basmalah Pictures, Images and Photos
April 2024 - Our Islamic Story

Choose your Language

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah at...

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah atau panen. Saat bercerita tentang buah, Rasulullah saw justru bersabda bahwa yang dicuri adalah sedekah. Yang dimakan makhluk lain adalah sedekah. Hidup itu soal karya, bukan tentang hasil.

Saat hiruk pikuk menggema, Rasulullah saw memerintahkan untuk tidak mengikuti arus kebisingan, tetapi memerintahkan mengolah tanah dan menanam. Sibukkan dengan karya bukan berkoar-koar dan perselisihan.

Sumber daya yang terus tanpa henti memberikan kehidupan pada makhluk di muka bumi adalah tanah. Mengolah tanah berarti awal menjaga kesinambungan generasi dan seluruh makhluk-Nya. Menanam berarti membangun optimisme dan harapan.

Bukankah misi para penjelajah adalah mendapatkan tanah baru? Bukankah pertempuran paling sengit di muka bumi tentang perebutan tanah? Bukankah dari tanah seluruh pundi-pundi kekayaan berasal? Anehnya, mengapa justru merasa terhina dengan mengolah tanah?

Tanah bisa mengeluarkan perbendaharaannya hanya dengan menggali dan menanamnya. Tanah hanya bisa mengeluarkan keberkahannya hanya dengan bertakwa. Bila mengolah tanah dan menanamnya disemangati oleh takwa, maka bumi ini menjadi surga.

Mengolah tanah itu sangat mudah, hanya dengan menggemburkannya. Menanam itu sangat mudah, hanya dengan memasukan biji-bijian ke tanah yang gembur. Setelah itu, Allah yang menjaga dan memeliharanya. Setelah itu,  tugas alam semesta yang untuk membesarkannya.

Tanah merupakan harta karun yang tak pernah berhenti mengeluarkan kekayaannya. Caranya amat mudah hanya dengan menggemburkan dan memasukkan biji-bijian ke dalamnya. Dengan cara ini kehidupan di muka bumi terus berkelanjutan.

Memilih Ujian Yang Resikonya Terukur Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Hidup itu ujian. Manusia itu khalifah yang diberikan kebebasan....

Memilih Ujian Yang Resikonya Terukur

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Hidup itu ujian. Manusia itu khalifah yang diberikan kebebasan. Maka pilihlah ujian yang resikonya terukur dan terringan.  Jangan mengambil resiko yang tidak terukur karena bisa menghancurkan dan sangat membebankan hingga taraf tak sanggup menanggungnya.

Ujian yang resikonya terukur adalah dengan tunduk dan taat kepada Allah. Ibadah adalah ujian bagi sang hamba. Ujian bagi sang khalifah, mau tetap menjadi wakil Allah di muka bumi atau wakil egonya? Mau mengikuti kebebasan egonya atau kebebasan yang terkelola dan terarah dengan bimbingan Allah?

Yang kikir, hartanya akan musnah. Yang tamak, hartanya tidak memberikan kemanfaatan walaupun melimpahkan ruah. Bila berzakat, harta yang "musnah" hanya 2,5 persen saja, bukankah "kehilangan" 2,5 persen sangat terukur? Sisanya yang 77,5 persen bebas untuk dimanfaatkan kepada yang mubah.

Kebanyakan manusia memilih untuk kikir bukan berbagi. Kikir adalah ujian dari hasutan nafsu. Dermawan adalah ujian, apakah mau ditaati atau diabaikan? Yang berakal akan memilih resiko yang terukur.

Tamak atau mencari yang halal? Semuanya ujian. Manusia bebas untuk memilih. Ketamakan menimbulkan kezaliman dan perampasan hak orang lain. Sedangkan yang halal menimbulkan ketentraman dan kebersamaan. Yang tamak, hartanya menjadi abu. Yang halal, membawa keberkahan. Namun, kebanyakan memilih ujian ketamakan.

Resiko puasa hanya lapar dan haus selama 12-14 jam. Sedangkan makan dan minum tak karuan. Gaya hidup yang bergemerlapan akan menghabiskan harta, penyakit badan yang akut  yang kadang tak bisa disembuhkan. Mau memilih ujian yang mana? Berpuasa, resikonya paling ringan.

Mau menuhankan ego diri atau menuhankan Allah. Menuhankan Allah hanya butuh kerendahan hati dan mencampakkan kesombongan. Sedangkan menuhankan ego terlihat hebat dan bebas, namun jiwanya sengsara tak pernah bahagia. Bukankah lebih ringan merendahkan hati daripada sengsara hidupnya?

Bertempur Melawan Penjajah Israel adalah Rahmat dari Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apakah pembunuhan terhadap bayi laki-laki...

Bertempur Melawan Penjajah Israel adalah Rahmat dari Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Apakah pembunuhan terhadap bayi laki-laki di era Firaun, menghapuskan takdir kehancuran tahta Firaun? Apakah upaya menyingkirkan Yusuf dengan memasukannya ke sumur, membatalkan takdir Yusuf menjadi Nabi dan petinggi Mesir? Apakah dibunuhnya seluruh mukmin dalam peristiwa Ashabul Ukhdud, menyebabkan hilangnya mukmin di Yaman?

Semua upaya yang dilakukan untuk menghambat, menunda hingga membumihanguskan muslimin tidak akan pernah terealisasi. Bukankah di saat yang sama muslimin justru tumbuh organik di negara Barat?

Penjajah Israel negara yang paling kuat militernya di dunia. Namun saat diserang oleh Iran, mengapa yang pusing menangkis serangan adalah Amerika, Inggris, Perancis dan Yordania? Mengapa Ukraina yang didukung NATO justru dibiarkan sendiri melawan Rusia?

Muslimin memang umat terbaik yang dihadirkan di muka bumi. Maka, yang pantas menghadapi penjajah Israel adalah rakyat Palestina. Sebab, penjajah Israel merupakan gabungan kekuatan Barat, baik secara militer, ekonomi dan politik.

Pertempuran muslimin terhadap penjajah Israel adalah rahmat-Nya. Mengapa? Mengalahkan penjajah Israel lebih mudah dari bertempur dengan bangsa-bangsa lainnya. Bukankah karakter Bani Israel itu penakut dan pembangkang? Bukankah tidak ada catatan sejarah, Bani Israel menang dalam pertempuran besar?

Bukankah dalam sejarah, muslimin dapat mengalahkan Eropa, Persia, India dan Mongol? Yang dalam catatan sejarah, ada yang mengakui keunggulan mereka? Saat muslimin dalam keadaan lemah, maka yang dihadapi bangsa yang terlemah yaitu penjajah Israel. Itulah rahmat dari Allah. Sehingga infrastruktur militer sehebat apapun yang ditopang negara-negara terkuat tak terlalu berarti.

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Se...

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Setiap tanaman memiliki peranan tersendiri yang tak bisa tergantikan. Kontur tanah sangatlah berbeda. Bagaimana memadukan kontur tanah dengan cara hidup tanaman?

Tanah tebingan yang berbentuk vertikal, apakah bisa dimanfaatkan? Tanah tebingan apakah bisa menghasilkan sesuatu bagi kesejahteraan manusia? Bukankah segala sesuatu tidak sia-sia? Tanaman apa yang cocok di tanah tebingan?

Tanah yang diterasering menyisakan tebingan tanah. Selama ini hanya dibiarkan sehingga yang hidup hanya rumput dan ilalang. Apakah tidak ada yang lain? Bagaimana agar tebingan tidak longsor dengan tumbuhan tetapi menghasilkan nilai tambah?

Sedang dibuat riset pemanfaatan tanah tebingan. Bagian atas tebingan ditanami nanas. Bagian bawahnya ditanami pohon lada. Riset adalah metodologi untuk bertafakur dan tadabur untuk memanfaatkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Akar nanas akan mengokohkan tanah tebingan bagian atas, sebab akarnya berserabut dengan kedalaman 30-50 cm. Kelak akan bermunculan juga tunas-tunas baru sehingga bagian atas tebingan semakin kokoh. Semakin vertikal tanah, rasa nanas akan semakin manis dan segar.

Pohon lada yang merambat akan ditanam di bawah tebingan. Kelak akar pelekatnya akan berpegangan pada tanah tebingan. Dengan karakter lada seperti rumput, semoga akan menjaga tebingan dari air hujan dan angin yang bisa melongsorkan tanah sedikit demi sedikit.

Semuanya memang baru tahap riset. Bukankah riset itu lebih baik dari ibadah sunah tahunan? Bukankah bila risetnya salah pun mendapatkan satu pahala? Bukankah riset membongkar takdir-Nya di alam semesta untuk dijadikan hikmah kehidupan?

Riset Pohon Lada Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Lada pernah menjadi primadona Nusantara. Pelabuhan Banten, Sunda Kelapa dan pelabuh...

Riset Pohon Lada

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Lada pernah menjadi primadona Nusantara. Pelabuhan Banten, Sunda Kelapa dan pelabuhan internasional lainnya di zamannya, lada dan jenis rempah-rempah lainnya menjadi komoditas utama. Kehangatan dan aroma lada menjadi daya tarik luar biasa.

Lada menjadi hadiah persahabatan antara maharaja Sriwijaya dengan khalifah Bani Ummayah. Umar bin Abdul Aziz mendapatkan hadiah lada dari Sriwijaya. Dahulu, lada seperti emas permata bahkan lebih mahal dari emas.

Untuk menjaga warisan Nusantara ini, mencoba membudidayakan tanaman  lada rambat di kebun. Lada menjadi tumpang sari. Lada untuk mengoptimalkan lahan yang ada. Banyak lahan kebun yang bisa dioptimalkan dengan tanaman lada.

Ada 3 jenis riset yang akan dilakukan. Lada rambat hidup di batang pohon petai, alpukat dan tebingan tanah. Jenis akar lada ada dua, akar yang menghujam ke tanah dan akar pelekat untuk bisa menempel di pohon atau sarana perambatan yang disediakan.

Akar yang menghujam, berfungsi mengambil nutrisi dari tanah. Sedangkan akar pelekat hanya berfungsi untuk menggengam ke batang.  Pertanyaannya, apakah akar pelekat akan mempengaruhi kehidupan pohon yang menjadi tempat rekatannya? Inilah yang harus diuji.

Yang akan diuji pula, apakah akar pelekat lada dapat menempel di tanah tebingan? Bila bisa merambat seperti rumput, maka tanah tebingan akan menjadi tempat melekatnya akar-akar lada rambat. Bila uji coba ini berhasil, tebingan setinggi antara 50-200 cm bisa menjadi sangat produktif karena bisa menggantikan peran rumput.

Bila lada rambat tidak mengganggu pohon yang menjadi tempat merekatnya, maka dalam satu pohon akan panen dua jenis yaitu buah pohon yang menjadi rambatan lada dan buah lada itu sendiri. Mencoba riset untuk menguji hipotesa ini.

Karakter Bangsa Arab di Era Romawi dan Persia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bisakah bangsa Arab dikalahkan oleh bangsa-bangsa lain...

Karakter Bangsa Arab di Era Romawi dan Persia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bisakah bangsa Arab dikalahkan oleh bangsa-bangsa lainnya? Hanya Jazirah Arab yang tidak dijajah oleh Persia dan Romawi. Hanya bangsa Arab yang jiwanya masih merdeka, bersih dan mulia. Itulah sebabnya Allah tidak mengutus nabi terakhir dari bangsa Persia, Yunani, India dan Romawi walaupun mereka memiliki peradaban dan ilmu pengetahuan  tinggi.

Menurut Prof Dr Ali Muhammad Shalabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah, bangsa Arab adalah bangsa yang sabar menghadapi musibah, tabah menghadapi cobaan dan rela walaupun hanya mendapatkan yang sedikit. Penyebabnya, alam yang telah menempanya.

Terbiasa hidup di kawasan gurun pasir kering yang sulit ditemukan mata air dan ladang. Mendekati gunung yang terjal dan berjalan jauh di bawah teriknya matahari. Tak memperdulikan cuaca panas dan dingin. Rintangan perjalanan dan jauhnya jarak tempuh bukanlah masalah baginya.

Masyarakat Arab berkomentar tentang makanan, "Makan terlalu kenyang dapat menghilangkan kecerdasan. Mereka juga menanggap aib jika seseorang rakus dan gemar makan. Sebuah syair menjelaskan, "Manakala tangan-tangan berebut meraih perbekalan, maka aku bukanlah orang tercepat di antara mereka, karena yang paling rakus di antara mereka pastilah dia yang paling cepat."

Masyarakat Arab, selain dikenal berpostur tangguh, juga memiliki jiwa yang kuat dan besar. Ketika kedua sifatnya berpadu, maka ia dapat melakukan sesuatu yang mengagumkan dan luar biasa. Dalam duel pertarungan, saat musuh terkalahkan, mereka memaafkan dan meninggalkannya. Mereka tidak mau melukai dan membunuhnya.

Saat bangsa Arab di jazirah Arab menjaga karakter ini, mereka tidak mampu dikuasai musuhnya, bukan karena alasan alamnya semata tetapi karena karakternya juga. Namun saat menanggalkannya, maka kabilah Arab di Syam dan Yaman menjadi bagian kekuasaan Persia dan Romawi.

Sekarang, dimana karakter bangsa Arab yang masih terjaga? Karakter ini masih terjaga di rakyat Palestina. Agresi penjajah Israel ke Gaza mempertontonkan karakter rakyat Gaza yang sabar, teguh, tabah, namun memiliki jiwa yang kuat dan tangguh untuk mengadapi keganasan genosida penjajah Israel. Itulah karakter bangsa Arab yang asli.

Sumber:
Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar

Saling Menopangnya Keluarga Abdul Muthalib Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Saling menopang, itulah salah satu karakter keluarga Abdu...

Saling Menopangnya Keluarga Abdul Muthalib

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Saling menopang, itulah salah satu karakter keluarga Abdul Muthalib sang kakek Rasulullah saw. Saat ayah dan ibunya Rasulullah saw wafat, pengasuhan diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Saat sang kakek wafat, pengasuhan Rasulullah saw diserahkan ke Abu Thalib, sang paman. Sang paman mencintai Rasulullah saw melebihi cintanya pada anak-anaknya.

Abu Thalib bukanlah orang kaya. Oleh karena itu, untuk membantu dan meringankan bebannya, Rasulullah saw ikut mengembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah. Upah pengembalaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga pamannya. Rasulullah saw juga membantu pamannya berdagang.

Saat Rasulullah sudah menikah dengan Siti Khadijah, kondisi kehidupan sang paman tidak juga berubah. Ditambah lagi anak-anak sang paman semakin bertambah pula, tanggungan hidup semakin berat. Belum lagi, bila masa paceklik datang. Rasulullah saw terpanggil untuk meringankan beban sang paman.

Rasulullah saw pun mendatangi rumah sang paman lainnya yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.  Tujuannya, bermusyawarah memecahkan beban berat kehidupan yang dialami Abu Thalib, yang merupakan saudara kandung dari Abbas bin Abdul Muthalib tetapi berbeda ibu. Apa yang didiskusikan?

Rasulullah saw. berkata kepada Abbas, salah seorang pamannya yang lain, “Sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib banyak anaknya, sedangkan sekarang ini seperti yang engkau lihat sedang musim paceklik. Marilah kita pergi kepada Abu Thalib untuk meringankan bebannya. Engkau mengambil seorang di antara anak-anaknya, dan aku pun akan mengambil seorang anaknya pula.”

Lalu mereka berdua berangkat menuju ke rumah Abu Thalib. Keduanya langsung mengemukakan maksudnya, dan Abu Thalib pun mau menerima usul mereka berdua. Akhirnya Al-Abbas mengambil Ja’far bin Abu Thalib, sedangkan Nabi Muhammad saw. mengambil Ali bin Abi Thalib untuk diasuh dan diperlakukan sama dengan anak-anaknya yang lain. Kelak Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah Rasyidin ke-4. Sedangkan Jafar bin Abu Thalib, menjadi utusan Rasulullah saw ke raja Najasi dan panglima perang Mu'tah.

Dalam keluarga Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw, telah tertanam budaya saling meringankan beban sesama kerabat, hingga ke pengasuhannya. Kerabat ada satu tubuh. Dihimpunkan oleh Allah untuk saling mengisi dan menopang.

Sumber:

https://bincangsyariah.com/khazanah/alasan-sahabat-ali-bin-abi-thalib-diasuh-nabi-sejak-kecil/

https://islamdigest.republika.co.id/berita/qizr1k335/silsilah-anak-dan-istri-abdul-muthalib-bin-hasyim

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Diliha...

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta


Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Dilihatnya, ada seekor burung buta tengah mematuk-matuk pohon. Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Rasulullah saw bersabda, "Burung itu berkata, Ya Allah, Engkau Maha Adil. Engkau telah menghilangkan pandanganku, tapi ketika aku lapar, ternyata ada belalang yang masuk ke mulutku."

Lalu, burung itu mematuk lagi, Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik berkata, "Tidak." Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya."

Dalam kisah lain, Malik bin Dinar pergi haji. Di perjalanan, ia melihat burung yang menjepit roti pada paruhnya. Ia mengikuti burung tersebut. Ternyata, burung itu mendatangi orang yang sudah tua renta, yang terikat di sebuah batang pohon.

Burung itu menyuapkan roti tersebut ke mulut orang tua itu sedikit demi sedikit. Setelah itu, sang burung terbang dan kembali dengan membawa air, lalu dialirkan ke mulut orang itu.

Malik bin Dinar mendekati orang itu, lalu bertanya, "Siapkan dirimu?" Orang itu menjawab, "Aku hendak berhaji, namun dicegat perampok. Mereka mengikatku di sini. Aku telah menahan lapar 5 hari. Lalu, aku berkata, "Wahai Zat yang mengabulkan doa orang yang terdesak, saat ini aku sedang terdesak, kasihanilah aku."

"Ternyata Allah mengirimkan burung ini kepadaku." Malik bin Dinar pun melepaskan ikatan orang tua itu dan mereka berangkat berhaji bersama."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publisher

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang meme...

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim


Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang memeras susu seekor sapi, namun hasilnya sama dengan susu tiga puluh ekor sapi. Raja takjub dan berniat besok akan mengambil sapi itu.

Esoknya, raja memerah sapi itu, tapi hasilnya hanya setengah dari sebelumnya. Raja berkata, "Kenapa air susunya berkurang, bukankah sapi ini engkau gembalakan di tempat biasa?"

Pemilik sapi itu menjawab, "Benar, Tapi, paduka telah berniat zalim." Sang raja tertegun. Apa yang diucapkan sang pemilik sapi memang sangat benar. Hati yang zalim membuat keberkahan dicabut. 

Masih ingat kisah Rasulullah saw saat masih kecil, ketika menggembala kambing di Bani Saad? Mengapa kambing yang Rasulullah saw gembalakan pulang dengan kenyang? Padahal para pengembala juga mengikuti tempat pengembalaan Rasulullah saw?

Mengapa susu yang keluar dari kambing yang digembalakan Rasulullah saw menghasilkan susu yang berlimpah dibandingkan kambing para pengembala lainnya? Padahal tempat pengembalaannya sama?

Dalam kisah lain, sekelompok kijang mendekati Nabi Adam. Nabi Adam mendoakan dan mengusap punggung sang kijang. Aroma misik pun keluar dari punggung mereka. Binatang yang lain pun, ingin seperti kijang. Mereka menemui Nabi Adam, Nabi Adam pun mendoakan dan mengusap punggung mereka. Namun tidak mengeluarkan aroma misik.

Mereka menemui kijang, lalu berkata, "Kami telah melakukan apa yang kalian lakukan, tetapi kami tidak mendapatkan apa yang kalian dapatkan?" Sang kijang berkata, "Kami mengunjungi beliau karena Allah, sedangkan kalian mengunjunginya demi aroma misik."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar  Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia m...

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar 


Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia merasa haus, lalu dia melihat kebun yang ditunggui seorang anak.

Dia meminta air, tapi anak itu berkata, "Kami tidak punya air." Dia berkata, "Tolong berikan saya buah delima." Anak itu memberinya dan dia langsung memakannya.

Gubernur merasa buah delima itu sangat lezat, sehingga terbetik niat di hatinya untuk mengambil kebun itu. Dia meminta buah delima lagi, tapi rasanya kecut.

Dia bertanya, "Bukankah buah ini dari pohon tadi?" Anak itu menjawab, "Ya." Sang gubernur bertanya lagi, "Lalu kenapa rasanya berubah?"

Anak itu berkata, "Barangkali karena niat paduka telah berubah." Gubernur mengurungkan niatnya untuk mengambil kebun tersebut, lalu berkata, "Berikan satu lagi untukku." Ternyata, rasanya lebih lezat dibandingkan yang pertama.

Gubernur bertanya, "Kenapa rasanya berubah lagi?" Anak itu menjawab, "Karena niat paduka telah berubah lagi." Manis dan kecutnya buah delima tergantung dari niat-niat sang gubernur.

Alam merespon setiap niat. Niat yang baik, Alam pun akan memberikan kebaikan. Niat yang jahat, Alam pun akan memberikan yang buruk. Memperbaiki alam semesta dengan memperbaiki niat-niat yang terbesit di dalam dada manusia.

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Selalu di Benteng Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Tak bisa terpisah dengan penyakit hati. Tak bisa menanggalkan akhlak yang buruk. T...

Selalu di Benteng

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Tak bisa terpisah dengan penyakit hati. Tak bisa menanggalkan akhlak yang buruk. Terlena dengan hawa nafsunya. Tergoda dengan tipuan bisikan syetan. Manusia memang lemah tak berdaya.

Tak bisa berlepas diri dari fitnah dunia. Mata selalu jelalatan. Telinga tak bisa menyeleksi. Lidah selalu tak terkendali. Waktu banyak yang tersia-siakan. Perbuatan banyak yang tak berguna. Kaki sering salah langkah. Tangan tak terhitung mengambil yang bukan haknya. Manusia memang selalu menzalimi dirinya sendiri.

Apa yang bisa dilakukan? Kuatkah manusia menghadapi semuanya? Bisakah dengan ilmu dan akalnya melawannya? Dalam makan dan minum ada godaan. Dalam tidur dan pandangan pun ada fitnah. Dalam diam pun ada keterlenaan. Bisakah manusia selamat mengarungi kehidupan ini?

Hanya pertolongan Allah yang bisa menyelamatkan. Rahmat Allah yang bisa melindungi. Hanya Sunnah Rasulullah saw yang bisa membimbing dalam meniti kehidupan ini.

Masuklah dalam benteng perlindungan Allah. Maka, jiwa yang paling lemah dan rapuh akan terselamatkan. Jiwa yang paling kotor akan dibersihkan. Semudah itu mengarungi gelombang kehidupan.

Benteng perlindungan itu bernama puasa. Cukup menahan makan dan minum dalam rentang waktu tertentu, maka manusia telah memasuki benteng yang kokoh. Aman dan tentram bila sudah memasuki benteng ini.

Seorang prajurit bila sudah memasuki benteng berarti jiwanya terselamatkan. Musuh tidak berani memasukinya. Suasananya seperti seorang bayi dalam dekapan sang ibu. Teruslah berpuasa walaupun Ramadhan telah berlalu, agar selalu dalam benteng yang kokoh.

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya  Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pe...

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya 


Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pergi dengan maksud menagihnya. Di tengah jalan, sandalnya menginjak kotoran dan ia mengibaskannya.

Kotoran itu terpental dan menempel di tembok orang Majusi tersebut. Abu Hanifah bingung dan bergumam, "Jika aku gosok, aku akan merusak cat temboknya."

Akhirnya ia mengetuk pintu rumah Majusi tersebut, bukan untuk membicarakan penagihan hutang terlebih dahulu, tetapi bagaimana cara membersihkan tembok orang Majusi karena terkena kotoran yang tidak disengajanya.

Bagi Abu Hanifah menempelnya  kotoran di tembok milik sang Majusi secara tak sengaja merupakan bagian dari kezaliman yang akan dibalas di akhirat. Oleh karena itu dia berusaha keras mendapatkan kerelaan dari sang Majusi.

Saat Abu Hanifah mengetuk pintu sang Majusi, disangka hendak menagih hutangnya, maka sang Majusi berkata, "Beri aku waktu, wahai Imam." Abu Hanifah justru berkata, "Tembokmu terkena najis karena aku, jadi berikan jalan keluar kepadaku."

Sang Majusi terperanjat dengan pertanyaan Abu Hanifah, karena dia mendahulukan bagaimana cara menghilangkan kotoran di tembok rumahnya dibandingkan menagih hutangnya.

Orang Majusi itu bertanya kembali, "Wahai Abu Hanifah, apakah engkau ingin membersihkan tembokku?" Abu Hanifah menjawab, "Ya Benar." Sang Majusi tergopoh-gopoh membuka pintu rumahnya. Seketika itu pula sang Majusi langsung mengucapkan syahadat.

Sumber: 
Abdurrahman Asy-Stafii, Amalul Kubra, Sahara Publisher

Profesi Buzzer Dunia Maya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Rasulullah saw bersabda, "Ketika aku diangkat ke langit (Mi'raj), ...

Profesi Buzzer Dunia Maya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Rasulullah saw bersabda, "Ketika aku diangkat ke langit (Mi'raj), aku melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Dengan kuku itu mereka saling melukai muka-muka serta dada-dada mereka." Maka aku bertanya, "Siapakah mereka wahai Jibril?" Dia menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging saudaranya (gibah) dan mencela kehormatan mereka." (HR Abu Dawud)

Aisyah berkata tentang Shafiyah kepada Rasulullah saw bahwa Shafiyah orangnya begini dan begitu. Maka Rasulullah saw bersabda, "Engkau telah mengucapkan sesuatu, andaikan dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya." Aisyah berkata, "Dan aku telah menceritakan (menirukan gerakan) seseorang kepada beliau."

Maka beliau bersabda, "Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang, meskipun saya akan mendapatkan upah sekian dan sekian banyaknya. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Mendapatkan upah untuk mengungkapkan yang menghancurkan harga diri telah disabdakan Rasulullah saw ternyata sangat nyata di era sekarang. Padahal sabdanya ribuan tahun yang lalu.

Di era sekarang telah muncul profesi baru yang menggiurkan. Imbalannya menjadi menteri, komisaris perusahaan negara, duta besar, jabatan strategis pemerintah lainnya, dibebaskan kasus hukuman hingga bayarannya mencapai milyaran. Bukankah sangat menggiurkan? Namun Rasulullah saw memerintahkan untuk menolak profesi ini.

Profesi berupa menggunakan kuku-kukunya yang tajam untuk merusak kehormatan diri seseorang. Menghancurkan harga diri seseorang sehingga membuat dada-dada terasa sesak. Profesi ini sangat subur di tahun politik, seperti Pemilu, Pilpres, Pilkada dan ragam momentum lainnya.

Profesi ini juga bisa berupa melaporkan ke penegakan hukum padahal materi yang dilaporkan tidak layak untuk dibawa ke ranah hukum. Atau mengungkapkan yang sifatnya bukan persoalan publik. Semuanya demi menghancurkan dan menjatuhkan kehormatan dan harga diri.

Sekarang, profesi ini telah lahir menjadi bisnis tersendiri yang menggiurkan, padahal menciptakan kesimpangsiuran, perselisihan, keributan dan pertentangan yang bisa mengarah konflik horisontal. Kehormatan diri seseorang adalah haram mengapa menjadi "rujakan" harian?

Haramnya Harta Milik Muslim Mendorong Kemakmuran Optimal Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Yang dimiliki oleh seorang muslim adalah ha...

Haramnya Harta Milik Muslim Mendorong Kemakmuran Optimal

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Yang dimiliki oleh seorang muslim adalah haram bagi muslim yang lain. Harta yang dimiliki seorang muslim adalah haram bagi muslim yang lainnya, kecuali dengan mekanisme berdagang dan bersedekah atau bentuk kerelaan lainnya.

Pengharaman ini menjadi bentuk penjagaan hak kepemilikan. Membangun beragam transaksi peralihan kepemilikan yang bermartabat dan saling ridha. Juga membangun rasa merelakan untuk melindungi muslim dari api neraka bila ada transaksi yang dianggap masih mengganjal di hati.

Bila harta milik satu muslim adalah haram, bagaimana dengan kekayaan bersama yang dimiliki muslimin? Anggaran negara adalah kekayaan milik bersama. Sumber daya alam adalah kekayaan bersama. Harta milik negara adalah kekayaan bersama. Menyakiti satu muslim dengan mengambil hartanya adalah haram, maka bila yang dirampok adalah kekayaan bersama milik rakyat, tentu dilaknat.

Haram, bukan bentuk pengekangan, tetapi  sistem perlindungan. Larangan, bukan membatasi kebebasan, tetapi bentuk membangun tanggungjawab bersama dalam  mencegah segala yang merusak. Dengan sistem haram muncul ketententram dalam berusaha untuk meraih yang paling optimal. Karena apa yang diraih akan dijaga kepemilikannya secara bersama.

Hukum haram akan harta milik muslim mendorong kegairahan berbisnis dan aktivitas  ekonomi lainnya. Mendorong kegairahan  investasi karena setiap orang menjaganya seperti menjaga hartanya sendiri. Rasa aman dan nyaman dalam aktivitas ekonomi dan investasi mendorong kemakmuran yang optimal.

Bila haramnya harta milik muslim diaplikasikan bersama, tak perlu banyak undang-undang keamanan investasi. Tak perlu banyak undang-undang keamanan aktivitas bisnis dan ekonomi. Tak perlu banyak undang-undang berkaitan dengan perdata dan pidana. Konsep perundangan menjadi sangat sederhana.

Bukankah perundangan yang ruwet menjadi menarik atau tidaknya masuknya investasi? Hanya dengan satu dasar bahwa harta milik orang lain adalah haram, sudah bisa menggerakkan perekonomian sebuah masyarakat. Itulah kesederhanaan Islam.

Bayi, Filosofi Buah Penempaan Puasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kembali kepada fitrah itu seperti bayi yang baru dilahirkan. Itu...

Bayi, Filosofi Buah Penempaan Puasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kembali kepada fitrah itu seperti bayi yang baru dilahirkan. Itulah buah puasa. Bayi itu menentramkan dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Muncul kasih sayang bagi yang memandangnya. Sudah seperti itukah kita berinteraksi dan bermasyarakat? Hadir untuk menentramkan, menyejukkan dan menebar kasih sayang.

Bayi itu pasrah dan ridha kepada ibunya. Apapun yang diperbuat ibunya pasti yang terbaik. Sudah sepasrah dan seridha itukah kita kepada Allah? Masihkah ada kekhawatiran akan takdir-Nya? Masihkah merasa ada yang lebih baik dari kehendak-Nya?

Tanda ridha adalah taat kepada Allah. Semua syariat-Nya terbaik bagi manusia. Semua perintah-Nya tak ada yang menandingi kebaikan-Nya. Tak ada pilihan yang terbaik kecuali pilihan-Nya. Sang bayi tak pernah menolah yang diberikan sang ibu. Apakahnkita masih ada penolakan terhadap syariat-Nya?

Sang bayi di tengah malam justru sering terbangun. Sang bayi sering terjaga dari tidurnya untuk berinteraksi dengan sang ibu. Malam menjadi seperti siang. Sudahkah kita menjaga malam untuk berkhalwat bersama Allah? Berbincang berdua bersama Allah, saat yang lain masih mendengkur.

Sang bayi tak pernah putus asa.  Tak pernah kenal lelah untuk bangkit dan belajar. Energi belajarnya sangat luar biasa. Saat yang dewasa kelelahan, sang bayi sang energik melakukan hal yang baru.

Bagaimana karakter pembelajar kita? Kalahkan dengan kemalasan belajar? Bagaimana daya juang menghadapi pernak pernik kehidupan? Putusasakah dengan persoalan? Bayi yang lemah tetapi memiliki energi tinggi, namun mengapa yang dewasa mudah lunglai?

Puasa, walaupun tubuh lemah karena tidak makan dan minum, namun harus menyelesaikan tujuan akhir hingga waktu berbuka puasa. Itulah latihan ketegaran dan kedisiplinan jiwa yang berpuasa. Itulah tanda mereka yang kembali pada fitrahnya. Era bayi sudah dilalui, dengan puasa mengulangi era keemasan itu. 

Memperbaiki Keadaan Dengan Menanam Benih Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menurut Dr Yusuf Al-Qardawi, dakwah itu seperti menanam ben...

Memperbaiki Keadaan Dengan Menanam Benih

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menurut Dr Yusuf Al-Qardawi, dakwah itu seperti menanam benih. Buah itu berasal dari Allah. Apabila benih sudah ditanam, tetapi tidak berbuah, apakah merugi? Apabila risalah telah disampaikan dengan kesungguhan, tetapi tidak direspon positif, maka apa dosaku?

Yakinlah dengan benih yang jumlahnya walau hanya satu. Seperti keyakinan Nabi Ibrahim pada putranya Ismail di padang pasir yang gersang. Walaupun ribuan tahun tak hadir juga sosok pelanjut, namun akhirnya benih baru tumbuh menjadi pohon yang menaungi langit dan bumi. Yaitu, Penghulu para Nabi dan Rasul.

Di tengah kukungan kezaliman Romawi, Nabi Zakaria terus merawat Siti Maryam. Dari Siti Maryam lahirlah Nabi Isa. Setelah itu, lahirlah Hawariyun yang menyebarkan ajaran Nabi Isa. Tetaplah merawat benih seperti keyakinan Nabi Zakaria pada Siti Maryam.

Menanam benih dakwah seperti menanam pohon. Walaupun awalnya hanya satu pohon, kelak pohon itu akan membesar dan bercabang banyak. Dari cabang ini akan berbuah. Buahnya  menyebar luas tak terkira. Andai pun tak berbuah, akan banyak kehidupan yang tercipta dari yang asalnya hanya benih.

Di tengah carut marut kehidupan, fokuskan pada dakwah. Sebab hanya dakwah yang bisa memperbaiki tanah dan iklim yang rusak. Saat kekayaan alam dikuras habis. Saat yang serakah dan tamak menguras isi bumi, maka yang bisa memperbaiki hanya tanaman. Tanamlah benih, sambil menanti rahmat Allah berupa hujan.

Bila biji-bijian masih ada. Bila benih tanaman masih ada, tak perlu khawatir dengan kerusakan tanah, lingkungan dan iklim yang carut marut. Karena bisa dikembalikan hanya dengan menanam benih.

Merubah huru-hara dan carut kehidupan menjadi sejuk kembali hanya dengan menanam benih. Memperbaiki kehidupan hanya dengan berdakwah agar kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Tak perlu khawatir dengan semua kekacauan yang ada. Solusinya hanya menanam benih dakwah.

Menata Kebun dalam Al-Qur'an  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menata kembali kebun, setelah beberapa pohon pisang tumbang diterj...

Menata Kebun dalam Al-Qur'an 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menata kembali kebun, setelah beberapa pohon pisang tumbang diterjang angin. Karena  ditanamnya sebagian besar di pinggir tebingan tanah terasering. Pohon pisang yang ada masih difokuskan untuk pembibitan di lahan yang baru. Masih butuh ribuan bibit pisang.

Rencana penataan kembali kebun, di setiap kotak tanah terasering, di tengahnya pohon Alpukat atau Petai. Di apit dengan pohon Pisang. Di antar pohon Pisang ditanam Talas Kimpul. Di sisi tepian tebing, ditanam Nanas. Di bawah alpukat akan ditanam cabai rawit hijau. Kelak bila Alpukat dan Petai sudah tinggi akan dijalari pohon lada.

Pemupukan dari batang pohon pisang, sekam padi, sabuk kelapa, dedaunan dan gulma yang hidup di kebun. Pupuk organik untuk memberikan kehidupan pada hewan tanah agar mereka nyaman dan kerasan hidup di kebun.

Alam selalu memberikan tanda-tanda. Saat banyak pohon pisang yang roboh diterjang angin, bisa jadi ada makhluk lain yang membutuhkan makanan dari kedebong pisang.  Permintaan pisang sedang menurun. Pohon Alpukat di sekitarnya membutuhkan sinar Matahari yang lebih banyak. Penataan kebun yang belum benar.

Mengganti pohon Pisang yang berada di tepian tebing terasering dengan Nanas. Tujuannya, agar terasering dibawahnya mendapatkan sinar Matahari yang cukup karena pohon Nanas tidak tinggi. Akar Nanas yang serabut dengan penyebaran maksimal 50 cm cukup membantu agar tanah tidak berguguran.

Pohon Nanas sangat mudah pemeliharaan seperti Pisang dan Talas Kimpul. Walapun panennya setahun sekali. Namun tunas-tunas barunya akan menyebar seperti pohon pisang.  Ini yang kelak akan meningkatkan produktivitas hasil.

Pohon Nanas sangat banyak variasinya. Kelak di kebun akan banyak variasi Alpukat, Pisang dan Nanas. Setiap variasi dari tanaman yang sejenis akan memiliki pasarnya sendiri. Kebun harus ditata, seperti dalam Al-Qur'an dimana letak pohon kurma dipinggiran sedang pohon Anggur berada di dalamnya.

Menggapai "Lailatur Qadr" di Hutan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ramadhan mencoba menaiki perbukitan di kawasan gunung H...

Menggapai "Lailatur Qadr" di Hutan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ramadhan mencoba menaiki perbukitan di kawasan gunung Halimun. Terpaan angin pegunungan seolah-olah mendinginkan panasnya cahaya matahari. Angin yang menerpa pepohonan seperti musik okestra. Suara burung seperti penyanyi yang diiringi musik okestra.

Lebah dan kupu-kupu hinggap dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Lebah kecil masuk ke dalam rongga pintu bunga yang dihinggapinya. Semut beriringan di atas tanah dan dahan tumbuhan. Kehidupan di hutan sangat tentram, berbeda namun bekerjasama. Tidak seperti manusia yang selalu ribut dan berselisih karena kepentingan.

Menyusuri jalan setapak sambil membawa tongkat di hutan. Naik dan turun jalan yang licin karena setiap hari hujan. Hujan semalaman menciptakan aliran air yang jernih dan sejuk melewati selokan untuk mengairi persawahan yang ada di lembah.

Di perkotaan, berlomba bekerja di gedung pencakar langit. Namun di sekitar hutan gunung Halimun, penduduknya hilir mudik, keluar masuk hutan, mengolah yang ada di hutan. Naik turun gunung. Siangnya mereka pulang membawa hasil dari hutan. Sumber air minum pun berasal dari hutan.

Berikhitiar meraih "lailatur qadr" di hutan. Lisan tak dibasahi dengan Al-Qur'an dan dzikir. Namun mata, telinga dan panca indra menyaksikan keagungan Allah yang membuat hati terguncang hebat. Menyaksikan firman Allah yang ada di hutan dan suasana hutan.

Setengah hari berkeliling di hutan, mencoba rebahan di bawah pohon. Mata menatap ke langit dan pepohonan di atasnya. Menyaksikan awan berarak dan angin menghempaskan dedaunan dan ranting. Dari tanah yang menjadi tempat rebahan, seluruh kehidupan dimulai.

Karena sangat takjubnya pada tanah, diambil segenggam tanah lalu menciumnya. Merasakan aroma, kelembaban, kelembutan dan tekstur tanah. Allah Maha Mengetahui dan Berilmu, mengapa makhluk dari cahaya dan api harus bersujud pada makhluk yang berasal dari tanah? Tanah memang luar biasa.

Berkebun Sarana Memahami Rahmat-Nya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Berkebunlah itulah salah satu cara memahami tak terhingganya rah...

Berkebun Sarana Memahami Rahmat-Nya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Berkebunlah itulah salah satu cara memahami tak terhingganya rahmat Allah. Kasih sayang Allah amat terasa. Berkebun menjadi sarana menyelami rahmat Allah dan aliran rahmat-Nya yang sebelumnya bisa dianggap bukan kenikmatan.

Terik panasnya matahari adalah rahmat-Nya. Panas matahari yang membakar adalah rahmat-Nya. Teriknya matahari yang membuat tanaman bisa mengolah makanan menjadi daun, batang, dan buah. Dedaunan yang berguguran menjadi kering agar cepat diolah menjadi pupuk. Mengapa di perkotaan justru  khawatir dengan panasnya matahari?

Banyak yang khawatir dengan air hujan karena jadi penyebab sakit. Padahal manfaat air hujan tidak terhingga dibandingkan dengan ketakutan manusia. Air tanah melimpah karena  air hujan. Kesejukan karena air hujan. Tumbuhan bisa hidup, menghijau  dan berbuah karena air hujan. Kehidupan di bumi tergantung air hujan. Mengapa hujan diiklankan sebagai sumber sakit?

Andai tidak ada tanah, dimana manusia tinggal? Apakah nikmat bila tinggal di lautan dan udara? Tinggal di tanah yang labil saja mensku, bukan? Selalu terhempas dan tak aman? Seluruhnya hidup di atas tanah. Seluruhnya menghujam di atas tanah.

Akhirnya, perpaduan dari langit dan bumi serta apa yang ada di keduanya ada iklim yang membuat manusia bisa hidup nyaman dan tentram. Juga, agar manusia bisa makan, minum dan memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginannya.

Semua yang berada di alam semesta bermuara pada manusia. Melayani dan bertitik sentral pada manusia. Mengapa manusia justru menghancurkan dan merusak alam semesta hanya karena kekayaan? Mengapa manusia justru khawatir dengan "gonjang ganjing" alam semesta?

Di era Nabi Yusuf, kering kerontang yang disebabkan kemarau selama 7 tahun, ditutup dengan kemakmuran. Rakyat Mesir jadi bisa menikmati perasan anggur yang menyegarkan. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perputaran iklim. Fokusnya, lakukan amal kebaikan di setiap musimnya.

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam men...

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam menyelesaikan persoalan. Tak selamanya ilmu dan pengalaman bisa memecahkan persoalan. Raja Mesir di era Nabi Yusuf meminta pemecahan persoalan kepada para pemikir dan pembesar kerajaan tentang mimpinya, namun tak seorang pun yang tahu.

Para ahli Nujum tahu makna mimpi Firaun, namun tidak tahu apa sikap yang harus diambil dari mimpi tersebut. Tidak seperti Nabi Yusuf yang tahu makna mimpi tetapi juga paham bagaimana merealisasikan ke dunia nyata sehingga menjadi sebuah solusi bukan kezaliman yang didiamkan seperti prilaku para ahli nujum kepada Firaun.

Firaun memanggil seluruh ahli sihir untuk menghadapi kekuatan Nabi Musa. Firaun memanggil seluruh ilmuwan untuk memecahkan persoalan wabah yang menyerbu Mesir, namun  tak ada yang bisa memecahkan persoalan tersebut. Bukankah saat itu Mesir penggengam peradaban dunia?

Para pembesar kaum menyelesaikan persoalan kaum nya dengan kekayaan, kekuasaan dan banyaknya pengikut, namun tak bisa menyelesaikan persoalannya. Hanya melalui para Nabi dan Rasul persoalan bisa dipecahkan.

Kaum Aad menyelesaikan persoalannya dengan teknologi tinggi. Membuat bangunan di gunung berbatu yang tinggi agar tehindar dari bencana. Namun apa yang terjadi? Teknologi tak bisa menyelamatkan dari bencana.

Kekayaan, kekuasaan, banyaknya pengikut, ilmu dan teknologi memang bisa menyelesaikan persoalan, namun tak semua persoalan bisa tuntas diselesaikannya. Ruang lingkupnya sangat terbatas dibandingkan dengan kompleksitas persoalan manusia.

Semua urusan kembali kepada Allah. Sistem kehidupan di alam semesta hanya Allah yang mengetahui-Nya. Jadi cara termudah menyelesaikan persoalan adalah dengan mengikuti bimbingan Allah. Itu cara yang mudah dan efektif. Kelak, Allah akan menunjukkan sarana-saran penyelesaiannya.

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dim...

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Apa maknanya? Allah yang rahman dan rahim mengilhamkan beragam kejadian yang akan terjadi kepada para pemimpin, sebab di pundaknyalah urusan manusia berada.

Pemimpin yang adil dan yang menegakkan kebenaran senantiasa akan ditolong dalam menghadapi persoalannya. Liku-liku hidup Nabi Yusuf hingga sampai di Mesir dari Palestina merupakan "Tangan" Allah untuk memecahkan persoalan raja Mesir. Allah menghadirkan Nabi Yusuf ke istananya tanpa rekayasanya.

Solusi itu telah dipersiapkan Allah sebelum datangnya persoalan. Seperti Allah menghadirkan era kemakmuran selama 7 tahun sebelum datangnya era krisis yang menghancurkan sehingga hanya bisa menyimpan bibit untuk era berikutnya.

Seperti Allah yang telah menghadirkan Nabi Yusuf ke Istana sebelum krisis itu terjadi. Nabi Yusuf pun baru diketahui kemukjizatannya setelah sang raja menghadapi persoalan. Sebelumnya, Nabi Yusuf "disembunyikan" Allah di balik jeruji penjara. Bisakah diduga, yang mendatangkan solusi justru dari kegelapan penjara?

Solusi tidak hadir dari para pemikir, pembesar, penasihat dan ilmuwan kerajaan yang telah bergulat dengan asam garam persoalan negara dan rakyat. Tetapi dari sosok baru yang lahir dari penempaan dan bimbingan Allah. Ternyata  pengalaman bukan jaminan hadirnya solusi.

Solusi hadir dari kerendahan hati. Raja mengakui tak paham akan makna mimpinya. Para pemikir dan penasihat kerajaan mengakui tak tahu tafsir mimpi sang raja. Akhirnya ada pembantu raja yang menceritakan pengalaman di penjara saat bertemu dengan Nabi Yusuf.

Yang bisa memberikan solusi adalah mereka yang berkarakter terpercaya. Yang menjaga amanah dan bertanggungjawab. Karakter itu disebutkan oleh pembantu raja yang pernah dipenjara dan wanita yang pernah menggoda Nabi Yusuf. Sosok pemecah masalah ada di Nabi Yusuf.

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pe...

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pertempuran terhadap semua ujian dan godaan hidup. Hidup adalah pergumulan dengan fitnah-fitnah kehidupan. Bagaimana menangkis yang paling mudah? Bagaimana cara berlindung dalam kelemahan sebagai manusia?  Bangunlah benteng. Buatlah perisai.

Musuh menyerang dengan senjata tercanggih dan strategi yang tak terpikirkan. Dengan tipu muslihat dan kamuflase. Jangan pernah keluar dari benteng. Jangan pernah melepaskan perisai. Sekali keluar, akan mudah dihancurkan.

Khalid bin Walid mengepung kota Damaskus. Berbulan-bulan tak bisa ditundukkan. Bagaimana cara mengalahkannya? Menggoda agar pasukan lawan keluar dari benteng. 800 tahun kaum Muslimin berusaha menaklukkan Konstantinopel namun selalu gagal. Bagaimana akhirnya bisa ditaklukkan? Ada prajurit Binzantium yang lupa menutup pintu  benteng. Akhirnya kaum Muslimin berhasil menerobos masuk.

Manusia itu lemah. Agar terlindungi dari semua ancaman, bangunlah benteng. Manusia itu bodoh terhadap kelicikan syahwat dan bisikan syetan. Agar terlindungi dari kelicikannya, bangunlah benteng. Jangan sekali-kali keluar dari benteng tersebut.

Bagaimana menghadapi serbuan 10.000 gabungan pasukan Musyrikin Quraisy, kabilah Arab, Munafikin dan Yahudi di Madinah? Rasulullah saw memanfaatkan bukit-bukit bebatuan yang terjal dan menggali parit. Setelah itu memporakporandakan lawan dengan cara sederhana.  Ali bin  Abi Thalib mengalahkan Yahudi di Khaibar dengan membobol pintu benteng dengan tangannya sendiri.

Seekor semut, rayap dan cacing  menjadi sulit dijadikan mangsa saat berlindung di benteng yang di bawah tanah. Seluruh kecanggihan teknologi negara adi daya tak berguna ketika perlawanan rakyat Palestina berlindung di terowongan Gaza. Yang lemah, menjadi kuat saat berlindung di balik benteng.

Benteng bukan sekedar untuk berlindung, tetapi juga menguras habis energi lawan. Benteng bukan sekedar untuk bertahan tetapi agar fokus menyerang. Bukankah setiap serangan diawali dari perlindungan pasukan dan infrastrukturnya? Saat terlindungi dari hawa nafsu dan syetan, manusia bisa mengupgrade  kuantitas dan kualitas ketaatan kepada Allah l. 

Syarat Kesuksesan Hanya Sabar Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Siapakah kaum yang dimenangkan dan ditolong Allah? Bukan yang pintar d...

Syarat Kesuksesan Hanya Sabar

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Siapakah kaum yang dimenangkan dan ditolong Allah? Bukan yang pintar dengan tingkat kecerdasan tinggi. Bukan kaum yang harta dan pengikutnya banyak. Bukan kaum yang teknologi dan sumber dayanya melimpah.   Bukan kaum yang peradabannya tertinggi. Ada syarat yang telah diungkap dalam Al-Qur'an.

Yang ditolong dan dimenangkan Allah pasti sukses dan bahagia. Pasti dimuliakan dan diangkat derajatnya. Pasti paling tinggi peradabannya. Pasti tentram, aman dan sejahtera. Lalu apa modalnya?

Allah memberikan pertolongan pada yang sabar. Allah melimpahkan kemenangan pada yang sabar. Walaupun sebelumnya yang sabar ini ditertawakan dan diperolok-olok. Karena semua orang menyaksikannya melihatnya sebagai orang gila dan bodoh. Mengapa?

Sabar dalam keterbatasan. Sabar dalam keterhimpitan. Sabar dalam ketidakpastian. Sabar dalam kekurangan. Sabar atas ketidakjelasan masa depan. Orang lain melihatnya tak memiliki faktor apapun untuk menang. Mengapa terus melangkah dan bertahan?

Sabar menandakan ada keyakinan internal yang kuat mendalam. Keyakinan yang tidak tergoyahkan oleh carut marut situasi eksternal lingkungan. Keyakinan teguh akan rahmat Allah. Teguh karena yakin Allah sebagai Illah dan Rabb. Inilah modal nafas panjangnya.

Yakin karena Allah bisa merubah semua kondisi hanya dengan "Kun Fayakun-Nya". Keyakinan ini menjalar dari hati hingga ke mindsetnya. Dari pikiran hingga ke strategi dan pelaksanaannya.

Sabar hingga Allah menentukan waktu pertolongan dan kemenangannya. Bukankah Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya? Semua sumber daya apa pun tak berguna bila tidak ada kesabaran. Semua yang terbatas menjadi berlimpah dan efektif bila ada kesabaran.

Memahami Alam, Memahami Pola Hidup Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Bagaimana mengetahui da...

Memahami Alam, Memahami Pola Hidup

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Bagaimana mengetahui dan membaca  kehendak-Nya? Salah satu jalannya dengan memperhatikan alam semesta. Alam semesta merupakan takdir-Nya. Bila ingin tahu akhir semua takdir pada manusia, perhatian takdir-Nya pada alam semesta.

Rahmat Allah meliputi segala sesuatu. Rahmat Allah ada pada kerikil, debu, bangkai, rumput dan seluruh makhluk-Nya. Rahmat Allah pun meliputi seluruh raga manusia. Bila seluruhnya rahmat, adakah yang perlu dikhawatirkan dari kehidupan?

Alam semesta tercipta dalam keteraturan, tak ada yang tiba-tiba terjadi. Malam dan siang. Hembusan angin dan arus air. Semuanya terpola. Maka kehidupan ini pun harus didesain  dengan terpola. Agar terpola harus ada aturannya.

Seluruh planet berputar. Gunung yang dianggap diam pun, padahal bergerak. Yang tidak memiliki kaki pun bergerak dengan tubuhnya. Para Nabi dan Rasul merupakan para penjelajah dunia. Allah telah mentakdirkan  seluruh makhluk-Nya untuk bergerak.

Matahari muncul dimulai dengan terbit. Tumbuhan membesar dimulai dengan sebuah tunas. Semua hewan dimulai dengan bayi. Dari lemah menuju kuat. Bila kuat, berarti menuju lemah. Semua proses kehidupan berjalan secara bertahap.

Semua telah ditetapkan waktu panennya. Ada yang panen 3-4 bulan, 7-12 bulan, 3-5 tahun hingga 10 tahun. Jangan khawatir akan ketidaksuksesan, karena tidak pernah ada. Yang dibutuhkan hanya terus menanam dan mengolah sambil sabar menunggu waktu berbuahnya.

Selalu ada perbedaan ekstrim. Dari terang ke gelap. Dari hujan ke kemarau. Dari cerah ke mendung. Dimana posisi sekarang? Berarti bersiaplah melompat ke titik berikutnya. Karena sebenarnya tidak ada kondisi yang tidak pernah berubah.

Al-Qur'an, Alam Semesta dan Sains Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Sejak berkebun, jadi suka dengan sains. Sains itu sangat seder...

Al-Qur'an, Alam Semesta dan Sains

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Sejak berkebun, jadi suka dengan sains. Sains itu sangat sederhana hanya dengan memperhatikan alam semesta. Karakter alam semesta yang teratur menjadi sangat mudah dipahami dan didayagunakan kemanfaatannya.

Alam semesta itu berbicara. Alam semesta memperkenalkan dan mengungkapkan jati dirinya sejak pertama kali bertemu. Bila terus diperhatikan, diamati dan disayangi, alam semesta akan semakin membuka dirinya.

Berinteraksi dengan alam semesta membuahkan kemudahan hidup. Seperti mereka yang telah menjinakkan kuda, ikan, ayam dan burung. Bukan sekedar pendayagunaannya, tetapi bagaimana yang ada pada diri alam semesta diubah menjadi teknologi. Ide dan teknologi hari ini didapatkan dari mencontek alam semesta.

Semua yang ada di alam semesta tidak ada yang sia-sia.  Manusia bisa mengambil manfaatnya, seperti sampah yang bau, bangkai, dan cacing  bukankah menyuburkan tanah?

Bagaimana cara memanfaatkan yang ada di alam semesta? Contohlah alam semesta. Alam semesta itu cerminan ilmu Allah. Sebab Allah telah menempatkan pada posisi yang paling maksimal kemanfaatannya.

Bagaimana memadukan penciptaan dengan keindahan? Bagaimana cara memelihara yang berkelanjutan? Bagaimana setiap unsur saling terhubung secara harmonis? Bagaimana keragaman menjadi satu sistem seperti tubuh?  Semuanya ada di alam semesta..

Manusia dapat mentransformasikan alam semesta menjadi sains dan teknologi karena dianugerahi akal oleh Allah. Al-Qur'an memandu akal dalam memahami alam semesta sehingga memahami tanda-tanda kebesaran Allah dan sistem alam semesta. Al-Qur'an, alam semesta, sains dan teknologi sebuah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dari Kefrontalan Menjadi Berpasangan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Tanaman dan hewan berpasangan. Manusia berpasangan. Yang tidak ...

Dari Kefrontalan Menjadi Berpasangan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Tanaman dan hewan berpasangan. Manusia berpasangan. Yang tidak diketahui manusia juga berpasangan. Seluruh makhluk berkembang biak dengan berpasangan. Mengapa harus berpasangan? Yang Berdiri Sendiri hanya Allah Yang Ahad.

Berpasangan membangun keberlangsungan. Bagaimana andai hanya ada malam saja? Siang saja? Bagaimana bila ada air saja? Api saja? Dengan berpasangan semuanya berada dalam keseimbangan. Dititik inilah semua yang ada di alam semesta bermanfaat optimal.

Berpasangan menghindari dari ketergelinciran dan kehancuran. Bagaimana bila hanya ada gas mobil, tanpa rem? Bagaimana bila hanya ada tanah datar tanpa gunung? Bagaimana bila hanya ada tanjakan tanpa turunan?

Tulang yang keras diselimuti oleh daging yang lembut. Di dalam tulang yang keras terdapat sumsum yang lunak. Yang lunak melindungi yang keras. Yang keras melindungi yang lunak. Semuanya saling melindungi.

Buah-buahan, di luarnya lunak. Namun bijinya di dalam sangat keras. Lunak agar seluruh makhluk dapat menikmati. Biji yang keras untuk menjaga keberlangsungan generasi. Ini gambaran keseimbangan menikmati dan menyiapkan masa depan dan generasi pelanjut.

Awalnya lunak kemudian menjadi keras. Namun yang lunak pun dapat menembus yang keras. Perhatikan tunas kelapa yang lunak bisa menembus tempurung dan kulit sabut yang keras. Tunas yang lunak kemudian menjadi batang pohon kelapa yang lunak.

Perhatikan cara Allah memadukan yang lembut dan keras. Perhatikan bagaimana Allah menempatkan, memadukan dan mengkombinasikan yang berbeda sangat frontal menjadi sesuatu yang berpasangan dan  menyeimbangkan sehingga menghadirkan kemanfaatan optimal.

Rahmat Allah Pada Biji-Bijian Makanan Pokok Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Biji kacang-kacangan, padi, dan gandum, berbeda dengan b...

Rahmat Allah Pada Biji-Bijian Makanan Pokok

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Biji kacang-kacangan, padi, dan gandum, berbeda dengan buah lainnya. Buah-buahan, bijinya terpisah dengan bagian yang dikonsumsi, seperti alpukat dan mangga. Namun biji kacang-kacangan, padi, dan gandum justru yang dikonsumsi. Mengapa berbeda?

Biji-bijian memiliki daya tahan hingga bertahun-tahun. Seperti kisah Nabi Yusuf yang bisa menyimpan biji gandum beserta tangkainya selama 7 tahun. Biji-bijian cukup keras dan kecil sehingga dalam pendistribusiannya tidak membutuhkan kemasan khusus. Sehingga bisa disebarluaskan dengan mudah ke pelosok bumi.

Biji-bijian yang menjadi konsumsi pokok manusia memiliki keunikan, bila kulitnya dilepaskan dan terkena air yang panas maka akan menjadi lunak untuk dikonsumsi. Sekeras apapun dapat dilunakan dengan air. Dalam keras mengandung kelembutan.

Tanaman yang menjadi konsumsi pokok berbentuk kecil dan tidak tinggi, sehingga bisa ditanam dimanapun dalam lahan yang sempit. Umur panennya pun 3-4 bulan saja sehingga memotivasi untuk menanam karena cepat menghasilkan.

Karakter tanaman untuk konsumsi pokok cukup beragam. Ada yang membutuhkan air. Ada juga tak membutuhkan air yang banyak. Di setiap musim manusia bisa menanamnya. Jadi  mengapa masih ada paceklik  di musim tertentu?

Memelihara biji tanaman makanan pokok sangat mudah dan sederhana, cukup dikeringkan dengan cahaya matahari. Tak perlu teknologi luar biasa. Tak butuh ilmu yang mumpuni. Siapapun bisa melakukan dimana saja.

Bila masih ada kelaparan dan melambungnya harga makanan pokok, bukan karena bumi tidak bisa menyediakan makanan. Tetapi, ada kesalahan manajemen dan kebijakan yang dilakukan oleh manusia.

Menguak Nikmat Rerumputan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ukuran biji-bijian mengapa berbeda? Semakin kecil semakin cepat mengeluar...

Menguak Nikmat Rerumputan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ukuran biji-bijian mengapa berbeda? Semakin kecil semakin cepat mengeluarkan tunas, umur tumbuhnya lebih pendek, namun cepat berbuahnya. Semakin kecil, semakin mudah dimobilisasi kemana pun. Bahkan bisa dimobilisasi oleh angin.

Semakin kecil semakin dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Mengapa biji rerumputan sangat kecil? Karena rerumputan sumber utama makanan hewan-hewan yang kelak di konsumsi oleh rantai makanan berikutnya. Bila tidak ada rumput, maka seluruh makhluk akan kelaparan.

Rerumputan bermanfaat untuk menghidupkan kembali tanah yang gersang, tandus dan mati. Awal kesuburan tanah dimulai dengan tumbuhnya rerumputan. Kelak, rumputlah yang akan memelihara air hujan di tanah, menggemburkan tanah, memelihara dedaunan yang kering yang kelak menjadi pupuk organik.

Dengan rerumputan, tanah yang subur dipermukaan tanah akan terjaga. Humus tidak terbawa air hujan. Tanah menjadi kokoh tidak tererosi oleh air hujan.

Dengan rerumputan, tanah yang mati semakin cepat dihidupkan. Bukankah tumbuhan yang paling mudah diubah menjadi kompos adalah rerumputan? Bukankah tanah yang tandus cepat menjadi indah dengan tumbuhnya rerumputan?

Keteduhan rerumputan. Lunaknya akar, batang dan daunnya, membuat hewan tanah yang kecil mungil tertarik untuk hidup dibawah naungannya. Tanah pun menjadi tambah gembur, hasil karya dan kotoran hewan tanah menjadi nutrisi tanaman yang lebih besar dari rerumputan.

Apakah rerumputan itu gulma dan hama? Biarkan rerumputan hidup, karena dialah awal kehidupan sebidang tanah dimulai. Biarkan dia hidup sesuai ukurannya, sebab dia penopang dasar  kehidupan di muka bumi.

Kisah Biji Tanaman Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Awalnya bumi ini tandus. Lalu, Allah menghidupkannya. Bagaimana caranya? Sangat m...

Kisah Biji Tanaman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Awalnya bumi ini tandus. Lalu, Allah menghidupkannya. Bagaimana caranya? Sangat mudah dan sederhana. Hanya menurunkan hujan. Apakah ada campur tangan manusia dalam turunnya hujan? Angin dan awan. Allah menghembuskan keduanya ke daerah yang dikehendaki-Nya, maka turunlah hujan.

Jadi apakah rezeki itu karya jerih payah manusia? Apakah kekayaan itu buah kepintaran dan ilmu manusia? Apakah solusi itu buah pemikiran yang mendalamnya manusia? Semuanya pemberian Allah. Manusia hanya mentaati Allah, bagaimana agar yang diinginkannya juga dikehendaki-Nya?

Darimana asal usul biji-bijian? Padahal sebelumnya alam semesta tidak ada? Dari biji-bijian ini manusia makan. Biji-bijian seperti rahim yang menjaga, melindungi, memelihara dan media penyiapan nutrisi bagi tunas-tunas yang tumbuh. Biji-bijian akan mengeluarkan tunas bila bersentuhan dengan tanah, air dan sinar matahari.

Bisakah manusia menciptakan biji-bijian yang baru? Adakah riset tanaman yang menghasilkan biji-bijian? Hanya tanaman yang bisa menghasilkan biji-bijian atas ijin Allah. Biji-bijian mampu hidup di semua medan kehidupan. Menunggu pertemuan dengan air, tanah dan sinar matahari.

Biji-bijian menyebar melalui angin, aliran air, hewan, dan sarana lainnya yang tak diketahui manusia. Menyebar ke tempat-tempat yang Allah kehendaki-Nya. Biji-bijian sangat berharga bagi manusia karena dari biji-bijian manusia hidup. Mengapa manusia lebih menghargai harta dan jabatan dibandingkan biji-bijian?

Satu biji tanaman, kelak bisa menghidupi seluruh manusia di muka bumi. Allah berjanji, dari satu pohon akan bercabang tujuh, dari tujuh cabang akan muncul sepuluh ranting,  hingga tak terhingga jumlahnya. Setiap satu ranting berpeluang satu buah yang akan menghasilkan biji-bijian baru.

Akankah manusia kelaparan? Andai setiap manusia menanam satu pohon, maka tidak akan ada yang kelaparan di muka bumi ini. Karena satu biji-bijian akan menghasilkan jumlah yang tak terhingga. Sayang manusia mengalihkan perhatiannya pada harta yang bukan kebutuhan pokoknya.

Melakukan Yang Pasti Terwujud Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Jalan yang lurus itu jalan-Nya Allah. Sang pemilik bumi dan langit. Te...


Melakukan Yang Pasti Terwujud

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Jalan yang lurus itu jalan-Nya Allah. Sang pemilik bumi dan langit. Tempat kembalinya segala urusan. Inilah jalan kepastian. Inilah ilmu pasti. Yang pasti justru diragukan oleh manusia?

Yang tidak pasti justru sangat diyakini. Bukunya menjadi best seller. Pembicaraannya dijadikan jalan hidup. Kiat suksesnya dijadikan pedoman. Inikah kebodohan manusia?

Qarun dikagumi sebagai simbol kesuksesan oleh rakyat Mesir. Banyak yang mengidolakannya menjadi sepertinya. Namun yang beriman dan berilmu melihatnya sebagai tindakan kebodohan. Bagaimana akhir Qarun?

Banyak orang yang ingin dekat dengan Firaun agar mendapatkan jabatan kekuasaan. Namun Nabi Musa justru menjadi oposisinya. Tak tertarik menjadi bagian koalisi Firaun. Nabi Musa berkebalikan dengan mereka yang haus akan kekuasaan.

Kaum Nabi Shaleh meraup kekayaan dengan riba dan memanipulasi takaran. Apakah kekayaannya langgeng? Ketidakstabilan terjadi. Maka hancurlah umatnya.

Al-Qur'an itu hukum kepastian. Al-Qur'an itu ilmu dan jalan kepastian. Yang pasti bisa diprediksi dan diramal. Yang pasti akan terjadi sehingga manusia tahu apa yang harus dilakukan hari ini untuk mewujudkan masa depannya.

Mewujudkan yang harus diwujudkan menurut Al-Qur'an, maka semuanya menjadi terwujud. Bukankah investasi butuh tingkat keyakinan yang tertinggi? Bukankah tindakan hari ini karena keyakinan terwujud sesuatu? Hanya Al-Qur'an yang bisa diandalkan untuk mewujudkan semua impian. Selain itu hanya menjual kedustaan.

Raganya di Dunia, Jiwanya Penjelajah Akhirat Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tualah sebelum tua. Matilah sebelum mati. Di alam kuburl...

Raganya di Dunia, Jiwanya Penjelajah Akhirat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Tualah sebelum tua. Matilah sebelum mati. Di alam kuburlah sebelum di kubur. Di akhiratlah sebelum di akhirat. Menyaksikan wajah Allah sebelum berhadapan langsung dengan-Nya.

Sukseslah sebelum sukses. Semuanya bisa dihadirkan saat ini tanpa perlu syarat. Bahagia tak perlu syarat. Kaya tak perlu syarat akumulasi jumlah tertentu. Menjelajah akhirat tanpa perlu syarat kematian.

Para Sahabat sudah menyaksikan penduduk surga yang hidup dalam kebahagiaan. Menyaksikan penduduk neraka yang disiksa. Menyaksikan Allah di Arsy-Nya. Akhirat itu ada disini.

Rasulullah saw sudah menyaksikan semua peristiwa yang akan terjadi, sehingga beliau bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan lebih banyak menangis.

Seorang sahabat membuang kurmanya saat perang Badar karena telah mencium bau surga dari sengitnya pertempuran. Terlalu lama memasuki surga walau hanya menunggu memakan dua butir kurma.

Para Tabiin melihat bara api seperti melihat kobaran api neraka. Tangannya tersentuh api, bagaimana bila dimasukan ke api neraka? Melihat keindahan alam, seolah menyaksikan surga. Raganya di dunia namun jiwanya telah sampai di akhirat.

Utsman bin Affan, sebelum kematiannya, menunggu berbuka puasa bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di surga. Hasan Al-Banna sebelum kematiannya bertemu dengan Ali bin Thalib yang telah menantikannya. Raganya di dunia, namun jiwanya sudah bergaul dengan para penduduk surga.

Memilih Berkarya Dalam Kesunyian  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Era huru hara sebuah episode dimana manusia banyak berbicara dan be...

Memilih Berkarya Dalam Kesunyian 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Era huru hara sebuah episode dimana manusia banyak berbicara dan berdebat, kebanjiran data dan informasi tetapi bingung bersikap. Era huru hara sebuah masa dimana manusia terus berselisih yang berkepanjangan. Era ini sangat memprihatinkan sehingga Rasulullah saw berpesan akan tibanya era ini.

Di era huru-hara, biarkan mereka berseteru dan berselisih dalam ruang kehampaan. Dari ruang gagasan ke gagasan. Dari ruang opini ke opini. Dari ruang perdebatan ke perdebatan. Adakah yang bisa dibangun dari generasi yang hidup dalam suasana ini?

Di era ini, amal pun hanya jadi sarana popularitas. Tak ada amal untuk kemaslahatan. Membela kebenaran hanya di saat tak mendapatkan jabatan kekuasaan dan saat mencari simpati untuk berkuasa. Setelah berkuasa, menjadi bagian kemungkaran baru.

Di tengah hiruk pikuk kezaliman Firaun. Nabi Musa menyingkir dari Istana. Pengembaraannya berhenti di Madyan. Mengambil cangkul. Mengolah tanah. Menanam pohon dan berternak selama 10 tahun.

Di tengah hiruk pikuk Mesir, Irak dan Syam, Nabi Ibrahim membawa bayi Ismail ke Mekah yang sunyi. Membangun generasi baru yang dekat dengan Kabah. Di tengah hiruk pikuk persengkongkolan hukum, Nabi Yusuf memilih kesunyian di penjara.

Di era sekarang, apa yang dilakukan? Urus tanah dan ternak. Patahkan mata pedang. Seperti itu pesan Rasulullah saw. Kelola yang paling dekat dengan kehidupan  pribadi kita serta mengambil jarak dengan perdebatan dan perselisihan. Biarkan yang berilmu dan berhati bersih saja yang terjun dalam perdebatan dan perselisihan.

