basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story: Sirah Ulama

Choose your Language

Tampilkan postingan dengan label Sirah Ulama. Tampilkan semua postingan

Liku-liku Ketaatan Seorang yang imannya benar akan meninggalkan dosa besar dan kecil, lalu menetapkan ke-wara-an dengan meningga...

Liku-liku Ketaatan


Seorang yang imannya benar akan meninggalkan dosa besar dan kecil, lalu menetapkan ke-wara-an dengan meninggalkan syahwat, perkara mubah yang belum jelas dan hanya mencari kehalalan mutlak.

Sebagian besar waktunya, siang dan malam, untuk beribadah. Dia meninggalkan kebiasaan manusia sehingga tak heran jika terjadi hal-hal luar biasa. Dia pun mendapatkan rezeki yang tak terduga. Dia dibersihkan dan dijernihkan dari segala sesuatu.

Dia sudah lama menahan diri dan menghancurkan kebutuhan-kebutuhan yang bergelora di dadanya. Dia bersabar dalam memecah belah berbagai keinginannya. Tak jarang dia ditolak dalam ragam kondisi.

Dia berdoa, tetapi tak jua dikabulkan. Sudah meminta, tetapi tak diberi. Telah mengadu, tetapi yang diadukan malah bertambah. Telah meminta kelonggaran, tetapi tak mendapatkan. Sudah bertakwa, tetapi tak melihat jalan keluar.

Telah bertauhid dan ikhlas menjalani amalannya, tetapi tak kunjung didekatkan pada Dzat yang dituju oleh amalnya itu, seolah-olah dia bukan orang beriman dan bertauhid.

 Meskipun begitu, dia tetap teguh dan bersabar dalam menghadapi semuanya. Dia tahu bahwa kesabaran merupakan obat dan penyebab kejernihan hati dan kedekatan dengan Allah swt. Diapun meyakini bahwa kebaikan pasti datang setelah ujian ini.

Baginya, ujian ini merupakan penjelas, siapakah yang mukmin dan munafik. Manakah yang bertauhid dan musyrik. Yang ikhlas dan pamer. Pemberani dan pengecut. Yang konsisten dan labil. Yang sabar dan cengeng. Yang benar dan salah. Yang jujur dan pembohong. Pecinta dan pembenci.

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang mengobati luka dan bersabar atas pahitnya obat karena mengharapkan hilangnya penyakit.

Sumber:
Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Diliha...

Doa Burung Buta dan Orang Tua Renta


Anas bin Malik berceritera kebersamaannya dengan Rasulullah saw di sebuah perjalanan. Dilihatnya, ada seekor burung buta tengah mematuk-matuk pohon. Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Rasulullah saw bersabda, "Burung itu berkata, Ya Allah, Engkau Maha Adil. Engkau telah menghilangkan pandanganku, tapi ketika aku lapar, ternyata ada belalang yang masuk ke mulutku."

Lalu, burung itu mematuk lagi, Rasulullah saw bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang dikatakan burung itu?" Anas bin Malik berkata, "Tidak." Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya."

Dalam kisah lain, Malik bin Dinar pergi haji. Di perjalanan, ia melihat burung yang menjepit roti pada paruhnya. Ia mengikuti burung tersebut. Ternyata, burung itu mendatangi orang yang sudah tua renta, yang terikat di sebuah batang pohon.

Burung itu menyuapkan roti tersebut ke mulut orang tua itu sedikit demi sedikit. Setelah itu, sang burung terbang dan kembali dengan membawa air, lalu dialirkan ke mulut orang itu.

Malik bin Dinar mendekati orang itu, lalu bertanya, "Siapkan dirimu?" Orang itu menjawab, "Aku hendak berhaji, namun dicegat perampok. Mereka mengikatku di sini. Aku telah menahan lapar 5 hari. Lalu, aku berkata, "Wahai Zat yang mengabulkan doa orang yang terdesak, saat ini aku sedang terdesak, kasihanilah aku."

"Ternyata Allah mengirimkan burung ini kepadaku." Malik bin Dinar pun melepaskan ikatan orang tua itu dan mereka berangkat berhaji bersama."

Sumber:
Abdurrahman Asy-Syafi'i, A'malul Kubra, Sahara Publisher

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya  Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pe...

Pemeluk Majusi Berislam Karena Kotoran di Temboknya 


Abu Hanifah pernah menghutangi uang kepada seorang Majusi. Suatu hari ia pergi dengan maksud menagihnya. Di tengah jalan, sandalnya menginjak kotoran dan ia mengibaskannya.

Kotoran itu terpental dan menempel di tembok orang Majusi tersebut. Abu Hanifah bingung dan bergumam, "Jika aku gosok, aku akan merusak cat temboknya."

Akhirnya ia mengetuk pintu rumah Majusi tersebut, bukan untuk membicarakan penagihan hutang terlebih dahulu, tetapi bagaimana cara membersihkan tembok orang Majusi karena terkena kotoran yang tidak disengajanya.

Bagi Abu Hanifah menempelnya  kotoran di tembok milik sang Majusi secara tak sengaja merupakan bagian dari kezaliman yang akan dibalas di akhirat. Oleh karena itu dia berusaha keras mendapatkan kerelaan dari sang Majusi.

Saat Abu Hanifah mengetuk pintu sang Majusi, disangka hendak menagih hutangnya, maka sang Majusi berkata, "Beri aku waktu, wahai Imam." Abu Hanifah justru berkata, "Tembokmu terkena najis karena aku, jadi berikan jalan keluar kepadaku."

Sang Majusi terperanjat dengan pertanyaan Abu Hanifah, karena dia mendahulukan bagaimana cara menghilangkan kotoran di tembok rumahnya dibandingkan menagih hutangnya.

Orang Majusi itu bertanya kembali, "Wahai Abu Hanifah, apakah engkau ingin membersihkan tembokku?" Abu Hanifah menjawab, "Ya Benar." Sang Majusi tergopoh-gopoh membuka pintu rumahnya. Seketika itu pula sang Majusi langsung mengucapkan syahadat.

Sumber: 
Abdurrahman Asy-Stafii, Amalul Kubra, Sahara Publisher

Perbendaharaan Kata Para Da'i Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Umat ini tidak akan bisa kembali kepada Islam kecuali dengan dakwa...

Perbendaharaan Kata Para Da'i

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Umat ini tidak akan bisa kembali kepada Islam kecuali dengan dakwah yang mula-mula dilandaskan pada pengorbanan jiwa. Jika tidak, maka cita-cita tidak akan tercapai. Bersandar pada kemungkinan para pemimpin kekafiran itu mendengar nasihat dan bahasa diplomasi, itu semua tidak lebih dari perkara sepele semata.

Khalid bin Walid saat akan membebaskan Irak, dia mengabarkan karakter yang harus dimilikinya, "Kami datang kepada kalian dengan membawa orang-orang yang lebih berambisi kepada kematian daripada ambisi kalian kepada kehidupan."

Abdullah ibnu Mubarak menyampaikan kepada para pembaharu dan pahlawan jihad untuk mempresentasikan jiwa yang harus dimiliki, "Benci kehidupan dan takut kepada Allah mengeluarkanku. Dan, menjual jiwaku dengan sesuatu yang tidak ada harganya. Aku menimbang apa yang abadi untuk mengimbanginya. Apa yang tidak abadi, tidak, demi Allah, kami tidak menimbang."

Kamus bahasa para da'i terus berkembang untuk menunjukkan kesiapan dan semangatnya berdakwah. Sebagian da'i mengatakan, "Jadilah merdeka selamanya." Yang lain menambahkan, "Kita punya hari esok dan cita-cita." Ada yang menambahkan, "Agama-Nya adalah tanah air kami. Dan kami mengganggap ringan segala bencana."

Seorang sufi, Ruwaim, memperkenalkan istilah baru penyemangat dakwah dengan berkata, "Yaitu mengorbankan nyawa, bila tidak maka jangan sibuk dengan perkara-perkara sepele."

Seorang ulama berkata, "Tetesan darah masih terasa mahal bagi kaum Muslimin, selama tetesan darah masih terasa mahal, maka mereka tidak akan pernah mencapai apa pun, karena harga kejayaan dan kemerdekaan hanyalah tetesan darah belaka."

Muhammad Iqbal menutup daya tahan jiwa Muslimin dengan berkata, "Tegar, bila kebatilan merajalela. Berani menghadapi perang, itulah mukmin."  Islam menginginkan pengorbanan. Kebesaran tidak akan ada bersama kehidupan yang dipenuhi hawa nafsu.

Kiprah Hasan Al-Banna  Perjalanan umat ini akan dimulai dari Hasan Al-Banna. Beliau telah berhasil memadukan antara hukum syaria...

Kiprah Hasan Al-Banna 


Perjalanan umat ini akan dimulai dari Hasan Al-Banna. Beliau telah berhasil memadukan antara hukum syariat dengan tuntutan zaman, antara cita-cita yang melangit dengan pandangan realistis lapangan, antara kesempurnaan tarbiyah dan ta'lim dengan tatanan dan aktivitas politik serta ekonomi dan yang lainnya yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini.

Hasan Al-Banna telah membersihkan khazanah warisan Islam dari berbagai noda dan kotoran yang menempel padanya. Jangan menjauh dari jalan yang telah ditempuh olehnya, sebab sikap ini akan menjauhkan dari langkah  besar yang benar untuk menegakkan Islam di zaman sekarang.

Perbedaan tajam yang pernah terjadi antara fikrah Hasan Al-Banna dan realitas di lapangan Ikhwanul Muslimin di beberapa wilayah menjadi faktor timbulnya kegelisahan dan friksi di tubuh jamaah. Namun, kita tetap mendukung dan menghidupkan terus fikrah Hasan Al-Banna serta menyempurnakan kekurangannya dan berjalan di bawah naungannya.

Bagaimana agar tetap berada dalam fikrah ini? Pertama, kekuatan jiwa yang besar, yang dimanifestasikan dalam bentuk tekad yang kuat dan tegar. Kedua, kesetiaan yang utuh, bersih dari sikap lemah dan munafik. Ketiga, pengorbanan yang suci, yang tak diperdayakan oleh sifat tamak dan bakhil. Juga terpelihara dari kesalahan, penyelewengan, bujuk rayu dan tipu daya.

Hari-hari mendatangkan akan membuktikan bahwa gerakan Islam modern tidak akan dapat membebaskan diri dari fikrah Hasan Al-Banna, baik hanya di satu fase perjalanannya, di masa sebelum berdirinya negara Islam, maupun sesudahnya, di politik dalam negeri maupun luar negri, dalam bidang tarbiyah, takwiniyah, maupun strategi perjuangan dan pergerakannya.

Dakwah itu memiliki mata rantai, salafi, sufi, fiqh, pemikiran, jihad, tarbiyah, kekuatan dan lainnya pun memiliki mata rantai sejarah. Jika terjadi penggalan di salah satu rantainya, maka dakwah akan berantakan. Yang berbahaya adalah apabila terjadi pewarisan yang cacat namun menisbatkan diri kepada Hasan Al-Banna.

Oleh karena itu, bila tidak segera mengambil warisan dari kepribadian Hasan Al-Banna dalam ilmu, amal, kedalaman makrifat kepada Allah, ibadah kepada-Nya, ketakwaan, wara, zuhud, maupun gaya hidupnya yang mengambil langsung dari Rasulullah saw, maka kehancuran akan terjadi.

Hasan Al-Banna telah mengambil tasawuf, lalu membersihkan kotorannya. Mengambil aqidah, lalu membersihkan kotorannya, mengambil fiqh, lalu membersihkan kotorannya, dan begitu seterusnya. Akhirnya, semua yang dibutuhkan oleh umat Islam masa kini dapat tersedia dengan asas Islam yang bersih.

Sumber:
Said Hawa, Membina Angkatan Mujahid, Era Intermedia

Bukti Penghambaan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Tanda berakal. Yang sadar dan merasa diawasi Allah, niscaya akan membisu di hadapa...

Bukti Penghambaan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Tanda berakal. Yang sadar dan merasa diawasi Allah, niscaya akan membisu di hadapan Allah. Melihat semua kehendak Allah itu sebagai kucuran nikmat sekaligus bentuk kepedulian Allah kepada kita.

Jika berhenti dan tidak menentang, bersyukur dan tidak berfikir, rela dan tidak marah, diam dan tidak ragu, maka Allah berfirman, "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya." (39:36)

Janganlah tergesa-gesa. Bersabarlah, niscaya akan memperoleh sesuatu yang baik. Andai benar mengenal Allah, tentu tidak akan mengadukan apa yang datang dari-Nya kepada selain-Nya.

Seandainya benar-benar mengenal Allah, tentu akan membisu di hadapan-Nya, tidak meminta kepada-Nya, dan tidak mendesak-Nya dengan doamu. Sebaliknya, hanya menuruti-Nya dan bersabar bersama-Nya.

Orang yang berakal, tidak perlu gerasa gerusu dan kalut. Sebab, Allah hendak melihat bagaimana kita berbuat. Allah ingin menguji, apakah percaya dengan janji-Nya? Apakah yakin bahwa Allah memperhatikan dan mengetahui segala hal tentang diri kita?

Tidak sempurna iman seseorang bila hatinya tamak, serakah dan menuntut. Keimanan tak sempurna jika takut dan berharap dari makhluk. Perhatikanlah, bagaimana Allah menyelamatkan para Nabi, Rasul dan orang-orang shaleh dari musuhnya? Menolong mereka dan memberi jalan keluar dari perkara yang mereka hadapi?

Orang mukmin akan merasa, dialah satu-satunya ciptaan-Nya. Hanya dia yang dilarang. Hanya dia yang diperintah. Hanya dia yang diberi nikmat. Semua tugas kehidupan berada dipundak batin dan hatinya. Dipikulnya semua tugas tersebut sebagai bukti penghambaan dan ketaatan kepada Allah.

Sumber:
Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos

Fokus Dakwah Personal Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menyentuh hati, itulah titik fokus tarbiyah saat ini. Saat ilmu berseliweran d...

Fokus Dakwah Personal

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menyentuh hati, itulah titik fokus tarbiyah saat ini. Saat ilmu berseliweran di dunia maya. Saat pengetahuan biasa diakses secara gratis. Saat ustadz terkenal setiap saat bisa didengarkan tausiyahnya. Apa yang tak didapatkan dari dunia maya?

Interaksi hati dan perasaan, tak bisa ditemukan di dunia maya. Interaksi jiwa dan ukhuwah tak bisa tersambung di dunia maya. Tatapan wajah yang mengingatkan kepada Allah, hanya didapatkan dari pertemuan tatap muka.

Dialog eksklusif dan  personalisasi. Didengarkan dan sentuhan. Membangun habit dan pengendaliannya hanya bisa dilakukan saat pertemuan langsung.

Mengapa majlis dzikir terus membludak? Kumpul riung dan kongkow tetap dirindukan, walaupun dunia sudah terkoneksi dan bertatap muka dengan teknologi. Ada yang tak bisa diungkapkan dan dirasakan dengan teknologi tatap muka. Seperti menonton film, mengapa bioskop tetap dipenuhi pengunjung?

Halaqah bukan sekedar majlis ilmu dan pengetahuan. Bila sekedar itu, akan tergeser dengan teknologi dan buku-buku.  Mengapa ulama yang berhasil, justru yang bertemu dan belajar langsung dengan gurunya? Bukan belajar hanya dari kitab-kitabnya?

Seorang ulama Afrika ingin belajar kitab Al-Muwatha, kitabnya sudah dalam gengaman. Dia ingin belajar langsung dengan imam Malik. Ternyata imam Malik sudah wafat. Akhirnya, dia mencari seseorang yang belajarnya langsung bertatap muka dengan imam Malik. Mengapa tatap muka tak bisa digantikan dengan kitab?

Sumber ilmu utama itu bukan kitab. Sumber hikmah utama itu bukan ungkapan orang berilmu yang berjejer di dunia maya. Tempat ilmu ada di hati. Kecerdasan, hikmah dan kebijaksanaan  itu sumbernya di hati. Bertemu dan bertatap muka berarti berinteraksi dengan hati sang murabi yang diturunkannya ilmu dan hikmah langsung oleh Allah.

Karakter Generasi Dakwah Karakter generasi dakwah memiliki dua hakikat. Yaitu, tidak ada bumi yang membatasinya dan tidak ada pe...

Karakter Generasi Dakwah


Karakter generasi dakwah memiliki dua hakikat. Yaitu, tidak ada bumi yang membatasinya dan tidak ada penderitaan yang menakutinya. Tetap berkarya di mana pun tempat hijrah dan dibuang.

Bila tidak hijrah, maka penjaralah tempatnya. Penjara berarti wisata jiwa dan pemikiran. Dan, apabila digantung, maka jatuhnya tali merupakan keluhuran yang memindahkannya ke tempat yang indah dan mulia.

Tidak memuja kampung halaman, dan tidak sempit di dalam batasan yang dibuat penjajah sehingga membuat selain da'i mengiranya sebagai pembatasan. Dia bersaudara dengan setiap putra Islam.

Da'i melihat orang yang mengalahkannya dari atas selama dia beriman, dan meyakininya sebagai fase yang pasti berlalu. Dan sesungguhnya iman mempunyai pengulangan yang tidak bisa dihindari.

Da'i tidak akan tunduk pada kematian, karena setiap orang pasti mati, sedangkan da'i mati sebagai syahid. Ia meninggalkan dunia ini ke surga, dan orang yang mengalahkannya meninggalkan dunia ke neraka. Keduanya berbeda jauh.

Para jahiliyah lalai dari hakikat yang menjadi landasan para da'i, sehingga mereka mengusir para da'i dan mempersempit ruang geraknya. Tetapi pada akhirnya mereka merugi di setiap putaran karena bertabrakan dengan fitrah yang ditetapkan Allah pada para da'i-Nya.

Inilah jiwa kemerdekaan dan cita-cita para da'i. Kemerdekaan yang membebaskan para da'i dari beban ketamakan, dan cita-cita yang memotivasi mereka untuk berkorban.

Sumber:
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, Titik Tolak, Rabbani Press

Jamaah Satu Hati "Para pemuda akan selalu terpecah belah selama berbagai bentuk jiwa mereka tidak disatukan." Inilah u...

Jamaah Satu Hati


"Para pemuda akan selalu terpecah belah selama berbagai bentuk jiwa mereka tidak disatukan." Inilah ungkapan seorang ulama dari pengalaman tarbiyah yang dilaluinya atas dukanya perpecahan kaum Muslimin. Beliau menekankan bahwa perpecahan ini karena lepasnya "persatuan hati."

Menurutnya, tarbiyah tidak boleh dimulai dan tidak cukup dengan pengisian otak dengan segala hal yang diperlukannya seperti ilmu syar'i, pendidikan pemikiran, teori politik, dan studi realita saja. Tetapi harus dimulai dengan "pendidikan hati" terlebih dahulu, hingga semua hati saling berpadu. Perhatian kepada hati ini harus tetap diberikan sekalipun perhatian terhadap akal sudah dimulai.

Menurut Muhammad Iqbal, jamaah satu hati seperti kawanan burung yang bernyanyi dengan satu irama. Tidak ada burung yang menyempal sendirian dan tidak membawa irama sumbang yang dapat merusak keindahannya. Jamaah satu hati hanya terbentuk bila semua pihak memangkas nafsu dan memotong semua penonjolan diri, agar langkah kita menjadi harmoni. Yakni, muhasabah terhadap nafsu dan mencelanya.

Jamaah satu hati terbentuk bila yang berhimpun berkomitmen dengan tiga syarat. Yaitu, menempuh jalan Nabi Muhammad saw, menjadikan hawa nafsu sebagai mayat dan meletakkan dunia di belakang punggungnya. Andai nafsu memanggilnya, segera dicelanya karena tahu bahwa Yang Maha Melihat selalu membuntutinya.

Jamaah satu hati disebutkan oleh Rasulullah saw, "Sekelompok dari umatku akan tetap berada dalam kebenaran nyata dan kemenangan sehingga datang ketetapan Allah." Di hadist yang lain, "Umat ini akan tetap teguh melaksanakan perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang yang menentangnya hingga datang ketentuan Allah."

Jamaah satu hati saling melengkapi dengan kebaikan. Jamaah yang saling melengkapi spesialisasi masing-masing, yang keberadaannya akan memberikan gambaran pergerakan yang akan memenuhi kebutuhan umat dari segala bidang.

Imam Nawawi menggambarkan komposisi spesialisasi yang berhimpun di jamaah satu hati , "Satu kelompok dari berbagai bagian kaum Muslimin yang melaksanakan perintah Allah, dari kalangan mujahid, ahli fiqh, ahli hadist, ahli zuhud, orang yang memerintahkan yang makruf dan berbagai kebaikan lainnya. Mereka tidak harus berhimpun di satu tempat, tetapi boleh berpencar di berbagai tempat."

Sumber:
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, Hambatan Dakwah, Robbani Press 

Mengosongkan Diri Dari Syahwat Dunia Sekiranya paham tentang dunia, niscaya tidak akan mencarinya. Sebab jika dunia mendatangi, ...


Mengosongkan Diri Dari Syahwat Dunia



Sekiranya paham tentang dunia, niscaya tidak akan mencarinya. Sebab jika dunia mendatangi, dunia akan melelahkan dan menyibukkan. Bila dunia berkuasa, dunia akan mengecewakan. Namun, manakala mengenal Allah, maka akan dikenalkan dengan selain-Nya.

Bebaskan diri dari dunia. Tinggalkan pakaian dunia dan larilah darinya. Lepaskan pakaian nafsu dan berlarilah menuju pintu Allah. Bila telah terlepas dari nafsu, berarti telah terlepas dari semua selain Allah.

Kaum yang shaleh tidak memiliki kehendak dan pilihan di hadapan Allah. Tidak berambisi mencari bagian-bagian dunia dan tidak melirik bagian orang lain.

Jika ingin berhasil, hendaklah bersikap diam di hadapan-Nya baik lahir maupun bathin. Laksanakan perintah-Nya dan berhenti mengerjakan larangan-Nya. Ridha terhadap takdir-Nya, niscaya akan menemukan kebaikan dunia dan akhirat.

Jangan meminta sesuatu pun dari makhluk karena mereka itu lemah, fakir, tak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat. Bersabarlah bersama Allah.

Jangan tergesa-gesa terhadap-Nya. Jangan menganggap-Nya kikir. Jangan menuduh-Nya atas segala keburukan. Sebab Allah lebih mengasihi manusia daripada manusia itu sendiri.

Barang siapa yang ingin menempuh jalan Allah, hendaknya terlebih dahulu mendidik nafsunya sendiri. Apabila nafsu telah tunduk, temanilah nafsu menuju pintu Allah. Jangan bersepakat dengan nafsu, kecuali setelah latihan spiritual (riyadhah), belajar, beradab baik, dan tenang menghadapi janji dan ancaman Allah

Dengan melawan nafsu terus menerus (mujahadah), mata nafsu akan terbuka, lidahnya akan berbicara, telinganya akan mendengar, kegilaannya dan kebodohannya akan lenyap dan permusuhan terhadap Tuhannya akan berhenti.

Sumber:
Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos

Ditolong Allah Karena Manajemen Harta Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Kisah 3 pemuda yang terjebak di goa. Sebuah kisah yang menjela...

Ditolong Allah Karena Manajemen Harta

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Kisah 3 pemuda yang terjebak di goa. Sebuah kisah yang menjelaskan 3 karakter yang akan mendapatkan pertolongan Allah. Seluruh tenaga para pemuda dikerahkan secara maksimal dan bersamaan, tetapi batu yang menutup pintu gua tak bisa bergeser sedikitpun. Apa yang bisa menolongnya? Ternyata amal kebaikan di masa lalunya. Pertolongan Allah datang di waktu yang tepat, peristiwa yang tepat, dan saat seluruh sumber daya manusia tak berguna lagi. Amal shaleh adalah simpanan berharga.


Apa yang paling dominan dalam menggapai pertolongan Allah? Ternyata tentang pengelolaan harta. Pemuda pertama, mengalokasikan hartanya untuk ibunya. Kedua, sang pemuda hampir terjebak pengelolaan harta yang menjerumuskan pada hawa nafsunya. Ketiga, pengelolaan harta seorang pengusaha.

Pahami prioritas pengeluaran harta, kepada ibu atau istri? Kedua wanita ini merupakan tanggungjawab seorang laki-laki. Namun mana yang lebih utama? Para ulama telah membagi urutan keutamaan sebuah amal. Dari yang rukun, fardhu kifayah, fardhu ain, sunah muakadah dan sunah. Pahami urutan ini untuk pengelolaan harta. Harta menjadi tak berguna karena tak paham konsep dasar ini.


Waspadalah dalam mengelola harta, secara kasat mata bisa jadi amal akhirat, padahal pada hakikatnya hanya untuk meraih nafsu ego diri. Seperti pemuda yang membantu seorang wanita kerabatnya, karena ingin berzinah dengannya. Dengan harta, bisa "menundukkan" apa saja dan siapa saja demi ego pribadi. Harta telah menyimpang dari tujuannya. Harta diciptakan untuk menegakkan kehidupan bukan menuruti ego pribadi.

Salah satu bentuk ego dalam pengelolaan harta adalah mengeluarkan harta sesuai keinginannya saja. Seperti, boros, berlebihan, mubazir, dan bermewahan. Pengelolaan harta harus ada 3 pos yaitu konsumsi, investasi dan sedekah. Bila salah satu pos tersebut tidak ada, berati pengelolaan hartanya masih mengikuti egonya.

Dari semua pengelolaan harta tersebut, ternyata pengelolaan harta yang benar dalam berbisnis justru mendapatkan apresiasi terbesar dalam meraih pertolongan Allah. Bila benar dalam mengelola harta pribadi, maka akan benar pula dalam mengelola bisnis. Seperti itu tahapan kisah ke tiga pemuda tersebut.

Amanah dalam menjaga harta orang lain. Amanah dalam mengelola bisnis. Menyerahkan harta yang menjadi hak orang lain. Itulah intisari kisah pemuda yang ketiga. Mana yang lebih utama? Berharta dengan  mengambil hak orang lain atau mendapatkan pertolongan Allah? Umar bin Khatab menjadikan kemampuan pengelolaan harta menjadi kriteria diangkatnya seseorang sebagai teman dan pejabat negara.

Soal Hatimu Sibukanlah dirimu dengan mensucikan hatimu terlebih dahulu. Karena itu merupakan fardhu. Kemudian perluaslah dengan ...

Soal Hatimu

Sibukanlah dirimu dengan mensucikan hatimu terlebih dahulu. Karena itu merupakan fardhu. Kemudian perluaslah dengan marifatullah.

Jika engkau mengabaikan yang pokok, kesibukanmu dengan yang cabang tak akan diterima.

Tak ada manfaatnya bagimu mensucikan anggota badan, sedangkan hatimu dalam keadaan najis.

Sucikanlah anggota badanmu dengan sunah Rasulullah saw dan sucikan hatimu dengan mengamalkan Al-Qur'an.

Jagalah hatimu agar anggota badanmu terjaga. Setiap bejana merefleksikan isinya. Apa pun yang ada di hatimu akan tampak pada anggota badanmu.

Hati yang benar itu penuh dengan tauhid, tawakkal, keyakinan, taufik, ilmu, iman, serta dekat dengan Allah swt.

Dihadapan Allah seperti seonggok daging. Dia bersikap tawadhu dan merendahkan diri dihadapan orang shaleh, bertakwa dan wara.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Suasana Jiwa Yang Membuat Datangnya Pertolongan Allah Seberapa besar niat seorang hamba, semangatnya, itikadnya, dan keinginanny...

Suasana Jiwa Yang Membuat Datangnya Pertolongan Allah



Seberapa besar niat seorang hamba, semangatnya, itikadnya, dan keinginannya dalam mengerjakan kebaikan, maka sebesar itu pula pertolongan dan petunjuk dari Allah datang.

Pertolongan dari Allah akan turun kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan semangat, niat dan keinginan mereka.

Dan, kehinaaan dari Allah juga akan turun sesuai hal tersebut. Allah swt adalah Hakim Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.

Dia meletakkan taufik pada wilayah yang tepat, dan mendatangkan kehinaan pada momen yang tepat. Dialah Tuhan Yang Maha Mengetahui Yang Maha Bijaksana.

(Ibnu Qayim Al-Jauzy)

Menggapai Kemuliaan Dengan shalat malam, bacaan Al-Qur'an, tahajud  dan pertalian yang abadi dengan Allah, itulah jalan yang...

Menggapai Kemuliaan



Dengan shalat malam, bacaan Al-Qur'an, tahajud  dan pertalian yang abadi dengan Allah, itulah jalan yang akan mendatangkan kedudukan yang terpuji.

Rasulullah saw diperintahkan untuk bertahajud dan membaca Al-Qur'an agar beliau sampai pada kedudukan terpuji yang dipersiapkan oleh Allah, padahal beliau manusia pilihan Allah.

Maka, betapa lebih perlunya manusia-manusia lain pada wasilah-wasilah ini untuk meraih kedudukan mulia yang dipersiapkan bagi mereka? Itulah bekal perjalanan yang harus dimiliki.

(Sayyid Quthb)

Kenikmatan seorang Hamba Kebahagiaan seorang mukmin terdapat pada kesendiriannya untuk bermunajat kepada Allah (Ahli Ibadah dari...

Kenikmatan seorang Hamba


Kebahagiaan seorang mukmin terdapat pada kesendiriannya untuk bermunajat kepada Allah
(Ahli Ibadah dari Yaman)

Tahajud dapat menyejukkan mata para pelaku ibadah, sedangkan dahaga kala berpuasa akan membuat hati mereka bahagia bertemu dengan Allah.
(Yazid ibn Aban)

Tidak ada di dunia ini suatu momen yang lebih menyerupai kenikmatan ahli surga, kecuali yang dirasakan oleh orang-orang yang hati mereka merendah pada waktu malam karena menemukan kenikmatan bermunajat kepada Tuhannya.
(Orang Shaleh)

Tidak ada sesuatu pun yang lebih nikmat aku rasakan daripada mengerjakan shalat malam
(Tsabit Al-Banani)

Mari Kita Duduk Untuk Beriman Sesaat Juru dakwah yang beriman tidak akan pernah lepas dari dua tarikan. Yaitu, tarikan imannya, ...

Mari Kita Duduk Untuk Beriman Sesaat


Juru dakwah yang beriman tidak akan pernah lepas dari dua tarikan. Yaitu, tarikan imannya, niatnya, semangatnya, dan rasa tanggungjawabnya. Karena itu, ia selalu berusaha mengerjakan amal shaleh dan bertekad mengerjakan kebaikan.

Dan tarikan setan dari sisi lain. Ditampakkannya indah sikap bermalas-malasan dan cinta dunia. Karena itu, ia sangat cinta kepada dunia, malas, panjang angan-angan, suka mengkhayal, dan enggan mempelajari apa yang tidak diketahuinya.

Keterombang-ambingan di antara dua jenis tarikan itu merupakan sesuatu yang abadi, senantiasa ada sejak dulu.

Karena itulah, orang-orang Mukmin harus mewajibkan dirinya untuk selalu memikirkan, merenungkan, dan saling memberi nasihat, dengan senantiasa melakukan koreksi terhadap jiwanya. 

Jangan-jangan dihinggapi perasaan sombong atau congkak.
 
Mengoreksi hatinya. Jangan-jangan dihinggapi kecendrungan yang tidak baik.

Merenungkan ilmu dan imannya, jangan-jangan terkontaminasi oleh berbagai bidah, atau mengabaikan perintah dan petunjuk.

Muadz bin Jabal menerjemahkan sensitivitas ini dengan perkataannya yang kelak menjadi materi pedoman segenap generasi beriman.

Ia berkata kepada sahabatnya ketika ia memberi peringatan kepadanya, "Marilah kita duduk untuk beriman sesaat."

Kalimat ini kemudian dipakai oleh Ibnu Rawahah, maka berkatalah ia kepada Abu Darda sambil memegang tangannya, "Marilah kita beriman sesaat, sesungguhnya hati itu berbolak balik lebih cepat daripada berbolak baliknya air mendidih di dalam periuk."

Maka kita juga mengambil kalimat ini dari kedua mereka itu, sehingga menjadi nasihat dan pelajaran dalam memahami dakwah.

Dengannya kami menyeru juru dakwah untuk duduk sesaat mengambil pelajaran dan perenungan, beriman dan mengoreksi dirinya, ilmunya, dan semangatnya.


Sumber:
Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, Titik Tolak, Robbani Press

Sibuk Selain Allah Ketahuilah, menyibukkan diri dengan selain Allah adalah perbuatan bodoh. Demikian pula dengan takut dan berha...

Sibuk Selain Allah


Ketahuilah, menyibukkan diri dengan selain Allah adalah perbuatan bodoh. Demikian pula dengan takut dan berharap kepada selain-Nya.

Tak seorang pun dapat membahayakan  dan memberi manfaat kepada kita selain Allah swt. Dia-lah yang menjadikan sebab bagi segala sesuatu.

Hukum (syariat Allah) berjalan di atas sebab. Apabila kau amalkan hukum dengan sungguh-sungguh, sebab-sebab itu akan gugur darimu, sebagaimana dedaunan yang gugur dari pohonnya.

Sang penyebab muncul dan sebab-sebab pun lenyap. Isinya akan tampak, sedang kulit akan hilang. Isi itu bergantung pada Sang Sebab, seperti buah bagi pohon.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Sabar Dalam Perjalanan Hidup  Ingatlah,  umurmu telah habis untuk urusan makan, minum, pakaian dan mengumpulkan harta. Barangsia...

Sabar Dalam Perjalanan Hidup 

Ingatlah,  umurmu telah habis untuk urusan makan, minum, pakaian dan mengumpulkan harta.

Barangsiapa yang mengharapkan keberuntungan hendaknya bersabar menghadapi perkara yang haram dan syubhat dari keinginan nafsu.

Serta, bersabar dalam menunaikan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya; juga dalam mematuhi takdir-Nya.

Kaum yang shaleh telah bersabar bersama Allah dan tidak sabar jika jauh dari-Nya.

Mereka telah bersabar untuk Allah. Dengan kekuasaan-Nya, mereka bersabar hingga dapat bersama Allah.

Mereka berupaya meraih kedekatan dengan Allah. Mereka keluar dari rumah hawa nafsu dan tabiat mereka.

Mereka menjadikan syariat sebagai sahabat dalam perjalanan menuju Allah.

Mereka menghadapi berbagai musibah, ketakutan, penyakit, kesusahan, kelaparan, kehausan, ketiadaan pakaian dan kehinaan. Namun, mereka tidak memperdulikan semua itu dan tidak mundur dari perjalanan mereka.

Mereka terus maju ke depan tanpa mengubah arah perjalanan. Mereka terus demikian hingga mencapai kelestarian hati dan bentuk.

Wahai Muslimin, beramallah untuk menjumpai Allah swt. Malulah kepada-Nya sebelum menemui-Nya.

(Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Fathur Rabbani, Turos)

Konsisten Beramal Ketahuilah, semua kebahagiaan dan amal kebajikan yang terus menerus yang tetap bersamamu ketika perahumu tengg...

Konsisten Beramal

Ketahuilah, semua kebahagiaan dan amal kebajikan yang terus menerus yang tetap bersamamu ketika perahumu tenggelam itu terletak pada dua hal.

Pertama, kebersihan dan kesucian hati dari selain Allah.

Allah berfirman, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (26:89)

Kedua, penuhnya hati dengan makrifatullah yang menjadi tujuan penciptaan alam dan pengutusan para Nabi dan Rasul

Akhlak mulia adalah perilaku atau sikap yang merangkai kedua hal di atas pula.

(Imam Al-Ghazali, Raudhatu Ath-Thalibin, Turos)

Sebab Malu Kepada Allah  Malu kepada Allah karena pengetahuan hamba akan pengawasan Allah terhadap dirinya. Pengetahuan hamba te...

Sebab Malu Kepada Allah 

Malu kepada Allah karena pengetahuan hamba akan pengawasan Allah terhadap dirinya.

Pengetahuan hamba terhadap cacat-cacat diri dan ketidakmampuannya untuk menunaikan hak-hak Allah swt.

Siapa yang malu kepada Allah, hendaknya menjaga kepala beserta yang apa yang ada di dalamnya, perut beserta apa yang dimuatnya.

Selayaknya mengingat maut dan bencana, menginginkan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia.

(Imam Al-Ghazali, Raudha Ath-Thalibin, Turos)

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (199) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (50) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (216) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (166) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (428) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (194) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)