basmalah Pictures, Images and Photos
April 2024 - Our Islamic Story

Choose your Language

Jejak Air dan Kezaliman Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menyusuri sisi bawah gunung Halimun. Menapaki selokan yang kering di...

Jejak Air dan Kezaliman Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menyusuri sisi bawah gunung Halimun. Menapaki selokan yang kering di sisi tebingan. Dahulu, sepertinya air jernih mengalir di selokan tersebut. Mengapa sekarang kering?

Setelah hujan besar cukup deras semalaman, paginya mencoba menyelusuri selokan tersebut. Ternyata selokannya tetap kering. Terlihat jejak arus air yang cukup kencang dan erosi tanah dari gunung Halimun. Air hujan terbuang percuma. Padahal negri Saba  menjadi makmur karena pengelolaan air hujan.

Di ujung selokan, ada pancuran kecil, yang kering di musim kemarau. Namun bila habis hujan, pancuran tersebut mengalirkan air. Bila tidak hujan beberapa hari, pancuran tersebut tak mengeluarkan air lagi. Bagaimana agar pancuran tersebut selalu mengeluarkan air?

Keberadaan air dan warna air menunjukkan karakter manusia terhadap alam? Adakah kasih  sayang?  Bila zalim, air akan menjauh dan hilang. Warna air tidak jernih lagi.

Di pegunungan, air keluar dengan sendirinya. Penghuninya tinggal menampung dan menyalurkannya ke rumah-rumah. Di musim kemarau pun, air terus mengalir dengan lebih jernih dan sejuk.

Di kota, harus memasang instalasi air tanah hingga ratusan meter untuk mendapatkan air. Warna airnya hijau hingga hitam. Tak bisa dikonsumsi. Apa artinya? Zalim terhadap alam.

Di pegunungan pun bila penduduknya zalim, air sungainya berwarna kemerahan bila hujan karena kerusakan hutan di gunung. Di setiap rumah harus memasang mesin instalasi air tanah. Air tanda kasih sayang atau kezaliman pada alam.

Dilayani Alam Semesta Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ingin merasakan bahwa hidup ini dilayani oleh alam semesta? Ingin merasakan ba...

Dilayani Alam Semesta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ingin merasakan bahwa hidup ini dilayani oleh alam semesta? Ingin merasakan bahwa manusia adalah sang khalifah Allah di bumi? Bertanilah. Berkebunlah. Langit melayani bumi agar kehidupan terus berlangsung. Bumi menampung dan memanfaatkan yang diberikan oleh langit.  Lalu manusia?

Tanpa manusia, kehidupan alam semesta tetap berjalan secara harmoni. Tanpa manusia, bumi tetap berjalan dengan harmoni dan makmur bagi penghuninya. Apa yang dilakukan oleh manusia, bisa dilakukan oleh penghuni bumi. Bukankah kecerdasan manusia hasil mencontek dari alam semesta?

Kecerdasan alam merupakan bawaan takdir-Nya. Manusia diberi akal untuk bisa memahami kecerdasan yang ada di alam. Lalu Allah memberikan fasilitas agar alam semesta bisa dimanfaatkan sebagai sarana dan prasarana mencontek alam semesta juga.

Alam semesta merupakan perwujudan kecil dari ilmu Allah. Alam semesta merupakan perwujudan dari maha berkuasa-Nya Allah tanpa campur tangan siapapun kecuali atas kehendak-Nya. Untuk siapakah kehendak-Nya itu? Hanya bagi manusia.

Air hujan, matahari, bulan, udara, angin, tanah, bebatuan dan yang lainnya, hanya agar manusia nyaman hidup di muka bumi. Hanya agar tumbuhan dan hewan menjadi bahan baku memenuhi kebutuhan manusia. Apakah manusia bisa memenuhi kebutuhannya?

Bukankah makan dan minum dari alam? Bukankah bernafas dan bisa berdiri di atas tanah dari alam? Bisakah manusia membuat butiran padi sendiri? Membuat daging dan telur sendiri? Semuanya berasal dari tumbuhan dan hewan.

Semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup sudah disediakan di alam. Manusia hanya menikmatinya saja. Manusia hanya tinggal mencontek dan mengolahnya saja. Bila dilayani oleh alam, apa yang dilakukan manusia? Berkasih sayanglah pada alam. Maka, alam akan mengeluarkan keberkahan atas ijin-Nya.

Mendayagunakan Takdir Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Belajar takdir dari berkebun. Tanah memiliki takdir. Cacing, rayap, dan semut ...

Mendayagunakan Takdir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Belajar takdir dari berkebun. Tanah memiliki takdir. Cacing, rayap, dan semut menjalani takdirnya. Setiap tumbuhan menjalani takdirnya. Apakah mereka bahagia? Tentu saja, setiap pagi, tumbuhan daunnya segar. Bunganya terus berseri. Setiap hewan menggeliat dengan semangat setiap pagi.

Tumbuhan dan hewan menjalani takdirnya. Apakah kehidupan mereka buruk? Apakah mereka tidak makan dan minum? Apakah mereka tersiksa? Semuanya tercukupi. Bila tidak ada kezaliman manusia, alam semesta berbahagia hidupnya.

Dengan berserah diri terhadap takdir, alam semesta  bergerak menjadi teratur, tertata, bersistem, bersinergi dan bersimbiosis mutualisme. Tak ada kerusakan dan kehancuran. Semuanya serba indah dan mengagumkan. Mengapa manusia justru memberontak terhadap takdirnya?

Alam semesta menyerahkan diri terhadap takdir karena "dorongan di luar alam sadarnya". Sedangkan manusia yang dianugerahi akal dan kebebasan, justru melawan takdirnya. Akal dan kebebasan merupakan anugerah, namun pada sisi lain adalah ujian.

Dalam kesempurnaan manusia ada ujiannya. Manusia harus melawan akal dan kebebasan yang dihiasi oleh keindahan hawa nafsu dan kepalsuan bisikan syetan. Manusia harus mengalahkan fikiran sadarnya terlebih dahulu untuk berserah diri terhadap takdirnya.

Padahal dengan berpasrah terhadap takdirnya, manusia akan seindah alam semesta. Bila akal dan kebebasannya digunakan sesuai tuntunan takdirnya, maka manusia akan bisa mendayagunakan takdir-takdir yang tersebar pada setiap makhluk Allah dan peristiwa di muka bumi.

Akal dan kebebasan bukan untuk merubah takdir. Bukan untuk memperbaiki takdir. Apalagi menentang takdir. Tetapi untuk mempelajari seluruh takdir yang ada di alam semesta, lalu mendayagunakan, meramu, menata takdir  sehingga kehidupan menjadi surga di bumi.

Liku-liku Ketaatan Seorang yang imannya benar akan meninggalkan dosa besar dan kecil, lalu menetapkan ke-wara-an dengan meningga...

Liku-liku Ketaatan


Seorang yang imannya benar akan meninggalkan dosa besar dan kecil, lalu menetapkan ke-wara-an dengan meninggalkan syahwat, perkara mubah yang belum jelas dan hanya mencari kehalalan mutlak.

Sebagian besar waktunya, siang dan malam, untuk beribadah. Dia meninggalkan kebiasaan manusia sehingga tak heran jika terjadi hal-hal luar biasa. Dia pun mendapatkan rezeki yang tak terduga. Dia dibersihkan dan dijernihkan dari segala sesuatu.

Dia sudah lama menahan diri dan menghancurkan kebutuhan-kebutuhan yang bergelora di dadanya. Dia bersabar dalam memecah belah berbagai keinginannya. Tak jarang dia ditolak dalam ragam kondisi.

Dia berdoa, tetapi tak jua dikabulkan. Sudah meminta, tetapi tak diberi. Telah mengadu, tetapi yang diadukan malah bertambah. Telah meminta kelonggaran, tetapi tak mendapatkan. Sudah bertakwa, tetapi tak melihat jalan keluar.

Telah bertauhid dan ikhlas menjalani amalannya, tetapi tak kunjung didekatkan pada Dzat yang dituju oleh amalnya itu, seolah-olah dia bukan orang beriman dan bertauhid.

 Meskipun begitu, dia tetap teguh dan bersabar dalam menghadapi semuanya. Dia tahu bahwa kesabaran merupakan obat dan penyebab kejernihan hati dan kedekatan dengan Allah swt. Diapun meyakini bahwa kebaikan pasti datang setelah ujian ini.

Baginya, ujian ini merupakan penjelas, siapakah yang mukmin dan munafik. Manakah yang bertauhid dan musyrik. Yang ikhlas dan pamer. Pemberani dan pengecut. Yang konsisten dan labil. Yang sabar dan cengeng. Yang benar dan salah. Yang jujur dan pembohong. Pecinta dan pembenci.

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang mengobati luka dan bersabar atas pahitnya obat karena mengharapkan hilangnya penyakit.

Sumber:
Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos

Menghitung Sebuah Perintah Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Segala peristiwa dan segala yang ada, semuanya bisa menjadi data ku...

Menghitung Sebuah Perintah Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Segala peristiwa dan segala yang ada, semuanya bisa menjadi data kuantitatif. Persoalannya kemampuan berhitung manusia terbatas. Sebab, manusia hanya bisa mengkalkulasi yang diketahuinya saja. Padahal yang tidak diketahui, tak terbatas. Itulah sebab, kalkulasi manusia sering salah.

Mengapa semuanya bisa dihitung? Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran tertentu. Menciptakan segala sesuatu dengan petunjuk dan teratur. Setiap sesuatu ada ajal dan masanya.

Mengapa kalkulasi manusia bisa salah? Sebab, hanya Allah yang turun dan naik ke langit. Hanya Allah yang tahu yang masuk ke bumi dan keluar dari bumi. Hanya Allah yang tahu makhluk-Nya. Yang diketahui manusia sebatas yang dikehendaki-Nya.

Karena manusia sering salah berhitung, maka bertakwalah. Dengan takwa, Allah akan menghapus semua kesalahan, memperbaiki dan menyempurnakan urusan manusia. 

Manusia yang pandai berhitung mendapatkan tempat khusus di sisi Allah. Perdebatan di akhirat tentang berapa lama hidup di dunia? Tak bisa dijawab kecuali diserahkan kepada yang pandai berhitung. Allah memerintahkan bila ada persoalan bertanyalah kepada yang ahli berhitung.

