basmalah Pictures, Images and Photos
07/10/26 - Our Islamic Story

Choose your Language

Bergembira dengan  Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul? Mengapa manusia begitu mudah bergembira ketika angin b...


Bergembira dengan 

Hembusan Angin, Mengapa Tidak Bergembira dengan Diutusnya Rasul?


Mengapa manusia begitu mudah bergembira ketika angin bertiup membawa awan hujan, tetapi banyak yang justru menolak ketika Allah mengutus seorang rasul?

Pertanyaan itu menjadi salah satu pola yang menarik dalam Surah Ar-Rūm. Di tengah pembahasan tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, Al-Qur'an menyisipkan kisah para rasul. Sekilas tampak sebagai tema yang berbeda. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, keduanya justru disusun dalam satu alur yang saling menjelaskan.

Dua Utusan dari Langit

Allah memulai dengan menjelaskan bahwa angin merupakan salah satu tanda kekuasaan-Nya.

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira..." (QS. Ar-Rūm: 46)

Angin datang membawa kabar baik. Ia menggerakkan awan, menghadirkan hujan, menghidupkan pertanian, menggerakkan pelayaran, membuka perdagangan, dan menjadi jalan manusia mencari rezeki. Seluruh proses itu berakhir dengan satu tujuan: agar manusia bersyukur kepada Allah.

Namun, tepat setelah membahas angin, Al-Qur'an beralih kepada utusan yang lain.

"Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus sebelum engkau beberapa orang rasul kepada kaumnya..." (QS. Ar-Rūm: 47)

Perpindahan tema ini bukanlah kebetulan. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa jika angin membawa manfaat besar bagi kehidupan dunia, maka para rasul membawa manfaat yang jauh lebih besar karena mereka membawa wahyu, petunjuk, dan keselamatan bagi kehidupan dunia sekaligus akhirat.

Dengan kata lain, Surah Ar-Rūm sedang memperlihatkan dua bentuk "pengutusan" dari Allah: pengutusan angin untuk menghidupkan bumi, dan pengutusan rasul untuk menghidupkan hati manusia.

Mengapa Angin Disambut, Rasul Ditolak?

Ketika angin menggiring awan dan hujan mulai turun, reaksi manusia digambarkan sangat spontan.

"...Apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira." (QS. Ar-Rūm: 48)

Padahal sebelumnya mereka hampir berputus asa karena kemarau panjang.

Mereka memahami bahwa hujan berarti kehidupan. Sawah kembali hijau, ternak terselamatkan, sungai kembali mengalir, dan roda ekonomi berputar lagi.

Namun ironisnya, kegembiraan yang sama tidak selalu muncul ketika Allah mengutus para rasul.

Padahal, jika hujan menghidupkan bumi yang mati, wahyu menghidupkan hati yang telah mati oleh kesyirikan, kezaliman, dan hawa nafsu.

Karena itu, manfaat diutusnya seorang rasul sesungguhnya jauh melampaui manfaat turunnya hujan.

Rahmat yang Terlihat dan Rahmat yang Tidak Terlihat

Allah kemudian mengajak manusia memperhatikan jejak rahmat-Nya.

"Perhatikanlah jejak-jejak rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering)." (QS. Ar-Rūm: 50)

Tanah yang sebelumnya tandus berubah menjadi subur. Bumi yang mati kembali dipenuhi kehidupan.

Perubahan itu menjadi bukti nyata bahwa Allah juga mampu menghidupkan manusia setelah kematian pada Hari Kebangkitan.

Sebagaimana hujan menghidupkan bumi, wahyu yang dibawa para rasul menghidupkan manusia dari kematian spiritual menuju kehidupan iman.

Rahmat Allah ternyata hadir dalam dua bentuk: rahmat yang tampak oleh mata melalui hujan, dan rahmat yang membimbing jiwa melalui wahyu.

Ketika Nikmat Berubah Menjadi Ujian

Surah Ar-Rūm tidak berhenti pada kisah turunnya hujan.

Allah mengingatkan bahwa angin yang sama juga dapat berubah menjadi sebab kehancuran.

"Sungguh, jika Kami mengirimkan angin, lalu mereka melihat tumbuh-tumbuhan itu menguning, niscaya setelah itu mereka tetap berbuat ingkar." (QS. Ar-Rūm: 51)

Angin yang sebelumnya membawa kabar gembira dapat berubah menjadi ujian. Tanaman mengering, hasil panen gagal, dan manusia kembali diuji: apakah mereka tetap bersyukur atau justru mengingkari nikmat Allah.

Demikian pula dengan risalah para rasul. Sebagian manusia menerima petunjuk sehingga memperoleh keselamatan. Sebagian lainnya menolak sehingga menerima akibat dari kedurhakaannya.

Karena itu Allah menegaskan bahwa para rasul datang membawa bukti-bukti yang nyata. Ketika kaumnya tetap membangkang, Allah menimpakan pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa, sedangkan orang-orang beriman memperoleh pertolongan-Nya.

Pelajaran Besar Surah Ar-Rūm

Rangkaian ayat ini memperlihatkan pola yang sangat menarik.

Angin diutus untuk menghidupkan bumi.

Rasul diutus untuk menghidupkan hati.

Hujan menghadirkan kehidupan jasmani.

Wahyu menghadirkan kehidupan ruhani.

Manusia bergembira ketika melihat awan mendung yang menjanjikan hujan. Namun, Al-Qur'an mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa manusia tidak menyambut dengan kegembiraan yang sama ketika Allah mengutus para rasul yang membawa petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat?

Jika hembusan angin saja layak disambut sebagai kabar gembira, maka diutusnya para nabi dan rasul adalah rahmat yang jauh lebih agung. Sebab melalui merekalah Allah tidak hanya menghidupkan bumi, tetapi juga membangunkan hati manusia menuju jalan yang lurus dan kemenangan yang hakiki.

Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara yang berkepanj...




Dua Model Pergantian Rezim Penguasa dalam Sirah Nabawiyah


Bagaimana sebuah rezim berganti tanpa meninggalkan perang saudara yang berkepanjangan?

Pertanyaan ini menjadi salah satu tema besar dalam sejarah politik manusia. Banyak pergantian kekuasaan berakhir dengan balas dendam, pembersihan politik, atau lahirnya konflik baru. Namun Sirah Nabawiyah memperlihatkan dua model transisi kekuasaan yang berbeda, tetapi sama-sama menghasilkan stabilitas.

Model pertama lahir ketika pemimpin berasal dari luar sistem kekuasaan yang ada. Model kedua muncul ketika rezim lama berhasil dikalahkan sepenuhnya. Menariknya, keduanya berakhir dengan konsolidasi masyarakat, bukan kekacauan.

Model Pertama: Hijrah ke Madinah

Ketika Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, beliau bukan berasal dari suku Aus maupun Khazraj. Beliau datang sebagai tokoh dari luar kota yang membawa risalah dan tata nilai yang baru.

Situasi politik Madinah saat itu sangat kompleks.

Aus dan Khazraj merupakan dua suku terbesar secara demografis, tetapi keduanya baru saja melewati konflik panjang yang melemahkan persatuan mereka. Di sisi lain, kelompok Yahudi memiliki pengaruh yang kuat dalam bidang ekonomi dan memiliki posisi penting dalam keseimbangan politik kota.

Bahkan, menjelang hijrah Rasulullah saw., Abdullah bin Ubay bin Salul hampir dinobatkan sebagai pemimpin Madinah.

Mengapa justru seorang tokoh dari luar yang akhirnya memperoleh legitimasi?

Para ahli sirah seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menunjukkan bahwa masyarakat Yatsrib membutuhkan sosok penengah yang tidak terikat dengan konflik lama. Rasulullah saw. diterima bukan melalui perebutan kekuasaan, tetapi melalui kesepakatan bersama yang kemudian diwujudkan dalam Piagam Madinah.

Menurut Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Rasulullah saw. tidak menghapus identitas berbagai kelompok yang ada. Aus tetap Aus, Khazraj tetap Khazraj, dan komunitas Yahudi tetap memiliki hak-haknya sesuai perjanjian. Yang berubah adalah dasar hubungan politik mereka: dari loyalitas kesukuan menuju komitmen terhadap aturan bersama.

Piagam Madinah menjadi fondasi kontrak sosial yang mengikat seluruh komponen masyarakat. Rasulullah saw. mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa, mengatur pertahanan bersama, serta menegaskan hak dan kewajiban setiap kelompok.

Dengan demikian, pergantian kepemimpinan berlangsung melalui legitimasi sosial, bukan dominasi militer.

Model Kedua: Futuh Mekah

Model kedua muncul dalam situasi yang sepenuhnya berbeda.

Selama lebih dari dua puluh tahun, kaum Quraisy menjadi penguasa yang memusuhi dakwah Islam. Mereka melakukan pemboikotan, penyiksaan, pengusiran, hingga peperangan terhadap kaum muslimin.

Secara logika politik, kemenangan atas Mekah dapat menjadi momentum pembalasan besar-besaran.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Saat memasuki Mekah sebagai pemenang, Rasulullah saw. menundukkan kepala dengan penuh tawaduk. Beliau kemudian mengumumkan pengampunan umum kepada penduduk Mekah. Hanya segelintir orang yang tetap dikenai hukuman karena tindak kejahatan yang sangat berat.

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menjelaskan bahwa kemenangan itu bukan sekadar penaklukan wilayah, melainkan kemenangan atas hati manusia. Sementara Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah menilai kebijakan tersebut sebagai strategi rekonsiliasi yang menghilangkan akar dendam politik.

Rasulullah saw. tidak menghancurkan seluruh struktur sosial Mekah. Beliau justru mengintegrasikan mantan lawan ke dalam masyarakat Islam yang baru.

Hasilnya segera terlihat.

Pada Perang Hunain, banyak tokoh Quraisy yang sebelumnya menjadi musuh Islam ikut berjuang bersama Rasulullah saw. Sebagian memberikan pinjaman perlengkapan perang, sementara yang lain turut memperkuat barisan kaum muslimin.

Musuh berubah menjadi bagian dari kekuatan negara.

Dua Jalan, Satu Prinsip

Jika dibandingkan, kedua model tersebut menempuh jalan yang berbeda.

Model Hijrah membangun pemerintahan melalui kontrak sosial sebelum kekuasaan terbentuk.

Model Futuh Mekah membangun stabilitas melalui rekonsiliasi setelah kemenangan diraih.

Para ulama sirah melihat bahwa keberhasilan keduanya bertumpu pada tiga prinsip yang sama.

Pertama, tegaknya aturan yang adil. Rasulullah saw. memimpin berdasarkan ketentuan yang mengikat seluruh masyarakat, bukan berdasarkan kepentingan kelompok tertentu.

Kedua, pemutusan rantai dendam. Di Madinah, konflik Aus dan Khazraj diakhiri melalui persaudaraan. Di Mekah, permusuhan panjang dihentikan melalui pengampunan.

Ketiga, integrasi seluruh komponen masyarakat. Kelompok yang sebelumnya berada di luar kekuasaan tidak disingkirkan selama mereka menerima aturan yang berlaku dan berkomitmen menjaga ketertiban bersama.

Pelajaran Sirah

Sirah Nabawiyah memperlihatkan bahwa pergantian rezim tidak selalu identik dengan penghancuran rezim sebelumnya.

Dalam model Hijrah, Rasulullah saw. menunjukkan bahwa kepemimpinan dapat lahir melalui kepercayaan masyarakat dan kontrak sosial yang adil.

Dalam model Futuh Mekah, beliau memperlihatkan bahwa kemenangan yang paling kokoh bukanlah kemenangan yang melahirkan dendam baru, melainkan kemenangan yang mampu mengubah lawan menjadi mitra dalam membangun masyarakat.

Dua peristiwa besar ini menunjukkan bahwa stabilitas sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi juga oleh kemampuan pemimpinnya membangun kepercayaan, menegakkan keadilan, mengakhiri permusuhan, dan menyatukan berbagai kelompok dalam satu tatanan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna? Su...


Persoalan Mendasar Perjalanan Manusia


Mengapa manusia akhirnya binasa, padahal Allah menciptakannya dalam bentuk yang paling sempurna?

Surah As-Sajdah mengungkap akar persoalan itu. Setelah menjelaskan asal-usul penciptaan manusia, Allah justru menyoroti dua penyakit mendasar yang terus mengiringi perjalanan manusia sepanjang sejarah.

Pertama, sedikit bersyukur atas nikmat Allah.

Kedua, mengingkari pertemuan dengan Allah pada Hari Kiamat.

Dua sikap inilah yang menjadi pangkal kerusakan akidah, moral, dan peradaban manusia.

Manusia Diciptakan dengan Sempurna

Surah As-Sajdah memulai penjelasannya dengan mengajak manusia menelusuri asal-usul dirinya.

Allah menciptakan manusia pertama dari tanah. Kemudian keturunannya berasal dari sari pati air yang hina. Setelah itu Allah menyempurnakan penciptaannya, meniupkan ruh ciptaan-Nya, lalu menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.

Seluruh perangkat itu diberikan agar manusia mengenal Penciptanya, memahami petunjuk-Nya, dan menjalani kehidupan dengan benar.

Namun, setelah menyebut seluruh nikmat tersebut, Al-Qur'an memberikan sebuah kesimpulan yang mengejutkan.

"Sedikit sekali kamu bersyukur." (QS. As-Sajdah: 9)

Menurut Tafsir Kementerian Agama, manusia dianugerahi berbagai potensi sejak dalam kandungan. Setelah lahir, seluruh kemampuan itu berkembang sehingga ia mampu melihat, mendengar, berpikir, dan merasakan. Akan tetapi, hanya sedikit manusia yang benar-benar mensyukuri nikmat tersebut.

Dengan kata lain, persoalan pertama manusia bukan kekurangan nikmat, melainkan kekurangan rasa syukur.

Mengingkari Pertemuan dengan Allah

Setelah membahas penciptaan manusia, Al-Qur'an langsung mengungkap persoalan kedua yang jauh lebih mendasar.

Orang-orang musyrik mempertanyakan kemungkinan hidup kembali setelah tubuh mereka hancur menjadi tanah.

"Apakah apabila kami telah lenyap di dalam tanah, kami akan kembali dalam ciptaan yang baru?" (QS. As-Sajdah: 10)

Lalu Allah mengungkap hakikat persoalannya.

"Bahkan mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka." (QS. As-Sajdah: 10)

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa persoalannya bukan sekadar keraguan terhadap proses kebangkitan, melainkan penolakan terhadap adanya hari ketika seluruh manusia harus mempertanggungjawabkan amalnya di hadapan Allah.

Padahal, Allah yang menciptakan manusia dari tiada tentu Mahakuasa untuk membangkitkannya kembali.

Kematian Bukan Akhir Perjalanan

Untuk membantah anggapan tersebut, Allah menegaskan bahwa kematian hanyalah perpindahan menuju kehidupan berikutnya.

"Malaikat maut yang diserahi tugas untukmu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS. As-Sajdah: 11)

Ayat ini mengubah cara pandang terhadap kematian. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, melainkan awal dari fase pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam.

Tidak seorang pun mampu menghindari saat itu.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Surah As-Sajdah kemudian membawa pembaca menyaksikan sebuah adegan pada Hari Kiamat.

Orang-orang yang dahulu mendustakan kebangkitan kini berdiri di hadapan Allah dengan kepala tertunduk.

Mereka berkata:

"Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah kami ke dunia agar kami beramal saleh." (QS. As-Sajdah: 12)

Seluruh keraguan mereka telah lenyap.

Seluruh bukti yang dahulu mereka tuntut kini berada di hadapan mata.

Namun, pengakuan itu tidak lagi bermanfaat karena masa ujian telah berakhir.

Sunnatullah dalam Petunjuk dan Balasan

Allah kemudian menjelaskan bahwa Dia mampu memberi petunjuk kepada seluruh manusia apabila menghendaki.

Namun, Allah menetapkan sunnatullah bahwa manusia diberi kebebasan memilih jalan yang akan ditempuh.

"Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan petunjuk kepada setiap jiwa." (QS. As-Sajdah: 13)

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa ketetapan ini merupakan bagian dari sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Sebagaimana seluruh ciptaan berjalan menurut hukum-hukum Allah, manusia pun diberi tanggung jawab untuk memilih antara petunjuk dan kesesatan, kemudian menerima akibat dari pilihannya.

Ketika Pertemuan Itu Benar-Benar Terjadi

Akhirnya datang keputusan yang tidak dapat dihindari.

Allah berfirman:

"Rasakanlah azab ini karena kamu telah melalaikan pertemuan dengan harimu ini." (QS. As-Sajdah: 14)

Mereka dahulu melupakan Hari Kiamat dalam kehidupan dunia.

Kini mereka merasakan akibat dari kelalaian tersebut.

Penyesalan tidak lagi mengubah keputusan Allah.

Pintu tobat telah tertutup.

Dua Akar Kehancuran Manusia

Jika seluruh rangkaian ayat ini dibaca secara utuh, Surah As-Sajdah menunjukkan bahwa kehancuran manusia berawal dari dua persoalan mendasar.

Pertama, manusia tidak mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Pendengaran, penglihatan, akal, dan hati yang seharusnya mengantarkan kepada keimanan justru digunakan untuk berpaling dari kebenaran.

Kedua, manusia tidak meyakini pertemuan dengan Allah. Ketika keyakinan terhadap Hari Pembalasan hilang, rasa tanggung jawab pun ikut hilang. Dari sinilah lahir kesombongan, kedurhakaan, kezaliman, dan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi.

Karena itu, Surah As-Sajdah tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia diciptakan, tetapi juga mengingatkan bagaimana manusia dapat menyelamatkan perjalanan hidupnya: dengan mensyukuri seluruh nikmat Allah dan senantiasa hidup dalam kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali serta mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah.

Asmaulhusna Allah dalam Pembagian Waris Mengapa Al-Qur'an menutup pembahasan hukum waris dengan menyebut Asmaulhusna Allah? Pertanyaan i...



Asmaulhusna Allah dalam Pembagian Waris


Mengapa Al-Qur'an menutup pembahasan hukum waris dengan menyebut Asmaulhusna Allah?

Pertanyaan ini jarang menjadi perhatian. Padahal, setelah menguraikan secara rinci pembagian harta warisan, Allah tidak sekadar mengakhiri dengan angka-angka dan persentase. Sebaliknya, Allah menutupnya dengan memperkenalkan sifat-sifat-Nya sendiri.

Pada akhir Surah An-Nisā' ayat 11, Allah berfirman:

«"Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."»

Kemudian, setelah melanjutkan rincian pembagian waris pada ayat berikutnya, Allah kembali menegaskan:

«"Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (QS. An-Nisā': 12)»

Pengulangan sifat Al-'Alīm (Maha Mengetahui) bukanlah tanpa maksud. Justru di sinilah fondasi hukum waris Islam dibangun.

Waris Dibangun di Atas Ilmu Allah

Pembagian warisan dalam Islam bukan hasil kesepakatan sosial, bukan pula produk budaya suatu zaman. Ketentuannya lahir dari ilmu Allah yang meliputi seluruh keadaan manusia.

Dalam ayat 11 Allah berfirman:

«"...Kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu."»

Kalimat ini mengingatkan bahwa manusia memiliki pengetahuan yang terbatas. Kita tidak mampu memastikan siapa anggota keluarga yang paling besar jasanya, paling banyak manfaatnya, atau paling layak memperoleh bagian lebih besar.

Karena keterbatasan itulah Allah mengambil alih penetapan pembagian warisan.

Ilmu Allah meliputi seluruh kemungkinan yang akan dialami manusia. Berbagai kondisi keluarga, keberadaan anak, orang tua, pasangan hidup, maupun saudara telah diperhitungkan dalam ketetapan-Nya. Tidak ada satu pun keadaan yang luput dari ilmu-Nya.

Itulah makna dominannya nama Allah Al-'Alīm dalam pembahasan waris.

Al-Hakīm: Pembagian Sesuai Tanggung Jawab

Namun ilmu saja belum cukup untuk melahirkan keadilan. Karena itu Allah menutup ayat pertama dengan nama-Nya Al-Hakīm, Yang Maha Bijaksana.

Kebijaksanaan Allah tampak dalam penempatan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.

Sebagian pembagian berbeda bukan karena perbedaan kemuliaan manusia, tetapi karena perbedaan tanggung jawab yang dibebankan syariat. Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa dalam kondisi yang disebutkan pada ayat tersebut, anak laki-laki memikul kewajiban nafkah bagi dirinya, istri, dan anak-anaknya, sedangkan perempuan tidak dibebani kewajiban nafkah keluarga setelah menikah. Karena itu, pembagian warisan dipadukan dengan pembagian tanggung jawab.

Keadilan dalam Islam tidak hanya berbicara tentang kesamaan angka, tetapi juga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Al-Halīm: Kasih Sayang dalam Hukum Waris

Pada ayat berikutnya Allah menutup pembahasan dengan nama-Nya Al-Halīm, Yang Maha Penyantun.

Sifat ini tampak ketika Al-Qur'an mengatur hak suami, istri, serta saudara seibu. Bahkan kepada kerabat yang hubungan nasabnya tidak sedekat anak dan orang tua, Allah tetap menetapkan hak-haknya.

Di sisi lain, Allah memerintahkan agar seluruh pembagian dilakukan setelah menyelesaikan wasiat dan melunasi utang pewaris.

Ini menunjukkan bahwa hukum waris tidak hanya menyelesaikan hubungan antarahli waris, tetapi juga menjaga hak pihak-pihak lain di luar keluarga yang masih memiliki hak atas harta peninggalan.

Allah juga melarang wasiat yang sengaja dibuat untuk merugikan ahli waris.

Seluruh ketentuan itu memperlihatkan bahwa syariat tidak hanya adil, tetapi juga penuh kasih sayang dan menjaga kemaslahatan semua pihak.

Syariat Adalah Cerminan Asmaulhusna

Pembahasan waris dalam Surah An-Nisā' memperlihatkan bahwa hukum Allah merupakan cerminan dari Asmaulhusna-Nya.

Ia lahir dari ilmu Allah yang sempurna (Al-'Alīm), disusun dengan kebijaksanaan-Nya (Al-Hakīm), dan dijalankan dalam bingkai kelembutan serta kasih sayang-Nya (Al-Halīm).

Karena itu, hukum waris bukan sekadar aturan pembagian harta, melainkan manifestasi dari sifat-sifat Allah dalam mengatur kehidupan manusia.

Batas-Batas Allah

Setelah seluruh rincian pembagian selesai dijelaskan, Allah memberikan penegasan yang sangat kuat.

«"Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (QS. An-Nisā': 13)»

Sebaliknya Allah memperingatkan:

«"Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar batas-batas ketentuan-Nya, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam api neraka dan baginya azab yang menghinakan." (QS. An-Nisā': 14)»

Penutup ini menunjukkan bahwa hukum waris bukan sekadar persoalan administrasi keluarga atau pembagian kekayaan. Ia merupakan bagian dari hudūdullāh—batas-batas yang ditetapkan Allah.

Karena itu, mengubah, mengurangi, atau meniadakan ketentuan yang telah Allah tetapkan bukan sekadar persoalan hukum perdata, melainkan persoalan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semakin seseorang memahami bahwa hukum waris lahir dari Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyantun, semakin tumbuh keyakinan bahwa seluruh ketetapan-Nya dibangun di atas ilmu, keadilan, dan rahmat. Dari keyakinan itulah lahir kepatuhan untuk menjaga batas-batas Allah dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.


Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggugah Ketauhidan Bagaimana Al-Qur'an menghancurkan kesyirikan? Menariknya, Allah tidak memulai dengan von...




Pertanyaan-Pertanyaan yang Menggugah Ketauhidan


Bagaimana Al-Qur'an menghancurkan kesyirikan?

Menariknya, Allah tidak memulai dengan vonis, melainkan dengan serangkaian pertanyaan. Satu demi satu, pertanyaan itu membongkar seluruh fondasi keyakinan orang-orang musyrik hingga mereka tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi di balik tradisi, prasangka, maupun hawa nafsu.

Surah Aṭ-Ṭūr menghadirkan salah satu rangkaian pertanyaan paling tajam dalam Al-Qur'an. Setiap pertanyaan memaksa manusia berpikir, sementara setiap jawaban yang jujur justru mengantarkan kepada pengakuan akan keesaan Allah.

Tantangan Pertama: Mampukah Menandingi Al-Qur'an?

Interogasi itu diawali dengan sebuah tantangan.

«"Cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur'an), jika mereka orang-orang benar." (QS. Aṭ-Ṭūr: 34)»

Jika mereka menuduh Al-Qur'an hanyalah karangan manusia, mengapa mereka tidak mampu menghadirkan satu kitab yang sebanding dengannya?

Tantangan ini menjadi pintu masuk untuk menguji kejujuran mereka sebelum Al-Qur'an menguji cara berpikir mereka.

Siapa Pencipta Manusia?

Setelah itu, Allah mengajukan pertanyaan yang menyentuh akar keberadaan manusia.

«"Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 35)»

Menurut Tafsir Kementerian Agama, pertanyaan ini menggugurkan dua kemungkinan yang sama-sama mustahil menurut akal sehat: manusia muncul tanpa pencipta atau manusia menciptakan dirinya sendiri.

Jika kedua kemungkinan itu gugur, maka hanya tersisa satu kesimpulan: manusia memiliki Pencipta.

Siapa Pencipta Alam Semesta?

Pertanyaan berikutnya memperluas cakupan pembuktian.

«"Apakah mereka menciptakan langit dan bumi?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 36)»

Tidak ada seorang pun yang berani mengaku menciptakan langit dan bumi. Bahkan orang-orang musyrik Arab sendiri mengakui bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta.

Masalah mereka bukan kurang bukti, tetapi kurang keyakinan untuk menerima konsekuensi dari pengakuan tersebut.

Siapa yang Menguasai Segala Urusan?

Jika bukan pencipta, apakah mereka pemilik seluruh kekuasaan?

«"Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 37)»

Allah membongkar anggapan bahwa manusia dapat menentukan siapa yang layak menjadi nabi, mengatur rezeki, atau mengendalikan alam semesta. Semua perbendaharaan dan seluruh kekuasaan berada di tangan Allah semata.

Dalam riwayat yang disebutkan Tafsir Kementerian Agama, ayat-ayat ini mengguncang hati Jubair bin Muṭ'im ketika ia masih musyrik hingga akhirnya menjadi salah satu sebab hidayah yang mengantarkannya kepada Islam.

Dari Mana Mereka Mendapat Pengetahuan Gaib?

Interogasi berlanjut.

«"Apakah mereka mempunyai tangga ke langit untuk mendengarkan hal-hal yang gaib?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 38)»

«"Apakah mereka mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, lalu mereka menuliskannya?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 41)»

Jika benar mereka mengetahui perkara gaib, Allah menantang mereka agar menghadirkan bukti yang nyata.

Kenyataannya, mereka hanya mengikuti dugaan, tradisi, dan hawa nafsu.

Mengapa Standar Ganda?

Allah kemudian membongkar kontradiksi cara berpikir mereka.

«"Apakah pantas bagi-Nya anak-anak perempuan, sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 39)»

Orang-orang musyrik menganggap anak laki-laki lebih mulia, tetapi justru menisbatkan anak perempuan kepada Allah dengan menyebut malaikat sebagai putri-putri Allah.

Al-Qur'an menunjukkan bahwa keyakinan itu bukan hanya bertentangan dengan wahyu, tetapi juga bertentangan dengan logika mereka sendiri.

Apa Kepentingan Nabi Muhammad?

Selanjutnya Allah membantah tuduhan terhadap Rasulullah saw.

«"Apakah engkau meminta imbalan kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan utang?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 40)»

Dakwah Nabi Muhammad saw tidak didorong oleh kepentingan materi. Beliau tidak meminta bayaran, tidak mencari keuntungan, dan tidak membebani manusia dengan kewajiban finansial.

Karena itu, penolakan kaum musyrik tidak dapat dijelaskan oleh alasan ekonomi.

Siapa yang Terkena Tipu Daya?

Allah lalu membongkar strategi mereka.

«"Apakah mereka hendak melakukan tipu daya? Justru orang-orang yang kufur itulah yang terkena tipu daya." (QS. Aṭ-Ṭūr: 42)»

Mereka merancang berbagai makar untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Namun sejarah membuktikan bahwa tipu daya itu justru berbalik menghancurkan mereka sendiri.

Pertanyaan Penutup

Rangkaian interogasi itu ditutup dengan satu pertanyaan yang menjadi inti seluruh pembahasan.

«"Apakah mereka mempunyai tuhan selain Allah?" (QS. Aṭ-Ṭūr: 43)»

Setelah seluruh kemungkinan dibongkar—mereka bukan pencipta manusia, bukan pencipta alam semesta, bukan pemilik perbendaharaan Allah, bukan penguasa alam, bukan pemilik ilmu gaib, dan bukan pihak yang mampu menggagalkan kehendak Allah—maka tidak ada lagi alasan logis untuk menyembah selain Allah.

Karena itu ayat tersebut ditutup dengan deklarasi tauhid:

«"Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."»

Interogasi yang Menuntun kepada Tauhid

Surah Aṭ-Ṭūr menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak sekadar menyampaikan doktrin keimanan. Ia mengajak manusia berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggugah akal sehat.

Setiap pertanyaan menyingkirkan satu demi satu fondasi kesyirikan hingga akhirnya hanya tersisa satu kesimpulan yang tidak dapat dibantah: Allah semata adalah Pencipta, Pengatur, Penguasa, Pemilik ilmu gaib, dan satu-satunya yang berhak disembah.

Inilah metode Al-Qur'an dalam membangun tauhid—bukan dengan mematikan akal, tetapi dengan menghidupkannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya telah Allah tanamkan dalam fitrah setiap manusia.

Surat Al-Qamar: Ringkasan Kehancuran Kaum Durhaka Langit pernah menjadi saksi sebuah peristiwa yang mengguncang Makkah. Bulan terbelah sebag...


Surat Al-Qamar: Ringkasan Kehancuran Kaum Durhaka

Langit pernah menjadi saksi sebuah peristiwa yang mengguncang Makkah. Bulan terbelah sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang diabadikan pada awal Surah Al-Qamar itu bukan sekadar mukjizat untuk membuktikan kerasulan beliau, tetapi juga menjadi penanda bahwa manusia telah memasuki fase akhir perjalanan sejarah menuju Hari Kiamat.

Lalu, apa ciri utama zaman menjelang berakhirnya kehidupan dunia?

Manusia diberi keleluasaan untuk memilih jalannya. Mereka dapat membangun peradaban, mengumpulkan kekuasaan, memperluas pengaruh, bahkan melakukan berbagai bentuk kezaliman demi memenuhi hawa nafsunya. Namun, di balik kebebasan itu terdapat satu kenyataan yang tidak dapat diubah.

Allah telah menetapkan keputusan-Nya.

«"Mereka mendustakan (Nabi Muhammad) dan mengikuti keinginan mereka, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya." (QS. Al-Qamar: 3)»

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa setiap urusan akan berakhir pada ketetapan Allah. Kaum yang terus mengikuti hawa nafsu akan berakhir pada kehinaan dan azab, sedangkan perjuangan para rasul dan orang-orang beriman akan berakhir dengan kemenangan yang Allah tetapkan.

Berkas Sejarah Kehancuran Peradaban Durhaka

Surah Al-Qamar dapat dibaca sebagai sebuah ringkasan investigatif tentang sejarah umat-umat yang menolak kebenaran. Surat ini menghadirkan kembali berkas-berkas kehancuran berbagai peradaban yang sebelumnya telah diperingatkan Allah kepada manusia.

Allah menegaskan:

«"Sungguh telah datang kepada mereka berita-berita yang di dalamnya terdapat peringatan." (QS. Al-Qamar: 4)»

Berita-berita itu bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan bukti nyata bahwa setiap peradaban yang mendustakan para rasul memiliki pola kehancuran yang serupa. Sayangnya, banyak manusia tetap mengabaikan pelajaran tersebut.

Karena itu Allah menyebut seluruh kisah tersebut sebagai hikmah yang sempurna.

«"(Berita-berita itu adalah) hikmah yang sempurna, tetapi peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka)." (QS. Al-Qamar: 5)»

Masalahnya bukan kurangnya bukti, melainkan hati yang telah tertutup sehingga tidak lagi mampu menerima kebenaran.

Lima Pola Kehancuran Besar

Setelah memberikan prinsip umum tersebut, Surah Al-Qamar menampilkan rangkaian kehancuran beberapa kaum besar dalam sejarah.

Kaum Nabi Nuh dihancurkan melalui banjir dahsyat. Air memancar dari bumi dan tercurah dari langit hingga menenggelamkan seluruh kaum yang tetap mendustakan risalah.

Kaum 'Ad dihancurkan oleh angin yang sangat dingin dan kencang. Angin itu mencabut mereka laksana batang-batang pohon kurma yang tumbang.

Kaum Tsamud dibinasakan dengan suara keras yang mengguntur sehingga mereka bergelimpangan tak bernyawa.

Kaum Nabi Luth dihancurkan melalui badai yang membawa hujan batu sebagai balasan atas kerusakan moral yang mereka pertahankan.

Fir'aun dan bala tentaranya akhirnya ditenggelamkan di laut setelah berkali-kali mendustakan seluruh mukjizat Nabi Musa.

Allah menyimpulkan penyebab utamanya dengan sangat tegas:

«"Mereka mendustakan semua tanda-tanda Kami. Maka Kami mengazab mereka dengan azab (Tuhan) Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa." (QS. Al-Qamar: 42)»

Perbedaan bentuk azab menunjukkan bahwa Allah memiliki tentara yang tidak terbatas. Air, angin, suara, batu, maupun laut seluruhnya berada di bawah perintah-Nya.

Peringatan bagi Kaum Quraisy

Sesudah memaparkan sejarah umat-umat terdahulu, Surah Al-Qamar mengarahkan pertanyaan kepada kaum Quraisy.

«"Apakah orang-orang kafir di lingkunganmu lebih baik daripada mereka?" (QS. Al-Qamar: 43)»

Pertanyaan itu menghancurkan rasa aman semu mereka. Jika kaum Nuh, 'Ad, Tsamud, Luth, dan Fir'aun saja tidak mampu menghindari ketetapan Allah, atas dasar apa kaum Quraisy merasa akan selamat?

Mereka bahkan membanggakan kekuatan kolektifnya.

«"Kami adalah golongan yang pasti menang." (QS. Al-Qamar: 44)»

Namun Allah langsung membantah keyakinan tersebut.

«"Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan berbalik ke belakang." (QS. Al-Qamar: 45)»

Menurut Tafsir Kementerian Agama, ayat ini turun di Makkah ketika kaum muslimin masih lemah, belum memiliki kekuatan militer, bahkan terus mengalami penyiksaan. Bertahun-tahun kemudian, janji itu terbukti secara nyata dalam Perang Badar. Pasukan Quraisy yang selama ini merasa tidak terkalahkan justru tercerai-berai dan melarikan diri.

Akhir Zaman: Berakhirnya Kezaliman

Surah Al-Qamar menunjukkan bahwa sejarah bukanlah rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa arah. Seluruh perjalanan manusia bergerak menuju keputusan Allah.

Akhir zaman bukan sekadar berakhirnya usia bumi, tetapi juga menjadi penutup seluruh episode kedurhakaan manusia. Setiap bentuk kesombongan, penindasan, pendustaan terhadap kebenaran, dan kezaliman memiliki batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah.

Karena itu Allah kembali mengingatkan:

«"Sungguh, Kami benar-benar telah membinasakan orang-orang yang seperti kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 51)»

Pertanyaan itu tetap menggema hingga hari ini. Sejarah kehancuran umat-umat terdahulu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi setiap generasi agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Bagi orang-orang beriman, Surah Al-Qamar menghadirkan harapan sekaligus tanggung jawab. Harapan bahwa kemenangan berada di tangan Allah, dan tanggung jawab untuk tetap istiqamah, berdakwah, serta tidak putus asa meskipun kezaliman tampak mendominasi. Sebab, sebagaimana ditegaskan Al-Qur'an, setiap urusan pada akhirnya akan berhenti pada ketetapan Allah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (35) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (18) Kecerdasan (311) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (45) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (69) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (265) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (652) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (291) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (245) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (169) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (26) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)