basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Sirah Sahabat

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Sirah Sahabat. Tampilkan semua postingan

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pe...

Puasa, Benteng Kokoh Agar Fokus Ekspansi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Hidup adalah pertempuran terhadap semua ujian dan godaan hidup. Hidup adalah pergumulan dengan fitnah-fitnah kehidupan. Bagaimana menangkis yang paling mudah? Bagaimana cara berlindung dalam kelemahan sebagai manusia?  Bangunlah benteng. Buatlah perisai.

Musuh menyerang dengan senjata tercanggih dan strategi yang tak terpikirkan. Dengan tipu muslihat dan kamuflase. Jangan pernah keluar dari benteng. Jangan pernah melepaskan perisai. Sekali keluar, akan mudah dihancurkan.

Khalid bin Walid mengepung kota Damaskus. Berbulan-bulan tak bisa ditundukkan. Bagaimana cara mengalahkannya? Menggoda agar pasukan lawan keluar dari benteng. 800 tahun kaum Muslimin berusaha menaklukkan Konstantinopel namun selalu gagal. Bagaimana akhirnya bisa ditaklukkan? Ada prajurit Binzantium yang lupa menutup pintu  benteng. Akhirnya kaum Muslimin berhasil menerobos masuk.

Manusia itu lemah. Agar terlindungi dari semua ancaman, bangunlah benteng. Manusia itu bodoh terhadap kelicikan syahwat dan bisikan syetan. Agar terlindungi dari kelicikannya, bangunlah benteng. Jangan sekali-kali keluar dari benteng tersebut.

Bagaimana menghadapi serbuan 10.000 gabungan pasukan Musyrikin Quraisy, kabilah Arab, Munafikin dan Yahudi di Madinah? Rasulullah saw memanfaatkan bukit-bukit bebatuan yang terjal dan menggali parit. Setelah itu memporakporandakan lawan dengan cara sederhana.  Ali bin  Abi Thalib mengalahkan Yahudi di Khaibar dengan membobol pintu benteng dengan tangannya sendiri.

Seekor semut, rayap dan cacing  menjadi sulit dijadikan mangsa saat berlindung di benteng yang di bawah tanah. Seluruh kecanggihan teknologi negara adi daya tak berguna ketika perlawanan rakyat Palestina berlindung di terowongan Gaza. Yang lemah, menjadi kuat saat berlindung di balik benteng.

Benteng bukan sekedar untuk berlindung, tetapi juga menguras habis energi lawan. Benteng bukan sekedar untuk bertahan tetapi agar fokus menyerang. Bukankah setiap serangan diawali dari perlindungan pasukan dan infrastrukturnya? Saat terlindungi dari hawa nafsu dan syetan, manusia bisa mengupgrade  kuantitas dan kualitas ketaatan kepada Allah l. 

Raganya di Dunia, Jiwanya Penjelajah Akhirat Oleh: Nasrulloh Baksolahar Tualah sebelum tua. Matilah sebelum mati. Di alam kuburl...

Raganya di Dunia, Jiwanya Penjelajah Akhirat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Tualah sebelum tua. Matilah sebelum mati. Di alam kuburlah sebelum di kubur. Di akhiratlah sebelum di akhirat. Menyaksikan wajah Allah sebelum berhadapan langsung dengan-Nya.

Sukseslah sebelum sukses. Semuanya bisa dihadirkan saat ini tanpa perlu syarat. Bahagia tak perlu syarat. Kaya tak perlu syarat akumulasi jumlah tertentu. Menjelajah akhirat tanpa perlu syarat kematian.

Para Sahabat sudah menyaksikan penduduk surga yang hidup dalam kebahagiaan. Menyaksikan penduduk neraka yang disiksa. Menyaksikan Allah di Arsy-Nya. Akhirat itu ada disini.

Rasulullah saw sudah menyaksikan semua peristiwa yang akan terjadi, sehingga beliau bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan lebih banyak menangis.

Seorang sahabat membuang kurmanya saat perang Badar karena telah mencium bau surga dari sengitnya pertempuran. Terlalu lama memasuki surga walau hanya menunggu memakan dua butir kurma.

Para Tabiin melihat bara api seperti melihat kobaran api neraka. Tangannya tersentuh api, bagaimana bila dimasukan ke api neraka? Melihat keindahan alam, seolah menyaksikan surga. Raganya di dunia namun jiwanya telah sampai di akhirat.

Utsman bin Affan, sebelum kematiannya, menunggu berbuka puasa bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di surga. Hasan Al-Banna sebelum kematiannya bertemu dengan Ali bin Thalib yang telah menantikannya. Raganya di dunia, namun jiwanya sudah bergaul dengan para penduduk surga.

Kematian Para Panglima, Menyurutkan Daya Tempur Muslimin? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Dalam medan pertempuran kaum Muslimin, kem...

Kematian Para Panglima, Menyurutkan Daya Tempur Muslimin?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Dalam medan pertempuran kaum Muslimin, kematian panglimanya apakah menyurutkan pertempuran? Saat kritis pun, kematian sang panglima tidak pernah menyurutkan dan menghancurkan mental juang. Apalagi bila aura kemenangan sudah sangat  nyata.

Di perang Uhud, kaum Muslimin menghadapi tiga kondisi kritis. Terdesak oleh serangan memutar  Khalid bin Walud dari arah belakang karena turunan regu pemanah dari bukit. Kematian sang panglima Hamzah bin Abdul Muthalib dan isu berita kematian Rasulullah saw. Apakah membuat kaum Muslimin meninggalkan medan pertempuran?

Apakah kemenangan itu hanya ditangan sang panglima? Di saat kritis, Muslimin di perang Uhud justru berkata, "Bila mereka syahid, untuk apa kita hidup?" Seluruh pasukan Muslimin berlomba-lomba menempuh jalan kesyahidan Hamzah bin Abdul Muthalib. Kematian sang panglima menjadi model kematian prajurit-prajuritnya berikutnya. Mereka merindukan jalan kematian sang panglima. Akhirnya kaum Muslimin berhasil memukul mundur musuh. Mereka terus mengejar pasukan Kafir Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sofyan.

Di perang Mu'tah, 3.000 pasukan Muslimin menghadapi 200.000 pasukan gabungan Romawi dan sekutunya dari bangsa Arab. Apa yang harus dilakukan? Kaum Muslimin dua hari merancang strategi. Memohon bantuan tambahan pasukan ke Rasulullah saw atau meneruskan pertempuran? Abdullah Ibnu Rahawah mengatakan, "Kita berperang karena Allah, bukan karena banyak atau sedikit pasukan." Kaum Muslimin pun menghadapi Romawi.

Kaum Muslimin bertempur di Syam, bukankah pasukan Romawi dan sekutu Arabnya lebih memahami Mu'tah yang terletak di Syam? Kaum Muslimin menghadapi lautan tentara musuh terlatih yang terkuat saat itu. Panglimanya yang ditunjuk oleh Rasulullah saw berguguran dari Zaid bin Haritsah, Jafar bin Abdul Muthalib dan Abdullah Ibnu Rahawah. Apakah bergugurannya semua panglima terbaik menghancurkan semangat tempur Muslimin?

Sekali lagi, mereka ingin meraih kesyahidan seperti para panglimanya. Daya juang Muslimin semakin menggelora.  Kaum Muslimin bermusyawarah, memilih panglima baru seperti yang diperintahkan Rasulullah saw bila ketiga panglima sebelumnya gugur. Apakah kualitas panglima yang ditunjuk oleh Rasulullah saw dengan hasil musyawarah Muslimin berbeda? Ternyata kualitasnya tetap sama. Bila Rasulullah saw memerintahkan atau mendelegasikan sesuatu, berarti hasinya tetap berkualitas yang sama.

200.000 pasukan Romawi dibuat carut marut. Khalid bin Walid yang terpilih menjadi panglima perang menghabiskan 9 pedang di perang Mu'tah. Yang gugur di pihak Muslimin hanya 16 orang. Pihak Romawi melihat setiap hari kaum Muslimin mendapatkan "bala batuan". Padahal, itu hanya "tipuan" Khalid bin Walid yang setiap hari mengganti posisi pasukan saja. Romawi pun terpukul. Banyak korban berjatuhan di pihak Romawi. Saat Muslimin mundur, dianggap ingin menjebaknya.

Di perang Talut melawan Jalut. Talut sebagai panglima Muslimin terdesak oleh Jalut yang bertubuh besar, kuat seperti raksasa. Apakah ini melemahkan Muslimin? Tampilan Daud yang mengalahkan Jalut. Apakah Talut yang tidak bisa mengalahkan Jalut menurun daya tempur Muslimin? Pertempuran adalah jihad yang merindukan kesyahidan. Hanya itu orientasinya. Jadi kondisi pertempuran apa pun tidak akan pernah melemahkan daya juang Muslimin.

Liku-liku Abdurrahman bin Auf dalam Pemilihan Khalifah  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Umar bin Khatab membentuk Majelis Syuro untuk...

Liku-liku Abdurrahman bin Auf dalam Pemilihan Khalifah 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Umar bin Khatab membentuk Majelis Syuro untuk menentukan penggantinya. Anggotanya terdiri 6 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah saw. Yaitu, Ali, Utsman, Zubair, Thalhah, Saad dan Abdurahman bin  Auf. Bila proses pemilihan terjadi deadlock, maka keputusan ada di tangan Abdurrahman bin Auf. Majelis ini hanya diberi waktu 3 hari untuk masa kerja. Mengapa Abdurrahman bin Auf dijadikan penentu bila deadlock?

Menurut Umar bin Khatab, Abdurrahman bin Auf merupakan sebaik-baiknya orang yang memiliki pendapat, dia mendapat pertolongan dan pandai, serta mendapat penjagaan dari Allah. Di lain kesempatan, Umar bin Khatab memujinya sebagai orang yang paling adil.

Proses pemilihan pun dimulai. Abdurrahman bin Auf membentuk 3 orang nominasi yang masuk ke proses pemilihan berikutnya. Abdurrahman bin Auf bertanya pada setiap anggota majelis. Utsman bin Affan mendapatkan suara dari Thalhah dan Ali. Ali bin Abi Thalib mendapatkan suara dari Zubair dan Utsman. Sedangkan Abdurrahman bin Auf mendapatkan suara dari Saad. Lalu, Abdurrahman bin Auf mengundurkan diri dari nominasi. Jadi, hanya Ali dan Utsman yang masuk ke tahap berikutnya. Bagaimana Abdurrahman bin Auf memecahkan persoalan ini, padahal Umar bin Khatab menunjuknya menjadi penentu?

Selama 3 hari, Abdurrahman bin Auf tak bisa memejamkan matanya selain hanya sesaat. Seluruh waktunya ia habiskan untuk shalat, berdoa dan beristikharah, meminta pilihan terbaik kepada Allah. Dalam kondisi ini Allah mengilhamkannya, bagaimana pendapat masyarakat umum di luar Majelis Syura? Bukankah banyak Sahabat Senior yang bermukim di Madinah?

Abdurrahman bin Auf pun mendatangi sahabat yang lainnya dan bermusyawarah dengan mereka. Ia merundingkan masalah ini dengan para pembesar sahabat, tokoh-tokoh, para pemimpin pasukan dan orang-orang yang datang ke Madinah. Abdurrahman bin Auf melakukan survei kepada kaum perempuan, anak-anak dan budak-budak. Apa hasil survei dan pertimbangan dari luar Majelis Syura?

Di malam batas akhir pemilihan khalifah, Abdurrahman bin Auf secara bergantian memanggil Zubair dan Saad. Lalu berunding bersamanya. Memanggil Ali bin Abi Thalib, lalu berunding bersamanya. Terakhir berunding dengan Utsman bin Affan. Abdurrahman bin Auf menyampaikan hasil diskusi dan survei terhadap para Sahabat dan penduduk Madinah tentang sosok siapakah yang melanjutkan tongkat kepemimpinan setelah wafatnya Umar bin Khatab.

Waktu pengumuman hasil Majelis Syura pun tiba. Ketika selesai shalat Subuh, Abdurrahman bin Auf mengumpulkan anggota Majelis Syura, kaum Muhajirin, Anshar dan para Amir pasukan. Dengan mengucapkan syahadat, diumumkan bahwa Utsman bin Affan yang diangkat menjadi khalifah melanjutkan Umar bin Khatab. Semua yang hadir berbaiat kepada Utsman bin Affan termasuk Ali bin Abi Thalib.

Dalam pemilihan khalifah, Umar bin Khatab membuat terobosan dengan membentuk Majelis Syura sebagai  lembaga pemilihan khalifah dengan tata cara pemilihan yang jelas. Abdurrahman bin Auf membuat terobosan dengan melakukan jajak pendapat dan survei terhadap penduduk Madinah tentang siapakah pengganti Umar bin Khatab diantara dua calon yaitu, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Menurut Imam adz-Dzahabi, "Peranan terbaik Abdurrahman bin Auf dalam panggung sejarah Islam adalah ketika ia mengundurkan diri dari pencalonan khalifah pada majelis syura umat ini. Juga, ketika menunjuk sesorang di antara mereka berdasarkan kesepakatan Ahlus Syura, yaitu memilih Utsman bin Affan. Seandainya dia bersikap memihak pada satu golongan tertentu, niscaya jabatan itu akan diambil olehnya, atau dia akan memberikan jabatan itu kepada sepupunya dan orang terdekatnya, Saad bin Abu Waqqash."

Penolakan Penduduk Madinah Terhadap Politik Dinasti Muawiyah Oleh: Nasrulloh Baksolahar Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan berenca...

Penolakan Penduduk Madinah Terhadap Politik Dinasti Muawiyah

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan berencana mengangkat putranya, Yazid bin Muawiyah, sebagai penggantinya. Yazid cukup kredibel mengelola kekhalifahan. Berpengalaman  memimpin penaklukan Konstantinopel. Adz-Dzahabi berkata tentangnya, "Yazid seorang laki-laki kuat pemberani, berakal, tegas, cerdik dan fasih." Ibnu Katsir berkata tentangnya, "Yazid memiliki sifat terpuji, dermawan, santun,  berlisan fasih, menguasai syair, berani dan mampu mengatur kerajaan." Namun penduduk Madinah menolaknya, ada apa?

Muawiyah bin Abu Sofyan mengirimkan duta ke berbagai daerah, termasuk ke Madinah, agar penduduk Madinah berbaiat kepada Yazid. Dutanya, Marwan bin Hakam berkata, "Ini adalah sunnah Abu Bakar yang diberi petunjuk." Karena Abu Bakar menunjuk Umar bin Khatab sebagai khalifah. Namun Abdurahman bin Abu Bakar menolaknya dengan berkata, "Abu Bakar tidak memilih dari keluarga dan kabilahnya. Beliau memilih laki-laki dari Bani Adi bin Ka'ab, karena melihatnya kapabel, maka dia membai'atnya."  Sedangkan pembai'atan kepada Yazid berarti tidak berbeda dengan bai'at Heraklius (Romawi Timur) dan Kisra (Persia).

Muawiyah bin Abu Sofyan mencoba melobi Abdullah bin Umar agar mau berbai'at kepada Yazid dengan berkata, "Wahai Ibnu Umar, dulu anda pernah menyampaikan kepadaku bahwa anda tidak suka melewati malam yang gelap tanpa ada orang yang memimpin atasmu. Aku memperingatkanmu agar anda tidak memecah tongkat Muslimin, jangan jadi biang kerusakan di antara mereka." Ibnu Umar menjawab dengan menjelaskan tata cara bai'at Khulafa Rasyidin. Juga menambahkan bahwa orang Quraisy lainnya juga memiliki putra yang lebih baik dari Yazid, namun mereka tidak berpendapat pada putranya seperti Muawiyah terhadap putranya. Ibnu Umar menolak berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah kecuali bila kaum Muslimin sudah sepakat.

Muawiyah bin Abu Sofyan mencoba melobi Abdullah bin Zubair agar berbaiat kepada Yazid putranya. Ibnu Zubair menjawab dan memintanya untuk meninggalkan kursi kekhalifahan terlebih dahulu bila memang sudah jenuh mendudukinya, lalu mengangkat Yazid sebagai khalifah penggantinya. Bila setuju, maka ibnu Zubair bersedia membaiat putranya Yazid. Sebab tidak boleh ada dua khalifah dalam waktu yang bersamaan.

Husain bin Ali menolak berbaiat kepada Yazid karena Muawiyah tidak konsisten dengan syarat perdamaian dengan kakaknya, Hasan, dimana salah satu point perdamaiannya, "Hendaknya perkara ini menjadi syura di antara kaum Muslimin." Husein bin Ali melihat bahwa upaya Muawiyah mewariskan khilafah kepada anaknya, Yazid, menyalahi manhaj Islam pemerintah.

Muawiyah bin Abu Sofyan sudah sangat paham bahwa penduduk Madinah tidak mau berbaiat kepada Yazid putranya. Saat seluruh perwakilan delegasi dari berbagai daerah datang untuk meminta persetujuan dan deklarasi baiat, delegasi dari Madinah, Amr bin Hazm ditolak atau didesain agar datangnya terlambat sehingga penolakannya tidak mengacaukan pendapat yang setuju dan menimbulkan silang pendapat akibat penentangannya.

Muawiyah mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah dengan pertimbangan untuk menjaga keutuhan umat, sebab Yazid didukung oleh mayoritas penduduk Syam yang merupakan faktor terkuat dalam menjaga stabilitas negara. Apapun alasannya, para penduduk Madinah menolak gerakan politik dinastinya Muawiyah bin Abu Sofyan, mereka menginginkan mekanisme pemilihan khalifah seperti di era Khalifahatur Rasyidin.

Bagaimana dengan negri ini, bila sesuatu bertentangan dengan konstitusi, yang dirubah justru konstitusinya? 

Andai Gugatan Batas Usia Cawapres disidangkan di Era Ali bin Abi Thalib  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Gugatan batas usia Cawapres ...

Andai Gugatan Batas Usia Cawapres disidangkan di Era Ali bin Abi Thalib 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Gugatan batas usia Cawapres yang sebelumnya selalu ditolak, tiba-tiba gugatan perkara nomor 90/PUU-XXI/2023 yang baru masuk di 13 September 2023, langsung diterima. Adanya  perlibatan Ketua MK, Paman dari Cawapres, yang sejak awal berkomitmen untuk tidak terlibat dalam mengambil keputusan, karena ada konflik kepentingan, tapi untuk putusan ini dia melibatkan diri. Apakah keputusan MK ini sah?

Mari membuka berkas perkara yang pernah terjadi di era Ali bin Abi Thalib. Apakah peristiwa hukum masa lalu ini bisa menjadi yurisprudensi untuk menilai sah atau tidak sahnya keputusan MK menerima gugatan batas usia Cawapres di era sekarang? Andai pun tidak, semoga  bisa menjadi rujukan dalam menilai kadar kualitas penegakan  hukum di negri ini.

Tatkala khalifah Ali bin Abi Thalib menuju Shiffin, dia kehilangan baju besinya. Tatkala dia pulang dari peperangan menuju Kufah, baju besi milik Ali ditemukan oleh seorang Yahudi. Ali berkata kepada Yahudi, "Baju besi itu adalah baju besiku, dan saya tidak pernah menjual dan tidak pernah menghibahkannya kepada siapa pun."

Yahudi itu berkata, "Dia adalah baju besiku, dan sekarang ada di tanganku! Mari kita menuju hakim." Mereka berdua menuju hakim yang bernama Syuraih. Hakim yang terkenal keadilan, kejujuran dan kebersihannya yang diangkat sebagai hakim sejak era Umar bin Khatab.

Syuraih berkata, Wahai Amirul Mukminin katakan apa yang akan kamu adukan!" Ali berkata, "Ya, baju besi yang ada di tangan Yahudi itu adalah baju besiku, saya belum pernah menjualnya dan tidak pula menghibahkan kepada seseorang." Lalu aoa yang akan kamu katakan wahai Yahudi?" Yahudi itu berkata, "Baju besi itu adalah baju besiku dan dia ada ditanganku."

Syuraih berkata, "Apakah kau memiliki bukti wahai Amirul Mukminin?" Ali berkata, "Ya, Qanbar (budaknya) dan al Hasan (putranya) akan memberikan kesaksian bahwa itu adalah baju besiku." Kata Ali. Seorang budak tidak boleh menjadi saksi. Berarti saksi yang tersisa tinggal putranya Hasan. Bagaimana pendapat Syuraih tentang saksi yang merupakan putranya Ali sebagai pihak yang menggugat?

Syuraih berkata, "Kesaksian seorang anak untuk orang tuanya tidak sah secara hukum." Ali melanjutkan, "Apakah seorang penduduk surga tidak boleh menyatakan kesaksian? Saya mendengar dari Rasulullah saw, "Al-Hasan dan Al-Husein adalah penghulu pemuda-pemuda di Surga." Namun Hakim Syuraih tetap menolak Hasan menjadi saksi karena beliau putra dari pihak yang menggugat, Ali bin Abi Thalib. Kasus ini pun dimenangkan oleh Yahudi.

Bila Hasan, putra dari Ali, tidak bisa dijadikan saksi dalam persidangan gugatan Ali terhadap Yahudi. Bagaimana bila sang paman menjadi hakim, yang kemenangan dan kekalahan keputusan dalam gengamannya, pada gugatan yang memiliki kepentingan bagi keponakannya? Andai perkara gugatan batas umur Cawapres dibawa ke era Ali bin Abi Thalib apa keputusannya dari logika ini?

Strategi Memerangi Yahudi Oleh: Nasrulloh Baksolahar Perang Rasulullah saw dengan Yahudi, Perang Bani Qainuqa, Bani Nadir, Bani ...

Strategi Memerangi Yahudi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Perang Rasulullah saw dengan Yahudi, Perang Bani Qainuqa, Bani Nadir, Bani Quraizhah, Khaibar, Fadak, Wadil Qura, dan Taiman. Apa perbedaan perang dengan Musyrikin dan Yahudi?  Yahudi ada di kota Madinah dan mengepung Madinah dengan benteng-benteng yang kokoh dan persenjataan yang lengkap, modern dan perbekalan yang lebih dari cukup.

Dengan benteng yang kokoh, persenjataan yang lengkap modern, dan perbekalan yang lebih dari cukup, apakah pertempuran dengan Yahudi menjadi perang yang sangat fenomenal, sulit, dan menegangkan? Membuat kaum Muslimin terdesak? Pertempuran dengan Yahudi semuanya tentang pengepungan benteng, urat syaraf, blokade logistik terakhir baru perang kota.

Perang dengan Yahudi, sangat sedikit berupa pertempuran fisik "head to head", walaupun Yahudi mengaku memiliki kekuatan militer dan keahlian perang yang melampaui kekuatan Musyrikin di Perang Badar. Yahudi berani berperang setelah mendapatkan jaminan bantuan dari Munafikin Madinah dan Kabilah Arab Ghafathan yang tinggal di antara Madinah dan Syam.

Yahudi di kota Madinah, Bani Qainuqa, memata-matai kaum muslimin. Lalu, mengirimkan seluruh informasi tentang rencana dan aktivitas muslimin kepada Quraisy, menampakkan permusuhan dan menganggu aktifitas harian muslimin. Bani Nadhir, merencanakan pembunuhan kepada Rasulullah saw saat Rasulullah saw berkunjung ke benteng mereka, di dekat Madinah.

Bani Quraizhah menghianati perjanjian dengan menusuk dari dalam, saat kaum Muslimin di kepung oleh musyrikin Quraisy dan seluruh kabilah Arab pada perang Khandaq. Pemimpin Yahudi Bani Quraizhah jugalah yang memobilisasi dan menghimpun pasukan musyrikin Arab untuk mengepung Madinah.

Yahudi bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Quraizhah kalah perang, semuanya melarikan diri ke Khaibar. Benteng Yahudi terkuat dan terbanyak di antara Madinah dan Syam. Kaum Muslimin memecah persatuan Arab Ghafathan dan Yahudi, barulah menyerangnya. Penyerbuan ini sama sekali tak diketahui Yahudi. Saat Yahudi bangun di pagi hari ternyata sejumlah benteng sudah terkepung.

Pasukan muslimin dipecah ke beberapa benteng agar Yahudi tak tahu target utamanya dan tidak terjadi saling membantu antar benteng. Terjadilah perang kota dan hutan. Strategi jitunya adalah bagaimana Yahudi keluar dari benteng sehinga terjadi perang head to head? Memutus logistiknya. Sebab Yahudi tak pernah berani perang head to head. Seperti ini pula seni berperang melawan Yahudi sepanjang zaman.

Pola Takdir Oleh: Nasrulloh Baksolahar Hukum dunia itu sangat unik. Sebab akibat di dunia itu sangat aneh. Pola takdir itu serin...

Pola Takdir

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Hukum dunia itu sangat unik. Sebab akibat di dunia itu sangat aneh. Pola takdir itu seringkali bertentangan dengan logika ego manusia. Meruntuhkan ego selalu beriringan dengan pola takdir yang tercatat di Lauhul Mahfud.

Ingin menguasai kekuasaan? Jangan mencintai kekuasaan. Ingin menguasai kekayaan? Jangan mencintai kekayaan? Ingin menguasai seluruh yang ada di muka bumi? Jangan mencintai dunia. Cintailah akhirat. Itulah pola takdir yang tergores di Lauhul Mahfud.

Umar bin Khatab menjadi khalifah yang paling cepat perluasan kekuasaan, kemakmuran, dan kekuatan militernya. Di era inilah, Kaisar Heraklius mengucapkan selamat tinggal pada Syam dan pindah ke Konstantinople. Romawi terusir dari Timur Tengah. Di era ini pula, Persia runtuh. Sang Kisra meminta bantuan ke kaisar Cina namun tak mendapatkan bantuan karena kaisar Cina pun takkan mampu menghadapi kekuatan muslimin. Apa penyebabnya?

