basmalah Pictures, Images and Photos
10/06/22 - Our Islamic Story

Choose your Language

RA Kartini: Gelar Tertinggi itu Menjadi Hamba Allah Perjumpaan dengan Kyai Sholeh Darat Ada seorang tokoh yang tidak disebutkan ...

RA Kartini: Gelar Tertinggi itu Menjadi Hamba Allah

Perjumpaan dengan Kyai Sholeh Darat

Ada seorang tokoh yang tidak disebutkan secara langsung dalam literatur awal sejarah kehidupan RA. Kartini. Tokoh besar ini adalah Kyai Sholeh Darat.

Hubungan murid-guru RA Kartini dengan Kyai Sholeh Darat terungkap dari catatan pribadi Kyai Sholeh Darat yang disimpan oleh KH. Ma’shum Demak. Selanjutnya sejarawan dan keturunan Kyai Sholeh Darat juga mengkonfirmasikan hal ini.

Dalam beberapa buku disebutkan bahwa Kartini, selain belajar di sekolah Belanda juga pernah belajar agama dari Kyai Sholeh Darat.

Beliau adalah seorang alim yang disegani, nama lengkapnya Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi as-Syafi’i atau lebih dikenal dengan panggilan Kyai Sholeh Darat atau Mbah Sholeh Darat.

Beliau dilahirkan pada tahun 1820 di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Kyai Umar yang merupakan salah seorang pejuang dan tangan kanan Pangeran Diponegoro di wilayah pesisir utara pulau Jawa.  

Kyai Sholeh Darat mendalami ilmu-ilmu keislaman diawali dengan belajar kitab-kitab fiqih kepada KH. M. Syahid di Pesantren Waturoyo, Margoyoso, Kajen, Pati.

Dalam bidang tafsir, Kyai Sholeh Darat mempelajari kitab Tafsir Jalalayn karya Imam Suyuti di bawah bimbingan Kyai Raden Haji Muhammad Sholeh bin Asnawi (Sepuh) di Pondok Damaran Kudus.

Setelah menikah, Kyai Sholeh Darat merantau ke Mekah untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan berguru kepada ulama-ulama besar, seperti Syekh Muhammad al-Muqri, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan lain-lain. Saat Kyai Sholeh Darat berada di Mekah, beliau juga mengajar disana.

Tercatat dalam sejarah beberapa murid dari Kyai Sholeh Darat yang masyhur, antara lain KH. Hasyim Asy’ari (muassis Nahdlatul Ulama), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH. Bisri Syamsuri (Jombang) dan lain-lain.

Sekembalinya dari Mekah beliau mendirikan pesantren di daerah Darat, Semarang. Kyai Sholeh Darat kerap kali memberikan pengajian khususnya tafsir al-Qur’an di beberapa pendopo Kabupaten sepanjang pesisir Jawa.

Sampai suatu ketika RA Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan, khusus untuk anggota keluarga Bupati. Pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat bukan hanya dalam satu kali pengajian saja.

Menurut beberapa penulis sejarah, ternyata Kartini selalu hadir dalam pengajian-pengajian Kyai Sholeh Darat saat mengisi pengajian di Demak, Kudus dan Jepara.

Suatu saat dalam pengajian itu, Kyai Sholeh Darat menyampaikan materinya tentang makna yang terkandung di dalam surat al-Fatihah. Saat itulah, ketika mendengar ceramah Kyai Sholeh Darat,  Kartini merasakan ketentraman yang belum ia rasakan sebelumnya.

Karena tertarik pada materi pengajian tentang tafsir al-Fatihah, setelah selesai Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani untuk menemui Kyai Sholeh Darat.

Ia mengatakan: “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surah pertama (al-Fatihah), dan induk al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku”.

Al-Qur’an yang selama ini dibacanya hanya sebagai sebuah lantunan tanpa makna, sedangkan dalam pertemuannya dengan Kyai Sholeh Darat ia mampu menyerap makna yang terkandung di dalamnya dalam bahasa yang ia mengerti.

Bila dilihat dari surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabat-sahabat penanya, dapat dikatakan bahwa pemahaman dan penghayatan keagamaan Kartini semakin intens dari waktu ke waktu.

Kartini pada zamannya adalah pemeluk Islam yang masih sangat sederhana. Tidak seperti saudara-saudara laki-lakinya yang memperoleh pendidikan pesantren, ia sama sekali tidak mendapatkan pelajaran agama secara ilmiah.

Dalam surat-suratnya tampak dengan jelas bahwa jiwa Kartini sedang bergolak dalam memahami kebenaran agama.

Perubahan besar terjadi setelah dia sering mengaji kepada Kyai Sholeh Darat dalam banyak kesempatan. Artinya ada keberkahan ia dapatkan disebabkan karena kecintaannya kepada ulama besar ini.

Bahkan Kartini pernah memohon kepada Kyai Sholeh Darat agar beliau menuliskan tafsir al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Permintaannya pun dikabulkan oleh Kyai Sholeh Darat.

Setelah peristiwa pertemuannya dengan RA Kartini, Kyai Sholeh Darat tergerak menulis kitab tafsir Faidhur Rahman Fi Tarjuman Tafsir Kalam Malik ad-Dayan dalam bahasa Jawa dan aksara pegon.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh Darat adalah al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. RA. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya Kitab Faidhur Rahman ini tidak selesai karena Kyai Sholeh Darat sudah keburu wafat.

Kyai Sholeh Darat menyatakan dalam pembukaan kitab tafsirnya bahwa permintaan untuk menerbitkan bagian dari seluruh tafsir ini merupakan permintaan dari sebagian teman-temannya.

Bukan hanya itu, Kyai Sholeh Darat menuliskan bahwa mereka yang memintanya adalah ikhwan kito fid diin (teman kita yang seagama). Ini menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Belanda yang beda agama.

Alasan kuat beliau mempercepat penerbitan tafsir itu adalah karena umat sudah sangat membutuhkan. Sedangkan sebagian besar orang Jawa tidak bisa berbahasa Arab.

Ungkapan ini senada dengan ungkapan Kartini dalam surat pada Stella Zeehandelaar, sahabat Kartini asal Belanda, pada tanggal 6 November 1899:

“Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Disini, orang belajar Al-Qur’an tetapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca, itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.”

Hal ini mengindikasikan bahwa salah satu faktor yang mendorong Kyai Sholeh Darat untuk menerbitkan kitab tafsir berbahasa Jawa ini adalah permintaan dari RA. Kartini.

Kitab ini kemudian dihadiahkan kepada RA. Kartini saat ia menikah dengan Bupati Rembang RMAA. Djojo Adiningrat pada 12 November 1903. Kitab Tafsir ini kemudian banyak mempengaruhi Kartini,  terutama dalam tafsir surat al-Baqarah yang ia baca. Dari  sini tercetuslah kata Door Duisternis Tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya).

Ungkapan itu sebenarnya dari petikan firman Allah SWT dalam Surat al-Baqarah ayat 257, yaitu minazh zhulumaati Ilan nuur. مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Kalimat Door Duisternis Tot Licht, itu sebenarnya berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, jadi bukan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Walau terlanjur diterjemahkan secara tidak akurat seperti itu, tidaklah menghilangkan pemikiran RA. Kartini yang menginginkan perubahan dari kegelapan menuju cahaya terang.

Pemikiran dan penghayatan keagamaan Kartini

Ilustrasi mengenai perjalanan pemikiran keagamaan Kartini dapat dilihat dari perubahan-perubahan pandangannya tentang agama Islam yang ia tulis dalam surat kepada sahabat-sahabat penanya.

Kegalauannya ini tercermin pada pandangan-pandangan kritis Kartini yang mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami.

Perlu diketahui pada zaman itu Belanda melarang penerjemahan al-Qur’an dalam bahasa-bahasa apapun di Nusantara/ Hindia Belanda.

Ia juga pernah mengungkapkan pandangan bahwa dunia akan menjadi lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti.

“Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyak dosa diperbuat atas nama agama itu..”.

Meskipun dalam surat-suratnya Kartini sering mengkritisi ajaran Islam, tapi dengan penuh kesabaran ia terus mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan kemampuannya, seperti berpuasa, ziarah kubur bahkan kerelaannya dimadu.

Pada awalnya poligami bagi Kartini adalah musuh besarnya. Namun seiring bertambah pengetahuan Kartini terhadap agama Islam, akhirnya ia dapat menerima poligami, tentunya setelah memahami juga bagaimana konteks dan syarat-syarat poligami dalam Islam.

Perkembangan spiritualitas RA. Kartini terjadi setelah ia banyak bertemu dengan Kyai Sholeh Darat dan membaca kitab yang dihadiahkan kepadanya, kegalauannya itu semakin berkurang dan keyakinannya semakin menguat. Dari surat yang ia tulis kepada Ny. Van Kol pada 21 Juli 1902 Kartini mengatakan:

“Tuhan sajalah yang tahu keajaiban dunia. TanganNya mengemudikan alam semesta. Ada seseorang yang melindungi kami, ada seseorang yang selalu dekat dengan kami. Dan seseorang itu akan menjadi pelindung kami, tempat kami berlindung dengan aman di kehidupan kami selanjutnya”.

Di bagian lain Kartini mengatakan:

“Tiada Tuhan selain Allah! Kata kami umat Islam, dan bersama-sama kami semua beriman, kaum monoteis: Allah itu Tuhan, Pencipta alam semesta”.

Dalam surat ke Ny. Abendanon, pada tanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis kalimat bermakna batin yang dalam:

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.”

Jalur Keilmuan Pangeran Diponegoro Jakarta, NU Online Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Kiai Achmad Chalwani pada Haul Pange...


Jalur Keilmuan Pangeran Diponegoro


Jakarta, NU Online
Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Kiai Achmad Chalwani pada Haul Pangeran Diponegoro Jumat (15/1) malam mengatakan Pangeran Diponegoro adalah seorang faqih juga sufi, punya guru syariat dan guru tarekat.

"Pangeran Diponegoro pernah mengaji ilmu hikmah kepada simbah KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman dan mengkaji ilmu Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Pesantren Bagelen, Purworejo yang makamnya ada di Godegan, Bantul," kata Kiai Achmad Chalwani dalam haul bertema Menjaga Warisan Nusantara.
 
Menurut Kiai Chalwani, KH Baidlowi adalah seorang ulama besar memiliki putra Kiai Hasan Muhibat. Salah satu keturunan dari Kiai Hasan adalah Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan RI. Sedangkan guru ilmu syariat Diponegoro adalah kiai Hasan Besari Tegalsari, Ponorogo. 

"Ada sosok ulama yang menjadi Mangguloyu Dunya Diponegoro simbah kiai Abdurrauf kakeknya mbah Dalhar Watucongol, Magelang yang kemudian ditunjuk sebagai bendahara perang Diponegoro yaitu kiai Gedong, Magelang,"`papar Kiai Chalwani.

Pusat peperangan ada di kampung yang bernama Benteng, dekat langgar agung tempat mujahadah. "Tempat mujahadah lain di belakang pesantren Api Tegalrejo, Magelang. Jadi, Pangeran Diponegoro lahir di Yogya punya peninggalan mujahadah di dua tempat," katanya.

"Mujahadah dilakukan Pangeran Diponegoro dengan niat mendapat keberkahan dari sang guru KH Nur Muhammad," jelas Kiai Chalwani.

Pengasuh Pesantren An- Nawawi, Berjan, Purworejo ini mengatakan, Mbah Hasyim Asyari juga punya guru syariat Syaikhona Cholil Bangkalan, Madura. Ketika menjadi katib Syekh Termas di Makkah, Hadratussyekh Hasyim Asy'ari talqin baiat Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah kepada  Syekh Mahfud Termas, Pacitan.

"Ketika Bung Karno membacakan teks proklamasi di Pegangsaan timur Jakarta, tampil putra tarekat mendampingi Bung Karno yakni Mohammad Hatta yang akhirnya terpilih menjadi wakil presiden pertama. Bung Hatta adalah putra ustadz H Jamil guru Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah, Batu Hampar, Sumatera Barat," teragnnya.

Kontributor: Suci Amaliyah
​​​​​​​Editor: Kendi Setiawan

Sosok Ulama Hafidz al-Qur’an Pengikut Pangeran Diponegoro: Kyai Chusain Mutihan Pangeran Diponegoro, selain sebagai seorang pang...


Sosok Ulama Hafidz al-Qur’an Pengikut Pangeran Diponegoro: Kyai Chusain Mutihan


Pangeran Diponegoro, selain sebagai seorang panglima Perang Jawa, juga adalah seorang Ulama yang alim. Tidak heran beliau dikelilingi banyak pengikut yang juga alim ulama, salah satunya adalah Kyai Chusain Mutihan, magelang.

Berdasarkan riwayat dari masyarakat Mutihan Magelang, disebut-sebut bahwa K.H. Chusain berasal dari Surakarta. Mereka juga meriwayatkan bahwa Kyai Chusain (begitu lazim disebut) adalah pengikut Pangeran Diponegoro dari kalangan ulama. Diperkirakan, beliau bersama para ulama pejuang Perang Diponegoro lainnya datang dan singgah ke daerah Gunungpring Muntilan, Magelang yang dikenal sebagai tempat peristirahatan para waliyullah.

Persinggahan tersebut agar para pengikut Pangeran Diponegoro dekat dan dapat memantau perkembangan sang Pangeran yang melakukan perundingan dengan kolonial Belanda di kantor Karesidenan Kedu di Megelang pada tahun 1830. Perundingan antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda yang diprakarsai oleh Jenderal de Cock berakhir dengan pengkhianatan dan penangkapan Pangeran Diponegoro. Hal  ini sangat ikonik sekaligus menandai berakhirnya Perang Diponegoro.

Setelah Perang Diponegoro atau yang dikenal dengan Perang Jawa (1825-1830) selesai, Kyai Chusain bermukim di dusun Mutihan, desa Gunungpring, kecamatan Muntilan. Beliau hidup sezaman dengan Simbah Kyai Krapyak II yang juga pengikut Pangeran Diponegoro dan putra beliau Simbah Kyai Krapyak III serta Simbah Kyai Abdurrauf, Watucongol. Mereka sama-sama berejuang sebagai penasihat perang Pangeran Diponegoro dari barisan Ulama.

Kisah tentang kedekatan Kyai Chusain dengan Kyai Krapyak III tidak diragukan lagi. Bahkan sampai diikrarkan bahwa kelak jika keduanya meninggal dunia, mereka ingin dikuburkan secara berdampingan. Adapun mengenai kapan Kyai Chusain lahir dan kapan beliau meninggal belum diketahui secara pasti, hanya diceritakan sekitar tahun 1855 beliau masih tinggal di Mutihan Desa Gunungpring, Muntilan Magelang.

Siapa sesungguhnya sosok Kyai Chusain ini?

Memang kebanyakan para pengikut Pangeran Diponegoro sulit ditelusuri asal usulnya. Sebab, hampir sebagian besar pengikut Pangeran Diponegoro selalu menyembunyikan identitas dirinya pasca berakhirnya Perang Diponegoro agar tidak diketahui oleh penjajah Belanda. Barangkali ini pula yang menjadi alasan mengapa informasi detail mengenai Kyai Chusain sulit ditemukan. Namun demikian, terdapat fakta bahwa para ulama pengikut Pangeran Diponegoro tersebut selalu kembali ke tengah-tengah masyarakat untuk membina umat sekaligus tetap berjuang melawan penjajah Belanda dengan cara gerilya.

Kyai Chusain dikenal sebagai seorang Ulama Hafidz Qur’an, seorang Qari’ yang bagus dan indah bacaannya serta alim dalam ilmu al-Qur’an. Banyak Kyai dan Habaib di Magelang dan sekitarnya yang menjadi santri untuk mentashih bacaan dan hafalan Qur’annya. Pada saat itu sudah menjadi tradisi jika ada santri yang mengaji atau sudah menghafalkan al-Qur’an pasti langsung diperintahkan oleh Kyainya untuk ditashihkan kepada Kyai Chusain Mutihan. Beliau juga mengkhatamkan hafalan al-Qur’an sekaligus menuliskannya sehingga banyak al-Qur’an tulisan tangan beliau yang ditinggalkan. Dengan demikian bisa kita sebut beliau adalah ulama Hafidz dan penjaga kemurnian al-Qur’an mulai dari bacaan/qiraahnya, metode penulisan dan susunannya, sanad, tafsir dan ulumul Qur’annya.

Kealiman Kyai Chusain dalam al-Qur’an diakui oleh KH.Dalhar Watucongol, wailyullah yang banyak diziarahi oleh umat Muslim Magelang dan sekitarnya. KH. Dalhar sangat takdzim dan mengakui beliau sebagai guru al-Qur’annya. Konon diceritakan meskipun Kyai Chusain sudah wafat, namun sebelum  bermukim di Makkah, KH. Dalhar terlebih dahulu sudah mengaji al-Qur’an secara ghaib kepada Simbah KH. Chusain. Setelah kembali pun beliau tetap mengaji dan mentashih bacaannya secara ghaib kepada Simbah KH. Chusain.

Bahkan, setiap kali KH. Dalhar berziarah ke kompleks Makam Gunungpring, beliau selalu menghampiri ke makam Kyai Chusain Mutihan terlebih dahulu. Konon, karena beliau selalu ditunggu oleh Kyai Chusain untuk dibacakan  al-Qur’an. Hanya para auliya kekasih Allah SWT yang mampu melakukan hal-hal seperti itu.

Bukan mustahil jika ketakdziman KH. Dalhar kepada Kyai Chusain juga sangat tinggi sampai-sampai beliau berwasiat untuk tidak mau dimakamkan di atas posisi makam gurunya, yang kebetulan posisi makam sang guru berada sedikit di bawah puncak bukit kompleks makam Gunungpring.

Kecintaan Kyai Chusain akan al-Qur’an sangat dalam sehingga beliau selalu merasa sedih setiap kali mendengar orang yang membaca al-Qur’an tidak dengan tartib dan tartil. Sering beliau menghentikan orang yang membaca tersebut sambil menitikan air mata (bahasa Jawa: muwun) sebelum membetulkan bacaannya beliau tidak menginginkan ayat-ayat al-Qur’an menjadi rusak terjemah dan maknanya karena salah membacanya.

Dalam mengajarkan al-Qur’an pada anak-anak yang menjadi santrinya, beliau sangat sabar dan telaten bahkan beliau sering menemani santri tidur bersama di pondok pesantrennya yang sederhana di dekat masjid dan tempat tinggal beliau di Mutihan.

Beliau adalah sosok yang zuhud dalam kesehariannya. Kehidupannya sangat sederhana dengan tampilan lahir yang sederhana pula bahkan bukan termasuk golongan orang yang berada. Namun demikian yang mengherankan disaat ibadah qurban tiba, beliau selalu menyembelih kambing dalam jumlah yang banyak.

