basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Sirah Tabiin

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Sirah Tabiin. Tampilkan semua postingan

Pertobatan Abdullah Bin Al-Mubarak Hidayatullah.com | ABU ABDURRAHMAN Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada ...


Pertobatan Abdullah Bin Al-Mubarak

Hidayatullah.com | ABU ABDURRAHMAN Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi lahir pada tahun 118 H/736 M. Ayahnya seorang Turki dan ibunya seorang Persia.

Ia adalah seorang ahli hadits yang terkemuka dan seorang zahid termasyhur. Abdullah bin Mubarak telah belajar di bawah bimbingan beberapa orang guru, baik yang berada di Merv maupun di tempat-tempat lainnya, dan ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam gramatika dan kesusastraan.

Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi Sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.

Banyak karya-karyanya mengenai Hadits, salah satu di antaranya dengan tema “Zuhud masih dapat kita jumpai hingga waktu sekarang ini.”

Pertaubatan Abdullah bin Mubarak

Abdullah bin Mubarak sedemikian tergila-gila kepada seorang gadis dan membuat ia terus-menerus dalam kegundahan. Suatu malam di musim dingin ia berdiri di bawah jendela kamar kekasihnya sampai pagi hari hanya karena ingin melihat kekasihnya itu walau untuk sekilas saja. Salju turun sepanjang malam itu.

Ketika adzan Subuh terdengar, ia masih mengira bahwa itu adalah adzan untuk shalat ‘Isya. Sewaktu fajar menyingsing, barulah ia sadar betapa ia sedemikian terlena dalam merindukan kekasihnya itu.

“Wahai putera Mubarak yang tak tahu malu!”. Katanya kepada dirinya sendiri. “Di malam yang indah seperti ini engkau dapat tegak terpaku sampai pagi hari karena hasrat pribadimu. tetapi apabila seorang imam shalat membaca surah yang panjang engkau menjadi sangat gelisah.”

Sejak saat itu hatinya sangat gundah. Kemudian ia bertaubat dan menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah. Sedemikian sempurna kebaktiannya kepada Allah sehingga pada suatu hari ketika ibunya memasuki taman, ia lihat anaknya tertidur di bawah rumpun mawar sementara seekor ular dengan bunga narkisus di mulutnya mengusir lalat yang hendak mengusiknya.


Setelah bertaubat itu Abdullah bin Mubarak meninggalkan kota Merv untuk beberapa lama menetap di Baghdad. Di kota inilah ia bergaul dengan tokoh-tokoh ulama.

Dari Baghdad ia pergi ke Makkah kemudian ke Merv. Penduduk Merv menyambut kedatangannya dengan hangat.

Mereka kemudian mengorganisir kelas-kelas dan kelompok-kelompok studi. Pada masa itu sebagian penduduk beraliran Sunnah sedang sebagiannya lagi beraliran fiqh.


Itulah sebabnya mengapa Abdullah disebut sebagai toko yang dapat diterima oleh kedua aliran itu. Ia mempunyai hubungan baik dengan kedua aliran tersebut dan masing-masing aliran itu mengakuinya sebagai anggota sendiri.

Di kota Merv, Abdullah mendirikan dua buah sekolah tinggi, yang satu untuk golongan Sunnah dan satu lagi untuk golongan fiqh. Kemudian ia berangkat ke Hijaz dan untuk kedua kalinya menetap di Makkah.


Di kota ini ia mengisi tahun-tahun kehidupannya secara berselang-selang. Tahun pertama ia menunaikan ibadah haji dan pada tahun kedua ia pergi berperang, tahun ketiga ia berdagang.

Keuntungan dari perdagangannya itu dibagikannya kepada para pengikutnya. la biasa membagi-bagikan kurma kepada orang-orang miskin kemudian menghitung biji buah kurma yang mereka makan, dan memberikan hadiah satu dirham untuk setiap biji kepada siapa di antara mereka yang paling banyak memakannya.


Abdullah sangat teliti dalam kesalehannya. Suatu ketika ia mampir di sebuah warung kemudian pergi shalat. Sementara itu kudanya yang berharga mahal menerobos ke dalam sebuah ladang gandum.

Kuda itu lalu ditinggalkannya dan meneruskan perjalanan-nya dengan berjalan kaki. Mengenai hal ini Abdullah berkata: “Kudaku itu telah mengganyang gandum-gandum yang ada pemiliknya.”


Pada peristiwa lain, Abdullah melakukan perjalanan dari Merv ke Damaskus untuk mengembalikan sebuah pena yang dipinjamnya dan lupa mengembalikannya.

Suatu hari Abdullah melalui suatu tempat. Orang-orang mengatakan kepada seorang buta yang ada di situ bahwa Abdullah sedang melewati tempat itu. “Mintalah kepadanya segala sesuatu yang engkau butuhkan!” “Abdullah berhentilah!”, orang buta itu berseru. Abdullah lalu berhenti. ” Doakanlah kepada Allah untuk mengembalikan penglihatanku ini!”, ia memohon kepada Abdullah. Abdullah menundukkan kepala lalu berdoa. Seketika itu juga orang buta itu dapat melihat kembali.

Bergelar al-Hafidz

Orang yang pertama menjadi gurunya adalah Ar-Rabi’ bin Anas al-Khurasani. Beliau juga belajar ilmu agama kepada banyak ulama dari kalangan Tabi’in seperti; Sulaiman at-Taimi, ‘Ashim al-Ahwal, Humaid ath-Thawil, Hisyam bin ‘Urwah, Al-Jariri, Isma’il bin Abi Khalid, Al-A’masy, Barid bin Abdullah bin Abi Burdah, Khalid al-Hadza’, Baqiyah bin al-Walid, dan masih banyak lagi.

Al-Abbas bin Mush’ab menyampaikan dari Ibrahim bin Ishaq al-Banani dari Ibnul Mubarak, beliau berkata, “Saya mendapatkan ilmu dari 4.000 syaikh dan meriwayatkan dari 1.000 syaikh.” Kemudian al-Abbas berkata, “Saya mengikuti mereka sehingga mendapatkan 800 syaikh.”

Ibnu al-Mubarak adalah seorang ulama yang digelari dengan al-Hafizh (penghafal al-Quran), Syaikhul Islam, Mujahid, Imam, Alim, dan pimpinan orang-orang yang bertakwa pada zamannya. Haditsnya adalah hujjah berdasarkan kesepakatan ulama dan terdapat di dalam kitab-kitab musnad dan ushul.

Beliau memiliki modal harta sebanyak 400.000 yang dipakainya berdagang dalam perjalanannya ke berbagai negeri. Dari perdagangan itu dia mendapat untung setiap tahunnya 100.000 lebih yang seluruhnya dia infakkan kepada ahli ilmu dan ahli ibadah, terkadang pula modalnya yang dia infakkan.*

Seribu Lilin Hasan Al Bashri  Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Suatu malam Hasan al Bashri menyalakan ...


Seribu Lilin Hasan Al Bashri 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Suatu malam Hasan al Bashri menyalakan lampu. Satu per satu lampu itu dinyalakan ternyata jumlahnya mencapai seribu.

Para sahabatnya memandang bahwa jumlah tersebut terlalu banyak untuk menerangi sebuah tempat. Akhirnya mereka meminta ijin untuk mematikan sejumlah lampu.

Imam Hasan al Bashri," Matikanlah lampu  yang dinyatakannya bukan niat karena Allah." Mereka pun mematikan lampu tersebut satu persatu. Bagaimana hasilnya ?  

Ternyata tak satu pun lampu yang bisa dimatikan. Karena imam Hasan al Bashri menyalakannya berniat karena Allah.

Andai lampu itu adalah karya, amal dan bisnis, maka kelanggengannya tergantung dari niat-niat yang dibangun. Bukankah Allah berjanji bahwa apa yang diraih tergantung dari niatnya?  Bukankah Allah berjanji bahwa manusia akan meraih yang diniatkan ? Bukankah Allah berjanji akan mengabulkan semua doa-doa ?

Kekuatan dan keikhlasan niat itulah pondasi dari keberhasilan karya, amal dan bisnis. Seperti kata Hisyam bin Abdul Malik, bahwa keberhasilan sepupunya yaitu Umar bin Abdul aziz, karena setiap langkah kecilnya terdapat niat-niat yang besar.

Andai kelesuan melanda. Andai kegagalan terus menempa. Cara pertama untuk menggairahkannya kembali dengan membangun kembali niat-niat yang kokoh dan ikhlas. Seperti lampunya Hasan al Bashri yang tak bisa dipadamkan.

Kisah, Kekuatan Public Speaking  Imam Al Jauzy Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati l) Majlis ilmu imam al ...

Kisah, Kekuatan Public Speaking  Imam Al Jauzy

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati l)


Majlis ilmu imam al Jauzy selalu dihadiri oleh puluh ribu jamaah. Bagaimana kiat sang Imam menggugah dan menginspirasi para jamaahnya ? 

Al Jauzy membuka salah satu rahasianya. Yaitu, ceramah dengan memaparkan beragam kisah. Menjadikan kisah menjadi magnet perhatian jamaah.

Mengapa berkisah itu sangat penting dalam ceramah ?  Malik bin Dinar berkata," Kisah adalah laksana hadiah dari Surga." Al Junaidi pun berkata," Kisah itu laksana tentara Allah, yang dengannya akan menguatkan tubuh para murid."

Ada juga yang berkata,"Perbanyaklah menceritakan kisah orang saleh, karena didalamnya terdapat berlian. Malah barangkali berlian langka yang sangat berharga."

Begitu efektifnya kisah bagi para penceramah, maka al Jauzy menulis kitab khusus bagi para penceramah yang berjudul Uyun al Hikayah min Qashash ash-shalihin wa nawarin az-zahidin.

Tidak itu saja, beliau pun menulis kitab Shifat Ash Shafwah yang memuat kisah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam.

Kesuksesan berkisah al-Jauzy ingin ditularkan dan disambungkan pada generasi sesudahnya. Mari menginventarisir kisah sebagai metode ceramah.

Sang Wali Allah, Menemukan Kembali Hatinya sebab Nakalnya Anak Kecil Ada seorang sahabat Dzun Nun Al Misri yang mengalami ganggu...

Sang Wali Allah, Menemukan Kembali Hatinya sebab Nakalnya Anak Kecil


Ada seorang sahabat Dzun Nun Al Misri yang mengalami gangguan ingatan. Dia selalu berjalan dan berkeliling sambil berkata, "Ah, di mana hatiku? Di mana hatiku? Siapa yang menemukan hatiku?"

Anak-anak kecil pun suka menganggunya dan melemparinya. Pada suatu hari, dia masuk ke dalam salah satu jalan gang di Mesir untuk menghindari gangguan anak-anak kecil. Lalu, dia berhenti untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba, dia mendengar tangisan anak kecil yang sedang dimarahi dan dipukuli ibunya. Lalu, si ibu membawa keluar anaknya dari rumahnya, lalu menutup pintu rumah dan membiarkannya di luar.

Si anak pun menengok ke kanan dan ke kiri. Dia bingung tidak tahu harus ke mana dan harus pergi menemui siapa. Setelah agak tenang, dia berjalan kembali ke pintu rumah ibunya, lalu menyandarkan kepalanya di ambang pintu dan tertidur.

Setelah beberapa saat tertidur, dia kembali terbangun dan menangis lagi sambil merengek.

 "Ibu, siapa yang akan membukakan pintu untuk ku jika engkau menutupnya dan tidak membolehkan saya masuk?"

"Ibu, siapa yang akan mendekatkan diriku kepadamu jika engkau mengusirku dan menjauhkan diriku darimu?

"Ibu, siapa lagi yang akan menyayangiku setelah engkau marah padaku?"

Mendengar rengekan anaknya, sang ibu merasa kasihan kepadanya. Lalu, dia beranjak untuk melihatnya dari celah pintu. Dia melihat anaknya sedang menangis tersedu dalam kondisi berbaring du tanah.

Lantas, sang ibu membuka pintu. Meraih anaknya, lalu meletakkan di pengakuannya, memeluknya dan menciumnya seraya berkata.

"Sayangku, engkau sendiri yang telah membuat ibu memarahimu. Engkau sendiri yang menyebabkan dirimu mengalami hal itu. Seandainya engkau patuh, niscaya tidak akan mengalami hal ini."

Menyaksikan kejadian tersebut, sahabat Dzun Nun Al Misri merasa bersedih, lalu berdiri dan menjerit, seraya berkata, "Saya telah menemukan hatiku, saya telah menemukan kembali hatiku."

Ketika bertemu dengan Dzun Nun Al Misri, dia berkata, "Wahai Abu Faidh, saya telah menemukan kembali hatiku di dekat rumah fulanah." Setiap kali bersedih, dia selalu mengulang perkataan tersebut.

Sumber:
Kisah Orang Shaleh Penuh Hikmah, Imam Ibnul Jauzy, Al-Kautsar 

Pesan Rasulullah saw Kepada Imam Ahmad melalui mimpi Imam Syafii Pada suatu malam imam Syafii bermimpi di Mesir mengenai diri sa...

Pesan Rasulullah saw Kepada Imam Ahmad melalui mimpi Imam Syafii


Pada suatu malam imam Syafii bermimpi di Mesir mengenai diri sahabat karibnya dan muridnya yang alim, imam Ahmad bin Hambal. Imam Syafii mendapat kesan dalam mimpinya bahwa imam Ahmad yang amat dihormatinya sedang terancam suatu bahaya besar. Besoknya dia berkirim surat ke imam Ahmad di Baghdad menyuruh dia bersiap sedia menerima ujian yang akan datang.

Memang, tidak berapa lama kemudian datanglah ujian yang terkenal itu. Dia dipaksa mengakui bahwa Al-Qur'an itu makhluk dan didekam dalam penjara selama 28 bulan karena tidak mau mengubah pendiriannya walaupun dipaksa dan dipukuli.

Prosesnya detailnya, pada suatu hari Imam Syafii berkata pada  Rabi bin Sulaiman, "Hai Rabi, ambil suratku ini dan bawalah dia dan serahkan ke tangan Abu Abdullah (Imam Ahmad) dan lekas kembali membawa jawabannya.

Maka berangkatlah Rabi bin Sulaiman ke Baghdad sambil membawa surat tersebut. Lalu bertemulah Rabi bin Sulaiman dengan imam Ahmad ketika shalat Subuh. Sesudah beliau memalingkan muka ke mihrab, Rabi bin Sulaiman langsung menyerahkan surat tersebut dengan berkata, "Surat ini dari saudara Tuan, imam Syafii yang di Mesir." Lalu imam Ahmad berkata, "Apakah pernah engkau buka?" Rabi bin Sulaiman menjawab, "Tidak."

Maka dibukalah surat tersebut dan membaca isinya. Tiba-tiba imam Ahmad menangis, iring gemiring air matanya. Lalu aku bertanya, "Apa isinya?" Imam Ahmad berkata, "Beliau menuliskan bahwa imam Syafii bermimpi bertemu Rasulullah saw." Rasulullah saw bersabda kepada imam Syafii untuk mengirimkan surat kepadaku supaya disampaikan salam Rasulullah saw kepadaku dan informasi bahwa aku akan menempuh ujian yang berat."

"Aku akan dipaksa untuk mengakui Al-Qur'an adalah makhluk. Paksaan ini supaya jangan diacuhkan, jangan dituruti. Allah akan mengibarkan benderaku sampai hari Kiamat."

Berkata Rabi, "Ini adalah satu berita gembira dari Allah, wahai imam Ahmad." Lalu imam Ahmad membuka selapis gamis yang beliau pakai dan dihadiahkan kepadaku. Setelah itu imam Ahmad menulis surat balasan ke Rabi bin Sulaiman untuk diserahkan ke imam Syafii.

Salah satu isi suratnya, imam Ahmad berterima kasih atas peringatan dari gurunya Imam Syafii. Setibanya di Mesir, surat itu diserahkan ke imam Syafii bersama gamisny. Sangat senang hati imam Syafii karena pesan Rasulullah saw sudah disampaikan.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Tak Semua Orang Dapat Berdoa? Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Setiap orang memiliki persoalan. Setiap...

Tak Semua Orang Dapat Berdoa?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Setiap orang memiliki persoalan. Setiap orang memiliki harapan dan keinginan.  Namun mengapa tidak semua orang dapat bermunajat kepada Allah? Mengapa setiap orang tak bisa berdoa kepada Allah? Apakah setiap rintihan dapat menggerakkan orang untuk berdoa? Apakah setiap kesulitan secara otomatis menggerakkan hati dan tangan untuk menengadahkan ke langit?

Doa itu tentang keyakinan. Doa itu tentang keimanan dan ketauhidan. Yang masih meyakini Allah akan memanjatkan doa. Yang masih mengesakan Allah, tidak akan mencari solusi lain kecuali memanjatkan doa. Doa itu cermin tentang diri. Doa itu gambaran masihkah ada benih keimanan di tengah kekerasan hati? Masihkah ada fitrah di tengah badai kemaksiatan dan dosa?

Berdoa itu anugerah dari Allah. Allah yang menggerakkan seseorang untuk berdoa. Allah yang mengilhamkan untuk berdoa. Maka bersyukurlah kepada Allah dengan berdoa Allah telah menunjukkan kepedulian yang besar kepada manusia. Bisa berdoa adalah nikmat dari Allah. Dapat berdoa adalah hidayah dari Allah. Tak semua orang ditunjukkan jalan ini. Berdoa adalah langkah awal mendapatkan solusi. Berdoa adalah kepastian datangnya solusi.

Dalam kitab Amalul Kubra, Imam Abdrurahman As-Syafii, mengutip hadist Rasulullah saw, "Orang yang dibukakan pintu doa baginya, berarti pintu-pintu kebaikan telah dibukakan untuknya." Sabdanya yang lain, "Orang yang dibukakan baginya pintu doa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat." Siapakah yang membuka pintu doa? Allah Yang Maha Pemberi rahmat.

Doa adalah contoh solusi dari para Nabi dan Rasul. Nabi Dzakaria tidak memiliki anak. Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar di tengah padang pasir yang tandus kering kerontang bersama si jabang bayi Ismail.  Rasulullah saw diburu dan  dilempari batu di Thaif. Tidak turun hujan. Saat mau menghadapi  pertempuran dengan lawan yang super tangguh. Para Nabi dan Rasul bersegera berdoa bukan mengandalkan akal dan kekuatannya terlebih dahulu dalam menghadapinya.

Mendahulukan ikhtiar berarti mengandalkan kelemahannya untuk menghadapi persoalannya. Mendahulukan akalnya berarti mengabaikan dan meninggalkan Allah dengan menyombongkan kekuatan dirinya. Mendahulukan prasarana dan sarana, berarti mengandalkan makhluk-Nya, adakah kekuatan selain Allah? Mendahulukan selain Allah dalam kehidupan pada dasarnya menghancurkan energi dan kebrilianan maha dahsyat yang telah Allah sediakan bagi manusia.

Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, "Tidaklah Allah berkenan bagi seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya, kecuali karena Allah telah berkenan untuk mengijabahnya." Disabda yang lain, "Doa adalah senjata kaum mukminin." Mengapa kita meninggalkan senjata terhebat yang telah Allah sediakan?

Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani https://m.republika.co.id/amp/q7lsrd320 Menanam. Satu kata tapi sangat...

Kisah Generasi Salaf yang Isi Hari-Harinya dengan Bertani

https://m.republika.co.id/amp/q7lsrd320

Menanam. Satu kata tapi sangat mendalam maknanya. Coba simaklah kisah berikut ini. Abu Darda usianya sudah sangat tua. Ia sahabat Rasulullah SAW.

Sehari-hari ia menghabiskan waktunya untuk bertani dan bercocok-tanam. Suatu hari lewat seseorang di depannya. Saat itu Darda sedang menanam pohon asam. Berkatalah orang itu, ''Mengapa kamu menanam pohon ini? Kamu kan sudah lanjut usia, padahal pohon itu akan berbuah dalam rentang waktu yang amat lama?'' Apa jawab Abu Darda? ''Saya hanya mengharap pahalanya, dan biarlah orang lain yang memakan buahnya.''

Bagi para sahabat Rasulullah SAW seperti Abu Darda, pahala tentu saja tidak dipahami hanya sekadar menjalankan ibadah ritual seperti sholat, puasa, dan sebagainya. Mereka memahami bahwa semua kebaikan adalah berpahala. Karena itu, siapa yang menanam kebaikan, ia akan menunai pahala. Dalam kaitan dengan Abu Darda, menanam kebaikan itu berarti menanam tanaman asam atau tanaman apa saja.

Dari tanaman bisa diambil buah dan daunnya. Dari tanaman manusia akan mendapatkan keteduhan. Dari tanaman akan tercipta hutan-hutan yang menghijau yang bisa berfungsi sebagai panadah air hujan agar tidak terjadi banjir dan longsor. 
Darda hanyalah seorang sahabat Rasulullah SAW. Lalu bagaimana dengan Sang Rasul sendiri? Kata beliau, ''Apabila seorang Muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, maka itu sudah termasuk sedekah.'' (HR Bukhari Muslim).

''Apabila seorang Muslim menanam, maka apa yang dimakan darinya merupakan sedekah, dan yang dicuri darinya juga sedekah. Apabila dimakan oleh binatang buas juga sedekah, apabila dimakan oleh burung juga sedekah, ataupun diambil oleh seseorang juga dinamakan sedekah.'' (HR Muslim).

Menanam juga berarti memelihara. Kata Sang Rasul lagi, ''Barangsiapa menanam pepohonan, dan menjaganya dengan sabar, serta merawatnya hingga berbuah, maka segala sesuatu yang menimpa terhadap buah-buahnya akan dianggap sedekah bagi Allah.'' (HR Ahmad).

Bukan hanya Abu Darda yang sangat terpengaruh pada arahan Rasulullah. Hampir semua sahabat juga demikian. Mereka bahkan juga memberi contoh dengan tangannya sendiri.

Simaklah perbincangan Khalifah Umar bin Khattab dengan ayahnya di suatu hari. ''Ayah, apa yang menghalangi kamu untuk menanami tanahmu?'' kata Umar. ''Saya orang tua yang bisa jadi akan mati esok,'' jawab ayahnya. ''Aku yakin kamu akan tertipu dengan umurmu,'' ujar Umar kemudian. Mereka, ayah dan anak, lalu menanam sendiri di tanah yang kosong itu dengan tangannya.

Bukan hanya di waktu lapang, di saat yang genting sekalipun, misalnya di waktu perang, para sahabat masih menaruh perhatian tentang pentingnya tanaman. Suatu hari, seperti ditulis dalam buku Islam Agama Ramah Lingkungan karya Dr Yusuf Al Qardhawy, ribuan tentara kaum muslimin di bawah komando Panglima Perang Yazid bin Abi Sufyan telah siap berangkat menuju medan perang. Mereka dikirim Khalifah Abu Bakar ke Syam untuk menyebarkan agama Islam. Ketika menginpeksi barisan, di depan tentara Abu Bakar berpesan kepada sang panglima perang.

''Wahai Yazid, ada sepuluh hal yang ingin aku pesankan kepadamu.  Pertama, janganlah engkau membunuh bayi. Kedua, janganlah engkau membunuh perempuan. Ketiga, janganlah engkau membunuh orang yang lanjut usia. Keempat, janganlah engkau menebang pohon yang berbuah. Kelima, janganlah engkau menghancurkan bangunan. Keenam, janganlah engkau menyembelih kambing atau unta kecuali untuk dimakan. Ketujuh, janganlah engkau merobohkan pohon kurma. Kedelapan, janganlah engkau membakar pohon kurma. Kesembilan, janganlah engkau berkhianat. Dan terakhir, janganlah engkau takut.''

Kebijaksanaan Dari Ilmu Fiqh Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Kiyai Abdullah Syafii pernah menegur sant...

Kebijaksanaan Dari Ilmu Fiqh

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Kiyai Abdullah Syafii pernah menegur santrinya yang tidak belajar dengan alasan lemas karena puasa sunah. Oleh sang Kiyai, puasanya disuruh dibatalkan agar bisa bisa belajar. Karena belajar itu wajib, sedang puasa itu sunah. Jangan menggugurkan yang wajib demi membela yang sunah. Inilah kepahaman atas ushul fiqh. Inilah kepahaman atas fiqh prioritas yang sering diabaikan.

Ali Bin Abi Thalib, melihat sebuah fenomena di masjid. Ada dua kumpulan manusia. Satu kumpulan yang sedang berzikir. Satu kumpulan yang sedang belajar. Lalu Imam Ali, memerintahkan yang sedang berzikir untuk berpindah ke kumpulan orang yang sedang belajar. Zikir itu ibadah sunah. Belajar itu wajib. Begitulah menahami prioritas dalam beramal.

Ulama mengklasifikasikan tingkatan amal. Mengklasifikasikan tingkatan kebaikan dan keburukan. Tingkatan kebaikan, fardhu kifayah, fardhu ain, sunah muakadah dan sunah. Mengapa kebaikan perlu dibedakan tingkatannya? Karena manusia tidak bisa melakukan kebaikan sekaligus. Dalam satu momentum, ada kebaikan yang harus dilakukan secara bersamaan. Dengan tingkatan kebaikan, kita lebih mudah menentukan apa yang didahulukan dan apa yang difokuskan.

Keburukan ada tingkatannya makruh dan haram. Haram yang membawa pada kemurtadan dan Haram yang hanya sebuah kemaksiatan dengan dosa besar. Inilah tingkatan haram. Namun orang itu tetaplah sebagai muslim. Haram harus dihindari. Sedangkan makruh lebih baik dihindari karena ada efek buruknya juga. Mengapa tingkatan kebaikan lebih banyak daripada tingkatan keburukan?

Efek keburukan lebih besar kerusakannya. Tidak ada toleransi dalam keburukan. Tak ada negosiasi dalam keburukan. Mencegah kerusakan harus didahulukan daripada menciptakan kebaikan. Sejuta kebaikan bisa dihancurkan hanya dengan satu keburukan saja. Keburukan itu dinikmati oleh nafsu dan kecendrungan manusia. Bila dihadapan satu kondisi, berbuat baik atau mencegah keburukan? Maka dahulukan mencegah keburukan. Begitulah kaidah fikihnya.

Itulah sebab Abu Bakar memberantas mereka yang tidak membayar zakat dan murtad. Untuk Itulah mengapa Umar sangat tegas dengan benih-benih keburukan. Itulah mengapa Ali sangat tegas terhadap kaum Khawarij. Menuntaskan penyimpangan Khawarij, baru kemudian  menyelesaikan urusannya dengan Muawiyah.

Cara menghancurkan keburukan dengan memberikan medan yang luas dalam kiprah kebaikan. Kondisi kondusif kebaikan harus didahulukan untuk menekan keburukan. Bisa jadi keburukan itu efek dari tidak adanya ruang kebaikan. Sibukan manusia dengan kebaikan agar tidak memikirkan dan berbuat keburukan.

Untuk itulah tingkatan amal kebaikan lebih banyak jenjangnya. Fardu Kifayah, Fardu Ain, Sunah Muakadah dan Sunah. Jiwa manusia pun diberi ruang rileksasi dari kejenuhan dan kejemuan kebaikan yaiti mencicipi hal yang mubah. Apa itu? makan, minum, istirahat, berkeluarga, menikmati keindahan dan kehidupan. Itulah ruang besar agar manusia melupakan keburukan.

Untuk itulah amar makruf didahulukan daripada nahi mungkar. Ciptakan kebaikan. Buat ruang kebaikan seluas mungkin. Bila masih tetap berbuat buruk. Berarti jiwa manusia tersebut sudah terkontaminasi dengan penyakit. Bukan lagi keterpaksaan. Bukanlah keterdesakan. Tetapi sudah menjadi karakternya. Untuk itulah mengapa ada hukum Islam sangat tegas dan keras.

Islam memberikan ruang besar berkiprah dalam kebaikan. Memberikan ruang rileksasi berupa hal-hal yang mubah. Mubah sebuah ruang menikmati kesenangan dan kehidupan dalam sebuah bingkai fitrah manusia. Lalu menutup rapat keburukan dengan ketegasan. Namun pada sisi lain membuka keran taubat bagi pelaku keburukan. Itulah keindahan hukum Islam. Adakah hukum sesempurna ini?

Saat Kelaparan, Diserahkan Seluruh Hartanya Ibrahim bin Adham seorang sufi. Hidupnya dipenuhi pengembaraan terhadap ilmu. Dia me...

Saat Kelaparan, Diserahkan Seluruh Hartanya

Ibrahim bin Adham seorang sufi. Hidupnya dipenuhi pengembaraan terhadap ilmu. Dia meninggalkan seluruh kekayaan dan jabatan tertinggi di Khurasan. Dia memilih menjadi rakyat jelata dengan pakaian alakadarnya. Salah satu profesi Ibrahim bin Adham yang kadang digeluti ialah menjadi buruh tani biasa.

Sehabis mendapatkan upah bekerja.  Ibrahim bin Adham dan muridnya mendatangi tukang cukur dan bekam. Sang tukang cukur merendahkannya dengan berkata, "Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih saya benci daripada kalian berdua. Tidak ada yang mau melayani kalian selain saya."

Ibrahim bin Adham mendapatkan giliran terakhir. Ibrahim bin Adham membayarkan tukang cukur tersebut dengan nilai 20 dinar. Seluruh upahnya diberikan kepada tukang cukur tersebut. Sang tukang cukur terperangah, orang yang direndahkan tetapi membayarnya dengan sangat tinggi.

Murid Ibrahim bin Adham menanyakan sebab mengapa membayar upah tukang cukur sangat tinggi. Dijawanya, Agar orang itu tidak lagi meremehkan orang miskin."

Uang Ibrahim bin Adham habis untuk membayar tukang cukur tersebut. Saat perbekalan habis, maka Ibrahim bin Adham menyuruh muridnya untuk menjual bukunya, lalu uangnya digunakan untuk membeli makanan.

Muridnya pergi ke pasar. Di tengah perjalanan ada seorang pelayan yang mengendarai kereta kuda yang mengangkut berpeti-peti uang. Sang pelayan mencari orang yang bernama Ibrahim bin Adham. Sang murid mengantarkan pelayan tersebut ke Ibrahim bin Adham.

Betapa harunya sang pelayan saat bertemu tuannya, "Tuanku, mengapa engkau meninggalkan kehormatan di Khurasan, lalu memilih hidup seperti ini?" Ibrahim bin Adham tak menjawab, justru bertanya, "Mengapa datang ke sini?" Pelayan menjawab, "Syeikh wafat."

Ibrahim bin Adham berkata, "Kematian syeikh membuatmu datang dengan membawa semua apa yang dibawa. Apa yang engkau inginkan?"  Pelayannya menjawab, "Menyerahkan sisa harta yang tertinggal, karena seluruh harta lainnya sudah dibawa kabur oleh pelayan yang lainnya."

Ibrahim bin Adham lalu menyerang seluruh harta tersebut pada pelayannya. Tak ada sedikitpun yang disisakan untuknya. Setelah mempersilahkan pelayannya pergi, Ibrahim bin Adham menoleh ke muridnya dan berkata, "Ada apa denganmu? Cepat gadaikan buku-buku itu, kemudian belikan sesuatu yang bisa kita makan."

Sumber: 
Uyun al-hikayah min qhisas ash shalihin wa Nawadir Az-Zahidin karya Imam Ibnul Jauzy 

Manajemen Membongkar Aib? Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Allah kadang membuka kesalahan hamba-Nya. Ka...

Manajemen Membongkar Aib?

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Allah kadang membuka kesalahan hamba-Nya. Kadang menyembunyikannya. Kesalahan yang ceritakan dalam Al-Qur'an adalah kisah nabi Adam, Yunus, dan beberapa fragmen nabi yang lainnya, termasuk Rasulullah saw. Beberapa ayat Al-Qur'an, turun karena kekhilafan Rasulullah saw dalam membuat keputusan. Mengapa kesalahan ini dibongkar?

Allah dan Rasulullah saw, membongkar karakter para ahlul kitab, munafikin dan Kafirin dengan sangat gamblang. Semua umat Islam yang membaca Al-Qur'an akan paham dengan detail prilaku mereka. Kesalahan yang berakibat kemudharatan yang sangat besar Allah buka lebar-lebar. Bagaimana dengan kesalahan seorang muslim?

Para pemimpin yang zalim paling sering diceritakan, dari Namrudz, Jalut, Firaun, Hamman, dan Qarun. Mengapa Allah tidak menutupi kezaliman mereka?

Suatu malam, Umar bin Khatab melakukan ronda. Didapati penghuni sebuah rumah sedang mabuk-mabukan sendirian. Umar tidak mendobrak rumah tersebut. Karena pelakunya masih bersembunyi-sembunyi ketika mabuk. Namun bila mabuknya sudah terang-terangan dan meremehkan hukum, barulah pelakunya ditindak.

Seorang ulama salaf ditemui oleh seorang wanita. Sang wanita mengaku berzinah. Wanita itu memohon agar anak yang dilahirkan diakui sebagai anak sang ulama. Setelah anak tersebut lahir, semua orang mendatangi sang ulama. Sang ulama berprilaku seperti anak tersebut adalah anaknya. Bahkan Sang ulama menitipkan rutin uang belanja melalui orang lain untuk wanita tersebut. Sang ulama menjaga aib wanita tersebut.

Jadi kesalahan yang bersifat pribadi, privasi yang pelakunya melakukan secara sembunyi, maka harus ditutupi aibnya. Jangan membongkar aib yang sifatnya pribadi, privasi yang keburukannya hanya menimpa si pelakunya saja. Bagaimana bila prilaku buruk seseorang berpotensi menghancurkan masyarakat?

Umar bin Khatab bila akan mengangkat seseorang menjadi walikota, gubernur, hakim, panglima perang, maka dia bertanya pada Huzaifah bin Yaman, apakah dia munafik? Bagaimana pengelolaan uangnya? Apakah ada catatan uang baitul mal (anggaran pembangunan) digunakan pribadi?  Mengapa berbeda perlakuan Umar terhada pemabuk? Dia tak memperdulikan keburukan pemabuk, namun bila soal kepemimpinan Umar bertanya keburukan mereka yang akan diangkat menjadi pemimpin?

Dalam hadist, dalam kondisi tertentu diperbolehkan membongkar aib seseorang. Tujuannya agar melindungi efek keburukan dari orang tersebut. Bila kita kenal seseorang adalah perampok uang anggaran, apakah kita diam saja dengan dalih menjaga aib? Apalagi mengambilnya dengan terang-terangan di depan publik.

Prof Dr Muhammad As Shalabi, seorang ulama kelas dunia, menuliskan buku seri tentang Khalifatur Rasyidin, mereka mengirimkan pengawas ke baitul mall,  menanyakan ke masyarakat tentang pejabat publik yang diangkatnya. Apakah ini bagian membongkar aib? Kepemimpinan ranah yang harus diawasi oleh siapapun. Umar Bin Khatab selalu menerima aduan keburukan dari siapapun tentang pejabat publiknya. Apakah ini membongkar aib?

Umar bin Khatab sebelum mengangkat seorang pejabat publik, mengirimkan "mata-mata" untuk mengawasi prilaku keuangan calon pejabat publik. Bila rakus terhadap penyelewengan uang anggaran maka tidak jadi diangkat. Bukankah memematai seorang mukmin tidak boleh? Mengapa dalam soal calon pemimpin, Umar melakukan hal tersebut? Lalu, bagaimana kaitannya dengan kondisi saat ini yang pemilihan pemimpin dilakukan secara langsung?

Kesalahan seorang mukmin harus ditutupi. Allah berjanji mereka yang menutupi aib seorang mukmin di akhirat nanti, bila menutupi aib mukmin di dunia. Apa yang sangat ditutupi Allah? Soal perzinahan sangat ditutupi Allah. Sehingga harus ada 2 saksi laki-laki atau 4 saksi perempuan. Seandainya ada yang memergoki kasus perzinahan bila tidak memenuhi syarat saksinya maka tidak boleh di hukum pelaku zinahnya.

Masih soal membuka aib. Bila kita belajar hadist, ada ilmu yang harus kita pelajari yaitu Rijalul Hadist. Ilmu tentang para periwayat hadist. Ilmu yang mengkategori apakah dia ulama yang terpercaya atau ulama yang buruk?  Apakah ingatannya kuat atau pelupa? Mengapa ilmu ini hadir? Mengapa ada ilmu yang membongkar rahasia seseorang?

Rasulullah saw pernah bersabda yang isinya jangan berdusta atas nama Rasulullah saw. Seorang Sahabat pernah berkata yang isinya, teliti dari siapa belajar ilmu agama. Dua prinsip inilah yang kemudian beberapa ulama membuat dan mengembang kitab dan ilmu Rijalul Hadist. Tujuanya, mengklasifikasikan apakah hadist ini Shahih atau dhaif? Kuat atau lemah dari sudut orang yang meriwayatkan.

Menutup kesalahan sesama mukmin ada rambunya. Membukanya pun ada rambunya. Tak selamanya menutupi itu baik  Tak selamanya membuka itu buruk. Bila sifatnya privasi, dosa yang berkaitan dengan dirinya tanpa menimbulkan keburukan bagi yang lain dan tidak dilakukan secara terang-terangan dan kesombongan, maka kita harus menutupi aib dan kesalahannya. Allah akan membalas kita dengan penutupan aib kita diakhirat.

Bila aib dan kesalahan tersebut dilakukan terang-terangan, dengan kesombongan dan keangkuhan, mulai mengajak orang lain untuk mengikuti dan bisa menimbulkan keburukan yang luas di masyarakat, maka keburukan itu harus dibongkar. 

Bisnisnya Tak Tergiur Pada Yang Bukan Haknya Oleh : Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dua orang baru saja mela...

Bisnisnya Tak Tergiur Pada Yang Bukan Haknya

Oleh : Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Dua orang baru saja melakukan jual beli rumah. Pembeli dan penjual sudah sepakat dengan harga yang sudah ditetapkan. Mereka saling ridha dan puas dengan semua klausul perjanjian yang ada.

Ketika semua transaksi sudah selesai. Keduanya memasuki rumah tersebut. Ternyata ditemukan sebuah kotak. Ketika dibuka ternyata terdapat uang senilai 10.000 dirham. Di sini masalah muncul.

Tak bisa diselesaikan dengan musyawarah, kedua orang ini membawanya ke pengadilan dengan Hakim yang bernama Syuraih. Keduanya mengungkapkan masalahnya.

Salah seorang dari mereka berkata, Aku membeli sebuah rumah dari orang ini. Aku temukan di dalamnya  10.000 dirham. "Ambilah", Katanya.

Aku pun menolak, lalu kukatakan, "Aku hanya membeli rumah ini! Silahkan engkau ambil!" Namun penjual menolaknya dengan alasan, "Mengapa aku harus mengambil uang itu. Aku telah menjual rumah berikut isinya!"

Mereka terus berdebat soal siapa yang paling berhak atas uang yang ditemukan di dalam rumah itu. Dan keduanya sama-sama menolak.

Karena keduanya terus menolak. Akhirnya uang tersebut dimasukan ke dalam kas negara atas keputusan sang Hakim.

Itulah bisnis yang saling ingin memberikan keuntungan. Bukan berselisih mendapatkan hak.

Referensi:
Shifatush Shafwah, Imam Ibnu Jauzi, Pustaka Azzam, Nopember 2015

Bisnisnya untuk Memerdekakan Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Darah Rasulullah saw mengalir pa...

Bisnisnya untuk Memerdekakan Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Darah Rasulullah saw mengalir pada sosok ini. Allah telah memberikan kelapangan dan curahan rezeki yang berlimpah ruah padanya. Perdagangannya untung besar. Pertaniannya berkembang pesat. Kebaikannya berlimpah, begitu pula hartanya.

Namun sosok ini tidak pernah takabur dan sombong. Kekayaannya digunakan untuk meraih kemenangan akhirat. Karena sebaik-baik kekayaan ditangan orang yang shalih.

Amalan yang sangat luar biasa dari sosok ini adalah bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi. Setiap malam sosok ini mengitari 100 rumah di Madinah. Saat seluruh orang terlelap tidur. Dia bangun dari pembaringannya. Memanggul berkarung-karung gandum di atas punggungnya.

Mencari orang miskin yang memiliki harga diri. Mencari orang yang membutuhkan tetapi tidak pernah meminta. Di taruhnya masing-masing gandum di setiap rumah.

Para penduduk Madinah tidak pernah tahu siapa yang memberi gandum tersebut. Tak pernah tahu asal muasal sumber rezeki tersebut.

Tokoh ini masih misteri hingga sosok ini meninggal dunia. Saat sosok ini meninggal dunia. Saat sosok ini dimandikan. Terlihat bekas-bekas hitam di punggungnya.

Sejak sosok ini meninggal tidak ada lagi gandum yang tergeletak di depan pintu rumah-rumah miskin di Madinah. Siapakah dia ?

Sosok ini keturunan Rasulullah saw. Darah pebisnis Rasulullah saw dan Siti Khadijah mengalir deras pada sosok ini. Namun bisnisnya untuk membebaskan manusia dari kemiskinan. Memuliakan manusia dengan hartanya. Bukan memuliakan dirinya.

Tokoh ini masih misteri karena akan diceritakan cara beliau membebaskan manusia dari berbagai belenggu dari bisnisnya.

Sosok ini memang rahasia. Kaum muslimin pun banyak yang tidak tahu nama aslinya. Nama panggilannya lebih dikenal. Bila saya melihat silsilah para Habaib, yang tertera justru nama panggilannya.

Sosok ini, dengan keluasan harta dari bisnisnya, banyak membebaskan manusia dari perbudakan. Total budak yang dimerdekakan semasa hidupnya berjumlah 1.000 orang.

Dia memerdekakan budak apabila budaknya berbuat baik sebagai imbalan kebaikannya. Dia juga memerdekakan budak apabila budaknya berbuat buruk kemudian bertaubat sebagai balasan baginya atas taubat.

Pembebasan terhadap budak-budaknya paling banyak terjadi pada malam idul fitri. Dimana dia memerdekakan pada malam yang penuh berkah itu sebanyak apa yang telah Allah ditakdirkan.

Setiap budak yang dibebaskan, diminta untuk menghadap kiblat untuk berdoa memintakan ampun pada Allah. Kemudian dia membekali mereka dengan bekal yang bisa menjadikan hari raya mereka benar-benar hari raya dan kebahagiaan mereka.

Keuntungan bisnisnya telah membebaskan manusia dari kemiskinan dan perbudakan. Itulah sosok Zainal Abidin yang nama aslinya adalah Ali Bin Husein Bin Ali  yang merupakan cicit dari Rasulullah saw.

Referensi:
Para Tabiin, Dr Abdurrahman Ra'fat al Basya, Penerbit Darul Haq, September 2017

Saat Anjing Menghalangi Nahi Mungkar? Pada suatu kesempatan, Ibrahim al Khawwash duduk di masjid Rai bersama jamaah. Tiba-tiba, ...

Saat Anjing Menghalangi Nahi Mungkar?

Pada suatu kesempatan, Ibrahim al Khawwash duduk di masjid Rai bersama jamaah. Tiba-tiba, terdengar suara hiburan dan mabuk-mabukan dari rumah sebelah masjid. Yang ada di masjid pun ribut dan berkata, "Ibrahim bin Khawwash, bagaimana menurutmu? Apa yang akan engkau lakukan?"

Ibrahim pun keluar dari masjid menuju ke rumah tempat kemungkaran tersebut. Ketika baru sampai di ujung lorong, Ibrahim melihat anjing sedang duduk. Ketika melihat Ibrahim berjalan mendekat, anjing tersebut langsung berdiri menghadang Ibrahim sambil menggonggong.

Melihat itu, Ibrahim lantas kembali ke masjid. Sesampainya di masjid, ia merenung beberapa saat, kemudian beranjak pergi lagi menuju rumah tersebut. Ternyata anjingnya menjadi jinak.

Pada saat sampai di dekat pintu rumah tersebut, ada pemuda yang keluar dari rumah, lalu berkata, "Wahai Syeikh, mengapa engkau tampak kaget? Bukankah sebelumnya engkau telah mengutus seseorang untuk menemuiku dan menyampaikan semua yang diinginkan?"

"Saya berjanji kepada Allah tidak akan mabuk-mabukan lagi." Pemuda tersebut kemudian menghancurkan seluruh minuman tersebut. Dia pun menjadi shalih dan berkumpul dengan yang tekun beribadah.

Ibrahim kembali ke masjid. Para jamaah menanyakan, "Mengapa pergi lalu kembali? Lalu pergi lagi dan persoalan anjing yang menghalanginya."

Ibrahim menjawab, "Anjing itu awalnya menghadangku sambil menggonggong, karena waktu itu ada yang salah pada diriku menyangkut perjanjianku dengan Allah, saat itu saya belum menyadarinya. Kemudian ketika kembali, saya baru ingat, lalu saya mohon ampun kepada Allah. Kemudian, saya pergi lagi dan terjadi apa yang kalian ketahui."

"Demikianlah, setiap orang yang ingin menghilangkan kemungkaran dan menegakkan kebajikan, lalu ada makhluk yang menganggu dan menghalanginya, maka bertanda ada yang salah dan rusak pada perjanjiannya dengan Allah."

"Jika semua baik-baik saja, maka tidak akan ada sesuatu apa pun yang akan mengganggu dan menyakitinya dalam upayanya menghilangkan kemungkaran dan menegakkan kebajikan, sebagaimana kejadian yang kalian saksikan sendiri "

Sumber:
Uyun al Hikayah Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawadir Az-Zahidin, imam Ibnul Jauzy 

Energi Vibrasi Umar bin Abdul Aziz  Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Vibrasi berkaitan dengan jiwa dan ...

Energi Vibrasi Umar bin Abdul Aziz 

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Vibrasi berkaitan dengan jiwa dan cita-cita yang ada pada jiwa pebisnis. Vibrasi berkaitan semangat dan  pemikiran yang bergelora pada jiwa pebisnis.

Inilah yang menjadi inti atom yang menarik unsur-unsur atom lainnya dalam lingkungan pebisnis. Itulah yang disadari oleh Umar Bin Abdul Aziz saat hari pertama diangkat menjadi khalifah.

Di hari pertama pemerintahnya, dia mengirim surat kepada saudaranya Salim bin Abdullah bin Umar. Isinya meminta buku-buku yang merekam semua jejak kiprah Umar Bin Khatab. Baik dalam bentuk keputusan hukum ataupun sirahnya. Ia bertekad ingin mengikuti jejak perjalanan hidup nenek moyangnya.

Salim bin Abdullah bin Umar menjawab surat Umar Bin Abdul Aziz, "Engkau ingin berjalan mengikuti jejak Umar Bin Khatab. Namun engkau harus ingat bahwasanya engkau berada pada zaman yang tidak seperti Umar. Dan orang-orangmu tidak seperti orang-orang Umar."

Di tengah kepesimisan tersebut, Salim bin Abdullah bin Umar memberikan kiat bagaimana menciptakan energi Vibrasi dengan melanjutkan suratnya, "Akan tetapi, ketahuilah jika memang niatku sungguh-sungguh, maka pasti Allah  akan menolong dan memberimu orang-orang yang akan membantumu mewujudkan niat-niat tersebut."

Dengan vibrasi inilah, keturunan Bani Ummayah yang menentang mau taat kepadanya. Para Ulama terpercaya seperti Hasan Al Bashri dan beberapa ulama terpercaya lainnya mau dihimpun dalam mengarahkan  pengelolaan pemerintah. Padahal sebelumnya banyak ulama yang menjauhi pemerintah.

Inilah energi vibrasi yang dibutuhkan oleh para pebisnis agar orang yang disekitarnya menjadi penopang keberhasilan bisnisnya.

Referensi:
1. Biografi Umar Bin Abdul Aziz, Prof Dr Ali Muhammad Ash Shalabi,   Pustaka Kautsar, April 2014
2. Para Tabiin, Dr Abdurrahman Ra'fat al Basya, Pustaka Darul Haq, September 2017

MEMPERLAKUKAN KONSUMEN GAYA URWAH BIN AZ-ZUBAIR Oleh : Nasruloh *) Khalifah Abdul Malik bin Marwan di era Bani Ummayah pernah be...

MEMPERLAKUKAN KONSUMEN GAYA URWAH BIN AZ-ZUBAIR

Oleh : Nasruloh *)

Khalifah Abdul Malik bin Marwan di era Bani Ummayah pernah bercerita tentang sahabatnya yaitu Urwah bin  Az Zubair, "Barangsiapa ingin melihat seseorang dari ahli surga hendaklah dia melihat Urwah bin Az  Zubair."

Urwah merupakan anak dari Zubair bin Awwam seorang pengawal pribadi Rasulullah saw. Ibunya Asma binti Abu Bakar, wanita yang dijuluki Dzatun Nithaqain (Pemilik dua ikat pinggang) oleh Rasulullah saw. Ibunyalah yang menyuplai logistik makanan disaat Rasulullah saw hijrah.

Saat beberapa pemuda berkumpul dan mengutarakan cita-citanya. Urwah bin Zubair berkata, "Menjadi berilmu dan mengamalkan ilmu. Mendapatkan keberuntungan di Akhirat dengan ridha Allah dan mendapatkan surgaNya."

