basmalah Pictures, Images and Photos
09/12/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Produksi dalam Islam Bukan Tentang Barang, Tapi Berkah "Agama Islam bukanny...


Produksi dalam Islam Bukan Tentang Barang, Tapi Berkah

"Agama Islam bukannya tidak dilengkapi agar dapat bertahan dalam dunia modern," tulis Dennis Saurat dalam History of Religion.

Pernyataan ini menjadi pengingat tajam di tengah obsesi dunia hari ini terhadap angka-angka dingin: PDB, target kuartalan, dan akumulasi laba yang seringkali hampa makna. 

Kita terjebak dalam paradigma bahwa kemajuan identik dengan tumpukan benda, namun kita sering lupa bertanya: untuk apa semua ini diproduksi?

Dalam kacamata ekonomi Islam, produktivitas bukanlah sekadar perlombaan mengejar angka. Ia adalah sebuah tatanan yang menghubungkan keringat manusia dengan janji kelimpahan yang etis.

Islam tidak datang untuk menolak kemajuan materi, melainkan untuk memberinya "jiwa" agar tidak berakhir menjadi eksploitasi yang merusak.


Alam Sebagai Infrastruktur Karunia yang Tak Terhitung

Landasan utama ekonomi Islam bermula dari pengakuan bahwa alam semesta bukanlah objek tak bertuan yang bebas dijarah. 

Berdasarkan QS. An-Nahl ayat 10-12, Allah menyediakan infrastruktur kehidupan yang sempurna: air hujan yang menyuburkan zaitun, kurma, dan anggur, serta keteraturan kosmis—malam, siang, matahari, dan bulan—yang semuanya "ditundukkan" untuk melayani kebutuhan manusia.

Namun, keteraturan ini adalah tanda bagi "kaum yang berpikir" dan "memahami". Di sini, efisiensi bukan sekadar soal biaya teknis, melainkan tentang penghormatan terhadap karunia. Islam secara tegas mencela pemborosan sumber daya dalam bentuk apa pun.

Mengelola alam berarti mengelola amanah, di mana setiap jengkal tanah dan tetes air memiliki nilai spiritual yang melampaui nilai komersialnya.

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 18)


Redefinisi Produksi

Ada sebuah batasan teologis yang sangat indah dalam kerja: manusia tidak pernah benar-benar "menciptakan" materi.

Secara fisik, tidak seorang pun mampu menciptakan benda dari ketiadaan; itu adalah hak prerogatif Allah sebagai Khaliq. Peran manusia dalam produksi hanyalah sebagai Musakhkhir atau pengelola yang menciptakan "manfaat" (utility).

Produksi, dalam pengertian ini, adalah proses mengubah sesuatu yang sudah disediakan alam menjadi lebih berguna bagi kemaslahatan. Pergeseran perspektif dari "membuat barang" menjadi "menciptakan kegunaan" mengubah total etika kerja kita.

Kerja bukan lagi tentang ego untuk menaklukkan materi, melainkan bentuk stewardship (perwalian) untuk memastikan setiap sumber daya mencapai potensi manfaat maksimalnya bagi sesama.


Kesejahteraan: Mengapa Tolok Ukur Uang Saja Tidak Cukup

Mari kita undang Profesor Pigou, salah satu pemikir ekonomi terkemuka, ke dalam percakapan ini. Beliau mewakili mazhab materialis yang mendefinisikan kesejahteraan dengan batasan yang sangat sempit:

"Kesejahteraan ekonomi kira-kira dapat didefinisikan sebagai bagian kesejahteraan yang dapat dikaitkan dengan alat pengukur uang." — Profesor Pigou

Islam menolak penyempitan ini. Bagi seorang Muslim, kesejahteraan (falah) bersifat multidimensi. Uang memang alat ukur objektif, namun ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa pertimbangan moral, pendidikan, dan agama.

Kesejahteraan ekonomi yang sejati harus mencakup peningkatan pendapatan melalui produksi barang-barang yang berfaedah, pemanfaatan sumber daya manusia secara maksimal, dan yang terpenting, tidak melanggar batasan etika yang telah digariskan.

Dilema Kualitas dan Larangan: Pelajaran dari Kebun Anggur

Keunikan sistem produksi Islam terletak pada supremasi etika di atas volume. Produksi yang tinggi tidak dianggap sebagai keberhasilan jika barang yang dihasilkan bersifat merusak atau terlarang.

 Sejarah mencatat fenomena menarik mengenai budidaya pohon anggur sebagai dampaknya.

