Masa Kelam Dunia yang Disebabkan Oleh Kemunduran Umat Islam
Abad ke-6 dan ke-7 Masehi merupakan abad-abad yang paling suram. Kenyataan ini tidaklah diperselisihkan di kalangan para ahli. Sejak berabad-abad sebelumnya, kemanusiaan telah meluncur dan jatuh secara drastis. Di persada bumi ini tidak ada lagi kekuatan yang sanggup menahan serta mencegahnya.
Perputaran waktu semakin hari semakin mempercepat kejatuhan dan menambah kerusakan dengan hebatnya. Peradaban manusia pada abad-abad tersebut seolah-olah telah melupakan Khaliknya (Penciptanya), sehingga manusia pun lupa pada dirinya sendiri dan hari depannya. Kesadaran manusia telah hilang. Kebijaksanaannya pun telah lenyap. Dengan demikian, hilang pula kesanggupannya untuk membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan yang salah, serta antara yang mulia dan yang hina.
Apa yang telah diserukan oleh para Nabi 'Alaihimus Salam telah lama pudar. Pelita-pelita yang dinyalakan oleh para nabi pun telah lama padam, tertiup angin kencang yang datang sepeninggal mereka. Sekiranya masih ada yang menyala, cahayanya pun sangat kecil dan hanya remang-remang. Cahaya itu tidak lagi mampu menerangi hati, bahkan menerangi rumah-rumah, apalagi sebuah negeri.
Para agamawan telah melarikan diri dari kehidupan dan berlindung di dalam biara-biara, gereja-gereja, bahkan goa-goa untuk memencilkan diri. Bersama agamanya, mereka lari menghindari segala bencana dan fitnah untuk menyelamatkan diri. Mereka juga lari karena dorongan untuk dapat hidup tenang, ataupun karena gagal dalam perjuangan mempertahankan agama, politik, kemerdekaan rohani, serta kebendaan.
Adapun mereka yang masih tinggal dalam kehidupan ramai telah menjalin persekutuan dengan para raja dan penguasa dunia. Mereka membantu para penguasa tersebut dalam perbuatan dosa dan kedurhakaan, bahkan turut serta memakan harta orang lain secara zalim. Semua itu mereka lakukan terhadap orang-orang yang lemah dan orang-orang yang menjadi budak.
Sesungguhnya, kemanusiaan tidaklah menderita hanya karena terjadinya perpindahan pemerintahan, kekuasaan, kesejahteraan, dan kenikmatan dari tangan orang-orang demikian ke tangan orang lain yang sejenis. Begitu pula dengan perpindahan semua itu dari tangan satu kelompok kepada kelompok lainnya yang serupa kezalimannya, yang selalu diwarnai oleh penindasan dan pemerasan manusia atas manusia lainnya.
Dunia ini nyatanya tidaklah menderita dan bersedih hanya karena kemerosotan suatu umat yang sudah tua dan lemah, maupun karena jatuhnya suatu negara yang memang telah keropos akar-akarnya serta rontok tiang-tiangnya. Semua itu terjadi karena adanya hukum alam.
Justru air mata yang bercucuran dari manusia setiap saat dan setiap harinya jauh lebih besar artinya daripada matinya seorang raja atau lenyapnya suatu kekuasaan.
Manusia tidak membutuhkan dan tidak memedulikan adanya pengganti raja maupun penguasa yang hilang jika penggantinya itu sehari pun tidak pernah berbuat demi kebahagiaan umat manusia, ataupun bekerja keras barang sedetik dengan memeras pikiran demi kepentingan umat manusia.
Sungguh, bumi dan langit telah muak atas terjadinya peristiwa-peristiwa semacam itu setiap harinya, bahkan yang telah terjadi ribuan kali. Renungkanlah firman Allah SWT. berikut ini:
كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ كَذَٰلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ
Artinya:
"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka nikmati, demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi tangguh."
(Q.S. Ad-Dukhan [44]: 25–29)
Sungguh, alangkah banyaknya penguasa dan bangsa seperti itu yang sebenarnya hanya menjadi beban di persada bumi ini, mengancam kelestarian umat manusia, serta mendatangkan siksaan bagi bangsa-bangsa kecil dan lemah. Mereka juga menjadi bibit kerusakan dan sumber penyakit, bagaikan racun yang menggerogoti seluruh jaringan saraf serta pembuluh darah sehingga mengancam bagian-bagian tubuh yang sehat.
Tidak ada jalan lain kecuali melakukan operasi besar-besaran, yaitu dengan membuang bagian-bagian yang sakit untuk menyelamatkan bagian-bagian yang masih sehat. Semua itu merupakan pertanda keagungan Allah Ta'ala serta rahmat-Nya yang lurus, yang wajib disyukuri dan selalu diingat oleh seluruh umat manusia dalam kehidupan ini.
Allah SWT. berfirman:
فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
"Maka orang-orang zalim itu dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."
