Sunah Rasul: Bekal Sepanjang Kehidupan
Sunah Rasulullah saw. secara keseluruhan adalah bekal bagi kehidupan seorang muslim. Sunah menghidupkan hati orang-orang yang mengikutinya, membawa mereka menuju derajat iman dan ketakwaan yang lebih tinggi, membekali mereka dengan berbagai kebaikan, menjauhkan mereka dari berbagai keburukan, serta membangun kepribadian mereka dalam berbagai aspek: akidah, ibadah, akhlak, fisik, pemikiran, dan kehidupan sosial.
Sunah tidak hanya berbicara tentang satu atau dua sisi kehidupan. Ia mengikuti perjalanan seorang muslim dalam seluruh tahap kehidupannya: sejak sebelum kelahirannya hingga setelah ia meninggalkan dunia; ketika terjaga maupun tidur; ketika bergerak maupun diam; ketika mukim maupun bepergian; ketika berada di masjid, rumah, pasar, tempat kerja, jalan, dan di berbagai tempat lainnya.
Seolah-olah sunah menjadi pendamping yang senantiasa membekali seorang muslim dengan sesuatu yang bermanfaat dan menjaganya dari berbagai hal yang membahayakan serta melemahkannya. Seluruh kehidupan itu diarahkan agar berdiri di atas fondasi akidah Islam yang diridai Allah.
Namun, kehidupan yang dimaksud bukan sekadar kehidupan fisik sebagaimana makhluk hidup lainnya. Kehidupan yang paling utama adalah kehidupan hati: mengenal Allah, beriman kepada-Nya, dan berjalan dengan cahaya petunjuk-Nya. Allah berfirman,
«"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?"
(QS. Al-An'am: 122)»
Allah juga berfirman,
«"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu."
(QS. Al-Anfal: 24)»
Dengan mengikuti sunah dan menyambut seruan Rasulullah saw., hati akan memperoleh kehidupan. Inilah salah satu bentuk bekal yang luar biasa. Pada saat yang sama, sunah juga memberikan tuntunan yang menjaga kesehatan dan kesegaran fisik.
Rasulullah saw. Sangat Menginginkan Kebaikan bagi Kita
Rasulullah saw. sangat mencintai umatnya. Beliau menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi mereka, perhatian terhadap penderitaan mereka, dan tidak menginginkan sesuatu yang menyusahkan mereka. Allah menggambarkan sifat tersebut dalam firman-Nya,
«"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."
(QS. At-Taubah: 128)»
Jika kita menyadari hal itu, semestinya kita semakin terdorong untuk mengikuti sunahnya. Sunah adalah sumber petunjuk yang penuh kebaikan. Perkataan, perbuatan, perintah, dan larangan Rasulullah saw. merupakan petunjuk bagi manusia yang berada dalam bimbingan Allah, Zat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang bermanfaat maupun membahayakan manusia.
Allah berfirman,
«"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?"
(QS. Al-Mulk: 14)»
Karena itu, mengikuti sunah bukan sekadar mengikuti kebiasaan seorang tokoh dalam sejarah. Ia adalah upaya menapaki jalan kehidupan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw., manusia pilihan yang kehidupannya menjadi teladan bagi orang-orang yang mengharapkan keridaan Allah.
Figur yang Sempurna
Rasulullah saw. adalah figur teladan bagi kehidupan yang diridai Allah. Karena itu, Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya. Allah berfirman,
«"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah."
(QS. Al-Ahzab: 21)»
Bahkan Allah mengaitkan kecintaan seorang hamba kepada-Nya dengan kesediaannya mengikuti Rasulullah saw. Allah berfirman,
«"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali 'Imran: 31)»
Ayat ini memperlihatkan betapa erat hubungan antara cinta kepada Allah, mengikuti Rasulullah saw., memperoleh cinta Allah, dan mendapatkan ampunan-Nya.
Rasulullah saw. telah mencapai puncak keimanan dan ketakwaan. Karena itu, meneladani beliau merupakan jalan untuk meningkatkan iman dan ketakwaan kita.
Ketika kita mengetahui bahwa Rasulullah saw. melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak, misalnya, pengetahuan itu seharusnya mendorong kita untuk menghidupkan sebagian malam dengan salat, doa, dan munajat. Kita mungkin tidak mampu menyamai beliau, tetapi kita dapat belajar dari kesungguhannya. Dan itu adalah sebaik-baik bekal.
Hati Rasulullah saw. senantiasa terhubung dengan Allah. Beliau tidak hidup dalam kelalaian. Nikmat Allah, karunia-Nya, ayat-ayat-Nya, berbagai peristiwa yang dihadapi, serta fenomena alam yang disaksikannya menjadi jalan untuk mengingat Allah.