Dahulu, seorang ulama fiqh pasti pandai berhitung. Sebab, bukankah hukum Islam dipenuhi dengan perhitungan? Shalat, zakat, waris, dan puasa, harus ditopang dengan keahlian menghitung.

Menentukan waktu shalat dan puasa, butuh perhitungan waktu. Pembagian zakat dan waris, butuh perhitungan agar didistribusikan sesuai hukum Allah. Keahlian menghitung merupakan keahlian yang dianjurkan oleh Allah.

Ilmu matematika, fisika dan kimia lahir dari para ulama Islam, sebab ada perintah dari Allah untuk bertanya kepada yang pandai berhitung. Sebab, alam semesta dan peristiwanya, semuanya bisa dihitung, karena Allah Maha Teliti dan Tidak Pernah Lengah. Berhitung bagian dari ketaatan kepada Allah yang memerintahkan untuk berhitung. 

Agar Pengadilannya Final di Dunia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Perdebatan dan perselisihan tidak saja di dunia, tetapi juga di ak...

Agar Pengadilannya Final di Dunia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Perdebatan dan perselisihan tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat. Bedanya, di dunia, manusia bisa berdusta, merekayasa dan bersekongkol. Di akhirat, semua fakta terbuka. Sang Hakim Maha Bijaksana.

Perdebatan di akhirat, antara pembesar dengan  jongos kemungkaran. Antara syetan dengan pengikutnya. Ada juga perdebatan tentang berapa lama hidup di dunia. Pelajari perdebatan di akhirat. Seperti itulah perdebatan di persidangan dunia.

Di dunia, kisah Nabi Yusuf dengan saudaranya, merupakan kisah rekayasa bukti hukum. Kisah Nabi Yusuf dengan istri pembesar istana, merupakan kisah rekayasa kasus, walapun bukti hukum menunjukkan bahwa istri pembesar istana yang bersalah. Apakah keburukan bisa disembunyikan?

Dengan segala rekayasa bukti hukum dan kasus, Allah memberikan kelapangan bagi para hakim, yaitu bila ijtihadnya salah maka akan mendapatkan satu pahala. Bila benar, akan mendapatkan dua pahala. Hakim yang mampu menegakkan integritasnya, berpeluang semuanya didambakan surga. Namun mengapa justru banyak yang ke neraka?

Hakim adalah wakil Tuhan di bumi. Menyelesaikan persoalan dan perselisihan antar manusia di dunia. Bukankah Allah pun yang menyelesaikan perselisihan manusia di dunia? Pengadilan Allah adalah pengadilan final. Keputusan final. Sedangkan pengadilan di dunia akan dilanjutkan dengan pengadilan di akhirat.

Bagaimana agar pengadilan dunia tidak berlanjut ke akhirat? Bagaimana agar persoalan tuntas di dunia? Sebab, pengadilan di akhirat sangat berat dan melelahkan. Jadikan dunia, sebagai penghapusan beratnya pengadilan di akhirat.

Adili diri oleh diri sendiri, sebelum diadili oleh Allah. Hisablah diri, sebelum dihisab oleh Allah. Itu cara meringankan pengadilan di akhirat.

Karakter Pemakmur Bumi Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Manusia diciptakan dari tanah. Allah mentakdirkan manusia sebagai pemakmurnya...

Karakter Pemakmur Bumi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Manusia diciptakan dari tanah. Allah mentakdirkan manusia sebagai pemakmurnya. Sebagai pengolah dan menikmati hasilnya. Menanam agar bermunculan kekayaannya. Bagaimana karakter pemakmur?

Bagaimana cara memakmurkan? Hanya cukup dua karakter, beristighfar dan bertaubat. Beristighfar sangat sensitif terhadap yang telah dilakukan dan terjadi. Sensitif terhadap kesalahan, kekurangan, kelemahan dan tahu yang harus diperbaiki. Paham ilmu, teknologi dan strategi yang harus dilakukan.

Bertaubat berarti selalu melakukan langkah baru setelah beristighfar. Apa amal shaleh yang harus dilakukan? Implementasi terbaru apa yang dilakukan? Dengan beristighfar dan bertaubat, setiap hari terjadi perbaikan dan pertumbuhan baru.

Tak terjadi keterlenaan. Tak rerjadi keterpedayaan. Tak terjadi kemandekan. Tak ada sebab kehancuran yang terus dilakukan. Semuanya dihapus dengan taubatnya.

Nabi Yunus pernah bertindak salah. Istighfar dan taubatnya, memperbaiki keadaannya. Rahmat Allah kembali mengucur. Doanya dikabulkan Allah.

Semua obsesi terwujud bila melanggengkan istighfar dan taubat. Keduanya membawa manusia pada kesesuaian langkah dengan hukum alam yang telah ditetapkan Allah. Langkahnya beriringan dengan Kehendak-Nya.

Menjadi pemakmur bumi hanya dengan beristighfar dan taubat. Memahami masa lalu, memahami strategi dan eksekusinya. Seperti itu perputaran langkahnya.

Berbenturan dengan Takdir-Nya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ada cita-cita yang yang masih belum terealisasi. Yaitu, tidak bersele...

Berbenturan dengan Takdir-Nya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ada cita-cita yang yang masih belum terealisasi. Yaitu, tidak berselera terhadap dunia. Bila akhirnya adalah kematian, maka obsesi terbesar bukankah terbebas dari hasrat dunia?

Diri ini masih banyak keinginan yang tak selaras dengan takdir-Nya. Keinginan selalu berargumentasi takdir-Nya. Keinginan merasa lebih baik dari kehendak-Nya. Inilah kerusakan diri yang parah.

Selama diri masih mempertanyakan takdir-Nya, yang ada hanya keresahan, ketidakpuasan, ketakutan, merasa gagal dan kesal terhadap diri, hingga taraf depresi dan stress. Semuanya akan terus mengepung, karena hawa nafsu selalu memberontak terhadap takdir-Nya.

Keinginan hanya memperlenakan dan memanjakan. Keinginan sering kali tanpa akal sehat. Keinginan terkadang tak sesuai dengan kebutuhan, kelak bisa menghancurkannya. Sedangkan takdir-Nya dipenuhi dengan ilmu dan rahmat-Nya.

Keinginan dan takdir-Nya sering kali dibenturkan. Agar tahu, apakah menjadi hamba ego diri atau hamba Allah? Agar diri bisa intropeksi tentang jati diri.

Saat terjadi benturan, apa yang ditanyakan? Mengapa diri belum menerima takdir-Nya? Atau mengapa takdir belum sesuai keinginannya?

Ujian terbesar ada di hati. Medan pertempuran terdahsyat ada di hati. Pertempuran di hati menjadi penentu kemenangan di medan kehidupan nyata.

Hanya Meminta Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Hanya meminta, itulah akhlak hamba kepada Allah Sang Pemilik Semesta Alam. Hanya memin...


Hanya Meminta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Hanya meminta, itulah akhlak hamba kepada Allah Sang Pemilik Semesta Alam. Hanya meminta, itulah yang hanya bisa dilakukan oleh seorang hamba. Mengapa manusia merasa hebat, segalanya bisa dilakukannya sendiri?

Semuanya sesat, kecuali yang Allah beri petunjuk. Semuanya lapar, kecuali yang Allah beri makan. Semuanya telanjang, kecuali yang Allah beri pakaian. Maka, mintalah semuanya kepada Allah.

Andai Allah tidak menurunkan kitab suci dan mengutus para Nabi dan Rasul, bukankah manusia sesat? Bila Allah tidak menciptakan tumbuhan dan hewan, bukankah manusia akan kelaparan dan telanjang? Allah yang menyediakan, manusia hanya meminta saja.

Saat para Nabi dan Rasul menghadapi persoalan, apa yang dilakukan pertama kali? Menunggu wahyu Allah. Setelah itu, meminta atau berdoa kepada Allah? Kekuatan penghulu para Nabi pun, Rasulullah saw, berada dibalik doa-doanya. Hanya meminta.

Seorang Sahabat dililit hutang, Rasulullah saw mengajar doa kepadanya. Siti Fatimah kelaparan di rumahnya, Rasulullah saw mengajar doa kepada putrinya. Solusi hidup hanya tinggal meminta saja pada Allah swt.

Syarat utama permintaan dikabulkan hanya rezeki yang halal yang masuk ke perut. Bila haram, maka seperti tanah yang disiram racun, tidak akan bisa ditanami apa pun.

Dikabulkannya permintaan hanya butuh keyakinan. Sebab Allah sudah menjamin keterkabulan doa. Apakah ada doa para Nabi dan Rasul yang tidak dikabulkan? Setelah itu bersabarlah.

Gejolak Jiwa Nabi Ayyub Saat Diuji Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Buya Hamka, di Tafsir Al-Azharnya, mengatakan bahwa lamanya cobaa...

Gejolak Jiwa Nabi Ayyub Saat Diuji

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Buya Hamka, di Tafsir Al-Azharnya, mengatakan bahwa lamanya cobaan yang dialami oleh Nabi Ayyub berlangsung selama  14 hingga 18 tahun. Ini sebuah periode yang cukup lama. Cobaannya, perpaduan antara sakit yang tak kunjung sembuh dan kemiskinan yang luar biasa. Bukankah sangat berat?

Bila hanya sakit, namun masih ada sedikit harta, masih ada harapan untuk sembuh dengan berobat. Bila miskin, namun masih sehat, masih ada harapan untuk kaya kembali dengan berusaha. Namun, bila keduanya berpadu, apakah ada jalan keluar dari cobaan ini?

Ujian yang rentang waktunya cukup lama tersebut, apa gejolak di dada Nabi Ayyub? Apa ungkapan pembicaraan yang tercatat dari lisan Nabi Ayyub? Ternyata Nabi Ayyub sangat sedikit berbicara. Ini tanda, jiwanya sangat tentram. Ini tanda keridhaanya terhadap takdir-Nya. Bukankah, takdir-Nya merupakan rahmat-Nya?

Ibnu Arabi menyimpulkan hanya ada dua ucapan yang direkam dalam sejarah. Pertama, di surat Al-Anbiyaa ayat 83, "Sesungguhnya aku telah disentuh kemelaratan, padahal Engkau adalah maha penyayang diantara sekalian yang Penyayang." Nabi Ayyub hanya mengungkapkan fakta saja, setelah itu mengagungkan asmaulhusna-Nya Allah.

Ucapan Nabi Ayyub yang kedua dicatat dalam surat Shaad ayat 41, "Sesungguhnya aku telah diganggu syetan dengan kepayahan dan siksaan." Ujian Nabi Ayyub bukan saja sakit yang berat dan kemiskinan yang pekat saja, tetapi juga godaan syetan yang luar biasa, sehingga jiwanya kepayahan dan tersiksa untuk menetralisir godaan dari syetan.

Dari dua ucapannya, ada ungkapan yang memuat fakta ujian yang dialaminya. Yaitu, kemelaratan dan gangguan syetan. Tak ada ungkapan keluh kesah atau pun segera diakhiri ujiannya.  Ujian yang terberat justru gangguan syetan bukan kemelaratannya. 

Ungkapan dari ucapan yang luar biasa dari Nabi Ayyub, "Engkau adalah yang maha penyayang di antara sekalian yang penyayang." Nabi Ayyub tetap memuji Allah, padahal tengah menghadapi ujian yang tidak diketahui solusinya. Nabi Ayyub telah menjadi model terbaik dalam bersabar.

Negri Saba Makmur Karena Sukses Mengelola Air Hujan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Negri Saba diberi gelar dalam Al-Qur'an seba...

Negri Saba Makmur Karena Sukses Mengelola Air Hujan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Negri Saba diberi gelar dalam Al-Qur'an sebagai negri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun. Menurut Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, dari penghasilan buminya timbul kemakmuran. Kemakmurannya menambah dekat pada Allah dan segala dosa diampuni selama dalam segala gerak gerik hidup itu Allah swt tidak dilupakan.

Qatadah meriwayatkan kemakmuran negri Saba. Jika, seseorang masuk ke tengah kebun dengan membawa keranjang dan menjunjung di atas kepalanya, maka buah-buahan yang telah masak dan ranum jatuh sendiri ke keranjang tanpa perlu dipetiknya. Setelah ia keluar, keranjangnya telah penuh dengan buah-buahan.

Buya Hamka menjelaskan kondisi geografis negri Saba, dimana kota tempat mereka diam itu terletak pada sebuah lembah yang subur permai yang diapit oleh dua buah gunung di kiri  dan kanannya. Kotanya dikelilingi oleh kebun-kebun sehingga tak pernah kekurangan makanan justru berlebihan.

Letak geografisnya pun berdekatan dengan negri-negri lainnya. Seperti, Syam, Hijaz dan Mesir sehingga hasil panen mudah didistribusikan dan dijual. Bila berjalan ke negri-negri tersebut pun, sepanjang perjalanan telah ada lembah di tengah padang pasir yang terdapat telaga sumber air yang berdekatan tanpa menempuh perjalanan berhari-hari. Di sana terdapat pemukim yang hidup sambil mengembalikan ternaknya. Perjalanan mereka pun sangat aman dan tidak melelahkan.

Negri Saba berawal dari sebuah negri yang tandus. Mengapa tiba-tiba menjadi negri yang makmur? Menurut Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, dalam Sirah Nabawiyahnya, karena mereka mencoba mengambil keuntungan dari air hujan yang terbuang sia-sia hingga bermuara ke laut. Air hujan yang sering menciptakan bencana dengan air bahnya  karena berlebihan, ditampung dengan membuat bendungan.

Rakyat Saba membangun bendungan Ma'rib untuk menampung air hujan dengan teknik yang sangat maju kala itu. Kemudian, air hujannya digunakan untuk mengairi ladang dan tanah perkebunan yang isinya tanaman indah dan buah yang menggiurkan.

Menurut Buya Hamka, air hujan yang ditampung digunakan untuk kebutuhan hidup, baik untuk makanan dan minuman ataupun untuk mengaliri kebun-kebun mereka sehingga sanggup membangun kebun-kebun yang luas di lereng-lereng gunung. Rupanya tanahnya sangat subur dan mengeluarkan hasil buah-buahan dan makanan yang lezat.

Tak Pernah Mendoakan Keburukan  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Jangan pernah membalas karena sakit hati. Jangan pernah membalas den...

Tak Pernah Mendoakan Keburukan 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Jangan pernah membalas karena sakit hati. Jangan pernah membalas dendam. Jangan pernah keburukan dibalas keburukan. Membalas akan sesuatu adalah urusan Allah. Biarkan Allah yang membalas sesuai kehendak-Nya. Bukankah tugas manusia hanya menjadi hamba-Nya?

Apakah para Nabi dan Rasul pernah membalaskan sakit hatinya? Pernah membalas keburukan kaumnya?  Nabi Nuh dan Hud hanya berdoa, "Ya Allah, tolonglah kami karena mereka telah mendustakan." Setelah itu biarkan Allah yang berkehendak.

Tetap bersama kaumnya, apa pun kedurhakaan kaumnya. Tetap berbuat baik dan menyadarkan kaumnya apa pun keburukan kaumnya. Tugas dakwah harus digengam erat apa pun tantangannya. Kisah Nabi Yunus menjadi pelajaran jangan pernah meninggalkan tugas yang diemban.

Nabi Yunus meninggalkan kaumnya saja dihukum oleh Allah dengan dimakan ikan paus, bagaimana bila membalas sakit hati pada kaumnya? Bagaimana bila memohonkan keburukan? Rasulullah saw melarang mendoakan keburukan bagi orang lain. Mengapa?

Jangan pernah membantu syetan dengan doa untuk keburukan orang lain. Sebab dalam kehidupan sudah ada rumus bakunya. Akhir kesudahan yang kafir, munafik, sesat, zalim dan durhaka sudah ada hukumnya. Mengapa harus mendoakan keburukan bagi mereka?

Mengapa kaum Nuh dan Hud diazab Allah? Bukan para Nabi dan Rasul yang meminta, tetapi kaumnya sendiri yang meminta. Kaumnya meminta azab disegerakan saat itu juga untuk mengejek para Nabi dan Rasul. Untuk memojokkan para Nabi dan Rasul bahwa ajarannya dusta.

Sedangkan para Nabi dan Rasul  mengatakan pada kaumnya bahwa tugasnya hanya berdakwah sedangkan tentang mengazab atau memberikan nikmat, semuanya urusan Allah. Bukankah tidak mengikuti kebenaran itu sebenarnya sudah kehancuran? Bukan tidak mengikuti firman Allah swt dan Sunnah Rasulullah saw sebenarnya sudah azab?

Yang Rendah, Yang Tersubur dan Paling Bermanfaat Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Jati diri manusia adalah tanah. Tanah yang paling r...

Yang Rendah, Yang Tersubur dan Paling Bermanfaat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Jati diri manusia adalah tanah. Tanah yang paling rendah, itulah yang paling subur. Karena air, sampah dan humus yang terhanyut akan berakhir di lokasi yang paling rendah. Mata air dan sungai berada di lokasi yang paling rendah.

Lautan terluas berada di bagian bumi yang paling rendah. Sebagai besar luas bumi merupakan dataran rendah yang kemudian terbentuk lautan. Di lautan, kekayaan tersimpan tak terhingga. Yang paling banyak menampung kehidupan adalah tanah yang paling rendah. Bukan yang paling tinggi.

Tanah yang paling subur adalah tanah yang paling banyak dipenuhi kotoran, sampah dan bangkai. Tanah yang paling subur adalah yang berwarna hitam bukan yang paling putih atau berwarna. Yang dianggap kotor dan hina, justru yang paling dicari untuk menumbuhkan tanaman.

Untuk membangun bendungan atau waduk, yang dibutuhkan dan dicari adalah daerah yang paling rendah di antara perbukitan. Hanya dataran yang rendah yang bisa menampung dan menghimpun air hujan, sungai dan mata air.

Di pegunungan dan perbukitan, lahan yang ditanami oleh para petani adalah daerah yang paling rendah. Binatang hutan atau gunung, saat kelaparan mencari daerah yang rendah untuk mendapatkan makanan. Kebermanfaatan ada di lokasi yang rendah. Kota-kota lebih banyak yang dibangun di dataran rendah.

Bila yang rendah menjadi tanah yang paling subur, mengapa manusia yang berasal dari tanah justru berlomba dengan kegagahan, kesombongan, takabur dan merendahkan yang lain? Padahal Allah pun akan menghancurkan kesombongan manusia agar kembali kepada karakter asal tanah yaitu kerendahan.

Sebab kehancuran manusia adalah kesombongan. Dengan kesombongan ini manusia menghancurkan kebenaran dan merendahkan makhluk-Nya. Yang sombong pum diharamkan memasuki surga-Nya Allah karena telah mengikrarkan diri ingin menyamai Tuhan.

Melembutkan  Hati Seperti Mengolah Tanah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Mendidik jiwa seperti mengolah tanah. Cukup digemburkan aga...


Melembutkan  Hati Seperti Mengolah Tanah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Mendidik jiwa seperti mengolah tanah. Cukup digemburkan agar air hujan dan sinar matahari  merembes dan merambat maksimal ke dalam tanah. Atau, menanam beragam pohon yang akarnya kecil-kecil, agar tanah gembur alamiah tanpa harus kerja keras mengayunkan pacul dan garpu tanah.

Tanah yang buruk adalah tanah yang membuang seluruh air hujan dari langit. Air hujan yang merupakan rahmat-Nya, justru membawa tanah humus yang ada di atasnya. Tanah yang baik, yang bisa menahan dan menyimpan air hujan. Bila berkelebihan disimpan atau disalurkan ke tempat yang benar.

Karakter hati seperti karakter tanah. Hati yang keras tak bisa membuahkan kebaikan apa pun, seperti tanah keras yang membuang air hujan dan humus tanahnya tergerus. Tanah pun bisa berubah menjadi benda yang sangat keras. Jadi bagaimana melembutkan hati?

Hati bisa lembut dengan tempaan ujian yang berat, bertafakur, bertadabur, merasakan nikmat Allah, mengimani akhirat, surga dan nerakat. Ada yang melembutkan hati dengan dzikir dan berpuasa. Semua perintah Allah dan Sunnah Rasulullah saw pada akhirnya akan melembutkan hati.

