basmalah Pictures, Images and Photos
09/21/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Agama, Politik, dan Perekonomian Dunia Menjelang Datangnya Islam Agama dan Perek...


Agama, Politik, dan Perekonomian Dunia Menjelang Datangnya Islam

Agama dan Perekonomian di Mesir pada Masa Kekuasaan Romawi

Negeri Mesir, yang dianugerahi Sungai Nil dan tanah pertanian yang subur, pada abad ke-7 M justru berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Kesuburan tanahnya tidak serta-merta menjadikan penduduknya hidup sejahtera. Di bawah kekuasaan Romawi, masyarakat Mesir mengalami tekanan politik dan ekonomi, sementara kehidupan keagamaan mereka diwarnai pertikaian yang berkepanjangan.

Persoalan agama pada masa itu tidak lagi menjadi sumber pembinaan kehidupan dan penggerak kebaikan masyarakat. Perdebatan justru berkisar pada persoalan sifat Al-Masih, filsafat metafisik, dan berbagai persoalan teologis yang rumit. Pertikaian antarsekte berlangsung terus-menerus sehingga kehidupan masyarakat terpecah dan kesanggupan mereka untuk mengembangkan kehidupan sosial, politik, dan ekonomi semakin melemah.

Dari pusat Imperium Romawi, Mesir lebih banyak menerima tekanan politik dan keagamaan daripada pembinaan yang dapat mengangkat kehidupan rakyatnya. Penduduk tidak memperoleh kebebasan politik, sementara dalam kehidupan beragama dan berpikir pun mereka menghadapi tekanan yang berat.

Keadaan tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Tekanan politik dan pertikaian keagamaan membuat Mesir kehilangan perhatian terhadap kebutuhan hidup yang paling mendasar. Masyarakat tidak lagi memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan kehidupan politik, ekonomi, maupun pemikiran secara bebas. Bahkan agama, yang semestinya menjadi sumber pembinaan rohani dan moral, justru terseret ke dalam pertikaian yang semakin tajam.

Doktor Gustave Le Bon, dalam bukunya Hadharatul Arab, menggambarkan keadaan tersebut dengan mengatakan:

«“Negeri Mesir sesungguhnya dipaksa untuk menganut agama Nasrani sehingga ia telah terjatuh ke jurang kehancuran dan tidak ada yang dapat mengangkatnya kembali, kecuali masuknya bangsa Arab ke negeri itu. Mesir, yang pada masa itu menjadi gelanggang pertikaian bermacam-macam sekte keagamaan, sungguh menderita kemiskinan dan kesengsaraan. Dengan terjadinya pertikaian-pertikaian itu, penduduk Mesir saling menyerang dan saling mengutuk sehingga negeri Mesir benar-benar telah ditelan oleh perpecahan keagamaan dan telah menjadi lumpuh dikarenakan penindasan yang dilakukan para penguasanya. Hal ini menimbulkan kebencian rakyat Mesir kepada Romawi yang menjadi tuannya. Negeri itu menantikan datangnya kebebasan dari kekejaman Kaisar Constantinopel yang zalim itu.”»

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa persoalan Mesir tidak hanya berkaitan dengan agama. Pertikaian keagamaan berkelindan dengan persoalan politik dan ekonomi. Ketiganya saling memperburuk keadaan masyarakat.

Alfred G. Butler juga memberikan perhatian khusus terhadap persoalan agama di Mesir pada abad ke-7 M. Menurutnya, persoalan agama bahkan lebih berbahaya daripada persoalan politik. Perpecahan yang terjadi bukan semata-mata akibat persaingan pemerintahan, melainkan bersumber dari pertikaian mengenai keyakinan dan persoalan teologis.

Ia menjelaskan bahwa penduduk Mesir tidak lagi memandang agama sebagai sumber penggerak kebaikan, tetapi lebih banyak memperdebatkannya sebagai seperangkat keyakinan mengenai persoalan-persoalan tertentu. Akibatnya, pertikaian tajam muncul mengenai berbagai persoalan filsafat metafisik yang pelik dan sulit dipahami.

Dalam keadaan demikian, persoalan agama tidak lagi menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Sebaliknya, ia menjadi salah satu faktor yang memperdalam perpecahan.

Pemerasan Ekonomi

Di tengah pertikaian tersebut, tekanan ekonomi semakin memperberat kehidupan rakyat. Alfred G. Butler menulis:

«“Romawi memungut dari Mesir pajak per kapita (jizyah) dan pajak-pajak lain yang banyak sekali macamnya. Sudah tentu pajak-pajak tersebut di luar kesanggupan penduduk dan diwajibkan kepada mereka secara tidak adil.”»

Dengan demikian, tekanan terhadap rakyat Mesir tidak hanya datang dari persoalan politik dan keagamaan, tetapi juga dari sistem perpajakan.

Para penulis Historian's History of the World menggambarkan betapa besar kontribusi Mesir terhadap keuangan negara Byzantium. Kekayaan hasil pertanian Mesir menjadi sumber pemasukan yang penting bagi negara. Namun, kaum tani yang menghasilkan kekayaan tersebut tidak menikmati hak dan kekuasaan yang sebanding dengan beban yang mereka tanggung. Selain kewajiban yang berkaitan dengan hasil pertanian, mereka juga dibebani berbagai macam pajak lainnya.

Akibatnya, kekayaan Mesir secara perlahan terus berkurang dan perekonomiannya semakin merosot.

Dengan demikian, keadaan Mesir pada masa itu dapat dilihat melalui tiga bentuk tekanan yang saling bertumpuk:

1. Penindasan keagamaan;
2. Perbudakan politik;
3. Pemerasan ekonomi.

Ketiga persoalan tersebut membuat kehidupan masyarakat Mesir semakin sulit bergerak. Negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah justru mengalami kemerosotan kehidupan rakyatnya. Kesuburan tanah tidak dengan sendirinya menghasilkan kesejahteraan ketika masyarakat berada di bawah tekanan politik, konflik keagamaan, dan beban ekonomi yang berat.

---

Habasyah (Ethiopia)

Tidak jauh dari Mesir terdapat Habasyah, negeri yang juga telah menerima agama Nasrani. Namun, kehidupan keagamaannya tidak sepenuhnya terlepas dari warisan kepercayaan sebelumnya. Di tengah pengaruh agama Nasrani, masih terdapat unsur-unsur kepercayaan dan praktik yang berasal dari tradisi pagan.

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa penerimaan suatu agama dalam masyarakat tidak selalu berarti seluruh tradisi lama serta-merta hilang. Dalam perkembangan sejarahnya, berbagai unsur kepercayaan dapat bercampur dan membentuk corak kehidupan keagamaan masyarakat.

Di sisi lain, kehidupan keagamaan pada masa itu juga dipengaruhi oleh berbagai keputusan konsili dan perdebatan mengenai istilah serta rumusan teologis. Perdebatan tersebut tidak hanya berlangsung di tingkat masyarakat, tetapi juga berhubungan dengan struktur kekuasaan dan otoritas keagamaan.

---

Bangsa-Bangsa Eropa di Barat Laut

Jika bergerak ke arah barat dan utara, keadaan Eropa juga belum menunjukkan perkembangan peradaban yang berarti. Bangsa-bangsa Eropa yang tersebar di berbagai wilayah masih mengalami peperangan antarkelompok. Buta huruf meluas, sementara perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan belum menunjukkan kemajuan yang berarti.

Andalusia, yang kelak menjadi salah satu pusat ilmu dan peradaban Islam, juga belum memasuki panggung sejarahnya. Eropa Barat pada masa itu masih berada jauh dari pusat-pusat perkembangan peradaban dunia.

H.G. Wells menggambarkan keadaan tersebut dengan mengatakan:

«“Di Eropa Barat pada masa itu tidak tampak adanya tanda-tanda persatuan dan tatanan.”»

Robert Briffault bahkan menggambarkan rentang abad kelima hingga kesepuluh sebagai masa yang sangat gelap bagi Eropa. Menurutnya, berbagai wilayah yang sebelumnya pernah mengalami perkembangan peradaban, seperti Italia dan Prancis, mengalami kehancuran, kekacauan, dan kemunduran.

Pada masa itu, Eropa masih berada di antara dua warisan keagamaan: agama Nasrani yang sedang berkembang dan berbagai kepercayaan pagan yang telah mengakar sebelumnya. Karena itu, Eropa belum tampil sebagai kekuatan yang memiliki peranan besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, politik, maupun peradaban dunia.

---

Kaum Yahudi

Di tengah berbagai bangsa yang tersebar di Eropa, Asia, dan Afrika, terdapat kaum Yahudi yang memiliki sejarah keagamaan yang panjang. Mereka mewarisi tradisi pemikiran agama yang kuat dan memiliki pengalaman sejarah yang khas.

Namun, dalam perjalanan sejarahnya, mereka juga mengalami berbagai bentuk penguasaan, pengejaran, pembuangan, pengusiran, dan penindasan dari berbagai kekuatan politik.

Penulis sumber ini kemudian menggambarkan bahwa pengalaman sejarah tersebut, bersama dengan berbagai perilaku dan konflik yang berkembang dalam sejarah mereka, membentuk karakter sosial tertentu. Ia menyebut sejumlah sifat yang menurutnya muncul dalam perjalanan sejarah kaum Yahudi, antara lain sikap yang berbeda ketika berada dalam keadaan lemah dan ketika memperoleh kekuasaan, serta berbagai perilaku yang dipandang negatif dalam hubungan sosial dan ekonomi.

Al-Qur’an sendiri memberikan sejumlah gambaran mengenai perilaku sebagian Bani Israil dan kaum Yahudi dalam konteks sejarah tertentu. Namun, gambaran tersebut perlu ditempatkan dalam konteks ayat dan peristiwa yang dibicarakan, sehingga tidak serta-merta dipahami sebagai penilaian terhadap setiap individu Yahudi pada setiap zaman.

Dalam narasi sejarah menjelang datangnya Islam, kaum Yahudi juga menjadi bagian dari dinamika politik dan keagamaan yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Hubungan mereka dengan kaum Nasrani mengalami berbagai ketegangan, terutama ketika perubahan politik dan perebutan kekuasaan mempertemukan kepentingan kedua kelompok tersebut.

---

11. Antara Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani

Memasuki permulaan abad ke-7 M, hubungan antara kaum Yahudi dan kaum Nasrani di sejumlah wilayah semakin tegang. Pertikaian tersebut tidak hanya berlangsung dalam bentuk perdebatan keagamaan, tetapi pada beberapa peristiwa berkembang menjadi kekerasan dan pembantaian.

Pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Phocas, sekitar 610 M, misalnya, terjadi pembunuhan terhadap kaum Nasrani di Antiokhia yang dalam sumber-sumber yang dikutip digambarkan berlangsung secara massal. Dalam tindakan pembalasan, berbagai bentuk kekerasan juga dilakukan terhadap kaum Yahudi.

Peristiwa semacam ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan antara agama dan politik pada masa itu. Ketika konflik politik dan perebutan kekuasaan bertemu dengan permusuhan keagamaan, pertikaian dapat berkembang menjadi kekerasan terhadap masyarakat sipil.

Al-Maqrizi, dalam Al-Khiththath, menggambarkan salah satu rangkaian peristiwa tersebut. Ketika Kisra, Raja Persia, mengirim pasukannya ke Syam dan Mesir, gereja-gereja di Yerusalem, Palestina, Syam, dan Mesir mengalami kehancuran. Banyak kaum Nasrani terbunuh atau dijadikan tawanan.

Menurut riwayat yang dikutip Al-Maqrizi, sebagian kaum Yahudi turut membantu pasukan Persia dalam menghadapi kaum Nasrani. Mereka terlibat dalam penghancuran sejumlah gereja dan berbagai tindakan kekerasan lainnya.

Konflik kemudian berkembang menjadi pertikaian terbuka antara kelompok Yahudi dan Nasrani. Di Kota Shour, misalnya, disebutkan bahwa sejumlah orang Yahudi mengerahkan kekuatan untuk menghadapi kaum Nasrani. Namun, kaum Nasrani kemudian berhasil menghimpun kekuatan yang lebih besar dan mengalahkan mereka.

Pada saat yang sama, kekuasaan di Constantinopel berada di tangan Heraclius. Setelah memperoleh kembali kendali atas wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai Persia, Heraclius berusaha memulihkan kekuasaan Romawi di Syam dan Mesir serta membangun kembali berbagai fasilitas yang telah dihancurkan.

Ketika Heraclius memasuki Yerusalem, orang-orang Yahudi dari Theberia dan beberapa kota lainnya datang menghadapnya. Mereka membawa hadiah dan memohon jaminan keamanan. Permohonan tersebut diterima oleh sang raja.

Namun, kaum Nasrani di Yerusalem kemudian menyampaikan kepada Heraclius mengenai keterlibatan sebagian kaum Yahudi dalam membantu pasukan Persia dan berbagai kekerasan yang terjadi sebelumnya. Mereka mendesak Heraclius agar mengambil tindakan terhadap orang-orang Yahudi.

Heraclius pada awalnya menolak desakan tersebut dengan alasan bahwa ia telah memberikan jaminan keamanan. Akan tetapi, menurut riwayat yang dikutip dalam sumber ini, para rahib, uskup, dan pemuka Nasrani kemudian mengeluarkan pandangan keagamaan bahwa tindakan terhadap kaum Yahudi tidak dianggap sebagai dosa karena jaminan tersebut, menurut mereka, diperoleh melalui tipu muslihat dan tanpa sepengetahuan raja mengenai peristiwa sebelumnya.

Mereka bahkan menyatakan kesediaan untuk menebus pelanggaran terhadap sumpah tersebut dengan menjalankan puasa tertentu dan mewajibkan kaum Nasrani melakukannya.

Menurut riwayat tersebut, Heraclius kemudian menerima pandangan itu dan melancarkan tindakan pembantaian terhadap kaum Yahudi di wilayah kekuasaannya di Syam dan Mesir. Banyak yang terbunuh, sedangkan sebagian lainnya melarikan diri atau bersembunyi.

Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana konflik yang pada mulanya berhubungan dengan persoalan politik dan agama dapat berkembang menjadi kekerasan yang semakin luas. Pergantian kekuasaan tidak serta-merta mengakhiri permusuhan. Sebaliknya, luka dan dendam dari satu peristiwa dapat menjadi bahan bakar bagi pembalasan pada peristiwa berikutnya.

Sebuah Pelajaran dari Sejarah

Demikianlah gambaran keadaan dunia menjelang datangnya Islam sebagaimana dipaparkan dalam uraian ini. Di Mesir, persoalan keagamaan berkelindan dengan tekanan politik dan pemerasan ekonomi. Di Habasyah, kehidupan keagamaan masih berinteraksi dengan warisan kepercayaan sebelumnya. Di Eropa, berbagai masyarakat masih bergulat dengan peperangan, keterbelakangan, dan ketidakstabilan. Sementara itu, di kawasan Syam dan sekitarnya, hubungan antara kelompok Yahudi dan Nasrani mengalami berbagai ketegangan yang pada beberapa kesempatan berubah menjadi kekerasan.

Semua itu memperlihatkan satu persoalan yang lebih mendasar: ketika agama kehilangan fungsi pembinaan moral dan keadilan, sementara kekuasaan politik tidak dibatasi oleh nilai-nilai tersebut, maka agama, politik, dan ekonomi dapat berubah menjadi sumber konflik dan penindasan.

Dalam keadaan seperti itu, manusia tidak hanya membutuhkan pergantian penguasa. Mereka membutuhkan perubahan cara pandang terhadap kehidupan: pandangan yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab kepada Allah, kekuasaan sebagai amanah, harta sebagai titipan, dan kehidupan sosial sebagai ruang untuk menegakkan keadilan.

Di tengah kondisi dunia yang demikian, datanglah risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. Risalah tersebut tidak hanya berbicara tentang keyakinan kepada Allah, tetapi juga membentuk pandangan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri, sesama manusia, dan seluruh kehidupan.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (65) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (33) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (4) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (767) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (17) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (250) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)