basmalah Pictures, Images and Photos
09/13/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Merunut Akar Konflik Internal Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Menyatukan hati bisakah? Selalu saja ada...


Merunut Akar Konflik Internal

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Menyatukan hati bisakah? Selalu saja ada rivalitas. Selalu ada perseteruan. Selalu saja pergesekan. Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan?

Tak ada yang bisa menyatukan hati manusia kecuali Allah. Imingan harta tak bisa menyatukan. Imingan jabatan tak menyatukan. Dunia itu meresahkan. Bukankah dunia penyebab perpecahan hati? Bila kata sepakat sulit ditemukan. Bila musyawarah sulit bermufakat. Bila perpecahan begitu mudah terbakar. Tanyakan, apa yang ada di hati? Akhirat atau dunia?

Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukadimah berkata, "Kesatuan jiwa dan persatuan hanya dapat terjadi atas pertolongan Allah swt dengan mendirikan agama-Nya." Orientasi agamalah yang bisa menyatukan. Orientasi Allah dan akhiratlah yang bisa menyatukan.

Ibnu Khaldun menambahkan, "Apabila jiwa terdorong untuk melakukan kejahatan dan condong pada kehidupan dunia, maka akan terjadi persaingan dan konflik." Menurut Sayid Qutb, konflik internal bukan karena perbedaan tetapi karena hawa nafsu yang sudah menyelimuti institusi tertentu. Sadarkah penyebab konflik?

Apabila jiwa-jiwa tunduk pada kebenaran, menolak tipu daya kenikmatan dunia dan berbagai kejahatan yang ada di dalamnya, maka kondisi itu akan memperkuat visi dan misi. Rivalitas hilang, konflik minimal pada akhirnya mempererat kerjasama dan saling membantu. Begitulah cara menciptakan ukhuwah menurut Ibnu Khaldun.

Karakter umat Islam di era kelemahannya, sabda Rasulullah saw, yaitu cinta dunia dan takut mati. Dengan karakter ini perpecahan mencuat. Kehidupan di bawah kekuasaan bangsa asing. Hidup bagai buih yang tak memberikan kemanfaatan. Inilah era persatuan sulit dirajut. Sumber kekacauan ini adalah cinta dunia dan takut mati, itulah yang menggelorakan hawa nafsu. Hawa nafsu takkan mungkin bisa menyatukan, karena karakternya ingin menguasai dan zalim.

Bagaimana menuntaskan konflik internal dan perpecahan? Buang cinta dunia dan takut mati. Kelola nafsu. Perbaiki kejernihan hati.

Digerakkan Allah Melawan Kezaliman Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Makar, fenomena makar. Bagaimana A...

Digerakkan Allah Melawan Kezaliman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Makar, fenomena makar. Bagaimana Allah bercerita makar? Mereka tidak ridha. Mereka terus berusaha memadamkan cahaya Allah. Itu hukum yang tidak pernah berubah. Kaum kafirin, munafikin dan zalim selalu berupaya makar. Kepada siapa? Kepada setiap benih kebaikan. Siapa yang mereka hadapi? Bukan manusia. Bukan pelaku kebaikan. Siapakah mereka?
Mereka berhadapan dengan Allah. Itulah mengapa pelaku kezaliman itu lemah. Itulah mengapa pelaku kezaliman tidak ada pembelanya. Hanya dirinya sendiri yang membelanya. Begitulah Allah berkisah.

Maka wajar bila pelaku kezaliman membutuhkan dana yang besar. Wajar, bila pelaku kezaliman butuh mengerahkan polisi dan tentara serta memobilisasi peralatan militer. Wajar bila mereka membangun benteng kekuasaan yang kuat dan mengerikan. Untuk melindungi diri mereka sendiri. Allah berlepas diri. Hingga nyamuk pun tidak bisa masuk ke benteng kekuasaan.

Allah yang menghadapi mereka. Bisa melalu Tangan-Nya sendiri. Bisa juga melalui para pelaku kebaikan. Mana yang dipilih? Semua berada dalam ilmu Allah. Gejolak jiwa, pemikiran dan gerakan para pelaku kebaikan adalah besitan yang Allah ilhamkan. Semua bagian makar Allah terhadap pelaku kezaliman.

Siapa yang menggerakkan imam Al Ghazali dengan keresahan jiwanya sehingga menghasilkan karya besar Ihya Ulumudin sebagai bekal pembinaan kaum Muslimin menghadapi serbuan Eropa? Siapa yang menggerakkan Najamudin yang tidak mau menikah kecuali dengan wanita yang memiliki cita-cita yang sama untuk membebaskan Masjidil Aqsha? Sehingga lahir Shalahuddin Al Ayubi?

Siapa yang menggerakkan Syeikh Abdul Qadir Jailani menghimpun para Sufi untuk mendidik para calon prajurit, panglima, pejabat untuk membackup perjuangan Nurudin Zanky dan Shalahuddin Al Ayubi? Seluruh madrasahnya digunakan sebagai penempaan jiwa, raga dan pemikiran mereka. Itulah cara Allah memberikan ilham kepada mereka yang akan melawan makar pelaku kezaliman.

Imam Ahmad hanya berjuang melalui balik penjara dan siksaan. Pelaku Kezaliman bebas berkeliaran dengan kawalan super ketat. Namun apa yang terjadi? Tiga penguasa tersebut mati di era imam Ahmad masih di penjara dan disiksa. Namrudz mati dengan seekor nyamuk. Firaun mati dengan tenggelam. Allah melumpuhkan kezaliman melalui Tangan-Nya sendiri.

Pelaku kebaikan tak perlu menunggu kekuatan yang besar terlebih dahulu untuk melawan kezaliman. Mengorganisasikan kekuatan yang ada dengan rapi dan satu konando sudah cukup untuk menggetarkan kezaliman, karena Allahlah Pembelanya. Yang utama untuk dijaga adalah keikhlasan dan melepaskan kemaksiatan.

Kekuatan kezaliman dan kebaikan terlihat tidak seimbang. Sebesar apa pun kekuatan kezaliman dalam pandangan Allah adalah lemah tak ada pembelanya. Bukankah Allah sebaik-baiknya pembela? Apakah pembela kebaikan memiliki persepsi yang sama dengan kacamata Allah? Ini akar masalahnya.

Pelaku Kezaliman hanya bisa menggertak dengan mempertontonkan kekuatan mereka, hanya sampai disitu saja. Pelaku Kezaliman hanya bisa berbangga dan pongah dengan seluruh kekuatannya saja. Apa gunanya bila jiwa mereka lemah dan penuh ketakutan?

Pelaku Kezaliman dalam posisi lemah dalam setiap masa dan generasi. Apakah pelaku kebaikan berani melawannya?

Bisingkan Kezaliman Dengan Fakta Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Apa puncak tertinggi dari kezaliman?...

Bisingkan Kezaliman Dengan Fakta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Apa puncak tertinggi dari kezaliman? Kekuasaan dan kekayaan, itulah yang dianggap puncak kekuatan untuk bisa melakukan kerusakan. Namun kekuasaan dan kekayaan pada satu titik tidak akan memberikan energi ketika nafsu sudah ditaklukan.

Pelaku kezaliman takut dengan kematian. Mereka butuh tameng dan benteng yang kuat. Baju yang tidak akan ditembus oleh apa pun. Rumah dan pengawalan yang dijaga oleh pasukan dan tank. 

Sesungguhnya kezaliman menimbulkan ketakutan pada pelakunya sendiri.
Imam Al Ghazali dalam kitabnya Raudha Tha -Thalibin mengatakan bahwa pecinta dunia itu lemah dan pecinta akhirat itu kuat. Rasulullah saw bersabda bahwa pecinta dunia akan diliputi persoalan yang tidak pernah selesai, hidupnya penuh kekacauan. Itulah yang dirasakan oleh pelaku kezaliman yaitu kelemahan, kekacauan dan ketakutan. Adakah selain itu?

Lihatlah Israel, bisa tegak bila ditopang oleh Amerika dan Inggris. Bisa tegak bila memiliki angkatan senjata paling kuat. Bisa tegak bila ditopang ekonomi dan dana dari Amerika. Bisa aman bila disetiap desa di Palestina di kurung oleh benteng dan pemeriksaan yang ketat disetiap pintu-pintu benteng di setiap desa. Namun anehnya, beberapa tentara Israel dilawan oleh anak kecil sambil membawa susu botol dan batu?

Keruntuhan kezaliman hanya menunggu satu momentum yaitu keberanian. Keberanian yang lahir dari satu mental yaitu iman kepada Allah. Bukankah Ibrahim melawan Namrudz seorang diri dengan argumentasi? Bukankah Musa dan Harun menghadapi Firaun dengan argumentasi? Kekuatan kekerasan akan lunglai dengan argumentasi.

Bukankah para nabi dibekali kitab Suci yang salah satunya untuk berargumentasi dan menggugah hati? Dengan cara ini pula kita bisa meruntuhkan kezaliman.

Pelaku Kezaliman akan bising dengan fakta, argumentasi dan sentuhan nurani. Karena kezaliman akan lenyap ditangan mereka yang jiwanya bergelora dan hidup. Bukankah pekikan Allahuakbar sudah mampu melemahkan mental kezaliman? Biarkan pekikan ini terus membahana dan bergemuruh di negri tercinta.

Kezaliman menghasilkan beban  berat bagi pelakunya. Betapa banyak tentara Amerika yang gila dan bunuh diri atas kezalimannya? Betapa banyak yang mengalami gangguan jiwa? Kezaliman menghancurkan nuraninya sendiri.

Perginya Penggandrung Buku? Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Buku tetap saja ditinggalkan, walaupun bu...

Perginya Penggandrung Buku?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Buku tetap saja ditinggalkan, walaupun budaya membaca lebih menjamur dari era sebelumnya.  Apa yang dibaca? Itu persoalannya. Dengan perkembangan teknologi informasi yang memudahkan akses ilmu pengetahuan, tak menolong untuk mencintai dan menelaan buku.

Budaya yang pertama kali diwahyukan Allah adalah budaya membaca. Bukan ilmu, bukan pengetahuan, bukan rumus sakti. Dari membacalah budaya ilmu pengetahuan terbangun, budaya teknologi terbentuk. Kitalah yang menemukan ilmu. Kitalah yang menciptakan pengetahuan. Kitalah yang memproduksi teknologi. Persoalannya, kita sering kali menjadi penikmat ilmu, penikmat pengetahuan, penikmat teknologi, akhirnya jati diri menjadi pengekor.

Tersiksa bila menjadi pengekor, tidak bisa melampaui apa yang sudah ada. Ruang geraknya terbatas dengan batasan realitas yang ada. Hidupnya terpenjara dengan segala yang sudah ada. Pengekor itu menjadi penyerbu segala hal yang baru. Mengekor itu hidupnya selalu didikte dan dikendalikan sehingga tak bisa menjadi dirinya sendiri.

15 tahun yang lalu berkereta. Sekarang berkereta juga. Penumpangnya sudah berubah. Yang naik kereta sekarang, level pendidikannya sudah lebih baik dari 15 tahun yang lalu. Namun mengapa tidak terlihat budaya membaca yang kuat? Yang dikonsumsi game, medsos, terlelap dengan keheningan.

Mengapa pendidikan formal tidak bisa merubah budaya? Mengapa pendidikan hingga strata tinggi tak bisa membentuk karakter pembelajar? Pembaca buku?  Pendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan uang, itulah persoalannya.

Membaca di pendidikan formal hanya untuk mendapatkan nilai raport, IPK yang tinggi agar mudah mendapatkan pekerjaan. Inilah yang menyebabkan stagnasi budaya ilmu, pengetahuan dan teknologi di negri ini. Yang mengecap pendidikan semakin merata, apakah produksi buku ikut meningkat? Apakah yang mengunjungi perpustakaan terus bertambah?

Kurikulum terus berubah. Mata pelajaran ditambah dan dikurangi. Methodelogi pengajaran terus dievaluasi dan disempurnakan. Namun mengapa tak mengubah wajah Nusantara?

Banyak buku yang dibaca untuk satu pelajaran sekolah, namun mengapa tak bisa membawa kebiasaan membaca tersebut ke luar bangku sekolah?

Berdebat Atas Nama Kebenaran? Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Bersilaturahmi ke rumah seorang ustadz,...

Berdebat Atas Nama Kebenaran?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Bersilaturahmi ke rumah seorang ustadz, langsung diberondong banyak pertanyaan. Pertanyaan yang jawabannya tak perlu berfikir. Pertanyaan yang jawabannya tak harus seorang jenius. Jawabannya pun sangat mudah.

Sudah tahu keutamaan membaca Al-Qur'an? Sudah tahu ilmunya? Mengapa tidak membaca Al-Qur'an?

Sudah tahu keutamaan shalat Tahajud? Mengapa tidak shalat Tahajud?

Sudah tahu keutamaan shalat Duha? Mengapa belum shalat duha? Sudah tahu keutamaan berbisnis, mengapa belum berbisnis?

Sudah tahu keutamaan berdzikir, mengapa belum berdzikir? Agama itu bukan untuk diperdebatkan, dikaji, dipelajari, tetapi untuk diamalkan?

Bila ilmu agama hanya untuk diperdebatkan dengan dalil, maka tidak akan pernah selesai pembahasannya hingga berabad-abad sekali pun. Namun mengapa kita terus asyik perdebatan yang mengatasnamakan kebenaran, keshahihan?

Pertanyaan ini terus beruntun ditujukan kepada ku. Aku hanya diam, karena ilmu terlalu banyak dari amal.

Judul buku : Ahlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani *Mengumpat* Mengumpat, bergunjing, atau membicarakan ke...

Judul buku : Ahlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani

*Mengumpat*

Mengumpat, bergunjing, atau membicarakan keburukan orang lain di belakangnya menjadi kebiasaan di dalam masyarakat. Perbuatan seperti ini menjadi pintu kemunafikan, menghilangkan rasa percaya orang lain di dekat kita. Tandanya, dia berani pula membuka aib kita di hadapan orang lain.

Allah SWT mengibaratkan tukang cela orang lain itu seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Nabi saw. sendiri ketika ditanya, "Siapakah yang patut disebut seorang Muslim?" Beliau saw. menjawab, "Orang Muslim itu yang terpelihara dari kejahatan lidah dan tangannya."

Orang yang biasa mengumpat orang lain, kerjanya hanya mencari cela orang saja, tidak ada orang di sisi nya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an,

"Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela." (al-Humazah: 1)

Humazah ialah orang yang suka mencela orang lain dan menghinakannya. Lumazah ialah orang yang pemakan daging manusia, justru lebih jahat lagi dari pemakan daging.

Menurut riwayat kebanyakan ahli salaf memandang bahwa ibadah shalat dan puasa itu masih  disebut ibadah yang biasa, sedangkan yang lebih utama ialah menahan lidah dari membicarakan aib dan cela manusia.

Ibnu Abbas r.a. mengatakan, "Sebelum membuka aib orang lain, lebih dahulu selidikilah aib diri sendiri." Imam al-Ghazali menjelaskan pengumpat atau penggunjing, kata beliau, "Engkau sebut-sebut keadaan saudara engkau yang kalau ia dengar, hatinya sakit. Baik kekurangan pada badan, turunan, perangai, perbuatan, pekataan, agama, maupun harta sampai kepada kekurangan potongan bajunya, keburukan rumah, dan keburukan kendaraannya.

Tentang badannya, engkau sebut dia pendek, gigi tonggos, muka bopeng, telinga luas, terlalu tinggi, punggung bungkuk, kulit hitam dan lain-lain yang menunjukkan kekurangan.

Tentang turunan, engkau katakan ibunya fasik, ayahnya durjana, neneknya perampok, sukunya pemecah, kaumnya penipu, dan lain-lain. Tentang perangai, engkau sebut dia takabur, pemuji, peminta, pengecut, dan lain-lain. Tentang perangai, dikatakan dia pencuri, pendusta, peminum, bakhil, tidak hormat pada orang tuanya, dan lain-lain. Untuk mencukupkan arti pengumpat, cukuplah kita salinkan saja kata-kata Nabi saw., "Yang dinamakan pengumpat ialah membicarakan saudara engkau atas barang yang dibencinya."

Kalau seorang manusia sakit hati lantaran dibicarakan tentu akan sakit pula hatinya dibicarakan dengan isyarat mata, cibir bibir, gerak, atau goyang tangan. Pendeknya tiap-tiap perbuatan yang dapat membuat sakit hati orang yang dituju. Siapa yang mengisyaratkan dengan matanya menunjukkan bahwa orang yang lewat di hadapannya adalah pendek atau tinggi, kurus atau terlalu gemuk, pendek leher atau lapang baju, terlalu gagah atau salah memakai pakaian, atau ditiru-tiru cara berjalannya guna mengejek, semua termasuk menggunjing juga.

Kelihatan seorang kawan memakai pakaian yang berbeda dari yang dipakai orang banyak, kemudian kita sindir kepada kawan yang lain, "Sejak pulang dari merantau, sudah banyak berubah saya lihat." Ini pun ter masuk gunjing yang diharamkan.

Atau kita berdoa, "Ya Allah, mudah-mudahan janganlah saya bernasib seperti orang itu (lantaran ba dannya terlalu pendek) misalnya, itu pun bernama gunjing.

Ada lagi yang lebih halus, mula-mula dipuji seorang yang hendak digunjing itu, disebut-sebut bahwa dia mendapat nikmat dari Allah SWT, tetapi sayang dia tidak sunyi kesalahan-maklumlah manusia-begitu banyak salah dan silap. Itulah kekurangannya sehingga nikmat yang dipujikan itu hilang belaka oleh 'tetapi' dan 'cuma'. Mula-mula yang mendengar menyangka bahwa ini betul-betul pujian rupanya racun diberi bergula dan diberi pula perhiasan dengan "karena Allah".

Cara lain ialah berkata, "Aduh kasihan si Anu, begitu hebat cobaan yang datang kedirinya. Utang sudah terlalu banyak, istri minta cerai, anaknya telah dicabut dari sekolah. Menjadi iktibar bagi kita, bahayanya orang yang terlalu boros, macam-macam saja cobaan yang Allah SWT berikan kepadanya."

Kalimat di atas menyatakan rasa simpati karena menyebut nama Allah SWT, tetapi di balik itu adalah membuka aib orang lain. Kadang-kadang si pendengar tercengang atas perkataan yang didengarnya, misalnya "Saya sangka si Anu tidak akan begitu karena kelihatan oleh saya selama ini bahwa dia itu rajin shalat, orang yang saleh, pandai bergaul, tidak terlalu royal, tetapi rupanya tidak seperti itu hakikatnya, memang macam-macam saja cobaan Allah SWT kepada manusia."

Nama Allah SWT tidak lupa disebutkan di dalam kejahatan itu, tak ubahnya dengan maling yang berdiri di tengah jalan, melihat melenggong perempuan-perempuan cantik tiap-tiap ada yang lewat, selalu membaca "Astaghfirullah."

(Muhammad Syair)

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)