Semakin banyak tanaman, walapun tidak dipacul dan digarpu, tanah akan terjaga kegemburannya. Karena akar tanaman yang akan menembus tanah-tanah yang keras. Bila sudah ditembus akar maka air hujan akan masuk untuk melunakkan tanah tersebut.

Tanaman tersebut adalah seluruh perintah Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Merubah tanah yang tandus menjadi subur dan terus bertambah kesuburannya hanya dengan menanam. Di awal, mengolah tanah yang tandus sangat sulit dan berat, namun di saat ada satu tanaman yang hidup, maka semakin mudah mengolah tanahnya.

Cara pertama mengolah tanah yang tandus adalah dengan menjaga air hujan agar tidak terbuang. Menampung seluruh yang datangnya dari langit. Cara pertama mengelola hati ada dengan menampung semua hal yang berasal dari Allah swt dan Sunnah Rasulullah saw.

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah at...

Yang Tak Henti Mengeluarkan Kekayaannya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Rasulullah saw memerintahkan menanam bukan menikmati buah atau panen. Saat bercerita tentang buah, Rasulullah saw justru bersabda bahwa yang dicuri adalah sedekah. Yang dimakan makhluk lain adalah sedekah. Hidup itu soal karya, bukan tentang hasil.

Saat hiruk pikuk menggema, Rasulullah saw memerintahkan untuk tidak mengikuti arus kebisingan, tetapi memerintahkan mengolah tanah dan menanam. Sibukkan dengan karya bukan berkoar-koar dan perselisihan.

Sumber daya yang terus tanpa henti memberikan kehidupan pada makhluk di muka bumi adalah tanah. Mengolah tanah berarti awal menjaga kesinambungan generasi dan seluruh makhluk-Nya. Menanam berarti membangun optimisme dan harapan.

Bukankah misi para penjelajah adalah mendapatkan tanah baru? Bukankah pertempuran paling sengit di muka bumi tentang perebutan tanah? Bukankah dari tanah seluruh pundi-pundi kekayaan berasal? Anehnya, mengapa justru merasa terhina dengan mengolah tanah?

Tanah bisa mengeluarkan perbendaharaannya hanya dengan menggali dan menanamnya. Tanah hanya bisa mengeluarkan keberkahannya hanya dengan bertakwa. Bila mengolah tanah dan menanamnya disemangati oleh takwa, maka bumi ini menjadi surga.

Mengolah tanah itu sangat mudah, hanya dengan menggemburkannya. Menanam itu sangat mudah, hanya dengan memasukan biji-bijian ke tanah yang gembur. Setelah itu, Allah yang menjaga dan memeliharanya. Setelah itu,  tugas alam semesta yang untuk membesarkannya.

Tanah merupakan harta karun yang tak pernah berhenti mengeluarkan kekayaannya. Caranya amat mudah hanya dengan menggemburkan dan memasukkan biji-bijian ke dalamnya. Dengan cara ini kehidupan di muka bumi terus berkelanjutan.

Memilih Ujian Yang Resikonya Terukur Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Hidup itu ujian. Manusia itu khalifah yang diberikan kebebasan....

Memilih Ujian Yang Resikonya Terukur

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Hidup itu ujian. Manusia itu khalifah yang diberikan kebebasan. Maka pilihlah ujian yang resikonya terukur dan terringan.  Jangan mengambil resiko yang tidak terukur karena bisa menghancurkan dan sangat membebankan hingga taraf tak sanggup menanggungnya.

Ujian yang resikonya terukur adalah dengan tunduk dan taat kepada Allah. Ibadah adalah ujian bagi sang hamba. Ujian bagi sang khalifah, mau tetap menjadi wakil Allah di muka bumi atau wakil egonya? Mau mengikuti kebebasan egonya atau kebebasan yang terkelola dan terarah dengan bimbingan Allah?

Yang kikir, hartanya akan musnah. Yang tamak, hartanya tidak memberikan kemanfaatan walaupun melimpahkan ruah. Bila berzakat, harta yang "musnah" hanya 2,5 persen saja, bukankah "kehilangan" 2,5 persen sangat terukur? Sisanya yang 77,5 persen bebas untuk dimanfaatkan kepada yang mubah.

Kebanyakan manusia memilih untuk kikir bukan berbagi. Kikir adalah ujian dari hasutan nafsu. Dermawan adalah ujian, apakah mau ditaati atau diabaikan? Yang berakal akan memilih resiko yang terukur.

Tamak atau mencari yang halal? Semuanya ujian. Manusia bebas untuk memilih. Ketamakan menimbulkan kezaliman dan perampasan hak orang lain. Sedangkan yang halal menimbulkan ketentraman dan kebersamaan. Yang tamak, hartanya menjadi abu. Yang halal, membawa keberkahan. Namun, kebanyakan memilih ujian ketamakan.

Resiko puasa hanya lapar dan haus selama 12-14 jam. Sedangkan makan dan minum tak karuan. Gaya hidup yang bergemerlapan akan menghabiskan harta, penyakit badan yang akut  yang kadang tak bisa disembuhkan. Mau memilih ujian yang mana? Berpuasa, resikonya paling ringan.

Mau menuhankan ego diri atau menuhankan Allah. Menuhankan Allah hanya butuh kerendahan hati dan mencampakkan kesombongan. Sedangkan menuhankan ego terlihat hebat dan bebas, namun jiwanya sengsara tak pernah bahagia. Bukankah lebih ringan merendahkan hati daripada sengsara hidupnya?

Bertempur Melawan Penjajah Israel adalah Rahmat dari Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apakah pembunuhan terhadap bayi laki-laki...

Bertempur Melawan Penjajah Israel adalah Rahmat dari Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Apakah pembunuhan terhadap bayi laki-laki di era Firaun, menghapuskan takdir kehancuran tahta Firaun? Apakah upaya menyingkirkan Yusuf dengan memasukannya ke sumur, membatalkan takdir Yusuf menjadi Nabi dan petinggi Mesir? Apakah dibunuhnya seluruh mukmin dalam peristiwa Ashabul Ukhdud, menyebabkan hilangnya mukmin di Yaman?

Semua upaya yang dilakukan untuk menghambat, menunda hingga membumihanguskan muslimin tidak akan pernah terealisasi. Bukankah di saat yang sama muslimin justru tumbuh organik di negara Barat?

Penjajah Israel negara yang paling kuat militernya di dunia. Namun saat diserang oleh Iran, mengapa yang pusing menangkis serangan adalah Amerika, Inggris, Perancis dan Yordania? Mengapa Ukraina yang didukung NATO justru dibiarkan sendiri melawan Rusia?

Muslimin memang umat terbaik yang dihadirkan di muka bumi. Maka, yang pantas menghadapi penjajah Israel adalah rakyat Palestina. Sebab, penjajah Israel merupakan gabungan kekuatan Barat, baik secara militer, ekonomi dan politik.

Pertempuran muslimin terhadap penjajah Israel adalah rahmat-Nya. Mengapa? Mengalahkan penjajah Israel lebih mudah dari bertempur dengan bangsa-bangsa lainnya. Bukankah karakter Bani Israel itu penakut dan pembangkang? Bukankah tidak ada catatan sejarah, Bani Israel menang dalam pertempuran besar?

Bukankah dalam sejarah, muslimin dapat mengalahkan Eropa, Persia, India dan Mongol? Yang dalam catatan sejarah, ada yang mengakui keunggulan mereka? Saat muslimin dalam keadaan lemah, maka yang dihadapi bangsa yang terlemah yaitu penjajah Israel. Itulah rahmat dari Allah. Sehingga infrastruktur militer sehebat apapun yang ditopang negara-negara terkuat tak terlalu berarti.

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Se...

Riset Pemanfaatan Tebingan Tanah Terasering

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Setiap tanaman memiliki cara tersendiri untuk tumbuh. Setiap tanaman memiliki peranan tersendiri yang tak bisa tergantikan. Kontur tanah sangatlah berbeda. Bagaimana memadukan kontur tanah dengan cara hidup tanaman?

Tanah tebingan yang berbentuk vertikal, apakah bisa dimanfaatkan? Tanah tebingan apakah bisa menghasilkan sesuatu bagi kesejahteraan manusia? Bukankah segala sesuatu tidak sia-sia? Tanaman apa yang cocok di tanah tebingan?

Tanah yang diterasering menyisakan tebingan tanah. Selama ini hanya dibiarkan sehingga yang hidup hanya rumput dan ilalang. Apakah tidak ada yang lain? Bagaimana agar tebingan tidak longsor dengan tumbuhan tetapi menghasilkan nilai tambah?

Sedang dibuat riset pemanfaatan tanah tebingan. Bagian atas tebingan ditanami nanas. Bagian bawahnya ditanami pohon lada. Riset adalah metodologi untuk bertafakur dan tadabur untuk memanfaatkan tanda-tanda kebesaran Allah.

Akar nanas akan mengokohkan tanah tebingan bagian atas, sebab akarnya berserabut dengan kedalaman 30-50 cm. Kelak akan bermunculan juga tunas-tunas baru sehingga bagian atas tebingan semakin kokoh. Semakin vertikal tanah, rasa nanas akan semakin manis dan segar.

Pohon lada yang merambat akan ditanam di bawah tebingan. Kelak akar pelekatnya akan berpegangan pada tanah tebingan. Dengan karakter lada seperti rumput, semoga akan menjaga tebingan dari air hujan dan angin yang bisa melongsorkan tanah sedikit demi sedikit.

Semuanya memang baru tahap riset. Bukankah riset itu lebih baik dari ibadah sunah tahunan? Bukankah bila risetnya salah pun mendapatkan satu pahala? Bukankah riset membongkar takdir-Nya di alam semesta untuk dijadikan hikmah kehidupan?

Riset Pohon Lada Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Lada pernah menjadi primadona Nusantara. Pelabuhan Banten, Sunda Kelapa dan pelabuh...

Riset Pohon Lada

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Lada pernah menjadi primadona Nusantara. Pelabuhan Banten, Sunda Kelapa dan pelabuhan internasional lainnya di zamannya, lada dan jenis rempah-rempah lainnya menjadi komoditas utama. Kehangatan dan aroma lada menjadi daya tarik luar biasa.

Lada menjadi hadiah persahabatan antara maharaja Sriwijaya dengan khalifah Bani Ummayah. Umar bin Abdul Aziz mendapatkan hadiah lada dari Sriwijaya. Dahulu, lada seperti emas permata bahkan lebih mahal dari emas.