Meskipun terdapat nuansa dalam mazhab Hanafi yang membedakan alkohol secara umum dengan anggur, secara keseluruhan, larangan minuman keras mengubah lanskap agrikultur di wilayah Islam. 

Pohon anggur bermutu tinggi yang awalnya dikelola secara masif di dataran rendah untuk tujuan ekspor (minuman keras) mulai menghilang. Produksi tersebut mundur ke wilayah perbukitan dan pegunungan untuk konsumsi lokal yang lebih sehat dan terbatas.

Ini adalah bukti nyata bahwa dalam Islam, "mutu" produksi harus tunduk pada kriteria Al-Qur'an dan Sunnah. Kita lebih memilih kehilangan angka ekspor demi menjaga integritas moral masyarakat.


Ekonomi Inklusif: Melawan Konsentrasi Kekuasaan

Kritik terbesar terhadap sistem kapitalis adalah menumpuknya alat produksi di tangan segelintir "raja kecil", yang menciptakan jurang perbedaan pendapatan yang menyakitkan.

 Islam memandang bahwa produksi yang sukses adalah produksi yang melibatkan partisipasi jumlah orang sebanyak mungkin.

Untuk mencegah pembekuan kekayaan pada kelompok elit, Islam menawarkan solusi sistemik yang tegas:

Pajak Warisan (Inheritance Tax): Mencegah konsentrasi kekayaan permanen lintas generasi agar modal tetap mengalir di masyarakat.

Sistem Perpajakan Progresif: Memastikan beban kontribusi disesuaikan dengan kapasitas finansial.

Distribusi Layanan Sosial: Mengalokasikan hasil pajak dari kelompok mapan untuk memperkuat kelompok miskin melalui dinas-dinas sosial.

Tujuannya jelas: mengurangi perbedaan pendapatan dan menjamin bahwa keterlibatan dalam proses produksi adalah hak bagi banyak orang, bukan hak istimewa segelintir pemilik modal.


Sistem produksi dalam sebuah negara atau masyarakat Islam haruslah dikendalikan oleh dua kriteria besar: objektif dan subjektif.

Kriteria objektif memastikan kesejahteraan material yang terukur secara finansial, sementara kriteria subjektif memastikan bahwa seluruh aktivitas ekonomi tersebut berdenyut dalam irama etika Al-Qur'an dan Sunnah.

Masa depan ekonomi yang lebih manusiawi bukanlah yang paling banyak menghasilkan barang, melainkan yang paling efisien dalam menciptakan berkah tanpa menyisakan pemborosan.

Eropa di Tepi Jurang: "Liberalisme" Sedang Terancam oleh Kebangkitan Sayap Kanan ...

Eropa di Tepi Jurang: "Liberalisme" Sedang Terancam oleh Kebangkitan Sayap Kanan

Dahulu, Eropa dipandang sebagai mercusuar idealisme liberal yang tak tergoyahkan. Mengenang awal milenium, kita teringat pada optimisme Stefan Zweig tentang "kekuatan pengikat toleransi," di mana batas antarnegara seolah mencair demi kemanusiaan bersama.

Namun, janji peradaban itu kini tampak rapuh, seolah-olah pondasi demokrasi yang kita anggap stabil sedang retak secara sistematis.

Kita kini berdiri di tepi "jurang" (abyss), di mana narasi keterbukaan mulai digantikan oleh guncangan nasionalisme yang terorganisir.

Sebagai narator di era digital ini, saya melihat bahwa fenomena ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, melainkan pergeseran mendasar dalam arsitektur kebenaran kita.

Berikut adalah lima alasan mengapa liberalisme Eropa berada dalam posisi paling terancam sejak Perang Dunia II.


1. Matinya "Atonement" di Jerman: Ketika Sejarah Tak Lagi Menjadi Tameng

Jerman selama ini dianggap sebagai benteng pertahanan terakhir melawan ekstremisme karena program Vergangenheitsbewältigung—sebuah upaya sistematis untuk berdamai dengan masa lalu Nazi.

Namun, kemenangan Alternative für Deutschland (AfD) di Saxony-Anhalt pada September 2026 menandai kegagalan program "inokulasi" sejarah tersebut. Kemenangan ini mengejutkan justru karena terjadi di negara yang paling gigih melakukan penebusan dosa masa lalu.

Kini, AfD secara sadar melakukan penolakan terhadap semangat penebusan dosa tersebut dengan memulihkan definisi kebangsaan berbasis biologis. Mereka tidak lagi melihat sejarah sebagai guru, melainkan sebagai beban yang harus dibuang.