Tentara kaum Muslimin sedikitpun tak berkhianat pada harta rampasan perang. Tak berkhianat pada harta milik masyarakat. Tak berkhianat pada kekayaan dan anggaran negara. Mereka tak berani mengambilnya walaupun hanya satu buah jarum atau satu potong pakaian pun.

Umar bin Khatab, gubernur, pejabat dan pegawainya hidup hanya sebesar gaji yang diterimanya. Menolak hadiah. Setiap keinginan yang dituruti dianggap sebuah prilaku yang melampaui batas yang keji. Dengan cara inilah kekuasaan, kemakmuran dan kekuatan terjaga dan bertambah. Bagaimana nasib penguasa dan pejabat yang rakus? Tercabut semua kekuatannya.


Kekayaan Utsman bin Affan tetap langgeng dan tumbuh hingga sekarang. Padahal sudah berusia 14 abad lamanya. Adakah hartawan yang bisa melanggengkan hartanya? Mungkin hanya Utsman bin Affan. Semua berawal dari wakaf sebidang tanah dan sumur.

Pada perang Tabuk Rasulullah saw, Rasulullah saw "menghentikan" infak Utsman bin Affan karena terlewat banyak. Saat Madinah dilanda kelaparan, seluruh dagangannya diberikan ke pada masyarakat. Kekayaan itu terus bertambah saat tak mencintai kekayaan. Seperti itulah goresan pena takdir-Nya.

Tuntas Dengan Berdoa Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bagi ulama yang dekat kepada Allah, mendapatkan kekayaan sangatlah mudah. Tak pe...

Tuntas Dengan Berdoa

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Bagi ulama yang dekat kepada Allah, mendapatkan kekayaan sangatlah mudah. Tak perlu berikhtiar dan membanting tulang. Batu pun bisa diubah menjadi emas dengan kehendak Allah. Berdiam diri pun, kekayaan akan datang dengan sendirinya. Dengan berdoa, semuanya bisa "disulap" dengan ijin Allah. Namun tujuan mereka bukan itu.

Abdullah bin Jafar, sahabat Rasulullah saw seangkatan dengan cucu beliau Hasan-Husein, merubah tanah yang tandus hanya dengan shalat di atas tanahnya. Setelah shalat sunnah dua rakaat dan berdoa, dia memerintahkan sesorang untuk menggali tanah tersebut. Ternyata dibawahnya terdapat mata air. Tanah yang tandus seketika menjadi tanah yang subur.


Seorang istri mengeluhkan kebutuhan hariannya pada seorang ulama shaleh. Dengan mengatakan, "Suamiku, kita kuat dengan kehidupan yang serba terbatas, namun bagaimana dengan anak-anak kita?" Sang ulama hanya mengatakan, "Tunggu sampai nanti malam." Sang ulama melanjutkan menulis kitabnya. Sebelum malam hari, datanglah seseorang yang memberikan hadiah yang berjumlah ribuan dinar.

Seorang ulama mendatangi sebuah negri yang kering kerontang. Masuklah ia ke sebuah masjid. Ternyata ada seseorang pemuda yang sedang berdoa diturunkan hujan. Seketika itu pula hujan turun. Ternyata hujannya penuh dengan petir. Diapun berdoa kembali agar hujannya tidak berpetir. Seketika itu pula petirnya hilang. Begitu mudahnya merubah cuaca hanya dengan doa.

Seorang ulama berdoa kepada Allah agar matanya dibutakan agar tidak melihat yang haram. Seketika itu pula matanya buta. Namun saat hendak ke toilet, siapa yang akan menuntunnya? Lalu dia pun berdoa agar dikembalikan penglihatannya. Seketika itu pula pandangannya normal kembali.

Banyak ulama yang menyembuhkan sakit seseorang hanya dengan berdoa. Rasulullah saw banyak mengajarkan doa-doa untuk ragam penyakit. Mengapa begitu mudah menuntaskan persoalan?

Bagaimana menyelesaikan persoalan dengan mudah? Fudhail bin Iyad menasihati Khalifah Harun Al Rasyid, "Bila hati telah bersih dari selain Allah, maka permintaan akan terkabul." Mengapa semakin hari semakin sulit dan harus banting tulang? Karena hati manusia diisi oleh selain Allah.

Bisnis, Pewaris Peran Kenabian Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Fokus bisnis itu uang atau konsumen? Fo...

Bisnis, Pewaris Peran Kenabian

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)


Fokus bisnis itu uang atau konsumen? Fokus bisnis profit atau manusia? Hamba dirham dan dinar akan celaka. Begitupun dalam berbisnis. Yang berorientasi pada laba jangka pendek akan hancur. Keberlangsungan bisnis berasal dari keridhaan bertransaksi. Peralihan sumber daya berdasarkan keridhaan sesama manusia.

Fokus bisnis adalah manusia. Fokus bisnis adalah pengembangan manusia. Bukankah yang menjalankan operasional proses bisnis adalah manusia? Bukankah target marketnya juga manusia? Pengembangan bisnis itu dari pemahaman akan manusia.

Bagaimana cara memahami manusia? Pahami Al-Qur'an. Pahami Sunnah Rasulullah saw.  Bagaimana Al-Qur'an menginformasikan tentang karakter dan seluk beluk manusia? Bagaimana Rasulullah saw menjelaskan ragam manusia? Dengan informasi ini, formulasikan menjadi model dan pengembangan usaha.

Al-Qur'an menjelaskan bagaimana gaya kuliner orang kafir. Al-Qur'an memadukan penjelasan makan, bersenang-senang dan berangan-angan dalam satu kesatuan. Dengan menyatukan semua ini, manusia akan ringan tangan untuk menikmati kuliner.  Mengapa informasi ini tidak diubah menjadi model bisnis kuliner?

Bagaimana duduknya para ahli Surga? Bagaimana gambaran suasana Surga? Bagaimana gambaran tentang tentang buah-buahan Surga? Bisa jadi ini menjadi model bagaimana suasana outlet yang harus dibangun.

Fokus para Nabi dan Rasul adalah pengembangan dan pembentukan manusia. Mengapa organisasi bisnis tak diarahkan ke arah ini? Bukankah syarat pertumbuhan dan pengembangan bisnis adalah pengembangan SDM dan edukasi  konsumen?

Bisnis menjadi organisasi pengemban amanah Kenabian. Pelanjut peran Kenabian karena bisnis terfokus pada pengembangan dan pembentukan manusia. Bisnis menjadi salah satu media pewaris peran Kenabian.

Abu Mihjan Al-Tsaqafi: Ksatria Pemabuk Pemburu Syahid di Balik Perang Qadisiyah Hidayatullah.com | PARA Sahabah Rasulullah ﷺ mer...


Abu Mihjan Al-Tsaqafi: Ksatria Pemabuk Pemburu Syahid di Balik Perang Qadisiyah


Hidayatullah.com | PARA Sahabah Rasulullah ﷺ merupakan orang-orang terbaik yang pernah ada dalam sejarah Islam. Zaman mereka adalah zaman terbaik dalam sejarah peradaban Islam.


Banyak di antara mereka yang merupakan ahli-ahli dalam berbagai bidang; seperti halnya Khalid bin Walid yang merupakan ahli strategi militer, Umar bin Khattab yang merupakan ahli di bidang ketatanegaraan, Abu Hurairah yang merupakan ahli hadits dan lain sebagainya.

Di antara banyaknya sahabat Rasulullah perlu diketahui ada seorang pemabuk, namanya Abu Mihjan Al- Tsaqafi. Nama yang tentunya mungkin terdengar tidak familiar di kalangan para sahabat Rasulullah yang kita ketahui.


Beliau merupakan sahabat Rasulullah yang tidak bias meninggalkan khamr, mulai saat masih jahiliah hingga masuk Islam. Bahkan dari masa Rasulullah hingga Khalifah Abu Bakar dan berlanjut ke masa kekhalifahan Umar bin Khattab, namanya selalu menjadi langganan terdakwa hukum cambuk karena meminum khamr.


Meski demikian, keberanian Abu Mihjan sudah tidak perlu diragukan lagi, semenjak masuk Islam ia tidak pernah absen dalam setiap peperangan. Keberanian dan keinginannya akan mati syahid menjadikan dia seorang ksatria yang sangat gagah dan ditakuti, sehingga kehadirannya di medan pertempuran merupakan sebuah mimpi buruk bagi musuhnya.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (636M) terjadilah peperangan melawan bangsa Persia. Khalifah Umar bin Khattab menunjuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan utama dengan didukung 4000 pasukan. Berita tentang panggilan jihad itu pun terdengar oleh Abu Mihjan, namun karena dia seorang pemabuk, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh agar Abu Mihjan diasingkan ke suatu tempat sebagai hukuman tambahan baginya.