Untuk menjaga warisan Nusantara ini, mencoba membudidayakan tanaman  lada rambat di kebun. Lada menjadi tumpang sari. Lada untuk mengoptimalkan lahan yang ada. Banyak lahan kebun yang bisa dioptimalkan dengan tanaman lada.

Ada 3 jenis riset yang akan dilakukan. Lada rambat hidup di batang pohon petai, alpukat dan tebingan tanah. Jenis akar lada ada dua, akar yang menghujam ke tanah dan akar pelekat untuk bisa menempel di pohon atau sarana perambatan yang disediakan.

Akar yang menghujam, berfungsi mengambil nutrisi dari tanah. Sedangkan akar pelekat hanya berfungsi untuk menggengam ke batang.  Pertanyaannya, apakah akar pelekat akan mempengaruhi kehidupan pohon yang menjadi tempat rekatannya? Inilah yang harus diuji.

Yang akan diuji pula, apakah akar pelekat lada dapat menempel di tanah tebingan? Bila bisa merambat seperti rumput, maka tanah tebingan akan menjadi tempat melekatnya akar-akar lada rambat. Bila uji coba ini berhasil, tebingan setinggi antara 50-200 cm bisa menjadi sangat produktif karena bisa menggantikan peran rumput.

Bila lada rambat tidak mengganggu pohon yang menjadi tempat merekatnya, maka dalam satu pohon akan panen dua jenis yaitu buah pohon yang menjadi rambatan lada dan buah lada itu sendiri. Mencoba riset untuk menguji hipotesa ini.

Karakter Bangsa Arab di Era Romawi dan Persia Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bisakah bangsa Arab dikalahkan oleh bangsa-bangsa lain...

Karakter Bangsa Arab di Era Romawi dan Persia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bisakah bangsa Arab dikalahkan oleh bangsa-bangsa lainnya? Hanya Jazirah Arab yang tidak dijajah oleh Persia dan Romawi. Hanya bangsa Arab yang jiwanya masih merdeka, bersih dan mulia. Itulah sebabnya Allah tidak mengutus nabi terakhir dari bangsa Persia, Yunani, India dan Romawi walaupun mereka memiliki peradaban dan ilmu pengetahuan  tinggi.

Menurut Prof Dr Ali Muhammad Shalabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah, bangsa Arab adalah bangsa yang sabar menghadapi musibah, tabah menghadapi cobaan dan rela walaupun hanya mendapatkan yang sedikit. Penyebabnya, alam yang telah menempanya.

Terbiasa hidup di kawasan gurun pasir kering yang sulit ditemukan mata air dan ladang. Mendekati gunung yang terjal dan berjalan jauh di bawah teriknya matahari. Tak memperdulikan cuaca panas dan dingin. Rintangan perjalanan dan jauhnya jarak tempuh bukanlah masalah baginya.

Masyarakat Arab berkomentar tentang makanan, "Makan terlalu kenyang dapat menghilangkan kecerdasan. Mereka juga menanggap aib jika seseorang rakus dan gemar makan. Sebuah syair menjelaskan, "Manakala tangan-tangan berebut meraih perbekalan, maka aku bukanlah orang tercepat di antara mereka, karena yang paling rakus di antara mereka pastilah dia yang paling cepat."

Masyarakat Arab, selain dikenal berpostur tangguh, juga memiliki jiwa yang kuat dan besar. Ketika kedua sifatnya berpadu, maka ia dapat melakukan sesuatu yang mengagumkan dan luar biasa. Dalam duel pertarungan, saat musuh terkalahkan, mereka memaafkan dan meninggalkannya. Mereka tidak mau melukai dan membunuhnya.

Saat bangsa Arab di jazirah Arab menjaga karakter ini, mereka tidak mampu dikuasai musuhnya, bukan karena alasan alamnya semata tetapi karena karakternya juga. Namun saat menanggalkannya, maka kabilah Arab di Syam dan Yaman menjadi bagian kekuasaan Persia dan Romawi.

Sekarang, dimana karakter bangsa Arab yang masih terjaga? Karakter ini masih terjaga di rakyat Palestina. Agresi penjajah Israel ke Gaza mempertontonkan karakter rakyat Gaza yang sabar, teguh, tabah, namun memiliki jiwa yang kuat dan tangguh untuk mengadapi keganasan genosida penjajah Israel. Itulah karakter bangsa Arab yang asli.

Sumber:
Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, Sirah Nabawiyah, Pustaka Al-Kautsar

Saling Menopangnya Keluarga Abdul Muthalib Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Saling menopang, itulah salah satu karakter keluarga Abdu...

Saling Menopangnya Keluarga Abdul Muthalib

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Saling menopang, itulah salah satu karakter keluarga Abdul Muthalib sang kakek Rasulullah saw. Saat ayah dan ibunya Rasulullah saw wafat, pengasuhan diserahkan kepada kakeknya, Abdul Muthalib. Saat sang kakek wafat, pengasuhan Rasulullah saw diserahkan ke Abu Thalib, sang paman. Sang paman mencintai Rasulullah saw melebihi cintanya pada anak-anaknya.

Abu Thalib bukanlah orang kaya. Oleh karena itu, untuk membantu dan meringankan bebannya, Rasulullah saw ikut mengembalakan kambing milik seorang penduduk Mekkah. Upah pengembalaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga pamannya. Rasulullah saw juga membantu pamannya berdagang.

Saat Rasulullah sudah menikah dengan Siti Khadijah, kondisi kehidupan sang paman tidak juga berubah. Ditambah lagi anak-anak sang paman semakin bertambah pula, tanggungan hidup semakin berat. Belum lagi, bila masa paceklik datang. Rasulullah saw terpanggil untuk meringankan beban sang paman.

Rasulullah saw pun mendatangi rumah sang paman lainnya yaitu Abbas bin Abdul Muthalib.  Tujuannya, bermusyawarah memecahkan beban berat kehidupan yang dialami Abu Thalib, yang merupakan saudara kandung dari Abbas bin Abdul Muthalib tetapi berbeda ibu. Apa yang didiskusikan?

Rasulullah saw. berkata kepada Abbas, salah seorang pamannya yang lain, “Sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib banyak anaknya, sedangkan sekarang ini seperti yang engkau lihat sedang musim paceklik. Marilah kita pergi kepada Abu Thalib untuk meringankan bebannya. Engkau mengambil seorang di antara anak-anaknya, dan aku pun akan mengambil seorang anaknya pula.”

Lalu mereka berdua berangkat menuju ke rumah Abu Thalib. Keduanya langsung mengemukakan maksudnya, dan Abu Thalib pun mau menerima usul mereka berdua. Akhirnya Al-Abbas mengambil Ja’far bin Abu Thalib, sedangkan Nabi Muhammad saw. mengambil Ali bin Abi Thalib untuk diasuh dan diperlakukan sama dengan anak-anaknya yang lain. Kelak Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah Rasyidin ke-4. Sedangkan Jafar bin Abu Thalib, menjadi utusan Rasulullah saw ke raja Najasi dan panglima perang Mu'tah.

Dalam keluarga Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw, telah tertanam budaya saling meringankan beban sesama kerabat, hingga ke pengasuhannya. Kerabat ada satu tubuh. Dihimpunkan oleh Allah untuk saling mengisi dan menopang.

Sumber:

https://bincangsyariah.com/khazanah/alasan-sahabat-ali-bin-abi-thalib-diasuh-nabi-sejak-kecil/

https://islamdigest.republika.co.id/berita/qizr1k335/silsilah-anak-dan-istri-abdul-muthalib-bin-hasyim

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Diliha...

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta


Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Dilihatnya, ada seekor burung buta tengah mematuk-matuk pohon. Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Rasulullah saw bersabda, "Burung itu berkata, Ya Allah, Engkau Maha Adil. Engkau telah menghilangkan pandanganku, tapi ketika aku lapar, ternyata ada belalang yang masuk ke mulutku."

Lalu, burung itu mematuk lagi, Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik berkata, "Tidak." Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya."

Dalam kisah lain, Malik bin Dinar pergi haji. Di perjalanan, ia melihat burung yang menjepit roti pada paruhnya. Ia mengikuti burung tersebut. Ternyata, burung itu mendatangi orang yang sudah tua renta, yang terikat di sebuah batang pohon.

Burung itu menyuapkan roti tersebut ke mulut orang tua itu sedikit demi sedikit. Setelah itu, sang burung terbang dan kembali dengan membawa air, lalu dialirkan ke mulut orang itu.

Malik bin Dinar mendekati orang itu, lalu bertanya, "Siapkan dirimu?" Orang itu menjawab, "Aku hendak berhaji, namun dicegat perampok. Mereka mengikatku di sini. Aku telah menahan lapar 5 hari. Lalu, aku berkata, "Wahai Zat yang mengabulkan doa orang yang terdesak, saat ini aku sedang terdesak, kasihanilah aku."

"Ternyata Allah mengirimkan burung ini kepadaku." Malik bin Dinar pun melepaskan ikatan orang tua itu dan mereka berangkat berhaji bersama."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publisher

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang meme...

Hasilnya Melimpah Karena Tidak Zalim


Suatu hari seorang raja mengunjungi wilayah kekuasaannya. Dia melihat seseorang sedang memeras susu seekor sapi, namun hasilnya sama dengan susu tiga puluh ekor sapi. Raja takjub dan berniat besok akan mengambil sapi itu.

Esoknya, raja memerah sapi itu, tapi hasilnya hanya setengah dari sebelumnya. Raja berkata, "Kenapa air susunya berkurang, bukankah sapi ini engkau gembalakan di tempat biasa?"

Pemilik sapi itu menjawab, "Benar, Tapi, paduka telah berniat zalim." Sang raja tertegun. Apa yang diucapkan sang pemilik sapi memang sangat benar. Hati yang zalim membuat keberkahan dicabut. 

Masih ingat kisah Rasulullah saw saat masih kecil, ketika menggembala kambing di Bani Saad? Mengapa kambing yang Rasulullah saw gembalakan pulang dengan kenyang? Padahal para pengembala juga mengikuti tempat pengembalaan Rasulullah saw?