Demikian sekelumit tentang sejarah Kyai Chusain Mutihan, ulama hafidz Qur’an pengikut setia Pangeran Diponegoro, yang patut kita teladani . Wallahu a’lam bisshawab.

Dini Astriani
Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Berminat pada kajian tafsir Al-Qur'an, sosial keagamaan, sejarah intelektual, dan cultural studies.

Kisah Kiai Murmo Wijoyo, Guru Pangeran Diponegoro yang Pernah Jadi Crazy Rich JAKARTA, iNews.id - Kiai Murmo Wijoyo mungkin nama...


Kisah Kiai Murmo Wijoyo, Guru Pangeran Diponegoro yang Pernah Jadi Crazy Rich

JAKARTA, iNews.id - Kiai Murmo Wijoyo mungkin namanya tak begitu dikenal berbicara kisah perjuangan Pangeran Diponegoro. Namun siapa sangka sosoknya yang justru menginspirasi sang pangeran untuk melakukan pemberontakan kepada orang-orang kolonial Belanda yang dianggap seenaknya sendiri menindas kaum pribumi.

Apalagi saat itu pemerintahan Belanda juga bersekutu dengan keraton Yogya demi menangkapi sejumlah orang yang dianggap musuh dan membahayakan. Salah satu dari target sasarannya adalah Kiai Murmo Wijoyo crazy rich di era Pangeran Diponegoro dari daerah Pajang. 

Peter Carey dalam bukunya "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855" mengisahkan Kiai Murmo Wijoyo adalah tokoh agama, kiai, dan crazy rich yang, begitu terpandang. Sosoknya merupakan laki-laki kelahiran desa perdikan (desa bebas pajak) Mojo, kampung asal Kiai Mojo, penasihat agama Pangeran Diponegoro. 

Ketika masih muda, Kiai Murmo pindah ke Kepundung dekat Delanggu, salah satu dari desa perdikan Yogya yang paling kaya dan merupakan tempat kelahiran ibunda Sultan pertama Mas Ayu Tejowati. Sang kiai ini ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan ayah Pangeran Diponegoro.

Dia juga merupakan salah satu guru agama yang mengunjungi Tegalrejo. Saat itu sang pangeran masih anak-anak dan kerap kali pangeran belajar agama kepada Kiai Murmo Wijoyo ini. Sang pangeran jelaslah sangat menghormati kiai tersebut. 

Suatu hari sang pangeran mendengar Belanda menangkap Kiai Murmo saat tengah mengajarkan ilmu agama kepada santri-santrinya. Tak hanya ditangkap, Kiai Murmo juga diasingkan oleh Belanda ke Ambon. 

Bahkan sang penguasa residen wilayah Belanda atau sekelas pejabat pemerintah daerah kala itu Nahuys Van Burgst juga memerintahkan penyitaan dan perampasan harta benda Kiai Murmo Wijoyo tanpa sebab.

Diduga penangkapan dan pengasingan sang crazy rich era Diponegoro ini hanya dijadikan kedok agar Belanda bisa, menguasai harta benda milik sang kiai dan menjarah harta kekayaan desa Kepundung.

Kiai Murmo sendiri akhirnya dipulangkan oleh Belanda ke tanah Jawa kembali pada September 1824. Dia diizinkan kembali ke Semarang dari pengasingannya di Ambon, tetapi kondisi kesehatan guru agama Pangeran Diponegoro semasa kecil itu sudah memburuk, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya tanpa melihat keluarganya lagi. 

Lambat laun tak hanya Kiai Murmo yang menjadi korban tangan besi sang residen Belanda tersebut, para santri yang belajar agama pun ikut dijatuhi hukuman mati. Pasalnya mereka dianggap menjadi simpatisan pro Pangeran Diponegoro. 

Alhasil kasus penangkapan Kiai Murmo dan peristiwa penangkapan santri menjadi tahap penting merosotnya hubungan Diponegoro dengan penguasa kolonial Belanda.

Pengasingan sang kiai selama enam tahun dan penangkapan santri mengguncang jiwa serta menumbuhkan keyakinan diri Pangeran Diponegoro bahwa para pejabat baru Belanda pasca 1816 dan para penyewa tanah betul-betul kurang menghormati islam.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto

Kisah Hidup Kyai Taftazani, Guru Ngaji Pangeran Diponegoro yang Jarang Diketahui   JATENG | 15 Januari 2021 12:45 Reporter : Sha...


Kisah Hidup Kyai Taftazani, Guru Ngaji Pangeran Diponegoro yang Jarang Diketahui

 
JATENG | 15 Januari 2021 12:45
Reporter : Shani Rasyid
Merdeka.com - Pada masa kecilnya, pahlawan Perang Jawa, Pangeran Diponegoro, tinggal bersama nenek buyutnya, Ratu Ageng, di Tegalrejo, Yogyakarta. Waktu itu, dia dikenal dengan nama Raden Mas Mustahar.

Bersama perempuan yang juga permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono I itu, Pangeran Diponegoro diasuh di sebuah rumah yang juga berfungsi sebagai sanggar dan sekolah. Untuk mendidik Pangeran Diponegoro tentang nilai-nilai keislaman, Ratu Ageng mengundang para ulama datang ke sanggar itu.

Tak hanya itu, dia juga sesekali mendatangkan sosok ulama dari luar Jawa. Di antaranya adalah Kyai Taftazani.

Kyai Taftazani adalah seorang ulama asal Sumatra yang waktu itu mengajar di Pondok Pesantren Melangi. Oleh sang ulama itu, Pangeran Diponegoro diajarkan banyak ilmu-ilmu keislaman, terutama saat dia menjadi seorang santri di Kartasura. Berikut selengkapnya:

Keturunan Persia
kyai taftazani
©Warnawarniindonesia.org
Sebelum menjadi guru Pangeran Diponegoro, Kyai Taftazani adalah guru dari Ratu Ageng. Tempatnya mengajar berada di Desa Mlangi, Sleman. Tak hanya dikenal di wilayah Kraton Yogyakarta, Kyai Taftazani juga terkenal sampai ke wilayah Kartasura.

Setelah lama menetap di wilayah Yogyakarta, pada 1806, Kyai Taftazani angkat kaki dan pindah ke wilayah Kartasura karena ada perselisihan dengan salah seorang penghulu Kraton Yogyakarta. Di Kartasura, dia lebih dikenal dengan nama Bagus Taptajani.

Melansir dari Indonesia.go.id, Kyai Taftazani merupakan keturunan bangsa Persia. Hingga kini, keturunan Kyai Taftazani cukup dikenal. Salah satunya KH Hafidz Taftazani, pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Masyarakat Pesantren.

Penerjemah Teks-Teks Islam Sulit
kyai 
Melansir dari Warnawarniindonesia.org, sepak terjang Kyai Taftazani sebagai seorang ulama cukup diakui karena dia mampu menerjemahkan teks-teks Islam yang sulit. Beberapa di antara teks itu adalah Kitab Fikih Sirath Al Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri, yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Di bawah asuhan Taftazani, Pangeran Diponegoro dididik menjadi seorang santri yang haus akan ilmu pengetahuan. Di sebuah asrama yang dikelola Taftazani inilah, Diponegoro banyak melumat kitab-kitab ajaran Islam.

Pada waktu itu, bacaan lain yang menjadi favorit Pangeran Diponegoro adalah kisah-kisah tentang kerajaan, ketatanegaraan, dan kitab tentang hukum Islam, termasuk kitab Taqrib, yang disebut-sebut memuat ajaran tentang Perang Sabil.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (130) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (164) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (208) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (102) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (375) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (131) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (178) Sirah Sahabat (110) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (67) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)