basmalah Pictures, Images and Photos
09/17/26 - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

24 Tahun Rahasia Terbuka: Apa yang Diketahui Inggris tentang Kejahatan Perang di Palestina? ...



24 Tahun Rahasia Terbuka: Apa yang Diketahui Inggris tentang Kejahatan Perang di Palestina?

Sejarah sering kali ditulis dengan tinta yang tidak terlihat oleh publik hingga saatnya tiba bagi para aktornya untuk mencuci tangan. Selama lebih dari dua dekade, kebijakan luar negeri Inggris terhadap Israel-Palestina tampak seperti sebuah teater ambivalensi yang terjaga rapi. 

Namun, dokumen-dokumen Foreign Office yang dideklasifikasi pada tahun 2024 telah mengoyak tirai tersebut, menyingkap bahwa London sebenarnya memiliki catatan lengkap mengenai kejahatan perang sejak tahun 2002.

Ada ironi yang getir saat kita melihat hari ini: pemerintahan Inggris pada tahun 2026 menyebut situasi di pemukiman ilegal sebagai "noda pada hati nurani dunia," sementara Tony Blair—pria yang menjabat saat dokumen-dokumen pelanggaran ini pertama kali disusun—kini duduk dengan tenang di "Dewan Perdamaian" (Board of Peace) yang mengawasi Gaza.

Melalui lensa arsip-arsip lama ini, kita terpaksa bertanya: apakah London selama ini benar-benar tidak tahu, atau mereka memang memilih untuk membiarkan kekerasan itu tumbuh subur?


Kesaksian Militer: "Pasukan yang Sombong dan Tukang Bully"

Pada tahun 2002, ketika intifada kedua memuncak, penilaian paling jujur mengenai militer Israel (IDF) justru datang dari dalam institusi militer Inggris sendiri.

Seorang perwira senior tentara Inggris memberikan evaluasi yang menghancurkan, jauh melampaui bahasa diplomatik yang biasanya penuh kompromi.

"[Pasukan Israel adalah] kekuatan kelas dua, tidak disiplin, sombong, dan tukang gertak (second-rate, ill-disciplined, swaggering and bullying force)."

Bagi seorang perwira tinggi Inggris, menyebut militer negara lain sebagai "kelas dua" adalah penghinaan profesional yang mendalam.

Ini bukan sekadar kritik atas kekerasan, melainkan pengakuan bahwa IDF beroperasi tanpa disiplin militer yang semestinya, lebih menyerupai gerombolan yang mengandalkan intimidasi daripada pasukan profesional yang patuh pada hukum perang. Inggris mengetahui hal ini sejak 24 tahun lalu, namun tetap memilih untuk memperlakukan mereka sebagai mitra strategis yang setara.


Pola Pelanggaran: Strategi yang Gagal Sejak Awal

Dokumen Foreign Office Maret 2002 mencatat realitas berdarah dari Operation Defensive Shield. Dalam satu bulan, 500 warga Palestina tewas, mayoritas adalah warga sipil. Pejabat Inggris saat itu tidak ragu menggunakan istilah "pola pelanggaran hak asasi manusia."

Catatan tersebut mengungkap sebuah pola yang bisa kita sebut sebagai "eksekusi sistemik": instruksi resmi militer Israel adalah menembak "ban mobil" atau "kaki" pelempar batu, namun anehnya, ambulans-ambulans secara rutin membawa pemuda dengan luka tembak fatal di kepala dan dada. 

Ini bukan kesalahan taktis; ini adalah pola penggunaan kekuatan mematikan yang disengaja di bawah kedok prosedur standar.

Lebih jauh lagi, dokumen tersebut mengungkap bahwa London telah diperingatkan tentang kegagalan strategi ini. Lord Michael Levy, utusan khusus Blair, pernah memperingatkan Menteri Pertahanan Israel saat itu, Binyamin Ben-Eliezer, bahwa tidak ada solusi militer bagi konflik ini.

Levy menegaskan bahwa kampanye brutal tersebut hanya akan "memanen" lebih banyak pelaku bom bunuh diri di masa depan. Inggris tahu bahwa strategi Israel bukan hanya ilegal secara moral, tetapi juga kontraproduktif secara keamanan—namun peringatan itu hanya terkubur dalam arsip.


Medis di Bawah Target: Dari Pelanggaran Menjadi Prosedur Tetap

Salah satu sisi paling gelap dalam dokumen 2002 adalah laporan mengenai staf Palang Merah yang diancam di bawah todongan senjata dan ambulans yang dilarang menyelamatkan korban luka.

Apa yang dicatat sebagai "pelanggaran" luar biasa dua dekade lalu, kini telah bermutasi menjadi prosedur operasi standar (SOP).

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperlihatkan benang merah yang mengerikan: terdapat 3.254 serangan terhadap layanan kesehatan selama 20 tahun terakhir di wilayah pendudukan.

Namun, detail yang paling mengejutkan adalah bahwa lebih dari separuh serangan tersebut—dan yang paling mematikan—terjadi hanya dalam tiga tahun terakhir. Apa yang dimulai sebagai intimidasi sporadis di tahun 2002 telah berkembang menjadi penghancuran sistematis terhadap infrastruktur kehidupan, di bawah pengawasan negara-negara yang mengaku sebagai penjaga hukum internasional.


Siklus Ambivalensi: Saat Tindakan Terus Menyusut

Melihat kronologi respons pemerintah Inggris terhadap eskalasi kekerasan di Palestina adalah melihat proses penyusutan moral yang konsisten:

Era Tony Blair (2002): Sempat menghentikan ekspor senjata secara rahasia untuk waktu singkat setelah mengonfirmasi peralatan Inggris digunakan di wilayah pendudukan. Sebuah langkah yang, meski singkat, menunjukkan masih adanya sisa-sisa kompas moral.

Era Gordon Brown (2009): Setelah 1.400 warga Palestina tewas dalam Operation Cast Lead, Inggris hanya mencabut lisensi untuk kapal cepat angkatan laut. Sebuah sanksi simbolis yang nyaris tak terasa.

Era David Cameron (2014): Meski 2.251 warga Palestina tewas (termasuk 551 anak-anak), ancaman penangguhan 12 lisensi senjata menguap begitu saja tanpa tindakan nyata.

Era Keir Starmer (2024): Di tengah kampanye paling mematikan dalam sejarah Gaza, pemerintahannya hanya menangguhkan 30 dari 350 lisensi senjata. Laporan menunjukkan ribuan amunisi tetap mencapai Israel melalui celah hukum yang sengaja dibiarkan terbuka.

Setiap kali angka kematian meningkat, keberanian politik London justru tampak semakin mengerut.


Titik Balik 2026: Rekor yang Akhirnya Terpecah?

Kini, pada tahun 2026, di bawah pemerintahan Andy Burnham, arah kompas mulai bergeser. Dukungan terhadap pembatasan perdagangan dengan pemukiman ilegal di Tepi Barat bukan sekadar perubahan kebijakan, melainkan pengakuan atas kegagalan selama 24 tahun.

Urgensi ini dipicu oleh angka fatalitas yang tak lagi bisa didebatkan: 73.658 warga Palestina tewas, di mana 21.500 di antaranya adalah anak-anak. Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah bukti nyata dari pola kekerasan yang telah dilaporkan oleh para diplomat Inggris sendiri sejak dua dekade lalu, namun dibiarkan membusuk tanpa intervensi berarti.

Arsip-arsip yang dideklasifikasi ini bukan sekadar catatan sejarah; mereka adalah surat dakwaan terhadap pengabaian yang disengaja. Inggris terus memasok senjata dan memberikan payung diplomatik sambil memegang laporan rinci tentang kejahatan yang dilakukan dengan senjata-senjata tersebut.

Jika data kejahatan sudah tersedia di meja para pengambil keputusan selama seperempat abad, maka persoalannya bukan lagi tentang kurangnya informasi, melainkan kurangnya nurani. Sejarah kini menunggu jawaban atas satu pertanyaan fundamental:

Dapatkah sebuah bangsa membersihkan 'noda pada hati nurani dunia' jika mereka sendiri yang selama ini menyediakan tintanya?

Di zaman jahiliyah, kepala-kepala suku bangsa Arab sekaligus menjadi pemimpin mereka dalam p...




Di zaman jahiliyah, kepala-kepala suku bangsa Arab sekaligus menjadi pemimpin mereka dalam pertempuran dan peperangan. Putra-putra suku biasanya memilih di antara mereka orang yang paling pemberani untuk memimpin suku, mengetahui urusan-urusan perang, mampu mengambil keputusan yang tepat di saat perang tanpa ragu-ragu, memiliki pengalaman di medan pertempuran, memiliki pikiran yang brilian, mau bermusyawarah dengan kaumnya, dan tidak semena-mena memaksakan pendapatnya sendiri.¹

Ketika Islam datang, kepemimpinan pemerintahan Islam yang diwakili Nabi saw. dan para Khulafaur-Rasyidin sepeninggal beliau memikul tugas untuk memimpin pasukan ke medan jihad. Dalam kondisi tertentu, mereka memilih komandan-komandan perang yang memiliki kompetensi untuk dikirim mewakili mereka.² Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memilih pemimpin militer yang mampu menjalankan tugas yang sangat vital dan berbahaya, karena mereka harus berhadapan langsung dengan musuh dan membawa pasukan Islam menghadapi berbagai risiko.

