Kondisi Arab dan Dunia Saat Nabi Diutus
Untuk memahami perkara yang dibawa oleh Islam, kita perlu melihat terlebih dahulu kondisi dunia ketika Nabi Muhammad saw. diutus. Islam tidak muncul dalam ruang sejarah yang kosong. Ia hadir pada saat dunia dikuasai oleh berbagai kekuatan politik, kebudayaan, filsafat, dan agama yang telah berkembang selama berabad-abad.
Pada abad keenam Masehi, sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw., dunia di sekitar Jazirah Arab berada di bawah pengaruh dua kekuatan besar: Persia di sebelah timur laut dan Romawi di sebelah utara serta barat Jazirah Arab. Masing-masing memiliki peradaban yang mencakup ilmu pengetahuan, sistem hukum, pemerintahan, dan ideologi yang mereka anut.
Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat persoalan mendasar. Kemajuan peradaban tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran akidah, keadilan sosial, dan kemuliaan manusia. Karena itu, untuk memahami mengapa Islam hadir membawa perubahan besar, kita perlu melihat kondisi masing-masing wilayah tersebut.
Persia: Peradaban Besar dalam Bayang-Bayang Dualisme
Di Persia, para Khasrau silih berganti memimpin wilayah yang berada di bawah kekuasaan mereka. Peradaban yang berkembang kemudian dikenal sebagai Peradaban Persia. Dinasti terakhir yang menguasai Persia sebelum datangnya Islam adalah Dinasti Sasaniyah. Kekuasaan Sasaniyah bermula pada tahun 226 M dan berakhir pada tahun 651 M setelah wilayah tersebut dikuasai kaum muslimin.
Masyarakat Persia pada masa itu banyak dipengaruhi oleh ajaran Zoroaster. Ajaran tersebut berdiri di atas pandangan tentang adanya pertentangan antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan, seperti cahaya dan kegelapan, kesuburan dan kegersangan, serta berbagai kekuatan lain yang dipandang saling bertentangan.
Dalam ajaran Zoroaster terdapat keyakinan tentang dua sumber atau tuhan: Tuhan Kebaikan dan Tuhan Keburukan. Keduanya senantiasa berada dalam perselisihan.
Tuhan Kebaikan dipandang sebagai cahaya yang menciptakan segala sesuatu yang indah, baik, dan bermanfaat, seperti hewan-hewan yang bermanfaat dan burung-burung yang indah. Sementara Tuhan Keburukan dipandang sebagai kegelapan yang menciptakan berbagai keburukan di dunia, seperti hewan buas, ular, serangga, dan sejenisnya.
Pada akhirnya, keselamatan diyakini akan diperoleh ketika Tuhan Kebaikan memenangkan pertarungan tersebut.
Zoroaster juga mengajarkan bahwa manusia memiliki dua kehidupan: kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian. Manusia akan memperoleh hasil sesuai dengan amal yang dikerjakannya di dunia. Hari Kiamat diyakini semakin dekat ketika Tuhan Kebaikan berhasil mengalahkan Tuhan Keburukan.
Dalam praktik keagamaannya, orang Persia menjadikan api sebagai simbol Tuhan Kebaikan. Api dinyalakan di tempat-tempat ibadah dan dijaga agar tetap hidup sebagai simbol kemenangan cahaya atas kegelapan.
Ajaran Mani yang berkembang dalam Manawiyah memiliki sejumlah kesamaan dengan ajaran Zoroaster, meskipun terdapat beberapa perbedaan di antara keduanya.
Mazdak dan Gagasan Kesetaraan yang Ekstrem
Sekitar tahun 487 M muncul seorang tokoh bernama Mazdak di Persia. Ia membawa ajaran baru yang memiliki unsur kesyirikan sekaligus gagasan sosial yang radikal.
Mazdak memiliki pandangan yang mirip dengan Zoroaster mengenai pertentangan antara cahaya dan kegelapan. Namun, ia memberikan penekanan yang lebih kuat pada persoalan sosial. Ia berpandangan bahwa seluruh manusia dilahirkan dalam kondisi yang sama sehingga seharusnya hidup dalam kesetaraan, terutama dalam urusan harta dan wanita.
Syahrastani berkata:
«“Mazdak melarang manusia melakukan penyimpangan, saling membenci dan peperangan. Ketika ia merasa bahwa harta dan wanita menjadi sebab utama terjadinya penyimpangan dan peperangan, maka ia menjadikan wanita dan harta halal bagi siapa saja. Ia menjadikan seluruh manusia bersekutu dalam menikmatinya sebagaimana mereka bersekutu dalam menggunakan air, makanan dan api.”»
Pada masa pemerintahan Sasaniyah, Persia juga memiliki berbagai aturan yang mengatur kehidupan masyarakat, seperti persoalan pernikahan, kepemilikan, perbudakan, dan sejumlah urusan umum lainnya.
Dengan demikian, Persia merupakan sebuah kekuatan besar yang memiliki pemerintahan, hukum, dan kebudayaan yang maju dalam beberapa aspek, tetapi kehidupan keagamaannya dibangun di atas keyakinan yang jauh dari tauhid.
Romawi: Filsafat, Kekuasaan, dan Persinggungan dengan Agama
Di sebelah barat dan utara Jazirah Arab berdiri Kekaisaran Romawi yang dipimpin oleh para Caesar. Peradabannya banyak dipengaruhi oleh warisan filsafat Yunani dan Romawi. Gagasan Socrates, Plato, dan Aristoteles diwariskan dari generasi ke generasi dan memengaruhi cara berpikir masyarakatnya.
Hukum Romawi juga meluas ke berbagai wilayah di sekitar Laut Tengah, termasuk Syam, Mesir, dan Afrika Utara.
Pada saat yang sama, agama Nasrani dengan berbagai alirannya telah menyebar di wilayah-wilayah tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, sebagian kalangan Nasrani menggunakan filsafat Yunani sebagai alat argumentasi untuk mempertahankan dan menjelaskan keyakinan mereka di hadapan para penyembah berhala.
Alexandria menjadi salah satu pusat penting pertemuan antara agama dan filsafat. Sekitar tahun 200 M berkembang aliran yang dikenal sebagai Plato Baru atau Neoplatonisme. Dari berbagai pusat intelektual tersebut, pemikiran filsafat kemudian berkembang dan berinteraksi dengan pemikiran keagamaan.
Agama Nasrani juga menyebar ke Syam, Mesir, Afrika Utara, Noba, Habasyah, dan Iraq.
Orang-orang Suryani turut berperan dalam penyebaran filsafat Yunani. Mereka mendirikan sekolah-sekolah di beberapa pusat intelektual, terutama di Sanli Urfa (Ar-Ruha), Nusaybin, dan Harran.
Mereka menerjemahkan berbagai karya Yunani ke dalam bahasa Suryani, termasuk karya-karya yang berkaitan dengan filsafat, ilmu kedokteran, ilmu falak, dan berbagai bidang pengetahuan lainnya. Bersamaan dengan itu, pengaruh hukum dan pemikiran Romawi juga menyebar ke wilayah-wilayah tersebut.
Dengan demikian, sebagaimana Persia, Romawi memiliki kemajuan intelektual dan politik yang besar. Namun, kemajuan tersebut tidak otomatis menyelesaikan persoalan akidah dan moral manusia.
Pengaruh Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab
Di samping pengaruh Persia dan Romawi, sisa-sisa ajaran Yahudi juga telah menyebar di beberapa wilayah bagian utara Jazirah Arab, termasuk Yatsrib. Mereka membawa warisan keagamaan dan keyakinan yang telah berkembang dalam komunitas mereka.
Ajaran Nasrani juga masuk ke Jazirah Arab dan menjadikan Najran sebagai salah satu pusat penting penyebarannya.
Dengan demikian, masyarakat Arab sebelum Islam sebenarnya tidak hidup dalam keterasingan dari dunia luar. Mereka berinteraksi dengan berbagai kebudayaan dan agama yang berkembang di sekitarnya.
Setidaknya terdapat tiga jalur utama yang menjadi perantara masuknya pengaruh non-Arab ke Jazirah Arab:
1. Perdagangan.
2. Wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Persia dan Romawi.
3. Penyebaran ajaran Yahudi dan Nasrani.
Pengaruh tersebut kemudian berinteraksi dengan tradisi dan struktur sosial masyarakat Arab sendiri.
Kondisi Masyarakat Arab
Adapun orang-orang Arab mayoritas hidup di wilayah padang pasir dan terikat kuat dengan sistem kabilah. Kabilah menjadi institusi sosial utama yang mengatur adat istiadat, hubungan sosial, dan warisan yang mereka terima dari generasi sebelumnya.
Kepala suku memiliki kedudukan penting. Ia menjadi penengah ketika terjadi perselisihan, memiliki kewenangan untuk memerintah atau melarang sesuatu, serta menjadi salah satu pusat kekuatan dalam kehidupan kabilah.
Aturan kabilah juga tidak terlepas dari berbagai aturan yang berkembang dalam masyarakat, seperti aturan rumah tangga dan qishas dalam perkara pembunuhan.
Namun, tidak seluruh masyarakat Arab hidup sebagai pengembara. Sebagian tinggal di kota-kota seperti Mekah, Yatsrib (Madinah), dan Thaif. Mereka menjalani kehidupan pertanian, produksi, dan perdagangan.
Mekah secara khusus memiliki posisi penting karena menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai wilayah, terutama pada musim haji. Pasar-pasar besar yang berada di sekitar Jazirah Arab juga memberikan ruang bagi berkembangnya aktivitas ekonomi.
Orang-orang Quraisy dikenal sebagai pedagang. Mereka memiliki hubungan perdagangan dengan Syam, Iraq, dan Yaman melalui perjalanan yang berlangsung pada musim dingin dan musim panas.
Allah mengingatkan nikmat tersebut dalam firman-Nya tentang perjalanan Quraisy:
«“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”
(QS. Quraisy: 1–2)»
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Arab memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Mereka bukan masyarakat yang sepenuhnya tertutup dari peradaban di sekelilingnya.
Hirah dan Ghassaniyah: Jembatan antara Arab dan Dua Imperium
Hubungan antara masyarakat Arab dan kekuatan besar di sekitarnya juga terlihat melalui berdirinya kerajaan-kerajaan Arab yang berada di bawah pengaruh Persia dan Romawi.
Persia membangun pemerintahan Hirah di tepian Sungai Furat dan menjadikan Amr bin Adiy sebagai pemimpinnya. Raja terakhir yang memimpin Hirah adalah Nu'man bin Mundzir Al-Khamis, suami Hindun. Ia memiliki julukan Abu Qabus dan dikenal memiliki hubungan dengan Adz-Dzubyani.
Khosrau kemudian marah kepadanya dan memasukkannya ke dalam penjara hingga ia wafat sekitar tahun 602 M.
Di wilayah Syam, orang-orang Ghassaniyah membangun pemerintahan yang berada dalam lingkungan pengaruh Romawi. Raja terakhir dari kalangan mereka adalah Jabalah bin Ayham.
Dalam riwayat yang disebutkan, Jabalah memeluk Islam setelah kaum muslimin membebaskan Syam. Ia kemudian pergi ke Madinah dan mendapatkan pelayanan yang baik dari Umar.
Namun, ketika berada di Madinah, ia pernah menampar seseorang dari Bani Fazarah. Orang tersebut kemudian meminta qishas melalui Umar. Jabalah menolak karena terdorong oleh rasa gengsi.
Umar berkata kepadanya:
«“Aku harus memborgolmu.”»
Jabalah kemudian melarikan diri menuju Caesar dan menetap di Konstantinopel hingga meninggal pada tahun 20 H.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara bangsa Arab dan imperium besar di sekitarnya telah berlangsung sebelum Islam. Penduduk Arab yang tinggal di Hirah terpengaruh oleh peradaban Persia, sedangkan orang-orang Ghassaniyah di Syam terpengaruh oleh peradaban Yunani dan lingkungan keagamaan Romawi. Mereka pun tetap memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat Arab di jantung Jazirah.
Antara Pengaruh Peradaban dan Keteguhan Tradisi
Meskipun masyarakat Arab berinteraksi dengan berbagai kebudayaan di sekitarnya, pengaruh tersebut tidak serta-merta menghapus karakter dasar kehidupan mereka.
Sebagian masyarakat Arab masih mewarisi ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, seiring perjalanan waktu, ajaran tersebut bercampur dengan berbagai bentuk kesyirikan dan tradisi jahiliah.
Kehidupan sosial mereka juga diwarnai peperangan, pembunuhan, fanatisme kesukuan, dan persaingan antarkabilah.
Ibnu Khaldun menggambarkan karakter sebagian masyarakat badui pada masa itu:
«“Kebiadaban kelompok yang hobi merampok dan berbuat kerusakan memiliki metode tersendiri dalam beroperasi. Mereka merampok sesuai kemampuan yang mereka miliki tanpa sedikit pun menelan kekalahan dan menanggung risiko. Mereka lari menuju tempat peristirahatan mereka di kawasan liar.”»
Ia kemudian menggambarkan bagaimana mereka merusak bangunan yang mereka kuasai, mengambil bebatuan untuk dijadikan tungku, merusak atap rumah untuk kepentingan tempat tinggal mereka, serta mengambil tiang-tiang bangunan untuk digunakan sebagai tiang rumah mereka sendiri.
Menurut Ibnu Khaldun, mereka juga tidak memiliki hukuman yang kuat terhadap orang yang merampas harta orang lain. Persaingan untuk mendapatkan kepemimpinan begitu kuat sehingga masing-masing orang ingin menjadi pemimpin dan sulit tunduk kepada orang lain, bahkan kepada bapak, saudara, atau pembesar keluarganya sendiri.
Watak keras, kebanggaan terhadap diri sendiri, ambisi, dan persaingan dalam memperoleh kepemimpinan menyebabkan mereka sulit bersatu.