Mengapa susu yang keluar dari kambing yang digembalakan Rasulullah saw menghasilkan susu yang berlimpah dibandingkan kambing para pengembala lainnya? Padahal tempat pengembalaannya sama?

Dalam kisah lain, sekelompok kijang mendekati Nabi Adam. Nabi Adam mendoakan dan mengusap punggung sang kijang. Aroma misik pun keluar dari punggung mereka. Binatang yang lain pun, ingin seperti kijang. Mereka menemui Nabi Adam, Nabi Adam pun mendoakan dan mengusap punggung mereka. Namun tidak mengeluarkan aroma misik.

Mereka menemui kijang, lalu berkata, "Kami telah melakukan apa yang kalian lakukan, tetapi kami tidak mendapatkan apa yang kalian dapatkan?" Sang kijang berkata, "Kami mengunjungi beliau karena Allah, sedangkan kalian mengunjunginya demi aroma misik."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar  Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia m...

Delimanya Manis dan Segar Karena  Niatnya Benar 


Suatu hari seorang gubernur bernama Syarwan pergi berburu. Di perjalanan, dia merasa haus, lalu dia melihat kebun yang ditunggui seorang anak.

Dia meminta air, tapi anak itu berkata, "Kami tidak punya air." Dia berkata, "Tolong berikan saya buah delima." Anak itu memberinya dan dia langsung memakannya.

Gubernur merasa buah delima itu sangat lezat, sehingga terbetik niat di hatinya untuk mengambil kebun itu. Dia meminta buah delima lagi, tapi rasanya kecut.

Dia bertanya, "Bukankah buah ini dari pohon tadi?" Anak itu menjawab, "Ya." Sang gubernur bertanya lagi, "Lalu kenapa rasanya berubah?"

Anak itu berkata, "Barangkali karena niat paduka telah berubah." Gubernur mengurungkan niatnya untuk mengambil kebun tersebut, lalu berkata, "Berikan satu lagi untukku." Ternyata, rasanya lebih lezat dibandingkan yang pertama.

Gubernur bertanya, "Kenapa rasanya berubah lagi?" Anak itu menjawab, "Karena niat paduka telah berubah lagi." Manis dan kecutnya buah delima tergantung dari niat-niat sang gubernur.

Alam merespon setiap niat. Niat yang baik, Alam pun akan memberikan kebaikan. Niat yang jahat, Alam pun akan memberikan yang buruk. Memperbaiki alam semesta dengan memperbaiki niat-niat yang terbesit di dalam dada manusia.

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publishers

Selalu di Benteng Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Tak bisa terpisah dengan penyakit hati. Tak bisa menanggalkan akhlak yang buruk. T...

Selalu di Benteng

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Tak bisa terpisah dengan penyakit hati. Tak bisa menanggalkan akhlak yang buruk. Terlena dengan hawa nafsunya. Tergoda dengan tipuan bisikan syetan. Manusia memang lemah tak berdaya.

Tak bisa berlepas diri dari fitnah dunia. Mata selalu jelalatan. Telinga tak bisa menyeleksi. Lidah selalu tak terkendali. Waktu banyak yang tersia-siakan. Perbuatan banyak yang tak berguna. Kaki sering salah langkah. Tangan tak terhitung mengambil yang bukan haknya. Manusia memang selalu menzalimi dirinya sendiri.

Apa yang bisa dilakukan? Kuatkah manusia menghadapi semuanya? Bisakah dengan ilmu dan akalnya melawannya? Dalam makan dan minum ada godaan. Dalam tidur dan pandangan pun ada fitnah. Dalam diam pun ada keterlenaan. Bisakah manusia selamat mengarungi kehidupan ini?

Hanya pertolongan Allah yang bisa menyelamatkan. Rahmat Allah yang bisa melindungi. Hanya Sunnah Rasulullah saw yang bisa membimbing dalam meniti kehidupan ini.

Masuklah dalam benteng perlindungan Allah. Maka, jiwa yang paling lemah dan rapuh akan terselamatkan. Jiwa yang paling kotor akan dibersihkan. Semudah itu mengarungi gelombang kehidupan.

Benteng perlindungan itu bernama puasa. Cukup menahan makan dan minum dalam rentang waktu tertentu, maka manusia telah memasuki benteng yang kokoh. Aman dan tentram bila sudah memasuki benteng ini.

Seorang prajurit bila sudah memasuki benteng berarti jiwanya terselamatkan. Musuh tidak berani memasukinya. Suasananya seperti seorang bayi dalam dekapan sang ibu. Teruslah berpuasa walaupun Ramadhan telah berlalu, agar selalu dalam benteng yang kokoh.

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya  Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pe...

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya 


Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pergi dengan maksud menagihnya. Di tengah jalan, sandalnya menginjak kotoran dan ia mengibaskannya.

Kotoran itu terpental dan menempel di tembok orang Majusi tersebut. Abu Hanifah bingung dan bergumam, "Jika aku gosok, aku akan merusak cat temboknya."

Akhirnya ia mengetuk pintu rumah Majusi tersebut, bukan untuk membicarakan penagihan hutang terlebih dahulu, tetapi bagaimana cara membersihkan tembok orang Majusi karena terkena kotoran yang tidak disengajanya.

Bagi Abu Hanifah menempelnya  kotoran di tembok milik sang Majusi secara tak sengaja merupakan bagian dari kezaliman yang akan dibalas di akhirat. Oleh karena itu dia berusaha keras mendapatkan kerelaan dari sang Majusi.

Saat Abu Hanifah mengetuk pintu sang Majusi, disangka hendak menagih hutangnya, maka sang Majusi berkata, "Beri aku waktu, wahai Imam." Abu Hanifah justru berkata, "Tembokmu terkena najis karena aku, jadi berikan jalan keluar kepadaku."

Sang Majusi terperanjat dengan pertanyaan Abu Hanifah, karena dia mendahulukan bagaimana cara menghilangkan kotoran di tembok rumahnya dibandingkan menagih hutangnya.

Orang Majusi itu bertanya kembali, "Wahai Abu Hanifah, apakah engkau ingin membersihkan tembokku?" Abu Hanifah menjawab, "Ya Benar." Sang Majusi tergopoh-gopoh membuka pintu rumahnya. Seketika itu pula sang Majusi langsung mengucapkan syahadat.

Sumber: 
Abdurrahman Asy-Stafii, Amalul Kubra, Sahara Publisher

Profesi Buzzer Dunia Maya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Rasulullah saw bersabda, "Ketika aku diangkat ke langit (Mi'raj), ...

Profesi Buzzer Dunia Maya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Rasulullah saw bersabda, "Ketika aku diangkat ke langit (Mi'raj), aku melewati kaum yang memiliki kuku dari tembaga. Dengan kuku itu mereka saling melukai muka-muka serta dada-dada mereka." Maka aku bertanya, "Siapakah mereka wahai Jibril?" Dia menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang memakan daging saudaranya (gibah) dan mencela kehormatan mereka." (HR Abu Dawud)

Aisyah berkata tentang Shafiyah kepada Rasulullah saw bahwa Shafiyah orangnya begini dan begitu. Maka Rasulullah saw bersabda, "Engkau telah mengucapkan sesuatu, andaikan dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya." Aisyah berkata, "Dan aku telah menceritakan (menirukan gerakan) seseorang kepada beliau."

Maka beliau bersabda, "Aku tidak suka menceritakan tentang seseorang, meskipun saya akan mendapatkan upah sekian dan sekian banyaknya. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Mendapatkan upah untuk mengungkapkan yang menghancurkan harga diri telah disabdakan Rasulullah saw ternyata sangat nyata di era sekarang. Padahal sabdanya ribuan tahun yang lalu.

Di era sekarang telah muncul profesi baru yang menggiurkan. Imbalannya menjadi menteri, komisaris perusahaan negara, duta besar, jabatan strategis pemerintah lainnya, dibebaskan kasus hukuman hingga bayarannya mencapai milyaran. Bukankah sangat menggiurkan? Namun Rasulullah saw memerintahkan untuk menolak profesi ini.

Profesi berupa menggunakan kuku-kukunya yang tajam untuk merusak kehormatan diri seseorang. Menghancurkan harga diri seseorang sehingga membuat dada-dada terasa sesak. Profesi ini sangat subur di tahun politik, seperti Pemilu, Pilpres, Pilkada dan ragam momentum lainnya.

Profesi ini juga bisa berupa melaporkan ke penegakan hukum padahal materi yang dilaporkan tidak layak untuk dibawa ke ranah hukum. Atau mengungkapkan yang sifatnya bukan persoalan publik. Semuanya demi menghancurkan dan menjatuhkan kehormatan dan harga diri.

Sekarang, profesi ini telah lahir menjadi bisnis tersendiri yang menggiurkan, padahal menciptakan kesimpangsiuran, perselisihan, keributan dan pertentangan yang bisa mengarah konflik horisontal. Kehormatan diri seseorang adalah haram mengapa menjadi "rujakan" harian?

Haramnya Harta Milik Muslim Mendorong Kemakmuran Optimal Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Yang dimiliki oleh seorang muslim adalah ha...

Haramnya Harta Milik Muslim Mendorong Kemakmuran Optimal

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Yang dimiliki oleh seorang muslim adalah haram bagi muslim yang lain. Harta yang dimiliki seorang muslim adalah haram bagi muslim yang lainnya, kecuali dengan mekanisme berdagang dan bersedekah atau bentuk kerelaan lainnya.

Pengharaman ini menjadi bentuk penjagaan hak kepemilikan. Membangun beragam transaksi peralihan kepemilikan yang bermartabat dan saling ridha. Juga membangun rasa merelakan untuk melindungi muslim dari api neraka bila ada transaksi yang dianggap masih mengganjal di hati.

Bila harta milik satu muslim adalah haram, bagaimana dengan kekayaan bersama yang dimiliki muslimin? Anggaran negara adalah kekayaan milik bersama. Sumber daya alam adalah kekayaan bersama. Harta milik negara adalah kekayaan bersama. Menyakiti satu muslim dengan mengambil hartanya adalah haram, maka bila yang dirampok adalah kekayaan bersama milik rakyat, tentu dilaknat.

Haram, bukan bentuk pengekangan, tetapi  sistem perlindungan. Larangan, bukan membatasi kebebasan, tetapi bentuk membangun tanggungjawab bersama dalam  mencegah segala yang merusak. Dengan sistem haram muncul ketententram dalam berusaha untuk meraih yang paling optimal. Karena apa yang diraih akan dijaga kepemilikannya secara bersama.

Hukum haram akan harta milik muslim mendorong kegairahan berbisnis dan aktivitas  ekonomi lainnya. Mendorong kegairahan  investasi karena setiap orang menjaganya seperti menjaga hartanya sendiri. Rasa aman dan nyaman dalam aktivitas ekonomi dan investasi mendorong kemakmuran yang optimal.

Bila haramnya harta milik muslim diaplikasikan bersama, tak perlu banyak undang-undang keamanan investasi. Tak perlu banyak undang-undang keamanan aktivitas bisnis dan ekonomi. Tak perlu banyak undang-undang berkaitan dengan perdata dan pidana. Konsep perundangan menjadi sangat sederhana.

Bukankah perundangan yang ruwet menjadi menarik atau tidaknya masuknya investasi? Hanya dengan satu dasar bahwa harta milik orang lain adalah haram, sudah bisa menggerakkan perekonomian sebuah masyarakat. Itulah kesederhanaan Islam.

Bayi, Filosofi Buah Penempaan Puasa Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kembali kepada fitrah itu seperti bayi yang baru dilahirkan. Itu...

Bayi, Filosofi Buah Penempaan Puasa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kembali kepada fitrah itu seperti bayi yang baru dilahirkan. Itulah buah puasa. Bayi itu menentramkan dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Muncul kasih sayang bagi yang memandangnya. Sudah seperti itukah kita berinteraksi dan bermasyarakat? Hadir untuk menentramkan, menyejukkan dan menebar kasih sayang.

Bayi itu pasrah dan ridha kepada ibunya. Apapun yang diperbuat ibunya pasti yang terbaik. Sudah sepasrah dan seridha itukah kita kepada Allah? Masihkah ada kekhawatiran akan takdir-Nya? Masihkah merasa ada yang lebih baik dari kehendak-Nya?

Tanda ridha adalah taat kepada Allah. Semua syariat-Nya terbaik bagi manusia. Semua perintah-Nya tak ada yang menandingi kebaikan-Nya. Tak ada pilihan yang terbaik kecuali pilihan-Nya. Sang bayi tak pernah menolah yang diberikan sang ibu. Apakahnkita masih ada penolakan terhadap syariat-Nya?

Sang bayi di tengah malam justru sering terbangun. Sang bayi sering terjaga dari tidurnya untuk berinteraksi dengan sang ibu. Malam menjadi seperti siang. Sudahkah kita menjaga malam untuk berkhalwat bersama Allah? Berbincang berdua bersama Allah, saat yang lain masih mendengkur.

Sang bayi tak pernah putus asa.  Tak pernah kenal lelah untuk bangkit dan belajar. Energi belajarnya sangat luar biasa. Saat yang dewasa kelelahan, sang bayi sang energik melakukan hal yang baru.

Bagaimana karakter pembelajar kita? Kalahkan dengan kemalasan belajar? Bagaimana daya juang menghadapi pernak pernik kehidupan? Putusasakah dengan persoalan? Bayi yang lemah tetapi memiliki energi tinggi, namun mengapa yang dewasa mudah lunglai?

Puasa, walaupun tubuh lemah karena tidak makan dan minum, namun harus menyelesaikan tujuan akhir hingga waktu berbuka puasa. Itulah latihan ketegaran dan kedisiplinan jiwa yang berpuasa. Itulah tanda mereka yang kembali pada fitrahnya. Era bayi sudah dilalui, dengan puasa mengulangi era keemasan itu. 

Memperbaiki Keadaan Dengan Menanam Benih Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menurut Dr Yusuf Al-Qardawi, dakwah itu seperti menanam ben...

Memperbaiki Keadaan Dengan Menanam Benih

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menurut Dr Yusuf Al-Qardawi, dakwah itu seperti menanam benih. Buah itu berasal dari Allah. Apabila benih sudah ditanam, tetapi tidak berbuah, apakah merugi? Apabila risalah telah disampaikan dengan kesungguhan, tetapi tidak direspon positif, maka apa dosaku?

Yakinlah dengan benih yang jumlahnya walau hanya satu. Seperti keyakinan Nabi Ibrahim pada putranya Ismail di padang pasir yang gersang. Walaupun ribuan tahun tak hadir juga sosok pelanjut, namun akhirnya benih baru tumbuh menjadi pohon yang menaungi langit dan bumi. Yaitu, Penghulu para Nabi dan Rasul.

Di tengah kukungan kezaliman Romawi, Nabi Zakaria terus merawat Siti Maryam. Dari Siti Maryam lahirlah Nabi Isa. Setelah itu, lahirlah Hawariyun yang menyebarkan ajaran Nabi Isa. Tetaplah merawat benih seperti keyakinan Nabi Zakaria pada Siti Maryam.

Menanam benih dakwah seperti menanam pohon. Walaupun awalnya hanya satu pohon, kelak pohon itu akan membesar dan bercabang banyak. Dari cabang ini akan berbuah. Buahnya  menyebar luas tak terkira. Andai pun tak berbuah, akan banyak kehidupan yang tercipta dari yang asalnya hanya benih.

Di tengah carut marut kehidupan, fokuskan pada dakwah. Sebab hanya dakwah yang bisa memperbaiki tanah dan iklim yang rusak. Saat kekayaan alam dikuras habis. Saat yang serakah dan tamak menguras isi bumi, maka yang bisa memperbaiki hanya tanaman. Tanamlah benih, sambil menanti rahmat Allah berupa hujan.

Bila biji-bijian masih ada. Bila benih tanaman masih ada, tak perlu khawatir dengan kerusakan tanah, lingkungan dan iklim yang carut marut. Karena bisa dikembalikan hanya dengan menanam benih.

Merubah huru-hara dan carut kehidupan menjadi sejuk kembali hanya dengan menanam benih. Memperbaiki kehidupan hanya dengan berdakwah agar kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Tak perlu khawatir dengan semua kekacauan yang ada. Solusinya hanya menanam benih dakwah.

Menata Kebun dalam Al-Qur'an  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menata kembali kebun, setelah beberapa pohon pisang tumbang diterj...

Menata Kebun dalam Al-Qur'an 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menata kembali kebun, setelah beberapa pohon pisang tumbang diterjang angin. Karena  ditanamnya sebagian besar di pinggir tebingan tanah terasering. Pohon pisang yang ada masih difokuskan untuk pembibitan di lahan yang baru. Masih butuh ribuan bibit pisang.

Rencana penataan kembali kebun, di setiap kotak tanah terasering, di tengahnya pohon Alpukat atau Petai. Di apit dengan pohon Pisang. Di antar pohon Pisang ditanam Talas Kimpul. Di sisi tepian tebing, ditanam Nanas. Di bawah alpukat akan ditanam cabai rawit hijau. Kelak bila Alpukat dan Petai sudah tinggi akan dijalari pohon lada.

Pemupukan dari batang pohon pisang, sekam padi, sabuk kelapa, dedaunan dan gulma yang hidup di kebun. Pupuk organik untuk memberikan kehidupan pada hewan tanah agar mereka nyaman dan kerasan hidup di kebun.

Alam selalu memberikan tanda-tanda. Saat banyak pohon pisang yang roboh diterjang angin, bisa jadi ada makhluk lain yang membutuhkan makanan dari kedebong pisang.  Permintaan pisang sedang menurun. Pohon Alpukat di sekitarnya membutuhkan sinar Matahari yang lebih banyak. Penataan kebun yang belum benar.

Mengganti pohon Pisang yang berada di tepian tebing terasering dengan Nanas. Tujuannya, agar terasering dibawahnya mendapatkan sinar Matahari yang cukup karena pohon Nanas tidak tinggi. Akar Nanas yang serabut dengan penyebaran maksimal 50 cm cukup membantu agar tanah tidak berguguran.

Pohon Nanas sangat mudah pemeliharaan seperti Pisang dan Talas Kimpul. Walapun panennya setahun sekali. Namun tunas-tunas barunya akan menyebar seperti pohon pisang.  Ini yang kelak akan meningkatkan produktivitas hasil.

Pohon Nanas sangat banyak variasinya. Kelak di kebun akan banyak variasi Alpukat, Pisang dan Nanas. Setiap variasi dari tanaman yang sejenis akan memiliki pasarnya sendiri. Kebun harus ditata, seperti dalam Al-Qur'an dimana letak pohon kurma dipinggiran sedang pohon Anggur berada di dalamnya.

Menggapai "Lailatur Qadr" di Hutan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Ramadhan mencoba menaiki perbukitan di kawasan gunung H...

Menggapai "Lailatur Qadr" di Hutan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Ramadhan mencoba menaiki perbukitan di kawasan gunung Halimun. Terpaan angin pegunungan seolah-olah mendinginkan panasnya cahaya matahari. Angin yang menerpa pepohonan seperti musik okestra. Suara burung seperti penyanyi yang diiringi musik okestra.

Lebah dan kupu-kupu hinggap dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Lebah kecil masuk ke dalam rongga pintu bunga yang dihinggapinya. Semut beriringan di atas tanah dan dahan tumbuhan. Kehidupan di hutan sangat tentram, berbeda namun bekerjasama. Tidak seperti manusia yang selalu ribut dan berselisih karena kepentingan.

Menyusuri jalan setapak sambil membawa tongkat di hutan. Naik dan turun jalan yang licin karena setiap hari hujan. Hujan semalaman menciptakan aliran air yang jernih dan sejuk melewati selokan untuk mengairi persawahan yang ada di lembah.

Di perkotaan, berlomba bekerja di gedung pencakar langit. Namun di sekitar hutan gunung Halimun, penduduknya hilir mudik, keluar masuk hutan, mengolah yang ada di hutan. Naik turun gunung. Siangnya mereka pulang membawa hasil dari hutan. Sumber air minum pun berasal dari hutan.

Berikhitiar meraih "lailatur qadr" di hutan. Lisan tak dibasahi dengan Al-Qur'an dan dzikir. Namun mata, telinga dan panca indra menyaksikan keagungan Allah yang membuat hati terguncang hebat. Menyaksikan firman Allah yang ada di hutan dan suasana hutan.