Ketika kita meneladaninya, kita pun belajar menghubungkan berbagai keadaan hidup dengan Allah. Makan, minum, bekerja, bepergian, beristirahat, berinteraksi dengan manusia, menghadapi kesulitan, maupun menikmati kesenangan tidak lagi menjadi aktivitas yang terpisah dari penghambaan kepada-Nya.
Inilah bekal yang tidak akan pernah habis.
Sunah Mengubah Aktivitas Menjadi Kesadaran
Mengikuti sunah dalam makan, minum, berpakaian, tidur, bangun, buang hajat, berinteraksi dengan orang lain, dan berbagai aktivitas sehari-hari mengajarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran kepada Allah.
Kita belajar memilih yang halal, menjauhi yang dimurkai Allah, dan menghadirkan zikir dalam berbagai keadaan.
Perhatikan, misalnya, doa setelah buang hajat. Di dalamnya terdapat pujian kepada Allah karena telah menghilangkan gangguan dari tubuh. Sesuatu yang tampak sederhana ternyata mengingatkan kita kepada nikmat yang sering tidak kita sadari.
Bayangkan jika buang air kecil atau buang air besar tertahan dan tidak dapat keluar. Tentu akan menimbulkan penderitaan, bahkan dapat membahayakan kehidupan. Sunah mengajarkan kita untuk menyadari nikmat yang sering kali baru terasa ketika nikmat itu terganggu.
Dengan demikian, sunah tidak sekadar mengatur gerakan lahiriah. Ia mendidik kesadaran batin.
Orang yang menjalani aktivitas tanpa kesadaran kepada Allah mudah terjebak dalam kelalaian. Ia makan ketika lapar, tidur ketika mengantuk, bekerja ketika membutuhkan penghasilan, dan menikmati berbagai kesenangan tanpa menghubungkannya dengan tujuan penciptaan manusia.
Sunah mengangkat aktivitas-aktivitas tersebut dari sekadar rutinitas menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Allah.
Tentu, seluruh sunah Rasulullah saw. yang menyimpan begitu banyak bekal tidak mungkin dibahas dalam kesempatan yang terbatas ini. Untuk mengetahuinya secara lebih luas, kita perlu merujuk kepada kitab-kitab hadis dan sunah yang telah dibukukan oleh para imam. Di sini cukup kita perhatikan beberapa keindahannya sebagai bahan renungan.
Di antara Keindahan Sunah
Perhatikanlah bagaimana sunah memperhatikan kehidupan manusia sejak tahap yang sangat awal.
Sunah menganjurkan pembentukan keluarga yang dibangun di atas ketakwaan, antara lain melalui pemilihan pasangan yang baik agamanya. Dari keluarga yang baik diharapkan lahir lingkungan rumah tangga yang kondusif bagi pendidikan anak.
Dalam hubungan suami istri pun terdapat tuntunan doa dan perlindungan kepada Allah. Ketika seorang anak lahir, terdapat berbagai tuntunan yang berkaitan dengan penyambutan kelahirannya, pemberian nama yang baik, dan perhatian terhadap kehidupannya.
Demikian seterusnya. Sunah memberikan perhatian terhadap berbagai tahapan kehidupan manusia.
Perhatian tersebut mencakup pendidikan, kesehatan, kekuatan fisik, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan berbagai kebutuhan manusia lainnya. Sunah juga memberikan perhatian terhadap aktivitas yang melatih keberanian dan keterampilan, serta mendorong para pemuda untuk membangun keluarga dan memperingatkan berbagai hal yang dapat merusak bangunan keluarga dan masyarakat.
Bahkan ketika seorang muslim menghadapi kematian, sunah tetap memberikan tuntunan. Orang yang sedang menghadapi sakaratul maut dituntun untuk mengingat kalimat tauhid. Setelah meninggal, jenazah dimandikan, dikafani, disalatkan, disegerakan pemakamannya, dan didoakan. Sunah juga melarang berbagai bentuk ratapan yang tidak dibenarkan.
Betapa luas perhatian sunah terhadap manusia.
Rasulullah saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat itu tampak dalam berbagai wasiat dan tuntunan beliau terhadap perempuan, anak-anak, pelayan, tawanan, fakir miskin, orang sakit, orang-orang lemah, mereka yang membutuhkan bantuan, bahkan terhadap hewan.
Mengikuti sunah berarti belajar menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan. Semakin kita memahami sunah, semakin kita menyadari bahwa Islam tidak hanya mendidik hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan makhluk-makhluk Allah.
Sunah Menjaga Perasaan Manusia
Sunah juga memberikan perhatian yang sangat halus terhadap perasaan manusia.
Ketika berbicara dengan seseorang, Rasulullah saw. memberikan perhatian kepada lawan bicaranya. Beliau memperjelas perkataannya dan mendengarkan dengan baik.
Ketika ingin mengingatkan kesalahan seseorang, beliau tidak selalu menyebutkan nama orang tersebut. Beliau dapat mengatakan, "Mengapa sebagian kaum melakukan demikian dan demikian?" Dengan cara itu, kesalahan dapat diperbaiki tanpa harus mempermalukan pelakunya.
Sunah juga melarang seseorang berbisik dengan orang lain ketika ada orang ketiga yang duduk bersama mereka. Sebab, hal tersebut dapat melukai perasaan atau menimbulkan prasangka.
Perhatian-perhatian kecil semacam ini menunjukkan bahwa akhlak dalam sunah bukan sesuatu yang abstrak. Ia hadir dalam cara berbicara, cara mendengarkan, cara menegur, bahkan cara menjaga perasaan orang lain.
Sunah Menguatkan Ukhuwah
Sunah juga menyeru kepada pengokohan hubungan antara ayah, ibu, anak, kerabat, dan tetangga.
Kita dianjurkan untuk saling mencintai karena Allah, saling mengunjungi, memberi hadiah, mengucapkan salam, berjabat tangan, tersenyum ketika bertemu, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, mendoakan orang yang bersin, mengantar jenazah, dan melakukan berbagai hal yang memperkuat hubungan antarsesama.
Sebaliknya, sunah melarang berbagai tindakan yang dapat merusak persaudaraan.
Semua itu merupakan bekal yang sangat dibutuhkan setiap muslim, terlebih bagi orang yang menapaki jalan dakwah. Seorang dai tidak cukup hanya memiliki pengetahuan. Ia juga membutuhkan hati yang hidup, akhlak yang baik, kemampuan menjaga perasaan, dan kemampuan membangun hubungan dengan manusia.
Sunah dan Pembinaan Kepribadian
Sunah membina pribadi muslim agar memiliki iman yang kuat, tekad yang kokoh, fisik yang sehat, akhlak yang mulia, serta berbagai bentuk kekuatan yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.
Pada saat yang sama, sunah mendidik seorang muslim agar terbebas dari berbagai kelemahan: pengecut, bakhil, tidak berdaya, malas, ragu-ragu, bimbang, waswas, pesimis, mudah mempercayai kesialan, dan tidak memiliki pendirian.
Seorang muslim diharapkan menjadi pribadi yang memiliki prinsip, mampu mengambil keputusan, memberi pengaruh yang baik, dan tidak mudah terseret oleh keadaan.
Karena itu, sunah tidak hanya membentuk manusia yang saleh secara pribadi, tetapi juga manusia yang memiliki daya tahan dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Sunah juga mengajarkan agar tarikan dunia tidak menguasai hati. Dunia bukan untuk ditinggalkan seluruhnya, tetapi kenikmatannya tidak boleh menjadikan manusia lupa terhadap tujuan akhirnya.
Nilai ini semakin penting ketika kehidupan modern mendorong manusia untuk terus mengejar harta, memenuhi berbagai kebutuhan, meningkatkan konsumsi, dan menciptakan sarana-sarana baru yang terus menggoda manusia untuk memilikinya.
Jika tidak berhati-hati, manusia dapat menghabiskan seluruh energinya untuk mengejar dunia dan menganggap dunia seolah-olah merupakan kehidupan yang sesungguhnya.
Sunah menjaga manusia dari keadaan tersebut. Ia mengarahkan perhatian kepada akhirat dan keridaan Allah, sehingga dunia tetap berada di tangan, bukan menguasai hati.
Bahkan Tidur Pun Menjadi Bagian dari Pendidikan
Perhatikan pula bagaimana sunah memberikan perhatian terhadap sesuatu yang sangat sederhana: tidur.
Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang tidur dalam keadaan berwudu, berbaring ke sisi kanan, membaca doa sebelum tidur yang mengingatkan kepada Allah dan kematian, serta membaca doa-doa tertentu ketika mengalami mimpi buruk dan ketika bangun tidur.
Seolah-olah sunah hadir dalam kehidupan seorang muslim seperti seorang ibu yang penuh kasih kepada anaknya: menenangkannya ketika ketakutan, menjaganya dari sesuatu yang membahayakan, dan membimbingnya dengan penuh kasih.
Di sinilah kita menemukan keindahan sunah.