(Q.S. Al-An'am [6]: 45)
Akan tetapi, sangatlah berbeda dengan semua itu. Kemerosotan umat Islam sebagai pembawa panji-panji risalah para Nabi serta sebagai jaminan bagi sehatnya seluruh tubuh manusia, tidaklah sama dengan kemerosotan dan keterbelakangan suatu bangsa atau golongan tertentu, jatuhnya kewibawaan mereka, maupun hilangnya kedaulatan mereka di dunia ini.
Kemerosotan umat Islam justru merupakan jatuhnya suatu risalah yang berfungsi sebagai ruh atau nyawa. Kemerosotan mereka adalah ambruknya tiang pancang yang menjadi penopang utama bagi berbagai permasalahan keagamaan dan keduniaan.
Setelah beberapa abad lamanya kaum muslimin mengalami kemerosotan, keterasingan, maupun keterpinggiran, timbul pertanyaan: apakah keadaan tersebut merupakan sesuatu yang menyedihkan umat manusia di belahan timur dan barat? Adakah yang menyesalinya?
Kerugian apakah sebenarnya yang diderita dunia dengan mundurnya umat Islam?
Bukankah di dunia ini masih banyak umat dan bangsa-bangsa lain? Kalau memang rugi, sampai di manakah kerugiannya?
Bagaimanakah keadaan dunia, terutama setelah kendali dunia dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa (Barat) sebagai pengganti kedudukan umat Islam yang sebelumnya mempunyai pengaruh internasional, dan setelah mereka berhasil mendirikan kekuasaan di atas puing-puing reruntuhan kekuasaan Islam?
Pengaruh apakah yang terjadi dengan adanya perubahan besar dalam kepemimpinan bangsa-bangsa dan pimpinan dunia, baik di bidang agama, akhlak, politik, kehidupan, maupun masa depan kemanusiaan?
Bagaimanakah keadaannya bila dunia Islam bangun dari tidurnya, keluar dari kemerosotannya, serta kembali mengendalikan tampuk kekuasaan kehidupan?
Itulah semua pertanyaan yang hendak kami usahakan jawabannya dalam halaman-halaman buku kami ini.
Kerugian yang Diderita Dunia dengan Kemunduran Umat Islam
Kemunduran umat Islam yang kemudian diikuti kegagalan serta tersingkirnya mereka dari kepemimpinan bangsa, hingga terasing dari medan kehidupan dan perjuangan, apakah sejenis dengan kemerosotan suatu bangsa yang telah terjadi berulang-ulang dalam sejarah?
Apakah ia sama dengan runtuhnya pemerintahan atau negara, ambruknya para raja dan kaum penakluk, terkalahkannya para penyerbu yang sebelumnya menang, atau lenyapnya penindasan politik yang dulunya toleran (tasamuh)?
Sungguh bukan!
Kemunduran umat Islam bukanlah sejenis dengan kesemuanya itu. Alangkah banyaknya kejadian dan peristiwa seperti itu dalam sejarah setiap bangsa maupun sejarah manusia pada umumnya.
Kemunduran umat Islam adalah suatu peristiwa yang sungguh aneh dan mengherankan, dan tidak ada padanannya dalam sejarah. Kemunduran umat Islam itu bukan hanya dialami oleh bangsa Arab, bukan hanya dialami oleh rakyat serta bangsa yang dekat dengan agama Islam, dan bukan pula hanya dialami oleh suatu dinasti ataupun istana yang telah kehilangan kekuasaan dan negara.
Kemunduran umat Islam merupakan suatu tragedi yang sesungguhnya dialami oleh seluruh umat manusia. Sejarah belum pernah mencatat suatu peristiwa yang lebih memprihatinkan dan menyedihkan daripada peristiwa itu.
Seandainya dunia memahami hakikat bencana yang sedang terjadi dan mengetahui betapa besar kerugian serta malapetaka yang menimpanya, sehingga tirai fanatisme tersingkap, tentulah dunia akan menjadikan hari kemunduran umat Islam sebagai hari berkabung, hari duka cita, hari belasungkawa, bahkan hari yang penuh tangisan. Bangsa-bangsa sedunia tentu akan saling bertukar pernyataan duka cita dan dunia itu sendiri akan mengenakan pakaian berkabung.
Akan tetapi, sungguh, peristiwa yang menyedihkan tersebut tidak terjadi dalam satu hari. Peristiwa itu terjadi setapak demi setapak dan berangsur-angsur dalam waktu bertahun-tahun.
Sungguh, hingga saat ini dunia belum pernah menghitung dengan tepat kapan peristiwa itu terjadi. Dunia juga tidak dapat memperkirakan seberapa besar nilai kerugiannya, sebab dunia tidak memiliki alat yang tepat untuk mendeteksi seberapa besar penderitaan dan kesengsaraan yang ditimbulkannya.
Perlu ditegaskan bahwa dunia tidaklah menderita kerugian sedikit pun dengan runtuhnya suatu negara yang sekian lama pernah berjaya dan berkuasa, menaklukkan sejumlah negeri dan daerah, serta memperbudak rakyatnya sambil menikmati kehidupan berfoya-foya dan berlimpah kekayaan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif