basmalah Pictures, Images and Photos
07/28/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Kisah Petualangan Bani Israil Mengapa Al-Qur'an begitu panjang lebar menceritakan Bani Israil? Me...


Kisah Petualangan Bani Israil


Mengapa Al-Qur'an begitu panjang lebar menceritakan Bani Israil?

Mengapa kisah mereka diulang dalam banyak surah, bahkan menjadi pembahasan yang sangat dominan dalam Surah Al-Baqarah?

Apakah Al-Qur'an sekadar sedang mengisahkan sejarah suatu bangsa?

Ataukah di balik kisah itu terdapat pelajaran besar yang harus dibaca oleh setiap generasi kaum muslimin?

Surah Al-Baqarah memberikan jawaban yang tegas.

Pada bagian ini, Al-Qur'an mengarahkan khithabnya secara langsung kepada Bani Israil, yaitu komunitas Yahudi yang hidup di Madinah. Mereka adalah kelompok yang paling intens menghadapi dakwah Islam, baik melalui penentangan terbuka maupun tipu daya yang tersembunyi. Sejak Islam mulai berdiri sebagai sebuah masyarakat di Madinah, permusuhan mereka tidak pernah benar-benar berhenti.

Mengapa mereka begitu keras menentang Islam?

Karena mereka melihat perubahan besar sedang terjadi.

Persatuan suku Aus dan Khazraj telah menutup ruang bagi politik adu domba yang selama ini menguntungkan mereka. Islam juga menghadirkan sebuah manhaj kehidupan baru yang berdiri di atas wahyu Al-Qur'an, menggantikan dominasi sistem sosial, ekonomi, dan keagamaan yang sebelumnya mereka pengaruhi.

Mereka memahami bahwa jika Islam terus berkembang, maka kendali peradaban dan perekonomian yang selama ini mereka nikmati akan beralih kepada masyarakat yang dibangun di atas wahyu Allah.

Karena itulah mereka memilih jalan perlawanan.

Perlawanan itu bukan sekadar perang fisik, melainkan juga perang pemikiran, propaganda, manipulasi, penyembunyian kebenaran, penyebaran keraguan, serta berbagai bentuk tipu daya yang dilakukan secara terus-menerus.

Bentuknya boleh berubah dari masa ke masa, tetapi hakikatnya tetap sama.

Ironisnya, sejarah juga menunjukkan kenyataan yang menarik.

Di berbagai tempat dan zaman, mereka sering mengalami pengusiran dan penindasan. Namun ketika dunia Islam membuka pintunya, mereka justru memperoleh perlindungan dan ruang hidup. Islam tidak pernah memerangi suatu kaum hanya karena identitasnya, tetapi menolak kezaliman, pengkhianatan, dan permusuhan terhadap kebenaran.

Bukankah seharusnya keadaan itu mendorong mereka menjadi orang-orang pertama yang beriman kepada Rasulullah ï·º?

Bukankah kitab Taurat telah mengabarkan kedatangan seorang nabi terakhir?

Bukankah mereka sendiri dahulu sering memohon kemenangan kepada Allah dengan menyebut akan datangnya nabi yang dijanjikan ketika menghadapi kaum musyrik Arab?

Namun ketika nabi itu benar-benar datang, mereka justru menolaknya.

Mengapa?

Karena persoalannya bukan kurangnya pengetahuan, melainkan keengganan menerima kebenaran yang datang di luar kepentingan mereka.

Di sinilah Al-Qur'an mulai membongkar akar persoalan tersebut.

Pelajaran ini menjadi pembuka dari perjalanan panjang bersama Bani Israil. Tujuannya bukan sekadar mengisahkan sejarah, tetapi menyingkap karakter, pola pikir, dan cara mereka menghadapi kebenaran setelah seluruh pintu dakwah dan ajakan kepada keimanan telah disampaikan.

Al-Qur'an memulai dengan seruan yang penuh kelembutan.

Allah mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada leluhur mereka. Mereka diajak memenuhi janji kepada Allah agar Allah memenuhi janji-Nya kepada mereka. Mereka juga diajak bertakwa dan beriman kepada Al-Qur'an yang datang sebagai pembenar Taurat, bukan sebagai penentangnya.

Namun apa yang terjadi?

Mereka justru menjadi kelompok pertama yang mengingkari kitab yang sebenarnya telah mereka kenali.

Mereka mencampurkan kebenaran dengan kebatilan, menyembunyikan fakta-fakta yang mereka ketahui, lalu menyebarkan keraguan di tengah masyarakat agar kaum muslimin kehilangan kepercayaan terhadap agamanya.

Karena itu Allah memerintahkan mereka untuk bergabung bersama kaum beriman, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta rukuk bersama orang-orang yang rukuk. Mereka juga diperintahkan menundukkan hawa nafsu melalui kesabaran dan salat.

Al-Qur'an kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang mengguncang hati mereka.

Mengapa kalian menyuruh orang lain berbuat baik, sedangkan kalian melupakan diri sendiri?

Sesudah itu, Al-Qur'an membawa mereka menelusuri kembali perjalanan sejarah mereka sendiri.

Menariknya, Allah berbicara kepada orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Nabi Muhammad ï·º seolah-olah merekalah yang mengalami langsung seluruh peristiwa pada masa Nabi Musa.

Mengapa demikian?

Karena mereka dipandang sebagai satu umat yang mewarisi karakter, pola pikir, dan kecenderungan yang sama. Waktu boleh berganti, tetapi sikap mentalnya tetap berulang.

Mereka diingatkan kembali ketika diselamatkan dari kekejaman Fir'aun.

Mereka diingatkan ketika laut dibelah.

Ketika awan menaungi mereka.

Ketika manna dan salwa diturunkan.

Ketika air memancar dari batu.

Namun, setelah setiap nikmat datang, penyimpangan pun kembali muncul.

Hampir setiap kali mereka diselamatkan, mereka kembali tergelincir.

Hampir setiap kali mereka menerima amanat, mereka mengkhianatinya.

Mereka menyembah anak sapi.

Mereka menolak memasuki Baitul Maqdis sebagaimana diperintahkan.

Mereka melanggar larangan hari Sabtu.

Mereka mempermainkan perintah penyembelihan sapi betina.

Mereka melanggar perjanjian di Bukit Thursina.

Bahkan mereka berani mengatakan bahwa mereka tidak akan beriman sebelum melihat Allah dengan mata kepala sendiri.

Tidak berhenti sampai di situ, sebagian dari mereka juga mendustakan bahkan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar.

Semua itu memperlihatkan satu pola yang terus berulang.

Bukan kekurangan bukti yang menjadi masalah.

Bukan pula kurangnya nikmat.

Yang menjadi persoalan adalah hati yang terus-menerus menolak tunduk kepada petunjuk Allah.

Padahal pada saat yang sama mereka mengklaim sebagai satu-satunya umat pilihan yang mendapat petunjuk. Mereka merasa hanya merekalah yang dicintai Allah dan bahwa seluruh umat selain mereka berada dalam kesesatan.

Al-Qur'an membatalkan klaim tersebut dengan sebuah prinsip yang berlaku universal.

Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh keturunan atau identitas suatu bangsa, melainkan oleh iman yang benar, amal saleh, dan ketundukan kepada petunjuk-Nya.

Karena itu, siapa pun yang benar-benar beriman kepada Allah, kepada hari akhir, dan beramal saleh sesuai petunjuk-Nya, maka baginya pahala di sisi Allah. Mereka tidak akan merasa takut dan tidak pula bersedih.

Lalu, mengapa kisah panjang ini dihadirkan kepada umat Islam?

Apakah hanya untuk mengetahui kesalahan Bani Israil?

Tentu bukan.

Tujuan utamanya justru agar kaum muslimin tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Al-Qur'an membongkar tipu daya Bani Israil agar umat Islam mampu mengenal pola-pola penyimpangan yang selalu berulang sepanjang sejarah.

Lebih dari itu, Al-Qur'an mengingatkan bahwa umat yang dipilih Allah untuk memikul amanah kekhalifahan pun dapat kehilangan kemuliaannya apabila mengkhianati perjanjian dengan Allah.

Inilah sebabnya kisah Bani Israil menjadi kisah yang paling banyak diulang di dalam Al-Qur'an.

Semakin besar amanah suatu umat, semakin besar pula kebutuhan mereka untuk belajar dari kegagalan umat terdahulu.

Maka, kisah ini bukan sekadar catatan sejarah.

Ia adalah cermin.

Ia adalah peringatan.

Ia adalah bekal bagi setiap generasi muslim agar tetap teguh memegang amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi, tidak tergelincir oleh kesombongan, tidak terpedaya oleh hawa nafsu, dan tidak mengulangi jejak penyimpangan yang pernah menjatuhkan umat-umat sebelum mereka.

Marilah kita memasuki rangkaian ayat-ayat berikut dengan hati yang terbuka, bukan untuk menghakimi suatu kaum, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apakah ada sifat-sifat Bani Israil yang tanpa sadar telah tumbuh dalam diri kita?

Sebab, Al-Qur'an tidak diturunkan hanya untuk dibaca sebagai sejarah, melainkan untuk menjadi cermin yang memperbaiki siapa pun yang bersedia mengambil pelajaran darinya.



Mengapa Bangsa Arab Mampu Memimpin Peradaban Setelah Datangnya Islam? ...

Mengapa Bangsa Arab Mampu Memimpin Peradaban Setelah Datangnya Islam?



Apakah bangsa Arab sebelum Islam adalah bangsa yang sepenuhnya buruk?

Tentu tidak.

Mereka memiliki sejumlah kelebihan yang kelak menjadi modal besar bagi lahirnya sebuah peradaban. Mereka dikenal pemberani, memiliki daya ingat yang kuat, fasih berbahasa, menjaga kehormatan kabilah, serta memiliki semangat yang tinggi.

Namun, sebuah pertanyaan penting perlu diajukan.

Mengapa seluruh kelebihan itu tidak mampu melahirkan peradaban yang agung sebelum Islam datang?

Jawabannya sederhana. Kelebihan itu tidak memiliki arah.

Potensi-potensi tersebut tercerai-berai, diperalat oleh hawa nafsu, dibatasi fanatisme kesukuan, dan akhirnya tenggelam dalam berbagai bentuk kejahiliahan. Tanpa petunjuk wahyu, keberanian berubah menjadi penindasan, kehormatan berubah menjadi kesombongan, dan kekuatan berubah menjadi alat untuk menzalimi yang lemah.

Di sinilah Islam memainkan peran yang tidak tergantikan.

Islam tidak menciptakan seluruh potensi itu dari awal, tetapi menyelamatkannya, membersihkannya, lalu mengarahkannya menuju tujuan yang benar. Islam menghapus sifat-sifat jahiliah yang merusak, kemudian menumbuhkan karakter yang mulia sehingga seluruh kelebihan bangsa Arab menjadi kekuatan yang membangun peradaban.

Seandainya Islam tidak hadir, semua potensi itu akan tetap terkubur di bawah debu kejahiliahan. Ia akan tetap tercerai-berai, tidak memiliki arah, dan tidak pernah memberikan sumbangan berarti bagi kemanusiaan.

Keadaan bangsa Arab ketika itu sebenarnya tidak berbeda dengan bangsa-bangsa jahiliah lain yang hidup pada masa yang sama. Banyak di antara mereka akhirnya lenyap dari panggung sejarah karena tidak pernah memperoleh risalah yang membimbing dan tidak dibesarkan oleh sebuah akidah yang benar.

Islam kemudian mengangkat bangsa Arab dari lumpur kejahiliahan dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya memperbaiki akidah mereka, tetapi juga membenahi struktur sosial, tradisi, dan tata hubungan antarmanusia.

Sering kali muncul anggapan bahwa masyarakat Arab pra-Islam merupakan masyarakat yang demokratis karena setiap kabilah memiliki kebebasan. Benarkah demikian?

Sejarah justru menunjukkan hal yang sebaliknya.

Ukuran kehormatan ketika itu sangat erat kaitannya dengan kemampuan menzalimi orang lain. Kekuasaan dipandang sebagai hak untuk memaksakan kehendak, sedangkan orang lemah hampir tidak memiliki perlindungan.

Hal ini tergambar dalam syair-syair Arab sendiri.

Penyair An-Najasyi, misalnya, menjadikan ketidakmampuan menzalimi sebagai bahan ejekan ketika berkata:

"Kabilahnya tak pernah curang terhadap sebuah janji, dan tak pernah menzalimi walau sebesar biji sawi."

Kalimat yang seharusnya menjadi pujian justru dipakai sebagai sindiran. Ini menunjukkan bahwa budaya ketika itu menganggap kemampuan berbuat zalim sebagai lambang keperkasaan.

Contoh lain tampak pada Hujr bin Al-Harits yang mengancam akan memperbudak Bani Asad. Penyair mereka, 'Ubaid bin Al-Abrash, bahkan memohon belas kasihan dengan menggambarkan kaumnya sebagai budak yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan sang raja.

Demikian pula Amr bin Hind, seorang penguasa Arab yang membiasakan rakyat berbicara kepadanya dari balik hijab dan memaksa para pemimpin kabilah melayani dirinya di istana.

An-Nu'man bin Al-Mundzir bahkan menetapkan dua hari yang sangat kontras: satu hari untuk melimpahkan hadiah kepada siapa saja yang datang, dan satu hari lainnya untuk membunuh siapa pun yang kebetulan menghadapnya. Nasib seseorang bergantung pada suasana hati penguasa, bukan pada keadilan.

Tradisi kesewenang-wenangan itu begitu kuat hingga melahirkan berbagai ungkapan yang terkenal.

Dikisahkan pula tentang Kalib milik Wa'il. Anjing pemburu itu dilepaskan ke mana saja tuannya hendak berburu, dan tidak ada seorang pun yang berani mendekati wilayah yang terdengar gonggongannya.

Begitu pula ungkapan, "La hurra bi wadi 'Auf"—"Tidak ada orang merdeka di lembah milik 'Auf." Ungkapan ini menggambarkan betapa besarnya kekuasaan 'Auf sehingga siapa pun yang memasuki wilayahnya diperlakukan seolah-olah budaknya sendiri.

Lalu apa yang dilakukan Islam terhadap masyarakat seperti ini?

Islam mencabut akar-akar kejahiliahan itu.

Islam menghapus tradisi mengubur bayi perempuan hidup-hidup, memuliakan kedudukan perempuan, mengharamkan khamar dan perjudian, memperbaiki hubungan antara laki-laki dan perempuan, melarang tabarruj dan berbagai bentuk pelecehan terhadap perempuan, serta mengakhiri budaya perampasan, perampokan, dan peperangan antarsuku yang tidak pernah berkesudahan.

Islam juga menyatukan kabilah-kabilah yang sebelumnya selalu saling bermusuhan.

Sebelum Islam, mereka begitu gagah ketika memerangi sesama bangsa Arab, tetapi justru tidak mampu bersatu menghadapi ancaman dari luar. Peristiwa Tahun Gajah menjadi bukti nyata. Ketika pasukan Habasyah datang menyerang Ka'bah, seluruh kabilah Arab tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti.

Ironisnya, mereka sangat kuat ketika saling memerangi, tetapi sangat lemah ketika menghadapi musuh bersama.

Islam mengubah semuanya.

Dalam waktu sekitar satu generasi, bangsa Arab yang sebelumnya tenggelam dalam kejahiliahan berubah menjadi umat yang memimpin peradaban. Mereka berdiri di atas landasan akidah yang kokoh, membawa keadilan, ilmu, dan rahmat bagi manusia.

Mereka pernah merasakan dua dunia yang sangat berbeda: dunia jahiliah dan dunia Islam. Mereka mengetahui bagaimana hinanya kehidupan tanpa petunjuk Allah, sekaligus merasakan kemuliaan hidup di bawah naungan wahyu.

Karena itulah mereka dapat menghayati sepenuhnya firman Allah:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idah: 3)

Ayat ini bukan sekadar pernyataan tentang sempurnanya syariat, tetapi juga kesaksian sejarah tentang bagaimana Islam mengubah sebuah bangsa dari keterpurukan menuju puncak kejayaan, lalu menjadikannya pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia.

Benarkah Ada "Tanah Air Pengganti" bagi Rakyat Palestina? Dapatkah sebuah tanah a...


Benarkah Ada "Tanah Air Pengganti" bagi Rakyat Palestina?


Dapatkah sebuah tanah air digantikan begitu saja?

Apakah sebuah bangsa dapat dipindahkan ke wilayah lain, lalu persoalannya dianggap selesai?

Bukankah tanah air bukan sekadar sebidang wilayah, melainkan tempat yang menyimpan sejarah, identitas, keyakinan, dan ikatan spiritual suatu bangsa?

Inilah pertanyaan mendasar yang muncul ketika sebagian kalangan mengemukakan gagasan tentang "tanah air pengganti" bagi rakyat Palestina.

Menurut pandangan penulis, gagasan tersebut lahir dari anggapan bahwa persoalan Palestina hanyalah persoalan pengungsi. Seolah-olah selama rakyat Palestina diberi tempat tinggal baru di negeri lain, maka konflik pun akan berakhir.

Namun, benarkah sesederhana itu?

Bagi penulis, Palestina tidak dapat dipisahkan dari kedudukannya dalam ajaran Islam. Tanah itu bukan sekadar wilayah geografis, tetapi memiliki makna keagamaan yang mendalam. Di sanalah terdapat kiblat pertama kaum Muslimin, tempat terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj Rasulullah ï·º, serta negeri yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai bumi yang diberkahi oleh Allah.

Karena itu, menurut pandangan ini, Palestina bukan hanya menyangkut rakyat Palestina atau bangsa Arab semata. Persoalan tersebut dipandang sebagai bagian dari kepedulian umat Islam secara lebih luas, karena berkaitan dengan salah satu tempat yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan keyakinan Islam.

Atas dasar itulah penulis berpendapat bahwa selama Al-Qur'an terus dibaca dan ajaran Islam tetap hidup di tengah kaum Muslimin, keterikatan terhadap tanah tersebut akan terus ada. Oleh sebab itu, menurutnya, penyelesaian persoalan Palestina tidak dapat dilakukan hanya dengan menawarkan wilayah lain sebagai pengganti.

Penulis kemudian menarik pelajaran dari sejarah.

Ia berpendapat bahwa setiap kekuasaan yang pernah berdiri di wilayah tersebut pada akhirnya akan menghadapi perjalanan sejarahnya sendiri. Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan masa lalu pernah bangkit dan kemudian berakhir, demikian pula setiap kekuatan politik akan diuji oleh perubahan zaman.

Menurut penulis, para sejarawan sering kali berusaha menjelaskan runtuhnya suatu negara melalui analisis politik, militer, ataupun ekonomi. Namun, ia menilai bahwa bagi seorang Mukmin terdapat dimensi lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu keyakinan bahwa sejarah juga berjalan di bawah ketentuan Allah.

Lalu, mengapa persoalan Palestina begitu sulit menemukan penyelesaian?

Penulis melihat bahwa setiap pihak memandang konflik tersebut dari sudut kepentingannya masing-masing.

Dalam pandangannya, negara-negara Barat memandang persoalan Palestina melalui kepentingan geopolitik mereka di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Israel dipahami sebagai bagian dari strategi menjaga pengaruh politik dan keamanan di kawasan tersebut.

Sementara itu, penulis juga berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan ideologi lain pada masa Perang Dingin memandang kawasan ini melalui kepentingan ideologis mereka sendiri, sehingga konflik Palestina sering kali menjadi bagian dari persaingan politik global yang lebih luas.

Di sisi lain, bagaimana rakyat Palestina sendiri memandang persoalan ini?

Menurut penulis, bagi rakyat Palestina, persoalan tersebut bukan pertama-tama tentang strategi politik internasional, melainkan tentang hak untuk kembali ke tanah tempat mereka dilahirkan, tempat orang tua mereka hidup, dan tempat leluhur mereka dimakamkan.

Bukankah kerinduan kepada tanah kelahiran adalah sesuatu yang sangat manusiawi?

Karena itu, menurut pandangan ini, rakyat Palestina tidak memandang negeri lain sebagai pengganti tanah air mereka, betapapun baiknya wilayah tersebut.

Pada akhirnya, penulis menegaskan bahwa perbedaan cara pandang berbagai pihak bukanlah inti persoalan.

Dalam keyakinannya, akar persoalan terletak pada hubungan bangsa Yahudi dengan sejarah panjang yang digambarkan dalam Al-Qur'an, termasuk berbagai peringatan dan konsekuensi yang disebutkan akibat penyimpangan dan kedurhakaan mereka.

Dengan demikian, menurut penulis, penyelesaian persoalan Palestina tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan politik, ekonomi, atau hubungan internasional semata. Persoalan itu juga dipandang memiliki dimensi sejarah dan keagamaan yang sangat kuat, sehingga setiap upaya memahami konflik tersebut perlu memperhatikan keseluruhan dimensi itu secara utuh.

Dapatkah sebuah tanah air digantikan begitu saja?

Apakah sebuah bangsa dapat dipindahkan ke wilayah lain, lalu persoalannya dianggap selesai?

Bukankah tanah air bukan sekadar sebidang wilayah, melainkan tempat yang menyimpan sejarah, identitas, keyakinan, dan ikatan spiritual suatu bangsa?

Inilah pertanyaan mendasar yang muncul ketika sebagian kalangan mengemukakan gagasan tentang "tanah air pengganti" bagi rakyat Palestina.

Menurut pandangan penulis, gagasan tersebut lahir dari anggapan bahwa persoalan Palestina hanyalah persoalan pengungsi. Seolah-olah selama rakyat Palestina diberi tempat tinggal baru di negeri lain, maka konflik pun akan berakhir.

Namun, benarkah sesederhana itu?

Bagi penulis, Palestina tidak dapat dipisahkan dari kedudukannya dalam ajaran Islam. Tanah itu bukan sekadar wilayah geografis, tetapi memiliki makna keagamaan yang mendalam. Di sanalah terdapat kiblat pertama kaum Muslimin, tempat terjadinya peristiwa Isra' dan Mi'raj Rasulullah ï·º, serta negeri yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai bumi yang diberkahi oleh Allah.

Karena itu, menurut pandangan ini, Palestina bukan hanya menyangkut rakyat Palestina atau bangsa Arab semata. Persoalan tersebut dipandang sebagai bagian dari kepedulian umat Islam secara lebih luas, karena berkaitan dengan salah satu tempat yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan keyakinan Islam.

Atas dasar itulah penulis berpendapat bahwa selama Al-Qur'an terus dibaca dan ajaran Islam tetap hidup di tengah kaum Muslimin, keterikatan terhadap tanah tersebut akan terus ada. Oleh sebab itu, menurutnya, penyelesaian persoalan Palestina tidak dapat dilakukan hanya dengan menawarkan wilayah lain sebagai pengganti.

Penulis kemudian menarik pelajaran dari sejarah.

Ia berpendapat bahwa setiap kekuasaan yang pernah berdiri di wilayah tersebut pada akhirnya akan menghadapi perjalanan sejarahnya sendiri. Sebagaimana kekuasaan-kekuasaan masa lalu pernah bangkit dan kemudian berakhir, demikian pula setiap kekuatan politik akan diuji oleh perubahan zaman.

Menurut penulis, para sejarawan sering kali berusaha menjelaskan runtuhnya suatu negara melalui analisis politik, militer, ataupun ekonomi. Namun, ia menilai bahwa bagi seorang Mukmin terdapat dimensi lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu keyakinan bahwa sejarah juga berjalan di bawah ketentuan Allah.

Lalu, mengapa persoalan Palestina begitu sulit menemukan penyelesaian?

Penulis melihat bahwa setiap pihak memandang konflik tersebut dari sudut kepentingannya masing-masing.

Dalam pandangannya, negara-negara Barat memandang persoalan Palestina melalui kepentingan geopolitik mereka di kawasan Timur Tengah. Kehadiran Israel dipahami sebagai bagian dari strategi menjaga pengaruh politik dan keamanan di kawasan tersebut.

Sementara itu, penulis juga berpendapat bahwa kekuatan-kekuatan ideologi lain pada masa Perang Dingin memandang kawasan ini melalui kepentingan ideologis mereka sendiri, sehingga konflik Palestina sering kali menjadi bagian dari persaingan politik global yang lebih luas.

Di sisi lain, bagaimana rakyat Palestina sendiri memandang persoalan ini?

Menurut penulis, bagi rakyat Palestina, persoalan tersebut bukan pertama-tama tentang strategi politik internasional, melainkan tentang hak untuk kembali ke tanah tempat mereka dilahirkan, tempat orang tua mereka hidup, dan tempat leluhur mereka dimakamkan.

Bukankah kerinduan kepada tanah kelahiran adalah sesuatu yang sangat manusiawi?

Karena itu, menurut pandangan ini, rakyat Palestina tidak memandang negeri lain sebagai pengganti tanah air mereka, betapapun baiknya wilayah tersebut.

Pada akhirnya, penulis menegaskan bahwa perbedaan cara pandang berbagai pihak bukanlah inti persoalan.

Dalam keyakinannya, akar persoalan terletak pada hubungan bangsa Yahudi dengan sejarah panjang yang digambarkan dalam Al-Qur'an, termasuk berbagai peringatan dan konsekuensi yang disebutkan akibat penyimpangan dan kedurhakaan mereka.

Dengan demikian, menurut penulis, penyelesaian persoalan Palestina tidak cukup dipahami hanya melalui pendekatan politik, ekonomi, atau hubungan internasional semata. Persoalan itu juga dipandang memiliki dimensi sejarah dan keagamaan yang sangat kuat, sehingga setiap upaya memahami konflik tersebut perlu memperhatikan keseluruhan dimensi itu secara utuh.



Motif-Motif Ekonomi dan Politik Versi Sejarawan Asing: Mengapa Islam Diterima di Nusantara? ...

Motif-Motif Ekonomi dan Politik Versi Sejarawan Asing: Mengapa Islam Diterima di Nusantara?


Apa yang mendorong masyarakat Nusantara memeluk Islam?

Apakah semata-mata karena keuntungan ekonomi?

Karena kepentingan politik para raja?

Ataukah karena dakwah yang menyentuh hati masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selama puluhan tahun menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Berbagai teori dikemukakan, masing-masing berusaha menjelaskan mengapa Islam dapat berkembang begitu pesat di Kepulauan Melayu-Indonesia.

Teori Motif Ekonomi dan Politik

Sosiolog Belanda, van Leur, berpendapat bahwa faktor ekonomi dan politik merupakan pendorong utama islamisasi di Nusantara.

Menurutnya, para penguasa pribumi menerima Islam bukan semata-mata karena keyakinan agama, melainkan karena pertimbangan strategis. Dengan memeluk Islam, mereka memperoleh dukungan dari para pedagang Muslim yang menguasai jaringan perdagangan internasional. Sebagai imbalannya, para penguasa memberikan perlindungan dan berbagai kemudahan bagi aktivitas perdagangan mereka.

Bukankah hubungan seperti ini saling menguntungkan?

Bagi para pedagang, kerajaan-kerajaan Islam menawarkan keamanan dan kepastian berdagang. Sementara bagi para penguasa, Islam membuka akses yang lebih luas ke jaringan perdagangan dunia yang membentang dari Laut Merah hingga Laut Cina.

Lebih dari itu, menurut van Leur, Islam juga menjadi sumber legitimasi politik. Dukungan para pedagang Muslim memperkuat kedudukan para penguasa sekaligus membantu mereka melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit yang ketika itu masih bercorak Hindu.

Masa Perdagangan dan Islamisasi Massal

Pandangan mengenai pentingnya faktor ekonomi juga dikemukakan oleh Anthony Reid, meskipun dalam konteks periode yang berbeda.

Menurut Reid, islamisasi mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga ke-17, ketika Nusantara memasuki apa yang ia sebut sebagai "Masa Perdagangan" (The Age of Commerce).

Mengapa justru pada masa ini Islam berkembang begitu pesat?

Karena perdagangan internasional sedang mengalami kemajuan luar biasa. Kerajaan-kerajaan Islam menjadi bagian dari jaringan ekonomi global, sehingga Islam semakin diasosiasikan dengan kemajuan, keterbukaan, dan hubungan internasional. Keadaan ini menarik semakin banyak penduduk Nusantara untuk memeluk Islam.

Pada saat yang hampir bersamaan, bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris mulai berdatangan ke Nusantara.

Kedatangan mereka membawa dampak lain.

Identitas keagamaan menjadi semakin tegas. Perbedaan antara masyarakat pribumi Muslim dan bangsa Eropa yang beragama Kristen semakin tampak, sehingga proses konsolidasi umat Islam pun semakin menguat.

Apakah Teori Ekonomi Sudah Cukup Menjelaskan?

Namun, benarkah faktor ekonomi dan politik saja mampu menjelaskan islamisasi Nusantara?

Di sinilah berbagai kritik mulai muncul.

Teori van Leur dinilai terlalu menekankan kepentingan ekonomi, politik, dan peran para pedagang sebagai aktor utama penyebaran Islam. Padahal, berbagai historiografi lokal justru menggambarkan proses yang jauh lebih kompleks.

Anthony Johns, misalnya, mempertanyakan anggapan bahwa para pedagang merupakan penyebar Islam yang paling menentukan.

Jika benar para pedagang adalah pelaku utama dakwah, mengapa Islam tidak berkembang secara luas sejak abad ke-7, ketika mereka telah aktif berdagang di Nusantara?

Mengapa islamisasi besar-besaran baru tampak beberapa abad kemudian?

Selama periode abad ke-7 hingga ke-11 memang terdapat hubungan dagang yang intensif antara Nusantara dan dunia Islam. Namun, bukti mengenai konversi massal masih sangat terbatas. Demikian pula, belum ditemukan bukti kuat mengenai keberadaan institusi-institusi Islam seperti kesultanan, masjid, maupun lembaga pendidikan Islam pada masa tersebut.

Karena itu, menurut Johns, teori perdagangan saja belum cukup menjelaskan proses islamisasi Nusantara.

Teori Persaingan Islam dan Kristen

Pandangan lain dikemukakan oleh Schrieke.

Ia juga meragukan bahwa perkawinan antara pedagang Muslim dan keluarga kerajaan menjadi penyebab utama islamisasi massal. Demikian pula, ia tidak percaya bahwa rakyat otomatis mengikuti agama para penguasanya.

Lalu apa yang dianggap sebagai faktor utama?

Schrieke melihat penyebaran Islam dalam konteks persaingan global antara Islam dan Kristen.

Menurutnya, ekspansi agama Kristen yang dibawa bangsa-bangsa Eropa mendorong semakin kuatnya dakwah Islam di Nusantara. Penyebaran Islam dipandang sebagai respons terhadap gerakan misi Kristen yang mulai berkembang sejak kedatangan Portugis pada awal abad ke-16.

Teori ini kemudian dikenal sebagai "teori balapan antara Islam dan Kristen" (The Race Between Islam and Christianity Theory).

Schrieke bahkan menghubungkan dinamika tersebut dengan konflik yang telah lebih dahulu berlangsung di kawasan Arab dan Semenanjung Iberia. Persaingan antara kekuatan Islam dan Kristen di wilayah-wilayah tersebut, menurutnya, turut memengaruhi semangat penyebaran Islam hingga ke Asia Tenggara.

Meskipun demikian, teori ini lebih relevan untuk menjelaskan perkembangan Islam setelah tahun 1500, ketika bangsa-bangsa Eropa mulai hadir secara langsung di Nusantara.

Peran Kaum Sufi: Sebuah Penjelasan yang Lebih Meyakinkan

Lalu, teori manakah yang paling mampu menjelaskan proses islamisasi Nusantara?

A.H. Johns menawarkan penjelasan yang dinilai lebih komprehensif.

Ia berpendapat bahwa tokoh-tokoh yang paling berperan dalam penyebaran Islam bukanlah para pedagang, melainkan para sufi pengembara yang secara aktif berdakwah di berbagai wilayah Nusantara, terutama sejak abad ke-13.

Mengapa dakwah mereka begitu berhasil?

Karena para sufi mampu menyampaikan ajaran Islam dengan pendekatan yang bijaksana dan dekat dengan budaya masyarakat setempat. Mereka tidak serta-merta memutus seluruh tradisi lama, tetapi lebih menekankan kesinambungan antara nilai-nilai Islam dan unsur-unsur budaya lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.

Pendekatan yang lentur namun tetap berlandaskan ajaran Islam inilah yang membuat dakwah mereka mudah diterima oleh masyarakat.

Untuk memperkuat pandangannya, Anthony Johns menelaah berbagai karya sastra, hikayat, dan historiografi tradisional Melayu-Indonesia. Dari kajian tersebut, ia menyimpulkan bahwa peran kaum sufi jauh lebih menentukan dalam proses islamisasi dibandingkan sekadar aktivitas perdagangan, kepentingan politik, ataupun persaingan antara Islam dan Kristen.

Dengan demikian, islamisasi Nusantara tampaknya tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Proses tersebut merupakan hasil interaksi antara perdagangan, dinamika politik, perubahan sosial, dan terutama dakwah para ulama sufi yang mampu menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.

Ketika Konsep Islam Bersentuhan dengan Filsafat Asing Mengapa pada masa-masa awal Islam, ko...

Ketika Konsep Islam Bersentuhan dengan Filsafat Asing


Mengapa pada masa-masa awal Islam, konsep akidah yang begitu jernih kemudian menjadi dipenuhi berbagai perdebatan yang rumit?

Mengapa umat yang dahulu dibimbing langsung oleh Al-Qur'an dan Sunnah kemudian justru tenggelam dalam pembahasan-pembahasan filsafat, logika, dan teologi yang asing?

Apakah hal itu merupakan tanda kemajuan intelektual, atau justru awal dari penyimpangan cara berpikir?

Pada suatu fase sejarah Islam, kehidupan Islam yang murni—yang lahir dari konsep Al-Qur'an dan Sunnah—bertemu dengan berbagai peradaban yang telah lebih dahulu berkembang di wilayah-wilayah yang kemudian ditaklukkan kaum Muslimin. Bersamaan dengan meluasnya wilayah Islam, masuk pula beragam tradisi pemikiran asing, terutama filsafat Yunani dan teologi Kristen, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Namun, mengapa pengaruh tersebut begitu mudah meresap?

Salah satu sebabnya adalah perubahan kondisi umat. Semangat jihad yang dahulu menjadi penggerak peradaban mulai melemah. Sebagian kaum Muslimin larut dalam kemewahan, sementara persoalan-persoalan politik melahirkan berbagai konflik pemikiran. Dalam suasana seperti itulah, filsafat Yunani dipandang sebagai sarana untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul.

Pada masa Abbasiyah dan Andalusia, perhatian besar terhadap rasionalisme akhirnya melahirkan kecenderungan-kecenderungan yang menurut penulis justru menjauh dari karakter asli Islam. Padahal, konsep Islam yang autentik hadir untuk membebaskan manusia dari penyimpangan pemikiran semacam itu. Islam mengarahkan seluruh potensi manusia agar digunakan untuk membangun kehidupan, memakmurkan bumi, menyucikan jiwa, dan menjaga akal agar tidak tersesat dalam spekulasi tanpa petunjuk wahyu.

Lalu bagaimana respons para ulama saat itu?

Sebagian ulama berusaha menghadapi pengaruh pemikiran asing tersebut dengan menyusun berbagai pembahasan tentang hakikat Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, qadha dan qadar, kebebasan manusia, dosa, taubat, dan berbagai persoalan teologis lainnya. Tujuannya adalah mempertahankan akidah Islam.

Namun, perdebatan itu justru melahirkan beragam aliran pemikiran, seperti Khawarij, Syiah, Murji'ah, Qadariyah, Jabariyah, Mu'tazilah, Ahlus Sunnah, dan kelompok-kelompok lainnya. Masing-masing mengembangkan argumentasi yang sering kali dipengaruhi oleh metode berpikir di luar tradisi Al-Qur'an.

Di sisi lain, tidak sedikit cendekiawan Muslim yang terpikat oleh filsafat Yunani, khususnya pemikiran Aristoteles yang mereka sebut sebagai "Guru Pertama". Mereka meyakini bahwa kematangan intelektual Islam hanya dapat dicapai apabila menggunakan metode filsafat sebagaimana dilakukan para filsuf Yunani.

Akibatnya, lahirlah apa yang kemudian dikenal sebagai "filsafat Islam" dan ilmu kalam yang banyak menggunakan kerangka logika Aristotelian.

Bukankah ini mirip dengan keadaan zaman sekarang?

Sebagaimana sebagian intelektual Muslim masa kini yang mengagumi model pemikiran Barat dan berusaha membungkus Islam dengan kerangka berpikir modern, pada masa itu pun sebagian ulama berusaha menjelaskan Islam menggunakan perangkat filsafat Yunani. Mereka bukan hanya meminjam metode berpikirnya, tetapi juga banyak menggunakan istilah-istilahnya.

Padahal, menurut penulis, seharusnya konsep Islam dibangun dari dalam dirinya sendiri. Islam memiliki karakter yang universal, menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia, bukan sekadar mengajak akal berdialog melalui logika yang dingin dan abstrak.

Di sinilah letak persoalannya.

Terdapat jurang yang sangat lebar antara sistem filsafat dan sistem akidah. Filsafat dibangun di atas spekulasi rasional manusia, sedangkan akidah Islam bertumpu pada wahyu yang pasti. Ketika keduanya dipaksakan untuk dipadukan, hasilnya justru menimbulkan kerancuan.

Menurut penulis, apa yang dinamakan "filsafat Islam" akhirnya terdengar seperti nada yang sumbang di tengah harmoni akidah Islam. Alih-alih memperjelas konsep Islam, usaha tersebut justru mencampuradukkan pemahaman, menyempitkan keluasan ajaran Islam, dan menghadirkan kerumitan yang asing bagi tabiat Islam sendiri.

Pandangan ini tentu akan menuai keberatan.

Banyak orang yang menaruh perhatian besar pada filsafat Islam atau ilmu kalam mungkin tidak akan sependapat. Namun penulis tetap menegaskan keyakinannya bahwa konsep Islam hanya dapat kembali jernih apabila dibebaskan dari seluruh beban filsafat Yunani, perdebatan ilmu kalam, dan pertikaian historis antarmazhab.

Lalu, ke manakah umat harus kembali?

Jawabannya adalah kembali langsung kepada Al-Qur'an.

Dari Al-Qur'anlah sendi-sendi konsep Islam harus digali secara langsung. Perbandingan dengan sistem pemikiran lain boleh saja dilakukan sekadar untuk memperjelas karakteristik Islam, tetapi fondasi konsepnya tidak boleh dibangun dari luar Al-Qur'an.

Agar metode ini dapat dijalankan dengan benar, ada tiga kenyataan penting yang harus dipahami.

Pertama, filsafat Yunani dan teologi Kristen yang masuk ke dunia Islam bukanlah warisan yang datang dalam bentuk utuh. Keduanya telah mengalami proses penerjemahan, penyederhanaan, bahkan distorsi, sehingga banyak menimbulkan kekacauan dalam pemahaman.

Kedua, upaya menyesuaikan filsafat Yunani dengan Islam berangkat dari kesalahpahaman mendasar terhadap hakikat filsafat Yunani itu sendiri. Filsafat tersebut tumbuh di tengah masyarakat yang dipenuhi mitologi dan politeisme. Akar-akar pemikirannya lahir dari lingkungan yang sangat berbeda dengan tauhid murni yang menjadi fondasi Islam.

Karena menganggap para filsuf Yunani sebagai "orang-orang bijak", sebagian cendekiawan Muslim berasumsi bahwa mereka pasti mengenal tauhid. Dari anggapan inilah lahir usaha memadukan pemikiran Yunani dengan Islam, yang kemudian dikenal sebagai filsafat Islam.

Ketiga, konflik politik yang terjadi setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan melahirkan berbagai pertentangan teologis. Masing-masing kelompok berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kepentingannya, lalu mencari dukungan dari berbagai sistem filsafat dan teori yang berkembang saat itu.

Karena itu, menurut penulis, warisan perdebatan tersebut tidak layak dijadikan fondasi bagi pembentukan konsep Islam yang murni.

Warisan itu tetap penting dipelajari, tetapi sebagai bagian dari sejarah pemikiran Islam, bukan sebagai sumber utama akidah. Dengan memahami latar belakang kemunculannya, umat dapat mengenali sebab-sebab penyimpangan dan menghindari pengulangannya.

Konsep Islam yang autentik hanya dapat dibangun apabila sendi-sendinya diambil langsung dari Al-Qur'an, dipahami sesuai karakter wahyu, dan dibebaskan dari beban pertikaian sejarah maupun spekulasi filsafat yang bukan berasal dari sumber-sumber asli Islam.





Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (31) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (28) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (314) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (753) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (337) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)