Ia tidak hanya hadir ketika kita berada di masjid. Ia hadir ketika kita berada di rumah. Ia tidak hanya hadir ketika kita sedang beribadah dalam bentuk ritual. Ia juga hadir ketika kita makan, tidur, bekerja, berbicara, bergaul, bepergian, dan menjalani berbagai aktivitas kehidupan.
Sunah memberikan bekal agar kehidupan seorang muslim tidak menjadi kehidupan yang terpecah-pecah.
Ia membentuk kepribadian yang memiliki arah dan prinsip, bukan pribadi yang tambal sulam: mengambil nilai dari sana, mengikuti kebiasaan dari sini, lalu kehilangan identitas dan arah hidup.
Ketika Sunah Menjadi Sebab Perpecahan
Namun, ada satu hal penting yang perlu kita renungkan.
Jangan sampai perhatian kita terhadap amalan sunah justru mengurangi perhatian terhadap amalan yang fardu. Jangan pula menjadikan persoalan sunah sebagai alasan untuk berseteru, saling membenci, saling menjauhi, atau saling berlepas diri.
Kita perlu membedakan antara berkomitmen mengamalkan sunah dan mengajak orang lain untuk mengamalkannya.
Berkomitmen terhadap sunah adalah sesuatu yang baik. Mengajak orang lain kepada sunah juga merupakan bagian dari dakwah. Tetapi dakwah kepada sunah harus dilakukan dengan hikmah dan nasihat yang baik, bukan dengan menghina, memfasiqkan, menjauhi, atau menimbulkan perpecahan.
Dalam persoalan-persoalan yang memang termasuk wilayah perbedaan pendapat di kalangan ulama, seorang muslim perlu memiliki keluasan hati dan memahami bahwa menjaga persaudaraan merupakan bagian penting dari ajaran Islam.
Terdapat kisah yang dinisbatkan kepada Imam Hasan Al-Banna. Dalam salah satu kunjungan dakwah, ia menjumpai penduduk sebuah kampung yang terbagi menjadi dua kelompok dan hampir bertikai karena perbedaan pendapat mengenai pelaksanaan azan. Sebagian menyertakan shalawat dengan cara tertentu dalam azan, sementara sebagian lainnya menolaknya.
Hasan Al-Banna kemudian berkata kepada mereka, "Kalian tidak perlu mengumandangkan azan dan salatlah tanpa azan."
Mereka terheran-heran dan menjawab bahwa mereka tidak rela jika azan tidak dikumandangkan dengan keras di kampung tersebut.
Kemudian ia mengatakan, "Azan itu sunah, sedang persatuan itu kewajiban. Karenanya, tinggalkanlah yang sunah bila menyebabkan yang wajib terlantar."
Kisah tersebut, terlepas dari pembahasan mengenai kedudukan riwayatnya, mengandung sebuah pelajaran yang penting: jangan sampai perhatian terhadap perkara cabang membuat kita kehilangan perkara yang lebih pokok.
Sunah semestinya menjadi bekal yang menghidupkan hati, memperbaiki akhlak, memperkuat ukhuwah, dan mendekatkan kita kepada Allah. Jika cara kita memperjuangkan sunah justru menghasilkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang mengikuti sunah Rasulullah saw., atau hanya sedang mempertahankan pendapat kita tentang sunah?
Menjadikan Sunah sebagai Bekal
Demikianlah, sunah Rasulullah saw. menyimpan bekal yang begitu melimpah.
Ia menghidupkan hati dengan iman.
Ia membimbing kehidupan dengan petunjuk.
Ia memperbaiki akhlak.
Ia menjaga tubuh dan kehidupan.
Ia menguatkan keluarga dan masyarakat.
Ia membentuk pribadi yang kokoh.
Ia mengajarkan kasih sayang.
Ia mempersiapkan manusia menghadapi kematian dan kehidupan setelahnya.
Semakin kita mengenal sunah, semakin kita menyadari bahwa ia bukan sekadar kumpulan amalan tambahan dalam kehidupan seorang muslim. Sunah adalah jalan untuk menghadirkan teladan Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, marilah kita mengambil bekal yang bermanfaat dari sunah Rasulullah saw. Kita berusaha menjadi orang-orang yang mengikuti sunah, bukan membuat-buat ajaran baru; mencintai sunah tanpa meremehkan kewajiban; mengajak kepadanya dengan hikmah; dan menjadikannya sarana untuk semakin dekat kepada Allah.
Sebab, pada akhirnya, sunah bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan.
Dan ketika sunah hidup dalam hati, ia akan tercermin dalam akhlak, keluarga, masyarakat, dan seluruh perjalanan kehidupan seorang muslim.
Hanya Allah yang membimbing kita kepada jalan yang benar dan memberikan taufik untuk mengamalkan apa yang kita ketahui.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif