basmalah Pictures, Images and Photos
07/23/21 - Our Islamic Story

Choose your Language

Solusi Negara, Penguasa Berkoalisilah dengan Ulama Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Fir'aun lebih ...

Solusi Negara, Penguasa Berkoalisilah dengan Ulama

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Fir'aun lebih memilih berkoalisi dengan Haman dan Qarun yang memiliki dan ditopang kekuatan modal luar biasa, dibandingkan dengan Nabi Musa dan Harun.

Penguasa seringkali salah memperhitungkan kekuatan nyata dengan kekuatan kamuflase. Firaun tak menyadari kekuatan Nabi Musa.

Padahal kekuatan Nabi Musa dapat menyapu bersih kekuatan persenjataan pasukan, ilmu, teknologi, korporasi dan para pemodal yang kekuatannya tak terhingga.

Saifuddin Qhutuz dalam menghadapi serbuan bangsa Tartar yang dahsyat, yang pertama dilakukan rekonsiliasi nasional dengan para Ulama.

Najamudin Ayub saat menghadapi gelombang serbuan tentara Salib ke 7, yang pertama dilakukan, rekonsiliasi kekuatan dengan ulama.

Mengapa Najamudin Ayub dan Saifuddin Qhutuz tidak menggalang kekuatan militer, permodalan dulu. Mengapa pertamanya ke ulama?

Saat Alp Arslan menghadapi serbuan tentara Romawi Timur, yang pertama didengarkan adalah perkataan ulama. Bukan para panglima perang?

Saat pengepungan Konstantinopel hampir gagal, Lalu Muhammad Al Fatih lebih mendengarkan para ulama dibandingkan panglima perangnya. Akhirnya menang.

Saat Madinah mengalami bancana alam berkepanjangan, Umar bin Khatab mendatangi pamannya Rasulullah saw memohonkan doa.

Para pemimpin adil dan shaleh ketika menghadapi persoalan pemerintahan, yang pertama kali didatangi adalah para ulama.

Berbeda dengan penguasa yang zalim, saat menghadapi persoalan yang pertama di penjara dan dibunuh adalah ulamanya. Seperti itu sejarah berbicara.

Ada Sultan mengusir Imam Nawawi, kekuasaannya runtuh. Ada Sultan mengusir Imam Ibnu Qudamah, kekuasaannya hampir runtuh, lalu menyadari kesalahannya.

Respon Alam Terhadap Kezaliman Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Tegakkan amar makruf nahi munkar. Bila...

Respon Alam Terhadap Kezaliman

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Tegakkan amar makruf nahi munkar. Bila tidak, maka Allah akan menghancurkan kaum tersebut dan tidak mengabulkan doa orang yang berdoa. Mengapa Bani Israel terlunta-lunta hidupnya? Mengapa mereka terusir dari satu negri ke negeri lainnya? Bahkan sudah merampas negri pun kehidupan mereka tidak tenang dan nyaman. Karena tidak menegakkan amar makruf nahi munkar.

Amar makruf nahi munkar itu untuk menjaga alam, manusia dan kehidupan. Untuk menyelaraskan hukum semesta dengan tingkah pola manusia. Menyelaraskan alam yang bersujud pada Allah dengan manusia sebagai hamba Allah. Bila Alam dan manusia tak saling beriring maka terjadilah kehancuran.

Alam akan merespon kezaliman dengan cepat. Dalam Al-Qur'an dijelaskan sebuah kaum yang zalim tiba-tiba diserang oleh wabah belalang, kodok dan banjir darah. Sebuah kaum, tiba-tiba hasil panennya gagal total padahal di malam harinya tidak ada peristiwa apa pun yang bisa menggagalkan panen. Angin, hujan, petir, tanah dan suhu udara yang biasanya bersahabat, justru berbalik menghancurkan manusia.

Menurut kisah leluhur. Apa yang terjadi saat penjajahan Belanda? Apa yang terjadi sebelum peristiwa G30S PKI? Negri muslim yang kaya raya tiba-tiba menjadi budak. Tanah yang subur tiba-tiba mengalami panceklik yang menimbulkan kemelaratan. Tanah yang subur tiba-tiba menjadi tandus. Mata air tiba-tiba menghilang.

Sofyan Tsauri pernah menyaksikan fenomena yang aneh. Di era Umar bin Abdul Aziz, tanaman subur, kambing dan serigala bersahabat. Namun saat dia perjalanan dalam pengembaraannya, terlihat serigala memakan kambing. Dia pun bertafakur, berkesimpulan sebentar lagi pemimpin yang adil akan wafat digantikan yang zalim. Keesokan paginya terdengar bahwa pemimpin yang adil wafat.

Hati yang terpecah belah. Perseteruan dalam pentas publik. Hiruk-pikuknya masyarakat. Sebuah isyarat dan fenomena bahwa kezaliman telah datang dan kita berdiam diri dalam menegakkan amar makruf nahi munkar.

Kerinduan Bertemu Rasulullah saw dan Sahabatnya Oleh: Nasrulloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Para Sahabat, menjela...

Kerinduan Bertemu Rasulullah saw dan Sahabatnya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)


Para Sahabat, menjelang akhir hayatnya merindukan bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Kerinduan ini sangat jelas saat Utsman bin Affan menjelang wafatnya, saat beliau dikepung di rumahnya oleh para demonstran. Apa yang dikatakan Utsman bin Affan? Banyak kisah yang ditulis oleh Khalid Muhamad Khalid dalam bukunya 60 Sahabat Rasulullah saw yang merindukan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab menjelaskan kewafatan mereka.

Di malam hari sebelum terbunuhnya Utsman bin Affan, dia bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di dalam mimpinya.  Rasulullah saw dan kedua sahabatnya mengajaknya buka puasa bersama di surga. Ketika tubuh Utsman bin Affan lemah karena darah yang terus mengucur karena dibunuh oleh seorang demonstran yang menyusup ke dalam rumahnya. Para Sahabat Utsman, memintanya untuk berbuka puasa untuk memulihkan kondisinya. Namun Utsman bin Affan menolaknya karena dia sudah berjanji berbuka puasa bersama Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar bin Khatab di surga. Akhirnya, Utsman bin Affan pun wafat sebagai seorang syahid.

Seorang ulama bermimpi saat kematian Imam Bukhari. Sang ulama bertemu dengan Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dalam mimpinya. Sang ulama bertanya pada Rasulullah saw, "Apa yang sedang ditunggu?" Rasulullah saw menyebutkan sebuah nama. Nama tersebut adalah nama panggilan untuk Imam Bukhari. Setelah bangun, sang ulama mendengar kabar bahwa Imam Bukhari telah wafat di hari tersebut.

Kerinduan surga orang-orang yang terpilih bukan tentang kenikmatan surga. Tetapi, bertemu dengan mereka yang dicintainya. Rasulullah saw bersabda bahwa di akhirat nanti seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Energi cinta, itulah energi yang menyatukan dunia akhirat. Cinta tak mengenal batas waktu dan tempat. Dia menembus batas zaman,  juga menyambung jiwa  dunia dan akhirat.

Said Ramadhan Al-Buthi, penulis Sirah Nabawiyah, mengungkapkan kenangannya bersama Imam Hasan Al-Banna tentang misi kematian yang dirindukannya. Hasan Al Banna berkata, "Kami menginginkan surga, bukan karena kebaikan dan buah-buahan yang tersedia, melainkan karena ingin berjumpa dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para Sahabat terkemuka serta mereka yang mati sebagai syuhada." Mencintai orang yang sholeh adalah anugerah. Seperti itu pula doa yang dipanjatkan Abdullah bin Umar. Kerinduan surga Hasan Al Banna karena ingin bertemu dengan mereka yang dicintainya ternyata terwujud. Ini ditandai dengan sebuah peristiwa yang sang spesial bagi seorang yang shaleh.


Di malam terakhir sebelum kematiannya, Imam Hasan Al Banna mengungkapkan mimpinya pada salah seorang anggota keluarganya. Sang imam bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib. Imam Ali berkata, "Wahai Hasan, urusanmu sudah selesai. Engkau telah menyampaikan risalahmu. Allah menerimamu dan apa yang engkau perbuat." Lalu Hasan Al Banna mentakwilkan mimpinya, "Sesungguhnya, bermimpi melihat Imam Ali ketika tidur berarti mati sebagai Syuhada." 

Setelah mimpi semalam pada tanggal 12 Februari 1949, Hasan Al Banna dibunuh di depan kantor pusat Ikhwanul Muslimin. 6 peluru bersarang di tubuhnya. Walaupun dalam keadaan terluka parah, beliau masih mampu mengejar sang pembunuh dan mengingat nomor polisi kendaraan yang membunuhnya. Saat kematiannya, yang boleh mengurusi jenazahnya hanya ayahnya sendiri dan saudara perempuannya. Seluruh akses ke rumah dan pemakamannya diblokade total. Orang yang mau bertajizah, mendoakan dan mengirim surat Al-Fatihah untuk beliau dijebloskan ke penjara.

Ada pesan yang ditujukan kepada para penerusnya, "Wahai ikhwan sekalian, aku sama sekali tidak mengkhawatirkan kalian, meskipun seluruh kekuatan dunia bersatu padu, sebab kalian dengan ijin Allah pasti lebih kuat dari mereka. Tetapi, yang aku takutkan dari kalian adalah aku takut kalian melupakan Allah sehingga mengandalkan diri sendiri dan atau melupakan persaudaraan sehingga memperparah penderitaan." Ini pesan yang amat sentral dalam gerakan dakwah.

Ada firasat masa depan Hasan Al Banna yang saat ini terbukti. Pada tahun 1946, Robert Jackson penulis Amerika pernah mewawancarainya. Ditengah kehancuran kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kamal , Imam Hasan Al Banna berkata, "Contohnya Turki, aku sangat yakin Turki akan kembali kepada Islam. Dan, aksioma-aksioma kembalinya Turki kepada Islam itu sudah tampak sejak mulai sekarang." Akhirnya terbukti, sang penulis menyaksikan sendiri kekalahan partai Musthafa Kamal pada Mei 1950. Sekarang bagaimana kondisi Turki? 

Gelora Diponegoro dari Balik Penjara Oleh: Nasruloh Baksolahar Kiprah Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa sudah banyak yang te...

Gelora Diponegoro dari Balik Penjara

Oleh: Nasruloh Baksolahar

Kiprah Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa sudah banyak yang terrekam. Namun apa yang dilakukan setelah beliau ditangkap? Hanya meringkuk di penjarakah? Kualitas kepribadian menentukan apa yang dilakukan di bilik penjara.

Sayid Qutb dan Hamka seorang sastrawan dan budayawan. Maka yang dihasilkannya saat di penjara adalah buku tafsir yang monumental di era modern ini. Yaitu, Fizilalil Quran dan Al-Azhar. Tafsir Al Azhar terkadang mengambil referensi dari Tafsir Fizilalil Quran. Bagaimana dengan Pangeran Diponegoro, yang hanya dikenal sebagai seorang Pangeran?

Mari melihat masa kecil sang Pangeran. Beliau menjauh dari Istana. Hidup dengan rakyat biasa. Hidup sebagai santri. Berguru dengan para Kiyai. Salah satu gurunya adalah Kiai Taptojani. Seorang kiya yang mumpuni dalam ilmu tasawuf. Bila kesendirian di Goa Secang di bukit Selarong bisa mengilhaminya mengobarkan perang Jawa, apalagi bila di penjara?

Tahun pertama di pengasinganya 1931-1932, beliau menulis babad yang kemudian dikenal sebagai babad Diponegoro. Beliau menulis bagaimana kondisi keraton dan masyarakatnya. Dari kondisi inilah gelora perang Jawa digelorakan.

Babad Diponegoro, menurut Peter Carey dalam buku Sisi Lain Diponegoro, memuat keteladanan terhadap Walisongo, Sunan Kalijaga dan Sultan Agung. Juga, konsep tentang Ratu Adil.

Ini menandakan, perjuangan Diponegoro merupakan sebuah mata rantai dakwah. Baik secara Internasional, dimana awal gerakan Walisongo yang terorganisir diprakarsai oleh ulama Timur Tengah dan Utusan Khusus Kekhalifahan Turki Utsmani. Juga dakwah bercorak Nusantara yang diwakili oleh Sunan Kalijaga dan Sultan Agung. Sekarang, buku ini diakui sebagai Memory of the World dan terdaftar di MoW Internasional Register di UNESCO.

Babad Diponegoro tentu saja untuk menjaga keotentikan sejarah, meneruskan dan mewariskan gelora semangat jihad. Agar sejarah jangan ditulis oleh para pemenang perang saja.

Dalam lukisan koleksi Snouck Hurgronje yang disimpan di Leiden Codex Orientalis 7398. Menggambarkan bahwa Pangeran Diponegoro di Penjara Benteng Rotterdam sedang membaca sebuah tekst ilmu Tasawuf bersama keluarganya. Belajar di tengah kukungan penjara, untuk apa? Raga boleh terpenjara namun pemikiran dan jiwa tetap tak bisa terpenjara.

Dari balik penjara, ada satu mimpi yang belum tertunaikan. Yaitu, pergi  haji ke Tanah Suci. Itu yang disampaikannya kepada opsir Belanda yang mengawalnya dari Magelang ke Manado pada Maret-Juni 1830. Gelora rindu kepada Rumah Allah. Rindu ini tetap terjaga hingga beliau menghadap Allah. Kepada siapa rindu kita?

Belajar pada Utsman bin Affan Oleh: Nasruloh Baksolahar  Semakin banyak saja yang ditangkap. Alhamdulillah. Alasannya menyebarka...


Belajar pada Utsman bin Affan

Oleh: Nasruloh Baksolahar 

Semakin banyak saja yang ditangkap. Alhamdulillah. Alasannya menyebarkan foto, video, gambar dan rencana makar. Namun apakah semakin surut para pelakunya? Ternyata tidak, karena yang nyata lebih banyak dari yang Hoax. Hoax versi siapa? Ini yang jadi persoalan

Kericuhan karena ketidakadilan itulah kuncinya. Pemimpin yang adil tidak akan pernah menciptakan keresahan. Seperti Utsman bin Affan ketika menghadapi pelaku Hoax yang berbuntut pada upaya melengserkan Utsman bin Affan sebagai Khalifah. Bagaimana sikap Utsman bin Affan?

Adakah sebuah negara yang kacau, bila dikelola dengan baik? Adakah negara yang meresahkan rakyatnya bila penguasanya adil? Adakah sebuah negara yang terus ribut, bila penguasanya menentramkan? Logika yang selalu salah dari penguasa adalah menghukum rakyatnya bukan memperbaiki tata kelola pemerintahannya. Itu yang tengah terjadi di negri ini.

Ketika aparat pemerintahan tidak lagi menjadi pelayan masyarakat, tetapi menjadi corong penguasa. Ketika aparatur negara menjadi pembela penguasa dan kekuasaan, tidak lagi bersama rakyatnya. Itulah penyebab keresahan dalam masyarakat. Mengapa rakyat yang selalu disalahkan? Mengapa penjara menjadi hukuman?

Ketika para demonstran mengepung Utsman bin Affan karena terpengaruh oleh Hoax, Utsman mengumpulkan mereka di Masjid. Lalu, memaparkan seluruh keutamaannya dalam perjuangan Islam, keutamaannya di sisi Rasulullah saw, keberhasilan pemerintahannya dan terakhir menuruti kemauan mereka untuk mengganti beberapa gubernur. Di masa Utsman bin Affan, Umat Islam mulai bisa menembus Eropa, Afrika dan Asia Tengah. Kesejahteraan meningkat luar biasa. Apa salahnya Utsman bin Affan? Tidak ada.

Para Sahabat senior siap membela Utsman bin Affan, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhal, Zubair,  namun Utsman bin Affan berkata, "Sarungkan pedangmu." Hasan, Husein, Abdullah bin Umar siap membela, Utsman bin Affan juga berkata, "Sarungkan pedangmu." Apa yang tidak bisa dilakukan oleh Utsman? Memiliki pasukan yang ditakuti dunia, namun dihadapan rakyatnya beliau sangat lembut. Dihadapan rakyatnya terlihat lemah? boleh ada darah rakyatnya yang tumpah. Para Sahabat bertanya, "Mengapa tidak melawan demonstran?"

Utsman bin Affan berkata, "Aku tidak mau menjadi orang pertama yang menumpahkan darah sesama saudaraku sendiri." Dalam keterkepungan oleh Demonstran, Utsman berdoa, "Ya Allah, tolonglah Umat Nabi Muhammad saw, Ya Allah satukan hati Umat Nabi Muhammad saw." Begitulah yang terrekam dalam kitab Ihya Ulumudin pada bab detik-detik terakhir kematian para Sahabat.

Pemimpin yang lemah memang selalu gagah dihadapan rakyatnya, namun tak bernyali dihadapan musuhnya. Pemimpin yang lemah memang menindas rakyatnya, namun menjadi hamba dihadapan para penjajah. Belajarlah pada Utsman bin Affan, beliau bisa membebaskan sejumlah negri, menandingi Romawi dan Persia, namun tak mau melawan rakyatnya. Menuruti suara rakyatnya. Inilah pemimpin yang kuat.

Pasca pembunuhan Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib mengikuti jejaknya. Tidak memburu mereka yang terlibat dalam pembunuhan Utsman bin Affan. Ali lebih mementingkan rekonsiliasi internal, menyelesaikan konflik internal agar negara dalam kondisi kondusif. Setelah itu baru memproses hukum mereka, walau kebijakan ini ditentang oleh Siti Aisyah dan Muawiyah. Begitulah cara pemimpin yang berwibawa menghadapi rakyatnya. Bila melihat pemimpin yang keras terhadap rakyatnya, apa tandanya?

Namun masa-masa setelah Khalifatur Rasyidin adalah masa pemerintahan yang menggigit. Sangat mudah menangkap para Ulama. Sangat mudah membunuh yang berlawanan. Era itu sudah lewat. Sekarang kita menghadapi era baru. Yaitu,  pemerintahan diktator menurut Rasulullah saw? Wajar saja bila umat ini menghadapi tantangan yang lebih berat. Bagaimana menghadapinya? Berkata benar dihadapan penguasa, itulah jihadnya. Itulah jihad yang tertinggi.

Memilih Pemimpin Gaya Umar Bin Khatab Oleh: Nasruloh Baksolahar  Liku-liku Umar Bin Khatab memilih pemimpin. Semoga kelak lahir ...

Memilih Pemimpin Gaya Umar Bin Khatab

Oleh: Nasruloh Baksolahar 

Liku-liku Umar Bin Khatab memilih pemimpin. Semoga kelak lahir pemimpin yang kuat dan amanah di Nusantara ini.

Mengenal calon pemimpin dengan mengajaknya makan bersama, perjalanan bersama, dan bertransaksi uang. Begitulah cara alami membongkar kedok seseorang gaya  Umar Bin Khatab. Umar Bin Khatab tak silau dengan rajinnya shalat, puasa dan baca Al Quran seseorang. Karena itu berkaitan dengan kesolehan pribadi bukan kesolehan sosial dan bukan pula ukuran kapabelitas kepemimpinan dan manajemen. Menjadi pemimpin bukan sekedar kesholehan pribadi, dia bertanggungjawab terhadap umat. Ini dilakukan Umar terhadap Ahnaf bin Qais.

Bila Umar Bin Khatab sedang membidik calon pemimpin, dia akan mengirimkan utusannya. Memberikan sejumlah uang. Lalu sang utusan memperhatikan bagaimana orang yang dibidik menggunakan uang tersebut. Bila digunakan untuk diri dan keluarganya, maka dicoret dari calon pemimpin. Bila uangnya dibagi-bagikan ke fakir miskin, maka diangkalah dia sebagai walikota atau gubernur dan jabatan lainnya.

Sang penjaga rahasia Rasulullah saw selalu menjadi penasihat dalam menentukan kelayakan calon pemimpin. Huzaifah selalu dimintai pendapat. Apakah yang akan diangkat termasuk kategori munafik? Berjanji diingkari, amanah dikhianati, berkata didustai. Karakter munafik memang tak layak menjadi pemimpin. Bukankah orang munafik di masa Rasulullah saw pun shalatnya dekat dengan Rasulullah saw? Jadi perlu pendekatan lain untuk mengukur calon kepemimpinan.

Umar Bin Khatab belajar pada Rasulullah saw saat menolak Abu Dzar Ghifari yang meminta posisi kepemimpinan. Abu Dzar Ghifari memang orang yang sholeh tetapi lemah secara kepribadian. Orang yang lemah tak memiliki prinsip, mudah terombang-ambing, lemah untuk mewujudkan impiannya dan tak bisa mengelola. Jadi kesholehan harus ditopang juga dengan kekuatan karakter untuk layak menjadi pemimpin.

Bagaimana Umar Bin Khatab menilai kasih sayang calon pejabatnya pada rakyat? Lihatlah interaksi pada anak dan istrinya. Umar Bin Khatab pernah membatalkan jabatan seseorang karena orang yang akan diangkat berprilaku kasar terhadap anak dan istrinya. Bila kepada anaknya saja keras dan tidak peduli bagaimana terhadap rakyatnya? Inilah kejelian melihat yang kecil terhadap efek yang sangat luas.

Bila ada dua orang yang beriman, maka Umar Bin Khatab memilih pejabat yang lebih berilmu.  Orang yang berilmu akan lebih menguasai pekerjaannya. Tidak mudah ditipu oleh orang yang sesat dan yang mengikuti hawa nafsu. Orang yang paham tentang keburukan akan diprioritaskan agar pada saat menjabat tidak jatuh pada keburukan.

Umar Bin Khatab sangat jeli dalam memilih para Walikota dan Gubernurnya. Salah satu tanda kasih sayang Allah terhadap pemimpin adalah terpilihnya dan dikelilinginya dengan orang-orang terbaik secara agama dan kemampuannya. Pemimpin yang dipilih Umar Bin Khatab bisa bertahan hingga di era Ali bin Abi Thalib. Itulah kejeniusan Umar Bin Khatab dalam memilih pejabatnya.

Kehancuran para pemimpin diawali dengan tidak tepatnya memilih pejabat dan bawahannya. Umar Bin Khatab telah mengajarkannya.

Jalinan Kerajaan Budha Sriwijaya dengan Kekhalifahan Islam (2) Sriwijaya tempat persinggahan duta diplomatik dan pedagang muslim...

Jalinan Kerajaan Budha Sriwijaya dengan Kekhalifahan Islam (2)

Sriwijaya tempat persinggahan duta diplomatik dan pedagang muslim dari Timur Tengah ke Timur Jauh (Cina). Sriwijaya juga pusat terkemuka keilmuan Budha di Nusantara. Banyak penuntut Ilmu dan penziarah Budha bermukim di Sriwijaya selama bertahun-tahun untuk mempelajari dan menerjemahkan teks keagamaan sebelum berangkat ke India.

Pada sisi lain, Sriwijaya juga kerajaan kosmopolitan. Banyak kapal Arab dan Persia yang muslim yang singgah dan bertempat tinggal di Sriwijaya. Jadi saat itu, segmen tertentu dari rakyat
 Sriwijaya telah berinteraksi dengan kaum Muslimin yang datang dari Timur Tengah, dan dalam batas tertentu sudah mengenal ajaran Islam.

Berdasarkan Al-Ramhurmuzi dalam Aja'ib Al-Hindi, mengisyaratkan terdapat sejumlah muslim pribumi di kalangan penduduk asli Sriwijaya sendiri. Menurut Chau Ju-Ka, "Sejumlah besar penduduk Sriwijaya memiliki nama awal P'u yang berasal dari Bu singkatan dari Abu (Bapak) yang terdapat dalam banyak nama pribadi orang Muslimin.

Pada 293H/904M, penguasa Sriwijaya mengirimkan utusannya bernama P'u Ho-li atau P'u Ho-su (Abu Ali atau Abu Husain) ke Istana Tang. Mereka kepala orang asing di Sriwijaya, besar kemungkinan seorang Muslim dari Timur Tengah.

Walaupun Sriwijaya sebuah kerajaan Budha, namun beberapa utusannya ke Cina ada yang muslim juga. Sumber Cina menginformasikan kemunculan utusan dari penguasa Sriwijaya yang muslim antara paruh ke dua abad ke-10 dan penggalan abad ke-12.

Duta-Duta muslim utusan resmi kerajaanSriwijaya ke Cina yang disebutkan dalam Sung Shih. 962M, Wakil Duta Li A-mu (Ali Muhammad). 971M, Duta Li Ho-mu (Ali Muhammad. 975M, Duta P'u T'o-han (Abu Adam). 980M, Utusan Dagang Li Fu-Hui (Abu Hayyah). 985M, Pemilik Kapal Chin-hua-ch'a (Hakim Khwajat). Hingga tahun 1. 155M, Duta muslim yang diutus olah penguasa Sriwijaya terus berdatangan.

Keberadaan Muslimin di kerajaan Sriwijaya memiliki dua peran besar yaitu meramaikan perdagangan dan mewakili Sriwijaya dengan dunia luar, Barat dan Timur. Kepercayaan Sriwijaya kepada Muslim menyebabkan pengangkatan mereka menjadi duta resmi kerajaan.

(Bersambung)

Sumber:
1. Diringkas dari Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke 17-18, Prof Dr Azyumardi Azra, Kencana 2007)
2. Sejarah Umat Islam, Buya Hamka, GIP 2016.

Jalinan Kerajaan Budha Sriwijaya dengan Kekhalifahan Islam (1) Hubungan Kekhalifahan Islam dengan Cina lebih banyak bersifat dip...

Jalinan Kerajaan Budha Sriwijaya dengan Kekhalifahan Islam (1)

Hubungan Kekhalifahan Islam dengan Cina lebih banyak bersifat diplomatik. Sejarah Dinasti Cina yang berjudul Chiu T'ang Shu meriwayatkan, pada 31H/651M istana Tang dikunjungi dua duta pertama dari negri Ta Shih (Arab).

Empat tahun kemudian, istana Tang menerima duta kedua dari Arab yang menginformasikan bahwa mereka telah memiliki 3 penguasa. Duta kedua muslim itu datang ke Cina di era khalifah Utsman bin Affan (23-35H/644-56M)

Semakin meluasnya wilayah kekhalifahan Islam hingga ke Anak Benua India di era Bani Umayah (40-132/660-749M) mendorong pelayar Arab dan Persia menjelajah hingga ke Timur Jauh. Hal ini juga mendorong semakin banyak migrasi penduduk, di pelabuhan-pelabuhan strategis dari teluk Persia, Lautan India hingga Timur Jauh (Cina), menjadi muslim. Pelayar muslim menjadi penjelajah paling jauh di dunia saat itu.

Perjalanan duta diplomatik kekhalifahan Islam dan pedagang muslim hingga ke Cina menunjukkan bahwa yang paling paham tentang Nusantara adalah para pelayar dan pedagang muslim. Mereka banyak yang singgah di Nusantara sebelum melanjutkan perjalanan diplomatik dan berdagang ke Cina.

Saat itu di Nusantara berdiri kokoh kerajaan Budha Sriwijaya. Seorang agamawan dan pengembara terkenal Cina, I-Tsing (51H/671M), dengan menumpang kapal Arab dan Persia dari Kanton berlabuh di sungai Bhoga (Musi) yang diidentifikasikan sebagai Palembang, ibukota Budha Sriwijaya. Dalam periode ini, Sriwijaya menjadi perantara perdagangan Timur Jauh (Cina) dan Timur Tengah.

Menurut penulis kronik Cina, peran Sriwijaya saat itu digambarkan sebagai beriku:
"Sriwijaya terletak di Nan-Hai (Lautan Selatan). Ia merupakan pusat perdagangan penting di antara berbagai negri asing. Sebelah timur terdapat negri Jawa, sebelah barat terdapat Ta-Shih (Arabia), Ku-lin (pulau selatan). Tidak ada negri mana pun yang sampai ke Cina tanpa melewati wilayahnya (Sriwijaya).

(Bersambung)

Sumber:
1. Diringkas dari Buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad ke 17-18, Prof Dr Azyumardi Azra, Kencana 2007)
2. Sejarah Umat Islam, Buya Hamka, GIP 2016.


Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (196) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (154) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (424) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (192) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)