dapat membuat manusia mengetahui banyak hal tentang alam, tetapi belum tentu membuatnya memahami tujuan keberadaan dirinya. Seseorang dapat sangat maju dalam ilmu tentang materi, tetapi tetap bingung ketika ditanya tentang apa yang terjadi setelah kematian.

Al-Qur'an telah menggambarkan keadaan semacam itu.

Allah berfirman:

«"Bahkan pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai kepada mereka; bahkan mereka dalam keraguan tentang akhirat itu, bahkan mereka buta tentangnya."»

«"Dan orang-orang kafir berkata, 'Apakah setelah kami menjadi tanah dan juga nenek moyang kami, benar-benar kami akan dibangkitkan?'"»

«"Sungguh, kami telah diberi ancaman seperti ini, begitu pula nenek moyang kami dahulu. Ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu."»

«(QS An-Naml [27]: 66–68)»

Ketika ilmu tidak membawa kepada kebenaran

Al-Qur'an tidak mencela ilmu. Yang dicela ialah ilmu yang kehilangan arah dan tidak membawa manusia kepada kebenaran.

Seseorang mungkin sangat ahli dalam ilmu eksakta, filsafat, teknologi, ekonomi, politik, atau berbagai bidang kehidupan lainnya. Ia mungkin mampu memahami hukum-hukum alam, mengembangkan industri, membangun kota, mengumpulkan kekayaan, bahkan memperoleh nama besar di tengah manusia.

Tetapi ada satu pertanyaan yang tetap harus dijawab:

Untuk apa semua itu jika manusia tidak memahami ke mana akhirnya ia akan pergi?

Pengetahuan tentang dunia dapat membuat manusia berhasil mengelola kehidupan. Namun pengetahuan tentang akhirat menentukan bagaimana ia seharusnya menjalani kehidupan itu.

Karena itu, ilmu yang hanya membuat manusia semakin sibuk dengan dunia, tetapi membuatnya lupa kepada kehidupan setelah kematian, pada akhirnya dapat menjadi ilmu yang tidak menyelamatkan.

Bukan karena ilmunya salah, melainkan karena cakrawala berpikirnya tidak lengkap.

Manusia mengetahui bagaimana sesuatu bekerja, tetapi lupa bertanya untuk apa ia hidup.

Ia mengetahui bagaimana memperpanjang usia, tetapi lupa bertanya apa yang akan terjadi ketika usia itu berakhir.

Ia mampu menguasai dunia, tetapi tidak mempersiapkan dirinya ketika dunia meninggalkannya.

Ketika seluruh perhatian hanya tertuju kepada dunia

Ada pula manusia yang sama sekali tidak mau memikirkan akhirat.

Seluruh perhatiannya diarahkan kepada kehidupan sebelum mati: makanan, minuman, pakaian, rumah, kendaraan, olahraga, kesenian, hiburan, keluarga, politik, ekonomi, pembangunan, industri, kekuasaan, dan berbagai kesenangan dunia.

Untuk mengejar semua itu, ia rela mengurangi tidur dan istirahat. Ia pergi ke berbagai tempat, bekerja tanpa mengenal lelah, mengejar kedudukan, mengumpulkan harta, dan membangun nama besar.

Akhirnya, dunia memang dapat memberinya apa yang dikejarnya.

Ia mendapatkan kekayaan.

Ia mendapatkan jabatan.

Ia mendapatkan ketenaran.

Namanya dikenal di berbagai tempat. Setelah meninggal pun namanya mungkin masih disebut-sebut. Buku menuliskan jasanya, surat kabar mengenangnya, pidato-pidato mengabadikan namanya, dan generasi sesudahnya mungkin masih memperingatinya.

Tetapi ada sesuatu yang tidak dapat diberikan oleh semua kemasyhuran itu:

jaminan keselamatan di akhirat.

Harta yang ditinggalkan tidak ikut masuk ke dalam kubur.

Jabatan berhenti ketika nyawa berpisah dari tubuh.

Popularitas tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat.

Nama besar tidak dapat menggantikan amal.

Dan pujian manusia tidak dapat menggantikan keridaan Allah.

Karena itu, betapa pentingnya manusia berhenti sejenak di tengah kesibukan dunia dan bertanya kepada dirinya sendiri:

Setelah semua yang saya kejar ini berakhir, apa yang akan saya bawa menghadap Allah?

Penyesalan yang datang terlambat

Inilah yang sering dilupakan manusia.

Selama hidup, kematian terasa seperti sesuatu yang masih jauh. Akhirat terasa seperti persoalan nanti. Selama tubuh sehat, harta masih ada, pekerjaan berjalan, keluarga berkumpul, dan berbagai kesenangan masih dapat dinikmati, manusia mudah merasa bahwa kehidupan akan berlangsung lama.

Padahal kematian tidak pernah berjanji akan datang setelah semua urusan selesai.

Ia dapat datang ketika manusia masih memiliki banyak rencana.

Ketika roh telah sampai di kerongkongan, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang kehidupan.

Allah menggambarkan keadaan itu dalam Surah Al-Qiyamah:

«"Sekali-kali jangan. Apabila napas telah sampai ke tenggorokan, dan dikatakan, 'Siapa yang dapat menyembuhkan?' dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan, dan bertautlah betis dengan betis. Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau."»

Kemudian Allah bertanya:

«أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُ»

«"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya?"»

Lalu Allah memberikan jawaban yang sangat kuat:

«بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُ»

«"Bahkan Kami mampu menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna."»