Hal ini menciptakan pergeseran di mana Jerman, yang seharusnya paling kebal, kini menjadi pusat guncangan politik Eropa.

"Tidak ada negara yang harus belajar lebih banyak dari sejarah jika ingin mengimunisasi demokrasinya terhadap ekstremisme... Namun, kita jatuh ke jurang yang sama dengan cara yang sama, dalam campuran antara ejekan dan ketakutan." — Rafael Behr.


2. Dominasi TikTok: Bagaimana Algoritma Mengalahkan Media Tradisional

Dalam arsitektur informasi baru, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan cara kelompok sayap kanan menghindari "permusuhan" media arus utama.

AfD telah memenangkan perang algoritma ini dengan mendominasi ruang digital anak muda jauh sebelum partai arus utama menyadari medan tempurnya. Mereka menggunakan platform ini untuk menciptakan realitas alternatif yang sulit ditembus oleh fakta-fakta konvensional.


3. Krisis Identitas Pria Muda: Mengapa Mereka Berpaling ke Kanan?

Di sebuah bar kecil di kota bekas pertambangan Freiberg, Saxony, kecemasan pria muda menemukan tempat berlabuh. Penelitian Pew 2024 mengungkap kesenjangan gender yang lebar: 26% pria Jerman mendukung AfD, berbanding terbalik dengan hanya 11% wanita.

Tingkat kecemasan tertinggi justru ditemukan pada mereka yang menggolongkan diri sebagai ekstrem kanan, yang merasa kehilangan tempat di tengah narasi feminisme modern.

Dr. Rüdiger Maas mencatat bahwa tema kesetaraan gender membuat banyak pria merasa "tidak terlihat" dalam politik kiri. 

Mereka bereaksi dengan merangkul nilai konservatif ekstrem, seperti tren "Istri Tradisional" (Trad Wives), sebagai bentuk pelarian dari ketidakpastian zaman.

Bagi mereka, dukungan terhadap sayap kanan adalah cara untuk merebut kembali rasa bangga yang hilang.

"Orang tua saya bercerita dulu mereka hidup damai tanpa ketakutan... Saya ingin tinggal di negara tanpa rasa takut, tapi kini Anda disebut 'Nazi' hanya karena mengkhawatirkan imigrasi." — Nick (19 tahun).


4. Aliansi Global Tak Terduga: MAGA, Musk, dan Uang Kremlin

Ada paradoks menarik di mana gerakan nasionalis yang seharusnya mementingkan negara sendiri justru membentuk jaringan global yang solid. Elon Musk menggunakan platform X untuk memperkuat pesan AfD, sementara JD Vance melakukan pertemuan strategis dengan Alice Weidel di Munich tanpa memberikan ruang bagi Kanselir Jerman.

Aliansi ini bersatu di bawah narasi global tentang "perlawanan patriotik" melawan apa yang mereka sebut sebagai "penghapusan peradaban."

Namun, di balik narasi patriotisme ini, terdapat jejak pengaruh luar negeri yang sangat nyata:

Kasus Penyuapan: Nathan Gill, mantan pemimpin Reform UK di Wales dan MEP dari Partai Brexit, dijebak dan dipenjara karena menerima suap untuk memberikan pidato pro-Rusia di parlemen Eropa.

Koordinasi Trans-Atlantik: Dukungan dari tokoh-tokoh MAGA memberikan legitimasi internasional bagi kelompok yang sebelumnya dianggap marginal di Eropa.


5. Normalisasi Ekstremisme: Tembok Api yang Mulai Runtuh

Di Jerman, terdapat konsep "Tembok Api" (Firewall atau Cordon Sanitaire), yaitu kesepakatan partai arus utama untuk menolak kerja sama dengan AfD. Namun, tembok ini mulai runtuh seiring dengan populernya istilah "remigrasi"—sebuah kode halus untuk deportasi massal—dalam diskusi publik.

Ketika tokoh seperti Marine Le Pen mencoba terlihat moderat, AfD justru semakin radikal dan tetap mendulang suara.

Badan intelijen domestik Jerman (BfV) secara resmi telah mengklasifikasikan AfD di wilayah seperti Saxony sebagai "ekstremis sayap kanan yang terkonfirmasi" dengan tingkat ancaman di rekor tertinggi. 