Di tengah perjalanan ke tempat pengasingan nya, Abu Mihjan berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke Medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.

Pada saat itu Sa’ad bin Waqqash sendiri tidak bisa turut serta didalam medan pertempuran langsung dikarenakan sedang menderita penyakit bisul di sekujur tubuhnya dan hanya bisa mengomandoi dari sebuah tenda di dataran yang agak tinggi sehingga dapat memberikan arahan terhadap pergerakan pasukan kaum muslimin.


Peperangan akhirnya pecah saat komandan utama yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengumandangkan takbir. Pertempuran sengit pun berlangsung, 4000 pasukan muslim melawan 130000 pasukan Persia tentu bukan hal yang mudah, terbukti kaum muslimin sangat kewalahan.

Ditambah lagi pasukan Persia memakai strategi menggunakan gajah untuk menakut-nakuti kuda perang yang ditunggangi kaum muslimin, sehingga tidak berani untuk maju.


Setelah berlarut dalam pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah berubah menjadi kebutuhannya tersebut, maka iapun meminumnya.

Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqqash menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga ia pun bersyair untuk menutupi kesedihannya itu. Dalam syairnya itu ia berkata;

Sedih menyelimuti hatiku,

karena aku terbelenggu di balik jeruji besi,

Bila engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,

Niscaya akan aku raih syahid dalam perang,

Diriku kaya akan harta dan kawan,

Namun kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,

Tubuhku kering karena sengatan matahari,

Kuperbaiki timbangan yang rusak,

Hanya ampunan Allah yang kuharapkan,

Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun merayu dan memohon agar istri Sa’ad bin Waqqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.

Mendengar perkataan Abu Mihjan yang dipenuhi kesedihannya itupun, akhirnya istri Sa’ad bin Abi Waqqash melepaskannya dan memberikan kuda perang berwarna hitam milik suaminya yang bernama Balqa ‘.

Sementara itu di medan pertempuran, kaum muslimin tetap kesulitan menembus baris pertahanan musuh yang begitu rapat dan kokoh, meskipun bala bantuan telah berdatangan diantaranya pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Al-mutsanna dan pasukan dari yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid telah datang membantu, namun tetap saja formasi barisan musuh tidak bisa di pecah.

Di tengah kegentingan itulah tiba-tiba muncul seseorang yang menunggangi kuda berwarna hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam pula, sehingga hanya menyisakan kedua bola matanya saja. Orang itupun maju bagaikan singa yang kelaparan, menembus barisan pertahanan musuh dan mengobrak-abrik nya.

Terlihat jelas bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan peperangan itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.

Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena bantuan datang walaupun hanya dari satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “

Melihat barisan musuh yang mulai kocar-kacir, maka spontan pasukan inti muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid kembali semangat dan menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia bernama Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim yang bernama Hilal bin Ullafah.

Kemenangan pun Allah takdirkan ke pihak muslimin. Seusai peperangan tersebut, maka Abu Mihjan kembali ke dalam kurunga dan menepati janjinya, dan bertobat dari kebiasaan mabuknya. Itulah kisah heroik Abu Mihjan Al-Tsaqafi, “sang pemabuk” pengejar syahid yang menjadi pahlawan bagi kemenangan kaum muslimin dalam Pertempuran Qadisiyah.*/Muhammad Muhajir Seninoto, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.  akun medsos: ig @fixgol_odado

Perang Yarmuk dan Pembuka Jalan Pembebasan Baitul Maqdis Hidayatullah.com | PADA masa pemerintahan Abu Bakar as-Shiddiq RA, Bait...


Perang Yarmuk dan Pembuka Jalan Pembebasan Baitul Maqdis


Hidayatullah.com | PADA masa pemerintahan Abu Bakar as-Shiddiq RA, Baitul Maqdis belum bisa dibebaskan dari penguasaan Romawi. Konsentrasi Khalifah Abu Bakar RA saat itu adalah mengatasi persoalan pemurtadan orang-orang Arab di Jazirah Arab.

Namun, bukan berarti Abu Bakar RA tak punya rencana untuk membebaskan Bumi Syam, yang di dalamnya terdapat Baitul Maqdis, sebagaimana dulu diupayakan juga oleh Rasulullah ﷺ di masa menjelang ajal beliau.

Pada bulan Rajab tahun ke-12 Hijriah, atau 633 M, sebagaimana tertulis dalam Buku Pintar Sejarah Islam karya Qasim A Ibrahim dan Muhammad A Saleh, Abu Bakar RA telah mengirim 4 batalyon berbeda untuk menaklukkan Syam.


Batalyon pertama dipimpin oleh Yazid ibn Abi Sufyan, ditugaskan menaklukkan Damaskus. Batalyon kedua dipimpin Syurahbil ibn Hasanah untuk menyerbu Urdun.


Pasukan ketiga dipimpin Abu ‘Ubaydah al-Jarrah menuju Humush. Dan, pasukan keempat dipimpin oleh ‘Amr ibn Ash menuju Palestina.

Hanya saja keempat batalyon ini tak menujukkan hasil yang berarti karena kuatnya pasukan Romawi. Mendapati hal tersebut, Abu Bakar RA lalu mengubah strateginya.


Beliau memerintahkan kepada Khalid bin Walid, ahli strategi perang kaum Muslim yang ketika itu sedang bertugas di Irak untuk memimpin keempat batalyon prajurit Muslim yang sedang menjalankan misi pembebasan Bumi Syam tersebut.

“Demi Allah, dengan Khalid, saya akan membuat pasukan Byzantiun melupakan bisikan-bisikan setan,” jelas Abu Bakar. Ini terjadi sekitar bulan Safar, 13 H, atau 634 M.

Saat itu pasukan Romawi terkonsentrasi di sebuah lembah yang di dalamnya mengalir sungai dari Gunung Hauran. Sungai ini terletak di dekat perbatasan antara Suriah dan Palestina, kemudian turun ke arah selatan, lalu bermuara di cekungan Yordania dan Laut Mati. Lembah ini bernama Yarmuk.


Di sana terdapat kawasan yang sangat luas, diapit oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Abu Bakar memerintahkan Khalid untuk segera menuju Yarmuk dengan mengerahkan keempat batalyon tentara Muslim guna menghadapi pasukan Byzantium yang juga memusatkan seluruh pasukannya ke lembah itu.


Khalid mematuhi perintah ini. Ia membawa 9.500 prajuritnya dari Irak untuk bergabung dengan pasukan Muslim di Syam. Ia sengaja menemupuh jalan yang tak biasa agar bisa sampai ke Yarmuk dalam waktu cepat.

Jalan tersebut bernama Samawah, berupa padang pasir yang tandus dan terik.  Tak akan ditemukan mata air selama lima hari perjalanan di padang pasir ini.

Setelah bergabung dengan pasukan Muslim, menurut Mansyur Abdul Hakim dalam buku berjudul Bangsa Romawi dan Perang Akhir Zaman, Khalid langsung membagi tentaranya menjadi 36 hingga 40 regu.

Masing-masing regu terdiri atas seribu prajurit. Dengan demikian, jumlah pasukan Muslim diperkirakan 36 hingga 40 ribu prajurit. Mereka semua bergerak ke arah Yarmuk.

Kaisar Heraklius juga mengerahkan pasukannya yang berasal dari Konstantinopel, negeri Syam yang masih dalam kekuasaan Romawi, dan Roma untuk menuju Yarmuk. Jumlahnya sangat fantastis, diperkirakan mencapai 240 ribu prajurit.

Lalu, bertemulah kedua pasukan yang tak imbang tersebut di Yarmuk.  Perang belum selesai, datang kabar dari Madinah bahwa khalifah Abu Bakar RA wafat.


Ini terjadi pada 26 A tus 634 M atau 23 Jumadil Akhir 13 H. Selanjutnya, naiklah Umar bin Khaththab RA sebagai pengganti Abu Bakar RA.

Umar RA menghendaki agar pimpinan pasukan pembebasan Syam diganti dari Khalid bin Walid kepada Abu ‘Ubaydah ibn Jarrah. Khalid tentu saja taat dengan keputusan tersebut. Namun, pergantian baru dilaksanakan setelah Perang Yarmuk selesai.

Kecamuk Perang Yarmuk benar-benar dahsyat, sampai-sampai Ibnu Katsir menggambarkannya dengan ungkapan, “sangat sengit dan berkobar-kobar hebat. Pedang-pedang terus berseliweran merenggut nyawa, menebas kepala, dan membelah tubuh.”

Perang Yarmuk berakhir dengan kemenangan kaum Muslim. Kemenangan ini tak lepas dari kepiawaian Khalid menyusun strategi perang.

Para sejarawan menyebut pertempuran Yarmuk penting dalam sejarah dunia. Sebab, inilah gelombang pertama pasukan kaum Muslim menaklukkan wilayah di luar jazirah Arab.

Ini pula yang menjadi pintu pembuka pembebasan Baitul Maqdis dan wilayah Syam (Suriah) yang dikuasai oleh Romawi.

Setelah perang Yarmuk selesai, Khalid menyerahkan tampuk pimpinan kepada Abu ‘Ubaydah. Namun, tak berarti Khalid undur dari misi pembebasan Syam dan Baitul Maqdis.

Ia dan pasukannya tetap mendampingi Abu ‘Ubaydah meneruskan ekspansi ke Damaskus, sebelum akhirnya Palestina dan Baitul Maqdis kembali ke pangkuan Kaum Muslim. Kisah tentang pembebasan Baitul Maqdis setelah Perang Yarmuk ini akan kita kupas dalam catatan selanjutnya.*/Mahladi Murni

Pesan Umar Kepada Abu Ubaydah: Mulailah Menyerang Damaskus! Hidayatullah.com | SETELAH Perang Yarmuk usai dengan kemenangan pasu...


Pesan Umar Kepada Abu Ubaydah: Mulailah Menyerang Damaskus!


Hidayatullah.com | SETELAH Perang Yarmuk usai dengan kemenangan pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalid bin Walid pada tahun 634 M atau 13 H, pasukan Romawi mundur ke Damaskus. Kaisar Heraklius, pemimpin bangsa Romawi ketika itu, lari ke Antiokhia, daerah perbatasan Turki dan Suriah.


Perang Yarmuk adalah gelombang pertama pasukan Muslim menaklukkan wilayah di luar Jazirah Arab, sekaligus menjadi pintu pembuka pembebasan Baitul Maqdis. Perang ini sebenarnya tak imbang. Jumlah pasukan Muslim hanya sekitar 40 ribu saja, sedang jumlah pasukan Romawi mencapai 240 ribu. Namun, Allah Ta’ala berkehendak untuk memenangkan pasukan Muslim.

Setelah Perang Yarmuk usai dan pasukan Romawi terpaksa mundur ke Damaskus, pimpinan pasukan Romawi mulai mengumpulkan kembali tentaranya yang telah tercerai berai. Mereka berhasil menghimpun sebanyak 80 ribu tentara dan dikumpulkan di sebuah lembah di Yordania (Urdun), lembah yang terdapat di sebuah daerah bernama Pella (Fihl).


Melihat keadaan itu, Abu Ubaydah, pimpinan tertinggi pasukan Islam (menggantikan Khalid bin Walid), menjadi ragu apakah akan meneruskan rencana menaklukkan Damaskus, atau kembali ke Yordania guna menyerbu pasukan Romawi yang berkumpul di Pella. Ia lantas menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khathtab yang berdomisili di Madinah.

Umar membalas surat tersebut dengan menuliskan pesan sebagaimana dikutip dari Buku Pintar Sejarah Islam karya Qasim A Ibrahim dan Muhammad A Saleh. Begini isinya:

“Mulailah menyerang Damaskus terlebih dahulu. Sebab, wilayah ini benteng Negeri Syam dan ibukota pemerintahan mereka. Tapi, kacaukanlah pasukan Byzantium yang ada di Pella dengan menempatkan pasukan berkuda di sana.”

“Jika pasukan berkuda berhasil mengalahkan mereka sebelum Damaskus maka itulah yang kita harapkan. Tapi, jika Damaskus bisa ditaklukkan lebih dulu, segeralah bergerak bersama pasukan menuju Pella setelah engkau menunjuk seseorang untuk mengurusi Damaskus.”

“Setelah Pella berhasil engkau taklukkan, bergeraklah bersama Khalid (bin Walid) menuju Emesa (Himsh). Serahkan urusan (pembebasan) Palestina (Baitul Maqdis) dan Yordania kepada “Amr ibn al-“Ash dan Syurahbil.”

Inilah kurikulum pembebasan Baitul Maqdis dari sang Khalifah. Kurikulum ini sebetulnya sudah dirancang sejak masa pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq.

Kaum Muslim paham bahwa musuh yang akan dihadapi begitu kuat. Karena itu mereka tidak membebaskan Baitul Maqdis secara langsung, melainkan bertahap, wilayah demi wilayah. Dengan begitu, saat pembebasan Baitul Maqdis tiba, pasukan Romawi sudah lemah.


Setelah menerima surat ini maka bergeraklah pasukan Muslim menuju Damaskus, dan sebagian menuju Pella. Ada kisah menarik saat pasukan Muslim berada di Pella, sebagaimana dikisahkan oleh Sir Arnold dan dikutip dalam catatan kaki buku di atas.

Menurutnya, ketika pasukan Islam tiba di lembah Yordania dan membuat markas di Pella (Fihl), penduduk Kristen setempat menulis surat kepada pasukan Arab-Islam. Surat tersebut berisi:

“Wahai Umat Islam, kami lebih menyukai kalian dari pada orang-orang Byzantium, meskipun agama kami sama dengan agama mereka. Kalian lebih bersikap lembut kepada kami, tidak menzalimi kami, dan memimpin kami dengan lebih baik. Tapi mereka memaksa kami mengikuti semua kemauan mereka, dan menjarah rumah-rumah kami.”

Pella pada akhirnya berhasil dikuasai oleh tentara Muslim.Kita kembali kepada pasukan Muslim yang bergerak menuju Damaskus dan masuk dari arah timur.

Rupanya, menaklukkan Damaskus tak semudah yang diperkirakan. Damaskus dikelilingi benteng yang kokoh dengan ketinggian mencapai 6 meter dan memiliki beberapa pintu utama. Tak cukup itu, benteng kota dikelilingi oleh parit yang dalam dengan lebar 3 meter.

Karena ketatnya penjagaan di kota ini, pasukan kaum Muslim hanya bisa mengepung dari luar dan memblokade kota. Pengepungan ini bahkan berlangsung berbulan-bulan, hingga pada suatu malam, intelijen tentara Muslim mengabarkan kalau di dalam benteng sedang berlangsung pesta.

Kesempatan ini digunakan oleh Khalid dan pasukannya untuk menyeberang parit dan memanjat tembok benteng menggunakan tangga-tangga yang panjang. Mereka berhasil menyerang penjaga pintu gerbang dan membuka lebar-lebar pintu tersebut.

Setelah gerbang dibuka, masuklah pasukan Muslim ke dalam kota dan membunuh siapa saja yang mengajak berperang kepada mereka.

Kota Damaskus akhirnya bisa dikuasai oleh pasukan Muslim pada Rajab 14 H, atau 635 M. Penaklukkan kemudian dilanjutkan di beberapa wilayah pedalaman Syam, kecuali beberapa wilayah pesisir. Khalifah Umar bin Khaththab yang mendengar kabar ditaklukkannya Damaskus segera berkirim surat kepada ‘Amr ib al-“Ash untuk segera bergerak menuju Baitul Maqdis.

Ada satu lagi kisah menarik ketika pasukan Muslim membebaskan Damaskus. Ketika itu Kaisar Heraklius, Raja Byzantium, masih berada di Anthiokia, wilayah perbatasan Turki dan Suriah. Setelah mengetahui pasukan Muslim banyak merebut wilayah kekuasaan Byzantium di Syam, ia memutuskan segera keluar dari Suriah menuju Konstantinopel, pusat kekuasaan Romawi.

Tatkala hampir tiba di tanah Romawi, Heraklius berkata, “Selamat tinggal wahai Suriah (Syam). Aku tidak ingin kembali lagi kepadamu untuk selamanya.” Meskipun Heraklius sudah melarikan diri ke Konstantinopel namun kisah pembebasan Baitul Maqdis masih belum selesai. Ketika itu ‘Amr ibn al-‘Ash bersama pasukannya sedang bergerak menuju Baitul Maqdis atas perintah Umar bin Khaththab. Dan, kisah pembebasan Baitul Maqdis ini akan kita lanjutkan pada artikel berikutnya. Nantikan!.*/Mahladi Murni, penulis aktif di MUI Pusat

Doa itu Kenyataan, Bukan Harapan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Ada yang aneh pada diri mukmin dan ya...

Doa itu Kenyataan, Bukan Harapan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)

Ada yang aneh pada diri mukmin dan yang berserah diri kepada Allah. Belum meraih apa pun yang diobsesikan, namun keresahan dan sedih hati sudah hilang seketika. Padahal kebanyakan orang, hilangnya keresahan dan kesedihan justru setelah meraih semua yang diobsesikan.

Hidup mulia atau mati syahid adalah kondisi yang sama. Sebab dunia bukan negri balasan dan impian. Harapan mukmin ada pada sisi Allah. Lebih meyakini janji Allah dari semua kasat mata yang ditangkap, dirasakan dan dinikmati oleh panca indranya.

Berdoa dan bermunajat kepada Allah tentang obsesinya, berarti sudah terrealisasi obsesinya. Obsesinya sudah nyata dalam genggamannya setelah bermunajat kepada Allah. Inti ibadah adalah doa. Dalam shalat, dipenuhi dengan doa. Maka setelah shalat, sebenarnya seluruh obsesinya sudah terrealisasi ada sudah ada pada gengamannya.

Doa itu kenyataan bukan harapan. Bagi yang terhijab dari Allah. Bagi yang memisahkan dunia dan akhirat, doa itu adalah harapan. Namun bagi yang memahami bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan yang utuh, maka doa adalah sebuah kenyataan. Doa adalah sesuatu yang sudah digenggamnya.

Seorang sahabat sangat bergembira saat didoakan Rasulullah saw sebagai penghuni surga tanpa hisab. Mengapa bergembira? Sebab doa adalah kenyataan bukan harapan. Para Nabi dan Rasul bersenjatakan doa dalam mengarungi hidupnya. Saat doa dipanjatkan, seketika itu pula kenyataan telah diraihnya.

Janji Allah itu kenyataan bagi mukmin. Oleh sebab itu, berserah diri dan ikutilah hukum-Nya, maka peradaban dunia akan berada dalam genggamannya. Bukan mukmin yang merealisasikannya, tetapi kehendak, kekuasaan dan kemahaperkasaan Allah yang merealisasikannya.

Seorang mukmin tidak akan pernah resah, gelisah dan sedih,  sebab di saat lisan dan hatinya memunajatkan sesuatu maka selurunya terrealisasi saat itu juga. Dunia dan akhirat itu satu rangkaian kehidupan yang utuh.  Bukankah setiap orang selalu mengharapkan masa depan yang lebih baik?

Titik Terpenting Grand Desain Masa Depan Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Menciptakan masa depan. Merek...

Titik Terpenting Grand Desain Masa Depan


Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)


Menciptakan masa depan. Merekayasa masa depan. Merancang masa depan. Merencanakan masa depan. Bagaimana caranya? Tak perlu dipusingkan. Tak perlu berkonsultasi dengan para pakar dan konsultan. Karena mereka pun kebingungan akan masa depannya.

Yang terpenting bukan membuat cetak biru dan grand desain masa depan. Ini hanya satu tahapan. Tetapi bukanlah hal yang utama dan pertama. Yang terpenting adalah darimana hadirnya grand desain? Darimana munculnya cetak biru masa depan?

Bila yang mengepung hati hanya berorientasi pada Allah, maka apapun grand desain akan berhasil. Apalagi bila grand desainnya sesuatu yang sudah dijamin kemenangannya oleh Allah. Apalagi bila grand desainnya sesuatu yang pasti ditolong oleh Allah.

Agar mudah meraih sesuatu di masa depan, bacalah Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah saw. Apa yang sudah dijamin dan ditolong oleh Allah? Seperti para Sultan Kekhalifahan Turki Utsmani, yang menjadikan pembebasan Konstantinopel sebagai grand desain perjalanan kesultanannya. Sebab Rasulullah saw sudah menjamin kemenangan tersebut.

Bila mendesain sesuatu yang dijamin kehancuran oleh Allah, maka seandainya seluruh jagat raya bersatu dan berpadu membantu dan menopang, maka pada akhirnya akan hancur juga. Seperti grand desain yang dibuat oleh Namrudz, Firaun dan para pemuka kaum yang memusuhi para Nabi dan Rasul.

Semua grand desain yang dibuat oleh pelaku kediktatoran, kezaliman, kekafiran, pelaku tipu daya, pembohong dan munafikin, akan berakhir dengan kegagalan dan kehancuran. Jadi yang terpenting bukan apa grand desain masa depannya.

Yang terpenting dalam merancang grand desain masa depan adalah apakah grand desainnya sesuai dengan grand desain Allah dan Rasul-Nya? Apakah grand desainnya berasal dari niat yang berorientasi pada Allah, bukan kepentingan diri? Itulah kunci mendesain grand desain masa depan.

Jalan Pintas, Agar Misi Berhasil Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Khalid bin Walid seorang panglima den...

Jalan Pintas, Agar Misi Berhasil

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)


Khalid bin Walid seorang panglima dengan 100% kesuksesan pasca menjadi muslim. Padahal di era jahiliyahnya, tak mampu menandingi kekuatan pasukan Muslimin. Namun pasca menjadi Muslim, mengapa Persia dan Romawi mampu ditaklukkannya? Padahal Persia dan Romawi sebuah adi daya yang kekuatan militernya lebih hebat dari Muslimin?

Abu Bakar, khalifah pengganti Rasulullah saw, saat jazirah Arab bergolak dengan munculnya kemurtadan karena munculnya nabi palsu dan menolak membayar zakat, mengapa beliau tetap mengirim pasukan ke luar Arab untuk menghadapi Persia dan Romawi? Padahal para Sahabatnya menyarankan untuk fokus menyelesaikan persoalan di jazirah Arab terlebih dahulu.

Mengapa Abu Bakar tetap menjadikan Usamah bin Zaid menjadi panglima perang saat ekspedisi pertama dari jazirah Arab? Padahal banyak yang lebih senior, lebih mumpuni dan ahli, dan lebih berpengalaman darinya. Namun mengapa misinya berhasil?

Mengapa Ustman bin Affan dan Muawiyah bin Abu Sofyan membangunkan angkatan laut? Padahal di era Umar bin Khatab, proyek pembangunan angkatan laut tidak disetujui. Padahal angkatan laut Romawi Timur sangat kuat, namun mengapa pada saat awal rintisan, sudah mampu meluluhlantakkan angkatan laut Romawi Timur dengan menguasai kepulauan Sisilia.

Para Sahabat Rasulullah saw selalu berinteraksi dengan Al-Qur'an dan Hadist Rasulullah saw yang menjelaskan capaian keberhasilan kaum Muslimin. Juga, apa yang akan terjadi di masa depan. Mereka bergerak, berjalan, merencanakan dan merespon sesuai arahan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Sebab inilah jalan yang lurus. Sebab inilah jalan termudah dan terjamin meraih keberhasilan.

Arah dan geraknya sesuai yang tertulis di Lauhul Mahfud. Persiapannya selaras dengan kesempatan yang akan dibukakan oleh Allah. Bukankah keberhasilan itu bila persiapan sesuai dengan kesempatan dan peluang? Kesempatan dan peluang di masa depan semuanya tertulis di Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw sebagai cerminan guratan tulisan yang ada di Lauhul Mahfud.

Kemurtadan itu pasti hancur. Kelak tidak ada lagi kaisar Persia dan Romawi. Umat Islam akan mengarungi lautan seperti gunung-gunung, mereka akan duduk seolah-olah ada di singgasana para raja. Hadist Rasulullah saw ini yang dijadikan panduan. Dari panduan ini Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah dan para Sahabat lainnya, membuat grand desain dan bergerak demi terwujudnya kemenangan yang sudah dijamin oleh Allah melalui lisan Rasulullah saw.

Rahasia Kegemilangan Khalid bin Walid Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Membaca buku Art of War-nya Khal...

Rahasia Kegemilangan Khalid bin Walid

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)

Membaca buku Art of War-nya Khalid bin Walid. Dia berhasil memenangkan 100% pertempuran di era Islam. Dia berhasil memformulasikan strategi perang bangsa Arab dengan ragam strategi panglima hebat sebelumnya. Padahal tidak pernah bertemu dan membaca strateginya.

Strategi perang Tsu Zu dan Alexander Agung, terlahir kembali di setiap peperangan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Bagaimana bisa sosok yang tidak pernah bertemu dan membaca literatur peperangan sebelumnya mampu mengulangi strategi perang tersebut secara gemilang?

Kegemilangan strategi Khalid bin Walid tak pernah mengungguli strategi perang Rasulullah saw. Perhatikan di perang Uhud, kelalaian para Sahabat menjaga pesan Rasulullah saw membuat Khalid bin Walid bisa melancarkan serangan balik. Namun tetap tak bisa mengalahkan strategi Rasulullah saw. Musyrikin Quraisy pulang ke Mekah dengan tangan hampa dan ketakutan.

Mengapa tiba-tiba Khalid bin Walid menjadi panglima brilian? Mengapa tiba-tiba Amr bin Ash tiba-tiba menjadi panglima hebat? Setelah dididik Rasulullah saw? Padahal sebelumnya kedua sosok ini menjadi bagian panglima perang musyrikin Quraisy. Namun tak pernah bisa mengungguli pasukan Rasulullah saw. Dimanakah rahasianya?

Kehebatan Khalid bin Walid bukan pada kecerdasan dalam membuat strategi bertempur. Tetapi amanah dari Rasulullah saw sebagai "Pedang Allah". Sebagai "Pedang Allah" yang membuat Khalid bin Walid tak pernah bisa terkalahkan oleh siapapun.

Walaupun jumlah pasukannya selalu lebih sedikit, perbekalannya minimal, persenjataannya tidak semodern musuhnya. Namun mengapa bisa mengalahkan musuhnya? Menjalankan peran sebagai Pedang Allah yang membuatnya diberikan kemenangan oleh Allah. Terbukti, saat jabatan panglimanya diserahkan ke Abu Ubaidah bin Jarrah, Khalid bin Walid tetap berjuang sebagai Pedang Allah.

Kegemilangan Khalid bin Walid disebabkan keistiqamahannya menjalankan peran sebagai "Pedang Allah" bukan pedang ego, kepentingan, obsesi dan cita-citanya pribadi. Mengapa bertempur? Menjadi hal yang harus "benar" terlebih dahulu sebelum menjawab apa dan bagaimana bertempurnya.

Isi Surat Umar bin Khattab Kepada Sungai Nil di Mesir Red: Muhammad Hafil REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Gubernur Mesir Amr bin Ash...


Isi Surat Umar bin Khattab Kepada Sungai Nil di Mesir

Red: Muhammad Hafil

REPUBLIKA.CO.ID, MADINAH -- Gubernur Mesir Amr bin Ash mengirimkan surat kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah. Dalam surat itu dia mengabarkan budaya dan t radiri orang Mesir saat itu yang selalu mempersembahkan anak perempuan sebagai tumbal dengan cara dilempar ke sungai Nil setiap tahunnya.

Mereka berkata, "Wahai gubernur, sesungguhnya sungai Nil ini mempunyai kebiasaan. Ia tidak mengalirkan air kecuali dengan kebiasaaan itu."

Amr bertanya, "Kebiasaan apa itu?"

Mereka menjawab, "Pada malam kedua belas di bulan ini, kami mengambil anak perempuan yang masih gadis yang tinggal bersama kedua orang tuanya. Lalu kami bujuk kedua orang tuanya agar merelakan anak gadisnya. Setelah itu kami dandani anak gadis itu dengan perhiasan dan pakaian terbaik. Kemudian kami melemparkannya ke sungai Nil sebagai tumbal."

Amr bin Ash berkata, "Sungguh ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Karena Islam telah menghancurkan tradisi sebelumnya."

Setelah larangan itu, penduduk Mesir mengalami masa paceklik, karena sungai Nil tidak sedikitpun mengalirkan air. Kondisi ini, membuat mereka berniat meninggalkan Mesir.

Melihat kejadian itu, Amr bin Ash menulis surat kepada Umar bin Khattab mengabarkan tentang hal ini. Umar membalas suratnya: "Engkau benar. Sesungguhnya sikapmu itu sudah tepat. Saya kirimkan sepucuk surat ini kepadamu. Jika suratku sudah engkau terima, lemparkanlah surat ini ke dalam sungai Nil. Sesampainya surat di tangan Amr, dia membukanya. Di dalamnya tertulis:

Dari   : Hamba Allah Amirul Mukminin Umar
Kepada: Sungai Nil di Mesir


"Amma ba'du. Jika kamu mengalir dengan kehendakmu sendiri, maka kamu tidak usah mengalir. Jika Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa agar Dia mengalirkanmu."

Amr kemudian melemparkan surat itu ke dalam Sungai Nil. Pada saat itu, penduduk Mesir tengah bersiap-siap untuk meninggalkan Mesir. Namun, pada pagi hari Sabtu,  Allah telah mengalirkan air sungai Nil setinggi enam belas hasta dan mengakhiri kebiasaan buruk itu dari penduduk Mesir sampai hari ini.

Membaca Hiruk-Pikuk Menjelang Kiamat Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Yotube Dengerin Hati) Rasulullah saw mengabarkan hiruk ...

Membaca Hiruk-Pikuk Menjelang Kiamat

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Yotube Dengerin Hati)

Rasulullah saw mengabarkan hiruk pikuk menjelang hari Kiamat, apa manfaatnya? Mengapa proses kehancuran alam semesta dijelaskan tahapannya secara jelas dan detail? Mengapa fragmen dan peristiwa global dan sektoral, fenomena alam sangat detail dan jelas dikabarkan oleh Rasulullah saw menjelang Hari Kiamat?

Seperti manusia, tanda-tanda tubuh mendekati kematian diberikan tanda-tandanya. Rambut yang memutih, mata yang mulai tak jelas melihat, telinga yang mulai samar mendengar, kekuatan yang terus melemah dan daya ingat yang terus berkurang. Untuk apa Allah memberikan tanda-tanda ini semua?

Ustman bin Affan dijelaskan oleh Rasulullah saw tentang ragam peristiwa sebelum kematiannya. Rasulullah saw menasihati apa yang harus dilakukan disaat ajalnya. Utsman bin Affan mengikuti nasihat Rasulullah saw. Ammar bin Yasir dijelaskan tentang fragmen dan peristiwa menjelang kematiannya oleh Rasulullah saw. Ammar bin Yasir pun mengikuti pesan Rasulullah saw. Seperti itulah sikap seluruh para Sahabat.

Al-Qur'an pun banyak mengkisahkan fragmen dan peristiwa menjelang kehancuran sosok tertentu dan beragam umat manusia. Setiap kehancuran sebuah kaum dijelaskan prosesnya. Dihadirkan para penyeru yang ikhlas. Kaumnya melakukan pembangkangan, penolakan hingga pembunuhan terhadap sosok penyeru. Diingatkan untuk bertaubat dan reformasi. Namun semuanya ditolak. Itulah awal kehancurannya.

Pemaparan hiruk-pikuk menjelang hari Kiamat oleh Rasulullah saw merupakan salah satu amanah dari Allah. Sebab, Rasulullah saw tidak hanya membimbing, memimpin dan menempa manusia di zamannya, tetapi juga seluruh umat manusia dan seluruh generasi selama kehidupan ini berdenyut.

Hiruk-pikuk menjelang hari Kiamat sangat komprehensif dijelaskan, dari fenomena sosial budaya, politik kekuasaan, kekayaan dan pertahanan, gaya hidup dan selera yang bersifat pribadi, sektoral hingga global, bahkan penjelasan yang sangat rinci tentang keringnya sebuah sungai di daerah tertentu.

Semuanya penjelasan Rasulullah saw disaksikan oleh manusia yang hidup di setiap zamannya. Agar manusia memahami risalah Rasulullah saw ada fakta nyata yang dilihat, disaksikan, dialami, diberitakan saat itu juga. Iman yang ditopang oleh kenyataan, harusnya lebih mengokohkan. Namun mengapa justru lebih banyak yang mendustakan?

Dimana Mereka? (Ceramah Abu Bakar) Ambillah pelajaran dari orang yang telah meninggal dunia di antara kalian. Perhatikan orang-o...

Dimana Mereka?
(Ceramah Abu Bakar)

Ambillah pelajaran dari orang yang telah meninggal dunia di antara kalian. Perhatikan orang-orang sebelum kita, dimana mereka kemarin dan dimana mereka hari ini.

Dimanakah orang-orang kuat yang dikenal tangguh dan berjaya di medan-medan pertempuran? Masa telah meruntuhkannya dan mereka pun telah menjadi tulang belulang yang lapuk dan hancur.

Dimana penguasa yang telah mengolah, membangun dan memakmurkan bumi? Mereka telah jauh sekali dan terlupakan dan menjadi bukan apa-apa. Allah telah menetapkan atas mereka tuntutan tanggung jawab dan telah memutus dari mereka segala syahwat dan ambisi.

Para penguasa telah berlalu, sedang amal-amal yang pernah mereka kerjakan adalah amal mereka sementara dunia adalah dunia orang lain. Ambillah pelajaran maka kita selamat, namun jika tidak, maka kita menjadi seperti mereka.

Dimanakah orang yang elok dan berwajah menawan yang bangga dengan kondisi mudanya? Mereka telah menjadi tanah, keteledorannya menjadi sesalan.

Dimanakah orang-orang yang membangun kota dan mengelilinginya dengan tembok  dengan membuat berbagai hal yang menakjubkan di dalamnya? Mereka telah meninggalkannya untuk orang-orang yang datang setelahnya. Tempat tinggalnya kosong, tinggal puing saja. Sedangkan mereka berada dalam kegelapan lubang kubur.

Dimanakah orang-orang yang kita kenal dari leluhur dan saudara kita? Ajalnya telah berakhir dan habis, lalu sampailah pada apa yang sebelumnya dikerjakan. Yang ditegakkan untuk kesengsaraan atau kebahagiaan setelah kematian.

(Biografi Abu Bakar, Muhammad Shalabi, Al-Kautsar)

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (185) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (137) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (406) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (89) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)