Dan pada bagian akhir rangkaian ayat itu Allah mengingatkan:

«"Bukankah Dia yang menciptakan manusia dari setetes mani yang dipancarkan, kemudian menjadi segumpal darah, lalu Dia menciptakannya dan menyempurnakannya, kemudian Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan? Bukankah Allah yang demikian berkuasa menghidupkan orang yang telah mati?"»

«(QS Al-Qiyamah [75]: 26–40)»

Pertanyaan itu sebenarnya sekaligus merupakan jawaban.

Jika Allah mampu menciptakan manusia pertama kali dari sesuatu yang sangat kecil, mengapa manusia meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkannya kembali?

Inilah salah satu cara Al-Qur'an menghadapi keraguan manusia: mengajaknya melihat kembali kepada asal penciptaannya sendiri.

Manusia dahulu tidak ada.

Kemudian Allah menciptakannya.

Ia tumbuh dari sesuatu yang tidak memiliki bentuk manusia seperti sekarang.

Allah menyusun tubuhnya, memberikan kehidupan, pendengaran, penglihatan, akal, dan berbagai kemampuan.

Jika penciptaan pertama merupakan kenyataan, maka kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah.

Mengapa Al-Qur'an berulang kali mengingatkan akhirat?

Karena berita akhirat begitu besar dan manusia begitu mudah melupakannya, Al-Qur'an berulang kali mengingatkan manusia tentang kebangkitan.

Diulang dan diulang.

Dijelaskan dengan berbagai perumpamaan.

Dibawa melalui pertanyaan.

Ditegaskan melalui tanda-tanda kekuasaan Allah.

Semua itu bukan karena Allah kekurangan hujah, melainkan karena manusia sering kali memiliki masalah bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada kelalaian hati.

Satu kali peringatan mungkin belum menyentuh hati.

Peringatan kedua mungkin masih diabaikan.

Peringatan ketiga mungkin belum membuat seseorang berubah.

Karena itu Al-Qur'an terus mengingatkan, agar manusia memiliki kesempatan untuk kembali sebelum terlambat.

Tujuannya sederhana tetapi sangat besar:

jangan sampai manusia mati sebelum benar-benar menyadari ke mana ia akan pergi.

Allah berfirman:

«"Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."»

«(QS Al-Baqarah [2]: 132)»

Ayat ini bukan sekadar perintah untuk percaya kepada akhirat. Ia merupakan panggilan agar manusia menata seluruh hidupnya berdasarkan keyakinan bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan.

Dunia bukan tempat terakhir

Jika akhirat benar-benar ada, maka kehidupan dunia harus dipandang dengan ukuran yang berbeda.

Harta tetap boleh dicari, tetapi jangan sampai harta menjadi tujuan terakhir.

Jabatan boleh diraih, tetapi jangan sampai jabatan membuat manusia lupa kepada Pemilik kekuasaan.

Ilmu harus dikembangkan, tetapi jangan sampai ilmu menjadikan manusia sombong dan menolak kebenaran.

Keluarga harus dicintai, tetapi jangan sampai kecintaan kepada keluarga membuat seseorang lupa menyelamatkan mereka dari kebinasaan.

Kesenangan boleh dinikmati, tetapi jangan sampai kesenangan membuat manusia kehilangan arah.

Sebab dunia ini fana.

Apa yang kita miliki hari ini akan berpindah tangan.

Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain.

Harta yang kita kumpulkan akan diwariskan.

Jabatan yang kita banggakan akan berakhir.

Tubuh yang kita rawat akan kembali menjadi tanah.

Yang akan menyertai kita hanyalah apa yang kita kerjakan untuk Allah.

Jangan menunggu sampai terlambat

Manusia sering kali menunda perubahan.

"Besok saya akan bertobat."

"Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah."

"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."

"Nanti kalau urusan dunia sudah selesai, saya akan memikirkan akhirat."

Padahal tidak seorang pun mengetahui apakah ia masih memiliki "nanti".

Kematian tidak menunggu seseorang menjadi tua.

Kematian tidak menunggu seseorang menjadi kaya.

Kematian tidak menunggu semua cita-citanya selesai.

Karena itu, pertanyaan tentang akhirat bukan pertanyaan yang boleh ditunda.

Ia adalah pertanyaan terbesar dalam kehidupan manusia.

Ke mana saya akan pergi setelah mati?

Kepada siapa saya akan mempertanggungjawabkan hidup saya?

Apa yang telah saya persiapkan?

Apa yang akan saya jawab ketika seluruh alasan dunia tidak lagi berguna?

Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya tidak membuat kita putus asa. Justru sebaliknya, ia seharusnya membangunkan kita.

Selama nyawa masih ada, pintu perubahan masih terbuka.

Selama kematian belum datang, manusia masih dapat memperbaiki amal.

Selama matahari belum terbenam bagi kehidupan kita, kita masih dapat memilih jalan yang benar.

Renungkan sebelum datang penyesalan

Wahai manusia, renungkanlah.

Kehidupan akhirat bukan dongeng.

Bukan khayalan.

Bukan sekadar cerita untuk menakut-nakuti manusia.

Ia adalah bagian dari berita yang disampaikan para nabi dan ditegaskan berulang kali oleh Al-Qur'an.

Jangan biarkan kegembiraan dunia membuat kita lupa kepada akhirat.

Jangan biarkan kesibukan mencari harta menghilangkan kesadaran tentang kematian.