Ditengah kesibukan belajar, mengajar dan mengamalkan ilmu. Ternyata Urwah bin Az Zubair adalah seorang pebisnis hasil pertanian. Dia memiliki kebun yang paling luas di seantero Madinah.

Airnya nikmat, pohon-pohonnya rindang, dan kurma-kurmanya tinggi. Lalu apa kebiasaan beliau dari bisnisnya?

Urwah Bin Az Zubair, sangat dermawan, pemaaf dan pemurah. Kebun buahnya dipagari selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak.

Jika sudah datang waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, dia menghancurkan kembali pagar kebunnya tersebut di banyak arah supaya orang-orang mudah untuk memasukinya.

Para penduduk Madinah pun datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Setiap kali memasuki kebun dia berkata, "Masya Allah, la quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah, semua ini terwujud, tiada kekuatan, kecuali dengan pertolongan Allah)

Mengenai pelayanan terhadap manusia, dia berkata, "Hendaklah engkau berkata-kata baik dan berwajah ramah, niscaya engkau akan lebih dicintai ketimbang cinta mereka kepada orang yang selalu memberikan mereka hadiah."

Seandainya kita memperlakukan pelanggan kita seperti Urwah bin Az Zubair, membuka pintu kebunnya, berkata baik dan tersenyum. Bagaimana perasaannya ?

Kewaraan Ibnu Sirin, Menciptakan Kepuasan Pelanggan Oleh : Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ibnu Sirin seoran...

Kewaraan Ibnu Sirin, Menciptakan Kepuasan Pelanggan

Oleh : Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ibnu Sirin seorang ulama yang selalu makan dari hasil kerjanya sendiri seperti Nabi Dawud. Dia hidup dari hasil usaha dan keuntungannya. Dia pedagang yang jujur dan ahli ilmu yang bijaksana.

Dia berniaga siang hari dan melaksanakan hak perniagaan dengan baik. Dia pergi di pagi hari sambil membawa barang dagangannya dengan keuntungan sesuai syariat. Malam harinya, shalat malam, berharap ampunan, serta ahli ibadah yang zuhud.

Ibnu Sirin ketika datang ke pasar Bashrah pada tengah hari sambil bertakbir, bertasbih dan berzikir kepada Allah. Seseorang berkata, " Wahai Ibnu Sirin, pada saat ini ?" Maksudnya, sampai di pasar sekalipun! Ibnu Sirin berkata, "Sungguh, ia adalah waktu yang lengah."

Ibnu Sirin jika melakukan perniagaan, lalu merasa ragu terhadap sesuatu maka dia meninggalkannya.

Jika dia menerima uang palsu atau uang kuno yang tidak berlaku lagi dari pembeli, maka uang tersebut tidak digunakan lagi untuk berbelanja. Khawatir merugikan orang yang menerimanya kembali. Saat Ibnu Sirin wafat, ada sekitar 500 dirham uang palsu dan kuno.

Maimun bin Mihran bercerita kejujuran dan terpercayanya Ibnu Sirin dalam berbisnis, " Aku datang ke Kuffah untuk membeli perabot rumah di toko Ibnu Sirin dengan tawar menawar."

"Setiap kali dia menjual satu macam barang kepada ku, dia bertanya, "Apakah engkau ridha?" Aku jawab, "Iya." Dia mengulanginya sebanyak 3 kali dengan menghadirkan dua saksi. Sejak melihat kewaraannya, aku tidak pernah meninggalkan kebutuhan yang paling kecil sekali pun kecuali membelinya di Ibnu Sirin."

Referensi :
1. Kisah Para Tabiin, Syaikh Abdul Munim Al Hasyimi, Penerbit Ummul Qura, Agustus 2016
2. 60 Biograf Ulama Salaf, Syaikh Ahmad Farid, Pustaka Kautsar, Februari 2008

Pemimpin yang Adil, yang Lahir dari Rahim Pebisnis yang Jujur Oleh : Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Jujur d...

Pemimpin yang Adil, yang Lahir dari Rahim Pebisnis yang Jujur

Oleh : Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Jujur dan amanahlah dalam berbisnis. Karena kebaikan manusia tergantung dari kejujuran dan keamanahan para pebisnis.

Kejujuran para pebisnis akan melahirkan keberkahan. Baik untuk dirinya atau pun bagi keturunannya.  Mari kita telusuri salah satu bukti sejarah ini.

Sejarah selalu mencatat keadilan Umar Bin Abdul Aziz. Beliau memang keturunan Umar Bin Khatab, sang Khalifah yang adil. Namun bagaimana bisa melahirkan dua Umar yang memiliki keadilan yang sama ?

Bagaimana Umar Bin Khatab memilihkan jodoh  bagi putranya yang bernama Ashim ?

Umar tidak menikahkan dengam seorang ustadzah atau wanita yang alim. Tetapi menikahkannya dengan wanita biasa saja. Yang tinggal di rumah yang sederhana. Dia hanya tinggal dengan ibunya saja.

Bagaimana bisa wanita biasa saja dari rahim-rahim keturunannya lahir seorang pemimpin yang disejajarkan dengan Khalifatur Rasyidin ?

Wanita ini seorang pebisnis. Pebisnis seperti apa yang melahirkan pemimpin luar biasa ? 

Malam terasa dingin hingga menusuk tulang. Semua penduduk Madinah lebih memilih tidur pulas sambil berselimut tebal. Ditengah kegelapan malam, terlihat dua orang yang terus berjalan diantara rumah penduduk. Dialah Umar Bin Khatab dan pengawal pribadinya Aslam.

Sudah menjadi kebiasaan Umar Bin Khatab melihat kondisi rakyatnya di saat malam. Setelah kelelahan mengontrol penduduk. Umar dan Aslam beristirahat duduk di sebuah rumah yang sederhana. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar ucapan dua orang wanita dari dalam rumah tersebut.

Seorang ibu berkata pada putrinya, "Anakku, susu yang akan dijual itu, campurlah dengan tambahan air." Sang putrinya menjawab, "Ibu, apakah engkau tidak mengetahui larangan Amirul Mukminin tentang hal itu ?" Sang ibu bertanya, "Apa larangannya?"

Putrinya menjawab, "Dia memerintahkan aparatnya untuk mengumumkan agar tidak mencampurkan susu dengan air."  Sang Ibu menimpali, "Anakku, campurlah susu dengan air, engkau tidak mungkin diketahui Umar dan aparatnya."

Sang Anak tertegun sebentar. Ada pertentangan bathin di dalam jiwanya. Lalu berkata, "Ibu, tidak mungkin saya taat kepadanya di depan orang banyak tetapi melanggar perintahnya saat tidak dilihat orang."

Umar Bin Khatab tersentak mendengarkan semua pembicaraan itu. Lalu memerintahkan Aslam untuk menandai pintu rumah dan mengingat lokasi rumah tersebut.

Setelah itu Umar Bin Khatab berjalan melanjutkan aktivitasnya. Apa yang akan dilakukan Oleh Umar Bin Khatab terhadap penghuni rumah tersebut ?

Setelah Aslam menandai rumah tersebut. Di pagi hari, Umar berkata, "Aslam, pergilah ke tempat perempuan itu. Cari tahu siapa yang mengucapkan perkataan itu dan siapa yang diajak berbicara? Juga pelajari apakah mereka mempunyai kepala rumah tangga yang memenuhi kebutuhan hidup mereka?"

Aslam menyelidiki rumah tersebut. Lalu melaporkan, "Perempuan yang berbicara adalah seorang gadis yang tidak mempunyai istri." Umar memanggil anak-anaknya. Yang belum menikah adalah Ashim. Maka Ashim berkata, "Ayah, nikah kan saya dengannya."

Maka Umar mengirim utusan untuk meminang perempuan tersebut. Dan mengawinkannya dengan Ashim. Dari perkawinannya dengan Ashim terlahirlah seorang perempuan. Dari perempuan ini terlahirlah Umar Bin Abdul Aziz.

Ingin melihat ketakwaan kita sendiri? Lihatlah cara kita berbisnis. Jujur atau khianat?


Referensi:
500 Kisah Orang Soleh Penuh Hikmah, Imam Ibnu Fauzi, Pustaka Kautsar, Juni 2017

Perampok Yang Menjadi Wali Allah Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dulu Fudhail bin Iyad adalah seorang...

Perampok Yang Menjadi Wali Allah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Dulu Fudhail bin Iyad adalah seorang penyamun. Dia biasa melakukan aksinya seorang diri. Pada suatu malam, dia pergi untuk menjalankan aksi penyamunan di suatu jalan.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya ada kafilah sedang lewat menuju ke arahnya. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain,"Lebih baik kita belok arah menuju ke desa lain, karena di depan kita ada penyamun bernama Fudhail."

Fudhail mendengar perkataan tersebut dan tiba-tiba dia merasa gentar dan tubuh nya gemetar. Lalu dia berkata,"Wahai kalian semua, saya Fudhail, silahkan lewat saja. Demi Allah, sungguh saya akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi berbuat durhaka terhadap Allah."

Lalu, Fudhail pergi. Sejak itu dia meninggalkan kebiasaannya sebagai penyamun.

Dalam kisah lain, Fudhail menjamu mereka. Dia berkata,"Kalian semua akan dari ancaman Fudhail."

Lalu, dia pergi keluar mencarikan pakan hewan untuk mereka. Ketika kembali, dia mendengar seseorang membaca ayat," Belumkah datang waktunya bagi orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?" (al Hadid:16)

Seketika itu juga, Fudhail berteriak dan menyobek bajunya seraya berkata,"Ya, Sungguh demi Allah, telah tiba waktunya, telah tiba waktunya."

Itulah awal pertaubatan Fudhail bin Iyad.

*) Buku 500 kisah orang saleh dan penuh hikmah, Imam Ibnu Jauzi, penerbit pustaka al Kautsar, Hal 398-399

Takbirnya Menghancurkan 4.000 Tentara Romawi Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Ini kisah Muhammad As-Sa...

Takbirnya Menghancurkan 4.000 Tentara Romawi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Ini kisah Muhammad As-Samin yang menceritakan terbunuhnya 4.000 tentara Romawi.

Pada suatu waktu, Saya beramal dengan rasa kerinduan kepada Allah. Saya dikuasai oleh perasaan rindu tersebut.

Pada suatu kesempatan, Saya ikut dalam sebuah misi perjuangan melawan Romawi dalam keadaan saya masih dipenuhi dengan kerinduan tersebut. Waktu itu, jumlah personil musuh jauh lebih banyak dibandingkan pasukan Islam.

Kedua pasukan saling mendekat, akhirnya terjadilah peperangan. Pasukan Islam dilanda rasa takut mengingat jumlah pasukan Romawi sangat banyak.

Dalam situasi seperti itu, saya mulai diserang rasa gentar dan takut. Perasaan gentar dan takut semakin kuat. Lalu, saya mulai mencela dan mengecam diri saya sendiri.

Saya berkata kepada diri saya sendiri,"Wahai pendusta, sebelumnya engkau mengklaim sangat rindu kepada Allah. Akan tetapi, ketika datang situasi yang ditunggu-tunggu seperti Ini, engkau justru berubah menjadi penakut dan pengecut."

Dalam situasi seperti Ini, tiba-tiba muncul sebuah ide untuk turun ke sungai dan mandi. Lalu, saya pun turun ke sungai dan mandi. Setelah mandi, tiba-tiba saya menemukan kembali sebuah tekad kuat yang saya sendiri tidak tahu apa itu. Kemudian, saya keluar dari sungai, mengenakan kembali pakaian dan senjata saya, sementara tekad kuat tersebut terus menguasai diri ku.

Lalu, saya mulai mendekati barisan pasukan dan langsung menerobos barisan pasukan Islam dan langsung menerjang barisan pasukan Romawi dengan sebuah kekuatan, keberanian, dan tekad yang menjadikan diri saya seakan-akan bukan diri saya yang saya kenal selama ini, hingga tak sadar saya sudah berada di belakang mereka semua di balik sungai.

Kemudian, saya memekikan takbir. Mendengar pekikan takbir tersebut, pasukan Romawi mengira bahwa pasukan penyergap sedang menyerang mereka dari belakang, hingga akhirnya mereka berbalik arah untuk mundur dan melarikan diri.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan pasukan Islam untuk menyerang mereka. Dalam kejadian tersebut, pasukan Romawi yang terbunuh berkat takbir saya tersebut mencapai 4.000 personil, dan Allah menjadikan hal itu sebagai sebab di balik kemenangan pasukan Islam waktu itu.

*Dari buku 500 kisah orang saleh dan hikmah, Imam Ibnu Jauzi, penerbit pustaka al Kautsar Juni 2017, Hal 459-460

Amalku Tak Diterima Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) "Mahasuci Engkau, Ya Allah. Sungguh, kami ti...

Amalku Tak Diterima

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

"Mahasuci Engkau, Ya Allah. Sungguh, kami tidak mampu beribadah kepada-Mu dengan ibadah yang semestinya." Itulah rintihan para malaikat yang beribadah tanpa henti dan lelah sejak diciptakan hingga hari kiamat nanti. Sedang manusia masih mencampurkan antara ibadah dengan menikmati rezeki dari Allah. Mencampurkannya dengan kelalaian, kebosanan, tak sesuai rukun, terkontaminasi tidak ikhlas dan riya. Rintihan apa yang sepantasnya diungkapkan?

Rasulullah saw dengan kerendahan hati bersabda, "Aku tidak mampu memanjatkan pujian kepada-Mu sebanyak pujian yang Engkau panjatkan untuk diri Mu sendiri." Imam Al-Ghazali mengatakan, "Rasulullah saw tak mampu memuji Allah dengan pujian yang sebenarnya. Yang mana Allah memang berhak atasnya. Yakni, dengan pujian dan ibadah yang jauh lebih baik dari sekedar yang sanggup beliau lakukan."

Menurut imam Al-Ghazali. Di hari kiamat. Manusia akan diberikan 3 buku catatan. Buku kebaikannya. Buku keburukannya. Buku kenikmatan yang Allah berikan. Ternyata buku kebaikannya tidak mampu mengungguli buku kenikmatannya. Manusia masih memiliki hutang. Keburukannya pun tidak tertebus oleh kebaikannya plus hutang kenikmatan. Lalu apa yang Allah akan perbuat pada manusia?

Bila kondisi seperti ini, di hari kiamat yang diandalkan manusia hanyalah rahmat Allah dan ampunan-nya. Hanya kasih sayang dan kerahmanan Allah saja. Karena itulah Imam Nawawi Al Bantani memberikan rumus, cara pandang manusia terhadap dirinya haruslah cara pandang yang penuh keburukan dan kehinaan.

Siapa yang tak mengenal imam Hasan Al Bashri? Dialah yang telah membimbing khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah yang bertakwa dan memakmurkan penjuru negri. Suatu malam seorang ulama bertemu Hasan Al Bashri dalam mimpinya, setelah Hasan Al Bashri wafat. Dalam mimpi ulama tersebut bertanya tentang keadaan yang dialami sang imam di alam barzah.

Sang imam bercerita. "Allah menempatkan diriku ke hadapan-Nya, lalu Dia berfirman, "Hai Hasan, apakah engkau masih ingat, suatu saat shalat di masjid, tiba-tiba orang-orang melayangkan pandangannya kepada mu, lalu engkau menambah kebaikan shalat mu? Seandainya bukan karena niatmu yang ikhlas saat memulainya, tentu sudah Aku usir kamu dari sisi-Ku." Begitu sangat teliti Allah memeriksa perbuatan manusia.

Dengan amal apa kamu sering berharap? Rabiah Al-Adawiyah menjawab, "Dengan keputus-asaanku pada amal yang paling besar."  Ulama besar  Abu Yazid Al-Bustami dinasehati seseorang, "Bila kamu ingin sampai kepada Allah, hendaklah kamu selalu merendahkan diri dan merasa butuh kepada Allah."

Seorang ulama Abu Fadhl berkata, "Aku tahu bahwa seluruh amalku tidak diterima Allah, karena semua syarat diterimanya amal tidak dapat aku lakukan." Temannya berkata, "Mengapa tetap beramal?" Abu Fadhl menjawab, "Siapa tahu pada suatu hari nanti Allah menjadikannya baik untukku dan aku pun telah terbiasa berbuat baik, sehingga tak perlu membiasakan dari awal."

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (208) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (223) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (266) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (30) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (188) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (430) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (155) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (195) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (91) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)