basmalah Pictures, Images and Photos
September 2023 - Our Islamic Story

Choose your Language

Rumah Abu Thalib, Pembentukan Karakter Pengusaha bagi Muhammad saw Oleh: Nasrulloh Baksolahar Abu Thalib dua kali diwasiatkan ay...

Rumah Abu Thalib, Pembentukan Karakter Pengusaha bagi Muhammad saw

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Abu Thalib dua kali diwasiatkan ayahnya, Abdul Muthalib, agar mengasuh sang yatim piatu, Muhammad saw. Dia kemenakannya dari saudara kandungnya Abdullah. Padahal kehidupannya miskin. Menghidupi anak-anaknya sendiri pun sulit. Namun tanggungjawab ini tetap dijaganya. Saat mengasuh Muhammad saw, di rumahnya diliputi keberkahan.

Abu Thalib sangat mencintainya. Bila Muhammad tidur dan keluar, selalu ditemaninya. Ia sangat memperhatikan makanannya. Bila makan, selalu menunggu dan bersama Muhammad saw.  Ada keanehan, bila makan bersama Muhammad saw, seluruh keluarga akan merasa cepat kenyang walaupun yang dimakan sedikit. Bila tidak bersama Muhammad saw, walaupun makanannya banyak, tetap saja kelaparan.

Abu Thalib pernah berkisah bahwa saat dalam perjalanan di  kota Dzulmajaz, ia kehausan. Air tidak ditemukan. Melihat hal tersebut, Muhammad saw mendekati pamannya lalu menancapkan tumitnya pada tanah dan muncullah air. Lalu Muhammad saw berkata, "Minumlah wahai paman!" Maka Abu Thalib pun minum.

Takdir para Nabi adalah hidup dari jerih payahnya sendiri. Di saat pengasuhan Abu Thalib, Muhammad saw mengembala domba milik bani Saad dan penduduk Mekah dengan mendapatkan upah. Setelah usia mencapai 12-13 tahun Muhammad saw merubah profesinya dari mengembalakan kambing menjadi berdagang bersama kafilah dagang pamannya.

Ada dua kisah perjalanan dagang bersama Abu Thalib dengan Muhammad saw yang diabadikan oleh ahli sirah. Pertama, perjalanannya menuju Yaman. Ketika kafilah dagang berada di sebuah lembah dengan membawa unta, kuda, dan anggur. Tiba-tiba seekor unta jantan gemuk dan besar datang mengeram seperti angin menuju kafilah. Mereka pun berlarian. Saat dihadapan Rasulullah saw tiba-tiba saja unta itu tengkurap di atas tanah. Lalu Muhammad saw mengambil dan menaikinya lalu menuntunnya ke kafilah Abu Thalib.

Saat Abu Thalib keluar berdagang ke Syam, Muhammad saw ikut bersamanya. Dalam perjalanan inilah, Abu Thalib bertemu dengan pendeta Bahira yang menyarankan agar Muhammad saw segera pulang agar identitas kenabiannya tidak terlacak oleh orang Yahudi. Pakar Manajemen Ekonomi, Dr Abdul Fattah As Samman mengatakan bahwa perjalanan dagang Abu Thalib dengan Muhammad saw ke Syam cukup sering dilakukan. Ini dilihat dari ragamnya pendapat pakar sirah tentang usia Muhammad saw mulai berdagang.

Rumah kakeknya melatih Muhammad saw menyerap karakter kepemimpinan kakeknya. Rumah pamannya, menempa dirinya menjadi pengembala dan pedagang yang merupakan takdir yang harus dilalui sebagai calon seorang Nabi dan Rasul. Karakter pengusaha ditempa di rumah Abu Thalib.

Sumber:
Ibnu Jauzy, Al-Wafa, Pustaka Al Kautsar
Aidh Al-Qarni, Rawai Sirah, Penerbit Al-Itishom
Abu Fattah As-Samman, Harta Nabi, Pustaka Al Kautsar 

Pesan Raja Yaman Kepada Abdul Muthalib Tentang Muhammad saw Oleh: Nasrulloh Baksolahar Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw, memim...

Pesan Raja Yaman Kepada Abdul Muthalib Tentang Muhammad saw

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw, memimpin delegasi Quraisy ke Yaman saat penobatan sang raja. Setelah bertemu dan memberikan sambutan penobatan. Sang raja yang bernama Saif bin Dzi Yazan memanggilnya dalam sebuah pembicaraan yang sangat rahasia. Sang raja berdiskusi tentang yang ditemukan dalam kitab suci dan buku kunonya yang menjadi koleksi pribadi yang selalu dijaganya. Ini hal berita agung, penting dan mulia bagi bangsa Arab, Quraisy dan Abdul Muthalib sendiri.

Sang raja bercerita, "Bila ada seorang anak yang lahir di Mekah yang kedua bahunya memancarkan keharuman, maka kelak dia akan menjadi pemimpin. Kamu akan meraih kemuliaan hingga Hari Kiamat nanti. Saat ini mungkin ia sudah lahir diasuh oleh kakek dan pamannya. Allah akan mengutusnya secara terang-terangan."

"Kelak anak ini (Muhammad saw) akan memuliakan pendukungnya dan mencela semua musuhnya. Ia dan pendukungnya membuat manusia waspada terhadap harta dunia. Bersama mereka pula, ditundukkan para penguasa dunia. Dihancurkan segala berhala. Dipadamkan api persembahan. Ia menyembah Sang Maha Penyayang dan dihalau setan  Sabdanya adalah hukum. Hukumnya adalah keadilan. Memerintahkan kebaikan dan melaksanakannya. Melarang kemungkaran dan menjauhinya."

Sang Raja melanjutkan, "Wahai Abdul Muthalib, engkaulah kakek anak itu. Jagalah cucumu. Lindungilah dari musuhnya. Seandainya aku masih hidup ketika ia dewasa, aku akan menjaganya dari marabahaya, dan melindunginya dari segala ganguan. Akan aku siarkan namanya, dan aku satukan bangsa Arab setelah ia dewasa."

Sang raja sangat bahagia bertemu dengan Abdul Muthalib sehingga dia menghadiahkan 200 unta, 10 budak Habsyi, 8 ons emas dan dua perhiasan berupa celak. Sambil berkata, "Wahai Abdul Muthalib, bila Muhammad sudah besar dan dewasa, kirimkan kabarnya kepada ku." Namun sang raja wafat sebelum Muhammad saw dewasa karena dibunuh.

Saat Abdul Muthalib pulang dia berkata kepada delegasi Quraisy lainnya, "Janganlah kalian cemburu, karena penghormatan sang raja kepadaku, bukan padamu, meskipun hal itu istimewa. Juga atas kebaikannya terhadapku, meskipun hal itu berlebihan. Tetapi cemburulah kepadaku karena suatu urusan yang ia sampaikan kepadaku tentang kemuliaan bagiku dan orang-orang setelahku." Temannya berkata, "Apakah itu?" Dijawabnya, "Kalian akan segera mengetahuinya dalam waktu dekat ini."

Setibanya di Mekah, Abdul Muthalib memanggil anaknya Abu Thalib, berwasiat agar memelihara dan mengasuh cucunya, anak kemenakannya juga yaitu Muhammad saw, dengan baik-baik. Inilah wasiat kedua. Wasiat pertamanya disampaikan ke Abu Thalib  saat Abdul Muthalib baru saja menggendong, memeluk dan mengasuh cucunya setelah kematian sang ibunya Siti Aminah.

Sumber:
Ibnu Jauzy, Al-Wafa, Pustaka Al-Kautsar
Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, GIP

Saat Sang Kakek Memilih Abu Thalib Jadi Pengasuh Muhammad saw Oleh: Nasrulloh Baksolahar Kakek Rasulullah saw, Abdul Muthalib, t...

Saat Sang Kakek Memilih Abu Thalib Jadi Pengasuh Muhammad saw

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Kakek Rasulullah saw, Abdul Muthalib, telah menyiapkan pamannya, Abu Thalib, sebagai penggantinya untuk mengasuh Rasulullah saw. Abdul Muthalib sangat sadar, usianya sudah mau memasuki 80 tahun. Andai dia wafat, siapakah yang akan mengasuh cucunya yang amat disayanginya?

Dr Aidh Al-Qarni dalam kitabnya Rawa'i Sirah, ketika Siti Aminah wafat, Abdul Muthalib menjemput Muhammad saw dan memeluknya dengan sangat lembut. Kelembutannya melampaui sikapnya pada anaknya sendiri. Melihat hal ini, kaum dari bani Mudlaj berkata, "Abdul Muthalib telah memperuntukan dirinya untuk dia (Muhammad saw)." Abdul Muthalib pun memanggil Abu Thalib lalu berkata, "Dengarkanlah apa yang mereka katakan!" Inilah pesan Abdul Muthalib kepada Abu Thalib bila kelak menjaga Muhammad saw.

Waktu pun bergulir. Suatu ketika Abdul Muthalib baru datang dari Shan'a, ibukota Yaman, menjadi utusan Quraisy untuk menghadiri penobatan Saif bin Zi Yazin menjadi raja di Yaman. Setelah itu dia sakit, lalu berwasiat kepada Abu Thalib untuk memelihara dan mengasuh kemenakannya dengan baik. Setelah itu Abdul Muthalib wafat.

Mengapa Abdul Muthalib menitipkan cucunya, Muhammad saw, kepada Abu Thalib? Padahal Abu Thalib bukan anaknya yang tertua? Bukan pula anaknya yang kaya? Abu Thalib merupakan anak Abdul Muthalib yang paling tidak mampu. Apakah ini keputusan yang serampangan?

KH Moenawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, menjelaskan dari seluruh anaknya Abdul Muthalib hanya Abu Thalib yang memiliki karakter menonjol dalam menyayangi dan mencintai cucunya. Bahkan kecintaan Abu Thalib pada Muhammad saw melebihi kecintaan pada putranya sendiri. Di samping itu, Abu Thalib disegani dan dihormati oleh seluruh kabilah Quraisy karena perangainya yang luhur dan mulia.

Menurut  Ibnu Jauzy pada kitabnya Al-Wafa, penyebab Abu Thalib diwasiatkan menjadi pengasuh Muhammad saw oleh Abdul Muthalib, karena dia saudara satu ibu dengan ayahnya Muhammad saw yaitu Abdullah. Pendapat lain, karena kemauan sendiri Abu Thalib atau Muhammad saw sendiri  yang memilihnya.

Abdul Muthalib sangat sadar bahwa kelak cucunya akan menjadi orang besar dan mulia. Oleh sebab itu dia telah memilih dan menyiapkan sosok yang tepat untuk mengasuh dan mendidik cucunya bila dia wafat. Sosok itu ada pada Abu Thalib.

Mengembala, Training Center Kenabian Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Nabi Musa sejak kecil di istana Firaun. Saat takdirnya menjadi ...

Mengembala, Training Center Kenabian

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Nabi Musa sejak kecil di istana Firaun. Saat takdirnya menjadi Nabi dan Rasul, terjadilah peristiwa pemukulan terhadap pemuda Mesir yang menyebabkan kematian. Prajurit Firaun pun mengejarnya. Nabi Musa menghilangkan jejaknya dengan mengembalakan kambing di negri Madyan. Takdir Nabi dan Rasul memang harus sebagai pengembala.

Rentetan peristiwa kematian ayahnya dan kakeknya Muhammad saw, membawanya pada pengembalaan domba di bani Saad tempat Halimah tinggal. Juga, pengembalaan di kota Mekah untuk membantu kehidupan pamannya, Abu Thalib saudara kandung ayahnya dengan menerima upah dari penduduk Mekah. Rentetan takdir calon Nabi dan Rasul membawanya ke pengembalaan domba.

Nabi Ibrahim melakukan perjalanan pengembalaan hingga ratusan kilometer dari Haran Mesopotamia hingga ke Palestina dan menyeberang ke Mesir. Nabi Ibrahim menghidupi keluarganya dengan berternak. Inilah kegiatan pengembalaan terjauh sepanjang sejarah umat manusia.

Raja Thalut berperang melawan Jalut. Dicari para sukarelawan perang. Daud mendaftarkan diri. Karena usianya masih terlalu muda, jadi hanya bertugas sebagai pengembala domba dan mengantar susu kepada kakak-kakaknya. Hingga akhirnya Daud bertarung dengan Jalut. Takdir menjadi pengembala harus dilaluinya sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Apa kaitan pengembala dengan peran kenabian? Pengembala adalah keterampilan hidup untuk  menumbuhkan kompetensi, keahlian  dan pusat pelatihan kepemimpinan. Belajar  memahami yang tak dipahami. Belajar menyayangi yang paling rendah derajatnya. Menurut Umar bin Khatab, keadilan itu muncul dari rasa sayang dan cinta. Bukankah tujuan dari kepemimpinan itu keadilan?

Mengembala merupakan pembelajaran menggerakkan, mengarahkan, membimbing, mengawasi, menjaga dari bahaya apapun medannya agar rombongannya mencapai tujuan tanpa ada yang berpencar dan tertinggal pada waktu dan tempat yang tepat.

Mengembala menjadi penempaan ketangguhan fisik,  daya tahan dan karakter terhadap beragam situasi, medan dan iklim. Medan pembelajaran yang sangat luas dari tafakur dan tadabur terhadap alam. Membuka nurani dan meneguhkan fitrah. Mengembala merupakan penempaan yang sangat sederhana namun paripurna untuk mengemban amanah kenabian.

Bekal Siti Aminah Untuk Putranya Muhammad saw Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Siti Aminah membekali putranya Muhammad saw dengan sej...

Bekal Siti Aminah Untuk Putranya Muhammad saw

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Siti Aminah membekali putranya Muhammad saw dengan sejumlah keterampilan hidup sejak bayi. Muhammad saw diasuh oleh seorang wanita dari bani Saad yaitu Halimah. Apa yang dipelajari yaitu bahasa Arab murni. Bahasa yang dipelajari dan kembangkan oleh leluhurnya yaitu Nabi Ismail di Mekah.

Keterampilan berbahasa bagi bangsa Arab saat itu merupakan keterampilan yang luar biasa. Menjadi kebanggaan dan kemuliaan kaumnya. Pusat keramaian dan pasar menjadi panggung para penyair dan orator untuk mengangkat kemuliaan kabilahnya terhadap kabilah lainnya. Para penyair dan orator yang bisa membangkitan kefanatikan dan kecintaan buta pada kabilahnya.

Keterampilan bahasa yang membuat Nabi Musa merekomendasikan kepada Allah agar saudara Harun diangkat menjadi Nabi. Bahasa seni menembus, menggugah, menyadarkan dan membuka hati, akal dan jiwa manusia. Bahasa menunjukkan tingkat kecerdasan, ilmu dan derajat keluhuran seseorang.

Keterampilan berbahasa Rasulullah saw bagian dari kemukjizatannya. Allah membimbingnya dengan wahyu. Sehingga, tak ada yang bisa menyamai keindahannya, bobot dan hakikatnya yang mendalam dalam ungkapan yang sederhana. Para pemuka Quraisy pun bingung, apa yang akan dituduhkan kepada Rasulullah saw? Mereka pun harus melakukan rapat akbar untuk memutuskannya agar terasa logis dan ilmiah.

Allah memberikan otoritas kepada Rasulullah saw untuk menyampaikan "wahyu" Allah dengan redaksi bahasannya sendiri untuk menjelaskan makna Al-Quran. Otoritas ini disebut hadist. Derajatnya satu tingkat dibawah Al-Qur'an. Adakah selain Rasulullah saw yang diberi otoritas setinggi ini? Malaikat Jibril pun tidak diberikan. Jibril harus menyampaikan sesuai dengan redaksi dari Allah.

Para pemuka Quraisy harus membututi Rasulullah saw kemana pun beliau pergi untuk memutarbalikan yang diungkapkan oleh Rasulullah saw. Membuat pengumuman agar menghindar, membuat hiruk pikuk untuk pengalihan hingga menutup telinga bila Rasulullah saw berbicara.

Saat Rasulullah saw berbicara, semuanya terdiam. Tak ada yang berani berbicara yang suaranya lebih tinggi dari Rasulullah saw. Salah satu karakter Rasulullah saw adalah Tabligh,  seni berbahasa sehingga merubah hati, jiwa, akal, pemikiran dan mind set hanya dengan ungkapan yang sederhana. Inilah bekal yang telah disiapkan oleh ibunya Siti Aminah, untuk putranya yang masih bayi bagi yang tercinta Muhammad saw.

Perjalanan Leluhur Rasulullah saw Diantara Bangsa Besar Di Dunia  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bangsa Arab keturunan Nabi Ismail s...

Perjalanan Leluhur Rasulullah saw Diantara Bangsa Besar Di Dunia 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Bangsa Arab keturunan Nabi Ismail sangat unik. Percampuran dari beberapa bangsa. Bangsa Babilonia yang diwakili oleh Nabi Ibrahim. Bangsa Mesir yang diwakili oleh Siti Hajar. Melahirkan Nabi Ismail yang kemudian menikah dengan kabilah asli Arab yaitu suku Jurhum. Jadi Quraisy merupakan perpaduan 3 bangsa yaitu Babilonia, Mesir dan Arab asli.

Nabi Ibrahim keturunan dari kalangan terhormat bangsa Babilonia. Pekerjaan ayahnya membuat patung yang disembah oleh bangsa  Babilonia. Siti Hajar, menurut ulama sirah An-Nadwi, merupakan putri dari raja Mesir. Sedangkan Nabi Ismail menikah dengan putri kepala suku Jurhum. Maka lahirlah anak keturunan Nabi Ismail.

Keturunan Nabi Ismail yang dikenal salah satunya adalah bani Kinanah. Saat Mekah penuh pergolakan, bani Kinanah tetap menetap  di Mekah dan sekitarnya. Saat pengaruh keturunan Nabi Ismail redup, suku Jurhum mengambil alih kepemimpinan. Saat suku Jurhum menyimpang, bani Kinanah yang meluruskannya agar Mekah bersih dari kezaliman terutama terhadap jamaah haji.

Menurut Mubarakfuri, saat Nebukanedzar mencoba menguasai Jazirah Arab, para keturunan Nabi Ismail melakukan perlawanan yang sengit. Sumber dari Wikipedia,  Wilayah yang dikuasai Nebukanedzar hanya pada bagian jazirah Arab Utara saja tidak menyentuh Hijaz, khususnya Mekah, tempat bani Kinanah tinggal.

Salah satu keturunan bani Kinanah adalah suku Quraisy. Saat suku Khuzaah, yang menggantikan suku Jurhum, yang memimpin di Mekah melakukan kezaliman, Qushay bin Kilab menyatukan bani Kinanah dan Quraisy untuk meluruskannya kezaliman Bani Kuzaaah. Lalu Qushay bin Kilab dari suku Quraisy memimpin Mekah.

Sehebat-hebatnya Babilonia dengan Nebukanedzarnya masih bisa dijajah oleh Persia. Sehebat-hebatnya Persia masih diijajah oleh Alexandre Macedonia. Sehebat-hebatnya Mesir, masih dijajah oleh sejumlah bangsa-bangsa. Romawi masih dikalahkan oleh Persia. Namun bagaimana dengan keturunan Nabi Ismail, bani Kinanah dan Quraisy? Selamanya menjadi bangsa Merdeka dan mengemban tugas tidak ada prilaku kezaliman di Mekah khususnya dan Hijaz.

Menurut An Nadwi, suku Quraisy mampu membangun kota Mekah menjadi kota besar, modern, dan metropolis di kawasan Jazirah Arab. Bani Hasyim dari Quraisy menjadi pelindung jamaah haji dari penjuru dunia. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda bahwa Rasulullah saw dipilih dari keturunan Nabi Ismail, bani Kinanah, Bani Quraisy dan Bani Hasyim. Itulah sebaik-baiknya  garis keturunannya karena bangsanya merdeka, tak pernah menjajah dan dijajah, tak pernah melakukan kezaliman dan selalu meluruskan kezaliman yang muncul khususnya di Mekah.

Tanpa Hiruk Pikuk Oleh: Nasrulloh Baksolahar Berkaryalah walaupun hanya sebuah goresan lurus sebuah  pena. Kelak satu goresan ak...

Tanpa Hiruk Pikuk

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Berkaryalah walaupun hanya sebuah goresan lurus sebuah  pena. Kelak satu goresan akan berlanjut menjadi karya tak terduga. Satu goresan menumbuhkan ide dan imajinasi berikutnya yang tak terduga.

Bukalah jalan di hutan belantara.  Satu orang menapaki, beberapa lalu jutaan orang yang mengikuti. Kelak di sepanjang jalan akan banyak rumah, bangunan dan aktivitas yang kompleks.

Ambilah cangkul. Hentakan ke tanah, tanamlah satu pohon, rawatlah, kelak dari tanah muncul makro dan mikroorganisme tanah, mata air, oksigen, dan ragam buah. Hanya menunggu sambil merawatnya. Kelak ulat, burung dan jutaan manusia menikmati panennya.

Bendunglah air. Buatlah petakan tanah. Alirkan ke petakan agar menjadi sawah dan kolam. Tanam dan peliharalah sepasang ikan. Kelak panennya akan dinikmatinya.

Karakter pembangun sering kali hanya sendirian. Menikmati kerja keras, keuletan, keteguhan dalam keheningan, kesenyapan  dan kesunyian. Itulah yang disebut oleh Rasulullah saw sebagai Guraba. Sunyi dalam keramaian. Berkarya tanpa tepukan tangan.

Di era akhir zaman, lebih butuh karakter guraba, seperti sabda Rasulullah saw, yang siap memegang bara api. Siap menjadi aneh dengan karya tanpa pujian. Dengan bara api, sampah menjadi pupuk. Yang keras tak bisa dibentuk diubahnya menjadi sesuatu. Seperti  besi yang dilunakan menjadi peralatan.

Terlalu banyak energi dan waktu yang terbuang demi hiruk pikuk dan sanjungan, padahal semuanya kosong. Seperti balon tanpa isi. Semakin besar, semakin tak berisi. Para guraba memilih jalur sunyi yang penuh dengan keringat. Daripada panggung besar yang penuh gelak tawa yang berisi hanya nyanyian dan senda gurau.

Kota Modern Mekah, Ditengah Kepungan Romawi dan Persia  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Menurut KH Moenawar Chalil dalam bukunya Kel...

Kota Modern Mekah, Ditengah Kepungan Romawi dan Persia 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Menurut KH Moenawar Chalil dalam bukunya Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Jazirah Arab terbagi ke dalam beberapa bagian  yaitu Hijaz, Yaman, Hadhramaut, Muhrah, Oman, al-Hasa, Najd dan Ahqaf. Di daerah Hijaz terletak kota yang terkenal yaitu Mekah. Di tengahnya terdapat sebuah masjid besar yaitu Masjidil Haram yang di dalamnya terletak rumah suci yaitu Ka'bah atau Baitullah.

Daerah Hijaz memiliki pusat kekuasaan yang beribukota di Mekah. Awalnya kekuasaan berada pada keturunan Nabi Ismail, lalu berpindah ke suku Jurhum, Khuzaah dan kembali ke keturunan Nabi Ismail pada era Qushay bin Kilab dari bani Quraisy pada sekitar abad ke-5 Masehi.

Apakah Mekah itu sebuah kota terbelakang? Apakah sistem pemerintahan kota Mekah itu terbelakang dibandingkan Romawi dan Persia? Menurut Syeikh Mubarakfuri, dalam kitabnya Ar-Rahiq Al-Makhtum, sejak era Qushay bin Kilab yang berasal dari Quraisy memimpin Mekah,  sistem pemerintahannya menjadi sebuah model pemerintahan yang demokratis dengan adanya  pembagian tugas dan pembatasan masa jabatan.

Ada 6 (enam) majelis yang dibentuk di kota Mekah untuk mengelola Hijaz. As-Siqayah, majelis yang mengelola air minum rakyat terutama pada musim Haji. Ar-Rifadah, mengurusi makanan rakyat terutama di musim Haji. Al-Hijabah, mengurus urusan rumah tangga dan keamanan Kabah.

An-Nadwah, mengurusi semua yang berkaitan dengan undang-undang negara, urusan politik dan urusan pemerintahan. Al-Qayadah, mengurus urusan ketentaraan dan kepolisian. Bertanggungjawab terhadap keamanan negara dan rakyatnya. Al-Liwa, mengurusi bendera pemerintah yang akan dikeluarkan dan dikibarkan jika pemerintah dan segenap rakyatnya perlu pergi untuk berperang.

Setiap majelis dipimpin oleh kabilah tertentu dari Quraisy. Dimana pemimpin tertingginya hanya memimpin majelis al-Liwa, namun tetap menjadi anggota pengurus majelis lainnya, sehingga seluruh pengelolaan pemerintahan di Hijaz di ketahui oleh pemimpinnya. Beberapa buku Sirah menjelaskan ragam nama-nama majelis dan juga nama kabilah yang memimpinnya. Namun intinya, kekuasaan di Mekah terorganisir dengan sangat modern.

Menurut Syeikh An Nadwi, dalam kitabnya Sirah Nabawiyah, sejak pertengahan abad ke 5,  Mekah telah tunduk pada kesepakatan sukarela, kesepahaman bersama, serta pembagian tugas dan tanggung jawab. Sehingga Al-Qur'an pun menyebutnya sebagai Kota yang Aman dalam surat At-Tin ayat 2 dan Allah bersumpah dengan nama kota Mekah pada surat Al-Balad ayat 1-2.

Intelejen Quraisy Yang Tidak Mampu Mengendus Darul Arqam Oleh: Nasrulloh Baksolahar Umar bin Khatab suatu hari keluar sambil men...

Intelejen Quraisy Yang Tidak Mampu Mengendus Darul Arqam

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Umar bin Khatab suatu hari keluar sambil menghunus pedang untuk membunuh Rasulullah saw. Pertanyaannya, dimana Rasulullah saw berada? Sedangkan saudara perempuan dan iparnya yang sudah menjadi muslim saja tidak tahu. Mengapa gerakan dakwah Rasulullah saw tak tercium oleh Kafir Quraisy?

Umar mendatangi saudara perempuannya, setelah Umar bin Khatab mendengar dan membaca surat Thaha ayat 14, dan tertarik dengan ajaran Islam, Umar pun berkata, "Alangkah indah dan mulianya kalam ini, kalau begitu, tolong bawa aku ke hadapan Muhammad? Kaab bin Arit menginformasikan bahwa Rasulullah saw saat ini sedang ada di rumah yang terletak di kaki bukit Shafa. Mengapa Kaab bin Arit tidak menyebutkan nama pemilik rumahnya langsung yaitu Al-Arqam bin Abi Al-Arqam? Mengapa Darul Arqam tidak terendus oleh kafir Quraisy, termasuk Umar bin Khatab?

Menurut pakar Sirah Al-Mubarrakfuri, Darul Arqam merupakan tempat tinggal dari Al-Arqam bin Abul Arqam al-Makhzumi. Berada di atas bukti Shafa dan terpencil dari pengintaian mata-mata Quraisy. Tempat ini menjadi markas dakwah Rasulullah saw dan sekaligus tempat pertemuan rutin muslimin  sejak tahun ke 5 kenabian. Berarti setahun sebelum masuk Islamnya Umar bin Khatab. Padahal bukit Shafa cukup dekat dengan Kabah?

Menurut Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, mengapa dipilih rumah Arqam sebagai pusat dakwah dan penempaan para Sahabat karena keislaman Al-Arqam belum dikenal dan masih berusia 16 tahun. Di samping itu Al-Arqam berasal dari bani Makhzum yang sedang berkonflik dengan bani Hasyim yang merupakan kabilah dari Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin dua kabilah yang sedang berselisih mau bersekutu?

Saat Hamzah bin Abdul Muthalib memukul Abu Jahal dengan busur panahnya karena Abu Jahal telah menyakiti, mencela dan mempermalukan Rasulullah saw dengan kasar, maka yang membela Abu Jahal dengan mengeroyok Hamzah adalah dari Bani Makhzum. Yang menginformasikan Umar bin Khatab bahwa saudara perempuan dan iparnya sudah memeluk Islam adalah dari bani Makhzum. Jadi bagaimana mungkin kabilah yang berkonflik bisa bersekutu? Seperti itu logikanya.

Ketidakberdayaan mata-mata kafir Quraisy membongkar pusat dakwah Rasulullah saw di Darul Arqam karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa kafir Quraisy melancarkan pengepungan terhadap rumah ini dan membubarkan pertemuan yang diadakan oleh Nabi Muhammad saw di Darul Arqam.

Sebagian besar orang Quraisy masih mengira bahwa tempat pertemuan itu terjadi di salah rumah satu milik Bani Hasyim, rumah Abu Bakar atau tempat lain. Oleh karena itulah mereka memblokade ekonomi dan sosial pada Bani Hasyim, dan beberapa pemuka Quraisy memata-matai rumah Rasulullah saw seperti Abu Sufyan, Abu Jahal, dan Al-Akhnas.

Sejarah Shalat Sebelum Peristiwa Isra Miraj Oleh: Nasrulloh Baksolahar Islam merupakan pelanjut dari ajaran para Nabi dan Rasul ...

Sejarah Shalat Sebelum Peristiwa Isra Miraj

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Islam merupakan pelanjut dari ajaran para Nabi dan Rasul sebelumnya. Nabi Ibrahim berdoa agar anak keturunannya beristiqamah dalam shalat. Saat Bani Israel ketakutan dalam kezaliman Firaun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menegakkan shalat di rumah. Jadi apakah shalat itu baru diperintahkan setelah Isra Miraj?

Isra Miraj terjadi setelah wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib. Padahal Siti Khadijah sudah melakukan shalat bersama Rasulullah saw di rumahnya. Padahal Abu Thalib pernah memergoki Ali bin Abi Thalib shalat bersama Rasulullah saw. Jadi perintah shalat sudah ada sebelum Isra Miraj. Lalu apa perbedaannya?

Syeikh Munir Al-Ghadban dalam kitabnya Manhaj Haraki, tidak ada satu pun periode dakwah kaum Muslimin yang sunyi dari pelaksanaan shalat. Menurut Prof Dr Ali Muhammad Shalabi, dalam kitabnya Sirah Nabawiyah, shalat merupakan perintah Allah kedua setelah diwajibkan mengucapkan syahadat. Rumah Rasulullah saw merupakan rumah pertama kali didirikan shalat.

Setelah diturunkan wahyu, saat Rasulullah saw berada di dataran tinggi Mekah, datanglah jibril. Mengajaknya ke sebuah lembah, tiba-tiba muncul mata air di lembah tersebut. Jibril mengajarkan wudhu dan shalat. Setelah itu, Rasulullah saw pulang menemui Siti Khadijah untuk memperagakan apa yang sudah didapatkan dari Jibril, lalu Siti Khadijah pun mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah saw.

Hasan Al-Banna dalam kitabnya Tafsir Al-Banna menyebutkan bahwa pada awal pengutusan Rasulullah saw, pelaksanaan shalat dua rakaat pada setiap pagi, sore dan malam hari sebanyak dua rakaat. Munir Al-Ghadban, menjelaskan untuk shalat pagi, kadang dilakukan oleh kaum muslimin di Kabah, sebelum banyak mata memandang.  Bila sore, para Sahabat melakukan shalat berpencar di lorong-lorong lembah baik sendiri-sendiri atau berdua-berdua.

Shalat sambil bersembunyi ini pernah diketahui oleh segerombolan kafir Quraisy saat Saad bin Abi Waqash shalat bersama Sahabat. Kafir Quraisy menganggu, mencaci maki bahkan ada Sahabat yang dibunuh. Melihat hali ini Saad bin Abi Waqash segera mengambil cemeti untanya lalu menyabetkannya ke salah satu orang kafir Quraisy. Saad bin Abi Waqash pun terkena sabetan pedang.  Peristiwa ini merupakan pertumpahan darah pertama kali dalam sejarah Islam.

Shalat secara terang-terangan baru dilakukan pada tahun ke-6 kenabian setelah Umar bin Khatab memeluk Islam. Sedangkan peristiwa Isra Miraj tahun ke-10 kenabian menurut Syeikh Al-Mubarrakfuri pada kitabnya Ar-Rahiq Al-Makhtum, merupakan momentum diwajibkannya shalat lima waktu.

Perjalanan Hidup, Jejak Menasihati Diri Oleh: Nasrulloh Baksolahar Jiwa manusia itu mudah lalai dan lemah. Hati manusia berbolak...

Perjalanan Hidup, Jejak Menasihati Diri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Jiwa manusia itu mudah lalai dan lemah. Hati manusia berbolak balik tanpa bisa dikendalikannya. Maka menasihati diri lebih penting daripada "menasihati" orang lain. Kebutuhan menasihati diri lebih utama daripada untuk orang lain.

Membaca untuk menasihati diri. Menulis untuk menasihati diri. Bertafakur dan bertadabur untuk menasihati diri sendiri. Melakukan riset dan penelitian untuk mengungkapkan kebesaran Allah agar jiwa menghamba kepada sang pencipta.

Bertani, berdagang dan ragam profesi lainnya untuk melihat jaminan Allah tentang rezekinya. Kesulitan yang menimpa untuk memahami jaminan Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Allah memberikan kemudahan dengan ragam yang berbeda bagi setiap manusia.

Menjejaki liku-liku hidup itu sebuah petualangan menyelami Asmaulhusna-Nya Allah agar terhujam pada jiwa. Menjejaki kehidupan seperti menyaksikan kebesaran Allah di sepanjang perjalanan yang dilalui. Adakah kisah para Nabi dan Rasul yang berakhir dalam kondisi terhina dan tertindas? Semuanya sebagai pemenang. Menang dengan bermarifat pada Allah.

Menasihati diri dari hikmah jejak kehidupan yang diambil. Menasihati diri dari ragam peristiwa yang dilalui. Menasihati diri dari langit yang tanpa tiang, gunung yang kokoh, lautan yang bergelombang, daun yang menghijau. Allah menasihati manusia hanya dengan hujan yang turun di bumi yang mati.

Mengapa sering terlalaikan? Selalu melewati dan tak menghiraukan nasihat dari perjalanan yang dilalui. Padahal angin, sinar matahari, kesejukan yang menerpa merupakan nasihat. Kekeringan dan kebanjiran adalah nasihat. Semua berita adalah nasihat.

Bagaimana memformulasikan semuanya menjadi nasihat untuk diri sendiri? Bagaimana merekayasa semuanya nasihat bagi diri sendiri? Hati itu mudah keras dan lalai. Maka jadikan yang terekam dalam kehidupan menjadi nasihat. Nasihat yang diam lebih banyak dari yang berbicara. Nasihat dari alam semesta lebih banyak dari manusia. Datanglah dengan hati yang ingin mendapatkan keberkahan dari apapun dan siapapun. Maka hati akan menyerap energi nasihat.

Prinsip Bertawakal Oleh: Nasrulloh Baksolahar Nabi Nuh dan Hud, saat kaumnya membuat rencana jahat, kedua Nabi ini berkata kepad...

Prinsip Bertawakal

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Nabi Nuh dan Hud, saat kaumnya membuat rencana jahat, kedua Nabi ini berkata kepada kaumnya bahwa mereka dipersilahkan untuk membuat semua rencana jahat dengan seluruh sumber daya dimilikinya. Tak usah ditunda. Lakukan sekarang. Tak usah disembunyikan. Melawan kekuatan yang besar ini ada yang dilakukan oleh kedua Nabi tersebut?

Saat seluruh pembesar kaum para Nabi menolak dakwah. Saat mereka memusuhi dan hendak menghabisi dakwah para Nabi dan Rasul. Apa yang dilakukan para Nabi dan Rasul? Apa kekuatan yang dimilikinya? Bagaimana cara menghindarinya? Apa strategi dan ikhtiarnya?

Kekuatan para Nabi dan Rasul hanya bertawakal. Memohon pertolongan dan perlindungan Allah. Meneguhkan keyakinan bahwa Allah Rabb bumi,  langit dan Arsy yang memiliki kekuatan besar. Apa yang terjadi setelah itu? Tawakal melemahkan seluruh upaya penghancuran dakwah. Seluruh rencana jahat menjadi lemah dan hancur.

Dalam tawakal ada energi keyakinan kebaikan  akan masa depan walaupun saat ini masih buta tentang apa yang akan terjadi. Bukankah masa depan dimulai dari niat dan prasangka yang baik? Bukankah merekayasa masa depan dimulai dari doa, keyakinan dan pengharapan?

Keyakinan adalah realitas masa depan yang ditarik ke masa sekarang. Keyakinan adalah menarik yang masih gaib ke pada realitas hari ini. Tawakkal merupakan karakter awal kepemimpinan sebelum karakter yang lain bermunculan. Sebab tawakal sebuah perpaduan antara keyakinan dengan strategi, perencanaan dan aksi nyata.

Burung yang keluar dari sarang, karena kuat tawakalnya. Hasilnya, yang lapar menjadi kenyang walaupun tak tahu dimana sumber makanannya. Seorang mukmin melangkahkan kaki dari rumah dengan doa bertawakal dan penyerahan totalitas diri pada Allah. Allah tempat bergantung.

Para Nabi dan Rasul hanya mengikuti wahyu. Setelah itu bertawakal. Dari tawakal, Allah membimbing dan memimpin. Allah menolong dan memudahkan. Awal langkah tawakal bukan mengikuti kemauannya sendiri tetapi mengikuti perintah Allah maka tawakal akan membawa pada tujuannya.

Shalat Pembuka Kemenangan Oleh: Nasrulloh Baksolahar Nabi Musa dan Rasulullah saw bertemu saat peristiwa Isra Miraj. Dari Nabi M...

Shalat Pembuka Kemenangan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Nabi Musa dan Rasulullah saw bertemu saat peristiwa Isra Miraj. Dari Nabi Musa, Rasulullah saw mendapatkan masukan tentang memohon  keringanan bagi umat Nabi Muhammad saw dalam pelaksanaan shalat. Mengapa Allah mempertemukan kedua Nabi ini? Apa latarbelakangnya?

Di era Nabi Musa, pengikutnya tertindas. Bani Israel dijadikan budak oleh Firaun. Hidup dalam ketakutan, intimidasi dan dizalimi. Bukankah suasananya mencekam seperti kondisi Rasulullah saw di era Mekah?

Bani Israel tidak berani mengikuti ajaran Nabi Musa. Setiap diketahui ada yang menjadi pengikut Nabi Musa maka akan disiksa hingga dibunuh. Bagaimana melawan ketakutan ini? Bagaimana merubah mental takut, gelisah menjadi kuat, tegar, pemberani dan optimis menghadapi terjalnya kehidupan? Apa yang diseru oleh Nabi Musa? Apa yang diperintahkan Allah?

Dalam kecemasan yang mencekam, Nabi Musa bertanya pada kaumnya? Apakah kalian semua seorang muslim (berserah diri)? Karakter muslim adalah bertawakal kepada Allah. Bani Israel pun menjawab bahwa mereka  bertawakal kepada Allah, lalu memohon agar diselamatkan dari kesewenangan orang zalim dan kafir. Bagaimana perwujudan menjadi muslim sehingga memunculkan tawakal?

Allah mewahyukan Nabi Musa dan Harun untuk membangun rumah yang di dalamnya ada akitivitas ibadah dan penegakan shalat. Dalam kecemasan yang menimpa Nabi Musa dan Harun, Allah menurunkan perintah shalat.

Setelah shalat ditegakan secara istiqamah, Nabi Musa pun berdoa bahwa penyebab kesewenangan Firaun karena kekuasaan dan harta yang melimpah. Nabi Musa berdoa agar kekuasaan dan kekayaan Firaun dan pengikutnya dihancurkan. Allah pun mengabulkan. Maka terjadilah kisah pembenaman kekayaan Qarun dan tenggelamnya Firaun.

Peristiwa Hijrah terjadi setelah diwahyukan perintah dan ditegakkannya shalat. Ditenggelamkan Qarun ke tanah dan Firaun ke lautan setelah diwahyukan dan ditegakkannya shalat. Shalat adalah pembuka kemenangan para Nabi dan Rasul. Shalat adalah sarana penolong bagi  hamba pada Rabb-Nya

Solusi Dari Bawah dan Atas Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Perjalanan hidup pribadi Rasulullah saw. Ayahnya wafat saat dikandungan. ...

Solusi Dari Bawah dan Atas

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Perjalanan hidup pribadi Rasulullah saw. Ayahnya wafat saat dikandungan. Ibunya wafat diusia 6 tahun. Kakeknya wafat di usia 8 tahun. Semuanya anak lelakinya wafat di usia anak-anak. Istrinya wafat saat butuh kekokohan dalam mengarungi hidup. Seluruh anak perempuannya wafat saat Rasulullah saw hidup kecuali Fatimah. Seperti inilah perjalanan penghulu para Nabi dan Rasul. Seperti inilah perjalanan sang rahmatan lil alamin.

Saat Rasulullah saw masih kecil. Saat ayahnya wafat, digantikan oleh ibunya. Saat ibundanya wafat digantikan oleh kakeknya. Saat kakeknya wafat digantikan oleh pamannya. Allah mencabut sesuatu, namun Allah telah menyiapkan solusinya. Seperti itulah goresan pena takdir kehidupan. Allah tak membiarkan hambanya sendiri tanpa rahmat-Nya.

Saat istri dan pamannya wafat dalam waktu yang hampir bersamaan. Padahal saat itu tantangan semakin berat. Apa yang terjadi? Selama 2 (dua) tahun menanti keputusan Allah dalam kesabaran. Hanya kesabaran menjadi senjatanya, sambil terus menunaikan kewajibannya. Mengapa Allah tidak langsung mengisra mirajkannya? Mengapa harus menunggu 2 tahun? Dalam suasana seperti ini, putrinya Fatimah yang menghiburnya.

Saat tak ada perlindungan di dunia. Allah memberikan perlindungan langsung dari sisi-Nya. Allah mengajarkan cara bagaimana agar pertolongan dan rahmat-Nya tidak pernah berhenti mengalir walaupun tidak ada satu pun penolong di muka bumi? Caranya, naiklah ke langit. Bersama penduduk langit dengan shalat.

Saat terkepung di Badar. Saat 313 pasukannya harus melawan 1.000 pasukan musyrikin. Apa yang dilakukan Rasulullah saw? Saat seorang sahabat tertangkap, dipenjara lalu disiksa. Saat akan dieksekusi mati, apa yang dilakukannya? Jangan melihat ke sekeliling bumi. Lihatlah ke tanah dan menengadah ke langit dengan shalat.

Syetan mengepung dari depan, belakang, kanan dan kiri. Syetan  meminta kepada Allah untuk mengepung dari semua sisi kehidupan hingga manusia kebingungan. Padahal ada dua sisi yang syetan 'lupa" memohon pada Allah, yaitu dari bawah dan atas. Bersujudlah menaruh kening ke bumi. Bermunajatlah kepada Allah yang Maha Tinggi dan Mulia dengan shalat. Dengan shalat kepungan kehidupan tak merisaukan karena mata, hati, akal, pendengaran tertuju pada bumi dan langit.

Saat sekitarnya sudah mengepungnya dengan kesulitan dan keresahan. Ambilah solusi dari bawah dan atas, bukan sekitarnya. Ambilah pertolongan dari bumi dan langit bukan lingkungan sekitarnya. Rendahkan hati. Hancurkan kesombongan dan kebanggaan. Bermunajatlah kepada Allah.

Bahagia Dari Kebun Oleh: Nasrulloh Baksolahar Setiap melihat kebun, walaupun hanya berupa kiriman foto, muncul optimisme. Perasa...

Bahagia Dari Kebun

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Setiap melihat kebun, walaupun hanya berupa kiriman foto, muncul optimisme. Perasaan ini tidak pernah ada baik dalam pekerjaan maupun usaha yang pernah digeluti. Mengapa seperti ini ya?

Tumbuh calon pucuk baru pun sudah bahagia. Melihat daun menghijau pun bahagia. Melihat tumbuhan bergoyang ditempa angin. Mengkilapnya dedaunan diterpa sinar matahari. Ulat dan semut yang merayap. Kupu-kupu yang hinggap. Jaring rumah  laba-laba di antara ranting. Semuanya menciptakan bahagia. Jadi, apakah itu bahagia?

Menyendiri di kebun, laksana di surga. Mungkinkah karena dipenuhi warna surga? Mungkinkah karena dikepung makhluk-Nya yang senantiasa bersujud dan bertasbih? Mungkinkah suasananya yang hening dengan hanya gesekan ranting, hembusan angin dan suara burung? Suara alam membahana di tengah keheningan dan kesendirian. Jadi apa arti ketentraman itu?

Saat di kebun, entah mengapa merasa menjadi yang paling bahagia di kolong jagat? Merasa paling tentram dan nyaman. Merasa semua kepenatan dan kegelisahan lepas tuntas. Padahal tak ada yang dilakukan? Hanya duduk menyendiri. Jadi kepenatan itu soal apa? Banyak persoalan?  Atau hanya cara berfikir dan suasana jiwa?

Kontur tanah datar dengan berundak, lebih indah yang berundak. Kontur tanah perbukitan dan pegunungan lebih indah dari yang datar, begitu pun perkebunannya. Naik turun ternyata lebih indah. Terpaan angin lebih terasa.  Seperti ombak, lebih indah bila ada gelombang. Namun mengapa manusia takut dengan gelombang kehidupan?

Keindahan kebun menjadi bertambah bila di bawahnya terhadap mata air, sawah dan selokan jernih. Dasar bebatuannya terlihat jelas. ikan-ikan kecil berenang-renang. Persis seperti gambaran kebun dalam Al-Qur'an. Perbukitan,  kebun, air yang mengalir dan ladang itulah fenomena terindah. Padahal tidak ada campur tangan manusia dalam mendesainnya.

Yang kaya, mengeluarkan uang yang banyak untuk menikmati keindahan. Yang tinggal di desa, setiap hari gratis menikmatinya.  Setiap manusia menikmati hal yang sama walaupun tingkat kekayaannya berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Bahagia tak harus kaya dan berkuasa.

Orientasi Kajian Fiqh Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Dalam hukum-hukum Allah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat-Nya. I...

Orientasi Kajian Fiqh

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Dalam hukum-hukum Allah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dan rahmat-Nya. Inilah orientasi besar fiqh.  Mengapa dalam mempelajari dan menerapkannya terperosok pada siapakah yang dalilnya paling benar dan lemah? Siapa yang tak sesuai dengan sunah dan paling sunah? Siapa yang bidah?

Hukum Allah berorientasi untuk menjaga agama, darah, keturunan, akal dan kehormatan. Dari semuanya yang diperdebatkan, manakah yang paling dekat dengan tujuan tersebut? Fiqh itu untuk memberikan solusi kemudahan di setiap zaman dan tempat dengan pondasi Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Bukan berdebat tentang dalil dan argumen yang paling benar dan kuat, bila tujuannya sampai disini, untuk apa para ulama mengembangkan ilmu ushul fiqh dan maqasid syariah?

Hukum Allah untuk mensucikan hati dan penghambaan diri kepada Allah. Arahkan pembahasan hukum Allah kepada kesadaran akan rasa syukur dan memuji Allah atas hikmah kebaikan dan penghindaran dari keburukan dan kejahatan dari hukum yang ada, bukan dibawa ke ranah perdebatan dan perselisihan.

Pembahasan ragam mazhab fiqh harus dibarengi dengan kondisi zamannya, realitas yang tengah dihadapi saat itu, kondisi wilayahnya, kondisi kesulitan yang tengah dihadapinya, lalu kaitkan dengan dalil yang menjadi rujukan hukum. Dari sini masyarakat tahu mengapa timbul aneka ragam mazhab. Jangan hanya sekedar kekuatan dalilnya saja.

Setiap wilayah berpegang pada mazhab fiqh tertentu. Setiap kekhalifahan dan kesultanan menjadikan mazhab fiqh tertentu dalam membimbing masyarakat, sistem pemerintahan dan hukum. Mengapa wilayah dan kesultanan tertentu mengambil mazhab tertentu? Ini yang perlu dikaji, agar paham mengapa wazir atau qadi di kesultanan menetapkan pada mazhab tertentu.

Mengapa Nusantara lebih banyak dipengaruhi Mazhab Syafii hasil fatwa Imam Syafii saat di Mesir bukan di Baghdad? Perhatikan kondisi wilayah dan karakter kesultanan di Mesir dengan Nusantara, apakah ada kemiripan? Ini yang harus dikaji lebih mendalam. Bukan terjebak pada meributkan kebenaran dalil. Sebab dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw sudah diuji oleh para ulama Al-Qur'an dan Hadist.

Seharusnya tentang kesahihan dalil dan ragam perbedaan pendapat sudah tuntas. Jadikan semuanya sebagai yurisprudensi hukum. Sekarang hanya tinggal, bagaimana persolan masyarakat dunia diselesaikan dengan khazanah hukum yang telah dimiliki umat Islam dari para pendahulunya?

Semua Ada Akhir dan Solusinya  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apakah Nabi Ayub mengetahui kapan sakit dan kemiskinan berakhir dan b...

Semua Ada Akhir dan Solusinya 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 

Apakah Nabi Ayub mengetahui kapan sakit dan kemiskinan berakhir dan berkumpul kembali dengan keluarganya? Apakah Nabi Ibrahim dan Zakaria mengetahui kapan diberikan keturunan? Apakah Nabi Musa dan Harun kapan mengetahui kapan kezaliman Firaun berakhir? Seorang Nabi pun tak tahu waktunya.

Apakah Nabi Ayub mengetahui bagaimana solusi dari sakit, kemiskinan dan tercerai berainya keluarganya? Apakah Nabi Ibrahim dan Zakaria mengetahui bagaimana proses mendapatkan keturunannya padahal mereka sudah sangat tua? Apakah Nabi Musa dan Harun mengetahui bagaimana cara berakhirnya kezaliman Firaun sedangkan pengikutnya kaum tertindas dan lemah? Para Nabi dan Rasul pun tak ada yang tahu jalan keluarnya. Apa yang dilakukannya?

Siti Hajar dan Nabi Ibrahim tak tahu bagaimana mendapatkan air di Mekah? Tempat yang tandus, kering, panas dan tak ada sumber air. Tak ada tumbuhan yang hidup. Banyak pengembara kafilah Arab yang melewatinya, tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Bagaimana menghadapinya?

Langkah perjalanan para Nabi dan Rasul adalah perjalanan wahyu. Mengikuti Wahyu Allah. Mengikuti bimbingan, pimpinan dan petunjuk Allah. Hidupnya untuk mengemban amanah Allah. Hanya itu yang diperbuat oleh para Nabi dan Rasul.

Para Nabi dan Rasul hanya bila sudah menuntaskan satu urusan lalu melangkah untuk menuntaskan urusan lainnya. Mencoba melakukan karya terbaik dengan bimbingan wahyu Allah. Terus berdoa dan bertawakal. Tetap meyakinkan diri yang bisa menyelesaikan persoalan kehidupan hanya Allah. Yang bisa memindahkan kegelapan menuju cahaya hanya Allah. Yang memasukkan siang ke dalam malam hanya Allah.

Bersabar dan ridha atas ketepatan Allah hingga Allah menetapkan keputusan-Nya. Kapan Allah berkehendak? Sudah tertulis dalam goresan pena di Lauhul Mahfud. Para Nabi dan Rasul menikmati takdir-Nya.

Yang terpenting, menghambakan diri pada Dzat yang bisa memberikan kemanfaatan dan menghilangkan kemudharatan. Yang hanya "Kun Fayakun"Nya merubah seluruh yang ada. Inilah pondasi menikmati perjalanan hidup. Bila pondasi ini lenyap, bagaimana bisa menikmati hidup?

Dimana Kejahiliyahannya? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Dimana letak kejahiliyahan itu? Bukankah Firaun memiliki kekuasaan yang kok...

Dimana Kejahiliyahannya?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Dimana letak kejahiliyahan itu? Bukankah Firaun memiliki kekuasaan yang kokoh dan wilayah yang luas? Bukankah bisa membangun  bangunan tertinggi, ilmu pengetahuan dan kekayaan? Bukankah Ratu Saba memiliki kerajaan yang dengan tata kelola yang baik?

Dimanakah kejahiliyahan itu? Bukankah kaum Saba mampu membangun infrastruktur pertanian yang baik? Membangun kota yang menakjubkan dengan dikelilingi perkebunan dan bendungan yang indah? Bukankah mereka bisa membangun kekuasaannya hingga berabad-abad?

Dimana kejahiliyahnya? Bukankah kaum Aad dan Tsamud mampu membangun bangunan tinggi di tempat yang tinggi? Memahat gunung-gunung menjadi tempat yang indah? Membangun benteng-benteng untuk keamanannya?

Dimana kejahiliyahnya? Saat Rasulullah saw lahir, bukankah bangsa Arab merupakan bangsa Metropolis? Romawi, Yunani, Persia, dan India merupakan kerajaan dengan kekuasaannya yang besar dan luas? Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju pada jamannya?

Kejahiliyahnya terletak pada sistem keyakinan, sistem sosial kemasyarakatan, sistem peradilan, motivasi politik dan kekuasaan, sistem perekonomian, tujuan kemiliteran, sistem ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem pergaulan antar pribadi dan bangsa.

Ibnu Qayim pernah berkata, "Aku tidak takut dengan dosa, sebab bila bertaubat akan diampuni oleh Allah, yang ditakuti adalah bila sebuah keputusan (sistem) yang digunakan berasal dari pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw." Inilah sekelumit pemahaman tentang jahiliyah.

Muhammad Qutb pernah berkata, "Pakar Sirah Nabawiyah itu bukan yang sudah menamatkan membaca kisah Rasulullah saw dari awal hingga akhir, tetapi mereka yang berinteraksi kuat bersama Rasulullah saw dengan Sunnah Rasulullah saw dan Al-Qur'an." Jadi jahiliyah itu soal titik tolak, acuan, dan referensi tentang darimana sebuah sistem itu dibangun dan untuk apa infrastruktur sistem itu dibangun.

Saat Rasulullah saw diutus, Mekah Kota Metropolis  Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Bangsa Arab, sebelum diutusnya Rasulullah saw, ma...

Saat Rasulullah saw diutus, Mekah Kota Metropolis 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 


Bangsa Arab, sebelum diutusnya Rasulullah saw, masyarakat tertutup ataukah terbuka? Yang dikategorikan masyarakat Jahiliyah itu untuk bangsa Arab sajakah atau termasuk peradaban Yunani, Romawi, Persia dan India yang saat itu ada?  Eksploitasi antar bangsa dan manusia terjadi di seluruh dunia.

Menurut pakar Sirah Nabawiyah, kejahiliyahan terjadi di seluruh peradaban saat itu. Padahal saat itu Persia dan Romawi sebuah peradaban besar? Hancurnya sistem keyakinan kepada Allah, sistem moralitas, sistem sosial kemasyarakatan, dan sistem ekonomi, walaupun secara bangunan gedung, militer, dan kekayaannya berlimpah ruah merata di penjuru dunia.

Bangsa Arab merupakan bangsa terbuka. Saat peradaban lain mengusir dan membunuh Yahudi, hanya bangsa Arab yang "menerimanya" terutama di sekitar Madinah. Pemeluk Nasrani di Madinah dan Mekah pun ada. Tak ada yang mengusiknya. Bandingkan dengan di wilayah Persia dan Romawi? Bagaimana interaksi penyembah api dengan Nasrani? Bagaimana interaksi antara Yahudi dan Nasrani?

Bangsa Arab bila memiliki persoalan tertentu kadang bertanya pada pemeluk Yahudi atau Nasrani. Walaupun mereka bertanya pada dukun-dukun mereka juga. Ini menunjukkan bangsa Arab terbuka dengan beragam keyakinan keagamaan yang ada. Bahasa menunjukkan kemajuan bangsa. Bangsa Arab menjadikan syair, pidato dan orator sebuah kebanggaan dan perlombaan. Satu buah benda memiliki hingga ribuan kosa kata. Ini menunjukkan kemajuan peradaban.

Apakah terjadi saling eksploitasi dan penjajahan antar bangsa Arab? Apakah terjadi eksploitasi dan penjajahan antar kabilah bangsa Arab? Semuanya setara. Bila ada kabilah yang dizalimi kabilah yang lain akan membantunya. Bandingkan dengan Romawi dan Persia. Mereka saling menjajah, juga menjajah bangsanya sendiri.

Walaupun bangsa Arab terkukung dengan alamnya. Namun mereka berinteraksi dan bekerjasama dengan peradaban lain. Ketika Rasulullah saw diutus, Abu Sofyan dipanggil oleh Heraklius untuk dimintai informasi. Amr bin Ash berkawan akrab dengan raja Najashi. Khalid bin Walid sangat tenang seluk beluk Syam sehingga bisa mengatur pertempuran saat menghadapi Romawi ataupun Persia.

Apakah bangsa Arab bertransaksi dagang antar bangsanya saja? Apakah yang diperjualbelikan hanya hasil buminya saja? Bangsa Arab bertransaksi dengan semua bangsa dengan produk dari beragam bangsa pula. Ini menunjukkan bangsa Arab merupakan bangsa metropolis bukan tertutup apa lagi terbelakang atau primitif.

Mengapa Nabi Terakhir dari Bangsa  Arab? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Hasan Al-Banna mengupas penyebab, mengapa Rasulullah saw ti...

Mengapa Nabi Terakhir dari Bangsa  Arab?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Hasan Al-Banna mengupas penyebab, mengapa Rasulullah saw tidak dilahirkan dari bangsa Yunani, Romawi, India dan Persia? Bukankah saat itu kerajaan dan kekuasaan wilayah mereka sangat luas dan kokoh? Bukankah mereka saling berebut pengaruh?  Mengapa Rasulullah saw dilahirkan dari bangsa Arab?

Bukankah bangsa Persia kaya akan ilmu pengetahuan? India hebat dengan filsafatnya? Romawi hebat dengan artistiknya? Yunani hebat dengan sastra dan daya imajinasinya? Bila seperti itu, apa kelebihan bangsa Arab dibandingkan bangsa-bangsa penguasa saat itu?

Menurut Hasan Al Banna, yang tak dimiliki oleh Yunani, Romawi, Persia dan India adalah fitrah bangsa Arab masih bersih, cinta kebebasan dan jiwanya yang mulia. Prof Dr Ali Muhammad Shalabi menambahkan, moralitas yang dimiliki oleh bangsa Arab yang terjaga saat itu adalah jiwa yang kuat, raga yang tangguh, menepati janji, terbuka, jujur, tidak mau diperlakukan hina dan zalim, pemberani, kesatria, dermawan murah hati, pandai dan cerdik.

Pada bangsa Arab masih ada yang menjaga agama Ibrahim yang murni walaupun lebih banyak yang tercampur dengan  paganisme. Ajaran Nabi Ibrahim yang masih tersisa seperti penghormatan terhadap Kabah, thawaf di sekelilingnya, beribadah haji dan umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah dan penyembelihan hewan kurban.

Apakah bangsa Arab tidak memiliki sejarah peradaban tinggi? Kaum Aad, Tsamud dan Saba, merupakan bangsa Arab yang memiliki peradaban tinggi. Kaum Saba, menurut, Dr Mahdi Rizqullah Ahmad, peradaban dan pengaruh kekuasaannya di Yaman berjaya selama 11 abad, hingga pada akhirnya di tahun 450 M, bendungan airnya jebol.

Dari bangsa Arab, telah diutus beberapa Nabi. Yaitu Nabi Hud, Ismail, Shaleh, dan Syuaib. Ini menunjukkan kemuliaan bangsa Arab disamping Bani Israel. Dengan beberapa keluhuran moral  yang masih terjaga, Mekah merupakan kota yang dikelola secara demokratis, tersistem dan pembagian tugas yang jelas sejak dipimpin oleh Qushay. Dimana saat bersamaan Persia, Romawi, India, dan Yunani dikelola dengan sistem kerajaan dan diktator.

Seluruh keputusan di Mekah dilakukan secara demokratis dengan bermusyawarah di Darun Nadwah. Setiap kabilah memegang urusan sendiri seperti keamanan Kabah, penyiapan air, pelayanan Kabah dan militer. Dibangun pula lembaga peradilan untuk menyelesaikan perselisihan dan pelanggaran di Darun Nadwah. Ada sumbangan tahunan dari seluruh masyarakat untuk memberi makan untuk fakir miskin dan jamaah haji. Kota Mekah memang sebuah kota modern saat itu. Kebaikan dan moralitas yang masih terjaga yang menyebabkan Rasulullah saw berasal dari bangsa Arab.

Apa Hasil Capaian Peradaban? Oleh: Nasrulloh Baksolahar Dalam kondisi seperti apa para Nabi dan Rasul diutus? Rasulullah saw ber...

Apa Hasil Capaian Peradaban?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Dalam kondisi seperti apa para Nabi dan Rasul diutus? Rasulullah saw bersabda saat para Sahabat berkumpul karena mendengar Abu Ubaidah bin Jarrah datang dari Bahrain membawa harta yang banyak, "Yang aku khawatirkan jika dunia dibentangkan untuk kalian, sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian. Kalian bersaing, sebagaimana mereka bersaing, lalu dunia membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka."

Dalam kondisi seperti apa Nabi Yusuf,  Nabi Musa dan Harun diutus ke negri Mesir? Dalam kondisi seperti apa para Nabi dan Rasul diutus ke kaum Aad, Tsamud dan Saba? Dalam kondisi apa Nabi Daud dan Sulaiman diutus ke Bani Israel? Sebagian besar mereka telah berhasil membangun peradaban. Apa yang terjadi dengan peradaban yang sudah dibangun?

Disorientasi peradaban. Kebimbangan dan kebingungan peradaban, untuk apa peradaban yang sudah dicapai? Nabi diutus saat kaum Saba sudah memiliki peradaban yang sebelah kiri dan kanannya ditanami kebun-kebun. Perjalanan di kota-kota pada siang dan malam hari dengan aman, nyaman dan mudah. Hasil perdagangan yang melimpah. Lalu, yang telah dicapai untuk apa lagi? Ada stagnasi dan kejumudan peradaban.

Muncul keanehan prilaku pada kaum Saba mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami." Muncul karakter kekafiran. Prilaku yang merusak yang merebak akibat tak tahu untuk apa capaian peradaban itu. Muncul ragam penyimpangan dan keanehan prilaku.

Kaum Aad, mereka membangun rumah-rumah yang tinggi hanya untuk bermain-main. Membangun benteng agar kematian tidak menghampiri. Sebagai tempat penyiksaan dengan kebengisan dan kekejaman yang luar biasa. Saat ini, kemajuan infrastruktur, ilmu dan teknologi yang telah diraih untuk apakah?

Bagaimana dengan kaum Tsamud? Apa hasil akhir dari rumah yang dipahat di gunung-gunung-gunung? Muncul karakter merajalela melakukan kerusakan. Kaum Nabi Shaleh, di puncak kemajuan ekonomi berakhir dengan monopoli dan merusak timbangan atau ketidakadilan ekonomi. Muncul banyak ketimpangan.

Tanpa bimbingan wahyu Allah dan Sunnah Rasulullah saw, apapun jenis peradaban yang dibangun manusia akan berakhir pada penyimpangan, penyelewengan, kerusakan dan kezaliman. Tujuan peradaban kandas karena tak tahu lagi untuk apa kehidupan? Bagaimana membangun sistem peradaban yang tidak merusak manusia? Karya manusia pada akhirnya merusak manusia itu sendiri tanpa bimbingan wahyu Allah.

Awal Peradaban dari Mata Air dan Bertani Oleh: Nasrulloh Baksolahar Awal peradaban manusia di mulai dari mata air dan bertani. K...

Awal Peradaban dari Mata Air dan Bertani

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Awal peradaban manusia di mulai dari mata air dan bertani. Kehancuran peradaban diawali dari kehancuran sumber air dan pertanian. Perhatikan jejak peradaban kaum Aad, Tsamud dan Saba. Perhatikan apa yang tersisa dari bangunannya yang runtuh, padahal sebelumnya sebuah kota atau wilayah yang megah dan ramai?

Mekah awalnya daerah yang mati dan tak berpenghuni. Tiba-tiba menjadi tempat perhentian para kabilah Arab yang berasal dari Yaman menuju Syam. Mekah tumbuh menjadi kota. Ada yang sebaliknya, dahulunya daerah yang makmur, namun berubah menjadi mati dan tak berpenghuni seperti daerah yang ditempati kaum Aad, Tsamud dan Saba sekarang. Apa yang terjadi dengan mereka?

Peradaban kaum Saba yang dikisahkan dalam Al-Qur'an, berawal dari pengumpulan air hujan dan air bah yang terbuang sia-sia hingga bermuara ke laut. Mereka membuat tempat-tempat penampungan air dan bendungan. Airnya dialirkan ke kebun dan ladang sehingga tumbuhan tanaman yang indah dan buahnya yang menggiurkan.

Kondisi kota kediaman kaum Saba dijelaskan dalam Al-Qur'an bahwa mereka diapit oleh dua buah kebun di sebelah kanan dan kirinya. Kaum Saba di Yaman berdagang ke Syam. Mereka berjalan tanpa kekurangan apapun baik makanan, minuman maupun tempat berteduh. Ada kisah bila keranjang kosong ada dikepala seseorang, maka buah-buahan berjatuhan sendiri sehingga keranjang tersebut menjadi penuh.

Peradaban kaum Aad di Hadhramaut, dalam Al-Qur'an, diawali dari adanya mata air, kebun, binatang ternak dan anak-anak. Atas dasar pondasi ini mereka membangun benteng-benteng dan tiap-tiap tanah yang tinggi dibangun bangunan yang tinggi.

Peradaban Tsamud di Hijaz, dalam Al-Qur'an, kota kediamannya dipenuhi kebun-kebun, serta mata air, tanaman pohon korma yang mayangnya lembut. Atas dasar ini, mereka mempahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah.

Semua peradaban bermula dari adanya air hujan, mata air, lalu berladang dan berkebun. Atas dasar ini dibangun benteng dan bangunan yang tinggi di tempat-tempat yang tinggi. Awal peradaban itu bermula dari mengolah tanah. Mengapa sekarang ditinggalkan dan dianggap hina?

Pondasi Peradaban Menentukan Perjalanannya Oleh: Nasrulloh Baksolahar Semua peradaban yang sudah ada lenyap disebabkan karena me...

Pondasi Peradaban Menentukan Perjalanannya

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Semua peradaban yang sudah ada lenyap disebabkan karena menentang Allah dan Rasul-Nya. Kebinasaan sebuah peradaban disebabkan perlawanan, kedurhakaan, dan pengabaian terhadap wahyu Allah. Allah yang menciptakan kehidupan, maka Allah pula yang paham aturan main kehidupan. Namun manusia menganggap dirinya lebih hebat dari Allah.

Semua peradaban tak bisa berdiri sendiri. Semua peradaban harus ada yang membimbing agar tidak tergelincir, memiliki arah, tak bingung saat menyelesaikan sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh potensi yang ada pada manusia. Sebab alam semesta, takdir, hukum dan hiruk pikuk kehidupan tak seluruhnya bisa dipahami dengan potensi manusia.

Peradaban hati asalnya bersih dan lurus. Menentramkan dan membahagiakan. Namun hati bisa ternoda. Hati terus berbolak balik. Bagaimana bila hati terus diserbu dan dikepung oleh bisikan syetan? Bisa jadi peradabannya bisa terjun bebas menjadi hawa nafsu atau akal semata.

Peradaban hawa nafsu menginginkan kebebasan semua. Kebebasan di hutan rimba tanpa tata kelola. Mengikuti insting binatang. Hanya makan, minum, kelamin, kekayaan, kekuasaan dan saling berbangga. Yang kuat dan berkuasa. Yang banyak harta dan pengikut yang akan menang.

Semua peradaban tak bisa berdiri sendiri. Semua peradaban harus ada yang membimbing agar tidak tergelincir, memiliki arah, tak bingung saat menyelesaikan sesuatu yang tak bisa dijangkau oleh potensi yang ada pada manusia. Sebab alam semesta, takdir, hukum dan hiruk pikuk kehidupan tak seluruhnya bisa dipahami dengan potensi manusia.

Semua peradaban yang sudah ada, lenyap disebabkan karena menentang Allah dan Rasul-Nya. Kebinasaan sebuah peradaban disebabkan perlawanan, kedurhakaan, dan pengabaian terhadap wahyu Allah. Allah yang menciptakan kehidupan, maka Allah pula yang paham aturan main kehidupan. Namun manusia menganggap dirinya lebih hebat dari Allah.

Memprediksi Nasib Yahudi di Palestina dari Sejarahnya Sendiri Oleh: Nasrulloh Baksolahar Apakah Yahudi itu kuat? Apakah Bani Isr...

Memprediksi Nasib Yahudi di Palestina dari Sejarahnya Sendiri

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Apakah Yahudi itu kuat? Apakah Bani Israel itu tak terkalahkan? Bila asal usul Bani Israel berasal dari Nabi Yakub, bagaimana perjalanan mereka sejak Nabi Yakub? Bila Nabi yang terkuat yang membebaskan mereka dari perbudakan adalah Nabi Musa, bagaimana perjalanan mereka di era Nabi Musa? Bila puncak peradaban tertinggi mereka di era Nabi Sulaiman, bagaimana kondisi mereka saat Nabi Daud dan Sulaiman serta setelahnya? Semuanya akan berputar dalam rotasi ini.

Rasulullah saw bersabda, "Jika Allah ingin merahmati suatu kaum, Dia akan mendahulukan ajal Nabi mereka. Lalu mereka menjadi Nabi itu sebagai teladan. Dan jika Allah ingin membinasakan suatu kaum, Dia siksa kaum tersebut saat Nabi mereka masih hidup." Di antara karakter ini, dimanakah kedudukan Yahudi? Mereka mengingkari hingga membunuh Nabinya sendiri.

Di era Nabi Yaqub, mereka berselisih. Dengki kepada Yusuf.  Berusaha membunuh Yusuf. Saat Nabi Yusuf berkuasa, mereka tengah menghadapi kekeringan dan kelaparan. Berbeda dengan bangsa Mesir yang makmur karena mengikuti bimbingan Nabi Yusuf. Nabi pertama yang muncul dari kalangan mereka sendiri pun sudah direkayasa untuk dibunuh.

Di era Nabi Musa, mereka hidup dalam perbudakan. Dibebaskan oleh Nabi Musa untuk berhijrah ke Palestina, selama perjalanan mereka membangkang terhadap Nabi Musa dan Harun dengan bosan terhadap makanan dan minuman dari Surga, membuat berhala dari emas, mengingkari perintah memotong sapi hingga menentang  memasuki Palestina. Akhirnya mereka terlunta-lunta Sinai.

Saat Nabi mereka memerintahkan berperang melawan Jalut, mereka banyak yang mundur dari perang. Hanya sebagian kecil yang ikut. Hingga akhirnya Daud bisa membunuh Jalut. Di era Daud dan Sulaiman, apakah banyak kiprah Bani Israel yang diceritakan? Kebanyakan tentang Semut, Burung hud-Hud, Jin, Awan dan Angin. Bila berbicara manusia, dikisahkan dari golongan Ahli Kitab.

Nabi Uzair disebut anak Tuhan. Nabi Zakaria dan Yahya dibunuh. Nabi Isa disebut anak Tuhan dan hendak dibunuh pula. Lalu mereka menunggu kehadiran Nabi Muhammad saw? Bagaimana sikap mereka? Mendustakan dan merencanakan pembunuhan.

Pada Bani Israel diutus 2 Nabi Ulul Azmi, yaitu Nabi Musa dan Isa. Nabi yang terkuat. Apakah ada efeknya terhadap lompatan peradaban mereka? Tetap sebagai kaum yang terusir. Mereka menunggu Nabi Ulul Azmi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad saw. Mereka berusaha membunuhnya, akhirnya mereka terusir pula. Bagaimana nasib mereka sekarang dengan menjajah Palestina? Akan dikalahkan hanya dengan bebatuan saja.

Strategi Memerangi Yahudi Oleh: Nasrulloh Baksolahar Perang Rasulullah saw dengan Yahudi, Perang Bani Qainuqa, Bani Nadir, Bani ...

Strategi Memerangi Yahudi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Perang Rasulullah saw dengan Yahudi, Perang Bani Qainuqa, Bani Nadir, Bani Quraizhah, Khaibar, Fadak, Wadil Qura, dan Taiman. Apa perbedaan perang dengan Musyrikin dan Yahudi?  Yahudi ada di kota Madinah dan mengepung Madinah dengan benteng-benteng yang kokoh dan persenjataan yang lengkap, modern dan perbekalan yang lebih dari cukup.

Dengan benteng yang kokoh, persenjataan yang lengkap modern, dan perbekalan yang lebih dari cukup, apakah pertempuran dengan Yahudi menjadi perang yang sangat fenomenal, sulit, dan menegangkan? Membuat kaum Muslimin terdesak? Pertempuran dengan Yahudi semuanya tentang pengepungan benteng, urat syaraf, blokade logistik terakhir baru perang kota.

Perang dengan Yahudi, sangat sedikit berupa pertempuran fisik "head to head", walaupun Yahudi mengaku memiliki kekuatan militer dan keahlian perang yang melampaui kekuatan Musyrikin di Perang Badar. Yahudi berani berperang setelah mendapatkan jaminan bantuan dari Munafikin Madinah dan Kabilah Arab Ghafathan yang tinggal di antara Madinah dan Syam.

Yahudi di kota Madinah, Bani Qainuqa, memata-matai kaum muslimin. Lalu, mengirimkan seluruh informasi tentang rencana dan aktivitas muslimin kepada Quraisy, menampakkan permusuhan dan menganggu aktifitas harian muslimin. Bani Nadhir, merencanakan pembunuhan kepada Rasulullah saw saat Rasulullah saw berkunjung ke benteng mereka, di dekat Madinah.

Bani Quraizhah menghianati perjanjian dengan menusuk dari dalam, saat kaum Muslimin di kepung oleh musyrikin Quraisy dan seluruh kabilah Arab pada perang Khandaq. Pemimpin Yahudi Bani Quraizhah jugalah yang memobilisasi dan menghimpun pasukan musyrikin Arab untuk mengepung Madinah.

Yahudi bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Quraizhah kalah perang, semuanya melarikan diri ke Khaibar. Benteng Yahudi terkuat dan terbanyak di antara Madinah dan Syam. Kaum Muslimin memecah persatuan Arab Ghafathan dan Yahudi, barulah menyerangnya. Penyerbuan ini sama sekali tak diketahui Yahudi. Saat Yahudi bangun di pagi hari ternyata sejumlah benteng sudah terkepung.

Pasukan muslimin dipecah ke beberapa benteng agar Yahudi tak tahu target utamanya dan tidak terjadi saling membantu antar benteng. Terjadilah perang kota dan hutan. Strategi jitunya adalah bagaimana Yahudi keluar dari benteng sehinga terjadi perang head to head? Memutus logistiknya. Sebab Yahudi tak pernah berani perang head to head. Seperti ini pula seni berperang melawan Yahudi sepanjang zaman.

Proses Jagat Raya di Tubuh Manusia Oleh: Nasrulloh Baksolahar Apakah manusia bisa mengendalikan detak jantung, tekanan darah, al...

Proses Jagat Raya di Tubuh Manusia

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Apakah manusia bisa mengendalikan detak jantung, tekanan darah, aliran darah, kadar gula, trombosit dan semua komponen yang ada pada dirinya? Seorang dokter pun tak bisa. Berarti siapakah yang mengendalikannya?

Apakah manusia yang memerintahkan usus besar, kecil dan lambung yang memproses makanan yang masuk ke tubuh? Siapakah yang merubah makanan yang keras menjadi kotoran yang lembut? Apakah manusia yang mendesainnya? Manusia hanya tinggal makan dan minum saja, setelah itu tak tahu proses yang terjadi. Padahal semuanya berproses di tubuhnya sendiri. Berarti siapakah yang memerintahkan?

Bila semuanya berproses secara mekanis, otomatis, terstruktur dan tersistem, siapakah yang merancang dan mengimplementasikannya ke dalam manusia? Apakah sesuatu yang ajaib dan penuh kemukjizatan terjadi sendiri? Akal manusia pun akan menolaknya. Legenda Prambanan yang tercipta semalam. Legenda gunung Tangkuban  Perahu pun ada yang membuatnya.

Proses alam semesta terjadi pada raga manusia. Seperti jaringan darah yang panjangnya 2 kali lingkaran bumi, peredaran darahnya kembali ke jantung kembali hanya 30 detik saja. Padahal pesawat paling canggih buatan manusia belum bisa mengelilingi bumi dua kali putaran dalam waktu 30 detik. Mengapa urat yang dilalui darah tidak panas dan rusak dengan gesekan? Padahal besi atau logam bisa panas dan terkikis dengan kecepatan tersebut.

Pesawat antariksa yang mengangkasa sangat bising dan memekakkan telinga. Semua mesin industri yang berjalan mengeluarkan kebisingan luar biasa. Terjadi polusi suara. Mengapa semua proses pada tubuh manusia tidak terjadi? Semuanya senyap, sunyi dan sepi. Bahkan manusia bisa tidur dengan lelapnya. Apakah manusia yang menciptakan teknologi tubuhnya sendiri?

Proses pergerakan alam semesta sepi dan senyap. Melihatnya menentramkan jiwa. Proses alam semesta di dalam tubuh manusia berjalan dengan kecepatan tak terkira, namun berproses dalam kesenyapan. Manusia sendiri tak merasakannya. Padahal satu motor saja sudah membuatnya bising menganggu.

Proses alam semesta di langit dan tubuh manusia, tak membutuhkan bahan bakar. Tak ada sisa pembakaran. Tak ada timbal yang merusak udara. Tanda-tanda kebesaran Allah ada pada diri manusia sendiri. Mengapa tak disadari dan dirasakan?

Asmaulhusna dan Sains Oleh: Nasrulloh Baksolahar Ibnu Athailah, penulis Al-Hikam mengatakan bahwa seluruh Asmaulhusna-Nya Allah ...

Asmaulhusna dan Sains

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Ibnu Athailah, penulis Al-Hikam mengatakan bahwa seluruh Asmaulhusna-Nya Allah  mengalirkan di alam semesta. Mengalir pada tubuh manusia, bumi, langit dan di antara keduanya  Seperti mengalirnya ruh pada tubuh. Bila tak melihat dan merasakannya, bisa jadi bertanda hati telah diselimuti hawa nafsu dan telah berubah menjadi batu. Akal telah disibukan dengan ragam remeh temeh yang sia-sia.

Seluruh yang ada, yang besar maupun kecil, yang telihat maupun tak terlihat, yang di atas maupun di bawah, tebal maupun tipis, banyak maupun sedikit, semuanya diliputi oleh Asmaulhusna-Nya Allah. Seperti ruh pada jasad.

Salah satu rahmat-Nya Allah adalah Allah memperlihatkan semuanya di alam semesta sesuatu yang bisa dipahami oleh akal agar tali Allah bersambung dengan hamba. Agar karunia-Nya dikenal oleh para hamba-Nya. Dengan ini manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri saat Allah mengambil janji ketauhidan.

Bila seluruh alam semesta bisa dipahami oleh akal, maka peran akal adalah mengungkap Asmaulhusna-Nya yang menyatu dan meliputi pada setiap ciptaan Allah. Meneliti, meriset, mengungkap, mengamati, mentadaburi dan mentafakuri sering disebut oleh para ilmuwan dengan nama methodelogi ilmiah. Bisa menggunakan infrastruktur dari laboratorium hingga yang sederhana.

Inti pekerjaan utama para ilmuwan, akademisi, periset dan perekayasa industri teknologi hanya mengungkap rahmat, karunia, nikmat dan Asmaulhusna-Nya Allah yang mengalir, menyatu dan meliputi alam semesta. Hanya menemukan rahasia kebesaran Allah yang masih tersembunyi hingga Allah menampakkan-Nya dan diijinkan Allah untuk diduplikasi untuk memudahkan urusan manusia.

Inti pekerjaan para saintis adalah menemukan kebesaran dan keagungan Allah yang meliputi segala sesuatu. Menemukan kebodohan, kelemahan dan ketidakberdayaan menghadapi bukti empiris yang terpampang nyata dan dahsyat di hadapannya. Alam semesta adalah kemukjizatan Allah. Batu, tanah, debu, air, udara, dirinya merupakan kemukjizatan Allah.

Ketauhidan adalah inti dari alam semesta. Meneguhkan dan memperjelas rasa ketauhidan adalah akhir dari semua rekayasa ilmu dan teknologi. Seluruh Asmaulhusna-Nya tersingkap melalui sains yang menyelami alam semesta.

Perlindungan Islam bagi Orang Kafir, Ahli Maksiat dan Munafik Oleh: Nasrulloh Baksolahar Jika orang kafir melaksanakan kebaikan,...

Perlindungan Islam bagi Orang Kafir, Ahli Maksiat dan Munafik

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Jika orang kafir melaksanakan kebaikan, ia diberi makanan di dunia. Namun, ketika sampai di akhirat, tidak ada lagi kebaikan yang akan dibalas untuknya. Sedangkan bagi yang beriman, Allah menyimpan kebaikannya di akhirat nanti dan tetap memberinya rezeki di dunia karena ketaatannya.

Orang kafir mendapatkan balasan atas amal baiknya di dunia, bisa berupa bertambahnya harta benda dan dijauhkan dirinya dari keburukan yang menimpa. Namun di akhirat nanti, orang kafir tidak mempunyai bagian ganjaran karena kekafiran itu menghapus pahala di akhirat.

Salah satu rahmat Allah yaitu melimpahkan rezeki di dunia kepada orang kafir dan ahli maksiat. Allah menunaikan kewajiban-Nya untuk menjamin rezeki pada setiap manusia yang dilahirkan tanpa memperdulikan keimanannya. Bila yang kafir dan ahli maksiat saja dijamin, bagaimana dengan mukmin?

Yang kafir dan ahli maksiat tetap mendapatkan sarana dan prasarana kehidupan yang memuaskan. Sebab alam semesta itu memang ditundukkan untuk semua manusia. Tak peduli mukmin, ahli maksiat, munafik atau pun kafir. Dilingkungan yang kafir, ada yang kaya dan miskin, yang jadi penguasa dan jelata, begitu pula di masyarakat mukmin. Jadi apa perbedaannya?

Islam menjamin kehidupan orang kafir, baik akal, keturunan, kehormatan, harta, dan agama dengan konsep "Kafir dzimni". Islam "menjamin" kehidupan para ahli maksiat selama keburukannya dilakukan secara diam-diam. Bagaimana dengan Munafik?

Di era Rasulullah saw, para munafikin melakukan penghianatan dan ikut berperang namun untuk melemahkan. Rasulullah saw melakukan strategi agar para Sahabat tidak larut, disibukkan dengan desas-desus dan hoaks para munafikin. Para Sahabat disibukkan dengan amal dan jihad. Rasulullah saw melarang membunuh mereka.

Dalam Islam, siapakah yang tidak dijamin kehidupan dan keamanannya? Semua ragam manusia bisa menikmati rahmat-Nya, walaupun kelak di akhirat di hari Penghisaban, berjalan sesuai pilihannya di dunia.

Apakah Ada Kesulitan Hidup? Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Apakah ada kesulitan hidup? Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan? Bu...

Apakah Ada Kesulitan Hidup?

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Apakah ada kesulitan hidup? Bukankah bersama kesulitan ada kemudahan? Bukankah rezeki itu sudah dijamin? Bukankah alam semesta sudah ditundukkan dan diperintahkan untuk melayani manusia?  Bukankah malaikat selalu menjaga? Bukankah doa dijamin terkabul?

Seluruh makhluk hidup sudah dipasangkan. Semua urusan dalam gengaman Sang Maha Pengasih dan Penyayang. Bila bertakwa, seluruh urusan akan berakhir pada kebaikan dan dimudahkan. Setiap penyakit ada obatnya. Adakah kesulitan dalam kehidupan ini?

Andai pun ada persoalan di muka bumi, semuanya remeh dan mudah. Hanya butuh bertawakal, berdoa, bersabar dan berikhtiar saja. Mengapa Allah hanya menurunkan satu rahmat-Nya di dunia ini? Dengan satu rahmat-Nya, binatang buas yang tak berakal dan memiliki jiwa kemanusiaan pun jadi memiliki kasih sayang?

Mengapa Allah menyisakan 99 rahmat-Nya untuk di akhirat? Mengapa tidak seluruhnya di muka bumi? Coba perhatikan dalam Al-Qur'an, suasana apa yang paling sering dikisahkan? Hiruk pikuk apa yang paling mencekam dan paling banyak dikisahkan?

Para ulama Tafsir, sering menghubungkan pentingnya sebuah tema dalam Al-Qur'an dikaitkan dengan seberapa kali atau sering tema itu diungkapkan? Dalam surat Al-Fatihah, persoalan kehidupan apa yang pertama kali diungkapkan? Tentang Hari Pembalasan. Itulah tema terbesar kehidupan manusia.

Dalam kitab Riyadhus Salihin pada bab Harap atau Raja, hadist-hadist tentang apa yang dihimpun oleh Imam Nawawi? Tentang pengampunan Allah akan dosa-dosa. Tentang kemudahan Allah bagi hamba-Nya untuk meraih Surga. Inilah hakikat persoalan yang paling pelik. Dalam kondisi yang pelik pun, Allah memberikan kemudahan, apakah ada kesulitan kehidupan di dunia ini?

Hiruk pikuk persoalan hidup manusia bukanlah di dunia, tetapi saat sakratul maut, alam barzah  dan hari pembalasan. Untuk hal ini, Allah menyediakan 99 Rahmat-Nya dan Syafaat dari Rasulullah saw. Persoalan hidup di dunia hanya satu, bisakah diri ini menjadi Hamba dan Khalifah Allah di muka bumi? Selain itu bukan persoalan.

Kemudahan yang Ditelantarkan Oleh: Nasrulloh Baksolahar  Andai usianya 60 tahun, berapa usia yang harus dipertanggungjawabkan di...

Kemudahan yang Ditelantarkan

Oleh: Nasrulloh Baksolahar 



Andai usianya 60 tahun, berapa usia yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah? Kurangi dengan masa sebelum aqil balig. Kurangi dengan lamanya tidur. Manusia hanya mempertanggungkan sekitar 25 tahun saja. Sebentar bukan?

Dalam 12 bulan, manusia hanya diperintahkan sebulan berpuasa. Dalam sehari, hanya diperintahkan shalat beberapa menit saja. Dalam harta, hanya 2,5 % saja untuk berzakat. Dalam seumur hidup, berhaji hanya sekali itu pun bila mampu. Apakah ada yang menyulitkan?

Boleh makan dan minum dengan ragam apa saja. Namun jangan berlebihan, cari yang halal dan baik. Yang haram bisa dihitung dengan jari. Yang halal tidak terhingga jumlahnya. Rasanya yang halal lebih nikmat, segar dan menyehatkan. Apakah masih terasa berat?

Bila lupa dimaafkan. Bila sakit dan sulit, diberi kemudahan dan keringanan. Bila berdosa seberat langit dan bumi lalu beristighfar dan bertaubat maka diampuni. Dosa besar dapat dihitung dengan jari, itupun masih bisa diampuni. Hanya syirik saja yang tak bisa diampuni. Sangat luas rahmat Allah.

Andai manusia terus bermaksiat, masih ada waktu bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat. Masih diberi peluang sebelum nafas berakhir di kerongkongan. Dalam ampunan yang luas, mengapa tak bisa meraih ampunan?

Baru niat saja sudah berpahala. Berniat buruk tapi tidak dilakukan, tidak dianggap berdosa. Bila beramal baik bisa dilipatgandakan kebaikannya hingga tak terhingga. Bila beramal buruk, hanya satu dosa. Peluang yang besar, mengapa tak dimanfaatkan?

Dalam berijtihad, jika benar mendapatkan dua kebaikan. Bila salah, mendapatkan satu kebaikan. Semua jerih payah manusia dihargai walaupun salah. Mengapa dalam luasnya ampunan dan rahmat Allah, masih ada yang ke Neraka? Bukan tidak bisa, tetapi tidak mau. Hanya itu persoalannya.

Reenginering Ilmu Oleh: Nasrulloh Baksolahar Bergelar pendidikan tinggi. Menyabet seluruh jenjang pendidikan hingga lintas bidan...

Reenginering Ilmu

Oleh: Nasrulloh Baksolahar

Bergelar pendidikan tinggi. Menyabet seluruh jenjang pendidikan hingga lintas bidang keilmuan. Membaca tumpukan buku. Tetap saja takkan bisa terhindar dari kebodohan. Sebab, kebanyakan tujuan sekolah, belajar, dan membaca hanya mengumpulkan ilmu yang sudah ada. Jadi pengumpul ilmu semata. Seperti burung beo yang bisa menirukan ragam ucapan manusia. Kata Buya Hamka, jangan menjadi "pak turut" saja.

Sekolah ke luar negri hingga jenjang tertinggi. Mendapatkan beasiswa di universitas ternama di dalam maupun di luar negri. Hasilnya hanya menjadi budak-budak peradaban bukan menciptakan peradaban. Bukan ilmu yang dibawa tetapi hanya kumpulan database informasi hasil pencucian otak. Bergelar tinggi namun sebenarnya budak pemikiran.

Pendidikan tingginya berakhir pada perebutan pekerjaan. Tujuan ilmu hanya posisi jabatan. Berhenti hanya untuk menghimpun kekayaan dan kekuasaan. Untuk itukah ilmu? Untuk itukah belajar? Untuk itukah lembaga pendidikan dibangun? Mau memberikan ilmu bila dibayar. Mau mencurahkan seluruh ilmunya bila dibalas dengan sesuatu. Ilmu menjadi sebuah komoditas.

Kebanyakan penuntut ilmu hanya menjadi konsumen ilmu dan kolektor ilmu. Tak tahu bagaimana sesuatu menjadi ilmu? Tak paham kaidah dan prinsip sesuatu menjadi ilmu. Tak mau tahu bagaimana meramu sesuatu menjadi ilmu. Itulah penyebab mengapa lembaga pendidikan menjamurnya namun ilmunya hasil import dari peradaban lain. Itulah penyebab mengapa menjamur lembaga pendidikan dan bergelar tinggi tak bisa melampaui peradaban lain?

Segala hal bisa menjadi ilmu dan teknologi. Semua peristiwa bisa dijadikan dasar pengembangan ilmu dan teknolog. Semu kenyataan yang dialami manusia bisa menjadi awal jejak perumusan ilmu.

Apel yang jatuh bisa jadi ilmu. Air yang keluar dari penampungan bisa jadi ilmu. Kayu yang terapung dan batu yang tenggelam bisa jadi ilmu dan teknologi. Sarang laba-laba di rumput,  yang banyak menempel air dan embun bisa dijadikan ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi itu mudah dan murah.

Perbedaan logat lidah satu masyarakat dengan yang lainnya membuahkan kodifikasi Al-Qur'an menjadi mushaf. Bagaimana bangsa non Arab bisa membaca Al-Qur'an seperti bangsa Arab?  Melahirkan banyak ilmu yang berkaitan dengan nahu sharaf. Perpindahan Imam Syafii dari Baghdad ke Mesir membuatnya harus mengeluarkan fatwa baru sesuai realitas yang ada. Setiap saat kita menghadapi kenyataan baru dengan solusi baru, mengapa ilmunya harus import dari peradaban lain?

Shalat Rekaman Pertarungan Hidup  Oleh: Nasrulloh Baksolahar Pertarungan tidak saja pada kehidupan tetapi juga pada saat mendiri...

Shalat Rekaman Pertarungan Hidup 

Oleh: Nasrulloh Baksolahar



Pertarungan tidak saja pada kehidupan tetapi juga pada saat mendirikan shalat. Kemenangan saat shalat terbawa pada kemenangan di kehidupan. Kemenangan di kehidupan membawa pada kemenangan saat shalat.

Shalat adalah medan pertarungan agar tetap tersambung dengan Allah di tengah berbolak-baliknya hati dan pikiran atas hembusan bisikan syetan, ego nafsu, ragam keinginan dan obsesi. Hidup adalah pertarungan apakah napak tilasnya mengikuti kehendak diri atau kehendak Allah. Dua medan pertarungan yang tak terpisahkan.

Puncak kemenangan dalam shalat adalah khusyu. Puncak kemenangan kehidupan adalah Ihsan. Allah melihat dan mendengar setiap bisikan hati dan yang nampak. Allah mengetahui setiap rencana dan karya, baru sebatas niat maupun amal.

Suasana dan rasa dalam shalat merupakan efek dari semua kiprah yang dilakukan di medan kehidupan. Suasana dan rasa dalam mengarungi tantangan kehidupan merupakan cerminan dari apa yang dirasakan dalam mendirikan shalat. Bila shalatnya baik akan baik dunia dan akhiratnya. Bila kiprah kehidupannya sesuai tuntunan Allah dan Sunnah Rasulullah saw akan khusyuk pula shalatnya.

Bukankah para ulama sufi menjelaskan bahwa kemaksiatan di medan kehidupan membuatnya tidak bisa mengerjakan shalat malam? Bukankah makanan yang berasal dari yang tidak jelas membuat muncul kemalasan mendirikan shalat? Sepak terjang kehidupan dan shalat tak bisa dipisahkan.

Shalat adalah muhasabah diri tentang sepak terjang kehidupan. Bila tak khusyu. Bila bisikan nafsu, ego dan syetan yang mendominasi. Bisa jadi itulah yang menguasai kehidupan kesehariannya. Apa yang hadir dalam shalat itulah yang mendominasi dan menjadi prioritas kehidupan. Kepalsuan diri terbongkar di saat mendirikan shalat.

Bukankah dalam kulit, mata, telinga dan seluruh komponen tubuh terdapat memory yang menyimpan data sepak terjang nanusia? Semuanya akan menghitamkan hati atau menjernihkannya. Semuanya terlihat jelas di saat mendirikan shalat. Shalat itu buah rekaman dari keseharian manusia.

Pada Satu Makhluk Allah Terdapat Ragam Ilmu dan Teknologi Oleh: Nasrulloh Baksolahar Dalam satu makhluk Allah, banyak ragam fakt...

Pada Satu Makhluk Allah Terdapat Ragam Ilmu dan Teknologi

Oleh: Nasrulloh Baksolahar


Dalam satu makhluk Allah, banyak ragam fakta empiris, ilmu, teknologi, kemanfaatan, rahasia kebenaran dan kebesaran Allah yang terus tak selesai untuk digali. Dalam satu jenis hewan dan tumbuhan, banyak ragam fakta empiris,  ilmu, teknologi, kebenaran dan kebesaran Allah yang tak selesai diungkap. Semuanya tak pernah tuntas.

Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi profesor dan ilmuwan. Setiap orang memiliki seluruh syarat, kemampuan dan infrastruktur dari bawaan lahirnya untuk menjadi profesor dan ilmuwan. Seperti Nabi Khaidir, walaupun Nabi Musa bergelar ululazmi sekalipun tetap banyak rahasia yang tak diketahuinya sehingga harus belajar pada Nabi Khaidir.

Setiap satu ciptaan Allah adalah gudangnya ilmu dan teknologi yang bisa diduplikasikan dalam kehidupan di muka bumi.  Kekuatan alam semesta bisa dimanfaatkan dan diduplikasikan bagi kemudahan hidup manusia. Itulah rahmat Allah yang tak diberikan kepada jin dan malaikat.

Jin dan malaikat tidak bisa tumbuh dan berkembang, kecuali sesuai yang telah ditetapkan sejak awal. Namun manusia tumbuh berkembang dari tanah yang hina menjadi wali Allah dan khalifah di muka bumi. Pertumbuhannya berasal dari mengikuti wahyu Allah, Sunnah Rasulullah saw dan tafakur terhadap alam semesta.

Satu makhluk Allah adalah guru. Belajar ketaatan, ketawadhuan dan tak kenal lelah beribadah pada malaikat. Belajar kewaspadaan, tak mengikuti ego diri, menghindari karakter buruk pada syetan dengan memohon perlindungan dan pertolongan dari Allah. Setiap belajar pada  satu makhluk Allah meningkatkan derajat kehambaan pada Allah.

Mengapa manusia bodoh? Padahal dikepung oleh ilmu dan teknologi yang gratis. Mengapa manusia ingkar? Padahal dikepung oleh ketakjuban kebesaran Allah. Mengapa manusia  tak bersyukur? Padahal dikepung dari segala penjuru oleh nikmat Allah.

Saat melupakan Allah yang terbuka menjadi tertutup. Yang terang benderang menjadi gelap gulita. Yang lurus menjadi bercabang. Yang mudah menjadi sulit. Yang cerdas menjadi bodoh. Tak tahu lagi apa yang bermanfaat bagi dirinya sendiri. Semuanya lenyap dan musnah.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Qur'an (193) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (49) Cerita kegagalan (1) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (6) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) Kecerdasan (220) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) Kisah Para Nabi dan Rasul (205) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (1) Nabi Ibrahim (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Musa (1) Nabi Nuh (3) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (1) Namrudz (2) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) Nusantara (210) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (151) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rehat (422) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (144) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah Penguasa (190) Sirah Sahabat (114) Sirah Tabiin (42) Sirah Ulama (90) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)