Setengah hari berkeliling di hutan, mencoba rebahan di bawah pohon. Mata menatap ke langit dan pepohonan di atasnya. Menyaksikan awan berarak dan angin menghempaskan dedaunan dan ranting. Dari tanah yang menjadi tempat rebahan, seluruh kehidupan dimulai.

Karena sangat takjubnya pada tanah, diambil segenggam tanah lalu menciumnya. Merasakan aroma, kelembaban, kelembutan dan tekstur tanah. Allah Maha Mengetahui dan Berilmu, mengapa makhluk dari cahaya dan api harus bersujud pada makhluk yang berasal dari tanah? Tanah memang luar biasa.

Berkebun Sarana Memahami Rahmat-Nya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Berkebunlah itulah salah satu cara memahami tak terhingganya rah...

Berkebun Sarana Memahami Rahmat-Nya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Berkebunlah itulah salah satu cara memahami tak terhingganya rahmat Allah. Kasih sayang Allah amat terasa. Berkebun menjadi sarana menyelami rahmat Allah dan aliran rahmat-Nya yang sebelumnya bisa dianggap bukan kenikmatan.

Terik panasnya matahari adalah rahmat-Nya. Panas matahari yang membakar adalah rahmat-Nya. Teriknya matahari yang membuat tanaman bisa mengolah makanan menjadi daun, batang, dan buah. Dedaunan yang berguguran menjadi kering agar cepat diolah menjadi pupuk. Mengapa di perkotaan justru  khawatir dengan panasnya matahari?

Banyak yang khawatir dengan air hujan karena jadi penyebab sakit. Padahal manfaat air hujan tidak terhingga dibandingkan dengan ketakutan manusia. Air tanah melimpah karena  air hujan. Kesejukan karena air hujan. Tumbuhan bisa hidup, menghijau  dan berbuah karena air hujan. Kehidupan di bumi tergantung air hujan. Mengapa hujan diiklankan sebagai sumber sakit?

Andai tidak ada tanah, dimana manusia tinggal? Apakah nikmat bila tinggal di lautan dan udara? Tinggal di tanah yang labil saja mensku, bukan? Selalu terhempas dan tak aman? Seluruhnya hidup di atas tanah. Seluruhnya menghujam di atas tanah.

Akhirnya, perpaduan dari langit dan bumi serta apa yang ada di keduanya ada iklim yang membuat manusia bisa hidup nyaman dan tentram. Juga, agar manusia bisa makan, minum dan memenuhi seluruh kebutuhan dan keinginannya.

Semua yang berada di alam semesta bermuara pada manusia. Melayani dan bertitik sentral pada manusia. Mengapa manusia justru menghancurkan dan merusak alam semesta hanya karena kekayaan? Mengapa manusia justru khawatir dengan "gonjang ganjing" alam semesta?

Di era Nabi Yusuf, kering kerontang yang disebabkan kemarau selama 7 tahun, ditutup dengan kemakmuran. Rakyat Mesir jadi bisa menikmati perasan anggur yang menyegarkan. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan perputaran iklim. Fokusnya, lakukan amal kebaikan di setiap musimnya.

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam men...

Kegagalan Ilmu dan Teknologi dalam Penyelesaian Masalah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kegagalan para pemikir dan ilmuwan dalam menyelesaikan persoalan. Tak selamanya ilmu dan pengalaman bisa memecahkan persoalan. Raja Mesir di era Nabi Yusuf meminta pemecahan persoalan kepada para pemikir dan pembesar kerajaan tentang mimpinya, namun tak seorang pun yang tahu.

Para ahli Nujum tahu makna mimpi Firaun, namun tidak tahu apa sikap yang harus diambil dari mimpi tersebut. Tidak seperti Nabi Yusuf yang tahu makna mimpi tetapi juga paham bagaimana merealisasikan ke dunia nyata sehingga menjadi sebuah solusi bukan kezaliman yang didiamkan seperti prilaku para ahli nujum kepada Firaun.

Firaun memanggil seluruh ahli sihir untuk menghadapi kekuatan Nabi Musa. Firaun memanggil seluruh ilmuwan untuk memecahkan persoalan wabah yang menyerbu Mesir, namun  tak ada yang bisa memecahkan persoalan tersebut. Bukankah saat itu Mesir penggengam peradaban dunia?

Para pembesar kaum menyelesaikan persoalan kaum nya dengan kekayaan, kekuasaan dan banyaknya pengikut, namun tak bisa menyelesaikan persoalannya. Hanya melalui para Nabi dan Rasul persoalan bisa dipecahkan.

Kaum Aad menyelesaikan persoalannya dengan teknologi tinggi. Membuat bangunan di gunung berbatu yang tinggi agar tehindar dari bencana. Namun apa yang terjadi? Teknologi tak bisa menyelamatkan dari bencana.

Kekayaan, kekuasaan, banyaknya pengikut, ilmu dan teknologi memang bisa menyelesaikan persoalan, namun tak semua persoalan bisa tuntas diselesaikannya. Ruang lingkupnya sangat terbatas dibandingkan dengan kompleksitas persoalan manusia.

Semua urusan kembali kepada Allah. Sistem kehidupan di alam semesta hanya Allah yang mengetahui-Nya. Jadi cara termudah menyelesaikan persoalan adalah dengan mengikuti bimbingan Allah. Itu cara yang mudah dan efektif. Kelak, Allah akan menunjukkan sarana-saran penyelesaiannya.

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dim...

Hadirnya Sosok Nabi Yusuf di Istana Mesir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Di era Nabi Yusuf, sang raja bermimpi tujuh sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Apa maknanya? Allah yang rahman dan rahim mengilhamkan beragam kejadian yang akan terjadi kepada para pemimpin, sebab di pundaknyalah urusan manusia berada.

Pemimpin yang adil dan yang menegakkan kebenaran senantiasa akan ditolong dalam menghadapi persoalannya. Liku-liku hidup Nabi Yusuf hingga sampai di Mesir dari Palestina merupakan "Tangan" Allah untuk memecahkan persoalan raja Mesir. Allah menghadirkan Nabi Yusuf ke istananya tanpa rekayasanya.

Solusi itu telah dipersiapkan Allah sebelum datangnya persoalan. Seperti Allah menghadirkan era kemakmuran selama 7 tahun sebelum datangnya era krisis yang menghancurkan sehingga hanya bisa menyimpan bibit untuk era berikutnya.

Seperti Allah yang telah menghadirkan Nabi Yusuf ke Istana sebelum krisis itu terjadi. Nabi Yusuf pun baru diketahui kemukjizatannya setelah sang raja menghadapi persoalan. Sebelumnya, Nabi Yusuf "disembunyikan" Allah di balik jeruji penjara. Bisakah diduga, yang mendatangkan solusi justru dari kegelapan penjara?

Solusi tidak hadir dari para pemikir, pembesar, penasihat dan ilmuwan kerajaan yang telah bergulat dengan asam garam persoalan negara dan rakyat. Tetapi dari sosok baru yang lahir dari penempaan dan bimbingan Allah. Ternyata  pengalaman bukan jaminan hadirnya solusi.

Solusi hadir dari kerendahan hati. Raja mengakui tak paham akan makna mimpinya. Para pemikir dan penasihat kerajaan mengakui tak tahu tafsir mimpi sang raja. Akhirnya ada pembantu raja yang menceritakan pengalaman di penjara saat bertemu dengan Nabi Yusuf.

Yang bisa memberikan solusi adalah mereka yang berkarakter terpercaya. Yang menjaga amanah dan bertanggungjawab. Karakter itu disebutkan oleh pembantu raja yang pernah dipenjara dan wanita yang pernah menggoda Nabi Yusuf. Sosok pemecah masalah ada di Nabi Yusuf.

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pe...

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pertempuran terhadap semua ujian dan godaan hidup. Hidup adalah pergumulan dengan fitnah-fitnah kehidupan. Bagaimana menangkis yang paling mudah? Bagaimana cara berlindung dalam kelemahan sebagai manusia?  Bangunlah benteng. Buatlah perisai.

Musuh menyerang dengan senjata tercanggih dan strategi yang tak terpikirkan. Dengan tipu muslihat dan kamuflase. Jangan pernah keluar dari benteng. Jangan pernah melepaskan perisai. Sekali keluar, akan mudah dihancurkan.

Khalid bin Walid mengepung kota Damaskus. Berbulan-bulan tak bisa ditundukkan. Bagaimana cara mengalahkannya? Menggoda agar pasukan lawan keluar dari benteng. 800 tahun kaum Muslimin berusaha menaklukkan Konstantinopel namun selalu gagal. Bagaimana akhirnya bisa ditaklukkan? Ada prajurit Binzantium yang lupa menutup pintu  benteng. Akhirnya kaum Muslimin berhasil menerobos masuk.

Manusia itu lemah. Agar terlindungi dari semua ancaman, bangunlah benteng. Manusia itu bodoh terhadap kelicikan syahwat dan bisikan syetan. Agar terlindungi dari kelicikannya, bangunlah benteng. Jangan sekali-kali keluar dari benteng tersebut.

Bagaimana menghadapi serbuan 10.000 gabungan pasukan Musyrikin Quraisy, kabilah Arab, Munafikin dan Yahudi di Madinah? Rasulullah saw memanfaatkan bukit-bukit bebatuan yang terjal dan menggali parit. Setelah itu memporakporandakan lawan dengan cara sederhana.  Ali bin  Abi Thalib mengalahkan Yahudi di Khaibar dengan membobol pintu benteng dengan tangannya sendiri.

Seekor semut, rayap dan cacing  menjadi sulit dijadikan mangsa saat berlindung di benteng yang di bawah tanah. Seluruh kecanggihan teknologi negara adi daya tak berguna ketika perlawanan rakyat Palestina berlindung di terowongan Gaza. Yang lemah, menjadi kuat saat berlindung di balik benteng.

Benteng bukan sekedar untuk berlindung, tetapi juga menguras habis energi lawan. Benteng bukan sekedar untuk bertahan tetapi agar fokus menyerang. Bukankah setiap serangan diawali dari perlindungan pasukan dan infrastrukturnya? Saat terlindungi dari hawa nafsu dan syetan, manusia bisa mengupgrade  kuantitas dan kualitas ketaatan kepada Allah l. 

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (208) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (223) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (266) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (30) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (188) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (430) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (155) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (195) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)