Beramal yang penuh kesunyian tanpa terendus oleh siapapun. Tiba-tiba, Nabi Musa datang sebagai Rasul. Nabi Yusuf menjadi penasihat raja. Nabi Ismail melahirkan penghulu para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad saw. Tekuni, geluti dan seriusi yang paling dekat dalam ruang kesunyian, kelak huru hara perselisihan akan terbungkam dengan karya-karya dari bilik kesunyian.

Memanfaatkan Iklim Yang Ekstrim Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tak butuh teknologi canggih untuk mengeluarkan air dari dalam tanah. ...

Memanfaatkan Iklim Yang Ekstrim

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Tak butuh teknologi canggih untuk mengeluarkan air dari dalam tanah. Cukup menanam pohon. Dahulu, mata air keluar sendiri dari dalam tanah tanpa teknologi apa pun. Air yang keluar justru sangat jernih, sejuk, menyegarkan dan langsung dapat di konsumsi.   Jadi apakah leluhur kita bodoh?

Di daerah bebatuan dan kering kerontang, ditanami pohon beringin dan bambu. Pohon bambu, penahan air tanah dan penghasil oksigen terbaik. Pohon beringin menarik air dari dalam tanah ke permukaan. Hanya dengan menanam pohon persoalan pengelolaan air tanah terselesaikan. Sangat sederhana sekali.

Iklim menjadi sangat ekstrim karena manusia tidak bisa mengelola keekstriman iklim. Tidak bisa mengelola kelebihan setiap iklim untuk menghadapi iklim selanjutnya. Mengambil manfaat  iklim El Nino, kemarau panjang yang kering dan panas, dengan menanam pohon. Mengambil manfaat El Nina, penghujan yang deras, dengan menanam pohon.

Dengan menanam pohon, semua jenis iklim menjadi bersahabat dan bermanfaat. Tak perlu badan penanggulangan bencana. Tak perlu dana tanggap darurat bencana. Tak perlu mengeluarkan Bansos 400 trilyun untuk penanggulangan efek El Nino yang berdekatan dengan pemilihan presiden.

El Nina menjadi sarana persediaan air dan penyuburan tanah ketika El Nino dengan tumbuhan. El Nino membuat dedaunan menyerap energi matahari untuk menghasilkan panen berlimpah. Tanaman menjadi media penyeimbang kedua iklim yang ekstrim.

Lembaga dunia menyerukan pengumpulan dana dari seluruh negara untuk menghadapi dampak perubahan iklim. Padahal solusinya sangat sederhana, menanam pohon saja dan buang nafsu keserakahan.

Teknologi canggih itu berupa ragam tanaman. Setiap tanaman adalah teknologi canggih yang tak bisa dibuat oleh manusia. Mengapa manusia menghancurkan teknologi canggih alam lalu membuat teknologi hasil rekayasa akalnya yang terbatas? Itulah mengapa manusia disebut bodoh dalam Al-Qur'an. Merasa pintar dalam kebodohannya.

Bertani Dengan Bahasa Cinta Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bahasa komunikasi yang terampuh adalah cinta. Dengan cinta, tanda-tanda, ...

Bertani Dengan Bahasa Cinta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Bahasa komunikasi yang terampuh adalah cinta. Dengan cinta, tanda-tanda, isyarat dan yang diam pun bisa terpahami. Semuanya memberikan data, informasi dan ilmu. Cinta adalah bahasa komunikasi yang universal.

Seorang petani yang bodoh merawat tanaman dengan cinta. Seorang profesor yang cerdas merawat tanaman dengan ilmu dan teknologi. Mana yang akhirnya berhasil mengelola pertanian?  Dilangkah pertama, seorang petani akan tertinggal jauh oleh sang profesor. Namun pada satu titik, petani akan melampaui sang profesor.

Dengan ilmu dan teknologi, tanah dan tanaman hanya dijadikan budak ekploitasi. Diperas, dipaksa, dimarginalkan sumber kekuatannya hanya untuk ambisi. Dengan cinta, tanah dan tanaman menjadi mitra. Mengenal untuk mengokohkan dan meningkatkan sumber kekuatan tanah dan tanaman.

Tanah dan tanaman adalah makhluk Allah. Kedudukannya sejajar dengan manusia. Bedanya, Allah telah mentakdirkan tanah dan tanaman untuk melayani manusia. Padahal, tanah dan tanaman bisa jadi lebih mulia di sisi Allah karena mereka senantiasa bersujud dan bertasbih.

Dengan bahasa cinta, petani memahami bagaimana menyuburkan dan mengolah tanah dan tanaman sesuai fitrah dan karakternya. Dirawat pada titik optimumnya. Yang dilakukan petani melampaui apa yang "dikehendaki" tanah dan tanaman.

Tanah dan tanaman selalu "menepati" janjinya. Tak pernah "mendustakan" cinta. Cinta dibalas cinta. Bukankah bunga-bunga melambangkan cinta? Bukankah buah-buahan yang bergelayutan ke bawah seolah-olah berbicara ingin dipetik oleh manusia? Tak ada buah yang menjunjung ke langit, tetapi selalu merendah ke bumi.

Dengan bahasa cinta, tanah dan tanaman memiliki imunitas yang kuat, tidak ringkih, tidak mudah lemah dengan hama. Dengan bahasa cinta, penduduk langit akan mencintai petani yang menebarkan cinta pada tanah dan tanaman. Bukankah rezeki itu berasal dari langit? Hasil riset, tanamannya akan lebih lama umur berbuahnya.

Sinergi Menanam dengan Pengelolaan dan Kesuburan Tanah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tanamanlah tumbuhan yang menyuburkan tanah, se...

Sinergi Menanam dengan Pengelolaan dan Kesuburan Tanah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Tanamanlah tumbuhan yang menyuburkan tanah, sebelum memanfaatkan kesuburannya. Menanam lalu memetik hasilnya, namun pada sisi lain menyuburkan tanah itu sendiri tanpa disadari.

Tanaman jangka pendek yang menyuburkan tanah. Tanaman yang bisa menyuntikkan nitrogen ke tanah. Sampah sisanya, menjadi sumber kalium dan fosfor bagi tanah. Juga, menghidupkan banyak hewan tanah. Tak perlu aneka ragam pupuk lagi, apalagi pupuk kimia.

Hasil riset, pohon talas menjadi sumber nitrogen. Pohon pisang menjadi sumber kalium dan fosfor bagi tanah. Menanam kedua pohon ini tak perlu perawatan khusus, hanya penggemburan tanahnya saja. Tak perlu kesuburan khusus, apalagi air yang berlimpah.

Batang talas mengandung air, juga getah yang gatal. Air pada batangnya bisa menjaga kelembaban tanah. Getahnya yang gatal bisa menghambat pertumbuhan jamur. Bukankah yang menggangu pertumbuhan tanaman adalah jamur?

Buah talas ada di dalam tanah. Saat panen, tanahnya harus digali. Ini menjadi sarana penggemburan tanah tanpa disadari. Membalikkan tanah membuat tanah yang subur berada di bawah kembali. Tanah di bawah menjadi segar kembali.

Tanaman yang ditanam, harus menjadi bagian strategi pengolahan tanah juga. Memanen tetapi sekaligus pengelolaan tanah tanpa disadari. Pengelolaan tanah tidak lagi mengeluarkan biaya yang besar. Bukankah sangat membahagiakan?

Dalam Al-Qur'an, selalu disebutkan beberapa jenis tanaman secara bersamaan. Hanya kebetulan? Kedua tanaman bersimbiosis mutualisme dalam meningkatkan hasil panen, pengelolaan tanah dan manajemen keuangan bagi yang bergerak dalam pertanian.

Cara Filosofis Menghadapi Tantangan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Ini era keributan. Ini era huru-hara. Ini era carut marut. Ini e...

Cara Filosofis Menghadapi Tantangan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Ini era keributan. Ini era huru-hara. Ini era carut marut. Ini era ketidakteraturan. Sangat sulit memprediksi sesuatu karena polanya kacau. Hingga iklim pun dikatakan iklim yang ekstrim. Kekacauan menimbulkan kebingungan dan akal tidak bisa digunakan optimal.

Di suasana yang ektrim, data masa lalu sudah tak terlalu bermanfaat. Karena polanya ekstrim, jadi tak bisa digunakan untuk memprediksi masa depan. Pelajaran masa lalu yang sifatnya taktis dan strategis menjadi kurang berguna. Yang dibutuhkan hanya tinggal masa lalu yang bersifat filosofis.

Kumpulan big data. Analisa big data. Padahal perangkat analisa sangat terbatas. Sekarang,  serbuan informasi pun tak berbatas. Menghasilkan banyak perspektif. Mana yang akan dipilih? Strategi apa yang dilakukan? Sudah saatnya beralih ke filosofis.

Kisah para nabi dan rasul, menghadirkan filosofis dalam menghadapi liku-liku kehidupan.  Nabi Shaleh menghadapi persoalan ekonomi dengan cara filosofis, tidak riba dan bertransaksi sesuai timbangan atau takaran. Nabi Yusuf menyelesaikan persoalan negara dengan konsep perbekalan menghadapi akhirat.

Nabi Sulaiman mengelola kekuasaan dengan konsep bersyukur. Nabi Musa menghadapi kezaliman Firaun dengan mengikuti apa yang diperintahkan Allah. Landasan filosofis membutuhkan karakter akhirat, bukan kecerdasan akal.

Konsep filosofis menyelesaikan liku-liku kehidupan dengan berbasis mengikuti alur takdir yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta. Terus berbuat kebaikan, bersabar dan bertakwa. Itulah salah satu dasar filosofis.

Dengan berbasis filosofis, persoalan tuntas dengan sendirinya. Tanpa mengeluarkan energi besar untuk menyelesaikannya. Pertolongan datang dengan sendirinya, tanpa merengek meminta. Carut marut eksternal tak pernah dipersoalkan, fokusnya hanya teguh pada nilai filosofis.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (185) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (137) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (406) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (89) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)