Jangan biarkan pangkat dan kedudukan membuat kita lupa bahwa suatu hari kita akan berdiri tanpa pangkat di hadapan Allah.

Jangan biarkan musik, tontonan, hiburan, dan berbagai kesenangan dunia menguasai seluruh perhatian kita sehingga persoalan terbesar dalam kehidupan justru kita abaikan.

Sebab dunia mempunyai akhir.

Sedangkan akhirat tidak mempunyai akhir.

Dan ketika manusia telah sampai di sana, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia dan memperbaiki apa yang telah rusak.

Maka sebelum penyesalan itu datang, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah saya benar-benar mempersiapkan diri untuk kehidupan yang tidak berakhir?

Dan bukan hanya diri kita.

Kita juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga.

Allah mengingatkan:

«"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."»

«(QS At-Tahrim [66]: 6)»

Inilah salah satu bentuk kasih sayang yang paling dalam: bukan hanya berusaha membuat keluarga bahagia di dunia, tetapi juga berusaha agar seluruh keluarga selamat di akhirat.

Sebab kebahagiaan dunia hanya sementara.

Sedangkan keselamatan akhirat adalah keselamatan yang sebenarnya.

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun kehidupan dunia, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal.

Jangan sampai kita menjadi orang yang baru percaya ketika kematian telah datang.

Jangan sampai kesadaran itu hadir ketika kesempatan telah habis.

Maka selama masih hidup, selama masih diberi waktu, selama masih dapat memilih dan memperbaiki diri, jawablah panggilan Allah itu dengan iman, amal saleh, dan kesiapan menghadap-Nya.

Karena pada akhirnya, setiap manusia akan sampai kepada satu kepastian:

dunia akan berakhir, tetapi perjalanan manusia belum berakhir.

Bagaimana Al-Qur’an Meyakinkan Manusia tentang Akhirat Kebangkitan dan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang belum kita saksikan...

Bagaimana Al-Qur’an Meyakinkan Manusia tentang Akhirat

Kebangkitan dan kehidupan akhirat adalah sesuatu yang belum kita saksikan, tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa ia pasti terjadi. Pertanyaannya kemudian: Bagaimana sesuatu yang belum terjadi dapat diyakini dengan begitu kuat?

Al-Qur’an tidak sekadar meminta manusia percaya tanpa berpikir. Ia justru mengajak manusia memperhatikan berbagai tanda yang sudah ada di hadapannya. Manusia diajak menggunakan akal: melihat bagaimana Allah menciptakan manusia, menghidupkan bumi yang tandus, serta menciptakan langit dan bumi yang begitu luas. Dari apa yang telah terjadi, manusia dibimbing untuk memahami bahwa kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Ketika Tulang Belulang Dijadikan Alasan untuk Meragukan Kebangkitan

Pada suatu hari, setelah Rasulullah ﷺ menjelaskan kepada manusia bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali, sebagian orang Quraisy mengejek dan menertawakan beliau.

Di antara mereka terdapat orang-orang yang bukan sekadar tidak percaya, tetapi ingin menjadikan persoalan kebangkitan sebagai senjata untuk menjatuhkan Rasulullah ﷺ.

Mereka mengambil tulang-belulang manusia dari kuburan. Tulang itu kemudian diremukkan hingga menjadi debu, lalu dibawa kepada Rasulullah ﷺ.

Dengan penuh tantangan mereka berkata,

“Siapakah yang mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur dan lapuk ini?”

Pertanyaan itu sebenarnya mengandung sebuah asumsi: sesuatu yang telah hancur pasti tidak mungkin dikembalikan.

Namun, benarkah demikian?

Allah kemudian menurunkan jawaban yang mengarahkan manusia kembali kepada asal penciptaannya.

“Siapa yang Menciptakan Pertama Kali?”

Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 77–81:

«“Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi pembantah yang nyata.”»

Manusia membawa perumpamaan berupa tulang-belulang yang telah hancur, tetapi ia melupakan bagaimana dirinya dahulu diciptakan.

Kemudian Allah menjawab:

«“Katakanlah, yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”»

Di sinilah Al-Qur’an mengubah arah pertanyaan.

Manusia bertanya:

“Bagaimana mungkin tulang yang telah hancur dapat hidup kembali?”

Al-Qur’an mengajak manusia bertanya lebih mendasar:

“Bukankah sesuatu yang jauh lebih menakjubkan sudah pernah terjadi—yaitu ketika manusia belum ada sama sekali, kemudian Allah menciptakannya?”

Jika penciptaan pertama dapat dilakukan, mengapa penciptaan kembali dianggap mustahil?

Dari Pohon Hijau Menjadi Api

Al-Qur’an kemudian mengingatkan manusia kepada tanda lain yang dekat dengan kehidupan mereka.

Allah menyebutkan bahwa dari pohon yang hijau, manusia dapat memperoleh api.

Sesuatu yang tampaknya berbeda dapat menjadi bagian dari proses yang berada dalam kekuasaan Allah.

Kemudian Allah bertanya:

«“Bukankah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan kembali yang serupa dengan mereka?”»

Jawabannya jelas:

Allah Mahakuasa dan Maha Mengetahui.

Maka persoalannya bukan apakah manusia mampu membayangkan proses kebangkitan. Persoalannya adalah apakah manusia mengakui kekuasaan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu sejak awal.

Al-Qur’an Mengajak Manusia Melihat Dirinya Sendiri

Argumen yang sama kembali dijelaskan dalam Surah Al-Hajj.

Allah mengajak manusia memperhatikan perjalanan penciptaannya:

dari tanah, kemudian setetes mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging; setelah itu manusia dilahirkan sebagai bayi, tumbuh menjadi kuat, kemudian sebagian meninggal dalam usia muda dan sebagian lainnya mencapai usia lanjut hingga kembali lemah dan pikun.

Perhatikanlah perjalanan itu.

Bukankah manusia sendiri merupakan rangkaian perubahan yang luar biasa?

Dahulu tidak ada.

Kemudian ada.

Dahulu lemah.

Kemudian tumbuh kuat.

Setelah itu kembali lemah.

Bukankah semua itu berlangsung di hadapan mata manusia?

Bumi yang Mati Kembali Hidup

Kemudian Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia kepada bumi.

Tanah yang kering dan tandus tampak seperti tidak memiliki kehidupan. Tetapi ketika hujan turun, tanah itu menjadi basah dan subur. Tumbuhlah berbagai macam tanaman yang indah.

Dari tanah yang tampak mati, kehidupan kembali muncul.

Lalu Al-Qur’an mengajak kita merenung:

Jika Allah mampu menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan, apakah menghidupkan manusia setelah kematian merupakan sesuatu yang mustahil bagi-Nya?

Allah menegaskan bahwa semua itu menjadi bukti bahwa Dia adalah Yang Mahabenar, bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan bahwa hari kiamat pasti datang.

Dari Penciptaan Pertama Menuju Kebangkitan

Perhatikan alur berpikir Al-Qur’an.

Allah tidak meminta manusia menerima kebangkitan hanya dengan menutup mata dan mengabaikan kenyataan.

Sebaliknya, manusia diajak melihat:

Siapa yang menciptakan manusia pertama kali?

Siapa yang menciptakan langit dan bumi?

Siapa yang menumbuhkan kehidupan dari tanah yang tandus?

Siapa yang menciptakan manusia dari sesuatu yang sangat kecil hingga menjadi makhluk yang sempurna?

Jika semua itu berada dalam kekuasaan Allah, maka kebangkitan bukanlah sesuatu yang berada di luar kemampuan-Nya.

Justru yang aneh adalah ketika manusia mengakui penciptaan pertama, tetapi menolak kemungkinan penciptaan kembali.

Mengapa Manusia Masih Ragu?

Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.

Sering kali manusia bukan kekurangan bukti, tetapi kurang mau merenungkannya.

Ia melihat kelahiran, pertumbuhan, kematian, pergantian siang dan malam, hujan yang menghidupkan bumi, serta alam semesta yang begitu luas. Namun semua itu berlalu di depan matanya tanpa menggerakkan kesadarannya.

Karena itu, Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan, dan mengambil pelajaran.

Iman kepada akhirat bukan berarti meninggalkan akal. Justru Al-Qur’an menggunakan akal manusia untuk mengantarkannya kepada keyakinan.

Perumpamaan Padang Rumput

Bayangkan ada sekelompok kambing yang ditempatkan di sebuah padang rumput yang dikelilingi tembok tinggi.

Di dalam pagar itu mereka makan, minum, berkembang biak, dan bermain. Mereka menganggap itulah seluruh dunia karena hanya itulah yang mereka kenal.

Mereka tidak mengetahui bahwa di balik tembok terdapat dunia yang jauh lebih luas.

Begitulah gambaran manusia yang hanya mengenal kehidupan dunia dan menolak kehidupan akhirat.

Ia mengira bahwa apa yang dapat dilihat, disentuh, dan dinikmati sekarang adalah seluruh realitas kehidupan.

Padahal, keterbatasan penglihatan bukan berarti keterbatasan realitas.

Tidak melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada.

Akhirnya, Apa yang Ingin Al-Qur’an Ajarkan?

Al-Qur’an mengajak manusia berpindah dari keraguan menuju keyakinan melalui perenungan terhadap ciptaan Allah.

Penciptaan pertama adalah bukti.

Kehidupan manusia adalah bukti.

Bumi yang kembali subur setelah mati adalah bukti.

Langit dan bumi adalah bukti.

Semua itu mengarahkan manusia kepada satu kesimpulan:

«Allah yang menciptakan untuk pertama kali pasti mampu membangkitkan kembali.»

Maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi:

“Benarkah akhirat akan terjadi?”

Tetapi:

“Jika akhirat benar-benar pasti, sudahkah hidup saya dipersiapkan untuk menghadapinya?”

Sebab kehidupan dunia adalah ruang sementara yang sedang kita jalani, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang akan kita masuki.

Wahai manusia, jangan biarkan keterbatasan pandanganmu membuatmu mengingkari luasnya kehidupan yang telah Allah janjikan. Percayalah kepada kebangkitan, renungkan tanda-tandanya, dan persiapkanlah diri untuk kehidupan setelah kematian.

Hidup Tidak Berakhir di Dunia Yang Pasti di Tengah Ketidakpastian Manusia memiliki akal, kekuasaan, harta, kesehatan, dan berbag...


Hidup Tidak Berakhir di Dunia

Yang Pasti di Tengah Ketidakpastian

Manusia memiliki akal, kekuasaan, harta, kesehatan, dan berbagai macam perbekalan untuk menjalani kehidupan. Namun, sebanyak apa pun yang kita miliki, tidak seorang pun mampu memastikan apa yang akan terjadi pada hari esok.

