basmalah Pictures, Images and Photos
Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah - Our Islamic Story

Choose your Language

Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah  Jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan menghadirkan seluruh pe...

Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah

Interaksi Al-Qur’anul Karim Bersama Jiwa-Jiwa Manusia di Makkah dan Madinah 

Jika seseorang membaca Al-Qur’an dengan menghadirkan seluruh peristiwa sirah ke dalam benaknya, ia akan merasakan sebuah kenyataan yang luar biasa:

Al-Qur’an tidak sekadar dibaca oleh manusia Makkah. Al-Qur’an sedang berhadapan dengan jiwa-jiwa mereka.

Ia masuk ke dalam ruang terdalam manusia. Ia mengguncang keyakinan, membongkar kebiasaan, mengusik kesombongan, menyentuh rasa takut, membangkitkan harapan, lalu perlahan-lahan membebaskan manusia dari belenggu jahiliah.

Bukankah ini yang sebenarnya terjadi selama fase Makkah?

Pertempuran pertama bukanlah pertempuran pedang.

Pertempuran pertama adalah pertempuran Al-Qur’an melawan jahiliah yang bersemayam di dalam jiwa.

Dan betapa menakjubkan cara Al-Qur’an melakukan pertempuran itu.

Kadang-kadang ia datang seperti topan, menerjang jiwa dengan bukti-bukti yang kuat dan pengaruh yang dahsyat hingga manusia tidak mampu lagi mempertahankan kebatilan.

Kadang-kadang ia datang seperti guncangan, meluluhlantakkan cara pandang dan pola pikir yang selama ini dianggap kokoh.

Kadang-kadang ia datang seperti cambuk, melecut kesadaran dengan keras sehingga hati tidak sanggup lagi mengabaikan rasa sakit akibat dosa dan penyimpangan.

Namun apakah Al-Qur’an selalu datang dengan keras?

Tidak.

Kadang-kadang ia hadir sebagai munajat cinta.

Sebagai rayuan penuh kasih.

Sebagai bisikan yang lembut.

Ia menyentuh perasaan, menanam kerinduan, dan mengajak hati untuk kembali kepada Rabb-nya.

Kadang-kadang ia hadir melalui rasa takut.

Ia mengguncangkan manusia dengan peringatan dan teriakan yang mengejutkan, membuka mata terhadap bahaya yang sebenarnya telah mendekat.

Kadang-kadang ia hanya menghadirkan hakikat kebenaran dalam kesederhanaannya.

Begitu jernih.

Begitu terang.

Begitu masuk akal.

Sehingga tidak tersisa ruang untuk menghindar.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi di balik alasan.

Tidak ada lagi celah untuk mendebat kebenaran.

Dan kadang-kadang ia menghadirkan harapan.

Harapan yang terang.

Harapan yang luas.

Harapan yang terus dibukakan di hadapan manusia agar ia tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Lalu dalam perjalanan yang panjang itu, Al-Qur’an membawa jiwa melewati berbagai dataran dan lembah kehidupan.

Ia menerangi bagian-bagian jiwa yang selama ini tersembunyi.

Ia membuat manusia melihat dirinya sendiri.

Bukankah ini salah satu kekuatan Al-Qur’an yang paling menakjubkan?

Ia bukan hanya membuat manusia melihat dunia. Ia membuat manusia melihat dirinya sendiri.

Ia membuat seseorang menyaksikan apa yang selama ini terjadi di dalam hatinya.

Ia menyadari kontradiksi dirinya.

Ia melihat kesombongannya.

Ia mengenali ketakutannya.

Ia mengetahui kelemahannya.

Bahkan ia dapat merasa malu terhadap sebagian dirinya sendiri.

Dan perlahan-lahan, bagian-bagian jiwa yang saling bertentangan mulai dipertemukan.

Jiwa yang tadinya liar mulai diarahkan.

Jiwa yang keras mulai dilunakkan.

Jiwa yang takut mulai diteguhkan.

Jiwa yang sombong mulai ditundukkan.

Jiwa yang jauh mulai dipanggil pulang.

Maka ratusan sentuhan, ratusan tatapan, ratusan bisikan, dan ratusan rangsangan dapat ditemukan oleh siapa saja yang membaca Al-Qur’an sambil mengikuti perjalanan panjang dakwah Rasulullah ﷺ.

Ia akan melihat sebuah pertempuran yang panjang.

Bukan pertempuran sehari atau dua hari.

Bukan pula penaklukan yang berlangsung seketika.

Melainkan proses penyembuhan yang perlahan.

Al-Qur’an menghadapi jahiliah di dalam jiwa manusia, kemudian membentuk jiwa baru yang sanggup memikul risalah.

Dan dari sinilah sesuatu yang lebih besar mulai lahir.

---

Kelahiran Gerakan Islam: Bagaimana Ia Terjadi dan Bagaimana Ia Bertumbuh?

Gerakan Islam lahir di Makkah dalam keadaan yang sangat berat.

Pada awalnya, Quraisy belum sepenuhnya memahami bahaya yang terkandung dalam seruan:

لا إله إلا الله، محمد رسول الله

"Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah."

Mengapa?

Karena bagi mereka, kalimat itu mungkin tampak seperti sekadar ajaran keagamaan baru.

Padahal sesungguhnya ia membawa perubahan mendasar terhadap seluruh tatanan kehidupan.

La ilaha illallah bukan hanya mengganti satu bentuk ibadah dengan bentuk ibadah yang lain.

Ia mengembalikan seluruh bentuk penghambaan kepada Allah.

Ia menolak perbudakan manusia kepada manusia.

Ia menolak kesewenang-wenangan manusia atas manusia.

Ia memindahkan pusat ketaatan dari kepemimpinan jahiliah kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, ketika dakwah ini mulai membentuk manusia-manusia baru, sebenarnya sedang lahir sebuah kekuatan sosial yang sama sekali berbeda.

Sebuah umat baru.

Dengan keyakinan baru.

Dengan loyalitas baru.

Dengan kepemimpinan baru.

Dengan ukuran kemuliaan yang baru.

Dan yang paling penting:

dengan Rabb yang baru mereka kenal sebagai satu-satunya yang berhak ditaati dan disembah.

Maka, cepat atau lambat, benturan pasti terjadi.

---

Mengapa Jahiliah Melawan?

Bayangkan sebuah masyarakat yang selama puluhan bahkan ratusan tahun berdiri di atas sebuah sistem tertentu.

Kemudian datang sekelompok manusia yang berkata:

“Tidak ada ketaatan mutlak kecuali kepada Allah.”

Apa yang terjadi?

Bukankah fondasi kekuasaan lama akan merasa terancam?

Karena itu, ketika Quraisy mulai menyadari bahwa dakwah ini bukan sekadar perubahan keyakinan pribadi, mereka mulai mengerahkan berbagai cara untuk menghentikannya.

Intimidasi.

Fitnah.

Tekanan sosial.

Pemboikotan.

Penyiksaan.

Makar.

Dan pada akhirnya, ancaman terhadap jiwa.

Ini merupakan pola yang dapat kita lihat dalam banyak perubahan sosial:

Sebuah sistem yang merasa eksistensinya terancam akan berusaha mempertahankan dirinya.

Maka benturan antara jahiliah dan Islam bukan sekadar benturan antara dua gagasan.

Ia menjadi benturan antara dua sistem nilai dan dua kepemimpinan.

Di satu sisi terdapat kepemimpinan jahiliah.

Di sisi lain lahir kepemimpinan Rasulullah ﷺ.

Di satu sisi terdapat loyalitas berdasarkan kabilah, status, kekayaan, dan tradisi.

Di sisi lain muncul persaudaraan berdasarkan iman.

Dan di tengah benturan itulah manusia harus memilih.

---

Siapa yang Berani Mengucapkan La Ilaha Illallah?

Di sinilah kita memahami mengapa generasi pertama Islam begitu istimewa.

Mengucapkan:

لا إله إلا الله

pada masa itu bukan sekadar mengucapkan kalimat dengan lisan.

Ia adalah keputusan hidup.

Orang yang mengucapkannya harus siap menghadapi konsekuensi.

Siap kehilangan kenyamanan.

Siap menghadapi tekanan.

Siap menghadapi keterasingan.

Siap menghadapi kelaparan.

Bahkan dalam sebagian keadaan, siap menghadapi kematian.

Maka siapa yang tetap bertahan?

Mereka adalah manusia-manusia yang telah menyerahkan dirinya kepada Allah.

Karena itu, fase Makkah secara tidak langsung menjadi proses seleksi dan pembentukan generasi inti.

Tekanan yang sangat berat menyingkirkan mereka yang tidak sanggup bertahan.

Sebaliknya, tekanan itu justru memperkuat mereka yang memiliki keyakinan mendalam.

Bukankah ini sebuah sunnatullah dalam pembentukan sebuah gerakan?

Tekanan menguji kualitas fondasi.

Jika fondasinya rapuh, bangunan akan retak.

Jika fondasinya kokoh, tekanan justru membuatnya semakin kuat.

Demikianlah Allah menyiapkan generasi awal Muhajirin.

Mereka bukan sekadar orang-orang yang masuk Islam lebih dahulu.

Mereka adalah generasi yang ditempa oleh tekanan.

Mereka menjadi fondasi awal bangunan Islam di Makkah.

Dan ketika Islam berpindah ke Madinah, mereka bertemu dengan generasi pendahulu dari kalangan Anshar.

---

Baiat Aqabah: Ketika Janji Tidak Dibeli dengan Dunia

Lihatlah Baiat Aqabah.

Apa yang sebenarnya mereka dapatkan sebagai imbalan?

Kekayaan?

Kekuasaan?

Jaminan kehidupan nyaman?

Dominasi politik?

Tidak.

Mereka justru mengetahui bahwa setelah baiat itu, kehidupan mereka dapat menjadi semakin berat.

Mereka memahami bahwa Quraisy akan memusuhi mereka.

Mereka memahami bahwa bangsa Arab dapat memerangi mereka.

Mereka memahami bahwa keputusan itu akan mengubah kehidupan mereka.

Lalu apa yang mereka harapkan?

Surga.

Hanya itu.

Mereka tidak membeli agama dengan janji dunia.

Mereka membeli kehidupan akhirat dengan pengorbanan dunia.

Maka tidak mengherankan apabila mereka kemudian menjadi salah satu fondasi utama masyarakat Islam di Madinah.

Orang-orang yang bersedia membayar harga risalah sejak awal biasanya memiliki ketahanan yang berbeda ketika risalah itu memasuki fase kemenangan.

---

Dari Masyarakat Kecil Menuju Masyarakat Madinah

Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah setelah masyarakat Islam berdiri di Madinah, seluruh anggotanya otomatis memiliki kualitas iman yang sama?

Tidak.

Justru sejarah Madinah menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi:

Ketika Islam mulai kuat, orang-orang dengan motif yang berbeda mulai masuk ke dalam barisannya.

Pada masa tekanan, orang yang masuk Islam harus memiliki keberanian luar biasa.

Tetapi ketika Islam mulai unggul, biaya sosial untuk masuk Islam menjadi jauh lebih kecil.

Bahkan masuk Islam dapat memberikan keuntungan tertentu dalam kehidupan sosial dan politik.

Maka muncullah fenomena yang berbeda.

Ada orang yang masuk Islam karena iman.

Ada yang masuk karena mengikuti masyarakat.

Ada yang menyembunyikan kekafiran.

Ada yang masih lemah keyakinannya.

Ada pula yang belum memahami hakikat Islam secara mendalam.

Di sinilah kita memahami fenomena kemunafikan.

Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang mengikuti sikapnya menjadi salah satu gambaran bahwa kemenangan tidak otomatis berarti seluruh jiwa telah bersih.

Maka bangunan masyarakat Islam Madinah memiliki dua lapisan penting:

bangunan dasar yang telah ditempa oleh fase Makkah, dan lapisan masyarakat baru yang terus membutuhkan proses tarbiyah.

---

Mengapa Fondasi Awal Begitu Penting?

Pertanyaannya:

Mengapa masyarakat Madinah tidak runtuh meskipun terdapat orang-orang munafik, orang-orang lemah iman, orang-orang ragu, dan berbagai kepentingan?

Karena masyarakat itu berdiri di atas fondasi generasi pertama.

Muhajirin dan Anshar menjadi inti yang telah mengalami proses panjang.

Mereka telah melewati ujian.

Mereka telah membayar harga.

Mereka telah belajar tentang pengorbanan.

Mereka telah memahami arti loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mereka menjadi semacam inti kekuatan moral yang menjaga bangunan masyarakat.

Kemudian perjalanan waktu melakukan pekerjaan berikutnya.

Tarbiyah.

Peristiwa-peristiwa.

Ujian.

Kemenangan.

Kekalahan.

Pengorbanan.

Semua itu perlahan-lahan menyaring manusia.

Yang rapuh terungkap.

Yang ragu terlihat.

Yang munafik terbuka.

Yang tulus semakin matang.

Yang belum jelas keyakinannya semakin mendapatkan pembinaan.

Dengan demikian, masyarakat Islam tidak dibangun dalam satu malam.

Ia dibangun melalui proses panjang pemurnian jiwa dan penguatan ikatan iman.

---

Tingkatan Keimanan dan Kedudukan dalam Perjalanan Islam

Dalam perjalanan itu, lahirlah berbagai tingkat keistimewaan di tengah masyarakat Muslim.

Ada generasi pertama Muhajirin dan Anshar.

Ada Ahli Badar.

Ada para pembaiat Baiat Ar-Ridwan.

Ada mereka yang berinfak dan berjuang sebelum Fathu Makkah.

Keistimewaan itu bukan sekadar status sosial.

Ia merupakan jejak sejarah dari kadar pengorbanan yang mereka berikan.

Semakin berat ujian yang dilewati dengan keteguhan, semakin besar pula nilai kepeloporan mereka.

Namun apakah adanya tingkatan itu berarti masyarakat Islam terpecah menjadi kasta-kasta iman?

Tidak.

Justru masyarakat tersebut terus bergerak menuju integrasi dan kematangan iman.

Orang-orang yang baru masuk Islam belajar dari para pendahulu.

Yang lemah dikuatkan.

Yang belum memahami dibina.

Yang ragu diuji oleh realitas.

Yang memiliki penyakit hati perlahan-lahan disingkap.

Sehingga menjelang Fathu Makkah, masyarakat Madinah secara umum telah semakin dekat dengan bentuk masyarakat yang diinginkan oleh manhaj tarbiyah Rabbani.

---

Fathu Makkah: Ketika Gelombang Besar Datang

Kemudian tibalah Fathu Makkah pada tahun 8 H.

Quraisy tunduk.

Hawazin dan Tsaqif kemudian menghadapi realitas baru.

Dan setelah kekuatan-kekuatan besar di Jazirah Arab melihat bahwa Islam telah menjadi kekuatan yang dominan, gelombang manusia mulai masuk ke dalam agama Allah.

Di sinilah muncul tantangan baru.

Jika pada masa Makkah tantangannya adalah kekurangan jumlah, maka pada masa setelah kemenangan tantangannya adalah keberagaman kualitas manusia yang masuk.

Ini sebuah perubahan yang sangat penting.

Dahulu, orang masuk Islam setelah mengetahui bahwa ia mungkin akan disiksa.

Sekarang, sebagian orang masuk Islam setelah melihat bahwa Islam telah menang.

Dahulu, iman diuji oleh penderitaan.

Sekarang, iman diuji oleh kemenangan.

Dan bukankah ujian kemenangan terkadang lebih halus daripada ujian penderitaan?

Penderitaan memaksa manusia bertanya:

“Apakah aku benar-benar beriman?”

Tetapi kemenangan memunculkan pertanyaan yang berbeda:

“Apakah aku tetap menjadi hamba Allah ketika aku memiliki kekuasaan?”

Karena itu, perluasan horizontal Islam membawa kebutuhan baru: pemurnian dan pembinaan secara vertikal.

Jumlah bertambah.

Wilayah meluas.

Tetapi kedalaman iman harus terus dibangun.

---

Mengapa Islam Dapat Menyebar Begitu Cepat?

Ada satu faktor sejarah yang penting.

Selama Quraisy berdiri sebagai kekuatan dominan dan menolak Islam, banyak kabilah Arab berada dalam posisi menunggu.

Mereka ingin melihat:

Siapa yang akan menang?

Quraisy?

Atau Muhammad ﷺ?

Karena Quraisy bukan hanya memiliki kekuatan ekonomi dan politik.

Ia juga memiliki kedudukan keagamaan dan simbolik yang sangat kuat di Jazirah Arab.

Maka ketika Quraisy akhirnya tunduk dalam Fathu Makkah, salah satu hambatan psikologis terbesar bagi bangsa Arab pun runtuh.

Dan setelah itu, manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Sebagaimana Allah berfirman:

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا

"Dan engkau melihat manusia masuk agama Allah secara berbondong-bondong."
(QS. An-Nashr: 2)

Maka kita melihat sebuah pola yang sangat menarik:

Islam pertama-tama membangun kedalaman, kemudian mendapatkan keluasan.

Bukan sebaliknya.

Ia membentuk manusia terlebih dahulu.

Kemudian membentuk masyarakat.

Kemudian masyarakat itu menjadi kuat.

Barulah perluasan terjadi dalam skala besar.

---

Bahaya Perluasan Tanpa Fondasi

Namun bayangkan jika masyarakat Madinah belum memiliki fondasi yang kuat ketika perluasan itu terjadi.

Apa yang mungkin terjadi?

Bukankah masyarakat akan mudah kehilangan arah?

Bukankah masuknya manusia dalam jumlah besar dengan tingkat iman yang beragam dapat mengubah karakter masyarakat?

Bukankah ekspansi yang cepat dapat membuat bangunan lama kehilangan identitasnya?

Di sinilah kita dapat memahami pentingnya generasi pertama.

Allah telah menyiapkan Muhajirin dan Anshar sebagai fondasi yang kokoh.

Mereka menjadi penjaga nilai ketika wilayah Islam berkembang.

Mereka menjadi standar ketika masyarakat semakin besar.

Mereka menjadi contoh ketika manusia baru berdatangan.

Dan tarbiyah Rabbani terus bekerja melalui rentang waktu yang panjang.

Peristiwa demi peristiwa menjadi sekolah.

Kemenangan menjadi sekolah.

Kekalahan menjadi sekolah.

Pengorbanan menjadi sekolah.

Ujian menjadi sekolah.

Al-Qur’an terus membentuk mereka.

Sirah terus menempa mereka.

Hingga masyarakat itu semakin matang.

---

Dari Pertempuran Jiwa Menuju Pembentukan Peradaban

Sekarang kita dapat melihat keseluruhan perjalanan ini secara lebih utuh.

Semuanya bermula dari Al-Qur’an yang berhadapan dengan jiwa manusia.

Al-Qur’an mengguncang jiwa.

Jiwa berubah.

Manusia-manusia baru lahir.

Manusia-manusia baru berkumpul.

Dari mereka lahir komunitas baru.

Komunitas itu membentuk masyarakat.

Masyarakat itu menghadapi ujian.

Ujian menyaring manusia.

Tarbiyah mematangkan mereka.

Masyarakat menjadi semakin kokoh.

Kemudian Islam meluas.

Maka sesungguhnya perjalanan sirah tidak dapat dipahami hanya sebagai rangkaian peristiwa politik dan militer.

Di balik setiap perubahan sejarah terdapat perubahan manusia.

Dan di balik perubahan manusia terdapat perubahan jiwa.

Dan di balik perubahan jiwa generasi pertama terdapat Al-Qur’an.

Inilah rahasia yang sering luput ketika kita membaca sirah hanya dari sisi kemenangan dan kekalahan.

Kita melihat Badar.

Kita melihat Uhud.

Kita melihat Khandaq.

Kita melihat Hudaibiyah.

Kita melihat Fathu Makkah.

Tetapi jangan lupa melihat sesuatu yang lebih dalam:

Siapa manusia yang berdiri di balik semua peristiwa itu?

Bagaimana Al-Qur’an membentuk mereka?

Bagaimana wahyu mengubah cara mereka memandang dunia?

Bagaimana tauhid mengubah keberanian mereka?

Bagaimana iman mengubah orientasi hidup mereka?

Bagaimana tarbiyah mengubah sekumpulan individu menjadi umat?

Di situlah kita menemukan bahwa pertempuran paling menentukan bukanlah yang terjadi di medan perang.

Pertempuran paling menentukan terjadi jauh sebelumnya:

di dalam hati manusia.

Karena jika hati telah berubah, perilaku akan berubah.

Jika perilaku berubah, keluarga berubah.

Jika keluarga berubah, masyarakat berubah.

Jika masyarakat berubah, sejarah pun berubah.

Maka begitulah Al-Qur’an memenangkan pertempurannya di Makkah.

Bukan dengan menguasai manusia dari luar.

Tetapi dengan membebaskan manusia dari dalam.

Ia membebaskan mereka dari penyembahan kepada selain Allah.

Membebaskan mereka dari ketakutan kepada manusia.

Membebaskan mereka dari belenggu tradisi yang bertentangan dengan kebenaran.

Membebaskan mereka dari kesombongan.

Kemudian mengikat mereka dengan satu ikatan:

La ilaha illallah.

Dari sinilah sebuah generasi lahir.

Dan dari generasi itulah sebuah peradaban mulai dibangun.

Jadi, jika kita ingin memahami bagaimana Islam dapat mengubah sejarah, mungkin kita harus kembali kepada pertanyaan paling awal:

Bagaimana Al-Qur’an mengubah manusia?

Karena sebelum Islam mengubah peta Jazirah Arab, Al-Qur’an terlebih dahulu mengubah peta jiwa manusia.

Dan sebelum masyarakat jahiliah dikalahkan di medan sejarah, jahiliah terlebih dahulu dikalahkan di dalam dada generasi pertama kaum Muslimin.

Itulah awal sebenarnya dari gerakan Islam.

Bukan ketika sebuah negara berdiri.

Bukan ketika sebuah kota ditaklukkan.

Bukan ketika sebuah pasukan menang.

Tetapi ketika sebuah hati bersedia tunduk kepada Allah.

Dari satu hati.

Kemudian menjadi beberapa hati.

Kemudian menjadi generasi.

Kemudian menjadi umat.

Dan akhirnya, dengan izin Allah, cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (10) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (109) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (287) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (702) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (317) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (172) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)