Risiko terbesarnya adalah "kanibalisme politik," di mana partai sayap kanan ekstrem mulai menelan konstituen partai kanan arus utama. Hal ini terjadi karena pemilih mulai menganggap solusi radikal sebagai sesuatu yang lebih "nyata" dan jujur.


Meskipun aliansi nasionalis ini tampak kuat, mereka bukanlah blok yang monolitik karena ego nasionalisme mereka sering kali menghambat kerja sama lintas batas.

Perselisihan antara Jordan Bardella dari Prancis dan Nigel Farage mengenai lalu lintas perahu kecil di Selat Inggris adalah bukti nyata bahwa kepentingan nasional tetap bisa memecah mereka. Ketegangan ini memicu kritik keras di spektrum politik Prancis yang merasa kedaulatan mereka dikompromikan.

Kriteria Dasar Memilih Pegawai Pemerintahan di Era Khulafaur Rasyidin Di era Khulafaur Rasyi...


Kriteria Dasar Memilih Pegawai Pemerintahan di Era Khulafaur Rasyidin
Di era Khulafaur Rasyidin, memilih dan menunjuk pegawai pemerintahan bukanlah sekadar persoalan mengisi jabatan. Penunjukan seseorang untuk mengemban suatu tugas merupakan bagian dari tanggung jawab khalifah dalam memastikan urusan umat berjalan dengan baik. Karena itu, para Khulafaur Rasyidin sangat memperhatikan proses seleksi. Mereka mencari orang-orang yang memiliki kompetensi, kecakapan administrasi, pengalaman, sekaligus karakter yang sesuai dengan amanah yang akan diberikan kepadanya.

Kriteria tersebut tidak selalu sama untuk setiap jabatan. Tugas administrasi sipil, misalnya, memiliki tuntutan yang berbeda dengan tugas militer. Demikian pula jabatan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan memiliki karakteristik yang berbeda dengan jabatan politik, peradilan, atau pemerintahan daerah. Namun, di balik perbedaan tersebut terdapat prinsip-prinsip umum yang menjadi perhatian para khalifah. Sebagian besar prinsip itu berakar pada syariat Islam, baik melalui nash Al-Qur'an maupun Sunnah Nabi saw.

Kompetensi dan Pembagian Tugas

Salah satu asas penting dalam pengelolaan pemerintahan adalah menentukan kompetensi dan membagi tugas secara jelas. Setiap pegawai harus memahami pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Ia tidak boleh lalai terhadap tugasnya, tetapi juga tidak semestinya mencampuri pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawab pegawai lain.

Pembagian tugas semacam ini membuat pemerintahan dapat berjalan secara teratur. Setiap orang mengetahui wilayah tanggung jawabnya, sementara khalifah dapat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas secara lebih efektif.

Setelah tugas dibagi, persoalan berikutnya adalah siapa yang paling layak mengembannya. Di sinilah kompetensi dan pengalaman menjadi pertimbangan utama. Jabatan tidak semestinya diberikan kepada seseorang hanya karena kedekatan, popularitas, atau pertimbangan subjektif lainnya. Orang yang paling mampu menjalankan suatu pekerjaan harus mendapatkan prioritas.

Prinsip ini sejalan dengan peringatan Rasulullah saw. terhadap orang yang memberikan suatu amanah kepada seseorang, padahal ia mengetahui ada orang lain yang lebih layak dan lebih berkompeten untuk mengembannya. Beliau bersabda:

«“Barangsiapa yang menguasakan sesuatu kepada salah seorang pemimpin kaum muslimin, lalu ia menugaskan seseorang memimpin mereka padahal ia tahu bahwa di antara mereka ada orang lain yang lebih patut atas sesuatu tersebut dan lebih mengetahui Kitab Allah serta sunnah Rasul-Nya daripada seorang yang ia tugasi tersebut, berarti ia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan semua orang-orang beriman.”335»

Dengan demikian, kompetensi bukan sekadar kualitas tambahan dalam pemerintahan. Ia merupakan bagian dari amanah itu sendiri. Ketika seseorang mengetahui ada figur yang lebih mampu, tetapi tetap memilih orang yang kurang layak, persoalannya bukan lagi sekadar kesalahan administratif, melainkan pengkhianatan terhadap amanah.

Kekuatan: Kompetensi, Ketegasan, dan Kemampuan

Selain kompetensi, salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang pejabat adalah kekuatan. Al-Qur'an menggambarkan kriteria tersebut dalam kisah Musa dan putri Nabi Syuaib:

«“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
(Al-Qashash: 26)»

Kekuatan dalam konteks pemerintahan tidak berarti kekerasan. Ia lebih dekat dengan kemampuan untuk menjalankan tugas, keteguhan dalam mengambil keputusan, kecakapan menghadapi persoalan, serta keberanian menegakkan kebenaran. Karena itu, seseorang yang lemah dalam kapasitas kepemimpinan tidak semestinya dipaksakan menduduki jabatan yang membutuhkan kemampuan besar.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan Abu Dzar tentang hal tersebut. Abu Dzar dikenal sebagai seorang yang bersih, jujur, dan memiliki kedudukan mulia dalam hal kejujuran. Namun, Rasulullah saw. tetap tidak merekomendasikannya untuk memegang jabatan tertentu karena melihat adanya kelemahan dalam aspek kepemimpinan.

Beliau bersabda:

«“Wahai Abu Dzar, aku melihat kamu orang yang lemah. Dan sesungguhnya aku menyukai untuk kamu seperti aku menyukai untuk diriku. Janganlah kamu menjadi pemimpin atas dua orang, dan janganlah kamu mau diberi kekuasaan mengurus harta anak yatim.”340»

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesalehan pribadi saja belum tentu cukup untuk menduduki sebuah jabatan. Seseorang dapat memiliki kejujuran dan kebersihan hati, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mengelola urusan publik.

Karena itulah para khalifah memperhatikan kemampuan seseorang dalam menghadapi persoalan politik dan administrasi. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal mempertimbangkan kemampuan dan ketegasan seseorang dalam memilih pejabat. Demikian pula Abu Bakar ash-Shiddiq ketika mengangkat Ziyad bin Abi Sufyan untuk suatu tugas pemerintahan.

Namun, kekuatan yang dimaksud bukanlah kekuatan yang lahir dari watak kasar atau kecenderungan menindas. Kekuatan harus disertai kebijaksanaan dan kelembutan. Seorang pejabat tidak boleh lemah sehingga mudah dipengaruhi, tetapi juga tidak boleh keras sehingga melampaui batas.

Umar bin Khattab menggambarkan karakter orang yang layak mengurus persoalan manusia sebagai orang yang bijaksana dalam menghadapi masalah, kuat, dan tidak takut terhadap cercaan orang lain ketika menjalankan sesuatu demi Allah. Ia bukan orang yang suka menjilat, bukan orang yang lemah, tidak mudah tunduk kepada ambisi, dan tidak menyembunyikan kebenaran.

Dengan pengertian seperti ini, kekuatan pada seorang pegawai pada hakikatnya adalah perpaduan antara kompetensi, pengalaman, ketegasan, keberanian, dan kemampuan menyelesaikan tugas. Kekuatan semacam itulah yang menjadikan seorang pegawai sebagai perangkat pemerintahan yang efektif.

Amanah: Menjaga Kekuasaan dan Harta

Jika kekuatan berkaitan dengan kemampuan menjalankan tugas, maka sifat berikutnya yang tidak kalah penting adalah amanah.

Al-Qur'an menyandingkan kedua sifat tersebut dalam firman-Nya:

«“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”
(Al-Qashash: 26)»

Kekuatan tanpa amanah dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan. Sebaliknya, amanah tanpa kemampuan dapat menyebabkan suatu pekerjaan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, seorang pejabat pemerintahan idealnya memiliki kedua sifat tersebut secara bersamaan.

Menurut Al-Mawardi, salah satu kewajiban penguasa adalah mencari orang-orang yang dapat dipercaya untuk memegang amanah dan tulus dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada mereka. Dengan adanya orang-orang yang kompeten, pekerjaan dapat dikendalikan. Dengan adanya orang-orang yang amanah, harta dan hak-hak masyarakat dapat dijaga.

Di sinilah terlihat bahwa persoalan pegawai pemerintahan bukan hanya persoalan efisiensi administrasi. Pemerintahan berkaitan dengan harta, kehormatan, hak, keamanan, dan kemaslahatan masyarakat. Semua itu tidak mungkin dijaga tanpa orang-orang yang memiliki integritas.

Karena itu, para khalifah sangat memperhatikan agama dan amanah orang-orang yang mereka pilih. Mereka cenderung melibatkan orang-orang yang mereka ridhai agama dan sifat amanahnya di antara para sahabat, orang-orang saleh, orang-orang jujur, dan orang-orang yang memiliki karakter serupa.

Sunnah Nabi saw. juga memberikan peringatan keras mengenai amanah kekuasaan. Rasulullah saw. bersabda:

«“Setiap penguasa yang menguasai rakyat dari kaum muslimin, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan menipu mereka, niscaya Allah mengharamkan ia masuk surga.”354»

Beliau juga bersabda:

«“Sesungguhnya itu adalah amanat, dan sesungguhnya pada hari kiamat kelak hal itu bisa membuat nista serta menyesal kecuali orang yang memegangnya dengan semestinya dan menyampaikan apa adanya.”355»

Dengan demikian, amanah bukan sekadar tidak mencuri atau tidak menyalahgunakan harta. Amanah mencakup kesungguhan dalam menjalankan tugas, memberikan nasihat yang benar kepada penguasa, menjaga hak masyarakat, dan melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan yang dipercayakan.

Ketika Kekuatan dan Amanah Tidak Berkumpul

Dari berbagai dalil tersebut tampak bahwa kekuatan dan amanah merupakan dua sifat yang saling melengkapi. Kekuatan memastikan bahwa pekerjaan dapat dilaksanakan, sedangkan amanah memastikan bahwa pekerjaan tersebut dijalankan dengan benar.

Namun, dalam kenyataan, tidak selalu mudah menemukan satu orang yang memiliki kedua sifat tersebut secara sempurna. Bisa jadi terdapat seseorang yang sangat amanah tetapi kurang memiliki kemampuan, sementara orang lain memiliki kemampuan yang sangat kuat tetapi tingkat amanahnya tidak sebaik orang pertama.

Dalam kondisi seperti itu, seorang khalifah harus melakukan pertimbangan. Ia harus memilih orang yang paling memberikan maslahat bagi tugas yang akan dijalankan dan paling kecil risikonya.

Dengan kata lain, pemilihan pejabat bukanlah sekadar mencari manusia yang memiliki semua kelebihan sekaligus. Ia merupakan proses menimbang kompetensi, amanah, maslahat, dan risiko sesuai dengan karakter jabatan yang akan diberikan.16

Tawadhu dan Kepribadian di Tengah Masyarakat

Selain kekuatan dan amanah, terdapat pula sifat lain yang patut diperhatikan, yaitu tawadhu. Seorang pejabat tidak boleh berubah menjadi sombong hanya karena memperoleh kedudukan.

Umar bin Khattab pernah meminta agar ditunjukkan kepadanya seseorang yang rendah hati, tidak sombong, tetapi memiliki kepribadian yang kuat dan mengesankan di tengah masyarakat. Ketika ditanya mengenai sosok yang diinginkannya, Umar menjawab:

«“Seseorang yang jika sedang berada di dekat pemimpin suatu kaum ia seolah-olah bagian dari mereka, dan jika pemimpin mereka sedang absen ia seolah-olah pemimpin mereka.”357»

Gambaran tersebut menunjukkan karakter pemimpin yang ideal. Ia tidak membutuhkan jabatan untuk dihormati, tetapi memiliki wibawa karena kepribadian dan kemampuannya. Ketika berada di tengah masyarakat, ia mampu menyatu dengan mereka. Ketika harus mengambil tanggung jawab, ia mampu berdiri di depan dan menjalankan tugasnya.

Tawadhu, dengan demikian, bukan berarti kehilangan ketegasan. Justru seorang pejabat harus mampu memadukan kerendahan hati dengan kekuatan, kewibawaan dengan kelembutan, serta ketegasan dengan keadilan.

Jabatan adalah Amanah, Bukan Keistimewaan

Dari berbagai kriteria tersebut terlihat bahwa para Khulafaur Rasyidin tidak memandang jabatan sebagai penghargaan pribadi. Jabatan adalah amanah yang harus diberikan kepada orang yang paling mampu menjalankannya.

Karena itu, pemilihan pegawai pemerintahan dibangun di atas beberapa prinsip pokok: kompetensi, pengalaman, pembagian tugas yang jelas, kekuatan dalam menjalankan pekerjaan, amanah, kejujuran, keberanian menegakkan kebenaran, serta tawadhu.

Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: memastikan urusan masyarakat dikelola oleh orang-orang yang tepat sehingga kemaslahatan dapat diwujudkan, hak-hak dapat dijaga, harta dan kehormatan masyarakat dapat dilindungi, keutamaan dapat ditegakkan, dan berbagai bentuk kemungkaran dapat dicegah.

Inilah salah satu gambaran penting dari tata kelola pemerintahan pada era Khulafaur Rasyidin: jabatan bukan sekadar kekuasaan, tetapi amanah; dan amanah tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (31) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (28) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (314) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (753) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (337) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)