Seseorang mungkin telah membeli tiket kereta api untuk berangkat ke Jakarta besok pagi. Ia sehat, memiliki uang, dan segala persiapan telah dilakukan. Namun, apakah ia benar-benar pasti akan berangkat? Tidak. Bisa saja datang suatu halangan yang menyebabkan perjalanan itu tertunda atau bahkan batal.

Begitulah kehidupan dunia. Banyak hal yang kita rencanakan, tetapi tidak semuanya terjadi sebagaimana yang kita kehendaki. Masa depan berada di luar jangkauan kepastian manusia.

Ada satu hal yang pasti menimpa setiap manusia: kematian.

Namun, kematian bukanlah akhir dari keberadaan manusia. Setelah kematian akan ada kebangkitan dan kehidupan akhirat. Inilah kepastian yang berulang kali ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 7:

«“Sesungguhnya Kiamat itu pasti terjadi, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan orang-orang yang di dalam kubur.”»

Demikian pula dalam Surah Taha ayat 15:

«“Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti akan datang. Aku merahasiakannya agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.”»

Maka, di balik ketidakpastian hidup dunia, ada satu kepastian yang tidak boleh kita lupakan: kita akan mati, dibangkitkan, lalu mempertanggungjawabkan kehidupan yang pernah kita jalani.

Jika Tidak Ada Kehidupan Akhirat

Cobalah kita renungkan kehidupan manusia di dunia.

Ada orang yang menganiaya dan ada yang dianiaya. Ada yang menindas dan ada yang tertindas. Ada yang membunuh dan ada yang dibunuh. Ada yang memfitnah dan ada yang menjadi korban fitnah. Ada yang hidup dalam kemewahan, sementara yang lain menjalani hidup dalam kesusahan.

Ada manusia yang menghabiskan hidupnya dalam kebaikan, sementara ada pula yang menjadikan kejahatan sebagai jalan hidupnya.

Jika kehidupan hanya berhenti di dunia, lalu orang baik dan orang jahat sama-sama mati, sama-sama menjadi tanah, dan tidak ada kehidupan setelahnya, bagaimana keadilan memperoleh kesempurnaannya?

Tetapi kita meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Karena itu, kehidupan dunia tidak mungkin menjadi seluruh perjalanan manusia.

Keadilan Allah akan disempurnakan di akhirat.

Setiap penganiayaan, pembunuhan, fitnah, kezaliman, dan kejahatan yang dilakukan manusia tidak akan hilang begitu saja. Setiap pelaku akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Demikian pula setiap kebaikan yang dilakukan manusia tidak akan sia-sia.

Akhirat adalah tempat ketika seluruh perbuatan diperhitungkan dan setiap manusia menerima balasan yang sesuai dengan amalnya.

Nenek Tua yang Kelaparan

Bayangkan seorang nenek tua yang hidup dalam kemiskinan. Ia tinggal bersama cucu-cucunya yang masih kecil dan telah kehilangan kedua orang tuanya.

Di belakang rumahnya terdapat sebidang tanah kecil. Dengan tenaga yang tersisa, tanah itu dicangkul dan ditanami kacang tanah. Setelah panen, kacang tersebut direbus dan dijual ke pasar.

Dari hasil kerja keras itu, ia memperoleh sedikit uang. Uang tersebut rencananya digunakan untuk membeli beras, sayur, dan lauk bagi dirinya serta cucu-cucunya.

Namun, sebelum uang itu dibelanjakan, seorang lelaki merampasnya.

Nenek itu pulang dengan tangan kosong. Ia dan cucu-cucunya harus menahan lapar, sementara orang yang merampas uangnya menikmati makanan dengan hasil kejahatan tersebut.

Pada akhirnya, nenek itu meninggal. Perampoknya pun suatu hari akan meninggal.

Pertanyaannya: apakah keduanya benar-benar berakhir pada titik yang sama?

Apakah orang yang dizalimi dan orang yang menzalimi akan sama-sama menjadi tanah, tanpa ada pengadilan dan tanpa ada pertanggungjawaban?

Hati dan akal yang sehat akan mengatakan: tidak mungkin demikian.

Keadilan Allah tidak berhenti pada batas kehidupan dunia.

Anak Kecil dan Sepeda Mininya

Renungkan pula kisah seorang petani miskin yang mempunyai seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Anak itu sangat dicintainya. Sebagai bentuk kasih sayang, sang ayah membelikannya sebuah sepeda mini.

Betapa bahagianya sang anak. Ia berkeliling kampung dengan sepeda kesayangannya.

Namun, dalam sebuah perjalanan, seorang lelaki merampas sepeda itu dan membunuh anak tersebut. Mayatnya kemudian dibuang ke tengah belukar.

Anak itu meninggal. Pelakunya pun suatu hari akan meninggal.

Sekali lagi kita bertanya: apakah keduanya berakhir dalam keadaan yang sama?

Bagaimana mungkin seorang anak yang tidak berdosa dan seorang pembunuh yang merenggut nyawanya memperoleh akhir yang sama apabila tidak ada kehidupan setelah kematian?

Peristiwa semacam ini bukan hanya terjadi sekali. Dalam perjalanan sejarah manusia, terlalu banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban kekejaman manusia lain.

Karena itu, kehidupan akhirat bukan sekadar gagasan untuk menenangkan hati. Ia adalah bagian dari keyakinan bahwa keadilan Allah tidak pernah sia-sia.

Allah berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 18:

«“Apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama.”»

Al-Qur'an berkali-kali menunjukkan bahwa kebaikan dan kejahatan tidak pernah berada pada kedudukan yang sama.

Tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Tidak sama orang yang melihat dengan orang yang buta. Tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama kebaikan dengan kejahatan. Dan tidak sama penghuni surga dengan penghuni neraka.

Perbedaan itu pada akhirnya akan tampak secara sempurna di akhirat.

Ketika Kekuasaan Menjadi Kezaliman

Sejarah manusia juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan.

Kita mengenal kisah Fir'aun dan berbagai kerajaan besar pada masa lampau. Dalam sejarah dunia kemudian muncul kekuatan-kekuatan besar yang menguasai wilayah luas, menguras kekayaan negeri jajahan, menindas rakyat, dan melancarkan peperangan.

Perang demi kekuasaan, wilayah, dan kepentingan ekonomi telah menyebabkan jutaan manusia kehilangan kehidupan. Anak-anak, perempuan, orang tua, dan orang-orang yang tidak terlibat dalam pertikaian pun menjadi korban.

Pertanyaannya kembali kepada kita:

Jika semua itu berakhir hanya dengan kematian, di mana keadilan bagi mereka yang menjadi korban?


Dan bagi mereka yang memerintahkan, merencanakan, atau melakukan kezaliman, ke mana mereka akan membawa pertanggungjawaban?

Jawabannya adalah akhirat.

Di hadapan Allah, kekuasaan dunia tidak lagi menjadi pelindung. Harta tidak dapat menyuap. Pangkat tidak dapat menyelamatkan. Tentara tidak dapat menjadi perisai.

Yang tersisa hanyalah amal.

Allah akan mengadili setiap manusia sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada perbuatan yang terlalu kecil untuk diketahui-Nya dan tidak ada kejahatan yang terlalu besar untuk diperhitungkan-Nya.

Para Nabi pun Mengalami Penderitaan

Hal yang sama dapat kita renungkan dari kehidupan para nabi dan rasul.

Mereka diutus untuk mengajak manusia kepada iman, ibadah, dan kebaikan. Namun justru banyak di antara mereka yang mengalami penderitaan, ancaman, pengusiran, bahkan pembunuhan.

Para nabi telah wafat. Orang-orang yang menzalimi mereka pun telah wafat.

Apakah kemudian semuanya selesai?

Apakah perjuangan para nabi dan kejahatan para penentangnya memiliki akhir yang sama?

Tidak.

Ada pengadilan yang lebih sempurna daripada pengadilan dunia. Ada hari ketika seluruh kebenaran menjadi nyata dan setiap manusia menerima balasan atas apa yang telah dikerjakannya.

Keadilan akhirat membuat penderitaan orang-orang saleh tidak sia-sia dan kejahatan para penzalim tidak berlalu tanpa pertanggungjawaban.

Dunia Adalah Tempat Memilih

Mengapa Allah tidak langsung menjadikan seluruh manusia baik?

Karena kehidupan dunia adalah ujian. Manusia diberi akal, hati, kehendak, dan kemampuan untuk memilih.

Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 29:

«“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah dia beriman; dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah dia kafir.”»

Pilihan itu bukan berarti manusia bebas dari konsekuensi. Justru karena manusia diberi pilihan, ia juga akan dimintai pertanggungjawaban.

Dunia adalah tempat menentukan arah. Akhirat adalah tempat menerima hasil perjalanan tersebut.

Karena itu, jangan tertipu oleh keadaan sementara. Orang zalim mungkin tampak menang. Orang baik mungkin tampak menderita. Orang yang jujur mungkin hidup sederhana, sementara orang yang curang tampak bergelimang kemewahan.

Namun, jangan menilai seluruh perjalanan manusia hanya dari satu bab bernama dunia.

Masih ada akhirat.

Manusia: Makhluk yang Dimuliakan

Di tengah luasnya jagat raya, manusia memiliki kedudukan yang istimewa.

Allah menciptakan alam dengan keteraturan yang menakjubkan. Langit, bumi, bintang, dan berbagai unsur kehidupan berjalan dalam ketentuan-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 1:

«“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”»


Allah juga menjelaskan bahwa hidup dan mati diciptakan sebagai ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.

Manusia kemudian diberi kemampuan yang luar biasa. Dengan akalnya, manusia mempelajari alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kapal, menciptakan pesawat, menjelajahi bumi, bahkan menembus angkasa.

Namun kemampuan itu bukan sekadar alasan untuk berbangga. Ia adalah amanah.

Allah berfirman dalam Surah At-Tin ayat 4:

«“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”»

Dan dalam Surah Al-Isra ayat 70:

«“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”»

Kemuliaan manusia terletak bukan hanya pada kemampuan jasmaninya, tetapi juga pada akal, hati, dan kemampuan memilih jalan hidup.

Karena itu, semakin besar kemampuan manusia, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Tiga Tahap Perjalanan Manusia

Kehidupan manusia tidak berhenti pada beberapa puluh tahun di dunia.

Dalam keyakinan Islam, manusia menjalani perjalanan dari dunia, kemudian alam barzakh, lalu kehidupan akhirat.

Dunia bersifat sementara.

Barzakh adalah alam setelah kematian sebelum datangnya kebangkitan.

Akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan sekadar:

“Berapa lama saya hidup?”

Tetapi:

“Untuk apa saya hidup, dan ke mana saya akan pergi setelah kehidupan ini?”

Ada manusia yang menggunakan seluruh kemampuan rohaninya dan jasmaninya hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Tetapi ada pula manusia yang mencari kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan akhirat.

Mereka beriman, bertakwa, dan berusaha memperbanyak kebaikan.

Mereka memahami bahwa dunia bukan tujuan akhir.

Dunia adalah tempat ujian. Akhirat adalah tempat kehidupan yang sebenarnya.

Jangan Sampai Kehidupan Dunia Menipu Kita

Manusia memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi tetap tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi esok hari.

Kita bisa merencanakan perjalanan, tetapi tidak memastikan sampai di tujuan.

Kita bisa menjaga kesehatan, tetapi tidak menentukan kapan ajal datang.

Kita bisa mengumpulkan harta, tetapi tidak menjamin harta itu menyelamatkan kita.

Kita bisa memperoleh jabatan, tetapi tidak dapat membawa jabatan itu ke dalam kubur.

Pada akhirnya, yang kita bawa hanyalah amal.

Karena itu, kehidupan dunia seharusnya membuat kita semakin sadar, bukan semakin lalai.

Setiap kezaliman akan dipertanggungjawabkan.

Setiap kebaikan akan diperhitungkan.

Setiap air mata orang yang dizalimi diketahui Allah.

Setiap kesulitan orang yang bersabar diketahui Allah.

Setiap kebaikan yang mungkin dianggap manusia kecil tetap berada dalam pengetahuan-Nya.

Dan setiap manusia akan berdiri sendiri di hadapan-Nya.

Kehidupan yang Sesungguhnya

Kematian bukanlah akhir.

Ia adalah pintu menuju kehidupan berikutnya.

Jika kita meyakini bahwa Allah Maha Adil, maka kita harus meyakini adanya hari ketika keadilan itu disempurnakan.

Orang yang dizalimi tidak akan dilupakan.

Orang yang menzalimi tidak akan lolos.

Orang yang berbuat baik tidak akan kehilangan kebaikannya.

Orang yang memilih kejahatan akan berhadapan dengan konsekuensinya.

Maka, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dengan apa yang terlihat hari ini.

Jangan iri kepada kemewahan orang yang memperoleh harta dengan cara yang haram.

Jangan merasa sia-sia ketika kebaikan kita belum mendapatkan penghargaan manusia.

Jangan mengira kezaliman akan berlangsung selamanya.

Sebab ada hari ketika seluruh catatan dibuka, seluruh perbuatan diperhitungkan, dan seluruh manusia berdiri di hadapan Allah.

Dunia hanya persinggahan.

Kematian adalah kepastian.

Kebangkitan adalah kepastian.

Pengadilan Allah adalah kepastian.

Dan karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, maka pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan:

«Apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?»

Mengimani Kehidupan Akhirat Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan Kitab-kitab Suc...

Mengimani Kehidupan Akhirat

Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah mengutus para Nabi dan Rasul serta menurunkan Kitab-kitab Suci kepada manusia?

Jika direnungkan, tujuan pokok dari seluruh risalah para Nabi dan Rasul dapat dirangkum dalam dua perkara besar.

Pertama, mengenalkan manusia kepada Tuhan yang sebenarnya.
Manusia diberi tahu bahwa Tuhan yang wajib disembah hanyalah Allah Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia.

Kedua, memberitahukan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti di dunia.
Setelah kehidupan dunia yang terbatas ini berakhir, manusia akan dihidupkan kembali untuk memasuki kehidupan kedua, yaitu kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Di sana setiap manusia akan menerima balasan atas apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia. Kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sedangkan keburukan akan mendapatkan balasan yang sesuai.

Lalu, bagaimana kedudukan iman kepada akhirat dalam ajaran Islam?

Islam mengajarkan enam pokok keimanan yang dikenal sebagai Rukun Iman: iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para Rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.

Namun, jika kita memperhatikan Al-Qur'an dan hadis, ada dua perkara yang sangat sering dipertemukan: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir.

Mengapa keduanya begitu sering disebut bersamaan?

Karena iman kepada Allah menentukan kepada siapa manusia harus menghambakan diri, sedangkan iman kepada hari akhir menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupannya. Keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah seharusnya membentuk perilaku manusia sejak sekarang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ.»

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

Perhatikan hubungan yang sangat erat itu.

Iman kepada Allah dan hari akhir tidak berhenti sebagai keyakinan di dalam hati. Ia harus tampak dalam cara kita memperlakukan tetangga, menghormati tamu, menjaga lisan, dan mengendalikan perilaku.

Dengan demikian, iman kepada akhirat seharusnya mengubah cara kita memandang kehidupan dunia.

Dunia atau Akhirat?

Mengapa manusia sering begitu bersungguh-sungguh mengejar dunia?

Kita bekerja keras untuk mendapatkan harta. Kita berusaha membangun rumah yang nyaman. Kita memikirkan masa depan, kesehatan, pendidikan, kedudukan, dan berbagai kenikmatan lainnya.

Semua itu tidak salah. Namun, pernahkah kita memberikan perhatian yang sama—bahkan lebih besar—kepada kehidupan yang akan berlangsung setelah kematian?

Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini sangat terbatas jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Allah berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 32:

«“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memikirkannya?”»

Ayat ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan berpikir.

Apa sebenarnya ukuran keberhasilan hidup kita?

Apakah seseorang benar-benar beruntung jika ia memperoleh kesenangan dunia, tetapi kehilangan kebahagiaan akhirat?

Sebaliknya, apa arti kesulitan dunia jika pada akhirnya seseorang memperoleh keselamatan dan kebahagiaan yang kekal?

Di sinilah iman kepada akhirat memberikan perspektif yang berbeda terhadap kehidupan.

Setetes Air di Lautan

Rasulullah ﷺ memberikan sebuah perumpamaan yang sangat kuat untuk menggambarkan perbandingan dunia dan akhirat.

Kehidupan dunia dan kehidupan akhirat ibarat seseorang yang berjalan menuju laut, lalu memasukkan satu jarinya ke dalam air. Ketika jari itu diangkat, air yang melekat pada jarinya itulah gambaran kehidupan dunia, sedangkan lautan yang sangat luas adalah gambaran kehidupan akhirat.


Bayangkan perbandingan itu.

Setetes air di jari dibandingkan dengan luasnya lautan.

Begitulah kecilnya kehidupan dunia jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Umumnya manusia hidup hanya dalam rentang puluhan tahun. Enam puluh atau tujuh puluh tahun terasa panjang ketika kita menjalaninya. Tetapi ketika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal, rentang waktu tersebut menjadi sangat singkat.

Bahkan seandainya kehidupan dunia berlangsung jauh lebih lama dari kehidupan manusia pada umumnya, tetap saja ia merupakan kehidupan yang terbatas.

Sedangkan kehidupan akhirat tidak demikian.

Ia adalah kehidupan yang tidak berakhir.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:

“Bagaimana saya bisa hidup nyaman di dunia?”

Tetapi juga:

“Bagaimana saya mempersiapkan kehidupan yang tidak akan pernah berakhir?”

Jangan Sampai Menyesal

Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya memperoleh berbagai kesenangan dunia. Ia memiliki harta, kedudukan, rumah yang bagus, dan berbagai kenikmatan.

Namun, ketika kehidupan dunia berakhir, ternyata ia tidak memiliki bekal untuk akhirat.

Apa yang terjadi?

Ia akan menghadapi penyesalan yang tidak mungkin diperbaiki lagi.

Allah menggambarkan penyesalan orang-orang yang mendustakan kehidupan akhirat dalam Surah Al-An'am ayat 27–29. Ketika mereka berada di hadapan neraka, mereka berkata dengan penuh penyesalan:

«“Alangkah baiknya sekiranya kami dikembalikan ke dunia, kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami dan kami akan menjadi orang-orang yang beriman.”»

Tetapi penyesalan itu tidak berhenti di sana.

Allah menjelaskan bahwa seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali melakukan apa yang dahulu mereka lakukan. Mereka tetap akan kembali kepada kekafiran dan kemaksiatan.

Kemudian mereka berkata:

«“Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia ini, dan kita tidak akan dibangkitkan.”»

Inilah gambaran manusia yang baru menyadari kebenaran setelah kesempatan untuk memperbaiki diri telah berakhir.

Di dunia, manusia masih memiliki kesempatan. Di akhirat, kesempatan itu telah selesai.

Mengapa Para Nabi Mengingatkan Akhirat?

Jika demikian, kita dapat memahami mengapa persoalan akhirat menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan para Nabi dan Rasul.

Mereka tidak sekadar mengajak manusia melakukan ritual ibadah.

Mereka mengajak manusia mengenal Allah, menyembah-Nya, menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

Mereka mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang sementara.

Mereka menyeru manusia agar tidak menukar kehidupan yang kekal dengan kesenangan yang sesaat.

Dan mereka memperingatkan manusia agar jangan sampai mengalami penyesalan ketika seluruh kesempatan telah tertutup.

Pertanyaan untuk Kita

Sekarang mari kita bertanya kepada diri sendiri.

Jika kita benar-benar yakin bahwa kehidupan akhirat itu kekal, apakah cara kita menjalani hidup hari ini sudah mencerminkan keyakinan tersebut?

Ketika kita memilih antara kejujuran dan keuntungan sesaat, apakah kita mengingat akhirat?

Ketika kita hendak menyakiti seseorang dengan lisan, apakah kita mengingat bahwa setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan?

Ketika tidak ada seorang pun yang melihat perbuatan kita, apakah kita tetap ingat bahwa Allah melihat?

Dan ketika dunia menawarkan sesuatu yang menggiurkan tetapi harus dibayar dengan mengorbankan iman dan ketaatan, mana yang kita pilih?

Di sinilah iman kepada akhirat menjadi nyata.

Iman kepada akhirat bukan sekadar percaya bahwa kehidupan setelah kematian itu ada. Iman kepada akhirat adalah kesadaran bahwa kehidupan yang sedang kita jalani sekarang akan menentukan kehidupan yang kekal nanti.

Maka, jangan sampai kita menjadi orang yang sangat serius mempersiapkan kehidupan dunia yang hanya sementara, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan akhirat yang tidak berakhir.

Para Nabi dan Rasul telah mengingatkan manusia tentangnya. Kitab-kitab Allah telah menerangkannya. Al-Qur'an terus mengingatkan kita tentangnya.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita:

Apakah kita akan mendengarkan peringatan itu sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna?

Selama kita masih hidup, pintu untuk memperbaiki diri masih terbuka.

Selama napas masih berembus, kita masih dapat memperbanyak iman, memperbaiki amal, meninggalkan keburukan, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya.

Dunia adalah tempat beramal. Akhirat adalah tempat menerima balasan.

Karena itu, jangan sampai kita memenangkan kehidupan yang sementara, tetapi kehilangan kehidupan yang kekal.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (31) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (28) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (314) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (753) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (337) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)