Mengenai hal ini, Umar berkata:

«“Sesungguhnya menunjuk seorang pemimpin pasukan kaum muslimin bagi saya lebih berat daripada menunjuk seorang pemimpin sebuah kota besar. Sebab, jika seorang pemimpin sebuah kota hendak melakukan sesuatu, kapan saja ia bisa berkonsultasi denganku. Sementara pemimpin pasukan tidak bisa melakukan hal itu. Mereka—para pemimpin militer—tidak bisa menghubungi dan berkonsultasi dengan seorang khalifah ketika perang sedang berkecamuk di medan pertempuran, karena ia memang tidak memiliki kesempatan dan akses komunikasi untuk melakukan hal itu.”»

Para khalifah memilih komandan pasukan dari kalangan sahabat. Mereka juga berpesan kepada para gubernur wilayah agar memperlakukan para komandan tersebut dengan baik dan tidak mengecam apa yang mereka lakukan, karena dalam Islam mereka memiliki kedudukan yang harus dijaga, diperhatikan, dan dihormati.³

Di antara sifat lain yang harus diperhatikan dalam memilih pejabat tinggi pemerintahan Islam ialah kecerdasan, kepandaian, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan yang dapat menimbulkan akibat fatal.⁴

Dalam memilih seorang komandan pasukan, para khalifah selalu mencari figur yang memiliki pikiran cemerlang, pemberani, dan berpengalaman.⁵ Ia harus memiliki keberanian yang luar biasa, terutama ketika berada di tengah medan pertempuran. Bahkan, ia harus memiliki kesiapan untuk mengorbankan hidupnya.⁶

Umar juga mempertimbangkan aspek lain dalam memilih seorang komandan pasukan. Sedapat mungkin, komandan tersebut berasal dari penduduk negeri setempat yang menjadi ajang pertempuran. Sebagai contoh, ketika menghadapi pasukan Persia di Irak, Umar mencari seorang komandan yang berasal dari Irak untuk memimpin pertempuran di wilayah tersebut.⁷

Hal serupa terjadi ketika Umar pernah diprotes oleh suku Bajilah karena menyerahkan jabatan komandan kepada orang yang bukan berasal dari kabilah mereka ketika hendak memberangkatkan mereka untuk berjihad di Irak dan Syam. Umar akhirnya memilih seorang komandan dari kabilah mereka.⁸

Parameter lain yang sangat penting dalam memilih seorang komandan perang adalah komitmen yang kuat terhadap agama. Akidah dan komitmen yang kuat terhadap prinsip-prinsip Islam memiliki peranan besar dalam menjalankan tugas seorang komandan dan memimpin pasukan.

Karena itu, para khalifah berusaha menjauhkan orang-orang yang pernah murtad kemudian kembali masuk Islam dari posisi-posisi strategis dalam kepemimpinan militer. Mereka tidak merekrut orang-orang seperti itu untuk menempati posisi strategis dalam memimpin pasukan, tetapi cukup menempatkan mereka sebagai pasukan biasa.⁹

Dalam konteks ini, Umar berkirim surat kepada para komandan pasukannya agar menggunakan orang-orang yang pernah murtad dan meminta pertimbangan mereka hanya dalam persoalan peperangan. Namun, ia melarang mereka menempatkan orang-orang tersebut pada posisi-posisi strategis yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.

Abu Bakar ra. juga mengatakan:

«“Jangan meminta bantuan orang yang murtad untuk memerangi musuh.”»

Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kemungkinan bahwa semangat Islam tidak lagi tertanam kuat dalam jiwa orang-orang tersebut sehingga dapat menimbulkan akibat fatal di medan pertempuran.

Dengan mencermati uraian di atas, terlihat bahwa para Khulafaur-Rasyidin menerapkan parameter dan standar yang ketat dalam memilih pejabat, gubernur, dan komandan pasukan. Mereka tidak menggunakan standar minimal yang berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan. Mereka juga tidak menjadikan nepotisme dan kolusi sebagai parameter dalam menentukan jabatan.

Sebaliknya, mereka menempatkan kepentingan agama dan keberhasilan pemerintahan sebagai pertimbangan utama. Dengan demikian, proses pemilihan pejabat diarahkan untuk memastikan bahwa orang-orang yang menduduki posisi penting memiliki kemampuan dan karakter yang dibutuhkan untuk menjalankan amanah pemerintahan serta mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.

Kesepakatan dan keselamatan dari perselisihan tidak mungkin diraih kecuali denga...


Kesepakatan dan keselamatan dari perselisihan tidak mungkin diraih kecuali dengan meminta keputusan hukum kepada para rasul mengenai apa yang kita perselisihkan. Hal itu dapat dijelaskan melalui beberapa hal berikut.

Pertama: Urgensi Kebutuhan kepada Risalah dan Asas-Asasnya

Ibnu Taimiyah berkata:

«“Sesungguhnya kebahagiaan dan petunjuk ada dalam mengikuti Rasulullah. Sesungguhnya kesesatan dan kesengsaraan ada dalam menyalahinya. Segala kebaikan, baik dalam entitas umum maupun khusus, sumbernya berasal dari arah Rasul, sedangkan segala keburukan pada diri hamba sumbernya adalah menentang Rasul atau tidak mengetahui apa yang dibawanya.»

«Sesungguhnya kebahagiaan seorang hamba dalam kehidupan dunia dan akhirat adalah dengan mengikuti kerasulan. Kerasulan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi hamba dan tidak mungkin tidak dibutuhkannya. Bahkan, kebutuhan manusia kepada kerasulan lebih besar daripada kebutuhan mereka kepada segala sesuatu. Kerasulan merupakan ruh dunia, cahaya, dan kehidupannya.»

«Apa kebaikan yang dimiliki dunia jika ruh, kehidupan, dan cahaya tidak ada? Dunia akan menjadi gelap dan terkutuk kecuali yang disinari oleh matahari kerasulan. Demikian pula seorang hamba. Ketika matahari kerasulan tidak terbit di dalam hatinya, dan ia tidak mendapatkan kehidupan serta ruh darinya, maka ia berada dalam kegelapan dan termasuk orang-orang yang mati.»

«Sesungguhnya Allah menjadikan para rasul sebagai perantara antara Dia dan hamba-hamba-Nya untuk memperkenalkan kepada mereka hal-hal yang bermanfaat dan berbahaya bagi mereka, menyempurnakan segala sesuatu yang menjadikan mereka baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Mereka semua diutus untuk menyeru manusia kepada Allah, memperkenalkan jalan yang mengantarkan mereka kepada-Nya, serta menjelaskan keadaan mereka setelah sampai kepada-Nya.»

Kebutuhan kepada risalah mencakup tiga asas utama.

Asas pertama, meliputi penetapan sifat-sifat Allah, tauhid, takdir, serta penyebutan hari-hari Allah bagi para wali-Nya dan musuh-musuh-Nya. Di dalamnya terdapat kisah-kisah yang Allah ceritakan kepada hamba-hamba-Nya dan berbagai perumpamaan yang Dia berikan kepada mereka.

Asas kedua, memuat rincian syariat, perintah, larangan, pembolehan, serta penjelasan mengenai apa yang dicintai dan dibenci Allah.

Asas ketiga, mencakup iman kepada hari akhir, surga, neraka, pahala, dan siksaan.

Berdasarkan ketiga asas inilah berporos penciptaan dan perintah. Kebahagiaan dan keberuntungan manusia bergantung kepadanya. Sementara itu, tidak ada jalan untuk mengetahuinya secara terperinci kecuali melalui para rasul.

Akal memang dapat mengetahui secara global urgensi perkara-perkara tersebut, tetapi tidak mampu memperoleh petunjuk kepada rincian dan hakikatnya. Keadaannya seperti orang sakit yang mengetahui bahwa dirinya membutuhkan pengobatan dan dokter, tetapi ia tidak mampu mengetahui secara terperinci jenis penyakit yang dideritanya maupun obat yang tepat untuk mengobatinya.

Kebutuhan seorang hamba kepada kerasulan bahkan jauh lebih besar daripada kebutuhan orang sakit kepada dokter. Sebab, apabila seseorang tidak mendapatkan dokter, akibat akhirnya adalah kematian tubuh. Adapun apabila seorang hamba tidak mendapatkan cahaya kerasulan dan kehidupannya, hatinya akan mati dengan kematian yang tidak lagi diharapkan kehidupannya untuk selama-lamanya, atau ia akan mengalami kesengsaraan yang tidak disertai kebahagiaan selama-lamanya.

Dengan demikian, tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti para rasul. Tidak ada keberlangsungan kehidupan penghuni bumi kecuali selama jejak-jejak para rasul masih ada di tengah-tengah mereka. Jika jejak-jejak para rasul tergerus dari bumi dan terhapus secara total, Allah akan membinasakan alam atas dan alam bawah, lalu membangkitkan kiamat.

Karena itu, nikmat Allah yang paling besar kepada hamba-hamba-Nya dan karunia-Nya yang paling mulia kepada mereka adalah diutusnya para rasul dan diturunkannya Kitab-Kitab-Nya, serta dijelaskannya jalan yang lurus kepada manusia. Tanpa semua itu, manusia akan berada dalam keadaan seperti binatang ternak dan binatang buas, bahkan lebih buruk daripada mereka.

Barangsiapa menerima risalah Allah dan konsisten di atasnya, maka ia termasuk sebaik-baik makhluk. Sebaliknya, barangsiapa menolaknya dan keluar darinya, maka ia termasuk seburuk-buruk makhluk dan keadaannya lebih buruk daripada anjing, babi, dan binatang buas.”42

Ibnul Qayyim berkata:

«“Dari sini Anda mengetahui urgensi seorang hamba, di atas segala urgensi lainnya, untuk mengetahui Rasul dan apa yang dibawanya, membenarkan apa yang dikabarkannya, dan menaati apa yang diperintahkannya. Sebab, tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan keberuntungan, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali melalui para rasul.»

«Tidak ada jalan untuk mengetahui kebaikan dan keburukan secara rinci kecuali melalui mereka. Dengan demikian, perbuatan, ucapan, dan akhlak yang baik tidak lain adalah petunjuk mereka dan apa yang mereka bawa. Merekalah timbangan yang dengannya ucapan, perbuatan, dan akhlak manusia ditimbang. Dengan mengikuti mereka, dapat dibedakan antara ahli petunjuk dan ahli kesesatan.»

«Dengan demikian, kebutuhan seorang hamba kepada para rasul lebih besar daripada kebutuhan tubuh kepada ruhnya, mata kepada cahayanya, dan ruh kepada kehidupannya. Sebesar apa pun kebutuhan yang dapat dibayangkan, kebutuhan dan keperluan seorang hamba kepada para rasul tetap lebih besar daripada itu.”43»

Namun demikian, manusia sangat cepat mengalami kebinasaan ketika mereka membantah para rasul, menolak mereka, dan berpaling dari apa yang mereka bawa berupa tanda-tanda yang jelas dan kebenaran yang terang, padahal semuanya mengandung kebaikan bagi seluruh alam.

Pada masa kini, manusia bahkan semakin banyak membantah warisan kenabian, semakin menolak, dan semakin berpaling dari apa yang dibawa para rasul untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Sebagian manusia menyombongkan diri di hadapan ajaran para rasul dengan menganggap bahwa manusia telah hidup begitu lama dan kini berada dalam era kemajuan dan peradaban, menguasai daratan, lautan, dan udara.

Mereka merasa cukup dengan ilmu-ilmu duniawi. Setan-setan dari kalangan manusia meniupkan berbagai keraguan ke dalam akal mereka dan menyeru mereka untuk membangkang kepada Allah dan syariat-Nya. Ajaran para rasul kemudian ditolak dengan berbagai dalih: bahwa syariat Allah membatasi akal, menghentikan laju kehidupan, serta menghambat peradaban dan kemajuan.

Lalu, apakah benar umat manusia hari ini telah mencapai suatu tingkat kemajuan yang membuatnya tidak lagi membutuhkan para rasul dan ajaran mereka? Apakah benar manusia mampu menuntun dirinya sendiri tanpa manhaj yang dibawa para rasul?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilihat dengan meneliti secara objektif dan adil kondisi manusia yang meninggalkan para rasul dan kerasulan, dalam berbagai tingkatannya, baik berupa kekafiran, kedurhakaan, maupun pengabaian.

Ketika kehidupan manusia dilepaskan dari petunjuk para rasul, akan tampak berbagai bentuk kerusakan: kesengsaraan dan kedukaan, kelaparan dan berbagai problem kehidupan, kesedihan, pembangkangan, kerugian, kezaliman, serta pendustaan.

Allah Ta'ala berfirman:

«أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”

(QS. Al-An‘am: 122)»

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (60) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (33) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (31) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (3) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (119) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (317) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (761) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (12) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)