Karena itu, Ibnu Khaldun menyimpulkan bahwa kerajaan mereka tidak akan terwujud kecuali melalui karakter yang berbau agama seperti nubuwah, pertolongan, atau pengaruh agama yang besar.
Ketika Dunia Membutuhkan Petunjuk
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa persoalan dunia ketika Nabi Muhammad saw. diutus bukan sekadar persoalan kurangnya ilmu pengetahuan atau lemahnya kekuatan politik.
Persia memiliki kekuasaan dan peradaban.
Romawi memiliki filsafat dan hukum.
Bangsa Arab memiliki kemampuan berdagang dan jaringan hubungan antarkabilah.
Berbagai masyarakat juga memiliki agama dan tradisi.
Namun, kemajuan tersebut belum menghasilkan kesatuan antara tauhid, keadilan, akhlak, dan kehidupan manusia.
Di tengah kondisi seperti itulah Islam datang.
Dari jantung Kota Mekah terdengar suara yang sederhana tetapi mengguncang seluruh tatanan lama:
La ilaha illallah.
Kalimat ini bukan sekadar seruan ritual. Ia merupakan panggilan untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Ia mengembalikan manusia kepada fitrah, menempatkan manusia di hadapan Allah sebagai hamba, sekaligus membebaskannya dari penghambaan kepada manusia, kekuasaan, harta, hawa nafsu, dan berbagai bentuk kesyirikan.
Nabi Muhammad saw. dipilih Allah untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya keimanan; membimbing akal yang tersesat menuju kebenaran; membuka jalan menuju ilmu yang bermanfaat; dan menegakkan keadilan yang mampu menghancurkan tali-tali kezaliman.
Risalah yang Membawa Kebebasan dan Kesetaraan
Islam juga datang membawa pemahaman baru tentang kebebasan.
Kebebasan bukan berarti manusia boleh hidup tanpa batas. Kebebasan sejati adalah terbebas dari penghambaan kepada selain Allah sehingga manusia dapat menempatkan dirinya pada derajat yang mulia sebagai hamba-Nya.
Islam juga membawa kesetaraan. Kesetaraan bukan berarti menghapus seluruh perbedaan kemampuan dan peran manusia, tetapi memberikan setiap manusia hak dan kesempatan untuk berkembang serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Risalah Nabi Muhammad saw. juga bersifat universal. Beliau tidak diutus hanya untuk satu suku, satu wilayah, atau satu bangsa. Dakwahnya ditujukan kepada seluruh manusia.
Allah Swt. berfirman:
«قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.’”
(QS. Al-A'raf: 158)»
Allah juga berfirman:
«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.”
(QS. Saba': 28)»
Dakwah tersebut melampaui batas-batas geografis, suku, warna kulit, dan status sosial. Ia mengajak seluruh manusia untuk berada di bawah petunjuk Allah.
Risalah Petunjuk dan Rahmat
Pada akhirnya, Islam datang bukan sekadar sebagai tambahan bagi agama-agama yang telah ada. Ia datang membawa petunjuk untuk membenahi kehidupan manusia secara menyeluruh.
Allah Swt. berfirman:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)»
Ayat ini menggambarkan cakupan risalah Islam dengan sangat indah. Ia memberikan mau'izhah bagi manusia, menyembuhkan penyakit yang berada di dalam dada, memberikan petunjuk, dan menghadirkan rahmat.
Karena itu, memahami Islam tidak cukup hanya dengan melihat kondisi masyarakat Arab saat itu. Kita juga perlu melihat persoalan yang lebih luas: dunia memiliki ilmu, kekuasaan, hukum, filsafat, perdagangan, dan tradisi, tetapi semuanya membutuhkan arah yang benar.
Di tengah dunia yang mengalami krisis akidah, moral, keadilan, dan kemanusiaan, Nabi Muhammad saw. membawa risalah La ilaha illallah.
Dari kalimat tauhid itulah kemudian dibangun manusia yang memiliki arah, masyarakat yang memiliki nilai, dan peradaban yang memiliki tujuan.
Islam datang bukan untuk memusuhi ilmu, peradaban, atau kemajuan manusia. Islam datang untuk menempatkan semuanya dalam kerangka penghambaan kepada Allah, sehingga ilmu memiliki arah, kekuasaan memiliki amanah, kebebasan memiliki tanggung jawab, kekayaan memiliki keadilan, dan kehidupan manusia memiliki tujuan.
Di situlah kita dapat memahami perkara besar yang dibawa oleh Islam: mengembalikan manusia kepada Rabb-nya, memuliakan manusia sebagai hamba Allah, dan membangun kehidupan berdasarkan tauhid, ilmu, keadilan, rahmat, dan akhlak.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif