basmalah Pictures, Images and Photos
08/07/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

Al-Qur'an: Merubah Dari Jahiliah Menuju Cahaya Islam Apa yang se...

Al-Qur'an: Merubah Dari Jahiliah Menuju Cahaya Islam



Apa yang sesungguhnya mengubah Jazirah Arab?

Apakah kekuatan militer?

Apakah kemajuan ekonomi?

Apakah kepemimpinan politik yang hebat?

Ataukah lahirnya seorang tokoh yang kharismatik?

Sejarah memberikan jawaban yang berbeda.

Perubahan terbesar dalam sejarah Arab tidak bermula dari pedang, harta, ataupun kekuasaan. Perubahan itu bermula dari wahyu.

Al-Qur'an yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ï·º menjadi cahaya yang mengubah manusia, lalu melalui manusia mengubah masyarakat, dan melalui masyarakat mengubah peradaban.

Inilah mata rantai perubahan yang tidak pernah berubah.

Wahyu melahirkan iman.

Iman melahirkan pribadi.

Pribadi melahirkan masyarakat.

Masyarakat melahirkan peradaban.

---

Lalu, bagaimana Al-Qur'an mampu melakukan perubahan sebesar itu?

Jawabannya bukan sekadar karena Al-Qur'an dibaca.

Bukan pula karena dihafalkan.

Melainkan karena Al-Qur'an dihidupkan.

Rasulullah ï·º membina para sahabat di madrasah kenabian dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai pusat pendidikan. Ayat demi ayat tidak hanya dipelajari, tetapi juga dipahami, dihayati, dan diamalkan.

Hasilnya sungguh luar biasa.

Dalam waktu yang relatif singkat lahirlah generasi terbaik yang pernah dikenal sejarah.

Mereka bukan manusia tanpa kelemahan.

Mereka adalah manusia biasa yang dibentuk oleh wahyu sehingga menjadi pribadi-pribadi luar biasa.

---

Lihatlah bagaimana akidah menguasai hati mereka.

Siksaan tidak mampu memadamkan iman mereka.

Ancaman tidak menggoyahkan keyakinan mereka.

Yasir, Sumayyah, Bilal, Shuhaib, dan para sahabat lainnya rela kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa demi mempertahankan kalimat tauhid.

Apa yang membuat mereka begitu kokoh?

Karena yang memenuhi hati mereka bukan kecintaan kepada dunia, melainkan kecintaan kepada Allah.

---

Al-Qur'an tidak hanya mengubah keyakinan mereka.

Ia juga mengubah karakter mereka.

Mereka menjadi teladan dalam kejujuran.

Teladan dalam amanah.

Teladan dalam kesabaran.

Teladan dalam kezuhudan.

Teladan dalam kasih sayang.

Teladan dalam itsar, yaitu mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri.

Mereka menjadi teladan dalam keberanian, keadilan, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Bahkan dari generasi inilah lahir para pemuda yang sanggup memimpin pasukan besar, seperti Usamah bin Zaid ra., yang pada usia muda dipercaya memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat para sahabat senior.

Bukankah ini bukti bahwa Al-Qur'an mampu membentuk kualitas manusia, bukan sekadar menambah pengetahuan?

---

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang sangat penting.

Apakah generasi seperti itu hanya mungkin lahir sekali dalam sejarah?

Sebagian orang mungkin menjawab, "Itu hanya terjadi pada masa Rasulullah ï·º."

Namun benarkah demikian?

Al-Qur'an yang membina mereka masih ada di tangan kita.

Allah sendiri menjamin kemurniannya.

«"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)»

Sunnah Rasulullah ï·º pun tetap terjaga.

Sirah beliau tetap dapat dipelajari.

Kalau sumbernya masih sama, mengapa hasilnya berbeda?

Pertanyaannya bukan lagi, "Apakah Al-Qur'an masih mampu mengubah manusia?"

Melainkan,

"Bagaimana cara kita berinteraksi dengan Al-Qur'an?"

---

Generasi pertama tidak memperlakukan Al-Qur'an sekadar sebagai bacaan.

Mereka memandangnya sebagai kalam Allah Yang Mahaagung.

Setiap ayat mereka dengarkan dengan hati yang hadir.

Setiap perintah mereka anggap sebagai panggilan langsung dari Rabb semesta alam.

Setiap larangan mereka sambut sebagai bentuk kasih sayang Allah agar mereka selamat.

Ketika mendengar seruan,

«"Wahai orang-orang yang beriman..."»

mereka segera bertanya dalam hati,

"Apa yang Allah inginkan dariku?"

Bukan,

"Apakah perintah ini masih relevan?"

Mereka tidak menunda.

Tidak berdebat.

Tidak mencari alasan.

Mereka mendengar, memahami, lalu melaksanakan.

Karena mereka yakin bahwa yang berbicara adalah Allah.

---

Al-Qur'an menggambarkan sikap itu dengan sangat indah.

«"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah ucapan, 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nur: 51)»

Demikian pula firman-Nya,

«"Tidaklah pantas bagi laki-laki maupun perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan lain bagi mereka." (QS. Al-Ahzab: 36)»

Dan firman-Nya,

«"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)»

Bahkan Allah menegaskan,

«"Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah." (QS. An-Nisa': 80)»

Karena itulah para sahabat menjadi Al-Qur'an yang hidup.

Akhlak mereka adalah tafsir nyata dari wahyu.

---

Lalu bagaimana keadaan kita hari ini?

Inilah pertanyaan yang layak kita renungkan bersama.

Bukankah Al-Qur'an masih kita miliki?

Bukankah mushafnya masih kita baca?

Namun mengapa pengaruhnya sering kali tidak lagi terasa?

Sebagian besar kaum muslimin mewarisi Islam sebagai identitas, bukan sebagai jalan hidup.

Mereka mengenal kulitnya, tetapi belum tentu merasakan ruhnya.

Mereka membaca Al-Qur'an, tetapi sedikit mentadabburinya.

Mereka menikmati keindahan suara, tetapi kurang menangkap pesan yang dibacakan.

Tidak jarang kekaguman tertuju kepada kemerduan qari, sementara hati lalai terhadap firman Allah yang sedang dibacakan.

Padahal Allah telah mengingatkan,

«"Apabila Al-Qur'an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu memperoleh rahmat." (QS. Al-A'raf: 204)»

Dan Allah bertanya dengan pertanyaan yang menggugah hati,

«"Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an, ataukah hati mereka telah terkunci?" (QS. Muhammad: 24)»

Bahkan Allah menjelaskan penyebabnya,

«"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan telah menutupi hati mereka." (QS. Al-Muthaffifin: 14)»

---

Apakah harapan itu telah berakhir?

Tidak.

Selama Al-Qur'an tetap menjadi petunjuk, peluang untuk melahirkan generasi terbaik tetap terbuka.

Dalam berbagai zaman selalu ada orang-orang yang kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan kesungguhan.

Mereka membina manusia sebagaimana Rasulullah ï·º membina para sahabat.

Di antara tokoh pembaru yang banyak dikenal pada abad modern adalah Hasan Al-Banna rahimahullah. Ia mengajak umat kembali menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai pusat tarbiyah dan pembinaan.

Dari proses itulah kembali lahir pribadi-pribadi yang dikenal karena kejujuran, amanah, kesabaran, semangat pengorbanan, dan kesiapan membela agama dengan segala kemampuan yang mereka miliki.

Hal ini menunjukkan bahwa metode pendidikan wahyu tetap relevan sepanjang zaman.

---

Akhirnya, sejarah selalu mengajarkan satu pelajaran besar.

Perubahan masyarakat selalu diawali oleh perubahan manusia.

Perubahan manusia selalu diawali oleh perubahan hati.

Dan perubahan hati selalu bermula dari hubungan yang benar dengan Al-Qur'an.

Maka pertanyaannya bukan lagi,

"Apakah Al-Qur'an masih mampu mengubah dunia?"

Karena jawabannya sudah dibuktikan oleh sejarah.

Pertanyaan yang sesungguhnya adalah,

"Sudahkah kita membiarkan Al-Qur'an mengubah diri kita?"

Sebab ketika Al-Qur'an kembali hidup di dalam hati, cahaya Islam akan kembali menerangi kehidupan, sebagaimana dahulu ia mengubah Jazirah Arab dari kegelapan jahiliah menjadi peradaban yang menerangi dunia.

Bersinarnya Mentari Risalah Surah Al-'Alaq Pernahka...

Bersinarnya Mentari Risalah Surah Al-'Alaq


Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan bagaimana sejarah terbesar umat manusia dimulai?

Bukan dengan dentuman perang. Bukan dengan penobatan seorang raja. Bukan pula dengan lahirnya sebuah imperium.

Semua bermula dari sebuah gua sunyi di puncak Hira. Dari seorang manusia yang sedang menyendiri mencari kebenaran. Dari satu kata yang kemudian mengubah arah sejarah:

"Iqra'... Bacalah!"

Para ulama sepakat bahwa lima ayat pertama Surah Al-'Alaq merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º. Riwayat-riwayat yang menyatakan surah lain sebagai wahyu pertama dinilai tidak memiliki kekuatan yang sebanding dengan riwayat yang sahih dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Aisyah ra. mengisahkan bahwa sebelum turunnya wahyu, Rasulullah ï·º sering memperoleh mimpi-mimpi yang benar. Apa yang beliau lihat dalam tidur selalu menjadi kenyataan seterang cahaya fajar. Setelah itu Allah menumbuhkan kecintaan dalam hati beliau untuk berkhalwat di Gua Hira. Di sanalah beliau beribadah dan bertafakur selama beberapa malam, hingga suatu hari datanglah saat yang telah ditentukan Allah.

Malaikat Jibril datang menghampiri beliau seraya berkata,

"Iqra'!"

Beliau menjawab,

"Aku tidak dapat membaca."

Jibril memeluk beliau hingga terasa sesak, kemudian melepaskannya. Perintah itu diulang tiga kali, hingga akhirnya Jibril membacakan firman Allah:

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1–5)

Setelah peristiwa itu Rasulullah ï·º pulang dalam keadaan tubuhnya menggigil.

Beliau berkata kepada Khadijah,

"Selimuti aku... selimuti aku."

Betapa manusiawinya peristiwa itu.

Seorang nabi yang dipilih Allah tetap merasakan takut, gemetar, dan cemas menghadapi pengalaman yang belum pernah dialaminya. Namun di saat genting itulah tampil sosok Khadijah dengan keteguhan iman dan kejernihan hati.

Ia tidak mempertanyakan pengalaman suaminya. Ia tidak meragukannya.

Sebaliknya, ia berkata dengan penuh keyakinan,

"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau menyambung silaturahim, selalu berkata benar, membantu orang yang kesusahan, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah."

Lalu Khadijah membawa Rasulullah ï·º menemui Waraqah bin Naufal. Setelah mendengar kisah beliau, Waraqah berkata,

"Itulah Namus (Jibril) yang dahulu datang kepada Musa. Andai aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu, pasti aku akan membelamu."

Rasulullah ï·º pun bertanya dengan heran,

"Apakah mereka akan mengusirku?"

Jawaban Waraqah menjadi sebuah nubuwah,

"Tidak ada seorang pun yang membawa risalah seperti yang engkau bawa melainkan pasti akan dimusuhi."


Namun, apakah sesungguhnya makna terbesar dari peristiwa itu?

Apakah ia hanya kisah turunnya wahyu pertama?

Ataukah ia merupakan titik balik terbesar dalam sejarah umat manusia?

Sayyid Qutb mengajak kita berhenti sejenak. Jangan membaca kisah ini sekadar sebagai bagian dari sirah yang berulang kali kita dengar. Sebab, menurut beliau, inilah salah satu peristiwa terbesar yang pernah terjadi di muka bumi.

Mengapa?

Karena pada saat itulah Allah Yang Mahatinggi berkenan berbicara kepada manusia.

Bayangkan sejenak.

Pencipta seluruh galaksi... Penguasa langit dan bumi... Rabb Yang Mahaagung...

memilih seorang manusia di sebuah gua kecil yang nyaris tak dikenal untuk menerima kalam-Nya.

Bukankah itu kemuliaan yang tak terbayangkan?

Peristiwa ini menunjukkan betapa luas kasih sayang Allah.

Bukan karena manusia layak menerimanya.

Bukan pula karena manusia mampu membalasnya.

Melainkan semata-mata karena Allah Maha Pengasih dan Maha Pemurah.

Di sisi lain, peristiwa ini juga menunjukkan betapa tingginya kedudukan manusia di hadapan Allah ketika ia menerima petunjuk-Nya.

Manusia bukan lagi berjalan hanya dengan akal dan hawa nafsunya.

Kini ia dibimbing langsung oleh wahyu.

Sejak saat itu, ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh kekuatan, tradisi, atau kepentingan manusia.

Ia ditentukan oleh petunjuk dari langit.


Bayangkan bagaimana rasanya hidup pada masa turunnya wahyu.

Setiap persoalan yang muncul menunggu jawaban dari langit.

Setiap kegelisahan mendapatkan bimbingan ilahi.

Setiap langkah diarahkan oleh Allah melalui Rasul-Nya.

Selama dua puluh tiga tahun, bumi seolah terus berhubungan dengan langit.

Itulah masa yang tak pernah terulang.

Ketika Rasulullah ï·º wafat, para sahabat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin.

Mereka kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar.

Hubungan langsung antara langit dan bumi telah berakhir.

Karena itulah Ummu Aiman menangis.

Ketika Abu Bakar dan Umar bertanya mengapa ia menangis, ia menjawab,

"Aku tahu apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah. Tetapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit."

Mendengar itu, Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis.

Tangisan itu bukan sekadar karena wafatnya Nabi.

Tangisan itu adalah kerinduan kepada masa ketika Allah terus membimbing umat ini melalui wahyu yang turun dari langit.


Namun jejak peristiwa itu tidak pernah berhenti.

Pengaruhnya terus hidup hingga hari ini.

Manusia dilahirkan kembali oleh Al-Qur'an.

Peradaban dibangun kembali di atas wahyu.

Sejarah berubah arah.

Manusia tidak lagi menjadikan bumi sebagai sumber nilai tertinggi, melainkan menjadikan langit sebagai pedoman kehidupannya.

Karena itu, turunnya wahyu pertama bukan hanya awal kenabian Muhammad ï·º.

Ia adalah kelahiran baru bagi kemanusiaan.


Lalu bagaimana dengan Rasulullah ï·º sendiri?

Apakah setelah menerima wahyu beliau dapat beristirahat?

Tidak.

Sejak saat itu beliau bangkit memikul amanah yang paling berat dalam sejarah manusia.

Beliau tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri.

Seluruh hidupnya diabdikan bagi dakwah.

Beliau menghadapi pertarungan melawan kebodohan, kemusyrikan, kezaliman, hawa nafsu, dan tipu daya setan.

Beliau membina jiwa para sahabat.

Beliau menghadapi penentangan Quraisy.

Beliau memimpin peperangan.

Beliau membangun masyarakat.

Beliau menegakkan peradaban.

Semua itu berlangsung lebih dari dua puluh tahun tanpa jeda.

Di tengah beratnya perjuangan itu, Allah menguatkan beliau melalui qiyamul-lail, tilawah Al-Qur'an, dzikir, kesabaran, dan ketergantungan penuh kepada Rabb semesta alam, sebagaimana ditegaskan dalam awal Surah Al-Muzzammil.

Di sanalah tampak bahwa kekuatan dakwah bukan hanya lahir dari strategi dan perjuangan di siang hari, tetapi juga dari munajat panjang pada malam hari.


Maka ketika kita membaca kata pertama yang turun dari langit,

"Iqra'..."

sesungguhnya kita sedang menyaksikan merekahnya fajar bagi seluruh umat manusia.

Fajar yang mengakhiri kegelapan jahiliah.

Fajar yang menyalakan mentari risalah.

Fajar yang hingga hari ini masih memancarkan cahaya bagi siapa pun yang bersedia membuka hati, membaca ayat-ayat Allah, dan menjadikan wahyu sebagai penuntun hidupnya.


Mengapa Tepi Barat Perlahan Menghilang? Di Balik Strategi Aneksasi Israel yang Jarang Terungkap ...

Mengapa Tepi Barat Perlahan Menghilang? Di Balik Strategi Aneksasi Israel yang Jarang Terungkap

Insiden berdarah di desa Tell baru-baru ini bukanlah sekadar catatan kaki dalam kronik konflik Timur Tengah; ia adalah mikrokosmos dari sebuah tragedi eksistensial yang lebih luas.

Ketika empat warga Palestina dan dua tentara Israel tewas dalam sebuah bentrokan yang dipicu oleh keputusasaan, kita tidak sedang melihat kekerasan acak.

Kita sedang menyaksikan retakan besar dari sebuah peta yang sedang dipaksa untuk hancur.

Pernahkah Anda berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita benar-benar sedang menyaksikan penghapusan sebuah wilayah secara sistematis dari ingatan dunia?

Di balik hiruk-pikuk berita utama tentang Gaza, Tepi Barat sedang diubah secara perlahan namun pasti—dari tanah warisan menjadi kepingan-kepingan terisolasi. Sebagai pengamat yang telah lama mengikuti denyut nadi wilayah ini, saya mengajak Anda untuk melihat melampaui angka-angka statistik, menuju arsitektur besar di balik lenyapnya Tepi Barat.


"Decisive Plan": Bukan Sekadar Reaksi, Melainkan Rancangan Sistematis

Di bawah kendali pemerintahan Netanyahu, yang kini diperkuat oleh ideolog sayap kanan seperti Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir, apa yang terjadi di lapangan bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah implementasi dari "Decisive Plan" atau Rencana Tuntas—sebuah cetak biru politik yang dirancang untuk mengakhiri perdebatan kedaulatan dengan cara yang absolut.

Rencana ini tidak bersembunyi di balik diplomasi yang halus. Ia memiliki tiga pilar yang menusuk langsung ke jantung keberadaan Palestina: penyitaan lahan maksimal, Yudaisasi melalui pemukiman masif, dan pengusiran sistematis penduduk aslinya.

"Pemerintah mengadopsi apa yang dikenal sebagai 'Decisive Plan' (Rencana Tuntas), yang didasarkan pada penyitaan lahan Palestina sebanyak mungkin, melakukan Yudaisasi dan pemukiman di atasnya, serta mengusir penduduk Palestina sebanyak mungkin."

Bagi aktor-aktor politik ini, tragedi 7 Oktober bukanlah sekadar krisis keamanan, melainkan "peluang" emas yang langka. Mereka menggunakan kabut perang sebagai tabir untuk mempercepat aneksasi de facto, mengubah realitas di lapangan sebelum dunia sempat berpaling kembali ke Tepi Barat.



Anatomi Kekerasan dalam Angka: Fakta yang Mengguncang

Dalam jurnalisme, kita sering mengatakan bahwa angka adalah bahasa yang paling jujur, namun dalam konteks Tepi Barat, angka-angka ini terasa seperti ratapan.

Sepanjang paruh pertama tahun ini saja, tercatat 11.074 serangan—sebuah intensitas yang menunjukkan bahwa kekerasan telah menjadi kebijakan harian.

Namun, mari kita lihat apa yang ada di balik angka tersebut. Ketika kita membaca bahwa 26.000 pohon zaitun telah dihancurkan, kita tidak hanya berbicara tentang kehilangan komoditas ekonomi. Kita sedang membicarakan kematian warisan lintas generasi yang dicabut paksa dari akarnya; sebuah upaya untuk memutus ikatan batin antara manusia dan tanahnya.

Selain dampak fisik, ada sabotase ekonomi yang melumpuhkan: penyitaan dana pendapatan kliring sebesar $5 miliar yang menjadi urat nadi Otoritas Palestina (PA), serta pencurian 15.000 ekor ternak yang merampas kedaulatan pangan warga desa.



Realitas Penghancuran Pasca-7 Oktober di Tepi Barat 

Kematian
> 1.200 Jiwa

Penangkapan & Penahanan
> 20.000 Orang Disertai Penyiksaan

Serangan (6 Bulan Pertama)
11.074 Serangan (Settler & Militer)

Komunitas yang Dihapus
118 Komunitas Perumahan Lenyap

Kerusakan Alam
45.000 Pohon (26.000 Pohon Zaitun)



Memudarnya Garis Batas: Ketika Area A, B, dan C Menjadi Satu Penjara Besar

Selama puluhan tahun, dunia mengenal Area A, B, dan C sebagai kerangka administratif yang, meski cacat, memberikan sedikit ruang bagi aspirasi Palestina.

Namun sekarang, garis-garis itu telah memudar menjadi satu warna pendudukan yang kelam.

Militer Israel kini memasuki Area A—wilayah yang seharusnya di bawah kendali penuh Palestina—kapan pun mereka mau.

Langkah yang paling mengejutkan sekaligus provokatif adalah rencana Smotrich untuk membangun 100 pos pemukiman baru langsung di dalam Area A. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum internasional; ini adalah lonceng kematian bagi solusi dua negara.

Dengan 1.200 pos pemeriksaan dan gerbang besi yang baru dibangun, desa-desa Palestina kini telah bermutasi menjadi "pulau-pulau terisolasi".

Strategi ini secara fungsional telah membunuh otoritas sipil Palestina, mengubah hak bergerak warga menjadi hak yang harus dibeli dengan ketundukan di dalam satu penjara besar yang terfragmentasi.



Paradoks Kekuatan: Citra yang Retak di Balik Superioritas Militer

Ada sebuah paradoks tajam yang saya amati di balik superioritas teknologi dan militer Israel. Meskipun mereka mampu menyita lahan dan menghancurkan komunitas, Israel tampak semakin rapuh secara politik dan bergantung secara total pada sokongan Amerika Serikat.

Keunggulan militer mereka gagal menghasilkan kemenangan telak yang mampu membentuk kembali Timur Tengah sesuai keinginan mereka.

Narasi Zionis yang selama ini mendominasi panggung global kini menghadapi keretakan moral yang sulit diperbaiki. Di saat otoritas militer merasa di atas angin, badan moral dunia justru melihat tanda-tanda bahaya bagi kemanusiaan secara luas.

"The Elders (Komite Tetua Dunia) memperingatkan bahaya hilangnya Palestina dari peta karena percepatan perluasan pemukiman, legalisasi pos-pos ilegal, dan ekspansi pemukiman yang ada."

Di balik penyitaan tanah tersebut, tersimpan fakta yang tak bisa dihapus oleh senjata: jumlah penduduk Palestina di tanah historis masih setara atau bahkan melampaui jumlah penduduk Yahudi.

Banyak tanah yang disita kini menjadi ruang kosong yang sunyi—lahan yang kekurangan pemukim namun dijaga ketat oleh moncong senapan.



Kesimpulan: Masa Depan yang Dipertaruhkan dan Seruan untuk Bertindak

Strategi jangka panjang "Israel Raya" yang membentang dari sungai hingga laut bukan lagi sekadar mimpi kelompok pinggiran; ia telah menjadi kebijakan resmi yang dijalankan dengan dingin.

Tujuannya jelas: mengosongkan lahan dari penduduk aslinya untuk menyempurnakan ambisi ekspansionis.

Namun, di tengah kepungan tembok dan pos pemeriksaan, warga Palestina memiliki satu senjata yang sulit ditaklukkan: Sumud atau keteguhan hati. 

Dalam realitas yang menyesakkan ini, tindakan paling radikal yang bisa dilakukan oleh seorang warga Palestina adalah sekadar tetap bernapas, tetap bertahan, dan menolak untuk beranjak dari tanah mereka.

Ke depan, keberadaan fisik ini harus didukung oleh kesatuan nasional yang melampaui sekat faksi politik. Pembentukan komite perlindungan populer di tiap desa bukan lagi sekadar pilihan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan hidup.

Dunia internasional harus bertanya pada dirinya sendiri: apakah kita akan terus membiarkan "kebijakan fakta di lapangan" menggantikan hukum internasional hingga peta itu benar-benar kosong? Ataukah masih ada nurani yang tersisa untuk memastikan bahwa keadilan tidak ikut lenyap bersama tanah yang perlahan menghilang ini?

Kebangkitan Neosufisme Bagaimana mungkin tasawuf, yang pada mulanya sering dipan...

Kebangkitan Neosufisme



Bagaimana mungkin tasawuf, yang pada mulanya sering dipandang bertentangan dengan ortodoksi Islam, justru kemudian menjadi bagian penting dari arus utama tradisi keilmuan Islam? Apa yang membuat hubungan yang semula penuh ketegangan berubah menjadi sintesis yang melahirkan gerakan pembaruan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita memahami dinamika kehidupan intelektual Islam menjelang berakhirnya Abad Pertengahan.

Ketika Tasawuf Mengalami Perubahan

Pada masa-masa akhir Abad Pertengahan, kehidupan keagamaan Islam masih diwarnai oleh ketegangan antara Islam ortodoks dan dunia tasawuf.

Mengapa ketegangan itu muncul?

Sejak abad ke-4 H/10 M dan seterusnya, berkembang berbagai doktrin baru di lingkungan tarekat yang dalam banyak hal dipandang tidak lagi sejalan dengan semangat Islam ortodoks, bahkan berbeda dari praktik para sufi generasi awal.

Padahal, selama tiga abad pertama Hijriah, kehidupan para sufi memperlihatkan karakter yang sangat berbeda. Mereka dikenal mandiri, kreatif, sederhana, dan memiliki semangat spiritual yang tinggi. Tasawuf ketika itu lebih merupakan perjalanan penyucian jiwa daripada sebuah organisasi yang ketat.

Namun, seiring berkembangnya institusi tarekat, orientasi itu perlahan berubah.

Disiplin organisasi semakin diperketat. Ketaatan mutlak kepada syaikh menjadi syarat utama perjalanan spiritual.

Jika Junaid al-Baghdadi pernah mengajarkan bahwa seorang salik harus bersikap seperti wayang di hadapan Tuhannya—sepenuhnya tunduk kepada Allah—maka pada masa berikutnya berkembang ungkapan bahwa seorang murid harus seperti "mayat di tangan orang yang memandikannya", yakni menyerahkan diri sepenuhnya kepada pembimbing tarekat.

Perubahan inilah yang memunculkan kritik dari banyak kalangan ulama.

Upaya Menjembatani Dua Kutub

Apakah ketegangan itu dibiarkan terus berlangsung?

Ternyata tidak.

Sejak abad ke-3 H/9 M, sejumlah tokoh sufi mulai berusaha mempertemukan tasawuf dengan syariat. Tokoh-tokoh seperti Al-Kharraz dan Junaid al-Baghdadi berusaha menjaga agar pengalaman spiritual tetap berada dalam koridor Al-Qur'an dan Sunnah.

Mereka tidak ingin tasawuf kehilangan ruhnya, tetapi juga tidak ingin ia keluar dari batas-batas ajaran Islam.

Dalam proses ini, hadis memainkan peranan yang sangat penting.

Semakin banyak hadis yang dipelajari, disebarkan, dan dijadikan landasan praktik tasawuf. Di satu sisi hadis-hadis tersebut memperkuat dimensi spiritual Islam, tetapi di sisi lain juga menjadi instrumen untuk mengembalikan tasawuf kepada syariat.

Dengan demikian, tasawuf tidak lagi berdiri berhadap-hadapan dengan ortodoksi, melainkan mulai mencari titik temu dengannya.

Al-Ghazali dan Lahirnya Sintesis Besar

Puncak proses rekonsiliasi itu terjadi pada diri Imam Al-Ghazali.

Melalui karya-karyanya yang monumental, beliau berhasil menyatukan tasawuf, fikih, dan ilmu kalam dalam satu bangunan pemikiran yang utuh.

Mengapa sintesis Al-Ghazali begitu berpengaruh?

Karena beliau tidak hanya mempertahankan ortodoksi, tetapi juga memberikan fondasi spiritual yang kokoh bagi kehidupan beragama.

Tasawuf tidak lagi dipahami sebagai pelarian dari kehidupan, melainkan sebagai jalan untuk menyucikan hati sekaligus memperkuat pelaksanaan syariat.

Di tangan Al-Ghazali, tasawuf dibersihkan dari berbagai unsur yang dipandang tidak bersumber dari ajaran Islam, kemudian diarahkan kembali untuk menguatkan akhlak, ibadah, dan ketakwaan.

Sejak saat itu, tasawuf diterima sebagai bagian integral dari Islam ortodoks.

Munculnya Neosufisme

Setelah abad ke-6 H/12 M dan ke-7 H/13 M, pengaruh tasawuf semakin meluas di seluruh Dunia Islam.

Para ulama mulai menyadari bahwa mustahil mengabaikan kekuatan spiritual yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Lalu bagaimana mereka menyikapinya?

Alih-alih terus menentang tasawuf, mereka memilih melakukan pembaruan dari dalam.

Warisan tasawuf yang sejalan dengan syariat dipertahankan, sedangkan unsur-unsur yang dianggap berlebihan mulai ditinggalkan.

Perhatian kembali diarahkan kepada pembinaan akhlak, penyucian jiwa, penguatan iman, dan pengendalian diri.

Praktik-praktik seperti zikir dan muraqabah tetap dipertahankan, tetapi makna dan orientasinya semakin ditegaskan agar selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Sunnah.

Fazlur Rahman menyebut corak pembaruan ini sebagai neosufisme.

Berbeda dari tasawuf yang cenderung menjauh dari kehidupan sosial, neosufisme justru mendorong keterlibatan aktif dalam masyarakat.

Spiritualitas tidak dipisahkan dari tanggung jawab sosial.

Kesalehan pribadi harus melahirkan kesalehan sosial.

Kesadaran Baru akan Pembaruan

Menjelang abad ke-11 H/17 M, muncul kesadaran yang semakin luas bahwa masyarakat Muslim memerlukan pembaruan moral dan keagamaan.

Kesadaran ini tidak lahir di satu wilayah saja.

Di berbagai penjuru Dunia Islam muncul gerakan-gerakan pembaruan yang memiliki karakter serupa: menghidupkan kembali kemurnian akidah, memperkuat syariat, memperdalam spiritualitas, dan memperbaiki moral masyarakat.

Lalu dari mana gerakan besar itu memperoleh energinya?

Jawabannya mengarah kepada dua kota suci.

Haramain sebagai Pusat Jaringan Keilmuan

Makkah dan Madinah bukan sekadar tempat ibadah.

Keduanya menjadi pusat pertemuan ulama dari seluruh Dunia Islam.

Perkembangan transportasi dan perdagangan sejak abad ke-11 H/17 M membuat perjalanan menuju Haramain menjadi jauh lebih mudah.

Kapal-kapal dagang yang melintasi Samudra Hindia maupun Laut Tengah membuka jalur komunikasi yang semakin intensif.

Akibatnya, ulama dari Hijaz, Yaman, Persia, India, Nusantara, Mesir, Afrika Utara, hingga Maroko dapat bertemu secara langsung.

Mereka belajar bersama, berdiskusi, bertukar sanad keilmuan, bahkan saling memengaruhi dalam cara berpikir.

Dari sinilah lahir sebuah jaringan ulama internasional yang bersifat kosmopolit.

Lahirnya Komunitas Intelektual Dunia Islam

Apa yang menarik dari jaringan ulama ini?

Mereka tidak disatukan oleh organisasi formal.

Mereka juga tidak dibatasi oleh perbedaan mazhab fikih ataupun afiliasi tarekat.

Sebagian besar memang berasal dari mazhab Syafi'i dengan dukungan ulama Maliki, tetapi hubungan mereka jauh melampaui batas-batas mazhab.

Yang mempersatukan mereka adalah semangat mencari ilmu, saling belajar, dan cita-cita memperbaiki kondisi umat.

Seorang murid tidak hanya belajar kepada satu guru.

Ketika musim haji tiba, mereka memanfaatkan kesempatan bertemu dengan para ulama dari berbagai negeri untuk memperluas wawasan intelektualnya.

Dengan demikian, Haramain menjadi pusat pertukaran ilmu pengetahuan Islam pada tingkat global.

Kebangkitan Studi Hadis

Salah satu ciri penting jaringan ulama tersebut adalah bangkitnya perhatian terhadap hadis.

Mengapa hadis mendapat perhatian yang begitu besar?

Karena hadis dipandang sebagai standar praktis untuk menilai berbagai praktik keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Para ulama tidak lagi sekadar mempelajari Kutub al-Sittah sebagai kajian akademik.

Mereka berusaha menelusuri riwayat-riwayat lain, mengujinya, kemudian menjadikannya sebagai pedoman pembaruan kehidupan umat.

Telaah hadis pun berubah orientasi.

Tujuannya bukan hanya memperkaya ilmu, tetapi juga memperbaiki kehidupan.

Hadis menjadi landasan rekonstruksi sosial, moral, dan spiritual masyarakat Muslim.

Hadis dan Tasawuf Bertemu Kembali

Menariknya, kebangkitan studi hadis berjalan seiring dengan pembaruan tasawuf.

Bagi banyak ulama, keduanya bukanlah dua dunia yang saling bertentangan.

Hadis menjadi alat untuk menyaring praktik tasawuf, sedangkan tasawuf memberikan dimensi spiritual terhadap pengamalan hadis.

Ikatan tarekat juga mempererat hubungan personal di antara para ulama.

Tidak sedikit muhaddits besar yang sekaligus menjadi tokoh tarekat.

Mereka memadukan ketelitian ilmiah dengan kedalaman spiritual.

Jaringan Ulama sebagai Motor Pembaruan

Pada akhirnya, kekuatan utama jaringan ulama internasional bukan terletak pada adanya organisasi formal ataupun keseragaman doktrin.

Yang menyatukan mereka adalah visi bersama.

Mereka memiliki cita-cita yang sama, yaitu membangun kembali kehidupan umat melalui pembaruan akidah, akhlak, ilmu pengetahuan, dan moral sosial.

Hubungan guru dan murid membentuk mata rantai keilmuan yang melintasi negeri-negeri Muslim.

Melalui jaringan inilah lahir para ulama yang kemudian kembali ke daerah masing-masing, termasuk Nusantara, membawa semangat pembaruan yang berpijak pada Al-Qur'an, Sunnah, tasawuf yang dimurnikan, serta penguatan kehidupan sosial umat.

Dengan demikian, jaringan ulama Haramain bukan sekadar jaringan transmisi ilmu.

Ia merupakan jaringan peradaban yang menghubungkan dunia Islam melalui sanad keilmuan, spiritualitas, dan visi pembaruan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Agama Bani Israil: Dari Tauhid Menuju Penyimpangan Akidah ...


Agama Bani Israil: Dari Tauhid Menuju Penyimpangan Akidah


Bagaimana sebuah umat yang menerima risalah tauhid dapat mengalami penyimpangan akidah? Bagaimana ajaran yang dibangun di atas fondasi kemurnian tauhid berubah menjadi keyakinan yang, menurut penulis, dipenuhi unsur-unsur keberhalaan dan eksklusivisme rasial?

Inilah pertanyaan yang menjadi titik tolak pembahasan.

Menurut penulis, agama Bani Israil yang diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya mengalami perubahan yang mendasar. Padahal, Israil (Nabi Ya'qub a.s.), putra Nabi Ishaq a.s. dan cucu Nabi Ibrahim a.s., telah menerima ajaran tauhid murni dari leluhurnya. Setelah itu, Allah mengutus para nabi dari kalangan mereka sendiri, hingga datang Nabi Musa a.s. membawa syariat yang berlandaskan tauhid.

Namun perjalanan sejarah mereka, menurut penulis, justru menunjukkan penyimpangan yang berlangsung secara bertahap. Konsep ketuhanan yang semula suci mengalami perubahan. Berbagai mitos dan gambaran antropomorfis tentang Tuhan masuk ke dalam sebagian tradisi keagamaan mereka sehingga, menurut penulis, tidak lagi mencerminkan kemurnian tauhid yang diajarkan para nabi.

Warisan Tauhid Nabi Ibrahim

Al-Qur'an menggambarkan Nabi Ibrahim a.s. sebagai peletak dasar tauhid yang murni, universal, dan terbebas dari segala bentuk kemusyrikan.

Ketika kaumnya menyembah berhala, Ibrahim mengajak mereka berpikir:

"Apakah berhala-berhala itu mendengar doa kalian? Dapatkah mereka memberi manfaat atau menolak mudarat?"

Melalui dialog itu, Ibrahim menegaskan bahwa hanya Allah, Tuhan semesta alam, yang menciptakan, memberi rezeki, menyembuhkan, mematikan, menghidupkan kembali, dan mengampuni dosa manusia. (QS. Asy-Syu'ara: 69–89).

Menjelang wafatnya, Ibrahim mewariskan akidah tersebut kepada anak-anaknya. Wasiat yang sama diteruskan oleh Nabi Ya'qub a.s. kepada keturunannya:

«"Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri kepada Allah."»

(QS. Al-Baqarah: 130–133).

Pesannya sederhana tetapi mendasar: tetaplah berpegang teguh kepada tauhid.

Datangnya Musa dan Ujian Bani Israil

Apakah generasi berikutnya mempertahankan warisan itu?

Menurut Al-Qur'an, jawabannya tidak seluruhnya demikian.

Allah mengutus Nabi Musa a.s. membawa syariat yang meneguhkan kembali tauhid, mengajarkan penyucian Allah (tanzih), keadilan, kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap fakir miskin, larangan menumpahkan darah, serta kewajiban menunaikan ibadah.

Semua prinsip itu ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 83–85.

Namun Al-Qur'an juga mencatat bahwa sebagian dari mereka berulang kali melanggar perjanjian tersebut. Mereka saling membunuh, saling mengusir sesama, serta mengabaikan amanat yang telah mereka ikrarkan.

Penyimpangan yang Terjadi Sejak Masa Musa

Penyimpangan itu, menurut Al-Qur'an, bahkan telah muncul ketika Nabi Musa masih hidup.

Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah penyembahan anak sapi emas yang dibuat oleh Samiri ketika Musa meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu di Bukit Sinai.

Al-Qur'an menyebutkan bahwa kecintaan kepada anak sapi itu telah meresap ke dalam hati mereka akibat kekafiran mereka (QS. Al-Baqarah: 92–93).

Bahkan sebelumnya, setelah keluar dari Mesir, mereka melewati suatu kaum yang sedang menyembah berhala. Melihat pemandangan itu, mereka berkata kepada Musa:

«"Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan."»

Musa menjawab bahwa mereka adalah kaum yang tidak memahami hakikat ketuhanan, karena segala sesuatu yang disembah selain Allah pada akhirnya akan binasa (QS. Al-A'raf: 138–139).

Pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah kaum yang baru saja menyaksikan mukjizat pembelahan laut masih meminta dibuatkan berhala?

Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa kebiasaan dan warisan budaya yang telah mengakar sering kali lebih sulit diubah daripada sekadar berpindah tempat.

Gambaran Al-Qur'an tentang Penyimpangan Akidah

Dalam sejumlah ayat lain, Al-Qur'an menyebut berbagai keyakinan yang dinilai menyimpang, di antaranya:

- pernyataan bahwa Uzair adalah putra Allah (QS. At-Taubah: 30);
- ungkapan yang menisbatkan sifat kekurangan kepada Allah, seperti mengatakan "tangan Allah terbelenggu" (QS. Al-Ma'idah: 64);
- ucapan bahwa Allah miskin sedangkan mereka kaya (QS. Ali 'Imran: 181);
- tuntutan agar dapat melihat Allah secara langsung sebelum beriman (QS. Al-Baqarah: 55).

Bagi Al-Qur'an, semua itu merupakan penyimpangan dari prinsip tauhid dan penyucian Allah.

Kritik terhadap Sikap Eksklusif

Menurut penulis, penyimpangan tersebut tidak hanya menyangkut persoalan akidah, tetapi juga melahirkan cara pandang yang eksklusif terhadap kelompok lain.

Sebagai contoh, Al-Qur'an mengutip ucapan sebagian dari mereka:

«"Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi."»

(QS. Ali 'Imran: 75).

Ayat ini dijadikan penulis sebagai contoh munculnya sikap yang membedakan perlakuan moral terhadap sesama kelompok dan terhadap pihak di luar kelompok.

Kritik terhadap Gambaran Antropomorfis dalam Sebagian Teks

Penulis kemudian mengutip beberapa bagian dari Kitab Kejadian dan Kitab Samuel yang, menurut pandangannya, menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat manusia, seperti berjalan di taman, mencari Adam, menyesal karena menciptakan manusia, turun untuk melihat Menara Babel, atau menyesal setelah menurunkan bencana.

Menurut penulis, gambaran-gambaran tersebut berbeda dengan konsep ketuhanan dalam Al-Qur'an yang menegaskan kesempurnaan Allah, kemahatahuan-Nya, dan keterbebasan-Nya dari sifat-sifat makhluk.

Penutup

Dari sudut pandang penulis, perjalanan sejarah Bani Israil memperlihatkan sebuah pelajaran penting.

Tauhid tidak hanya dapat hilang karena penyembahan berhala secara fisik. Ia juga dapat terkikis melalui perubahan cara berpikir, penafsiran yang menyimpang, pengkultusan identitas kelompok, atau gambaran tentang Tuhan yang tidak lagi sesuai dengan ajaran para nabi.

Karena itu, Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk kembali kepada agama Ibrahim: tauhid yang murni, penyucian Allah, keadilan, dan kepasrahan sepenuhnya kepada Tuhan semesta alam.

Bidah Zionisme Menurut Roger Garaudy Fundamentalisme, sebagai pengge...



Bidah Zionisme Menurut Roger Garaudy


Fundamentalisme, sebagai penggerak kekerasan dan peperangan, adalah penyakit yang mematikan di masa kini. Buku ini merupakan bagian dari trilogi yang saya persembahkan untuk melawan berbagai bentuk fundamentalisme.

Dalam buku Grandeur et décadence de l'Islam ("Kebesaran dan Kemerosotan Islam"), saya mengungkapkan bahwa pusat fundamentalisme Islam berada di Arab Saudi. Saya menyebut Raja Fahd—orang yang terlibat dalam invasi Amerika Serikat ke Timur Tengah—sebagai "pelacur politik" yang menjadikan Islamisme sebagai penyakit bagi umat Islam itu sendiri.

Dua karya lainnya membahas fundamentalisme Katolik Roma. Dengan dalih membela kehidupan, mereka secara gigih berbicara tentang penolakan terhadap abrasi atau pengguguran embrio, tetapi diam seribu bahasa ketika tigabelas setengah juta anak meninggal setiap tahun akibat kelaparan dan kekurangan gizi. Mereka adalah korban dari "monoteisme pasar bebas" yang didominasi oleh Amerika Serikat. Karya-karya yang menentang dominasi perekonomian pasar tersebut berjudul Avons-nous Besoin de Dieu? ("Apakah Kita Membutuhkan Tuhan?") dan Vers une Guerre de Religion ("Ke Arah Perang Agama").

Lembaran ketiga dari triptik (dokumen berlembar tiga) tersebut berjudul Les Mythes Fondateurs de la Politique Israélienne ("Mitos-Mitos Dasar Politik Israel") yang mengungkap bidah dari Zionisme politik. 

Bidah ini meliputi penggantian Tuhan Israel dengan Negara Israel, kapal induk nuklir, serta persekutuan dengan Amerika Serikat sebagai penguasa sementara dunia untuk merampas minyak bumi Timur Tengah yang menjadi saraf pertumbuhan Dunia Barat.
Model pertumbuhan yang diterapkan melalui Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengakibatkan Dunia Ketiga harus menanggung biaya harian yang setara dengan korban bom atom di Hiroshima. Sejak pernyataan Lord Balfour ketika ia mempersembahkan kepada kaum Zionis sebuah negara yang bukan milik mereka—"Tidak penting sistem apa yang akan diberlakukan, yang penting minyak tersebut tetap dapat diperoleh" (John Kimche, Palestine ou Israel, Paris: Albin Michel, 1973, hlm. 27)—hingga pernyataan Menteri Luar Negeri AS Cordell Hull, "Sangat perlu dimengerti bahwa minyak Saudi Arabia merupakan salah satu pengumpil yang paling kuat di dunia" (ibid., hlm. 240), politik yang sama menugaskan misi yang sama pula kepada para pemimpin Zionis Israel.

Joseph Luns, mantan Sekretaris Jenderal NATO, mendefinisikan peran ini secara terbuka: "Israel merupakan tentara sewaan yang paling murah dalam abad modern ini." (Nadav Shragaï, Haaretz, 13 Maret 1992).

Biarpun berstatus sebagai tentara bayaran, Israel ternyata memperoleh imbalan yang lumayan. Pada periode 1951–1959, dua juta penduduk Israel menerima bantuan luar negeri per kapita seratus kali lipat lebih banyak ketimbang dua miliar penduduk dunia lainnya, tentu saja di bawah perlindungan luar biasa.

Dari tahun 1972 hingga 1996, Amerika Serikat telah memveto tiga puluh kali resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengutuk tindakan Israel.

Sementara itu, para pemimpin Israel menerapkan program disintegrasi terhadap seluruh negara Timur Tengah.

Program ini dibeberkan oleh majalah Kivounim (Orientasi) No. 4, Februari 1982, hlm. 50–59, saat invasi Israel ke Lebanon. Israel dapat bertahan berkat sokongan tanpa syarat dari Amerika Serikat, berlandaskan pandangan bahwa hukum internasional tidak lebih dari "kertas gombrong" (menurut Ben-Gurion), serta Resolusi PBB No. 242 dan 338 yang menuntut penarikan Israel dari Yordania dan Golan dianggap sekadar "macan kertas".

Hal serupa berlaku pada pengutukan secara bulat atas aneksasi Yerusalem: meskipun Amerika Serikat menyetujuinya, tak satu pun sanksi yang pernah dikenakan kepada Israel.

Sebuah politik yang tidak diakui secara mendasar tentu membutuhkan kamuflase, dan buku ini hadir untuk membuka kedok kamuflase tersebut.

Pertama, alasan agresi yang dijustifikasikan secara teologis sangatlah meragukan karena didasarkan pada pembacaan fundamentalis atas teks kitab suci dengan cara mengubah mitos menjadi sejarah.

Simbol mulia ketaatan tanpa syarat Nabi Ibrahim kepada Tuhan serta keberkahannya bagi "seluruh bangsa di bumi" dibelokkan ke arah yang berlawanan menjadi konsep sukuisme eksklusif.

Konsep "tanah yang ditaklukkan" diubah menjadi "tanah yang dijanjikan", persis seperti klaim bangsa-bangsa lain di Timur Tengah pada masa lalu, mulai dari Mesopotamia, Het (Hittit), hingga Mesir kuno.

Hal serupa terjadi pada konsep Eksodus, yang mulanya merupakan simbol abadi pembebasan manusia dari penindasan dan tirani—sebagaimana disitir baik oleh Al-Qur'an (Surah Ad-Dukhaan ayat 31–32) maupun oleh para teolog pembebasan masa kini. 

Konsep pembebasan universal yang ditujukan bagi seluruh bangsa yang setia kepada kehendak Tuhan Yang Maha Universal justru direduksi menjadi mukjizat unik dan hak istimewa yang dilimpahkan hanya kepada satu bangsa pilihan.

Misi bangsa ini lantas disamakan dengan slogan-slogan penaklukan sejarah lainnya: Gesta Dei per Francos bagi bangsa Prancis, Gott mit uns bagi bangsa Jerman, Faire Christ Roi bagi rezim Franco, hingga ungkapan In God We Trust pada setiap lembaran dolar yang merujuk pada kekuasaan monoteisme uang dan pasar.

Berikutnya adalah mitologi yang lebih modern: mitologi negara Israel sebagai "jawaban Tuhan atas Holocaust", seolah-olah Israel merupakan satu-satunya suaka bagi para korban kekejaman Hitler.

Padahal, Itzhak Shamir sendiri—yang pernah menawarkan persekutuan kepada Hitler hingga ditangkap oleh Inggris atas tuduhan berkolaborasi dengan musuh dan terorisme—menulis:

"Bertentangan dengan opini umum, kebanyakan imigran Israel bukanlah sisa-sisa korban yang masih hidup dari Holocaust, melainkan orang-orang Yahudi dari negara-negara Arab yang merupakan pribumi di negara-negara Timur Tengah." (Itzhak Shamir, Looking Ahead, 1987, hlm. 574).

Oleh karena itu, muncul kebutuhan untuk menggelembungkan jumlah korban.

Sebagai contoh, hingga tahun 1994, prasasti peringatan di monumen Auschwitz menyebutkan angka empat juta korban, sementara prasasti-prasasti baru kemudian meralatnya menjadi sekitar 1,5 juta korban.

Angka-angka ini dibentuk sedemikian rupa agar masyarakat percaya bahwa Holocaust—dengan mitos enam juta korban—merupakan genosida terbesar dalam sejarah umat manusia, dengan mengabaikan pembantaian 60 juta penduduk asli Indian, 100 juta orang kulit hitam (di mana rasio kematian sepuluh orang untuk setiap satu yang ditangkap), korban bom Hiroshima dan Nagasaki, serta 50 juta korban Perang Dunia II yang 17 juta di antaranya merupakan bangsa Slavia.

Seolah-olah Hitlerisme hanyalah sebuah program pemusnahan yang ditujukan secara eksklusif kepada orang Yahudi, dan bukan sebuah kejahatan kemanusiaan terhadap seluruh umat manusia. 

Apakah seseorang akan serta-merta dicap antisemit apabila ia menyatakan bahwa orang-orang Yahudi memang telah terpukul secara dahsyat, tetapi mereka bukanlah satu-satunya korban—meskipun program-program televisi hampir selalu hanya membicarakan korban Yahudi dan melupakan korban-korban yang lain?
Selain itu, untuk melengkapi kamuflase teologis atas Holocaust tersebut, pembantaian riil ini kerap diberi karakter pengorbanan dan disusupkan ke dalam perencanaan ilahi, persis seperti analogi penyaliban Yesus.

Buku ini semata-mata bertujuan untuk membeberkan kamuflase ideologis dari suatu agenda politik tertentu, agar tidak ada pihak yang mencampuradukkan kamuflase tersebut dengan tradisi besar para nabi Israel. 

Bersama kawan saya Bernard Lecache—pendiri LICA (yang kini menjadi LICRA: Ligue Internationale Contre le Racisme et l'Antisémitisme atau Liga Internasional Melawan Rasisme dan Antisemitisme) yang dideportasi ke kamp konsentrasi yang sama dengan saya—kami mengajarkan kepada para sahabat di kamp tentang kebesaran universalisme dan kekuatan pembebasan dari para nabi Yahudi tersebut.

Saya tetap setia pada pesan kenabian ini, sekalipun setelah 35 tahun menjadi aktivis di Partai Komunis Prancis dan anggota Politbiro-nya, saya dikeluarkan dari partai pada tahun 1970 karena sejak tahun 1968 saya telah menegaskan: "Uni Soviet bukan negara sosialis." Sebagaimana saya nyatakan hari ini: teologi yang bersumber dari dominasi sentral Vatikan telah mencederai ajaran Kristus, Islamisme mengkhianati Islam, dan Zionisme politik berada pada kutub yang berlawanan dengan ajaran besar kenabian bangsa Yahudi.

Ketika terjadi perang di Lebanon pada tahun 1982, saya bersama Bapa Lelong, Pastor Matthiot, dan Jacques Fauvet dibawa ke pengadilan oleh LICRA karena memuat artikel dalam harian Le Monde edisi 17 Juni 1982. 

Artikel tersebut menyatakan bahwa invasi Israel ke Lebanon merupakan konsekuensi logis dari Zionisme politik. Pengadilan Paris melalui persidangan tanggal 24 Maret 1983—yang diperkuat oleh Pengadilan Banding dan kemudian secara definitif oleh Mahkamah Agung—memutuskan bahwa artikel tersebut merupakan bentuk kritik yang sah dan legal terhadap politik suatu negara beserta ideologi yang menginspirasinya, dan sama sekali bukan sebuah provokasi rasial.

Pengadilan pun menolak seluruh tuntutan LICRA serta membebankan biaya perkara kepada mereka.

Buku ini tetap konsisten pada garis kritik yang telah saya lancarkan sebelumnya, meskipun undang-undang Gaysot berupaya memperkuat penindasan terhadap kebebasan berpendapat dengan menjadikan keputusan Pengadilan Nuremberg terhadap para pelaku kriminal Perang Dunia II sebagai kriteria tunggal kebenaran sejarah.

Undang-undang yang RUU-nya pernah ditentang oleh M. Toubon (yang kemudian menjabat sebagai Menteri Kehakiman, 1995–1997) di Majelis Rendah Prancis (Assemblée Nationale) tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat.

Kami menulis buku ini untuk memberikan kontribusi nyata bagi perjuangan perdamaian sejati yang didirikan di atas fondasi penghormatan terhadap kebenaran dan hukum internasional.

Setelah terungkapnya berbagai tindakan buruk mereka, demi perdamaian dunia, orang-orang Yahudi di Israel yang taat kepada ajaran nabi-nabi mereka, para sejarawan baru dari Universitas Ibrani Yerusalem, serta warga Israel pendukung perdamaian yang adil telah secara berani mempertanyakan kembali "mitos-mitos" Zionisme politik yang justru menjerumuskan figur-figur ekstrem seperti Baruch Goldstein dalam membantai warga Palestina dan Yigal Amir dalam membunuh Perdana Menteri Yitzhak Rabin.

Kebenaran sedang bergerak maju, dan tak satu pun kekuatan yang mampu menghentikannya.

Terorisme intelektual yang dilancarkan oleh kalangan "lobi"—seperti yang pernah disinggung oleh Jenderal de Gaulle—serta pengaruhnya yang berlebihan terhadap informasi publik di Prancis, memaksa saya untuk mengalihkan publikasi teks ini melalui majalah edisi khusus khusus pelanggan. 

Proses penerbitan teks tersebut di Prancis ternyata lebih banyak menarik perhatian para komentator ketimbang substansi isinya sendiri. Oleh karena itu, saya kemudian menerbitkannya secara mandiri dalam bentuk samizdat (istilah Rusia untuk penerbitan mandiri oleh pengarang).

Buku ini kini telah diterjemahkan dan diterbitkan di Amerika Serikat, Italia, Lebanon, Turki, Brasil, Jerman, dan Rusia.
Bertolak belakang dengan mitologi yang menyesatkan tersebut, karya ini merupakan sebuah kontribusi baru bagi kritik sejarah kontemporer.

Tujuan Pembebasan Palestina  Bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit setelah mengalami kekalahan? Apa lang...

Tujuan Pembebasan Palestina 


Bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit setelah mengalami kekalahan? Apa langkah pertama yang harus dilakukan sebelum berbicara tentang strategi, kekuatan, atau pengorbanan?

Jawabannya bukan dimulai dari senjata ataupun jumlah pasukan, melainkan dari kejelasan tujuan.

Tujuan Menentukan Arah Perjuangan

Setiap perjalanan selalu diawali dengan tujuan yang jelas. Tanpa tujuan, jalan menjadi kabur, pengorbanan kehilangan makna, dan strategi berubah menjadi sekadar reaksi terhadap keadaan.

Karena itu, sebelum membicarakan cara mencapai kemenangan, terlebih dahulu harus dijawab satu pertanyaan mendasar:

Apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai?

Sesudah Perang Juni 1967, bermunculan berbagai slogan yang menekankan penghentian permusuhan serta pemulihan wilayah-wilayah yang diduduki. Namun, pertanyaannya adalah:

Apakah penghentian permusuhan itu sendiri merupakan tujuan akhir, atau hanya salah satu tahapan menuju tujuan yang lebih besar?

Apakah Memulihkan Keadaan Sebelum Perang Sudah Cukup?

Pandangan pragmatis beranggapan bahwa keberhasilan cukup diukur dengan kembalinya keadaan seperti sebelum perang: wilayah dikembalikan, perbatasan dipulihkan, lalu konflik dianggap selesai.

Namun penulis mempertanyakan logika tersebut.

Bukankah setiap perang justru mengubah titik awal tuntutan?

Sesudah pembagian wilayah Palestina ditolak, wilayah yang dikuasai bertambah. Setelah Perang 1956 muncul tuntutan kembali ke batas sebelumnya. Sesudah Perang 1967 tuntutan kembali bergeser kepada batas baru sebelum perang itu.

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin tajam.

Apakah setiap kali terjadi perang, pihak yang dirugikan hanya akan berusaha kembali ke kondisi sebelum perang terakhir, sementara perubahan-perubahan sebelumnya perlahan diterima sebagai kenyataan?

Dalam sudut pandang penulis, pola demikian membuat pihak yang menggunakan kekuatan memperoleh keuntungan politik secara bertahap.

Antara Pengembalian Hak dan Tujuan Akhir

Demikian pula mengenai pengembalian para pengungsi Palestina.

Mengembalikan mereka kepada rumah, tanah, dan harta benda mereka dipandang sebagai kewajiban moral. Namun penulis mengajukan pertanyaan lain.

Di bawah pemerintahan siapa mereka akan kembali?

Pertanyaan ini menunjukkan bahwa, menurut penulis, pemulihan hak-hak individu tidak dapat dipisahkan dari persoalan politik yang lebih luas. Karena itu, ia memandang penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan kompensasi atau repatriasi, tetapi harus menjawab persoalan yang dianggap sebagai akar konflik.

Tujuan Menurut Penulis

Dari rangkaian argumentasinya, penulis berkesimpulan bahwa tujuan perjuangan tidak boleh dibatasi hanya pada penghentian permusuhan, pemulihan wilayah, ataupun pengembalian para pengungsi.

Dalam perspektifnya, semua itu hanyalah bagian dari persoalan yang lebih besar.

Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar kritiknya terhadap pendekatan yang disebutnya sebagai pendekatan pragmatis.

Kritik terhadap Pendekatan Pragmatis

Menurut penulis, sebagian kalangan menganggap bahwa menerima kenyataan politik yang telah terbentuk merupakan pilihan yang paling realistis.

Mereka berpendapat bahwa karena Israel memperoleh dukungan internasional yang kuat, maka jalan terbaik adalah hidup berdampingan secara damai.

Penulis menolak pandangan tersebut.

Menurutnya, menerima suatu kenyataan politik hanya karena dianggap telah mapan justru berarti mengakui hasil dari konflik yang dipersoalkan. Dalam pandangannya, sikap seperti itu bukanlah solusi, melainkan bentuk penyerahan terhadap keadaan.

Pelajaran dari Sejarah

Untuk memperkuat argumennya, penulis mengajak pembaca menoleh ke masa lalu.

Ia mengingatkan bagaimana pasukan Salib pernah menguasai Baitul Maqdis selama puluhan tahun. Pada masa itu, banyak orang mengira keadaan tersebut tidak mungkin berubah.

Namun sejarah berjalan berbeda.

Melalui kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi, Dunia Islam berhasil merebut kembali Baitul Maqdis setelah kemenangan dalam Pertempuran Hattin pada tahun 1187 M. Bagi penulis, peristiwa itu menjadi bukti bahwa keadaan yang tampak permanen dalam sejarah ternyata dapat berubah ketika muncul kepemimpinan, persatuan, dan semangat yang kuat.

Refleksi

Tulisan ini pada akhirnya mengajak pembaca merenungkan satu hal penting.

Apakah kemenangan hanya ditentukan oleh kekuatan material, atau justru berawal dari kejelasan tujuan, keyakinan terhadap cita-cita, dan kemampuan mempertahankan arah perjuangan dalam jangka panjang?

Terlepas dari apakah seseorang menerima atau menolak kesimpulan penulis, pesan yang ingin ditekankan ialah bahwa sebuah perjuangan tidak dapat dibangun di atas tujuan yang kabur. Kejelasan visi, menurutnya, menjadi fondasi sebelum strategi, pengorbanan, dan berbagai langkah lain disusun.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (109) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (285) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (700) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (314) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (172) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)