basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Buya Hamka

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Buya Hamka. Tampilkan semua postingan

Satu Doa yang Menghancurkan Tahta Penguasa Zalim Oleh: Buya Hamka  Sejarah perjalanan manusia selalu menysaksikan kezaliman dan ...

Satu Doa yang Menghancurkan Tahta Penguasa Zalim

Oleh: Buya Hamka 

Sejarah perjalanan manusia selalu menysaksikan kezaliman dan kesombongan lantaran berkuasa. Pemakaian harta benda yang sesuka hati. Kemewahan yang berlebihan yang menyebabkan orang lupa daratan.

 Seruan para Nabi dan Rasul dan mereka yang memiliki cita-cita bermartabat, selalu menjadi ejekan dari penguasa. Yang menyeru pada kebenaran, dimusuhi dan dibenci penguasa. Sebaliknya, para penjilat, pengambil muka, pemuja, sampai menyamakan martabat penguasa menyamakan Allah dipelihara. Kondisi ini sebenarnya menghancurkan penguasa, tak ada lagi orang yang jujur, sebab yang jujur dimusuhi.

Kelebaran rejeki ialah kekuasaan, kedudukan, dan harta benda yang tak terbatas. Mereka pun mabuk. Mereka tak dapat lagi mengendalikan maka berbuatlah dia semau--maunya, karena tidak ada lagi orang yang berani membantahnya. Penjara di mulutnya. Senjata disediakannya. Yang membantah ditutup mulutnya dan dirampas harta bendanya. Bagaimana menghadapi kondisi ini?

Dalam kondisi ini, tidak ada lagi tempat mengadu, sebab puncuk kekuasaan ada ditangan penguasa. Jalan satu-satunya yang dilakukan manusia yang teraniaya ini, tidak lain hanya tinggal berdoa memohon perlindungan kepada Allah.

Saat penguasa melihat rakyat tak berkutik lagi, penguasa berbuat lebih gila lagi. Mereka membujuk, menipu, mengadakan propaganda palsu untuk membela diri agar yang salah dianggap benar. Agar pendukung penguasa semakin banyak dan luas. Agar yang menyuarakan kebenaran semakin dibenci banyak orang.

Perjalanan sejarah manusia sering ditemukan suatu waktu, dimana segala usaha menemui kebuntuan. Rakyat diperintah secara sewenang-wenang oleh penguasa zalim. Rakyat sudah kehilangan daya. Segala jalan tertutup. Segala kemungkinan tidak tampak. Jalan satu-satunya hanya berdoa.

Nabi Musa dan Harun berdoa, "Ya Allah, Sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada  Firaun dan penyokongnya itu perhiasan dan harta benda di kehidupan dunia ini. Ya Allah, jadikan mereka tersesat dari jalan Engkau. Musnahkan harta benda mereka, dan keraskan hati mereka." Doa inilah yang membuat Firaun dan bala tentara tenggelam di lautan. Satu doa yang menghancurkan kekuasaan yang besar dan kuat.

Sumber:
Tafsir Al-Azhar jilid 4, GIP, hal 488-489

Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani *Kekuatan Perasaan* Setelah itu menjadi hak pula atas ...

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani

*Kekuatan Perasaan*

Setelah itu menjadi hak pula atas kita menjaga supaya perasaan yang timbul dari pancaindra jangan sampai dipengaruhi oleh syahwat yang rendah. Menjadi hak atas kita menghapuskan bekas-bekas cemburu, hasad, dan dengki yang tumbuh dalam diri. Hendaklah didik diri sendiri menaruh rasa cinta kepada kaum kerabat, teman sejawat, keindahan, kebaikan, dan cinta kepada ilmu.

Hak perasaan yang paling terpenting ialah menghormati diri sendiri. Tahu harga diri, makan dan minum

dengan sederhana. Memperhatikan segala perkara dengan saksama, berani karena benar, takut karena salah,dan kuat kemauan.

Sederhana yang paling penting ialah terhadap harta benda. Hendaklah diingat benar bahwa harta benda digunakan untuk mencapai suatu maksud. Oleh karena itu, jangan bakhil sebab bakhil itu tanda bahwasanya harta yang telah memerintah diri, bukan diri lagi yang memerintah harta. Jika penyakit bakhil telah si bakhil akan payah mengumpul waktu hidupnya, setelah mati orang lainlah yang mengambil hasilnya.

Jangan pula mubadzir dan boros karena itu namanya menghabiskan harta. Ada pepatah, "Sedangkan laut ditimba lagi kering," boros merusak rumah tangga, menyusahkan diri, dan menimbulkan kesal karena kadang-kadang membawa kepada pintu utang. Utang itu menyebabkan rendah derajat siang hari dan tidak enak tidur di waktu malam.

Hendaklah sederhana, tidak telalu bakhil, dan tidak telalu boros. Di tahan harta itu sekeras-kerasnya terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat, ditimbang seketika hendak dikeluarkan, dan lekas-lekas dibelanjakan kepada yang memang perlu.

لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك إذا فعلت عظيم "

Janganlah engkau melarang melakukan suatu perbuatan sedangkan engkau mengerjakannya. Sungguh tercela perbuatanmu itu apabila engkau melakukan." (al-Ghazali)

Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani *Membersihkan Diri* Hanotaux, seorang ahli filsafat ba...

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani


*Membersihkan Diri*

Hanotaux, seorang ahli filsafat bangsa Perancis me negaskan bahwasanya suatu pemerintahan yang meng izinkan alkohol masuk ke dalam negerinya, niscaya akan mencelakakan rakyatnya sendiri.

Oleh sebab itu, sebelum jatuh pada bahaya khamr, candu, berjudi, pelacuran, dan lintah darat, hendaklah orang menjaga dirinya baik-baik, menahan syahwatnya, menjaga kehormatannya, bahkan menjaga keturunannya agar tidak binasa lantaran segala kejahatan itu.

Penulis pernah bertemu dengan seseorang yang terjerat ke tangan lintah darat, berutang dan tidak dapat membayarnya kembali sehingga utang itu berlipat ganda besarnya. Lebih 15 tahun dia berutang kepada lintah darat itu, belum juga dibayar. Saat dia telah pensiun tentu utang itu tidak juga akan terbayar, padahal kesanggupan membayar pun tidak ada lagi, sampai matinya kelak sudah sepuluh tahun pula di dalam kubur barulah utang itu akan lunas dibayar, itu pun jika masih dibayar oleh ahli warisnya.

Menghabiskan uang di meja judi artinya membayar bagian uang yang sedianya untuk menafkahi dan mendidik anak.

Maka obat untuk menahan syahwat itu ialah dengan kemauan yang keras, jujur, dan menahan diri saat hampir tersesat kepada kejahatan itu.

J.J. Rousseau, ahli filsafat Perancis berkata, "Manusia itu tidak sanggup menahan syahwatnya jika tidak diperangkan di antara satu dengan yang lain." Misalnya, seorang yang gemar betul pergi ke tempat-tempat maksiat atau main perempuan. Lawanlah kebiasaan itu dengan menahan diri membaca buku yang bernilai atau ke tempat-tempat pameran barang keramik, lukisan, dan barang-barang kerajinan. Jika sekiranya dia senang melihat film yang mempertontonkan perempuan setengah telanjang dengan tari-tarian yang menyerupai orang gila, warisan dari bekas budak-budak bangsa Negro di Amerika, hendaklah pada malam itu juga coba menonton film sejarah yang banyak mengandung pelajaran. Jika dia suka membaca buku-buku cabul, coba ditukar membacanya dengan buku-buku pelajaran yang bermu ltu dan berisi kehalusan budi dan peradaban. Itulah tafsir dari perkataan Rousseau.

Bukan raja diri itu harus dijaga jangan sampai tersesat kepada minuman keras, candu, dan yang kita sebutkan di atas, tetapi hendaklah dijaga pula minuman, makanan, pakaian, dan kediaman, yang semuanya itu menyehatkan dan cocok bagi diri sendiri. Bersih dan tangkas yang perlu, bukan gagah dan mahal.

Yang harus diperhatikan pula ialah kebiasaan menabung. Ada anggapan dari para ahli bahwa bangsa kita, Indonesia, adalah bangsa yang tidak suka menabung. Bangsa Eropa suka menabung karena berhubung dengan hawa udara negerinya. Tiap-tiap bulan, sebagian dari penghasilannya dijadikan simpanan supaya kelak di musim dingin mereka serumah beristirahat ke tempat tempat yang indah bersantai, berekreasi, beranak-anak, serumah-rumah, semuanya dari uang simpanan. Amat susah orang yang tidak ada simpanan di waktu yang sangat perlu dan dibutuhkan.

Seorang teman berkata, "Pada suatu hari saya datang kepada majikan saya, orang asing, meminjam uang untuk ongkos istri yang melahirkan. Majikan itu berkata, "Mengapa engkau meminjam, tidaklah engkau menabung?" "Saya tidak ingat, Tuan." Jawab saya, "Bagaimana engkau tidak ingat, mestinya sejak bulan pertama istrimu mengandung, engkau sudah tau bahwa sembilan bulan lagi engkau akan mempunyai anak?"

Janganlah kita menyangka bahwa kita suci dari aib dan cela, jangan kita menyangka bahwa kita tidak berdosa. Ketahui dan sadarilah kelemahan kita bahwa bukanlah manusia itu suci dari dosa, ikhtiar manusia ialah mengurangi dosa dan menyucikan. Bagaimana akan disucikan jika sekiranya barang itu telah bersih? Satu perkara lagi yang menjadi hak atas diri kita sendiri, yaitu mengetahui kelemahan sebagai manusia.

Mengetahui kewajiban kepada diri dan kepada seisi alam adalah langkah pertama di dalam langkah hidup kita di samping mengetahui agama yang hak, membentuk dan memperhalus perasaan. Setelah itu hendaklah diingat betul hubungan kita dengan masyarakat.

Barang yang diketahui jangan disimpan dan disembunyikan dari masyarakat karena ilmu itu bertambah, dikembangkan, dan tidak bertambah susut, tetapi bertambah tersiar, membawa faedah kepada yang empu nya.

Alhasil, simpulan segala perkara ialah mendidik diri dan memperhalus perasaan, sama tengah, sederhana di dalam tiap-tiap perkara, cinta pada kebenaran hakikat, kebaikan, keutamaan, dan menjaga martabat. Mendidik kemauan yang kuat, betul, dan berani di dalam keyakinan, serta dapat membedakan antara suatu kekuatan yang timbul dari iradah dengan sesuatu kekuatan dan yang kedua pangkal celaka.
 
Jika kita jatuh bukanlah dijatuhkan orang lain, tetapi lantaran salah kita sendiri. Untuk meningkat jenjang
naik amatlah sukar, tetapi jatuh itu sangat mudah dan naik yang kedua lebih pula susahnya dari naik yang pertama. Padahal kita singgah ke dunia ini hanya sekali. Sebab itu ada satu pepatah dari ahli syair Arab yang patut diperhatikan.

"Jika tidak engkau jaga yang hak diri engkau, sia-sia kan hak itu, orang lain pun akan menyia nyiakannya lagi. Oleh sebab itu, jagalah dirimu baik-baik. Kalau sekiranya banyak tempat yang tersedia dan diperebutkan, pilihlah tempat lain yang lebih lapang."

Pepatah Melayu pun ada,

 "Awak di baju buruk awak, gantungkanlah hampaikanlah Awak di laku buruk awak, tanggungkanlah rasaikanlah"

"Manusia seribu di antara mereka bagai seorang. Tapi seorang bagai seribu jika perintahnya diperhatikan.

Bencana akal adalah hawa nafsu. Barangsiapa yang dapat mengendalikan hawa nafsu, niscaya selamatlah akalnya.

Percayalah akan kesabaran yang baik, karena itu sangat mencegah kehendak yang dituruti orang-orang berakal.

Janganlah kau heran akan perusak bagaimana jatuh terjerumus.

Namun heranlah akan penyelamat bagaimana ia selamat.

Sesungguhnya seseorang adalah pembicara sesudahnya

Maka jadikan pembicara yang baik di telinga pendengarnya."

Menjadi Ulama Merdeka Bukan Koruptor Ruhani  Ulama pewaris para Nabi. Mereka tidak boleh menyembunyikan kebenaran. Mereka wajib ...

Menjadi Ulama Merdeka Bukan Koruptor Ruhani 

Ulama pewaris para Nabi. Mereka tidak boleh menyembunyikan kebenaran. Mereka wajib menerangkan yang sebenarnya. Kalau tidak, maka mereka telah khianat atau membawa kebinasaan.

Ilmu pengetahuan dengan sendirinya membentuk akhlak, karakter, mental dan moral. Hal-hal ini telah diberikan contoh teladannya oleh ulama salaf yang mulia. Keempat Imam ikutan umat Islam yaitu Imam Malik, Hanafi, Syafii dan Hambali, semuanya telah menjadi korban keyakinan kepada ilmu.

Imam Malik pernah didera dengan cemeti, dan dia ditahan. Namun dia tidak mau beranjak dari yang diyakininya. Imam Hanafi mati dalam penjara karena tidak mau menerima jabatan dari khalifah Bani Abbasiyah.

Imam Syafii pernah dirantai tangan, leher dan kaki, lalu digiring dari Yaman ke Baghdad karena fitnah. Imam Hambali pernah meringkuk dalam penjara 30 bulan karena tidak mau dipaksa mengubah keyakinannya bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Allah.

Ibnu Taimiyah masuk penjara di Mesir 18 bulan, kemudian masuk penjara di Damaskus 5 bulan, sampai meninggal dalam penjara itu sebab tidak mau mengubah pendapatnya yang berbeda dengan ulama resmi kerajaan.

Apa sebab mereka berkeras sampai bersedia disiksa, diazab, dan dipenjarakan, atau dibuang dari negari, sebagaimana Imam Nawawi dan beberapa yang lainnya? Karena tidak boleh menyembunyikan kebenaran.

Setiap ulama telah diambil janji oleh Allah, bahwa isi Al-Qur'an tidak boleh disembunyikan, walaupun jiwa tantangannya. Bila ada yang menyembunyikannya, karena takut ancaman, berarti telah melemparkan Al-Qur'an kebelakang punggung, karena mengharapkan harga sedikit. Itulah kebinasaan, kecurangan dan kejahatan, yang demikian itu adalah "korupsi ruhani" yang amat berbahaya.

Banyak ulama salaf yang menjauhkan dari istana. Sufyan Tsauri selalu menjauhkan diri dari Istana khalifah Bani Abbasiyah walaupun berkali-kali dicari untuk diangkat menjadi pejabat negara. Imam Hanafi memilih menjadi saudagar kain, menjaja kian kemari, mendapatkan keuntungan halal untuk belanja sehari-hari daripada diberi jubah anugerah raja, tetapi hilang kebebasan.

Sufyan Tsauri berpesan pada muridnya, Yusuf bin Asbath, "Bila ulama telah menyandarkan diri pada sultan, ketahuilah bahwa dia adalah pencuri besar. Bila menyandarkan pada orang kaya, ketahuilah bahwa dia pencuri muka. Dan jangan sampai tertipu ucapan mereka yang berkata, 'Kita mendekati sultan untuk menangkis kezaliman dan mempertahankan orang yang teraniaya.' Itu cuma perdayaan iblis saja."

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 2, Buya Hamka, GIP

Kiat Menulis Buya Hamka Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup, Buya Hamka m...

Kiat Menulis Buya Hamka

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Dalam buku Kenang-Kenangan Hidup, Buya Hamka menceritakan bagaimana dia menjadi seorang penulis. Menurut Hamka, dia sendiri tidak memiliki teori ada sistem baku agar bisa menjadi seorang penulis. Kuncinya, dengan kekuatan membaca tulisan orang lain maka menimbulkan dorongan jiwa untuk turut menulis.

Yang perlu diingat, kata Hamka, kita bukan menjadi pak Turut. Setiap pengarang mempunyai gaya bahasa sendiri-sendiri. Jangan pernah mengcopy paste gaya tulisan orang lain. Penulis yang berpendirian, mereka yang menempuh jalan sendiri.

Menurut Hamka, yang menelatarbelakangi menjadi penulis adalah Ayahnya. Di rumahnya banyak sekali kitab-kitab milik ayahnya yang berderet-deret di dinding. Tidak itu saja, daya kritisnya muncul karena seringnya berdiskusi dengan ayahnya. Banyak membaca dan sering berdiskusi, itulah langkah awal untuk menulis.

Hamka mulai menulis sejak usia 17 tahun dengan mengarang buku kecil yang berjudul Khatibul Ummah yang merupakan kumpulan  bahan pidato  kawan-kawanya. Mengingat saat itu baru Hamka yang menuliskannya, buku sederhana tersebut menjadi sangat populer di daerahnya.

Hamka sering membaca kembali tulisannya untuk memperbaiki, mengisi dan memperluas isi tulisannya sehingga bisa lebih bagus daripada tulisan sebelumnya.

Kegagalan menjadi penulis, menurut Hamka, karena sering mundur maju, ditakutkan oleh terlalu banyak teori. Merasa ilmu belum cukup, mesti lengkap syarat dan rukunya, mesti tahu ramasastra bahasa, mesti banyak penyelidikannya, baru menulis. Terlalu banyak teori justru menimbulkan ketakutan dan keraguan. Banyak temannya yang lebih pintar justru tidak berani untuk menulis.

Dalam menulis akan bertemu dengan kegagalan. Dalam menulis akan ditemukan angin baik dan buruk. Kadang inspirasi sangat luar biasa sehingga produktif menulis. Kadang sepi ide. Menurut Hamka, Ilhamlah kawan karib seorang penulis. Jika ilham tidak datang, ya sudahlah... Namun jangan berputus asa, keinginan menulis harus terus dibangkitkan.

Menulis harus memiliki prinsip. Penulisannya harus tepat, timbangannya mesti benar, adil dan berani. Karena tulisan akan mempengaruhi timbangan pemikiran masyarakat. Karena menulis hakikatnya mencurahkan pemikiran tertinggi kepada bangsanya dan dunianya. Menulis jangan lantaran perut dan kantong. Bila orientasinya seperti itu maka runtuhlah keistimewaan sebuah tulisan.

Bercita-cita tinggilah. Bermimpilah menjadi penulis seperti Tagore dari India, Iqbal dari Pakistan dan Mustafa Sadik Rifai dari Mesir. Kegagalan menjadi Penulis mesti bertemu. Kekecewaan pasti ada. Namun dengannya kita mengenal yang mana kesanggupan kita. Lalu Hamka menutup dengan, "Penulis harus mengatasi zamannya."


Pejuang Kata "Al-Qur'an" dalam Bahasa Indonesia Oleh: Nasruloh Baksolahar (Channel Youtube Dengerin Hati) Semua bi...

Pejuang Kata "Al-Qur'an" dalam Bahasa Indonesia

Oleh: Nasruloh Baksolahar
(Channel Youtube Dengerin Hati)

Semua biasa saja, bila tidak memahami sejarah. Tanpa sejarah, semua tanpa makna. Tanpa sejarah semuanya seperti lahir dalam sekejap mata atau semalam saja. Begitu pula tentang sebuah kata, terkadang memiliki sejarah yang syarat makna perjuangan.

Ali Audah penulis "Hamka: Sastrawan, Ulama, Mufassir" menceritakan sejarah kata "Al Qur'an" dalam Bahasa Indonesia. Dalam sebuah Kongres Bahasa di Jakarta, ada yang hendak mengubah ejaan Al-Qur'an menjadi "Kuran" berhubungan kaidah Bahasa Indonesia tidakmenggunakan huruf "Q" tetapi "K". Siapa yang memperjuangkan agar tidak berubah?

Hamka memawakili umat Islam mempertahankan penulisan Al-Quran tersebut dengan huruf q kapital karena Al-Quran adalah kitab suci. Hasilnya, hingga sekarang, ejaan Bahasa Indonesia tidak mengubah penulisan yang terkait dengan istilah-istilah agama. Andai tidak ada Hamka, kata Al-Quran akan berubah menjadi Kuran? Inikah salah satu bukti penjagaan Allah terhadap Al-Quran?

Berubah huruf akan merubah makna. Itulah yang ada dalam bahasa Arab. Sehingga huruf awal kata "Al-Quran" tidak boleh dirubah. Itulah yang diperjuangkan Hamka.

Mengapa Hamka sangat peduli dengan bahasa? Karena bahasa adalah identitas dan jati diri. Bahasa itu tentang rasa dan asa. Bahasa itu menunjukkan kualitas diri dan bangsa. Bahasa menunjukkan sebuah pengaruh kebudayaan dan pemikiran yang berdarah daging dalam sebuah bangsa.

Perjuangan Hamka memasuki ranah yang lebih luas lagi dalam bahasa. Menurut Ali Audah, sejak tahun 1950-an, Hamka sangat peduli dengan pembentukan bahasa Indonesia terutama yang menyangkut peristilahan agama Islam. Walaupun saat itu berkembang sebuah pemikiran bahwa istilah baru harus digali dari bahasa-bahasa yang terdapat di Indonesia terlebih dahulu.

Hamka dengan argumentasi masuknya Islam ke Indonesia dengan teori Mekkah sejak abad pertama Hijriyah atau 6-7 Masehi. Maka pembentukan istilah baru yang berasal dari Islam bukanlah makhluk asing lagi bagi bangsa ini.

Menurut Hamka, dalam bukunya Kenang-Kenangan Hidup, pengaruh kebudayaan Timur dan Barat harus dimanfaatkan menjadi pembentukan jiwa kita sendiri dengan lahirnya jiwa Indonesia baru. 

Hamka berkata, "Dengan bahasa kita yang diperindah, kita kukuh untuk itu, kita turut membentuk dunia baru yang tidak bersifat Timur lagi dan tidak bersifat Barat."

Jadi bila membaca dan menuliskan kata "Al-Quran" dan istilah bahasa Indonesia yang berasal dari Islam, ingatlah perjuangan Hamka.

Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani  Kekuatan Ingatan Kekuatan ingatan sangat menentukan k...

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani

 Kekuatan Ingatan

Kekuatan ingatan sangat menentukan kehidupan manusia. Kuatnya ingatan dibentuk oleh ilmu pengetahuan. Ingatan bisa bertambah kuat, bisa pula menjadi lemah. Apabila ingatan dibiarkan saja, tanpa diisi dengan pendidikan, yang melekat dalam ingatan hanyalah soal-soal yang tak bermanfaat bagi masyarakat atau ingatan itu hanya berkisar pada soal-soal yang menyangkut diri seseorang belaka. Selain dari ilmu pengetahuan, ingatan juga harus diperkuat dengan akhlak dan akal budi mulia.

Demikian pula, jika sekiranya kekuatan ingatan itu tidak dibentuk menurut mestinya dengan akal budi, walaupun banyak ilmu, ilmu tersebut bukan memberi manfaat, tetapi merusakkan kemanusiaan.

Salah satu tabiat manusia ialah rasa ingin tahu dan ingin mendapat kabar baik. Tabiat itu tidak boleh dibiarkan begitu saja, tetapi harus dituntun. Jika tidak ada kekuatan ingatan tidak pula ada pertimbangan, dia menjadi sarang takhayul dan kurafat.

Menambah ilmu adalah penting, tetapi lebih penting dari itu ialah menuntun kekuatan ingatan itu menuruti jalan yang benar karena bukanlah semata-mata banyak ilmu saja manusia itu berharga. Yang lebih penting ialah hasil dari kekuatan yang telah berilmu itu. Coba perhatikan bagaimana pentingnya pendapatan tentang mesin, listrik, radio, dan lain-lain, bukankah itu hasil dari kepandaian mengamalkan ilmu dan kekuatan ingatan?

Jika sekiranya cara belajar dan cara meneliti itu diatur dengan sebaik-baiknya, tahulah orang hakikat sesuatu karena dusta berlawanan dengan keadilan. Berbuat baik timbul dari kemuliaan budi. Jika tahu menghargai kebenaran, tahu pula menghargai diri.

Apakah arti menghargai diri?
 Menghargai diri ialah membela kebenaran dan menyatakan kebenaran, berpikir menurut keyakinan sendiri, dan berkata menurut apa yang dipercayai benarnya.

Kadang-kadang timbul beberapa sebab yang membuat orang terhalang mengatakan keyakinan, atau apa yang diketahuinya. Oleh sebab itu, wajiblah orang berpikir sebelum berkata. Apabila perkataan telah keluar, suka atau tidak suka, pantang bagi manusia mengubah perkataan hanya karena menurut kehendak orang banyak.

Pantang bagi seseorang budiman melawan keyakinannya, "Lidah orang berakal terletak di belakang hatinya, dan hati orang yang bodoh terletak di belakang lidahnya."

Alangkah celakanya bila kita dicela orang dengan perkataannya, "Tuan pendusta, Tuan tidak mengatakan yang sebenarnya."

Alangkah beruntungnya apabila dikatakan orang di hadapan kita, "Tuan benar, perkataan Tuan terbukti semuanya." Orang berdusta hanyalah karena maksud yang tidak jujur, hendak menutup dosa dan malu diketahui keadaan sebenarnya, atau lantaran singkat pemandangan.

Tercela dusta mulut, tercela pula dusta perbuatan karena jika ada orang mengatakan dan melakukan suatu perkara semata-mata hendak menipu orang, perbuatan seperti itu dapat digolongkan sebagai pendusta.

Orang yang tahu suatu perbuatan benar tetapi tidak dikerjakannya atau takut mengerjakannya adalah pengkhianat. Bukan mengkhianati kepada orang lain saja, tetapi kepada dirinya sendiri, batin, dan haknya yang suci.

Munafik adalah perangai yang diberi kulit baik. Orang yang munafik ialah ia menipu orang lain dan memperdayakan, seperti musang berbulu ayam. Munafik itu adalah tanda hormat dari perangai buruk kepada perangai baik. Arti tanda hormat ialah dia memang mengaku bahwa kejujuran memang baik, tetapi dia tidak sanggup mengerjakannya.

Orang jahat mempunyai seribu alasan pelepasan diri, tetapi tiap-tiap alasan itu mengikat dirinya juga. Dia hanya mementingkan dirinya, tetapi tidak tahu aib cela diri. Dia hasad, sebab itu dia tidak melihat kebaikan orang lain. Sebab itu janganlah takabur. Takabur ada tingkat-tingkatnya pula. 

1. Mencintai diri lebih daripada penghargaan manusia yang lain.
2. Merendahkan orang lain dan memandangnya hina. 3. Membanggakan kekayaan, kelebihan ilmu, dan harta benda.
4. Tergolong takabur juga ialah kesukaan memakai gelar-gelar dan kesenangan dipuji.

Untuk melengkapi alat penjaga kekuatan ingatan ialah memperhatikan kesukaran-kesukaran yang ditempuh di zaman yang sudah-sudah, meneliti perkara yang sedang dihadapi dan mengaturnya dengan kias atau ibarat pikiran yang sederhana.

Asasnya ialah peraturan, nizham, atau organisasi, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya, mengerjakan tepat waktu, dan dibayar menurut janjinya. Jika pekerjaan telah diatur dengan peraturan, pikiran tenang, hati tenteram, dan jiwa pun tenang.

Derajat Kemarahan Manusia Buku: Akhlakul Karimah Pengarang: Buya Hamka  Kekuatan marah dalam hati apabila darah hati mendidih pa...

Derajat Kemarahan Manusia

Buku: Akhlakul Karimah
Pengarang: Buya Hamka 

Kekuatan marah dalam hati apabila darah hati mendidih panas dan berlebih dari jangkanya, kemudian mengalir ke dalam segenap urat dan darah. Jika tiba di mata, memerahlah mata, tiba di kuping, merah jua kuping, di tangan menjadi tinju, tiba di kaki jadi sepak, dan tiba dimulut menjadi caci maki. Tidak berbeda dengan mendidihnya air yang sedang dimasak, apabila tidak lekas dibuka tutup periuk yang sedang terjerang itu.

Di waktu yang seperti itu, terbagilah derajat manusia kepada tiga bagian di dalam mengendalikan kemarahan hatinya. Ada yang keterlaluan marah, ada yang dingin sekali nafsu marahnya, dan ada yang pertengahan.

Di dalam agama atau dalam pergaulan manusia tidak diperbolehkan menghabiskan rasa marah itu sama sekali. Apabila suatu bangsa, kaum, atau pemeluk agama tidak memiliki perasaan marah, niscaya berleluasa orang lain merusak binasakan anak turunan, sawah, ladang, dan harta benda.

Apabila kita tidak memiliki marah, tentu tidak ada lagi perasaan tanggung jawab, atau perasaan berjihad membela agama.

Kedua ialah moral yang melampaui batas yang membuat orang lepas kendali, menghantam dan memaki-maki orang lain tanpa memikirkan akibat lebih jauh. Moral seperti itu pertanda orang tersebut telah jatuh ke bawah pengaruh setan, sebagaimana terlihat pada wajah orang itu berwarna merah padam dan kadang kadang keluar air seleranya yang berbuih-buih.

Tidak jarang kita lihat orang yang sedang marah berbicara dengan menggebrak meja, mematahkan pensil, memecah botol tinta, dan menyobek kertas saat dia berada di kantor. Lebih celaka lagi apabila ia marah pada istri dan anak-anaknya. Tanpa disadari, tangan dan kaki ikut bicara sehingga membekas atau melukai anak dan istri yang tak berdaya. Kelak setelah marahnya reda, timbul rasa sesal, kemudian dia membujuk istri, meminta maaf, dan berjanji tidak akan mengulang perbuatan seperti itu. Namun, apabila marahnya timbul kembali, hal itu ia lakukan lagi.

Penulis pernah menyaksikan orang pemarah seperti itu, ringan tangan, dan suka memaki-maki. Akan tetapi, ia cepat menyesal. Dia menyesal karena telah menyakiti istri kemudian sebagai balasan justru ia memukul dirinya sendiri, persis seperti yang ia lakukan terhadap istrinya.

Seandainya pada waktu itu orang tersebut dihadapkan ke muka kaca, mungkin ia tak mengenal lagi wajah nya atau mungkin dia merasa melihat hantu. Jika yang membayang pada wajah sudah sedemikian buruk, niscaya gambaran batin di balik wajah itu lebih buruk lagi.

Sekali kita mengalami moral yang tak terkendali seperti itu, bisa berubah wajah seperti hantu, bisa di bayangkan betapa buruknya wajah orang yang pemarah. Wajah seperti itu selalu kelihatan kusut bahkan menakutkan. Dengan demikian budi yang kasar dan sifat pemarah sesungguhnya bisa membentuk wajah seseorang, misalnya kaum perempuan yang hatinya busuk, berbudi kasar, dan memiliki sifat pemarah yang tak terkendalikan, betapa pun dia berusaha me-make up wajahnya dengan bedak, gincu, dan wangi-wangian semuanya tak akan menolong.

Sebaliknya orang yang berbudi luhur, pandai mengendalikan diri, dan tidak cepat marah senantiasa menarik simpati karena wajahnya yang selalu tampak dihias meski tidak memakai bedak dan gincu.

Lidah orang yang suka marah selalu keluar ucapan-ucapan kotor, caci maki yang orang lain malu mendengarnya. Seperti pepatah orang Melayu, "Ayam tidak kuat mencotoknya, itik tidak suka menyudunya." Selain lidah yang mengeluarkan kata-kata keji, kemarahan yang tak terkendalikan bisa menggerakkan tangan untuk meninju, kaki untuk menendang, dan membuat orang berkelahi seperti binatang yang bisa saling membunuh.

Jika sifat seperti itu terjadi pada anak-anak, mungkin bisa dimaafkan karena orang menganggap akal anak-anak memang masih singkat. Akan tetapi, apabila mengenai orang dewasa, apalagi orang tua akibatnya akan besar sekali sehingga sulit dimaafkan.

Kerap kali kejadian orang yang mengalami kemarahan seperti itu menyadari kesalahannya, kemudian dia merasa malu pada orang lain yang menyaksikan. Apabila ada kesadaran seperti itu menandakan bahwa ia masih mempunyai budi baik dalam dirinya. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan ia marah dan lupa diri sehingga dipengaruhi oleh setan. Oleh sebab itu, apabila menerima suatu kejadian yang menyakitkan hati dan dapat menimbulkan amarah, hendaklah berusaha tenang dan ingat pada Allah SWT dan membaca istighfar.

Sesungguhnya sifat pemarah, apabila ia mau, masih bisa diubah dan diperbaiki. Akan tetapi, apabila orang tetap menurutkan nafsu, membiarkan dirinya tidak mau sadar dan minta ampun pada Allah SWT, pada hakikatnya orang itu tidak bisa digolongkan lagi sebagai manusia, derajat nya sudah turun menjadi binatang. Di tengah pergaulan dengan masyarakat, orang seperti ini pun biasanya akan tersisih, entah dia sendiri yang lebih suka menyendiri atau orang lain yang enggan mendekat padanya. Apa bila dia berbicara, orang lain hanya diam, tidak mendengar, pura-pura mengiyakan, atau karena menganggap tidak ada gunanya untuk dilayani.

Demikian sifat marah yang bersumber dari penyakit hati, ia bisa merusak diri, menjatuhkan martabat manusia menjadi binatang, dan merusak pergaulan dalam masyarakat.

Lebih jauh penyakit itu menyuburkan perasaan benci, dengki, dan dendam. Pandangan menjadi sempit dan tak ada lagi yang bagus dalam pandangan mata. Segala sifat-sifat itu membayang pada wajah sehingga menimbulkan rasa takut orang yang melihatnya.

Oleh sebab itu, setiap orang wajib memelihara diri dari godaan atau sifat pemarah. Marah adalah tabiat manusia, seperti sifat-sifat lain, ia tidak bisa hilang atau tidak perlu dihilangkan sama sekali dari diri manusia. Setiap manusia pasti marah apabila disakiti atau harga dirinya dijatuhkan apalagi jika agama dan keyakinannya dihina.

Orang tidak marah dan membiarkan dirinya dihina bukan berarti pandai mengendalikan diri, tetapi adalah orang yang dayus alias impoten. Walhasil, jagalah diri ini supaya tidak kehilangan kendali, jangan sampai sifat marah yang berada dalam diri kita keluar dari garisnya. Sifat marah yang ada dalam diri itu hendaklah dapat dipelihara untuk menjaga martabat dan agama dari penghinaan orang lain.

Al-Ghazali Abdul Qayum Rela Digantung Demi Membela Rasulullah saw di Era Penjajahan Inggris 6 Mei 1910 saat penjajahan Inggris m...

Al-Ghazali Abdul Qayum Rela Digantung Demi Membela Rasulullah saw di Era Penjajahan Inggris

6 Mei 1910 saat penjajahan Inggris merayakan Yubileum George V Raja Inggris naik tahta, di India terjadi kehebohan. Seorang penulis Hindu dari Aria Samaj mengarang buku yang menghina Rasulullah saw dengan nafsu kebencian dan tuduhan buruk. Muslimin India protes kepada Inggris. Penulisnya pun dipenjara menunggu bukunya ditarik dan kasusnya dicabut.
Sang penghina Rasulullah saw mengajak ulama Islam berdebat di muka pengadilan.

Seorang pemuda dari utara India yang bernama Abdul Qayum sangat terguncang perasaannya mendengar ada penulis yang menghina Rasulullah saw. Dicari informasi waktu persidangannya. Dia pun menghilang dari kampungnya padahal baru 4 bulan dia menikah. Dia berjalan ke tempat pengadilan. Singgah dan Tidur dari masjid ke masjid, sambil terus mengasah pisaunya.

Selama perjalanan, dia mendengar kemarahan muslimin dan kekhawatiran Inggris akan ringan menghukum penghina Rasulullah saw. Saat pengadilan dimulai, Abdul Qayum menyaksikan jalannya sidang dengan berpakaian berselimut tebal khas penduduk India Utara yang dingin. Dia duduk didekat majlis hakim dan penghina Rasulullah saw yang sedang berdebat dengan para ulama.

Abdul Qayum menyaksikan kepongahan penghina Rasulullah saw dalam perdebatan tersebut. Saat perdebatan semakin panas, Abdul Qayum mendekati sang penghina Rasulullah saw, lalu berkata kepada Majlis Hakim, "Orang yang kurang ajar kepada Nabinya umat Islam bukan diselesaikan dengan tanya jawab, tetapi diselesaikan dengan cara ini!" Sambil menancapkan pisau belatinya ke penghina Rasulullah saw. Sang penghina pun mati dengan bersimbah darah.

Saat polisi menangkapnya, dia berkata, "Jangan tergesa dan gugup menangkap saya. Tugas saya sudah selesai. Inilah Saya, tangkaplah dan tahanlah, dan inilah pisau belatinya."

Abdul Qayum dimasukkan ke penjara dengan wajah jernih berseri selama ditahan. Keputusan pengadilan memberikan hukum gantung yang eksekusinya dilakukan di tengah malam. Masyarakat protes atas hukum tersebut namun tak dihiraukan Inggris.

Setelah kesyahidannya, ratusan ribu kaum Muslimin mengantarkan jenazahnya ke liang kubur. Kaum Muslimin akhir bersepakat memberikan gelar kepadanya "Al-Ghazali."

Kisah ini bukan bermaksud mengajak umat Islam Indonesia mengacaukan keamanan. Maksud kita hanya menyerukan kepada pemeluk agama lain atau kaum yang mengejek agama supaya dapat menjaga ketentraman kita bernegara dengan tidak mengadakan sikap dan tingkah laku yang dapat menimbulkan cara yang diambil oleh Al-Ghazali Abdul Qayum.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 6, Buya Hamka, GIP, hal 337-339

Buya Hamka: Mengelola Pekerjaan Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani Ketahuilah bahwa kebai...

Buya Hamka: Mengelola Pekerjaan

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani


Ketahuilah bahwa kebaikan menolong para pegawai atau para pembantu menyebabkan naiknya urusan keuangan. Baiknya hubungan dengan buruh dan pegawai menyebabkan kayanya perbendaharaan.Oleh sebab itu, hendaklah dijaga betul peri penghidupan mereka, biar sedikit asal berguna daripada banyak yang tidak ada gunanya.

Ketahuilah, sebuah permata yang kecil dan ringan dibawa ke mana-mana, tetapi harganya amat mahal sedangkan sebuah batu besar yang berat dipikul, tetapi harganya murah.

Berusahalah mencari pegawai yang baik karena pegawai yang baik sama dengan senjata di tangan seorang tentara. Jika pegawai curang, ia serupa dengan tentara yang pergi ke medan perang dengan tidak membawa senjata atau tumpul pisaunya.

Yang paling penting, engkau tanamkan kepada rakyat bahwasanya tidaklah mereka akan mendapat pertolongan dari engkau jika mereka tidak menolong engkau lebih dahulu dalam menegakkan kebenaran.

Hendaklah orang jahat dan durjana merasa mereka tidak akan terlepas daripada hukum. Dengan sikap demikian adalah pada lahirnya engkau seorang raja, tetapi batinnya engkau seorang hakim.

Orang berakal ialah orang yang menguasai nafsunya dari berbuat sesuatu (yang akan ada dan terjadi) sesudah mati, Orang lumpuh ialah orang yang memperturutkan selera nafsunya dan berangan-angan atas Allah SWT akan segala angan-angan.

Saya tidak percaya engkau benar selalu. Sekali-kali engkau melakukan juga suatu kesalahan, tetapi tidak seorangpun boleh berdalih kalau dia telah menyelidiki mana yang benar dan mana yang salah. Jika suatu perkara amat sulit untuk diselesaikan, buntu jalan yang akan ditempuh, segeralah bertanya kepada orang yang pandai lagi berilmu.

Ketahuilah bahwa salah satu dari sifat manusia pasti terdapat pada dirimu. Pertama, orang alim yang sudi menambah ilmunya dari orang alim yang lain sehingga bertambahlah jua keutamaannya. 

Kedua, jahil yang merasa diri serba kecukupan sehingga pendapatnya tidak ada harganya. Tidak ada manusia yang sunyi dari aib dan tidak ada pula manusia yang segala perbuatannya salah.

Tidak ada halangan kalau engkau mengambil pertolongan dari orang di dalam sesuatu perkara yang diketahuinya, walaupun di dalam perkara yang lain ada celanya. Mendapat teman yang jahat amatlah berbahaya, tetapi lebih berbahaya lagi jika kehilangan teman yang jujur.

Dua sifat itu harus engkau perhatikan betul di dalam memegang kendali negeri. Pertama, pandai mempersatukan paham dan pendapat orang banyak. Kedua, teguh menjalankan pekerjaan.

Pekerjaan orang-orang besar terbagai dua pula. Pertama, pekerjaan kecil yang tidak perlu engkau turut mengerjakannya. Kedua, pekerjaan besar yang tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Jika sekiranya pekerjaan yang kecil engkau turut pula mengerjakannya, tentu pekerjaan besar akan terabaikan.

Jika pekerjaan yang besar engkau wakilkan kepada orang lain, tanda perkara yang selama ini engkau jaga akan habis lenyap, barang yang engkau pupuk dan perbaiki dalam sebentar waktu akan rusak binasa.

Akhirnya, sebagai penutup nasihatku, aku mohonkan kepada Allah SWT yang telah memilih nama keadilan untuk dirinya sendiri supaya engkau diberinya petunjuk dan dijadikannya engkau menjadi salah seorang penegak keadilan dan kebenaran di dalam lingkungan hamba dan bumi Allah SWT. Sekian wasiat Raja Plefus pada anaknya.

انگيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت والأحمق من اتبع نفسه هواها

وتمنى على الله الأماني

"Orang berakal itu ialah orang yang menguasai nafsu nya dan berbuat bagi sesuatu (yang akan ada dan terjadi) sesudah mati. Orang lumpuh ialah orang yang memperturutkan selera nafsunya dan berangan-angan atas Allah akan segala angan-angan." (HR at-Tirmidzi)

Buya Hamka: Syahwat Senantiasa Mengurangi Akal Sehatmu Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani...

Buya Hamka: Syahwat Senantiasa Mengurangi Akal Sehatmu



Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani


Untuk menjaga syahwat, haruslah engkau ketahui bahwa syahwat senantiasa mengurangi akal sehatmu. Syahwat dapat menjatuhkan kehormatan, menghalangimu dari pekerjaan yang baik dan benar karena syahwat itu salah satu bentuk nafsu.

Jika nafsu telah dipuaskan, akal sehat pastilah akan hilang. Jika syahwatmu membawa engkau keluar dari jalan yang mesti dilalui, hendaklah dihalangi dengan sekuat tenaga, bawa dia kembali ke jalan yang lurus dan benar, bertobatlah kepada Allah SWT.

Jika kebenaran ditinggalkan, tidak dapat tidak, engkau terseret pada kebatilan. Jangan diabaikan dorongan nafsu yang sedikit sebelum menjadi banyak.

Jangan di senangkan hati kalau sekiranya tangan telah sekali menjamah yang salah karena kecilnya sebab tiap-tiap amalan itu mempunyai lawan. Jangan dihabiskan umur pada barang yang tidak memberikan manfaat, harta jangan dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak perlu.

Jangan di habiskan kekuatan kepada barang yang tidak berguna, jangan dibawa pikiran kepada sesuatu yang tidak lurus. Peliharalah semuanya dengan sungguh-sungguh. Terutama umur karena segala faedah yang akan diambil hanya bergantung kepada umur.

Sekali-kali janganlah sombong dan merasa megah karena di dalam alam ini semua sama zatnya yaitu kita berasal dari tanah dan kesana pula semuanya kembali. Jangan berdusta karena kedustaan adalah bukti kehinaan diri dan kedangkalan akal. 

 Hak Pelajaran Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani Tiap-tiap orang mempunyai hak untuk bel...

 Hak Pelajaran

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani

Tiap-tiap orang mempunyai hak untuk belajar (menuntut ilmu) dengan segala tenaga serta kecakapannya. Jika ia tidak mempunyai ilmu, hak penanggungjawaban menjadi sia-sia terpegang di tangannya. Penyiaran ilmu dapat menghalangi jatuhnya hukuman lantaran aniaya karena ada orang yang melanggar hukum dengan alasan tidak tahu.

Meskipun tidak semua orang sanggup menuntut segala ilmu, tetapi setiap orang diwajibkan dan dimudahkan mencari ilmu sesuai dengan bakat dan pilihannya. Itulah sebabnya bangsa-bangsa yang maju mengadakan pelajaran paksaan dan diberikan dengan gratis bagi tingkatan yang pertama karena hak bersama.

Di dalam agama Islam ada perintah yang sekeras-kerasnya menuntut ilmu. Menurut Islam kecerdikan adalah cahaya dan kebodohan adalah kegelapan. Maka di negeri kita ini telah diusahakan oleh beberapa lembaga sosial (yang mementingkan soal masyarakat), memberantas buta huruf dan kemudian kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan pemerintah. Yang pandai menulis dan membaca belumlah cukup 80% dari jumlah seluruh penduduk di negeri ini

Buya Hamka Mengupas, Untuk Apa Kita Hidup? Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis       : Buya Hamka Penerbit     : Gema Insani A...



Buya Hamka Mengupas, Untuk Apa Kita Hidup?


Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis       : Buya Hamka
Penerbit     : Gema Insani

Apabila kita merenungkan kehidupan ini, kerap kali timbul pertanyaan dalam hati, "Untuk apa hidup saya ini?"

Pertanyaan seperti ini timbul dari manusia sebab di antara makhluk Allah SWT yang hidup di permukaan bumi ini, hanya manusia yang selalu dipenuhi tanda tanya, walaupun misalnya dia telah tahu, tetapi dia tetap bertanya juga. Bahkan yang menimbulkan filsafat timur atau filsafat barat ialah pertanyaan seperti ini, "Untuk apa saya hidup?"

Sebagai penganut agama Islam kita telah mendapat jawaban dari pertanyaan itu. Jawaban telah diberikan oleh Allah SWT sendiri, dengan wahyu yang disampaikan oleh Rasul. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an,

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (adz-Dzaariyaat: 56)

Ibadah berarti perhambaan. Berasal dari kata 'abdun yang berarti langsung menjadi bahasa-bahasa di daerah Indonesia. Orang Sunda menyebut dirinya sendiri abdi, orang Melayu menyebutkan dirinya hamba, dalam bahasa Indonesia sahaya, disingkat menjadi saya, dan dalam bahasa Jawa orang yang menghambakan dirinya dalam istana disebut "abdi dalem".

Dengan ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa maksud menciptakan kehidupan itu digunakan manusia untuk mengabdi atau untuk beribadah. Tempat beribadah atau mengabdi itu hanya semata-mata kepada Allah SWT saja.

Tegasnya, jika bukan untuk beribadah kepada Allah SWT, tidaklah berarti sama sekali hidup itu sebab tugas hidup tidak diisi.

Berkali-kali pula Allah SWT menyatakan di dalam Al-Qur'an tentang asal-usul kejadian manusia. Nenek manusia yang pertama dijadikan langsung dari tanah. Manusia keturunan Adam pun terjadi dari mani, mani  adalah saringan dari darah, kesuburan darah adalah dari makanan, dan tidak ada satu makanan pun di permukaan bumi ini yang tidak muncul dari tanah. Sebab itu, kita semuanya berasal dari tanah. Jika mati, kelak kembali jadi tanah. Oleh sebab itu, jika tidak melalui proses dari mani, jadi nutfah, jadi 'alaqah, jadi mudhghah, bertumbuh jadi manusia, kemudian melalui hidup bernapas dan kemudian mati. Ditilik dari segi itu tidak ada kelebihan manusia dari makhluk-makhluk bernyawa yang lain. Manusia itulah yang sadar akan hidupnya. Manusialah yang sadar bahwa dia mempunyai akal dan berpikir, mempunyai nalar (Salinan ke dalam bahasa Jawa dari kata Arab nazhar, yang berarti mempunyai pandangan), mempunyai ingatan, dan khayal karena manusia ada hidup maka dia pun berpikir. Pikiran inilah yang menjalar mencari arti dari hidupnya, yang selalu bertanya-tanya. Pertanyaan ini yang dijawab oleh wahyu dengan tegas, tidak usah ragu lagi bahwa hidup itu gunanya ialah untuk mengabdi.

Kemudian agama menerangkan lagi bahwasanya hidup itu tidaklah berakhir hingga ini saja. Di belakang hidup yang sekarang ada lagi hidup yang kekal, yaitu hidup akhirat. Di sanalah kelak akan diberi Allah SWT penilaian atas pengabdian yang telah dilakukan selama di dunia ini. Adakah hidup di dunia ini kosong atau berisi. Yang baik dapat ganjaran baik dan yang jahat dapat ganjaran buruk.

Buya Hamka: Para Pemegang Senjata Hendaknya yang Berideologi Allah tidak menyukai orang berkhianat, maka hendaklah orang yang be...

Buya Hamka: Para Pemegang Senjata Hendaknya yang Berideologi

Allah tidak menyukai orang berkhianat, maka hendaklah orang yang beriman menjaga kekuatan. Karena kalau pihak musuh memungkiri janji, kita hanya dapat menegurnya dengan kekuatan. Kalau kita lemah, maka tiap-tiap ada kesempatan niscaya mereka akan menginjak-injak janji mereka.

Berperang agar terhadap agama tidak ada fitnah lagi dan seluruh keagamaan sudah bulat menuju Allah. Bagaimana akan sanggup berperang kalau persiapan kekuatan tidak ada? Sebab itu Allah menegaskan supaya bersiap terus dengan segala alat senjata yang ada.

Di era Rasulullah saw, berperang dengan pedang dan tombak. Kian lama persenjataan kian maju, sampai kepada bedil dengan segala macam senjata, meriam dan akhirnya sampai ke peluru kendali dan nuklir. Ayat, " Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka apa yang kamu bisa." Menandakan terus bersiap siaga menuruti perkembangan persenjataan.

Di zaman Rasulullah saw, kuda sangatlah penting. Hingga sekarang belumlah mundur kepentingan kuda dalam perang. Disamping itu telah timbul kendaraan bermotor untuk perang, Panse Wagon, truk, tank, ditambah lagi kepentingan angkatan udara.

Angkatan perang dalam kesiapsiagaannya hendaklah senantiasa memelihara kudanya dan memautkannya dengan baik, artinya bila datang keadaan tiba-tiba hendaknya dapat siap menaikinya. Saat Umar bin Khatab membangun kota Kufah, dibuatlah tanah lapang di samping masjid sebagai tempat para pemuda melakukan latihan-latihan perang. Latihan memanah, melemparkan tombak, bermain pedang dan berkuda.

Ahli-ahli pertempuran selalu berkata, "The man behind the gun." Artinya, bukan senjata yang menentukan dan memutuskan, melainkan siapa yang berdiri di belakang senjata itu. Karena itu yang ditekankan ialah ketaatan kepada Allah dan Rasul. Jadi, kalau caranya sekarang, hendaklah pemegang-pemegang senjata itu orang yang berideologi. Yang sadar benar untuk apa senjata itu dipakai.

Dengan persiapan perang yang tangguh dan kuat itu akan berpikir musuh 1.000 kali sebelum memerangi kamu atau sebelum memungkiri janji. Orang munafik pun akan berpikir terlebih dahulu sebelum mereka berkhianat.

Terkadang bilamana musuh telah sangat membahayakan muslimin, berkehendak sangatlah dia pada perlengkapan senjata yang lebih banyak. Kadang perbelanjaan negara untuk bidang pertahanan sangatlah besar jika dibandingkan dengan perbelanjaan bidang lain. Kadang orang mengeluh lantaran ini.

Pajak negara terpaksa dinaikkan. Maka "Dan apa pun yang kamu belanjakan di jalan Allah, akan disempurnakan ganjarannya untuk kamu dan kamu tidaklah akan teraniaya." Merupakan peringatan bahwa pengorbanan untuk itu, apa pun yang dibelanjakan pastilah akan disempurnakan ganjarannya di sisi Allah. Masyarakat akan terjaga. Tidaklah kamu dapat diciderai oleh musuh dengan khianat dan curang sehingga kamu tidak binasa dan teraniaya.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP 

Buya Hamka: Membongkar Kemenangan dan Kekalahan Dalam Pertempuran  Ketaatan kepada Allah dan Rasul, yaitu tunduk, patuh dan disi...

Buya Hamka: Membongkar Kemenangan dan Kekalahan Dalam Pertempuran 

Ketaatan kepada Allah dan Rasul, yaitu tunduk, patuh dan disiplin yang keras terhadap pemimpin tertinggi pertempuran. Dalam perang Badar, Rasul sendiri yang memimpin. Taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah.

Jangan berbantah-bantahan, jangan bertengkar, jangan bertindak sendiri-sendiri, sebab bagaimana pun banyak bilangan pasukan dan senjata, kalo komando tidak satu, tidaklah ada jaminan menang. Perbantahan yang timbul karena tidak ada ketaatan pasti membawa lemah dan hilangnya kekuatan.

Sabar dalam pertempuran adalah daya tahan ketika menyerang dan menangkis. Sudah menjadi adat dari pertempuran yaitu memukul atau dipukul, kena dan mengena, haruslah dihadapi dengan kuat dan sabar. Karena hitungan belumlah dijumlahkan di pertengahan permainan, melainkan di akhir.

Ibarat main sepakbola, sebelum peluit panjang berbunyi, jangan lekas gembira karena dapat memasukkan bola ke gawang lawan, dan jangan putus asa jika gawang sendiri kebobolan.

Jangan sombong. Kesombongan hanya timbul pada jiwa yang kosong tak beriman. Kesombongan hanya timbul karena terlalu mengandalkan banyaknya bilangan dan lengkapnya senjata. Mereka yang riya, menonjolkan diri, ingin dipuji sebagai pahlawan, karakter ini ada pada kaum Quraisy saat perang Badar. Tujuan perangnya, "Seraya  menghalangi dari jalan Allah."

Dengan ini tampaklah kesalahan mental pertempuran yaitu sombong, riya dan hendak menghalangi dari jalan Allah. Orang beriman dalam berperang tidak akan ada penyakit ini. Islam akan berkembang dan menghadapi beragam perjuangan, Islam tegak dan jaya, tetapi kaum beriman jangan lupa daratan.

Allah mengetahui seluruh gerak-gerik, tahu segi kekuatan dan kelemahan. Allah mengungkapkan sifat-sifat perjuangan orang yang tak beriman. Kaum Muslimin jangan sekali-kali meniru hal itu. Sebab hukum sebab akibat berlaku untuk seluruh manusia. Siapa yang sombong akan dihancurkan oleh kesombongannya sendiri. Siapa yang tidak taat pada komando tertinggi pasti kalah walaupun mengaku beriman.

Sebab lain kekalahan musyrikindalam perang Badar  adalah perdayaan Syetan yang masuk ke dalam hati mereka. Syetan menyanjung, memuji-muji perbuatan mereka memerangi Muslimin dan menanggapnya perbuatan benar. Berhala nenek moyang harus dipertahankan sekuat tenaga.

Syetan memuji musyrikin Quraisy bahwa mereka inti seluruh bangsa Arab, disegani oleh seluruh kabilah tidak akan pernah dikalahkan oleh siapa pun. Syetan pun menghasut akan menjamin, melindungi dan membantu dalam memerangi Muhammad. Namun saat pertempuran terjadi, syetan melarikan diri. Ini peringatan kepada Muslimin agar berhati-hati kalau terjadi keadaan gawat pertempuran agar jangan kemasukan pengaruh syetan. 

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Buya Hamka: Fenomena Dzikir Bersuara Keras di Perang Kemerdekaan Kemenangan pasti didapat karena dua syarat. Yaitu, Jasad yang t...

Buya Hamka: Fenomena Dzikir Bersuara Keras di Perang Kemerdekaan

Kemenangan pasti didapat karena dua syarat. Yaitu, Jasad yang tak gentar dan teguh serta tetap hati dalam menghadapi musuh serta ruhani yang selalu ingat kepada Allah.

Ingatlah pangkal seruan, yaitu kepada orang beriman. Artinya, berperang bukan karena berperang tetapi ada yang diperjuangkan dan dipertahankan, yaitu iman!

Berdzikir berarti mengingat dan menyebut. Dzikir itu memang ada yang dijadikan semboyan perang dan sorakan kerasnya menaikan semangat dan mendatangkan gentar di hati musuh.

Seorang mantan serdadu Belanda yang pensiun di tahun 1937 menceritakan pengalamannya di Perang Aceh. Dia turut berpatroli sebagai Marsose. Dia menceritakan bahwa Mujahidin Aceh sebelum menyerang, mereka mengadakan ratib dengan berdzikir Laa Ilaha Illallah dengan suara bersemangat. Apabila ucapan itu telah terdengar, serdadu Belanda menjadi kecut karena mereka berjuang menjual jiwanya pada Allah.

Orang Aceh saat perang Aceh menamai dirinya sebagai Muslimin bukan Mujahidin. Karena menurut fatwa Ulama Aceh, yang benar-benar Islam sejati ialah yang pergi melawan Kompeni. "Janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan Muslimin." Kita juga teringat dzikir "Allahu Akbar"  ketika perang Kemerdekaan saat melawan Inggris di Surabaya tahun 1945.

Saat pemuda Islam di Jakarta membantu TNI menumpas kaum Komunis yang hendak menghancurkan NKRI, mereka menyerbu sebuah gedung kepunyaan komunis yang bernama Gedung Aliarcham di Pasar Minggu. Mereka bersuara bersama dan bersemangat menyerbu gedung dengan kalimat Allahu Akbar.

Mereka hantam dinding batu dengan tenaga badan bersama hingga hancur runtuh. Banyak anggota TNI yang turut hadir menjadi sangat heran melihat kekuatan yang timbul saat itu. Tidak memakai linggis dan alat-alat lain, hanya dengan kaki dan bahu-bahu mereka hancurkan dinding gedung dengan Allahu Akbar.

Tentara Jepang pernah menyerbu Indonesia memelihara sistem suara keras yang dihejan dari pusar untuk menimbulkan semangat. Betapa pun mereka menggunakan alat senjata modern, namun mereka tidak mengabaikan alat pusaka nenek moyangnya memakai suara keras saat menyerbu musuh.

Suku bangsa Indonesia yang terkenal memakai sistem suara keras dalam perang adalah bangsa Bugis dan Makasar. Suara perang mereka dinamai "Mangkauk".

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Paus Eugene IV dan Kardinal Cesarini Membujuk Penghianatan Atas Perjanjian Damai Terhadap Sultan Murad Tahun 1444 Masehi Sultan ...

Paus Eugene IV dan Kardinal Cesarini Membujuk Penghianatan Atas Perjanjian Damai Terhadap Sultan Murad


Tahun 1444 Masehi Sultan Murad (ayah Muhammad Al Fatih) membuat perjanjian damai dengan Raja Ladeslase dari Hongaria (Maghyar) selama 10 tahun. Saat itu usia Muhammad Al Fatih baru 14 tahun. Setelah perjanjian ditandatangani sang Sultan ingin mengundurkan diri dari kerajaan karena sudah tua. Hendak pulang ke Asia Kecil dan mengikuti Thariqat Maulawiyah.

Kerjaannya pun diserahkan ke Muhammad Al Fatih. Menurut perhitungan sultan, dengan perjanjian damai 10 tahun, maka tidak akan ada lagi peperangan antara Turki Utsmani dengan kerajaan Eropa. Apalagi perikatan perjanjian disumpah dengan Al-Qur'an bagi sultan dan Injil bagi raja Ladeslase. Setelah 10 tahun putranya akan berumur 24 tahun sehingga sudah sanggup memimpin peperangan.

Akan tetapi pihak kerajaan Eropa, Kardinal Cesarini wakil Paus Eugene IV, mengetahui rencana peralihan kekuasaan di Turki Utsmani ini. Dipikirannya, inilah waktu paling tepat untuk menghancurkan Turki Utsmani dan menghapuskan pengaruh Islam. Tidak ada waktu setepat saat itu. Maka dibujuklah raja Ladeslase supaya menghianati perjanjian tersebut.

Kardinal Cesarini juga membujuk Paus untuk mendukung rencana ini. Paus justru bergembira menerima usulan ini. Dasarnya, raja Ladeslase tidak meminta pertimbangan Paus saat membuat perjanjian tersebut dibuat. Kemudian dikirimlah surat dari Paus untuk seluruh kerajaan di Eropa untuk menyokong raja Ladeslase untuk menyerang Turki Utsmani. 

Raja Ladeslase awalnya menolak usulan tersebut. Namun karena mendapatkan surat dari Paus bahwa dia akan diberi anugerah pengampunan dosa maka ikutlah dia. Kardinal Cesarini juga meyakinkan raja Ladeslase dengan mengangkat tangan ke dada dan bersembahyang bahwa tidak berdosa jika orang Kristen memungkiri janji dengan orang Islam. Maka disusunlah Angkatan Perang Salib yang besar untuk menghancurkan Turki Utsmani.

Informasi ini sampai ke Sultan Murad. Dia paham, anaknya Muhammad Al Fatih belum mampu menghadapi pertempuran besar ini. Sang Sultan pun meninggalkan tasawufnya sementara waktu. Bersegera ke Istana. Diperintahkan Muhammad Al Fatih berburu. Selama Al Fatih berburu, sang Sultan memimpin peperangan dan mengelola pemerintahan.

Sang Sultan memberikan hadiah kepada armada Genua agar keluar dari pihak Salib. Armada Genua justru dimanfaatkan untuk membawa pasukan Turki ke Eropa dengan imbalan satu dinar emas untuk satu pasukan. Akhirnya 40 000 pasukan Turki dibawa ke Eropa.

Pertempuran berkecamuk. Sultan Murad menghadapi raja Ladeslase. Walaupun sultan sudah tua namun kemahiran bertempurnya belum padam. Sultan berhasil menghujam kan tombaknya dengan tepat ke dada Ladeslase hingga tembus ke punggung. Sedangkan Kardinal Cesarini melarikan diri dari pertempuran tersebut.

Sumber:
Tafsir Al Azhar Jilid 4, Buya Hamka, GIP

Buya Hamka: Membuka Rahasia Orang Lain Berarti Menyakitinya Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Pener...

Buya Hamka: Membuka Rahasia Orang Lain Berarti Menyakitinya


Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani


Membuka rahasia sangat terlarang yakni haram karena membukakan rahasia orang lain itu sama dengan menyakiti dan menghinanya. Banyak janji Allah SWT tentang menjaga kerahasiaan. Sampai di dalam hadits yang shahih pernah disebutkan, bahwasanya barangsiapa yang menutup rahasia orang lain, akan ditutupkan pula oleh Allah SWT rahasianya di hari kemudian. Termasuk di dalam tanda-tanda munafik, seorang yang dipercaya dengan suatu rahasia, kemudian ia membuka rahasia itu kepada orang lain padahal rahasia jika telah diketahui oleh tiga orang, sudah tidak rahasia lagi. Rasulullah saw. bersabda, "Jika ada orang menyampaikan perkataan kepadamu, sedang dia menoleh ke kiri-kanan dengan perasaan curiga, pertanda apa yang hendak dikatakannya merupakan suatu amanah yang wajib engkau pegang teguh."

Namun, rahasia boleh dibukakan jika sekiranya berbahaya bagi jiwa dan harta-benda, misalnya seorang membuka suatu rahasia dengan maksud hendak membunuh atau membakar rumah orang. Dalam hal ini tidak boleh lagi menyimpan rahasia itu, tetapi wajib dengan segera memberi tahu kepada orang yang terancam jiwanya itu.

Perkataan itu telah diringkaskan oleh Tsauban, "Segenap dusta itu dosa, kecuali untuk kemaslahatan kaum Muslimin atau untuk menolak mudharat dari diri kaum Muslimin."

Sesungguhnya ada pula beberapa dusta yang biasa terpakai dalam pergaulan hidup yang biasa pula diberikan didikannya kepada anak, misalnya ketika dipanggil orang untuk makan dengan mulut manis, “Silakan makan." Kemudian kita jawab saja, "Baru habis makan." Padahal kita sebenarnya belum makan. Dusta yang begini memaniskan pergaulan.

 Sebab kadang-kadang ketika kita bertamu ke rumah orang, kita diajaknya makan, padahal tidak ada persediaannya sehingga jika kita mau menurutkan ajakannya, akan beroleh malu dan kita terhitung orang yang tidak tahu basa basi. Kemudian kita jawab dengan ucapan, "Saya baru habis makan." Kadang-kadang yang empu nya rumah berkata, "Ah bohong." Kemudian kita jawab, "Memang saya baru habis makan."

Dusta yang begini karena terang bukan untuk mencelakakan orang lain, bukan untuk merusak tatanan masyarakat, bukan pula untuk merendahkan budi sendiri, tidaklah dilarang dalam agama. Semisal pula, dusta melebihkan kepentingan pembicaraan, misalnya "Sudah seratus kali saya katakan padamu, tetapi tidak juga engkau turuti perkataanku." Atau, "Kukumu sudah sepanjang hujan, tidak juga dikerat."

Kedua perkataan ini mengandung dusta sebab baru beberapa kali saja sudah dikatakan seratus, dan baru lebih sedikit saja sudah dikatakan sepanjang hujan.

Pada kedua perkataan ini tidak pula terdapat maksud berdusta, menipu, atau merugikan orang lain. Akan tetapi, untuk menekankan perkataan agar dipahami oleh orang lain, ucapan-ucapan seperti itu tidak boleh dikatakan sebagai dusta. Manakah batas dusta dan tidak, kembali pada budi masing-masing kita jua adanya.

Namun, yang sangat tercela ialah mengatakan bermimpi melihat suatu perkara padahal tidak. Itu pun merusak diri sendiri, di sana tidak ada tersimpan suatu maksud untuk mencari maslahat diri atau maslahat kaum Muslimin.

Buya Hamka: Kemerdekaan Berpikir Judul Buku : Akhlaqul Karimah Penulis : Buya Hamka Penerbit : Gema Insani Kemerdekaan ini wajib...

Buya Hamka: Kemerdekaan Berpikir

Judul Buku : Akhlaqul Karimah
Penulis : Buya Hamka
Penerbit : Gema Insani

Kemerdekaan ini wajib diberikan kepada segala manusia karena berpikir adalah sifat manusia yang khusus, bahkan pikiran itulah yang membedakan manusia daripada binatang dan menyebabkan manusia menjadi makhluk yang paling mulia di permukaan bumi ini. Manusia tidak kuasa meninggalkan pikiran itu dari otaknya, kecuali dia gila.

Pikiran menimbulkan keyakinan dan keyakinan boleh dinyatakan kepada umum, asal tidak menyinggung hak dan kemerdekaan orang lain. Untuk menjaga pikiran agar tetap sehat dan diterima orang lain secara sehat pula, di perlukan adanya aturan main atau undang-undang. Jika tidak demikian tentu mengakibatkan kekacauan.

Jika sekiranya orang merdeka mengerjakan suatu perusahaan atau pekerjaan menurut maunya, tentu berpikir pun demikian pula. Sebab pekerjaan yang merdeka timbul dari pikiran kita, berarti dia dengan jalan tidak langsung menghambat langkah kita. Pada hakikatnya tidaklah seorang yang kuat untuk menghambat kehendak manusia.

Oleh sebab itu, jika ada suatu kekuasaan hendak melawan kemerdekaan berpikir, kadang-kadang tidaklah pikiran itu yang dihambatnya, tetapi dicobanya mengubah bentuk pikiran itu dengan bermacam-macam jalan, lantaran kemerdekaan berpikir dengan kemerdekaan bekerja tidaklah dapat dipisahkan.

Kemerdekaan berpikir yang kita miliki adalah kemerdekaan yang teratur dan tersusun. Maka tiap-tiap macam kemerdekaan itu mempunyai sumber dan keduduk an di dalam diri kita sendiri. Undang-undang budi pekerti membentuk kemerdekaan bekerja, undang-undang akal membentuk kemerdekaan berpikir. Dengan jalan menambah kecerdasan akal, bertambah murnilah kemerdekaan berpikir.

Menjelajah Gua Tsur di Musim Haji 1900 M Gua Tsur hingga detik ini masih dapat disaksikan. Masih ada dan dapat dilihat mata sehi...

Menjelajah Gua Tsur di Musim Haji 1900 M

Gua Tsur hingga detik ini masih dapat disaksikan. Masih ada dan dapat dilihat mata sehingga apabila kita dapat ziarah ke sana, akan tergambar dalam ingatan kita kedahsyatan Hijrah saat itu, seakan-akan baru terjadi kemarin, maka akan bertambahlah cinta kita kepada Rasulullah saw kalau kita kuat mendaki Gunung Tsur hingga ke guanya.

Jauh kaki gunung itu dari Masjidil Haram adalah 5,5 mil. Sebelum kendaraan bermotor ada, termasuk sukar mencapainya. Dahulu dengan  baik kuda memakan waktu ke kaki bukitnya saja kira-kira 2 jam. Sekarang beberapa menit saja. Tetapi mendaki ke atasnya membutuhkan kekuatan nafas.

Dahulu tempat itu dibiarkan saja tak terurus. Tetapi orang-orang Haji yang yakin mencoba juga untuk mendakinya.

Pada tahun 1318 Hijriah atau 1900 Masehi, Amirul Haji dari Mesir, yaitu Ibrahim Rifat Pasya telah mencoba mendakinya, tetapi memakai kawal tentara Mesir beberapa kompi, karena waktu itu gangguan Badui terlalu banyak.

Pada waktu itu kalau mendaki tidak memakai rombongan, bisa mati dibunuh Badui dan dirampas barang-barang yang dibawa. Tetapi di zaman sekarang, asal badan kuat dan nafas tidak sesak, orang sudah mudah mendaki dan memasuki gua yang bersejarah itu.

Pintu gua ada dua, di sebelah timur dan barat. Masuk dari sebelah barat dengan merangkak, dan dari timur lebih lapang. Pintu sebelah barat itulah yang dimasuki Rasulullah saw dengan merangkak, dan disanalah laba-laba membuat sarang, sesudah Rasulullah saw masuk.

Sayangnya, sekarang sudah dihancurkan dengan dinamit, supaya orang-orang mudah memasukinya, tetapi nilai sejarahnya menjadi kurang karena itu.

Bila kita lihat bebas tempat itu, pahamlah kita bahwa dengan cara yang amat sukar Rasulullah saw dapat masuk ke dalamnya. Besar kemungkinan bahwa tempat itu sudah diteliti terlebih dahulu oleh beliau atau oleh suruhan beliau sebelum beliau bersembunyi ke sana.

Sumber:
Tafsir Al Azhar jilid 4, Buya Hamka, GIP

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (184) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (48) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (219) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (198) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (209) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (136) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (403) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (142) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (113) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (88) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)